• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Salah satu pemukiman di dekat kantor Kecamatan Bluto yang terletak sekitar 5 kilometer ke arah barat disebut Aengdake. Dusun Tanapote, Ponggul, Libiliyan, serta Desa Tambiayu, membentuk empat dusun Aengdake. Terdapat berbagai jenis mata pencaharian masyarakat Aengdake, tetapi mayoritas mata pencaharian desa Aengdake adalah sebagai petani. Dilihat dari data profil Desa Aengdake tercatat pada tahun 2021 pemilik tanah tegal ada 745 KK dan buruh tani sebanyak 250 KK.

Pada tahun 2020, Desa Aengdake akan berpenduduk 3.470 jiwa, 998 rumah, dan 545 KK hidup dalam kemiskinan. Karena bertani dapat memenuhi kebutuhan, khususnya dalam hal pangan, telah menjadi sumber pendapatan utama bagi penduduk Desa Aengdake di Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Karena mayoritas penduduk desa Aengdake adalah petani, maka pendapatan masyarakat tidak tetap. Kawasan Desa Aengdake sangat cocok dijadikan sebagai tempat peristirahatan karena berada dipinggir jalan raya utama. “Hal ini dapat ditangani sesuai dengan kebutuhan desa sehingga masyarakat desa Aengdake dapat meningkatkan perekonomiannya” menurut (M. Zulkarnaen, 2017). “Kekayaan alam harus dibarengi dengan keadaan masyarakat yang maju, humanis, inovatif agar pertumbuhan desa dari segi ekonomi menuju perbaikan” menurut (Kushartono, n.d.).

Untuk mengurangi kemiskinan di pedesaan, pemerintah telah membentuk organisasi sosial ekonomi yang dijalankan oleh penduduk setempat. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014 merupakan salah satu jenis organisasi kemasyarakatan. Pendirian BUMDes dapat memberikan wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi desa dan mengarahkan perekonomian masyarakat ke arah desa yang sukses. Peran aktif pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa diperlukan dalam proses

(2)

pengentasan kemiskinan dan juga peningkatan pendapatan asli desa dengan memanfaatkan potensi alam yang ada.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) didirikan oleh pemerintah desa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dalam rangka mendayagunakan seluruh potensi ekonomi, kelembagaan ekonomi, dan potensi sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. “Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada hakikatnya merupakan modifikasi yang berlangsung dalam masyarakat desa dan juga mencerminkan modifikasi dan perubahan tanpa harus mengabaikan ragam pengelompokan sosial dan kebutuhan mendasar yang ada dalam masyarakat desa” menurut (Herlina, 2012).

Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, “desa didorong untuk membentuk badan usaha yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya kebutuhan pokok dan ketersediaan sumber daya yang belum tergali serta sumber daya manusia yang dapat mengelola usaha sebagai aset usaha yang menggerakkan masyarakat.

Ekonomi”. Di era otonomi, kebijakan yang memberikan akses dan kesempatan kepada kepala desa untuk menggali potensi sumber daya alam atau sumber daya manusia yang sudah ada di dalam wilayah desa itu sendiri juga sangat penting. Sumber daya tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan masyarakat. Badan yang mengawasi kekayaan asli desa diperlukan untuk perimbangan dana pembangunan, padahal kota sudah memiliki Alokasi Dana Desa (ADD) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Karena kebutuhan akan suatu organisasi yang dapat memaksimalkan potensi desa, maka didirikanlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang seluruh pendanaannya berasal dari pendapatan yang dihasilkan oleh berbagai industri desa, antara lain pertanian, perkebunan, perdagangan, pariwisata. , dan lain-lain.

Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sangat penting untuk meningkatkan perekonomian desa karena berdampak signifikan

(3)

terhadap potensi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Melalui strateginya, Kementerian Desa, PDIT, memperkenalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berupaya memperkuat kehidupan desa sebagai masyarakat. “Kebijakan pembangunan Indonesia dimulai dengan perluasan BUMDes yang berasal dari ekonomi pinggiran yang masih bersifat kolektif” menurut (M. Zulkarnaen, 2017) Dengan menyatukan unit-unit usaha secara kolektif, BUMDes akhirnya memberikan jalan menuju kemandirian finansial di desa. Mereka juga penting secara strategis bagi pengembangan ekonomi desa.

Badan Usaha Milik Desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial dan komersial ini diharapkan mampu mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Sedangkan sebagai lembaga komersial, Badan Usaha Milik Desa bertujuan untuk mencari keuntungan, artinya meningkatkan pendapatan desa, sebagai layanan sosial mereka berpihak pada kepentingan masyarakat melalui komitmennya pada penyediaan layanan sosial. Banyak usaha milik desa telah didirikan, namun dengan berdirinya BUMDes, operasionalnya terhenti karena beberapa alasan. Masalah ekonomi yang harus menjadi perhatian khusus adalah kurangnya sumber daya manusia yang inovatif dalam pengelolaan barang-barang pertanian.

Badan Usaha Milik Desa dalam perumusan kebijakan pembentukan serta perjalanannya semestinya tidak hanya melibatkan Pemerintah Desa serta masyarakat saja, tetapi harus adanya pihak pribadi yang diikutsertakan dalam pengendalian tata kelola BUMDes. Pemerintah Desa, BPD sebagai negara, lingkungan sebagai masyarakat, dan perusahaan pembangunan wilayah desa sebagai swasta. “Karena penyelenggaraan pemerintahan menjadi esensial dalam rangka pelayanan publik, khususnya di BUMDes, agar tata kelola BUMDes menjadi lebih efektif dan terkendali, ketiga pemain ini sangat dinanti dalam perkembangan BUMDes di desa Aengdake” menurut (P, 2016). Hal tersebut yang harus menjadi dasar bahwa private menjadi bagian dari membatu pengembangan BUMDes di desa Aengdake. “Sebelum ada

(4)

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Desa Aengdake berada pada posisi desa berkembang, dan setelah adanya BUMDes, Desa Aengdake berada pada posisi desa maju” menurut statistik Indeks Pembangunan Desa (IDM).

“Tujuan mendasar dari penerapan tata kelola yang baik adalah untuk mengembangkan sistem yang dapat menjaga keseimbangan dalam pengendalian perusahaan, mampu mengurangi kemungkinan salah urus, dan mampu memberikan insentif untuk meningkatkan produktivitas sehingga menjadi nilai tambah yang ideal,” dokumen menyatakan (Achamad, 2005). Proses pengembangannya BUMDes ini harus melibatkan peran private maka akan menambah inovasi baru dalam meningkatkan perekonomian di desa. Pengelolaan BUMDes juga harus selalu bersinergi dalam menjalankannya, sinergitas dalam tata kelola ini sangat diharapkan selalu bersinergi dalam mewujudkan BUMDes bisa tetap eksis dalam meningkatkan perekonomian desa.

Tata kelola dikelola dengan prinsip-prinsip serta di implementasikan yang saling berkaitan antara dua aspek yaitu hardware dan software. Perangkat lunak lebih bersifat psikososial dan terdiri dari perubahan sudut pandang, visi, misi, nilai, dan sikap. Perangkat keras dalam konteks ini bersifat teknis dan terdiri dari konstruksi dan perubahan struktur sistem yang ada di perusahaan. Aspek-aspek tersebut adalah mekanisme tata kelolayang digunakan sebagai landasan maupun suatu koorporasi atau badan usaha yang ingin dijalankan, sehingga memperhatikan aspek-aspek tersebut maka BUMDes akan terarah dan juga sesuai dengan harapan masyarakat desa.

Desa Aengdake yang juga dikenal dengan nama “Makmur Jaya”

merupakan salah satu desa yang memiliki BUMDes dan terletak di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Tempat istirahat (rest area) yang juga disediakan untuk persewaan kios ruko merupakan salah satu dari dua kegiatan badan usaha BUMDes Makmur Jaya yang berdiri sejak tahun 2019. Kegiatan lainnya adalah penyewaan lapangan futsal. Dengan

(5)

kemungkinan ini, keberadaan BUMDes Makmur Jaya menawarkan cara berbeda untuk meningkatkan anggaran pendapatan desa dan membantu Desa Aengdake berkembang. BUMDes Makmur Jaya diharapkan dapat tertangani dengan baik dengan adanya bantuan dari pemerintah berupa usaha dan arahan dari pemerintah.

“Keberadaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, khususnya dalam rangka pembangunan desa, memberikan peluang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang difasilitasi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola pemerintah serta masyarakat desa yang dikelola secara mandiri dan demokratis” menurut (Ridwan, 2015).

“Dalam rangka meningkatkan demokrasi ekonomi dan terwujudnya kesejahteraan daerah, khususnya untuk mendorong kegiatan ekonomi desa, pemerintah pusat memberikan otonomi kepada pemerintah desa”

menurut (Sidik, 2015) Program pemerintah yang dikenal dengan BUMDes tercipta dari penyaluran dana dari APBN, yang selanjutnya disalurkan melalui ADD (Anggaran Dana Desa). BUMDes didirikan oleh masyarakat dan pemerintah untuk memajukan dan mendorong kewirausahaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi desa sehingga masyarakat desa dapat secara mandiri menghasilkan keuntungan ekonomi. Potensi sumber daya alam dan manusia desa Aengdake harus ditangani secara efektif dengan bantuan pemerintah berupa modal usaha dan arahan dari otoritas desa.

Perkembangan demokrasi ekonomi diharapkan dapat diuntungkan dengan dibukanya BUMDes Makmur Jaya, khususnya di masyarakat Aengdake. Salah satu potensi masyarakat yang perlu diperhatikan dan didukung oleh pemerintah desa adalah semangat gotong royong dan persaudaraan. Tata kelola BUMDes dimulai pada tahap perencanaan dengan menampilkan sejumlah indikator, antara lain penetapan tujuan, mengikuti prosedur, dan menampilkan program yang akan dikembangkan untuk BUMDes. Tahap kedua adalah pengorganisasian, yang meliputi tanda-tanda penugasan kerja serta peran, tugas, dan kekuasaan yang

(6)

diberikan kepada setiap anggota. Langkah ketiga adalah menyebarkan sumber daya yang tersedia dengan tujuan memberikan instruksi, saran, dan arahan. Tahap selanjutnya adalah melakukan pengawasan dengan menggunakan indikator, membuat tujuan, dan alat ukur. “Evaluasi merupakan langkah terakhir yang dilanjutkan dengan tahap perbaikan”

menurut (Asvi, 2017).

Berdasarkan pembahasan di atas, BUMDes berperan penting dalam meningkatkan perekonomian desa dengan memanfaatkan kegiatan unit- unit usaha yang dikembangkan. Oleh karena itu, penelitian ini dilihat dari perspektif governance agar teori institusional dapat merespon dan memberikan gambaran tentang good governance berdasarkan prinsip- prinsip governance. Penelitian ini mengkaji “Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Untuk Meningkatkan Perekonomian Desa Aengdake” guna mengetahui sejauh mana proses pengelolaan unit usaha yang dihasilkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya Aengdake telah berkembang. .

Pengeloa Badan Usaha Milik Desa dengan Pemerintah Desa dan Badan Pengawasan Daerah dan dengan menimbang permintaan dari masyarakat dan juga setelah survei memutuskan untuk membangun unit persewaan kios toko dan juga lapangan futsal. Kios Toko banyak peminatnya sehingga di sarankan untuk dijadikan BUMDes. Sedangkan lapangan futsal juga banyak peminatnya, karena dalam satu kecamatan tidak ada unit sewa lapangan futsal, sehingga pengelola BUMDes, Pemerintah Desa, serta masyarakat memutuskan untuk membangun sewa lapangan futsal untuk dijadikan BUMDes.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa Makmur Jaya untuk Meningkatkan Perekonoian Masyarakat di Desa Aengdake ?

2. Apa saja Hambatan dalam Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa Makmur Jaya untuk Meningkatkan Perekonomian di desa Aengdake ? C. Tujuan Penelitian

(7)

Sehubungan dengan masalah penelitian, tujuan berikut ditetapkan untuk penelitian ini:

1. Untuk mengetahui bagaimana Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa Makmur Jaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di desa Aengdake.

2. Untuk mengetahui faktor penghambat tata kelola Badan Usaha Milik Desa Makmur Jaya untuk meningkatkan perekonomian desa Aengdake D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Kajian ini diharapkan dapat memberikan tambahan akademik terhadap tata kelola yang secara khusus relevan dengan tata kelola Badan Usaha Milik Desa Aengdake Sumenep yang merupakan aspek peningkatan perekonomian desa (BUMDes).

b. Kajian ini diharapkan dapat menjadi sumber bagi para sarjana lain yang ingin memahami bagaimana tata kelola BUMDes bermanfaat bagi perekonomian lokal di desa Aengdake.

2. Manfaat Praktis

Keuntungan berikut diharapkan datang dari temuan penelitian ini dalam kehidupan nyata:

a. Untuk mendapatkan pemahaman umum tentang Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya dan meningkatkan perekonomian desa Aengdake Sumenep, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah desa, khususnya di Desa Aengdake.

b. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber referensi data untuk studi tentang pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya dalam rangka mengembangkan ekonomi lokal di Desa Aengdake.

E. Definisi Konseptual

1. Tata Kelola (Governance)

Governance organisasi adalah urutan keputusan yang dibuat dalam kaitannya dengan pencapaian tujuannya. “Satu-satunya cara untuk menghasilkan pemerintahan yang baik adalah jika dua kekuatan saling bertanggung jawab” menurut (Sumarto & Hetifah, 2009). Dua sifat positif ini adalah orang-orang yang bertanggung jawab yang sadar

(8)

akan pemerintahan yang terbuka, reseptif, dan patuh. Alih-alih menjadi lembaga atau organisasi, Governance mungkin dianggap sebagai sebuah proses. prosedur yang digunakan dalam pemerintahan, yang melibatkan semua pihak yang terlibat.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa Governance adalah proses pengendalian sumber daya di dalam suatu organisasi agar lebih baik, lebih efektif, dan lebih efisien.

2. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, salah satu pendekatan untuk mencapainya adalah dengan memaksimalkan ekonomi dan sumber daya yang tersedia melalui pemberdayaan masyarakat pedesaan. Fungsi suatu lembaga diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pengelolaan dan optimalisasi sumber daya.

Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 6,

“Badan Usaha Milik Desa adalah badan hukum yang modal kepemilikannya sepenuhnya atau terutama disediakan oleh desa melalui penyertaan langsung dari kekayaan desa yang dipisahkan untuk mengelola kekayaan dan usaha lain untuk kepentingan bersama”. Komunitas. Desa. Kehadiran BUMDes merupakan salah satu cara untuk menjawab berbagai persoalan yang terkait dengan perekonomian desa setempat melalui pengembangan potensi dan sumber daya desa setempat, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pedesaan. Hal ini dimaksudkan agar melalui pembentukan BUMDes, pemerintah dan masyarakat setempat dapat bekerja sama untuk meningkatkan perekonomian desa secara lebih efektif.

BUMDes, wadah tertinggi pembangunan ekonomi desa yang dipimpin oleh BUMDes, berkembang melalui praktik musyawarah desa. BUMDes adalah contoh lain dari usaha ekonomi desa koperasi

(9)

yang melibatkan pemerintah desa dan penduduk desa. Inisiatif ekonomi desa kolektif BUMDes mencakup komponen bisnis sosial dan bisnis ekonomi.

3. Peningkatan Perekonomian

“Ketidakmampuan masyarakat desa dalam mengelola BUMDes secara efektif menjadi penghambat pengembangan potensi desa”

(Murwadji, Rahardjo, & Hasna, 2017). Jika lingkungan itu berhasil memenuhi kebutuhan dasar anggotanya, ekonomi akan tumbuh.

Kesejahteraan, tujuan negara, didefinisikan sebagai perluasan ekonomi, dan untuk meningkatkan kesejahteraan, negara harus meningkatkan standar hidup di banyak bidang. Menggagas BUMDes adalah salah satu teknik untuk membesarkannya.

Agar BUMDes dapat menyelenggarakan kawasan komersial untuk kesejahteraan desa, maka BUMDes harus berpijak pada potensi.

BUMDes sangat mengandalkan potensi lokal desa untuk menjalankan programnya, sehingga pengelolaan aset desa secara profesional oleh masyarakat dan pemerintah desa dapat membantu peningkatan kemajuan ekonomi desa melalui otonomi desa.

F. Definisi Operasional

Peneliti menggunakan definisi atau metrik operasional berikut untuk menilai pengelolaan BUMDes Makmur Jaya Aengdake:

1. Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Aengdake Sumenep a. Sewa Kios Toko

b. Sewa Lapangan Futsal

2. Peran Pemerintah, Badan Pengawas Daerah, dan Masyarakat dalam Pengelolaan BUMDes Makmur Jaya

a. Peran Pemerintah Desa,, BPD,, dan Masyarakat dalam Perencanaan

(10)

b. Peran Pemerintah Desa, BPD dan Masyarakat dalam Pelaksanaan c. Peran Pemerintah Desa dan BPD dalam Pengawasan dan Evaluasi 3. Permasalahan pada Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa Aengdake

Makmur Jaya untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Aengdake

a. Keterbatasan Modal dalam Mengembangkan Unit Usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

G. Metode Penelitian

“Pendekatan merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk dilakukan dalam upaya mencapai tujuan dengan menggunakan pendekatan dan instrumen penelitian tertentu” menurut (Sedarmayanti & Syarifuddin, 2011). Pendekatan penelitian adalah salah satu komponen yang paling penting dalam setiap penelitian. Pembatasan penggunaan metode penelitian ini berdampak signifikan sebagai landasan pemecahan masalah, sehingga hasil penelitian dapat diperhitungkan dan kebenarannya dapat diterima secara objektif. Berikut adalah deskripsi metodologi yang digunakan dalam penelitian ini:

1. Jenis Penelitian 2. Lokasi Penelitian 3. Sumber Data

a. Data Primer b. Data Sekunder 4. Suabjek Penelitian

5. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara

b. Dokumentasi 6. Teknik Analisis Data

a. Redaksi Data b. Penyajian Data c. Penarikan Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

Dari pemahaman beberapa hadis tersebut, diketahui bahwasanya ketika dilakukan sebuah pengamatan terhadap fajar shadiq, maka warna putih kemerahan yang muncul dengan

Berdasarkan data, sebesar 75% kabupaten di Indonesia pada tahun 2005 memiliki nilai jumlah penduduk miskin dibawah 114200.. Namun di tahun 2011, 75% kabupaten di Indonesia

33 Selain itu, usus yang banyak mengabsorbsi zat-zat makanan juga mengeluarkan PYY 3-36 yang berikatan dengan reseptor Y 2 R neuron NPY/AgRP pada nukleus arkuatus

Untuk informasi kesehatan dan keselamatan untuk komponen masing-masing yang digunakan dalam proses manufaktur, mengacu ke lembar data keselamatan yang sesuai untuk

L1 Female Bahasa Inggris untuk Studi di Australia yang terdiri dari 26 pelajaran ini akan membantu anda mempersiapkan diri untuk belajar dan tinggal di Australia.. Sambil

Perkembangan Fungsi Kardiorespirasi pada Anak Usia 10-13 Tahun VO2max pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni kadar lemak tubuh, usia, jenis kelamin, penyakit

Berdasarkan uraian paparan data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) penerapan program PHBS di SDLB-B YPTB dilakukan melalui

bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014, maka desa diwajibkan memiliki perencanaan