1 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
RENCANA KERJA DIREKTORAT INTELKAM POLDA KEPRI TAHUN 2017
BAB I
I. LATAR BELAKANG
A. SITUASI WILAYAH 1. Tri Gatra.
a. Geografi.
Letak Geografis Provinsi Kepri yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand mengakibatkan pesatnya arus keluar masuk pendatang yang berasal dari dalam dan luar negeri, disamping itu kondisi tersebut juga mengandung kerawanan terhadap kemanan negara dalam bentuk sengketa perbatasan dan kejahatan lintas negara serta beberapa kejahatan lainnya.
1) Wilayah Provinsi Kepulauan Riau terletak pada : a) 5°,01° Lintang Utara s/d 0°,40°Lintang Selatan.
b) 103°,15° Bujur Timur s/d 109°,10° Bujur Timur.
2) Dengan Batas Wilayah antara lain :
a) Sebelah Utara berbatasan dengan Singapura, Malaysia dan Laut Cina Selatan.
b) Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Jambi.
c) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
d) Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat.
3) Luas Wilayah Provinsi Kepulauan Riau 252.601 Km², luas Wilayah Daratan : 9.777 Km² (5%), luas wilayah Lautan : 242.825 Km² (95%) dan terdiri dari 2.408 pulau besar dan kecil yang 30% belum bernama dan berpenduduk.
4) Curah hujan di wilayah Provinsi Kepri 2000 mm/th dengan kelembaban rata- rata berkisar antara 82-86 %, musim hujan terjadi pada bulan Oktober s/d April dan musim kemarau antara bulan April s/d Oktober, namun akibat pengaruh pemanasan global, sehingga mengalami pergeseran waktu yang tidak menentu.
5) Provinsi Kepulauan Riau merupakan Provinsi Baru hasil pemekaran dari Provinsi Riau yang didirikan berdasarkan UU No. 25 tahun 2002 tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Tanggal berdirinya adalah 1 Juli 2004 dengan ibukotanya di Kota Tanjungpinang.
6) Provinsi Kepri … KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH KEPULAUAN RIAU DIREKTORAT INTELIJEN KEAMANAN
2 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
6) Provinsi Kepri terdiri dari 2 (dua) Kota dan 5 (lima) Kabupaten dengan perincian sebagai berikut :
a) Kota Batam terdiri dari 12 (dua belas) Kecamatan dan 62 (enam puluh dua) Kelurahan dengan luas wilayah sekitar 3.990 Km² dan jumlah penduduknya sekitar 1.236.399 jiwa. Letak Kota Batam yang sangat strategis, berhadapan langsung berhadapan langsung dengan Singapura, sehingga berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional dan telah ditetapkan sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ).
b) Kota Tanjungpinang terdiri dari 4 (empat) Kecamatan dan 18 (delapan belas) Kelurahan dengan luas wilayah sekitar 239,5 Km² dan jumlah penduduk sekitar 204.735 jiwa. Kota Tanjungpinang sempat menjadi ibukota Provinsi Riau yang pertama, namun sejalan dengan perkembangannya sesuai dengan SK Mendagri No.5 tanggal 21 Juni 2001 Kota Tanjungpinang ditingkatkan statusnya menjadi Kota Otonomi.
c) Kabupaten Bintan, terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan, meliputi 16 (enam belas) kelurahan dan 29 (dua puluh sembilan) desa dengan luas wilayah 58.003,25 Km² dan jumlah penduduk sekitar 154.584 jiwa. Kabupaten Bintan merupakan salah satu kawasan Free Trade Zone (FTZ), selain juga dikenal sebagai pusat pariwisata terpadu dan memiliki kawasan industri yang terus berkembang.
d) Kabupaten Karimun dengan letak ibukotanya di Tanjungbalai Karimun, terdiri dari 12 (dua belas) Kecamatan dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan serta 31 (tiga puluh satu) desa dengan luas wilayah sekitar 167.850 Km² dan jumlah penduduk sekitar 227.277 jiwa memiliki keunggulan tersendiri karena berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia sehingga merupakan salah satu basis pertumbuhan IMS – GT (Indonesia, Malaysia, Singapura – Growth Triangle) serta merupakan salah satu kawasan Free Trade Zone (FTZ).
e) Kabupaten Lingga dengan ibukota Dabo Singkep terdiri dari 16 (enam belas) Kecamatan dan 3 (tiga) Kelurahan serta 37 (tiga puluh tujuh) desa, luas wilayah sekitar 211.772 Km² dengan jumlah penduduk sekitar 88.971 jiwa, daerah Kabupaten Lingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai daerah pengembangan wisata bahari dan pertanian.
f) Kabupaten Natuna letak ibukotanya di Ranai terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan, dengan luas wilayah sekitar 141.901,2 Km² dan jumlah penduduk sekitar 75.282 jiwa, sedangkan luas lautan 97,72 Km², merupakan daerah yang kaya dengan minyak dan gas bumi.
g) Kabupaten Anambas yang merupakan pemekaran dari Kab. Natuna letak ibu kotanya di Tarempa terdiri dari 6 (enam) Kecamatan dengan jumlah penduduk 40.921 jiwa.
b. Demografi
1) Jumlah penduduk Provinsi Kepri sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi …
3 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
Provinsi Kepri tahun 2016 mencapai ± 2.028.169 jiwa (tahun 2016) dengan angka tenaga kerja sebesar 1.380.318 jiwa (tahun 2013) dan jumlah angka pengangguran mencapai 56.609 jiwa atau sekitar 4,28%. Besarnya jumlah penduduk sebagai modal dasar pembangunan, namun juga mengandung kerawanan sosial dengan dimensi yang luas dan kompleks. Belum tercapainya keseimbangan antara laju pertumbuhan penduduk dengan penyediaan fasilitas pendidikan dan lapangan kerja, mengakibatkan tingginya angka pengangguran.
2) Berdasarkan statistik populasi agama Islam sebesar 90% dan agama lainnya (Kristen, Hindu dan Budha) sekitar 10% yang didominasi suku Melayu sebesar 35,6% dan beberapa suku lainnya seperti Jawa (22,2%), Minangkabau (9,3%), Tionghoa (9,3%), Batak (8,1%), Bugis (2,2%), Banjar (0,7%) dan lain-lain (12,6%) yang terdiri dari jumlah wanita sekitar 47 % dan Laki-laki sekitar 53 %.
Etnis Tionghoa lebih dominan berada di wilayah perkotaan dan mayoritas berprofesi sebagai pedagang ataupun pengusaha.
c. Sumber Daya Alam
1) Minyak dan gas bumi
Hal ini terdapat di Kab. Natuna dimana Kab. Natuna merupakan salah satu andalan bagi pemasukan devisa negara dengan sistem bagi hasil yang saat ini dikelola oleh:
a) PT. Medco Energi Internasional (MEDC) Tbk b) PT. Premier Oil Natuna
c) PT. Pertalahan Arnebatara Natuna d) PT. Star Energi Natuna
2) Potensi sumber daya mineral dan energy
Di wilayah Prov. Kepri relatif cukup besar dan bervariasi baik berupa bahan galian A (strategis) seperti minyak bumi dan gas alam, bahan galian B (vital) seperti timah, bauksit dan pasir besi, maupun bahan galian golongan C seperti granit, pasir dan kuarsa. Manfaatnya selain sebagai sumber devisa negara juga rawan terhadap eksploitasi illegal maupun pengelolaan yang kurang tepat akan berdampak pada kerusakan ekosistem.
3) Potensi kelautan
Dengan wilayah laut yang yang sangat besar sehingga sangat mendukung bagi pengembangan usaha budidaya perikanan. Di Kab. Karimun terdapat budidaya ikan kakap, budidaya rumput laut dan kerambah 3arring apung.
Sedangkan di Kota Batam, Kab Bintan, Lingga dan Natuna juga memiliki potensi yang cukup besar dibidang perikanan. Selain perikanan tangkap di keempat kota / kabupaten tersebut juga dikembangkan budidaya perikanan air laut dan air tawar. Di Pulau Setoko Batam terdapat pembenihan ikan kerapu yang mampu menghasilkan lebih dari 1 juta benih pertahunnya. Pelabuhan perikanan swasta Telaga Punggur Batam yang letaknya strategis karena berhadapan dengan jalur lintas kapal penangkapan ikan antara Kepri, ZEEI, Laut Cina Selatan dan Singapura yang dapat meningkatkan ekspor hasil laut dan menambah PAD. Namun kondisi tersebut juga mengandung berbagai kerawanan, diantaranya pencurian ikan oleh kapal-kapal asing yang dilengkapi dengan peralatan modern dan penangkapan ikan secara tradisional dengan menggunakan bahan peledak.
4) Pertanian …
4 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
4) Pertanian dan peternakan.
Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis terutama di Kab Bintan, Karimun dan Batam. Disamping palawija dan holtikultura, tanaman lain seperti kelapa, kopi, gambir, nanas serta cengkeh sangat baik utnuk dikembangkan.
Demikian juga di Lingga sangat cocok untuk ditanami buah-buahan dan sayuran. Di beberapa pulau lainnya di Kepri sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit.
5) Pariwisata.
Prov. Kepri merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali. Jumlah wisatawan tiap tahunnya lebih dari satu juta orang. Obyek wisatanya antara lain wisata pantai yang terletak di berbagai Kota dan Kabupaten yaitu :
a) Kota Batam
Tempat wisata yaitu : Kawasan Wisata Resort di Pantai Nongsa, Pantai Melur, Pulau Abang dan wisata Bangunan yaitu Jembatan Barelang hingga ke Kampung Vietnam Pulau Galang.
b) Kab. Karimun
Tempat Wisata yaitu Pantai Pelawan, Pantai Pongkar, Pantai Telunas dan wisata bahari lainnya serta wisata bangunan yaitu Masjid Agung Karimun.
c) Kab. Bintan
Tempat Wisata yitu Kawasan Wisata Terpadu Lagoi denga luas ± 23.000 ha dan Kawasan Industri Terpadu Lobam seluas 4000 Ha. Kawasan Wisata Terpadu tersebut di kembangkan dan di kelola dengan konsep professional oleh pihak swasta dan baru di manfaatkan sekitar 3.000 Ha. Disamping itu, untuk pengembangan sumber air di tetapkan di Kec. Teluk Bintan seluas 37.000 Ha. Objek Wisata lainnya di Kab. Bintan yaitu Pantai Tanjung berakit, Kawasan Wisata Pulau Nikoi dan Pantai Trikora.
d) Kab. Natuna
Wilayah Kab. Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti wisata bawah laut dengan menyelam/snorckling, Pulau Sedanau, Pantai Sengiap, Keindahan alam Tanjung Senubing dan Wisata Bangunan yaitu Masjid Agung Natuna.
e) Kota Tanjung Pinang
Diwilayah Kota Tanjung Pinang terdapat pulau penyengat yang terkenal bersejarah karena terdapat Masjid bersejarah, makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji dimana Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji adalah Pahlawan Nasional.
Selain wisata Pantai dan bahari, Prov. Kepri juga memiliki objek wisata seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event- event Internasional dan khas daerah Kepulauan Riau.
6) Daerah Kota Batam dikenal sebagai kawasan pengembangan Industri, Perdagangan, Galangan Kapal dan Parawisata yang telah banyak menyerap
tenaga …
5 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
tenaga kerja, sehingga dikenal sebagai pusat Pertumbuhan Ekonomi dan merupakan salah satu kawasan Free Trade Zone (FTZ).
2. Panca Gatra a. Aspek Idiologi
1) Masyarakat Provinsi Kepri pada umumnya masih berpegang pada Pancasila sebagai falsafah dan pedoman hidup bangsa Indonesia, belum ada indikasi kelompok/ aliran yang mengarah pada pembentukan ideologi lain selain Pancasila. Namun demikian masih adanya kelompok / suku terasing di beberapa wilayah perairan Kepri yang dinamakan suku laut karena tinggalnya diatas perahu yang terapung dilautan dan berada di pinggir-pinggir pulau wilayah Kepri yang kemungkinan besar belum memiliki pendidikan/
pengetahuan yang cukup tentang Pancasila sebagai idiologi tunggal Bangsa Indonesia saat ini. Suku laut tersebut bahkan dikenal menganut animisme atau mengkeramatkan suatu benda atau daerah dikarenakan pengaruh minimnya fasiltas pengetahuan tentang keagamaan dan sifat turun temurun yang sudah membudaya. Dengan demikian salah satu nilai pancasila yang mewajibkan setiap penduduk Indonesia untuk mempercayai adanya Tuhan YME masih belum terlaksana sepenuhnya. Namun setidaknya suku laut ini belum ada indikasi untuk melakukan upaya mendiskreditkan Pancasial ataupun membuat ideologi baru karena aktivitas utama hingga saat ini adalah melaut dan berburu di Hutan.
2) Bergesernya nilai - nilai persatuan dan kesatuan yang merupakan pedoman pokok Pancasila dalam berkehidupan juga mulai terlihat dengan adanya perkumpulan / kelompok kesukuan yang lebih bersifat pada kepentingan ekonomi kelompoknya dengan mengedepankan kegiatan - kegiatan yang tidak sesuai ketentuan dan terkesan berkompetisi untuk menguasai beberapa titik / lokasi usaha tertentu dengan tujuan melakukan dominasi dalam hal
“pengamanan” sehingga sering berimplikasi pada terjadinya konflik horizontal yang dampaknya dapat meluas karena mendompleng nama suku tertentu yang seakan - akan berlatarbelakang SARA.
b. Aspek Politik
1) Secara umum situasi politik di Kepri cukup kondusif. Hal ini terlihat dari berbagai agenda politik di pemerintahan khususnya eksekutif dan legislatif berjalan dengan lancar. Meskipun terdapat beberapa kebijakan pemerintah setempat yang bertentangan dengan legislatif namun masih dapat diatasi dengan pendekatan / cara-cara yang baik dan produktif.
2) Dalam implementasi kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum yang dilakukan oleh Mahasiswa/Ormas/LSM/kelompok masyarakat lainnya, terdapat kecenderungan pelaksanaan unjuk rasa yang tidak terkendali/
kebablasan/melanggar hukum, bahkan disertai dengan tindakan anarkis, seperti :
a) ...
6 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
a) Menggangu keamanan, dan ketertiban umum.
b) Merusak fasilitas umum/milik negara.
c) Menghina Presiden/pejabat tertentu/lambang negara tertentu dan sebagainya.
d) Melakukan fitnah.
e) Merusak rumah/kendaraan/barang milik Negara dan Pribadi.
f) Menyerang petugas/aparat keamanan.
3) Munculnya kelompok-kelompok gerakan mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta Organisasi Masyarakat (Ormas) yang belum terdaftar secara resmi di instansi terkait, baik secara taktis maupun strategis bertujuan mengkritisi kebijakan pemerintah daerah di bidang Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Keamanan. Selain itu tidak sedikit yang menjadikan organisasi/
kelompok tersebut sebagai peluang untuk mata pencaharian, tentunya melalui praktek pungli bahkan ancaman/ pemerasan terhadap oknum pejabat pemerintah/ swasta.
4) Dalam hal pemberdayaan pulau-pulau terluar juga merupakan tanggung jawab pemerintah Provinsi Kepri. Hal ini perlu diperhatikan serius mengingat beberapa pulau di wilayah Provinsi Kepri diketahui telah dikelola oleh investor asing seperti Pulau Bawah di Natuna, Pulau Penggalap dan Pulau Segayang di Kecamatan Galang Kota Batam. Kurangnya pengawasan terhadap beberapa pulau tersebut akan berdampak terjadinya penjarahan oleh pihak asing.
c. Aspek Ekonomi
1) Kondisi pelemahan masih terasa pada laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Diperkirakan rupiah akan berada pada rentang harian Rp 12.900 - Rp 13.750 per USD. Pelemahan terjadi dengan adanya transisi pemerintahan RI, konflik internal DPR dan Konflik internal partai politik . Hal tersebut juga berpengaruh terhadap situasi ekonomi di Provinsi Kepri.
Banyaknya penurunan produksi di berbagai sektor industri karena naiknya nilai bahan-bahan yang relatif masih impor membuat beberapa perusahaan di Kepri terancam bangkrut. Hal ini akan berpotensi timbulnya permasalahan sosial dengan banyaknya karyawan yang akan di-PHK sehingga berdampak terjadinya unjuk rasa dan meningkatnya kriminalitas.
2) Letak Kepri yang strategis yaitu berdekatan dengan Singapura dan Malaysia berdampak pada perkembangan perekonomian setempat, banyaknya pasokan barang dari kedua negera tetangga tersebut cukup membantu kebutuhan masyarakat Kepri terutama bahan pokok, harganya pun lebih rendah bila dibandingkan dengan mendatangkan dari Pulau Jawa. Namun dampak negatifnya adalah banyaknya praktek penyelundupan yang masih marak terjadi di Kepri mengingat banyaknya pelabuhan tikus dan kurangnya sarana dan prasarana untuk pengawasannya.
3) Pemberlakuan Free Trade Zone (FTZ) di Wilayah Kepri Khususnya Batam, Bintan dan Karimun dengan segala kemudahan/ fasilitas-fasilitas khusus tidak
berjalan ...
7 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
berjalan dengan baik karena para pengusaha di wilayah Kepri dibingungkan oleh landasan hukum FTZ yang masih tumpang tindih dengan sejumlah aturan 4) lain, terutama kendala yang dihadapi adalah peran institusi Bea Cukai masih
dominan dalam wilayah FTZ sehingga mengaburkan fungsi dan keutamaan kawasan FTZ. Hal tersebut dapat mengakibatkan penanam usaha terutama PMA akan menutup usahanya karena menganggap wilayah Kepri tidak kondusif.
5) Banyaknya komoditi impor dari Singapura dan Malaysia yang diperjualbelikan di Batam khususnya bidang retail baik itu tas, dompet, sepatu dan sandal berdampak pada diberlakukannya standarisasi dollar Singapura dalam setiap jual beli. Hal ini cukup berpengaruh dalam kondisi melemahnya kurs rupiah saat ini karena krisis ekonomi dunia. Praktek standarisasi dollar juga terjadi pada sebagian besar hotel berbintang baik di Batam atau di Lagoi Bintan yang tentunya menyalahi prosedur BI dan melemahkan daya beli masyarakat setempat.
6) Dampak adanya kenaikan harga barang impor dan krisis energi listrik di wilayah Kepri (Tanjungpinang, Bintan, Karimun dan Lingga) juga sangat mempengaruhi perkembangan investasi dan dunia usaha di daerah karena akan meningkatkan biaya operasional termasuk upah buruh, hal ini berpengaruh terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
7) Permasalahan tambang di wilayah Kepri yaitu adanya para eksportir hasil tambang menentang terhadap peraturan larangan mengekspor bahan mentah hasil tambang. Alasannya, banyak eksportir tambang yang merasa dirugikan atas pengenaan regulasi baru tersebut.
d. Aspek Sosial Budaya
1) Masih didapatinya sebagian kelompok Muslim tertentu yang mempunyai pemahaman berbeda terhadap berbagai keyakinan keagamaan menimbulkan disharmonisasi dan cenderung intoleransi, sehingga memicu kerawanan munculnya konflik internal. Selain itu sengketa rumah ibadah baik itu dalam pembangunannya maupun yang tidak sesuai penggunaannya (bukan peruntukan) juga dapat menimbulkan konflik antar umat beragama yang berujung pada konflik SARA.
2) Masih didapatinya beberapa aliran sesat yang ada di Indonesia khususnya di wilayah Hukum Polda Kepri. Menurut data Majelis Ulama Indonesia (MUI) terdapat enam aliran yang dianggap sesat yaitu : Islam Jamaah, Ahmadiyah, Ikrar Sunah, Qur'an Suci, Sholat Dua Bahasa dan Al-Qiyadah Al-Imamiyah.
Dari keenam aliran tersebut yang sudah terdeteksi di Kepri adalah Ahmadiyah dan Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiah di Batam, Bintan dan Tanjungpinang.
Namun demikian jika tidak ada langkah konkrit oleh pemerintah setempat untuk mengantisipasi hal tersebut maka dimungkinkan keberadaan aliran tersebut akan semakin meluas dan dampak kerawanan yang ditimbulkan juga semakin besar.
3) Masalah perselisihan antara Buruh dengan Perusahaan di Kota Batam, Bintan dan ...
8 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
dan Karimun sering terjadi antara lain masalah PHK, outsourching, masalah UMK/UMP yang dianggap rendah dan hak-hak karyawan yang belum dipenuhi oleh pihak Management Perusahaan sehingga sering terjadi aksi mogok kerja Karyawan dan aksi Unjuk Rasa ke Instansi pemerintah (Pemprov, DPRD Provinsi/Kota, Pemkab/Pemko Batam, Disnaker untuk menyampaikan tuntutan mereka yang belum terpenuhi.
4) Masalah sengketa tanah dan penggusuran masih terjadi di beberapa daerah yang ada di wilayah Provinsi Kepri, diwarnai dengan aksi protes dan unjuk rasa yang dilakukan masyarakat yang didukung oleh berbagai pihak seperti mahasiswa dan LSM serta Ormas. Tidak sedikit masalah sengketa tanah/
lahan ini berujung pada konflik sosial yang melibatkan kelompok preman yang berlatar belakang kesukuan. Ada beberapa faktor penyebabnya baik itu sebagian masyarakat masih berpegang pada hukum adat / tanah ulayat yang berbenturan dengan hukum nasional, serta adanya keberpihakan dari oknum pejabat pemerintah atau mantan pejabat pemerintah daerah. Penyebab lainnya adalah adanya tumpang tindih perijinan lahan yang diduga karena unsur kurangnya pengawasan instansi terkait.
5) Permasalahan pemberlakukan SK Menhut Nomor 463 Tahun 2013 yang salah satu butirnya mengubah 1.834 hektar lahan bukan hutan menjadi kawasan hutan di wilayah Kepri. Keresahan muncul karena areal yang masuk dalam zona hutan tersebut, hampir seluruhnya lahan ekonomis, seperti shipyard di Tanjunguncang, hingga kawasan bisnis tersibuk di Batam, yakni Nagoya. Total 213.272 hektar dari 25.260.100 hektar luas wilayah Kepri diubah statusnya.
e. Aspek Keamanan
1) Secara umum situasi keamanan di wilayah hukum Polda Kepri masih kondusif, meskipun masih ada beberapa kasus kriminalitas yang terjadi khususnya di Kota Batam sebagai wilayah yang terpadat penduduknya dan memiliki permasalahan paling kompleks diantara wilayah lainnya di Kepri.
2) Perdagangan narkoba; masuknya narkoba ke Prov. Kepri sebagian besar dari luar negeri yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand kemudian diselundupkan melalui beberapa alternatif diantaranya jalur laut melalui pelabuhan tikus yang masih kurang pengamanannya, jalur udara melalui bandara yang belum dilengkapi dengan alat pendeteksi khusus narkoba, jalur ekspedisi yang sedang marak digunakan dengan menggunakan pengalihan/ penyesatan tanpa alamat pengirim kemudian ditransfer dari satu ekspedisi ke ekspedisi lainnya hingga ke tempat tujuan akhir untuk mempersulit pengungkapannya
3) Masih ditemukannya kasus trafficking di wilayah Hukum Polda Kepri yang disebabkan faktor ekonomi para korban dan lemahnya pengawasan dokumen serta upaya penegakan hukum untuk menjaring pelaku utamanya sejak melalui proses perekrutan dari daerah asal, transportasi baik secara legal maupun ilegal serta eksploitasi yang mengarah kepada adopsi ilegal, penjualan organ tubuh, perkawinan dan lain-lain.
4) Aksi teroris dari Kelompok radikal berbasis Ideologi keamanan yang berpotensi merekrut ...
9 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
merekrut / mengincar personil Polri dan asyarakat untuk mendukung Perjuanagan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiriah. Sasaran yang rawan di jadikan baik itu melalui penembakan, Pelemparan bom/granat, aksi bom bunuh diri dan sebagainya adalah Markas Polisi, Tempat Keramaian dengan Produsen asal Amerika dan Rusia, Tempat Hiburan, Kantor Pemerintah dan Kantor Perwakilan Negara Asing. Dinamika tersebut sangat berpengaruh terhadap situasi situasi Kamtibmas, situasi ekonomi di wilayah hokum Polda Kepri. Hal tersebut juga di pengaruhi oleh dinamika Strategis baik secara Nasional, Regional maupun Global yang memberikan secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan gangguan Kamtibmas , meningkatkan potensi ancaman dan gangguan bagi bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersampak pada perkembangan pembangunan daerah dan pembangunan Nasional.
3. Perkembangan Aspek Kehidupan Nasional.
Perkembangan berbagai aspek kehidupan nasional, selain dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang ada dalam negeri, juga karena adanya pengaruh yang terjadi pada lingkungan yang Strategis, Global, Nasional dan Regional. Kerawanan- kerawanan yang timbul dan bersumber dari berbagai aspek kehidupan tersebut yaitu :
a. Aspek Idiologi
1) Penurunan kesadaran masyarakat tentang Idiologi Pancasila dan bahaya laten komunisme tampaknya telah dimanfaatkan oleh kelompok kiri, seperti dengan memutar balikkan fakta-fakta peristiwa G30S/PKI, membentuk partai politik, ataupun menyusup menjadi anggota Parpol lain untuk menjadi anggota DPR dan DPRD. Hal ini dimungkinkan setelah MK mencabut pasal 60 huruf g UU Pemilu no. 12 tentang eks Tapol/Napol PKI dapat menjadi calon legislatif dalam pemilu. Hal ini tentunya akan memberikan keleluasaan lebih luas untuk mempengaruhi sikap politik parlemen dalam upayanya merealisasikan tujuan politiknya.
2) Masih didapati berkembangnya berbagai wacana lain dengan bentuk faham / aliran di luar idiologi Pancasila, terutama menyangkut masalah keagamaan, dimana diketahui bahwa di wilayah Provinsi Kepri terdapat aliran kepercayaan lain diluar ajaran Islam (aliran sesat) seperti yang baru - baru ini terungkap yaitu Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiah dan Jamaah Ahmadiyah dan juga kelompok garis kanan keras.
3) Melemahnya norma – norma adat, budaya dan agama dimana tata krama sering dikesampingkan dan bahkan ditinggalkan dengan menonjolkan sikap Individualisme, kelompok dan kesukuan.
4) Perkembangan Kasus Penistaan Agama Islam di wilayah Provinsi DKI Jakarta yang di duga di lakukan oleh Calon Gubernur Sdr. BASUKI TJAHAJA PURNAMA alias AHOK yang berasal dari Etnis Tionghoa dan Beragama Kristen (Non Muslim) telah menimbulkan Polemik secara
Nasional ...
10 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
Nasional dimana hal tersebut telah menimbulkan aksi Demo besar-besaran di Ibukota Jakarta dan di kota-kota lainnya di wilayah Indonesia khususnya di Provinsi Kepri dengan terbentuknya aksi dari Kelompok yang beragama muslim simpatisan yang menyerukan penolakan terhadap Sdr. AHOK. Hal ini berdampak pada situasi Kamtibmas dimana situasi tersebut di manfaatkan oleh Kelompok tertentu yang di sejalankan dengan perbedaan aliran agama atau perbedaan pendapat serta penolakan terhadap pembangunan rumah ibadah. Sehingga situasi tersebut perlu diantisipasi dan gejolak yang akan terjadi guna stabilitas Kamtibmas yang Kondusif.
b. Aspek Politik :
1) Secara umum situasi politik di Kepri cukup kondusif. Hal ini terlihat dari berbagai agenda politik di pemerintahan khususnya eksekutif dan legislatif berjalan dengan lancar. Meskipun terdapat beberapa kebijakan pemerintah setempat yang bertentangan dengan legislatif namun masih dapat diatasi dengan pendekatan / cara-cara yang baik dan produktif:
2) Dalam hal pemberdayaan pulau-pulau terluar juga merupakan tanggung jawab pemerintah Provinsi Kepri. Hal ini perlu diperhatikan serius mengingat beberapa pulau di wilayah Provinsi Kepri diketahui telah dikelola oleh investor asing seperti Pulau Bawah di Natuna, Pulau Penggalap dan Pulau Segayang di Kecamatan Galang Kota Batam. Kurangnya pengawasan terhadap beberapa pulau tersebut akan berdampak terjadinya penjarahan oleh pihak asing.
3) Munculnya kelompok-kelompok gerakan mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta Organisasi Masyarakat (Ormas) yang belum terdaftar secara resmi di instansi terkait, baik secara taktis maupun strategis bertujuan mengkritisi kebijakan pemerintah daerah di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan keamanan. Selain itu tidak sedikit yang menjadikan organisasi/ kelompok tersebut sebagai peluang untuk mata pencaharian, tentunya melalui praktek pungli bahkan ancaman/ pemerasan terhadap oknum pejabat pemerintah/ swasta.
4) Pemekaran kecamatan di Batam dari 12 saat ini menjadi 20 kecamatan.
Adapun alasan pemekaran kecamatan yaitu menimbang besarnya jumlah penduduk disatu kecamatan, untuk pemekaran kecamatan tersebut pemerintah sudah melakukan persiapan-persiapan. Anggaran yang dibutuhkan telah diajukan ke DPRD.
5) Adanya beberapa penanganan proyek pembangunan di Kepri yang terbengkalai dan diduga adanya praktek korupsi sehingga tidak pernah terselesaikan hingga saat ini yaitu proyek Dompak dan RSUP Kepri di Tanjungpinang, proyek penyeberangan di Tembesi dan Mukakuning Batam,
proyek ...
11 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
proyek pelebaran tepi laut Tanjungpinang, proyek Proyek Dermaga Peti Kemas Malarko di Plambong Desa Pongkar,Kecamatan Tebing Kabupaten Karimun, Proyek dermaga ponton di Tanjungbatu, Kecamatan Kundur dsb.
Hal ini menuai reaksi khususnya oleh LSM dan kelompok mahasiswa yang terus melakukan unjuk rasa menyoroti pemerintah dalam penyelesaian proyek tersebut.
6) Pasca Pemilihan Pemilukada 09 Desember 2015, Pemerintahan di Provinsi Kepri dipimpin oleh Gubernur H.M Sani dan Wakil Gubernur Nurdin Basirun.
Pada hari Jum’at tanggal 08 April 2016, Gubernur Kepri H.M Sani meninggal dunia karena Sakit. Sehingga tugas dan tanggung jawab almarhum di gantikan oleh Wakil Gubernur yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Kepri. Selama kurun waktu tersebut, Posisi Wakil Gubernur Kepri belum terisi sehingga menjadi perhatian Politik yang mana sesuai peraturannya, jabatan tersebut di isi dari partai Pengusung pada Pemilihan Gubernur di maksud. Peran Legislatif dalam hal ini DPRD Provinsi Kepri sangat dominan dimana DPRD Provinsi Kepri melakukan pemilihan Wakil Gubernur. Hal tersebut masih bahan perhatian Poltik di wilayah Provinsi Kepri sehingga berpotensi menimbulkan Perseteruan/Konflik Politik yang mana akan di laksanakan pada tahun 2017 mendatang.
7) Rencana Pemilihan Walikota Tanjung Pinang tahun 2018 dimana Tahapan Pemilukada di maksud akan di mulai pada tahun 2017 tepatnya pada bulan Oktober. Perkembangan situasi yang akan diperkirakan terjadi yaitu Timbulnya para Bakal Calon Walikota dan Wakil Wakil Walikota Tanjung Pinang, berkembangnya isu Politik yang memanfaatkan Kelompok atau Organisasi Massa (Ormas) sehingga dapat mempengaruhi stabilitas Kamtibmas di wilayah Kota Tanjung Pinang yang otomastis berdampak pada Situasi di wilayah Provinsi Kepri.
c. Aspek Ekonomi
1) Krisis ekonomi dunia yang mempengaruhi perkembangan ekonomi nasional tentunya juga berpengaruh terhadap situasi ekonomi di Provinsi Kepri.
Banyaknya penurunan produksi di berbagai sektor industri karena naiknya nilai bahan-bahan yang relatif masih impor membuat beberapa perusahaan di Kepri terancam bangkrut. Hal ini akan berpotensi timbulnya permasalahan sosial dengan banyaknya karyawan yang akan di-PHK sehingga berdampak terjadinya unjuk rasa, depresi, bunuh diri dan meningkatnya kriminalitas.
2) Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri tahun 2015 adalah 6,67 persen sedangkan tahun 2015 7,19 persen (terjadi penurunan), pada triwulan II–
2014 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 7,63%. Pendorong utama pertumbuhan
ekonomi ...
12 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
ekonomi Kepulauan Riau masih didorong oleh sektor utama perekonomian, yaitu sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran sementara laju peningkatan tertinggi terjadi pada sektor bangunan, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memiliki pertumbuhan diatas 10%. Pada sisi permintaan, akselerasi yang cukup tinggi pada investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau. Peningkatan kepecayaan pelaku usaha untuk berinvestasi di Kepulauan Riau menjadikan pendorong peningkatan perekonomian, hal ini didukung oleh peringkat Indonesia yang masuk Investment Grade (layak investasi) oleh Fitch dan Moody’s. Namun demikian kondisi perekonomian global yang belum membaik menjadi faktor penghambat perecepatan pertumbuhan perekonomian. Hal ini disebabkan masih belum pulihnya perekonomian Uni Eropa yang hingga kini masih belum menunjukan arah perbaikan. Sementara kondisi perekonomian Amerika berada pada kondisi yang menurun dan belum menunjukkan kondisi yang membaik. Di lain pihak, kondisi perekonomian Cina dan India juga menunjukan perekonomian yang menurun.
3) Letak Kepri yang strategis yaitu berdekatan dengan Singapura dan Malaysia berdampak pada perkembangan perekonomian setempat, banyaknya pasokan barang dari kedua negera tetangga tersebut cukup membantu kebutuhan masyarakat Kepri terutama bahan pokok, harganya pun lebih rendah bila dibandingkan dengan mendatangkan dari Pulau Jawa. Namun dampak negatifnya adalah banyaknya praktek penyelundupan yang masih marak terjadi di Kepri mengingat banyaknya pelabuhan tikus dan kurangnya sarana dan prasarana untuk pengawasannya.
4) Pemberlakuan Free Trade Zone (FTZ) di Wilayah Kepri Khususnya Batam, Bintan dan Karimun dengan segala kemudahan/ fasilitas-fasilitas khusus tidak berjalan dengan baik karena para pengusaha di wilayah Kepri dibingungkan oleh landasan hukum FTZ yang masih tumpang tindih dengan sejumlah aturan lain, terutama kendala yang dihadapi adalah peran institusi Bea Cukai masih dominan dalam wilayah FTZ sehingga mengaburkan fungsi dan keutamaan kawasan FTZ. Hal tersebut dapat mengakibatkan penanam usaha terutama PMA akan menutup usahanya karena menganggap wilayah Kepri tidak kondusif.
5) Banyaknya komoditi impor dari Singapura dan Malaysia yang diperjualbelikan di Batam khususnya bidang retail baik itu tas, dompet, sepatu dan sandal berdampak pada diberlakukannya standarisasi dollar Singapura dalam setiap jual beli. Hal ini cukup berpengaruh dalam kondisi melemahnya kurs rupiah saat ini karena krisis ekonomi dunia. Praktek standarisasi dollar juga terjadi pada sebagian besar hotel berbintang baik di Batam atau di Lagoi Bintan yang tentunya menyalahi prosedur BI dan melemahkan daya beli masyarakat setempat.
6) Dampak adanya kenaikan harga barang impor dan krisis energi listrik di wilayah Kepri (Tanjungpinang, Bintan, Karimun dan Lingga) juga sangat mempengaruhi perkembangan investasi dan dunia usaha di
daerah ...
13 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
daerah karena akan meningkatkan biaya operasional termasuk upah buruh, hal ini berpengaruh terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
7) Permasalahan tambang di wilayah Kepri yang disebabkan karena pemberlakuan permen ESDM no. 7 tahun 2013 berdampak pada terjadinya penutupan usaha/ operasional beberapa lokasi tambang terutama di Bintan, Tanjungpinang dan Karimun. Kondisi tersebut mengakibatkan bertambahnya angka pengangguran, berkurangnya daya beli masyarakat dan meningkatnya angka kriminalitas. Namun sisi positifnya keutuhan lingkungan hidup lebih terjaga karena pemerintah akan lebih selektif dalam memberikan ijin usaha pendirian tambang.
8) Permasalahan Lahan di wilayah Provinsi Kepri yaitu permasalahan kepemilikan atau perkara penyerobotan Lahan di beberapa wilayah Kabupaten/Kota dan Lahan pemukiman/hunian di Kota Batam yaitu permasalahan UWTO sehingga menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan peraturan yang di timbulkan tidak sepenuhnya diketahui oleh masyarakat pada umumnya.
d. Aspek Sosbud
1) Dampak Globalisasi kondisi Provinsi Kepri yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar luas menyebabkan sulitnya transportasi dan komunikasi dari satu pulau ke pulau lainnya, kondisi ini juga berakibat pada tidak meratanya pembangunan di sektor pendidikan dan akan berpengaruh terhadap kwalitas sumber daya manusia Provinsi Kepri.
2) Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, masih diminati masyarakat yang membutuhkan lapangan kerja. Peluang tersebut telah dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara illegal dan tanpa dibekali keterampilan yang memadai berakibat pada lemahnya perlindungan hukum pekerja asal Indonesia di luar negeri, bahkan banyak yang dideportasi melalui Provinsi Kepri setelah terlebih dahulu menjalani hukuman.
3) Masalah sengketa tanah dan penggusuran masih terjadi di beberapa daerah yang ada di wilayah Provinsi Kepri, diwarnai dengan aksi protes dan unjuk rasa yang dilakukan masyarakat yang didukung oleh berbagai pihak seperti mahasiswa dan LSM serta Ormas di beberapa kantor pemerintahan seperti di kantor DPRD, kantor pemerintah daerah dan Badan Otorita Batam. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat masih berpegang pada hukum adat / tanah ulayat yang berbenturan dengan hukum nasional, serta adanya keberpihakan dari oknum pejabat pemerintah atau mantan pejabat pemerintah daerah.
4) Masalah perselisihan antara Buruh dengan Perusahaan di Kota Batam, Bintan dan Karimun sering terjadi antara lain masalah PHK, masalah UMK/
UMP dan hak-hak karyawan yang belum dipenuhi oleh pihak Management Perusahaan sehingga sering terjadi aksi mogok kerja Karyawan dan aksi
unjuk rasa ...
14 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
Unjuk Rasa ke Instansi pemerintah (Pemprov, DPRD Provinsi/ Kota, Pemkab/ Pemko Batam, Disnaker untuk menyampaikan tuntutan mereka yang belum terpenuhi.
5) Maraknya perkembangan tempat hiburan malam di Kota Batam menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat dan agama karena hal tersebut dinilai merusak sendi-sendi budaya bangsa Indonesia, sehingga dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap sikap mental generasi muda Kota Batam, hal tersebut terjadi karena bebasnya dunia hiburan malam yang mengarah ke praktek - praktek prostitusi, free sex, perjudian, narkoba dan perbuatan lainnya yang mengarah kepada rusaknya moral generasi muda Kota Batam khususnya, generasi muda tentunya menjadi harapan sebagai penerus bangsa pada masa yang akan datang.
6) Pertumbuhan berbagai aliran dari setiap agama perlu diwaspasai dan dicermat, sebab dapat saja berkembang menjadi aliran sesat yang dapat memecah belah antar dan intern umat beragama serta dapat berkembang menjadi Konflik yang bernuansa SARA.
7) Masih didapatinya sebagian kelompok muslim tertentu yang mempunyai pemahaman berbeda berbagai keyakinan keagamaan telah menimbulkan disharmonisasi terhadap aliran agama yang berbeda, sehingga mengandung kerawanan munculnya konflik antar agama yang tidak sesuai dengan penggunaannya juga dapat menimbulkan konflik antar umat beragama dan hal ini sudah beberapa kali terjadi di wilayah Prov. Kepri.
8) Masih didapatinya aliran sesat yang ada di Indonesia khususnya wilayah hukum Polda Kepri. Menurut data Majelis Ulama Indonesia (MUI) terdapat aliran yang dianggap sesat yaitu Jamaah Ahmadiyah, Ikrar Sunah, Qur’an Suci Sholat dua bahasa dan Al-Qidayah Al-Imamiyah.
9) Pemanfaatan atas nama agama terhadap kepentingan tertentu oleh kelompok/ormas tertentu dapat memunculkan kelompok radikal garis keras yang sewaktu-waktu dapat melakukan serangan kepada pemerintah dan fasilitas umum yang berimplikasi terhadap aspek kehidupan secara regional/kewilayahan dan Nasional.
10) Masalah Pendirian tempat ibadah berdasarkan Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor : 8 Tahun 2006 dan Nomor : 9 Tahun 2006, masih menjadi dilema dalam kehikdupan dan kerukunan antar umat beragama Bahkan, tidak jarang dapat menimbulkan perselisihan antar umat beragama.
e. aspek keamanan ...
15 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
e. Aspek Keamanan.
Secara umum situasi keamanan di wilayah hukum Polda Kepri masih kondusif, meskipun masih ada beberapa kasus kriminalitas yang terjadi khususnya di Kota Batam sebagai wilayah yang terpadat penduduknya dan memiliki permasalahan paling kompleks diantara wilayah lainnya di Kepri. Permasalahan kriminalitas di Batam umumnya adalah curas dan curat.
1) Perdagangan narkoba; masuknya narkoba ke Kepri sebagian besar dari luar negeri yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand kemudian diselundupkan melalui beberapa alternatif diantaranya jalur laut melalui pelabuhan tikus yang masih kurang pengamanannya, jalur udara melalui bandara yang belum dilengkapi dengan alat pendeteksi khusus narkoba, jalur ekspedisi yang sedang marak digunakan dengan menggunakan pengalihan/ penyesatan tanpa alamat pengirim kemudian ditransfer dari satu ekspedisi ke ekspedisi lainnya hingga ke tempat tujuan akhir untuk mempersulit pengungkapannya.
2) Masih ditemukannya kasus trafficking di wilayah Hukum Polda Kepri yang disebabkan faktor ekonomi para korban dan lemahnya pengawasan dokumen serta upaya penegakan hukum untuk menjaring pelaku utamanya sejak melalui proses perekrutan dari daerah asal, transportasi baik secara legal maupun ilegal serta eksploitasi yang mengarah kepada adopsi ilegal, penjualan organ tubuh, perkawinan dan lain-lain.
3) Penyalahgunaan Bahan Peledak (handak) yang dilakukan oleh para nelayan tradisional maupun nelayan asing dari Thailand untuk melakukan pengeboman ikan di perairan wilayah hukum Polda Kepri sering terjadi di Pulau Tambelan dan Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan serta Kabupaten Natuna.
4) Aksi teroris, ISIS yang saat ini sedang gencarnya melakukan aksi terror dan mengincar Personil Polri karena alasan balas dendam mengingat banyaknya jaringannya yang telah tertangkap oleh Polri, kelompok yang saat ini gencar diburu oleh Tim Densus 88 sebagian besar merekrut kelompok pemuda yang belum mempunyai pekerjaan tetap dan jauh dari perhatian Orang tua terutama mempelajari pendidikan agama setengah- setengah. Sasaran yang rawan di jadikan aksi terorisme baik itu penembakan, pelemparan bom/granat, aksi bom bunuh diri dan sebagainya adalah masrkas Polisi yang terkesan sepi personil pengamanannya, Pos Polisi Lalu Lintas, personil Polri yang berjaga sendiri Kelompok di lapangan dan sebagainya.
5) Penyakit Masyarakat terutama judi, miras dan penyalahgunaan Narkoba sampai saat ini masih diminati sebagian masyarakat, baik yang ada di daerah perkotaan dan di desa, sehingga cukup potensial terjadinya berbagai tindak kejahatan.
6) Adapun data Tindak Pidana di wilayah hukum Polda Kepri sampai dengan bulan November tahun 2016 yaitu 5.294 kasus, Kejahatan Transnasional sebanyak 6 Kasus sedangkan Kejahatan terhadap Kekayaan Negara sebanyak Jumlah 104 kasus.
B.ANALISA ...
16 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
B. ANALISA SWOT
1. Kekuatan (Strengths) 1. Organisasi
Tingkat Direktorat Intelkam Polda Kepri, dengan susunan organisasi sebagai berikut :
1) Unsur Pimpinan :
a) Direktur Intelkam Polda Kepri b) Wakil Direktur Intelkam 2) Unsur Pembantu Pimpinan
a) Kabag Analisis
b) Kasubdit I bidang Politik c) Kasubdit II bidang Ekonomi
d) Kasubdit III bidang Sosial dan Budaya e) Kasubdit IV bidang Keamanan
f) Kasubbag Renmin g) Kasi Yanmin h) Kasi Sandi i) Kasi Inteltek 2. Personel
1) Kuat Anggota Polri Ditintelkam Polda Kepri 01 Juni 2016
NO KEPANGKATAN DSP RIIL +/-
1 Pamen 25 17 -8
2 Pama 26 8 -16
3 Bintara 58 46 -12
4 Tamtama - -
Jumlah 109 71 -36
2) Kuat Anggota PNS Ditintelkam Polda Kepri 01 Juni 2015
NO KEPANGKATAN DSP RIIL +/-
1 Gol IV - - -
2 Gol III 6 1 -5
3 Gol II 18 - -18
4 Gol I - - -
Jumlah 24 1 -23
3. Materiil 1) Ranmor
NO URAIAN SATUAN KONDISI UNIT BB RR RB JML
1 Roda 4 4 Unit 4 2
2 Roda 2 1 Unit 1 1
JUMLAH 2 Unit 3 3
2) Senpi ...
17 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
2) Senpi
NO URAIAN SATUAN KONDISI UNIT BB RR RB JML 1 Senpi
Genggam
17 Pucuk 17 17
JUMLAH 17 Pucuk 17 17
3) Amunisi
NO URAIAN CALIBER KONDISI UNIT BB RR RB JML
1
Amunisi Senpi jenis Taurus
38 170 170
JUMLAH 170 170
4) Data Alkom
NO URAIAN SATUAN KONDISI UNIT
BB RR RB JML 1
2 3 4 5
Criptopone Faxmile Komputer Laptop Handphone
1 Unit 2 Unit 14 Unit 2 Unit 1 Unit
1 2 14
2 1
1 2 14
2 1
JUMLAH 19 Unit 18 19
5) Data Alsus/Alat Pendukung Lainnya
NO URAIAN SATUAN KONDISI UNIT BB RR RB JML 1
2 3
Camera Handycam Tape recording
4 Buah 1 Buah 2 Buah
4 1 2
4 1 2
JUMLAH 7 Buah 7 7
2. Kelemahan (Weaknesses)
a. Masih kurangnya Personil Ditintelkam Polda Kepri untuk melakukan penyelidikan dan monitoring serta pulbaket dalam giat masyarakat.
b. Dukungan anggaran Intelijen Keamanan yang masuk dalam Program Strategi Keamanan dan Ketertiban masih sangat kurang karena dibatasi dengan indeks biaya sehingga sangat menyulitkan operasional Intelijen.
c. Sistem ...
18 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
c. Sistem pembinaan sumber daya manusia, sistem pembinaan Matlog dan sistem pembinaan anggaran Intelijen Keamanan masih belum tertata dengan baik, sehingga sangat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja Intelijen Keamanan.
d. Adanya kelemahan Sumber daya manusia meliputi keterampilan/ mutu pendidikan Kejuruan dan hasil didik sebagai basis sumber daya manusia Intelijen, sangat berpengaruh terhadap Personil Intelkam yang pada gilirannya berdampak terhadap kinerja operasional Intelijen khususnya dalam menampilkan peran deteksi dan pemberi peringatan dini kepada Pimpinan.
e. Belum didukung sepenuhnya peralatan khusus (alsus) untuk beberapa penugasan khusus Intelijen pada Direktorat Intelkam.
f. Belum optimal peran serta masyarakat menyangkut teknis pemberian Informasi.
3. Peluang (Opportunites)
a. Kemajuan IPTEK, Komunikasi, transportasi, informasi dalam mendukung pelaksanaan tugas Intelijen keamanan akan memberikan peluang dalam memodernisasikan Intelijen keamanan.
b. Sistem desentralisasi / Otonomi daerah yang mendekatkan Pelayanan Pemerintah Daerah kepada masyarakat saling menunjang dengan kontribusi Polri di daerah.
c. Dukungan masyarakat madani (civil society) dan berbagai elamem masyarakat serta politik merupakan kepedulian masyarakat sekaligus merupakan peluang untuk mendorong Intelijen Keamanan dalam meningkatkan fungsi dan perannya.
d. Prinsip kerjasama Negara RI diantara pergaulan antar bangsa, memotivasi komitmen Personil Polri yang mendukung penanggulangan kejahatan Trans Nasional.
e. Partisipasi Publik / massyarakat dalam setiap upaya perpolisian termasuk kesediaan mengungkap perkara.
4. Ancaman (Threats)
a. Kondisi geografis Kepulauan Riau yang terdiri dari kepulauan dan perairan yang luas telah menciptakan kerawanan keamanan yang multidimensi.
b. Angka pelanggaran hukum dan indicator kriminalitas yang masih tinggi, mencakup 4 (empat) golongan jenis kejahatan yaitu kejahatan konvensional, transnasional crime, kejahatan terhadap kekayaan Negara dan kejahatan yang berimplikasi kontijensi.
c. Kegiatan politik praktis oleh kelompok-kelompok tertentu yang berusaha untuk mengacaukan Pemerintah dan Penyaluran aspirasi kepentingan masyarakat yang
tidak ...
19 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
tidak terwadahi dengan baik, sehingga mereka mencari dengan penyaluran lain diluar mekanisme yang ada, hal tersebut akan mudah memicu terjadinya gangguan Kamtibmas dan tindakan melawan hukum yang pada akhirnya akan manimbulkan keresahan masyarakat.
d. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung dapat berpotensi terhadap timbulnya kerawanan barkaitan dengan tekhnis penyelenggaraan maupun timbulnya gangguan stabilitas keamanan.
e. Penguasaan tanah yang tidak jelas kepastian hukumnya, sulitnya memperoleh sertifikat tanah, terjadinya penggusuran secara paksa, penertiban terhadap pendudukan tanah secara liar sangat mudah memicu emosi masyarakat yang sulit dikendalikan.
f. Kelangkaan BBM dan Sembako akan berdampak pada kenaikan harga yang akan menyebabkan menambahnya beban hidup masyarakat.
g. Krisis energi Listrik di Kepri (Kecuali Kota Batam) hal ini dapat menimbulkan Gejolak masyarakat diberbagai tempat berupa Protes dan Unjuk rasa.
5. Identifikasi Masalah
Dari analisa SWOT dapat diidentifikasi beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pencapaian kinerja Direktorat Intelkam Polda Kepri tahun 2017 antara lain :
a. Struktur Organisasi di Ditintelkam Polda Kepri belum sepenuhnya dapat mewadahi dan menampung tugas pokok Intelijen, khususnya dalam pembentukan Jaringan Intelijen.
b. Belum terpenuhinya secara maksimal kekuatan maupun kurangnya kemampuan personil Ditintelkam serta belum adanya peningkatan sarana dan prasarana pendukung giat rutin dan opsnal Ditintelkam.
c. Masih tinggginya indikator tindak pidana yang terjadi baik kasus – kasus kejahatan Konvensional maupun Transnasional.
d. Kualitas pemerataan dan keterjangkauan pelayanan Polri yang relatif belum optimal karena letak geografis Polda Kepri terdiri dari daerah Kepulauan.
e. Masih minimnya anggaran untuk melakukan giat Lidik, Pam, Gal dan Giat Ops Intelijen Kepolisian.
f. Masih Minimnya Alut dan Alsus yang dimiliki Oleh Ditintelkam Polda Kepri dalam menunjang Pelaksanaan tugas Operasional.
BAB II ...
20 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
BAB II
II. TUJUAN DAN SASARAN
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Polri yang di atur dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 dan dengan dipengaruhi aspek perkembangan kehidupan nasional dan faktor lingkungan, baik internal maupun eksternal, maka telah ditetapkan Visi, Misi dan Kebijakan serta strategi Ditintelkam Polda Kepri pada tahun 2017, yaitu sebagai berikut :
A. VISI DAN MISI
1. Visi dan Misi Polda Kepri a. Visi Polda Kepri
Terwujudnya postur SDM Polda Kepri yang unggul bermoral dan modern dalam pelayanan prima kepada masyarakat, melalui penegakan hukum yang efektif, sinergi polisional proaktif guna mendukung terciptanya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian serta terjalinnya kemitraan dengan masyarakat dan interdepartemen berlandaskan kegotong royongan dalam rangka memantapkan Kamtibmas Provinsi Kepulauan Riau.
b. Misi Polda Kepri
1) mewujudkan pemuliaan pelayanan kamtibmas prima untuk meningkatkan kepercayaan publik melalui kegiatan preemtif, preventif dan represif (penegakan hukum) sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) guna mewujudkan keamanan dan ketertiban yang semakin kondusif sampai dengan pulau terluar berpenghuni;
2) mengelola secara profesional, transparan, akuntabel dan modern seluruh sumber daya yang dimiliki guna mendukung kegiatan operasional Polda Kepri terutama dalam mengamankan sumberdaya maritim;
3) mewujudkan prinsip BETAH dalam rekrutmen anggota Polri dan rekrutmen jabatan terbuka;
4) membangun jaringan intelijen yang handal, yang mampu melaksanakan deteksi dini dan deteksi aksi secara cepat dan akurat setiap gejolak sosial yang timbul dalam masyarakat;
5) melakukan penegakan hukum secara transparan, tidak diskriminatif, menjunjung tinggi supremasi hukum,HAM, bebas korupsi, bermatabat dan terpercaya;
6) menjamin terlaksananya penanggulangan keamanan dalam negeri di wilayah Prov. Kepulauan Riau utuk mendukung terciptanya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian;
7) meningkatkan kemitraan dengan masyarakat dan mempererat Sinergi Polisional Inter Departemen (Sisspindep) dengan Instansi terkait berlandaskan kegotong royongan;
8) menjamin ...
21 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
8) menjamin terlaksananya program kerja, terselenggaranya pengelolaan anggaran dan keuangan negara serta administrasi dan perbendaharaan yang transparan, pofesional dan akuntabel.
2. Visi dan Misi Ditintelkam Polda Kepri a. Visi Ditintelkam Polda Kepri
Menjadi Intelijen Keamanan yang berkemampuan pengindera dini dan pencegah efektif, setiap gangguan keamanan yang akan merusak sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Wilayah Hukum Polda Kepri Berdasarkan Pancasila Dan UUD 1945.
b. Misi Ditintelkam Polda Kepri
1) Mendeteksi secara dini sumber-sumber potensi gangguan keamanan di Wilayah Hukum Polda Kepri.
2) Mewujudkan kondisi yang mendukung terselenggaranya kegiatan pemerintahan dan kehidupan masyarakat serta terjaminnya kepentingan nasional.
3) Mewujudkan intelijen keamanan sebagai pusat informasi keamanan yang akurat, aktual dan terpercaya dalam rangka mengamankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4) Membangun intelijen keamanan beserta infra strukturnya dalam satu sistem terintegrasi dan tergelar dari tingkat pusat sampai tingkat kewilayahan yang didukung oleh etika profesi intelijen.
5) Membangun dan mengembangkan kerjasama dengan badan intelijen dalam dan luar negeri sebagai salah satu wujud sinergi upaya pemeliharaan keamanan.
6) Membangun jaringan komunikasi dalam masyarakat sejalan dengan pemberdayaan masyarakat dalam keamanan dan ketertiban masyarakat
B. TUJUAN JANGKA MENENGAH
1. Tujuan Polda Kepri
a. Terwujudnya organisasi Polda Kepri yang Good Governance dan clean Goverment;
b. Terwujudnya reformasi di Polda Kepri terhadap perubahan mind set dan culture set;
c. Terwujudnya Polda Kepri yang mengutamakan tindakan proaktif dari pada tindakan reaktif;
d. Terwujudnya
22 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
d. Terwujudnya Polda Kepri yang profesional, bermoral, modern dan unggul;
e. Terwujudnya penegakan hukum yang transparan, akuntabel dan anti KKN.
2. Tujuan Ditintelkam Polda Kepri
a. Terwujudnya kultur dan etika profesi Intelijen agar lebih profesional melaksanakan tugas serta diharapkan tumbuh terbangunya kepercayaan (Trust building) dari pimpinan terhadap kinerja Intelijen Keamanan.
b. Terwujudnya Satuan Operasioanl Intelijen yang mempunyai kemampuan teknis dan taktik Intelijen yang handal.
c. Terungkapnya jaringan kejahatan internasional terutama narkotika, perdaganagan manusia, pencurian ikan, pencucian uang dan terorisme.
d. Terlindunginya keamanan informasi rahasia lembaga/ fasilitas vital negara sesudah ditetapkannya zona perdagangan bebas.
e. Terkendalinya gangguan keamanan dan pelanggaran hukum diperairan Indonesia dan Pelayaran Internaional dalam hal perdagangan dan distribusi.
f. Terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya alam, serta membaiknya penegakan hukum dalam mengelola sumber daya alam (Ilegal loging, Ilegal Fising, ilegal Trading, ilegal mining dan kejahatan lingkungan hidup).
g. Meningkatnya kepatuhan dan kesadaran masyarakat terhadap hukum.
h. Meningkatnya kinerja polri tercermin dengan menurunnya angka kriminalitas, pelanggaran hukum dan meningkatnya penyelesaian kasus serta banyaknya partisipasi masyarakat terhadap tugas-tugas polisi dilapangan.
C. SASARAN PRIORITAS
1. Sasaran prioritas Polda Kepri
Berdasarkan tahapan capaian Renstra Polda Kepri tahin 2017 dengan Capaian:
”Meningkatkan Pelayananan masyarakat yang prima samapai Pulau terluar berpenghuni dan Sinergi Polisional yang Produktif dengan didukung Sumber Daya Manusia berkualitas serta berkemampuan Ilmu dan Teknologi guna menghadapi berbagai tantangan Tugas”, maka sasaran Prioritas Polda Kepri tahun 2017 adalah sebagai berikut :
a. Penataan Personel Polda Kepri melalui Pembinaan Karier dan Penyelenggaraan Rekruitmen anggota Polri sesuai Prinsip BETAH (Bersih, Tranparan, Akuntabel dan Humanis).
b. Meningkat Profeionalisme serta penguasaan ilmu dan Teknologi Modern bagi Personil Polda Kepri melalui Pendidikan dan Latihan.
c. Meningkatkan ...
23 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
c. Meningkatkan Kesejahteraan Personil dalam Bidang Pelayanan Kesehatan dan Pelaksanaan Pengembangan Sarpras dan Kapor Polri Poda Kepri.
d. Terpeliharanya Situasi aman dan tertib di Masyarakat melalui giat Kamtibmas di wilayah Polda Kepri serta terlselenggaranya Pengamanan Serentak gelombang II Tahun 2017.
e. Terlaksananya Penegakan Hukum yang Profesional, transparan, akuntabel dan anti KKN.
f. Menguatnya Sitem Pengawasan yang efektif untuk mewujudkan pelayanan Polda Kepri yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
g. Meningkatnya Partisipasi Masyarakat dalam menciptkan keamanan dan ketertiban masyarkat melalui peran Bhabinkamtibmas di Desa/Kelurahan.
h. Tercapainya Sasaran Reformasi Birokrasi Polri dan Quickwins Polri di Polda kepri dan Jajaran.
2. Sasaran Prioritas Ditintelkam Polda Kepri a. Bidang Pembinaan (Internal)
1) Terwujudnya peningkatan kompetensi Teknis professional fungsi Intelijen keamanan yang menguasai pengetahuan fungsi dan manajeman Intelijen Keamanan serta terampil melaksanakan tugas Intelijen berdasarkan teknis dan taktis intelijen yang benar.
2) Tersusunnya pola dan mekanisme kerja yang jelas, jabaran tugas berdasarkan perannya sebagai unsur pendeteksi dan peringatan dini serta prediksi kondisi kemananan dan pengkondisi situasi yang kondusif bagi pelaksanaan tugas Polri dan Pemerintahan.
3) Terwujudnya pembenahan dan pengembangan personil intelijen serta peningkatan kuantitas dan kualitas personil Intelijen Keamanan dengan mengadakan Pendidikan dan pelatihan Intelijen secara konsisten dan kontinyu.
4) Terwujudnya peningkatan dukungan anggaran yang memadai, bukan hanya mencukupi kebutuhan rutin saja tapi justru banyak tugas-tugas Intelijen yang dilakukan secara khusus demi kepentingan masyarakat.
5) Membangun materiil dan logistik Ditintelkam polda kepri dan jajaran dengan mengusulkan ke mabes polri
b. Bidang Opsnal
1) Meningkatkan kerja sama dengan pemda dan instansi terkait dalam pembangunan infrastruktur pembinaan kamtibmas, pendidikan, pelatihan dan pembinaan ketertiban umum serta peningkatan potensi keamanan.
2) Terwujudnya strategi keamanan dan ketertiban dan terwujudnya jaringan intelijen dalam rangka deteksi dini setiap potensi yang akan berkembang menjadi gangguan kamtibmas.
3) Terwujudnya ...
24 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
3) Terwujudnya pemberdayaan potensi masyarakat antara lain tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh politik, intelektual, pengusaha, media massa, organisasi massa dan lembaga swadaya masyarakat, antara lain melalui program polmas terstruktur pada polres.
4) Terdeteksinya kegiatan masyarakat, pemerintahan dan sumber-sumber serta Potensi Gangguan kemanan dalam seluruh aspek kehidupan baik yang bersifat statis (Trigatra) maupun yang bersifat dinamis (Pancagatra), khusunya terhadap potensi illegal Logging, illegal Mining, illegal fishing, trafficking in person, Money laundering, penyimpangan agama dan aliran kepercayaan, penyalahgunaan Narkoba, penyalahgunaan Senpi handak, potensi konflik serta kegiatan tororisme.
5) Melaksanakan percepatan proja akselerasi transformasi Polri secara terus menerus menuju polri yg profesional dan modern serta pelayanan cepat (quick wins) kepada masyarakat.
BAB III ...
25 LAMPIRAN KEPUTUSAN DIRINTELKAM POLDA KEPRI NOMOR : 02 / XII / 2016 TANGGAL : 27 DESEMBER 2016
BAB III
III. ARAH KEBIJAKAN
Arah Kebijakan Strategis Polda Kepulauan Riau yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
A. BIDANG PEMBINAAN
1. Mengusulkan peningkatan pemenuhan Almatsus Polda Kepri dibidang sarana prasarana yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat;
2. Optimalisasi pelayanan masyarakat yang prima melalui penggelaran personel dan peralatan Polda Kepri yang berbasis teknologi;
3. Mengusulkan pembangunan markas kepolisian baru terkait dengan pengembangan wilayah administratif, memelihara dan merawat markas kepolisian yang telah tergelar dalam rangka peningkatan pelayanan Kamtibmas yang unggul;
4. Peningkatan kemampuan Polair dengan mengusulkan penambahan kapal yang dapat menjangkau pulau terluar dan wilayah terluar berpenghuni/ berpenduduk dalam rangka mendukung poros maritim;
5. Mengusulkan peningkatan sarana dan prasarana Polda Kepri dalam rangka optimalisasi penyidikan melalui usulan pembangunan laboratorium forensik;
6. Melaksanakan rekrutmen anggota Polda Kepri dengan memperhatikan kebutuhan organisasi;
7. Meningkatkan profesionalisme anggota Polda Kepri melalui pendidikan dan pelatihan;
8. Mengusulkan peningkatan kesejahteraan personel Polda Kepri serta mengusulkan peningkatkan alokasi anggaran yang proporsional dalam rangka profesionalisme pelayanan Kamtibmas kepada masyarakat;
9. Menyelaraskan dan mengefektifkan secara optimal kegiatan pengawasan dan pemeriksaan oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) guna mewujudkan aparat Polda Kepri yang profesional dan akuntabel serta menerapkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) secara maksimal guna mencegah terjadinya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN);
10. Mengoptimalkan sinergi polisional antar departemen /kementerian/lembaga serta kerjasama dengan negara tetanggadalam pengamanan wilayah perbatasan;
11. Meningkatkan kualitas keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dengan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan baik didarat maupun di laut;
12. Melanjutkan pemantapan pelaksanaan perpolisian masyarakat (community policing) dengan Bhabinkamtibmas dan kelompok kesadaran masyarakat tentang Kamtibmas;
13. Penguatan ...