93 |
ANALISIS NILAI-NILAI ESTETIKA
DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA KARYA TERE LIYE
Endah Mustika Pertiwi, Adha Fajarrinnur IAIN Palangka Raya
Pos-el: [email protected] Abstrak
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai estetika yang terdapat dalam novel Bidadari- Bidadari Surga karya Tere Liye. Nilai estetika dalam novel adalah bentuk kreativitas penulis.
Nilai-nilai estetika meliputi keindahan dalam segi bahasa, penyampaian cerita, pelukisan alam yang begitu nyata, keistimewaan tokoh, dan penggambaran tentang lingkungan. Keindahan uraian karakter tiap tokoh yang dikemas dalam kesatuan kalimat melatarbelakangi penelitian terkait estetika yang terkandung dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liya.
Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan teknik baca dan tulis menggunakan metode library research (kajian pustaka) dan bersifat deskriptif dengan sumber data berasal dari novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye. Penulis menjabarkan nilai estetika berdasarkan keindahan bahasa yang dipilih secara tepat oleh Tere Liye. Nilai-nilai estetika dalam novel Bidadari-Bidadari Surga terlihat dari penguatan karakter tokoh, pengunaan kata kiasan serta penggambar hiperbolis dari alur cerita. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi para penikmat sastra dan berfokus pada kalimat yang menggugah emosi pembaca.
Kata kunci: nilai-nilai estetika, novel
PENDAHULUAN
Karya sastra pada dasarnya adalah gambaran yang begitu komplet tentang kehidupan manusia yang diabstraksikan. Karya sastra juga merupakan sebuah gambaran terhadap keadaan sekitar yang digambarkan dengan kata-kata yang indah. Karya sastra tersebut berisi pengalaman- pengalaman yang dimiliki oleh penulis atau sekelompok masyarakat.
Bagi pembaca sastra, bahasa di dalam sastra dapat melahirkan sebuah keindahan.
Perpaduan antara diksi yang tidak biasa dan penafsiran yang begitu dalam maknanya merupakan wujud dari keindahan dan kebermaknaan sastra yang dikaji. Tidak hanya tentang persoalan bahasa, kemampuan penulis dalam memainkan jiwa pembacanya melalui cerita atau pesan-pesan moral yang ada di dalam sebuah cerita juga merupakan unsur keindahan lain di dalam sebuah karya sastra.
Karya sastra banyak mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi pembacanya. Nilai-nilai yang terkandung dalam dalam sebuah karya sastra pada dasarnya mencerminkan kenyataan di dalam kehidupan yang memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu nilai yang terkandung di dalam sastra adalah nilai estetika.
Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan sebuah karya sastra tergolong bagus atau tidak dapat dilihat dari segi estetikanya. Adapun kriteria lain dapat berupa reputasi atau kecemerlangan ilmiahnya (Wellek dan Warren, 1995). Persoalan tentang estetika dalam karya sastra merupakan salah satu hal yang menarik untuk dikaji karena di dalamnya mewariskan ide- ide kontemporer tentang simbol dan pengalaman estetik tentang harmonis estetik dan sifatnya yang unik.
e-ISBN 978-623-5769-07-3 p-ISBN 978-623-5769-06-6
Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Daerah I (Sinar Bahtera I) 94 | Bidadari-Bidadari Surga karya penulis ternama Indonesia dengan nama pena Tere Liye adalah novel best seller yang telah difilmkan dan memiliki serial di layar kaca. Novel berkisah tentang Laisa selaku tokoh utama yang menjadi seorang kakak tangguh di Lembah Lahambay.
Laisa dengan segala keterbatasannya kerap kali menjadi buah bibir masyarakat, terlebih fisiknya yang berbeda dari saudara-saudarinya. Laisa sebagai kakak dari Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta selalu menjanjikan kehidupan yang lebih indah di luar lembah mereka kepada adik- adiknya. Dengan didikan senantiasa untuk bekerja keras, jujur, dan pantang menyerah, Laisa memberikan berbagai pesan kepada pembaca lewat karakter yang dimilikinya.
Tahun 2008—2012 novel itu sudah dua belas kali cetak. Gambaran Laisa yang bukan seorang perempuan ideal secara fisik membuat pembaca lebih dalam menyelami budi pekerti yang dimilikinya. Penggambaran Lembah Lahambay, cerita rakyat mengenai harimau, dan kesuksesan anak-anak itu berhasil mengaduk emosi pembaca.
Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai estetika dalam karya Tere Liye yang berjudul Bidadari-Bidadari Surga. Adapun alasan pemilihan novel itu sebagai objek penelitian adalah novel Bidadari-Bidadari Surga merupakan salah satu novel terbaik karya Tere Liye. Dalam novel itu diceritakan kisah yang begitu menarik dan dapat membawa pembacanya tenggelam begitu dalam dengan ceritanya. Novel itu juga begitu banyak mendapat pujian dari penulis terkenal lainnya di Indonesia.
Sebuah penelitian yang baik harus mengacu kepada penelitian sebelumnya. Penelitian tentang nilai-nilai estetika dalam novel Bidadari-Bidadari Surga belum pernah dilakukan. Dapat dipastikan penelitian ini merupakan yang pertama kali dilakukan. Namun, telah terdapat banyak penelitian nilai estetika dalam novel lainnya.
Sugiarti dalam penelitiannya “Estetika dalam Novel Jatibasa Karya Ramayda Akmal”
menuliskan bahwa novel sebagai proses hasil kreatif imajinatif pengarang selalu memanfaatkan estetika di dalamnya. Karya sastra memperhatikan estetika dalam potensi sosial yang dijadikan kreativitas dan inspirasi pengarang. Penelitian itu berfokus pada keunikan kode estetika yang berkaitan dengan penggunaan bahasa yang berfungsi sebagai wadah ekspresi dan komunikasi serta mengarah kepada estetika sosial yang mampu mewakili nuansa estetis yang dimunculkan (Sugiarti, 2016).
Mustaqim (Mustaqim, 2016) dalam penelitian yang berjudul “Pengalaman Estetik pada Novel O Karya Eka Kurniawan dalam Perspektif Posmodernisme” mengemukakan bahwa novel O mengedepankan estetika dalam penyampaiannya. Tidak hanya estetika pada kebahasaan, tetapi juga pengalaman estetik yang mendalam. Penelitian itu menghasilkan lima kriteria pengalaman estetika, yaitu keterusterangan, kebebasan yang dirasakan, pengaruh terpisah, penemuan aktif, dan keutuhan.
Penelitian Riyanti (2016) berjudul “Nilai Estetika dalam Novel Mahamimpi Anak Negeri Karya Suyatna Pamungkas dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA” menyebutkan bahwa nilai estetika adalah aspek-aspek keindahan yang terkandung dalam sastra umumnya didominasi oleh gaya bahasa. Riyanti berpendapat bahwa nilai estetika merupakan keharmonisan antara ide yang diceritakan dan cara menceritakan pengarang melalui media bahasa. Melalui bahasa, pengarang mudah menyampaikan ide-ide yang dituangkan dalam karya sastra sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan untuk memahami isi karya sastra tersebut. Nilai estetika dapat memberikan aspek keindahan dan kenikmatan pada karya sastra. Nilai estetika dalam novel itu meliputi keindahan moral, keindahan susila, keindahan akal, dan keindahan alam (Riyanti, 2016).
Berorientasi dari uraian penelitian mengenai nilai-nilai estetika dalam novel di atas dapat ditarik simpulan bahwa topik penelitian ini belum pernah dikerjakan sebelumnya oleh pihak mana pun sehingga keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan.
Pertiwi dan Fajarinnur: Analisis Nilai-Nilai Estetika ….
95| Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah library research (kajian pustaka) yang bersifat deskriptif. Library research adalah studi yang mempelajari berbagai referensi mengenai buku, jurnal, catatan, dokumen, dan literatur yang berkaitan dengan hal yang mendukung penelitian. Penelitian ini bersifat deskriptif karena menggambarkan secara objektif tentang suatu keadaan. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah novel Bidadari-Bidadari Surga Karya Tere Liye. Kalimat yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika menjadi data penelitian.
PEMBAHASAN
Novel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut sebagai karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel berasal dari bahasa Italia novella dan bahasa Jerman novelle yang berarti sebuah barang baru yang kecil. Novel kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang tidak terlalu panjang dan tidak juga terlalu pendek (Purnamasari dkk., 2017).
Novel adalah media penuangan pikiran, perasaan, dan gagasan penulis dalam merespons kehidupan di sekitarnya. Ketika di dalam kehidupan muncul permasalahan baru, nurani penulis novel akan terpanggil untuk segera menciptakan sebuah cerita. Kemajuan bidang yang lain, seperti periklanan, menjadikan novel dapat dipadukan dengan kegiatan lain, misalnya usaha bisnis. Hal itu terlihat pada novel yang diangkat dalam cerita bersambung, iklan-iklan yang diselipkan di dalamnya cukup banyak (Salfia, 2015). Novel merupakan bagian dari genre prosa fiksi (Kustanti, 2016). Dapat diartikan secara sederhana bahwa novel adalah bagian dari karangan yang dibentuk menjadi satu kesatuan bahasa berisi imajinasi penulis.
Estetika dalam Novel
Novel adalah bagian dari karya sastra yang sarat akan keindahan. Novel sebagai hasil dari khayalan penulis yang tersusun secara sistematis bersinggungan langsung dengan bahasa.
Bahasa sebagai unsur penting dalam sebuah novel memiliki peran penting untuk menghubungkan pembaca dengan jalan cerita dan perlahan-lahan bertugas menyentuh sensitivitas pembaca.
Estetika bermakna keindahan dan novel adalah karya sastra yang sering kali menyuguhkan keindahan dalam penyampaian isinya.
Secara etimologis, estetika berasal dari kata Yunani aisthetis. Pengamatan adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Dalam pengalaman atas dunia sekeliling ditemukan suatu bidang yang disebut indah. Pengalaman akan keindahan merupakan objek dari estetika.
Mengapa objek-objek tertentu atau bidang-bidang tertentu sangat menarik untuk manusia? Dalam estetika dicari hakikat atas keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni) dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, yang agung, yang tragis, yang bagus, yang mengharukan dan seterusnya. Dalam pengertian yang luas, estetika berarti kepekaan untuk menanggapi suatu objek kemampuan pencerapan indra sebagai sensitivitas dalam bentuk keindahan. Dalam teori-teori kontemporer hakikat keindahan dapat dipahami semata-mata dengan cara menyambung (Sugiarti, 2009).
Tambajong (dalam Riyanti, 2016) menyatakan bahwa estetika memiliki beberapa manfaat, yaitu (1) keindahan moral menggambarkan keindahan baik buruknya suatu perbuatan, sikap,
e-ISBN 978-623-5769-07-3 p-ISBN 978-623-5769-06-6
Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Daerah I (Sinar Bahtera I) 96 | akhlak, dan budi pekerti yang diterima oleh umum; (2) keindahan susila merupakan keindahan yang lebih terikat pada pengertian sifat yang dalam dari moral, seperti sopan santun, budi bahasa, dan adab; (3) keindahan akali merupakan keindahan daya pikir yang menciptakan seni pada sebuah karya, mutu karya sastra bergantung pada kualitas akalnya; dan (d) keindahan alami merupakan sifat alam dan sumber segala keindahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa untuk dinikmati manusia.
Analisis Nilai-Nilai Estetika
Nilai estetika dalam novel Bidadari-Bidadari Surga meliputi keindahan moral, keindahan susila, keindahan akali, dan keindahan alami. Analisis tersebut berdasarkan pada gaya bahasa, karakter tokoh, dan penggambaran yang begitu hidup dari latar kejadian yang digambarkan dalam novel.
Keempat nilai estetika tersebut telah mencakupi setiap pemerincian estetika novel. Berikut analisis nilai-nilai estetika dalam novel Bidadari-Bidadari Surga.
Nilai Moral
Keindahan moral menggambarkan keindahan baik buruknya suatu perbuatan, sikap, akhlak, dan budi pekerti yang diterima oleh umum. Adapun keindahan moral yang terdapat dalam novel Bidadari-Bidadari Surga adalah sebagai berikut.
Rasa Saling Peduli, Percaya, dan Melindungi yang Ditunjukkan oleh Laisa kepada Adik- Adiknya
Kepedulian antar satu sama lain menjadi bagian menarik yang senantiasa ditunjukkan dalam novel ini. Sebagai kelompok terkecil yang terbentuk, keluarga kerap kali saling berbagi kasih sayang.
Dalam novel, kasih sayang yang ditunjukkan beragam, terlebih lagi adanya karakter yang kuat pada tokoh. Salah satu bagian yang menunjukkan rasa kepedulian adalah saat Laisa memergoki Dalimunte yang membolos sekolah. Peristiwa tersebut terdapat pada kutipan berikut.
“KAU ANAK LELAKI DALIMUNTE! Anak lelaki harus sekolah! Akan jadi apa kau jika tidak sekolah?
Pencari kumbang di hutan sana seperti orang laindi kampong ini? Penyadap damar? Kau mau menghabiskan seluruh masa depanmu di kampong ini? Setiap tahun berladang dan berharap hujan turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup makan! Kau mau setiap tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama belalang menyerang ladang? Hah, mau jadi apa kau Dalimunte?”
Kutipan di atas menujukkan sikap peduli Laisa terhadap Dalimunte yang membolos sekolah.
Terlihat Laisa marah kepada Dalimunte atas sikap adiknya tersebut. Hal ini karena Laisa tidak ingin Dalimunte hanya berada dalam lingkar kehidupan yang sama.
Pengarang juga menggambarkan rasa kepercayaan yang terbangun dalam keluarga sederhana ini. Peristiwa ini terjadi ketika Dalimunte mengajukan idenya di balai desa untuk membangun kincir air di cadas.
“Tidak ada. Tidak ada yang menjamin itu akan behasil. Benar! Itu akan membuang-buang tenaga jika gagal! Tapi jika berhasil? Kita sudah bertahun-tahun hanya menggantungkan nasib ladang kita, hidup kita, kampong kita, dari kebaikan hujan. Sudah saatnya kita membuat irigasi sendiri untuk ladang-ladang itu. Berpuluh-puluh tahun sejak kincir raksasa itu gagal dibuat tidak ada lagi yang memikirkan bagaimana caranya mengangkat air sungai dari bawah cadas. Tidak ada salahnya
Pertiwi dan Fajarinnur: Analisis Nilai-Nilai Estetika ….
97| mencoba kincir-kincir air itu. Lima kincir bertingkat. Itu masuk akal. Semasuk akalnya seperti kita berharap benih di ladang tumbuh saat musim penghujan!” Kak Laisa berkata lantang dan cepat.
Amat meyakinkan.
Laisa melalui kutipan tersebut berucap dengan segenap kepercayaannya terhadap Dalimunte yang dapat mewujudkan perubahan pada Lembah Lahambay lewat kincir air buatannya.
Dalimunte yang terkenal siswa paling pintar dan sering dijahili oleh Wibisana dan Ikanuri dengan sebutan profesor hingga mereka dewasa pun mendapat kepercayaan tersebut. Terlepas dari itu, perkataan Laisa menjadi salah satu alasan penduduk lembah menerima ide Dalimunte. Pertemuan dengan Puyang sang legenda Gunung Kendeng, menggambarkan betapa Laisa melindungi adik- adiknya. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut.
“Pergilah Ikanuri, Wibisana. Pergi dari sini! PERGI!” Kak Laisa mendorong Ikanuri dan Wibisana yang pucat pasi di belakangnya. Sementara wajah Kak Laisa terus bersitatap dengan harimau-harimau itu.
Menjaga segala kemungkinan. “Dali bawa adik-adikmu … LARI!” Kak Laisa berseru panik. “Dali, bilang Mamak, Lais pergi.”
Kalimat-kalimat yang dilontarkan Laisa sarat akan makna ketulusan untuk melindungi adik- adiknya. Kalimat itu diucapkan dengn intonasi sendu dan suara serak yang dideskripsikan oleh pengarang.
Gotong Royong Penduduk Lembah Lahambay dalam Membuat Kincir Air
Gotong royong merupakan sikap tolong-menolong yang lekat dengan masyarakat Indonesia.
Gotong royong terjadi apabila terdapat hal-hal mengenai kepentingan bersama yang harus dilakukan. Perilaku gotong royong terjadi saat penduduk lembah akan melaksanakan ide Dalimunte. Kondisi tersebut dapat dilihat melalui kutipan berikut.
“Ahad berikutnya, seperti kesepakatan pekan lalu, penduduk kampong bergotong royong membuat lima kincir air di pinggir cadas sungai. Melaksakan ide Dalimunte.
Lelaki dewasa, mulai dari orang tua hingga pemuda tanggung, setengah hari menghabiskan waktu di hutan, menebang belasan batang bambu besar-besar, setidaknya tak kurang satu jengkal diameternya. Sementara ibu-ibu dan gadis tanggung membantu menyiapkan kue-kue kecil macam serabi, putri salju, juga teh panas. Beserta pula makan siang.”
Nilai estetika terpampang jelas dalam budaya gotong royong penduduk lembah. Keindahan perilaku yang ditunjukkan dijelaskan secara spesifik oleh pengarang. Selain itu, berdasarkan kutipan tersebut terlihat penduduk lembah saling membantu untuk kelancaran pembuatan kincir air.
Keindahan Susila
Keindahan asusila merupakan keindahan yang lebih terikat pada pengertian sifat yang dalam dari moral, seperti sopan santun, budi bahasa, dan adab.
e-ISBN 978-623-5769-07-3 p-ISBN 978-623-5769-06-6
Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Daerah I (Sinar Bahtera I) 98 | Nasihat Laisa kepada Dalimunte, Ikanuri, dan Wibisana tentang Kehidupan yang Lebih Baik di Luar Lembah
Berlaku sebagai sulung di keluarganya tanpa sosok ayah, Laisa bertindak menjadi banyak peran bagi adik-adiknya. Dengan Mamak yang selalu mendampingi mereka, Laisa selalu memberikan motivasi untuk bekerja keras. Laisa di berbagai kesempatan menasihati adik-adiknya dengan berbagai cara dan perilaku yang dimilikinya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Suatu hari nanti…” Kak Laisa terdiam sebentar, ia tersenyum amat tulus sambil menatap wajah adik-adiknya di remang merah langit, wajahnya sungguh kontras dengan mereka, ia berkulit hitam, sementara adik-adiknya putih, ia berambut gimbal, semetara adik-adiknya lurus.
“Suatu hari nanti, sungguh kalian akan melihat berjuta kerlip cahaya lampu yang jauh lebih indah di luar sana, di luar lembah kita…”
“Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya datang dengarkan Kakak, kalian harus rajin sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras. Bukan hanya demi Mamak yang sepanjang hari terbakar matahari di ladang. Bukan karena itu. Tapi Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, kalian harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras karena dengan itulah janji kehidupan yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput.”
Ketulusan Laisa kepada Adik-Adiknya Berhasil Mengusir Harimau Gunung Kendang
Laisa sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang amat mencintai keluarganya. Kejadian yang dialami oleh Ikanuri dan Wibisana di Gunung Kendeng menampilkan betapa murninya batin Laisa mengasihi adik-adiknya. Kutipan mengenai hal tersebut adalah sebagai berikut.
“Itulah yang terjadi malam itu. Harimau yang paling besar, yang paling menakutkan, meski selintas, meski sekejap, dari tatapan matanya ke Kak Laisa, ia akhirnya tahu betapa Kak Laisa mencintai adik- adiknya. Harimau itu mengerti. Lantas memutuskan pergi. Itu penjelasan Dalimunte kepada Intan yang beranjak sekolah dan sibuk bertanya saat mereka berkumpul bersama mengenang kejadian itu di perkebunan strawberry. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat Intan, Juwita, dan Delima terdiam, lantas menatap terpesona pada Wak Laisa.”
Pengarang menggambarkan dengan begitu indah dan sederhana bagaimana Laisa dan adik- adiknya mendapat keajaiban lolos dari sang legenda. Insting pada binatang, yang walaupun sedikit banyak tidak sepeka manusia, mengerti adanya perasaan sayang Laisa.
Perilaku Dalimunte yang Sangat Menghargai Laisa
Menyaksikan hampir seluruh pengorbanan Laisa terhadapnya, Dalimunte kecil sudah menanamkan rasa hormat yang besar terhadap Laisa. Dalimunte yang sudah terlahir jenius tetap mengasah kemampuannya, bekerja keras dengan doa yang selalu dipanjatkan kepada Yang Mahakuasa. Perilaku menghargai Dalimunte terdapat dalam kutipan berikut.
“Dalimunte menyeka darah itu dengan jemarinya. Semakin tergugu. Bagaimana mungkin dia tidak akan menangis? Lihatlah, seseorang yang amat sangat dihargai sepanjang hidupnya berbaring lemah di hadapannya, tetap seperti dulu. Memberikan perlindungan. Memberikan janji-janji yang
Pertiwi dan Fajarinnur: Analisis Nilai-Nilai Estetika ….
99| ditunaikan. Mengubur cita-cita nya sendiri demi adik-adiknya. Bahkan hingga saat ini, ketika tubuhnya terlihat amat lemah, Kak Laisa tetap berusaha tersenyum menyuruhnya tidak menangis.”
Kutipan di atas bermakna pengarang menggambarkan karakter Dalimunte sebagai penyimpan banyak hal tentang pengorbanan Laisa. Lewat sepenggal kutipan tersebut, pengarang memberitahu pembaca betapa Dalimunte sangat menghargai Laisa.
Keindahan Akali
Keindahan akali merupakan keindahan daya pikir yang menciptakan seni pada sebuah karya. Mutu karya sastra bergantung pada kualitas akalnya.
Penelitian Dalimunte Mengenai Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan yang Pernah Terbelah Dalimunte adalah anak yang cerdas. Takheran saat menginjak dewasa dan telah berkeluarga, pengetahuan Dalimunte semakin bertambah. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Inilah jurnal ilmu-pengetahuan terkemuka di dunia. Yang memiliki reputasi paling hebat di antara sejenisnya. Lihatlah edisi bulan ini, edisi terbaru! Terpaksa menurunkan laporan tidak lazim, utuh sebanyak 49 halaman, hmmm, itu bisa dibilang hampir seperempat tebal majalah ini… Kenapa saya sebut tidak lazim? Karena laporan ini sungguh tak biasa untuk konsumsi publik di negara-negara Barat sana. Judul penelitiannya adalah: ‘Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan yang Pernah Terbelah.”
Berdasarkan kutipan tersebut, terlihat pengarang menggunakan gaya bahasa hiperbolis untuk mendeskripsikan betapa cerdasnya Dalimunte sebagai seorang profesor. Jurnal sebagai salah satu literatur yang dibuat dengan berbagai penelitian tentu memiliki keabsahan yang valid untuk dibuktikan. Pengarang, dalam hal ini, menunjukkan adanya estetika akali dari karakter tokoh.
Laisa Menerapkan Metode yang Lebih Tepat untuk Menanam Stroberi
Dalam novel Bidadari-Bidadari Surga, dikisahkan bahwa Laisa meyakinkan Mamak untuk mengizinkannya menanam stroberi pada perkebunan mereka. Laisa mencatat seluruh tata cara dan menggambar ilustrasi sederhana untu mendukung niatnya itu bermodalkan pengetahuan berasal dari mahasiswa KKN di kampung atas. Namun, usaha itu gagal. Stroberi mereka gagal panen. Mamak tetap memberikan kepercayaan bagi Laisa untuk menanam kembali. Laisa memanfaatkan kondisi tersebut seperti dalam kutipan berikut.
“Mamak membiarkan Laisa kembali menanami ladang mereka dengan strawberry, kali ini malah membiarkan seluruhnya ditanami. “Belajar dari kesalahan, Mak. Laisa tahu apa yang harus Laisa lakukan sekarang.”
Dan Mamak akhirnya tersenyum lebar, buah-buah merah ranum mulai bermunculan dari batang- batangnya. Membuat seluruh penduduk kampong tercengang. Belum pernah mereka melihat buah seindah itu.”
Pada kutipan di atas, pengarang menggambarkan keindahan akal yang dimiliki Laisa. Kegagalan yang dialaminya tidak serta merta membuatnya putus asa dan berhenti untuk berpikir mengenai cara lain yang dapat dilakukannya. Usaha itu pun berhasil. Tokoh Laisa memberikan motivasi kepada pembaca untuk senantiasa berikhtiar mengerjakan sesuatu.
e-ISBN 978-623-5769-07-3 p-ISBN 978-623-5769-06-6
Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Daerah I (Sinar Bahtera I) 100
| Penjelasan Laisa tentang Keluarga
Perilaku Laisa sebagai tokoh utama dalam novel itu kerap kali membuat para pembaca terkesima.
Percakapannya dengan Dalimunte perihal gagalnya usaha adiknya itu untuk menjodohkannya membuahkan penjelasan singkat mengenai keluarga. Peristiwa tersebut tertuang dalam kutipan berikut.
“Kau tahu, jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya, dan juga sebaliknya, mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. Bukankah kau juga tahu kisah tentang sahabat Nabi, yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak menentramkan hatinya?” Kak Laisa tetap berkata ringan.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Laisa memiliki pemikiran yang terbuka dan rasional ketika menjelaskan masalah keluarga. Laisa juga mengaitkannya dengan kisah sahabat Nabi yang secara tidak langsung menjadikan hal tersebut sebagai teladannya.
Keindahan Alami
Keindahan alami merupakan sifat alam dan sumber segala keindahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa untuk dinikmati manusia. Manusia tidak pernah bisa terlepas dari alam, bahkan dapat dikatakan bahwa alam adalah penyelaras kehidupan manusia. Dalam beberapa bagian novel, pengarang menggambarkan dengan begitu jelas keindahan-keindahan alam melalui gaya bahasa yang dihasilkan.
Puncak Indah Semeru
Dalam novel Bidadari-Bidadari Surga pengarang mendeskripsikan Gunung Semeru dengan begitu apik dalam kutipan berikut.
“Dua Puluh Ribu kilometer dari langit malam kota Roma yang cemerlang oleh cahaya. Di sini, pagi justru sedang beranjak meninggi. Pukul 06.00. Udara berkabut. Putih membungkus puncak Semeru.
Pemandangan luas menghampar begitu memesona. Tebaran halimun yang indah. Empat gunung di sekitarnya terlihat menjulang tinggi, mengesankan melihatnya. Berbaris. Gunung Bromo. Tengger.
Merbabu. Seperti serdadu. Uap mengepul dari kawah semeru. Angin mendesing lembut. Samudera Indonesia memperelok landskap, terlihat terbentang nun jauh di sana. Membiru. Sungguh pemandangan yang hebat.”
Kutipan tersebut merupakan pendeskripsian dari estetika alam yang ditampilkan oleh pengarang.
Betapa indahnya Semeru dengan segala keistimewaannya membawa pembaca seakan berada di sana.
Hutan di Lembah Lahambay
Keindahan hutan di Lembah Lahambay juga digambarkan pengarang sebagai salah satu latar para tokoh yang terdapat dalam cerita. Berikut kutipan mengenai hal tersebut.
“Suara nyanyian puluhan burung memenuhi langit-langit hutan. Cahaya pagi menerobos sela dedaunan, menerabas sela-sela putihnya kabut. Membuatnya seperti mengambang. Bahkan seolah-
Pertiwi dan Fajarinnur: Analisis Nilai-Nilai Estetika ….
101 | olah kalian bisa menangkap berkas cahaya itu. Mereka sejak setengah jam lalu menelusuri hutan.
Tangkas yang satunya, yang berjalan di depan, berjalan sambil menebas ujung-ujung semak belukar yang menjuntai ke batang sungai, menghalangi mereka.”
Pengarang mengajak para pembaca membayangkan betapa indahnya alam lembah lewat beberapa bagian cerita yang sedang dilalui oleh tokoh. Estetika pengarang melalui penjabaran terperinci dengan pemilihan kata yang tepat menghasilkan rangkaian peristiwa yang dialami tokoh sebagai pendukung cerita.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa estetika dalam sebuah novel menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Terlebih lagi kepiawaian penulis novel dalam mengolah kata dalam menghidupkan setiap latar peristiwa dan karakteristik tokoh. Penelitian ini mengacu pada novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye sebagai objek kajian yang berkaitan dengan topik pembahasan. Adapun nilai-nilai estetika yang terkandung dalam novel ini meliputi estetika moral, estetika asusila, estetika akali, dan estetika alami.
DAFTAR PUSTAKA
Andari, N. (2013). Nilai Estetis dan “Dulce Et Utile” dalam Novel Keindahan dan Kesedihan Karya Kawabata Yasunari. 13(2).
Haslinda. (2019). Kajian Apresiasi Prosa Fiksi Berbasis Kearifan Lokal Makassar. Makassar: LPP Unismuh Makassar.
Mustaqim, H. A. (2016). Pengalaman Estetik Pada Novel O Karya Eka Kurniawan dalam Perspektif Posmodernisme. Jurnal Wanastra, 8(1), 54-65.
Murti, S., Siti M. (2017). Analisis Nilai Moral Novel Bulan Jingga dalam Kepala Karya M. Fadjroel Rachman. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP), (1)1.
Purnamasari, Ayu, dkk. (2017). Analisis Sosiologi Sastra dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari. Jurnal Ilmu Budaya, 1(2).
Riyanti, B. (2016). Skripsi Nilai Estetika dalam Novel Mahamimpi Anak Negeri Karya Suyatna Pamungkas dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA. Purworejo: Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Salfia, N. (2015). Nilai Moral Dalam Novel 5 Cm Karya Donny Dhirgantoro. Jurnal Humanika, 3(15).
Sugiarti. (2016). Estetika dalam Novel Jatisaba Karya Ramayda Akmal. Jurnal LITERA, 15(1).
Sugiarti. (2009). Telaah Estetika dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu. Jurnal ATAVISME, 1(1).