• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 143 7. URUSAN PERHUBUNGAN

Pemenuhan kebutuhan pelayanan trasportasi merupakan salah satu hak dasar setiap warga negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah.

Kebutuhan pelayanan trasportasi dari waktu ke waktu selalu mengalami peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan peningkatan kebutuhan pelayanan trasportasi ini, maka tidak sedikit timbul persoalan di dalam penyelenggaraannya.

Kebijakan pembangunan sistem trasportasi yang sedang dilaksanakan hendaknya dipadukan dalam sebuah bingkai sistem trasportasi yang berkelanjutan yaitu suatu sistem yang memungkinkan kebutuhan akses yang mendasar dari masyarakat dapat terpenuhi dengan selamat, terjangkau, efisien, memberikan pilihan moda trasportasi, dan mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pembangunan sistem trasportasi berkelanjutan membatasi emisi/limbah, dan meminimasi konsumsi sumberdaya yang tak terbarukan.

Tantangan yang belum terselesaikan dalam pembangunan trasportasi adalah peningkatan akses dan keterjangkauan. Selain itu muncul tantangan baru dalam trasportasi adalah perubahan karakteristik pasar akan membangkitan tuntutan yang lebih bervariasi terhadap kualitas pelayanan transportasi yang lebih baik, serta pembangunan trasportasi diharapkan dapat mengatasi perkembangan kota sebagai penggerak pengembangan ekonomi yang sangat cepat sehingga berakibat meningkatnya kebutuhan trasportasi bagi kaum urban dengan cepat pula.

Meningkatnya kebutuhan transportasi sebagai akibat meningkatnya intensitas pergerakan manusia sebagai man power dan barang sebagai bahan produksi memerlukan kelancaran mobilitas.

Kelancaran mobilitas penumpang maupun barang sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana transportasi antara lain infrastruktur jalan yang di lengkapi dengan fasilitas keselamatan berlalu lintas.

(2)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 144 7.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan untuk mendukung Urusan Perhubungan yang dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) pada tahun 2014 adalah sebagai berikut:

a. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, dengan kegiatan Perencanaan Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan.

b. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, dengan kegiatan :

1) Rehabilitasi/Pemeliharaan Sarana Alat Pengujian Kendaraan Bermotor;

2) Rehabilitasi/Pemeliharaan Terminal/Pelabuhan; dan

3) Rehabilitasi/Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Keselamatan Lalu Lintas.

c. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, dengan kegiatan sebagai berikut :

1) Uji Kelayakan Sarana Transportasi Guna Keselamatan Penumpang;

2) Pengendalian Lalu Lintas dan Angkutan Lebaran, Haji, Natal, Tahun Baru serta Kegiatan Pemerintahan.

d. Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas, dengan kegiatan :

1) Pengadaan Bahan Marka Jalan;

2) Pengembangan Sarana dan Prasarana Lalu Lintas Angkutan (DAK);

3) Pengadaan Kerucut Lalu Lintas, Cermin Tikungan dan Water Barrier;

4) Pengadaan Lampu LED Traffic Light; dan 5) Pengadaan Voice Recorder.

(3)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 145 7.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Perhubungan dilaksanakan dengan anggaran Belanja Langsung Urusan (tidak termasuk Belanja Langsung Rutin SKPD) sebesar Rp2.148.979.200,00,00 dan terealisasi sebesar Rp2.054.618.800,00 atau 95,61%. (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir).

Penyelenggaraan urusan Perhubungan ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang berkualitas dan merata serta terciptanya sistem transportasi yang tertib, aman dan nyaman. Capaian program dan kegiatan Urusan Perhubungan tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.21

Capaian Indikator Kinerja Urusan Perhubungan Tahun 2014

NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN TAHUN 2013

TAHUN 2014

TARGET REALISASI % 1. Jumlah arus penumpang

angkutan umum

orang 1.246.658 1.019.775 1.009.678 99,01 2. Rasio ijin trayek (jumlah ijin

trayek / jumlah penduduk) % 0,0034 0,0005 0,0005 100,00 3. Jumlah uji kir angkutan

umum

unit 655 1.534 1.495 97,46

4. Jumlah Terminal Bis Tipe A unit 0 0 0 0,00

5. Jumlah Terminal Tipe C unit 2 2 2 100,00

6. Jumlah angkutan darat dibandingkan dengan jumlah penumpang

% 6,84 0,00042 0,000417 99,29

Sumber : Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan, 2014

Dari tabel Capaian Indikator Kinerja Tahun 2014, rata – rata kurang dari target. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor berikut ini :

a. Jumlah arus penumpang angkutan umum tahun 2013 sebanyak 1.246.658 orang, menurun dibanding tahun tahun 2014 dan di bawah target tahun 2013 sebanyak 1.009.678 orang.

Menurunnya jumlah penumpang angkutan umum ini disebabkan

(4)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 146 jumlah angkutan umum yang berkurang, karena beralihnya moda transportasi dari kendaraan umum ke kendaraan pribadi.

Perpindahan moda transportasi inilah yang juga mengakibatkan turunnya jumlah kir angkutan umum di tahun 2014. Jumlah kendaraan umum yang diuji tahun 2013 sebanyak 655 unit dan mengalami kenaikan di tahun 2014 sebanyak 1.495 unit kendaraan.

b. Jumlah ratio ijin trayek dari tahun 2013 sampai akhir 2014 tidak mengalami kenaikan dan di tahun 2014 sendiri juga tidak memenuhi target, dikarenakan tidak adanya pembukaan trayek baru karena lesunya bisnis angkutan umum.

7.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Urusan Perhubungan selama pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

1) Masih kurangnya Sumber daya manusia (SDM) di bidang transportasi, komunikasi dan informatika.

2) Kurangnya pemahaman aparatur akan peraturan perundangan.

3) Terbatasnya anggaran kegiatan serta sarana dan prasarana.

b. Solusi

Dengan adanya permasalahan yang ada, maka diperlukan beberapa solusi antara lain :

1) Peningkatan SDM Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dengan mengirimkan personel untuk mengikuti diklat-diklat baik yang diselenggarakan Departemen Perhubungan , Departemen Kominfo maupun instansi lain.

Serta mengusulkan adanya penambahan personel yang

(5)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 147 sesuai dengan kompetensinya lewat pengadaan calon pegawai negeri sipil daerah .

2) Penambahan intensitas sosialisasi peraturan –peraturan dan penegakan hukum.

3) Mengusulkan adanya penambahan anggaran kegiatan setiap tahun anggaran dan perubahan anggaran.

8. URUSAN LINGKUNGAN HIDUP

Paradigma pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan tetap harus dilaksanakan dalam ranah pembangunan wilayah. Pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang terkendali dan ramah lingkungan niscaya akan menjadi salah satu modal dasar bagi keberlanjutan pembangunan daerah. Melalui prinsip dan asas lingkungan hidup yang diterapkan dalam pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat mengurangi eksploitasi sumberda daya alam dan lingkungan hidup. Terlebih lagi, jika memperhatikan kaidah pengelolaan lingkungan hidup didasarkan pada batas ekosistem yang menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan secara konstelasi regional berada di kawasan pantai utara di bagian barat wilayah Jawa Tengah yang memanjang ke selatan di kawasan pegunungungan. Tentunya kondisi biogeofisiknya akan mempengaruhi wilayah kabupaten tetangganya.

Untuk menjaga kesinambungan pembangunan/sustainable development di dalam prioritas lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, pemerintah terus melakukan upaya pencegahan dan konservasi terhadap hutan dan lahan kritis. Hal ini juga terkait dengan dukungan terhadap dampak perubahan iklim. Upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan dilakukan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan dan meningkatkan kualitas daya dukung lingkungan.

Langkah-langkah peningkatan peran masyarakat dalam mengelola sampah merupakan strategi yang terus di tempuh pemerintah dalam

(6)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 148 mengendalikan jumlah timbulan sampah domestik yang dihasilkan. Salah satu program unggulan terkait kebijakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya adalah 3R. Dimana pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sampah dengan penekanan kepada metode pengurangan sampah yang lebih arif dan ramah lingkungan. Pengurangan sampah dengan 3R memang bukan hal yang mudah dilakukan karena sangat bergantung pada kemauan masyarakat dalam merubah perilaku, yaitu dari pola pembuangan sampah konvensional menjadi pola pemilah sampah.

8.1. Program dan Kegiatan

Program dan Kegiatan untuk mendukung urusan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh 2 SKPD, yaitu Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Dinas Pekerjaan Umum

a. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan kegiatan :

1) Pemeliharaan TPA Bojonglarang;

2) Penunjang kebersihan se-Kabupaten Pekalongan.

b. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Taman.

Kantor Lingkungan Hidup

a. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan kegiatan :

1) Pengelolaan Persampahan dengan Sistem 3R;

2) Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengolahan Sampah di Kabupaten Pekalongan;

3) Fasilitasi Upaya Meraih Adipura.

b. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan kegiatan :

(7)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 149 1) Kegiatan peningkatan peringkat kinerja perusahaan

(PROPER);

2) Kegiatan biaya operasional IPAL industri kecil;

3) Kegiatan Pembinaan tentang peraturan di bidang lingkungan;

4) Kegiatan Pelaksanaan Akreditasi Laboratorium Lingkungan Hidup;

5) Kegiatan Pengujian dalam rangka pengendalian pencemaran air dan udara;

6) Kegiatan pembangunan reaktor biogas;

7) Kegiatan Pembangunan IPAL Industri Kecil;

8) Kegiatan Penyelesaian Pengaduan Masyarakat akibat Adanya Dugaan Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan Hidup;

9) Kegiatan Pengadaan Alat Laboratorium.

c. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, dengan kegiatan :

1) Pengadaan Alat Pembuat Lubang Biopori;

2) Operasional Mobil Hijau;

3) Festival Hijau.

d. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dengan kegiatan :

1) Kegiatan Program Sekolah Adiwiyata Pelatihan Dasar Kader Lingkungan Hidup dan Peran Serta Guru Dalam Pembelajaran Lingkungan Hidup;

2) Penyediaan Informasi Lingkungan Hidup;

3) Kegiatan Program Advis Kebijakan untuk Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (PAKLIM).

(8)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 150 8.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Lingkungan Hidup dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung urusan (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp3.462.700.000,00 dan dapat direalisasikan sebesar Rp3.333.848.192,00 atau 96,28%. (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir)

Capaian indikator program dan kegiatan Urusan Lingkungan Hidup dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.22

Capaian Indikator Urusan Lingkungan Hidup Tahun 2014

NO INDIKATOR KINERJA SATUAN CAPAIAN 2013

TAHUN 2014

TARGET REALISASI % 1. Pencemaran status mutu

air Titik 36 36 36 100

2. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL

% 100 100 100 100

3. Penegakan hukum

lingkungan % 100 100 100 100

4. Pelayanan pencegahan

pencemaran air % 92,62 85 82,19 96,69

5. Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak

% 0 100 100 100

6. Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa

% 0 100 0 0

7. Pelayanan tindak lan-jut pengaduan masya-rakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup

% 100 100 100 100

8. Persentase Penduduk

berakses air minum % 78,35 79,52 78,67 98,93

9. Persentase Luas

Permukiman yang tertata % 77,05 82,01 83,26 101,52

10. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk

% 0,21 40,79 0,21 0,51

11. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih

% 78,35 79,52 78,67 98,93

(9)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 151

NO INDIKATOR KINERJA SATUAN CAPAIAN 2013

TAHUN 2014

TARGET REALISASI % 12. Rasio tempat pembuangan

sampah (TPS) per satuan penduduk

% 19,03 25,30 20,86 82,45

13. Persentase penanganan

sampah % 14,14 14,74 12,07 81,89

Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Pekalongan dan Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pekalongan, 2014

a. Pencemaran Status Mutu Air

Status mutu air dihitung dari jumlah titik sungai dan air limbah industri kecil yang diuji setiap tahunnya dan hasil pengujian ini diinformasikan kepada masyarakat. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kualitas air sumur warga yang diduga tercemar dan air sungai-sungai yang sudah mengalami pencemaran yaitu Sungai Meduri, Sungai Sengkarang, Sungai Sragi, dan Sungai Slempeng. Jumlah pengujian mengalami peningkatan, pada tahun 2013 sebanyak 36 titik sedangkan pada tahun 2014 sebanyak 36 titik. Untuk air-air sungai sengkarang, sungai meduri, sungai sragi, dan sungai slempeng diuji masing-masing 2 titik 3 kali. Juga dilaksanakan pengujian air sumur warga 12 titik. Jumlah ini melebihi target yang telah ditetapkan karena permintaan jumlah air sumur yang diuji lebih banyak dari target yang ditetapkan.

b. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL

Jumlah usaha/kegiatan yang wajib AMDAL pada tahun 2013 di Kabupaten Pekalongan 4 jenis yaitu kegiatan pembuatan kawasan wisata kali pencongan, kegiatan pembangunan double track jalur kereta api, kegiatan pembangunan sutet ungaran madirancan (yang melewati Kabupaten Pekalongan) dan kegiatan pembangunan TPA regional. Sedangkan jumlah usaha/kegiatan yang wajib AMDAL pada tahun 2014 di

(10)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 152 Kabupaten Pekalongan 2 jenis yaitu kegiatan pembangunan SUTET dan penyusunan PETANGLONG. Pada tahun 2014 cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL mencapai target 100%. Sedangkan selama tahun 2014 sesuai dengan tupoksinya telah melaksanakan pengawasan terhadap 2 kegiatan tersebut dengan realisasi target mencapai 100%.

c. Penegakan hukum lingkungan

Penegakan hukum lingkungan berupa sanksi kepada industri besar dan menegah yang telah melakukan pelanggaran. Dari hasil kajian terhadap laporan yang masuk tiap 3 (tiga) bulan dari pemilik industri besar dan menengah, pada tahun 2013 ada 13 industri yang melanggar hukum lingkungan dan telah dilaksanakan sanksi kepadanya. Target pencapaian sebesar 100

%. Untuk tahun 2014 ada 5 industri telah melanggar hukum lingkungan dan semuanya telah mendapatkan sanksi.Target pencapaiannya sebesar 100%.

d. Pelayanan pencegahan pencemaran air

Pelayanan pencegahan pencemaran air berupa pelayanan penyedotan limbah cair industri kecil. Pencapaiannya dihitung prosentase hasil retribusi penyedotan limbah cair yang diperoleh.

Pada tahun 2013 jumlah realisasi sebesar Rp15.800.000,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp17.059.000,00 atau sebesar 92,62%. Sedangkan tahun 2014 mengalami penurunan jumlah realisasi yaitu sebesar Rp13.150.000,00 atau 85,20% dari target yang ditetapkan sebesar Rp16.000.000,00. Penurunan ini disebabkan karena jumlah industri kecil yang disedot berkurang karena beberapa perusahaan industri kecil tidak beroperasi.

e. Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak (%)

Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak baru dilaksanakan pada tahun 2014 karena alat yang

(11)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 153 dibutuhkan baru ada pada tahun 2013. Pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak dilaksanakan dengan mengukur kualitas udara dari sumber tidak bergerak industri skala menengah dan besar serta hasilnya diinformasikan kepada masyarakat. Target pada tahun 2014 ini pengujian dilakukan di PG Sragi, PT. Lokatex, PT. Pismatex, PT. Pajitek dan PT.

Dupantex masing-masing 2 titik. Realisasinya juga 10 titik atau 100%.

f. Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa (%)

Pelayanan ini belum dilaksanakan karena belum adanya petunjuk teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup.

g. Pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Pada tahun 2013 jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup ada 5 aduan dan telah ditangani semuanya (100%) pada tahun tersebut. Sedangkan pada tahun 2014 jumlah pengaduan ada penambahan menjadi 6 aduan. Jumlah aduan pada tahun 2014 telah diselesaikan semuanya pada tahun 2014 tersebut (100%) h. Pada tahun 2014, persentase penduduk berakses air minum

mencapai 78,67% atau 1,07% dibawah target 79,52% dan mengalami peningkatan sebesar 0,41% jika dibandingkan capaian tahun 2013 yang sebesar 78,35%.

i. Persentase luas permukiman yang tertata mencapai 83,26% atau 1,52% diatas target 2014 sebesar 82,01% dan mengalami peningkatan 8,06%jika dibandingkan capaian tahun 2013 sebesar 77,05%.

j. Pada Tahun 2014, rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk mencapai 20,86% atau 4,44% di bawah target

(12)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 154 25,30% namun mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 sebesar 9,62%.

k. Pada tahun 2014, berdasarkan kondisi fisiknya, terdapat 30 buah container dengan kondisi baik, 33 buah container dengan kondisi kurang baik, tidak ada container dengan kondisi rusak ringan serta 7 buah container dengan kondisi rusak berat.

Tabel 4.23

Kontainer Berdasarkan Kondisi Fisiknya Tahun 2014

NO. URAIAN

JUMLAH (Buah) NAIK / TURUN

( % ) TAHUN

2013 TAHUN 2014

1 Kontainer Baik 26 30 15,38

2 Kontainer Kurang Baik 18 33 83,33 3 Kontainer Rusak Ringan 12 0 -100,00

4 Kontainer Rusak Berat 7 7 0

TOTAL 63 70

Sumber : Bidang Kebersihan dan Pertamanan, DPU Kab. Pekalongan, 2014.

l. Pada Tahun 2014, persentase penanganan sampah 12,07% atau 2,67% di bawah target 14,74% serta mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 sebesar 14,64%.

m. Pada Tahun 2014, jumlah lampu penerangan jalan umum 84 buah atau 16% di bawah target 100 buah serta mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 sebesar 52%.

n. Pada Tahun 2014, jumlah armada sampah dan pertamanan 32 buah. Berdasarkan kondisi fisiknya terdapat 11 buah dalam kondisi baik (Arm Roll 4 buah, Dump Truck 3 buah dan 4 buah Pick Up L-300), 16 buah dalam kondisi kurang baik (1 buah Bulldozer, 6 buah Arm Roll, 4 buah Dump Truck, 2 buah Truck Tangki Air, 1 buah Truck Listrik, 1 buah Pick Up L-300 dan 1

(13)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 155 buah Kijang), serta 2 buah dalam kondisi rusak berat (1 buah Arm Roll dan 1 buah Dump Truck).

Tabel 4.24

Armada Angkutan Sampah dan Bulldozer Berdasarkan Kondisi Fisiknya Tahun 2014

NO. JENIS KENDARAAN NOMOR POLISI

KONDISI KENDARAAN

1 Arm Roll H 9545 FG Rusak Berat

2 Arm Roll H 9548 HG Kurang Baik

3 Arm Roll H 9552 HG Kurang Baik

4 Arm Roll G 9530 BB Kurang Baik

5 Arm Roll G 9538 DB Kurang Baik

6 Arm Roll G 9539 DB Kurang Baik

7 Arm Roll G 9598 EB Kurang Baik

8 Arm Roll G 9596 FB Baik

9 Arm Roll G 9534 AB Baik

10 Arm Roll G 9539 AB Baik

11 Arm Roll G 9596 CB Baik

12 Dump Truck H 9534 CG Rusak Berat

13 Dump Truck H 9553 HG Kurang Baik

14 Dump Truck H 9554 HG Kurang Baik

15 Dump Truck G 9534 DB Kurang Baik

16 Dump Truck G 9597 FB Kurang Baik

17 Dump Truck G 9537 AB Baik

18 Dump Truck G 9538 AB Baik

19 Tangki Air G 9530 AB Baik

20 Tangki Air G 9536 DB Kurang Baik

21 Tangki Air G 9537 DB Kurang Baik

22 Tangki Tinja G 9540 DB Kurang Baik

23 Truck Sky Lift Listrik Baik

24 Truck Listrik H 9533 CG Kurang Baik 25 Pick Up L-300 G 9574 DB Kurang Baik

26 Pick Up L-300 G 9566 AB Baik

27 Pick Up L-300 G 9509 ZB Baik

28 Pick Up L-300 G 9510 ZB Baik

29 Kijang G 9567 DB Kurang Baik

30 Kijang G 9569 DB Baik

31 Bulldozer Baik

32 Bulldozer G 1012 KJN Kurang Baik

Sumber : Bidang Kebersihan dan Pertamanan, DPU Kab. Pekalongan, 2014.

(14)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 156 8.3. Permasalahan dan Solusi

a. Permasalahan

Dalam pelaksanaan pembangunan Urusan Lingkungan Hidup di Kabupaten Pekalongan menghadapi kendala dan permasalahan antara lain :

1) Armada pengangkut sampah (Dump Truk dan Arm Roll), Kontainer Sampah dan Alat Berat (Bulldozer dan Walls) sebagian kurang layak karena sudah melampaui umur ekonomis yang berakibat pada tingginya biaya perawatan dan tidak dapat difungsikan secara optimal;

2) Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan limbah masih rendah;

3) Pengelolaan sampah yang masih konvensional;

4) Bank Sampah di Kabupaten Pekalongan masih sedikit;

5) Baku mutu kualitas air limbah industri dan kualitas udara ambien di atas ambang batas yang dipersyaratkan yang mengurangi nilai PROPER perusahaan;

6) Terjadinya lelang ulang menyebabkan mundurnya pelaksanaan kegiatan;

7) Peningkatan kualitas sumber daya aparatur; serta 8) Perlu peningkatan koordinasi antar SKPD.

b. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dilaksanakan langkah-langkah antara lain :

1) Mengusulkan tambahan sarana mobilitas (dump truck, arm roll, kontainer, walls dan bulldozer);

2) Pembinaan kepada pengusaha industri menengah dan besar tentang pengelolaan limbah yang benar;

3) Pembinaan dan sosialisasi kepada pengusaha industri kecil tentang perijinan dan pengolahan limbahnya;

(15)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 157 4) Sosialisasi pengolahan sampah secara 3R (Reduce, Reuse,

dan Recycle) dan mendorong terbentuknya Bank Sampah;

5) Pengiriman PNS ke pendidikan dan pelatihan teknis bidang lingkungan hidup;

6) Perencanaan kegiatan yang matang untuk kegiatan yang dilelang;

7) Koordinasi yang lebih intensif intern dan antar SKPD.

9. URUSAN PERTANAHAN

Dalam rangka memberi kepastian hukum terkait pengadaantanah untuk kepentingan umum telah ditetapkan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Regulasi tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pelaksanaan pengadaan tanah yang selama ini dipandang sebagai penghambat (debottlenecking) pembangunan infrastruktur, dan disisi lain dapat lebih menjamin kepastian hak masyarakat atas tanah tersebut.

Program pembangunan di bidang pertanahan diarahkan terutama untuk mewujudkan tertib hukum pertanahan melalui perbaikan sistem administrasi pertanahan dan pemberian kepastian hukum dalam upaya penataan dan pemanfaatan tanah.

9.1. Program dan Kegiatan

Urusan Pertanahan pada tahun 2014 dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Bagian Tata Pemerintahan Setda melalui program dan kegiatan sebagai berikut :

Dinas Pekerjaan Umum

Program Penataan, Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah, dengan kegiatan Pembebasan Lahan Pembangunan Jembatan.

(16)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 158 Bagian Tata Pemerintahan Setda

Program Penyelesaian Konflik-konflik Pertanahan, dengan kegiatan Fasilitasi Penyelesaian Permasalahan Pertanahan.

9.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Pertanahan dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung urusan (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp205.000.000,00 dan terealisasi sebesar Rp118.713.600,00 atau 57,91%. Realisasi yang rendah ini dikarenakan kegiatan pembebasan lahan pembangunan Jembatan Guntur Kec. Karangdadap tidak dilaksanakan karena kesepakatan harga antara warga dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan belum mencapai kata mufakat. (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir).

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pertanahan adalah terfasilitasinya penyelesaian pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan pemerintah, penanganan permohonan alih fungsi lahan, penetapan lokasi, tukar menukar tanah Pemda dan penyelesaian permasalahan tanah lainnya.

9.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan program dan kegiatan dalam urusan Pertanahan ada beberapa hal yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Pembebasan lahan untuk kepentingan umum terkadang terkendala dalam penentuan kesepakatan harga dengan masyarakat;

2) Proses birokrasi dalam pelepasan lahan yang menyangkut kepemilikan lahan instansi vertikal terkadang cukup

(17)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 159 panjang, sehingga implementasi kegiatan terkadang menjadi terhambat;

3) Keterbatasan SDM yang dimiliki dibidang pertanahan (baik dari segi jumlah maupun kemampuan);

4) Masih lemahnya administrasi pengelolaan tanah Pemda (data, sertifikasi serta pengamanan lahan)

b. Solusi

Solusi yang telah diupayakan untuk menyelesaikan permasalahan adalah:

1) Penginvetarisasian / pendataan aset Pemerintah Daerah secara periodik guna mengetahui perkembangan aset yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah;

2) Pengintensifan koordinasi dengan instansi vertikal guna mempercepat proses pelepasan lahan;

3) Perlunya penambahan jumlah personel di bidang pertanahan serta jumlah peralatan pendukung serta perlu adanya pelatihan SDM secara berkala.

10. URUSAN KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL

Kependudukan merupakan salah satu permasalahan yang cukup substansial. Dewasa ini telah banyak memunculkan berbagai masalah lain yang cukup mendasar. Pada awalnya pembangunan kependudukan hanya tertuju pada bagaimana menekan angka kelahiran serendah mungkin. Namun kemudian sudah tidak relevan lagi karena masalah yang dihadapi semakin luas dan kompleks.

Guna mewujudkan tertib administrasi kependudukan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah melaksanakan penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) sesuai dengan sistem yang

(18)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 160 dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Pada dasarnya Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil dengan tolak ukur dukungan yaitu berupa sarana dan prasarana perkantoran akan turut berperan dalam keberhasilan pembangunan bidang kemasyarakatan dan sosial di suatu daerah. Pembangunan bidang kemasyarakatan dan sosial merupakan modal penting masyarakat untuk memenuhi kebutuhan social ekonominya. Sedangkan prasarana ditujukan untuk mendukung lancarnya proses pelayanan terhadap kepentingan masyarakat.

Upaya dan langkah strategis untuk memaksimalkan pelayanan pencatatan sipil melalui penertiban akta pencatatan sipil, pengumpulan dan penyajian data hasil pencatatan sipil, pendokumentasian akta pencatatan sipil, serta optimalisasi penyempurnaan sistem penyelenggaraan pencatatan sipil terus dilakukan baik oleh Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat.

10.1. Program dan Kegiatan

Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui program dan kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2014 adalah melalui Program Penataan Administrasi Kependudukan, dengan kegiatan :

a. Peningkatan kinerja aparat pengelola Database kependudukan;

b. Implementasi Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK);

c. Penggantian dan Pengembangan Peralatan SIAK;

d. Sosialisasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil; dan e. Penerapan Elektronik KTP (KTP-el).

(19)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 161 10.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil tahun 2014 dilaksanakan dengan anggaran belanja Langsung Urusan (tidak termasuk Belanja Langsung program umum/rutin SKPD) sebesar Rp921.726.500,00 dapat terealisasi sebesar Rp908.230.550,00 atau 98,54% (Rincian realisasi program dan kegiatan terlampir).

Capaian target indikator sasaran Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil tercermin dari terealisasinya indikator kinerja berupa outcome yang menunjukkan keberhasilan pembangunan melalui pelaksanaan program-program dan kegiatan yang mendukungnya dalam tahun 2014. Kinerja Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil yang dicapai di tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.25

Data Pelayanan Dokumen Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (KK, KTP dan Akta Catatan Sipil)

NO URAIAN SATUAN 2012 2013 2014

1. KK Lembar 66.643 52.574 60.863

2. KTP Lembar 40.879 527.486 24.506

3. Akta Catatan Sipil

- Akta kelahiran Lembar 12.901 39.159 29.962

- Akta perkawinan Lembar 11 36 16

- Akta perceraian Lembar 1 14 3

- Akta kematian Lembar 4 9 14

- Akta pengakuan anak Lembar - - -

- Akta pengangkatan anak Lembar 4 7 3

- Akta kutipan kedua Lembar 331 332 16

- Akta perubahan nama Lembar - 2 -

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pekalongan, 2014

Adapun capaian kinerja tahun 2014 apabila dibanding dengan capaian tahun 2013 yaitu terwujudnya penataan adminstrasi kependudukan dan pencatatan sipil. Kinerja sasaran ini rata-rata mencapai 71,40%. Pencapaian target kinerja sebagaimana dalam tabel dibawah ini :

(20)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 162 Tabel 4.26

Indikator Kinerja Tahun 2013

NO INDIKATOR KINERJA CAPAIAN 2013

2014

TARGET REALISASI (%) 1 Rasio penduduk ber KTP per

satuan penduduk 99,94 82 81,97 99,96

2 Rasio bayi berakte kelahiran 99,63 92 95,38 103,67 3 Kepemilikan KTP/e-KTP bagi

wajib KTP/e-KTP 85,98 92 82,68 89,87

4 Kepemilikan Akta Kelahiran 96,64 68 66,95 98,46 5 Kepemilikan KK bagi setiap

keluarga 110,20 88 95,93 109,01

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pekalongan, 2013

Melihat dari data diatas, bahwa indikator tersebut tercapai cukup baik dengan rata-rata kinerja mencapai 50% - 80%. Secara keseluruhan Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil tahun 2014 bila dibandingkan tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 4%

(pencapaian tahun 2013 sebesar 75,59% dan tahun 2014 sebesar 71,40%, karena masih banyak wajib KK yang belum memproses (membuat), terkait masa berlakunya kepemilikan Kartu Keluarga (KK) yaitu manakala ada perubahan Pindah, Datang, Lahir dan Mati (LAMPIT) dan kesadaran masyarakat masih rendah mengenai Identitas Kependudukan.

10.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dijumpai dalam pelaksanaan urusan Kependudukan dan Catatan Sipil adalah sebagai berikut :

1) Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuat dokumen Kependudukan dan pencatatan Sipil (KK,KTP-el dan Akta Pencatatan Sipil);

2) Belum optimalnya pengelolaan Administrasi Kependudukan dan pencatatan Sipil;

(21)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 163 3) Masih terbatasnya kapasitas sarana dan prasarana

Pelayanan yang diharapkan (Representatif);

4) Pengembangan dan keserasian kebijakan kependudukan belum optimal.

b. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh beberapa upaya antara lain :

1) Sosialisasi Peraturan per Undang – undangan tentang Administrasi Kependudukan;

2) Pelaksanaan pengembangan sistem Informasi Administrasi Kependudukan;

3) Melakukan perbaikan jaringan Aplikasi Informasi data Kependudukan;

4) Koordinasi dan Konsultasi secara Vertikal maupun Horisontal.

11. URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Upaya peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan, serta kesejahteraan dan perlindungan anak terus dilakukan dengan pelaksanaan secara lintas bidang dan lintas program. Keberhasilan dari berbagai bidang pembangunan, khususnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik turut menurunkan kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki.

Dalam hal perlindungan perempuan dan anak, upaya-upaya yang dilakukan dengan melanjutkan koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait dalam penyusunan kebijakan perlindungan tenaga kerja perempuan, perlindungan perempuan dan anak korban trafiking, serta

(22)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 164 perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan dalam rumah tangga.

Upaya-upaya aksi afirmasi di berbagai bidang guna pembangunan perempuan terus dilanjutkan antara lain di bidang kesehatan dengan meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan untuk menekan tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi dan balita, terutama di daerah perdesaan;

merevitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) terutama di daerah yang angka kematian ibu, bayi dan anaknya tinggi; dan membangun pusat pelayanan terpadu berbasis rumah sakit. Di bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa guna membantu menurunkan jumlah murid perempuan yang putus sekolah dan mengembangkan model penghapusan buta huruf perempuan guna membantu menurunkan jumlah perempuan buta huruf.

Dan di bidang ekonomi upaya pengintegrasikan kepentingan perempuan dalam program-program pembangunan ekonomi, khususnya dalam bidang UMKM akan dilanjutkan, antara lain melalui fasilitasi pengembangan mekanisme dan jaringan kerja perempuan pengusaha mikro dengan lembaga-lembaga keuangan yang khusus menangani kredit UMKM.

Urusan pemberdayaan perempuan diarahkan pada upaya meningkatkan kedudukan, peran dan kualitas perempuan serta upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan urusan Perlindungan anak dimaksudkan untuk memberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan kepada anak (mulai dari masih dalam kandungan hingga usia 18 tahun) sehingga proses tumbuh kembang anak berjalan dengan baik.

11.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan pada Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana

(23)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 165 (BPMP-KB) Kabupaten Pekalongan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

a. Program Penguatan Kelembagaan dan Pengarusutamaan Gender dan Anak, dengan kegiatan : 1) Fasilitasi dan evaluasi penyusunan anggaran responsif

gender (ARG);

2) Fasilitasi pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A); dan

3) Fasilitasi dan advokasi Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA)

b. Program Peningkatan Peran Perempuan di Perdesaan, dengan kegiatan Pemberdayaan Perempuan di Pedesaan

11.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Program dan Kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dianggarkan melalui belaja langsung (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp762.500.000,00 dan realisasi sebesar Rp751.897.000,00 atau 98,61% (Rincian realisasi kegiatan terlampir).

Pembangunan berperspektif gender di Kabupaten Pekalongan telah mendapat tempat yang memadai. Persoalan gender menjadi komitmen bersama dari seluruh komponen. Pada ranah kebijakan, di tahun 2014 telah ditetapkan Peraturan Daerah tentang Pengarusutamaan Gender. Sedangkan pada tataran pelaksanaan terdapat 1 (satu) Peraturan Bupati yang mengatur pelaksanaan pengarusutamaan gender di Kabupaten Pekalongan.

Dalam rangka menjamin pelaksanaan PUG, pada tahun 2014 BPMPKB Kabupaten Pekalongan telah menyusun Protap Panduan teknis Pengarusutamaan Gender dan melakukan advokasi pada SKPD untuk menggunakan Anggaran Responsif Gender (ARG).

Sehingga dalam penyusunan RKA SKPD tahun 2014 dilengkapi

(24)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 166 Pernyataan Anggaran Gender (Gender Budget Statement) sebagai bentuk jaminan atas pelaksanaan penganggaran dengan pendekatan ARG pada setiap kegiatan yang dilakukan SKPD.

Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah khususnya di jajaran eksekutif pada tahun 2014 sebesar 45,43% lebih tinggi dibanding tahun 2013 yaitu 45,12%. Angka tersebut juga lebih tinggi dari target RPJMD yaitu sebesar 27,50%. Partisipasi perempuan di legislatif mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2013 partisipasi perempuan pada angka 13,33% sedangkan tahun 2014 sebesar 22,22%. Capaian ini jauh di atas target RPJMD sebesar 8,8%.

Rasio KDRT pada tahun 2014 sebesar 0,0019%, lebih rendah jika dibandingkan dengan target RPJMD sebesar 0,04%.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari upaya BPMPKB untuk terus melakukan fasilitasi pendampingan dan advokasi penanganan pengaduan kasus – kasus kekerasan dalam rumah tangga. Untuk memperkuat upaya tersebut sudah dibentuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan. Sampai dengan tahun 2014 telah terbentuk P2TP2A di 19 kecamatan dan 1 unit P2TP2A di tingkat kabupaten.

P2TP2A sebagai unit pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan telah melaksanakan tugas dengan baik.

Untuk mendukung kinerja P2TP2A telah disusun Panduan SOP dan SPM Pedoman Pemberian Layanan Terpadu. Pada sisi lain juga telah diinformasikan kepada masyarakat melalui leaflet tentang pelayanan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan.

Sehingga masyarakat memiliki keberanian dan memahami alur pengaduan jika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan sekitarnya. Upaya ini cukup berhasil terbukti pada tahun 2014 terdapat 29 kasus kekerasan terhadap perempuan

(25)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 167 dan anak yang dilaporkan ke P2TP2A meningkat jika dibandingkan tahun 2013 sebesar 25 kasus. Pada tahun 2014 kekerasan terhadap perempuan sebanyak 13 kasus dan kekerasan terhadap anak sebanyak 16 kasus (100%) dapat diselesaikan oleh P2TP2A.

Partisipasi angkatan kerja perempuan pada tahun 2014 yaitu sebesar 54,24%. Capaian ini lebih tinggi dibanding dengan target RPJMD sebesar 10,60%. Penguatan ekonomi kelompok perempuan memberi andil yang berarti bagi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan. Hal ini menunjukkan kelompok perempuan mempunyai peran yang cukup penting dalam pembangunan di Kabupaten Pekalongan.

Pada urusan perlindungan anak, Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah mencanangkan sebagai Kabupaten Layak Anak sejak tahun 2012. Sebagai tindak lanjut komitmen tersebut dilakukan fasilitasi dan advokasi pada semua stakeholder di Kabupaten Pekalongan untuk menginisiasi program dan kegiatan yang memberi ruang lebih besar bagi tumbuh kembang anak secara baik. Secara kelembagaan telah dibentuk Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak (GTKLA) tingkat kabupaten dan memfasilitasi pembentukan lembaga serupa di 19 kecamatan dan 3 Desa Percontohan GTKLA yaitu Desa Sinangohprendeng Kec. Kajen, Desa Bugangan Kecamatan Kedungwuni dan Desa Rowokembu Kec. Wonopringgo.

Untuk memperkuat upaya perlindungan anak, pada tahun 2014 juga telah dibentuk Forum Anak di tingkat kabupaten dan kecamatan; pelatihan tentang Konvensi Hak Anak (KHA) bagi para stakeholder; seminar peringatan hari anak nasional; pendataan desa layak anak; pengiriman forum anak untuk mengikuti kegiatan di Jakarta; pembuatan 1.000 lembar leaflet pemenuhan hak anak serta pemberian bantuan taman bacaan bagi anak.

(26)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 168 Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.27

Capaian Indikator Tahun 2014

NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN CAPAIAN 2013

TAHUN 2014 TARGET REALISASI % 1. Persentase partisipasi

perempuan di lembaga pemerintah

% 45,12 27,50 45,43 165,20

2. Jumlah kebijakan yang mendukung pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup

2 4 2 50,00

3. Partisipasi perempuan di

lembaga legislatif % 13,33 8,80 22,22 252,50

4. Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi

% 100 90 100 111,11

5. Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan

unit 20 15 20,00 133,33

6. Rasio KDRT 0,0025 0,04 0,0019 4,75

7. Partisipasi angkatan kerja

perempuan % 54,24 10,60 54,24 511,69

8. Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan

% 100 100 100 100,00

9. Jumlah focal point yang

terbentuk unit 35 2 35 1750,00

10. Jumlah pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) di tingkat kecamatan dan kabupaten

unit ada ada ada ada

11. Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas

% 99,85 100 99,85 99,72

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan Dan Keluarga Berencana Kab. Pekalongan, 2014

(27)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 169 11.3. Permasalahan dan Solusi

a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah :

1) Belum optimalnya dukungan kebijakan dari Pemerintah Daerah dalam kegiatan Kabupaten Layak Anak.

2) Belum optimalnya kerjasama / koordinasi SKPD.

3) Masih minimnya jumlah tenaga terlatih dan tidak adanya tenaga full timer penanganan dan pendampingan korban kekerasan.

4) Belum tersedianya ruang konseling beserta sarana dan prasarananya.

5) Belum semua SKPD memiliki komitmen dan pemahaman yang sama untuk melaksanakan PUG.

6) Pembangunan berperspektif gender belum sepenuhnya terintegrasi dalam dokumen perencanaan.

7) Masih rendahnya tingkat kesejahteraan anak dilihat dari kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan dan gizi.

8) Belum optimalnya perlindungan anak terutama pada aspek hukum dan ketenagakerjaan.

9) Belum memadainya infrastruktur bagi tumbuh kembang anak.

b. Solusi

Langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :

1) Mendorong ditetapkannya regulasi yang mendukung Kabupaten Layak Anak

2) Peningkatan kerjasama / koordinasi antar lintas SKPD

(28)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 170 3) Mengadakan pelatihan peningkatan SDM bagi tenaga

terlatih.

4) Pengadaan tenaga full timer untuk penanganan dan pendampingan korban kekerasan

5) Pengadaan ruang konseling bagi korban kekerasan beserta sarana dan prasarananya.

6) Peningkatan pemahaman dan komitmen pelaksanaan PUG pada eksekutif, legislatif khususnya di tingkat pengambil keputusan.

7) Mengintegrasikan program dan kegiatan secara terpilah dalam penganggaran responsif gender.

12. URUSAN KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA SEJAHTERA Arah kebijakan pembangunan keluarga berencana dan keluarga sejahtera adalah Revitalisasi Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera yang menekankan pada penurunan kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi/unmet need melalui penguatan kapasitas tenaga dan kelembagaan KB di lini lapangan, yaitu dalam rangka pembinaan dan peningkatan peserta/akseptor dan kemandirian keluarga berencana; peningkatan layanan keluarga sejahtera; promosi dan penggerakan masyarakat yang didukung dengan pengembangan dan sosialisasi kebijakan pengendalian penduduk; peningkatan dukungan sarana dan prasarana pelayanan program KB; dan peningkatan pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen (SIM) berbasis teknologi informasi.

Selain itu arah kebijakan pembangunan keluarga berencana dan keluarga sejahtera pada Penyerasian Kebijakan Pengendalian Penduduk yang ditekankan pada diseminasi peraturan perundangan pengendalian penduduk; dan perumusan kebijakan kependudukan yang sinergis antara aspek kuantitas, kualitas dan mobilitas.

(29)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 171 Dengan demikian strategi yang dilakukan akan memperhatikan perkembangan struktur penduduk, terutama penduduk usia muda dalam menyiapkan remaja memasuki kehidupan berkeluarga, menyediakan pelayanan KB berkualitas bagi keluarga miskin, serta pengembangan pelayanan keluarga sejahtera yang komprehensif.

Penyelenggaraan urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Peklaongan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan sasaran terwujudnya Norma Keluarga Kecil yang Berkualitas dan Sejahtera.

Pada tahun 2014 Urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera diarahkan untuk pemantapan Revitalisasi Program Keluarga Berencana. Sejalan dengan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Pekalongan melakukan tindakan nyata untuk mewujudkan dan meningkatkan akses dan kualitas pelayanan keluarga berencana dan keluarga sejahtera.

12.1. Program dan Kegiatan

Program dan kegiatan pada urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera yang dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Kabupaten Pekalongan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

a. Program Keluarga Berencana, dengan kegiatan :

1) Penyediaan Pelayanan Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi bagi Keluarga Miskin;

2) Pembinaan Keluarga Berencana;

3) Pengadaan Balai Penyuluh KB di Kecamatan dan Perlengkapannya; serta

4) Pelayanan KIE

(30)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 172 b. Program Kesehatan Reproduksi Remaja, dengan kegiatan

Orientasi dan Advokasi Kesehatan Reproduksi dalam Memperkuat Dukungan dan Partisipasi Masyarakat.

c. Program Pelayanan Kontrasepsi, dengan kegiatan : 1) Pelayanan Pemasangan Kontrasepsi KB; dan

2) Pelayanan KB medis operasi.

d. Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pelayanan KB / KR Yang Mandiri, dengan kegiatan :

1) Operasional Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD);

2) Pendampingan Pendataan Keluarga dan Pemutakhiran Data Keluarga; dan

3) Latihan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga.

e. Program Pengembangan Model Operasional BKB- Posyandu-PAUD, dengan kegiatan Pengadaan BKB Kit.

12.2. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan

Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera dilaksanakan dengan anggaran belanja langsung (tidak termasuk belanja langsung rutin SKPD) sebesar Rp2.963.760.000,00 dan terealisasi sebesar Rp2.907.839.456,00 atau 98,11%. (Rincian Realisasi Program dan Kegiatan terlampir).

Pasangan usia subur di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2014 sebanyak 178.815 orang dan terbagi dalam 3 (tiga) kelompok umur yaitu kurang dari 20 tahun sebanyak 4.249 orang; usia 20 - 29 tahun sebanyak 56.087 orang dan usia 30 - 49 sebanyak 118.479 orang.

Pada tahun 2014, PUS yang menjadi peserta KB baru sebanyak 20.001 atau 98,83% dari PPM PB sebesar 20.237.

Kebanyakan peserta baru menggunakan alat kontrasepsi suntik sebanyak 13.887, Implant sebanyak 2.331, pil sebanyak 1.800,

(31)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 173 MOW sebanyak 708, IUD sebanyak 704, Kondom sebanyak 558 dan MOP sebanyak 8.

Berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2014 diketahui bahwa penduduk Kabupaten Pekalongan sebanyak 954.548 orang atau 259.047 KK. Jumlah kepala keluarga dibandingkan dengan tahun 2013 (252.700) ada kenaikan sebesar 2,51%. Data strata tahapan keluarga sejahtera hasil pendataan keluarga tahun 2014 dapat dilihat pada berikut ini :

Tabel 4.28

Data Strata Tahapan Keluarga Sejahtera Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2014

NO HASIL PENTAHAPAN JUMLAH

(KK) % 1. Keluarga Pra Sejahtera 52.352 20,21

2. Keluarga Sejahtera I 60.527 23,37

3. Keluarga Sejahtera II 62.052 23,95 4. Keluarga Sejahtera III 71.242 27,50 5. Keluarga Sejahtera III Plus 12.874 4,97

J U M L A H 259.047 100 Sumber : BPMP-KB Kabupaten Pekalongan, 2014

Dari tabel di atas diketahui bahwa komposisi keluarga didominasi strata keluarga sejahtera III (27,50%) dan secara berurutan disusul keluarga sejahtera II (23,95%), keluarga sejahtera I (23,37%), keluarga pra sejahtera (20,21%) dan keluarga sejahtera III Plus (4,97%). Dari data tersebut juga diketahui bahwa keluarga miskin (Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I) di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2014 sebanyak 112.879 kepala keluarga (43,57%) lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang berjumlah 113.795 kepala keluarga (45,03%). Hal ini berarti bahwa jumlah keluarga miskin pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 1,46%.

Rata-rata jumlah anak per keluarga pada tahun 2014 sebesar 2,3 anak, lebih rendah dibandingkan tahun 2013 yakni

(32)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 174 sebesar 2,4 anak. Angka tersebut sama dengan target yang ingin dicapai pada tahun 2014 yaitu sebanyak 2,3.

Capaian realisasi program dan kegiatan Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.29

Indikator Kinerja Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

NO. INDIKATOR KINERJA SATUAN CAPAIAN 2013

TAHUN 2014

TARGET REALISASI % 1. Rata-rata jumlah anak per

keluarga anak 2,4 2,30 2,3 100,00

2. Cakupan peserta KB aktif % 83,02 85 80,15 94,85

3. Unmetneed 8,07 5,0 9,99 199,80

4. Persentase peserta KB mandiri yang tergabung dalam UPPKS

% 81,95 87,0 82,87 44,01

5. Rasio PLKB dengan desa /

kelurahan % 1:5 1:3 1:5 103,17

6. Persentase keluarga Pra

Sejahtera / Sejahtera I % 45,03 44,57 43,57 97,76

7. Cakupan PUS dengan istri

usia di bawah 20 tahun % 2,10 1,70 2,38 140,00

8. Cakupan anggota BKB

yang ber KB % 77,34 70 77,17 109,20

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kab. Pekalongan, 2014

12.3. Permasalahan dan Solusi a. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Urusan Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera adalah : 1) Masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dibandingkan

dengan kondisi yang akan dicapai sebesar 1,1%.

2) Masih tingginya angka kelahiran total (TFR) dibandingkan dengan kondisi ideal sebesar 2,1 anak per perempuan usia produksi dan disparitas antar wilayah desa-kota serta antar kelompok sosial ekonomi.

(33)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 175 3) Masih rendah dan tidak signifikannya kenaikan pemakaian

kontrasepsi (CPR) dan masih terdapat disparitas antar wilayah dan tingkat kesejahteraan.

4) Relatif masih rendah Pasangan Usia Subur (PUS) yang memilih menggunakan kontrasepsi jangka panjang/MKJP seperti IUD (Intra Uterine Device), Implan Removal, Metode Operasi Wanita dan Pria (MOW dan MOP), dan lebih banyak menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntikan dan pil.

5) Masih tingginya angka drop out (termasuk kegagalan dan komplikasi) dalam pemakaian alat kontrasepsi.

6) Masih rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB.

7) Masih tingginya kebutuhan ber-KB yang tidak/belum terpenuhi (Unmet Need), dengan disparitas yang tinggi antar wilayah desa-kota serta antar kelompok sosial ekonomi.

8) Masih rendahnya pengetahuan orang tua dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak.

9) Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran remaja dan PUS tentang KB dan kesehatan reproduksi.

10) Belum optimalnya pembinaan dan kemandirian peserta KB 11) Masih terbatasnya kapasitas tenaga dan kelembagaan

program KB.

12) Belum sinergisnya kebijakan pengendalian penduduk.

13) Masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan .

b. Solusi

Solusi yang dilakukan untuk mengatasi persoalan- persoalan tersebut diantaranya :

(34)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 176 1) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB melalui

pembinaan akseptor KB.

2) Penurunan disparitas akses dan kualitas pelayanan KB antar wilayah melalui pelayanan khusus di wilayah terpencil dan wilayah kumuh miskin.

3) Peningkatan peserta KB pria dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender dalam ber-KB.

4) Penurunan drop out akseptor dengan penyediaan pelayanan penggunaan MKJP, pelayanan efek samping serta pelayanan KB pasca melahirkan dan keguguran.

5) Penguatan advoksi dan KIE KB guna meningkatkan pemahaman tentang KB dan Kesehatan reproduksi bagi PUS dan remaja.

6) Penguatan kelembagaan KKB dan kapasitas ketenagaan KKB dengan melakukan sosialisasi UU Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

7) Penguatan unit pelayanan KB di tingkat lapangan dengan penyediaan sarana dan prasarana bagi klinik KB pemerintah dan swasta.

8) Peningkatan kapasitas tenaga lini lapangan KB dan tenaga pelayanan medis KB serta penguatan Institusi Masyarakat perdesaan/Perkotaan (IMP) atau kader KB.

9) Pembinaan keluarga melalui BKB, BKR, BKL, keluarga remaja, keluarga Lansia, pembinaan remaja melalui PIK remaja serta pemberdayaan ekonomi keluarga dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan kesertaan ber- KB.

10) Inventarisasi dan identifikasi peraturan perundangan dan kebijakan sektor yang terkait dengan program kependudukan dan KB.

(35)

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Pekalongan Akhir Tahun Anggaran 2014 177 11) Peningkatan kerjasama kependudukan dalam pendidikan.

12) Peningkatan ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan yang memadai.

Referensi

Dokumen terkait

Kekuatan marah akan menjadi indah apabila pengeluaran marah dan penahannya sesuai dengan tuntutan hikmah dan kekuatan syahwat akan indah dan baik apabila berada dalam perintah akal

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN (10) Kode/Nama Satker (018) : : JAWA TIMUR KEMENTERIAN PERTANIAN : 1 Halaman : III. HARI

Faktor psikologis emosi pada beberapa anak dapat memicu gejala dan dewasa yang berpenyakit asma, tetapi emosional atau sifat-sifat perilaku yang dijumpai pada anak

Sedangkan untuk miskonsepsi pengertian, miskonsepsi penggunaan konsep dan miskonsepsi contoh-contoh konsep tidak ada siswa yang mengalami (0 %). Tabel 4 Tabel Distribusi

Dasar Pertimbangan Hakim dalam memutus perkara Nomor: 1617/Pdt.G/2013/PA.JB mengenai Sengketa Pembagian Harta Bersama yang berupa sebuah rumah seluas 90 m2 yaitu

Berdasarkan data tersebut kandungan karbohidrat tepung kacang koro benguk dapat dijadikan potensi sebagai bahan pengisi pada naget ayam, selain itu dengan kandungan protein yang

Hal ini mengindikasikan persentase sumbangan pengaruh faktor lingkungan sosial terhadap variabel kesuksesan implementasi manajemen pengetahuan adalah sebesar 48,4

V = Beban (gaya) geser dasar nominal statik ekuivalen akibat pengaruh Gempa Rencana yang bekerja di tingkat dasar struktur gedung beraturan dengan tingkat daktilitas