Inovasi Burger Ikan Gabus sebagai Pengganti Daging
UNAIR NEWS – Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, membuat orang semakin mudah dalam melakukan segala aktivitas. Selain itu, banyak juga hal yang berubah akibat kemajuan teknologi. Salah satunya pola makan dan gaya hidup manusia.
Saat ini bisa dilihat maraknya makanan cepat saji yang sebagian memiliki beberapa dampak buruk pada kesehatan. Namun bagi Maryam Jamilah dan tim, tidak semua makanan cepat saji tidak memiliki nilai kesehatan.
“Misalnya burger, di dalam burger terdapat roti, sayur- sayuran, daging, keju, dan mayonis. Burger ini kan juga makanan cepat saji dan di dalamnya banyak sekali kandungan nutrisinya,” terang Maryam selaku ketua tim PKM-K.
Maryam juga menambahkan bahwa dalam burger, terdapat beberapa kandungan seperti roti yang mengandung karbohidrat, sayuran yang berperan sebagai vitamin dan mineral. Selain itu juga ada daging sapi yang kaya akan protein hewani yang berguna untuk membangun jaringan pada tubuh.
“Zat besi juga terkandung melimpah pada daging, sehingga pembentukan sel darah merah akan lebih optimal. Pada intinya burger ini kaya akan zat gizi,” tegasnya.
Mengetahui kandungan gizi yang bagus dan stabilitas harga daging yang terus naik, hasilnya konsumen penikmat burger dipaksa harus mengeluarkan uang yang lebih bila ingin menikmati burger. Oleh karena itu, Maryam bersama Fedora Ivena Thom, Fanti Septia Nabilla, Annisa Nurul, dan Shulkhiatus Syafa’ah, berinovasi membuat burger dengan menggunakan daging ikan gabus sebagai ganti daging sapi.
“Selain harga ikan gabus lebih murah, kandungan zat gizinya tidak kalah hebat dengan daging sapi,” imbuhnya.
Meski diganti dengan ikan gabus, burger ikan gabus tetap ada roti, sayuran, dan keju, serta dikemas dalam kemasan menarik, dan yang penting harganya terjangkau dengan zat gizi yang lebih dari burger daging.
DIANTRE pembeli saat ditawarkan dalam suatu bazar outdoor. (Foto: Dok PKMK)
“Bedanya, untuk burger ikan gabus tidak tinggi lemak dan kandungan protein terutama albuminnya tinggi, hal itu baik untuk pembentukan dan pertumbuhan otot, baik untuk penyembuhan luka, dan mudah dicerna jadi sehat untuk pencernaan,” papar Maryam.
Di akhir, Maryam juga mengatakan bahwa burger yang ia tawarkan bersama tim adalah burger yang original tanpa ada keju.
“Karena keju termasuk makanan tinggi kalori dan burger kami ada porsi burger kecil yang tentu saja kandungan zat gizinya pas tidak berlebihan,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Mahasiswa UNAIR Teliti Daun Putri Malu sebagai Obat Anti Bakteri
UNAIR NEWS – Luka mudah sekali terkontaminasi oleh kuman.
Salah satunya adalah Staphylococcus auerus, yaitu kuman atau bakteri yang normal ada di kulit dan hidung manusia. Bahayanya apabila bakteri ini masuk ke tubuh melalui luka terbuka dan menyebabkan infeksi pada daya tahan tubuh yang lemah.
Berangkat dari masalah ini, lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Safira Rahma (2015), Nur Moya Isyroqiyyah (2015), Safira Nur Ainiyah (2015), Nur Sophia Matin (2015), dan Salsabila Zahra Prasetya (2016) mengadakan penelitian terhadap hewan coba untuk mengatasi pertumbuhan bakteri MRSA menggunakan ekstrak daun putri malu. Seperti yang kita tau bahwa daun putri malu hanya menjadi semak belukar dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat.
Penelitian ini dituangkan dalam proposal pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Studi in Vivo Ekstrak Daun Putri Malu (Mimosa pudica L.) sebagai Bahan Alternatif Antibakteri pada Kasus Infeksi Luka Terbuka Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)”.
“Pengembangan ide proposal ini dilaksanakan di Departemen Mikro biologi Klinik Fakultas Kedokteran UNAIR. Proposal penelitian ini mendapatkan dana hibah dalam program PKM tahun 2017 setelah lolos dalam penilaian oleh Kemenristekdikti,”
jelas Safira.
Safira juga mengatakan bahwa persiapan sebelum percobaan
selain pembelian alat dan bahan, juga penting untuk lulus dari sidang dari Komisi Laik Etik hewan coba. Penelitian ini dilakukan pada mencit yang diberi luka dan ditambahkan bakteri MRSA. Setelah mencit terinfeksi, diberikan perlakuan dengan pemberian perawatan luka setiap hari berupa salep clindamycin atau ekstrak daun putrid malu pada kadar tetentu. Daun putri malu mengandung senyawa aktif polifenol yang sensitif dan efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan MRSA sedangkan clindamycin merupakan anti biotik yang mampu menghambat pertumbuhan MRSA.
“Pemilihan jenis salep yang kami gunakan sebagai control dengan menguji kepekaan antibiotik clindamycin dahulu untuk membuktikan apakah benar clindamycin masih dapat menghambat MRSA atau tidak, karena bias jadi bakteri bermutasi menjadi resisten terhadap antibiotic dan clindamycin tidak dapat digunakan sebagai antibiotic MRSA,” imbuh Safira selaku ketua kelompok PKM PE.
Setelah percobaan, Safira menuturkan perlunya dilakukan uji mikro biologi dan uji histopatologi. selanjutnya, hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat mengubah paradigma di masyarakat tentang daun putri malu sebagai tanaman semak belukar menjadi tanaman obat solusi alternatif untuk menghambat bakteri MRSA yang menjadi penyebab infeksi luka terbuka di rumah sakit dengan harga yang murah dan mudah didapatkan serta nantinya dapat digunakan oleh masyarakat setelah dilakukan penelitian pada manusia.
“Selain itu hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi untuk penelitian dan pengembangan obat antimikroba dari putri malu selanjutnya,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Mahasiswa FPK UNAIR Produksi Hand Sanitizer Non Alkohol
UNAIR NEWS – Kelompok yang terdiri dari 4 Mahasiswa yang berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga berhasil memproduksi hand sanitizer non alkohol yang berasal dari limbah perikanan.
Hand sanitizer yang dinamai CLUZER (Chitosan Limbah Kulit Udang Hand Sanitizer) merupakan karya PKM-K Albet Surya Kembara (Budidaya Perairan 2016) selaku ketua kelompok, bersama 3 orang kreatif lainnya yakni Aditya Dwi Saputra (Budidaya Perairan 2016), Vivy Hanum Melati ( Budidaya Perairan 2016), dan Selvi Debi Savia Fitri (Budidaya Perairan 2015).
Hand sanitizer non alkohol karya Albet dan tim ini mempunyai fungsi sebagai antiseptik. Selain itu, keunggulan hand sanitizer ini dibandingkan yang ada dipasaran yaitu bersifat non alkohol, lebih efektif membunuh bakteri, serta harganya terjangkau.
“Produk kami lebih efektif membunuh bakteri yang ada di tangan dibandingkan produk yang ada dipasaran,” kata Albet.
Albet juga menuturkan bahwa latar belakang dibuatnya inovasi ini didasarkan pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Dalam survei tersebut tercatat meningkatnya kematian balita di Provinsi Riau yang disebabkan oleh bakteri patogen yang penyebarannya melalui tangan.
“Dari hal itu perlu adanya inovasi hand sanitizer yang mengandung senyawa antibakteri yang salah satunya dapat diperoleh dari Chitosan yang berasal dari limbah kulit udang.
Dimana pada saat ini hand sanitizer yang ada dipasaran merupakan hand sanitizer yang berbahan alkohol, padahal alkohol sendiri tidak baik bagi kulit kita,” terangnya.
Mengenai pengemasan, Albet menjelaskan bahwa CLUZER sendiri dikemas dengan botol berukuran 60ml yang praktis dan mudah untuk dibawa kemana-mana karena ukurannya yang tidak begitu besar.
“Sehingga dengan kemasan praktis tersebut dapat meningkatkan penjualan dari produk itu tersebut,” papar Albet.
Di akhir, Albet yakin bahwa CLUZER sangat berpotensial untuk dijual dipasaran karena harga yang murah yaitu Rp.8.000 untuk satu botol berukuran 60ml.
“Menurut pelanggan kami sendiri CLUZER sangat praktis dan aroma lemon yang begitu segar sehingga tidak perlu lagi untuk mencuci tangan lagi karena Efisiennya CLUZER,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Mahasiswa UNAIR Hasilkan Inovasi Terapi Pengantar Tidur Bagi Penderita Insomnia
UNAIR NEWS – Insomnia menjadi penyebab manusia mengalami gangguan dalam kualitas hidup. Hampir semua orang di dunia pernah mengalami insomnia. Sekitar 30% orang dewasa mengalami insomnia dan 10% diantaranya mengalami insomnia dengan derajat berat sehingga berdampak terhadap kualitas hidup mereka.
Beberapa penanganan insomnia yang telah dilakukan yaitu menggunakan alat penutup mata yang membantu mengatur cahaya untuk tidur, ada juga beberapa penderita menggunakan aromaterapi untuk menciptakan ketenangan, selain itu penggunaan obat tidur juga menjadi solusi yang sering dijumpai.
Dari informasi tersebut, memotivasi kelompok PKM Karsa Cipta Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang diketuai oleh Anneke Widi Prastiwi (Angkatan 2013) untuk menciptakan gagasan inovatif yang berguna sebagai pengantar tidur penderita insomnia ringan. Program berdanakan hibah DIKTI ini oleh kelompok diberi nama Blindfold eye with vibration and aromatherapy.
“Keunggulan alat ini yaitu dilihat dari sisi bentuk yang ringan dan portable, selain itu alat tersebut dilengkapi dengan aromaterapi lavender yang berfungsi meningkatkan gelombang alfa dan keadaan ini diasosiasikan dengan keadaan relaksasi,” jelas Anneke
Bersama empat anggota lainnya yakni Nusrotud Diana, Aprilia Permata Sari, Wahyu Dwi Septinengtias, dan Risniawati, Anneke menciptakan aromaterapi lavender yang dapat membantu mengobati insomnia, mengurangi sakit kepala, dan menyembuhkan stres.
“Selain aromaterapi lavender, alat ini dilengkapi dengan vibrasi yang memberikan pijat dengan tujuan memberikan relaksasi bagi pengguna,” imbuhnya.
Untuk cara penggunaannya, Anneke menjelaskan bahwa caranya sangatlah mudah dan bisa dilakukan oleh semua kalangan.
“Cukup dengan menggunakan blindfold eye selama 20 menit dengan posisi tidur terlentang penderita insomnia sudah bisa merasakan relaksasi terapi dari alat ini,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Dukung Penuh Gerakan Indonesia Bebas Sampah Tahun 2020
UNAIR NEWS – Gerakan Indonesia Bebas Sampah tahun 2020 telah lama dicanangkan oleh pemerintah. Namun realisasinya terasa belum masif pada kalangan masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya masyarakat yang masih membuang sampah pada lahan terbuka, salah satunya masyarakat Desa Dukuhsari, Jabon, Sidoarjo. Di sepanjang jalan desa RT.02 RW.01 Desa Dukuhsari, terlihat tumpukan sampah yang memanjang sejauh kurang lebih 50 meter.
Keberadaan sampah yang tidak terurus dapat mengundang banyak masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tumpukan sampah berpotensi mengundang hewan-hewan yang dapat menularkan penyakit kepada manusia.
Tergerak dengan adanya problem ini, lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR merancang suatu program untuk memberdayakan masyarakat, khususnya anak dan remaja disertai kader usia dewasa desa Dukuhsari. Kelima mahasiswa tersebut adalah Nisrina Tiara Sani selaku ketua, beserta empat anggota lainnya yakni Made Nita Sintari, Dian Tami Wahyuningtyas, Made Mira Wahyu Astani, dan Miftahol Hudhah.
Program yang diusulkan bernama GOSOK BERSAHAJA (Gerakan Olah Sampah Organik Bersama Sahabat Anak dan Remaja). Program ini dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dan lolos didanai oleh Kemenristekdikti tahun 2016.
“Realisasi pertama dari program GOSOK BERSAHAJA adalah
dilaksanakannya kegiatan sosialisasi dan praktik komposing bertempat di balai desa Dukuhsari. Melalui kegiatan ini, peserta dikenalkan mengenai definisi sampah, jenis-jenis sampah, dampak sampah pada berbagai aspek, serta alternatif pengelolaan sampah khususnya sampah organic,” terang Nisrina.
Selain itu, Nisrina menjelaskan bahwa peserta juga dibekali dengan pengetahuan mengenai definisi kompos, manfaat kompos, alat dan bahan serta tata cara pembuatan pupuk kompos. Tidak hanya mengembangkan segi kognitif, peserta juga diajak melakukan kegiatan komposing secara langsung.
“Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dimana setiap kelompok menghasilkan satu drum kompos. Adapun bahan utama pembuatan kompos pada setiap kelompok sengaja dibuat bervariasi, yakni kelompok I membuat kompos berbahan 100% sampah organik, kelompok II membuat kompos berbahan 50% sampah organic, dan 50% kotoran ternak, serta kelompok III membuat kompos berbahan 100% kotoran ternak,” jelasnya.
Nisrina menambahkan untuk realisasi kedua dari program GOSOK BERSAHAJA adalah kegiatan sosialisasi serta praktik budidaya kebun binaan sederhana. Adapun dalam program ini, tanaman yang dibudidayakan adalah cabai dan terung.
“Tanaman ini dipilih karena mudah diperoleh, perawatannya mudah dan murah, dapat ditanam dalam polybag, serta hasilnya bermanfaat bagi konsumsi masyarakat,” paparnya.
Di akhir Nisrina menegaskan bahwa segi kognitif yang dikembangkan dalam program kedua ini antara lain pengetahuan mengenai definisi budi daya secara umum, sekilas mengenai tanaman cabai dan terung, manfaat budi daya cabai dan terung, serta tata cara budi daya cabai dan terung dalam polybag mulai dari penyemaian, penyiapan media tanam, pemindahan bibit, pemeliharaan dan perawatan, serta pemanenan.
“Dalam hal ini peserta program juga diajak melakukan praktik langsung berupa pemindahan bibit menuju media tanam serta
teknik pemupukan tanaman menggunakan pupuk kompos secara baik dan benar,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Atasi Gangguan Kelancaran Pencernaan dengan Kapsul Daun Pepaya
UNAIR NEWS – Kesadaran akan pentingnya kesehatan semakin meningkat seiring dengan majunya tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat. Hal ini berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat untuk menempuh usaha agar tubuhnya tetap sehat.
Berbagai hal mulai dilakukan masyarakat, mulai dari rutin berolahraga hingga mengkonsumsi produk herbal ketimbang suplemen berbahan kimia yang memiliki efek samping.
Melihat kondisi tersebut, lima mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga yakni Sinta Nabilah Mulyawati (2016), Azizi Pridasari (2016), Rizki Nur Azizah (2016), Jihan Salsabila (2016), dan Himaya (2015) memiliki gagasan untuk membuat suplemen herbal lewat Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) yang berjudul “KAYA (Si Kapsul Daun Pepaya) sebagai Upaya Mempromosikan Suplemen Herbal Modern”.
Sinta selaku ketua tim mengatakan bahwa daun pepaya memiliki berbagai zat yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Enzim Papain dalam daun papaya menurut sinta dapat membantu pencernaan protein.
“Kandungan vitamin A, C dan E dapat membantu meregenerasi sel darah putih dan trombosit sehingga baik untuk sistem imun,”
terangnya.
Selain itu, kandungan lain di daun pepaya yakni terdapat senyawa karpain yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Bagi Sinta terobosan yang diciptakan dengan tim merupakan terobosan yang dapat mengenalkan kepada masyarakat.
“Salah satu cara mengonsumsi suplemen herbal yang berbahan dasar daun. Jika umumnya masyarakat mengonsumsi dengan cara merebus daunnya, maka daun pepaya di produk ini dikemas dalam bentuk kapsul tanpa mengurangi khasiat yang terkandung di dalamnya agar masyarakat lebih mudah untuk mengonsumsinya,”
jelas Sinta.
Sinta juga menegaskan bahwa suplemen “KAYA” ini merupakan salah satu upaya tindakan preventif agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit tertentu. Banyaknya penyakit yang mulai menyerang masyarakat dari segala lapisan dan tidak memandang usia menjadikan masyarakat harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan.
“Seiring dengan berkembangnya teknologi, banyak suplemen herbal tradisional yang dikemas dalam bentuk instan seperti serbuk yang hanya perlu diseduh atau berupa kapsul seperti produk KAYA,” imbuhnya.
Untuk kemasan, Sinta mengatakan bahwa terdapat tiga puluh kapsul yang dapat dikonsumsi dua kali perhari pada setiap satu botol kemasan. Suplemen daun pepaya ini juga bisa didapat dengan harga Rp 30.000.
“Dengan harga yang terjangkau, berbagai manfaat kesehatan telah didapat, sehingaa tubuh akan tetap sehat. Produk ini dapat dipesan lewat LINE dengan id @azizipridas atau Instagram dengan id @kaya_product,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Ubah Tempe Menjes Lebih Punya Nilai Ekonomi
UNAIR NEWS – Tempe menjes bagi sebagian orang dianggap sebagai makanan kuno dan ndeso. Namun ditangan lima orang mahasiswa D3 Perpajakan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga ini, tempe menjes disulap menjadi camilan khas kekinian.
Kelompok PKM Kewirausahaan (PKM-K) yang terdiri dari Rr. Wibsa Adelia Augie, Beka Ratu, Eryl Hayattul Umma, Anggi Nur’aini Ikawati, dan Reviandy Ardiyanto ini membuat varian jajanan populer risoles yang dikombinasikan dengan isian tempe menjes.
“Tempe menjes sebenarnya makanan yang berasal dari fermentasi ampas tahu. Belum banyak yang mengetahui manfaat dari tempe menjes, padahal tempe menjes mengandung protein sebanyak 4%
dan serat kasar 30.4%. Serat kasar inilah yang bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit,” terang Anggi salah satu anggota tim.
Menambahkan pernyataan Anggi, ketua tim Adelia Augie mengungkapkan bahwa ide membuat risoles menjes berawal dari kurangnya diversifikasi dari produk risoles yang membuat penggemar kuliner mulai mencari varian yang baru. Alasan tempe menjes dipilih sebagai pilihan untuk menjadi varian baru risoles adalah nilai gizi dan harganya yang murah.
“Hal ini sangat potensial untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi,” jelas Adelia.
Risoles menjes produknya dan tim yang diberi nama “Rolljess”
ini memiliki pangsa pasar yang luas. Karena harga yang terjangkau, 1 pack “Rolljess” yang berisi dua biji risoles dijual dengan harga Rp. 6000,-. Selain itu didukung dengan kemasan yang modern, risoles menjes mampu menarik minat konsumen.
“Jangkauan produk kami sudah merata di Jawa Timur. Kemarin ada konsumen yang memesan dari Banyuwangi, Madura, Surabaya, Lamongan, Tuban, Sidoarjo, Pasuruan. Bahkan ada yang dari Nusa Tenggara Timur,”tuturnya
Untuk promosi, Adelia menjelaskan bahwa “Rolljess”
dipromosikan menggunakan media sosial seperti Instagram dan Line.
“Memang produk risoles dipasaran sudah banyak, namun yang menggunakan isian tempe menjes belum ada. Kami yakin program kewirausahaan risoles menjes ini akan mampu menjadi suatu usaha yang terjamin keberlangsungannya,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan
Mahasiswa UNAIR Banyuwangi Bikin Masker Cantik dari Limbah Kulit Pisang
UNAIR NEWS – Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu desa yang memiliki potensi tinggi penghasil pisang. Hasil olahan pisangnya pun beraneka ragam. Ada keripik pisang, sale, dan aneka yang lain.
Sayangnya, produksi pengolahan pisang yang tinggi itu tidak
diimbangi dengan pengolahan limbahnya. Jadilah limbah berupa kulit pisang berserakan diberbagai tempat.
Menurut Kepala Kelurahan Tamansari, Nursamsi, kebanyakan masyarakat Desa Tamansuruh cenderung membuang limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang yang paling banyak adalah kulit pisang kapok. Ada beberapa yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak, namun hasilnya belum mengatasi besaran limbah yang ada.
“Di Desa Tamansuruh sudah memiliki kelompok ibu PKK yang aktif dan sering mengadakan pertemuan dan membahas masalah limbah kulit pisang ini, namun dari pertemuan ke pertemuan toh belum bisa memberikan solusi yang nyata,” kata Lurah Nursamsi.
Bergegas dari kenyataan diatas dan berusaha untuk memberikan solusinya, lima mahasiswa Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi membuat inovasi untuk memberdayakan masyarakat dengan mengubah limbah kulit pisang menjadi barang yang bernilai ekonomis, yaitu masker wajah.
Dari lima mahasiswa prodi akuntansi PSDKU UA melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017 dengan judul propsoal
”Optimalisasi Potensi Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) Menjadi Kuping Macan (Kulit Pisang Masker Cantik ) sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Kreatif pada Kelompok PKK di Desa Tamansuruh, Kabupaten Banyuwangi.” Program ini berhasil menarik perhatian Dirjen Dikti dan dinyatakan lolos untuk mendapatkan dana pembinaan program PKM tahun 2017.
PROMOSI masker cantik yang terbuat dari kulit pisang di Banyuwangi. (Foto: Ist)
Lima mahasiswa tersebut adalah Nilna Firdaus Anggraini (ketua/2016), Suaibatul Islamiyah (2016), Nur Jannah (2016), Miranti Nareswari (2014), dan Romzi Kharisanto(2014). Sasaran pengabdian kelima mahasiswa itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tamansuruh, mengurangi tingkat pengangguran, memberikan fasilitas pelatihan kewirausahaan, meningkatkan kreatifitas mahasiswa, membantu mengangkat nilai jual limbah kulit pisang sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi perencanaan program, sosialisasi pengenalan manfaat limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pelatihan dan praktik pengolahan limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pemanfaatan masker kecantikan dari limbah kulit pisang pada remaja di lingkungan Desa Tamansuruh serta ditutup dengan melakukan evaluasi kegiatan. (*)
Penulis : Siti Mufaidah
Editor : Bambang Edy Santosa
Mahasiswa UNAIR Berdayakan PKK dalam Bisnis Memanfaatkan Internet
UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi berhasil melakukan pembelajaran kepada masyarakat Kelurahan Karangrejo, Kota Banyuwangi, untuk merajut bisnis/berwirausaha memanfaatkan jejaring internet. Usaha yang dilakukan ini sebagai revitalisasi peran PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) untuk meningkatkan penghasilan keluarga di era perdagangan global.
Mahasiswa UNAIR tersebut terdiri lima orang, yaitu Hanna Lintang Utaminingrum (ketua Tim), dengan anggota Iis Ananda Pratiwi, Sischa Dwiyanto, Diana Andansari, dan Romzi Kharisanto.
Setidaknya terdapat dua alasan mengapa pengabdiannya ditujukan kepada masyarakat Kelurahan Karangrejo. Pertama, kelurahan Karangrejo merupakan kelurahan di wilayah Kota Banyuwangi yang letaknya berbatasan dengan Selat Bali. Di sini tumbuh kawasan industri yang ditandai berdirinya banyak pabrik. Kemudian di sisi barat sebagai “pintu gerbang” menuju pulau wisata Bali, terdapat kawasan “bergaya” perkotaan berupa pemukiman, pasar Pujasera, dan kawasan pecinan (China Town).
Kedua, menurut lembaga riset pasar e-Marketer, populasi netter di tanah air dalam tahun 2014 saja sudah mencapai 83,7 juta orang. Tentu sekarang sudah meningkat tajam. Hal ini mendudukkan Indonesia di peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam jumlah pengguna internet. Tahun 2017 e-Marketer memperkirakan netter Indonesia akan mencapai 112 juta.
Dijelaskan oleh Hanna Lintang Utaminingrum, produk yang berhasil dibuat dari sosialisasinya itu Antara lain kerajinan handmade berupa bross dan penjepit rambut, sabun cuci handmade, kerupuk olahan, kerudung dan banyak lainnya.
”Tujuan kami dari Tim PKMM ini ingin memberikan wawasan softskill pada masyarakat, khususnya Kelompok PKK Kelurahan Karangrejo tentang teknologi internet dan pengaplikasiannya dalam berwirausaha untuk meningkatkan pendapatan Kelompok PKK ini dengan wawasan internet,” kata Hanna.
Hasil pengabdiannya ini kemudian diimplementasikan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M). Setelah melalui seleksi oleh Dirjen Dikti, proposal ini lolos dan berhasil mendapatkan pendanaan melalui program PKM Kemenristekdikti tahun 2017.
Dijelaskan oleh Hanna, metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini, pertama melalui sosialisasi terhadap kelompok PKK Kelurahan Karangrejo. Disini dikenalkan pentingnya internet dan manfaat yang dapat diperoleh dari fasilitas internet dalam wirausaha. Kedua memberikan pelatihan packaging, dan labelling produk. Ketiga, melatih kelompok PKK dalam mengaplikasikan internet sebagai media dalam memasarkan produknya.
”Kami sangat senang bahwa hasil yang kami dapat merupakan peningkatan pengetahuan penggunaan internet dalam melakukan penjualan produk dari anggota PKK, dan mereka juga percaya diri dalam menjalankan bisnisnya,” tambah Hanna.
Pengertian juga ditekankan bahwa wirausaha berarti harus berani berusaha secara mandiri untuk mencapai hasil optimal.
Kelompok PKMM ini menginginkan adanya E-PRO (Enterpreneuship program) sebagai upaya revitalisasi peran PKK melalui pelatihan kewirausahaan berbasis internet sebagai kesiapan menyongsong perdagangan Asia-Shina 2020 di Kelurahan Karangrejo Kabupaten Banyuwangi.
Diakui oleh Hanna, keunikan program ini dapat mengajak ibu-ibu
anggota PKK untuk menerapkan aktivitas wirausaha mulai dari pelatihan perencanaan, packaging, labeling, hingga promosi produk melalui internet dan media sosial. ”Minat masyarakat sebenarnya sudah ada, namun mereka merasa kurang percaya diri, oleh karena itu kami memfasilitasinya agar mampu mengembangkan sendiri dengan melakukan pelatihan ini,” tambah Hanna. (*)
Penulis : Siti Mufaidah Editor : Bambang Bes
Herbal Sanitizer, Inovasi Mahasiswa untuk Cegah Penularan Kuman di Toilet
UNAIR NEWS – Masalah sanitasi masih menjadi salah satu problem terbesar kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data World Economic Forum, kualitas toilet Indonesia berada pada peringkat 40 dari 140 negara. Data global juga menyatakan bahwa toilet umum di Indonesia yang memenuhi standar kebersihan baru mencapai 50 persen.
Kualitas toilet yang masih rendah dapat menimbulkan penularan berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang bersarang di toilet umum seperti E. coli, S. aureus, dan K.
pneumonia.
Selain itu, jumlah pekerja dan pelajar yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar rumah dipastikan menggunakan toilet umum.
Berangkat dari permasalahan di atas, lima mahasiswa S-1 Pendidikan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
yang beranggotakan Husniatul Fitriah (2014), Malisda Irwantri Leonald (2015), Hatif Indra Nur Septiyanti (2014), Muhammad Aviv Addin (2014), dan Rendha Kusumaning Kristiwi (2014), memiliki gagasan untuk membuat produk obat semprot ekstrak daun sirih bernama Hezer.
Gagasan tersebut tertuang dalam proposal program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (PKM–K) berjudul “HEZER (Herbal Sanitizer): Solusi Jitu Mengurangi Penularan Penyakit melalui Toilet Umum”. Proposal tersebut berhasil lolos dan mendapatkan pendanaan dari Kemenristekdikti tahun 2017.
“Herbal Sanitizer merupakan produk toiletries (perlengkapan mandi) dengan ekstrak daun sirih yang ampuh membasmi bakteri dengan cara yang cukup praktis, yakni cukup disemprotkan pada dudukan toilet umum dilap bila perlu dan toilet umum bersih siap digunakan,” tutur Husnia.
Indra menyebutkan, produk sanitasi memang sudah banyak sebelumnya. Namun, mereka mengkombinasikan ekstrak daun sirih yang mampu menghambat bakteri lebih besar. Daun sirih mengandung turunan fenol yakni kavikol dan kavibetol yang memiliki kemampuan antiseptik atau desinfektan, antioksidan, dan fungisida dengan aktivitas aktibakteri enam kali lebih efektif daripada senyawa flouride dan fenol biasa.
PRODUK-produk yang sudah dihasilkan. (Foto: Istimewa)
Keunggulan lainnya, produk Hezer yang memiliki netto 30 mililiter mudah digenggam dan dibawa. Cara penggunaannya pun praktis. “Satu botol Hezer dapat digunakan hingga 30 kali.
Hezer disemprotkan di lima titik dudukan toilet umum dengan jarak penyemprotan 25 cm dari permukaan dudukan toilet. Tunggu lima detik, maka dudukan toilet akan mengering dengan sendirinya dan siap untuk digunakan,” tutur Indra.
Sampai saat ini, 152 produk Hezer sudah sampai di tangan konsumen area Jawa dan Sumatera. Dengan harga Rp 16ribu per botol, masyarakat sudah bisa melindungi diri dari bakteri- bakteri di toilet umum.
“Hezer mudah dibawa kemana-mana dan bisa digunakan secara praktis. Jadi, saya sudha tidak merasa khawatir kalau mau ke toilet umum,” ungkap Defviana, salah satu konsumen Hezer.
Anggota tim Hezer, Rendha, menyatakan ke depan pihaknya akan mengembangkan produk dalam bentuk tisu basah agar orang yang tergesa-gesa bisa lebih efisien dalam menggunakan toilet umum.
Editor: Defrina Sukma S