• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saiful Bahri 1, Puteri Amelia 2, Ayu Hardini 1, Firdaus Ramadhan 3, Alfianur Azmi Muhammad 4*

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Saiful Bahri 1, Puteri Amelia 2, Ayu Hardini 1, Firdaus Ramadhan 3, Alfianur Azmi Muhammad 4*"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa… (Saiful Bahri dkk)

41

Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica (Hout.) Merr.) terhadap Bakteri Streptococcus

mutans dan Shigella dysenteriae

Antibacterial Activity of Endophytic Fungi from Bark of Kayu Jawa Plant (Lannea coromandelica (Hout.) Merr.) Against Streptococcus mutans and

Shigella dysenteriae

Saiful Bahri1, Puteri Amelia2, Ayu Hardini1, Firdaus Ramadhan3, Alfianur Azmi Muhammad4*

1Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Jl.

Moh Kahfi II, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

2Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri(UIN) Syarif Hidayatullah, Jl. Kertamukti No. 5 Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan

3Laboratorium Mikrobiologi, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Jl. Moh Kahfi II, Srengseng sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

4Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Tangerang Selatan

*E_mail: [email protected]

Diterima: 13 Februari 2021 Direvisi: 19 Maret 2021 Disetujui: 5 April 2021 Abstract

Endophytic fungi in the stem bark of Java wood (Lannea coromandelica) which lives in plant tissue can produce compounds that have the same efficacy as their host. This research was aimed to isolate endophytic fungi in the stem bark of Java wood (L. coromandelica) and to discover the antibacterial activity of the endophytic fungi isolated extract. Isolation of endophytic fungi used direct speed plant, their characterization by microscopic and macroscopic observation, while the isolates were tested for their antibacterial efficacy using the Diffusion Agar Plate Method. The selection of endophytic fungi in five isolates indicated that CLC2 had the highest antibacterial activity, i.e. 10.2 mm. In CLC2 isolates, the methanol (MeOH) fraction had higher activity than the ethyl acetate (EtOAc) fraction and lower than the positive control (chloramphenicol). There were 5 endophytic fungi isolates successfully isolated. MeOH CLC2 extracts and positive control (chloramphenicol) had higher antibacterial activity than EtOAc extract in all tested bacteria.

Keywords: antibacterial, bark, endophytic fungi, Kayu Jawa plant, Lannea coromandelica

Abstrak

Kapang endofit pada organ kulit batang tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) yang hidup pada jaringan tumbuhan dapat menghasilkan senyawa yang memiliki khasiat sama dengan inangnya. Tujuan penelitian untuk mengisolasi kapang endofit pada kulit batang tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica) dan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak isolat kapang endofit. Isolasi kapang endofit menggunakan teknik tanam langsung (direct speed plant), karakterisasi kapang endofit menggunakan pengamatan mikroskopik dan makroskopik, sedangkan isolat diuji antibakteri dengan menggunakan metode Diffusion Agar Plate. Seleksi kapang endofit pada lima isolat menunjukan isolat CLC2 memiliki aktivitas antibakteri tertinggi yaitu 10,2 mm. Pada isolat CLC2 fraksi metanol (MeOH) memiliki aktivitas lebih tinggi dari fraksi etil asetat (EtOAc) dan lebih rendah dari kontrol positif, yaitu kloramfenikol. Terdapat 5 isolat kapang endofit yang berhasil di isolasi. Ekstrak MeOH CLC2 dan kontrol positif (kloramfenikol) memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi dibanding ekstrak EtOAc pada semua bakteri uji.

Kata kunci: antibakteri, kulit batang, kapang endofit, tanaman Kayu Jawa, Lannea coromandelica,

(2)

42 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 10 No 1 2021; Hal 41 - 48

Pendahuluan

Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica (Hout.) Merr.) menjadi tanaman obat tradisional yang masih sering digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit seperti luka dalam dan luar, mengobati diare, mual, dan muntah.1 Kulit batang Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) berdasarkan skrining fitokimia mengandung senyawa golongan terpenoid, tannin, saponin, flavonoid, alkaloid, dan steroid.2 Ekstrak metanol dan etil asetat kulit batang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masing-masing sebesar 11,34 mm dan 13,11 mm serta terhadap Shigella dysenteriae masing-masing sebesar 10,14 mm dan 11,38 mm.3 Ismail dkk4 melaporkan flavonoid adalah kandungan bioaktif yang utama pada korteks Kayu Jawa. Flavonoid merupakan kelas utama polifenol yang berfungsi sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu struktur membran sel bakteri.5 Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya bahwa, fraksi n- heksan, diklorometana, etil asetat, ekstrak metanol kulit batang, dan daun tanaman Kayu Jawa memiliki aktivitas antimikroba dan trombolitik, dan antidiare yang disebabkan mikroorganisme patogen.2,6 Terdapat 12 isolat bakteri endofit L.

coromandelica dilaporkan memiliki akivitas antibakteri terhadap Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dengan diameter zona hambat berkisar 9- 17 mm.7

Kapang endofit adalah

mikroorganisme yang ada di jaringan hidup berbagai tanaman, menjalin simbiosis mutualisme tanpa menyebabkan gejala penyakit. Kapang endofit menjadi salah satu sumber metabolit bioaktif, yang memiliki potensi penting dalam kedokteran, pertanian, dan industri.8 Kapang endofit yang hidup pada jaringan tumbuhan dapat menghasilkan senyawa yang memiliki khasiat sama dengan inangnya.9 Beberapa penelitian

sebelumnya melaporkan ekstrak tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) memiliki potensi sebagai antimikroba, antioksidan, dan membantu mempercepat penyembuhan luka pada tikus putih.10-12

Kapang endofit yang sudah berhasil diisolasi dari organ daun dan kulit batang tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) dengan 2 golongan yang paling dominan yaitu Hypomycetes dan Coelomycetes.13 Kapang endofit yang sudah diisolasi lalu diekstraksi dengan larutan etil asetat memiliki aktivitas antioksidan, dan antijamur.14,15 Ekstrak tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) dapat menghambat

beberapa bakteri seperti

Propionilbacterium acnes, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Shigella dysenteriae.3,16 Keberadaan kapang endofit pada organ kulit batang tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) dan aktivitas antibakterinya belum banyak memberikan informasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan untuk memberikan informasi tentang aktivitas antibakteri kapang endofit terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Shigella dysenteriae.

Metode

Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), DKI Jakarta. Bahan yang digunakan adalah kulit batang tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.) yang berasal dari Bone, Sulawesi yang telah dideterminasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor.

Medium pertumbuhan jamur yang digunakan Potato Dextrose Agar (PDA) dan Potato Dextrose Broth (PDB) (Merck), sedangkan medium untuk pengujian aktivitas antibakteri Muller Hinton Agar (MHA) (Oxoid). Bakteri uji yang digunakan Streptococcus mutans dan Shigella dysenteriae yang diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi,

(3)

Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa… (Saiful Bahri dkk)

43

Fakultas Farmasi, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN).

Isolasi dan karakterisasi kapang endofit Teknik yang dilakukan untuk isolasi kapang endofit yaitu teknik tanam langsung (direct speed plant).17 Organ kulit batang tanaman Kayu Jawa dicuci dan dipotong-potong berukuran ±1 cm, sampel disterilkan dengan larutan etanol 70% dan natrium klorida (NaCl) 5,25%, kemudian dibilas akuades steril. Sampel diletakkan pada medium PDA lalu diinkubasi dengan suhu ruang17. Karakteristik kapang endofit dilakukan dengan pengamatan secara makroskopik dan mikrokospik. Pengamatan makroskopik dilakukan untuk mengamati warna, warna permukaan atas dan bawah koloni, dan warna koloni, serta mengamati ada atau tidaknya lingkaran konsentris.

Pengamatan mikroskopis dilakukan menggunakan mikroskop.

Uji seleksi kapang endofit

Isolat yang diperoleh dilakukan uji seleksi kapang endofit yang berpotensi sebagai antibakteri dilakukan dengan metode difusi medium agar padat (Diffusion Agar Plate Method). Isolat murni dari medium PDA dipindahkan ke medium MHA yang telah ditanami bakteri uji. Cawan petri yang berisi medium MHA yang telah diberikan potongan isolat murni kapang endofit dan diinkubasi selama 37°C selama 1-2 hari. Aktivitas antibakteri kapang endofit dilihat dari zona hambat yang terbentuk, isolat yang menunjukan adanya zona hambat yang dominan dipilih sebagai isolat pengujian.

Miselium isolat kapang endofit diinokulasikan ke dalam PDB sebanyak 3 cuplikan dan diinkubasi pada suhu ruang dengan metode statis selama 21 hari.18 Ekstraksi dilakukan pada dua bagian hasil fermentasi yaitu biomassa dan supernatan.

Biomassa yang sudah dihaluskan dengan mortar dan alu diekstraksi secara maserasi menggunakan metanol (MeOH) selama ± 24 jam dan diperoleh filtrat metanol.

Supernatan diekstrak dengan etil asetat (EtOAc) dengan perbandingan (1:1) hingga warna yang didapat hampir jernih.

Kedua fraksi masing-masing dikentalkan dengan evaporator rotary hingga diperoleh ekstrak kental.

Uji aktivitas antibakteri ekstrak isolat CLC2

Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar (Kirby-Bauer).19 Medium MHA dituang ke dalam cawan petri dan didiamkan hingga memadat.

Kemudian inokulum bakteri Streptococcus mutans dan Shigella dysenteriae 106 sel/mL dimasukkan ke dalam cawan petri berisi medium MHA dengan metode spread. Kemudian fraksi ekstrak biomassa dan supernatan diteteskan pada kertas cakram steril sebanyak 20 µL dan didiamkan hingga mengering. Kertas cakram yang berisi ekstrak diambil dengan menggunakan pinset steril dan diletakkan pada medium MHA yang sudah berisi bakteri uji. Kontrol positif yang digunakan yaitu cakram kloramfenikol 30 µL.

Kontrol negatif yang digunakan yaitu pelarut yang digunakan pada kedua ekstrak hasil fermentasi, yaitu metanol dan etil asetat. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37°C. Pengamatan dilakukan terhadap zona bening yang terbentuk dan diukur diameternya menggunakan jangka sorong.

Hasil

Isolasi dan karakterisasi kapang endofit Karakterisasi bertujuan untuk membedakan dan memisahkan isolat kapang endofit yang telah diperoleh.

Berdasarkan hasil isolasi diperoleh lima isolat kapang endofit yang memiliki kode isolat CLC1, CLC2, CLC3, CLC4, dan CLC5. Karakter makroskopis kelima isolat memiliki beberapa kemiripan baik dari warna permukaan atas koloni, maupun bawah koloni (Tabel 1).

(4)

44 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 10 No 1 2021; Hal 41 - 48 Tabel 1. Karakteristik makroskopis isolat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa

N o

Nama Isolat Karakteristik Makroskopis

1 CLC1 Isolat berwarna coklat, permukaan koloni atas putih kapas melebar, bagian belakang koloni melebar berwarna hitam.

2 CLC2 Isolat berwarna coklat, permukaan koloni atas putih melebar seperti bunga, bagian belakang koloni melebar berwarna coklat kekuningan

3 CLC3 Isolat berwarna coklat, permukaan koloni atas putih kapas melebar, bagian belakang koloni melebar berwarna hitam

4 CLC4 Isolat berwarna coklat, permukaan koloni atas putih kapas melebar, bagian belakang koloni melebar berwarna hitam

5 CLC5 Isolat berwarna coklat, permukaan koloni atas putih kapas melebar, bagian belakang koloni melebar berwarna hitam

Karakteristik mikroskopis dilakukan dengan bantuan mikroskop binokuler. Pengamatan mikroskopis pada isolat CLC1 hifa tidak berseptat, memiliki sporangium, dan spora. Isolat CLC2 terdapat spongarium, sporangiofor, dan

hifa berseptat. Isolat CLC3 hifa berseptat dan memilliki sporangium. Isolat CLC4 memiliki sporangium dan hifa tidak berseptat. Isolat CLC5 terdapat sporangium, spora, dan hifa berseptat (Gambar 1).

Gambar 1. Karakteristik mikroskopis isolat kapang endofit pada kulit batang tanaman Kayu Jawa. Keterangan: A. isolat CLC1, B. isolat CLC2, C. isolat CLC3, D. isolat CLC4, E. isolat CLC5

Gambar 2. Hasil uji seleksi zona hambat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa E

D B C

A

(5)

Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa… (Saiful Bahri dkk)

45 Tabel 3. Uji aktivitas antibakteri isolat CLC2.2 terhadap bakteri uji

Isolat Fraksi Rata – rata diameter daya hambat (mm)

Streptococcus mutans Shigella dysenteriae

CLC2.2 Metanol (MeOH) 14,5 mm 28,25 mm

Etil asetat (EtOAc) 11,5 mm 11,15 mm

Kontrol Uji

Kloramfenikol (+) 34,85 mm 31,85 mm

Kontrol metanol (-) - -

Kontrol etil asetat (-) - -

Keterangan (-) Tidak ada aktivitas antibakteri

Uji seleksi kapang endofit

Uji seleksi lima isolat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa (L.

coromandelica (Hout.) Merr.) terhadap bakteri uji Streptococcus mutans.

Berdasarkan hasil seleksi, terdapat 4 dari 5 isolat kapang endofit memiliki zona hambat yang beragam dari 9,5 - 10,2 mm terhadap bakteri uji kecuali isolat CLC3 (Tabel 2) dan zona hambat terbesar dihasilkan oleh isolat CLC2 (Gambar 2). Uji aktivitas antibakteri ekstrak isolat CLC2

Uji aktivitas antibakteri menggunakan dua bakteri uji yaitu Streptococcus mutans dan Shigella dysenteriae. Isolat CLC2 fraksi MeOH memiliki aktivitas antibakteri tertinggi pada kedua bakteri uji dibanding fraksi EtOAc. Kontrol positif kloramfenikol mampu menghambat dua bakteri dengan zona hambat tertinggi dibandingkan fraksi MeOH dan fraksi EtOAc. Tidak terdapat aktivitas antibakteri

pada kontrol negatif yang berupa pelarut (Tabel 3).

Pembahasan

Isolasi dan karakterisasi kapang endofit Kapang endofit terdapat dalam sistem jaringan tanaman sehingga mudah untuk diisolasi seperti pada bunga, daun, batang, maupun akar, dan dapat menginfeksi tanaman sehat pada jaringan tertentu, mampu menghasilkan mikotoksin, enzim, serta antibiotika yang bermanfaat bagi tanaman inang.20,21 Tumbuhan inang dapat menghasilkan kapang endofit dengan perbedaan jenis isolat dan jumlah yang bervariasi, dipengaruhi dengan mekanisme adaptasi mikro-ekologi dan kondisi fisiologis yang spesifik dari tumbuhan inang.22 Habitat tanaman merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan struktur dan komposisi spesies mikroba pada bagian akar, batang, cabang, dan daun.23

Tabel 2. Uji seleksi zona hambat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa

Kode Isolat Streptococcus mutans

CLC1 9,85 mm

CLC2 10,2 mm

CLC3 -

CLC4 9,5 mm

CLC5 9,6 mm

Keterangan : (-) tidak ada aktivitas antibakteri

(6)

46 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 10 No 1 2021; Hal 41 - 48

Uji seleksi kapang endofit

Semua isolat memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri uji gram positif yang memiliki peptidoglikan yang lebih tebal sehingga dapat bertahan dari jenis senyawa aktif, isolat CLC2 memiliki zona hambat yang paling tinggi yaitu 10,20 mm.

Pratiwi dkk24 menyatakan bahwa masing- masing isolat memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan senyawa bioaktif ataupun aktivitas bioaktifnya.

Peptidoglikan salah satu penyusun dinding sel bakteri sebagai pelindung, ketebalan peptidoglikan mungkin mempengaruhi resistensi atau kemampuan bertahan hidup dari kondisi lingkungan yang berubah- ubah dan dapat merugikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.25

Uji Aktivitas Antibakteri Isolat Kapang Endofit Terpilih

Isolat terpilih yang diekstrak menggunakan MeOH dan EtOAc. Fraksi MeOH memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan fraksi EtOAc. Isolat terpilih fraksi metanol memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi terhadap Streptococcus mutans dibanding fraksi EtOAc dan fraksi MeOH memiliki aktivitas antibakteri yang sangat tinggi terhadap Shigella dysenteriae dibanding fraksi EtOAc. Hal ini disebabkan dinding sel Streptococcus mutans yang tergolong Gram positif lebih tebal dibandingkan Shigella dysenteriae yang tergolong Gram negatif.26 Pelarut MeOH bersifat universal sehingga dapat melarutkan senyawa yang bersifat polar dan nonpolar, beberapa senyawa aktif yang mampu diikat oleh metanol yaitu senyawa alkaloid, steroid, flavonoid, dan saponin.27

Dhawan dan Gupta28 melaporkan bahwa etil asetat merupakan pelarut semi polar yang dapat menarik senyawa polar maupun non polar, baik digunakan untuk ekstraksi karena mudah diuapkan, tidak higroskopis, dan toksisitas rendah. Kontrol negatif yang digunakan adalah pelarut MeOH dan EtOAc bertujuan sebagai pembanding bahwa pelarut tidak

mempengaruhi aktivitas antibakteri.

Fadliah dkk29 melaporkan, hasil uji fitokimia tanaman Kayu Jawa terdapat senyawa flavonoid, polifenol, saponin, dan tanin.

Kontrol positif yang digunakan kloramfenikol dengan memiliki daya hambat lebih tinggi dibanding kedua fraksi isolat MeOH dan fraksi isolat EtOAc.

Kloramfenikol salah satu antibiotik spektrum luas dan aktif dalam memberikan daya hambat terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif.30 Mekanisme kloramfenikol dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis protein pada sel bakteri dan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50S sehingga mencegah ikatan antara asam amino dan ribosom.

Kloramfenikol berikatan secara spesifik dengan akseptor yang merupakan tempat ikatan kritis untuk memperpanjang rantai peptida.31

Diameter zona hambat pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan kapang endofit hasil isolasi dari daun tanaman Kayu Jawa penelitian Alghazia32 yang memiliki diameter >10 mm pada 4 bakteri uji Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Heliobacter pylori, dan Pseudomonas aeruginosa. Lebih lanjut, Zulfa33 juga melaporkan diameter zona hambat kapang endofit hasil isolasi akar tanaman Kayu Jawa memiliki lebih kecil (>10 mm) dibandingkan penelitian ini pada empat bakteri uji Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysenteriae.

Kesimpulan

Terdapat lima isolat yang berhasil diisolasi dari tanaman Kayu Jawa (L.

coromandelica (Hout.) Merr.) dan hanya isolat CLC2 yang memiliki potensi sebagai antibakteri. Ekstrak MeOH isolat CLC2 memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi dibanding ekstrak EtOAc isolat CLC2 pada bakteri uji Streptococcus mutans dan Shigella dysenteriae.

(7)

Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa… (Saiful Bahri dkk)

47

Saran

Identifikasi kapang endofit yang lebih spesifik lagi agar bisa mengetahui jenis kapang apa yang mempunyai potensi antibakteri. Pengujian Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC- MS) untuk memastikan senyawa yang terkandung di dalam ekstrak kulit batang tanaman Kayu Jawa (L. coromandelica (Hout.) Merr.).

Daftar Rujukan

1. Gunjal JN, Patil PMMS, Chittam PDKP.

Lannea coromandelica: An overview. Int J Pharm Biol Sci Arch. 2021;9(1):102-107.

2. Manik MK, Wahid MA, Islam SMA, Pal A, Ahmed KT. A comparative study of the antioxidant, antimicrobial and thrombolytic activity of the bark and leaves of Lannea Coromandelica. Int J Pharm Sci Res.

2013;4(7):2609-2614.

3. Yumita Y, Razak AR, Indriani, Bahri S.

Analisis KLT Bioautografi Ekstrak Kulit Batang Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Kovalen J Ris Kim.

2019;5(2):191-196.

4. Ismail I, Paturusi AAE, Aridani I. Aktivitas Antimikroba Hasil Fraksinasi Kortex Kayu Jawa (Lannea coromandelica(Houtt.) Merr.). Biog J Ilm Biol. 2016;4(1):122-130.

5. Xie Y, Yang W, Tang F, Chen X, Ren L.

Antibacterial Activities of Flavonoids:

Structure-Activity Relationship and Mechanism. Curr Med Chem.

2014;22(1):132-149.

6. Majumder R, Jami SI, Alam EK, Alam B.

Antidiarrheal activity of Lannea coromandelica Linn. Bark extract. Am J Sci Res. 2013;8(3):128-134.

7. Astuty E, Banna MZ Al, Sumah ASW. Uji Antibakteri Isolat Endofit Asal Tanaman Kayu Jawa Lannea coromandelica Terhadap MRSA Methicilin- Resistant Staphylococcus aureus. J Ilmu Alam dan Lingkung. 2020;11(2):34-39.

8. Sudha V, Govindaraj R, Baskar K, Al- dhabi NA, Duraipandiyan V. Biological properties of endophytic fungi. Brazilian Arch Biol Technol. 2013;59(December):1- 7.

9. Kusari S, Hertweck C, Spiteller M.

Chemical ecology of endophytic fungi:

Origins of secondary metabolites. Chem Biol. 2012;19(7):792-798.

10. Astuty E, Syam F, Sari SR. Isolasi Bakteri Endofit dari Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica(Houtt .) Merr) dan Potensinya sebagai Antimikroba terhadap Beberapa Bakteri Patogen. Pharm J Indones. 2019;16(2):199-208.

11. Kandasamy P, Manogaran S, Dhakshinamoorthy M, Kannan KP.

Evaluation of antioxidant and antibacterial activities of endophytic fungi isolated from Bauhinia racemosa Lam and Phyllanthus amarus Schum and Thonn. J Chem Pharm Res. 2015;7(9):366-379.

12. Calsum U, Khumaidi A, Khaerati K.

Aktivitas Ekstrak Etanol Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.). J Farm Galen (Galenika J Pharmacy). 2018;4(2):113- 118.

13. Premjanu N, Jayanthy C. Biodiversity of Endophytic Mycoflora from Lannea coromandelica. J Pure Appl Microbiol.

2014;8(2):733-737.

14. Premjanu N, Jaynthy C. Antioxidant Activity of Endophytic Fungi isolated from Lannea coromendalica. Int J Res Pharm Sci. 2014;5(4):304-308.

15. Premjanu N, Jaynthy C, Diviya S.

Antifungal activity of endophytic fungi isolated from Lannea coromandelica – an insilico approach. Int J Pharm Pharm Sci.

2016;8(5):207-210.

16. Nurlaela, Karim A, Dalming T. Uji daya hambat ekstrak daun tammate (Lannea coromandelica) terhadap bakteri Propionilbacterium acnes dan Escherichia coli. Media Farm. 2018;14(2):59.

17. Zheng YK, Qiao XG, Miao CP, Liu K, Chen YW, Xu LH, Zhao LX. Diversity, distribution and biotechnological potential of endophytic fungi. Ann Microbiol.

Published online 2015.

18. Rukachaisirikul V, Sommart U, Phongpaichit S, Sakayaroj J, Kirtikara K.

Metabolites from the endophytic fungus Phomopsis sp. PSU-D15. Phytochemistry.

2008;69(3):783-787.

19. Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA.

Mikrobiologi Kedokteran. 20th ed. EGC, Penerbit Buku Kedokteran.; 1996.

20. Jia M, Chen L, Xin HL, et al. A friendly relationship between endophytic fungi and medicinal plants: A systematic review.

Front Microbiol. 2016;7:1-14.

21. Cruz JS, da Silva CA, Hamerski L. Natural products from endophytic fungi associated with rubiaceae species. J Fungi.

2020;6(3):1-26.

22. Noverita, Fitria D, Sinaga E. Isolasi Dan

(8)

48 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 10 No 1 2021; Hal 41 - 48 Uji Aktifitas Antibakteri Jamur Endovit

Dari Daun Dan Rimpang Zingiber Ottensii Vall. J Farm Indones. 2009;4(4):171-176.

23. Sun X, Ding Q, Hyde KD, Guo LD.

Community structure and preference of endophytic fungi of three woody plants in a mixed forest. Fungal Ecol. 2012;5:624-632.

24. Pratiwi ST. Mikrobiologi Farmasi.

Erlangga: Jakarta; 2008.

25. Wassenaar TM. Bacteria: The Benign, the Bad, and the Beautiful. Wiley-Blackwell;

2012.

26. Suryanto E. Fitokimia Antioksidan. CV.

Putra Media Nusantara; 2012.

27. Nurjanah, Nurilmala M, Anwar E, Luthfiyana N, Hidayat T. Identification of bioactive compounds of seaweed sargassum sp. and eucheuma cottonii doty as a raw sunscreen cream. Proc Pakistan Acad Sci Part B. 2017;54(4):311-318.

28. Dhawan D, Gupta J. Comparison of Different Solvents for Phytochemical Extraction Potential from Datura metel Plant Leaves. Int J Biol Chem.

2016;11(1):17-22.

29. Fadliah S, Mu’nisa A, Rachawaty. Analisa Fitokimia Air Rebusan Daun Kayu Jawa

(Lannea coromandelica). J Bionature.

2018;19(1):73-77.

30. Utomo SB, Fujiyanti M, Lestari WP, Mulyani S. Uji aktivitas antibakteri

senyawa C-4-

Metoksifenilkaliks[4]Resorsinarena termodifikasi

Hexadecyltrimethylammonium-bromide terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. JKPK (Jurnal Kim dan Pendidik Kim. 2018;3(3):201.

31. Dinos GP, Athanassopoulos CM, Missiri DA, et al. Chloramphenicol derivatives as antibacterial and anticancer agents: Historic problems and current solutions. Antibiotics.

2016;5(20).

32. Alghazia A. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kapang Endofit Daun Kayu Jawa (Lannea coromandelica (Houtt.) Merr.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Helicobacter pylori dan Pseudomonas aeroginosa. Published online 2016.

33. Zulfa I. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit Akar Tanaman Kayu Jawa (Lannea Coromandelica).

Published online 2016.

Gambar

Gambar 2. Hasil uji seleksi zona hambat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa E
Tabel 2. Uji seleksi zona hambat kapang endofit kulit batang tanaman Kayu Jawa

Referensi

Dokumen terkait