• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan [Etika Islam dan Problematika Sosial di Indonesia]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pendahuluan [Etika Islam dan Problematika Sosial di Indonesia]"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan [Etika Islam dan Problematika Sosial di Indonesia]

This page was generated automatically upon download from the Globethics.net Library. More information on Globethics.net see https://www.globethics.net.

Data and content policy of Globethics.net Library repository see https://

repository.globethics.net/pages/policy

Item Type Book chapter

Authors Machasin, M.

Publisher Globethics.net

Rights Creative Commons Copyright (CC 2.5) Download date 27/06/2022 22:38:03

Link to Item http://hdl.handle.net/20.500.12424/207599

(2)

PENDAHULUAN

M. Machasin

Tidak mudah berpikir tentang etik dalam Islam. Selain ada perdebatan di masa lampau tentang hakekat baik dan buruk, nalar Islam sulit sekali membebaskan diri dari kungkungan metode berpikir yang berangkat dari firman yang terbentuk dalam lafaz dan contoh-contoh penyelesaian masalah individual. Kaum Sunni berpendapat bahwa baik dan buruk suatu perbuatan mesti didasarkan pada komunike Allah, sementara bagi kaum Mu’tazilah manusia dapat menangkap sendiri hal- hal yang baik dan yang buruk berdasarkan penalarannya.

Memang ada baik dan buruk yang hanya diketahui dengan petunjuk Allah yang oleh al-Qādhī ‘Abd al-Jabbār (w. 1045 M) dicontohkan dengan masalah halal dan haram serta tata cara beribadah, akan tetapi dalam banyak hal yang lain, manusia mesti menggunakan nalar untuk menentukan kebaikan atau keburukan sesuatu perbuatan. Misalnya, dengan menggunakan prinsip “celaan” sebagai penentu. Artinya, segala perbuatan yang tidak membuat pelakunya berhak atas celaan adalah baik. Yang buruk hanyalah perbuatan yang meniscayakan celaan atas pelakunya. Ada yang menambah prinsip ini dengan “pujian” dimana suatu perbuatan disebut baik manakala pelakunya niscaya mendapat pujian. Sementara yang lain yang buruk jika meniscayakan celaan atas pelakunya dan yang tidak meniscayakan pujian maupun celaan dianggap tidak baik dan tidak buruk.

Rupanya cara berpikir “lepas” ini membuat gerah mereka yang mengikatkan diri pada teks dan turunannya. Mereka tidak mau manusia- beriman bebas dalam menentukan baik dan buruk, maka

(3)

10 Etika Islam

dikembangkanlah sebuah penalaran yang lebih memegangi perilaku kaum terdahulu sebagai model yang harus diikuti, bukan sebagai contoh penerapan prinsip-prinsip pada kasus-kasus dan persoalan-persoalan yang dihadapi. Prinsip-prinsip umum lalu terpinggirkan oleh pernyataan yang ada dalam al-Qur’an atau hadis yang bersangkutan dengan penyelesaian masalah-masalah historis dalam ruang dan waktu tertentu.

Dengan demikian, damai dan memaafkan kalah oleh jihad dan pemberian kebebasan memilih dikalahkan pemaksaan. Keadilan dan apresiasi kepada hak-hak perempuan terkalahkan oleh kebolehan menikah lebih dari satu bagi laki-laki. Mengapa demikian? Karena

“kebaikan” kasus-kasus seperti ini ternyatakan dengan lebih jelas dalam teks al-Qur’an dan hadis atau dalam praktek kehidupan kaum beriman pada generasi awal Islam, sementara untuk menangkap konsep dasar diperlukan usaha yang lebih tajam dan keberanian untuk menembus bentuk-bentuk lahiriah.

Bagaimana membalik perjalanan pemikiran: dari prinsip ke kasus- kasus? Diperlukan beberapa persyaratan yang dimulai dari kemampuan teknis menangkap ruh dari pesan verbal al-Qur’an dan hadis Nabi dan filosofi yang mendasari keputusan-keputusan para pendahulu yang dijadikan teladan sampai keberanian untuk memilih dan karenanya mempertanggungjawabkan perbuatan.

Memang ada beberapa kesulitan besar dalam melakukan hal ini. Di antaranya adalah ketakutan akan kehilangan tautan dengan dan sandaran pada generasi masa lampau. Mempertahankan tradisi atau jatidiri berfungsi menyandarkan diri pada sandaran yang dirasakan lebih kuat daripada membuat keputusan sendiri dengan hasil yang belum tentu lebih baik. Jadi, kunci jawaban yang pertama adalah memperkuat keberanian untuk keluar dari kungkungan masa lampau dan menjadi diri sendiri yang bertanggungjawab atas pilihan yang diambil. Memang harus dijaga agar jangan sampai terjadi tindakan asal berani dan asal melepaskan diri. Kemampuan teknis dalam penalaran dan pemahaman

(4)

terhadap sumber ajaran merupakan keniscayaan untuk hal ini, di samping kesadaran akan kesungguhan masalah yang ditangani.

Keaslian yang sampai saat ini menjadi ukuran penting bagi setiap pemikiran dan praktik keagamaan dalam Islam tidak harus dibuang, melainkan diberi pengertian baru. Bukanlah kedekatan dengan teks dan praktik generasi terdahulu yang menjadi ukuran, melainkan kesesuaian dengan substansi pesan ajaran Islam dan kesungguhan hati pelaku.

Makalah-makalah yang terkumpul dalam buku ini menunjukkan adanya pergulatan seperti itu. Walaupun buku ini diberi judul “Etika Islam dan problematika sosial di Indonesia”, tetapi sebenarnya hanya enam dari sepuluh tulisan benar-benar berbicara tentang Problem etika di Indonesia. Empat tulisan berbicara tentang problem etika Islam dalam ruang yang lebih luas dari Indonesia. Dengan istilah lain, semua tulisan dalam buku ini berbicara tentang problem etika keislaman dalam masa modern dengan enam di antaranya mengambil fakta Indonesia sebagai fokus kajian, sementara empat yang lain berbicara dalam ranah konseptual yang tidak terikat ruang.

Demikianlah, M. Syifa Amin dalam tulisan yang berjudul “Islamic Bioethics: Sharia Ethics or Virtue Ethics?” mempertanyakan mengapa etika Islam modern yang berkaitan dengan ilmu kedokteran didasarkan pada rumusan-rumusan fiqih. Mengapa konsep-konsep etik yang dikembangkan para filsuf dan dokter-dokter Muslim di dunia Islam tidak dimasukkan dalam pertimbangan, apalagi dijadikan pegangan utama?

Indriyani Ma’rifah dalam tulisan yang diberi kepala “Islam dan Sains Modern: Meneropong Signifikansi Agama dan Etika bagi Sains”

membicarakan hal yang lebih awal, yakni perlunya etik bagi kerja sains sebagaimana diserukan oleh banyak ilmuwan-saintis. Berangkat dari konsep Islam tentang sains, ia mencoba menjelaskan integrasi agama (Islam) dan sains, keduanya tidak perlu berbenturan.

Tema yang sama dikupas oleh Baidhawi Harun dalam tulisannya

“Mencari Format Ideal Teo-Ekologi dari Hubungan Antar Agama dan

(5)

12 Etika Islam

Sains”. Di sini ditunjukkan konsep dialog dan integrasi antara agama dan sains dan dikembangkan sebuah teori yang disebut teo-ekologi dengan dalam perspektif pemikiran Islam.

“Santri Tanggap Bencana (Santana): Respons Kelompok Islam terhadap Bencana Alam di Jawa Timur” yang ditulis Mohammad Rokib menelusuri kaitan antara kesalehan santri yang sehari-hari berinteraksi dengan al-Qur’an -yang disebut kesalehan Qur’an, meminjam istilah Bryan S. Turner,- dan aktivisme sosial. Menarik bahwa aktivisme ini muncul di kalangan santri Qur’an ini sebagai respon mereka terhadap penderitaan sesama yang lemah atau terlemahkan, korban bencana alam.

“Upaya Preventif dan Etika Interaksi Lawan Jenis Dalam Al-Quran dan Hadits” yang dipersiapkan M. Nashrul Haqqi mencoba bertanya kepada Islam tentang kedudukan “pacaran” dari sudut pandang etika.

Penulis makalah ini berangkat dari kenyataan bahwa walaupun berasal dari budaya Arab dan muncul dalam konteks problem bangsa Arab masa lampau, namun al-Qur’an dan hadis dituntut untuk memberikan arahan bagi persoalan-persoalan yang dihadapi kaum beriman di mana pun dan kapan pun. Problem hermeneutik ini dicoba untuk ditampilkan untuk menjaga tindakan kebablasan dalam berpacaran.

Ibnu Mujib membahas kenyataan bahwa karakter dan bentuk Islam di tingkat lokal dikembangkan secara lebih efektif oleh penguasa politik.

Dalam tulisan yang berjudul “Islam Lokal: Memetakan Narasi Islam Aceh dalam Kontruksi Kebudayaaan Global” ia membuktikan bahwa kemunculan syari’ah Islam di Aceh merupakan contoh pembenaran peran penguasa itu. Sikap elit moderen itu bertentangan dengan Islam yang ada pada masa awal sejarah kehadirannya di tanah rencong ini.

Suhadi Cholil membicarakan perkembangan kebijakan kebebasan beragama atau berkepercayaan pada masa setelah Orde Baru Jatuh.

Dengan meneliti Konfusianisme dan agama-agama asli, ia menengarai adanya Eksepsionalisme yang dianut oleh sebagian umat Islam.

Tulisannya yang berjudul “Freedom of Religion or Belief in Indonesia:

(6)

The Challenges of Muslim Exceptionalism” membuktikan bahwa sebahagian dari kaum Muslim belum dapat melihat kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai sebuah prinsip yang diterapkan untuk semua warga negara, tanpa pengecualian kaum Muslim.

Dalam negara yang bersifat majemuk dalam hal agama dan kebudayaan seperti Indonesia, multikulturalisme merupakan sebuah keharusan untuk dipegangi. Pendidikan agama sebagai peletak dasar etika bermasyarakat semestinya mendukung kerja pemerkuatan prinsip ini. Zakiyuddin Baidhawi membicarakannya dalam tulisan yang berjudul “Building Harmony and Peace Through Multicultural Theology-Based Religious Education”. Di sini ditambahkan satu pilar atas tiga pilar pendidikan yang ditetapkan PBB (belajar untuk tahu, berbuat dan menjadi), yakni untuk hidup bersama dengan orang lain dalam kesadaran bersama mengenai kemajemukan agama.

Tulisan berjudul “Reinkarnasi”: Interpretasi Islam dalam Bingkai Tradisi Lokal Pada Masyarakat Buton” yang ditulis Muhammad Alifuddin menangani persoalan reinkarnasi dalam kepercayaan terhadap rohipolimba yang dianut masyarakat Muslim Buton. Menarik untuk dicermati bahwa di sini kaum Muslim mempertahankan keyakinan pra Islam dan mengembangkannya dalam sistem keyakinan Islam.

Tulisan Muhammad Julijanto “Islam, Demokrasi, dan “Good Governance”: Sebuah Pengalaman di Indonesia” meneguhkan tidak hanya kesesuaian Islam dengan demokrasi, melainkan juga bahwa demokrasi dapat merupakan alat pengucapan keimanan yang baik dalam dunia modern.

Walaupun tulisan-tulisan ini tidak dihasilkan oleh mereka yang dilatih dan diproyeksikan untuk menjadi perumus ajaran Islam, namun pikiran-pikiran dalam buku ini yang tercetus dari orang-orang muda yang bersemangat bukan tidak mungkin akan mengambil bagian dalam perubahan cara umat Islam dan para elitnya yang merumuskan ajaran.

Bidang etika yang dipilih tidak termasuk dalam bidang-bidang pokok

(7)

14 Etika Islam

yang akan menimbulkan reaksi keras manakala diganggu gugat: akidah dan fiqih. Seperti makan bubur panas, perubahan kadang-kadang harus dimulai dari pinggir yang kurang panas dan lebih cepat menjadi dingin.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa terjadi pergeseran etika pembelajaran dalam periode pendidikan islam klasik dan modern pada

Penerapan Nilai-nilai Akhlaq dan Etika dalam Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Ta ’ mirul Islam Tahun Pelajaran 2014/2015 ”.

Jika dalam pandangan etika Islam – bagi manusia— tolakan sikap moral atau akhlak dibangun dari kondisi jiwa (khuluq), maka jiwa bagi media adalah para pelaku pemberitaan media

Variabel dalam penelitian ini adalah accrual earning management yang diproksikan dengan discretionary accrual sebagai variabel dependen dan etika Islam yang diproksikan

Untuk dapat menjalankan fungsinya secara maksimal, maka media perlu memperhatikan etika dan profesionalismenya.Dua hal ini sangat dibutuhkan oleh media agar informasi yang

“Telah nyatalah kerusakan yang terjadi di muka bumi dan di lautan akibat ulah perbuatan manusia.” Dari gambaran itu, kita juga bisa memahami bahwa teologi proses memang

Pada penelitian Hannifa dan Hudaib (2007) dirumuskan delapan dimensi identitas etika ideal yang seharusnya diungkapkan dalam laporan tahunan perbankan syariah, yaitu

Dengan mengikuti aturan berpakaian yang sesuai dengan syariat Islam dan memperhatikan etika di media sosial, kita dapat menjaga martabat diri sendiri, menciptakan lingkungan yang lebih