• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Interior Cinema 21 Dengan Suasana Gothic

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Desain Interior Cinema 21 Dengan Suasana Gothic"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Desain Interior Cinema 21 Dengan Suasana Gothic

Briantito Adiwena 3406100057

Dosen Pembimbing

Thomas Ari K, MT

(2)

Latar Belakang

Surabaya

Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surabaya)

Fenomena Masyarakat Surabaya

- Mobilitas masyarakat Surabaya sangat tinggi sehingga masyarakat mudah jenuh.

- Salah satu cara masyarakat Surabaya melepas penat adalah dengan menonton bioskop.

- Menonton film di bioskop secara tidak langsung sudah menjadi gaya hidup tersendiri masyarakat Surabaya terutama dikalangan anak muda Surabaya.

(3)

Latar Belakang

Kata Gothic sebenarnya berasal dari Visigoth, yaitu nama sebuah suku Barbar dari daratan Jerman.

Jika pada arsitektural biasanya identik dengan nuansa abad petengahan dan kemegahan, namun terlihat suram.

Dalam arsitektur, gaya gothic terinspirasi oleh bangunan-bangunan gereja (ecclesiastical). Bangunan- bangunan bergaya gothic klasik bisa dilihat pada bangunan gereja, kastil, atau istana pada masa abad pertengahan (middle ages).

Tentang Gothic

(4)

Latar Belakang

Mengapa Gothic ?

- Gothic dan Bioskop mempunyai image yang hampir sama.

Gothic Bioskop

- Elegan, mewah

(fasade arsitektur gothic) - Suram, misterius

(lorong-lorong dan ruang-ruang)

- Elegan, modern

(loby, lounge, cafe,dll) - Suram, gelap, dingin (auditorium bioskop)

- Film – film yang diputar di bioskop akhir – akhir ini banyak mengandung tema / suasana gothic.

(5)

Latar Belakang

Cinema 21

Cinema XXI

Cinema 21 memiliki jaringan bioskop terbanyak yang tersebar di seluruh Nusantara. Sebelum Cinema XXI berdiri, Cinema 21 menguasai keseluruhan pangsa pasar penonton bioskop Indonesia dengan memberlakukan harga tiket bervariasi dan jenis film yang diputar, sesuai dengan lokasi dan target yang dituju.

Cinema XXI pertama kali didirikan di Plaza Indonesia Entertainment X'nter, dengan 4 buah teater reguler dan 2 buah teater Premiere. Cinema XXI yang diberi nama Studio XXI ini merupakan satu-satunya Cinema XXI yang menggunakan sofa empuk di keseluruhan studionya, dan memiliki sertifikat THX untuk semua studionya.

(6)

Permasalahan

Latar Belakang Masalah Cinema 21

Setelah Cinema XXI berdiri, perlahan Cinema 21 berubah menjadi jaringan bioskop kelas dua, ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain :

- Exsisting Cinema XXI lebih menarik.

- Akustik tata suara pada teater Cinema XXI lebih baik daripada Cinema 21.

- Material Cinema XXI jauh lebih baik daripada Cinema 21, perbedaan dapat ditemukan pada dinding, karpet dan lighting.

- Cara pemesanan tiket yang lebih praktis serta pemasangan layar LCD yang memutar trailer film – film yang akan datang pada Cinema XXI membuat fasilitas Cinema 21 terlihat sangat kurang.

(7)

Permasalahan

Tujuan Desain

Identifikasi Masalah

- Kurang adanya daya tarik pada Cinema 21

- Perbedaan image yang terlalu jauh antara Cinema 21 dengan Cinema XXI - Teknologi Cinema XXI lebih baik daripada Cinema 21

- Tata suara Cinema XXI lebih baik

Menciptakan image baru Cinema 21 yang dapat memberikan suasana baru sebagai fenomena gaya hidup masyarakat, sesuai segmentasi dan golongan konsumen yang dituju.

(8)

Eksisting

LOKASI SITE

Site yang dipakai dalam tugas akhir ini yaitu berada pada Jl. Dharma Husada Indah Timur. Dengan batas batasnya sebagai berikut :

Batas Utara : Lahan kosong

Batas timur : Jl. Dharma Husada Indah Timur, pemukiman penduduk Batas Selatan : Sungai Sutorejo

Batas barat : Komplek Pangdam V Brawijaya

Pemukiman penduduk

Lahan kosong

Gedung serbaguna UNAIR kampus C Pemukiman penduduk

Jl. Dharma Husada Indah Timur

Bioskop tanpa batas adalah sebuah perancangan tugas akhir arsitrektur ITS oleh Arief Sumantri Gobel - 3204 100 068 yang dirancang seiring dengan perkembangan zaman dunia perfilman dan antusias masarakat akan film yang juga meningkat, namun di Surabaya untuk saat ini bioskop sebagai single building sangat jarang.

(9)

Eksisting

tampak depan tampak belakang

tampak samping

(10)

Eksisting

Lantai 1

(11)

Eksisting

Lantai 2

(12)

Eksisting

Lantai 3

(13)

Eksisting

parkir

Main entrance

Lobby / hall

servis Tiket box

R. Pemutaran film

penunjang pengelola

operator

ORGANISASI RUANG

(14)

Eksisting

KEBUTUHAN RUANG

no nama ruang kapasitas jumlah luasan total

1 auditorium 350 7 350 m² 2450 m²

2 café 10 2 41.25 m² 82.5 m²

3 candy store 10 1 41.25 m²

4 marchindise store 20 1 250 m²

5 game center 20 1 350 m²

6 biliard zone 45 1 350 m²

7 warnet 15 1 200 m²

8 kantor pengelola 1 250 m²

9 service 1000 m²

(15)

Analisa Konsep

(16)

Analisa Warna

Warna Gothic

Gothic identik dengan warna-warna pekat berkarakter kuat, merah, hitam, ungu tua, emas, hijau gelap, dan kuning tua (ochre). Pengaplikasiannya bisa dengan satu dari warna-warna ini, atau bisa juga memadukan beberapa di antaranya. Paduan merah dan hitam misalnya. Kedua warna ini sama-sama berkarakter kuat dan berpotensi menarik perhatian.

(majalah iDEA, Rabu, 29 Juli 2009)

(17)

Analisa Furniture

Furniture gothic memiliki ciri-ciri bentuk runcing, bentukan berskala besar, gabungan material industri dan logam.

Penyusunan furniture harus sesuai dengan kebutuhan guna kenyamanan si pemakai. Untuk area Cafe &

Lounge disediakan satu set sofa dengan sentuhan ornamen gothic pada mejanya.

Sedangkan pada auditorium, sofa yang digunakan adalah sofa modern dengan sandaran tangan yang dapat diangkat.

(18)

Ergonomi

Kursi Auditorium

(19)

Ergonomi

Sofa Lounge

(20)

Ergonomi

Sofa Lounge

(21)

Ergonomi

Sofa Lounge

(22)

Ergonomi

Bar

(23)

Ergonomi

Lobby

Area Membeli Tiket

(24)

Akustik

Kajian Audio

Dolby Digital pertama kali memasuki pasar dengan di rilisnya film Batman Return tahun 1992. Sampai akhirnya pada tahun 1993, DTS (Digital Theater System) dan SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) diperkenalkan. Ada beberapa logo yang kerap tertera pada cover Radio Tape, VCR, DVD, DVD player, video game dan beberapa sistem audio video yang terintegrasi dalam home theater. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari logo-logo tersebut.

Dolby Pro Logic

Dolby Pro Logic adalah decoder yang di adopsi oleh banyak perangkat pemutar untuk men-decode 2 trek stereo menjadi empat kanal suara left, right, center dan surround. Tanpa decoder, format Dolby Surround yang terdengar adalah seperti kualitas stereo biasa.

Dolby Pro Logic II

Sistem ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Dolby Pro Logic (yang dikenal juga dengan Dolby Pro Logic I).

Bedanya, sistem Dolby Pro Logic II dapat men-decode 5 kanal surround (left, right, center, left surround dan right surround) dari rekaman stereo.

THX

THX bukanlah suatu standard format rekaman suara, melainkan standard bagaimana sistem audio video yang baik dapat dihasilkan.

Untuk sistem audio, sertifikasi lebih ditujukan pada desain tata ruang, isolasi, desain akustik, serta pemilihan dan penempatan sistem audio. Ada dua jenis sertifikasi, yang pertama dinamakan THX Ultra untuk ruangan sekelas cinepleks atau theater dan yang kedua THX Select untuk ruangan kecil seperti home theater. Sertifikasi ini tentu akan menambah biaya produksi dari satu film atau perangkat yang mendapat sertifikat. Namun pinsipnya ada harga tentu ada kualitas.

(25)

Analisa Ruang Terpilih

Lobby

Lobby adalah wajah dari sebuah gedung bioskop karena hampir seluruh aktifitas konsumen yang datang melaui area tersebut. Pada area ini terdapat loket tiket, tempat konsumen membeli tiket film. Karena pentingnya peranan lobby dalam gedung bioskop maka suasana yang ditampilkan adalah gothic yang tampak megah dengan elemen estetik dan furniture yang berukuran besar.

(26)

Analisa Ruang Terpilih

Lounge

Lounge adalah ruang tunggu bagi pengujung yang menginginkan kenyamanan yang lebih yang ditujukan untuk konsumen golongan menengah atas. Dalam lounge tersedia sofa yang nyaman dan besar dengan cafe yang menyediakan hidangan makanan ringan dan aneka minuman. Elemen estetika diperlukan untuk memberikan kesan nyaman pada pengunjung yang menunuggu dengan suasana gothic.

(27)

Analisa Ruang Terpilih

Auditorium

Auditorium adalah ruangan utama dalam bioskop yang menampilkan pertunjukan film.

Ruangan auditorium dirancang dengan kapasitas sedang untuk memberikan kenyamanan lebih kepada pengunjung. Elemen estetika pada ruangan ini berupa panel dinding dan lighting karena untuk kenyamanan menyaksikan film ruangan dibuat gelap dan hanya dinyalakan pada saat sebelum dan sesudah film diputar.

(28)

Final Design

Ruang Lobby

(29)

Final Design

Ruang Cafe & Lounge

(30)

Final Design

Ruang Auditorium

(31)

Sekian dan

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait