(Dalam Ribuan Rupiah) 31 Maret 2011 31 Maret 2010 Catatan (Unaudited) (Unudited) KEWAJIBAN DAN EKUITAS
KEWAJIBAN
Kewajiban segera lainnya 2.o,14 15,257,495 28,439,142
Giro
Pihak berelasi 2.p,15,35 7,665,771 9,102,440
Pihak ketiga 2.p,15 457,172,208 252,330,232
Tabungan
Pihak berelasi 2.p,16,35 1,079,906 1,051,207
Pihak ketiga 2.p,16 151,698,826 161,516,926
Deposito berjangka
Pihak berelasi 2.p,17,35 248,740,207 336,747,823
Pihak ketiga 2.p,17 1,883,074,148 1,506,385,875
Simpanan dari bank lain 2.q,18,19 44,965,847 16,965,035
Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali - 4,992,958
Kewajiban Akseptasi 2.h,10 64,198,418 39,104,694
Pinjaman yang diterima 2.r,20 231,829,130 215,630,173
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi 21 404,866 270,902
Hutang pajak 2.x,22 2,138,379 687,800
BungaYang Masih Harus Dibayar 10,363,247 8,026,376
Kewajiban lain-lain 23 13,135,885 23,094,876
JUMLAH KEWAJIBAN 3,131,724,333 2,604,346,459
- EKUITAS
Modal saham
Modal dasar 10.000.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham.
Modal ditempatkan dan disetor
(31 Maret 2011: 3.438.730.113 saham, 31 Maret
2010: 341.820.533) 24 343,873,011 341,820,533
Tambahan Modal Disetor ‐ bersih 25 8,189,627 12,388,449 5,083,439
-
Cadangan tujuan 116,559 116,559
Cadangan umum 1,049,074 1,049,074
Saldo laba/(rugi) (76,766,296) (1,324,895)
JUMLAH EKUITAS 281,545,414 354,049,720
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3,413,269,747 2,958,396,179 PT BANK AGRONIAGA Tbk
NERACA
Per 31 Maret 2011 dan 2010
Keuntungan (Kerugian) belum direalisasi atas Surat
(Dalam Ribuan Rupiah) 31 Maret 2011 31 Desember 2010 31 Maret 2010
Catatan (Unaudited) (Audited) (Unaudited)
AKTIVA
Kas 2.c,4 25,316,761 22,379,090 26,842,408
Giro pada Bank Indonesia 2.d,5 271,021,979 211,138,077 113,836,826 Giro pada bank lain
(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 432.128 pada 31 Maret 2011 dan Rp 265.621
pada 31 Maret 2010) 2.e,6 42,780,686 11,446,807 26,296,399 Penempatan pada Bank Indonesia 2.e,7 810,586,438 597,817,361 - Surat-surat berharga
(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 25.250 pada 31 Maret 2011 dan Rp 23.375
pada 31 Maret 2010) 2.f,8 218,054,137 208,347,258 745,388,439 Kredit yang diberikan
Pihak berelasi 2.g,9,35 602,434 1,528,970 286,100 Pihak ketiga
(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 217.001.178 pada 31 Maret 2011 dan Rp 101.252.477 pada 31 Maret
2010) 2.g,9 1,887,056,127 1,857,852,761 1,896,491,376
Tagihan Akseptasi
(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 668.269 pada 31 Maret 2011 dan Rp 518.831
pada 31 Maret 2010) 2.h,10 63,530,150 66,047,086 38,585,863 Penyertaan
(Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 2.977 pada 31 Maret 2011 dan pada 31 Maret
2010) 2.i,11 294,682 294,681 294,682 Uang muka pajak 2.x, 805,508 - 4,186,056 Aktiva tetap
(Setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 37.680.215 pada 31 Maret 2011 dan Rp 32.876.930 pada
31 Maret 2010) 2.j,12 11,552,851 12,016,738 9,550,660 Aktiva Pajak Tangguhan 6,503,372 6,503,372 5,805,131 Aktiva lain-lain 2.k,l,m,n,13 75,164,622 58,720,526 90,832,239
JUMLAH AKTIVA 3,413,269,747 3,054,092,727 2,958,396,179 PT BANK AGRONIAGA Tbk
NERACA
Per 31 Maret 2011 dan 2010
(Dalam Ribuan Rupiah)
31 Maret 2011 31 Desember 2010 31 Maret 2010
Catatan (Unaudited) (Audited) (Unudited)
KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN
Kewajiban segera lainnya 2.o,14 15,257,495 13,368,138 28,439,142 Giro
Pihak berelasi 2.p,15,35 7,665,771 3,928,022 9,102,440
Pihak ketiga 2.p,15 457,172,208 468,242,732 252,330,232
Tabungan
Pihak berelasi 2.p,16,35 1,079,906 1,272,509 1,051,207
Pihak ketiga 2.p,16 151,698,826 143,213,120 161,516,926
Deposito berjangka
Pihak berelasi 2.p,17,35 248,740,207 189,281,513 336,747,823
Pihak ketiga 2.p,17 1,883,074,148 1,580,930,577 1,506,385,875
Simpanan dari bank lain 2.q,18,19 44,965,847 35,940,356 16,965,035 Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kemba - - 4,992,958 Kewajiban Akseptasi 2.h,10 64,198,418 66,618,095 39,104,694 Pinjaman yang diterima 2.r,20 231,829,130 243,012,454 215,630,173 Estimasi kerugian komitmen dan kontinje 21 404,866 352,327 270,902
Hutang pajak 2.x,22 2,138,379 8,876,141 687,800
BungaYang Masih Harus Dibayar 10,363,247 8,792,232 8,026,376
Kewajiban lain-lain 23 13,135,885 11,978,454 23,094,876
JUMLAH KEWAJIBAN 3,131,724,333 2,775,806,670 2,604,346,459 - EKUITAS
Modal saham
Modal dasar 10.000.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham.
Modal ditempatkan dan disetor (31 Maret 2011: 3.438.730.113 saham, 31 Maret 2010:
341.820.533) 24 343,873,011 343,063,401 341,820,533
Tambahan Modal Disetor ‐ bersih 25 8,189,627 7,946,744 12,388,449 5,083,439
8,373,439 -
Cadangan tujuan 116,559 116,559 116,559
Cadangan umum 1,049,074 1,049,074 1,049,074
Saldo laba/(rugi) (76,766,296) (82,263,160) (1,324,895)
JUMLAH EKUITAS 281,545,414 278,286,057 354,049,720 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3,413,269,747 3,054,092,727 2,958,396,179
PT BANK AGRONIAGA Tbk NERACA
Per 31 Maret 2011 dan 2010
Keuntungan (Kerugian) belum
(Dalam Ribuan Rupiah) 31 Maret 2011 31 Maret 2010
Catatan (Unaudited) (Unaudited)
Pendapatan dan beban operasional Pendapatan bunga
Bunga 2.s,26 112,017,702 85,734,152
Provisi dan komisi 2.t,27 1,756,829 1,448,280
Jumlah pendapatan bunga 113,774,531 87,182,432
Beban bunga
Bunga 2.s,28 70,321,658 50,112,373
Provisi dan komisi 1,373,163 1,279,730
Jumlah Beban bunga 71,694,821 51,392,103
Pendapatan bunga - bersih 42,079,710 35,790,329
Pendapatan operasional lainnya
Keuntungan transaksi mata uang asing 2.u,29 176 14,136 Pendapatan provisi dan komisi lainnya 2.u,29 1,455,760 1,440,463
Pendapatan lainnya 2.u,29 61,890 78,621
Jumlah Pendapatan Operasi lainnya 1,517,826 1,533,220
Jumlah Pendapatan Operasi 43,597,536 37,323,549
Beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai 30 12,413,260 12,236,301 Keuntungan (kerugian) penjualan surat berharga 2,405,500 2,920,200 Beban operasional lainnya
Umum dan administrasi 2.w,31 14,333,743 13,245,401
Tenaga kerja 2.v,32 12,341,790 12,345,991
Kerugian transaksi mata uang asing - -
Jumlah beban operasional lainnya 26,675,533 25,591,392
Jumlah Beban operasional (36,683,293) (34,907,493)
Laba (Rugi) Operasi 6,914,243 2,416,056
Pendapatan (beban) non-operasional
Laba (rugi) penjualan aktiva tetap 9,852 -
Lain-lain - bersih 711,153 (123,873)
Pendapatan (beban) bukan operasional - bersih 721,005 (123,873) Laba sebelum pajak penghasilan 7,635,248 2,292,183
Taksiran pajak penghasilan
Pajak kini 2.x,33 (2,138,379) -
Pajak tangguhan - (687,800)
(2,138,379)
(687,800) 5,496,869
1,604,383 2.z,34 1.60 4.69 PT BANK AGRONIAGA Tbk
LAPORAN LABA/(RUGI) Per 31 Maret 2011 dan 2010
Laba (Rugi) bersih
Laba bersih per saham dasar (satuan rupiah)
(Dalam Ribuan Rupiah)
Modal Disetor
Tambahan Modal Disetor
Saldo Laba/(Rugi)
Cadanga n Tujuan
Cadangan Umum
Laba yang belum
direalisasi Jumlah Ekuitas Saldo per 31 Desember 2009 341,820,533 8,000,110 (2,929,275) 116,559 1,049,074 (162,500) 347,894,501
Waran ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ Selisih penilaian efek ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ Laba/(Rugi) bersih ‐ ‐ 1,604,381 ‐ ‐ ‐ 1,604,381 Saldo per 31 Maret 2010 341,820,533 8,000,110 (1,324,894) 116,559 1,049,074 (162,500) 349,498,882
Penerapan awal PSAK 55 (93,360,600) (93,360,600)
Waran 1,242,868 (53,366) 1,189,502
Selisih penilaian efek 8,535,939 8,535,939
Laba/(Rugi) bersih 12,422,334 12,422,334
Saldo per 31 Desember 2010 343,063,401 7,946,744 (82,263,160) 116,559 1,049,074 8,373,439 278,286,057
Waran 809,610 242,883 ‐ 1,052,493
Selisih penilaian efek (3,290,000) (3,290,000)
Laba/(Rugi) bersih 5,496,869 5,496,869
Saldo per 31 Maret 2011 343,873,011 8,189,627 (76,766,291) 116,559 1,049,074 5,083,439 281,545,419 PT BANK AGRONIAGA Tbk
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2011 dan 2010
(Dalam ribuan Rupiah) 31 Maret 2011 31 Maret 2010 Arus kas dari aktivitas operasi
Bunga yang diterima 112,017,702 85,734,152
Provisi dan komisi yang diterima 3,212,589 1,448,280
Pembayaran bunga (70,321,658) (51,392,104)
Pembayaran kepada karyawan (12,341,790) (12,345,991)
Pembayaran Pajak Penghasilan (1,672,535) (254,612) Pembayaran kepada Pihak ketiga (15,706,906) (10,613,709) Penerimaan dari pihak ketiga lainnya 17,467,566 19,214,447 Laba sebelum perubahan aktiva dan kewajiban operasi 32,654,968 31,790,463 Perubahan dalam aktiva dan kewajiban operasi
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain (810,586,438) -
Kredit yang diberikan (106,629,786) (70,907,686)
Tagihan Akseptasi (25,093,725) -
Aktiva lain-lain 19,969,376 11,608,235
Giro 203,405,307 46,039,688
Tabungan (9,789,401) 37,981,307
Deposito berjangka 288,680,657 149,322,446
Simpanan dari bank lain 28,000,812 10,528,293
Kewajiban segera (13,181,647) 20,439,296
Kewajiban Akseptasi 25,093,724 -
Hutang pajak 1,450,579 210,120
Kewajiban lain-lain dan dana escrow 4,540,594 13,114,007 Kas bersih yang diperoleh dari (digunakan untuk)
aktivitas operasi (361,484,980) 250,126,169
Arus kas dari aktivitas investasi
Penjualan aktiva tetap 9,852 -
Perolehan aktiva tetap (6,805,476) (1,909,110)
Surat-surat berharga tersedia untuk dijual 527,332,427 Surat Berharga diperdagangkan
Surat Berharga yang Dijual Dgn Janji Dibeli Kembali (4,992,958)
Surat Berharga yg Dibeli Dgn Janji Dijual Kembali 68,106,427 Surat Berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo - (487,645,131) Kas bersih yang diperoleh dari (digunakan untuk)
aktivitas investasi 515,543,845 (421,447,814) PT BANK AGRONIAGA Tbk
LAPORAN ARUS KAS
Untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2011 dan 2010
(Dalam ribuan Rupiah) 31 Maret 2011 31 Maret 2010
Arus kas dari aktivitas pendanaan
Penambahan (pelunasan) pinjaman 16,198,957 93,904,760 Pelunasan pinjaman subordinasi - (3,780,000)
Penambahan modal bersih 2,052,478 100,514,417
Kas bersih yang diperoleh dari (digunakan untuk)
aktivitas pendanaan 18,251,435 190,639,177
Kenaikan (penurunan) bersih kas dan setara kas 172,310,300 19,317,532 Kas dan setara kas awal tahun 167,241,254 147,923,722 Kas dan setara kas akhir tahun 339,551,554 167,241,254 Kas dan setara kas tediri dari:
Kas 25,316,761 26,842,408
Giro BI 271,021,979 113,836,826
Giro pada Bank lain 43,212,814 26,562,020
339,551,554
167,241,254 PT BANK AGRONIAGA Tbk
LAPORAN ARUS KAS
Untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2011 dan 2010
1. Umum
1.a. Pendirian Bank
PT Bank Agroniaga, Tbk ("Bank") didirikan dengan akta No. 27 dibuat oleh Raden Soekarsono, S.H, Notaris di Jakarta tanggal 27 September 1989. Anggaran dasar Bank telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C.2-10019.HT.01.01-TH.89 tanggal 28 Oktober 1989 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 96 Tambahan No. 3303 tanggal 1 Desember 1989.
Bank memperoleh izin usaha sebagai bank umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 1347/KMK.013/1989 tanggal 11 Desember 1989 dan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 22/1037/UPPS/PSbD tanggal 26 Desember 1989.
Perubahan status Bank dari perseroan tertutup menjadi perseroan terbuka berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 1 tanggal 2 Desember 2002 dibuat oleh Siti Rayhana, SH, Notaris pengganti dari B. R. Ay. Mahyastoeti, SH, Notaris di Jakarta dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia tanggal 24 Desember 2002, dengan Surat Keputusan No. C- 24779.HT.01.04.TH.2002, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 9 Tambahan No. 881 tanggal 31 Januari 2003.
Anggaran Dasar Bank telah disesuaikan dengan UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Rapat No. 41 tanggal 16 Juli 2008 yang dibuat oleh Rusnaldy, SH, Notaris di Jakarta. Perubahaan ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Nomor: AHU-46794.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 1 Agustus 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 69 Tambahan No. 15961 tanggal 26 Agustus 2008.
Anggaran Dasar Bank telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 68 tanggal 29 Desember 2009 yang dibuat oleh Rusnaldy, SH, Notaris di Jakarta, mengenai peningkatan modal dan perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Nomor: AHU-03281.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 20 Januari 2010.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar, ruang lingkup kegiatan Bank adalah menjalankan kegiatan umum di bidang perbankan.
Pada tanggal 8 Mei 2006, Bank mendapatkan izin sebagai Bank Devisa berdasarkan keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 8/41/KEP.GBI/2006.
Bank berkantor pusat di Jakarta dan mempunyai 8 (delapan) kantor cabang utama di Surabaya, Medan, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Balikpapan, Lampung dan Jambi serta 8 kantor cabang pembantu di Cik Ditiro, Manggala, Jamsostek, Departemen
Pertanian, Tangerang, Bekasi, Medan S. Parman dan Kasikan serta 3 kantor kas di Dalu-dalu, Lubuk Dalam dan PTPN IX Semarang.
1.b. Perusahaan Publik dan Pencatatan Saham Perdana
Pada tanggal 26 Juni 2003, Bank menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Perusahaan Publik kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal ("Bapepam") di Jakarta. Berdasarkan Surat Ketua Bapepam No. S-1565/PM/2003 tanggal 30 Juni 2003, Bank dinyatakan efektif menjadi Perusahaan Publik.
Selanjutnya Bank mencatatkan saham-sahamnya di Bursa Efek Surabaya pada tanggal 8 Agustus 2003, berdasarkan Surat Persetujuan Pencatatan Awal Saham PT Bank Agroniaga Tbk No. JKT-007/LIST/BES/VIII/2003 tanggal 7 Agustus 2003.
1.c. Penawaran Umum Terbatas Saham Bank
Pada tanggal 9 Oktober 2003, Bank menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Umum Terbatas I kepada Ketua Bapepam dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanyak 305.867.338 (tiga ratus lima juta delapan ratus enam puluh tujuh ribu tiga ratus tiga puluh delapan) Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp 100 (seratus Rupiah) per sahamnya. Pada tanggal 7 November 2003, Ketua Bapepam melalui suratnya No. S-2718/PM/2003 memberitahukan efektifnya Terbatas I tersebut. Dari Penawaran Umum terbatas ini, Bank telah meningkatkan jumlah sahamnya sebanyak 305.867.338 (tiga ratus lima juta delapan ratus enam puluh tujuh ribu tiga ratus tiga puluh delapan) saham.
Pada tanggal 14 Maret 2005, Bank menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Penawaran Umum Terbatas II kepada Ketua Bapepam Dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanyak 513.857.128 (lima ratus tiga belas juta delapan ratus lima puluh tujuh ribu seratus dua puluh delapan) Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp 100 (seratus rupiah) per sahamnya. Pada tanggal 12 April 2005, Ketua Bapepam melalui suratnya No. S-757/PM/2005 memberitahukan efektifnya Pernyataan Penawaran Umum Terbatas II tersebut. Dari penawaran umum terbatas ini Bank telah meningkatkan jumlah modal sahamnya sebanyak 513.857.128 (lima ratus tiga belas juta delapan ratus lima puluh tujuh ribu seratus dua puluh delapan) saham.
Pada tanggal 24 Maret 2009, Bank meningkatkan modal disetornya sebanyak 64.000.000 saham melalui penambahan modal tanpa penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Peningkatan modal tersebut dilakukan oleh Dana Pensiun Perkebunan, pemegang saham pengendali Bank.
Pada tanggal 28 September 2009, Bank menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Penawaran Umum Terbatas III kepada Ketua Bapepam dan Lembaga Keuangan ("Bapepam LK") Dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanyak 1.040.632.622 saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp100 (Seratus Rupiah) per sahamnya. Pada tanggal 9 November 2009, Ketua Bapepam LK melalui suratnya No. S-9827/BL/2009 memberitahukan efektifnya Pernyataan
Penawaran Umum Terbatas III tersebut. Dari penawaran umum terbatas ini Bank telah meningkatkan jumlah modal sahamnya sebanyak 1.005.144.170 (satu milyar lima juta seratus empat puluh empat ribu seratus tujuh puluh) saham.
Pada Penawaran Umum Terbatas III tersebut, Bank juga menerbitkan waran sejumlah 502.572.084 lembar yang dapat dikonversi menjadi saham Bank dengan nilai nominal Rp 100 per lembar. Sampai dengan tanggal 31 Maret 2011 waran yang telah dikonversi menjadi saham sejumlah 20.523.707 lembar sehingga meningkatkan modal saham Bank sebesar Rp 3.052.370.700 atau 20.523.707 lembar saham.
1.d. Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan
Berdasarkan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 24 Nopember 2010, sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat dihadapan Notaris Rusnaldy, SH, dengan akta No. 15 tanggal 6 Desember 2010, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank pada tanggal 31 Maret 2011 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama Roswita Nilakurnia Komisaris Independen Joseph Siswanto
Komisaris Irianto *)
Dewan Direksi:
Caretaker Direktur Utama Kemas M. Arief Direktur Pemasaran Kemas M. Arief Direktur Operasional Sjahfiri Gaffar
Direktur Kepatuhan Lisa Andani Wardhana
*) efektif setelah mendapatkan persetujuan Bank Indonesia.
Susunan Komite Audit Bank per 31 Maret 2011 berdasarkan Surat Keputusan Direksi No.07/Dir.01.03/VII/2010 tanggal 30 Juli 2010 adalah sebagai berikut :
Ketua *)
Anggota Vita Silvira
Anggota Setiawan Kriswanto
*) Ketua Komite Audit akan dipenuhi setelah ada pengangkatan Komisaris Independen yang rencananya akan dilaksanakan pada RUPS Tahunan, tahun buku 2010.
Pada tanggal 31 Maret 2011, Bank memiliki karyawan tetap dan karyawan lepas masing-masing sebanyak 415 dan 58 orang (2010: 417 dan 37 orang).
2. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi yang Penting 2.a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan
Laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada 31 Maret 2011 disusun sesuai dengan prinsip dan praktik akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”), termasuk Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (“PAPI”) 2008, peraturan serta pedoman Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No. VIII G.7 tentang “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 termasuk Surat Edaran No. SE-02- BL/2008 tanggal 31 Januari 2008 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan dan sesuai dengan praktik-praktik perbankan pedoman Akuntansi serta pelaporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Laporan keuangan untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Maret 2010 disusun sesuai dengan prinsip dan praktik akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu berdasarkan PSAK, khususnya PSAK No. 31 (Revisi 2000) tentang “Akuntansi Perbankan” termasuk PAPI 2008, peraturan serta pedoman BAPEPAM No. VIII G.7 tentang “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 termasuk Surat Edaran No. SE-02-BL/2008 tanggal 31 Januari 2008 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan dan sesuai dengan praktik-praktik perbankan pedoman Akuntansi serta pelaporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
Laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip berkesinambungan (going concern) serta berdasarkankonsep biaya historis (historical cost), kecuali untuk surat-surat berharga tertentu yang dinyatakan sebesar nilai wajar, aset tetap tertentu yang dinilai kembali berdasarkan Peraturan Pemerintah, dan agunan yang diambil alih yang dicatat sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi.
Laporan keuangan juga disusun berdasarkan konsep dasar akrual, kecuali untuk tagihan bunga atas aset produktif yang digolongkan sebagai “non performing” yang dicatat pada saat kas diterima (cash basis
). Kebijakan akuntansi ini telah diterapkan secara konsisten kecuali apabila dinyatakan adanya perubahan dalam kebijakan akuntansi yang dianut.
Laporan arus kas disusun dengan menggolongkan transaksi ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Laporan arus kas disusun menggunakan metode langsung yang dimodifikasi. Untuk penyajian laporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, giro pada Bank Indonesia dan giro pada bank lain dan investasi jangka pendek likuid lainnya dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal perolehan yang tidak digunakan sebagai jaminan atau tidak dibatasi penggunaannya.
Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan adalah mata uang Rupiah, kecuali dinyatakan secara khusus.
2.b. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Transaksi-transaksi dalam mata uang asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi.
Pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan mempergunakan kurs spot Reuters pada pukul 16.00 WIB.
Keuntungan atau kerugian yang timbul sebagai akibat dari penjabaran aset dan kewajiban dalam mata uang asing dicatat sebagai laba atau rugi tahun berjalan.
Kurs spot Reuters yang berlaku pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:
31 Maret 2011 31 Maret 2010 Dolar Amerika Serikat Rp 8.707,50 Rp 9.100,00 Yen Jepang Rp 105,21 Rp 97,00 2.c. Kas
Kas meliputi kas kecil, kas besar dan kas di dalam Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
2.d. Giro pada Bank Indonesia dan Bank Lain
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, giro pada Bank Indonesia dan bank lain disajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Sebelum 1 Januari 2010, giro pada bank lain disajikan sebesar saldo giro dikurangi penyisihan penghapusan.
Pada tanggal 4 Oktober 2010, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan No.
12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan valuta asing. Peraturan ini berlaku efektif 1 Nopember 2010. Berdasarkan peraturan tersebut, GWM dalam Rupiah terdiri dari GWM Primer, GWM Sekunder dan GWM Loan to Deposit Ratio (LDR).
GWM Primer dalam Rupiah ditetapkan sebesar 8% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam Rupiah dan GWM Sekunder dalam Rupiah ditetapkan sebesar 2,5% dari DPK dalam Rupiah yang mulai berlaku pada tanggal 1 Nopember 2010. GWM LDR dalam Rupiah ditetapkan sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan selisih antara LDR Bank dan LDR Target dengan memperhatikan selisih antara Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Bank dan KPMM.
Insentif yang mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 2011. Sedangkan GWM dalam mata uang asing ditetapkan sebesar 1% dari DPK dalam mata uang asing, yang mulai berlaku pada tanggal 1 Nopember 2010.
GWM Utama adalah simpanan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada Bank Indonesia yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK.
GWM Sekunder adalah cadangan minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (“SBI”), Surat Utang Negara (“SUN”) dan/atau Excess Reserve, yang besarnya ditetapkan Bank Indonesia sebesar persentase tertentu.
Sebelum dan sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, giro pada Bank Indonesia disajikan sebesar saldo giro yang ditempatkan, sedangkan giro pada bank lain dinyatakan sebesar saldo giro dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai.
2.e. Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain disajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Sebelum 1 Januari 2010, penempatan pada bank lain disajikan sebesar saldo penempatan dikurangi penyisihan penghapusan.
2.f. Surat-surat Berharga
Surat-surat berharga yang dimiliki terdiri dari surat berharga pasar uang, obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia yang diperdagangkan di pasar uang/modal.
Surat-surat berharga diklasifikasikan sebagai aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo.
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, surat-surat berharga disajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung, kecuali untuk surat-surat berharga yang diukur melalui laporan laba rugi.
Sebelum 1 Januari 2010, surat-surat berharga disajikan sebesar saldo dikurangi penyisihan penghapusan.
2.g. Kredit yang Diberikan
Kredit yang diberikan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disetarakan dengan kas, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam dengan peminjam, mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutang berikut bunganya setelah jangka waktu tertentu.
Pengukuran Awal
Sejak 1 Januari 2010, pada saat pengukuran awal, kredit yang diberikan diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah/dikurangi biaya dan pendapatan transaksi.
Kredit dalam pembiayaan bersama (kredit sindikasi), kredit kelolaan (channeling loan) dan penerusan kredit dinyatakan sebesar pokok kredit sesuai dengan porsi risiko yang ditanggung oleh bank.
Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
Nilai wajar kredit setelah pengukuran awal dicatat sebesar biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif.
Sebelum 1 Januari 2010, kredit yang diberikan dinyatakan sebesar saldo kredit dikurangi dengan penyisihan penghapusannya.
Kredit dalam pembiayaan bersama (kredit sindikasi), kredit kelolaan (channeling loan) dan penerusan kredit dinyatakan sebesar pokok kredit sesuai dengan porsi risiko yang ditanggung oleh bank.
Kredit yang diberikan diklasifikasikan sebagai "nonperforming" didasarkan pada Peraturan Bank Indonesia ("PBI") No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 dan SE No. 73/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005 tentang Penilaian Kualitas aset Bank Umum dan perubahan-perubahannya yaitu PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007 dan PBI No. 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009.
Skema restrukturisasi kredit meliputi penurunan suku bunga, pengurangan tunggakan bunga, pengurangan tunggakan pokok, perpanjangan jangka waktu, penambahan fasilitas, pengambilalihan aset debitur dan konversi kredit menjadi penyertaan modal.
Kredit yang direstrukturisasi disajikan sebesar nilai yang lebih rendah antara nilai tercatat kredit pada tanggal restrukturisasi atau nilai tunai penerimaan kas masa depan setelah restrukturisasi. Kerugian akibat selisih antara nilai tercatat kredit pada tanggal restrukturisasi dengan nilai tunai penerimaan kas masa depan setelah restrukturisasi diakui dalam laporan laba rugi. Hasil pembayaran debitur dalam rangka restrukturisasi kredit digunakan sebagai pengurang hutang debitur dengan urutan sebagai berikut: pelunasan tagihan lainnya (notaris, asuransi, pemeliharaan), provisi dan biaya administrasi, tunggakan denda, tunggakan bunga dan tunggakan pokok.
2.h. Tagihan dan Kewajiban Akseptasi
Tagihan dan kewajiban akseptasi adalah tagihan dan kewajiban yang terjadi dalam transaksi ekspor dan impor, dimana Bank memberikan jaminan atas pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar Usance L/C dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan.
Kewajiban akseptasi diklasifikasikan sebagai kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi. Lihat Catatan 2.c.(i).(B) untuk kebijakan akuntansi atas kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi.
2.i. Penyertaan
Penyertaan merupakan penanaman dana Bank dalam bentuk saham dalam rupiah maupun valuta asing pada bank atau perusahaan lembaga keuangan non bank untuk tujuan investasi jangka panjang dan tidak diperjualbelikan. Termasuk dalam cakupan penyertaan adalah penyertaan modal sementara.
2.j. Aset Tetap dan Penyusutan
Pada tahun 2008, Bank menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 (Revisi 2007) ”Aset Tetap”. Bank menggunakan model biaya untuk pengukuran aset tetapnya. Dengan model biaya, aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehannya setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada.
Harga perolehan mencakup semua pengeluaran yang terkait secara langsung dengan perolehan aset tetap.
Aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis asset tetap sebagai berikut:
Tahun
Prasarana Bangunan 5
Peralatan Kantor dan Furniture 5
Kendaraan Bermotor 5
Nilai sisa, taksiran masa manfaat, dan metode penyusutan atas aset tetap dievaluasi dan disesuaikan setiap tanggal neraca. Dampak dari revisi tersebut, jika ada, diakui dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya.
Bila nilai tercatat suatu aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara harga jual neto dan nilai pakai. Penurunan nilai aset tersebut diakui sebagai kerugian penurunan nilai aset dan dibebankan pada tahun berjalan.
Biaya pemeliharaan dan perbaikan dicatat sebagai beban pada saat terjadinya.
Pengeluaran yang memperpanjang masa manfaat aset dikapitalisasi dan disusutkan.
Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual, maka nilai tercatat dan akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari laporan keuangan. Keuntungan atau kerugian yang dihasilkannya diakui dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
2.k. Agunan yang Diambil Alih
Agunan yang diambilalih merupakan jaminan atas kredit yang telah diambil-alih oleh Bank sebagai bagian dari penyelesaian utang dan telah diikat secara notarial.
Agunan yang diambil alih (AYDA) adalah aset yang diperoleh Bank, baik melalui pelelangan maupun diluar pelelangan berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan kuasa untuk menjual diluar lelang dari pemilik agunan dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank. AYDA merupakan jaminan kredit yang diberikan yang telah diambil alih sebagai bagian dari penyelesaian kredit yang diberikan.
AYDA diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi (net realisable value), yaitu nilai wajar agunan setelah dikurangi estimasi biaya pelepasannya. Penilaian nilai wajar agunan AYDA dilakukan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Kelebihan saldo kredit yang diberikan yang belum dilunasi oleh peminjam di atas nilai dari AYDA, dibebankan terhadap cadangan kerugian penurunan nilai kredit yang diberikan.
Biaya pemeliharaan atas AYDA yang terjadi setelah pengambilalihan atau akuisisi aset dibebankan pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset yang diambil alih dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.
2.l. Pendapatan yang Masih Harus Diterima
Pendapatan yang masih harus diterima merupakan hak atau tagihan kepada pihak lain sejalan dengan berjalannya waktu atas penggunaan aset/dana Bank oleh pihak lain yang nantinya akan dimintakan pembayarannya sesuai dengan persyaratan yang telah disetujui. Termasuk dalam perkiraan ini adalah bunga kontraktual karena adanya perbedaan waktu pembebanan bunga ke rekening nasabah dengan waktu pengakuan pendapatan dan beban bunga (cut off time) sebagai akibat metode dasar akrual terhadap pendapatan.
2.m. Biaya Dibayar Dimuka
Biaya dibayar dimuka adalah biaya selain bunga yang telah dilakukan terlebih dahulu yang didukung dengan suatu bukti/perjanjian yang menyebutkan adanya jangka manfaat untuk pengeluaran biaya tersebut, dan termasuk pengeluaran biaya yang manfaatnya melebihi jangka waktu satu bulan.
Pembebanan biaya dibayar dimuka ke dalam pos biaya dilakukan dengan mengalokasikan sesuai dengan masa manfaat melalui amortisasi setiap bulan.
2.n. Aset Lain-lain
Termasuk di dalam aset lain-lain antara lain adalah uang muka pajak, uang jaminan, biaya ditangguhkan dan alat tulis barang dan cetakan.
2.o. Kewajiban Segera
Kewajiban segera adalah kewajiban Bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai perjanjian yang ditetapkan sebelumnya. Kewajiban segera terdiri dari kewajiban administrasi dan umum, pajak, kas dan sundries, giro dan tabungan, pinjaman dan deposito berjangka serta personalia.
2.p. Simpanan Nasabah
Simpanan nasabah adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat (selain bank) kepada Bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana. Termasuk dalam pos ini adalah giro, tabungan, dan deposito berjangka.
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, simpanan nasabah sajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Sebelum 1 Januari 2010, simpanan nasabah disajikan sebesar saldo simpanan.
2.q. Simpanan dari Bank Lain
Simpanan dari bank lain terdiri dari kewajiban terhadap bank lain dalam bentuk giro dan deposito berjangka.
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal, simpanan dari bank lain sajikan sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Sebelum 1 Januari 2010, simpanan dari bank lain disajikan sebesar saldo simpanan.
2.r. Pinjaman yang Diterima
Pinjaman yang diterima adalah pinjaman atau dana yang diterima dari Bank Indonesia dan bank lain atau pihak lainnya yang bertujuan untuk pendanaan program pemerintah, kebutuhan modal kerja serta pendanaan lainnya, dengan kewajiban pembayaran kembali sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman.
Sejak 1 Januari 2010, pada pengukuran awal pinjaman diterima dan pinjaman subordinasi disajikan sebesar nilai wajar, yaitu sebesar pokok kewajiban dikurangi diskonto (jika ada). Biaya transaksi atas perolehan pinjaman yang diterima dan pinjaman subordinasi langsung diakui sebagai beban pada saat terjadinya.
Sebelum 1 Januari 2010, pinjaman yang diterima disajikan sebesar jumlah kewajibannya dan obligasi subordinasi disajikan sebesar nilai nominal dikurangi saldo diskonto yang belum diamortisasi.
2.s. Pendapatan dan Beban Bunga
Pendapatan dan beban bunga untuk semua instrument keuangan dengan interest bearing dicatat dalam pendapatan bunga dan beban bunga di dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif.
Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari asset keuangan atau kewajiban keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.
Pada saat menghitung suku bunga efektif, Bank mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, namun tidakmempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi, provisi, dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima
oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif, biaya transaksi seluruh premi/diskon lainnya.
Sebelum 1 Januari 2010, pendapatan bunga dan beban bunga diakui berdasarkan konsep akrual. Penghasilan bunga atas kredit yang diberikan atau aset produktif lainnya yang diklasifikasikan sebagai sebagai kurang lancar, diragukan dan macet (”non performing”) diakui pada saat penghasilan tersebut diterima. Pada saat aset keuangan diklasifikasikan sebagai non performing, bunga yang telah diakui tetapi belum ditagih akan dibatalkan pengakuannya. Selanjutnya bunga yang dibatalkan tersebut diakui sebagai tagihan kontinjensi.
2.t. Pendapatan Provisi dan Komisi
Sejak diberlakukannya PSAK 55 (Revisi 2006) tanggal 1 Januari 2010, provisi dan komisi yang berkaitan langsung dengan kegiatan pemberian kredit yang signifikan diakui sebagai bagian/(pengurang) dari biaya perolehan kredit dan akan diakui sebagai pendapatan bunga dengan cara diamortisasi berdasarkan metode suku bunga efektif. Provisi dan komisi yang tidak signifikan langsung diakui sebagai pendapatan provisi dan komisi tahun berjalan.
Sebelum 1 Januari 2010, provisi dan komisi yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan sesuatu kegiatan perkreditan dan terkait dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan diamortisasi secara sistematis selama jangka waktunya.
Untuk pinjaman yang dilunasi sebelum jatuh temponya, saldo pendapatan provisi dan komisi yang belum diamortisasi diakui sebagai laba rugi pada periode pinjaman tersebut dilunasi.
Provisi dan komisi yang tidak berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan jangka waktu diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat terjadinya transaksi.
2.u. Pendapatan Operasional Lainnya
Pendapatan operasional lainnya adalah pendapatan Bank yang tidak berhubungan dengan perkreditan atau penanaman dana Bank lainnya atau bukan merupakan provisi dan komisi, antara lain koreksi cadangan kerugian nilai, pendapatan penutupan rekening, penggantian biaya materai, telepon, kendaraan dan penerimaan lainnya.
2.v. Beban Tenaga Kerja
Beban tenaga kerja meliputi beban berupa gaji karyawan, bonus, lembur, tunjangan dan pelatihan.
2.w. Beban Umum dan Administrasi
Beban umum dan administrasi merupakan beban yang timbul sehubungan dengan aktivitas kantor dan operasional Bank.
Seluruh penghasilan dan beban yang terjadi dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.
2.x. Perpajakan
Pajak penghasilan tangguhan disajikan dengan menggunakan metode kewajiban.
Pajak penghasilan tangguhan timbul akibat perbedaan temporer antara aset dan kewajiban menurut ketentuan-ketentuan pajak dengan nilai tercatat aset dan kewajiban dalam laporan keuangan. Tarif pajak yang berlaku atau yang secara substansial telah berlaku digunakan dalam menentukan besarnya jumlah pajak penghasilan tangguhan.
Aset dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan kewajiban menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan kewajiban. Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang.
Koreksi terhadap kewajiban perpajakan dicatat pada saat diterimanya surat ketetapan, atau apabila dilakukan banding, ketika hasil banding sudah ditetapkan.
2.y. Imbalan Kerja
Dana Pensiun / Pension Fund
Bank menyelenggarakan program dana pensiun iuran pasti untuk seluruh karyawan tetapnya. Kontribusinya terdiri dari kontribusi oleh karyawan masing-masing yang besarnya ditentukan sebesar 20%, sedangkan sisanya ditanggung oleh Bank.
Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan masa kerja pegawai yang bersangkutan.
Jumlah iuran Bank kepada program pensiun iuran pasti diakui sebagai beban pada saat iuran tersebut terhutang.
Manfaat Karyawan Lainnya
Bank membukukan penyisihan imbalan pasca kerja untuk karyawannya sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Imbalan pasca kerja sejak jasa diberikan oleh karyawan hingga tanggal neraca dihitung oleh aktuaris independen dengan metode "Projected Unit Credit ". Biaya jasa lalu dan koreksi aktuaria yang belum diakui diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama taksiran sisa masa kerja karyawan di masa depan.
Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui dan biaya jasa lalu yang belum diakui.
Pesangon Pemutusan Kontrak Kerja
Pesangon pemutusan kontrak terhutang ketika karyawan diberhentikan sebelum usia pensiun normal. Bank mengakui pesangon pemutusan kontrak kerja ketika Bank
menunjukkan komitmennya untuk memutuskan hubungan kerja dengan karyawan berdasarkan suatu rencana formal terperinci yang kecil kemungkinannya untuk dibatalkan. Pesangon yang akan dibayarkan dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca didiskontokan untuk mencerminkan nilai kini.
2.z. Laba Bersih per Saham Dasar
Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh pada masing-masing periode.
Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih dengan rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar ditambah dengan rata-rata tertimbang jumlah saham yang akan diterbitkan atas konversi efek yang berpotensi saham yang bersifat dilutif.
2.aa. Tambahan Modal Disetor
Agio saham dinyatakan secara bersih setelah dikurangi beban emisi saham dan disajikan sebagai bagian dari Ekuitas pada laporan neraca. Beban emisi saham merupakan biaya yang berkaitan dengan penerbitan saham Bank. Biaya ini mencakup fee dan komisi yang dibayarkan kepada penjamin emisi, lembaga dan profesi penunjang pasar modal, serta biaya pencetakan dokumen pernyataan pendaftaran, biaya pencatatan saham di bursa efek, dan biaya promosi.
2.ab. Transaksi dengan Pihak yang berelasi
Bank melakukan transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
Definisi pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang digunakan adalah sesuai dengan PSAK 7 mengenai “Pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa” dan Peraturan Bank Indonesia No. 7/3/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 dan perubahannya No. 8/13/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum.
Definisi pihak yang mempunyai hubungan istimewa menurut PSAK 7 antara lain:
1) perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);
2) perusahaan asosiasi;
3) Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor);
4) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan
pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut;
5) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam (c) atau (d), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaanperusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.
Jenis saldo dan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, apakah yang dilaksanakan dengan atau tidak dengan syarat atau kondisi normal yang sama dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, diungkapkan dalam laporan keuangan.
2.ac. Informasi Segmen
Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Informasi segmen dalam catatan atas laporan keuangan ini disajikan berdasarkan atas geografis, yaitu komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan barang atau jasa pada lingkungan ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan ekonomi lain.
Aset dan kewajiban yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen tersebut.
2.ad. Penggunaan Estimasi
Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mengharuskan manajemen untuk membuat berbagai estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban serta pengungkapan aset dan kewajiban komitmen dan kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan serta beban selama periode pelaporan. Hasil yang sebenarnya dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasikan.
3. Dampak Penerapan Awal PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006)
Bank menerapkan PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006) pada tanggal 1 Januari 2010 secara prospektif sesuai dengan ketentuan transisi atas standar tersebut.
Ketentuan Transisi Penerapan Awal PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006) dilakukan sesuai dengan Buletin Teknis No. 4 yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, memberikan tambahan pedoman dibawah ini:
Perhitungan Suku Bunga Efektif
Perhitungan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi yang diperoleh sebelumnya dan masih bersaldo pada tanggal 1 Januari 2010 ditentukan berdasarkan arus kas masa depan yang akan diperoleh sejak penerapan awal PSAK 55 (Revisi 2006) sampai dengan jatuh tempo instrumen keuangan tersebut.
Penghentian Pengakuan
Instrumen keuangan yang sudah dihentikan pengakuannya sebelum tanggal 1 Januari 2010 tidak dievaluasi kembali berdasarkan ketentuan penghentian pengakuan dalam PSAK 55 (Revisi 2006).
Klasifikasi Instrumen Keuangan sebagai Kewajiban atau Ekuitas
Pada tanggal 1 Januari 2010, Bank mengklasifikasikan instrument keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas sesuai dengan paragraph 11 PSAK 50 (Revisi 2006).
Penurunan Nilai Instrumen Keuangan
Pada tanggal 1 Januari 2010, Bank menentukan penurunan nilai instrumen keuangan berdasarkan kondisi pada saat itu. Selisih antara penurunan nilai ini dengan penurunan nilai yang ditentukan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku sebelumnya diakui langsung ke saldo laba pada tanggal 1 Januari 2010.
Sebagai akibat penerapan awal PSAK 55 (Revisi 2006) secara prospektif, pada tanggal 1 Januari 2010, Bank telah melakukan perhitungan kembali Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Aset Keuangan sesuai dengan ketentuan transisi. Perbedaan antara saldo cadangan tersebut per 31 Desember 2009 dengan saldo cadangan yang dihitung berdasarkan PSAK 55 (Revisi 2006) per 1 Januari 2010 untuk semua aset keuangan sejumlah Rp 93.360.600 telah didebitkan ke Saldo Laba awal per 1 Januari 2010. Penyesuaian terhadap saldo cadangan untuk akun aset keuangan adalah sebagai berikut:
Jumlah
Kredit yang Diberikan 93,360,600
93,360,600
Penurunan Nilai Secara Kolektif
Sebagaimana dimungkinkan dalam Surat Edaran Bank Indonesia (SE-BI) No. 11/33/DPNP tanggal 8 Desember 2009, untuk penerapan pertama kali PSAK 50 dan 55, Bank akan menerapkan ketentuan transisi penurunan nilai atas kredit secara kolektif dengan menggunakan estimasi yang didasarkan pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum (lihat Catatan 2.g). Sesuai dengan SE-BI tersebut ketentuan transisi penurunan nilai atas kredit secara kolektif dapat diterapkan paling lambat sampai dengan 31 Desember 2011.
Pada periode laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010, Bank menggunakan metode kolektibilitas untuk menilai penurunan nilai secara kolektif, sesuai PBI No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum” yang diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 dan PBI No.
9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007 serta PBI No. 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009.
Penerapan ini dilakukan selama masa transisi sampai dengan 31 Desember 2011.
4. KAS
31 Maret 2011 31 Maret 2010
Rupiah 25,197,259 26,753,610
Dolar Amerika Serikat 119,502 88,798 25,316,761 26,842,408
Saldo dalam mata uang Rupiah termasuk uang pada mesin ATM (Automated Teller Machine) sejumlah Rp 5.491.250 pada tanggal 31 Maret 2011 dan Rp 585.500 pada tanggal 31 Maret 2010.
5. GIRO PADA BANK INDONESIA
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Rupiah 269,280,479 99.36% 113,472,826 99.68%
Dollar Amerika Serikat 1,741,500 0.64% 364,000 0.32%
271,021,979 113,836,826
31 Maret 2011 31 Maret 2010
Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, setiap bank di Indonesia diwajibkan memiliki saldo giro wajib minimum (GWM) di Bank Indonesia untuk cadangan likuiditas sebesar persentase tertentu dari dana pihak ketiga baik dalam Rupiah maupun mata uang asing.
Persentase GWM Bank pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 masing-masing adalah:
31 Maret 2011 31 Maret 2010
Rupiah 8,61% 5%
Valuta Asing 15,71% 1%
6. GIRO PADA BANK LAIN a. Berdasarkan mata uang:
31 Maret 2011 31 Maret 2010 Rupiah:
1. Bank Mandiri 2,757,734 8,701,500 2. BPD Sumut 116,931 150,776 3. BPD Jabar 103,882 111,822 4. BPD Jateng 283,480 90,966 5. Bank Bukopin 10,237 10,306
Jumlah 3,272,264 9,065,370
Dollar Amerika Serikat
1. Citibank 38,520,901 15,319,447
2. Bank Mandiri 1,099,708 1,976,178 3. BCA 103,539 -
Jumlah 39,724,148 17,295,625
31 Maret 2011 31 Maret 2010 Yen Jepang
SMBC 216,400 201,025
Total 43,212,812 26,562,020
Dikurangi:
Penyisihan Penghapusan (432,128) (265,621) Total - Bersih 42,780,684 26,296,399 Per 31 Maret 2011 dan 2010, semua giro pada bank lain diklasifikasikan lancar.
b. Tingkat suku bunga rata-rata per tahun:
31 Maret 2011 31 Maret 2010
Rupiah 1% 1%
Dollar Amerika Serikat - -
c. Mutasi penyisihan penghapusan giro pada bank lain adalah sebagai berikut:
31 Maret 2011 31 Maret 2010 Saldo awal periode 265,621 42,468
166,507
223,153 Saldo akhir peiode 432,128 265,621 Penyisihan/(penghapusan) selama periode
berjalan
Manjemen berpendapat bahwa jumlah penyisihan penghapusan giro pada bank lain yang dibentuk telah memadai.
7. Penempatan pada Bank Indonesia
Rincian Penempatan pada Bank Indonesia sebagai berikut:
Jenis Penempatan Jangka Waktu Tingkat Bunga Jumlah
Rata-rata per tahun Deposit Facility
Rupiah
Bank Indonesia 1 hari 5.75% 346,000,000
Diskonto yang Belum Diamortisasi -
Nilai Bersih 346,000,000
Term Deposit
Bank Indonesia 7 - 14 hari 6.45% -6.70% 465,000,000
Diskonto yang Belum Diamortisasi (413,562)
Nilai Bersih 464,586,438
Dikurangi: Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai -
Jumlah - Bersih 810,586,438
31 Maret 2011
Jumlah tercatat penempatan pada Bank Indonesia berdasarkan sisa umur jatuh tempo pada tanggal 31 Maret 2011 berumur kurang dari 1 (satu) bulan.