LAPORAN HASIL PENELITIAN JURUSAN ARSITEKTUR
Judul Penelitian
DENSITAS DAN PEMBATASAN KETINGGIAN BANGUNAN DI BALI
Peneliti:
Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEngSc, PhD Ni Made Swanendri, ST., MT
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2013
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian : DENSITAS DAN PEMBATASAN KETINGGIAN BANGUNAN DI BALI
Peneliti Utama :
Nama : Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEngSc. PhD Jenis kelamin : Perempuan
NIP : 19691018 199412 2 001
Pangkat/golongan : Penata/IIIc Jabatan sekarang : Tenaga Pengajar
Jurusan : Arsitektur
Fakultas : Teknik
Perguruan tinggi : Universitas Udayana
Alamat kantor : Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran Bali-Indonesia 80361
Telepon kantor : +62 361 703384; 703320 Faksimili kantor : +62 361 703384; 701806
Alamat rumah : Jl Gandapura IIIK No. 7 Kesima Kertalangu Denpasar Timur, 80237, Bali-Indonesia
Telepon : +62 361 467887; +62 89685501932 Email : [email protected]
Jangka waktu penelitian : 5 bulan
Biaya yang diusulkan : Rp. 15.000.000,00 Biaya dari instansi lain : Tidak ada
Mengetahui: Denpasar, 29 Oktober 2013
Ketua Jurusan Arsitektur, Ketua Peneliti Universitas Udayana
Ir. I Made Suarya, MT. Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEngSc. PhD NIP. 19561015 198601 1 001 NIP. 19691018 199412 2 001
Menyetujui
Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana
1
DAFTAR ISI
halaman
Daftar Isi……..……….………. 1
1. Uraian Umum ……..……….……… 2
2. Abstrak Rencana Penelitian………. 3
3. Masalah yang Diteliti ……….……… 4
3.1 Keadaan Sekarang ..……….…….. 4
3.2 Permasalahan yang Diteliti……… 6
3.3 Fokus Penelitian……….……….. 7
3.4 Tujuan Penelitian……….……… 8
4. Kajian Pustaka……….……….… 8
4.1 Perkembangan Global dan Bangunan sebagai Produk Arsitektur………… 8
4.2 Pembangunan Keruangan yang Berkesinambungan……….…… 9
5. Desain dan Metode Penelitian………… ……… 11
5.1 Pola Pendekatan……… ……….……….. 11
5.2 Desain Penelitian ……….……... 12
5.3 Metode Penelitian……….……... 12
6. Luaran Penelitian……….……… 14
6.1 Temuan dan Hasil Penelitian………... 14
6.2 Peluang Penelitian Lanjutan Dimasa yang akan Datang………... 15
7. Rincian Anggaran Penelitian………... 16
8. Ketinggian Bangunan, Pembangunan Identitas Lokal dan Kepadatan 17 8.1 Konteks Pengaturan Ketinggian Bangunan dan Kepadatan Daerah 17 8.2 Ketinggian Bangunan dan Kepadatan Daerah 19 8.3 Setinggi Pohon Kelapa dan Kepadatan Kota di Bali 22 8.4 Kesimpulan 25 9. Daftar Pustaka……….………. 13
LAMPIRAN 1. Dukungan terhadap Pelaksanaan Penelitian……… 25
2. Sarana dan Prasarana Penunjang Penelitian yang Telah Dimiliki…………. 26
3. Jadwal Pelaksanaan……….………… 27
4. Biografi/Daftar Riwayat Hidup Peneliti………. 29
PENELITIAN
1. URAIAN UMUM
1.1. Judul Penelitian : DENSITAS DAN PEMBATASAN KETINGGIAN BANGUNAN DI BALI 1.2. Ketua Peneliti :
Nama : Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEngSc. PhD
Jabatan : Tenaga Pengajar
Unit Kerja : Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Alamat surat : Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik
Universitas Udayana,
Kampus Bukit Jimbaran Bali-Indonesia 80361 Telepon : +62 361 467887; +62 89685501932
Faksimili : +62 361 703384
Email : [email protected]
1.3. Tim Peneliti :
No. Nama dan
Gelar Akademik Bidang Keahlian Instansi Alokasi Waktu ) 1.
2
Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEngSc.
PhD
Ni Made Swanendri, ST.
MT
Arsitektur dan Urban Planning &
Development Arsitektur
Jurusan Arsitektur, FT Unud
Jurusan Arsitektur
12
12
1.4. Subyek penelitian : Perencanaan dan pembangunan keruangan 1.5. Masa pelaksanaan : mulai: 1/06/2013 berakhir: 1/11/2009 1.6. Jumlah biaya yang diusulkan: Rp. 15.000.000,00
1.7. Lokasi penelitian : Provinsi Bali
1.8. Temuan yang ditargetkan : Menawarkan konsep dan wujud pengaturan pengembangan alam terbangun berdasarkan pendekatan dan hasil studi wujud pengaturan ketinggian bangunan yang ada di dunia dan di Bali 1.9. Jurnal ilmiah yang disasar :
Jurnal nasional : Jurnal Ruang, Program Magister Arsitektur, Universitas Udayana
1.10. Perguruan tinggi pengusul : Universitas Udayana 1.11. Instansi lain yang terlibat :
Bidang Fisik dan Prasarana, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali diwakili oleh Ir. Ida Bagus Made Parsa, MM.
3 1.13. Kontribusi mendasar pada bidang ilmu:
Kajian mendalam terkait perencanaan pembangunan keruangan daerah dengan menyusun landasan konsepsual pengaturan batas ketinggian bangunan yang berorientasikan pada penyeimbangan kepentingan keruangan oleh berbagai sektor pembangunan.
2. ABSTRAK RENCANA PENELITIAN
Kepentingan memposisikan pengaturan ketinggian bangunan dalam skala prioritas manajemen pembangunan keruangan daerah perkotaan dan perdesaan terkait dengan adanya peningkatan kebutuhan ruang yang tidak diikuti penambahan suplai lahan, sumber daya alamiah yang terbatas skalanya dan tidak bisa diperbaharui keberadaannya.
Sementara itu, pembangunan keruangan sendiri sarat akan dampak, baik terhadap lingkungan sosial maupun alamiah. Berdirinya gedung komersial bertingkat tinggi dalam jarak yang sangat dekat dengan tempat-tempat berfungsi religius sering menjadi sumber ketidakpuasan di masyarakat. Banjir terparah yang melanda Jakarta di awal tahun 2007 ditengarai salah satu penyebabnya adalah penyempitan skala permukaan tanah yang tersedia untuk menyerap guyuran air hujan, karena sebagian besar telah tertutup bangunan.
Opsi mengakomodasi peningkatan kepadatan daerah dengan ekspansi ke arah vertikal merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah, sehingga konversi lahan strategis bisa dikontrol. Akan tetapi di lain kesempatan di daerah yang memiliki view potensial, diperlukan pembatasan tinggi bangunan yang lebih ketat sehingga potensi ini bisa dinikmati masyarakat banyak. Inilah contoh peran strategis akan pentingnya pengaturan ketinggian bangunan.
Permasalahan di atas, tidak terjadi di kota-kota di Indonesia atau negara berkembang saja, tetapi adalah tantangan bagi perencanaan keruangan daerah di seluruh dunia. Penelitian ini dilandasi pada suatu konsep pengaturan ketinggian bangunan sebagai salah satu wahana menyeimbangkan pembangunan keruangan dengan mengkonsolidasikan pembangunan;
memberi perlindungan; dan menjamin keberadaan ruang-ruang yang berfungsi sosial budaya dan alamiah lingkungan: taman kota; kawasan lindung; tempat suci; kawasan pantai; pegunungan; dan lain-lain. Implikasi perwujudannya adalah pendekatan kebijakan untuk zone-zone dimana gedung bertingkat tinggi diijinkan – dibutuhkan –, dan zone-zone dimana ketinggian bangunan dibatasi dengan ketat.
Pemilihan Bali sebagai studi kasus dilandasi pada keunikan posisi pulau ini sebagai daerah tujuan wisata dengan kehidupan berbudaya yang sangat kental pada kesehariannya.
Memadukan kepentingan kebudayaan dan ekonomi kepariwisataan memberi tantangan yang berat terhadap pengaturan keruangan. Bali memiliki Perda No. 2, 3, 4/1974 dan No.
3/2005 yang menetapkan 15 m sebagai batas tinggi bangunan. Perda ini ditujukan untuk melestarikan bentang budaya dan alamiah. Tetapi, pesatnya industri pariwisata, pertumbuhan penduduk, aktivitas di bidang perdagangan, sosial, pemerintahan dan keamanan, memunculkan pertanyaan serius akan relevansi Perda ini dalam mengakomodasi tren peningkatan kebutuhan lahan. Dalam 30 tahun terakhir telah terjadi ekspansi ruang ke arah horisontal dan alih-fungsi lahan yang tinggi – khususnya lahan pertanian, hutan lindung dan bakau, ruang-ruang terbuka (Picard 1996, Pitana 1999, Suartika 2004). Dikhawatirkan, eliminasi ruang-ruang strategis secara kontinu akan mengganggu keseimbangan pembangunan dan lingkungan.
Penelitian ini terbagi dalam tiga tahapan besar. Pertama, menelaah keberadaan praktek- praktek pembatasan ketinggian bangunan di tingkat global. Kedua, mengkaji regulasi pembatasan ketinggian bangunan yang berlaku di Bali dan relevansinya dikaitkan dengan kompleksitas beban dan tekanan pembangunan yang harus dihadapi. Ketiga, menawarkan konsep dan wujud pengaturan pengembangan alam terbangunan berdasarkan pendekatan dan hasil studi yang diperoleh dari kedua tahapan sebelumnya.
Dengan mengadopsi pola pendekatan hermeneutic sebagai landasan teori dan filosofisnya, penelitian ini melandasi tahapan analisa dan sintesisnya dengan menginterpretasikan dan menerjemahkan keadaan-keadaan yang distudi. Pengambilan studi kasus dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan kontekstual basis pada fokus permasalahan penelitian yang sedang distudi. Aplikasi Matrix of Culture dari Hall (1973) dalam mengidentifikasi budaya keruangan merupakan metodologi penelitian yang unik representatif untuk tujuan ini. Pada akhirnya, manfaat dan hasil penelitian yang dihasilkan ditujukan tidak terbatas untuk perencanaan wilayah di Pulau Dewata, tetapi merupakan pendekatan holistik untuk diadopsi daerah lain, baik di tingkat nasional maupun internasional, dengan kemiripan karakteristik dan konteks pembangunan.