• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Leather Craft Center dengan Konsep Strong by Layers di Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Leather Craft Center dengan Konsep Strong by Layers di Bandung."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Perkembangan kerajinan kulit di kota Bandung bisa dikatakan semakin pesat dan

beragam. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya banyak produsen lokal yang

menjual kerajinan kulit di media sosial seperti instagram dan facebook.

Namun, di kota Bandung belum banyak terdapat tempat yang dapat menampung

dan sekaligus memasarkan barang-barang kerajinan kulit yang dijual para produsen

lokal. Banyak produsen lokal yang tidak memiliki offline store sehingga membuat

turunnya minat konsumen untuk membeli barang tersebut, dikarenakan banyak

konsumen yang ingin langsung melihat barang aslinya bukan hanya sekedar melihat dari

foto saja. Sedangkan banyak produsen lokal yang sudah memiliki kualitas barang yang

bagus, namun daya pemasarannya rendah dikarenakan tidak memiliki wadah yang

memadai.

Dalam merancang suatu pusat kerajinan kulit diperlukan berbagai fasilitas penting yang mendukung perancangan. Seperti contohnya ada retail untuk mewadahi produk-produk dari para pengrajin kulit lokal, mini gallery untuk tambahan pengetahuan jenis-jenis kulit dan cara merawatnya, workshop untuk siapa saja yang ingin merasakan sensasi membuat kerajinan kulitnya sendiri, dan sarana pendukung cafe & lounge untuk pengunjung bisa bersantai sambil mengobrol atau berkumpul bersama teman-teman.

(2)

ii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

Leather craft development in the city can be said to be more rapid and diverse. This

can be evidenced by the emergence of many local producers selling leather craft in social

media like instagram and facebook.

However, in the city there are not many places that can accommodate as well as

marketing and leather goods are sold by local producers. Many local producers who do

not have an offline store so that in turn lowers the interest of consumers to buy goods,

because many consumers who want to directly see the original stuff is not just a view of

the photos only. While many local manufacturers who already have a good quality

goods, but due to the low power marketing does not have an adequate container.

In designing a leather craft center required a variety of important facilities that

support the design. For example there are retail to accommodate products from artisans

local skin, mini gallery for additional knowledge of the types of skin and how to care,

workshops for anyone who wants to feel the sensation of making craft his own skin, and

supporting facilities cafe and lounge for visitors can relaxing, chatting or gathering with

friends.

(3)

iii Universitas Kristen Maranatha

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 2

1.3 Ide / Gagasan Perancangan ... 3

1.4 Rumusan Masalah ... 3

1.5 Tujuan Perancangan ... 3

1.6 Manfaat Perancangan ... 4

1.7 Ruang Lingkup Perancangan ... 4

1.8 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II TINJAUAN DATA LEATHER CRAFT CENTER... 6

2.1 Kerajinan Tangan / Craft ... 6

2.1.1 Definisi Kerajinan Tangan ... 7

2.1.2 Sejarah Kerajinan Tangan di Indonesia ... 8

2.1.3 Unsur – Unsur Kerajinan Tangan ... 10

2.1.4 Kerajinan Tangan di Nusantara ... 10

2.2 Pengertian Kulit / Leather ... 11

2.3 Pengertian Retail ... 13

2.3.1Store Atmosphere ... 13

2.3.2 Store Layout ... 15

(4)

iv Universitas Kristen Maranatha

2.4.1 Area Entrance ... 17

2.4.2 Area Penjualan ... 17

2.4.3 Ruang Penyimpanan ... 19

2.4.4 Ruang Kantor ... 20

2.4.5 Mini Gallery ... 21

2.4.6 Café and Lounge ... 25

2.4.7 Ruang Kelas / Workshop ... 26

2.5 Pencahayaan ... 27

2.5.1 Pencahayaan Area Penjualan ... 27

2.5.2 Pencahayaan Kafe ... 28

2.5.3 Pencahayaan pada Area Workshop ... 28

2.5.4 Pencahayaan Area Mini Gallery ... 28

2.6 Studi Banding ... 28

2.7 Ergonomi Ruang pada Leather Craft Center ... 32

BAB III DESAIN PERANCANGAN LEATHER CRAFT CENTER ... 37

3.1 Deskripsi Proyek ... 37

3.2 Deskripsi Site... 38

3.2.1 Analisis Fungsi ... 38

3.2.2 Analisis Site ... 39

3.2.3 Analisis Building ... 41

3.3 Analisa Fungsi ... 43

3.4 Identifikasi User ... 45

3.6 Programming ... 46

3.6.1 Bubble Diagram ... 46

3.6.2 Flow Activity ... 46

3.6.3 Zoning Blocking ... 51

(5)

v Universitas Kristen Maranatha

3.7 Ide Implementasi Konsep pada Objek Studi ... 53

3.7.1 Konsep Perancangan ... 54

BAB IV PEMBAHASAN KERJA PRAKTIK ... 56

4.1 Denah General ... 56

4.2 Denah Khusus ... 58

4.2.1 Lobby & Retail Lantai 1 ... 58

4.2.2 Mini Gallery ... 61

4.2.3 Retail Lantai 2 ... 63

4.2.4 Workshop ... 65

BAB V PENUTUP ... 67

5.1 Kesimpulan... 67

5.2 Saran ... 68

(6)

vi Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Analisa Site ... 40

(7)

vii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Unionwell Store Bandung ... 28

Gambar 2.2 Display Unionwell Store ... 29

Gambar 2.3 Display Unionwell Store ... 29

Gambar 2.4 Tanner Goods San Fransisco... 30

Gambar 2.5 Display Tanner Goods San Fransisco ... 31

Gambar 2.6 Display Tanner Goods San Fransisco ... 31

Gambar 2.7 Jarak Pandang Optimum ... 32

Gambar 2.8 Ergonomi Display Tinggi... 32

Gambar 2.9 Ergonomi Display Pakaian... 32

Gambar 2.10 Ergonomi Ruang Ganti ... 33

Gambar 2.11 Ergonomi Snack Bar ... 33

Gambar 2.12 Sirkulasi dan Meja Makan Berdua ... 33

Gambar 2.13 Ergonomi Counter Makanan ... 34

Gambar 2.14 Ergonomi Jalur Sirkulasi antara Stool ... 34

Gambar 2.15 Ukuran Minimum dan Optimum Meja Makan ... 34

Gambar 2.16 Ergonomi Meja Makan ... 35

Gambar 2.17 Ergonomi untuk Pelayan dan Sirkulasi ... 35

Gambar 2.18 Sirkulasi Waitress ... 35

Gambar 2.19 Ergonomi Meja untuk Akustik dan Privasi Visual ... 36

Gambar 2.20 Ergonomi Meja Kerja Kerajinan Tangan ... 36

Gambar 3.1 Site Bangunan ... 39

Gambar 3.2 Lokasi Bangunan ... 39

Gambar 3.3 Fasad Bangunan ... 41

Gambar 3.4 Lantai Dasar ... 42

Gambar 3.5 Lantai 1 ... 43

(8)

viii Universitas Kristen Maranatha

Gambar 3.7 Zoning Bloking Lt.2 ... 51

Gambar 3.8 Bentukan Organis ... 54

Gambar 3.9 Skema Warna ... 54

Gambar 3.10 Warm Spotlight ... 55

Gambar 3.11 Indirect Lighting ... 55

Gambar 4.1 Denah General Lantai 1 ... 56

Gambar 4.2 Denah General Mezanine ... 56

Gambar 4.3 Denah General Lantai 2 ... 57

Gambar 4.4 Potongan General 1 ... 57

Gambar 4.5Potongan General 2 ... 58

Gambar 4.6 Layout Furniture Lobby & Retail ... 58

Gambar 4.7 Layout Furniture Mezanine ... 58

Gambar 4.8 Potongan Lobby dan Retail Lantai 1 ... 59

Gambar 4.9 Perspektif Area Lobby ... 59

Gambar 4.10 Perspektif Meja Resepsionis ... 60

Gambar 4.11 Perspektif Kolom ... 60

Gambar 4.12 Perspektif Area Retail ... 60

Gambar 4.13 Perspektif Display Retail ... 61

Gambar 4.14 Layout Furniture Mini Gallery ... 61

Gambar 4.15 Potongan Mini Gallery ... 62

Gambar 4.16 Perspektif Mini Gallery ... 62

Gambar 4.17 Layout Furniture Retail Lantai 2 ... 63

Gambar 4.18 Potongan Area Retail ... 63

Gambar 4.19 Perspektif Area Retail Lantai 2 ... 64

Gambar 4.20 Perspektif Detail ... 64

Gambar 4.21 Layout Furniture Workshop ... 65

(9)

ix Universitas Kristen Maranatha

Gambar 4.23 Perspektif Workshop ... 66

(10)

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Industri kecil dan menengah merupakan kelompok industri yang

paling bertahan dalam menghadapi krisis perekonomian Indonesia.

Mudrajad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober

2008 mengemukakan bahwa pada masa krisis ekonomi tahun 1998-2001

menunjukkan fakta bahwa UMKM secara umum justru lebih mampu

bertahan hidup dan tumbuh sekitar 11% per tahun dibanding industri skala

besar yang hanya sekitar 6% per tahun. Industri kecil pada umumnya

berawal dari industri rumah tangga dengan skala mikro yang kemudian

berkembang. Dengan skala produksi yang kecil, maka diharapkan tingkat

fleksibilitas dari perusahaan lebih baik yang pada akhirnya dapat lebih

bertahan pada saat terjadi krisis apabila dibandingkan dengan industri besar.

Di berbagai wilayah Indonesia industri kecil dan menengah

mengalami perkembangan yang pesat. Salah satunya industri kerajinan

kulit. Banyak muncul kawasan industri kerajinan kulit di berbagai wilayah

Indonesia, antara lain Sidoarjo, Cibaduyut (Bandung), Jogjakarta, Magetan

serta wilayah-wilayah lainnya di luar Pulau Jawa. Bandung memiliki

kawasan industri yaitu kerajinan kulit yang banyak menghasilkan berbagai

macam barang mulai dari sarung tangan, ikat pinggang, sandal, sepatu, tas

dan barang-barang lainnya.

Perkembangan kerajinan kulit di kota Bandung bisa dikatakan

semakin pesat dan beragam. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya

banyak produsen lokal yang menjual kerajinan kulit di media sosial seperti

instagram dan facebook.

Namun, di kota Bandung belum banyak terdapat tempat yang dapat

menampung dan sekaligus memasarkan barang-barang kerajinan kulit yang

dijual para produsen lokal. Banyak produsen lokal yang tidak memiliki

(11)

2 Universitas Kristen Maranatha

barang tersebut, dikarenakan banyak konsumen yang ingin langsung melihat

barang aslinya bukan hanya sekedar melihat dari foto saja. Sedangkan

banyak produsen lokal yang sudah memiliki kualitas barang yang bagus,

namun daya pemasarannya rendah dikarenakan tidak memiliki wadah yang

memadai.

Selain itu ketidaktahuan konsumen terhadap kualitas barang-barang

kulit juga menjadi sebuah kendala yang dirasakan para penjual. Banyak

konsumen yang lebih memilih kulit sintetis atau imitasi dikarenakan harga

yang jauh lebih murah dan keanekaragaman warna dan finishing yang

beragam. Walaupun sebenarnya untuk masalah kualitas, kulit asli sangat

jauh lebih tahan lama dan kuat. Sebenarnya tidak harus mengeluarkan biaya

tinggi untuk mendapatkan sebuah barang berbahan kulit, sebagai contohnya

adalah salah satu produsen lokal di Bandung yang memproduksi sepatu

yang dijual dengan kisaran harga 200-300 ribu rupiah saja untuk

mendapatkan sepasang sepatu kulit.

Kerajinan kulit diidentikan dengan teknik-teknik yang sulit dan

alat-alat yang mahal untuk bisa membuatnya. Saat ini belum banyak tempat

yang menyediakan kursus untuk orang yang ingin belajar membuat

kerajinan kulit, dikarenakan tidak tersedianya wadah dan alat-alat untuk

membuat kerajinan kulit.

Sehingga dalam kesempatan ini, saya ingin menciptakan sebuah

wadah untuk orang-orang yang ingin menjual kerajinan kulit, mempelajari

lebih dalam tentang kulit, dan memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar

membuat kerajinan kulit.

1.2 Identifikasi Masalah

Mengacu pada latar belakang, maka dapat ditemukan beberapa

masalah yang banyak dialami oleh para produsen lokal kerajinan kulit yaitu

tidak tersedianya offline store, kurangnya rasa percaya konsumen terhadap

produsen lokal sehingga membuat konsumen ragu untuk membeli barang

tersebut, tidak tersedianya sarana untuk pembelajaran tentang jenis-jenis dan

(12)

3 Universitas Kristen Maranatha

1.3 Ide / Gagasan Perancangan

Setelah melihat identifikasi masalah yang ada maka dalam merancang

sebuah Leather Craft Center di Bandung perlunya dibuat sebuah tempat

yang dapat menampung barang-barang dari para produsen lokal kerajinan

kulit, sebuah mini gallery yang membahas mengenai jenis-jenis dan

keunggulan kulit, dan tempat kursus untuk membuat kerajinan kulit. Sarana

pendukung seperti cafe and lounge juga akan menarik minat konsumen

untuk datang ke Leather Craft Center.

Suasana ruang yang ingin ditampilkan adalah mengambil suasana

pada era tahun 1900an yang akan mengangkat gaya desain vintage

industrial. Beberapa material yang dipakai adalah kayu, metal, batu, kulit,

dan konkrit, sehingga akan menampilkan suasana ruang yang mendukung

untuk perancangan Leather Craft Center ini.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan latar belakang di atas, maka

dibuatlah sebuah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana menerapkan tema durable, versatile, natural dan konsep

Strong by Layers pada perancangan interior Leather Craft Center di

Bandung.

2. Bagaimana menerapkan sistem display, pencahayaan, penghawaan,

sirkulasi, yang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan interior di Leather

Craft Center.

3. Bagaimana mengaplikasi suasana ruang yang nyaman dan rileks, tapi

tetap menghadirkan sisi edukatif dan kreatifitas pada perancangan

interior Leather Craft Center.

1.5 Tujuan Perancangan

Tujuan dari perancangan Leather Craft Center ini :

1. Menaikkan minat konsumen terhadap brand lokal yang ada di Bandung

(13)

4 Universitas Kristen Maranatha

2. Dengan menyediakan offline store agar konsumen dapat melihat barang

langsung sehingga dapat meningkatkan rasa kepercayaan konsumen.

3. Menambah pengetahuan konsumen terhadap jenis-jenis dan keunggulan

kulit dengan merancang mini gallery.

4. Untuk mewadahi konsumen yang ingin merasakan sendiri bagaimana

cara membuat barang dari kulit dengan mengadakan workshop.

1.6 Manfaat Perancangan

Manfaat yang bisa didapat dari perancangan Leather Craft Center ini adalah

:

1. Agar meningkatkan penjualan brand lokal yang berbasis online shop ini.

2. Agar meningkatkan rasa percaya konsumen terhadap kualitas barang dari

brand lokal.

3. Tersedianya fasilitas mini gallery dapat menjadi sarana edukasi bagi

konsumen agar konsumen tidak salah memilih jenis kulit yang dipilih.

Sarana pendukung seperti cafe juga akan menarik minat konsumen untuk

datang mengunjungi ke Leather Craft Center sambil mengajak

teman-temannya untuk berkumpul.

4. Tersedianya workshop dapat menjadi sarana bagi konsumen untuk

belajar membuat kerajinan kulit.

1.7 Ruang Lingkup Perancangan

Lingkup perancangan pada Leather Craft Center meliputi area ritel,

mini gallery, workshop, café and lounge, storage room, dan office. Area

ritel merupakan tempat menjual semua produk brand lokal sehingga

konsumen bisa membeli produk kulit dengan mudah. Workshop merupakan

tempat untuk konsumen membuat barang kulit. Café and lounge tempat

untuk pengunjung Leather Craft Center untuk bersantai sehabis belanja

ataupun untuk berkumpul bersama kerabatnya. Leather Craft Center akan

terdapat fasilitas storage khusus sendiri. Untuk mendukung sistem dari

Leather Craft Center, maka perlu office yang mendukung agar setiap

(14)

5 Universitas Kristen Maranatha

1.8 Sistematika Penulisan

BAB I membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, ide/

gagasan perancangan, rumusan masalah, tujuan perancangan, manfaat

perancangan.

BAB II membahas tentang studi literatur kerajinan kulit, definisi ritel, studi

banding, kebutuhan ruang pada Leather Craft Center, dan ergonomi standar

retail.

BAB III membahas tentang analisa site, deskripsi proyek, deskripsi site,

(15)

67 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Dalam perancangan desain Leather Craft Center ini, perancang dapat menyimpulkan bahwa dalam merancang suatu pusat kerajinan kulit diperlukan berbagai fasilitas penting yang mendukung perancangan. Seperti contohnya ada

retail untuk mewadahi produk-produk dari para pengrajin kulit lokal, mini gallery untuk tambahan pengetahuan jenis-jenis kulit dan cara merawatnya, workshop untuk siapa saja yang ingin merasakan sensasi membuat kerajinan

kulitnya sendiri, dan sarana pendukung cafe & lounge untuk pengunjung bisa bersantai sambil mengobrol atau berkumpul bersama teman-teman.

Penerapan tema durable, versatile, natural dan konsep Strong by

Layers pada perancangan Leather Craft Center ini diperlihatkan dengan

konsep bentuk yang organis seperti halnya kulit yang memiliki sifat organis

dan mudah dibentuk namun tetap kuat dan tahan lama. Pemilihan material

pun disesuaikan dengan karakteristik kulit yang natural dan apa adanya,

sehingga material yang dipilih dalam perancangan ini didominasi dengan

material unfinished, seperti contohnya penggunaan material besi yang dibuat

alami tanpa cat ataupun dempul, tetapi tetap di coating agar tidak berkarat.

Penerapan sistem display yang dipakai dalam perancangan ini

didominasi dengan sistem display yang dibuat built-in disesuaikan dengan

kategori barang yang dijual. Sistem pencahayaan yang digunakan pada

perancangan ini, memadukan sistem pencahayaan alami dan buatan. Pada

siang hari didominasi pencahayaan alami pada area-area dekat dengan jendela

agar tidak menghilangkan fungsi jendela di gedung ini. Sistem penghawaan

yang dipakai sepenuhnya buatan agar suhu ruangan stabil dan menjaga

kualitas kulit itu sendiri.

Pengaplikasian suasana ruang yang rileks diterapkan dengan pemilihan

material alami yang sederhana, tidak memakai banyak teknik finishing, yang

(16)

68 Universitas Kristen Maranatha

suasana yang nyaman jauh dari sisi formal. Sisi edukatif yang ditampilkan

pada perancangan ini adalah pemilihan sistem display mini gallery yang

interaktif agar membuat pengunjung tertarik dengan info yang diberikan.

Fasilitas yang dirancang harus menggunakan standar material yang

sesuai, dengan studi literatur dari berbagai macam sumber dan bahkan studi

banding diperlukan dalam menentukan perancangan desain sebuah Leather

Craft Center. Sehingga menjadi acuan bagi para penjual produk kulit di

Indonesia, khususnya di Bandung untuk menjadikan kerajinan kulit sebagai

sebuah kegiatan yang positif dan dapat dikembangkan.

5.2 Saran

Para pembaca diharapkan dapat menentukan konsep dan tema yang

sesuai dengan topik yang diangkat sebelum memulai pekerjaan mendesain.

Selain itu, dalam setiap desain tentu ada standar-standar khusus yang perlu

diperhatikan, yang fungsinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan para

konsumen. Ketepatan menggunakan material dan finishing sehingga sesuai

(17)

PERANCANGAN LEATHER CRAFT CENTER DENGAN

KONSEP STRONG BY LAYERS DI BANDUNG

PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR

Dibuat dan disusun untuk meraih gelar Sarjana Sastra I Program Studi Desain Interior

Semester Ganjil Tahun Ajaran 2016/2017

Disusun oleh :

Jeff Gabriel Yuwono

1263028

JURUSAN DESAIN INTERIOR

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(18)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis bisa

menyelesaikan tugas pembuatan laporan tugas akhir dengan lancar dan baik.

Pembuatan dan peyusunan laporan ini bertujuan untuk memenuhi syarat akademik

tugas akhir untuk meraih gelar sarjana sastra I yang diharuskan oleh setiap mahasiswa/i

dalam menempuh Program Studi Strata 1 Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain

Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Pada kesempatan ini, praktikan ingin mengucapkan rasa hormat dan terimakasih atas

segala bantuan dan bimbingan kepada:

1. Irena V.G. Fajarto, S.T., M.Ecom. selaku Dekan Fakultas Seni Rupa

dan Desain Universitas Kristen Maranatha,

2. Erwin Ardianto Halim, S.Sn., M.F.A. selaku Ketua Jurusan Program

Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas

Kristen Maranatha,

3. Drs. Rachman Yuda, M.M., selaku pembimbing I tugas akhir Studi

Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen

Maranatha,

4. Miky Endro Santoso, S.Sn,. M. T., selaku pembimbing II tugas akhir

Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas

Kristen Maranatha,

5. Keluarga yang memberikan dukungan selama praktikan menjalani

kerja praktik, moral dan material,

6. Semua pihak dan kerabat yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang

telah banyak memberi dukungan dalam kelancaran pelaksanaan kerja

(19)

Akhir kata semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan

penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa pembuatan lapora ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi

perbaikan kearah kesempurnaan. Terimakasih.

Bandung, 20 Desember 2016

(20)

DAFTAR PUSTAKA

D.K. Ching, Francis. 1999. Arsitektur, Bentuk Ruang dan Susunannya, cetakan ketujuh.

Jakarta: Erlangga.

Kuncoro, Mudrajad. 2008. Harian Bisnis Indonesia. 21 Oktober 2008.

Mayer, Ralph. 1940. The Artist’s Handbook of Materials and Techniques. New York: Viking

Penguin.

Michael, Valerie. 1993. The Leatherworking Handbook. London: Cassell & Co.

Neufert, Ernst. 2002. Data Arsitek Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Osborne, Richard. 1985. Kerajinan Kulit : Keterampilan Membuat Barang dari Kulit.

Semarang: Dahara Prize.

Panero, Julius, Martin Zelnik. 1979. Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Jakarta: Erlangga.

Suardana, I Wayan. 2008. Kriya Kulit Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan

Nasional.

Sunarto, Drs. 2001. Pengetahuan Bahan Kulit untuk Seni & Industri. Yogyakarta: Kanisius.

"Terminologi dan perwujudan Seni kriya Masa lalu dan Masa kini: Sebuah pendekatan

Historis-Arkeologis", Makalah dalam Seminar Internasional Seni Rupa, Yogyakarta: Institut

Seni Indonesia.

Gambar

Tabel 3.2 Kebutuhan Ruang ...................................................................................................
Gambar 4.24 Perspektif Meja Workshop ................................................................................

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat sistem mengirimkan notifikasi kepada network administrator melalui email, email yang diterima yaitu berisi data informasi perangkat baru yang terhubung ke

.SDN Gaseuc SDN Kqcung ipN Gteng SD-N Tuwi Saya SDS Lhueng llaro SpN No. Pengguna Anggaran Dinas Pendidikan Kcbudayaan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Acch Barat

Diharapkan kepada saudara supaya membawa Dokumen isian kualifikasi masing- masing 1 (satu) asli dan 1 (satu) rekaman, dan diharapkan saudara datang tepat.. pada waktunya dan apabila

KETERANGAN M engum um kan Rencana Um um Pengadaan Barang/ Jasa unt uk Pelaksanaan Kegiat an Tahun Anggaran 2013, sepert i t ersebut dibaw ah ini

Di SMA taruna Nusantara Magelang sudah terdapat peralatan pembelajaran yang lengkap seperti laptop, perpustakaan, ruang baca bersama, buku pegangan siswa dan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah: Membariskan siswa, memeriksa kehadiran siswa dan berdoa, menjelaskan materi proses belajar yang benar, siswa melaksanakan

Pada bulan Maret 2016 praktik kerja dilakukan di ruangan ICU, HCU, PICU dimana praktik kerja yang dilakukan sesuai dengan kompetensi keperawatan ktitis dalam mata

Pada saat pemilihan bahan yang akan digunakkan untuk bantalan rel kereta api, harus menggunakan bahan pilihan, baik dari kayu, beton maupun bahan – bahan bantalan rel