i Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK
Perkembangan kerajinan kulit di kota Bandung bisa dikatakan semakin pesat dan
beragam. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya banyak produsen lokal yang
menjual kerajinan kulit di media sosial seperti instagram dan facebook.
Namun, di kota Bandung belum banyak terdapat tempat yang dapat menampung
dan sekaligus memasarkan barang-barang kerajinan kulit yang dijual para produsen
lokal. Banyak produsen lokal yang tidak memiliki offline store sehingga membuat
turunnya minat konsumen untuk membeli barang tersebut, dikarenakan banyak
konsumen yang ingin langsung melihat barang aslinya bukan hanya sekedar melihat dari
foto saja. Sedangkan banyak produsen lokal yang sudah memiliki kualitas barang yang
bagus, namun daya pemasarannya rendah dikarenakan tidak memiliki wadah yang
memadai.
Dalam merancang suatu pusat kerajinan kulit diperlukan berbagai fasilitas penting yang mendukung perancangan. Seperti contohnya ada retail untuk mewadahi produk-produk dari para pengrajin kulit lokal, mini gallery untuk tambahan pengetahuan jenis-jenis kulit dan cara merawatnya, workshop untuk siapa saja yang ingin merasakan sensasi membuat kerajinan kulitnya sendiri, dan sarana pendukung cafe & lounge untuk pengunjung bisa bersantai sambil mengobrol atau berkumpul bersama teman-teman.
ii Universitas Kristen Maranatha
ABSTRACT
Leather craft development in the city can be said to be more rapid and diverse. This
can be evidenced by the emergence of many local producers selling leather craft in social
media like instagram and facebook.
However, in the city there are not many places that can accommodate as well as
marketing and leather goods are sold by local producers. Many local producers who do
not have an offline store so that in turn lowers the interest of consumers to buy goods,
because many consumers who want to directly see the original stuff is not just a view of
the photos only. While many local manufacturers who already have a good quality
goods, but due to the low power marketing does not have an adequate container.
In designing a leather craft center required a variety of important facilities that
support the design. For example there are retail to accommodate products from artisans
local skin, mini gallery for additional knowledge of the types of skin and how to care,
workshops for anyone who wants to feel the sensation of making craft his own skin, and
supporting facilities cafe and lounge for visitors can relaxing, chatting or gathering with
friends.
iii Universitas Kristen Maranatha
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 2
1.3 Ide / Gagasan Perancangan ... 3
1.4 Rumusan Masalah ... 3
1.5 Tujuan Perancangan ... 3
1.6 Manfaat Perancangan ... 4
1.7 Ruang Lingkup Perancangan ... 4
1.8 Sistematika Penulisan ... 5
BAB II TINJAUAN DATA LEATHER CRAFT CENTER... 6
2.1 Kerajinan Tangan / Craft ... 6
2.1.1 Definisi Kerajinan Tangan ... 7
2.1.2 Sejarah Kerajinan Tangan di Indonesia ... 8
2.1.3 Unsur – Unsur Kerajinan Tangan ... 10
2.1.4 Kerajinan Tangan di Nusantara ... 10
2.2 Pengertian Kulit / Leather ... 11
2.3 Pengertian Retail ... 13
2.3.1Store Atmosphere ... 13
2.3.2 Store Layout ... 15
iv Universitas Kristen Maranatha
2.4.1 Area Entrance ... 17
2.4.2 Area Penjualan ... 17
2.4.3 Ruang Penyimpanan ... 19
2.4.4 Ruang Kantor ... 20
2.4.5 Mini Gallery ... 21
2.4.6 Café and Lounge ... 25
2.4.7 Ruang Kelas / Workshop ... 26
2.5 Pencahayaan ... 27
2.5.1 Pencahayaan Area Penjualan ... 27
2.5.2 Pencahayaan Kafe ... 28
2.5.3 Pencahayaan pada Area Workshop ... 28
2.5.4 Pencahayaan Area Mini Gallery ... 28
2.6 Studi Banding ... 28
2.7 Ergonomi Ruang pada Leather Craft Center ... 32
BAB III DESAIN PERANCANGAN LEATHER CRAFT CENTER ... 37
3.1 Deskripsi Proyek ... 37
3.2 Deskripsi Site... 38
3.2.1 Analisis Fungsi ... 38
3.2.2 Analisis Site ... 39
3.2.3 Analisis Building ... 41
3.3 Analisa Fungsi ... 43
3.4 Identifikasi User ... 45
3.6 Programming ... 46
3.6.1 Bubble Diagram ... 46
3.6.2 Flow Activity ... 46
3.6.3 Zoning Blocking ... 51
v Universitas Kristen Maranatha
3.7 Ide Implementasi Konsep pada Objek Studi ... 53
3.7.1 Konsep Perancangan ... 54
BAB IV PEMBAHASAN KERJA PRAKTIK ... 56
4.1 Denah General ... 56
4.2 Denah Khusus ... 58
4.2.1 Lobby & Retail Lantai 1 ... 58
4.2.2 Mini Gallery ... 61
4.2.3 Retail Lantai 2 ... 63
4.2.4 Workshop ... 65
BAB V PENUTUP ... 67
5.1 Kesimpulan... 67
5.2 Saran ... 68
vi Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Analisa Site ... 40
vii Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Unionwell Store Bandung ... 28
Gambar 2.2 Display Unionwell Store ... 29
Gambar 2.3 Display Unionwell Store ... 29
Gambar 2.4 Tanner Goods San Fransisco... 30
Gambar 2.5 Display Tanner Goods San Fransisco ... 31
Gambar 2.6 Display Tanner Goods San Fransisco ... 31
Gambar 2.7 Jarak Pandang Optimum ... 32
Gambar 2.8 Ergonomi Display Tinggi... 32
Gambar 2.9 Ergonomi Display Pakaian... 32
Gambar 2.10 Ergonomi Ruang Ganti ... 33
Gambar 2.11 Ergonomi Snack Bar ... 33
Gambar 2.12 Sirkulasi dan Meja Makan Berdua ... 33
Gambar 2.13 Ergonomi Counter Makanan ... 34
Gambar 2.14 Ergonomi Jalur Sirkulasi antara Stool ... 34
Gambar 2.15 Ukuran Minimum dan Optimum Meja Makan ... 34
Gambar 2.16 Ergonomi Meja Makan ... 35
Gambar 2.17 Ergonomi untuk Pelayan dan Sirkulasi ... 35
Gambar 2.18 Sirkulasi Waitress ... 35
Gambar 2.19 Ergonomi Meja untuk Akustik dan Privasi Visual ... 36
Gambar 2.20 Ergonomi Meja Kerja Kerajinan Tangan ... 36
Gambar 3.1 Site Bangunan ... 39
Gambar 3.2 Lokasi Bangunan ... 39
Gambar 3.3 Fasad Bangunan ... 41
Gambar 3.4 Lantai Dasar ... 42
Gambar 3.5 Lantai 1 ... 43
viii Universitas Kristen Maranatha
Gambar 3.7 Zoning Bloking Lt.2 ... 51
Gambar 3.8 Bentukan Organis ... 54
Gambar 3.9 Skema Warna ... 54
Gambar 3.10 Warm Spotlight ... 55
Gambar 3.11 Indirect Lighting ... 55
Gambar 4.1 Denah General Lantai 1 ... 56
Gambar 4.2 Denah General Mezanine ... 56
Gambar 4.3 Denah General Lantai 2 ... 57
Gambar 4.4 Potongan General 1 ... 57
Gambar 4.5Potongan General 2 ... 58
Gambar 4.6 Layout Furniture Lobby & Retail ... 58
Gambar 4.7 Layout Furniture Mezanine ... 58
Gambar 4.8 Potongan Lobby dan Retail Lantai 1 ... 59
Gambar 4.9 Perspektif Area Lobby ... 59
Gambar 4.10 Perspektif Meja Resepsionis ... 60
Gambar 4.11 Perspektif Kolom ... 60
Gambar 4.12 Perspektif Area Retail ... 60
Gambar 4.13 Perspektif Display Retail ... 61
Gambar 4.14 Layout Furniture Mini Gallery ... 61
Gambar 4.15 Potongan Mini Gallery ... 62
Gambar 4.16 Perspektif Mini Gallery ... 62
Gambar 4.17 Layout Furniture Retail Lantai 2 ... 63
Gambar 4.18 Potongan Area Retail ... 63
Gambar 4.19 Perspektif Area Retail Lantai 2 ... 64
Gambar 4.20 Perspektif Detail ... 64
Gambar 4.21 Layout Furniture Workshop ... 65
ix Universitas Kristen Maranatha
Gambar 4.23 Perspektif Workshop ... 66
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Industri kecil dan menengah merupakan kelompok industri yang
paling bertahan dalam menghadapi krisis perekonomian Indonesia.
Mudrajad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober
2008 mengemukakan bahwa pada masa krisis ekonomi tahun 1998-2001
menunjukkan fakta bahwa UMKM secara umum justru lebih mampu
bertahan hidup dan tumbuh sekitar 11% per tahun dibanding industri skala
besar yang hanya sekitar 6% per tahun. Industri kecil pada umumnya
berawal dari industri rumah tangga dengan skala mikro yang kemudian
berkembang. Dengan skala produksi yang kecil, maka diharapkan tingkat
fleksibilitas dari perusahaan lebih baik yang pada akhirnya dapat lebih
bertahan pada saat terjadi krisis apabila dibandingkan dengan industri besar.
Di berbagai wilayah Indonesia industri kecil dan menengah
mengalami perkembangan yang pesat. Salah satunya industri kerajinan
kulit. Banyak muncul kawasan industri kerajinan kulit di berbagai wilayah
Indonesia, antara lain Sidoarjo, Cibaduyut (Bandung), Jogjakarta, Magetan
serta wilayah-wilayah lainnya di luar Pulau Jawa. Bandung memiliki
kawasan industri yaitu kerajinan kulit yang banyak menghasilkan berbagai
macam barang mulai dari sarung tangan, ikat pinggang, sandal, sepatu, tas
dan barang-barang lainnya.
Perkembangan kerajinan kulit di kota Bandung bisa dikatakan
semakin pesat dan beragam. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya
banyak produsen lokal yang menjual kerajinan kulit di media sosial seperti
instagram dan facebook.
Namun, di kota Bandung belum banyak terdapat tempat yang dapat
menampung dan sekaligus memasarkan barang-barang kerajinan kulit yang
dijual para produsen lokal. Banyak produsen lokal yang tidak memiliki
2 Universitas Kristen Maranatha
barang tersebut, dikarenakan banyak konsumen yang ingin langsung melihat
barang aslinya bukan hanya sekedar melihat dari foto saja. Sedangkan
banyak produsen lokal yang sudah memiliki kualitas barang yang bagus,
namun daya pemasarannya rendah dikarenakan tidak memiliki wadah yang
memadai.
Selain itu ketidaktahuan konsumen terhadap kualitas barang-barang
kulit juga menjadi sebuah kendala yang dirasakan para penjual. Banyak
konsumen yang lebih memilih kulit sintetis atau imitasi dikarenakan harga
yang jauh lebih murah dan keanekaragaman warna dan finishing yang
beragam. Walaupun sebenarnya untuk masalah kualitas, kulit asli sangat
jauh lebih tahan lama dan kuat. Sebenarnya tidak harus mengeluarkan biaya
tinggi untuk mendapatkan sebuah barang berbahan kulit, sebagai contohnya
adalah salah satu produsen lokal di Bandung yang memproduksi sepatu
yang dijual dengan kisaran harga 200-300 ribu rupiah saja untuk
mendapatkan sepasang sepatu kulit.
Kerajinan kulit diidentikan dengan teknik-teknik yang sulit dan
alat-alat yang mahal untuk bisa membuatnya. Saat ini belum banyak tempat
yang menyediakan kursus untuk orang yang ingin belajar membuat
kerajinan kulit, dikarenakan tidak tersedianya wadah dan alat-alat untuk
membuat kerajinan kulit.
Sehingga dalam kesempatan ini, saya ingin menciptakan sebuah
wadah untuk orang-orang yang ingin menjual kerajinan kulit, mempelajari
lebih dalam tentang kulit, dan memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar
membuat kerajinan kulit.
1.2 Identifikasi Masalah
Mengacu pada latar belakang, maka dapat ditemukan beberapa
masalah yang banyak dialami oleh para produsen lokal kerajinan kulit yaitu
tidak tersedianya offline store, kurangnya rasa percaya konsumen terhadap
produsen lokal sehingga membuat konsumen ragu untuk membeli barang
tersebut, tidak tersedianya sarana untuk pembelajaran tentang jenis-jenis dan
3 Universitas Kristen Maranatha
1.3 Ide / Gagasan Perancangan
Setelah melihat identifikasi masalah yang ada maka dalam merancang
sebuah Leather Craft Center di Bandung perlunya dibuat sebuah tempat
yang dapat menampung barang-barang dari para produsen lokal kerajinan
kulit, sebuah mini gallery yang membahas mengenai jenis-jenis dan
keunggulan kulit, dan tempat kursus untuk membuat kerajinan kulit. Sarana
pendukung seperti cafe and lounge juga akan menarik minat konsumen
untuk datang ke Leather Craft Center.
Suasana ruang yang ingin ditampilkan adalah mengambil suasana
pada era tahun 1900an yang akan mengangkat gaya desain vintage
industrial. Beberapa material yang dipakai adalah kayu, metal, batu, kulit,
dan konkrit, sehingga akan menampilkan suasana ruang yang mendukung
untuk perancangan Leather Craft Center ini.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan latar belakang di atas, maka
dibuatlah sebuah rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menerapkan tema durable, versatile, natural dan konsep
Strong by Layers pada perancangan interior Leather Craft Center di
Bandung.
2. Bagaimana menerapkan sistem display, pencahayaan, penghawaan,
sirkulasi, yang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan interior di Leather
Craft Center.
3. Bagaimana mengaplikasi suasana ruang yang nyaman dan rileks, tapi
tetap menghadirkan sisi edukatif dan kreatifitas pada perancangan
interior Leather Craft Center.
1.5 Tujuan Perancangan
Tujuan dari perancangan Leather Craft Center ini :
1. Menaikkan minat konsumen terhadap brand lokal yang ada di Bandung
4 Universitas Kristen Maranatha
2. Dengan menyediakan offline store agar konsumen dapat melihat barang
langsung sehingga dapat meningkatkan rasa kepercayaan konsumen.
3. Menambah pengetahuan konsumen terhadap jenis-jenis dan keunggulan
kulit dengan merancang mini gallery.
4. Untuk mewadahi konsumen yang ingin merasakan sendiri bagaimana
cara membuat barang dari kulit dengan mengadakan workshop.
1.6 Manfaat Perancangan
Manfaat yang bisa didapat dari perancangan Leather Craft Center ini adalah
:
1. Agar meningkatkan penjualan brand lokal yang berbasis online shop ini.
2. Agar meningkatkan rasa percaya konsumen terhadap kualitas barang dari
brand lokal.
3. Tersedianya fasilitas mini gallery dapat menjadi sarana edukasi bagi
konsumen agar konsumen tidak salah memilih jenis kulit yang dipilih.
Sarana pendukung seperti cafe juga akan menarik minat konsumen untuk
datang mengunjungi ke Leather Craft Center sambil mengajak
teman-temannya untuk berkumpul.
4. Tersedianya workshop dapat menjadi sarana bagi konsumen untuk
belajar membuat kerajinan kulit.
1.7 Ruang Lingkup Perancangan
Lingkup perancangan pada Leather Craft Center meliputi area ritel,
mini gallery, workshop, café and lounge, storage room, dan office. Area
ritel merupakan tempat menjual semua produk brand lokal sehingga
konsumen bisa membeli produk kulit dengan mudah. Workshop merupakan
tempat untuk konsumen membuat barang kulit. Café and lounge tempat
untuk pengunjung Leather Craft Center untuk bersantai sehabis belanja
ataupun untuk berkumpul bersama kerabatnya. Leather Craft Center akan
terdapat fasilitas storage khusus sendiri. Untuk mendukung sistem dari
Leather Craft Center, maka perlu office yang mendukung agar setiap
5 Universitas Kristen Maranatha
1.8 Sistematika Penulisan
BAB I membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, ide/
gagasan perancangan, rumusan masalah, tujuan perancangan, manfaat
perancangan.
BAB II membahas tentang studi literatur kerajinan kulit, definisi ritel, studi
banding, kebutuhan ruang pada Leather Craft Center, dan ergonomi standar
retail.
BAB III membahas tentang analisa site, deskripsi proyek, deskripsi site,
67 Universitas Kristen Maranatha
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Dalam perancangan desain Leather Craft Center ini, perancang dapat menyimpulkan bahwa dalam merancang suatu pusat kerajinan kulit diperlukan berbagai fasilitas penting yang mendukung perancangan. Seperti contohnya ada
retail untuk mewadahi produk-produk dari para pengrajin kulit lokal, mini gallery untuk tambahan pengetahuan jenis-jenis kulit dan cara merawatnya, workshop untuk siapa saja yang ingin merasakan sensasi membuat kerajinan
kulitnya sendiri, dan sarana pendukung cafe & lounge untuk pengunjung bisa bersantai sambil mengobrol atau berkumpul bersama teman-teman.
Penerapan tema durable, versatile, natural dan konsep Strong by
Layers pada perancangan Leather Craft Center ini diperlihatkan dengan
konsep bentuk yang organis seperti halnya kulit yang memiliki sifat organis
dan mudah dibentuk namun tetap kuat dan tahan lama. Pemilihan material
pun disesuaikan dengan karakteristik kulit yang natural dan apa adanya,
sehingga material yang dipilih dalam perancangan ini didominasi dengan
material unfinished, seperti contohnya penggunaan material besi yang dibuat
alami tanpa cat ataupun dempul, tetapi tetap di coating agar tidak berkarat.
Penerapan sistem display yang dipakai dalam perancangan ini
didominasi dengan sistem display yang dibuat built-in disesuaikan dengan
kategori barang yang dijual. Sistem pencahayaan yang digunakan pada
perancangan ini, memadukan sistem pencahayaan alami dan buatan. Pada
siang hari didominasi pencahayaan alami pada area-area dekat dengan jendela
agar tidak menghilangkan fungsi jendela di gedung ini. Sistem penghawaan
yang dipakai sepenuhnya buatan agar suhu ruangan stabil dan menjaga
kualitas kulit itu sendiri.
Pengaplikasian suasana ruang yang rileks diterapkan dengan pemilihan
material alami yang sederhana, tidak memakai banyak teknik finishing, yang
68 Universitas Kristen Maranatha
suasana yang nyaman jauh dari sisi formal. Sisi edukatif yang ditampilkan
pada perancangan ini adalah pemilihan sistem display mini gallery yang
interaktif agar membuat pengunjung tertarik dengan info yang diberikan.
Fasilitas yang dirancang harus menggunakan standar material yang
sesuai, dengan studi literatur dari berbagai macam sumber dan bahkan studi
banding diperlukan dalam menentukan perancangan desain sebuah Leather
Craft Center. Sehingga menjadi acuan bagi para penjual produk kulit di
Indonesia, khususnya di Bandung untuk menjadikan kerajinan kulit sebagai
sebuah kegiatan yang positif dan dapat dikembangkan.
5.2 Saran
Para pembaca diharapkan dapat menentukan konsep dan tema yang
sesuai dengan topik yang diangkat sebelum memulai pekerjaan mendesain.
Selain itu, dalam setiap desain tentu ada standar-standar khusus yang perlu
diperhatikan, yang fungsinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan para
konsumen. Ketepatan menggunakan material dan finishing sehingga sesuai
PERANCANGAN LEATHER CRAFT CENTER DENGAN
KONSEP STRONG BY LAYERS DI BANDUNG
PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR
Dibuat dan disusun untuk meraih gelar Sarjana Sastra I Program Studi Desain Interior
Semester Ganjil Tahun Ajaran 2016/2017
Disusun oleh :
Jeff Gabriel Yuwono
1263028
JURUSAN DESAIN INTERIOR
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BANDUNG
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis bisa
menyelesaikan tugas pembuatan laporan tugas akhir dengan lancar dan baik.
Pembuatan dan peyusunan laporan ini bertujuan untuk memenuhi syarat akademik
tugas akhir untuk meraih gelar sarjana sastra I yang diharuskan oleh setiap mahasiswa/i
dalam menempuh Program Studi Strata 1 Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain
Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
Pada kesempatan ini, praktikan ingin mengucapkan rasa hormat dan terimakasih atas
segala bantuan dan bimbingan kepada:
1. Irena V.G. Fajarto, S.T., M.Ecom. selaku Dekan Fakultas Seni Rupa
dan Desain Universitas Kristen Maranatha,
2. Erwin Ardianto Halim, S.Sn., M.F.A. selaku Ketua Jurusan Program
Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas
Kristen Maranatha,
3. Drs. Rachman Yuda, M.M., selaku pembimbing I tugas akhir Studi
Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen
Maranatha,
4. Miky Endro Santoso, S.Sn,. M. T., selaku pembimbing II tugas akhir
Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas
Kristen Maranatha,
5. Keluarga yang memberikan dukungan selama praktikan menjalani
kerja praktik, moral dan material,
6. Semua pihak dan kerabat yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang
telah banyak memberi dukungan dalam kelancaran pelaksanaan kerja
Akhir kata semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa pembuatan lapora ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan kearah kesempurnaan. Terimakasih.
Bandung, 20 Desember 2016
DAFTAR PUSTAKA
D.K. Ching, Francis. 1999. Arsitektur, Bentuk Ruang dan Susunannya, cetakan ketujuh.
Jakarta: Erlangga.
Kuncoro, Mudrajad. 2008. Harian Bisnis Indonesia. 21 Oktober 2008.
Mayer, Ralph. 1940. The Artist’s Handbook of Materials and Techniques. New York: Viking
Penguin.
Michael, Valerie. 1993. The Leatherworking Handbook. London: Cassell & Co.
Neufert, Ernst. 2002. Data Arsitek Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Osborne, Richard. 1985. Kerajinan Kulit : Keterampilan Membuat Barang dari Kulit.
Semarang: Dahara Prize.
Panero, Julius, Martin Zelnik. 1979. Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Jakarta: Erlangga.
Suardana, I Wayan. 2008. Kriya Kulit Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
Sunarto, Drs. 2001. Pengetahuan Bahan Kulit untuk Seni & Industri. Yogyakarta: Kanisius.
"Terminologi dan perwujudan Seni kriya Masa lalu dan Masa kini: Sebuah pendekatan
Historis-Arkeologis", Makalah dalam Seminar Internasional Seni Rupa, Yogyakarta: Institut
Seni Indonesia.