• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar pendidikan agama islam dan budi pekerti siswa SD Negeri Balongtani.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar pendidikan agama islam dan budi pekerti siswa SD Negeri Balongtani."

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh :

MUHAMAD IMRON ROSADI NIM. D71213120

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

M. Imron Rosadi. 2017. Pengaruh Eksistensi Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan

Agama Islam Dan Budi Pekerti SD Negeri Balongtani, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dosen Pembimbing Drs. Sutikno, M.Pd.I

dan Dr. A. Rubaidi, M.Ag.

Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana bentuk eksistensi keluarga siswa SD Negeri Balongtani? (2) Bagaimana prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa SD Negeri Balongtani? (3) Apakah ada korelasi antara eksistensi keluarga yang berbeda terhadap prestasi belajar siswa?

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang ada di sebuah desa yang bernama Desa Balongtani. Dimana di desa tersebut banyak sekali orang tua siswa yang berprofesi sebagai petani dan jarang sekali melihat cara belajar anaknya, memperhatikan anaknya belajar dll.

For 2 variables are Variable x is existention of family while variable y is achievement of study. Untuk penggalian data, penulis mengambil dengan cara dokumentasi dan angket.

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini menggunakan dua variabel.

Hasil yang diperoleh yaitu hipotesis alternatif (Ha) yang mengatakan bahwa “pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa di SD Negeri Balongtani,” diterima, dan hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan bahwa “tidak ada pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa di SD Negeri Balongtani,” ditolak.

(7)

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN...

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I : PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 8

C. TUJUAN PENELITIAN ... 8

D. MANFAAT PENELITIAN ... 9

E. HIPOTESIS... 10

F. PENELITIAN TERDAHULU ... 11

G. RUANG LINGKUP DAN KETERBATASAN PENELITIAN ... 11

H. DEFINISI OPERASIONAL ... 17

(8)

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN EKSISTENSI KELUARGA ... 23

B. PENGERTIAN PRESTASI BELAJAR ... 40

C. PENGERTIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ... 43

D. PENGARUH VARIABEL X DAN VARIABEL Y ... 44

E. MASALAH YANG DIHADAPI KELUARGA ... 49

BAB III : METODE PENELITIAN A. METODE PENELITIAN... 51

B. METODE ANALISIS DATA... 57

BAB IV : HASIL PENELITIAN A. GAMBARAN UMUM OBJEK SD ... 62

B. PENYAJIAN DATA ... 65

C. ANALISIS DATA ... 70

BAB V : PENUTUP A. KESIMPULAN ... 96

B. SARAN ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 96

(9)

Tabel 4.1 Barang Inventaris ... 64

Tabel 4.2 Keadaan Guru SD ... 65

Tabel 4.3 Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VI ... 66

Tabel 4.4 Pendidikan Terakhir Orang Tua ... 68

Tabel 4.5 Deskripsi Hasil Angket ... 71

Tabel 4.6 – 4.20 Pertanyaan ... 75

Tabel 4.21 Kualifikasi Interval ... 83

Tabel 4.22 Interval Nilai Eksistensi Keluarga ... 85

Tabel 4.23 Distribusi Frekuensi ... 85

Tabel 4.24 Interval Nilai PAI... 86

Tabel 4.25 Analisis Eksistensi Keluarga dan Prestasi Belajar ... 86

Tabel 4.26 Interpretasi Angka Indeks ... 92

(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengaruh eksistensi keluarga memiliki tempat yang sangat vital dalam

lingkungan keluarga itu sendiri. Karena proses belajar yang paling awal bagi

anak-anaknya terjadi dilingkup keluarga tersebut. Sikap orang tua juga

dituntut untuk terus memantau perkembangan belajar anak dari hari ke hari.

Orang tua yang paham dengan pendidikan, akan peduli kepada proses belajar

anaknya. Beda dengan orang tua yang minim akan pengetahuan tentang

pendidikan, mereka cenderung tidak mau tahu akan proses belajar anaknya.

Apalagi di Desa Balongtani yang saya jadikan tempat penelitian, kebanyakan

dari orang tua tersebut kurang peduli terhadap proses belajar anaknya. Di

karenakan mereka pergi pagi, pulang sore yang hanya memikirkan

ladang/sawah tempat mereka mencari nafkah. Dan sedikit sekali orang tuanya

yang peduli dengan proses belajar anak. Melihat dari kegiatan sehari-hari

orang tua nya yang sibuk bekerja sebagai petani.

Menurut Prof. H. Mahmud Yunus, pendidikan adalah suatu usaha

yang disengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang

bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani, dan akhlaq.

(11)

manusia agar tidak terjerembab pada derajat hewani karena sebagai wadah

sosialisasi individu dan menanamkan rasa malu.1

Karena proses pendidikan tidak mutlak harus dibebankan kepada

guru. Orang tua mempunyai tanggung jawab penuh atas pendidikan

anak-anaknya. Peran orang tua menyediakan materi dan membantu anaknya

saat-saat mengalami kesulitan dalam proses belajar. Faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan proses belajar yaitu faktor lingkungan keluarga,

lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dari beberapa faktor

tersebut, salah satu kunci dalam pendidikan ialah peranan orang tua dalam

lingkungan keluarga siswa untuk sebagai pendorong yang memberi semangat,

penasehat serta menjadi teman sebagai contoh anaknya, selain sebagai orang

yang mencintai, yang memberi kasih sayang, dan tempat bertanya anaknya.

Menurut Anang Santoso dalam Riana menyatakan bahwa “keluarga memiliki

kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan manusia Indonesia

masa depan yang modern dengan tuntunan zaman.

Sejak dini orang tua dapat menanamkan nilai nilai modernitas yang

akhirnya dapat dikembangkan sendiri oleh anak didik di dalam perjalanan

hidupnya. Perhatian yang cukup dan perlakukan orang tua yang bijaksana

terhadap anak, akan berdampak pada kemampuan pengembangan potensi diri

anak yang melahirkan motivasi belajar yang tinggi dan kemampuan

berkonsentrasi dalam aktivitas belajarnya yang akhirnya berpengaruh kepada

pencapaian prestasi yang maksimal. Lingkungan keluarga (orang tua)

1

Muhaimin Azzet, Akhmad. Urgensi Pendidikan Karakter Di Indonesia, (Jakarta. AM

(12)

3

merupakan pusat pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Keluarga

merupakan proses penentu dalam keberhasilan belajar.2 Orang tua sebagai

pendidik pertama karena orang tualah yang pertama mendidik anaknya sejak

dini dan sebagai pendidik utama karena pendidikan yang diberikan orang tua

merupakan dasar dan sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya.

Anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan dapat

meluangkan waktu belajar lebih banyak dan lebih tekun daripada yang kurang

memiliki atau sama sekali tidak memiliki motivasi belajar. Kebanyakan orang

tua hanya pasif memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar lebih

giat lagi. Orang tua yang sadar dengan tanggung jawab tersebut akan lebih

arif dalam menyediakan lingkungan yang mendukung dalam proses belajar

anaknya. Menurut Muhammad Shoehib dalam Riana agar keluarga dapat

memainkan perannya sebagai pendidik, mereka perlu dibekali dengan

pengetahuan dan keterampilan.

Keterkaitan orang tua dalam hal ini sangat penting, apalagi kalau

dilihat dalam pendidikan. Salah satu contohnya, apabila ada pekerjaan rumah

yang tidak bisa dijawab, orang tua sebaiknya membantu dan membimbing

anaknya. Sehingga peran orang tua tidak hanya sekedar memberikan uang

jajan atau menyekolahkan dia, tetapi juga ikut berperan dalam proses

pendidikan anaknya. Dalam proses pendidikan semua pihak terlibat, dan oleh

karenanya baik guru, siswa, dan orang tua mesti kreatif. Selama ini sebagian

2

(13)

orang tua berpikir bahwa pendidikan itu hanya merupakan tanggung jawab

sekolah.

Proses belajar di sekolah dapat dimulai dengan memasukkan anak ke

TK, SD, SMP/MTS, SMA/MA, dan bahkan sampai ke perguruan tinggi.

Sementara di sekolah, guru diberi tanggung jawab sebagai pengajar dan

pembimbing. Orang tua yang memiliki cita-cita tinggi pula terhadap

pendidikan anak-anaknya. Sama halnya di SD Negeri Balongtani, tingkat

pendidikan orang tua siswa berbeda-beda. Cara membimbing anak belajar di

rumah akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak, sehingga anak di

sekolah akan mempunyai prestasi belajar yang berbeda sesuai dengan

bimbingan yang diperoleh anak dari orang tuanya berpendidikan tinggi

ternyata berhasil dalam mendidik anaknya. Keberhasilan mendidik anak

disini adalah anak yang di sekolah pintar dan memperoleh prestasi yang baik,

prestasi belajar anaknya antara lain penelitian yang dilakukan oleh Bloom

yang menunjukkan bahwa “Dorongan orang tua merupakan hal yang utama di

dalam mengarahkan (goal) atau cita-cita anak”.

Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan perannya orang tua

hendaknya:

1. Mengenali kemampuan anak dan jangan menuntut anak melebihi

kemampuannya

2. Jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak atau adiknya

atau dengan orang lain, sebab setiap anak mempunyai kemampuan

(14)

5

3. Menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya

4. Membantu anak mengatasi masalahnya

5. Tingkatkan semangat belajar anak, misalnya memberi pujian,

pelukan, belaian, atau ciuman

6. Jangan mencela anak dengan kata-kata yang menyakitkan,

misalnya mencela dengan kata-kata “bodoh”, “tolol”, atau yang

lainnya karena anak yang sering mendapatkan cap seperti itu pada

akhirnya akan mempunyai pandangan bahwa dirinya memang

bodoh dan tolol

7. Mendidik adalah tanggung jawab bersama, maksudnya ayah dan

ibu mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mendidik anak

8. Senantiasa berdoa agar anak mendapat hasil terbaik.

Sebenarnya kalau kita melihat peran orang tua dalam meningkatkan

prestasi belajar anaknya, sampai saat ini masih sangat kurang terutama orang

tua yang sibuk dengan aktivitasnya.3 Keluarga adalah lingkungan masyarakat

terkecil yang merupakan lingkungan pendidikan primer yang bersifat

fundamental. Institusi keluarga sangat berperan dalam pembentukan proses

pembelajaran anak. Besar kecilnya persoalan, sumbernya kembali pada

pendidikan dan pertumbuhan sejak dinidalam keluarga, dimana perjalanan

anak manusia secara bertahap dimulai sejak terbukanya mata terhadap

kehidupan.

3

(15)

Seorang ibu atau ayah mampu memainkan peranan sebagai secara

utuh dan tepat, maka bukan saja dia telah memenuhi kewajiabannya

semata-mata melainkan telah ikut pula andil bagi upaya memelihara kelangsungan

hidup bangsa dan negara. Pada hakekatnya, setiap orang tua mempunyai

harapan agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik

dan saleh, agar tidak terjerumus kepada perbutan-perbuatan yang dapat

merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Harapan-harapan ini kiranya

lebih mudah terwujud apabila sejak semula orang tua menyadari akan

peranan mereka sebagai orang tua harus memperhatikan anak setiap hari

walaupun sesibuk apapun, anak jangan sampai terlupakan dalam mengontrol

dan mendidiknya, memberi kasih sayang dan memberi bimbingan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Luqman

ayat 13

ٌمۡيظع ٌمۡلظـل ۡرِشلا َ ا ؕ ّٰاب ۡ ر ۡشت ِ َىنبٰي هظعي وهو هنۡب ِ ن ٰ ۡ ل اق ۡذاو

Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya,

diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu

mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah

benar benar kezaliman yang besar". (Q.S. Al-Luqman:13).

Menurut Noerhadi (2004:8), belajar adalah suatu perubahan tingkah

laku yang relatif tetap yang terjadi sebagai hasil pengalaman atau

latihan.Dalam hal ini dapat dikatakan mengetahui, memahami, dapat

melakukan sesuatu dan sebagainya. Setiap orang sudah tentu mendambakan

anak-anaknya memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Karena dia selalu

(16)

7

Kartini Kartono, ada beberapa orang tua yang kurang memperhatikan

mengenai prestasi belajar anaknya seperti tidak mengatur waktu jadwal

anaknya, tidak melengkapi alat belajarnya, tidak mau tau kemajuan

belajarnya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain-lain yang

menyebabkan anak kurang berhasil dalam belajarnya. Mungkin anak sendiri

sebetulnya pandai, tetapi karena cara belajarnya tidak teratur, akhirnya

kesukaran-kesukaran menumpuk sehingga mengalami ketinggalan dalam

belajarnya.

Hal ini dapat terjadi pada dari keluarga yang orang tuanya terlalu

sibuk dengan urusan mereka sendiri. Di Desa Balongtani sebagian besar

warganya adalah berpencaharian sebagai petani, meraka berangkat pagi dan

pulang sore hari, sehingga setelah pulang dari sawah mereka lelah dan kurang

memperhatikan perkembangan belajar anaknya. Di dalam rumah anak-anak

memerlukan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Pada dasarnya,

kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan berbagai persoalan seperti

malas belajar, bertingkah laku liar dan sulit berkonsentrasi dalam belajar,

akibatnya prestasi belajar anak menurun.

Berdasarkan uraian diatas apa yang telah dilakukan selama ini oleh

kedua orang tua siswa akan dapat mempengaruhi prestasi belajar. Atas dasar

permasalahan tersebut di atas, maka Penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi

belajar pendidikan agama islam dan budi pekerti siswa SD Negeri

(17)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka

penulis akan merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana bentuk eksistensi keluarga siswa SD Negeri

Balongtani?

2. Bagaimana prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi

Pekerti siswa SD Negeri Balongtani?

3. Apakah ada korelasi antara eksistensi keluarga yang berbeda

terhadap prestasi belajar siswa?

C. Tujuan Penelitian

1. Pengaruh eksistensi keluarga memiliki tempat yang sangat vital

dalam lingkungan keluarga itu sendiri. Karena proses belajar yang

paling awal bagi anak-anaknya terjadi lingkup keluarga tersebut.

Sikap orang tua juga dituntut untuk terus memantau perkembangan

belajar anak dari hari ke hari. Orang tua yang paham dengan

pendidikan, akan peduli kepada proses belajar anaknya. Beda

dengan orang tua yang minim akan pengetahuan tentang

pendidikan, mereka cenderung tidak mau tahu akan proses belajar

anaknya. Apalagi di Desa Balongtani yang saya jadikan tempat

penelitian, kebanyakan dari orang tua tersebut kurang peduli

terhadap proses belajar anaknya karena banyak dari mereka yang

hanya lulusan SD. Mereka pergi pagi pulang sore yang hanya

(18)

9

sedikit sekali orang tuanya yang peduli dengan proses belajar anak.

Melihat dari kegiatan sehari-hari orang tua nya yang sibuk bekerja

sebagai petani.

2. Begitu pula untuk mengetahui adanya dampak dari pengaruh

eksistensi keluarga orang tua siswa SD Negeri Balongtani terhadap

prestasi belajar siswa/anaknya di mata pelajaran tertentu yaitu mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Agar bisa

lebih meningkatkan lagi prestasi belajar anaknya.

3. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital terhadap

kehidupan kita sehari-hari. Agar kita mengetahui mana yang salah

dan mana yang benar. Pada lembaga-lembaga pendidikan

umumnya, pendidikan tentang agama merupakan hal yang vital,

khususnya Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Keberadaan

orang tua juga dibutuhkan ketika kita sebagai anak dalam proses

belajar dan juga mengetahui tingkat prestasi belajar anak.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi sekolah dan orang tua siswa, hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan manfaat berupa bahan informasi tentang hal-hal

yang berhubungan dengan prestasi belajar.

2. Sedangkan untuk penulis atau peneliti, hasil penelitian ini

merupakan latihan bagi penulis dalam mengaplikasikan teori dan

(19)

pikiran dan analisis secara sistematis dalam memecahkan masalah

yang timbul di masyarakat dengan menggunakan metode ilmiah

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap persoalan-persoalan

penelitian yang belum benar secara penuh dan kebenarannya itu harus

dibuktikan dengan penelitian.

Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Hipotesis Awal (Hipotesis Nol)

Hipotesis awal merupakan hipotesis yang mengadung peryataan

yang menyangkal dan biasanya ditulis dengan (Ho). Dalam

penelitian ini menyatakan bahwa “Tidak Ada Pengaruh eksistensi

keluarga terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekerti siswa SD Negeri Balongtani”.

2. Hipotesis Alternatif (Hipotesis Kerja)

Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang isinya mengandung

pernyataan yang tidak menyangkal dan biasa ditulis dengan (Ha).4

Dalam penelitian ini hipotesis Alternatif (Ha) yaitu menyatakan

“Ada Pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa SD Negeri

Balongtani”.

F. Penelitian Terdahulu yang Relevan

4

(20)

11

Pada penelitian terdahulu yang relevan yaitu berjudul “PENGARUH

LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

KELAS X PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK ELEKTRONIKA SMKN 1

MAGELANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Skripsi ini dibuat oleh

Mizan Ibnu Khajar pada tahun 2012. Penelitian tersebut dilakukan dengan

menggunakan metode kuantitatif.

G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini akan membahas

tentang variabel X dan variabel Y, yaitu hubungan antara eksistensi keluarga

dengan prestasi belajar. Dalam metode penelitian ini, penulis akan

menggunakan metode penelitian yang dianut dalam pengumpulan dan analisis

data yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian. Oleh karena itu, apapun

bentuk dan jenis penelitian yang hendak dilakukan pasti menimbulkan

rancangan.

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik

perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian sering dinyatakan

sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala

yang akan diteliti.5

2. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian Ex-post facto yang bersifat korelasional. Di mana penelitian mengkaji hubungan antara dua

5

(21)

variabel yaitu variabel eksistensi keluarga siswa dan variabel

prestasi belajar siswa di mana variabel tersebut telah terjadi

sebelum kegiatan penelitian.

3. Variabel dan Desain Penelitian

Penelitian ini melibatkan dua buah variabel yaitu variabel bebas

berupa status eksistensi keluarga siswa dan diberi simbol (X), serta

variabel terikat berupa prestasi belajar siswa dan diberi simbol (Y).

Berdasarkan rumusan di atas, maka dapat digambarkan hubungan

antar variabel penelitian sebagai berikut:

Keterangan:

X: Eksistensi keluarga siswa SD Negeri Balongtani

Y: Prestasi Belajar siswa SD Negeri Balongtani

4. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau dapat diartikan

juga sebagai kumpulan kasus yang memilki syarat-syarat tetentu

yang berkaitan dengan masalah penelitian.6 Populasi penelitian ini

adalah kurang lebih 42 siswa kelas VI SD Negeri Balongtani di

mana hal ini didasarkan menurut Suharsimi bahwa “ jika ukuran

populasi lebih dari 100 maka sampel dari populasi tersebut diambil

antara 10%-15% atau 20%-25%” namun jika masih dibawah 100

sampel, maka yang diambil sesuai dengan sampel yang terkumpul.7

6

Mandalis, Metode Penelitian Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 53

7

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta.

(22)

13

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan

diteliti.8 Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara

mengambil siswa kelas VI SD Negeri Balongtani. Selanjutnya

pemberian angket kepada siswa untuk orang tuanya.

5. Teknik Pengumpul Data

Yaitu mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis

dan terjun langsung terhadap gejala yang tampak pada obyek

penelitian.9 Teknik pengumpulan data yang dilakukan guna

memperoleh data yang sesuai dengan variabel penelitian adalah

sebagai berikut:

a. Data Prestasi belajar siswa diperoleh dengan teknik

dokumentasi, di mana data-data nilai siswa sampel penelitian

diambil dari dokumen sekolah berupa buku rapor.

b. Data tentang eksistensi keluarga diperoleh dengan menggunakan

angket, yaitu suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan

mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti.10

Angket

tersebut dibagikan kepada siswa dan akan diisi oleh orang tua

siswa yang bersangkutan.

6. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini hanya berupa angket tentang

eksistensi keluarga siswa. Instrumen tersebut dikembangkan dalam

beberapa indikator yaitu eksistensi keluarga dan beberapa

8

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 91

9

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 145

10

(23)

pertanyaan mengenai keberadaan orang tua terhadap dampingan

serta bimbingan belajar anaknya. Sebelum angket digunakan, maka

dilakukan proses validasi konstruk oleh dosen yang berkempeten.

7. Teknik Analisa Data

Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan dengan memadukan

teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif

menggunakan dua macam teknik statistik, yaitu statistik deskriptif

dan statistik inferensial. Statistik deskriptif ditujukan untuk

mendeskripsikan data hasil penelitian berupa rata-rata, proporsi,

persentase, standar deviasi, grafik, dan tabel-tabel distribusi skor,

terhadap setiap variabel yang diteliti. Statistik inferensial

digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, yakni menguji

hubungan antara prestasi belajar siswa dengan eksistensi keluarga

siswa, baik secara parsial maupun secara bersama-sama. Analisis

kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan memberi

pemaknaan terhadap hasil-hasil yang diperoleh pada analisis

kuantitatif serta hasil-hasil pengamatan (observasi), wawancara dan

angket. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan

data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang

sederhana dan lebih mudah dipahami.11

Setelah data terkumpul, data tersebut diklasifikasikan. Adapun metode

analisis data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:

11

(24)

15

1. Data bersifat kualitatif, yaitu data yang digambarkan dengan

kata-kata atau kalimat. Rumusan yang digunakan adalah rumusan

persentasi yaitu12:

Keterangan:

P : Angka persentase

f : Frekuensi yang dicari persentasenya

N : Jumlah frekuensi

Setelah diketahui jumlah persentase kemudian ditafsirkan dengan

kalimat bersifat kualitatif, sebagai berikut:

Baik : 76% - 100%

Cukup : 56% - 75%

Kurang baik : 40% - 55%

Tidak baik : Kurang dari 40%

2. Data berifat Kuantitatif, yaitu data yang digunakan untuk

memberikan kesimpulan melalui angka-angka yang diperoleh

dalam analisis statistik. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik

analisis product moment dengan rumusan sebagai berikut:13

12

Subana, dkk. Statistik pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia.2005), 12.

13

Subana, dkk. Statistik pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia.2005), 13.

(25)

df = N-2

rxy : Angka indeks korelasi “r” product moment

N : Jumlah frekuensi, perkalian antara skor X dan Y

Hasil dari perhitungan tersebut dikonsultasikan ke table nilai “r”

product moment dengan terlebih dahulu mencari derajat df dengan Rumus:

Jika harga r hitung lebih kecil dari “r” product moment, maka korelasi

tersebut tidak signifikan, begitu pula sebaliknya. Dalam memberikan

interpretasi angka korelasi “r” pada umumnya digunakan sebagai berikut:

Besarnya r Interpretasi

0,00 - 0,20 Sangat lemah atau rendah

0,20 - 0,40 Lemah atau rendah

0,40 - 0,70 Cukup

0,70 - 0,90 Kuat atau tinggi

0,90 - 1,00 Sangat kuat atau tinggi

Sebelum dilakukan uji hipotesis, diperlukan uji persyaratan analisis.

Menurut Sugiyono mengemukakan sebelum melakukan uji korelasi maka

harus dilakukan uji persyaratan analisis yang harus dipenuhi yaitu uji

normalitas dan homogenitas. Untuk itu, analisisnya menggunakan

perhitungan secara manual dan bantuan komputer dengan program SPSS For Windows.

Teknik analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian

(26)

17

menggunakan perhitungan secara manual dan bantuan perangkat lunak

komputer (software) SPSS.

8. Tempat dan Subyek Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian di SD

Negeri Balongtani.

H. Definisi Operasional 1) Eksistensi

Eksistensi adalah kata yang berasal dari bahasa Latin yaitu existere

yang memiliki arti: muncul, ada, dan timbul. Menurut Muhammad Abidin

Zaenal, eksistensi ialah suatu proses dinamis yang menjadi ada. Dalam kamus

besar Bahasa Indonesia, eksistensi diartikan sebagai keberadaan. Artinya,

eksistensi menejelaskan tentang penilaian ada atau tidak adanya pengaruh

terhadap keberadaan seseorang tersebut.14 Karl Jaspers menerangkan

eksistensi sebagai tujuan supaya semua orang paham dan sadar bahwa setiap

orang memiliki keunikan yang berbada satu dengan yang lain.

Sebab eksistensi merupakan sesuatu yang sifatnya individual sehingga

bisa ditentukan oleh masing-masing individu. Dan menuurt Karl Jaspers,

semua orang memiliki sebuah keberadaan yang khas dan unik, itulah yang

dinamakan sebagai eksistensi individu. Sehingga setiap orang yang dapat

menentukan jati diri atas keberadaannya dan mampu berdiri diantara

eksistensi orang lain maka mereka akan mendapatkan eksistensi yang sejati.

14

(27)

Begitu juga dengan sebuah keberadaan keluarga, umumnya diakui

bahwa keberadaan sebuah keluarga adalah dalam rangka untuk memenuhi

fungsi-fungsi dasar tertentu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup

manusia, yakni pemberian nafkah, mengasuh anak, dan melindungi keluarga.

2) Keluarga

Keluarga ialah sebuah lingkungan kecil yang terdapat di masyarakat,

yang terbentuk dari sebuah tali pernikahan. Menurut Sigmund Freud, pada

dasarnya keluarga terbentuk karena adanya perkawinan antara laki-laki

dengan wanita. Bahwa menurut beliau, keluarga merupakan manifestasi dari

pada dorongan seksual suami isteri. Maka dapat dipahami, bahwa pengertian

keluarga adalah sekumpulan orang yang memiliki hubungan darah atau

perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental

mendasar bagi satu keluarganya yang terjalin dalam satu jaringan.

a) Karakteristik keluarga menurut Narwoko dan Suyanto adalah:

1) Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan

darah, perkawinan atau adopsi.

2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah

mereka tetap memperhatikan satu sama lain.

3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing

mempunyai peran sosial: suami, istri, dan anak.

b) Mempunyai tujuan: menciptakan dan mempertahankan budaya,

(28)

19

Dari penjelasan di atas, eksistensi keluarga dapat dilihat dari peranan

orang tua tersebut dalam lingkup keluarganya. Seberapa besar pengaruhnya

terhadap lingkungan keluarganya itu sendiri, terlebih khusus kepada proses

belajar anaknya. Sehingga dengan turut serta orang tua dalam proses belajar

anaknya, dapat membantu dalam peningkatan mutu belajar anaknya untuk

memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Karena pendidikan pertama yang

diterima oleh seorang anak, dimulai dari lingkungan keluarganya itu sendiri.

Seorang anak berhak mendapatkan pendidikan, bimbingan dan dampingan

dari orang tuanya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua yang mengenyam

pendidikan lebih tinggi akan lebih aktif memantau perkembangan belajar,

psikis, dan biologis anaknya. Zahara Idris mengatakan, bahwa pendidikan

terakhir seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengembangan potensi fisik,

emosional, sosial, moral, pengetahuan dan keterampilan.

Tidak semua orang tua yang berpendidikan tinggi, prestasi anak ikut

tinggi atau baik. Karena melihat realita yang ada, orang tua yang

berpendidikan tinggi akan menjadi sibuk dengan kesibukannya. Sehingga

untuk membimbing dan memantau perkembangan anak ketika belajar pun

ikut terganggu, dikarenakan banyaknya kesibukan yang ada pada setiap orang

tua. Tidak menutup kemungkinan, orang tua yang berpendidikan rendah, juga

dapat mempengaruhi tingkat prestasi belajar anak. Dengan kebiasaan

orang-orang pedesaan yang sibuk dengan masalah pertanian. Dari pagi hingga sore,

(29)

untuk menemani anak atau membimbing anak belajar pun berkurang, karena

pada malam hari orang tua merasa capek dan lelah.

3) Prestasi Belajar

Prestasi bisa juga disebut hasil yang telah diraih, jadi prestasi belajar

juga merupakan hasil belajar. Menurut Anni prestasi belajar merupakan

perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas

belajar. Apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka

perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan. Hasil belajar

dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa

sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Pendapat senada tentang hasil belajar seperti dikemukakan oleh

Hamalik, hasil belajar akan tampak perubahan aspek dan tingkah laku

manusia, aspek-aspek tersebut yakni pengetahuan, pengertian, kebiasaan,

keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti,

dan sikap.15 Dari pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa prestasi

belajar adalah hasil yang telah dicapai selama siswa menuntut ilmu baik itu

pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari stimulan pada

lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan melalui pembelajaran. Bentuk

konkrit prestasi belajar tersebut dapat dilihat dari hasil yang berupa nilai

akademik.

4) Pendidikan Agama Islam

15

(30)

21

Menurut Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip Oleh Abdul Majid,

Dian Andayani pendidikan agama islam adalah suatu usaha untuk membina

dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam

secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat

mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.

Pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani yaitu Paedagogie

yang berarti Pendidikan dan Paedagogie yang berarti pergaulan dengan anak-anak.16

Agama dalam kamus Besar bahasa Indonesia yaitu kepercayaan

kepada Tuhan dengan ajaran kebangkitan dan kewajiban-kewajiban yang

bertalian dengan kepercayaan itu.17

Jadi, yang dimaksud dengan pendidikan agama islam yaitu suatu

usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar

kelak selesai proses pendidikannya dapat memahami, menghayati dan

mengamalkan agama Islam serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan baik

pribadi maupun kehidupan dalam masyarakat.18

I. Sistematika Pembahasan

BAB I : PENDAHULUAN

Sebagai landasan awal munculnya rumusan masalah yang

dijabarkan dalam latar belakang masalah, juga membahas tentang

16

Armai Arif, Reformulasi Pendidikan Islam, (Ciputat: CRSD PRESS, 2007), 15.

17

Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 9.

18

(31)

tujuan dan kegunaan penelitian, definisi operasional judul

penelitian, metode penelitian, dan hipotesis.

BAB II : LANDASAN TEORI

Terdiri dari tinjauan tentang pengertian Eksistensi keluarga,

Prestasi belajar siswa, faktor-faktor pendukung prestasi belajar

siswa.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Berisi tentang ...

BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN

Berisi tentang deskripsi data yaitu tentang gambaran umum obyek

penelitian, meliputi sejarah berdirinya sekolah, letak geografis

sekolah, struktur organisasi sekolah, keadaan guru, siswa,

karyawan, sarana dan prasarana sekolah, penyajian data dan

analisis data.

BAB V : PENUTUP

(32)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Eksistensi Keluarga

1. Pengertian Eksistensi Keluarga

Eksistensi adalah kata yang berasal dari bahasa Latin yaitu existere

yang memiliki arti: muncul, ada, dan timbul. Menurut Muhammad Abidin

Zaenal, eksistensi ialah suatu proses dinamis yang menjadi ada. Dalam kamus

besar Bahasa Indonesia, eksistensi diartikan sebagai keberadaan. Artinya,

eksistensi menejelaskan tentang penilaian ada atau tidak adanya pengaruh

terhadap keberadaan seseorang tersebut.14 Karl Jaspers menerangkan

eksistensi sebagai tujuan supaya semua orang paham dan sadar bahwa setiap

orang memiliki keunikan yang berbada satu dengan yang lain.

Sebab eksistensi merupakan sesuatu yang sifatnya individual sehingga

bisa ditentukan oleh masing-masing individu. Dan menuurt Karl Jaspers,

semua orang memiliki sebuah keberadaan yang khas dan unik, itulah yang

dinamakan sebagai eksistensi individu. Sehingga setiap orang yang dapat

menentukan jati diri atas keberadaannya dan mampu berdiri diantara

eksistensi orang lain maka mereka akan mendapatkan eksistensi yang sejati.

Begitu juga dengan sebuah keberadaan keluarga, umumnya diakui

bahwa keberadaan sebuah keluarga adalah dalam rangka untuk memenuhi

fungsi-fungsi dasar tertentu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup

manusia, yakni pemberian nafkah, mengasuh anak, dan melindungi keluarga.

14

(33)

Di samping itu, keluarga bertindak sebagai mediator yang penting

antara masyarakat dan individu dan membentuk matriks dimana

kebutuhan-kebutuhan pribadi agar terpenuhi. Keluarga diartikan sebagai suatu satuan

sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial, yang ditandai

dengan adanya kerja sama ekonomi. Fungsi keluarga adalah berkembang

biak, mensosialisasi, mendidik anak, menolong, melindungi, atu merawat

orang-orang tua (jompo). Bentuk keluarga terdiri dari seorang suami, seorang

istri, dan anak-anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama (

keluarga inti). Yang dilakukan secara resmi terbentuk dari hasil perkawinan.

Setiap individu akan saling berhubungan. Ibarat suatu benda yang

tersusun atas beberapa bagian penyusunnya, mulai dari atom sebagai partikel

penyusun terkecilnya, begitu pula hubungan antara individu, keluarga, dan

masyarakat. Kita semua tahu bahwa manusia selain merupakan makhluk

individu, juga merupakan makhluk sosial. Sehingga mereka tidak dapat hidup

sendiri, melainkan harus saling mengadakan hubungan sosial antara satu

individu dengan yang lainnya karena mereka saling membutuhkan.

Keluarga ialah sebuah lingkungan kecil yang terdapat di masyarakat,

yang terbentuk dari sebuah tali pernikahan. Menurut Sigmund Freud, pada

dasarnya keluarga terbentuk karena adanya perkawinan antara laki-laki

dengan wanita. Bahwa menurut beliau, keluarga merupakan manifestasi dari

pada dorongan seksual suami isteri. Maka dapat dipahami, bahwa pengertian

(34)

25

perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental

mendasar bagi satu keluarganya yang terjalin dalam satu jaringan.

Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga menurut Narwoko

dan Suyanto adalah: Beberapa individu yang berkumpul menjadi satu akan

membentuk sebuah keluarga, yang merupakan unit/satuan masyarakat terkecil

yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat.15

Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya. Keluarga inilah

yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya

dalam masyarakat.

a. Beberapa pengertian dari keluarga :

1) Duvall dan Logan: Keluarga adalah sekumpulan orang dengan

ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk

menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap

anggota keluarga.

2) Bailon dan Maglaya: Keluarga adalah dua atau lebih individu

yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan

darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu

dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan

menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.

3) Departemen Kesehatan RI: Keluarga merupakan unit terkecil

dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa

15

(35)

orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu

atap dalam keadaan saling ketergantungan.

b. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah:

1) Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan

darah, perkawinan atau adopsi.

2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah

mereka tetap memperhatikan satu sama lain.

3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan

masing-masing mempunyai peran sosial: suami, istri, dan anak.

4) Mempunyai tujuan: menciptakan dan mempertahankan budaya,

meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial

anggota.

2. Struktur Keluarga

a. Patrilineal: keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara

sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun

melalui jalur ayah.

b. Matrilineal: keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara

sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun

melalui jalur garis ibu.

c. Matrilokal: sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga

sedarah ibu.

d. Patrilokal: sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga

(36)

27

e. Keluarga kawinan: hubungan suami istri sebagai dasar bagi

pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi

bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

3. Fungsi Pendidikan Keluarga

Pendidikan yang pertama kali diperoleh anak adalah pendidikan yang

dilaksanakan dalam keluarga. Lebih dari itu keluarga sebagai lembaga

pendidikan informal mempunyai tugas-tugas yang tidak kalah pentingnya

dalam kaitannya dengan pendidikan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh

Amir Daein Indrakusuma bahwa tugas utama dari keluarga dalam rangka

penyelenggaraan pendidikan bagi anak ialah merupakan peletak dasar bagi

pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan, sifat dan tabiat anak

sebagian besar diambil dari orang tuanya dan dari anggota keluarganya yang

lainnya.16

Dalam Surat At-Tahrim ayat 6, Allah Swt berfirman:

ي لا ا ياي

ا ان م يلهاو م سفنا اوق اونما ن

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan

keluargamu dari api neraka”.17

Pada dasarnya hubungan pendidikan dalam keluarga adalah

didasarkan atas adanya hubungan kodrati antar orang tua dan anak.

Pendidikan keluarga didasarkan pada perasaan cinta, dan kasih sayang yang

murni. Rasa cinta dan kasih sayang inilah yang menjadi sumber kekuatan

16

Amir Daein Indrakusuma, PengantarIlmu Pendidikan, (Malang: FIP IKIP Malang, 1973), h. 109

17

Departemen Agama RI. Al-Qur’an, h. 951. Dalam kaitannya dengan hal ini Hamdani

menyatakan bahwa anak itu merupakan amanat dari Allah Swt. Yang dipercayakan kepada ibunya.

(37)

yang tak kunjung padam dari orang tua untuk memberi bimbingan dan

pertolongan yang dibutuhkan oleh anak. Karena pendidikan dalam keluarga

ini merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan ini

berlangsung sampai akhir hayat manusia. Sehingga keluarga dalam rangka

melaksanakan pendidikan, diharapkan dapat memainkan peranan penting

dalam ketujuh bidang pendidikan, yaitu:18

1. Peranan keluarga dalam pendidikan jasmani dan kesehatan.

Dalam lingkungan keluarga anak harus dibiasakan hidup yang

sehat. Anak dilatih untuk selalu menjaga kebersihan, baik

kebersihan dalam kaitannya dengan badan, tempat, pakaian

maupun segala sesuatu yang melekat pada badanya atau yang ada

disekitarnya. Dalam hal ini orang tua selain memberikan

pengarahan juga harus mengonrol atas segala hal yang dilakukan

oleh anaknya, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan

jasmaninya. Lebih dari itu orang tua juga hendaknya mempunyai

pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu kesehatan, khususnya

yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

2. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Akal.

Dalam kaitannya dengan pendidikan akal, orang tua mempunyai

peranan yang signifikan. Karena sebelum anak mencapai usia

(masuk) sekolah, orang tua atau keluargalah yang berkewajiban

untuk membimbing dan mengarahkan kemampuan akal yang

18

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta:

(38)

29

dimiliki oleh anak menolong untuk menemukaan, membuka dan

menumbuhkan bakat dan minat, sehingga mencapai sikap

intelektual yang sehat.

3. Peranan Keluarga Bagi Pendidikan Agama Anak.

Pendidikan agama, dalam hal ini berarti membangkitkan kekuatan

dan kisediaan spiritual yang bersifat naluri yang ada pada anak usia

kanak-kanak. Dinama dalam hal ini bisa dilakukan melalui

bimbingan agama yang sehat dan pengamalan ajaan-ajaran

agamanya secara baik. Diantara cara-cara yang praktis yang patut

digunakan keluarga untuk menanamkan semangat keagamaan pada

diri anak, antara lain seperti berikut:

a. Memberikan suri tauladan yang baik kepada diri anak tentang

kekuatan iman kepada Allah Swt. Dan berpegang pada

ajaran-ajaran agamanya secara sempurna.19

b. Membiasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama semenjak

kecil sehingga kebiasaan-kebiasaan itu menjadi sesuatu hal yang

mendarah daging.

c. Mewujudkan situasi keluarga yang agamis, dan segala sesuatu

yang dilakukan selalu disertai niat yang ikhlas karena Allah Swt

d. Membimbing mereka untuk belajar membanca Al-Qur'an dan

membaca bacaan-bacaan yang islami yang berguna untuk

19

(39)

memikirkan ciptaan Allah sebagai salah satu tanda-tanda

kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.

e. Menggalakkan mereka untuk turut serta dalam

kegiatan-kegiatan keislaman atau kegiatan-kegiatan yang agamis.

4. Peranan keluarga dalam psikological dan emosi.

Dalam hal ini, tugas keluarga (orang Tua) adalah berusaha untuk

mematangkan perkembangan jiwa dan emosi anak. Diantara

usaha-usaha yang bisa dilakukan oleh tua itu adalah menolong mereka

untuk berhasil dalam belajarnya dan menunaiakan tugas yang

dipikulnya kepadanya, berkata dan bersikap dengan sopan santun

(hormat)

5. Peranan keluarga bagi pendidikan akhlak anak.

Pendidikan akhlak dalam agama Islam adalah pendidikan yang

diutamakan. Dimana hal ini sesuai dengan visi dan misi Nabi

Muhammad Saw, yaitu beliau diutus untuk menyempurnakan

akhlak mulia. Oleh karena itu pendidikan akhlak bagi anak-anak

harus diutamakam sedini mungkin, dan jangan sampai hal-hal yang

bisa menyebabkan rusaknya akhlak itu masuk terlebih dahulu pada

diri anak. Keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan

akhlak ini sebagai institusi yang pertama kali berinteraksi dengan

anak. Kelurga sebaiknya menanamkan sifat kasih sayang,

(40)

31

dan sifat-sifat terpuji lainnya. Diantara kewajiban keluarga itu

antara lain adalah sebagai berikut:

a. Memberi contoh yang baik (uswah hasanah) kepada anak-anaknya dengan berpegang kepada akhlak yang mulia.

b. Menyediakan peluang dan suasana yang praktis bagi anak,

sehinggga anak dapat mempraktekkan akhlak yang diterima dari

orang tuanya.

c. Memberi tanggung jawab kepada anak-anak yang sesuai dengan

kemampuannya, agar mereka belajar bertanggung jawab dan

bebas mengerjakan tugasnya.

d. Menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan

wajar dan bijaksana.

e. Menjaga mereka dari teman-teman yang menyeleweng dan

pergaulan yang membahayakan bagi akhlaknya.

6. Peranan keluarga dalam pendidikan sosial dan politik

Keluarga belum melengkapi tugas kelurga secara sempurna dalam

pendidikan anak, selama belum menolong anak-anaknya untuk

dapat berkembang secara baik dalam linghkungan kehidupan sosial

kemasyarakatnya. Perkembangan sosial ini meliputi politik.

Pendidikan sosial ini membutuhkan bimbingan sosial dan poltik

kemasyarakat. Dalam pengertian yang sederhana adalah

menjadikan anak untuk dapat bergaul dengan masyarakat

(41)

Orang tua harus menanamkan pada diri anaknya, bahwa manusia

tidak bisa hidup sendiri, dia membutuhkan orang lain untuk untuk

menemani adan menjalani hidup bersama. Yang didalamnya ada

aturan dan kesepakatan yang dibuat oleh anggota masyarakat untuk

saling melindungi, menjaga dan bekerja sama melindungi

hidupnya.20

Dari penjelasan diatas, kiranya dapat dipahami akan fungsi peran

keluarga dalam rangka melaksanakan pendidikan, khususnya pendidikan

yang berkaitan dengan agama dan pendidikan moral sehingga pada akhirnya

keluarga sebagai lembaga pendidikan informal bisa melaksanakan pendidikan

itu secara optimal, dan pada akhirnya pula yang dilaksanakan dilingkungan

keluarga itu diharapkan mampu mengatasi sedini mungkin akan krisis moral

atau dekadensi moral yang terjadi di kalangan generasi mendatang.

4. Tingkat Pendidikan

a. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 1, pada dasarnya jenjang

pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan

tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan

kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan menurut UU No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha

sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didika secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

20

Zahrudin AR,Hasanudin Sinaga,Pengantar Studi Akhlak,(Jakarata:Raja Grafindo Jakarta,2004),

(42)

33

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

negara. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha untuk meningkatkan

kepribadian dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya,

yaitu rokhani (pikir, cipta, rasa, dan hati nurani) serta jasmani

(panca indera dan keterampilan-keterampilan).

b. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Pendidikan

bertujuan untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan

mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia

yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan

berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan,

kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan

bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Untuk

mencapai tujuan tersebut, pendidikan diselenggarakan melalui

jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur

pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal). Jalur

pendidikan sekolah (pendidikan formal) terdapat jenjang

pendidikan sekolah, jenjang pendidikan sekolah pada dasarnya

terdiri dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan

menengah, dan pendidikan tinggi.

b. Pendidikan prasekolah.

1) Menurut PP No. 27 tahun 1990 dalam Kunaryo, pendidikan

(43)

dan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di luar

lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang

diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur

pendidikan luar sekolah.

c. Pendidikan dasar

1) Menurut PP No. 28 tahun 1990 dalam Kunaryo, pendidikan

dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun.

Diselengarakan selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga

tahun di sekolah menengah lanjutan tingkat pertama atau satuan

pendidikan yang sederajat. Tujuan pendidikan dasar adalah

untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik

untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi anggota

masyarakat, warga Negara dan anggota umat manusias serta

mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan

menengah.

d. Pendidikan Menengah

1) Menurut PP No. 29 tahun 1990 dalam Kunaryo, pendidikan

menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi

pendidikan dasar. Bentuk satuan pendidikan yang terdiri atas:

Sekolah Menengah Umum, Sekolah Menengah Kejuruan,

Sekolah Menengah Keagamaan, Sekolah Menengah Kedinasan,

(44)

35

e. Pendidikan Tinggi

1) Menurut UU No. 2 tahun 1989 dalam Kunaryo, pendidikan

tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang

diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi

anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau

professional yang dapat menerapkan, mengembangkan, atau

menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Satuan

pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut

perguruan tinggi, yang dapat berbentuk akademi, politeknik,

sekolah tinggi, institut atau universitas.

Dalam penelitian ini untuk mengetahui eksistensi keluarga selain

dilihat dari jenjangnya juga dapat dilihat dari tahun sukses atau lamanya

orang tua sekolah. Semakin lama orang tua bersekolah berarti semakin tinggi

jenjang pendidikannya. Contohnya, orang tua yang hanya sekolah 6 tahun

berarti hanya sekolah sampai SD berbeda dengan orang yang sekolahnya

sampai 12 tahun berarti lulusan SMA dan selanjutnya. Pendidikan terakhir

yang pernah ditempuh orang tua berpengaruh pada kelanjutan sekolah anak

mereka.

Orang tua yang memiliki pendidikan yang tinggi mempunyai

dorongan atau motivasi yang besar untuk menyekolahkan anak mereka.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

(45)

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.21

Menurut Carter V. Good Pendidikan adalah proses perkembangan

kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam

masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu

lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga ia dapat

mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.

UNESCO badan PBB menyebutkan bahwa: pendidikan itu sekarang

adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih

belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan

perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa

lalu, sekarang, dan masa datang. Ki Hajar Dewantara mengemukakan

pengertian pendidikan sebagai berikut: Pendidikan adalah tuntunan didalam

hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan berarti daya upaya untuk

memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak-anak.

Definisi Pendidikan menurut Encyclopedia Americana: Pendidikan

merupakan sebarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh

pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap ataupun

keterampilan-keterampilan.

21

(46)

37

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono berpendapat bahwa

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dilihat dari faktor dalam diri

(faktor internal) dan faktor dari luar diri (faktor internal) individu.

a. Faktor internal terdiri dari:

1) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan ataupun

yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan,

pendengaran struktur tubuh dan sebagainya.

2) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh, yang terdiri atas:

a) Faktor intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian yang tidak

tertentu.

b) Faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat

c) Faktor kecakapan yang nyata yaitu prestasi yang dimiliki.

3) Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu

seperti sikap, minat, kebiasaan, motivasi, emosi, kebutuhan dan

penyesuaian diri.

4) Faktor kematangan fisik maupun psikis

b. Faktor eksternal terdiri dari:

1. Faktor sosial yang terdiri dari:

a) Lingkungan keluarga yang merupakan salah satu lembaga

yang amat menentukan terhadap pembentukan pribadi anak,

karena dalam keluarga inilah anak menerima pendidikan dan

(47)

lainnya. Di dalam keluarga inilah seorang yang masih dalam

usia muda diberikan dasar-dasar kepribadian, karena pada

usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh yang datang dari

luar dirinya.

b) Lingkungan sekolah merupakan lembaga pendidikan yang

amat penting bagi kelangsungan pendidikan anak. Sebab

tidak semahal yang dapat diajarkan di lingkungan keluarga

karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang

dimiliki oleh orang tua. Sekolah bertugas sebagai pembantu

dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada

anak-anak mengenai apa yang tidak didapat atau tidak ada

kesempatan orang tua untuk memberikan penddidikanssdan

pengajaran di dalam keluarga.

c) Lingkungan masyarakat adalah lingkungan besar yang ada

disekitar kita tinggal

Pengaruh eksistensi keluarga terhadap prestasi belajar anak Dalam

lingkungan keluarga yang berperan menjadi pendidik adalah orang tua (ayah

dan ibu). Orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama dalam

membantu mengembangkan potensi anak-anaknya. Orang tua dikatakan

sebagai pendidik pertama, karena orang tualah yang pertama mendidik

anaknya sejak dilahirkan, dikatakan sebagai pendidik utama, karena

pendidikan yang diberikan orang tua merupakan dasar dan sangat

(48)

39

Orang tua yang memiliki tingkat pendi dikan tinggi biasanya memiliki

cita-cita yang tinggi pula terhadap pendidikan anak-anaknya. Cita-cita dan

dorongan ini akan mempengaruhi sikap dan perhatiannya terhadap

keberhasilan pendidikan anak-anaknya di sekolah. Keberhasilan pendidikan

seorang anak terutama yang menyangkut pencapaian prestasi belajar yang

baik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah bagaimana

cara orang tua mengarahkan cara belajar anaknya. Zahara Idris mengatakan

mengatakan bahwa pendidikan terakhir seseorang erat kaitannya dengan

tingkat pengembangan potensi fisik, emosional, sosial, moral, pengetahuan

dan keterampilan.

Jadi pendidikan terakhir seseorang akan berpengaruh dengan

perkembangan potensi yang dimilikinya termasuk potensi emosional,

pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan kematangan emosional,

pengetahuan, sikap yang dimiliki orang tua sedikit banyaknya akan

memberikan kontribusi bagi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Sehingga pengertian pendidikan terakhir orang tua di sini dengan bekal ilmu

serta kedewasaan yang dimiliki, lebih memungkinkan orang tua untuk

bertindak lebih bijaksana dalam mengarahkan anaknya belajar yang sesuai

dengan taraf usia anak dan mampu menunjang keberhasilan prestasi belajar

(49)

B. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi bisa juga disebut hasil yang telah diraih, jadi prestasi belajar

juga merupakan hasil belajar. Menurut Anni prestasi belajar merupakan

perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas

belajar. Apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka

perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan. Hasil belajar

dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa

sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Pendapat senada tentang hasil belajar seperti dikemukakan oleh

Hamalik, hasil belajar akan tampak perubahan aspek dan tingkah laku

manusia, aspek-aspek tersebut yakni pengetahuan, pengertian, kebiasaan,

keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti,

dan sikap.22 Dari pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa prestasi

belajar adalah hasil yang telah dicapai selama siswa menuntut ilmu baik itu

pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari stimulan pada

lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan melalui pembelajaran. Bentuk

konkrit prestasi belajar tersebut dapat dilihat dari hasil yang berupa nilai

akademik.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian

hasil belajar atau prestasi belajar. Orangtua pun perlu untuk mengetahui apa

22

(50)

41

saja faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar pada anak mereka,

sehingga orang tua dapat mengenali penyebab dan pendukung anak dalam

berprestasi. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan menurut

Djaali H. dalam sebuah bukunya berjudul Psikologi Pendidikan yaitu:

a) Faktor dari dalam Diri

1) Kesehatan

Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala,

pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak

tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan

pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat

mempengaruhi proses belajar.

2) Intelegensi

Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap

kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual

spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.

3) Minat dan Motivasi

Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan

mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi

merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu.

Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar

(51)

4) Cara Belajar

Orang tua perlu untuk memperhatikan bagaimana teknik belajar

anaknya, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu

belajar, tempat serta fasilitas belajar.

b) Faktor dari Lingkungan

1) Keluarga

Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak.

Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan

orang tua dan saudara, bimbingan orang tua, dukungan orang

tua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak dengan cara

menemani anak ketika belajar, membimbing anak, membantu

anak ketika kesulitan dalam belajar dan mengingatkan anak

untuk belajar.

2) Sekolah

Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi

teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga

mempengaruhi anak dalam proses belajar.

3) Masyarakat

Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang

berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka.

(52)

43

4) Lingkungan sekitar

Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim

juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

3. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam

menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga

mengimani, ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk

menghormati penganut agama Lain dalam hubungannya dengan kerukunan

antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip Oleh Abdul Majid,

Dian Andayani pendidikan agama islam adalah suatu usaha untuk membina

dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam

secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat

mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.

Pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani yaitu Paedagogie

yang berarti Pendidikan dan Paedagogie yang berarti pergaulan dengan anak-anak.23

23

(53)

Agama dalam kamus Besar bahasa Indonesia yaitu kepercayaan

kepada Tuhan dengan ajaran kebangkitan dan kewajiban-kewajiban yang

bertalian dengan kepercayaan itu.24

Jadi, yang dimaksud dengan pendidikan agama islam yaitu suatu

usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar

kelak selesai proses pendidikannya dapat memahami, menghayati dan

mengamalkan agama Islam serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan baik

pribadi maupun kehidupan dalam masyarakat.25

C. Pengaruh Eksistensi Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam.

Partisipasi orang tua besar pengaruhnya terhadap proses belajar anak

dan prestasi belajar yang akan dicapai oleh anak. Hasil penelitian menurut

Baker dan Stevenson menunjukkan bahwa, peran atau partisipasi orang tua

memberikan pengaruh baik terhadap penilaian guru kepada siswa. Orang tua

mempunyai peran serta untuk ikut menentukan inisiatif, aktivitas terstruktur

di rumah untuk melengkapi program-program pendidikan di sekolah

sebagaimana yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, juga dinyatakan bahwa jaringan komunikasi yang dibangun

oleh orang tua sangat penting dalam menentukan keberhasilan siswa di

masyarakat. Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya,

misalnya mereka acuh tak acuh terhadap proses belajar anaknya, tidak

memperhatikan sama sekali akan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam

24

Anton M. Moeliono, et.al, kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 9.

25

Gambar

Tabel 3.1 Interpretasi Product Moment
Tabel 4.1
Tabel 4.2 Keadaan Guru SD Negeri BalongtaniKabupaten Sidoarjo Tahun 2016/2017
Tabel 4.3 Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SiswaKelas VI
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak sehingga skripsi yang Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dan

PROGRAM TAHUNAN Sekolah : SD Negeri 107/VIII Giri Purno Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti Kelas : III Tiga Semester : 2 Tahun Pelajaran : 2023 / 2024 No

Soal ulangan harian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tentang hari

Panduan ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah

Capaian pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di kelas XII Fase

Penilaian akhir semester mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas V SD Negeri di Kabupaten Banyumas untuk tahun ajaran

Urutan Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Siswa Sekolah Dasar Fase

Kisi-kisi soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas