• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risalah Muroqobah.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Risalah Muroqobah.pdf"

Copied!
255
0
0

Teks penuh

(1)

1

RISALAH

RISALAH

MUR

MUROQO

OQOBAH

BAH

(PESAN

(PESAN

dalam

RENUNGAN)

RENUNGAN)

disusun oleh : Ir. HM. Munawir

disusun oleh : Ir. HM. Munawir

Rangkuman Naskah Pengajian dan Khothbah

Rangkuman Naskah Pengajian dan Khothbah

Diterbitkan oleh :

Penerbit “Al-Ma’muriyah” Solo.

(2)

2

Pengantar

Pengantar

,

,

,

:

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Alloh SWT disertai Sholawat dan Salam bagi Junjun gan Kita Nabi Besa r Muhammad SAW, k ami ber-Syukur bahwa naskah

“Risalah Muroqobah”

“Risalah Muroqobah”

ini dapat tersusun dengan bentuk yang sederhana. InsyaAlloh mudah dib aca. Naskah ini merupak an kumpulan dari sebag ian naskah -naskah yang berisi uraian/sajian yang pernah disampaikan oleh penyusun dalam pengajian-pengajian dikalangan terbatas, yaitu untuk para sanak keluarga, para teman sekerja (sebelum pensiun), tetangga dan para handai taulan yang lain. Selain itu, beberapa diantaranya merupakan bahan khotbah yang disampaikan penyusun untuk

para jama’ah

dimasjid-masjid dilingkungan tempat tinggal dan lingkungan kantor tempat penyusun bertugas. Oleh karenanya bagi para sanak keluarga, teman sekerja, tetangga dan handai taulan lain yang pernah mendengarkannya, maka naskah ini sekedar melengkapi catatan yang pernah dimiliki.

Bagi yang baru pertama membaca, Insya -Alloh dapat ikut menambah pemahaman yang sudah dimiliki sebelumnya. Muatan yang terkandung dalam naskah ini pada umumnya kurang memiliki bobot keilmuan yang tinggi, dikarenakan dasar keilmuan yang dimiliki penyusun sendiri masih sangat terbat as, baik dalam segi pendalamannya

maupun kemampuan profisinya dalam da’wah. Selain itu pengajian yang biasa

diadakan dan khotbah-khotbah dimasjid umumnya memiliki topik yang menyesuaikan kondisi masarakat saat uraian tersebut diberikan yang bersifat spontan. Tetapi penyusun yakin para pembaca sangat memahami hal itu, untuk itu penyusun mohon

ma’af atas segala kekurangan yang ada.

Penerbitan berikut ini merupakan penerbitan yang kedua dan Insya-Alloh lebih sempurna, karena saran-saran perbaikan dan koreksi para pembaca pada penrbitan pertama sudah diusahakan ditampung. Dan atas saran dan koreksi para pemb aca kami ucapkan te rimakasih Jaza-kumullo-hu Kho jaza'.

Dalam penyusunan naskah ini, penyusun sang at berter ima kasih dengan penuh rasa

hormat, kepada semua fihak, yang pertama para ‘Ulama yang telah membimbing

dengan memberikan teladan, memberikan ‘ilmu dari tulisan dan uraian yang

disampaikan yang tertangk ap oleh penyusun, kemudian para keluarg a dekat, tetangg a,

teman kerja, handai taulan dan para jama’ah yang memberikan

a.l: dorongan, bantuan dan masukan untuk melengkap i naskah ini, sehingga Insya -Alloh lebih leng kap. Atas segala bimbingan serta bantuan tersebut Insya -Alloh akan di-Anugerah-kan balasan yang lebih baik dari Alloh SWT.

Akhirnya penyusun berharap mudah -mudahan naskah ini memberi manfaat bagi yang membacanya. A-min.

.

.

Yogyakarta,11 Maret 2013

Penyusun, M. Munawir.

(3)

3

Daftar Isi :

Daftar Isi :

Halaman P P e e n n g g a a n n 22 BAB: BAB: II..I I Q Q A A D D A A H H 55

(1). A l

I m a n. (2(2).). AtAt-Ta-Tauhuhi-di-d.. (3) Al-Yaqi-n. (4) A l - H i d a y a h. (5) At-Taqwa. (6) Syirik. (7) K u f u r. (8) N i f a q. (9) Iman Kepada Malaikat.(9) Iman Kepada Malaikat. (10) Fungsi yang dibebankan kepada Malaikat. (11) J i n n. (12) Iblis dan Syaithon. (13)(13) Al-Q u r a n.

Al-Q u r a n. (14) Keutamaan Membac a dan Mempel ajari Al-Quran . (15) Keutamaan Surat al-Fatihah. (16) Tiga Golongan Pewaris Al-Quran. (17) Rosululloh.(17) Rosululloh. (18) Tanda-tanda Kerosulan. (19) Ar-Risa-lah. (20) Qiyamat.(20) Qiyamat. (21) Kematian. (22) Hisab. (23) Surga dan Neraka

. (24) Syafa’at

. (25) T a q d i r.(25) T a q d i r.

II.

II.

S Y A R I ’ A H

S Y A R I ’ A H

7373

(26) A d - D i-n. (27) A l(27) A l

I s l a m.I s l a m. (28) Masuk dalam Islam secara Ka-

ffah.(29) ‘I b

a d a h. (30) N i a t. (31)(31) SyaSyaha-dha-dataatain. (in. ( 32) Bersuci. (3(33)3) A s A s hh - S - S h o h o l a l a h.h. (34) Keutamaan Sholat ber-

Jama’ah. (35

) Sholat Nafilah Setiap-hari. (36) Sholat Janazah. (37) Memakmurkan Masjid. (38) D z i k i r. (39) Keutamaan Tahlil, Takbir, Tahmid

dan Tasbih. (40) Keutamaan Istighfar. (41) D o ‘ a. (42

) Shodaqoh. (43) Zakat(43) Zakat. (44) Zakat Fithrah. (45) Shoum (Puasa).(45) Shoum (Puasa). (46) Amalan bulan Ro madhon. (47 ) Lailatul-Qodr. (48). Haji.(48). Haji. (49) Qurban. (50

) ‘Aqiqoh.

IIIIII.. AKAKHHLLAAQQUULL--KKAARRIIMMAAH H 113377 (51) A l - I h s a n. (52) Al-I k h l a s h. (53) S y u k u r. (54) S h a b a r. (55) R i d l o. (56) Tawakkal. (57

) W a r a ‘. (5

8) Q o n

a ’ a h. (5

9) Z u h u d. (60) Istiqomah. (61) Berbakti kepada Kedua Orang -tua. (62) Tanggung-jawab Orang-tua terhadap Keluarga. (63) A r

– R i a’. (64) ‘U j u b. (65) Takabbur. (66) M a r a h (Ghodlob).

(67) Dengki (Hasad). (68) Dendam (Ghillu) . (69) Pensucian Diri (Tazkiy ah). (70 ) At-Taubah.

IIVV..H H A A Y Y I I B B R R A A T T 118800

(71). Peran Utama orang-tua Mendidik anak. (72).

Kewajiban Syari’at Terhadap Anak

Yang Lahir. (73) Nasihat Tentang Perkawinan. (74) Peningkatan Kemampuan Ilmu. (75) Memperkuat ke teguhan Jiwa dan Raga. (76) Memperta jam Kepekaan Sosi al. (77)

Menggerakkan Da’wah “Islamiayah”. (78)

Pendidikan Dengan Keteladanan. (79) Pendidikan Dengan Adat Kebias aan Yang baik. ( 80) Pendidikan Dengan Naseh at. (81) Pendidikan Deng an Perhatian . (82) Pendidikan Dengan Memberi Hukuman/Sangsi. (83) Sifat-sifat Asasi Pendidik. (84) Kaidah Pokok Dalam Pendidikan Anak. (85) Washiat pada usia empat -puluh tahun

V V..A A M M A A M M I I H

H 222255

(86) U

mmat Islam Wajib berjama’ah. (87

) Larangan Berpecah-

belah dan Ta’ashshub.

(88) Ummat Islam Wajib Memilih Pemimpi n. (89 ) Pa

tuh dan Ta’at pad

a Pemimpin. (90) Menasihati Pemimpin. (91) Keutamaan Pemimpin yang Adil. (92) Memilih Orang Kepercayaan. (93 ) Tercelanya menuntut Ked udukan. (94 ) Pemimpin yang tidak mengikuti Petunjuk. (95) Pemimpin yang Menyesatkan. (96) Pemimpin yang Berkhianat. (97) Penghasilan Pemimpin . (98) Kedudukan W a n i t a . (99) Khilafah. (100) Jihad fi Sabilillah.

D

(4)

4

Muroqobah

Muroqobah

Muroqobah

Muroqobah berasal dari bahasa Arab RoqobaRoqoba artinya menjagamenjaga atau mengawasi,mengawasi, dapat pula berarti mengamatimengamati secara ce rmat. Sehingga MuroqobahMuroqobah adalah sikap seseorang yang selalu menjaga diri dengan amalan -amalan Sholih yan g dilakukannya secara cermat dan teliti dengan kesadaran, bahwa Alloh SWT selalu mengamati dan mengawasinya.

Dalam Surat An-Nisa' (4) Ayat 1 Alloh berfirman :



Artinya :

Artinya : "

……

Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan Mengawasi kamu ". Di Ayat lain dalam Surat Al- Ahzab (33) Ayat 52 di-Firmankan :





Artinya

Artinya : "

. dan adalah Alloh Maha Mengawasi segala sesuatu".

Amalan yang Sholih yang harus kita cermati tsb meliputi amalan-amalan yang menyangkut : Aqidah, Syari'ah, A khlaq dan 'Amali ah Sholihah lain baik dalam bidang Tarbiyah dan Imamah.

(5)

5

BAB I

BAB I

‘A Q I D A H

‘A Q I D A H

“‘A q i d a h”

“‘A q i d a h”

adalah bahasa Arab berasal dari kata kerja

“‘aqada

“‘aqada

--

ya’qidu”

ya’qidu”

artinya menyimpulkan tali atau mengikatkan tali dan berarti juga mengikatkan janji. Dalam hal istilah

“Aqidah Islamiah”

“Aqidah Islamiah”

, maka “Aqidah” berarti mengikatkan janji

kepada Alloh SWT. Selanjutnya dalam tata bahasa Arab, kalimat tsb dapat berubah (menurut Ilmu Nahwu dan

Shorf) menjadi I’tiqod yang dapat mempunyai arti mempercayai

atau meyaqini. Dengan demikian ‘Aqidah menjadi

berarti keyaqinan atau

kepercayaan kepada Alloh SWT, yang kemudian disebut sebagai

“Aqidah

“Aqidah

--Islamiah”

Islamiah”

atau dalam istilah lain disebut pula sebagai

“al

“al

--

Iman”

Iman”

.

Bagi seorang Muslim, maka ‘Aqidah adalah unsur yang paling assensial (dasar) dalam Islam disamping adanya dua unsur pokok lain yaitu “Syari’at” dan “Akhlaqul-karimah”.

‘A

qidah berkaitan dengan amalan yang terdapat dalam hati (Ruhaniah), sed

angkan Syari’at menyangkut

amal

an ‘Ibadah (dilakukan

anggota badan/jasmaniah dan hak milik), dan Akhlaqul -karimah berhubu ngan dengan soal etika, moral dan lebih luas lagi tata perg aulan hidup, baik dengan sesama manusia

ataupun didalam alam lingkungannya. Sementara ‘Ulama menggambarkan hubungan

ketiganya dalam suatu bangunan, maka AqidahAqidah adalah merupakan fondasi suatu bangunan (Agama),

Syari’at

Syari’at

adalah bangunan itu sendiri, sedang AkhlaqAkhlaq adalah atap dari bangunan ter sebut dengan corak bang unan itu sendiri . Wallo-

hu A’lam.

1.

1. A l

I m a n

“A

“A ll

--

I m a n”

I m a n”

dari segi bahasa (Arab) berasal dari “A

-mana

– Yu’minu –

I-ma-

nan”

artinya : percaya, setia, aman, melindung i a tau berarti pula menempatk an sesuatu (ditempat yang aman).

Dalam pelajaran ‘Aqo’id (Ilmu ‘Aqidah) oleh para ‘Ulama

Dalam pelajaran ‘Aqo’id (Ilmu ‘Aqidah) oleh para ‘Ulama

dirumuskan pengertian

dirumuskan pengertian

“al

-

Iman”

a.l sbb :a.l sbb :

:

Artinya :

Artinya : al-Iman itu adalah adanya pernyataan deng an lisan tentang ke -Imanannya,

disertai pembenaran dalam hati dan peng’amalan dengan ragan

ya, tentang apa yang dipercayai (diyaqini)nya.

Sebagai contoh bagi orang yang ber -Iman kepada Alloh, maka ia selain menyatakan Iman kepada Alloh dengan lisannya, selanjutnya ia juga membenarkan dal am hati

dan akan ta’at serta patuh meng’amalkan segala p

erintah dan menjauhi segala larangan-

Nya. Ada pula “Ulama yang merumuskan, bahwa orang beriman adalah

orang yang memiliki pengetahuan tentang “kebenaran” dari Alloh (al

-Haq) dan meyakini kebenaran itu dengan melaksanaka n segala perintah -Nya dan menjauhi segala larangan-Nya berdasar tuntunan Rosululloh SAW, yaitu dari ajaran yang diyakini kebenarannya tersebut. Wallo-hu A

’lam. Alloh ber

-Firman dalam Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 177, sbb :











(6)

6 Artinya :

Artinya : "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungg uhnya kebajikan itu ialah ber -Iman kepada Alloh, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi.."

Dalam Hadits riwayat dari Sayyidina ‘Umar bin Khoththob ra, dia berkata, “Suatu

ketika kami duduk disisi Rosu lulloh SAW disiang hari. Tiba -tiba muncullah ditengah kami seorang lelaki yang sangat putih pakaian nya dan sangat hitam rambu tnya, tidak terlihat bekas-bekas perjalanan padanya dan tiada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Sampai dia duduk didekat Nabi SAW. Dia menempelkan lututnya kelutut Nabi SAW dan meletakkan dua t elapak tangannya pada dua paha b eliau, seraya bertanya a.l

:………

:

.

:

.

Artinya :

Artinya :

“Beritahukanlah kepadaku apakah Iman itu : Rosululloh SAW menjawab :

“Bahwasanya engkau beriman kepada Alloh, malaikat

-malaikat-Nya, kitab-kitab-Ny a, utusan-utusan-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepa

da taqdir, baik dan buruknya”.

Dia berkata :

”Kamu benar”.

Dalam m enguraikan

“Iman”

“Iman”

, maka para ‘Ulama mengartikan dengan istilah percaya

(membenarkan) atau diartikan juga sebagai

“Ma’rifat”

“Ma’rifat”

(mengenal dengan sempurna).

Dalam pengertian “Ma’rifat” tsb, ter

kandung maksud kesadaran mewajibkan diri untuk memahami dan mencegah diri untuk tidak memahami, karena memahami dan

meng’amalkan memberi kehidupan yang berbahagia, sebaliknya tanpa memahami dan

tidak meng’amalkan akan berakibat buruk pada kehidupan dihari

akhir (akhirat). Dari Firman Alloh SWT dan dari sabda Rosululloh SAW tsb diatas, maka rumusan Iman tersusun dari enam perkara, yaitu :

1)

Ma’rifat kepada Alloh SWT

Ma’rifat kepada Alloh SWT

, dalam arti ma’rifat dengan Nama

-nama-Nya yang Mulia, Sifat-sifat-

Nya yang Tinggi. Juga ma’rifa

t dengan bukti-bukti Wujud dan Ada-Nya serta kenyataan sifat ke-Agungan-Nya dalam alam semesta ataupun didunia ini.

2)

Ma’rifat dengan alam yan

Ma’rifat dengan alam yan

g ada dibalik alam semesta ini yaitu alam gaibg ada dibalik alam semesta ini yaitu alam gaib (tidak dapat ditangkap oleh panca-indera) .. Demikian pula adanya kekuatan-kekuatan kebaikan yang terkandung didalamnya yaitu yang berbentuk : Malaikat, demikian pula kekuatan-kekuatan jahat yang berbentuk Iblis dengan bala

tentaranya yang berupa Syaithon. Serta Ma’rifat dengan apa yang ada didalam

alam yang lain lagi, berupa Jin dan Ruh.

3)

Ma’rifat dengan Kitab

Ma’rifat dengan Kitab

--

kitab Alloh Ta’ala

kitab Alloh Ta’ala

yang diturunkan oleh-Nya kepada para Rosul. Kepentingannya ialah dijadikan batas (pedoman) untuk mengetahui antara yang hak dan yang bathil, yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram, juga antara yang bagus dan jelek.

4)

Ma’rifat dengan para Nabi dan Rosul Alloh Ta’ala yang dipilih

Ma’rifat dengan para Nabi dan Rosul Alloh Ta’ala yang dipilih

-Nya-Nya untuk menjadi Pembimbing kearah petunjuk yang hak serta sebagai Pemimpin seluruh makhluq guna menuju yang hak.

5)

Ma’rifat dengan Hari

Ma’rifat dengan Hari

itu,itu, seperti kebangkitan dari Qubur (hidup sesudah mati), memperoleh balasan-akhi-akhir dan peristr dan peristiwa-peristiwaiwa-peristiwa yang tyang terjadi perjadi pada saatada saat pahala atau sisksa, mendapatkan tempat sorga atau neraka.

6)

Ma’rifat kepada taqdir (qodlo dan qodar)

Ma’rifat kepada taqdir (qodlo dan qodar)

dimana diatas landasan inilah berjalannya peraturan segal a yang berada di alam semesta ini, baik dalam penciptaannya ataupun cara mengaturnya.

(7)

7

Karena pentingnya Iman ini, maka menurut Ahli Tafsir yang menghitung kalimat

“Iman”

“Iman”

dalam berbagai bentuknya seperti a.l:

“yu’minu”, “yu’minu

-

na”,”a

-

manu”,

“mu’min”, “mukminun/mu’minin” dsb disebut dalam Al

-Quran sebanyak 550 kali. Iman seseorang ada beberapa tingkat ketebalan (kualitas)nya, karena Iman seseorang setiap kali dapat bertambah (tebal) atau berkurang (menipis) kualitasnya, dalam Al -Quran Alloh ber-Firman a.l Surat al-Fath (48) Ayat 4 :















Ar

Arttininya ya :: ""Dia-lah yang telah menurunka n ketenangan ke dalam hati orang -orang mu'min supaya keimanan mereka bert amb ah di samping keimanan mereka (yang telah dimiliki)".

Surat al-Muddatsir (74) Ayat 31 :











Artinya :

Artinya :

"…

"…

supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya"

Dalam hal lain Rosululloh SAW bersabda, bahwa ada beberapa ranting dari Iman, mulai yang paling bawah sampai pada yang paling atas dengan sabdanya, sbb :

.

)

(

Artinya :

Artinya : Iman itu lebih dari enampuluh ranting. Yang paling atas adalah kalimah

“la

“la

ila-ha

il-ila-ha il-

Lalloh”

Lalloh”

yang paling bawah (rendah) adalah m embuangkan duri dari tengah jalan. (riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh).

Orang yang ber-Iman kalau hanya seorang disebut

“al

“al

--

Mukmin”

Mukmin”

(kata jama’nya

menjadi

“al

“al

-Mukminun/al--Mukminun/al-

Mukminin”),

Mukminin”),

yang pengertiannya dirumuskan secara lebih terinci dalam Al-Quran, a.l Surat al-Hujuro-t (49) Ayat 15, sbb :

















Ar

Arttininya ya :: ""Sesungguhnya orang-orang yang berimanberiman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu -ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jal an All oh, mereka itulah orang-orang yang benar". Selanjutny a dalam Surat al-Anfal (8) Ayat 2

4 sbb :











 



















 





Artinya :

Artinya : "sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apa bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan

(8)

8 sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang -orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezk i (ni`mat) yang mulia ". A-min. Dari uraian diat as sementara 'Ulama ada yang berp andangan, bahwa dalam proses mencapai ke-Imanan seseorang ada tingk at-tingka ke-Imanan seseoran g yang dapat digolongkan dalam em pat tingkat, yaitu :

1) Iman bit-TaqlidiIman bit-Taqlidi artinya Iman ses eorang diperoleh melalui proses mengikuti orang yang dipatuhi (orang tua) atau orang dianggap gurunya. Hal i tu biasa dimiliki oleh umumnya anak -anak para kaum Muslimin seperti di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.

2) Iman bit-Ta'limiIman bit-Ta'limi tingkat Iman dikaren akan dengan proses belajar secaracermat untuk mendalami pengetahuan agama dengan sebaik-baiknya, sehingga memahami arti Iman dengan peng-amalannya. Hal demikian biasanya juga dicapai oleh yang semula hanya Taqlidi tetapi dengan mendalami ilmu tentang Iman menjadi lebih Ta'limi (ilmiah).

3) Iman bit-TaklifiIman bit-Taklifi merupakan tingkat yang lebih tinggi dari Ta'limi, karena ybs dengan ilmu yang dimili kinya, mencapai derajat kesadaran yang tinggi untuk berusaha memenuhi kewajiban secara bersungguh-sungguh desertai dengan menjauhi segala larang seperti yang telah ditentukan hukum Syara'.

4) Iman bisy-SyahadahIman bisy-Syahadah merupakan tingkat tertinggi, yaitu ybs merealisasikan ke-Imanan bukan hanya untuk dirinya tetapi juga mewujudkan secara nyata (dapat disaksikan) dalam masara kat dimana untuk itu dia haru s rela berj uang secara bersunguh-sungguh dengan pengurbanan yang diperlukan . Insya-Alloh.

2. At-Tauhi-d

2. At-Tauhi-d

Kata

“at

“at

-Tauhi--Tauhi-

d”

d”

berasal dari kata kerja bahasa Arab

“Wahhada”

“Wahhada”

dari akar kata

“Wahdah”

“Wahdah”

artinya keesaan, menjadi

“Tauhi

“Tauhi

--

d”

d”

artinya meng-esakan. Meng-Esakan yang dimaksud dalam kalimat ini adalah meyakini, bahwa Alloh adalah Esa dan tidak ada sekutu-Nya, seperti dalam Syahadat dirumuskan sebagai

“La

“La

-ila-

-ila-ha illa Alloh”

ha illa Alloh”

, artinya : "tidak ada Tuhan yang pantas disembah melainkan Alloh". Kalimat ini disebut sebagai

“Kalimat Tauhid”.

“Kalimat Tauhid”.

Didalam Al-Quran Surat al-Baqoroh (2) Ayat 163, sbb :













Ar

Arttininya ya :: ""Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang pantas disembah) mel ainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Peny ayang ". Ayat ini merupakan Pernyat aan Alloh SWT atas kemutlakan ke -Esaan-Nya sebagai Tuhan (yang wajib di-Sembah) yang tidak ada sekutu bagi -Nya, Dia-lah satu-satunya tempat bergantung. Selanjutnya dalam Ayat lain y aitu Surat al Ikhlash (112) Ayat 1 -4, Alloh ber-Firman sbb :









Ar

Arttininya ya :: ""Katakanlah: "Dia-lah Alloh, Yang Maha Esa, Alloh adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan ti ada pula diperan ak -kan, dan tidak ada seorangpun yang se tara dengan Dia".

(9)

9

Dalam

“Kalimat Tauhid

“Kalimat Tauhid

””

selain terkandung ma’na Tiada tuhan

melainkan Alloh juga terkandung Kalimat

artinya “tiada yang berhak disembah melainkan Alloh” dan “tiada yang benar

-benar Mauj

ud melainkan Alloh”. Dalam Surat Thoha (20) Ayat 14, Alloh ber

-Firman :





Artinya :

Artinya : "Sesungguhnya Aku ini adalah All oh, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shal at untuk mengingat Aku ".

Selanjutnya dalam Surat adz -Dzariyat (51) Ayat 56 di-Firmankan :





Ar

Arttininya ya :: ""Dan Aku tidak mencip takan jin dan manu sia melainkan supaya m ereka menyembah-Ku".

Dalam Kalimat Tauhid tsb diatas tercakup tiga Kalimat yang menunjukkan, bahwa Alloh adalah Esa dalam segi Zat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya.

Esa dalam segi Dzat-Nya (Tauhid Dzatiyah)

Esa dalam segi Dzat-Nya (Tauhid Dzatiyah)

maksudnya Alloh Ta’ala tidak

tersusun dari beberapa bagian yang terpotong-

potong dan bahwa Alloh Ta’ala tidak

ada sekutu dalam Memerin tah dan Menguasai Keraj aan -Nya. Dalam Al-Quran Surat az-Zumar (39) Ayat 4 :







Artinya:

Artinya: "Maha Suci Alloh. Dia-lah Alloh Yang Maha Esa lagi Mah a Mengalahkan ".

Esa dalam segi Sifat-Nya (Tauhid Shifatiyah)

Esa dalam segi Sifat-Nya (Tauhid Shifatiyah) artinya tiada seorangpun (satu makhluqpun) yang sifatnya menyerupai Sifat Alloh . Dalam Firman -Nya pada Surat asy-Syuro (42) Ayat 11, sbb :



Ar

Arttininya ya :: ""Dia Tidak ada sesuatupu n yang serupa dengan Dia , dan Dia -lah Yang Maha Mendengar lag i Maha Melihat ".

Esa dalam segi

Perbuatan-Esa dalam segi Perbuatan-

Nya (Tauhid Af’aliyah)

Nya (Tauhid Af’aliyah)

maksudnya tiada seorang makhluqpun yang mempunyai perbuat a n seperti Perbuatan Allo h seperti di -Firman-kan dalam Surat al-Ikhlash tsb diatas.

Diantara para ‘Ulama ada pula yang membagi antara lain berdasar Firman Alloh SWT

Surat an-Nas (114) Ayat 1-3, sbb :























A

Arrttiinnyya a :: "" Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia

.

Dari tiga Ayat tersebut maka, tauhid dibagi menjadi tiga :

o Pertama seperti dalam Ayat pertama yaitu

“Tauhid Rububiah”

“Tauhid Rububiah”

artinya hanya Alloh sajalah yang mencipta, memelihara serta mengatur seluruh makhluq dialam ini.

(10)

10

o Kedua dalam Ayat kedua yaitu

“Tauhid Mulukiah”

“Tauhid Mulukiah”

artinya hanya Alloh saja yang mempunyai kekuasaan dan memiliki hukum dimana bagi siapa yang

menta’ati a

kan mendapat anugerah sedang bagi yang melanggar akan mendapat sangsi dan Dialah yang berkuasa mengadili terutama nanti dihari Qiyamat. o Ketiga dalam Ayat ketiga yaitu

“Tauhid Uluhiah”

“Tauhid Uluhiah”

artinya hanya Alloh sajalah

yang berhak diper-Tuh ankan (disembah), atau seluruh manusia (makhluq) berkewajiban bertuhan kepada -Nya, beribadat, memohon pertolongan, tunduk dan patuh hanya kepada-Nya dan bukan yang lain.

Dalam ber-Tauhid seorang Mukmin berusaha mencapai derajat Ma'rifat dalam tiga hal yaitu :

o Ma'rifat al-Mubda' , yaitu mempercayai bahwa hanya Alloh SWT yang Mencipta seluruh alam dan Wajib Wujud-Nya.

o Ma'rifat al-Washithoh , yaitu kepercay aan adanya Utusan Alloh yang memba wa dan menyiarkan ajaran-Nya.

o Ma'rifat al-Mabda' , yaitu kepercay aan adanya kehidu pan kekal (akh irat) atas kehendak Alloh SWT. Wallo-hu A'lam.

3. Al-Yaqi-n

3. Al-Yaqi-n

“Al

“Al

-Yaqi--Yaqi-

n”

n”

bahasa ‘Arab yang berarti merasa

“pasti”

“pasti”

atau rasa

“ada kepastian”.

“ada kepastian”.

“Yaqin

“Yaqin

” adalah tingkat pengetahuan tertinggi terhadap sesuatu, dan kebalikannya

adalah “Syakk” atau ragu

-ragu. Urutan kebawah tentang pengetahuan seseorang terhadap sesuatu sesudah Yaqin adalah :

1) Dzon (dugaan), arti suatu dugaan adalah yang condong mendekati kebenaran, 2) Syakk artinya masih sangsi atau ragu-ragu atas kebenarannya,

3) Wahm (waham) atau samar -samar terhadap kebenaran sesuatu yang lebih condong untuk tidak mengetahuinya,

4) Jahl artinya tidak ada pengetahuan tentang sesuatu tersebut.

Menurut ‘Ulama bahasa ‘Arab mengartikan al

-Yaqi-

n sebagai “kepercayaan hati

(I’tiqod) terhadap sesuatu obyek; bahwa obyek ter

sebut berwujud seperti itu dan

wujudnya sesuai dengan kondisi obyektifnya”. Kepercayaan hati yang demikian sulit

untuk berubah. Oleh karena itu “al

-

Yaqin” diartikan pula sebagai mantapnya

pengetahuan, sehingga orang yang memilikinya tidak ing in berpaling dan berubah haluannya. Ada pendapat, bahwa perasaan Yaqin seseorang tidak timbul dengan sendirinya, akan tetapi ditimbulkan dengan adanya berbagai peristiwa atau sarana yang membawanya, yaitu :

(1) Khabar (berita), seperti key aqinan adanya hari Qiya mat. Ke -Yaqinan itu datang karena berita yang dibawakan oleh para Rosul Alloh.

(2) Dalil (petunjuk), Ke-Yaqinan adanya api disesuatu tempat dikarenakan didapatnya adanya asap.

(3) Musyahadah (kesaksian) terhadap sesuatu, semisal terhadap Kebesaran Alloh SWT dengan adanya Baitulloh, maka dengan hadirnya seseorang di Tanah Suci, maka ke-Yaqinan itu diperole h, karena dengan mata -kepala dilihat suatu penyaksian

langsung adanya Ka’bah di Baitulloh dengan segala suasananya.

Sementara ‘Ulama Ahli hikmah berpendapat pengertian k

esaksian (melihat) ke-Agungan Alloh dapat pula diartikan sebag ai melihat dengan mata -hati. Sementara

‘Ulama ada pula yang berpendapat, bahwa

“al

“al

--

Yaqin”

Yaqin”

itu hanya diperoleh seseorang

(11)

11 karena semata-mata

“Karunia”

“Karunia”

Alloh SWT yang di-Anugerahkan kepadanya. Dengan uraian diatas dapat dirumuskan terdapat dua hal, yaitu : 1)

“Ke

-Yak

inan” itu

dapat dicapai karena adanya usaha manusia untuk mencapai atau disebut sebagai “al

-Kasbi”

2)

. “Ke

-

Yakinan” dapat diperoleh semata

-mata Karunia Alloh SWT atau

disebut “al

-Mauhib

ah”. Dapat pula dikatakan bahwa ke

-Yaqinan itu merupakan buah

dari “ilmu yang diusahakan” (‘ilmul

-

mu’amalah). Akan tetapi bila manusia itu sudah

mencapai derajat puncak spirit ual, maka ke -

Yaqinan diperoleh sebagai “pengetahuan

langsung (dari Alloh) dengan

kesaksian batin” (‘ilmul

-mukasyafah) sebagai karunia Alloh semata-mata. Wallohu-

A’lam.

Berdasar uraian tsb diatas sementara ‘Ulama membagi tingkat

-tingkat

“Yaqin”

“Yaqin”

, menjadi tiga, yaitu :1)

“Ilmul-Yaqin” (ke-Yaqinan atas dasar ilmu), artinya menerima adanya sesuatu kebenaran, baik nyata ataupun tidak nyata, dan tetap atas pendirian itu. Dalam hal ini ke-Yaqinan seseorang didasarkan atas logika ilmu yang bersifat relatif. Dengan demikian ke -Yaqinanpun terbatas, karena dibangun atas praduga ilmu yang tidak sepenuhnya dapat menjadi pegangan. Hal itu dapat dimisalkan keya qinan seseorang atas adanya suatu buah -buahan dengan kelezatan rasanya, maka dia dapat meyakini didasarkan atas pengalaman seseorang yang pern ah mendapatkan dan memakan nya. Ilmul -Yaqin ini dalam al-Quran tercan tum dalam Surat at -Takatsur (102) Ayat 1 -5, sbb :























A

Artrtininyya a :: ""Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin ",

2) “‘Ainul-Yaqin” (ke-Yakinan didasark an atas kesaksian mata -kepala).

Berbeda dengan ‘ilmul

-

yaqin, keyaqinan ditingkat “’ainul

-

yaqin” ini

didasarkan atas kesaksian mata -kepala secara langsung dapat melihat, dalam contoh diatas dia dapat langsu ng melihat b uah yang lezat terseb ut. Tingkat ke -Yaqinan menjadi lebih tinggi (lebih pasti) karena Yaqin atas keberadaan buah tersebut. Dalam Surat at -Takatsur (102) Ayat 6- 7 di-Firmankan:









Art

Artininya ya :: ""niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatny a dengan `ainul yaqin ",

3) “Haqqul-Yaqin”(keYaqinan Haqiqi ). Pada tingkat ini ke -Yaqinan dibang un

atas dasar pengalaman sendiri. Apabila dalam ‘ainul Y

aqin kelezatan buah baru didasarkan atas melihat keberadaan buah tersebut, maka pada tingkat

“Haqqul

-

Yaqin” orang ybs telah mencicipi kelezatan buah tersebut. Dal

am Surat al-

Waqi’ah (56) Ayat 92

-95 dikisahkn tentang orang yang dusta, sbb:

(12)

12























Artinya :

Artinya : "Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidan gan air ya ng mendidih, dan dibak ar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutk an ini) adalah suatu keyaki nan yang benar (haqiqi)".

Na’udzubillah.

Sementara ‘Ulama memberi kategori “al

-

Yaqin” adalah mempunyai tingkatan yang

lebih tinggi dari “al

-

Iman”, didasarkan b

ahwa dalam al-Iman umumnya orang bersifat menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dengan cara yang lebih banyak

mengikuti dari ilmu yang diberikan para pendahulunya. Sedang “al

-

Yaqin” lebih

didasarkan sekurang-

kurangnya kepada salah satu dari “ilmu, kesak

sian mata-kepala

dan kesaksian pengalaman”. Pendapat

yang lebih banyak adalah, bahwa

“al

“al

--

Iman”

Iman”

merupakan bentuk umum dari

“al

“al

--

Yaqin”

Yaqin”

. Wallohu-

A’lam.

4.

4. A l

A l - H i

- H i d a

d a y a h

y a h

“Al

“Al

--

Hidayah”

Hidayah”

berasal kata kerja bahasa Arab “Hada

-, Yahdi-

, Hudan” kemudian

menja

di Hidayah/Hidayat artinya “Petunjuk” dalam arti sesuatu yang menunjukkan

(mengantar) kepada apa yang diharapkan . Kalimat Hidayah/Hiday at ada -kalanya dikaitkan dengan rahmah atau sikap lemah lembut, sehingga kalimat hidayat sejalan dengan sikap itu dan juga serumpun dengan kata Hadiyah yang digunakan dalam bahasa Indonesia dengan arti suatu pemberian kare na rasa cinta/sayang. Dalam Al -Quran telah di-Firmankan, bahwa Al loh telah memberik an bermacam -macam petunjuk kepada manusia, a.l:

Dalam Surat at-Toha (20) Ayat :50 :



Art

Artininya ya :: ""Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bent uk kejadiannya, kemudian memberinya petunju k ".

Dalam Surat al-

A’la (8

7) Ayat 1-3 sbb :

 

 







Artinya :

Artinya : "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing -masing) dan memberi petunjuk",

Kita sebagai Ummat Islam diajarkn sel alu mohon petunjuk kepad a Allo h yang dalam Surat Al-Fatihah (1) Ayat 6, dimana kita wajib membacanya dalam Sholat kita, yaitu :







Artinya :

Artinya : "Tunjukilah kami jalan yang lur us ",

Kepada orang yang diberi petunjuk dan selalu memohonnya Alloh akan selalu menambah petunjuk-Nya, dalam Sur at Maryam (19) Ayat (76) Alloh ber -Firman sbb:



(13)

13 Artinya :

Artinya : "Dan Alloh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk".

Dalam hal petunjuk ini sementara ‘Ulama Ahli Tafsir membagi ada empat tingkatan

petunjuk Alloh yang diberikan kepada manusia, yaitu :

1) NaluriNaluri atau insting (Ghorizah) yang telah diperoleh sejak manusia lahir didunia. Sebagai contoh tangis bayi saat dilahirkan menandakan dia hidup dan dengan memerlukan pertolongan baik untuk dibersihkan atau diselimuti. Demikian pula tangisnya bila bayi tersebut merasa lapar. Tangis seorang bayi adalah petunjuk yang diberikan Alloh untuk menyampaikan maksudnya.

2) Panca-inderaPanca-indera (Syahsyiah). Pada petunjuk tingkat naluri (pertama), maka petunjuk hanya menjangkau sebatas penciptaan dorongan pada perasaan untuk mendapatkan sesuatu yang diin ginkan pemilik naluri, tetapi be lum dapat mendatangkan yang diinginkan yang berada diluar dirinya. Untuk mendapatkannya diperlukan petunjuk yang mempunyai tingkat yang lebih tinggi yaitu Panca-indera, terdiri dari mata untuk memandang, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, tanga n untuk meraba dan lidah untuk merasa. Dengan Panca-indera ini terjadi kontak dengan lingkungan diluar dirinya dan dapat menangkap arti dari sesuat u yang berada disekelil ingnya. Anugerah berupa Panca -indera yang diberikan Alloh adal ah sudah ditentukan, bah wa kemampuan Panca-indera tsb, masing-masing indivi du manusia satu dengan lainny a kadang -kadang berbeda tingkat kepekaan dan ketajamannya.

3) AkalAkal (al-

‘Aqlu). Petunjuk yang diterima Panca

-indera, kadang-kadang tidak sepenuhnya benar seperti kenyataannya, misa lnya sebuah bintang yang kita lihat dilangit yang kelihatan kecil, sebenarnya sangat besar, bahkan mungkin besarnya sama dengan bumi yang kita diami atau bahkan lebih besar. Oleh karenanya untuk menjelaskan kebenaran itu diperlukan pula dengan petun juk yan g lebih tinggi yaitu dengan Akal. Dengan Akal, maka informasi yang ada termasuk yang ditangkap oleh Panca-indera disusun dan kemudian dianalisa, sehingga mendapatkan suatu ke-simpulan yang mendekati kebenaran.

4) Hidayah AgamaHidayah Agama (Hidayah Diniah). Kebenaran yang dapat dicapai oleh Akal manusia, terutama adalah yang bersifat fisik (secara fisik dapat dilihat atau dirasakan). Sedang yang bersifat metafisik atau ruhani yang tidak terjangkau oleh akal diperlukan petunjuk yang lebi h tinggi yaitu Petunju k dari Alloh ya ng berupa Petunjuk Agama yang dapat meluruskan kekeliruan dalam hal ruhani.

Petunjuk atau Hidayah Agama menurut ‘Ulama Ahli tafsir dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama ,petunjuk yang lebih berisi ajaran yang menuju kepada kebahagiaan didunia ataupun diakhirat. Dalam Al-Quran Alloh ber-Firman dalam Surat asy-Syura (42) Ayat 52, sbb:



















Artinya :

Artinya : "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahu i apakah iman itu, t etapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tun juki dengan dia siap a yang Kami kehendaki di ant ara hamba

(14)

-14 hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar -benar memberi petunjuk kepad a jalan yang lurus".

Kedua adalah Petunjuk untuk memberi kemampuan untuk melaksanakan petunjuk pertama tsb, karena tidak semua manusia berkemampuan atau berkehendak melaksanakan ajaran Agama karena godaan syaiton atau nafsunya sendiri, dalam Surat Fushshila t (41) Ayat 17 Alloh ber -Firman, sbb :











Ar

Artitinynya :a : ""Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyuk ai buta (kesesatan) dari petu njuk i tu, maka mereka disambar petir azab yang menghi nakan disebabkan apa yang telah mereka kerjak an ".

Selain penjelasan tentang Hidayah yang diuraikan Ahli Tafsir tsb diatas, sejalan dengan itu oleh Ah li bahasa Al -Quran (Ar-Raghib Al-Asfahani) diurai kan, bahw a olehnya Hidayah juga dibagi atas empat bagian, yaitu :

1) Hidayah yang meliputi manusia Mukallaf, berupa Hidayah dalam arti Akal, dengan pengetahuan yang sifatnya umum sejauh kemampuan yang dimiliki masing-masing indiv idu. Dalam Surat Thaha (20) Ayat 50 di -Firmankan :



Art

Artininya ya :: ""Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bent uk kejadiannya, kemudian memberinya petunju k ".

2) Hidayah dalam arti petunjuk yang berupa ajakan kepada manusia melalui para Rasul-Nya dan Kitab Suci untuk mengi kuti ajarannya, yang dalam Al -Quran Surat al-

Ambiya’ (21) Ayat 73, sbb :









Artinya :

Artinya : "Kami telah menjadik an mereka itu sebagai pemimp in -pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah merek a selalu menyembah ",

3) Hidayah yang berarti Taufiq, yaitu kecocokan antara kehendak orang yang mendapat Hidayah dengan kehendak Alloh. Orang yang demikian mendapati jalan dengan mudah sehingga apa yang diinginkan terkabul sesuai yang

diharapkan.

Orang yang mendapat Taufiq ini biasanya sudah dimulai mendapatkannya Hidayah yang kedua tersebut diatas. Demikian pula Hidayah kedua biasanya diterima setelah Hidayah yang pertama. Alloh berfirm an dalam Surat Maryam (19) Ayat 76, sbb :







 





Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penulisan ini adalah mengkaji tentang keterkaitan antara matematika dan budaya khususnya rumah adat Palembang yaitu rumah Limas dimana

[r]

3.1 Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti mempunyai gagasan untuk mengadakan penelitian tentang adakah korelasi kecerdasan spiritual dengan motivasi belajar siswa pada

Berdasarkan hasil analisis of varians (ANOVA) dengan rancangan acak kelompok (RAK) menunjukkan bahwa pemberian kompos kulit kopi dan pupuk organik cair urin sapi

komunitas yaitu cerminan dan kesadaran kritis, membangun identitas komunitas, tindakan representasi dan politis, praktek yang berhubungan dengan budaya, asosiasi

ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoritis, angka minimumnya ada dua orang yang hidup bersama. 2) Bercampur untuk

Selain itu dalam kelompok eksperimen diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan lembar problem posing. LKS ini berfungsi untuk memfasilitasi siswa membangun pengetahuan