PREVALENSI DAN ANGKA KEJADIAN CEDERA
SARAF TEPI
Oleh :
Gede Wirya Diptanala Putra Duarsa (1302006113)
Pembimbing:
Dr. Agus Roy R.H. Hamid, Sp.BP-RE
DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA SMF/BAGIAN BEDAH
RSUP SANGLAH/ FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2017
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya Kami dapat menyelesaikan tinjauan pustaka ini dengan judul “Prevalensi dan Angka Kejadian Cedera Saraf Tepi” tepat pada waktunya.
Laporan ini dibuat sebagai prasyarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya (KKM) di BAG/SMF Bedah FK UNUD/RSUP Sanglah, Denpasar. Dalam penyusunan laporan kali ini, Penulis memperoleh banyak bimbingan, petunjuk dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Direktur utama beserta jajaran RSUP Sanglah yang telah memberikan kami kesempatan menimba ilmu.
2. dr. Agus Roy H Hamid, Sp.BP-RE selaku pembimbing dalam jurnal reading ini. 3. Semua pihak yang telah membantu pembuatan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam jurnal reading ini masih terdapat kekurangan, diharapkan adanya saran demi penyempurnaan karya ini. Semoga bisa memberikan sumbangan ilmiah bagi dunia kedokteran dan manfaat bagi masyarakat. Terima kasih.
Denpasar, 20 April 2017
iii DAFTAR ISI
Halaman
COVER ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR……… ... iv
DAFTAR TABEL……… ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 2
2.1 Anatomi Saraf Tepi ... 2
2.2 Klasifikasi Cedera Saraf Tepi ... 2
2.3 Prevalensi Cedera Saraf Tepi ... 4
2.3.1 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Lokasi ... 4
2.3.2 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Etiologi ... 5
2.3.3 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Lainnya ... 7
BAB III SIMPULAN ... 10 DAFTAR PUSTAKA
iv DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Neuropraksia ... 3 Gambar 2.2 Aksonotmesis ... 3 Gambar 2.3 Neurotmesis.. ... 4
Gambar 2.4 Prevalensi cedera saraf tepi menurut penyebab ... 6
Gambar 2.5 Distribusi cedera saraf menurut umur ... 8 Gambar 2.6 Jumlah cedera saraf tepi pada setiap kategori umur dan jenis kelamin 9
v
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1 Distribusi cedea saraf tepi menurut lokasi ... 5
Tabel 2.2 Frekuensi cedera saraf dalam 90 hari pasca trauma ... 6 Tabel 2.3 Distribusi cedera saraf tepi menurut pekerjaan dan aktivitas ... 7 Tabel 2.4 Distribusi cedera saraf tepi tungkai bawah menurut umur dan jenis kelamin8
1 BAB I
PENDAHULUAN
Cedera saraf tepi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan disabilitas yang penting pada saat ini.1,2,3 Cedera pada suatu bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan kerusakan saraf pada bagian tersebut. Walaupun kerusakan pada lokasi tertentu jelas terlihat, struktur yang rusak akibat trauma tersebut sangat sering tidak terlihat jelas.3
Prevalensi cedera saraf tepi menurut penelitian sebelumnya sekitar 2-3%, namun bertambah bila dihitung termasuk cdera radiks dan fleksus. Berdasarkan lokasinya,cedera saraf yang paling banyak dilaporkan adalah cedera saraf extremitas atas, radius, ulna, dan media. Sedangkan pada extremitas bawah seperti sciatic,peroneal dan tibia. Cedera saraf tepi paling banyak ditemukan pada umur 18 sampai 35 tahun.3 Berdasarkan distribusi umur tersebut, cedera saraf tepi lebih banyak terjadi pada usia kerja.
Etiologi dan mekanisme cedera saraf tepi sangat bervariasi menurut tempat penelitian dilakukan. Namun mekanisme terjadinya cedera dapat disebabkan oleh transection, traction dan contusion. Namun, penyebab tersering karena transection seperti benda tajam. Cedera ini lebih sering terjadi setelah dilakukan procedure pasca trauma dibandingkan dengan cedera secara langsung setelah terjadi trauma.4
Aktivitas dan pekerjaan juga berhubungan dengan angka kejadian cedera saraf tepi. Pekerja pada
basic and support activity dan pertanian dan peternakan memiliki angka kejadian lebih tinggi.
Karena hubungannya dengan kerja, maka cedera saraf tepi paling banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.2,5
2 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Saraf Tepi
Saraf tepi tersusun dari saraf motorik dan saraf sensorik. Susunan saraf ini dimulai dari neuron motorik dimulai dari system saraf pusat (SSP) menuju muscular ke neuromuscular
junction dan otot. Sedangkan sistem sensori mulai dari reseptor dari somatosensorik,
brakiosensorik maupun sensori khusus. Saraf-saraf tersebut membentuk radiks dan saraf perifer. Terdapat 31 pasang nervus spinalis yang meninggalkan medula spinalis dan berjalan melalui foramina intervertebralis di kolumna vertebralis. Masing-masing nervus spinalis berhubungan dengan medula spinalis melalui 2 radiks yaitu radiks anterior dan radiks posterior. Radiks anterior terdiri dari berkas serabut saraf yang membawa impuls saraf dari SSP (serabut eferen). Radiks posterior terdiri dari berkas serabut saraf yang membawa impuls menuju SSP (serabut aferen). Badan sel serabut saraf ini terletak dalam pembesaran radiks posterior yang disebut ganglion spinalis. Radiks anterior bergabung dengan radiks posterior tepat di distal gang- lion spinalis, dan keduanya membentuk saraf tepi spinalis.6
Beberapa segment nervus spinalis seperti pada segmen servikal dan lumbal dan sacral dalam perjalanannya membentuk cabang dan bergabung dengan saraf tepi di dekatnya sehingga membentuk jaringan saraf yang di sebut pleksus nervosus. Pleksus memungkinkan redistribusi serabut saraf di dalam saraf tepi yang berbeda. Pembentukan pleksus-pleksus ini menyebabkan serat-serat dari setiap pasang radiks bercabang menjadi saraf-saraf tepi yang berbeda, artinya setiap saraf tepi dibuat dari serat beberapa radiks segmental yang berdekatan.6
2.2 Klasifikasi Cedera Saraf Tepi
Cedera saraf tepi dapat diklasifikasikan menurut Seddon berdasar tingkat keparahannya, menjadi tiga kategori: neurapraksia, aksonotmesis, dan neurotmesis.7
a. Neurapraksia
Neurapraksia, yaitu tipe cedera paling ringan dengan sedikit atau tidak terjadi cedera struktural karena tidak ada kehilangan kontinuitas saraf, sehingga tidak terjadi kehilangan kemampuan fungsional. Gejalanya muncul akibat blokade konduksi lokal yang diinduksi oleh ion pada tempat cedera. Secara structural kadang terjadi sedikit perubahan struktur
3 myelin, sebagai akibat dari kombinasi kompresi mekanik dan iskemia. Efeknya bersifat reversibel, kecuali jika iskemia menetap selama kurang lebih 8 jam.
Gambar 2.1. Neuropraksia
b. Aksonotmesis
Aksonotmesis adalah terjadinya intrupsi komplet dari saraf akson dan lapisan myelinnya, namun struktur-struktur mesenkimal seperti perineurium dan epineurium seluruhnya atau sebagian utuh. Tipe cedera ini kemungkinan terlihat pada isolasi, seperti pada cedera Pleksus Brakhialis dihubungkan dengan kelahiran, atau dalam hubungan nya dengan fraktur seperti cedera saraf radial sekunderi terhadap fraktur humerus.
Gambar 2.2. Aksonotmesis
c. Neurotmesis
Terjadi saat saraf, bersama dengan stroma yang mengelilinginya terputus. Kehilangan fungsi terjadi secara komplet. Pada tipe ini tidak terjadi kesembuhan spontan dan bahkan setelah operasi prognosisnya buruk karena pembentukan jaringan parut dan hilangnya
4 mesenkimal dan penyembuhan tanpa operasi biasanya tidak terjadi. Tipe cedera ini hanya terlihat pada trauma mayor.
Gambar 2.3. Neurotmesis
2.3 Prevalensi Cedera Saraf Tepi
2.3.1 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Lokasi
Prevalensi cedera saraf tepi bervariasi menurut studi dan tempat studi itu dilakukan, lama suatu studi dilakukan dan kontek sosial dari tempat studi. Namun, secara umum prevalensi berkisar antara 1,3-2,8%. Suatu studi yang dilakukan di Mexiko mendapatkan bahwa, prevalensi cedera saraf tepi kurang dari kisaran tersebut yaitu 1,12%. Dari jumlah tersebut lokasi terbanyak cedera saraf tepi adalah tungkai atas. Prevalensi cedera saraf tepi pada tungkai atas mencapai 61% diikuti oleh tungkai bawaha sebanyak 15%, wajah 14%, Leher 6% dan thorax 4%. Diantara tungkai atas, cedera fleksus brakial adalah cedera saraf tepi tersering mencapai 24% dari seluruh cedera saraf tepi. Sebagai tambahannya, 6% dari seluruh cedera merupakan cedera multiple.1
Pada studi tentang cedera saraf tepi khusus tungkai atas, didapatkan hasil dengan prevalensi cedera saraf medial merupakan cedera saraf tersering yaitu sekitar 48%, diikuti oleh saraf ulnaris (45%) dan saraf radialis (7%). Prevalensi pada saraf radial lebih jarang dibandingkan dengan saraf yang lainnya dihubungkan dengan letak radial nerve stem lebih proksimal dibandingkan dengan saraf median dan ulnar.2 Selain itu, Pada saraf ulnaris dan median lebih sering terjadi pada bagian distal, sedangkan saraf radial lebih sering terjadi pada bagian proximal.4 Namun, studi lain mendapatkan bahwa cedera saraf ulnaris lebih sering dibandingkan dengan cedera saraf yang lainnya.4,5
5 Tabel 2.1 Distribusi cedea saraf tepi menurut lokasi.1
2.3.2 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Etiologi
Menurut etiologinya, cedera akibat trauma luka tikaman mencapai 19%, diikuti oleh cedera akibat kecelakaan kendaraan bermotor (16%), trauma langsung (17%), fraktur (12%), luka tembak (11%), trauma obstetric (10%), crush (7%), jatuh (4%), laserasi (2%) dan dislokasi(2%). Dari jumlah tersebut, menurut derajat dari cederanya, 51% merupakan Neurotmesis, kemudian diikuti oleh Axonotmesis dan Neuropraxia, masing-masing 29% dan 20%. Dari etiologi tersebut terdapat hubungan antara penyebab dan derajat cedera, cedera akibat tikaman paling berhubungan dengan neurotmesis, cedera akibat crush berhubungan dengan axonotmesis dan fraktur berhubungan dengan neuropraxia.1
Lokasi cedera juga menentukan jenis cedera saraf tepi. Pada cedera saraf ulnar, 60,4% terjadi pada Right upper limb Injury (RUL) sedangkan sisanya akibat Left right upper limb Injury
(LUL). Perbedaan ini terjadi karena sebagian besar merupakan right handed. Sedangkan, pada
cedera saraf radial, paling sering disebabkan oleh LUL dan cedera saraf median hampir sebanding antara RUL dan LUL. Menurut waktu terjadinya, sebagian besar cedera saraf tepi pada tungkai atas terjadi setelah dilakukan prosedur sekunder (53%) sedangkan sisanya terjadi setelah injury. Hal ini karena sebagian besar prosedur yang dilakukan tanpa bedah mikro, sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan saraf pada saat dilakukan prosedur. Diantara proses
6 terjadinya, cedera akibat terpotong merupakan proses yang paling sering terjadi, diikuti oleh akibat laserasi.2
Lokasi trauma saraf sangat tergantung dari lokasi cedera dari saraf tersebut. Pada table 2.2 memberikan gambaran, cedera saraf setelah 90 hari pasca trauma. Cedera saraf sesuai dengan lokasi dari perjalanan saraf tersebut. Cedera fleksus berhubungan dengan dislokasi bahu, fraktur humerus behubungan dengan cedera nervus radialis dan ulnaris dan seterusnya sesuai dengan table 2.2.3 Mekanisme cedera saraf paling sering terjadi secara transection dibandingkan traction dan contusion. Cedera transection paling sering terjadi akibat benda tajam, sedangkan traction jarang terjadi secara exklusif melainkan terjadi besamaan dengan transection.4
Tabel 2.2 frekuensi cedera saraf dalam 90 hari pasca trauma.3
7 2.3.3 Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Faktor Risiko Lainnya
a. Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Faktor Risiko Aktivitas dan Pekerjaan Table 2.3 distribusi cedera saraf tepi menurut pekerjaan dan aktivitas.1
Cedera saraf tepi berhubungan dengan pekerjaan dan gaya hidup. Pekerjaan yang paling retan dengan cedera saraf tepi adalah basic and support activity dan pekerja pertanian dan peternakan. Menurut gaya hidup, pengangguran memiliki prevalensi tinggi, hal ini dihubungkan dengan kekerasan yang berhubungan dengan penganguran.1
b. Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Umur
Menurut umur, suatu studi medapatkan prevalensi cedera saraf tepi terbanyak terjadi pada umur 34,6 tahun, namun studi lain mendapatkan prevalensi terbanyak terjadi pada umur 31,8 tahun sedangkan pada pediatric pada umur 7,08 tahun.1 Studi szylejko et al, cedera saraf pada tungkai atas tersering pada umur 30-50 tahun (table 2.3).2 Studi lain juga mendapatkan hasil yang mirip dengan median umur 32 tahun. Berdasarkan saraf yang cedera, cedera saraf ulnaris terjadi paling banyak di semua golongan umur gambar 2.2.4
8 Gambar 2.5 distribusi cedera saraf menurut umur.4
c. Prevalensi Cedera Saraf Tepi Menurut Jenis Kelamin
Menurut jenis kelamin, pada cedera saraf tepi tungkai atas 90% terjadin pada pasien laki-laki sedangkan 10% terjadi pada perempuan. Pada laki-laki paling sering terjadi cedera saraf median sedanglan perempuan cedera saraf ulnaris (table 2.3). Cedera sraf tepi pada tungkai atas, paling sering terjadi pada kelompok pekerja. Menurut kedalamannya, cedera saraf dalam lebih sering terjadi pada pekerja industry dan jenis kelamin laki-laki.2 Studi lain juga mendapatkan bahwa, pada setiap rentang usia laki-laki lebih dominan mengalami cedera saraf tepi dibandingkan dengan perempuan (gambar 2.3).5
9 Gambar 2.6 Jumlah cedera saraf tepi pada setiap kategori umur dan jenis kelamin.5
10 BAB III
KESIMPULAN
Dari tinjauan pustaka tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa,
1. Lokasi tersering terjadi cedera saraf tepi adalah tungkai atas. Pada tungkai atas, nervus ulnaris merupakan nervus terseing yang mengalami cedera.
2. Etiologi cedera saraf tepi tesering karena transaction yang disebabkan oleh benda tajam. Pada cedera akibat benda tajam paling sering diakibatkan oleh cedera akibat tikaman. 3. Cedera saraf tepi sering terjadi pada pekerja di sector basic and support activity dan
pekerja pertanian dan peternakan. Distribusi umur terjadinya saraf tepi bervariasi menurut beberpa studi, namun median umur sekitar terjadi pada umur 31-36 tahun. Menurut jenis kelamin, laki-laki lebih dominan mengalami cedera saraf tepi dibandingkan dengan perempuan.