• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Umpatan Jancok Pada Masyarakat Su

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Budaya Umpatan Jancok Pada Masyarakat Su"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Anggota Kelompok :

(2)

Deskripsi

Kata Jancok Dancok, atau disingkat menjadi Cok (juga

ditulis Jancuk atau Cuk, Ancok atau Ancuk, dan Coeg) merupakan kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa, khususnya Surabaya dan sekitarnya secara umum karena memiliki konotasi negatif.

Namun, penduduk Surabaya , Gresik dan Malang menggunakan kata tersebut sebagai identitas komunitas mereka, bahkan digunakan

sebagai kata sapaan untuk memanggil teman, dan untuk meningkatkan rasa kebersamaan. Kata Jancok juga menjadi simbol keakraban dan

persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo sehingga kata Jancok memiliki perubahan makna ameliorasi (perubahan makna

(3)

Deskripsi

Warga Kampung Palemahan di Surabaya memiliki sejarah

oral bahwa

kata

Jancok

merupakan akronim dari

Marijan

ngencuk

Marijan berhubungan badan

.

Kata

encuk

merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti

berhubungan badan , terutama yang dilakukan di luar

(4)

Kata ‘

Jancok

,

atau cok

dalam bentuk singkatnya,

digunakan sebagai kata seru untuk menunjukkan

perasaan yang muncul, baik perasaan yang bersifat

negatif maupun positif.

Contoh kalimat:

(5)

Di antara para pengguna, kata Jancok juga digunakan sebagai kata sapaan untuk mengungkapkan kemarahan atau menunjukkan kedekatan hubungan di antara teman.

Karena konotasi buruk yang melekat pada istilah Jancok , seseorang akan menjadi marah jika dipanggil menggunakan kata tersebut. Hal tersebut tidak berlaku di antara teman karib, yang malah menunjukkan bahwa kedekatan hubungan mereka membuat mereka tidak akan saling marah jika dipanggil dengan kata Jancok .

Meskipun tergolong bahasa gaul anak muda, kata tersebut masih terasa tidak pantas untuk digunakan memanggil orang tua karena arti sebenarnya adalah perkataan kotor.

Contoh kalimat:

• "Cok, nang endi ae koén?" ("Cok, ke mana saja kamu?")

• "Ojo meneng aé, Cok!" ("Jangan diam saja, Cok!")

(6)

Deskripsi

Menurut Anas Arrasyid, kata "jancok" adalah suatu hadiah

terburuk yang diberikan secara langsung kepada seseorang

yang dibenci, tetapi juga digunakan sebagai kosakata

pertemanan yang biasa.

Akibatnya, kata "jancok" menjadi penjajahan akidah moral

dalam bertutur kata.

(7)
(8)
(9)

SOSIAL

Dalam beberapa komunitas, biasanya kalangan muda, orang-orang

yang sering memperkatakan Jancok atau cok dapat menjalin suatu pertemanan yang baik bahkan terkesan keren dan wibawa bila

memperkatakannya.

Namun, dalam suatu komunitas masyarakat secara umum dan

kalangan orang dewasa, atau orang-orang yang status sosial lebih tinggi, kata tersebut menjadi haram untuk diucapkan, bahkan dapat menyulut suatu pertikaian.

(10)

SEJARAH

Kata ini memiliki sejarah yang masih rancu. Kemunculannya banyak ditafsirkan karena adanya pelesetan oleh orang-orang terdahulu yang salah tangkap dalam pemaknaan, dan versi-versi ini muncul dari beberapa negara

tetangga yang orang-orangnya mengucapkan kata yang memiliki intonasi berbeda namun dengan bunyi hampir sama.

Hal ini karena orang-orang dari beberapa negara tetangga tersebut

mengucapkan kata yang hampir mirip kata jancok dengan ekspresi marah, geram, atau sejenisnya. Orang Jawa dahulu mengartikan kata jancok (menurut lidah

orang Jawa) adalah kata makian. Setidaknya terdapat empat versi asal-mula kata Jancok :

• Versi kedatangan Arab

• Versi penjajahan Belanda

• Versi penjajahan Jepang

(11)

PENDIDIKAN

Anak-anak jaman sekarang sering mengungkapkan umpatan-umpatan salah satunya Jancok ini di setiap kejadian dan tempat di Surabaya. Terjadinya budaya demikian disebabkan dari kurangnya

pendidikan tutur kata dari orang tua mereka. Bahkan orang tua mereka sering juga mengucapkan umpatan-umpatan tersebut di hadapan

anak-anaknya sehingga tidak dapat memberikan teladan bertutur kata yang baik dan benar.

Akibatnya, mengucapkan kata-kata tersebut sudah menjadi budaya dalam masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Karena dari tingkah laku yang dilakukan secara terus menerus menyebabkan terjadinya kebiasaan,

(12)

LINGKUNGAN

Perkataan Jancok ini sering diungkapkan oleh kalangan muda dan menjadi budaya pertemanan, awalnya hanya dilakukan oleh orang-orang yang asli dari Surabaya. Karena kota Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dan sebagai ibu kota Jawa Timur, banyak sekali warga pendatang dari luar Surabaya yang tinggal di Surabaya untuk menempuh pendidikan dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Banyaknya warga pendatang ini kemudian beradaptasi dan membaur dengan warga asli Surabya. Karena beradaptasi inilah, banyak warga

pendatang juga mempelajari budaya asli Surabaya, salah satunya adalah budaya berbicara segala hal yang diberi imbuhan Jancok atau Cok ini.

(13)

Interpretasi

Kaitannya dengan Dimensi Allah, yaitu Allah Bapa sebagai pencipta

pasti menciptakan karya-karya untuk mengerjakan hal-hal yang baik.

Allah memberi kita mulut dengan tujuan untuk mengucapkan hal-hal

yang baik, kata-kata yang membawa berkat bagi sesama, bahkan untuk

menyebarkan kebenaran firman Tuhan kepada sesama. Bukan untuk

berbicara kotor.

Efesus 4:29

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari

mulutmu, tetapi

(14)

Interpretasi

Kaitannya dengan Dimensi Allah, yaitu Yesus yang melakukan

perbuatan-perbuatan kasih. Ketika seseorang sudah berkata

kotor, ia tidak lagi berbuat kasih sebagaimana Yesus

melakukannya karena kata-kata kotornya bahkan sudah

menyakiti hati orang yang mendengarnya

Kaitannya dengan Dimensi Allah, yaitu Roh Kudus yang fokus

(15)

Interpretasi

Ketika seseorang berkata kotor, imago dei nya yang

seharusnya menggambarkan karakter Allah sudah susut,

orang tersebut tidak lagi mencerminkan imago dei yang

sebenarnya

Secara

estilmologis,

dimana

kata

Jancok

berarti

(16)

Interpretasi

Melanggar hukum Tuhan yang ke-6 karena ketika seseorang berkata

kotor pada orang lain, sama saja dengan ia membunuh karakter orang

yg mendengarnya. Ada dua kemungkinan, yaitu : 1. Jika orang yg

mendengarnya adalah anak-anak atau orang yg tidak tahu artinya, bisa

saja ia mengikutinya karna dianggap tren juga di kota Surabaya. 2. Bisa

saja orang yg mendengarnya terkejut dan drop mental jika orang

tersebut tidak kuat dengan kata-kata kasar.

(17)

Interpretasi

Dalam pengakuan iman rasuli,

Aku

percaya kepada Roh

Kudus, gereja yang kudus dan

am

.

Kita percaya kepada Roh

Kudus, oleh karena itu seharusnya kita bisa lebih percaya

dengan tuntunan dan teguran Roh Kudus dalam hidup kita

dibandingkan

dengan

budaya

orang-orang

yang

(18)

Aksi

Melakukan penyebaran poster atau gerakan tutur kata

yang baik melalui sosmed (sosial media) tentang

bahaya salah berbicara

Melakukan penyuluhan

Di Kristiani sendiri dapat memanggil pendeta dan

melakukan PA tentang keharaman/tidak

diperbolehkannya pengucapan kata-kata kotor.

Memberikan pidato singkat saat terdapat acara

tentang penitngnya berbicara yang sehat tanpa

terpengaruh budaya jancuk

(19)

Sekian dan Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya belajar pada masyarakat lereng Merapi dan usaha masyarakat lereng Merapi dalam beradaptasi dan bertahan hidup di

agama Katolik gaya barat, terutama pada masa awal umat Jawa menganut agama Katolik. Inkulturasi budaya Jawa pada bangunan gereja-gereja Katolik di Yogyakarta mengalami.. proses

Dari hasil penulusuran sejumlah sumber tertulis yang dianalisis berdasarkan teori ekologi ma- nusia atau ekologi budaya dapat disimpulkan bahwa kondisi geografis

menuangkan penelitian ini dalam bentuk tesis dengan judul : PERILAKU BUDAYA ‘NATING’ (GADAI) PADA MASYARAKAT KOTA PAGARALAM (ANALISIS DALAM PERSPEKTIF EKONOMI

Dalam hal ini, peneliti mengfokuskan pada fenomena budaya yang terkhusus pada judul penelitian Budaya Hadrah pada Masyarakat Desa Sangga Kecamatan Lambu Kabupaten

serta pragmatis. Sebagai aset bangsa yang dipersiapkan untuk berperan sebagai penyelamat budaya bangsa, generasi milenial seharusnya dapat berfikir lebih kritis

Meskipun masyarakat Budaya Ngada menganut sistem matrilineal dalam sistem kekerabatan, seorang laki-laki dalam budaya Ngada tetapmemiliki tanggung jawab yang besar

Untuk kosa kata budaya yang berupa hasil-hasil kebudayaan materiil perlu dianalisis fungsi dan makna benda-benda tersebut dalam sudut pandang budaya dari masyarakat Bsu Bahasa Sumber