• Tidak ada hasil yang ditemukan

319776647 Kumpulan Jurnal Management Proyek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "319776647 Kumpulan Jurnal Management Proyek"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

1

Dimensi Teknik Sipil, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, 1-8 ISSN 1410-9530

Dimensi Teknik Sipil

ISSN 1410-9530 print © 2001 Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/civil

ALTERNATIF METODA PENJADWALAN PROYEK

KONSTRUKSI MENGGUNAKAN TEORI SET SAMAR

Andreas Wibowo

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman, Teknologi Permukiman Balitbang Permukiman dan Pengembangan Wilayah – Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah

ABSTRAK

Program Evaluation Review Technique (PERT) merupakan suatu metoda penjadwalan dengan menimbang durasi aktivitas yang bersifat tidak pasti. PERT mengasumsikan fungsi kerapatan probabilitas durasi aktivitas mengikuti distribusi beta. Analisis dalam PERT disederhanakan dengan menggunakan nilai-nilai tertentu parameter distribusi beta. Penentuan jalur kritis hanya menimbang mean durasi untuk menentukan jalur kritis, dan probabilitas total durasi didapatkan berdasarkan jalur kritis saja. Beberapa kasus menunjukkan penyederhanaan ini menimbulkan galat dan kontradiksi. Tulisan ini mengusulkan metoda penjadwalan alternatif yang juga menimbang durasi yang bersifat tidak pasti. Metoda ini, yang dinamakan Fuzzy Logic Application for Scheduling (FLASH), menerapkan teori set samar sebagai satu cara untuk memodelkan ketidakpastian yang muncul dari fenomena mental yang bukan bersifat acak maupun stokastik. FLASH tidak mensyaratkan data statistis tetapi hanya pengamatan secara kualitatif. FLASH mempertimbangkan semua jalur, tidak hanya jalur kritis saja seperti PERT, untuk menganalisis posibilitas suatu total durasi yang diharapkan.

Kata kunci: metoda penjadwalan, FLASH, PERT, probabilitas, posiblitas, set samar.

ABSTRACT

Program Evaluation Review Technique (PERT) is a scheduling method that consider the uncertainty of the duration of an activity. It assumes a probability density function with a beta distribution. PERT simplifies the analysis using specific values of parameters of beta distribution. The analysis of critical paths consider the mean of the duration only and the probability of the expected total duration are based on critical paths only. Some cases showed that these simplifications cause errors and contradictions. This paper proposes an alternative scheduling method that also allows uncertainties of duration. The method, named Fuzzy Logic Application for Scheduling (FLASH), applies a fuzzy set theory which is a perfect means for modeling uncertainties arising from mental phenomena which are neither random nor stochastic. It does not require statistical data but needs qualitative observations. Unlike PERT, FLASH considers all paths, not only critical path(s), to analyze the possibility of an expected total duration.

Keywords: scheduling method, FLASH, PERT, probability, possibility, fuzzy set.

PENDAHULUAN

Dalam manajemen proyek kontruksi ada beberapa metoda penjadwalan yang biasa digunakan seperti Gantt Chart, Precedence Diagram Method (PDM), Critical Path Method

(CPM), Program Evaluation Review Technique

(PERT), Graphical Evaluation Review Tech-

Catatan: Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum tanggal 1 Juni 2001. Diskusi yang layak muat akan diterbitkan pada Dimensi Teknik Sipil Volume 3, Nomor 2 September 2001.

nique (GERT), Linear Scheduling Method

(LSM), dll. Dipandang dari karakteristik durasi aktivitasnya, masing-masing metoda mempu-nyai asumsi yang berbeda. Gantt Chart, CPM,

dan PDM mengasumsikan durasi aktivitas bersifat pasti sementara PERT dan GERT tidak pasti.

(2)

aktivitas mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi. Dalam kondisi ini, metoda penjadwalan seperti PERTatau GERT-lah yang tepat diterapkan. Dalam PERT, durasi aktivitas diasumsikan mengikuti distribusi beta yang disederhanakan. Durasi dinyatakan dalam tiga nilai yang berbeda: optimistik, most likely, dan pesimistik. Namun, ada beberapa kelemahan yang dimiliki PERT:

a. Bila jumlah aktivitas dalam jalur kritis kurang daripada 30, deviasi terhadap nor-malitas akan terjadi.

b. Ada beberapa kesalahan yang muncul akibat simplifikasi nilai mean dan varians distri-busi beta terhadap nilai eksak dari fungsi kerapatan beta yang asli. Kesalahan akibat simplifikasi berkisar antara 17% dan 33% [1].

c. PERT hanya mempertimbangkan mean

durasi untuk menentukan total durasi dan mengabaikan keberadaan varians yang bisa mengakibatkan kesalahan penentuan proba-bilitas waktu penyelesaian. Dalam beberapa kasus asumsi ini mengakibatkan suatu kontradiksi.

Selain kelemahan tersebut, ada hal yang perlu diperhatikan menyangkut ketersediaan data lapangan. Nilai-nilai optimistik, most likely, dan pesimistik diperoleh melalui analisis stastistik dengan menetapkan persentil 5 dan 95 (atau 2 dan 98) dari populasi data. Hal ini hanya mungkin bila data lengkap tersedia. Kenyataan yang sering terjadi, data lapangan dalam kondisi yang memprihatinkan baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya, sehingga ana-lisis stastistis tidak dapat diterapkan terhadap data tersebut.

Tulisan ini mengusulkan sebuah alternatif metoda penjadwalan dengan tetap mengakomo-dasi ketidakpastian durasi yang diberi nama metoda Fuzzy Logic Application for Scheduling

(FLASH). Metoda ini berbeda dengan PERT dalam menganalisis durasi total proyek dan karakteristik durasi aktivitas:

a. FLASH menggunakan terminologi posibilitas daripada probabilitas untuk mengekspresi-kan ketidakpastian. Hal ini membuat FLASH lebih ‘terbuka’ dibandingkan PERT dalam hal ketidakpastian.

b. FLASH menganalisis semua jalur untuk menghasilkan posibilitas suatu total durasi proyek yang diharapkan.

c. Sehubungan dengan terminologi posibilitas, FLASH menggunakan teori Set Samar

(Fuzzy Set Theory) yang merupakan cara tepat untuk memodelkan ketidakpastian

(atau ketidaktepatan) yang muncul dari fenomena psikologis yang bukan bersifat acak maupun stokastik [2, 3].

d. Waktu penyelesaian proyek dinyatakan dalam bilangan samar (fuzzy number) dengan rentang yang mencakup nilai yang paling mungkin (most possible) dari waktu penyelesaian proyek. Nilai ini akan mempu-nyai derajat keanggotaan tertinggi, yaitu 1.0. Nilai-nilai selain nilai ini mempunyai derajat keanggotaan yang lebih rendah.

e. Dalam PERT, probabilitas 100% akan terjadi bila waktu penyelesaian adalah tidak ter-hingga (T → ∞) semantara dalam FLASH, posibilitas 100% akan terjadi pada waktu penyelesaian yang paling mungkin.

TEORI SET SAMAR

Teori Set Samar [2, 3] ditujukan untuk menye-lesaikan permasalahan di mana deskrips aktivitas dan pengamatan bersifat tidak tepat (imprecise), samar-samar (vague), dan tidak pasti (uncertain). Terminologi ‘samar’ mengacu pada suatu situasi di mana tidak ada batas-batas yang jelas dalam suatu set aktivitas atau pengamatan. Teori ini memperkenalkan fungsi keanggotaan (membership function) yang di-gunakan untuk menilai derajat keanggotaan (grade of membership) dari suatu objek dalam setiap set samar [2]. Derajat keanggotaan dinyatakan dalam rentang antara 0 dan 1. Bila derajat keanggotan suatu objek bernilai 1.0 berarti secara absolut objek tersebut berada dalam set dan bila bernilai 0 berarti objek tersebut secara absolut berada di luar set. Derajat keanggotan selain 0 dan 1 merepre-sentasikan kondisi antara (intermediate condi-tions).

Bila A adalah sebuah set samar yang dituliskan sebagai A = {(x,µA(x), x ∈ U)} di mana U adalah sebuah set ordinary dari objek maka U={x}. Untuk sebuah set ordinary, A,

(3)

A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

3 tertinggi, 1.0 sementara derajat keanggotan dari 2 dan 16 adalah 0 yang merepresentasikan bahwa bilangan-bilangan tersebut secara absolut tidak berada dalam set ‘bilangan-bilangan nyata yang dekat ke 10’ yang telah didefinisikan.

KONSEP DASAR SET SAMAR Konveksitas Set Samar

Sebuah set samar A disebut konveks bila: µA(λx1 + (1-λ)x2) ≥ min (µA(x1), µA(x2)) dimana x1, x2 ∈ U and λ∈ [0,1]. Contoh-contoh set samar konveks dan non-konveks diberikan dalam Gambar 2.

µ(x)

Gambar 1. Set Samar ‘bilangan nyata dekat ke 10’

µ(x)

Gambar 2. Set Samar Konveks dan Non-konveks

Normalitas Set Samar

Sebuah set samar A disebut normal jika dan hanya jika ada satu atau lebih x sedemikian sehingga µA(x’) =1. Sifat ini menjamin bahwa sedikitnya adalah satu anggota set samar memenuhi fenomena di mana set samar akan diterapkan.

α-cut dari Set Samar

α-cut dari set samar adalah sebuah set ordinary

yang anggota set samar A sekurang-kurangnya mempunyai derajat α. Karena itu, α-cut didefinisikan sebagai: Aα = {x ∈ U | µA(x) ≥ α}.

α-cut merupakan kasus umum dari sebuah set samar. Bila α = 0, Aα = S (A)

Bilangan Samar (Fuzzy Number)

Terminologi bilangan samar digunakan untuk mengakomodasi kuantitas numerik yang tidak tepat. Ada beberapa tipe khusus bilangan samar seperti L-R dan bilangan samar segitiga atau trapezoidal.

a. Bilangan Samar L-R

Sebuah bilangan samar disebut L-R bila: µ(x) =

Di mana m adalah ‘mean’ bilangan samar sementara α dan β adalah ‘penyebaran’ ke kiri dan kanan. Bila α=β=0, bilangan tersebut dianggap sebagai bilangan nyata. Persamaan (2) sering dituliskan kembali sebagai (m,α,β) atau bila puncaknya tidak unik ditulis (m1,m2, α,β). Bilangan Samar L-R diilustrasikan dalam Gambar 3.

α m β αm1 m2

µ(x) 1

β

Gambar 3 Bilangan Samar L-R

b. Bilangan Samar Segitiga (atau Trapezoidal) Sebuah bilangan samar segitiga

didefinisi-kan sebagai:

(4)

µ(x)

1

M M'

l m u a b c d

Gambar 4 Bilangan Samar Segitiga / Trapezoidal

Operasi Aljabar Bilangan Samar

Operasi aljabar bilangan samar meliputi penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian. Karena FLASH berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan saja maka hanya operasi-operasi inilah yang dituliskan di sini.

a. Penjumlahan bilangan samar

Penjumlahan bilangan samar M dan N dapat dilakukan dengan dua cara.

Pertama, menggunakan α-cut. Tentukan set level α dari M dan N menggunakan interval kepercayaan (derajat keanggotaan) sebagai Mα= [m1,m2] dan Nα = [n1,n2]. Penjumlahan M dan N dapat dituliskan kembali sebagai:

Mα (+) Nα = [m1+n1,m2+n2] (4) Penjumlahan dua bilangan samar secara

grafis dipresentasikan dalam Gambar 5. Untuk mendapatkan level α dari Mα(+)Nα, inversikan m1 menjadi µ-1M(α) sehingga µM(m1) = α. Demikian pula untuk m2,n1, and n2. Karena itu, persamaan (4) dapat ditulis-kan kembali menjadi:

Mα (+) Nα = Z [z1(α),z2(α)] =

[µ-1M1(α)+µ-1N1(α),µ-1M2(α)+µ-1N2(α)] (5) sedemikian sehingga α = µ-1(z1) = µ-1(z2).

Kedua, menggunakan Max-min convolution Bila x,y,z ∈ R maka penjumlahan M dan N b. Pengurangan Bilangan Samar

Pengurangan bilangan samar dapat dilaku-kan menggunadilaku-kan α-cut atau max-min

convolution sebagaimana dijelaskan di depan dengan mengubah N menjadi –N sehingga:

Mα (-) Nα = [m1- n1,m2-n2] (7)

Gambar 5 Penjumlahan Dua Bilangan Samar

Posibilitas dan Probabilitas

FLASH menerapkan terminologi posibilitas bukan probabilitas dalam menyatakan ketidak-pastian. Ada beberapa perbedaan antara kedua-nya walaupun mempukedua-nyai rentang semesta yang sama yaitu antara 0 dan 1:

a. Probabilitas erat kaitannya dengan data historis dan analisis statistik. Posibilitas diperoleh berdasarkan pengamatan-penga-matan yang mungkin tidak akurat, tidak tepat, subjektif, dan intuitif tetapi masih dalam pertimbangan logis. Ketidaktepatan muncul dari beberapa sumber yaitu tidak dapat dikuantifikasikan, tidak lengkap, tidak dapat diperoleh, atau ada sebagian informasi yang terabaikan.

b. Posibilitas tinggi tidak berarti probabilitas-nya tinggi. Ini terjadi karena probabilitas didasarkan pada sampling acak di mana terjadinya suatu sampel mempunyai peran-an penting. Di lain pihak, posibilitas tidak mendasarkan analisisnya pada data statistik tetapi lebih kepada pertimbangan logis semata.

c. Dalam teori set samar, posibilitas dinyata-kan dalam πx sementara probabilitas dalam P(x). Fungsi kerapatan posibi-litas adalah sama dengan fungsi keanggotaannya (µx) atau πx ≅µx [4].

FLASH

FLASH pada dasarnya sama dengan CPM dalam hal activity on arrow (AOA) diagram dan perhitungannya kecuali karakteristik durasi-nya. Durasi aktivitas i-j dinyatakan dalam tiga nilai berbeda: batas bawah, paling mungkin, dan batas atas. Karena FLASH mengasumsikan durasi aktivitas dinyatakan dalam bilangan samar segitiga, ketiga nilai tersebut merupakan nilai l, m, dan u atau Di-j(l,m,u). Untuk node i,

(5)

A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

5

Perhitungan Maju

Perhitungan maju adalah perhitungan yang dimulai dari node ‘start’ dan bergerak ke ‘end’ yang didefinisikan sebagai:

Ej =

i

max {Ei+Dij} (9)

untuk semua aktivitas yang didefinisikan (i,j) di mana:

Ei : early start node i (dalam bilangan samar) Ej : early start node j (dalam bilangan samar) Dij : durasi aktivitas i-j (dalam bilangan samar

segitiga)

Pada hubungan seri, hanya ada satu aktivitas predesesor, persamaan (9) merupakan penjum-lahan antara dua bilangan samar. Masalah akan muncul apabila jumlah aktivitas predese-sor lebih dari satu (konvergen), artinya ada beberapa bilangan samar yang harus dibanding-kan untuk menentudibanding-kan bilangan yang paling maksimum. Hwang [1] merumuskan suatu operasi yang disebut Fuzzy Max yang merupa-kan operasi dual dari dua atau lebih bilangan samar. Fuzzy Max didefinisikan sebagai:

Mα(∨) Nα = [m1∨ n1, m2∨ n2], atau (10)

Secara grafis, Fuzzy Max dipresentasikan dalam Gambar 6. Persamaan (9) dapat ditulis-kan kembali untuk mendefinisiditulis-kan derajat keanggotan Ej:

µEj =

i

max {µEi+Dij} (12)

Perhitungan Mundur

Perhitungan mundur menghitung dari node ‘end’ dan bergerak ke node ‘start’. Ini digunakan untuk menentukan latest start node i di mana: Li =

j

min{Lj – Dij} untuk semua aktivitas i,j (13) Sama halnya dengan perhitungan maju, bila terdapat hanya satu suksesor, Li menjadi pengurangan antara dua bilangan samar, Lj dan Dij. Baik persamaan (7) atau (8) dapat digunakan menyelesaikan perhitungan. Namun demikian bila terdapat lebih dari satu suksesor (divergen), hal ini membutuhkan perbandingan antar-bilangan samar untuk menentukan bilangan samar yang paling minimum. Pada kasus ini, Fuzzy Min bisa diterapkan. Fuzzy Min merupakan operasi dual yang berkaitan dengan irisan (intersection) dan didefinisikan sebagai:

Mα (∧) Nα = [m1∧n1, m2∧n2] atau (14)

µM(∧)N(z) =

i

max[µM(x) ∧ µN(y)) (15) Fuzzy Min dari dua bilangan samar, P dan Q

secara grafis diperlihatkan pada Gambar 7. Persamaan (13) dapat dituliskan kembali untuk menentukan fungsi keanggotaan Li :

µLi =

Gambar 6. Contoh Fuzzy Max

x

P Q

fuzzy µ(x)

1

Gambar 7. Contoh Fuzzy Min

Waktu Ambang (Floats)

Ada tiga tipe waktu ambang, waktu ambang total (TF), bebas (FF), dan independen (IF). TF suatu aktivitas adalah jumlah unit waktu aktivitas yang dapat diundurkan tanpa ber-pengaruh pada waktu penyelesaian total proyek. FF adalah jumlah unit waktu aktivitas yang dapat diundurkan tanpa berpengaruh pada ambang total aktivitas sesudahnya, sementara IF adalah jumlah unit waktu aktivi-tas yang dapat diundurkan tanpa mempenga-ruhi TF dari aktivitas suksesor dan predesesor. TFij = Lj – Ei – Dij (17) FFij = Ej – Ei – Dij

IFij = Ej – Li – Dij

Karena Ei, Ej, Li, and Dij adalah bilangan samar maka TF, FF dan IF juga merupakan bilangan samar pula.

STUDI KASUS

(6)

Tabel 1 Studi Kasus

Gambar 8. Studi Kasus

Bila E1 = 0 (waktu mulai proyek), E2 dihitung berdasarkan persamaan (9) yaitu E2 = E1 + D12(2,4,7). Fungsi keanggotaan E1 adalah sebuah bilangan samar L-R dengan α=β=0 sehingga E1(0,0,0). Menggunakan persamaan (8), fungsi keanggotan E1 didefinisikan sebagai:

µE1(x) = nilai yang berbeda yaitu:

α = (x1-2)/2 = (7-x2)/3 or x1 = 2α +2 and x2 = 7 - 3α

Menggunakan α-cut, penjumlahan E1 dan D12 akan menghasilkan: E2(E2*,E2**) = (0+2α +2,0+7-3α) = E2(2α+2,7-3α) yang bila diinversikan akan menghasilkan:

α = (E2*-2)/2 = (7-E2**)/3.

Fungsi keanggotan E2 didefinisikan sebagai

µE2 =

Dengan cara yang sama E5, E3, E4, E7, E8 dapat diperoleh beserta fungsi keanggotaan masing-masing. Secara grafis, nilai-nilai ini disajikan dalam Gambar 9 dan 10

Gambar 10 Bilangan Samar E3,E4,E5,E7,E8

Karena ada dua aktivitas yang berakhir pada

node 6 yaitu aktivitas 5-6 dan 3-6, E6 menjadi max(E5+D56,E3+D36) di mana E5+D56 = (4α +9,20-11α) dan E3+D36 =(4α+7,13-2α). Oleh karena itu, E6 = max (4α+9 ∨ 4α+7,20-11α ∨ 13-2α). Berubahnya nilai α akan diperoleh hasil yang berbeda yaitu:

0≤α≤0.78, E5+D56 ∨ E3+D36 = (4α+7,20-11α) 0.78≤α≤1.0, E5+D56 ∨ E3+D36 = (4α+7,13-2α). Fungsi keanggotaannya adalah

µE6 =

Secara grafis, fungsi keanggotaan E6 disajikan dalam Gambar 11. Dengan cara yang sama, E9 dapat diperoleh. Early finish proyek adalah E9+D910 yang didefinisikan:

(7)

A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

7 Early finish proyek disajikan secara grafis dalam Gambar 12.

0

Gambar 12. Early Finish Proyek

Perhitungan Mundur

Perhitungan mundur dilakukan dengan operasi pengurangan dan Fuzzy Min. Misal, latest start

node 9 (L9) didefinisikan sebagai L9 = E10 – D910 di mana D910 didefinisikan sebagai:

µD910 =

Dengan cara yang sama L8,L7,L6,L5,L4,L3, dan L2 dapat diperoleh. Hal yang harus diingat yaitu nilai-nilai ini harus non-negatif sehingga bila ada di antaranya mempunyai nilai negatif maka nilai tersebut dapat diabaikan.

Karena ada tiga aktivitas yang bermuara di node 1 yaitu aktivitas 1-2,1-3, dan 1-4, L1 menjadi min (L2-D12, L3-D13, L4-D14). dengan menggunakan fuzzy min, L1 didefinisikan sebagai:

Tetapi karena L1 adalah non-negatif, µL1 didefinisikan ulang sebagai:

µL1 =

Setelah diperoleh Ei dan Li untuk ∀(semua) i, waktu ambang masing-masing dapat ditentu-kan. Perhitungannya menyangkut operasi pengurangan menggunakan α-cut. Sebagai contoh, TF untuk aktivitas 6-9 ditentukan:

untuk 0 ≤α≤0.78: TF6-9 = L9 – E6 – D69 = [19α

-FF dan IF dapat dihitung dengan cara sama. Perbandingan dengan PERT

(8)

yang sangat normal sehingga posibilitas untuk dapat lebih cepat atau lambat akan semakin rendah tergantung pada perbedaannya ter-hadap kondisi normal tersebut.

Apabila digunakan analisis PERT dengan mean

dan varians waktu penyelesaian adalah 24.67 dan 0.78, probabilitas waktu penyelesaian kurang daripada 23 hari adalah 0.03 atau hanya 3%! Sementara probabilitas waktu penyelesaian kurang daripada 27 hari adalah 93.9% tetapi dengan jalur kritis 1-4-7-8-9-10 di mana mean dan variansnya adalah 23.33 dan 5.61 dan bukan jalur kritis yang sebenarnya, 1-3-6-9-10. Dengan mean dan varians sebesar 24.67 dan 0.78, probabilitas waktu penyelesaian kurang daripada 27 hari mencapai 99.6% !

0

Gambar 13 Latest Start L3,L4,L5,L6,L7,L8,L9

0

Gambar 15. TF,FF,IF Aktivitas 6-9

KESIMPULAN

Tulisan ini menyajikan suatu alternatif metoda penjadwalan yang diberi nama Fuzzy Logic Application for Scheduling (FLASH). FLASH mengasumsikan bahwa durasi bersifat tidak pasti dan mengekspresikannya ke terminologi posibilitas dan bukan probabilitas sebagaimana digunakan dalam PERT. Ada beberapa perbeda-an perbeda-antara keduperbeda-anya. Probabilitas didasarkperbeda-an pada data historis yang dianalis secara statistik sementara posibilitas didasarkan pada peng-amatan yang mungkin tidak akurat, tidak tepat, subjektif, dan intuitif tetapi masih dalam pertimbangan logis. Kondisi ini sebenarnya lebih sesuai menggambarkan kenyataan yang ada di mana data historis yang layak sering kali sulit diperoleh.

Durasi aktivitas dalam FLASH dinyatakan dalam bilangan samar segitiga yang mencakup nilai batas bawah (l), paling mungkin (m) dan batas atas (u). Nilai yang paling mungkin mempunyai derajat keanggotaan tertinggi yaitu 1.0. Semakin jauh perbedaan suatu nilai dengan nilai ini akan mempunyai derajat keanggotaan yang lebih rendah. Karena FLASH mengguna-kan bilangan samar, maka operasi aljabarnya berbeda dengan bilangan nyata. Ada beberapa prosedur perhitungan di dalamnya.

FLASH memperhitungkan semua jalur dalam menentukan waktu penyelesaian proyek (total durasi proyek) karena FLASH mengasumsikan bahwa semua jalur mempunyai kontribusi yang sama terhadap total durasi.

REFERENCES

1. Ahuja, Hira N., et al., Project Management: Technique in Planning and Controlling Construction Projects, John Wiley&Sons, Canada, 1994.

2. Hwang, Ching Lai and Chen, Shu-Jen,

Fuzzy Multiple Attribute Decision-Making: Methods and Applications, Springer-Verlag, Berlin, 1992.

3. Hwang, Ching Lai and Yoon, Kwangsun,

Multiple Attribute Decision-Making: Methods and Applications, Springer-Verlag, Berlin, 1981.

4. Soemardi, Biemo. W. dan Wibowo, Andreas, 1998, Model Produktivitas Pemasangan Pelat Struktur Beton Pracetak pada Konstruksi Gedung dengan Menggunakan Konsep Samar, Jurnal Teknik Sipil ITB,

(9)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

78

ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

JASA KONSTRUKSI

Bambang Poerdyatmono

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Madura, Pamekasan Jl. Raya Panglegur KM 3.5 Pamekasan

email : [email protected]

ABSTRAKSI

Penggunaan sumber daya manusia, peralatan, bahan bangunan dan biaya dalam suatu kegiatan operasional proyek pembangunan jasa konstruksi sering menimbulkan sengketa konstruksi. Sengketa dimaksud bisa terjadi pada masa prakontraktual, masa kontraktual, dan masa pascakontraktual.

Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu : (1) Tahap sebelum Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, (2) Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, dan (3) Tahap setelah Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi (Tahap Operasional Bangunan).

Kesimpulan yang didapatkan adalah berupa tanggung jawab masing-masing Pihak sebagai pelaku pembangunan konstruksi, baik dari sisi perdata maupun sisi pidana, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi jo

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi jo Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi jo Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi, serta peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan jasa konstruksi.

Kata Kunci : jasa konstruksi, sengketa jasa konstruksi, alternatif penyelesaian sengketa jasa konstruksi.

ABSTRACT

The usage of human recource, equipments, material construction and operational cost in project od development of service construcction often generate construction conflict. Such conflict can happened at a phase of precontractual, phase of contractual and phase of postcontractual.

The solution of conflict, can be devided into three, that is : (1) Phase precontractual of construction, (2) Phase excecution of construction, (3) Phase operation construction work.

The key factor to conflict solution are responbility of development construction Implementator both from perspective of private or public law as sentenced by UU Number 18 Year 1999 about Service Construction juncto PP Number 28 Year 2000 about Effort and Role of Society Service Construction of juncto PP Number 29 Year 2000 about Management of Service Constructionof juncto PP Number 30 Year 2000 about Management of Construction of Service Construction, and other rule or regulation related the construction service.

(10)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 79

Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan pembangunan fisik dibidang jasa konstruksi cukup banyak melibatkan sumber-sumber daya, baik sumber daya manusia, sumber daya alam berupa bahan bangunan, sumber daya tenaga dan energi peralatan, mekanikal dan elektrikal, serta sumber daya keuangan. Dalam setiap tahapan pekerjaan tersebut dilakukan dengan pendekatan manajemen proyek, yang prosedurnya telah diatur dan ditetapkan sedemikian rupa, sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu pelaksanaan.

Namun demikian, pada setiap tahapan-tahapan pekerjaan tersebut, adakalanya mengalami hambatan, baik dari faktor manusia maupun sumber-sumber daya yang lain. Hambatan-hambatan sekecil apapun harus diselesaikan dengan baik untuk mencegah kerugian yang lebih besar, baik dari pelaksanaan waktu pekerjaan maupun operasional bangunan kelak. Oleh karenanya tulisan ini akan berupaya membahas lebih jauh sengketa yang terjadi dan bagaimana penyelesaiannya, berdasarkan pada literatur maupun pengalaman lapangan yang penulis alami, khususnya untuk proyek skala kecil hingga menengah.

1.2. Permasalahan

Pada dasarnya, ilmu pengetahuan yang sangat luas itu merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Akan tetapi dengan keterbatasan yang dimiliki manusia itu sendiri, mereka hanya mampu untuk menampung beberapa cabang keilmuan saja. Oleh karenanya wajar apabila setiap pekerjaan profesi yang dilakukan oleh seorang yang profesional, wajib didukung dengan pengetahuan yang cukup untuk melengkapi keilmuan yang dimiliki. Maksudnya, sudah saatnya para profesional teknik memiliki pengetahuan keilmuan yang bersentuhan dengan bidang pekerjaannya, yaitu ilmu hukum. Dengan demikian diharapkan bahwa setiap langkah profesi yang dilakukan oleh profesional teknik, mampu untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi apabila bidang pekerjaan profesi teknik tersebut berakibat hukum.

Berdasarkan literatur dan pengalaman yang penulis lakukan, maka kecenderungan sengketa jasa konstruksi diakibatkan oleh beberapa hal : (1). Sengketa precontractual (2) Sengketa contractual (3) Sengketa pascacontractual. Masing-masing segketa tersebut memiliki karakteristik tersendiri dan merupakan bagian dari keseluruhan manajemen proyek bidang jasa konstruksi.

1.3. Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk membahas lebih jauh tentang sengketa jasa konstruksi yang sering terjadi, sehingga diharapkan profesional teknik yang bekerja dibidangnya dapat mengantisipasti kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, khususnya pekerjaan-pekerjaan yang bersentuhan dengan hukum.

1.4. Pembatasan Masalah

(11)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

80

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

2.1. Jasa Konstruksi

Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan jasa konstruksi umumnya masih mengikuti peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, dengan apa yang waktu itu kita kenal dengan Algemene Voorwaarden (AV) 1941. Jauh setelah itu, peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan jasa konstruksi baru diterbitkan Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 beserta Peraturan Pemerintah Nomor 28, 29 dan 30 Tahun 2000, serta peraturan perundang-undangan lain baik di tingkat pusat maupun daerah.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang jasa konstruksi, berikut dalam tabel 1 adalah asas dan tujuan pengaturan jasa konstruksi sebagaimana yang diamanatkan UU Nomor 18 Tahun 1999.

Tabel 1. Asas dan Tujuan Pengaturan Jasa Konstruksi sesuai Undang-Undang No. 18 Tahun 1999

No Asas-asas Jasa Konstruksi No Tujuan Pengaturan Jasa Konstruksi

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Asas Kejujuran

Asas Keadilan

Asas Manfaat

Asas Keserasian

Asas Keseimbangan

Asas Keterbukaan

Asas Kemitraan

Asas Keamanan

Asas Keselamatan

1.

2.

3.

Memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi yang berkualitas.

Mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mewujudkan peningkatan peran masyarakat di bidang jasa konstruksi

Dari penjelasan tabel 1 di atas jelaslah bahwa semua yang bekaitan dengan asas-asas dan tujuan pengaturan jasa konstruksi tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Berkaitan dengan pelaksanaan jasa konstruksi sebagai bagian dari manajemen proyek/konstruksi, maka lingkup layanan jasa konstruksi sebagaimana Pasal (3) PP Nomor 28 Tahun 2000 adalah lingkup pelayanan jasa perencanaan, pelaksanaan, pengawasan secara strategis dapat terdiri dari jasa : rancang bangun, perencanaan, pengadaan, dan pelaksanaan terima jadi, penyelenggaraan pekerjaan terima jadi.

(12)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 81

No Jenis Usaha Jasa Konstruksi

Menurut UU Nomor 18 Tahun 1999

Menurut PP Nomor 28 Tahun 2000

1. Perencanaan Konstruksi Layanan jasa perencanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagian-bagian dari kegiatan mulai dari studi pengembangan sampai dengan penyusunan

dokumen kontrak kerja konstruksi

Survey, perencanaan umum, studi makro dan mikro, studi kelayakan proyek, industri dan produksi; perencanaan teknik, operasi dan pemeliharaan, serta penelitian.

2. Pelaksanaan Konstruksi Layanan jasa pelaksanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagian-bagian dari kegiatan mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan konstruksi.

Lingkup jasa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan secara strategis dapat terdiri dari jasa : rancang bangun, perencanaan, pengadaan, dan pelaksanaan terima jadi, penyelenggaraan pekerjaan terima jadi. 3. Pengawasan Konstruksi Layanan jasa pengawasan

baik keseluruhan maupun sebagian pekerjaan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan konstruksi.

Layanan pengawasan jasa konstruksi yang meliputi : pengawasan pekerjaan konstruksi, pengawasan keyakinan mutu dan ketepatan waktu, dan proses perusahaan dari hasil pekerjaan konstruksi

Dari tabel 2 di atas jelaslah bahwa lingkup sengketa jasa konstruksi dapat saja terjadi pada tingkat perencanaan konstruksi, pelaksanaan konstruksi, juga pada tingkat perngawasan konstruksi itu sendiri. Oleh karena begitu luasnya sengketa yang ada, maka penulis membatasi sengketa yang terjadi hanya pada tingkat pelaksanaan konstruksi (sengketa

contractual) dengan alasan bahwa pada tingkat ini merupakan bagian pekerjaan konstruksi yang melibatkan sumber daya yang besar, diketahui atau berlokasi didaerah umum (publik), dan pekerjaan pelaksanaan konstruksi saat itu sedang berlangsung.

2.2 Sengketa Jasa Konstruksi

Sebagaimana diketahui dalam penulisan di depan, bahwa sengketa jasa konstruksi terdiri dari 3 (tiga) bagian :

(13)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

82

b. Sengketa contractual yaitu sengketa yang terjadi pada saat berlangsungnya pekerjaan pelaksanaan konstruksi.

c. Sengketa pascacontractual yaitu sengketa yang terjadi setelah bangunan beroperasi atau dimanfaatkan selama 10 (sepuluh) tahun.

2.2.1. Sengketa Contractual

Sengketa ini terjadi pada saat pekerjaan pelaksanaan sedang berlangsung. Artinya tahapan kontraktual sudah selesai, disepakati, ditandatangani, dan dilaksanakan di lapangan. Sengketa terjadi manakala apa yang tertera dalam kontrak tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan di lapangan. Dalam istilah umum sering orang mengatakan bahwa pelaksanaan proyek di lapangan tidak sesuai dengan bestek, baik bertek tertulis (kontrak kerja) dan atau bestek gambar (lampiran-lampiran kontrak), ditambah perintah-perintah direksi/pengawas proyek (manakala bestek tertulis dan bestek gambar masih ada yang belum lengkap).

Sedangkan sumber timbulnya sengketa, menurut Hamid Shahab (2000), terdapat beberapa kasus (ditambah pengalaman penulis), yaitu :

a. Rasa saling percaya yang begitu besar antara pengguna jasa dan penyedia jasa, sehingga sering menimbulkan keinginan untuk segera memulai pekerjaan pelaksanaan proyek, sebelum dokumenn pelaksanaan (kontrak) selesai diproses. Menurut penulis, maksudnya adalah penyedia jasa memulai pekerjaan cukup hanya berbekal SPMK (Surat Perintah Memulai Pekerjaan) dari Pemimpin/Bagian Proyek. Kadangkala bahkan ada yang lebih kronis lagi, yaitu tanpa berbekal apapun asalkan yang bersangkutan sudah dinyatakan lolos seleksi (tender) “pemenang” lelang tersebut sudah memulai pekerjaan di lapangan dengan alasan memburu waktu (yang biasanya skala waktu suatu proyek kecil dan menengah memang singkat), walaupun tanpa dibekali uraian pekerjaan yang diperjanjikan atau dipercayakan.

b. Perjanjian (kontrak) kerja dan dokumen konstruksi yang bersifat umumlah digunakan pedoman/dasar memulai pekerjaan, padahal ada detail dokumen yang lain yang seharusnya menjadi pedoman pelaksanaan, belum selesai dibuat.

c. Proses pekerjaan pelaksanaan sudah dimulai tanpa pola urutan proses kerja, program waktu serta garis kritis yang akan mempengaruhi target akhir (time schedule). Ini terkait juga dengan butir 1 di atas.

d. Di tengah perjalanan pekerjaan konstruksi, kadangkala pengguna jasa sebagai pemilik proyek melakukan kebijaksanaan dengan alasan untuk menghemat biaya, misalnya dengan melakukan self-supply untuk material-material tertentu tanpa melibatkan proses pengendalian mutu dengan melibatkan penyedia jasa.

e. Adakalanya pengguna jasa sebagai pemilik proyek mempercayakan manajemen proyek kepada satu tangan dengan tanggung jawab penuh dan target waktu dan biaya yang ketat dalam batas ceiling tertentu, akan tetapi dalam pelaksanaannya pengguna jasa terlalu banyak mencampuri koordinasi dan manajemen proyek sehingga urutan pekerjaan dan pola penanganan proyek menjadi kacau sehingga sulit dipertanggungjawabkan dari kualitas, kuantitas, maupun target waktu dan biaya. Padahal proses tender/penunjukan sudah dilaksanakan sesuai ketentuan.

(14)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 83

berhak menerima dan memiliki dokumen, dokumen asli disimpan dimana, termasuk apakah direksi keet memerlukan gambar, time schedule, kalender, buku direksi/tamu, meja rapat kecil, gudang dan sebagainya.

h. Format pengendalian proyek, kaitannya dengan siapa bertanggung jawab kepada siapa. Sering terjadi di lapangan, petugas proyek tidak menjalankan prosedur atau tata tertib yang telah disepakati kaitannya dengan struktur organisasi manajemen proyek.

i. Timbulnya variation order sepanjang masa pelaksanaan konstruksi, dengan tidak mencatat, melaporkan atau mengantisipasi terhadap pengaruh perubahan waktu dan biaya.

j. Pekerjaan dilaksanakan tanpa landasann yang disepakati, misalnya unit price, sedang di lapangan menuntut jalur kritis.

k. Site Engineer atau Koordinator Lapangan yang tidak menguasai seluruh proses. Ini akan berakibat permasalahan yang ada dan terjadi atau kemungkinan deteksi dini tidak dapat dilakukan dengan baik.

l. Terjadinya kerancuan istilah Quality Control dengan Quality Assurance.

m. Terdapat istilah-istilah yang dapat menimbulkan dubious, misalnya :

1) Tidak perlu safety yang berlebihan, asalkan fungsi bangunan terpenuhi.

2) Persiapkan jalan masuk proyek, tanpa kejelasan transportasi apa saja yang akan melalui jalan masuk tersebut.

3) Kerjakan lebih dahulu apa yang dapat dikerjakan, dengan tidak mengantisipasi kendala yang mungkin timbul yang akan memperlamabat kelancaran proyek, sedangkan tanggung jawab yang timbul, tidak berada di pundak pemberi arahan tersebut.

n. Terdapat istilah-istilah yang ambigous, seperti :

1) Gunakan material sejenis, setara atau yang kualitasnya sederajat. 2) Lakukan dengan mutu yang baik.

3) Lakukan dalam periode waktu yang wajar.

4) Gunakan batas toleransi penyimpangan yang wajar.

5) Lakukan sesuai dengan apa yang dirasakan perlu oleh konsultan perencana. 6) Jalankan sesuai dengan standar atau servis normal.

7) Batasi dengan biaya maksimum yang dapat dijamin (guaranted maximum price).

8) Ikuti pandangan konsultan perencana yang reasonable.

9) to the engineer’s satisfaction.

o.Fungsi manajemen konstruksi yang jelas diperlukan pada proyek kecil sampai proyek besar, tidak jelas diserahkan kepada siapa :

1) Apakah kepada Tim Manajemen Konstruksi (MK), atau 2) Apakah kepada Kontraktor Utama, atau

3) Salah satu kontraktor yang terlibat pada proyek, atau 4) Dipegang sendiri oleh Pengguna Jasa atau Pemilik Proyek.

p.Belum adanya pengaturan mengenai tidak terpenuhinya target waktu atau target finansial.

q.Adanya persetujuan yang tidak di back-up dengan administrasi dan atau pendanaan yang baik.

(15)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

84

s. Biaya tambah yang diperlukan untuk mempercepat pelaksanaan proyek, baik untuk memperpendek periode pelaksanaan secara keseluruhan maupun untuk mengejar keterlambatan, persetujuan dan keterlambatan dokumen yang perlu disiapkan oleh pihak ketiga.

t. Idle time peralaan yang tidak efektif.

u.Meningkatnya overhead karena banyaknya penundaan-penundaan pelaksanaan atau banyaknya change order atau perubahan pekerjaan yang berakibat pada pekerjaan tambah.

v.Keterlambatan pembayaran, padahal di satu sisi pekerjaan dituntut tetap lancar dan dilaksanakan dengan baik.

w.Adanya perbedaan pengertian kontrak yang berbahasa asing dengan kontrak yang sama dan berbahasa Indonesia.

x.Nominated subkontraktor (sub penyedia jasa) yang ditunjuk oleh pengguna jasa, tanpa koordinasi dan konsultasi dengan pihak yang memegang koordinasi dan tanggung jawab.

Kasus-kasus sebagai penyebab sengketa tersebut di atas merupakan kasus-kasus yang sering terjadi di lapangan. Apabila ditambah dengan kasus-kasus yang lebih kecil, jumlahnya cukup banyak. Penulis beranggapan apabila semua kasus-kasus di atas dapat diatasi, besar kemungkinan kasus-kasus kecil juga akan teratasi.

2.3. Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi juncto Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa junco

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi serta peraturan lain, mengisyaratkan bahwa penyelesaian sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur di luar pengadilan. Dalam tabel 3 adalah perbandingan penyelesaian sengketa menurut peraturan-peraturan tersebut di atas.

Dari uraian dalam tabel 3, jelaslah bahwa pada dasarnya penyelesaian sengketa jasa konstruksi yang tidak dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat, diarahkan pada penyelesaian di luar pengadlan dan bermuara pada penyelesaian sengketa melalui jalur

arbitrase.

Dalam hal kasus sengketa yang bersifat kontraktual atau sengketa dimasa pelaksanaan pekerjaan sedang belangsung, maka penyelesaian sengketa tersebut dapat melalui jalur-jalur sebagaimana dalam tabel 3, yaitu :

1). Jalur Konsultasi

Konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat “personal” antara satu pihak tertentu, yang disebut dengan “klien” dengan pihak lain yaitu konsultan. Pihak konsultan ini memberikan pendapat kepada klien untuk memenuhi kebutuhan klien tersebut. Dalam jasa konstruksi, konsultan berperan penting dalam penyelesaian masalah-masalah teknis lapangan, apalagi apabila konsultan tersebut merupakan konsultan perencana dan atau konsultan pengawas proyek. Pendapat mereka sangat dominan untuk menentukan kelancaran proyek

2). Jalur Negosiasi

(16)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 85

aturan tersebut adalah bahwa kesepakatan tertulis tersebut ada yang cukup ditandatangani para pihak dengan tambahan saksi yang disepakati kedua belah pihak. Sedangkan yang satu lagi, kesepakatan yang telah diambil harus didaftarkan ke Pangadilan Negeri. Negosisi merupakan salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar pengadilan, sedangkan perdamaian dapat dilakukan sebelum proses sidang pengadilan atau sesudah proses sidang berlangsung, baik di luar maupun di dalam sidang pengadilan (Pasal 130 HIR). Dari literatur hukum dapat diketahui, selain sebagai lembaga penyelesaian sengketa, juga bersifat informal meskipun adakalanya juga bersifat formal.

Tabel 3. Perbandingan Penyelesaian Sengketa

UU No 18 / 1999 Tentang Jasa

Konstruksi

UU No. 30 / 1999 Tentang Arbitrase

dan Alternatif Penyelesaian

Sengketa

SKB Menteri Keuangan RI dan Kepala BAPPENAS

No.S-42/A/2000 No.S-2262/D.2/05/2000

Tentang Juknis Keppres RI

No.18/2000

PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan

Jasa Konstruksi

Semua keputusan tetap melalui kesepakatan para pihak (bersifat final, mutlak)

Melalui Pengadilan (pidana/perdata)

Luar Pengadilan dan dapat dibantu pihak ketiga

Semua keputusan tetap melalui

kesepakatan (bersifat final, mutlak)

---

Luar Pengadilan ◘ Konsultasi ◘ Mediasi ◘ Negosiasi ◘ Konsiliasi ◘ Penilaian Ahli

Semua keputusan tetap melalui kesepakatan (bersifat final, mutlak)

Melalui Pengadilan (pidana/perdata)

Luar Pengadilan ◘ Konsultasi ◘ Konsiliasi ◘ Badan Arbitrase

Semua keputusan tetap melalui

kesepakatan (bersifat final, mutlak)

---

Luar Pengadilan ◘ Konsultasi ◘ Mediasi ◘ Negosiasi ◘ Konsiliasi ◘ Penilaian Ahli

Sumber : Bambang Poerdyatmono (2003)

3). Jalur Mediasi

(17)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

86

kondisi yang kondusif sehingga para pihak yang besengketa dapat berkompromi dan menghasilkan penyelesaian yang saling menguntungkan di antara para pihak yang bersengketa. Mediasi juga merupakan salah satu alternatif penyelesaian sengketa.

4). Jalur Konsiliasi

Konsiliasi menurut sumber lain, dapat disebut sebagai perdamaian atau langkah awal perdamaian sebelum sidang pengadilan (ligitasi) dilaksanakan, dan ketentuan perdamaian yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, juga merupakan bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan, dengan mengecualikan untuk hal-hal atau sengketa yang telah memperoleh suatu putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

5). Jalur Pendapat Hukum oleh Lembaga Arbitrase

Arbitrase adalah bentuk kelembagaan, tidak hanya bertugas untuk menyelesaikan perbedaan atau perselisihan atau sengketa yang terjadi antara para pihak dalam perjanjian pokok, akan tetapi juga dapat memberikan konsultasi dalam bentuk opini atau pendapat hukum atas permintaan para pihak dalam perjanjian. Pendapat hukum lembaga arbitrase

bersifat mengikat, dan setiap pelanggaran terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract – wanprestasi). Sifat dari pendapat hukum lembaga arbitrase ini termasuk dalam pengertian atau bentuk “putusan” lembaga arbitrase.

Kesepakatan penyelesaian sengketa melalui jalur pendapat hukum lembaga arbitrase

ini agaknya yang mendasari Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Jawa Timur pada tanggal 27 November 2004 yang lalu. Dengan demikian, maka penyelesaian sengketa jasa konstruksi bidang arsitektural mulai dijajaki ke arah itu. Bagaimana dengan profesi teknik yang lain?

Menurut pengalaman penulis, pada dasarnya penyelesaian sengkera jasa konstruksi banyak mengadopsi beberapa jalur tersebut di atas. Dalam penyelesaian sengketa jasa konstruksi pada saat berlangsungnya pelaksanaan proyek dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1). Penyelesaian sengketa kontraktual (sampai penyerahan pekerjaan I)

a. Penyelesaian sengketa dengan Site Meeting (Rapat-rapat Lapangan) yang dilaksanalan 2 (dua) minggu sekali. Rapat ini dihadiri oleh pengguna jasa, penyedia jasa, dan wakil pemerintah bidang konstruksi (untuk proyek pemerintah - instansi teknis). Kesepakatan yang dihasilkan dalam site meeting ini dibuatkan Berita Acara Rapat Lapangan yang ditandatangani pihak-pihak yang terlibat/hadir, mengikat semua pihak, serta masuk dalam dokumen pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan. Dengan rapat-rapat lapangan yang bersifat rutin ini diharapkan segala permasalahan yang ada dan yang terjadi dapat diantisipasi.

b. Penyelesaian sengketa dengan Arbitrase Ad Hoc (Arbitrase Voluntier).Cara ini dilakukan manakala penyelesaian sengketa di tingkat pertama (butir a) belum menghasilkan kesepakatan diantara para pihak. Arbitrase Volunter ini dibentuk khusus untuk menyelesaikan sengketa atau memutus sengketa tertentu (baca : sengketa konstruksi). Karena itu arbitrase volunter ini bersifat insidentil dan jangka waktunya tertentu pula sampai sengketa tersebut diputuskankan. Dalam praktik konstruksi,

(18)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 87

1) Seorang wakil dari pihak kesatu (pengguna jasa) sebagai anggota 2) Seorang wakil dari pihak kedua (penyedia jasa) sebagai anggota

3) Seorang wakil dari pihak ketiga sebagai ketua yang ahli dibidang konstruksi, dan disetujui kedua belah pihak.

Hasil keputusan Panitia Pendamai ini bersifat mengikat dan mutlak untuk kedua belah pihak yang bersengketa.

c. Penyelesaian sengketa dengan Arbitrase Institusional, yaitu suatu lembaga permanen (permanent arbitral body) sebagaimana ayat (2) Konvensi New York 1958. Arbitrase Institusional ini didirikan oleh organisasi tertentu dan sengaja didirikan untuk menampung perselisihan yang timbul dari perjanjian. Faktor sengaja dan sifat permanen itulah yang membedakan dengan arbitrase ad hoc. Arbitrase Institusional

ini berdiri sebelum sengketa timbul. Di samping itu arbitrase ini berdiri untuk selamanya walaupun suatu sengketa telah diputus dan diselesaikan.

Menurut pengalaman, lembaga ini jarang dimanfaatkan oleh para pihak yang bersengketa, disebabkan karena minimal 2 (dua) hal : (1) sengketa biasanya telah dituntaskan pada tahap pertama (butir a – site meeting) dan (2) para pihak seolah enggan meneruskan sengketa ke tingkat yang lebih tinggi (butir b – arbitrase volunter

dan arbitrase institusional apalagi melalui jalur pengadilan).

d. Penyelesaian sengketa melalui Pengadilan.

Upaya pengadilan yang dimaksud adalah upaya penyelesaian sengketa melalui pengadilan, manakala upaya yang ada belum juga menghasilkan kesepakatan. Perlu diingat bahwa upaya pengadilan ini meupakan upaya akhir (baca : pengadilan negeri tempat domisili para pihak berselisih, termasuk lokasi proyek yang bersangkutan – yang biasanya sudah dicantumkan dalam kontrak kerja). Padahal menurut beberapa ahli hukum, selama ini sudah ada institusi hukum lain yang mengangani upaya penyelesaian sengketa, yaitu arbitrase institusional, sehingga para pihak harus memilih salah satu institusi hukum tersebut, pengadilankah atau arbitrase institusional, karena keduanya sama-sama kuat kedudukannya di depan hukum. Menurut UU Nomor 30 Tahun 1999 pasal 6 ayat (7), Pengadilan Negeri menerima pendaftaran hasil kesepakatan para pihak yang bersengketa (tertulis) untuk dilaksanakan dengan itikat baik dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak penandatanganan kesepakatan tersebut. Bisa diartikan bahwa kesepakatan yang telah ditandatangani para pihak yang bersengketa tersebut (baik melalui atau tanpa melalui

arbitrase institusional), cukup didaftarkan ke Pengadilan Negeri dimana domisili para pihak yang bersengketa dan atau lokasi proyek berada.

(19)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

88

2). Penyelesaian sengketa kontraktual (sampai dan setelah penyerahan ke II)

Pada tahap ini dibagi 2 (dua) yaitu : (1) Tahap pekerjaan konstruksi sampai dengan penyerahan ke II pekerjaan pelaksanaan, dan (2) Tahap operasional yaitu tahap bangunan dimanfaatkan hingga jangka waktu 10 (sepuluh) tahun.

Tahap yang pertama, kontrak kerja pelaksanaan masih berlaku hingga tahap penyerahan kedua kalinya, yang sering disebut masa pemeliharaan. Pada masa pemeliharaan ini segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan pelaksanaan yang masih belum sempurna (rusak, cacat, kekurangsempurnaan pekerjaan yang ringan) dapat diselesaikan pada masa sebelum penyerahan kedua kalinya. Waktu pelaksanaan tahap pemeliharaan ini biasanya singkat sekitar 2 (dua) minggu saja.

Tahap kedua, adalah masa “pertanggungan atau jaminan” bangunan hingga 10 (sepuluh) tahun kedepan atau masa bangunan dioperasikan/dimanfaatkan. Pada masa ini segala sesuatu yang berkaitan dengan kerusakan akibat kesalahan/kekurangan pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi (masa kontraktual) dilaksanakan. Masa ini kontraktor masih “ikut” bertanggung jawab, termasuk konsultan pengawas dan konsultan perencana. Untuk tahap kedua ini, akan dibahas lebih lanjut dalam kesempatan lain.

2.4. Tanggung Jawab Pelaku Jasa Konstruksi secara Perdata dan Pidana

2.4.1. Tanggung Jawab secara Perdata

Tanggung jawab secara perdata pelaku jasa konstruksi dapat dilihat dari perikatan yang terjadi antara Pengguna Jasa (pemilik Proyek) dengan Penyedia Jasa (Konsultan atau Kontraktor). Perikatan yang berbentuk kontrak kerja konstruksi tersebut terkait dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1233, yaitu bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena persetujuan, dan atau karena undang-undang. Mariam Darus Badrulzaman, (2001), menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi antara 2 (dua) orang atau lebih, yang terletak di dalam harta kekayaan, di mana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi tersebut. Semua hak dan kewajiban pelaksanaan jasa konstruksi tersebut telah tercantum dalam kontrak kerja konstruksi.

2.4.2. Tanggung Jawab secara Pidana

Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 membuka peluang sanksi pidana bagi pelaku jasa konstruksi, khususnya Pasal 41 dan Pasal 43 ayat (1), (2), dan (3). Tujuan undang-undang ini adalah untuk melindungi masyarakat yang menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa.

Pada pinsipnya barang siapa yang merencanakan, melaksanakan maupun mengawasi pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi persyaratan keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi (pada saat berlangsungnya pekerjaan konstruksi) atau kegagalan bangunan (setelah bangunan beroperasi), maka akan dikenai sanksi pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak.

Selain sanksi pidana, para profesional (tenaga ahli) teknik juga akan dikenai sanksi administrasi sebagaimana yang diatur Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2000 Pasal 31, 32, dan 33 juncto PP Nomor 30 Tahun 2000 Pasal 6 ayat (4).

(20)

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

(Bambang Poerdyatmono) 89

3. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

a. Sengketa jasa konstruksi dapat terjadi pada masa precontractual, masa contractual, dan masa pascacontractual.

b. Pada masa contractual, dapat saja terjadi sengketa pada saat Perencanaan Konstruksi, Pelaksanaan Konstruksi, dan Pengawasan Konstruksi.

c. Alternatif penyelesain sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur konsultasi, negosisi, mediasi, konsiliasi, pendapat hukum oleh lembaga arbitrase, atau gabungan kelima jalur tersebut sesuai tingkat kebutuhan. Pada pelaksanaan di lapangan, penyelesaian sengketa jasa konstruksi, sering dilakukan dengan : site meeting,

arbitrase ad hoc, sedangkan jalur arbitrase institusional dan melalui pengadilan, sedapat mungkin dihindari.

3.2. Saran

a. Dengan telah diberlakukannya UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi jo PP Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi jo PP Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi jo PP Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa konstruksi, serta Peraturan Perundang-undangan lain yang berkaitan dengan jasa konstruksi, diharapkan para profesional teknik pada lingkup perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan proyek konstruksi mampu mengantisipasi kondisi ini dengan baik.

b. Sengketa precontractual dan sengketa pascacontractual masih belum dibahas dalam tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Badrulzaman, M.D.,1993, KUHPerdata, Buku III, Hukum Perikatan denganPenyelesiannya, Penerbit Alumi, Bandung

Shahab, H., 2000, Menyingkap dan Meneropong Undang-undang Arbitrase No. 30 Tahun 1999 dan Penyelesaian Alternatif serta Kaitannya dengan UU Jasa Konstruksi No. 18 Tahun 1999 dan FIDIC., Penerbit Liberty, Jogjakarta.

Poerdyatmono, B., 2003, Sengketa Pelaksanaan Kontrak Kerja Konsultan Pengawas Konstruksi, Skripsi S-1 llmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sunan Giri, Surabaya (tidak dipublikasikan)

Poerdyatmono, B., 2005, Asas Kebebasan Berkontrak (Contractvrijheid Beginselen) dan Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) pada Kontrak Jasa Konstruksi, Jurnal Teknik Sipil, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atmajaya, Jogjakarta, Volume 6 No. 1.

Poerdyatmono, B., 2008, Sengketa Jasa Konstruksi sebagai Akibat Terbitnya Beschikking dan Pelaksanaan Kortverban Contract : Tinjauan Aspek Hukum Manajemen Proyek, Prosiding Seminar Nasional VII, Program Studi Magister Manajemen Teknologi, Program Pascasarjana Institut Teknologi 10 November Surabaya

(21)

Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90

90

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi

Subekti dan Tjitrosudibio (1999), Kitab Undang-undang Hukum Perdata (terjemahan dari

Burgerlijk Wetboek), Cetakan Ketigapuluh, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Kepala Badan

Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Republik Indonesia Nomor :

2000 / 05 / D.2 / S.2262

2000 A / / 42 -S

tentang Petunjuk Teknis Keputusan Presiden Republik

(22)

ANALISIS DAN EVALUASI ASPEK MANAJEMEN DALAM STUDI KELAYAKAN

PROYEK

Akhmad Fauzi

Jurusan Teknik Informatika, UPN “Veteran” Jatim

ABSTRAKSI

Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek dilaksanakan dengan berhasil. Ada beberapa aspek dalam studi kelayakan proyek, salah satu diantaranya adalah Aspek Manajemen. Manajemen Proyek adalah suatu sistem dimana kita dapat mengontrol rencana dan jalannya suatu proyek dalam perencanaan, pengendalian serta pengkoordinasian dari aktivitas yang saling berkaitan. Dalam manajemen proyek ini, prosedur yang paling utama untuk dipakai adalah PERT-type system. PERT-type system ini dirancang untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian. Tujuan sistem ini adalah untuk menghitung tercapainya batas waktu proyek serta untuk menetapkan kegiatan mana dari suatu proyek yang merupakan bottlenecks (penentuan waktu penyelesaian seluruh proyek). Sehingga dapat diketahui pada kegiatan mana kita harus bekerja keras agar jadwal dapat terpenuhi sekaligus senantiasa dapat mengawasi dan membandingkan hasil dari kegiatan yang sudah serta akan dikerjakan.

Kata kunci: Studi kelayakan proyek, Aspek Manajemen, Analisis dan Evaluasi

1. PENDAHULUAN

Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil. Dua serangkai ungkapan asing “doing the right thing (efficient)” dan “doing thing the right

(effective)” bukanlah merupakan hal yang baru bagi

pedoman melakukan suatu kegiatan. Apa yang mungkin masih perlu penjabaran dan perumusan adalah bagaimana melaksanakannya agar tercapai maksud dari ungkapan di atas. Pada era globalisasi, dimana batas antarnegara makin terbuka, produk dan jasa dari suatu tempat mudah mencapai tempat lain, maka hanya mereka yang bekerja dengan prinsip di atas yang akan memenangkan persaingan dan merebut pasaran, yang pada giliran selanjutnya menikmati hasil usahanya lebih dulu dan lebih banyak.

Di negara yang sedang berkembang, dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyatnya, tuntutan akan terselenggaranya kegiatan yang dilandasi prinsip-prinsip tersebut makin terasa mengingat banyaknya kemajuan yang harus dikejar, sedangkan sumber daya yang tersedia baik yang berupa sumber daya manusia terampil maupun dana amat terbatas. Ketinggalan ini diusahakan dikejar dengan pembangunan disegala bidang. Pembangunan tersebut berupa pembanguna fisik proyek seperti perbaikan perkampungan, prasarana, mendirikan industri berat dan ringan, jaringan telekomunikasi dan lain-lain. Menghadapi keadaan demikian, langkah yang umumnya ditempuh di samping mempertajam prioritas adalah mengusahakan peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan agar dicapai hasil guna yang maksimal dari sumber daya yang tersedia.

Pengelolaan yang dikenal sebagai “MANAJEMEN PROYEK” adalah salah satu cara yang ditawarkan untuk maksud tersebut, yaitu suatu metode pengelolaan yang dikembangkan secara intensif sejak pertengahan abad 20 untuk

menghadapi kegiatan khusus yang berbentuk proyek.

1.1 Permasalahan

Bagaimana mengendalikan serta mengkoordinasi suatu proyek agar dapat diselesaikan dengan cara yang paling optimal dan Bagaimana menganalisis tingkat kemajuan suatu proyek.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari perangkat lunak ini adalah dapat menjadi suatu sistem yang akan mempermudah kita untuk berpikir cepat dalam menganalisis studi kelayakan proyek. Dan dengan tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Dengan adanya rekayasa perangkat lunak ini bisa menunjang seseorang atau suatu perusahaan untuk merencanakan dan mengendalikan proyek sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

b. Diharapkan dengan adanya studi kelayakan proyek melalui rekayasa perangkat lunak ini diperoleh suatu proyek yang benar-benar biasa dikoordinasi secara tepat.

1.3 Batasan Masalah

a. Taksiran mengenai waktu yang diperlukan untuk setiap pekerjaan.

b. Urutan pekerjaan

c. Data Kegiatan Global. Untuk menggunakan sistem analisis ini, semua kegiatan detail dari kegiatan global harus sudah terlaksana. Berikut data pengeluaran biaya dan tanggal transaksi. d. Pada sistem ini diasumsikan bahwa program ini

dipakai hanya untuk menganalisa proyek konstruksi dan semua rencana kegiatan sudah disiapkan untuk proses data dalam sistem. e. Sebelum menganalisa suatu proyek dengan

(23)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022 Yogyakarta, 16 Juni 2007

I-2 harus sudah menyiapkan data yang valid, mulai dari jadwal, biaya dan tenaga kerja.

f. Kondisi yang dipakai dalam menggunakan sistem ini adalah kondisi untuk menganalisa dan evaluasi untuk manajemen proyek konstruksi fisik.

g. Perangkat lunak ini bersifat tidak fleksibel, dalam arti akan menganalisa data yang sudah direncanakan dan memberikan analisis berdasarkan data dari pemegang proyek. Maka pemilik proyek harus mengerti dasar manajemen proyek dan telah mengorganisir rencana proyeknya dengan baik.

2. LANDASAN TEORI 2.1 Profil Kegiatan Proyek

Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan tegas. Tugas tersebut dapat berupa membangun pabrik, membuat produk baru atau melakukan penelitian dan pengembangan. Adapun ciri-ciri pokok sebuah proyek adalah:

1. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.

2. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses mencapai tujuan diatas telah ditentukan.

3. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas.

4. Nonrutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.

Selain ciri di atas sebuah proyek harus mempunyai parameter. Parameter ini sangat penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek, antara lain:

1. Anggaran. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah yang besar dan jadwal bertahun-tahun, anggarannya bukan hanya ditentukan untuk total proyek tetapi dipecah bagi komponen-komponennya, atau per periode tertentu yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.

2. Jadwal. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

3. Mutu. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu memenuhi tugas yang

dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.

2.2 Proyek dan manajemen fungsional

Proyek bukanlah sesuatu yang baru, apa yang berubah dan merupakan hal baru adalah dimensi dari proyek dan lingkungan sosial yang mengelilinginya baik dari segi kualitas dan kuantitas. Meskipun proyek bukanlah sesuatu yang baru, namun mengelola kegiatan dengan menggunakan konsep manajemen baru merupakan langkah yang relatif baru.

Manajemen proyek adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan yang telah ditentukan).

2.3 Teknik Perencanaan Manajemen Proyek

Pengelolaan proyek-proyek berskala besar yang berhasil memerlukan perencanaan, penjadwalan dan pengkoordinasian yang hati-hati dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan. Untuk itu, maka pada tahun 1950 telah dikembangkan prosedur-prosedur formal yang didasarkan atas penggunaan network (jaringan) dan teknik-teknik network. Prosedur yang paling utama dalam prosedur-prosedur ini dikenal dengan PERT (Program Evaluation and Review Techniques) dan CPM (Critical Path Method). Kecenderungan pada dewasa ini adalah menggabungkan kedua pendekatan tersebut menjadi apa yang biasa dikenal sebagai PERT-type sistem.

Walaupun PERT-type sistem ini pada mulanya digunakan untuk mengevaluasi penjadwalan program penelitian dan pengembangan, kini digunakan pula untuk mengukur dan mengendalikan kemajuan berbagai tipe proyek khusus lainnya. Sebagai contoh dari tipe-tipe proyek ini adalah program-program konstruksi, pemrograman komputer, rencana pemeliharaan dan pemasangan sistem komputer.

PERT-type sistem ini dirancang untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian. Tujuan sistem ini adalah untuk menentukan probabilitas tercapainya batas waktu proyek serta untuk menetapkan kegiatan mana (dari suatu proyek) yang merupakan bottlenecks (penentukan waktu penyelesaian seluruh proyek) sehingga dapat diketahui pada kegiatan mana kita harus bekerja keras agar jadwal dapat terpenuhi.

Seperti telah diterangkan di atas, PERT-type sistem menggunakan network (jaringan kerja) untuk menggambarkan interelasi di antara elemen-elemen proyek. Gambar jaringan rencana proyek ini memperlihatkan seluruh kegiatan (aktivitas) yang terdapat di dalam proyek tersebut serta logika kebergantungannya satu sama lain.

(24)

berbagai kegiatan yang memerlukan berbagai sumber daya, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan tersebut agar membentuk suatu kegiatan, sehingga proyek nantinya bisa beroperasi tepat pada waktunya. Tentu saja, dalam penyalesaian kegiatan-kegiatan ini perlu diperhatikan faktor biaya. Secara umum akan ada “trade off” antara biaya dan waktu penyelesaian. Semakin cepat waktu penyelesaian, semakin tinggi biaya yang harus ditanggung.

Langkah pertama merancang pelaksanaan proyek ialah membaginya ke dalam berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan perlu diidentifikasi dan hubungan antar kegiatan tersebut harus jelas. Berdasar pembagian ini pula dapat dilakukan alokasi sumber daya dan waktu. Dengan demikian, dapatlah pemberi proyek mengetahui secara garis besar, kegiatan apa saja yang dilakukan untuk menyelesaikan proyek tersebut serta berapa dana dan waktu untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Langkah kedua ialah menentukan skedul/jadwal kegiatan dalam proyek. Semua kegiatan disusun dalam suatu rencana yang menyeluruh, sehingga bisa diperkirakan kapan proyek tersebut akan selesai dan beroperasi secara komersial.

Dalam hal ini biasanya digunakan bantuan teknik atau cara seperti bagan GANTT atau diperluas dengan mempergunakan analisis network seperti PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Method).

Kedua teknik ini merupakan suatu cara untuk merencanakan penyelesaian pekerjaan, memperkirakan waktu yang diperlukan. Secara formal kedua teknik ini sering didefinisikan sebagai suatu metode unutuk menjadwal dan menganggarkan sumber-sumber daya untuk menyelesaikan pekerjaan pada jadwal yang sudah ditentukan.

Perancangan dari aspek manajemen ini akan menganalisa 3 faktor yang merupakan syarat yang harus di kerjakan agar suatu proyek dikatakan layak dari segi manajemen, yaitu:

1. Penentuan atau taksiran waktu (Duration Time). 2. Penentuan waktu dalam menyelesaikan suatu

proyek atau urutan kegiatan.

3. Perencanaan Sumber Daya Manusia/tenaga Kerja

4. Perkiraan biaya proyek. 5. Analisis hasil kelayakan proyek

3. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

Pengelola proyek selalu ingin mencari metode yang dapat meningkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian untuk menghadapi jumlah kegiatan dan kompleksitas proyek yang cenderung bertambah. Usaha tersebut membuahkan hasil dengan ditemukannya Analisis Jaringan Kerja (Network Analysis). Dalam penelitian ini akan dikembangkan beberapa metode untuk Analisis Jaringan Kerja (Network Analysis) sesuai dengan aturan metode dalam aspek manajemen.

Komputerisasi metode PERT-Type System ini membantu dalam perencanaan dan perkiraan

serta menunjang suatu organisasi atau perusahaan untuk mengendalikan suatu proyek jika dirasa kurang layak. Dengan kata lain perancangan sistem perangkat lunak ini dapat dijadikan tolok ukur dalam mendirikan suatu proyek berjangka waktu dan sebuah proyek yang besar.

3.1 Sistematika Sistem

Setelah tersusun rencana dan jadwal, biaya, tenaga kerja proyek yang cukup realistik, kemudian dapat dipakai tolok ukur atau alat pembanding dalam kegiatan pengendalian pada tahap implementasi fisik. Yaitu dengan memperbandingkan antara perencanaan atau jadwal dengan hasil pelaksanaan nyata di lapangan.

3.2 Algoritma Sistem

Berikut adalah Algoritma sistem dari program rancang bangun perangkat lunak Metode PERT-Type System. Adapun Algoritma sistem adalah sebagai berikut:

a. Algoritma sistem untuk identitas perusahaan

Algoritma identitas perusahaan adalah sistem awal untuk terjadinya komitmen antara developer proyek sebagai analisis terhadap proyek yang dikerjakan. Sistem ini berisi nama perusahaan/organisasi, alamat organisasi, no telp, tanggal dimulainya kegiatan sampai selesainya kegiatan. Algoritma sistem identitas perusahaan:

Memasukkan identitas perusahaan/organisasi yaitu nama, alamat, no telp.

Sebagai awal suatu organisasi harus mengisi tanggal deal di mulainya kegiatan sampai selesainya kegiatan.

b. Algoritma Sistem untuk waktu kegiatan

Suatu kegiatan masing-masing mempunyai waktu estimasi sendiri-sendiri. Sistem yang dibuat ini menggunakan probabilitas 3 kurun waktu yaitu waktu pesimis (tp), waktu optimis (to), waktu tengah (tm) algorithma untuk sistem di atas adalah sebagai berikut: Metode PERT-Type System:

Masukkan nama kegiatan yang akan dilaksanakan. Masukkan waktu yaitu To, Tm, Tp

Dari masukkan no 1 dan 2 akan di dapat Te (waktu estimasi) dan Varian (V).

Pada saat suatu organisasi telah melakukan perjanjian untuk mengadakan analisis proyek selanjutnya organisasi akan menginputkan data sesuai dengan aliran di atas, yaitu nama kegiatan dan waktu (d). Dari masukan seorang user akan di dapat waktu estimasi dan varian.

c. Algoritma Network/Kegiatan

Gambar

Tabel 3. Perbandingan Penyelesaian Sengketa
Gambar 1. Alur Kinerja Sistem Evaluasi dan Analisis Proyek
Gambar 1. Langkah-Langkah Pembuatan Jadwal Proyek
Gambar 2. Contoh Model CPM
+7

Referensi

Dokumen terkait