CASE REPORT
ORTHODONTICS REMOVABLE FIXED APPLIANCES IN
MANAGING TREATMENT OF DENTAL CLASS I
MALOCCLUSION WITH MAXILLARY MIDLINE
DIASTEMA RELATED TO MESIODENS AND
BIMAXILLARY DENTAL PROTRUSION
HEIDISYA SACHARIVA
2007.07.0.0034
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA 2013
STEVANUS CHANDRA SUGIARTO BUDIJONO
ORTHODONTICS REMOVABLE FIXED APPLIANCES IN
* Undergraduate Program, Departement of Orthodontics Faculty of Dentistry Hang Tuah University Surabaya
** Lecturer, Departement of Orthodontics Faculty of Dentistry Hang Tuah University Surabaya
ABSTRACT
Background: The correction of dental class I malocclusion with maxillary midline diastema related to mesiodens and bimaxillary dental protrusion in child patient is one of moderate biomechanical in orthodontics. Maxillary midline diastema is resulting from mesiodens and convexity of the face is resulting from protruded and proclined upper and lower incisor caused poor facial aesthetic.
Purpose: The aim of this case report is to know the mechanism of orthodontics removable fixed appliances in managing treatment of dental class I malocclusion with maxillary midline diastema related to mesiodens and bimaxillary dental protrusion.
Case management: This case report presents an 11-year-old boy with dental class I malocclusion with maxillary midline diastema related to mesiodens and bimaxillary dental protrusion, SNA 83○, SNB 76○, ANB 7○, overjet 4 mm, appliances technique can be considered an effective therapy for correction class I malocclusion with maxillary midline diastema related to mesiodens and bimaxillary dental protrusion.
Key words: maxillary midline diastema, mesiodens, bimaxillary dental protrusion, Watkin appliance, orthodonthics removable fixed appliances
PENDAHULUAN
Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi dan atau malrelasi lengkung geligi (rahang) di luar rentang kewajaran yang dapat diterima. Maloklusi juga bisa merupakan variasi biologi sebagaimana variasi biologi yang terjadi pada bagian tubuh yang lain, tetapi karena variasi letak gigi mudah diamati dan mengganggu estetik sehingga menarik perhatian dan memunculkan keinginan untuk melakukan perawatan (Rahardjo, 2009).
Klasifikasi maloklusi menurut Edward Angle (1899) dibagi menjadi tiga kelas, yaitu: kelas I Angle (neutroklusi), kelas II Angle (distoklusi) dan kelas III Angle (mesioklusi). Maloklusi kelas I Angle adalah maloklusi dengan posisi puncak tonjol mesiobukal gigi molar pertama permanen rahang atas berada pada
buccal groove dari molar pertama permanen rahang bawah. Gigi molar hubungannya normal, dengan satu atau lebih gigi anterior malposisi. Pada kasus terdapat maloklusi dental kelas I Angle dengan diastema sentral maksila oleh karena mesiodens dan protrusi gigi pada kedua rahang.
Pada kasus diastema sentral maksila yang disebabkan oleh mesiodens, perawatan dimulai dengan ekstraksi mesiodens terlebih dahulu, kemudian baru dilanjutkan dengan perawatan ortodontik. Pada perawatan ortodontik dalam kasus digunakan peranti ortodontik remofik yakni kombinasi antara peranti ortodontik cekat dan lepasan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan hasil perawatan (Ardhana W, 2013).
adalah piranti ortodontik cekat yang digunakan pada kasus. Peranti Watkin terdiri dari band insisivus yang dilengkapi dengan tabung dan busur Watkin yang dapat digeser bebas. Peranti ini ideal untuk meretraksi dan memutar gigi insisivus ke posisi yang sesuai (Clifford, 1965).
Peranti ortodontik lepasan atau biasa disebut peranti lepasan adalah peranti ortodontik yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Ada juga yang menyebut peranti ini sebagai peranti lepasan aktif untuk membedakan dengan peranti fungsional. Peranti lepasan dapat memberikan hasil yang maksimal apabila dipakai terus-menerus. Keberhasilan perawatan dengan peranti lepasan tidak hanya tergantung pada kemauan pasien untuk memakai peranti, tetapi juga pada kemampuan operator untuk mendesain dan membuat peranti yang dapat ditoleransi pasien. Peranti yang digunakan pada kasus adalah busur labial, flat button dan wrap around (Rahardjo, 2009).
KASUS
Pasien laki-laki usia 11 tahun datang ke departemen ortodontik rumah sakit gigi dan mulut universitas Hang Tuah Surabaya oleh karena ingin merapikan gigi depan rahang atas dan bawah atas keinginan diri sendiri disertai dukungan orang tua dan motivasi operator.
Gambar 1. Foto wajah pasien laki-laki usia 11 tahun sebelum menjalani perawatan ortodontik.
protrusi gigi pada kedua rahang pasien. Tumpang gigit pasien 4 mm dan jarak gigit pasien 6 mm. Etiologi kasus ini adalah herediter, dimana kondisi protrusi gigi pasien mengikuti kondisi gigi ayahnya serta terdapat kelainan jumlah gigi yaitu berupa mesiodens.
Gambar 3. Model studi pasien sebelum menjalani perawatan ortodontik menunjukkan maloklusi dental kelas I Angle dengan diastema sentral maksila oleh karena mesiodens dan protrusi gigi pada kedua rahang pasien.
Gambar 5. Foto radiografi sefalometri pasien sebelum menjalani perawatan ortodontik.
PENATALAKSANAAN KASUS
Pasien dengan diagnosis maloklusi dental kelas I Angle dengan diastema sentral maksila oleh karena mesiodens dan protrusi gigi pada kedua rahang. Tujuan utama dari perawatan pasien ini adalah (1) koreksi diastema sentral maksila oleh karena mesiodens (2) koreksi protrusi rahang atas dan rahang bawah (3) koreksi inklinasi dan kesejajaran gigi anterior rahang atas (4) evaluasi (5) fase retensi.
Sebelum perawatan ortodontik dimulai, pertama-tama pasien diberi terapi periodontal berupa scaling dan edukasi mengenai kebersihan mulut. Kemudian sebelum dilakukan koreksi diastema sentral maksila dilakukan ekstraksi pada gigi mesiodens terlebih dahulu.
Pada perawatan awal untuk koreksi diastema sentral maksila oleh karena mesiodens digunakan peranti cekat yaitu peranti Watkin. Peranti Watkin terdiri dari band insisivus yang dipasang cekat dengan GIC tipe I pada gigi 11 dan 21 serta dilengkapi dengan tabung untuk penempatan busur Watkin yang dapat digeser bebas. Pasien memakai peranti Watkin selama 1 bulan. Setelah aktivasi busur Watkin I tampak pengurangan diastema sentral maksila dari semula 5 mm menjadi 3 mm. Setelah aktivasi busur Watkin II tampak pengurangan diastema sentral maksila menjadi 2 mm.
\
Gambar 8. Gambar atas: aktivasi busur Watkin I (07-05-2013); Gambar tengah: aktivasi busur Watkin II (14-05-2013); Gambar bawah: Kontrol dan Watkin siap dilepas (21-05-2013).
Pemasangan flatbutton pada gigi 21 dilakukan 1,5 bulan kemudian untuk mengoreksi gigi 21 yang intrusi agar sejajar dengan gigi 11 dan pada saat ini sudah tampak pengurangan diastema sentral maksila menjadi 1 mm dan protrusi kedua rahang sudah mulai terkoreksi. Dua minggu setelah itu dilakukan slicing
pada mesial gigi 11 serta aktivasi busur labial rahang atas dan bawah lagi.
Gambar 9. Insersi peranti lepasan pada rahang atas dan bawah (23-05-2013).
Gambar 10. Pemasangan button pada gigi 21 agar diperoleh kesejajaran dengan gigi 11 (11-07-2013).
Hasil akhir perawatan tampak ± 2 bulan kemudian, dimana diastema sentral maksila dan protrusi kedua rahang sudah tampak mengalami perubahan yang signifikan. Jarak gigit pasien dari semula 6 mm menjadi 3 mm dan tumpang gigit pasien dari 4 mm menjadi 3 mm. Perawatan dilanjutkan dengan dilakukan
retensi yaitu peranti wrap around untuk membentuk serta mempertahankan bentuk rahang yang ideal.
Gambar 11. Hasil akhir perawatan ortodontik setelah menggunakan peranti remofik (12-09-2013).
Gambar 12. Peranti wrap around.
138º. Jarak bibir atas – garis E (esthetic line): 4 mm; bibir bawah – garis E (esthetic line): 4 mm.
PRE POST
∠SNA 83º 83º
∠SNB 76º 73º
∠ANB 7º 10º
∠I-NA 33º 5º
∠I-NB 41º 27º
∠ANTAR INSISIVUS 97.5º 138º
BIBIR ATAS-GARIS E 6 mm 4 mm
BIBIR BAWAH-GARIS E 5 mm 4 mm
Tabel 1. Analisis sefalometri pre dan post-treatment.
garis hitam: pre-treatment
garis merah: post- treatment
Gambar 15. Superimposisi sefalometri
Gambar 17. Foto wajah (depan) pre dan post-treatment.
DISKUSI
Maloklusi kelas I Angle adalah maloklusi dengan posisi puncak tonjol mesiobukal gigi molar pertama permanen rahang atas berada pada buccal groove
dari molar pertama permanen rahang bawah. Gigi molar hubungannya normal, dengan satu atau lebih gigi anterior malposisi. Pada kasus terdapat maloklusi dental kelas I Angle dengan diastema sentral maksila oleh karena mesiodens dan protrusi gigi pada kedua rahang.
Diastema pada kasus terjadi pada rahang atas dan disebabkan oleh karena mesiodens. Mesiodens merupakan salah satu jenis gigi lebih yang terdapat di regio insisivus sentral rahang atas dengan angka kejadian sebesar 0,15%-1,9%, dan laki-laki dua kali lebih sering daripada perempuan. Mesiodens dapat erupsi normal, impaksi, atau erupsi ektopik, dan hanya 25% yang dapat erupsi spontan. Mesiodens dapat menyebabkan gangguan erupsi dan malposisi gigi yang berdekatan. Penatalaksanaan mesiodens dilakukan tergantung dari posisinya, dan akibat yang ditimbulkan (Priska dan Hayati, 2009).
Pada kasus diastema sentral yang disebabkan oleh mesiodens, perawatan dimulai dengan ekstraksi mesiodens terlebih dahulu, kemudian baru dilanjutkan dengan perawatan ortodontik. Pada perawatan ortodontik dalam kasus digunakan peranti ortodontik remofik yakni kombinasi antara peranti ortodontik cekat dan lepasan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan hasil perawatan (Ardhana W, 2013).
Peranti Watkinadalah piranti ortodontik cekat yang digunakan pada kasus. Peranti Watkin terdiri dari band insisivus yang dilengkapi dengan tabung dan busur Watkin yang dapat digeser bebas. Peranti ini ideal untuk meretraksi dan memutar gigi insisivus ke posisi yang sesuai (Clifford, 1965). Pasien memakai peranti Watkin selama 1 bulan. Dari hasil pemakaian peranti Watkin ini tampak terjadi perubahan yang cukup signifikan pada diastema sentral maksila pasien dari yang semula 5 mm menjadi 2 mm.
pada kedua rahang serta pada peranti rahang atas diberi tambahan peninggian gigit anterior untuk mengoreksi tumpang gigit pasien.. Busur labial aktif digunakan untuk menarik insisivus ke palatal dan lingual. Dimana digunakan kawat berdiameter 0,5 mm pada busur labial untuk mengurangi jarak gigit yang besar (Rahardjo, 2009).
Pemasangan flatbutton pada gigi 21 dilakukan 1,5 bulan kemudian untuk mengoreksi gigi 21 yang intrusi agar sejajar dengan gigi 11 dan pada saat ini sudah tampak pengurangan diastema sentral maksila menjadi 1 mm dan protrusi kedua rahang sudah mulai terkoreksi.
Pada akhir perawatan, diastema sentral maksila dan protrusi kedua rahang sudah tampak mengalami perubahan yang signifikan. Jarak gigit pasien dari semula 6 mm menjadi 3 mm dan tumpang gigit pasien dari 4 mm menjadi 3 mm. Analisis sefalometri setelah perawatan juga menunjukkan adanya perubahan inklinasi gigi yang signifikan, dimana sudut I-NA yang sebelum perawatan sebesar 33º menjadi 5º, sudut I-NB yang sebelum perawatan sebesar 41º menjadi 27º dan sudut antar insisivus yang sebelum perawatan sebesar 97.5º menjadi 138º . Hal ini menunjukkan jika gigi insisivus rahang atas maupun bawah sudah mengalami perubahan dari yang sebelumnya sangat protrusif menjadi lebih tegak.
Perawatan dilanjutkan dengan dilakukan slicing antara gigi 14-15 dan 24-25 serta pemasangan peranti pasif untuk fase retensi yaitu peranti wrap around
KESIMPULAN
DAFTAR REFERENSI
1. Angle EH, 1899. Classification of Malocclusion. Dental Cosmos, 4: 248-264.
2. Ardhana W, 2013. Alat Ortodontik. Available from http://wayanardhana.staff.ugm.ac.id/alat_orto.htm. Accessed September 28, 2013
3. Clifford EJS, 1965. The Watkin Free-Sliding Arch. An introduction. The Dent. Pract. 16 (1): 35
4. Jazaldi F dan Purbiati M, 2008. Perawatan Kasus Diastema Multipel Secara Multidisiplin (Laporan Kasus). Indonesian Journal of Dentistry,15 (3): 212-225
5. Priska MA dan Hayati R, 2009. Penatalaksanaan Impaksi Mesiodens yang
Mengakibatkan Rotasi 11 pada Periode Gigi Campur (Laporan Kasus).
Jakarta: PPDGS Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. p 1
6. Rahardjo P, 2009. Ortodontik Dasar. Surabaya: Airlangga University Press. p 60