• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alam Organisasi Sosial dan Peran Gender

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Alam Organisasi Sosial dan Peran Gender"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Alam, Organisasi Sosial dan Peran Gender di Pulau Bonetambung, Makassar

A. Latar Belakang

Kajian ini berusaha menggabungkan dua pendekatan, yaitu pendekatan ekologi budaya dengan pendekatan konstruksionisme. Mengapa menggunakan keduanya? Karena untuk menjelaskan peran gender yang berkaitan dengan lingkungan alam sulit jika hanya menggunakan satu pendekatan saja. Ekologi budaya misalnya, tidak secara eksplisit menjelaskan bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi peran perempuan dan laki-laki meskipun dalam penjelasannya tergambar bahwa kondisi ekologi berpengaruh terhadap sistem sosial. Sebaliknya, pendekatan konstruksionisme nampaknya menitik beratkan penjelasannya pada aspek histories yang bersifat unik pada individu. Perempuan dalam kajian konstrusionisme menekankan bahwa perempuan memiliki peran yang berbeda-beda berdadasarkan konteks sosial di mana mereka berada atau memainkan peranan. Abdullah (2006:248) mengatakan bahwa, realitas kehidupan kaum perempuan harus dilihat berdasarkan konteks di mana mereka memainkan peran. Hal ini disebabkan tidak semua perempuan memiliki pengalaman yang sama dan status sosial yang sama.

Jika kita mengacu pada kajian konstrusionisme tentang variasi peran perempuan tersebut, maka jelas kita dapat memahami bahwa peran perempuan sebagai budaya berbeda antara satu masyarakat atau komunitas yang satu dengan yang lain. Tentu hal ini berbeda halnya jika kita berbicara dalam konteks lingkungan. Dalam konteks kajian lingkungan, hal yang terutama ditekankan adalah bagaimana peran perempuan itu bervariasi atau berdinamika berdasarkan kondisi ekologis yang dihadapi.

(2)

2-3) tentang perubahan peranan perempuan nelayan. Menurutnya, perubahan peranan perempuan yang telah menjadi nelayan terutama disebabkan oleh dua faktor. Pertama, mereka menjadi nelayan karena penghasilan suaminya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Munculnya teknologi destruktif seperti pukat harimau serta penebangan hutan mangrove di lingkungan mereka menyebabkan penghasilan yang diperoleh suaminya semakin berkurang. Kedua, untuk menjadi nelayan tidak dibutuhkan modal yang besar, bahkan mereka dapat melakukannya tanpa modal sama sekali. Untuk menggunakan sarana dan prasarana penangkapan seperti perahu, alat tangkap, bahan bakar serta biaya produksi lainnya dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu sewa dan atau bagi hasil. Bagi perempuan yang yang memiliki modal untuk membeli bahan bakar dan komsumsi selama menangkap ikan, mereka dapat menyewa perahu (yang disewa hanya perahu) yang dibayar setelah memperoleh hasil tangkapan. Sementara mereka yang tidak memiliki modal dapat menempuh model bagi hasil, yaitu seluruh modal (perahu, alat tangkap, bahan bakar dan konsumsi) ditanggung oleh pemilik perahu. Bila memperoleh hasil tangkapan, hasilnya akan dibagi dua, satu bagian untuk diberikan kepada pemilik perahu dan bagian lainnya juga harus dijual ke pemilik perahu.

(3)

kebutuhan dasar kehidupan, isu substansial yang selalu dihadapi oleh keluarga atau rumah tangga adalah bagaimana individu-individu yang ada di dalamnya harus berusaha maksimal dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga kelangsungan hidupnya terpelihara (dalam Kusnadi; 2000:191). Sedangkan perempuan yang ekonominya tinggi dapat berperan bersama suami menjalankan usaha atau justru lebih banyak berperan dalam konteks sosial yang sifatnya nonproduktif, dimana peran yang dimainkan tersebut berbeda dengan peran perempuan pada “kelas” yang lain, yaitu perempuan yang berekonomi rendah.

Dengan mengacu pada studi literatur tersebut di atas, maka penulis akan memaparkan bagaimana kondisi ekologi yang dimanfaatkan oleh nelayan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi mereka dan pada akhirnya membentuk konsepsi dan peran gender dalam masyarakatnya. Untuk mencakup hubungan ketiganya, maka judul makalah ini adalah “Alam, Organisasi Sosial dan Peran Gender di Pulau Bonetambung, Makassar”.

B. Pembahasan

Nelayan dengan sistem perekonomian mereka yang unik merupakan hal yang menarik dikaji. Mereka menjalankan model ekonomi yang berbeda dengan masyarakat lain yang membudidayakan ikan. Misalnya, nelayan tangkap memanfaatkan laut yang sifatnya open access, sementara nelayan yang membudidayakan ikan memiliki penguasan atas lahan budidayanya (Ahmadin; 2009:23-24, 47-51). Lingkungan laut yang mereka hadapi memberi karakter khusus yang berbeda dengan masyarakat lain yang lingkungannya relatif lebih mudah dikuasai (Lampe; 1989: 2-6).

(4)

yang berbeda namun juga pada organisasi sosial mereka. Dalam hal ini ditemukan di pulau Bonetambung yang akan dijelaskan berikut.

1. Alam, Jenis Usaha dan Struktur Sosial

Struktur sosial di pulau Bonetambung memiliki hubungan yang signifikan dengan lingkungan alamnya yang pada akhirnya berpengaruh terhadap jenis usaha mereka. Hampir dikatakan bahwa struktur sosial mereka terbentuk dari jenis usahanya dan akan berdinamika seiring dengan dinamika usaha yang ada. Berikut penjelasan mengenai hal ini akan dimulai dari penjelasan tentang jenis-jenis usaha yang digeluti oleh masyarakat pulau Bonetambung.

a. Usaha Ikan Hidup

Usaha ikan hidup adalah usaha yang menjual dan membeli ikan hidup jenis kerapu, atau dalam nama lokal disebut ikan sunu. Ikan yang ditangkap harus dalam keadaan hidup dan tidak cacat dengan ukuran yang telah ditentukan oleh pembeli.

Pemilik usaha ikan hidup biasa disebut punggawa, yaitu orang yang memimpin sebuah usaha. Punggawa yang memiliki modal kemudian memberikan modalnya kepada pihak lain berupa alat tangkap dan biaya operasional disebut punggawa bonto atau punggawa darat. Punggawa darat memberikan modal kepada seorang nahkoda perahu yang disebut punggawa laut atau juragan. Juragan kemudian memimpin beberapa orang untuk mengoperasikan perahu dan alat tangkap. Beberapa orang yang dipimpin tersebut disebut sawi atau orang yang bekerja pada perahu.

Ikan hasil tangkapan yang diperoleh punggawa laut atau juragan bersama para sawinya harus dijual kepada punggawa darat. Puggawa darat kemudian menjual ikan tersebut ke pembeli yang ada di Makassar.

(5)

dan tidak cacat dan harus menggunakan teknik-teknik tertentu untuk melakukannya, terutama dalam penggunaan obat-obatan dan pengukuran timbangan dan takaran air.

b. Usaha Ikan Lelong

Usaha ikan lelong adalah usaha yang menjual dan membeli ikan untuk kebutuhan pasar lokal. Ikan dibeli dari nelayan pemancing dan juga nelayan yang menggunakan alat tangkap bu. Hingga saat laporan ini ditulis, hanya satu pembeli ikan lelong yang ada di lokasi penelitian. Pembeli ikan lelong ini tidak memberikan biaya operasional kepada nelayan. Ikan yang dibelinya sebagaian besar merupakan ikan mati yang ditangkap oleh nelayan pencari ikan hidup. c. Usaha Ikan Timbangan

Usaha ikan timbangan adalah usaha yang menjual dan membeli ikan untuk kebutuhan ekspor. Ikan yang dibeli diukur menggunakan timbangan. Jenis yang masuk kategori ikan timbangan adalah ikan tinumbu. Pembeli ikan timbangan yang tinggal di pulau Bonetambung berjumlah empat orang. Pembeli ikan timbangan ini berstatus sebagai punggawa darat karena dia memberikan modal kepada nelayan pemancing kemudian menunggu hasil tangkapan di darat.

d. Usaha Gurita

Usaha gurita adalah usaha yang khusus menjual dan membeli biota gurita. Pembeli gurita juga merupakan punggawa. Punggawa yang membeli gurita adalah orang yang sama dengan pembeli ikan timbangan.

(6)

Di Bonetambung, punggawa dapat dibedakan berdasarkan hal berikut: - Kepemilikan

Berdasarkan kepemilikannya, kita dapat menemukan tiga status punggawa dari keempat jenis usaha tersebut, yaitu punggawa bonto atau punggawa darat, punggawa berdikari dan punggawa laut atau juragan. Punggawa bonto atau punggawa darat adalah punggawa yang memberikan modal kepada paboya atau pencari ikan. Punggawa darat hanya menunggu hasil tangkapan di darat, tidak terjun langsung melakukan penangkapan.

Sedangkan punggawa laut atau juragan adalah pemimpin perahu yang melakukan penangkapan. Punggawa laut memperoleh perahu dan alat tangkap serta biasa operasional dari punggawa darat. Dengan demikian, hasil tangkapannya harus dijual kepada punggawa darat yang memberikan modal.

Sementara punggawa berdikari, adalah status punggawa yang relatif masih baru, yang ditujukan untuk menyebut punggawa laut yang memiliki perahu, alat tangkap dan biaya operasinal sendiri, tidak dimodali oleh punggawa darat. Jenis usaha yang dijalankan adalah usaha ikan hidup. Punggawa berdikari ini bebas menjual hasil tangkapannya kepada punggawa darat dengan penawaran harga yang lebih tinggi. Namun pada perkembangannya, sudah banyak punggawa berdikari yang diberikan modal langsung oleh pengusaha yang ada di Makassar tanpa melewati perantara punggawa darat yang ada di pulau Bonetambung. Meskipun statusnya mirip dengan punggawa laut, namun punggawa berdikari ini menjual ikannya dengan harga yang sama dengan harga ikan di Makassar.

(7)

- Volume Usaha 1) Punggawa Lompo

Punggawa lompo, yaitu punggawa yang usahanya sudah besar. Besarnya usah dinilai dari modal yang dimiliki, sarana produksi, jumlah sawi, dan jaringan di kota. Punggawa lompo tidak ikut dalam proses produksi

2) Punggawa Berdikari

Punggawa berdikari, yaitu punggawa yang memiliki satu atau dua perahu penangkapan beserta sawi yang mengoperasikannya. Jika punggawa berdikari ini memiliki dua perahu, maka salah satu perahu dipimpin olehnya untuk beroperasi. Punggawa ini tidak memiliki ikatan dengan bos atau pembeli yang ada di Makassar. Modal untuk membuka usaha diperoleh dari bantuan keluarga (biasanya keluarga yang pegawai negeri) dan sistem hutang yang tidak dibayar menggunakan ikan. Melainkan berupa uang tunai pada jangka waktu tertentu.

Jika kita mencermati pengklasifikasian punggawa di atas, maka kita akan melihat bahwa seorang punggawa dapat memiliki beberapa status sekaligus. Punggawa darat jika memiliki modal yang besar, tenaga kerja yang banyak dan jaringan yang luas, maka dia juga adalah seorang punggawa lompo. Beberapa punggawa darat juga, ada yang membeli dan menjual ikan hidup sekaligus membeli dan menjual ikan timbangan pada musim tertentu. Namun tidak pernah membeli ikan mati untuk pasar lokal.

(8)

punggawa lompo yang usahanya fokus pada ikan hidup, jika sawinya memperoleh ikan mati, maka ikan mati tersebut akan diserahkan kepada pembeli ikan mati.

Sementara punggawa berdikari, biasanya usahanya fokus pada ikan hidup namun berbeda dengan punggawa lompo. Punggawa lompo, hanya terlibat pada pasca produksi, yaitu setelah nelayan datang membawa ikan hasil tangkapannya. Keterlibatan punggawa lompo hanya sebatas mengawasi karena yang mensortir ikan dikerjakan oleh sawi darat yang ahli. Sementara punggawa berdikari tidak memiliki tukang size atau sawi untuk mensortir ikan. Ikan yang ditangkap biasanya dibawa langsung ke Makassar untuk dijual, atau dalam kondisi tertentu, misalnya tangkapan yang sedikit, maka biasanya dijual ke punggawa lompo setempat (yang berada di pulau yang sama) dengan harga yang relatif sama dengan harga di Makasar). Ini dilakukan untuk menekan pengeluaran biaya perjalanan.

Jadi, klasifikasi punggawa di atas dapat disederhanakan menjadi tiga, yaitu punggawa lompo, punggawa ikan mati dan punggawa berdikari. Perbedaan status punggawa ini berimplikasi terhadap perbedaan peran istri mereka. Istri punggawa lompo memiliki peran yang berbeda dengan istri punggawa berdikari atau istri punggawa ikan mati. Perbedaan tersebut secara rinci akan dibahas pada sub bahasan yang khusus.

2. Peran Gender pada Masyarakat Pulau Bonetambung a. Peran Gender Secara Umum

Pembagian peran antara istri dengan suami masyarakat pulau Bonetambung secara umum dapat kita bedakan dalam dua peran yang mencolok, yaitu peran ‘darat’ dan peran ‘laut’. Peran laut yaitu peran yang menyangkut penangkapan yang meliputi persiapan produksi, produksi dan distribusi. Sementara peran darat adalah peran yang dilakukan diluar peran laut seperti mengurus rumah tangga, mengatur konsumsi dan peran-peran kemasyarakatan.

(9)

Peran laut dimulai ketika suami hendak melakukan operasi. Suami mempersiapkan peralatan penangkapan serta mengecek kondisi perahu dan mesin. Pada waktu yang bersamaan, istri mempersiapkan konsumsi untuk suami sebelum berangkat dan untuk bekal selama beroperasi. Pembagian peran seperti ini terutama dijumpai pada keluarga nelayan yang menggunakan perahu fiber, yaitu perahu kecil yang hanya dioperasikan oleh satu orang untuk memancing gurita dan ikan tinumbu. Perahu yang digunakan adalah milik sendiri yang diperoleh secara kredit, sementara biaya lainnya, termasuk biaya konsumsi ditanggung sendiri.

Berbeda dengan nelayan yang menangkap ikan hidup, mereka menggunakan perahu jolloro dan alat tangkap yang disebut ‘bu’. Bu dioperasikan oleh 3-4 orang yang terdiri dari satu punggawa laut, dua penyelam dan satunya lagi untuk menjaga kompresor. Pada tahap persiapan, yang mempersiapkan peralatan adalah sawi, sementara konsumsi untuk bekal konsumsi selama beroperasi dilakukan oleh istri punggawa laut. Sementara istri sawi hanya mempersiapkan konsumsi untuk suaminya sebelum berangkat. Istri sawi tidak mengurus bekal konsumsi karena aturan penangkapan yang mereka terapkan yaitu selama beroperasi, semua kebutuhan ditanggung oleh punggawa laut, termasuk kebutuhan konsumsi.

Tahap selanjutnya adalah operasi. Selama beroperasi, semua urusan di laut diperankan oleh laki-laki (suami) karena tidak ada perempuan yang ikut melakukan penangkapan. Istri hanya tinggal di rumah, mengurus anak, mencuci pakaian dan mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya sambil menunggu suami datang dari laut. Selama suami berada di laut, hampir semua pekerjaan didarat dilakukan oleh istri, kecuali bagi mereka yang anaknya sudah bisa ikut membantu.

(10)

adalah para istri yang hendak membeli ikan (ikan yang dibeli adalah ikan yang mati dan harganya murah) untuk keperluan lauk bagi keluarganya. Selain bertujuan untuk membeli ikan, mereka juga ingin mendengar kabar suaminya yang masih beroperasi, apakah memperoleh tangkapan yang banyak atau tidak, apakah suaminya dalam keadaan yang baik. Setelah interaksi antara nelayan dan para istri tersebut selesai, ikan hidup pun dibawa ke tempat penampungan punggawa darat untuk disortir. Jadi, istri nelayan di sini tidak berperan dalam tahap pendistribusian hasil tangkapan.

Sementara nelayan pemancing, pembagian peran antara suami dengan istri berbeda dengan nelayan bu. Setelah suami datang dari laut, dia disambut oleh istrinya. Mereka melakukan penyortiran hasil tangkapan. Setelah selesai, hasil tangkapan tersebut dibawa ke pembeli (punggawa yang memberi kredit perahu) yang juga tinggal di pulau Bonetambung. Bukan suami yang membawa hasil tangkapan, tetapi dilakukan oleh istrinya. Sementara istri membawa hasil tangkapan kepunggawa, suami membersihkan perahu kemudian kembali ke rumah dan menyantap hidangan yang sebelumnya telah disiapakan istri.

Kesibukan istri nelayan setiap hari yang dapat kita amati adalah mengurus anak, menyiapkan makanan untuk suami sebelum pulang dari laut, mencuci pakain, sisa waktu yang ada biasanya digunakan untuk berkumpul dengan istri nelayan yang lain yang juga memiliki waktu luang. Sebagian kecil di antara mereka ada yang memiliki usaha dagang yang modalnya tidak besar. Mereka menjual sembako yang dibeli di kota. Selain itu, ada pula istri nelayan yang tidak memiliki warung tetapi memiliki kerajinan membuat makanan ringan untuk dijual dari rumah ke rumah.

2). Peran Darat

(11)

urusan di darat menjadi tanggung jawab istri, kecuali mereka yang tinggal bersama di rumah orang tuanya.

Pembagian peran antara suami dengan istri pada masyarakat yang diteliti mirip dengan pembagian peran gender yang ada pada masyarakat yang lain. Hal yang sama terjadi bahwa suami berperan di luar rumah dan istri berperan di dalam dan sekitar rumah. Fenomena ini oleh sebagian ahli dipandang sebagai bentuk ketimpangan, di mana istri hanya memiliki sedikit hak untuk mengatur rumah tangganya. Hal ini terjadi karena suami relatif lebih banyak memberikan sumbangsih kepada keluarganya, yang mengacu pada pandangan bahwa peran suami di luar rumah, yaitu mencari nafkah, dianggap lebih penting dibanding peran istri yang hanya tinggal di rumah untuk memasak, membersihkan dan merawat anak.

Pada masyarakat yang diteliti (yaitu masyarakat di pulau Bonetambung), pembagian peran antara suami dan istri seperti dijelaskan sebelumnya adalah hal yang umum. Hal tersebut tidak dapat dipandang sebagai sebuah bentuk ketimpangan karena pembagian peran tersebut ditempuh sebagai langkah untuk menangani keterbatasan masing-masing person (yaitu suami dan istri). Hal ini berimplikasi pada kepemilikan hak yang sama terhadap pengambilan keputusan terhadap sesuatu yang sedang atau akan dilakukan. Istri, meskipun tidak secara langsung mencari nafkah, tetapi dia memiliki hak untuk mengatur pengeluaran suaminya. Bukan hanya itu, hampir setiap sesuatu yang akan dilakukan oleh suami, termasuk masalah kenelayanan, harus diketahui oleh istrinya, meskipun secara publik istri tidak boleh secara terang-terangan mengatur suami. Sebaliknya, sang istri jika hendak melakukan sesuatu, misalnya membuka warung, berangkat ke Makassar dan hal lainnya, hendaknya terlebih dahulu diberitahukan kepada suami.

(12)

ikan (pada beberapa puluh tahun yang lalu, sekita tahun 70-an, seorang anak gadis boleh ikut dengan orang tua atau paman mereka ke laut untuk menangkap ikan asalkan tidak haid. Perempuan juga pintar mendayung perahu dan tidak ada masalah. Yang dianggap masalah ialah ketika pergi ke laut bersama laki-laki lain yang bukan muhrimnya).

Namun, sekarang tidak ada perempuan yang ikut mencari ikan bukan karena aturan adat, tetapi karena tidak ada lagi perempuan yang mau ikut ke laut. Menurut salah satu ibu (istri nelayan), sekarang cewe’cewe’ sudah takut hitam, mereka sekarang sibuk dengan alat makeupnya, jika dibanding dengan dulu, kita waktu cewe sering ke laut ikut sama bapa untuk mencari ikan. Kalau ada pemuda (nelayan) yang tertarik sama kita, dia akan bilang kepada orang tua kita, biasanya orang jodoh karena ketemu di laut.

Adapun istri nelayan sekarang, tidak ikut ke laut juga bukan persoalan adat tapi karena pandangan bahwa lebih baik tinggal di rumah merawat anak di banding ikut melaut. Seorang suami juga merasa malu jika istrinya ikut melaut, “nanti nabilang orang suaminya tidak bisa memberi makan”. Kecuali jika suami tidak mampu, maka istri boleh saja bekerja keras untuk mencari nafkah karena itu adalah jalan terakhir untuk menghidupi keluarga. Salah seorang warga pulau Bonetambung, yaitu seorang perempuan dengan umur kurang lebih 45 tahun, berprofesi sebagai pedang ikan hidup. Dia yang langsung membawa ikan hasil tangkapan beberapa anak laki-lakinya ke Makassar. Hal ini bukan sesuatu yang ‘aneh’ bagi masyarakat Bonetambung, bahkan mereka mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang bagus karena memang suami beliau sudah tua.

C. Penutup

(13)

dapat disimpulkan bahwa praktek nelayan pulau Bonetambung dalam memanfaatkan lingkungan alamnya merupakan sebuah bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang pada gilirannya membentuk organisasi sosial-ekonomi mereka yang pada akhirnya memberi corak pada peran gender. Tentu dengan kerangka ini kita dapat memahami bahwa organisasi sosial dan peran gender pada masyarakat nelayan di pulau Bonetambung akan berbeda dengan nelayan lain apalagi yang bukan nelayan (yang berdomili di lingkungan perkotaan misalnya).

(14)

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ahmadin. 2009. Ketika Lautku Tak Berikan Lagi. Makassar: Rayhan Intermedia

Andayani, Trisna.2006 Perubahan Peranan Wanita Dalam Ekonomi Keluarga Nelayan Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli. http://www.geocities.com/konferensinasionalsejarah/trisna_andayani.pdf Diakses 7 sept 2009

Fakih Mansour. 2007 (cetakan ke-11). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002 (cetakan III). Teori Budaya. Pengantar Dr. P.M. Laksono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kusnadi. 2000. Nelayan. Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung: Humaniora Utama Press.

Referensi

Dokumen terkait

parkir yang dalam beberapa waktu tidak tercapai targetnya, jadi kita awasi ke lapangan untuk melihat gimana sebenarnya kondisi titik parkir di lapangannya, masih memungkinkah

Jadi promosi merupakan salah satu aspek yang penting dalam manajemen pemasaran karena dengan promosi, konsumen yang semula tidak tertarik terhadap produk dapat berubah fikiran

Pada aplikasi yang dibuat, AR berorientasikan pada sebuah marker yang digunakan sebagai alat peraga yang diidentifikasi dengan menggunakan handphone, dengan catatan

Sasaran peserta dari program Jampesal ini ialah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan

Penggambaran objek figur manusia dengan proporsi yang lebih besar dibanding objek lainnya dan menggunakan warna merah mampu menciptakan kontras dengan background

Penelitian Asrianti (2013), di persemaian menunjukkan bahwa perlakuan berbagai intensitas naungan perlakuan naungan (90%) memberikan respon lebih baik terhadap

Harga barang dan jasa dari negara pesaing mempengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dalam negeri lebih mahal dari pada harga negara

PJTB1 PJTB2 PJTKB Penjelasan Kuesioner Individu Blok XII : Lingkungan PJTB1 PJTB2 PJTKB B : Perilaku PJTB1 PJTB2 PJTKB Penjelasan Kuesioner Individu Blok XIII C :