• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan Politik Gubernur Jokowi dal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kepemimpinan Politik Gubernur Jokowi dal"

Copied!
201
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

DISUSUN OLEH:

MARA HASAYANGAN

F1D009039

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN ILMU POLITIK

PURWOKERTO

(2)

ii

PEDAGANG KAKI LIMA DI PASAR TANAH ABANG JAKARTA TAHUN 2013

Oleh: Mara Hasayangan

F1D009039

Diajukan

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Ilmu Politik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Diterima dan disetujui

Pada tanggal :………. Tim Penguji

Nama Tanda Tangan

1. Drs. Syah Firdaus, M.Si. ………. Ketua

2. Drs. Bambang Suswanto, M.Si. ………. Anggota

3. Triana Ahdiati, M.Si. ……….

Anggota

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(3)

iii

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di Perguruan Tinggi manapun, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis menjadi acuan dalam makalah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Jika nanti di kemudian hari terbukti skripsi saya tidak sesuai dengan pernyataan ini, saya berani mempertanggungjawabkannya, termasuk resiko pencabutan gelar kesarjanaan yang saya sandang.

Purwokerto, Juni 2014

(4)

iv

and over again, and expecting

different result

(5)

v

Ucapan Terima Kasih Kepada ALLAH SWT

Terima kasih kepada ALLAH SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan dengan baik.

Sebuah karya ini saya persembahkan untuk :

Orang Tua Tercinta,

Ayahanda H. Mahyudin Simatupang dan Ibunda Sri Sugianti. Terima Kasih Atas Segala Dukungannya di Berbagai Aspek Dalam Hidup Saya. Maaf Papa Mama,

Abang Mara Membutuhkan Waktu Yang Cukup Lama Dalam Menyelesaikan Studi Strata 1. Terima Kasih Atas Kesabaran Papa Mama Dalam Menunggu

Selesainya Studi Kuliah Abang Mara.

My Big Brothers,

Abdul Malik Saridima Simatupang (Bang Ginda), Terima kasih atas segala dukungannya dan Semoga selalu menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Febby Fiorentino Simatupang (Bang Bento), Terima kasih atas segala dukungannya dan Semoga Menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat

Rekan-rekan Jurusan Ilmu Politik Fisip Unsoed

(6)

vi

taufik dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “KEPEMIMPINAN POLITIK GUBERNUR JOKOWI DALAM RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA DI PASAR TANAH ABANG JAKARTA TAHUN 2013” dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari kiranya skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam tehnik penyajian, susunan kalimat maupun dari segi materinya, mengingat terbatasnya pengalaman serta pengetahuan yang penulis miliki. Namun demikian, untuk mencapai tujuan yang diharapkan, penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam pengkajian serta penyajian dalam skripsi ini.

(7)

vii kepada yang terhormat:

1. Bapak Drs. Syah Firdaus, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi saya yang telah memberikan arahan serta kemudahan-kemudahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Bambang Suswanto, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan banyak bantuan dan arahan serta kemudahan-kemudahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Miss Triana Ahdiati, M.Si selaku Dosen Penguji Skripsi saya yang telah memberikan banyak saran, arahan-arahan serta pencerahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Solahudin Kusumanegara, M.Si. yang telah memberikan pencerahan dalam penulisan skripsi ini.

5. Bapak Andi Ali Said Akbar, M.Si. yang telah memberikan pencerahan dalam penulisan skripsi ini.

(8)

viii

8. Bapak Walikota Jakarta Pusat H. Saefullah, Bapak Jabungka Situmorang Kasie Sudin Satpol Pamong Praja Jak-Pus, Bapak Nano Sunarto Kasie Sudin UMKM, Koperasi, dan Perdagangan Jak-Pus, Bapak Mohammad Hatta Kasie Sudin Disdukcapil Jak-Pus, Bapak Harlem Simanjuntak Kasie Sudin Perhubungan Jak-Pus, dan Bapak Muhammad Yusuf Bin Muhi (Bang Ucu) Tokoh Masyarakat Pasar Tanah Abang.

9. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penyus unan skripsi ini dapat berjalan dengan baik. Akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat berguna khususnya bagi penulis dan pembaca umumnya.

Purwokerto, Juni 2014

(9)

ix

LEMBAR PENGESAHAN……….. ii

LEMBAR PERNYATAAN……….. iii

MOTO………... iv

PERSEMBAHAN………. v

KATA PENGANTAR……….. vi

DAFTAR ISI………. ix

DAFTAR GAMBAR……… xii

DAFTAR TABEL………. xiii

DAFTAR LAMPIRAN………. xiv

RINGKASAN……… xv

SUMMARY………... xvi

BAB I Pendahuluan………... 1

1.1Latar Belakang………. 1

1.2Perumusan Masalah………... 9

1.3Pembatasan Masalah……… 10

1.4Tujuan Penelitian………... 10

1.5Manfaat Penelitian……… 10

BAB II Tinjauan Pustaka……… 12

2.1Kepemimpinan………... 12

2.2Kepemimpinan Politik……….. 25

2.3Kebijakan Publik………. 29

(10)

x

2.5Penelitian Terdahulu……….. 39

2.6Kerangka Pemikiran Penelitian……….………. 42

BAB III Metodologi Penelitian………. 40

3.1 Metode………..…… 44

3.2 Metode Penelitian………... 45

3.3 Fokus Penelitian………... 46

3.4 Lokasi Penelitian……….. 46

3.5 Sasaran Penelitian………... 47

3.6 Teknik Pemilihan Informan……….... 48

3.7 Sumber dan Jenis Data……….... 52

3.8 Teknik Pengumpulan Data………... 52

3.9 Teknik Analisis Data………...………. 53

3.10 Validitas Data………... 55

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan………... 57

4.1 Hasil Penelitian……….... 57

4.1.1 Kondisi Umum………..………….. 57

4.2 Keadaan Geografis………... 58

4.2.1 Bentuk Wilayah………... 58

4.2.2 Curah Hujan………... 58

4.2.3 Batas Wilayah………... 58

(11)

xi

4.4 Hasil Penelitian dan Pembahasan……….. 64

4.4.1 Gaya Kepemimpinan Politik Gubernur Jokowi………... 70

4.4.2 Strategi Politik Kepemimpinan Gubernur Jokowi……... 90

BAB V Kesimpulan dan Saran………. 99

5.1 Kesimpulan………...…... 104

5.2 Saran………. 105

DAFTAR PUSTAKA………... 106

(12)

xii

(13)

xiii

Tabel 2. Matriks Penelitian Terdahulu………...… 41 Tabel 3. Matriks Fokus Kajian dan Penelitian……… 46 Tabel 4. Karakteristik Informan………. 51 Tabel 5 Data Wilayah, Kependudukan, dan Kepadatan Penduduk Kecamatan

(14)

xiv Lampiran 2. Matrik Wawancara

Lampiran 3 .Ijin Penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Lampiran 4. Surat Rekomendasi Penelitian Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah

Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri

Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian Kota Administrasi Jakarta Pusat

(15)

xv

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dan untuk mengetahui strategi Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Tanah Abang Jakarta Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik penetapan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini adalah Gubernur Jokowi dalam upaya relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta Tahun 2013 menggunakan gaya kepemimpinan kontingensi. Gaya kepemimpinan ini yaitu Gubernur Jokowi menggabungkan beberapa jenis kepemimpinan seperti tipe demokratik, partisipatif, dan otoriter. Gubernur Jokowi menerapkan gaya kepemimpinan tersebut berdasarkan pertiimbangan kondisi dan situasi yang ada dalam wadah kepemimpinannya. Tipe kepemimpinan demokratik yang diterapkan yaitu dengan membuka ruang-ruang dialog baik dari segi internal ataupun eksternal Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Kemudian tipe Partisipatif yang diterapkan yaitu dengan partisipasi aktif Gubernur Jokowi baik dalam ranah internal ataupun eksternal Pemprov DKI Jakarta. Tipe Otokratik yang diterapkan yaitu dengan melakukan pola reward and punishment terhadap tubuh internal Pemprov DKI Jakarta sebagai bentuk memberikan efek kesadaran bukan karena paksaan.

Strategi kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dilakukan melalui pembenahan secara internal dalam jajarannya. Dalam hal ini, Gubernur Jokowi kerap melakukan diskusi-diskusi langsung terhadap jajarannya, menerima kritik dan pendapat dari bawahannya, dan selalu memberikan percontohan yang baik agar diikuti oleh jajarannya. Tidak hanya dari sisi internal saja, Gubernur Jokowi juga kerap kali melakukan pendekatan-pendekatan secara personal kepada Tokoh Masyarakat Pasar Tanah Abang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk suksesi program kerja relokasi. Kemudian Gubernur Jokowi juga sering melakukan kunjungan kerja langsung ke masyarakat (blusukan) untuk melihat langsung permasalahan yang ada di Pasar Tanah Abang. Selanjutnya Gubernur Jokowi juga menerapkan beberapa rute baru untuk angkutan umum agar melewati Pasar Tanah Abang, agar akses publik menjadi mudah untuk berbelanja di Pasar Blok G Tanah Abang. Membebaskan biaya sewa kios selama 6 bulan bagi para PKL yang telah direlokasi ke Pasar Blok G Tanah Abang.

(16)

xvi

of this study was to describe the style of political leadership and the Governor Jokowi to know the strategies Governor Jokowi the relocation of street vendors (PKL) in Jakarta Tanah Abang market in 2013. Study uses qualitative research methods to the determination of the informant technique using purposive sampling and snowball sampling. Collecting data in this study through interviews, observation, and documentation.

Results of this study was Governor Jokowi in relocation efforts street vendors in Jakarta Tanah Abang market in 2013 using the contingention leadership style. This leadership style is Governor Jokowi incorporate some kind of leadership such as the type of democratic, participatory, and authoritarian. Governor Jokowi apply pertiimbangan leadership style is based on the conditions and situations that exist in the container leadership. Type of democratic leadership that is applied is to open dialogue spaces both in terms of internal or external Provincial Government (Provincial) Jakarta. Then type Participatory applied ie with the active participation of the Governor Jokowi either internal or external to the realm of the city government. Type autocratic applied by performing the pattern of reward and punishment to the internal body as a form of Jakarta Provincial Government gives effect consciousness not because of coercion.

Political leadership strategies Governor Jokowi done internally through improvements in its ranks. In this case, the Governor Jokowi often make direct discussions towards its ranks, accept criticism and opinions of subordinates, and always gives a good demonstration that followed by his staff. Not only from the internal side of the course, the Governor Jokowi also often perform personal approaches to community leaders Tanah Abang market. This is done as a form of succession relocation work program. Then Governor Jokowi also work directly frequent visits to the community (blusukan) to see first hand the problems that exist in Tanah Abang Market. Furthermore, Governor Jokowi also implement several new routes for public transport that passes Tanah Abang market, so that the public becomes easy access to shopping at Tanah Abang Market Block G. Freeing stall rental fee for 6 months for the street vendors who have relocated to Tanah Abang Market Block G.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyelenggaraan pemerintah di suatu negara tentu terdiri dari instansi-instansi tertentu dalam melaksanakan tata kelola masyarakat. Dalam hal ini, instansi tersebut mempunyai tugas-tugas tertentu sebagai elemen pendukung penyelenggaraan negara. Instansi pemerintah terdiri dari struktur individu-individu yang mempunyai tugas khusus sesuai dengan jabatan masing- masing. Hal ini semakin mempertegas bahwa fungsi masing- masing jabatan tersebut mempunyai peranan yang penting dala m kesuksesan suatu organisasi. Oleh karena itu, perlunya keseriusan dalam melakukan tugas dan fungsi masing- masing anggota sangat diperlukan demi tercapainya tata kelola masyarakat yang baik.

(18)

Jakarta dalam tata kelola masyarakat di Pasar Tanah Abang, khususnya PKL Pasar Tanah Abang

Sejarah singkat Pasar Tanah Abang berdiri semenjak tahun 1735 yang didirikan oleh seorang pengusaha Belanda bernama Justinus Vinck. Beberapa abad kemudian pada tahun 1973 Gubernur Ali Sadikin menambahkan beberapa gedung lengkap dengan fasilitas pendingin ruangan (air conditioner). Pembangunan tersebut antara lain pembangunan gedung blok A dan Blok B Pasar Tanah Abang. Kegiatan ekonomi di Pasar Tanah Abang sudah berjalan lebih dari 2 abad. Dalam hal ini, eksistensi Pasar Tanah Abang tetap terjaga dikarenakan lokasinya yang strategis dan sudah dikenal sejak lama.

Pasar Tanah Abang dikenal sebagai sentra tekstil terbesar di Asia Tenggara.1 Volume arus perdagangan yang besar di Pasar Tanah Abang telah menarik banyak minat masyarakat untuk mencoba peruntungannya. Salah satunya adalah dengan mendirikan kios-kios dagang non-permanen atau yang biasa dikenal dengan sebutan pedagang kaki lima (PKL). Keberadaan PKL di Pasar Tanah Abang sudah ada semenjak tahun 1970-an.2 Pada masa itu, geliat pertumbuhan ekonomi di Pasar Tanah Abang semakin meningkat. Hal ini terlihat dari arus perdagangan internasional yang ada di Pasar Tanah Abang yang semakin berkembang.

Memasuki era modern periode akhir abad ke-20 yaitu tepatnya tahun 1990-an, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin meningkat. Hal

1. Budi Suhendri, “Pasar Tanah Abang Sentra Ekonomi Sejak Dulu,” Merdeka.com, terakhir diubah 09 Mei, 2014 , http://www.merdeka.com/jakarta/pasar -tanah-abang-sentra-ekonomi-sejak-dulu.html , sentra ekonomi pasar tanah abang.

(19)

ini tentu berpengaruh terhadap mobilitas dan dinamika kehidupan masyarakat yang juga semakin meningkat. Dalam hal ini, keberadaan PKL di Pasar Tanah Abang mulai menjadi suatu masalah yang harus ditangani secara serius oleh pemerintah. Permasalahan yang timbul akibat adanya lapak- lapak PKL yang berada di ruas bahu jalan Pasar Tanah Abang, dinilai menjadi penyebab utama terjadinya kemacetan dan banjir akibat tata kelola kebersihan yang tidak teratur. Selain itu, keberadaan PKL di Pasar Tanah Abang juga merugikan banyak pihak. Pihak-pihak yang dirugikan diantaranya adalah pemerintah dan masyarakat. Kerugian pemerintah atas kegiatan PKL berupa penggunaan lahan- lahan negara tanpa adanya kontribusi berupa pajak resmi. Tidak hanya itu saja, kerugian juga dialami oleh masyarakat karena terganggunya akses ruang-ruang publik dan jaminan keamanan karena tingkat kriminalitas yang tinggi.

Upaya penertiban yang dilakukan Pemprov DKI pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso (1997-2007), yaitu dengan penertiban melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Namun, upaya tersebut dinilai selalu gagal dan tidak memberikan solusi yang permanen terhadap permasalahan PKL. Kegagalan tersebut terlihat dari upaya penertiban yang berujung pada bentrok fisik antara Satpol PP dengan PKL. Selain itu, kegagalan terlihat dari kembalinya aktifitas para PKL yang berjualan di ruas-ruas bahu jala n Pasar Tanah Abang pasca penertiban.

(20)

dilaksanakan sebatas penertiban saja. Pelaksanaan penertiban yang dilakukan tidak dilanjuti dengan upaya untuk merelokasi PKL agar tidak kembali ke trotoar dan jalanan umum. Salah satu contoh dari hal ini yaitu terlihat dari eksistensi PKL Pasar Tanah Abang pada periode kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo. Hampir selama 5 tahun kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo, para PKL yang berada di ruas-ruas jalan Pasar Tanah Abang tetap bertahan dan kian menjamur.

Memasuki periode pemerintahan Gubernur Joko Widodo (2012-sekarang) atau yang biasa dikenal dengan Jokowi, penanganan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dinilai membuahkan hasil. Pada periode kepemimpinan Jokowi, upaya yang dilakukan adalah upaya relokasi bagi PKL di Pasar Tanah Abang dan sentra-sentra PKL lainnya di Jakarta. Hal ini dilakukan karena Pemprov DKI Jakarta tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dalam menangani permasalahan PKL di Pasar Tanah Abang. Selain itu, hal ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menanggulangi permasalahan PKL di Pasar Tanah Abang.

(21)

satu kunci keberhasilan Pemprov DKI dalam melakukan penataan tata ruang kota yang baik, khususnya di Pasar Tanah Abang.

Upaya relokasi PKL di Pasar Tanah Abang oleh Pemprov DKI Jakarta dilakukan dengan beberapa perubahan dalam pelaksanaan teknisnya. Dalam hal ini, salah satu perubahan dalam pelaksanaan teknisnya adalah dengan merubah stigma atau mindset Satpol PP dalam melakukan penertiban kepada PKL. Seperti yang sudah diketahui secara umum, bahwa selama ini pelaksanaan teknis upaya penertiban oleh Satpol PP dilakukan secara represif. Namun, pada masa periode kepemimpinan Jokowi, perubahan yang dilakukan adalah dengan merubah pelaksanaan teknis Satpol PP menjadi lebih persuasif. Perubahan tersebut juga terjadi didalam tubuh Satpol PP tersebut. Dalam hal ini, langkah yang dilakukan adalah mengganti Ketua Satpol PP yang sebelumnya dijabat oleh laki- laki, kini dijabat oleh perempuan. Hal ini dilakukan untuk menghapus mindset kasar terhadap Satpol PP dalam menertibkan masyarakat, khususnya para PKL di Pasar Tanah Abang.

Pada awal upaya relokasi PKL di Pasar Tanah Abang, Pemprov DKI Jakarta menemukan beberapa kesulitan dalam melaksanakan program kerjanya.3 Dalam hal ini, kesulitan tersebut disebabkan karena beberapa PKL menolak untuk direlokasi dan tetap berdagang di ruas-ruas bahu jalan Pasar Tanah Abang. PKL yang menolak direlokasi tidak semerta- merta menolak begitu saja. PKL menilai bahwa daerah tujuan relokasi dinilai kurang strategis dan tidak layak ditempati.

(22)

Sikap protes dan penolakan yang selama ini dilakukan oleh PKL ternyata tidak murni dari keinginan PKL itu sendiri. Dalam hal ini, sikap penolakan tersebut disinyalir karena adanya oknum tertentu yang melatarbelakangi dan menghasut para PKL untuk menolak direlokasi.4 Oknum-oknum tersebut diperkirakan mempunyai kepentingan khusus seperti kepentingan bisnis di daerah Pasar Tanah Abang. Kepentingan bisnis yang dijalankan oleh oknum-oknum tersebut di Pasar Tanah Abang, dilakukan dengan mekanisme sistem sewa bagi setiap lapak PKL.

Selama proses upaya relokasi yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, ditemukan indikasi- indikasi adanya keterlibatan oknum pemerintah yang ‘bermain’ di Pasar Tanah Abang.5 Dalam hal ini, oknum tersebut salah satunya adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta. Melalui pemberitaan di media massa disebutkan bahwa Abraham Lunggana atau yang biasa dikenal sebagai H. Lulung terlibat sebagai salah satu oknum yang ‘bermain’ di Pasar Tanah Abang.6

Perseteruan yang terjadi antara Pemprov DKI Jakarta dengan salah satu anggota DPRD DKI Jakarta tersebut kemudian berujung pada konflik. Konflik tersebut terlihat dari sikap kecewa dan makian yang diungkapkan H. Lulung

4. Deni Purwanto, “Provokasi Mafia Tanah Abang Terhadap Pedagang Kaki lima,” Liputan6.news, terakhir diubah 19 November, 2013, http://news.liputan6.com/read/650919/jokowi-ahok-vs-http://youtu.be/Nj7pRk3PaRAmafia-tanah-abang provokasi mafia trhadap pkl untuk menolak direlokasi.

5. Rudi Mangganis, “H. Lulung Pendekar Tanah Abang,”Merdeka.com, terakhir diubah 17 Maret, 2014, http:news.merdeka.com/read/tanahabang/09371/h.lulung-pendekar-pasar-tanah-abang.

6. Rangga Kusuma, “Menengok Kerajaan Bisnis Haji Lulung di Tanah Abang,”

(23)

kepada Jokowi dan Ahok melalui media massa.7 Kekecewaan yang disampaikan oleh H. Lulung menilai bahwa kebijakan Pemprov DKI Jakarta untuk merelokasi PKL di Pasar Tanah Abang kurang tepat. Selain itu, H.Lulung juga menilai sikap arogansi yang ditunjukan wakil Gubernur DKI Basuki Tjahya Purnama atau yang dikenal sebagai Ahok dalam pemberitaannya di media massa.8

Setelah proses upaya relokasi tersebut berjalan, akhirnya Pemprov DKI Jakarta berhasil melakukan upaya relokasi terhitung dari tanggal 2 September 2013. PKL di Pasar Tanah Abang yang akan direlokasi bersedia pindah ke kompleks Blok-G Pasar Tanah Abang. Proses relokasi berjalan dengan lancar dan kondusif. Tidak ada bentrok fisik yang terjadi antara Pemprov DKI Jakarta dengan PKL.

Keberhasilan Pemprov DKI Jakarta dalam melaksanakan program kerja upaya relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang terlihat dari peran aktif Pemerintah dalam melihat permasalahan yang ada. Dalam hal ini, peran aktif tersebut tercermin dari kepemimpinan politik Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta untuk terjun langsung melihat inti permasalahan yang ada. Jejak rekam Jokowi merupakan salah satu dari pemimpin politik yang berhasil dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Contoh nyata dari keberhasilan tersebut terlihat dari keberhasilan Pemprov DKI Jakarta dalam melakukan penataan ruang dan menjaga ketertiban umum berupa relokasi PKL di Pasar

7. Hendra Wijaya, “Jokowi-Ahok vs Haji Lulung,” Kompas.com, terakhir diubah 19 November,2013,http://nasional.kompas.com/read/2013/07/12/1846209/Basuki.Mafia.PKL.Tanah. Abang.Terlalu.Besar mafia tanah abang.

(24)

Tanah Abang. Tidak hanya itu, sebelum menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta Jokowi telah berhasil melakukan beberapa perubahan yang signifikan ketika beliau menjabat sebagai Walikota Surakarta pada tahun 2005-2012. Perubahan-perubahan tersebut berupa reformasi birokrasi, penataan PKL dengan pendekatan persuasif dan penerapan e-government di Surakarta.

Keberhasilan Jokowi dalam melakukan tata pemerintahan yang baik, telah mendapat beberapa penghargaan dari kancah lokal ataupun internasional. Dalam hal ini, The City Mayors Foundation menempatkan Jokowi di urutan ketiga dalam pemilihan walikota terbaik dunia pada ajang World Mayor Project 2012. Pemilihan ini diselenggarakan oleh The City Mayors Foundation yaitu, yayasan walikota dunia yang berbasis di Inggris. Situs resmi World Mayor Project menyebut keberhasilannya mengubah Surakarta dari kota yang banyak tindak kriminal menjadi pusat seni dan budaya, yang kemudian berhasil menarik turis internasional untuk datang. Dalam penghargaan ini, kriteria-kriteria yang menjadi penilaian dari walikota terbaik dunia yaitu pertama, mengedepankan kejujuran, memiliki visi jelas selama kepemimpinannya dan mampu mengatur kota dengan baik. Selain itu, tingkat kepedulian yang tinggi terhadap aspek ekonomi dan sosial, mampu meningkatkan keamanan dan lingkungan sekitarnya dan juga memiliki kedekatan dengan warganya.

(25)

kepemimpina n politik merupakan kajian yang menarik. Hal ini dikarenakan seorang pemimpin politik merupakan representasi aktual dari kelompoknya. Selain itu, pemimpin politik juga merupakan inti pergerakan dari hampir semua dinamika organisasi politik.

Pemimpin politik mempunyai urgensi yang tinggi terhadap citra kelompoknya. Hal ini dikarenakan mindset umum masyarakat awam menilai suatu kelompok politik dilihat dari sepak terjang, kinerja, dan interaksi pemimpinnya. Selain itu, kajian mengenai kepemimpinan politik menjadi semakin menarik dalam perkembangan ilmu politik khususnya di Indonesia. Dengan demikian, penelitian yang akan dilakukan ini menarik untuk dikaji dan dianalisis terkait kepemimpinan politik Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakangnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1) Bagaimanakah gaya kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang ?

(26)

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan dari perumusan masalahnya, maka penelitian ini dibatasi pada gaya kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang, dan strategi yang diterapkan Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan kepada pembatasan masalahnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1) memahami dan mendeskripsikan kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang tahun 2013

2) untuk mengetahui dan menjelaskan strategi Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang tahun 2013.

1.5 Manfaat Penelitian

1) Manfaat Teoritis

(27)

2) Manfaat Praktis

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepemimpinan

Pemimpin dengan kepemimpinan merupakan dua konsep yang hampir sama tapi memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dalam hal ini, perbedaan tersebut terletak dari definisi dan penjelasan dari konsep tersebut. Menurut Winardi, pemimpin adalah seorang yang dengan kecakapan-kecakapan pribadinya dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengarahkan usaha bersama kearah pencapaian sasaran-sasaran tertentu9. Interaksi yang terjadi antara pemimpin dengan yang dipimpinnya tidak berjalan satu arah, yaitu harus mempunyai interaksi dua arah. Dalam hal ini, interaksi tersebut harus terjadi dari pemimpin kepada bawahannya dan dari bawahannya kepada pemimpinnya. Oleh karena itu, hubungan yang seperti itulah yang merupakan hubungan kerjasama dalam kelompok yaitu antara pemimpin dengan yang dipimpinnya.

Deskripsi mengenai kepemimpinan mempunyai banyak definisi tergantung dari wadah dan situasi seorang pemimpin. Dalam hal ini, menurut Burns kepemimpinan transformasional merupakan suatu kepemimpinan yang menekankan pada kesadaran para pengikut dengan mengarahkan kepada cita-cita dan nilai- nilai moral yang lebih tinggi10. Pemimpin dalam kepemimpinan ini mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan menyerukan cita-cita

9. Winardi, “Kepemimpinan Dalam Manajemen”, (Jakarta: Rinneka Cipta, 1990), 21.

(29)

yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti keadilan, kemerdekaan dan kemanusiaan. Kepemimpinan ini berusaha untuk menekankan pentingnya aspek sosial yang ingin dicapai dengan menekankan pentingnya moralitas dalam suatu wadah organisasi. Pengikut dari pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut. Aspek-aspek dalam kepemimpinan transformasional yaitu sebuah proses seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat. Kemudian stimulasi intelektual sebagai sebuah proses para pemimpin dalam meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah- masalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah- masalah dari sebuah perspektif yang baru. Selanjutnya perhatian yang diindividualisasi termasuk memberikan dukungan dan membesarkan hati para pengikut. Menurut Burns, kepemimpinan transformasional mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:11

- mengembangkan visi yang jelas dan menarik serta mengembangkan strategi untuk mencapai visi

- mengartikulasikan dan mempromosikan visi, dan bertindak dengan rasa percaya diri dan optimis

- mengekspresikan rasa percaya kepada para pengikut serta menggunakan keberhasilan sebelumnya dalam tahap-tahap kecil untuk membangun rasa percaya diri

- merayakan keberhasilan dengan memberikan semacam penghargaan kepada anggota organisasi, baik dalam bentuk apapun

(30)

- menggunakan tindakan-tindakan yang dramatis dan simbolik untuk menekankan nilai- nilai utama

- memimpin melalui contoh, menciptakan, memodifikasi atau menghapuskan bentuk-bentuk kultural

- menggunakan upacara- upacara transisi untuk membantu orang melewati perubahan

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi dan mengorganisir suatu tindakan pada individu atau kelompok demi mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, makna kepemimpinan mempunyai arti yang cukup banyak dan perlu dijelaskan secara detail. Seperti yang disampaikan oleh Yukl secara lebih jelas mengenai definisi dari kepemimpinan yang dikarakteristikan secara komprehensif. Yukl berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kedalam suatu tujuan yang ingin dicapai secara bersama12. Pengertian ini menjelaskan bahwa fungsi dan tugas dari seorang pemimpin mempunyai fungsi dan peran sentral dalam pencapaian tujuan suatu organisasi atau kelompok. Kemudian selain hal tersebut, kepemimpinan juga merupakan pengruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian tertentu. Pengertian ini menjelaskan bahwa kepribadian-kepribadian dalam seorang pemimpin perlu adanya suatu sikap dalam membangun kebersamaan dalam suatu kelompok atau organisasi. Selanjutnya kepemimpinan adalah suatu peningkatan pengaruh yang dijalankan secara

(31)

berkesinambungan yang berada diatas tingkat kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi atau kelompok. Pemaknaan dari hal ini yaitu bahwa pemimpin mempunyai kewenangan yang secara legal untuk dapat meningkatkan kinerja dan mutu kelompok atau organisasinya. Selain itu, kepemimpinan adalah seseorang atau individu yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya. Pengertian ini memberikan gambaran bahwa suatu proses kepemimpinan mempunyai andil yang cukup besar dalam membangun kinerja kelompok. Selajutnya kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan didalam sebuah kelompok atau organisasi. Dalam hal ini, pemaknaan dari definisi kepemimpinan ini terletak pada proses dan kewenangan yang dimiliki oleh pemimpin dalam mengolah seni mempengaruhi yang bertujuan demi kemajuan dan target suatu kelompok atau organisasi.

Kepemimpinan merupakan suatu elemen yang penting dalam pembangunan organisasinya. Dalam hal ini, menurut Rivai bahwa fungsi kepemimpinan merupakan suatu gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu di dalam situasi sosial kelompok atau organisasi.13 Kemudian lebih jauh lagi Rivai menjelaskan fungsi kepemimpinan secara operasional dapat dibedakan dalam delapan fungsi pokok kepemimpinan yang

(32)

antara lain yaitu14: kepemimpinan mempunyai fungsi instruksi yang bersifat bersifat komunikasi satu arah. Dalam hal ini, pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kemudian fungsi konsultasi yaitu fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pemaknaan akan hal ini adalah bahwa konsultasi antara pemimpin dan bawahan dilakukan secara dua tahap, yaitu pada saat menetapkan keputusan dan setelah keputusan ditetapkan maupun sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi tahap kedua dimaksudkan untuk memperoleh umpan balik untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.

Fungsi- fungsi kepemimpinan selanjutnya yaitu terdapat fungsi partisipasi dalam hal ini, pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas orang lain. Selanjutnya fungsi delegasi yang dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi, dan aspirasi. kemudian fungsi pengendalian yaitu kepemimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktivitas

(33)

anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Selanjutnya fungsi komunikator yaitu seorang pemimpin mempunyai komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan sehingga tercipta sinergi dalam suatu organisasi, serta mengkomunikasikan hal- hal yang berkaitan dengan pencapaian organisasi. Kemudian fungsi mediator yaitu seorang pemimpin merupakan wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak eksternal suatu organisasi. Dan fungsi integrator yaitu seorang pemimpin mempunyai kemampuan dan pengetahuan untuk mengintegrasikan berbagai elemen dalam suatu organisasi, ataupun hubungan kerjasama eksternal organisasi.

Kepemimpinan merupakan kemampuan yang melekat pada diri seseorang pemimpin dimana kepemimpinanya dilakukan berdasarkan dari berbagai macam faktor, baik internal ataupun eksternal. Munculnya kepemimpinan merupakan proses dari dinamika interaksi yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, individu yang mempunyai tingkat keaktifan dan kemampuan yang lebih menonjol dibanding individu lainnya,berpotensi untuk dianggap sebagai pemimpin. Urgensi kepemimpinan tentu mempunyai pengaruh yang besar di dalam suatu kelompok atau masyarakat. Hal ini diperlukan untuk memanajemen potensi dalam kelompok dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu yang dilakukan secara bersama.

(34)

menjelaskan tipologi kepemimpinan yaitu : tipe otokratik, tipe paternalistik, tipe kharismatik, tipe laissez faire, dan tipe demokratik. Penjelasan mengenai tipologi kepemimpinan menurut Siagian dijelaskan sebagai berikut, yaitu :15

a. Tipe Otokratik

Dilihat dari persepsinya, seorang pemimpin yang otokratik adalah pemimpin yang egois. Egois dalam hal ini adalah memutarbalikan kenyataan yang sebenarnya sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterprestasikan sebagai kenyataan. Kriteria pemimpin sebagai tipe yang otokratik diantaranya adalah kekuasaan yang tidak perlu dibagi dengan orang lain dalam suatu kelompok, ketergantungan total kepada para anggota organisasi, pemimpin adalah seseorang yang selalu benar dalam sebuah kelompok atau organisasi. Seorang pemimpin yang otokratik dalam praktek di kelompok atau organisasi akan menggunakan beberapa cara seperti menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya, dalam menegakkan disiplin menunjukkan kekakuan dan ketika member mandat atau perintah bernada keras. Tipe otokratik ini sebagai salah satu teori yang digunakan dalam menganalisis terkait kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi PKL di Pasar Tanah Abang Jakarta.

b. Tipe Paternalistik

Pemimpin yang paternalistik banyak ditemui di lingkungan masyarakat yang sifatnya masih tradisional. Lingkungan tradisional ini identik dengan rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh masyarakat kepada orang yang

(35)

“dituakan”. Seseorang yang dituakan ini biasanya mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik dan gaya hidupnya yang mampu dijadikan contoh teladan bagi para anggota masyarakatnya.

Dalam kehidupan organisasi, pemimpin paternalistik ini diwarnai oleh harapan yang tinggi dari para pengikutnya, pemimpin tersebut mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan menjadi tempat untuk memperoleh petunjuk. Kriteria dari pemimpin tipe paternalistik ini adalah kewenangan memerintah dan mengambil keputusan tanpa harus berkonsultasi dengan para pengikutnya, memberlakukan keadilan yang penuh terhadap pengikutnya, hubungan yang terjadi antara pemimpin dengan para pengikutnya lebih cenderung kepada informal sehingga pemimpin terkesan selalu melindungi terhadap para bawahannya. Teori dari tipe Paternalistik ini umumnya berlaku dalam kondisi masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat setempat, yaitu seperti di pedesaan dan masyarakat yang hidup dalam kesukuan yang kental. Penggunaan teori ini dalam pembahasan terkait analisis kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi PKL di Pasar Tanah Abang tidak digunakan, hal ini dikarenakan sasaran dari penelitian yang tidak mencakup dalam kondisi masyarakat pedesaan dan kesuk uan yang tinggi.

c. Tipe Kharismatik

(36)

adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut pantas dikagumi.

Tolak ukur dari pemimpin kharismatik sangat banyak, bukan hanya dilihat dari penampilan fisik, usia, atau harta yang dimiliki, tetapi ada “kekuatan-kekuatan” lain yang dimiliki seorang pemimpin, sehingga banyak anggapan bahwa pemimpin kharismatik ini adalah orang yang memiliki “kekuatan ajaib”. Seorang pemimpin kharismatik bisa saja menggunakan gaya kepemimpinan yang otokratik, tetapi tetap saja pengikutnya selalu setia kepada pemimpin. Pengikut pemimpin kharismatik ini tidak mempersoalkan bagaimana gaya ya ng digunakan oleh pemimpinnya tersebut. Pendekatan yang baik dan pengaruh yang kuat yang dilakukan seorang pemimpin kharismatik kepada para pengikutnya menyebabkan kondisi pengikut yang setia kepada pemimpinnya. Hanya saja seorang pemimpin yang kharismatik ini memiliki jumlah yang sedikit karena tidak semua jiwa kharismatik dapat melekat dan diterapkan oleh tiap pemimpin. Tipe kepemimpinan kharismatik ini bisa dikatakan tidak melekat dalam diri Gubernur Jokowi, karena sampai dengan saat ini kepemimpinan kharismatik hanya dimiliki oleh Alm. Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia.

d. Tipe Laissez Faire

(37)

mengenai jalannya suatu kelompok atau organisasi sehingga peran pemimpin hanyalah sebagai pengawas saja. Suatu kelompok atau organisasi yang memiliki pemimpin tipe laissez faire didalamnya hubungan antara pemimpin denganh para pengikutnya dilandasi dengan rasa mempercayai yang besar, sehingga apapun yang dilakukan oleh pengikut adalah suatu tindakan yang benar asalkan tujuan dan arah suatu kelompok tetap dapat tercapai dengan baik.

Karakteristik utama dari pemimpin tipe laissez faire adalah : pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah, status quo organisasional tidak terganggu, pertumbuhan dan pengembangan kehidupan organisasi diserahkan kepada para pengikutnya, dan intervensi pemimpin dalam organisasi berada pada tingkatan yang rendah.

e. Tipe Demokratik

(38)

pengikutnya dalam menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Dalam tipe demokratik ini, seorang pemimpin mempunyai kedekatan hubungan kerja yang cukup kuat dengan elemen-elemen yang ada dalam kelompok atau organisasinya. Pasalnya hal ini dibangun melalui proses komunikasi yang antara pemimpin dan yang dipimpin dalam suatu organisasi atau kelompok. Tipe ini yang sekiranya tepat digunakan dalam mendeskripsikan gaya kepemimpinan Gubernur Jokowi pada upaya relokasi PKL di Pasar Tanah Abang tahun 2013 silam.

f. Tipe Partisipatif

Dalam tipe ini, seorang pemimpin selalu menempatkan dirinya di tengah-tengah para bawahannya, sehingga pemimpin terlibat secara langsung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasinya. Selalu memberikan kesempatan bagi anggota tim untuk mengembangkan strategi dan pemecahan masalah yang ada. Mengawal dan mengarahkan tim kearah tercapainya suatu keputusan. Selalu turun tangan pada tindakan-tindakan teknis dilapangan, baik secara internal ataupun eksternal.

(39)

pemimpin dalam setiap kerja-kerja organisasi memberikan susasana tersendiri bagi kelo mpok atau organisasinya.

Kepemimpinan dalam suatu organisasi mempunyai pendekatan yang menyatakan bahwa semua kepemimpinan tergantung kepada keadaan atau situasi lingkungannya. Dalam hal ini, situasi tersebut keadaan yang perlu bagi pemimpin untuk bekerja dan melakukan tugasnya. Situasi dan kondisi yang ada disekitar dapat menentukan suatu keberhasilan seorang pemimpin. Untuk itu perlunya dalam menerapkan teori kepemimpinan situasional, maka pemimpin harus didasarkan pada hasil analisis terhadap situasi yang dihadapi. Selain itu, ketika pada suatu saat tertentu dapat mengidentifikasikan kondisi anggota yang dipimpinnya.

Dalam penelitian ini, model atau teori kepemimpinan yang digunakan yaitu menggunakan teori dari Fiedler (1967) yang terdapat dalam buku Rivai. Dalam hal ini, model atau teori ini disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya.16 Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).17 Hubungan antara pemimpin dan

16. Rivai Veithzal, “Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi”, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 62.

(40)

bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing- masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).

(41)

2.2 Kepemimpinan Politik

Dalam penelitian mengenai kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi PKL Pasar Tanah Abang tentunya tidak terlepas dari teori-teori yang terkait kepemimpinan politik. Seorang pemimpin harus bisa dengan baik dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dalam mengemban suatu tujuan bersama. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus mempunyai modal- modal yang kuat dalam mengorganisir potensi-potensi yang ada dalam kelompoknya. Selain itu, kepemimpinan politik biasa diartikan sebagai suatu kepemimpinan seorang pemimpin dalam memimpin suatu institusi atau lembaga politik. Secara konsep yang mendasar kepemimpinan politik sama dengan konsep dasar kepemimpinan seperti yang diungkap oleh Sutarto yang menyebutkan bahwa aktifitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan18. Kemudian kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok, mencapai tujuan organisasi dari efektifitas dan semaksimal mungkin dan kerjasama dari tiap-tiap individu, dan kepemimpinan adalah membuat wewenang dan membuat keputusan.

Konsep dasar dari sebuah kepemimpinan politik mempunyai konsep yang hampir sama dengan konsep kepemimpinan. Dalam hal ini, perbedaan mendasar dari konsep tersebut terletak dari ruang peran pemimpin itu sendiri. Ruang peran seorang kepemimpinan politik terletak pada seorang pemimpin yang memimpin suatu institusi atau lembaga politik. Berbeda dengan konsep kepemimpinan yang hanya mempunyai batasan seorang pemimpin yang memimpin suatu kelompok

(42)

atau organisasi. Secara lebih jelas konsep mengenai kepemimpinan politik dikarakteristikan oleh Imawan, yaitu :19

a. Kapasitas Intelektual

Dalam kapasitas intelektual, seorang pemimpin politik mempunyai daya analisis yang tajam. Semakin tinggi daya analisisnya maka semakin baik kinerjanya dan menimbulkan keyakinan yang kuat terhadap para pengikut atau bawahannya. Ketajaman analisis seorang pemimpin politik tidak ditentukan dari banyaknya pendidikan formal yang diraih, melainkan dari bakat politik dan pengalaman yang dimiliki. Pengalaman dan jam terbang yang dimiliki oleh seorang pemimpin politik mempunyai pengaruh yang besar dalam kinerjanya sebagai seorang pemimpin dalam suatu organisasi politik.

b. Vitalitas Kerja

Seorang pemimpin politik umumnya mempunyai kestabilan emosi dan vitalitas kerja yang tinggi. Hal ini terlihat dari interaksi yang terjadi antara pemimpin dengan bawahannya. Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemimpin dengan bawahannya, maka pemimpin politik cenderung bersifat mendengarkan.

c. Tambahan Latihan dan Pengalaman

Pada bagian ini, seorang pemimpin politik mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi individu lainnya agar mampu bekerja sama atau bertindak sesuai dengan kehendak bersama. Kemampuan seorang pemimpin

(43)

politik tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal saja melainkan juga dari pengalaman yang sudah dialuinya selama karir berpolitik.

d. Merasa Dirinya Penting

Pada bagian ini secara konseptual mempunyai keterkaitan erat dengan poin pertama yaitu mengenai kapasitas intelektual. Dalam hal ini, Semakin tinggi kapasitas intelektualnya maka semakin besar keyakinan pengikutnya terhadap seorang pemimpinnya. Oleh karena itu, dikarenakan dinamika ini maka seorang pemimpin politik cenderung semakin merasa dirinya penting.

e. Reputasi

Reputasi seorang pemimpin politik mempunyai signifikansi yang besar terhadap institusi politiknya. Dalam hal ini, seorang pemimpin politik umumnya selalu dapat diterima dari setiap lapisan masyarakat tergantung dari reputasi yang dimilikinya. Oleh karena itu, reputasi menjadi penting karena penilaian masyarakat terhadap suatu figur politik ditentukan dari tindak tanduk dan jejak rekam baik secara pribadi ataupun organisasi.

(44)

tersebut dibesarkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesuksesan kepemimpinan politiknya20. Kemudian political socialization yaitu melalui sosial politik seorang pemimpin politik menjadi terbiasa dengan tugas-tugas atau isu- isu yang harus dilaksanakan oleh kedudukan politik. Selanjutnya initial politic activity yaitu faktor ini menunjukan pada aktivasi atau pengalaman politik yang sudah dilalui oleh seorang elit politik atau pemimpin politik tersebut. Kemudian apprenticeship yaitu menunjuk pada proses “magang” dari calon elit ke elit lain yang sedang mend uduki jabatan politik tertentu. Selanjutnya occupational variables yaitu calon pemimpin dilihat dari pengalaman kerjanya dalam lembaga formal yang belum tentu berhubungan dengan aktifitas politik. Kemudian motivations yaitu asumsi dasar yang digunakan oleh pakar politik adalah orang akan termotivasi untuk aktif dalam kegiatan politik dikarenakan adanya Harapan atau personal reward baik berupa material, sosial, dan psikologis. Serta orientasi mereka terhadap isu-isu politik, seorang pemimpin atau oleh sebab lain yang disebut sebagai collective goals. Dan yang terakhir selections, pada penjelasan ini figur kepemimpinan merujuk pada mekanisme rekruitmen pemimpin politik tersebut, apakah dilakukan secara terbuka atau tertutup.

Konsep dan teori mengenai kepemimpinan politik diperlukan oleh penulis dalam penelitian yang dilakukan ini. Hal ini berguna sebagai landasan dalam mendeskripsikan dan menganalisis fenomena dan hal- hal yang terkait dalam penelitian ini. Sosok Jokowi sebagai Gubernur DKI merupakan pemimpin secara politik dalam tata kelola masyarakat dan juga di dalam institusinya sendiri. Selain

(45)

itu, dalam menjalankan fungsi dan peran sebagai Gubernur DKI, Jokowi juga merupakan seorang aktor politik yang mempunyai cara-cara unik dalam kepemimpinannya.

2.3 Kebijakan Publik

Secara umum kebijakan publik dapat diartikan sebagai keputusan bersama yang menyangkut pengaturan kehidupan masyarakat suatu negara. Sementara menurut David Easton kebijakan adalah pengalokasian nilai- nilai kepada seluruh masyarakat, karena setiap kebijakan mengandung seperangkat nilai di dalamnya.21 Langkah- langkah prosedural dalam sebuah kebijakan publik terdiri dari beberapa tahapan-tahapan dan proses sampai pada akhirnya dibuat sebagai sebuah kebijakan publik.

Secara teoritis, runutan dalam proses kebijakan publik yang pertama adalah penyusunan agenda. Dalam penyusunan agenda dilakukan perumusan masalah dengan memahami dan menganalisis sebuah permasalahan. Tahapan selanjutnya adalah formulasi kebijakan, tahap ini mengembangkan pilihan-pilihan atau alternatif untuk memecahkan suatu masalah. Kemudian tahapan berikutnya yaitu pembuatan kebijakan, tahapan ini membahas mengenai isi dari kebijakan secara menyeluruh. Kemudian selanjutnya adalah implementasi kebijakan, tahapan ini melihat kepada aktor-aktor yang terlibat dan dampak dari isi kebijakan tersebut. Selanjutnya yang terakhir evaluasi kebijakan, yaitu apakah nanti

(46)

kebijakan ini tetap dijalankan atau tidak.22 Hasil dari kebijakan publik disebut sebagai undang- undang. Regulasi dalam pengaturan tahapan undang-undang tersebut diatur dalam Perpres No. 68/2005.23

Dalam upaya relokasi PKL di Pasar Tanah Abang oleh Pemprov DKI pada masa kepemimpinan Gubernur Jokowi yaitu dengan berlandaskan hukum yang ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, salah satu dari produk tersebut antara lain yaitu: Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 Tentang Ketertiban Umum, dan Peraturan Gubernur Nomor 221 Tahun 2009 Tentang Juklak Perda Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Ketertiban Umum. Beberapa teori kebijakan publik ini membantu pene liti dalam melakukan penelitian kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang tahun 2013.

2.4 Strategi Politik

Kepemimpinan politik suatu organisasi ataupun individu tentu mempunyai berbagai macam cara untuk meraih tujuan sesuai dengan dasar pergerakannya. Dalam hal ini, suatu kepemimpinan politik untuk mencapai tujuannya diperlukan cara berupa strategi yang dijalankan. Strategi dalam suatu kepemimpinan politik juga tidak terlepas dari tujuan-tujuan dan cara-cara politis yang digunakan. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai strategi politik maka, diperlukan pengertian

22. Michael Howlet dan M. Ramesh (1995), dalam Subarsono, “Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori, dan Aplikasi)’, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 13.

(47)

dasar berupa definisi dari politik dan definisi dari strategi yang dijelaskan secara ringkas berikut ini.

a. Politik

Secara etimologis politik berasal dari bahasa Yunani polis yang berarti kota atau negara kota. Dalam hal ini, politik kemudian berkembang menjadi polites yang berarti warga negara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara. Selanjutnya politika yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti kewarganegaraan. Secara garis besar pemahaman Yunani terhadap politik yaitu mempunyai arti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Namun, menurut pandangan Aristoteles (384-322 M) mempunyai pandangan tersendiri yang menyimpulkan bahwa politik adalah menunjukkan suatu aspek kehidupan masyarakat dalam bernegara.24 Selain itu, pemaknaan politik oleh Aristoteles yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).25

Politik mempunyai hubungan yang erat dengan kekuasaan. Dalam hal ini, politik tidak terlepas dari suatu cara yang digunakan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Menurut Ramlan Surbakti, politik merupakan interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan

24. Aristoteles dalam Miriam Budiarjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), 3.

(48)

dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.26

b. Strategi

Kata strategi berasal dari bahsasa yunani yaitu stratus yang berarti pasukan dan agein yang berarti memimpin. Dalam hal ini, ilmu strategi adalah ilmu tentang memimpin pasukan, sedangkan secara sempit strategi adalah ilmu peperangan seingga sering disebut sebagai ilmu para jendral dan para komandan. Pengertian itu makin berkembang seiring perkembangan ketatanegaraan dan konflik atar negara yang memuncak dengan peperangan.

Dalam kamus Longman Dictionary of Contemporary English, arti dari strategi adalah strategy is a particular plan for winning success in particular activity, as in war, a game, a competition, or for personal advantage.27Dalam hal ini, strategi merupakan perencanaan dalam mensukseskan tujuan dalam segala aktifitas. Baik dalam mensukseskan peperangan, kompetisi maupun yang lainnya. Sedangkan strategi nasional adalah seni merencanakan pemanfaatan segenap potensi nasional yang tersedia dengan membuat suatu pertimbangan yang matang untuk melaksanakan kebijakan nasional (politik nasional) yang sudah ditetapkan, untik kepent ingan kesejahteraan dan kepentingan keamanan rakyat sebesar-besar secara bertahap dan terpadu. Strategi disusun atas dasar tiga bagian terpisah, tetapi saling berhubungan. Bagian ini meliputi pencapaian sasaran yang direncanakan (the planed

26. Ramlan Surbakti, “Memahami Ilmu Politik”, (Jakarta: Grasindo, 1999), 7.

(49)

objection), sarana-sarana yang tersedia/pendukung untuk sarana pendukung pelaksanaannya (the means available for its realization), dan rencana pencapaian (program) yang didasarkan pada sarana yang tersedia (the plan according to wich the said means are used for its attainment)28. Kemudian strategi mempunyai lima ciri-ciri sebagai berikut 29 yaitu pemusatan perhatian kepada kekuatan sebagai pendekatan strategis, memusatkan perhatian kepada analisis dinamik, analisis gerak (operasional) dan analisis aksi (pelaksanaan), strategi memusatkan perhatian kepada tujuan yang ingin dicapai dan gerak untuk mencapai tujuan itu, strategi memperhitungkan faktor-faktor waktu (sejarah:masa lampau, masa kini, masa depan dan faktor lingkungan), dan strategi berusaha mengidentifikasi masalah yang timbul dari peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, kemudian mengadakan analisis tentang kemungkinan-kemungkinan dan memperhitungkan pilihan-pilihan serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencapai tujuan.

Secara garis besar, strategi dipahami sebagai suatu perencanaan dalam mensukseskan tujuan tertentu. Dalam hal ini, strategi bisa dilaksanakan dalam berbagai tujuan, baik dalam mensukseskan peperangan, kompetisi, ataupun hal lainnya yang berhubungan dengan suksesi program pemerintah. Dengan demikian, strategi politik adalah sebuah rencana yang sistematik dan mengimplementasikannya dalam mencapai suatu tujuan yang dilakukan secara politik (legitimasi politik).

28. Stephen Robin, “Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, dan Aplikasi”, (Jakarta: Prenhalindo, 2001), 15.

(50)

c. Pengembangan Organisasi

Organisasi pemerintah dalam melakukan tata kelola masyarakat tentu tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kinerjanya. Dalam hal ini, pengembangan tersebut diperlukan sebagai acuan dasar untuk pembangunan yang berorientasi kepada kemajuan masayarakat. Menurut Rivai, pengembangan organisasi adalah ilmu pengetahuan perilaku secara sistematis pada tingkatan seperti kelompok, intergroup, dan organisasi secara total untuk membuat perubahan.30 Pengembangan organisasi perlu untuk dilakukan demi tercapainya pola-pola kerja maksimal baik yang berorientasi kepada profit ataupun non-profit (organisasi pemerintah).

Pengembangan organisasi mempunyai aspek-aspek yang saling terkait dalam suatu organisasi. Dalam hal ini, aspek-aspek yang terkait dalam pengembangan organisasi terdiri dari aspek-aspek yang saling mempengaruhi. Seperti struktur organisasi tersebut, teknologi, dan individu yang ada didalamnya. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Rivai yang menyatakan bahwa pengembangan organisasi menitikberatkan pada struktur, teknologi, dan orang-orang yang saling mempengaruhi.31

Pendapat lain mengenai pengembangan organisasi yaitu mempunyai fokus tidak hanya dari tataran proses saja, melainkan juga dari hasil yang akan dicapai. Dalam hal ini, aspek-aspek yang terhubung dalam melakukan pengembangan organisasi juga mempunyai orientasi hasil yang lebih baik dari

30. Rivai, Veithzal, “Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi”, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 460.

(51)

sebelumnya. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Thoha yang berpendapat bahwa pengembangan organisasi tidaklah hanya sesuatu yang dikerjakan untuk pencapaian keadaan organisasi yang lebih baik, melainkan merupakan suatu jenis proses perubahan, pemabaharuan, dan penyempurnaan yang khusus dalam suatu organisasi.32 Kemudian berdasarkan dari penjelasan mengenai pengembangan organisasi yang sudah dipaparkan, Rivai menambahkan bahwa dalam pengembangan organisasi terdapat asumsi-asumsi yang menjadi tonggak dasar suatu perubahan organisasi. Dalam hal ini, asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: 33

32. Thoha Miftah, “Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasi”, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 26.

(52)

Tabel 1. Asumsi-Asumsi Pengembangan Organisasi

Asumsi Indikator

Individual a. Orang ingin tumbuh dan matang

Kelompok

b. Karyawan memiliki banyak hal untuk ditawarkan yang saat ini belum terpakai dalam pekerjaan (seperti energi dan kreativitas) c. Sebagian besar karyawan

menginginkan kesempatan untuk menyumbangkan kemampuannya

a. Kelompok dan tim adalah amat penting dalam keberhasilan organisasi

b. Kelompok memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku individu

c. Peran yang kompleks yang dimainkan dalam kelompok memerlukan pengembangan keterampilan

Organisasi a. Kontrol, kebijakan, dan aturan yang berlebihan bisa merusak organisasi

b. Konflik dapat dimanfaatkan asalkan disalurkan secara tepat c. Tujuan individu dan organisasi

dapat disesuaikan atau dicocokan

Dari tabel yang disampaikan diatas, asumsi-asumsi tersebut mengindikasikan bahwa dalam suatu pengembangan organisasi diperlukan adanya strategi yang bersifat pembaharuan secara khusus.34 Selain itu, berbeda dengan pendapat Rivai, menurut Frech dan Bell pengembangan organisasi

(53)

dijelaskan secara lebih spesifik dan jelas, antara lain35: lebih memberikan penekanan, walaupun tidak eksklusif pada proses kelompok dan organisasi dibandingkan dengan isi yang substantif. Kemudian memberikan penekanan pada kerja tim sebagai suatu kunci untuk mempelajari lebih efektif berbagai macam perilaku organisasi. Selanjutnya memberikan penekanan pada manajemen yang kolaboratif dari budaya kerja tim. Kemudian memberikan penekanan pada manajemen yang berbudaya sistem keseluruhan. Selanjutnya mempergunakan model “action research”. Selanjutnya mempergunakan ahli-ahli perilaku sebagai agen pembaharuan atau katalisator. Dan suatu pemikiran dari usaha perubahan tersebut haruslah ditujukan bagi proses-proses yang sedang berlangsung serta memberikan penekanan kepada hubungan-hubungan kemanusiaan dan sosial.

Pengembangan organisasi diperlukan adanya keseriusan yang konsisten dalam melakukan strategi-strategi pengembangan. Dalam hal ini, perlunya konsistensi memberikan suatu kerangka kerja yang terarah dalam melakukan perubahan. Selain itu, menurut Thoha tujuan pengembangan organisasi adalah untuk mendapatkan kualitas kerja yang lebih baik, produktivitas, kemampuan adaptif, dan efektivitas.36 Kemudian untuk lebih jelasnya Thoha menyebutkan bahwa secara umum tujuan pengembangan organisasi, yaitu37: Meningkatkan kepercayaan dan dukungan di antara para

35. Thoha Miftah, “Kepemimpinan dalam Manajemen (Suatu Pendekatan Perilaku), (Jakarta: Rajawali Press, 1993), 22.

36. Thoha Miftah, “Kepemimpinan dalam Manajemen (Suatu Pendekatan Perilaku), (Jakarta: Rajawali Press, 1993), 25.

(54)

anggota organisasi, meningkatkan kesadaran berkonfrontasi dengan masalah-masalah organisasi, baik dalam kelompok ataupun di antara anggota-anggota kelompok. Selanjutnya meningkatkan suatu lingkungan “kewenangan dalam tugas” yang didasarkan atas pengetahuan dan keterampilan. Kemudian meningkatkan derajat keterbukaan dan berkomunikasi, baik vertikal, horizontal, maupun diagonal. Selanjutnya meningkatkan tingkat kesemangatan dan kepuasan orang-orang yang ada dalam organisasi. Selanjutnya mendapatkan pemecahan yang sinergitik terhadap masalah- masalah yang mempunyai frekuensi besar. Dan meningkatkan tingkat pertanggungjawaban pribadi dan kelompok, baik di dalam pemecahan masalahnya maupun di dalam pelaksanaannya.

Dalam upaya untuk mencapai dari tujuan-tujuan pengembangan organisasi tersebut, Rivai menambahkan adanya beberapa nilai- nilai mendasar yang perlu diperhatikan, antara lain38: penghargaan pada orang lain atau individu. Individu dipersepsikan untuk bertanggung jawab, teliti, dan punya perhatian. Oleh karena itu, hendaknya mereka diperlakukan secara layak dan hormat. Sikap percaya dan mendukung, yaitu organisasi yang efektif dan sehat dicirikan oleh kepercayaan, otentitas, keterbukaan dan adanya iklim ynag mendukung. Kenyamanan dalam kekuasaan, yaitu organisasi yang efektif mengurangi tekanan pada wewenang dan kontrol hierarkis. Konfrontasi, yaitu masalah- masalah dalam organisasi seharusnya tidak disembunyikan, tetapi masalah harus dihadapi secara terbuka. Partisipasi, yaitu semakin orang yang

(55)

akan terkena suatu perubahan terlibat dalam sekitar perubahan tersebut, mereka akan semakin setia kepada keputusan tersebut

Pengembangan organisasi ini diperlukan oleh penulis dalam mengkaji penelitian ini. Konsep mengenai pengembangan organisasi digunakan sebagai dasar dalam mengana lisis mengenai kelembagaan pemerintah provinsi sesuai dengan lokasi penelitian. Dengan konsep ini nantinya akan ditemukan mengenai sebuah kelembagaan yang mengalami pengembangan dengan baik atau justru pengembangan yang menurun.

2.5 Penelitian Terdahulu

Dalam meneliti suatu fenomena sosial, diperlukan referensi terkait untuk dikomparasikan dalam penelitian. Kegunaan dari penelitian terdahulu sebagai pemetaan bagaimana posisi penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya. Dalam penelitian ini, penelitian terdahulu dilakukan dengan mencari dan menelusuri hasil- hasil penelitian sebelumnya yang berhubungan atau relevan dengan sasaran penelitian. Dengan demikian penelitian terdahulu dianggap penting dilakukan dalam sebuah penelitian.

(56)

penelitian tersebut melihat pada proses kepemimpinan dr. Waluyo Basuki selaku ketua Partai Demokrasi Pembaruan cabang Kabupaten Banyumas. Hasil dari penelitian ini adalah deksripsi dari kepemimpinan politik dr. Waluyo Basuki yaitu mempunyai gaya kepemimpinan otokrat. Selain itu, kepemimpinan politik dr. Waluyo Basuki dipengaruhi dari teori Czudnowski tentang Social Background. Dalam hal ini, dr. Waluyo Basuki merupakan seorang politikus yang berlatang belakang dari keluarga mampu.

(57)
(58)

Dari deskripsi tentang penelitian terdahulu jelas terlihat bahwa penelitian ini perlu untuk dilakukan untuk memperkaya khazanah dalam ilmu politik. Hal ini juga sebagai bukti bahwa selama ini belum pernah ada penelitian yang membahas tentang “Kepemimpinan Politik Gubernur Jokowi dalam Relokasi Pedagang Kaki Lima di Pasar Tanah Abang tahun 2013”. Selain itu, penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu politik, khususnya mengenai kepemimpinan politik.

2.6 Kerangka Pemikiran Penelitian

(59)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Tokoh M asyarakat

Pasar Tanah Abang Gaya Kepemimpinan

Walikot a Jakart a Pusat Kepemimpinan

Polit ik Jokow i

Strategi Kasie Sudin

Sat pol PP JakPus

Kasie Sudin Perhubungan Jakpus

R e l o k a s

(60)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode

(61)

3.2 Metode Penelitian

Paradigma konstruktivisme merupakan paradigma yang bertujuan unt uk memahami realitas pengalaman manusia, dan realitas itu sendiri dibentuk oleh kehidupan sosial. Penelitian konstruktivisme pada umumnya tidak dimulai dengan seperangkat teori melainkan mengembangkan sebuah teori atau sebuah pola makna secara induktif selama proses berlangsung. Berdasarkan dari paradigma yang digunakan, maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adala h metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi yaitu pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran. Kemudian menganai objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak mempunyai pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka.39 Hal ini dikarenakan penelitian ini berlangsung dalam situasi alamiah natural setting. Selain itu, metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan dalam ilmu- ilmu sosial karena secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam lingkungannya sendiri dan melakukan interaksi menggunakan bahasa dan istilah-istilahnya.40 Penelitian ini didasarkan atas perspektif yang dibangun dari informan yang memahami kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta Tahun 2013.

39. Kirk dan Miller, “ Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), 3.

(62)

3.3 Fokus Penelitian

Fokus penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bermaksud untuk membatasi studi dan sebaga i kriteria inklusi dan eksklusi, serta hal ini berguna untuk memudahkan peneliti dalam memilih data yang sesuai. Dalam hal ini, fokus dalam penelitian yang dilakukan ini adalah mengenai gaya kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Selain itu, mengenai strategi yang dilakukan Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang, Jakarta tahun 2013. Untuk lebih memudahkan dalam memahami fokus dan sub fokus kajian dapat dilihat dalam table berikut ini :

Tabel 3. Matriks Fokus Kajian dan Penelitian

Fokus Penelitian Sub Fokus Penelitian Kepemimpinan politik Gubernur

Jokowi dalam relokasi pedaga ng kaki lima di

Pasar Tanah Abang Jakarta

Gaya kepemimpinan politik Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta Strategi Gubernur Jokowi dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta

3.4 Lokasi Penelitian

(63)

relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang. Tidak hanya itu, lembaga ini juga mendapat pengarahan langsung dari Gubernur Jokowi berupa instruksi penertiban sesuai dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Selain itu, Pasar Tanah Abang sebagai lokasi relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang Jakarta tahun 2013.

3.5 Sasaran Penelitian

(64)

3.6 Teknik Pemilihan Informan

Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dalam hal ini, purposive sampling bertujuan untuk merinci kekhususan dalam temuan konteks yang unik dan menggali informasi yang menjadi dasar rancangan dan teori yang muncul.41 Selain itu, digunakan juga teknik snow ball sampling. Dalam hal ini, snow ball sampling berguna untuk pemilihan informan berdasarkan informasi dari informan pertama untuk kemudian dilanjutkan ke informan kedua dan seterusnya. Dengan demikian, pemilihan informan yang dilakukan mempunyai fokus pada individu yang mempunyai tingkat kualitas pemahaman ya ng baik terhadap masalah yang akan diteliti secara mendalam.

Pemilihan informan dalam penelitian ya ng dilakukan ini memfokuskan pada individu yang mengetahui dan dapat dipercaya terhadap permasalahan yang akan diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data yang lengkap dan akurat. Dalam mencari data dan fakta-fakta yang ada dilapangan mengenai judul penelitian ini, maka peneliti mencari beberapa informan yang menjadi tolak ukur dalam pengumpulan data. Pemilihan informan dilakukan sebagai sumber data dalam penelitian ini. Informan dalam penelitian ini adalah Gubernur Jokowi, akan tetapi dikarenakan kendala teknis demi kelancaran dalam penelitian, maka Informan kunci atau pokok dalam penelitian ini dialihkan kepada informan lain yang berjumlah enam orang, masing- masing merupakan informan yang dapat dipercaya sebagai sumber data primer dalam penelitian ini.

(65)

Penelitian ini mengambil informan utama, yaitu Walikota Kota Administrasi Jakarta Pusat yang bernama H. Saefullah. Beliau merupakan Walikota Jakarta Pusat yang mempunyai kewenangan dalam relokasi pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang tahun 2013 silam. Dalam hal ini, relokasi PKL Pasar Tanah Abang terletak di Jakarta Pusat yang merupakan wewenang dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat. Selain itu, selama upaya dalam relokasi PKL Pasar Tanah Abang, beliau selalu terlibat langsung dengan Gubernur Jokowi baik dalam ranah perencanaan ataupun teknis dilapangan.

Informan kedua dalam penelitian ini, yaitu Kepala Seksi Operasi dan Penegakan Hukum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Pusat yang bernama Jabungka Situmorang. Beliau merupakan Kepala Seksi Operasi (Kasie) dan Penegakan Hukum Satpol PP yang berwenang dalam perencanaan ataupun teknis lapangan saat relokasi PKL di Pasar Tanah Abang Jakarta tahun 2013 silam. Dalam hal ini, relokasi PKL Pasar Tanah Abang merupakan teritorial dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Jakpus) yang juga merupakan wewenang penuh dari Satpol PP Jakpus. Beliau selalu mengikuti rapat koordinasi yang dilakukan oleh Gubernur Jokowi beserta jajaran lainnya baik dalam tahap perencanaan maupun teknis dilapangan.

Gambar

Tabel 1. Asumsi-Asumsi Pengembangan Organisasi
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Tabel 3. Matriks Fokus Kajian dan Penelitian
Tabel 4. Karakteristik Informan
+6

Referensi

Dokumen terkait