SEBAGAI MITRA SEJAJAR LAKI-LAKI
Amiruddin *
* Dosen Tetap Prodi Manajemen Pendidikan Islam STAI Muara Bulian [email protected]
Abstract
Education is a special thing only given tu human. Because it is only human can thraigh education. Education was essentially interded to form a perpect, human being human out wardly and inwardly, forming a happy human in the word and the here after. There fore, Islam considers that education is a right and a duty for every followers both men and women. This paper discurses how the image of women in the era of early education, namely education middle eastern woman approximately 14
centuries ago, and Indonesian women‟s education
during the early era either before birth or arrival of Islam as well as after birth or arrival of Islam. it turned out that in the period before the islamic, education has not been fully enjoyed by women. The are considered hot so important to learn and they are placed in the number two position after men. After arrival of Islam, women get a fresh breeze and there are new colors for their. Women were given equal rights with men which in the end the degree they also raised as a human.
Pendidikan adalah hal yang khusus hanya diberikan tu manusia. Karena hanya manusia dapat thraigh
perempuan. Makalah ini discurses bagaimana citra perempuan di era pendidikan awal, yaitu pendidikan wanita timur tengah sekitar 14 abad yang lalu, dan pendidikan perempuan Indonesia selama era awal baik sebelum kelahiran atau kedatangan Islam serta setelah lahir atau kedatangan Islam. ternyata bahwa pada periode sebelum Islam, pendidikan belum sepenuhnya dinikmati oleh perempuan. The dianggap panas sehingga penting untuk belajar dan mereka ditempatkan di posisi nomor dua setelah laki-laki. Setelah kedatangan Islam, perempuan mendapatkan angin segar dan ada warna baru bagi mereka. Perempuan diberi hak yang sama dengan laki-laki yang pada akhirnya gelar mereka juga dibesarkan sebagai manusia
Keywords: Pendidikan, Pemberdayaan Perempuan, Mitra Laki-laki
Pendahuluan
Pembahasan ini dikedepankan bukan hendak memberontak terhadap nilai-nilai patriarki yang hidup dalam budaya masyarakat Indonesia, dan bukan pula sebagai dukungan terhadap aliran Feminisme, akan tetapi hanya sebuah gagasan yang meloncat dari dalam pikiran, ingin berubah bentuk dari abstrak menjadi kongkrit, dari hanya sebuah ide menjadi sebuah tulisan ringan. Sebagai ungkapan solidaritas terhadap kaum perempuan, yang agak sedikit termarginalkan di negeri ini. Diskursus atau pembicaraan tentang masalah perempuan tidak akan pernah habis-habisnya untuk diungkapkan. Seolah-olah tidak pernah basi dan selalu akan tetap menarik untuk dijadikan sebagai topik pembahasan. Sampai hari ini, permasalah tentang perempuan banyak dibicarakan dari segala aspek dan dari sudut pandang yang berbeda- beda.
menikmati kehidupan termasuk mengenyam bangku pendidikan. Kondisi yang menyedihkan bagi perempuan ini, lebih disebabkan sebagai akibat konstruksi budaya masyarakat semata dan bukan bagian dari doktrin agama. Masih banyak stigma di tengah masyarakat dan sebagian mereka percaya bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah. Bahkan yang lebih ironis lagi ada yang beranggapan bahwa mengajar perempuan bagaimana cara membaca dan menulis
adalah bertentangan dengan syari‟ah dan merupakan suatu bentuk
pelanggaran terhadap aturan Tuhan.1 Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan jika semua masyarakat beranggapan seperti itu. Padahal salah satu misi Rasulullah diutus ke permukaan bumi ini adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Disejajarkan dengan kaum laki-laki sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang perempuan. Baik dalam bidang ekonomi, politik, seni, sosial dan budaya, serta dalam kontek pendidikan. Karena pendidikan merupakan bagian yang sangat penting bagi perempuan, sebab merekalah yang paling bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Merekalah yang paling banyak bersentuhan dengan dunia anak, dan mereka pulalah yang paling banyak memberikan warna terhadap anak-anaknya. Bagaimana mungkin perempuan akan mampu mendidik anaknya secara optimal jika kondisi mereka sendiri sangat terbelakang atau tidak berpendidikan. Jadi pendidikan itu berperan sangat penting bagi perempuan, sebagai modal bagi mereka untuk menciptakan hubungan yang harmonis, saling menghargai dan memahami antara laki-laki dan perempuan, baik dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara.
Potret dan Sejarah Pendidikan Perempuan Timur Tengah Era Awal
Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan selalu didiskusikan dalam berbagai kesempatan dan berbagai bidang, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan, baik pada masa klasik maupun pada masa sekarang, bahkan dalam kajian fiqh terdapat pembahansana khusus
tentang perempuan, yaitu Fiqh Nisa‟. Akan tetapi perempuan hanya
sebagai subjek pembahasan, sehingga seringkali muncul dalam berbagai macam wacana pemikiran adalah perempuan hanya sebagai subjek pemikiran, dan tidak terlibat dalam wacana pemikiran tersebut. Oleh karena itu, menjadi wajar apabila kita lihat dalam buku-buku atau kitab-kitab, maka indeksnya akan dipenuhi oleh nama laki-laki, sedangkan nama perempuan hanya disebut apabila
1
kajian itu membicarakan tentang sejarah perempuan.2 Kenyataan sejarah membuktikan bahwa pada masa sebelum Islam, kaum perempuan selalu ditempatkan pada posisi objek dan menempati posisi kedua setelah laki-laki. Perempuan dianggap kurang berharga, sehingga seringkali dieksploitasi melebihi batas-batas prikemanusiaan. Penempatan-perempuan dalam posisi yang rendah itu tidak hanya meliputi wilayah pemikiran, tetapi juga pada wilayah sikap dan prilaku dalam realitas kehidupan sehari-hari. Tradisi yang menghiasi sejarah bangsa Arab sebelum Islam datang, yang biasa disebut zaman jahiliyah, yaitu sebagian dari bangsa Arab melakukan pembunuhan terhadap anak perempuan yang sering disebut dengan wa‟dul banat. Kebiasaan membunuh bayi perempuan ini diabadikan dalam al-Qur‟an surat an-Nahl ayat 58, yang artinya:
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya
dengan menanggung kehinaan ataukah akan
menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.3
Berita kelahiran anak perempuan pada masa jahiliyah memberi kesan tentang sikap suami yang enggan menerimanya. Ada dua pilihan yang timbul dalam benaknya menghadapi anak perempuan itu, dibiarkan hidup dalam keadaan hina atau ditanam hidup-hidup?. Seharusnya kehadiran anak perempuan tetap disyukuri, dilimpahkan kepadanya kasih sayang yang sama dengan kasih sayang yang diberikan kepada laki-laki, diberikan pendidikan dan dibanggakan. Ada tiga alasan pada waktu itu mengapa anak perempuan itu dibunuh, Pertama, khawatir jatuh orang tua pada lembah kemiskinan dengan menanggung biaya hidup anak perempuan yang lahir, apalagi menurut mereka anak perempuan tidak produktif. Kedua, khawatir jatuhnya anaknya pada lembah kemiskinan jika mereka dewasa nanti, ketiga, khawatir menanggung aib akibat ditawan dalam peperangan sehingga diperkosa atau karena terjadi perzinahan.4 Sebelum datangnya Islam, tradisi pendidikan bangsa Arab pada dasarnya terbatas pada tradisi lisan. Pewarisan
2
Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, ( Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 37.
3
Anonim, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 410.
4
ilmu pengetahuan, nilai dan tradisi berlangsung dari mulut kemulut. Materi pendidikan mencakup pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kondisi kehidupan setempat masyarakat pada waktu itu. Pada saat itu, masyarakat Arab adalah terdiri dari masyarakat pribumi yang buta aksara, meskipun kemampuan hafalan mereka rata-rata sangat mengagumkan. Pada waktu permulaan nabi menyiarkan Islam, di Mekkah telah ada beberapa orang yang telah pandai baca tulis yang terdiri dari 17 orang Quraisy dan ditambah lima orang perempuan. Mereka adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abi Tholib, Usman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Talhah, Yazid bin Abi Sopyan, Abu Huzaifah bin Utbah, Hathib bin Amr,
Abu Salamah bin Abdul As‟ad al-Makhzumy, Aban bin Sa‟id bin al
-Ash bin Umaiyah, Khalid bin Sa‟id dan saudaranya, Abdullah bin Sa‟d bin Abu Sarh al Amiry, Huwithib bin Abdul Uzza, Abu Sopyan
bin Harb, Muawiyah bin Abi Sopyan, Juhaim bin As Shalt. Sedangkan dari pihak perempuan adalah Hafsah istri nabi, Ummi
Kalsum bin Uqbah, Aisyah binti Sa‟d, as-Syifak binti Abdullah al-Adawiyah, Karimah binti al-Miqdad. Sedangkan siti Aisyah dan Ummi Salamah keduanya istri nabi bisa membaca, tetapi tidak bisa menulis.5
Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa pada waktu itu sudah ada kuttab (semacam sekolah khusus untuk anak-anak) yang mengajarkan menulis dan membaca, walaupun demikian budaya baca tulis ini belum mewarnai kehidupan masyarakat pada waktu itu. Karena warisan budaya mereka pada waktu itu adalah budaya lisan, menghafal syair-syair dan puisi-puisi yang indah, nasab (urutan garis keturunan) pun mereka hafal. Mereka mewarisi budaya dan tradisi tersebut secara lisan, sehingga kepandaian membaca dan menulis tidak merupakan hal yang penting dalam tradisi budaya mereka. Dengan tradisi lisan tersebut mereka terkenal dengan orang-orang yang kuat hafalan.6 Setelah Rasul menerima wahyu dari Allah SWT, maka mulailah beliau menjalankan tugasnya secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan mengingat situasi yang menuntut demikian, yang belum memungkinkan bagi beliau untuk berdakwah (mendidik) secara terbuka atau terang-terangan. Beliau mulai dengan keluarga dekatnya dengan mengajak istrinya, Khadijah (perempuan pertama yang langsung mendapatkan pendidikan Islam dari Rasul) untuk beriman dan menerima petunjuk-petunjuk dari Allah SWT. Kemudian diikuti oleh sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar Shiddiq, secara berangsur-angsur ajakan
5Jalaluddin dan Usman Sa‟id, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan
Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 117
6
tersebut disampaikan dikalangan keluarga dekat dari suku Quraisy, antara lain yang beriman atau mempercayai dakwah Rasul ini adalah
Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa‟ad bin Abi Waqas,
Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abi Arqam, Said bin Zaid, termasuk dari kaum perempuan, yaitu Fatimah bin Khattab.7
Kehadiran Islam ini telah dimulai suatu warna baru bagi kaum perempuan dengan diberikannya kemerdekaan dan hak-hak mereka yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan, derajat mereka terangkat sebagai manusia. Selain itu, dalam ajaran Islam terkandung unsur-unsur persamaan antara manusia, baik antara laki-laki dan perempuan maupun antar bangsa, suku, dan keturunan yang merupakan tema utama sekaligus prinsip dalam ajaran Islam. Perbedaan yang diakui dalam Islam dan kemudian menjadi ukuran tinggi rendahnya seseorang hanyalah nilai ibadah dan taqwanya kepada Allah SWT. Ide ini secara eksplisit ditegaskan dalam
al-Qur‟an surat al-Hujurat ayat 13, yang artinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.8
Penjelasan di atas dapat dipahami bahwa derajat manusia sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya, tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan. Karena semua diciptakan dari laki-laki-laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi manusia yang termulia di sisi Allah SWT.9 Oleh karena itu, manusia dalam pandangan Islam, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama. Maka Islam juga tidak membeda-bedakan antara amal perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 195, yang artinya:
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu
7
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 14.
8
Anonim, Al-Qur‟an dan Terjemahannya..., hlm. 847.
9
adalah turunan dari sebagian yang lain10. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."11
Paparan di atas dapat dipahami bahwa laki-laki dan perempuan sama haknya di hadapan Allah SWT dalam menerima balasan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tidak ada yang lebih di antara keduanya kecuali dalam hal amal perbuatan. Dengan Amalnya, perempuan dapat mengangkat derajatnya menuju derajat yang paling tinggi di sisi Allah SWT. Islam mengakui kehormatan perempuan sebagai manusia dan mengingkari perlakuan kasar yang biasa dilakukan oleh sebagian umat. Memang harus diakui bahwa kaum muslimin agak sedikit terbelakang dalam hal mendidik dan memberi pengajaran terhadap kaum perempuan. Karena masih ada tradisi yang berkembang di tengah masyarakat menganggap pendidikan terhadap perempuan itu tidak penting.12
Mendiskusikan kaitan feminisme dan Islam tidak akan kita lepaskan dari kehadiran al-Qur‟an sebagai buku petunjuk samawi yang secara komprehensif dan lugas memaparkan hak asasi perempuan dan laki-laki yang sama, hak itu meliputi hak dalam beribadah, berkeyakinan, pendidikan, potensi spiritual, hak sebagai manusia dan eksistensi menyeluruh pada hampir semua sektor kehidupan. Lebih jauh Islam datang sebagai revolusi yang mengeliminasi diskriminasi kaum jahiliyah atas perempuan dengan pemberian hak warisan, menegaskan persamaan status dan hak dengan laki-laki, pelarangan nikah tanpa jaminan bagi perempuan dan mengeluarkan aturan pernikahan yang mengangkat derajat perempuan pada masa itu dan perceraian yang manusiawi.13 Kondisi tersebut akhirnya berlalu setelah kedatangan Rasulullah yang mengembalikan perempuan sebagaimana manusia seutuhnya setelah mengalami hidup dalam kondisi yang menggenaskan tanpa kredibilitas apapun dan hanya sebagai komiditi tanpa nilai.
10
Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian pula hlmnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
11
Anonim, Al-Qur‟an dan Terjemahannya..., hlm. 110.
12
Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Hery Noer Aly, (Semarang: Toha Putra, 1986), Juz ke-4, hlm. 298
13
Penghargaan Islam terhadap eksistensi perempuan ditauladani oleh Rasulullah dalam sisi-sisi kehidupan keluarganya, baik kepada istrinya, anak-anaknya, dan hubungan beliau dengan perempuan-perempuan di masyarakat.
Pada hakikatnya, dakwah dan penanaman ajaran Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam rangka mengembangkan dan menyebarkan ajaran di permukaan bumi ini adalah sebuah kegiatan atau proses pendidikan, dan hal ini dilakukan tidak hanya terbatas bagi kaum laki-laki saja, tetapi juga kepada kaum perempuan. Rasulullah telah memberikan kesempatan dan meluangkan waktunya untuk mengajar para perempuan agar sama dengan kaum laki-laki, yaitu sama mendapatkan pendidikan. Terlihat jelas bagaimana perempuan pada masa itu mendapatkan hak untuk menimba ilmu, mengkritik, bersuara, berpendapat dan atas permintaan muslimah sendiri meminta Rasulullah membuat suatu majelis tersendiri untuk para perempuan agar mereka lebih leluasa untuk berdialog dan berdiskusi dengan Rasulullah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya:
“ Telah datang beberapa perempuan kepada Rasulullah, maka
mereka berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak mendapatkan
peluang belajar di majelismu yang dipenuhi oleh laki-laki,
maka berilah kesempatan itu”. Kemudian Rasulullah menjawab: “Bagianmu adalah di rumah si anu”. Maka beliau
datang kepada mereka (kaum perempuan) pada hari dan tempat yang telah dijanjikan dan beliau mengajar mereka.14
Hadits di atas tersirat bahwa Nabi memberikan pendidikan dan pengajaran kepada perempuan, namun tempat dan waktunya berbeda dengan kaum laki-laki. Rasul memberikan, menyediakan kesempatan, dan menentukan tempat khusus bagi perempuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan agama darinya. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan salah satu misi beliau diutus oleh Allah SWT adalah untuk mengangkat atau memberdayakan harkat dan martabat kaum perempuan yang sebelumnya tidak dihormati dan dihargai. Perempuan dianggap sebagai kelompok kelas dua dan tidak terlalu diperhitungkan. Oleh sebab itu, perempuan pada masa Rasulullah SAW tidak mau ketinggalan dengan laki-laki. Kaum laki-laki pada hari Jumat waktu khotbah di masjid dapat menerima pengajaran langsung dari mulut Nabi, perempuan juga turut sholat Jum‟at berjamaah di masjid bersama laki-laki, walaupun hal tersebut tidak termasuk suatu kewajiban bagi mereka. Meskipun demikian, diharian yang lain kaum perempuan juga meminta kepada Nabi supaya dikhususkan sehari dalam seminggu untuk mengajarkan mereka.
14
Seperti yang telah dijelaskan dalam hadits di atas tadi. Kadang Nabi membaca khotbah dua kali waktu sholat hari raya karena ramainya kaum muslimin yang hadir, satu kali untuk laki-laki dan satu kali untuk perempuan. Selain itu, ada juga perempuan yang datang langsung menghadap Nabi untuk menanyakan soal-soal agama yang tidak mereka ketahui.15
Terlihat juga geliat aktifitas perempuan sahabat Rasulullah dalam panggung bisnis, politik, pendidikan, keagamaan dan sosial, dan ikut serta dalam peperangan dengan sektor yang mereka mampu melakukannya. Sejarah kehidupan istri-istri Rasul pun mengindikasikan aktifitas aktif dimana Ummul Mukminin Khadijah r.a. adalah salah satu kampiun bisnis pada waktu itu, Siti Aisyah adalah perawi hadits dan banyak memberikan fatwa karena kecerdasannya.16 Rasulullah sebelum pindah ke Yastrib telah mempersiapkan kader- kader perempuan untuk menjadi guru di Madinah. Ini dibuktikan dengan pada tahun kedua belas kenabian orang Madinah datang ke Mekkah, mereka membuat perjanjian yang
pertama dengan Nabi di Aqabah sehingga dinamakan Bai‟ah al
-Aqabah al Ula atau Ba‟atun Nisa‟ karena di dalam rombongan mereka ada perempuan, yaitu „Afra‟ binti „Abid bin Sa‟labah. Orang -orang inilah nantinya yang akan menyebarkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan dari Nabi Muhammad kepada masyarakat yang ada di Madinah.17
Cara yang dipakai oleh Rasulullah dalam memberikan pendidikan dan pengajaran adalah dengan menggunakan metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya, berdialog dan berdiskusi atau Tanya jawab tentang sesuatu yang berkenaan dengan aqidah maupun ibadah. Kurikulum yang dipakai adalah al-Qur‟an, karena itu dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional tetapi juga sejalan dengan fitrah. Sehubungan dengan
al-Qur‟an itu sendiri diturunkan secara berangsur-angsur menurut kebutuhan yang diperlukan pada saat itu. Hasil dari cara yang demikian ini dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya yang dipancarkan di dalam sikap dan semangat tangguh, tabah, dan sabar juga aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
15
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), cet. Ke-6, hlm. 23-24.
16
Kuni Khairunnisa, Gender dalam Agenda Feminisme Kontemporer, ,http://www.Google.co.id, diakses Tanggal 20 Oktober 2009.
17
Kemudian Ahmad Syalabi mengemukakan bahwa anak-anak perempuan hanya menerima pelajaran di rumah dari salah seorang anggota keluarga, atau dari seorang guru yang khusus didatangkan untuk mereka. Bagaimanapun juga, pendidikan secara pribadi itu telah berhasil melahirkan perempuan-perempuan Islam yang kecerdasan mereka tidak jauh berbeda dengan kecerdasan kaum laki-laki.18 Dalam dunia pendidikan, al-Qur‟an dan hadits memberikan pujian kepada siapapun, termasuk kepada perempuan yang mampu meningkatkan prestasinya dalam bidang ilmu pengetahuan. Disinggung dalam al-Qur‟an sejumlah perempuan yang sukses meraih prestasi memuaskan, misalnya Ratu Bulqis, Maryam, dan
„Asiyah (istri Fir‟aun). Jadi jelas bahwa perempuan juga
mendapatkan pendidikan dan pengajaran sama dengan laki-laki, sehingg lahirlah perempuan-perempuan yang berintelektual tinggi, diantaranya:
a. Khadijah binti Khuwailid, seorang ummul mukminin dan saudagar terdidik yang selalu mendampingi Nabi dan berjuang dalam menyiarkan Islam.
b. Aisyah binti Abu Bakar, perempuan cerdas yang memiliki ilmu pengetahuan dan telah meriwayatkan lebih dari 1000 hadits dengan periwayatan langsung, beliau juga seorang yang ahli Fiqih, Tafsir, Kedokteran, dan syair-syair.
c. Asma‟ binti Abu Bakar, seorang perempuan yang pemberani
yang selalu mengantarkan makanan kepada Nabi ketika akan hijrah.
d. Hafsah bin Umar, Fatimah az-Zahra, Sakinah binti Husein merupakan perempuan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.
e. Nasibah binti Ka‟ab, Aminah binti Qays al-Ghifariyah,
Ummu Athiyyah al Anshoriyyah, Rabiah bin Mas‟ud
merupakan perempuan yang ikut berperang dengan Nabi, mereka bertugas merawat orang-orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang luka.
f. Al-Khansa‟, Hindun binti Atabah, Laila binti Salma, Siti Sakinah binti al-Husein merupakan perempuan yang mahir dalam bidang syair dan kesusteraaan.19
18
Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief, (Jakarta: Bulang Bintang, 1970), hlm. 340.
19
Potret dan Sejarah Pendidikan Perempuan Indonesia Era Awal
Sebelum abad ke-20, gerakan perempuan hanya gerakan yang bersifat perseorangan, belum dalam bentuk susunan kelompok atau organisasi, akan tetapi usaha-usaha mereka telah merintis jalan kea rah kemajuan Indonesia. Perlu dijelaskan bahwa keadaan dan kedudukan perempuan Indonesia pada waktu itu sangat terbelakang, karena adat-istiadat yang mengungkung, kurangnya pendidikan dan pengajaran, kesewenang-wenang dalam perkawinan, dan sebagainya. Hal ini juga merupakan akibat dari sistem penjajahan yang menindas dan menghambat kemajuan. Beberapa perintis perempuan menyadari bahwa hanya dengan jalan pendidikan kedudukan dan peranan perempuan dapat ditingkatkan dalam keluarga dan masyarakat. Kartini misalnya, menganjurkan emansipasi perempuan melalui pendidikan agar perempuan cakap melaksanakan perannya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik pertama dari manusia. Dewi Sartika, Nyai Dahlan, Rahmah el Yunusiyah adalah pelopor pendidikan perempuan.20
Penindasan etnis perempuan ini merupakan penindasan terpanjang sepanjang sejarah. Lebih lama daripada penindasan etnis kulit hitam di Asia Afrika. Penindasan etnis warna kulit lebih diuntungkan karena banyak orang simpati dan mendukung perjuangan persamaan hak untuk semua jenis manusia tanpa dibedakan warna kulit. Perjuangan Apartheid Nelson Mandela misalnya, banyak mendapat sempati dunia bahkan diberikan bantuan konkrit untuk perjuangan tersebut. Sungguh berbeda dengan perjuangan etnis perempuan. Penindasan ini cendrung dipelihara. Sayangnya tidak semua kaum perempuan memahami dan mengetahui penindasan tersebut.21
Pada permulaan tahun 1900, sebelum R.A. Kartini, sudah ada perempuan dikalangan bangsawan yang giat dalam usaha memajukan perempuan, tetapi hanya dalam lingkungan kecil. Mereka berusaha memperoleh pendidikan barat. Hal ini terjadi dikalangan raja-raja di Jawa, pada awalnya tampak di kraton Paku Alam di Yogyakarta. Di antara mereka banyak dari golongan muda yang belajar di sekolah Belanda dengan maksud supaya kemudian dapat bekerja di berbagai lapangan. Pelopor-pelopor perempuan ini lebih mengutamakan pendidikan.22 Karena pendidikan akan menambah kesadaran dan mengembangkan kemampuan yang dapat berguna untuk kemajuan
20
Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 42.
21
Dadang S. Anshori, dkk, Membincangkan Feminisme, Refleksi Muslimah atas Peran Sosial Kaum Wanita, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 5.
22
masyarakat. Bukan lagi pendidikan yang dilakukan dalam kalangan keluarga saja mengenai sopan santun, sikap hidup, dan kerumahtanggaan, melainkan pendidikan sekolah dengan pelajaran yang lebih luas. Pertama-tama yang mendapatkan perhatiannya adalah pendidikan anak perempuan kalangan bangsawan karena diharapkan mereka dapat memberi contoh kepada rakyat umumnya karena dimasa itu sikap bangsawan selayaknya diikuti oleh rakyat.
Dalam permulaan abad ke-20 lambat laun semakin banyak perempuan yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan sekolah. Pandangan bahwa kaum perempuan harus diberi pendidikan sekolah dan mendapat kedudukan yang lebih baik dalam masyarakat makin meluas. Kartini mulai membuka sekolahnya di rumahnya sendiri. Hal ini juga banyak dilakukan oleh kalangan bangsawan lainnya. Misalnya Dewi Sartika mengepalai sekolah perempuan di Bandung tahun 1904, selanjutnya sekolah ini diurus oleh sebuah
panitia yang disebut “ Vereniging Kaoetaman Istri”. Atas usaha kaum pribumi didirikan sekolah “Kaoetaman Istri Minangkabau” di Padang Panjang dan sekolah “Kerajinan Amai Setia” di Kota
Gedang. Banyak keterampilan kerumahtanggaan yang diajarkan di sekolah-sekolah ini.23 Kemudian dalam konteks Sumatera Barat ada tiga srikandi yang memberi kontribus yang cukup besar terhadap pemberdayaan dan gerakan perempuan di Sumatera Barat khususnya, yaitu Rahmah el Yunusiyah, Rasuna Said, lebih dikenal sebagai pejuang melawan Belanda, dan Rohana Kudus juga mempunyai andil dalam gerakan perempuan dengan menggunakan pers sebagai media penyebaran ide-idenya.24 Sementara di Yogyakarta, K.H. Ahmad Dahlan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Koran Bromartani yang terbit di Surakarta, mengajar anak laki-laki dan perempuan di Kauman Yogyakarta. Selanjutnya, yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan untuk kaum perempuan adalah mendirikan Aisyiyah pada tahun 1917.25 dan masih banyak lagi bentuk-bentuk lembaga pendidikan yang muncul seiring dengan keinginan untuk memberikan pendidikan yang sama bagi pihak perempuan.
Kesetaraan: Pendidikan Berbasis Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia
a. Pengertian Gender
Sosialisasi, advokasi dan fasilitasi untuk menyamakan persepsi tentang pemahaman konsep dasar gender harus terus dilakukan agar masing-masing individu mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Program gender di Indonesia
23
Ibid., hlm. 81-82.
24
Samsul Nizar, Loc.Cit., hlm. 45-46.
25
belum berjalan secara optimal, karena selain dimensi permasalahannya yang sangat beragam, persepsi dan pemahaman masyarakat tentang gender masih sering berbeda dan rancu, mengingat istilah itu bukan berasal dari bahasa Indonesia.26
Jadi gender itu adalah pandangan atau keyakinan yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan dan laki-laki bertingkah laku maupun berfikir. Misalnya pandangan bahwa seorang perempuan idealnya harus pandai memasak, pandai merawat diri, lemah lembut, atau keyakinan bahwa perempuan adalah makluk yang sensitif, emosional, selalu memakai perasaan. Sebaliknya laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumah tangga, rasional, tegas dan sebagainya.27 Singkatnya gender adalah jenis kelamin sosial yang dibuat masyarakat, yang belum tentu benar. Berbeda dengan seks yang merupakan jenis kelamin biologis ciptaan Tuhan, seperti perempuan mempunyai vagina, payudara, rahim, bisa melahirkan dan menyusui, sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan sperma yang sudah ada sejak dulu kala. Sedangkan menurut Nikamatus Sholihah, gender adalah pembagian peran kedudukan, dan tugas antara laki-laki dan perempuan ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas sesuai dengan norma-norma, adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat. Gender tidak menjadi masalah apabila terjadi kesepakatan kedua belah pihak di dalam pembagian tugas dan kedua belah pihak memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan lain di luar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengembangkan diri.
Gender akan dipermasalahkan apabila adanya perbedaan (diskriminasi) perlakuan dalam akses, partisipasi, kontrol dalam menikmati hasil pembangunan antar laki-laki dan perempuan. Dan juga tidak ada kesetaraan dan keadilan dalam pembagian peran, tanggung jawab, hak, kewajiban serta fungsi sebagai anggota keluarga maupun masyarakat yang akhirnya tidak menguntungkan kedua belah pihak. Jadi dapat disimpulkan bahw gender menjadi masalah jika ada ketimpangan relasi atau ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan dimana satu pihak menjadi korban. Ketidakadilan gender bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi karena budaya kita yang patriarki atau mengutamakan laki-laki sehingga perempuanlah yang paling sering terkena dampaknya. Apa akibat ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender ini, yaitu:
26
Nikmatus Sholihah, Gender dan Jenis Kelamin, http://www.Google.co.id.,
27
1) Penomorduaan (subordination) 2) Peminggiran (marginalization) 3) Beban ganda ( double burden) 4) Kekerasan (violence)
5) Pelabelan negatif (stereotype).28
Menurut Husein Muhammad keadilan secara umum
didefenisikan sebagai “menempatkan sesuatu secara proporsional dan memberikan hak kepada pemiliknya”. Defenisi ini
memperlihatkan bahwa dia selalu berkaitan dengan pemenuhan hak seseorang terhadap orang lain yang seharusnya dia terima tanpa diminta karena hak itu ada dan menjadi miliknya. Dalam konteks relasi gender, wujud dari pemenuhan hak atas perempuan masih merupakan problem kemanusiaan yang serius. Realitas sosial, kebudayaan, ekonomi dan politik masih menempatkan perempuan sebagai entitas yang direndahkan. Persepsi kebudayaan masih melekatkan stereotype yang merendahkan, mendeskriminasikan dan memarginalkan mereka. Padahal keadilan adalah gagasan yang paling sentral sekaligus tujuan tertinggi yang diajarkan oleh setiap agama dan kemanusiaan dalam upaya meraih cita-cita manusia dalam kehidupan bersama.29 Dalam konteks Islam, sentralitas ide keadilan ini dibuktikan melalui penyebutannya di dalam al-Qur‟an lebih dari 50 kali dalam bentuk yang beragam. Di samping menggunakan kata al-„Adl, tetapi juga menggunakan kata lain yang maknanya identik dengan keadilan, misalnya al-Qisth, al-Wasath (tengah),
al-Mizan (seimbang), al-Sawa‟/al-Musawah (sama/persamaan), dan al-Matsil (setara). Lebih dari itu keadilan menjadi salah satu nama bagi Tuhan dan tugas utama bagi para Rasul.30
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa keadilan manusia harus diusahakan dari mana pun ia ditemukan karena ia juga adalah keadilan Tuhan yang hanya untuk tujuan itulah hukum Tuhan diturunkan. Dengan begitu, interpretasi dan pemaknaan atas teks ketuhanan yang tidak mampu menangkap esensi keadilan harus diluruskan.31 Pada tatanan praktis Islam memberikan aturan yang lebih rinci berkaitan dengan peran dan fungsi masing-masing dalam menjalani hidup ini. Dimana adakalanya sama dan adakalanya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi
28
Nikmatus Sholihah, Gender dan Jenis Kelamin, http://www.Google.co.id.,
29
Husein Muhammad, Kesetaraan Gender: Memaknai Keadilan dari Perspektif Islam, http://www.Google.co.id., diakses pada Tanggal 23 Oktober 2009.
30
Husein Muhammad, Kesetaraan Gender: Memaknai Keadilan dari Perspektif Islam, http://www.Google.co.id.,
31
perbedaan ataupun persamaan ini tidak bisa dinilai dengan adanya ketidakadilan atau ketidaksetaraan gender.
b. Pendidikan Berbasis Gender
Beranjak dari realitas bahwa biaya pendidikan setiap tahun mengalami kenaikan dan bertambah mahal. Semuanya itu semakin membebani orang tua siswa. Akibatnya, bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin, sekolah semakin hanya tinggal menjadi impian. Untuk menikmati fasilitas pendidikan yang berkualitas semakin tidak memungkinkan baginya. Banyak anak-anak yang berasal dari keluarga miskin hanya mampu melanjutkan studinya di sekolah yang kualitasnya di bawah standar. Yang penting bagi mereka biaya terjangkau oleh pendapatan orang tuanya. Pendidikan yang berkategori unggulan tentu saja biayanya sangat mahal. Pihak sekolah biasanya mematok biaya pendidikan yang mahal. Mulai dari sumbangan pengembangan institusi yang besarnya jutaan rupiah, biaya seragam, biaya kegiatan ekstrakurikuler, hingga buku teks wajib yang seharusnya tidak menjadi beban bagi orang tua mereka. Dampak dari komersialisasi pendidikan ini, lambat laun akan berdampak pada diskriminasi hak untuk memperoleh fasilitas pendidikan bagi anak-anak dan keluarga miskin. Padahal, menikmati pendidikan yang berbiaya murah dan berkualitas adalah merupakan bentuk perwujudan dari hak asasi manusia, hak sosial, ekonomi, budaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Minimnya alokasi anggaran negara untuk pendidikan memang menjadi salah satu faktor penyebab minim dan buruknya penyelenggaraan dan kwalitas pendidikan di negara kita ini. Hal ini juga berdampak pada semakin banyaknya anak-anak usia sekolah yang tidak bisa meneruskan sekolah.
Menurut data riset Education Watch tahun 2006 menyebutkan bahwa kecendrungan realitas tidak meneruskan sekolah bagi anak-anak dari keluarga miskin semakin meningkat persentasenya. Ironisnya lagi kebanyakan anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin yang gagal melanjutkan sekolah ke jenjang SD, SMP, SMA mayoritas (72,3%) adalah siswa-siswa perempuan. Adapun penyebabnya adalah minimnya biaya pendidikan dari keluarganya, juga karena masih terjerat cara pandang patriarkis orangtua. Mereka menganggap anak-anak perempuan mereka tidak usah melanjutkan sekolah, lebih baik langsung dinikahkan saja atau didorong bekerja disektor publik sebagai pembantu rumah tangga atau buruh informal.32 Sebagian
32
dari mereka juga beranggapan bahwa setinggi-tingginya pendidikan perempuan juga tetap akan kembali ke dapur, sumur, dan sebagainya. Kondisi di atas menjadikan anak-anak perempuan usia sekolah dari keluarga miskin menjadi kelompok sosial yang dilanggar hak sosial-ekonomi- dan budayanya. Mereka tidak bisa mendapatkan hak memperoleh atau menikmati pendidikan yang berkwalitas dan berbiaya murah. Untuk itulah saat ini perlu bagi kalangan penggiat pendidikan alternatif untuk mengembangkan program pendidikan yang berbasis gender atau pendidikan yang memberdayakan perempuan. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah:
1) Perlu dirumuskan reorientasi kurikulum pendidikan sekolah alternatif yang sensitif gender sehingga ada penghormatan terhadap hak-hak anak perempuan.
2) Perlu kalangan penggiat pendidikan alternatif untuk mendesak adanya platfon subsidi anggaran pendidikan yang khusus untuk anak-anak usia sekolah dari komunitas perempuan (keluarga miskin) sehingga mereka bisa melanjutkan studinya, setidaknya sampai lulus jenjang strata satu.
3) Perlu diimplementasikan program perwujudan kesetaraan hak pendidikan bagi anak perempuan dalam berbagai jenjang dan jenis pendidikan.
4) Kesetaraan dalam mengaktualisasikan diri dalam proses dan kegiatan belajar mengajar.33
Kegagalan instrumen hukum memenuhi keadilan bagi perempuan lebih disebabkan masih kokohnya pengaruh persepsi dan konstruksi kebudayaan patriarkis, adalah sebuah keniscayaan di atas premis kebudayaan dan tradisi ini terminologi hukum dan kebijakan publik, termasuk postulat fiqih harus dibangun. Dari sinilah kita perlu membangun kembali makna keadilan berdasarkan konteks sosial baru dan dengan paradigma keadilan substantif sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Penyusunan makna keadilan bagi perempua dalam konteks ini harus didasarkan pada dan dengan mendengarkan pengalaman perempuan. Pemenuhan keadilan bagaimanapun hanya dapat tercapai jika kebudayaan dan tradisi masyarakat menunjukkan pemihakannya kepada para perempuan. Hal lain yang lebih mendasar adalah pemaknaan keadilan bagi perempuan harus didasarkan pada paradigma hak asasi manusia. Sebab hak asasi manusia bukan saja sejalan melainkan juga menjadi tujuan keputusan Tuhan. Perempuan dalam paradigma ini memiliki
33
seluruh potensi kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki oleh laki-laki. Dari sini konstruksi sosial baru yang menjamin keadilan gender diharapkan lahir menjadi basis pendefenisian kembali pranata sosial, regulasi, kebijakan politik, dan ekonomi, serta tidak terkecuali tentang fiqih.34
Ada beberapa prinsip kesetaraan gender di dalam al-Qur‟an, yaitu:
1) Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai hamba ( Q.S. al-Zariyat ayat : 56, Q.S. al-Hujurat ayat: 13)
2) Perempuan dan laki-laki sebagai khalifah di bumi (Q.S.
al-An‟am ayat 165, al-Baqarah ayat 30
3) Perempuan dan laki-laki menerima perjanjian awal dengan Tuhan (Q.S. al-A‟raf ayat 172, al-Isra‟ ayat 70)
4) Adam dan hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis 5) Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih
prestasi.35
Keterlibatan Laki-laki sebagai Mitra dalam Menghentikan Kekerasan Terhadap Perempuan
Istilah kekerasan terhadap perempuan membawa konotasi bahwa pelakunya bukan perempuan. Walaupun demikian, sebenarnya bukan semua pelaku kekerasan terhadap perempuan adalah laki-laki. Pelaku kekerasan adalah mereka yang dalam relasi kekuasaan mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari korbannya. Keadaan ini menyebabkan korban tidak berdaya untuk melawan kekuasaan yang lebih besar. Sebagai contoh adalah kekerasan terhadap pembantu rumah tangga yang dilakukan oleh majikan perempuan atau kekerasan pada anak perempuan oleh orang tuanya atau orang yang lebih dewasa. Disamping itu banyak informasi yang menyatakan bahwa sebenarnya laki-laki juga menjadi korban dari nilai dan norma sosial yang ada, dimana laki-laki dianggap sebagai
“superman” yang bisa melakukan semua hal. Dalam banyak aspek,
laki dan perempuan mempunyai kondisi yang sama dimana laki-laki memerlukan bantuan ketika mereka menghadapi masalah. 36 Walau demikian dalam kehidupan sehari-hari banyak laki-laki berperan dibidang publik dan pengambil keputusan. Dalam kaitannya dengan penghapusan kekerasan, mereka sebenarnya mempunyai peran yang sangat signifikan jika mereka betul-betul
34
Husein Muhammad, Kesetaraan Gender:‟ Memaknai Keadilan dari Perspektif Islam, http://www.Google.co.id.,
35
Nasaruddin Umar, Qur an untuk Perempuan, Jaringan Islam Liberal & teater Utan Kayu, 2002.
36
memahami dengan baik persoalan tentang kekerasan terhadap perempuan. Misalnya dalam keluarga, masyarakat, biasanya seorang ayah atau laki masih menjadi acuan dan aturan untuk anak laki-laki mereka. Selain itu juga mereka menjadi referensi dan penentu untuk keputusan terhadap anak perempuan. Perubahan nilai patriarki di dalam masyarakat, jika dikaitkan dengan penghapusan kekerasan terhadap perempuan memerlukan upaya tertentu dan tidak selalu mudah serta memakan waktu. Dalam perkembangan masyarakat kita hari ini, memang sudah ada perubahan nilai patriarki kea rah kesetaraan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, namun masih terbatas. 37
Jika kita lihat peran laki-laki secara umum dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat di bawah ini sebagai pemikiran dalam pelibatan laki-laki untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan, yaitu:
1) Laki-laki sebagai pelaku kekerasan terhadap perempuan, pendekatan yang dapat dilakukan antara lain memberikan pemahaman baru tentang kekerasan terhadap sesama dan terhadap perempuan dan mengubah prilaku.
2) Laki-laki masih dianggap berkedudukan lebi,h tinggi, pendekatannya dengan cara mecari bentuk baru dari nilai patriarki karena tidak semua nilai patriarki buruk, membangun image laki-laki baru yang lebih adil terhadap perempuan.
3) Laki-laki sebagai korban kekerasan, pendekatannya yaitu perubahan nilai bahwa laki-laki bukan manusia super. 4) Laki-laki sebagai kelompok yang diam atau pemberi restu
terjadinya kekerasan terhadap perempuan, pendekatannya dengan cara membangun pemahaman tentang kekerasan terhadap perempuan, dan memberi pemahaman tentang peran yang dapat dilakukan laki-laki.
5) Laki-laki sebagai kepala rumah tangga, pendekatannya dengan cara memberikan pemahaman yang baik tenang peran dan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. 6) Laki-laki sebagai pembuat keputusan, pendekatannya
dengan cara peningkatan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan bagi laki-laki dan perempuan
7) Peran pendidikan (patron bagi anak laki-laki), pendekatannya dengan cara penanaman nilai-nilai budaya damai dan saling menghormati serta multi kulturalisme
37
8) Laki-laki sebagai narasumber bagi per group mereka, pendekatannya dengan cara penanaman nilai-nilai budaya damai, kesetaraan dan keadilan bagi laki-laki dan perempuan.38
Pembangunan Pemberdayaan Perempuan Mitra Sejajar Pria
Wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya ditakdirkan untuk menjadi mitra bagi laki-laki. Mitra artinya teman, dan arti yang luasnya sebagai teman, perempuan harus diperlakukan dengan semestinya. Dalam hal ini sangat tidak diharapkan adanya dominasi dari pihak laki-laki. Sebagai teman, perempuan bukan subordinat, dia ada bukan untuk ditindas, dia hadir bukan untuk dieksploitasi. Peribahasa yang sesuai dengan harapan para wanita jika bekerja sama dalam hal apapun dengan laki-laki adalah ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul. Pemberdayaan perempuan merupakan sarana penguatan terhadapa perempuan dalam berbagai bentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan politik berdasarkan pada keterkaitan antara kebebasan pribadi dan aturan masyarakat yang berlaku. Tahap awal pemberdayan perempuan dapat dibandingkan dengan tahapan hak. Perempuan miskin, diberbagai budaya tidak
akrab dengan bahasa “hak”, karena itu menjadi tanggung jawab untuk menjelaskan hal itu kepada mereka. Pembangunan pemberdayaan perempuan dilakukan untuk menunjang dan mempercepat tercapainya kualitas hidup dan mitra kesejajaran laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi / advokasi pendidikan dan latihan bagi kaum perempuan yang bergerak dalam seluruh bidang dan sektor.
1) Tujuan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan
a) Meningkatkan sumber daya perempuan perempuan yang mempunyai kemampuan dan keamanan guna kemandirian, dengan bakal kepribadian, memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b) Terciptanya gerak langkah yang terpadu dan harmonis antara sektor dan sub sektor pemerintah, organisasi kemasyarakatan dan politik, LSM, tokoh dan pemuka masyarakat dan agama dalam upaya proses pembangunan perempuan
2) Sasaran umum Pembangunan pemberdayaan perempuan a) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
perempuan diberbagai kegiatan sektor dan sub sektor
38
serta lembaga dan non lembaga yang mengutamakan peningkatan kemampuan dan profesionalisme/keahlian kaum perempuan.
b) Mewujudkan kepekaan, kepedulian gender dari seluruh masyarakat, penentu kebijakan, pengambilan keputusan, perencana dan penegak hukum serta pembaruan produk hukum yang bermuatan nilai-nilai sosial budaya serta keadilan yang berwawasan gender. 3) Kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan
a) Mengutamakan gender dalam pembangunan daerah pada semua sektor melalui kelembagaan/wadah yang ada untuk mendukung kemajuan dan kemandirian perempuan
b) Meningkatkan komitmen antara lembaga pemerintah, swasta dan independent untuk pemberdayaan perempuan, proses perencanaan, pelaksanaan maupun pemantauan dan evaluasi
4) Kinerja Pembangunan Pemberdayaan Perempuan
a) Melaksanakan rapat kerja daerah pembangunan pemberdayaan perempuan
b) Memberi bantuan untuk penunjangan kegiatan BKOW/Organisasi perempuan/LSM Perempuan, dengan kegiatan, antara lain: pendidikan dan pelatihan, pelatihan kepemimpinan dan politik, sosialisasi mengenai hukum, HAM, Kadarkum, serta hak-hak sipil perempuan
c) Melaksanakan pelatihan Gender di bidang reproduksi dan kependudukan
d) Bantuan penunjangan untuk hari Anak dan Ibu
e) Melaksanakan evaluasi program pemberdayaan perempuan39
Berdasarkan uraian di atas, kaum perempuan sudah seharusnya sadar akan keberadaanya, bahwa ia diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Sebagaimana dahulu siti Hawa diciptakan Allah untuk mendampingi Nabi Adam di surga. Kaum perempuan menghendaki para pria memperlakukannya sebagaimana Islam menjunjung tinggi hak dan kehormatannya. Para wanita banyak berharap, kaum pria memposisikan dirinya sebagaimana al-Qur‟an memberikan pedoman yang lengkap mengenai hal itu. Bila semua perempuan ingin
39
mewujudkan harapannya, ingin bebas dari semua belenggu, kuncinya ada ditangan para perempuan itu sendiri. Pepatah bijak mengatakan bahwa yang paling sayang terhadap diri kita adalah kita sendiri. Kemandirian bisa meningkatkan kepercayaan diri, bisa menimbulkan respek dari lawan jenis, serta tidak mustahil akan melahirkan penghargaan berupa perlakuan yang sesuai dengan kedudukan kita sebagai makhluk yang merdeka. Dan sebaliknya, ketergantungan seseorang terhadap orang lain bisa memunculkan perlakuan semena-mena dari orang yang merasa dibutuhkan.
Penutup
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pra Islam, kaum perempuan selalu berada di bawah kezalimanan kaum laki-laki, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak mendapatkan kedudukan dalam masyarakat sesuai dengan kewajaran yang seharusnya diberikan kepada mereka. Perempuan sama sekali tidak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, perempuan harus tinggal dirumah dan tidak mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, dipaksa kawin dan ditindak, diwarisi dan tidak mewarisi, dikuasai dan tidak pernah menguasai. Kondisi ini sangat menyedihkan bagi perempuan, mereka tidak diberi kebebasan dalam segala urusan yang sesuai dengan porsinya dan tidak diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan termasuk mengenyam bangku pendidikan.
Kehadiran Islam ini telah dimulai suatu warna baru bagi kaum perempuan dengan diberikannya kemerdekaan dan hak-hak mereka yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan, derajat mereka terangkat sebagai manusia. Selain itu, dalam ajaran Islam terkandung unsur-unsur persamaan antara manusia, baik antara laki-laki dan perempuan maupun antar bangsa, suku, dan keturunan yang merupakan tema utama sekaligus prinsip dalam ajaran Islam. Perbedaan yang diakui dalam Islam dan kemudian menjadi ukuran tinggi rendahnya seseorang hanyalah nilai ibadah dan taqwanya kepada Allah SWT.
ini tidak bisa dinilai dengan adanya ketidakadilan atau ketidaksetaraan gender. Jadi pada intinya Islam memandang sama antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fungsi dan tugasnya masing-masing. Hanya yang menjadi perbedaannya di hadapan Allah SWT adalah iman dan taqwanya.
Untuk kaum perempuan sudah seharusnya sadar akan keberadaanya, bahwa ia diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Sebagaimana dahulu siti Hawa diciptakan Allah untuk mendampingi Nabi Adam di surga. Kaum perempuan menghendaki para pria memperlakukannya sebagaimana Islam menjunjung tinggi hak dan kehormatannya. Para wanita banyak berharap, kaum pria memposisikan dirinya sebagaimana al-Qur‟an memberikan pedoman yang lengkap mengenai hal itu. Bila semua perempuan ingin mewujudkan harapannya, ingin bebas dari semua belenggu, kuncinya ada ditangan para perempuan itu sendiri. Pepatah bijak mengatakan bahwa yang paling sayang terhadap diri kita adalah kita sendiri. Kemandirian bisa meningkatkan kepercayaan diri, bisa menimbulkan respek dari lawan jenis, serta tidak mustahil akan melahirkan penghargaan berupa perlakuan yang sesuai dengan kedudukan kita sebagai makhluk yang merdeka. Dan sebaliknya, ketergantungan seseorang terhadap orang lain bisa memunculkan perlakuan semena-mena dari orang yang merasa dibutuhkan.
Bibliografi
Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Terj. Bahrun Abu Bakar dan Hery Noer Aly, Semarang: Toha Putra, 1986.
Dadang Anshori, dkk, Membincangkan Feminisme, Refleksi Muslimah atas Peran Sosial Kaum Wanita, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997.
M. Arif Budiman, Qasim Amin dan Emansipasi Wanita di Mesir, dalam Majalah Hermeneia PPS IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Vol. 1, No. 2, Edisi Juli-Desember, 2002.
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Semarang: Toha Putra, 1989.
Digital Hadits as-Syarif, Shahih Bukhori, No. 6766.
Jalaluddin dan Usman Sa‟id, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.
Kuni Khairunnisa, Gender dalam Agenda Feminisme Kontemporer, http://www.Gogle.co.id.,
Ari Kristianawati, Kesetaraan: Pendidikan Berbasis Gender,
http://www.Gogle.co.id.,
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997.
Husein Muhammad, Kesetaraan Gender: Memaknai Keadilan dari Perspektif Islam, http://www.Gogle.co.id
Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Quantum Teaching, 2005.
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, kesan, dan keserasian al-Qur‟an, Vol. ke-7. Jakarta: Lentera Hati, 2004.
Nikmatus Sholihah, Gender dan Jenis Kelamin,
http://www.Gogle.co.id
Sukanti Suryochondro, Potret Pergerakan Wanita di Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1984.
Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terj. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief, Jakarta: Bulang Bintang, 1970.
Nasaruddin Umar, Qur an untuk Perempuan, Jaringan Islam Liberal & teater Utan Kayu, 2002.