• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM KARTU TANDA PENDUDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM KARTU TANDA PENDUDU"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM KARTU TANDA PENDUDUK

ELEKTRONIK (e-KTP)

(Studi Pada Kecamatan Seberang Ulu 1)

Oleh:

Steven Anthony, S.I.P., M.Si

[email protected]

Abstrak

Administrasi Kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP)

merupakan hal yang penting karena selalu bersentuhan dengan setiap aktivitas

kehidupan di Indonesia, di antaranya adalah saat Pemilu Legislatif, Pemilu

Presiden, Pemilu Kepala Daerah, mengurus surat-surat, dan lain sebagainya yang

memerlukan suatu tata administrasi kependudukan yang baik. Namun pada

pelaksanaannya banyak terjadi kesalahan dalam menginformasikan data

kependudukan yang tertulis pada identitas KTP diakibatkan banyak faktor.

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat Implementasi Program e-KTP

pada Kecamatan Seberang Ulu I serta faktor-faktor yang mempengaruhinya,

dengan jenis penelitian deskriptif serta menggunakan metode penelitian kualitatif.

(2)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

telah membagi secara proposional mengenai kewenangan pemerintah pusat,

provinsi dan kabupaten/kota. Berdasarkan Pasal 13 ayat (1) dan pasal 14 ayat (1)

Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,

menjelaskan bahwa pelayanan kependudukan dan catatan sipil merupakan urusan

wajib yang harus dilaksanakan dan menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan

kabupaten/kota yang dalam pelaksanaannya diperlukan pembinaan dari

pemerintah pusat. Pembinaan tersebut sesuai dengan Pasal 217 huruf b Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 berupa pemberian pedoman dan standar

pelaksanaan urusan pemerintahan.

Indonesia merupakan negara yang besar dalam hal jumlah penduduk,

berdasarkan data populasi penduduk pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia

sekitar 237.641.326 jiwa (www.bps.go.id). Dengan jumlah tersebut berarti

Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia dalam hal jumlah

penduduk setelah Republik Rakyat Cina dengan 1.306.313.802 jiwa, India

1.080.264.388 jiwa, Amerika Serikat 295.734.134 jiwa (Wikipedia, 2011). Data

dimaksud sudah termasuk penduduk Indonesia yang berdomisili di luar negeri.

(3)

menyangkut seluruh masalah kependudukan, yang meliputi pendaftaran

penduduk, pencatatan sipil, dan pengelolaan data informasi kependudukan.

Administrasi Kependudukan menjadi semakin penting karena selalu

bersentuhan dengan setiap aktivitas kehidupan di Indonesia, di antaranya adalah

saat Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, Pemilu Kepala Daerah, mengurus

surat-surat kendaraan, mengurus surat-surat-surat-surat tanah, dan lain sebagainya. Sehingga

diperlukannya suatu tata adiministrasi kependudukan yang baik. Apabila kita

berdomisili pada suatu wilayah maka kita harus memiliki tanda domisili yang

dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai wujud dari tata kelola

administrasi kependudukan.

Tetapi, pada pelaksanaannya banyak terjadi

kesalahan dalam menginformasikan data kependudukan yang tertulis pada

identitas KTP. Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi kekeliruan dan kendala

dalam mengurus administrasi lain yang menjadikan KTP sebagai persyaratannya

seperti SIM, STNK, Pemilih dalam Pemilu, dan lain

lain.

(4)

Tabel 1

Gambaran Permasalahan dalam KTP

No.

Item Tanda Pengenal

Bentuk Permasalahan

1

Nama Pemohon

Sering terjadi kesalahan dalam penulisan

nama, bin/binti, singkatan nama.

2

Tempat dan Tanggal Lahir

Banyaknya

terjadi

kekeliruan

dalam

menginformasikan tempat dan tanggal lahir.

3

Alamat

Alamat pemohon sering kali tidak lengkap

dan tertulis dengan tidak jelas pada KTP.

4

Foto

Foto yang ter-

display

dalam KTP terlalu

kecil sehingga terlihat tidak jelas dan

menyamarkan wajah pemegang KTP.

5

Material KTP

KTP sering cepat rusak karena menggunakan

bahan yang tidak awet dan tidak tahan lama.

KTP juga mudah dipalsukan karena material

bahan KTP mudah untuk ditemukan di

pasaran dengan bebas.

Sumber: Olahan Data Sekunder, 2012

(5)

Indonesia ini tidak akan dapat ditemukan titik terangnya apabila pendataan

indentitas penduduk Indonesia tidak dimanajemen dengan baik dan tidak berbasis

teknologi tinggi yang tersambung secara nasional.

Tekanan pemerintah pusat untuk segera menerapkan e-KTP menyebabkan

pemerintah daerah melakukan penganggaran yang akan digunakan untuk

pelaksanaan e-KTP tanpa melalui mekanisme APBD berikut pengadaan sarana

penunjang yang tidak sesuai peraturan perundang-undangan. Dibutuhkan kesiapan

elemen birokrasi pelaksanaan di tingkat bawah, terutama dalam sosialisasi

program e-KTP, termasuk penyediaan anggaran

sharing program

, karena

keperluan itu akan menyedot alokasi belanja daerah.

Permasalahan yang muncul juga bersumber dari kualitas Sumber Daya

Manusia yang merupakan operator e-KTP yang dinilai belum cukup mumpuni

dalam pengoperasian perangkat elektronik. Permasalahan lain yang muncul

terdapat pada tingkat kesadaran masyarakat kurang dalam partisipasi

mensukseskan e-KTP, sehingga dikhawatirkan akan memperlambat proses

pelaksanaan e-KTP.

Bedasarkan uraian

uraian diatas dan dengan tetap memperhatikan situasi

serta kondisi penelitian maka, penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji

“IMPLEMENTASI

PROGRAM

KARTU

TANDA

PENDUDUK

(6)

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian

uraian diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini

adalah :

1. Bagaimanakah Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1

Kota Palembang?

2. Faktor

faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat

Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 Kota Palembang?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu I

Kota Palembang.

2. Untuk mengetahui faktor

faktor apa saja yang menjadi pendukung dan

penghambat Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu I Kota

Palembang.

Manfaat Penelitian

(7)
(8)

PEMBAHASAN

Kebijakan Publik

Banyak definisi yang dibuat para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan. Laswell

dalam Parsons (2005:17) menyatakan bahwa kata kebijakan (Policy) umumnya ditujukan

untuk pilihan terpenting yang diambil baik dalam kehidupan organisasi atau privat.

Kebijakan bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis (political) yang sering kali

diyakini mengandung makna ‘keberpihakan’ dan ‘korupsi’.

Thomas Dye (2006:20) menyebutkan kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk

melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or not to

do). Pemerintah memegang peranan penting bukannya melakukan tindakan tertentu juga

untuk berbuat sesuatu atau menetapkan kebijakan untuk melaksanakan program sesuatu

dalam mengatasi permasalahan, akan tetapi pemerintahan hanya berdiam diri saja dan

tidak melakukan kegiatan apa–apa, itupun dapat disebut dengan kebijakan pemerintah.

Menurut Abidin (2006:91-93), orientasi analisis kebijakan dapat dibagi menjadi 3

(tiga) bentuk, yaitu :

1. Analisis kebijakan yang prospektif (prospective policy analysis), yaitu analisis

tentang kebijakan yang berlangsung sebelum ada evaluasi kebijakan.

2. Analisis kebijakan (retrospective policy analysis), yaitu analisis yang dilakukan

sesudah aksi kebijakan. Analisis ini dilakukan untuk menilai proses pelaksanaan dan

hasil pelaksanaan. Termasuk dalam kelompok analisis ini adalah tahap – tahap

pemantauan dan evaluasi.

3. Integrasi dari kedua bentuk analisis prospektif dan retrospektif. Analisis ini dapat

(9)

Lebih lanjut Abidin (2006:44-52) menjelaskan bahwa apabila dilihat dari segi

struktur terdapat lima unsur kebijakan yaitu tujuan, kebijakan, masalah, tuntutan

(demand), dampak (outcomes) dan sarana atau alat kebijakan (policy instrument).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan suatu

keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk memecahkan masalah atau mewujudkan

tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu, konsekuensi dari suatu kebijakan dapat diamati

secara jelas dalam masyarakat. Kebijakan publik pun dapat dipahami sebagai keputusan

yang mengikat bagi masyarakat pada tataran tertentu yang dibuat oleh pemerintah.

Implementasi Kebijakan

Menurut Mazmanian dan Sebatier dalam Nugroho (2006:19) mengemukakan

bahwa pengertian implementasi kebijakan adalah “Implementation is the carrying out of

basic policy decision, usually incorporated in a statute but which can also take the form

of important executives ordes or court decision. Ideally, that decision identifies the

problem(s) to be addressed, stipulates the objective(s) to be pursued, and, in a vaiety of

ways, “structures” the implementation process.”

Menurut Van Meter dan Van Horn dalam Wahab (2004:65) proses implementasi

adalah “Those action by public or private individuals (or groups) that are directed at the

achievement of objectives set forth in prior policy decision”.

Kamus Webster dalam Wahab (2004:64) merumuskan secara pendek bahwa to

implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out

(10)

Model Implementasi Kebijakan yang digunakan dalam Penelitian ini

Dari berbagai model implementasi kebijakan publik, menurut Nugroho

(2006:136) “Tidak ada yang terbaik diantara model atau teori, yang ada adalah pilihan –

pilihan model yang harus kita pilih secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan

kebijakannya sendiri”.

Model Van Metter dan Van Horn cocok digunakan sebagai dasar penelitian,

karena variabel yang ada pada teori ini tergambar dan terukur sangat jelas. Variabel –

variabel dalam teori inilah yang nantinya akan digunakan untuk menganalisis dan

mengetahui berhasil atau tidaknya implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang

Ulu I Kota Palembang.

Gambar 1: Implementasi Kebijakan Model Van Metter dan Van Horn

Model Van Metter dan Van Horn dipilih karena memiliki keunikan dalam

mengkaji bagaimana proses implementasi itu dilaksanakan dan variabel - variabel dalam

(11)

Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang, memiliki ukuran –

ukuran yang jelas dan terperinci.

Kelebihan yang dimiliki oleh model implementasi Van Metter dan Van Horn ini

adalah memandang implementasi sebagai proses interaksi beberapa organisasi pelaksana.

Dalam penelitian implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu I Kota

Palembang ini, organisasi pelaksananya adalah Kantor Kecamatan Seberang Ulu I Kota

Palembang dan tetap berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota

Palembang.

Program KTP Elektronik (e-KTP)

Sebuah kebijakan publik tidaklah muncul dengan sendirinya dan mempunyai

tujuan tertentu. Kebijakan publik dalam usaha menggapai tujuan yang telah ditetapkan

haruslah melewati beberapa tahapan implementasi begitu juga halnya yang terjadi dengan

Program KTP Elektronik (e-KTP). Tindakan lanjutan akibat dari munculnya sebuah

kebijakan publik adalah implementasi.

Program KTP Elektronik (e-KTP) adalah penjabaran kebijakan Kementrian Dalam

Negeri untuk menciptakan tatakelola administrasi kependudukan yang terintegrasi dengan

menggunakan sumber daya teknologi mutakhir, yang mempunyai tujuan strategis

(www.e-ktp.com) , yaitu :

1. Memutakhirkan data kependudukan secara terpadu untuk mencegah segala hal yang

bersifat distorsi, seperti data kependudukan ganda dan manipulasi data kependudukan;

2. Menjadi database kependudukan yang integral, komprehensif, updatable, serta bisa

digunakan untuk mengurus segala kebutuhan akan fasilitas pelayanan sosial, seperti

(12)

3. Multifungsi untuk kepentingan kegiatan ekonomi semacam perbankan (ATM,

e-banking) serta menjadi instrumen untuk kegiatan elektoral demokrasi, yakni

melegalkan daftar calon pemilih (voters community).

KTP Elektronik atau e-KTP adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem

keamanan / pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan

berbasis pada database kependudukan nasional. Penerapan KTP berbasis NIK (Nomor

Induk Kependudukan) telah sesuai Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang

Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional juncto Peraturan

Presiden Nomor 35 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Perpres No. 26 Tahun 2009.

Program e-KTP dilatarbelakangi oleh sistem pembuatan KTP konvensional di

Indonesia yang memungkinkan seseorang dapat memiliki lebih dari satu KTP. Hal ini

disebabkan belum adanya basis data terpadu yang menghimpun data penduduk dari

seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi peluang penduduk yang ingin berbuat curang

terhadap negara dengan menduplikasi KTP-nya. Beberapa diantaranya digunakan untuk

hal-hal berikut:

1. Menghindari pajak;

2. Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat di seluruh kota;

3. Mengamankan korupsi;

4. Menyembunyikan identitas (misalnya oleh para teroris).

Untuk mengatasi duplikasi tersebut sekaligus menciptakan kartu identitas

multifungsi, digagaslah e-KTP yang menggunakan pengamanan berbasis biometrik.

Autentikasi menggunakan biometrik yaitu verifikasi dan validasi sistem melalui

(13)

dengan cara ini, antara lain sidik jari (fingerprint), retina mata, DNA, bentuk wajah, dan

bentuk gigi.

Pada e-KTP, yang digunakan adalah sidik jari dan pindai retina mata. Seluruh

rekaman sidik jari dan retina penduduk akan disimpan di AFIS (Automated Fingerprint

Identification System) yang berada di pusat data di Jakarta. Tujuan dan manfaat

penggunaan biometrik pada e-KTP adalah sebagai berikut:

1. Mencegah adanya pemalsuan dan penggandaan;

2. Biaya lebih ekonomis dan praktis;

3. Jika terjadi kehilangan kartu, maka orang yang menemukan kartu e-KTP milik orang

lain tidak akan dapat menggunakannya karena akan dicek kesamaan biometriknya;

4. Bentuk dapat dijaga tidak berubah karena gurat-gurat sidik jari akan kembali ke

bentuk semula walaupun kulit tergores;

5. Unik, tidak ada kemungkinan sama walaupun orang kembar;

Program e-KTP ini dilaksanakan secara bertahap di 497 Kabupaten/Kota yang

ada di Indonesia. Tahap pertama pada tahun 2011 diterapkan di 197 Kabupaten/Kota

dengan anggaran Rp. 2,78 T yang bersumber dari APBN dan sisanya sebanyak 300

Kabupaten/Kota dilakukan penerapan e-KTP pada tahun 2012 dengan total anggaran

sebesar RP. 3,46 T bersumber dari APBN. Kota Palembang termasuk pada pelaksaan

Tahap Pertama yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2011.

Proses pelaksanaan Program e-KTP ini dilaksanakan pada tingkat kecamatan di

masing– masing kantor kecamatan di tiap kabupaten/kota. Berikut adalah gambar proses

(14)

Gambar 2 :

n gambar tersebut jelas terlihat bagaimana proses pe

(yang telah menerima surat undangan dari pihak k

camatan untuk proses perekaman sesuai dengan

urat undangan tersebut.

warga diharuskan untuk melapor kepada petugas

nomor antrian kemudian diminta untuk mengantri. S

(15)

atau belum. Apabila ada yang tidak sesuai, maka akan segera diperbaiki. Warga tersebut

selanjutnya akan difoto dan kemudian diambil rekam sidik jarinya (kesepuluh jari) dan

diambil pula rekam retina matanya. Terakhir, warga yang bersangkutan membubuhkan

tandatangannya di signature pad yang telah disediakan. Setelah semua proses dijalani,

maka selesai sudah proses perekaman e-KTP ini dan tinggal menunggu untuk

penerbitannya saja.

Data – data tersebut (biodata kependudukan yang telah divervikasi dan data

rekam sidik jari dan retina) disimpan dalam database dan kemudian dikirim melalui

jaringan komunikasi data ke server Automated Fingerprint Identification Systemdi pusat

data Kementerian Dalam Negeri dan dilakukan proses identifikasi ketunggalan jatidiri

seseorang. Hasil identifikasi sidik jari penduduk apabila identitas tunggal, data

dikembalikan ke tempat pelayanan KTP Elektronik dan apabila identitas ganda,

dilakukan klarifikasi dengan tempat pelayanan KTP Elektronik.

Selanjutnya akan dilakukan personalisasi data yang sudah diidentifikasi ke

dalam blangko KTP Elektronik. Setelah dilakukan personalisasi KTP Elektronik dikirim

(distribusikan) ke Dinas Dukcapil Kabupaten/Kota untuk diteruskan ke tempat pelayanan

KTP Elektronik. Petugas di tempat pelayanan KTP Elektronik, menerima KTP Elektronik

dan selanjutnya memberikan kepada penduduk dengan melakukan verifikasi melalui

pemadanan sidik jari penduduk 1 : 1.

Hasil verifikasi sidik jari penduduk tersebut, apabila datanya sama, maka KTP

Elektronik diberikan kepada penduduk. Apabila datanya tidak sama, maka KTP

Elektronik tidak diberikan kepada penduduk. Dalam hal datanya tidak sama, maka

(16)

Kementerian Dalam Negeri melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kabupaten/Kota untuk dimusnahkan.

Sumber pembiayaan Program e-KTP ini dibebankan kepada APBN dan APBD

Provinsi/Kota dan Kabupaten. Hal ini telah sesuai dengan Perpres No. 26 Tahun 2009

tentang Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional, Pasal 9

yang berbunyi :

(1) Pembiayaan perangkat keras, perangkat lunak, blangko KTP berbasis NIK, dan

pemberian bimbingan teknis pelayanan KTP berbasis NIK oleh Pemerintah

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (3), dibebankan pada

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

(2) Pembiayaan untuk pemeliharaan perangkat keras dan perangkat lunak sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3), dan pembiayaan untuk pengadaan dan

pemeliharaan perangkat pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan

Kabupaten/Kota.

Program dan kegiatan di bidang administrasi kependudukan ini merupakan

kegiatan strategis nasional yang memerlukan anggaran yang besar (Rp. 6, 24 T), namun

hasilnya juga sangat besar manfaatnya bagi masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena

itu agar pelaksanaannya dapat berjalan secara efektif dan efisien dengan hasil yang

optimal maka diperlukan komitmen dari semua pihak baik Pemerintah, Pemerintah

(17)

Faktor Penghambat Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1

Setelah melakukan pengumpulan data dengan teknik observasi dan wawancara di

lapangan, peneliti menemukan ada tiga faktor yang menghambat dan saling berkaitan satu

sama lainnya terhadap pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1.

Ketiga faktor tersebut adalah:

a. Kesadaran masyarakat

b. Keterbatasan dana

c. Gangguan pada perangkat e-KTP

Ketiga faktor diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan e-KTP memerlukan perhatian

serius dari pemerintah khususnya perangkat kecamatan Seberang Ulu 1, agar pelayanan

pada masyarakat dapat berjalan efektif dan efisien.

a. Kesadaran Masyarakat

Pelaksanaan program pemerintah dapat berhasil dengan baik apabila didukung

oleh masyarakat yang merupakan sasaran dari kebijakan tersebut. Dalam merumuskan

suatu kebijakan berupa program, pemerintah telah menentukan tujuan dan sasaran dari

program. Sehingga yang harus dilakukan pemerintah sebagai pelaksana adalah mencapai

tujuan program dan program tepat sasaran.

Program e-KTP adalah program yang dicanangkan pemerintah yang bertujuan

untuk menata administrasi kependudukan dengan menggunakan KTP yang berbasis

teknologi tinggi berupa muatan sistem keamanan / pengendalian baik dari sisi

administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan

nasional. Melalui Program e-KTP ini, diharapkan setiap penduduk memiliki Nomor

Identitas Kependudukan (NIK) yang tunggal.

Pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 tidak hanya

(18)

Program e-KTP yaitu, masyarakat di Kecamatan Seberang Ulu 1. Kesadaran masyarakat

akan akan sangat mempengaruhi pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang

Ulu 1. Namun. kesadaran masyarakat di Kecamatan Seberang Ulu 1 mengenai arti

penting Program e-KTP masih sangat kurang. Hal ini diketahui setelah peneliti

melakukan wawancara dengan Camat Seberang Ulu 1 tanggal 8 Febuari 2012 pukul

09.00 WIB yang mengungkapkan :

“Kesadaran masyarakat kita masih sangat kurang. Banyak warga yang belum ngerti dengan manfaat dari Program e-KTP ini. Sehingga, warga jadi pasif. Warga banyak yang tidak berpartisipasi karena menganggap sudah cukup dengan KTP yang mereka miliki sekarang.Padahal kan e-KTP ini merupakan pembaharuan secara fisik maupun manfaat dari KTP yang lama. Warga juga banyak yanggaktau tentang arti penting dari program ini.”

Kesadaran masyarakat di Kecamatan Seberang Ulu 1 terhadap pentingnya

berpartisipasi dalam Program e-KTP masih sangat kurang. Masyarakat banyak yang

bersikap pasif karena menganggap KTP yang lama sudah cukup sebagai tanda indentitas.

Padahal, e-KTP ini memiliki banyak manfaat dalam penataan administrasi di setiap

instansi pelayanan seperti Bank, Imigrasi, Kepolisian, Kesehatan dan lain – lain. Lebih

lanjut Kasi Pelayanan Umum melalui wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 11.00

WIB mengungkapkan :

“Warga disini kalau ditanya sudah buat e-KTP atau belum, mereka malah banyak yang bilang kalau e-KTP itu idak terlalu penting. Padahal sudah jelas kalau e-KTP ini sangat penting untuk menata administrasi kependudukan kita. Setiap hari, warga yang datang tidak pernah sesuai dengan undangan yang kita sebar. Bagi yang tidak bisa datang karena kesibukannya sudah kita berikan dispensasi. Silahkan datang ketika tidak sibuk. Tapi sampai sekarang masih juga banyak yangidakdatang. Nanti liatbae pasbutuh, baru sibuknakbuat e-KTP.”

Aparat di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah mengatur jadwal

pemanggilan warga per kelurahan dan per RT. Setiap warga juga sudah diberikan

(19)

undangan. Namun, dalam pelaksanaannya banyak warga yang tidak datang sesuai dengan

jadwal bahkan tidak datang sama sekali.

Sebenarnya aparat pelaksana Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1

memaklumi dengan kesibukan warga yang tidak bisa datang. Sehingga diberikan

dispensasi kepada warga yang belum datang untuk datang pada saat tidak sibuk. Namun

pemberian dispensasi ini tidak juga memunculkan sikap aktif warga untuk berpartisipasi.

Sehingga, tingkat pencapaian e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 tidak pernah sesuai

dengan target yang telah ditentukan.

Berdasarkan data yang peneliti peroleh melalui dokumentasi, rata – rata warga

yang datang ke Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 untuk berpartisipasi dalam Program

e-KTP hanya sekitar 32,37 % dari total keseluruhan undangan yang telah disebar yaitu

sebanyak 129.735 jiwa (data per Januari 2012). Rata – rata warga yang datang hanya

berkisar antara 50 –150 jiwa per hari, jauh dari jumlah undangan yang disebar per hari

yang bisa mencapai 250 – 400 jiwa. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa

sebagian warga belum ikut berpartisipasi dalam Program e-KTP. Hal ini mengartikan

bahwa tingkat kesadaran warga di Kecamatan Seberang Ulu 1 masih rendah dalam

mensukseskan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1.

Tingkat kesadaran yang rendah ini tentu sangat menghambat pelaksanaan

Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1. Aparat di Kecamatan Seberang Ulu 1

telah memasang target pencapain per hari yang harus dicapai agar seluruh warga di

Kecamatan Seberang Ulu 1 dapat dilayani. Namun, dengan melihat kondisi tingkat

kesadaran warga yang masih rendah, target 129.735 jiwa wajib KTP di Kecamatan

Seberang Ulu 1 terlayani dalam Program e-KTP akan sangat sulit dicapai. Hingga akhir

2011, Kecamatan Seberang Ulu 1 hanya mampu memenuhi persentase pencapaian hasil

(20)

merupakan yang terendah dari 16 kecamatan yang menyelenggarakan program e-KTP

tersebut.

b. Keterbatasan Dana

Dalam menjalankan suatu kebijakan publik yang berupa program, tentu saja

diperlukan dana. Dana tersebut dianggarkan untuk membeli ataupun membayar segala

sesuatu dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan publik. Keberadaan dana dalam

pelaksanaan program sangat penting. Karena, tanpa adanya dukungan pendanaan yang

memadai tentu saja pelaksanaan program akan terhambat.

Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 tidak mempunyai dana untuk penunjang

pelaksanaan Program e-KTP. Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 hanya menerima

perangkat Bimtek yang diberikan oleh pusat yang bersumber dari APBN. Sedangkan

untuk pembiayaan penunjang lainnya diserahkan dan menjadi tanggung jawab daerah

masing – masing yang menjadi peserta Program e-KTP. Camat Seberang Ulu 1 melaui

wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 09.30 WIB mengungkapkan :

“Kita tidak sama sekali punya dana yang bersumber dari anggaran kecamatan untuk pelaksanaan Program e-KTP ini. Semua kita tinggal terima beres saja. Kalau masalah dana itu yang atur Dinas Dukcapil. Jadi memang masalah dana ini masih menjadi kendala untuk kita. Dana yang ada dari Dukcapil itu cuma untuk honor saja. Itu pun kecil. Kalau dana untuk yang lainnya kita tidak dikasih dan tidak punya. Jadi pelaksanaan e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1terbatas.”

Lebih lanjut Camat Seberang Ulu 1 menjelaskan :

(21)

Semua pendanaan penunjang pelaksanaan Program e-KTP merupakan

tanggungjawab pemerintah daerah. Kecamatan Seberang Ulu 1 tidak memiliki dana

penunjang pelaksanaan Program e-KTP. Pendanaan untuk menunjang pelaksanaan

Program e-KTP merupakan tanggungjawab Dinas Dukcapil Kota Palembang selaku

koordinator pelaksanaan di tingkat kota. Kecamatan Seberang Ulu 1 hanya menerima

pembayaran honor dari Dinas Dukcapil. Dinas Dukcapil tidak menyuntikan dana

penunjang pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 untuk keperluan

lain. Melalui observasi dan dokumentasi terhadap DPA Dinas Dukcapil TA. 2011,

peneliti mengetahui bahwa besaran dana penunjang yang dianggarkan untuk Program

e-KTP bersumber dari DAU sebesar Rp.500 Juta. Dari total keseluruhan dana ini, hanya

dipergunakan untuk sosialisasi sebesar Rp. 40 Juta, selebihnya habis untuk Belanja

Pegawai dan Belanja Barang dan Jasa.

Tidak tersedianya dana penunjang ini mengakibatkan sosialisasi yang menjadi

tanggung jawab Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 sangat minim. Sosialisasi selama ini

dilaksanakan oleh Dinas Dukcapil saja, karena yang memegang dananya adalah Dinas

Dukcapil. Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 tidak bisa melakukan sosialisasi yang

menyeluruh kepada warga, karena dana yang yang butuhkan untuk sosialisasi tidak

tersedia dan tidak diberikan oleh Dinas Dukcapil sebagai Kuasa Pemegang Anggaran

dana penunjang Program e-KTP. Melalui observasi peneliti melihat hanya ada satu buah

bannersebagai media sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan aparat Kecamatan Seberang

Ulu 1 pun hanya sebatas penyampaian – penyampaian kepada warga yang datang atau

ditemui mengenai pelaksanaan Program e-KTP. Hal ini sejalan dengan penuturan Kasi

Pelayanan Umum melalui wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 11,30 WIB

(22)

“Karena idak katek dana sosialisasi, jadi kita tidak bisa melakukan kegiatan sosialisasi yang menyentuh kepada setiap warga di Kecamatan Seberang Ulu 1. Sosialisasi yang kita lakukan terbatas sekali. Kita berharap warga saling menyampaikan satu sama lain mengenai Program e-KTP ini, atau dari mulut ke mulutbae. Kita tidak dikasih dana untuk sosialisasi dari Dinas Dukcapil.”

Sosialisasi yang minim tentunya akan berakibat kepada minimnya pengetahuan

warga tentang Program e-KTP. Hal ini tentu saja mengakibatkan rendahnya tingkat

kesadaran warga untuk berpartisipasi dalam Program e-KTP. Rendahnya tingkat

kesadaran dan partisipasi warga jelas akan menghambat pelaksanaan Program e-KTP

karena target akan sulit dicapai. Seandainya saja dana yang dimiliki oleh Kantor

Kecamatan Seberang Ulu 1 untuk sosialisasi cukup memadai, tentu sosialisasi yang

dilakukan akan baik pula dan tingkat kesadaran warga akan tinggi dan tentunya tingkat

partisipasi warga mensukseskan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 akan

tinggi pula. Jadi jelas bahwa keterbatasan dana yang dimiliki oleh Kantor Kecamatan

Seberang Ulu 1 mengakibat minimnya sosialisasi yang pada akhirnya menghambat

pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1.

Program e-KTP merupakan program penataan administrasi kependudukan yang

dijalankan dengan dukungan teknologi informasi yang tinggi dan teknologi pengamanan

yang canggih. E-KTP yang merupakan output dari Program e-KTP adalah sebuah kartu

ber-chipyang menjadi tanda pengenal penduduk. Di dalamchipe-KTP yang berkapasitas

8 Kilobyte ini telah merekam semua data identitas penduduk, dilengkapi dengan photo,

data sidik jari dari kesepuluh jari tangan, dan photo scan retina mata. Photoscan retina

mata ini merupakan solusi bagi penyandang cacat fisik yang rusak sidik jarinya. Semua

data ini dibuat basis datanya dan disimpan di sebuah data centerdi Kementrian Dalam

Negeri yang kemudian akan dilakukan pengecekan data antar kecamatan seluruh

Indonesia untuk menghindari terjadinya data penduduk yang sama tetapi berbeda

(23)

Untuk mendukung terwujudnya tujuan dari Program e-KTP, maka diperlukan

serangkaian perangkat yang berbasis teknologi tinggi. Perangkat yang digunakan dalam

pelayanan Program e-KTP ini adalah komputer yang dirancangan dengan program

aplikasi khusus. Sehingga, baik atau buruknya pelaksanaan Program e-KTP dapat dilihat

dari kelayakan perangkat yang digunakan. Adapun perangkat yang digunakan dalam

pelaksanaan Program e-KTP adalah peralatan canggih yang berteknologi tinggi yang

berupa :

a) Desktop PC : 3 buah

b) UPS 1000 VA : 3 buah

c) Camera Digital + tripod : 3 buah

d) Fingerprint Scanner : 3 buah

e) Iris Scanner : 3 buah

f) Hardisk eksternal 1 TB : 1 buah

g) Switch dan cabling : 1 buah

h) OS Windows Server : 1 buah

i) Database engine : 1 buah

j) Aplikasi Perekam Data : 1 buah

k) Anti virus client : 1 buah

l) Anti virus server : 1 buah

Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 mempunyai 3 (tiga) set perangkat e-KTP.

Pada mulanya, alat yang disediakan adalah hanya dua set perangkat saja. Namun, untuk

mempercepat pelayanan e-KTP ditambahkan lagi satu perangkat yang berupa pinjaman

(24)

memaksimalkan pelayanan e- KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1. Camat Seberang Ulu 1

melalui wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 09.45 mengungkapkan :

“Kita punya tiga set alat. Tapi sering ada kendala. Kendala yang muncul yaitu alat kita macet atau rusak. Kalau sudah begitu, pelayanan kita terhambat. Harus diperbaiki dulu alatnya, baru bisa bekerja lagi. Perbaikan inikanmemakan waktu yang cukup lama. Kita harus lapor ke Dinas Dukcapil dulu, baru nanti datang teknisinya. Jadi kalau sudah rusak bisa 1 (satu) hari untukbenerinnya.”

Pelayanan yang dilakukan pihak Kecamatan Seberang Ulu 1 kepada warga

menjadi terhambat jika timbul kerusakan dari perangkat yang digunakan. Proses

perbaikan juga memakan waktu yang lama karena harus menghubungi pihak teknisi

melalui Dinas Dukcapil terlebih dahulu. Sehingga, jika terjadi kerusakan alat pelayanan

kepada warga menjadi terganggu dan tidak maksimal. Kasi Pelayanan Umum melalui

wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 12.00 WIB mengungkapkan :

“Permasalahan kerusakan yang sering kita temui itu adalah masalah jaringan yang gak connectdan perangkat yang macet atau hang. Nahkalau sudah begini kita cuma bisa menghubungi pihak Dinas Dukcapil untuk meminta teknisi datang memperbaiki. Prosedur inilah yang sering bikin lama. Coba saja staf kita diajarkan untuk memperbaiki, pasti kalau rusak proses perbaikannya bisa cepat.”

Permasalahan perangkat yang sering muncul dalam pelayanan e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1 adalah permasalahan jaringan dan perangkat yang tidak

merespon atau hang. Staf yang telah diberi Bimtek tidak diajarkan cara untuk

memperbaiki perangkat yang mengalami kerusakan. Sehingga, proses perbaikan akan

memakan waktu yang lama karena harus menunggu respon dari teknisi.

Tabel dibawah ini akan menjelaskan tentang intensitas gangguan pada perangkat e-KTP

(25)

Tabel 2

Intensitas Gangguan Perangkat e-KTP

No. Tanggal Kejadian Permasalahan Keterangan

1. 07 Oktober 2011 Server dan Jaringan Tidakconnect 2. 09 November 2011 Server dan Jaringan Tidakconnect

3. 14 November 2011 Perangkat Hang

4. 15 November 2011 Perangkat Hang

5. 16 November 2011 Perangkat Hang

6. 24 November 2011 Perangkat Hang

7. 16 Januari 2012 Server dan Jaringan Tidakconnect

8. 17 Januari 2012 Perangkat Hang

9. 18 Januari 2012 Server dan Jaringan Tidakconnet

10. 19 Januari 2012 Perangkat Hang

Sumber: Data Sekunder, Febuari 2012.

Berdasarkan tabel diatas, tercatat pernah ada 10 kali gangguan atau kerusakan

yang terjadi pada jaringan dan perangkat e-KTP. Sampai dengan akhir dari penelitian

yang peneliti lakukan, gangguan masih sering terjadi walau tidak sampai memanggil

teknisi untuk perbaikannya. Selama ini untuk mengatasi kerusakan perangkat hang,

operator hanya me-resetperangkat tersebut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses

perbaikan. Karena jika harus menunggu teknisi, perbaikan akan memakan waktu yang

(26)

Faktor Pendukung Implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan 3 (tiga) faktor yang menghambat

implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 Kota Palembang. Ketiga

faktor pendukung tersebut adalah :

a) Sumber Daya;

b) Perpanjangan waktu pelaksanaan Program e-KTP;

c) Komunikasi antar pelaksana Program e-KTP.

Hal– hal diatas menggambarkan bahwa SDM, Perpanjangan waktu pelaksanaan

Program e-KTP dan komunikasi antar pelaksana Program e-KTP merupakan faktor –

faktor yang mendukung implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1,

sehingga hal–hal ini perlu untuk selalu dijaga dan ditingkatkan.

a. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung

pelaksanaan Program e-KTP. Untuk mendukung pelaksanaan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1 dibutuhkan tenaga–tenaga operator pelayanan teknis e-KTP

yang professional dan berkualifikasi. Jumlah tenaga operator ini juga harus memadai

sesuai dengan jumlah perangkat e-KTP yang tersedia. Camat Seberang Ulu 1 melalui

wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 10.00 mengungkapkan :

(27)

Hal senada juga diutarakan oleh Kasi Pelayanan Umum melalui wawancara

tanggal 8 Febuari 2012 pukul 12.10 WIB yang mengatakan :

“Kita ambil dari operator SIAK. Jadi mereka sudah paham dengan aplikasi program semacam ini sehingga mereka tidak lagi canggung dalam mengoperasikan Program e-KTP. Mereka juga sudah diberikan Bimtek e-KTP.”

Berdasarkan wawancara dengan Camat Seberang Ulu 1 dan Kasi Pelayanan

Umum diatas, diketahui bahwa jumlah operator pelayanan teknis e-KTP yang tersedia di

Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 adalah sebanyak 6 (enam) orang untuk menjalankan 3

(tiga) set perangkat e-KTP yang tersedia. Operator pelayanan teknis e-KTP yang dipilih

dan diberdayakan adalah operator Program SIAK, sehingga sudah memiliki kualifikasi

dalam menjalankan perangkat komputer. Operator pelayanan teknis e-KTP juga

merupakan pegawai Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 yang sudah berstatus PNS dan

berpendidikan sarjana.

Melalui observasi, peneliti melihat jumlah operator yang tersedia sudah sangat

memadai. Dengan jumlah tenaga operator pelayanan teknis e-KTP sebanyak 6 (enam)

orang, pelayanan yang diberikan kepada warga tidak pernah terhenti. Enam orang

operator ini bekerja mengoperasikan tiga perangkat alat e-KTP, masing – masing alat

digunakan oleh dua orang operator. Setiap operator bekerja dapat saling membantu satu

sama lain. Jika ada operator yang istirahat, operator lain dapat langsung menggantikan

operator tersebut sehingga pelayanan berjalan lancar.

Jadi berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa Sumber Daya Manusia

yang tersedia di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah mendukung pelaksanaan

(28)

b. Perpanjangan Waktu Pelaksanaan Program e-KTP

Pada awalnya Program e-KTP ini dilaksanakan dengan batas waktu penyelesaian

sampai dengan akhir Desember 2011. Batas waktu penyelesaian sampai akhir Desember

2011 ini diberikan kepada 197 Kabupaten/Kota yang menjadi peserta Program e-KTP

tahap pertama yang salah satunya adalah Kota Palembang. Mengingat waktu pelaksanaan

yang molor dan baru dilaksanakan pada bulan Oktober 2011, jelas batas waktu

penyelesaian yang diberikan sangat tidak cukup untuk menyentuh ke seluruh warga wajib

e-KTP yang berjumlah 40.905 di Kecamatan Seberang Ulu 1.

Seluruh Kepala Daerah yang menjadi peserta Program e-KTP tahap pertama

meminta Mendagri untuk memberikan perpanjangan waktu pelaksanaan program e-KTP.

Mendagri kemudian mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor:

471.13/5079/SJ tentang Perpanjangan Waktu Pelayanan e-KTP Secara Massal untuk 197

Kabupaten/Kota. Sehingga dengan demikian, pelayanan e-KTP di Kota Palembang dan

tentunya di Kecamatan Seberang Ulu 1 diperpanjang sampai dengan akhir April 2012.

Perpanjangan waktu yang diberikan ini diharapkan dapat memaksimalkan jumlah warga

yang dilayani dalam Program e-KTP yang menjadi peserta Program e-KTP di Kecamatan

Seberang Ulu 1.

Camat Seberang Ulu 1 melalui wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 10.15. WIB

mengungkapkan :

(29)

Lebih lanjut Camat Seberang Ulu 1 mengatakan :

“Kalau dulu sebelum ada pemanggilan kitapusingmengatur jadwal. Waktu yang ada cuma 2 bulan saja untuk 40.905 warga. Tapi setelah adanya perpanjangan ini, kami sudah atur lagi jadwal pemanggilan warga. Jadi, sehari itu kita bisa undang sekitar 300-an warga. Kita juga sudah ada target akhir April nanti seluruh warga sudah terlayani.”

Dengan adanya perpanjangan waktu pelayanan e-KTP sampai dengan April

2012, pihak Kecamatan Seberang Ulu 1 dapat menata kembali jadwal pemanggilan warga

yang menjadi peserta di Kecamatan Seberang Ulu 1. Karena pada awalnya jadwal

pemanggilan warga disusun terlalu padat, mengingat batas waktu penyelesaian adalah

sampai dengan akhir Desember 2011. Diharapkan dengan adanya perpanjangan waktu

pelayanan e-KTP ini, seluruh warga dapat ikut berpartisipasi sesuai dengan jadwal yang

telah disusun di Kecamatan Seberang Ulu 1.

c. Komunikasi antar Pelaksana Program e-KTP

Komunikasi sangat menentukan dalam pencapaian tujuan dari pelaksanaan

kebijakan publik. Setiap hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan publik harus

ditransmisikan agar dapat dilaksanakan. Semakin baik komunikasi dan koordinasi

diantara pihak – pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka asumsi

kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi. Dalam melaksanakan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1, dibutuhkan komunikasi yang baik antar pelaksana di Kantor

Kecamatan Seberang Ulu 1 maupun dengan Dinas Dukcapil, agar Program e-KTP dapat

berjalan sesuai dengan apa yang dinginkan.

Camat Seberang Ulu 1 melalui wawancara tanggal 8 Febuari 2012 pukul 10.30 WIB

(30)

“Semua hal yang terkait dengan pelaksanaan Program e-KTP selalu kita sampaikan dan kita komunikasikan baik kepada operator, Kasi Pelayanan Umum dan kepada Dinas Dukcapil juga. Kita selalu membangun komunikasi yang terbuka dan kekeluargaan. Jadi kalau ada apa – apa, staf saya tidak kaku berbicara. Karena kita disini sudah seperti keluarga.”

Jadi berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa Komunikasi antara

(31)

KESIMPULAN DAN SARAN

Adapun uraian kesimpulan dari penelitian yang berjudul Implementasi Program

Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di Kecamatan Seberang Ulu 1 ini adalah :

1. Standar dan Sasaran Kebijakan

Pelaksana Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah memahami

Juklak dan Juknis atau SOP Program e-KTP dengan baik. Pelaksanaan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah tepat sasaran. Setiap rangkaian kegiatan kepesertaan

dan pelayanan sudah dilaksanakan sesuai dengan Juklak dan Juknis. Pelayanan yang

diberikan petugas pun sudah memuaskan warga yang menjadi peserta Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1.

2. Sumber Daya

Pembiayaan pembelian perangkat e-KTP dan Bimtek Operator Pelayanan Teknis

e-KTP dibebankan kepada APBN. Sedangkan pembiayaan sosialisasi dan honor petugas

dibebankan kepada APBD, sehingga pembiayaan untuk pelaksanaan Program e-KTP

sudah tersedia dan terakomodir. Jumlah operator pelayanan teknis e-KTP sudah memadai

yaitu sebanyak 6 (enam) orang untuk mengoperasikan tiga set perangkat e-KTP. Operator

yang ditugaskan juga merupakan PNS yang berkualifikasi sarjana dan sudah diberikan

Bimtek Program e-KTP. Dalam memberikan pelayanan, Kantor Kecamatan Seberang Ulu

1 sudah menyiapkan ruang pelayanan dan ruang tunggu yang memadai dan nyaman untuk

warga yang mengantri. Waktu pelaksanaan Program e-KTP sampai dengan akhir April

2012. Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 memberikan pelayanan kepada warga sesuai

(32)

3. Karakteristik Badan Pelaksana

Struktur birokrasi pada Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah sesuai dengan

isi kebijakan Program e-KTP. Pelaksaaan Program e-KTP tidak menganggu kinerja

pelayanan lainnya di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1. Pengawasan yang dilakukan

oleh Camat kepada bawahanya dalam pelaksanaan Program e-KTP sudah berjalan dengan

baik dan dilakukan secara rutin.

4. Sikap/Kecenderungan Pelaksana

Pelaksana Program e-KTP di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 mendukung

pelaksanaan Program e-KTP dengan baik dan tidak merasa direpotkan dengan adanya

pelaksanaan program ini.

5. Komunikasi Antar Organisasi dan Aktivitas Pelaksanaan

Komunikasi yang dibangun sesama pelaksana Program e-KTP di Kantor

Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah baik. Komunikasi dibangun dengan cara kekeluargaan

dan terbuka. Tidak pernah terjadi kesalahpahaman dalam mengkomunikasikan ini

kebijakan. Komunikasi antara Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 dan Dinas Dukcapil

berjalan dengan lancar dan berkala. Komunikasi dibangun sesuai dengan prosedur tata

administrasi perkantoran yaitu berupa surat resmi. Komunikasi dengan warga dibangun

melalui sosialisasi Program e-KTP. Namun, masih banyak warga yang belum

mengetahui tentang adanya pelaksanaan Program e-KTP dikarenakan sosialisasi yang

dilakukan masih sangat minim dan tidak menyentuh keseluruh lapisan masyarakat di

(33)

6. Kodisi Ekonomi, Sosial dan Politik

Kondisi Ekonomi yang dimiliki Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 belum cukup

mendukung pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1 karena

terbatasnya dana untuk sosialisasi dan pembayaran honor operator pelayanan teknis

e-KTP dan tidak adanya dana untuk pembelian genset. Masyarakat di Kecamatan Seberang

Ulu 1 sudah mendukung pelaksanaan Program e-KTP, namun tingkat partisipasinya

masih rendah. Situasi politik sudah mendukung pelaksanaan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1. Elit Politik di DPRD sudah memberikan dukungan terhadap

pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1. Pihak swasta yaitu PT.

Sucofindo memiliki peranan yang penting dalam pelaksanaan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1 karena telah menyediakan perangkat e-KTP, instalasi,

memberikan Bimtek dan memberikan pendampingan pelaksanaan Program e-KTP

kepada petugas di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1.

Adapun faktor–faktor penghambat Pelaksanaan e-KTP adalah :

1. Kesadaran masyarakat di Kecamatan Seberang Ulu 1 terhadap pentingnya Program

e-KTP dalam menata administrasi kependudukan masih kurang yang menyebabkan

rendahnya partisipasi masyarakat.

2. Keterbatasan dana yang tersedia dalam pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan

Seberang Ulu 1 mengakibatkan kurangnya sosialisasi, tidak tersedianya genset, honor

yang diberikan kepada operator pelayanan teknis e-KTP tidak memadai dan tidak

(34)

3. Gangguan yang sering terjadi pada perangkat e-KTP yang tersedia sanagat

menganggu pelayanan e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1.

Disamping itu, terdapat juga hal – hal yang menjadi faktor pendukung

implementasi Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1, yaitu:

1. Sumber Daya Manusia yang tersedia di Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 sudah

tersedia dengan cukup dan berkualifikasi untuk melaksanakan Program e-KTP;

2. Perpanjangan waktu yang diberikan Kemendagri dalam pelaksanaan Program

e-KTP samapai dengan akhir April 2012 mendukung untuk pencapaian target

Kantor Kecamatan Seberang Ulu 1 dalam melayani seluruh warga yang menjadi

peserta Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1;

3. Komunikasi antar pelaksana Program e-KTP di Kecamatan Seberang Ulu 1

sangat mendukung kelancaran pelaksanaan Program e-KTP di Kecamatan

Seberang Ulu 1;

Saran

Adapun saran yang dapat peneliti berikan kepada Pemerintah Kota Palembang,

khususnya Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 dalam melaksanaan Program e-KTP di

Kecamatan Seberang Ulu 1 berdasarkan hasil penelitian adalah :

1. Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 diharapkan

dapat memberikan informasi, penyuluhan, pengertian dan sosialisasi yang lebih

menyentuh kepada masyarakat mengenai pentingnya Program e-KTP dalam menata

administrasi kependudukan agar masyarakat menjadi lebih sadar dan ikut

(35)

2. Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 diharapkan

untuk lebih memperhatikan kesejahteraan operator pelayanan teknis e-KTP dengan

memberikan honor yang memadai sesuai dengan beban kerja.

3. Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 diharapkan

dapat memberikan alokasi dana penunjang yang lebih besar untuk pelaksanaan

Program e-KTP terutama alokasi dana untuk sosialisasi dan pembayaran honor.

4. Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu 1 harus

menyediakan genset sebagai suplai energi listrik jika terjadi pemadaman listrik.

5. Perlu memperhatikan pemeliharaan dan perawatan perangkat e-KTP, agar dapat

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Z. 2006.Kebijakan Publik:Cetakan Ketiga. Suara Bebas, Jakarta.

Agustino, L. 2006.Dasar–Dasar Kebijakan Publik. PT. Alfabeta, Bandung.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT. Rineka

Cipta, Jakarta.

Dunn, William N. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi Kedua. Cetakan

Ketiga. Gadjah Mada Unversity Press, Yogyakarta.

Moleong, Lexy J. 2009. Metodelogi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya,

Bandung.

Parsons, Wayne. 2005.Public Policy : Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan.

Edisi Pertama.Cetakan Pertama. PT. Prenada Media, Jakarta.

Sugiyono, 1992.Metode Penelitian Administrasi. CV. Alfabeta, Bandung.

________, 2008.Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. CV.

www.e-ktp.com, diakses 20 Oktober 2011.

Gambar

Gambar 1: Implementasi Kebijakan Model Van Metter dan Van Horn
Gambar 2:
Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penentuan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan pola menu makanan yang akan dikonsumsi dalam sehari, sehingga kebutuhan tubuh Ibu Hamil terhadap

Untuk membangkitkan urutan kunci internal yang akan digunakan selama proses enkripsi, algoritma RC6 melakukan proses pembangunan kunci yang identik dengan

Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan

Gejala dan tanda tersebut adalah gejala yang timbul pada saat pasien berada dalam masa prodromal yang umumnya timbul antara 4-5 hari dan ditandai dengan demam 38,4

Dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara produk domestik bruto, inflasi dan nilai tukar terhadap impor barang

Hingga saat ini, UNTAN memiliki sembilan fakultas dengan jenjang pendidikan hingga Strata Tiga (S3), yaitu FAPERTA, FISIP, FH, FKIK, FE, FKIP, FMIPA, FH dan FT. UNTAN

Peranan Organ Pengawas Dalam Rangka Meminimalisir Terjadinya Penyalahgunaan Kewenangan Oleh Pengurus Yang Merugikan Anggota Dalam Lembaga Keuangan Koperasi. Menurut

1) fraksi agregat kasar untuk rancangan campuran adalah yang tertahan ayakan No.4 (4,76 mm) dan haruslah bersih, keras, awet dan bebas dari lempung atau bahan yang