Morfologi dan Patogenitas Manifestasi Klinis Bakteri Anaerob Penyebab Infeksi Pada Manusia ( Actinomyces )
NAMA MAHASISWA : DIAN EKA WATI
NIM : AK816017
SEMESTER : IV
KELAS : B
MATA KULIAH : PARASITOLOGI
PROGRAM STUDI : ANALIS KESEHATAN
DOSEN : Putri Kartika Sari M.Si.
YAYASAN BORNEO LESTARI
AKADEI ANALIS KESEHATAN BORNEO LESTARI BANJARBARU
1. Morfologi Actinomyces
Salah satu golongan bakteri yang dulunya pernah diklasifikasikan sebagai jamur yang dapat merugikan khususnya untuk manusia adalah Actinomyces sp. Actinomycetes kelihatan dari luar seperti jamur dan di dalam banyak buku dibicarakan sama dengan fungi eukariot. Akan tetapi, organisme ini adalah bakteri gram positif sesuai dengan semua kriteria untuk sel prokariot.
Actinomycetes adalah bakteri Gram positif yang bersifat aerob. Bakteri ini memiliki morfologi yang mirip dengan fungi yaitu memiliki miselium. Actinomycetes memiliki kadar GC (Guanin dan Sitosin) yang tinggi. Metabolit sekunder bioaktif yang dihasilkan oleh Actinomycetes termasuk antibiotika, agen antitumor. Metabolit ini diketahui memiliki antibakteri, antijamur, antioksidan, neuritogenik, anti kanker, anti malaria dan anti inflamasi. Actinomycetes memiliki potensi besar untuk mensintesis metabolit sekunder bioaktif.
Klasifikasi Actinomycetes Kingdom : Bacteria Filum : Actinobacteria Class : Actinobacteria Ordo : Actinomycetales Family : Actinomycetaceae Genus : Actinomyces Spesies : Actinomyces sp.
Actinomycetes kelihatan dari luar seperti jamur . Dinding selnya mengandung asam muramat Tidak mempunyai mitrokondrion
Mempunyai pembungkus nukleus, garis tengah selnya berkisar dari 0,5 samapi 2,0 µm, dan dapat dimatikan atau dihambat oleh banyak antibiotika bakteri
Actinomycetes dapat bersifat anaerob fakulatif (mampu tumbuh baik jika terdapat O2 bebas atau tidak adaO2) dapat mampu memfermentasikan karbohidrat.
Bakteri yang termasuk kelas Actinomycetes
Kelompok Karakteristik
Actinomycetes Nocardioform Aerobik, tahan asam atau tidak tahan asam; berbentuk batang, kokus dan filamen bercabang atau bentuk substrat; dinding chemotype mengandung asam mycolic.
Actinomycetes dengan sporangia multilokular
Aerobik atau fakultatif anaerob; terdapat miselium, tidak ada hifa udara, dinding chemotype I.
Actinoplanetes Actinomycetes aerobik, nonmotile,
spora tertutup dalam vesikula; ada miselium udara; dinding chemotype II; dapat menghidrolisis arabinosa dan xilosa.
Streptomycetes dan genera terkait Actinomycetes aerobik,
memiliki substrat luas bercabang dan memiliki miselium udara. Thermomonospora dan genera terkait Bersifat aerobik, memiliki substrat
luas bercabang dan miselium udara, yang keduanya dapat membawa satu rantai spora; spora motil atau non-motil; dinding chemotype III.
Habitat dan keberadaan Actinomycetes
Bakteri golongan Actinomycetes dapat hidup pada beberapa tempat yaitu:
Tanah, Actinomycetes merupakan komponen penting dari populasi mikroba disebagian besar tanah. Isolat Actinomycetes memiliki kisaran pertumbuhan dari pH 5,0-9,0 dan pH optimum sekitar 7,0. Kompos, Actinomycetes mesofilik aktif dalam kompos pada tahap awal dekomposisi.Actinomycetes termofilik tumbuh dengan baik pada kotoran hewan dan jerami.
Habitat di wilayah laut, Actinomycetes dari sumber laut mampu mendekomposisi alginat, selulosa, kitin, minyak dan hidrokarbon lainnya. .Actinomyctes yang termasuk genus Arthrobacter, Brevibacterium, Corynebacterium dan Nocardia merupakan mikroorganisme penting dalam degradasi hidrokarbon minyak bumi di habitat perairan.
2. Patogenesis Manifestasi Klinis
Aktinomikosis adalah penyakit manular yang disebabkan oleh bakteri spesies Actinomyces species seperti Actinomyces israelii atau gerencseriae A. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Propionibacterium propionicus . Actinomycosis jarang terjadi pada manusia tetapi lebih sering pada sapi sebagai penyakit yang disebut rahang bengkak. Nama ini mengacu pada abses besar yang tumbuh di kepala dan leher hewan yang terinfeksi. Hal ini juga dapat mempengaruhi babi, kuda, dan anjing, dan kurang sering binatang liar dan domba. Lihat: actinomycosis pada hewan. Nama ini mengacu pada abses besar yang tumbuh di kepala dan leher hewan yang terinfeksi. Hal ini juga dapat mempengaruhi babi, kuda, dan anjing, dan lebih sering pada binatang liar dan domba.
Penyakit ini ditandai dengan pembentukan abses menyakitkan di mulut, paru-paru,atau saluran pencernaan.Abses actinomycosis tumbuh lebih besar sebagai penyakit yang berlangsung, sering selama berbulan-bulan. Pada kasus yang parah, mereka mungkin menembus tulang dan otot sekitarnya pada kulit, di mana mereka melanggar jumlah besar terbuka dan kebocoran nanah. Kebocoran bernanah melalui rongga sinus berisi "butiran belerang," sebenarnya tidak mengandung belerang tapi mirip seperti belerang. Butiran ini mengandung bakteri turunan.
aktinomikosis perut dapat mengakibatkan pengangkatan usus buntu. Tiga lokasi yang paling umum dihuni ialah gigi, paru-paru, dan usus. Aktinomikosis tampak menyatu dengan bakteri lain. Infeksi ini bergantung pada bakteri lain (gram positif, gram negatif, dan kokus) untuk membantu penyerangan jaringan.
Pada tahun 1877, ahli patologi Otto Bollinger menggambarkan keberadaan Actinomyces bovis pada sapi, dan tak lama kemudian, James Israel menemukan Actinomyces israelii pada manusia. Pada tahun 1890, Eugen Bostroem mengisolir organisme penyebab penyakit dari budidaya gabah, rumput, dan tanah. Setelah penemuan Bostroem ada kesalahpahaman secara umum bahwa aktinomikosis adalah mikosis bahwa individu yang terkena yang mengunyah rumput atau jerami.
Pemain biola Joseph Joachim meninggal karena actinomycosis.Aktinomikosis cukup jarang terjadi dan infeksinya bersifat lokal pada satu tempat di bagian tubuh. Hal ini dikarenakan bakteri Actinomyces tidak memiliki kemampuan untuk menembus jaringan tubuh. Akan tetapi pada beberapa kasus, bakteri Actinomyces dapat berpindah melalui jaringan tubuh meskipun sangat lambat.
Gejala-gejala aktinomikosis cukup bervariasi tergantung jenis infeksi yang terjadi. Beberapa jenis aktinomikosis yang sudah diidentifikasi adalah:
▪ Aktinomikosis oral servikofasialis. Infeksi aktinomikosis jenis ini terjadi pada
▪ Aktinomikosis torakal. Ini merupakan jenis infeksi aktinomikosis yang terjadi
pada paru-paru atau bagian organ pernapasan lainnya. Sebagian besar infeksi aktinomikosis paru diperkirakan disebabkan oleh terhirupnya percikan ludah atau cairan yang terkontaminasi Actinomyces ke dalam organ pernapasan.
▪ Aktinomikosis abdominal. Infeksi aktinomikosis yang terjadi pada bagian
perut. Penyebab munculnya aktinomikosis abdominal sangat beragam, salah satunya adalah akibat infeksi usus buntu (apendisitis).
▪ Aktinomikosis pelvis. Ini merupakan infeksi aktinomikosis yang terjadi pada
bagian pelvis (daerah panggul). Sebagian penderita infeksi jenis ini adalah wanita akibat penyebaran bakteri dari organ genital menuju pelvis. Aktinomikosis pelvis sering diasosiasikan dengan penggunaan alat konstrasepsi IUD. Terutama jika penggunaannya melebihi batas waktu yang direkomendasikan oleh produsen.
Penyebab Aktinomikosis
Beberapa hal yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena aktinomikosis antara lain adalah:
▪ Usia. Aktinomikosis paling banyak terjadi pada usia 20-60 tahun.
▪ Pria. Aktinomikosis seringkali terjadi pada pria, terkecuali aktinomikosis pelvis
yang cenderung terjadi pada wanita.
▪ Diabetes.
▪ Imunosupresi. Kondisi sistem imun seseorang yang terganggu menyebabkan
lebih mudah terkena aktinomikosis. Misalnya akibat infeksi HIV, menjalani kemoterapi, konsumsi steroid, bifosfonat, transplantasi ginjal, atau transplantasi paru-paru.
▪ Mengonsumsi alkohol.
▪ Mengalami kerusakan jaringan. Misalnya akibat cedera, pembedahan, atau
radioterapi.
▪ Kerusakan gigi atau kebersihan gigi yang tidak dijaga dengan baik.
Daftar Pustaka
Campbell, N.A & J.B Reece.2002.Biology.6th ed.pearson Ed., Inc., Publishing as Benjamin Cummings
Jawetz, Melnick, Adelberg. 2004. Spiroketa & mikroorganisme spiral lainnya Dalam: Mikrobiologi Kedokteran, 23th ed, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. hlm. 338-42.
Koes Irianto. 2014. Bakteriologi Mikologi & Virologi Panduan Medis & Klinis. Penerbit Alfabeta. Bandung
Koes Irianto.2012. Anatomo dan Fisiologi Manusia. Penerbit Alfabeta, Bandung. Koes Irianto.2012. Parasitologi Medis.PenerbitAlfabet,Bandung
Markam, Soemarmo, dkk (Penyunting).2008. Kamus Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Putranto Jokohadikusumo.2012. Glosarium Ilmu Populer. Penerbit Alfabeta, Bandung Sutedjo, AY.2007. Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta: Penerbit Amara Books
Timmreck, T.C. 2005. Epidemiologi, Suatu Pengantar, Ed.2 ( An Introduction to Epidemiology). Penerbit Buku Kedokteran EGC