• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of ANALYSIS OF MINING AREAS COMMODITIES MINE ROCK TYPES BASED ON GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM AT TALANG KELAPA AND RAMBUTAN DISTRICT BANYUASIN REGENCY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "View of ANALYSIS OF MINING AREAS COMMODITIES MINE ROCK TYPES BASED ON GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM AT TALANG KELAPA AND RAMBUTAN DISTRICT BANYUASIN REGENCY"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

54 |

Analisis Wilayah Pertambangan (Yoan Desianda)

ANALISIS WILAYAH PERTAMB ANGAN KOMODITAS TAMBANG GOLONGAN BATUAN BERDASARKAN SISTEM INFORMAS I GEOGRAFIS

DI KECAMATAN TALANG KELAPA DAN KECAMATAN RAMBUTAN KABUPATEN BANYUASIN

ANALYSIS OF MINING AREAS COMMODITIES MINE ROCK TYPES BASED ON GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM

AT TALANG KELAPA AND RAMBUTAN DISTRICT BANYUASIN REGENCY

Yoan Desianda

ABSTRAK

Kegiatan perta mbangan rakyat d i Kabupaten Banyuasin termasuk dala m ke lo mpo k go longan ko moditas ta mbang batuan me liput i bahan galian Tanah Urug, Tanah Liat . Wilayah Perta mbangan Ra kyat (WPR) da la m suatu wilayah me rupakan syarat uta ma untuk penerb itan perizinan. Penetapan WPR o leh pe merintah untuk Kabupaten Banyuasin khususnya dan Provinsi Su matera Selatan Umu mnya be lu m ada sa mpa i saat ini, oto mat is perizinan pertambangan go longan batuan t idak dapat diterb it kan, sehingga dipandang perlu dila kukan penelit ian . Jenis Metode penelit ian deskript if, berdasarkan fakta yang nampak, juga menggunakan pendekatan kualitat if untuk me mpero leh ga mbaran ko mp rehensif wilayah perta mbangan rakyat. Pe ma ka ian data spasial berguna untuk menggambarkan wilayah perta mbangan. Sampe l penelit ian 2 (dua) wilayah keca matan, ya itu Ta lang Kelapa dan Ra mbutan. Teknik pengambilan data me lalu i observasi lapangan, interview dan doku mentasi. Teknik an alisis data spasial secara analisis Buffer untuk ke wilayahan dan analisis Sk alogram untuk me lihat pengaruh perke mbangan wilayah dari adanya kegiatan pena mbangan. Data disajikan dala m bentuk tabel, narasi d an peta untuk interpretasi data. Hasil penelit ian, banyak penambangan rakyat ilegal seperti di Kecamatan Talang Kelapa 8 Ha berizin dan 128,67 Ha ilegal, Kecamatan Rambutan 27,21 Ha berizin dan 317,22 Ha ilegal, lahan bekas tambang tidak d i re kla masi, dekat pemu kiman dan usaha lain, pertambangan rakyat tid ak diako mod ir pada peta pola ruang RTRW Kabupaten, le mahnya pengawasan dari aparatur pe merintah. Dapat disimpulkan bahwa SIG pent ing untuk ident ifikasi, inventaris ir wilayah pertambangan, me mpermudah analisis. Keca matan Ta lang Kelapa sulit untuk d ila kukan pengembangan wilayah, di Keca matan Ra mbutan relat if banyak wilayah potensial, yaitu 9 (se mbilan) b lok dengan luas 211,91 Ha. dengan nila i keekono mian yang akan dipero leh pe me rintah Rp. 83.395.834.661,85,-. Disarankan seyogyanya dilakukan rev isi RTRW dengan melihat kondisi ek sisting dan aturan yang berlaku, peningkatan sumberdaya aparatur terka it pengawasan, pengendalian, penertiban usaha tambang, gunakan SIG serta dibuat program reklamasi untuk meminimalkan lahan krit is.

Kata Kunci : Sistem Informasi Geografis, komoditas tambang golongan batuan, spasial, buffer, sk alogram RTRW.

I. PENDAHULUAN

Mineral dan Batubara yang terkandung dalam wilayah huku m perta mbangan Indonesia merupakan kekayaan ala m tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang me mpunyai peranan penting dala m me menuhi hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, pengelo laannya harus d ikuasai oleh negara untuk me mbe ri n ila i ta mbah secara nyata bagi perekonomian nasio nal dala m usaha mencapai ke ma kmu ran dan kesejahteraan ra kyat secara berkeadilan (Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009).

Kegiatan pertambangan rakyat di Kabupaten Banyuasin termasuk da la m ko mod itas ta mbang golongan batuan meliput i ko mod itas ta mbang Tanah Urug, Tanah Liat dan Pasir Sungai sesuai dengan Pasal 2 ayat 2 huruf (d) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Informasi geografis dala m bentuk yang paling sederhana adalah sebuah informasi yang berkaitan dengan lokasi tata leta k ob jek te rtentu yang selanjutnya diperluas fungsinya sebagai alat bantu

dalam memproses data spasial sehingga menjadi informasi (Cho lid, 2009).

Wilayah Perta mbangan Rakyat (WPR) dala m suatu wilayah merupakan syarat utama untuk penerbitan perizinan. Penetapan WPR o leh pe merintah untuk Kabupaten Banyuasin khususnya dan Provinsi Su matera Se latan Umu mnya, dan dari hasil penelusuran di daerah-daerah lain d i wilayah Indonesia belu m ada sa mpai saat ini, otomat is perizinan perta mbangan ra kyat ko mod itas ta mbang golongan batuan t idak dapat diterb itkan, untuk me mpe rmudah dala m me lakukan analisis ma ka penetapan WPR in i dilaku kan dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Perumusan masalah :

1. Bagaimana menginventarisir dan mendeskripsikan kegiatan usaha pertambangan golongan batuan; 2. Bagaimana kriteria dan analisis wilayah untuk penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR); 3. Bagaimana pengembangan wilayah pertambangan

(2)

55 Dapat mengoptimalkan keberlanjutan pertambangan dan lingkungan.

Tujuan penelit ian sebagai berikut :

1. Menginventarisir dan mendeskripsikan seluruh kegiatan usaha pertambangan go longan batuan; 2. Menentukan kriteria dan melakukan analisis

wilayah untuk penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Kabupaten Banyuasin;

3. Mengembangkan wilayah pertambangan golongan batuan yang diharapkan dapat mengoptimalkan keberlanjutan perta mbangan dan lingkungan.

Hasil diharapkan memberi manfaat tentang pent ingnya penetapan Wilayah Pertambangan Ra kyat di suatu wilayah terhadap keberlan jutan kegiatan usaha pertambangan rakyat terutama di Kabupaten Banyuasin dan Provinsi Su matera Se latan u mu mnya dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis, selain itu juga dapat menjad i masukan untuk pe merintah Kabupten Banyuasin khususnya dan Provinsi Su mate ra Se latan secara u mu m sebagai acuan dalam penerb itan Izin Pe rta mbangan Ra kyat (IPR) serta pe laksanaan pengelo laan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan pendapatan daerah dengan manfaat akhir untuk kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dan berwa wasan lingkungan.

II. METODE PENELITIAN 1. Waktu dan Tempat

Penelit ian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2015 pada 2 (dua) keca matan di Kabupaten Banyuasin, yaitu : Keca matan Ta lang Kelapa dan Kecamatan Rambutan.

Gambar 1. Daerah Penelitian

2. Alat dan Bahan a. Alat

Alat-alat yang digunakan untuk kegiatan lapangan dan pengo lahan data, antara lain : GPS (Globa l Posit ioning Syste m), Ko mputer, progra m aplikasi sistem info rmasi geografis (Progra m MapInfo), Progra m ap likasi Map Source, quesioner, Program Aplikasi Microsoft Excell.

b. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah : Peta Citra Satelit, Foto Udara, Peta Kontur, Peta Geologi, Peta administrasi, Laporan kegiatan usaha pertambangan rakyat, Do ku men izin perta mbangan rakyat, Statist ik daerah penelit ian, dat a lahan bekas

tambang, data pe mukiman, data keg iatan usaha lain di sekita r kegiatan perta mbangan, data lahan potensial

3. Sifat dan Pendekatan Penelitian

Penelit ian yang digunakan bersifat deskriptif, dimana akan diga mbarkan secara mendala m suatu objek pene lit ian berdasarkan fa kta-fa kta yang nampak.

Penelit ian ini juga menggunakan pendekatan kualitat if dengan tujuan untuk me mpero leh ga mbaran yang ko mp rehensif dan mendala m tentang wilayah pertambangan rakyat d i Keca matan Ta lang Kelapa dan Kecamatan Rambutan.

4. Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelit ian ini terdiri dari :

a. Populasi penelit ian adalah blok bukaan tambang rakyat yang ada di Keca matan Ta lang Kelapa dan Keca matan Ra mbutan. Sa mpe l penelit ian adalah blok bukaan ta mbang rakyat untuk Keca matan Ta lang Kelapa, yaitu : blo k bukaan ta mbang d i Kelurahan Air Batu, Ke lurahan Suko moro, Kelurahan Su kajad i dan Desa Sungai Rengit, sedangkan untuk Kecamatan Ra mbutan, ya itu : blok bukaan ta mbang di Desa Sungai Dua, Desa Menten, Desa Sa ko, Desa Geleba k Dala m, Desa Tanjung Merbu dan Desa Ra mbutan. Penetapan Sa mpe l penelit ian secara purposive sa mpling, berdasarkan pert imbangan la manya b lok ditambang.

b. Populasi penelit ian adalah masyarakat yang bermu kim d i sekita r kegiatan ta mbang ra kyat dan jalan yang dilalu i untuk mengangkut hasil produksi di Keca matan Ta lang Ke lapa dan Keca matan Ra mbutan. Sa mpel pene lit ian adalah masyarakat yang terkena dampak a kibat penambangan dan pengangkutan hasil produksi. Penetapan Sampel penelit ian secara purposive sampling, berdasarkan pertimbangan masyarakat yang berada di sekita r penambangan dan pengangkutan hasil produksi adalah yang langsung terkena dampak. Ju mlah responden terpilih yang digunakan sebanyak 10 (sepuluh) orang, sedangkan untuk quesioner tertutup dia mb il sampe l masing-masing 50 (lima puluh) orang tiap kecamatan.

c. Populasi penelit ian adalah semua pelaku usaha tambang rakyat di Keca matan Ta lang Kelapa dan Keca matan Ra mbutan. Sa mpe l penelit ian adalah pelaku usaha yang masih menjalankan usahanya saat dilaku kan penelit ian. Ju mlah responden terpilih yang digunakan sebanyak 8 (delapan) orang ditetapkan secara purposive sampling. d. Populasi penelit ian adalah pegawai Dinas

(3)

56 (delapan) o rang ditetapkan secara purposive sampling.

5. Prosedur Kerja

Langkah-langkan kerja secara garis besar terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu : pengumpulan data, dipero leh dari pengamatan tersebut berupa angka-angka koordinat dari variabel- variabel yang dibutuhkan dalam penelit ian ini yang sudah dijelaskan d i atas untuk dapat di proses dalam sistem informasi geografis. 2. Interview (Wawancara); Berdasarkan pada

pengetahuan dan keyakinan pribadi yang langsung didasarkan pada subjek yang memahami permasalahan, memiliki data dan bersedia me mbe rikan data yang re levan dan program ap likasi siste m in formasi geografis berupa progra m aplikasi MapInfo, sedangkan data lapangan berupa hasil wa wancara d irangku m secara narasi;

c. Analisis data, data yang sifatnya spasial dianalisis dengan analisis Overlay, Analisis Buffer, Analisis kesesuaian lahan dan analisis kesesuaian dengan RTRW kabupaten. Sedangkan data untuk me lihat pengaruh keg iatan perta mbangan terhadap sosial ekonomi dan budaya masyarakat menggunakan analisis Sk alogram.

3 (tiga) pendekatan untuk menjalankan metoda Sk alogram, yaitu :

 Pendekatan ada t ida knya sarana/prasarana yang diukur;

 Memperh itungkan ju mlah da ri sarana/prasarana yang ada serta dengan memperhitungkan bobot dari masing-masing sarana;

Langkah kerja metoda Sk alogram, adalah :  Susun nama-nama wilayah di sisi kiri lembar terlengkap diletakkan di urutan paling atas, sehingga bisa mendekat i bentuk diagonal. Hal in i berguna untuk me mudahkan pe mbacaan dan dala m suatu wilayah dengan bobot yang dipunyai oleh fasilitas tersebut, setelah itu baru diju mlahkan berdasarkan baris dan ko lo m (pendekatan pembo botan);

 Berdasarkan ju mlah kelengkapan fasilitas ini bisa ditentukan wilayah mana yang mempunyai tingkat kekotaan (orde) tert inggi. Penentuan orde ini bisa dilambangkan hanya dengan orde I, II, lahan melalui SIG dan Analisis Skalogram.

a. Analisis Kesesuaian Lahan Pertambangan Rakyat

Analisis ini mengga mbarkan krite ria kesesuaian lahan untuk kegiatan perta mbangan rakyat berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk Keg iatan pertambangan. Gunanya untuk menentukan pengembangan lahan pertambangan rakyat dengan me mbandingkan persyaratan yang berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan kualitas lahan yang dimiliki o leh lahan tersebut. Ketentuan tersebut berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No mor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pada pasal 22 mengatur tentang kriteria untuk menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Pasal 24 d inyatakan bahwa wilayah atau te mpat keg iatan pertambangan rakyat yang sudah dikerjakan tetapi belu m d itetapkan sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR. b. Analisis Kesesuaian Rencana Tata Ruang

Wilayah Kabupaten

(4)

57 dengan peta spasial rencana tata ruang wilayah Kabupaten Banyuasin.

c. Analisis Spasial

Analisa spasial dilaku kan dengan meng-overlay- kan 2 (dua) peta yang ke mudian menghasilkan peta baru hasil ana lisis (Tu man, 2001). Fungsi analisis spasial yang digunakan dalam penelit ian ini seperti analisis tu mp angsusun (overlay) dan analisis buffer.

d. Estimasi Potensi Komodi tas Tambang

Potensi ko moditas tambang akan dihitung secara mate mat is menggunakan metoda Frustum dan nila i ekono mi d ih itung berdasarkan est imasi biaya yang dike luarkan / m3. Be rikut adalah persamaan metoda Frustum :

Dimana :

h = Beda tinggi, m LuasA = Luas Atas, m2 LuasB = Luas Bawah, m2 e. Analisis Skalogram

Menurut Supriyadi dan Brata Kusuma, 2005 bahwa alat analisis sk alogram digunakan untuk mengident ifikasi kota keca matan yang d itetapkan menjad i pusat pertumbuhan ekono mi yang berdasarkan pada ketersediaan fasilit as perkotaan dan peranannya dalam me mbe rikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Diagram Alir

Gambar 2. Bagan Alir Penelitian

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Data Sekunder Daerah Penelitian a. Input Data Sekunder IPR

Hasil inventarisasi data IPR untuk wilayah Kecamatan Talang Kelapa pada periode tahun 2005- 2008 sebanyak 11 (sebelas) izin perta mbangan rakyat , 1 (satu) izin d ija lankan o leh bentuk badan usaha dan 10 (sepuluh) izin lainnya me rupakan bentuk usaha perorangan, dengan luas total 8,00 Ha.

IPR untuk wilayah Keca matan Ra mbutan periode tahun 2005-2011 sebanyak 29 (dua pu luh semb ilan) izin. 4 (e mpat) izin dijalankan o leh bentuk badan usaha dan selebihnya sebanyak 25 (dua puluh lima) izin adalah usaha perorangan, luas total 27,21 Ha. b. Pengambilan Data Citra Satelit

Pengambilan data (download) c it ra satelit menggunakan bantuan aplikasi SASPlanet. Aplikasi SASplanet terdapat kemudahan bahwa peta citra satelit atau peta lainnya dapat disimpan dalam bentuk ekstensi yang diinginkan.

c. Identifikasi Wilayah melalui Citra Satelit Ident ifikasi wilayah kegiatan pertambangan rakyat menggunakan peta Citra Satelit berguna untuk mempermudah penelit i dalam melakukan survey di lapangan. Hasil dari verifikasi lapangan menunjukkan bahwa seluruh t itik sampel ident ifikasi adalah benar merupakan wilayah kegiatan pertambangan rakyat, baik itu lahan yang sudah dit inggalkan maupun masih aktif dilakukan kegiatan penambangan seperti terlihat pada (Gambar 3).

Gambar 3. Lahan Tambang yang ditinggalkan di Desa Sungai Rengit (kiri), Lahan Tambang Aktif (kanan) di Kelurahan Air Batu Kecamatan Talang Kelapa

Gambar 4. Lahan Tambang yang ditinggalkan di Desa Gelebak Dalam (kiri), Lahan Tambang Aktif (kanan) di Desa Sako Kecamatan Rambutan

d. Deliniasi Wilayah Studi

(5)

58 Deliniasi wilayah studi untuk Keca matan Ra mbutan didapat luasan wilayah sebesar 3.461 Ha , mencakup Desa Sungai Dua, Desa Pangkalan Ge lebak, Desaa Gelebak Dala m, Desa Menten, Desa Sako, Desa Tanjung Merbu dan Desa.

2. Pemetaan Sumberdaya Aparatur

Berdasarkan data di dinas pertambangan kabupaten hanya 3 (tiga) orang melaksanakan tugas

Di Keca matan Ta lang Kelapa, a real bukaan

Kabupaten Banyuasin sebanyak 19 (semb ilan belas) kecamatan.

Berdasarkan data dinas pertambangan provinsi hanya 4 (e mpat) orang mela ksanakan tugas pokok dan fungsi inspektur tambang berbanding dengan jumlah kabupaten/kota sebanyak 16 (enam belas). 3. Pemetaan Daerah Penelitian

Pemetaan daerah penelit ian bertujuan untuk menggambarkan keadaan ek sisting yang berada dala m ruang lingkup penelit ian dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (MapInfo). a. Wilayah Izin Pertambangan Rakyat (IPR)

Pemetaan wilayah IPR bertujuan untuk me mast ikan keberadaan izin tersebut terhadap wilayah administrasi desa/kelurahan. Hasil overlay d i Keca matan Talang Kelapa terdapat 6 (ena m) izin Sungai Dua, 1 (satu) izin usaha pertambangan berada di Desa Menten, 4 (e mpat) izin usaha berada di Desa Ge labak Da la m, 13 (t iga be las) izin usaha berada d i Desa Sako, 1 (satu) izin usaha berada di antara wilayah ad min istrasi Desa Gelebak Dala m dan Desa Tanjung Merbu dan 9 (semb ilan) izin usaha berada di Desa Tanjung Merbu. Sum ber : Penelitian dan Pengolahan data 2015

c. Penambangan Tanpa Izin

Pemetaan kegiatan penambangan tanpa izin bertujuan untuk me mberikan penjelasan secara nyata terka it pemberian izin dan ke ma mpuan pengelo laan dari dinas instansi terkait.

Tabel 3. Luas Lahan Berizin terhadap tanpa izin akibat Pertambangan Rakyat Kecamatan Talang Kelapa dan Rambutan

Di Kecamatan Talang Kelapa, Areal bukaan

tambang terdiri dari 12 (dua belas) blok bukaan lahan Kecamatan

Berizin dengan luas keseluruhan 128,67 Hektar sebagaimana

Tabel 1. Sum ber : Penelitian dan Pengolahan data, 2015

T alang Kelapa 8,00 128,67 1 : 16,09 Rambutan 27,21 317,22 1 : 12,22

Jumah 35,21 445,89 Sum ber : Penelitian dan Pengolahan data 2015

Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, antara lain :

1. Keterbatasan aparatur pemerintah kabupaten dalam melakukan pengendalian, pengawasan, dan penert iban terhadap kegiatan ilegal tersebut; 2. Kekeliruan pemerintah daerah dalam membuat

suatu kebijakan;

3. Kurangnya kesadaran pelaku usaha dalam menjalakan usahanya, baik terhadap lingkungan, peraturan dan penambangan yang baik dan benar; 4. Pembiaran aparat hukum yang berwenang

(6)

59 d. Pemukiman

Banyuasin Dalam Angka (BDA) 2015 menunjukkan penduduk Kabupaten Banyuasin tahun 2013 berjumlah 788.286 jiwa, sedangkan jumlah penduduk pada tahun 2014 799.998 jiwa. Penduduk pada lokasi penelit ian di Kecamatan Talang Kelapa tahun 2014 berjumlah 131.387 jiwa dan penduduk pada lokasi penelit ian di Kecamatan Rambutan tahun 2014 berjumlah 42.696 jiwa.

e. Kegiatan Usaha di Luar Kegiatan Pertambangan di Lokasi Batasan Penelitian Di Kecamatan Talang Kelapa, meliputi 5 (lima) macam kegiatan usaha yaitu berupa ko lam ikan air tawar, peternakan ayam, kebun kelapa sawit, kebun karet dan kegiatan usaha lain.

Di Kecamatan Rambutan meliput i 5 (lima) macam kegiatan usaha yaitu berupa ko lam ikan air tawar, peternakan ayam, kebun kelapa sawit, kebun karet dan persawahan.

4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupate n Banyuasin

Berdasarkan dig itasi peta RTRW untuk rencana pola ruang wilayah Kabupaten Banyuasin pada daerah penelit ian diperoleh peruntukan pola ruang wilayah untuk daerah dalam batasan kawasan penelit ian di Kecamatan Talang Kelapa berupa areal pemukiman perkotaan, areal pemukiman pedesaan dan areal perkebunan karet. Sedangkan po la ruang wilayah untuk daerah dalam batasan kawasan penelit ian di Kecamatan Rambutan diperuntukkan berupa areal persawahan, areal perkebunan kelapa sawit, areal peternakan, areal pemukiman pedesaan dan areal perkebunan karet.

Hasil dig itasi tersebut di atas, untuk wilayah pertambangan rakyat pada kedua daerah penelit ian tidak tera ko mod ir da la m peta pola ruang dala m Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin, padahal kondisi eksist ing kedua daerah penelit ian tersebut adalah lokasi penambangan rakyat.

5. Sarana/Fasilitas Umum

Analisis Skalogram menggunakan sarana/fasilitas umum sebagai objek dan desa/kelurahan sebagai subjek dalam penelit ian untuk tiap-tiap kecamatan. Objek yang digunakan adalah : Fasilitas Pendidikan; menggunakan 12 (dua belas) subjek Desa/Kelurahan, yaitu Sukajadi, Kenten, Sukomoro, Air Batu, Tanah Mas, Talang Keramat, Gasing, Talang Buluh, Kenten Laut, Sungai Rengit , Sungai Rengit Murni dan, Pangkalan Benteng, sedangkan obje k yang digunakan sebanyak 25 (dua puluh lima), yaitu :

 Fasilitas Pendid ikan (PAUD, TK, Permanen, Mini Market, Toko Kelontong);  Fasilitas Pendukung (Kantor Pos, Restoran, Kedai

Makanan, Hotel, Penginapan). b. Kecamatan Rambutan

Di wilayah Kecamatan Rambutan menggunakan 19 (se mbilan belas) subjek Desa/Ke lurahan, ya itu Sungai Pinang, Sungai Kedukan, Ra mbutan, Sungai Dua, Sa ko, Tan jung Kerang, Tanjung Merbu,

Permanen, Mini Market, Toko Kelontong);  Fasilitas Pendukung (Kedai Makan).

6. Analisis Kesesuaian Lahan Ber dasarkan Kri teria Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat

(7)

60 pengembangan kawasan budidaya untuk pengembangan kawasan pertambangan rakyat golongan batuan t idak terako mod ir dala m suatu peta pe manfaatan ruang dala m Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten tahun 2012-2032.

a. Wilayah Penelitian Kecamatan Talang Kelapa Overlay peta po la ruang RTRW Kabupaten Banyuasin terhadap lahan bekas pertambangan golongan batuan ek sisting dalam wilayah batasan kawasan penelit ian di Kecamatan Talang Kelapa dengan luasan 724,5 Hektar, didapat 128,67 Hektar atau sekitar (17,8%) luas lahan bukaan ek sisting

pertambangan, persentase dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Luas Lahan Bukaan Eksist ing terhadap Pola Ruang RTRW Kabupaten

Analisis overlay atau sering disebut tumpangsusun merupakan ana lisis yang menghasilkan data spasial baru dari min ima l dua data spasial yang menjadi masukannya dan overlay peta merupakan proses dua peta temat ik dengan area l yang sama dan menghamparkan satu dengan yang lain untuk membentuk satu layer peta baru.

Analisis Buffer merupakan analisis yang dapat menghasilkan peta spasial baru yang berbentuk poligon atau zona dengan jarak tertentu dari peta spasial yang menjadi masukannya.

a. Wilayah Penelitian Kecamatan Talang Kelapa Berdasarkan hasil pengo lahan data wilayah pe mukiman me rupakan area l yang relatif sulit untuk dilaku kan re lokas i, sedangkan kawasan ternak aya m dan ternak ikan merupakan areal yang relat if rendah dan t idak potensial untuk dilakukan penambangan.

Uraian

Hasil analisis buffer dapat dilihat pada (Gambar 5). Berdasarkan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku, di wilayah penelit ian Kecamatan Talang Kelapa t idak dapat dibuat suatu Wilayah Lahan Bukaan Eksisting 128,67

b. Wilayah Penelitian Kecamatan Rambutan

Overlay peta pola ruang RTRW Kabupaten Banyuasin terhadap lahan bekas pertambangan golongan batuan ek sisting dalam wilayah batasan kawasan penelit ian di Keca matan Ra mbutan dengan luasan 3.461 He ktar, d idapat se luas 317,22 He ktar atau sekitar (9,2% ) lahan bukaan ek sisting pertambangan, persentase dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 4.5. Distribusi Luas Lahan Bukaan Eksist ing terhadap Pola Ruang RTRW Kabupaten

Pertambangan Rakyat (WPR), karena tidak ada zona memenuhi ktriteria dalam peraturan

Gambar 5. Peta Hasil Analisis Buffer Wilayah Penelitian Kecamatan Talang Kelapa

b. Wilayah Penelitian Kecamatan Rambutan Hasil analisis buffer dapat dilihat gambar berikut :

Uraian spasial seperti analisis tumpangsusun (overlay) dan analisis buffer.

(8)

61 merupakan peta yang dapat d ireko mendasikan sebagai wilayah-wilayah yang relat if potensial dan dapat dijadikan sebagai Wilayah Perta mbangan Ra kyat (WPR) sesuai amanat peraturan perundangan, sebagaimana dapat dilihat pada (Ga mbar 7) dan Tabel 6. menjelaskan lokasi dan luas lahan tersebut.

Selanjutnya, untuk wilayah bekas bukaan tambang dan atau wilayah eksist ing penambangan yang masuk dala m zona pemu kiman dan zona kegiatan usaha lain menjadi suatu pertimbangan

10. Analisis Skalogram

Analisis Skalogram dipergunakan untuk menganalisis pusat-pusat permukiman, khususnya hirarki atau orde-orde pusat pertumbuhan. Analisis digunakan dengan mendasarkan kepada jumlah unit dan jenis fasilitas umum yang ada. Hasil dari orde tertinggi sampai ke orde terendah dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Analisis Skalogram di Kecamatan untuk tidak dilakukan kegiatan penambangan. Hal ini Talang Kelapa

untuk mencegah terjadinya resiko penambangan.

Gambar 6. Peta Wilayah Potensial Komoditas Tambang

Golongan Batuan di Kecamatan Rambutan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 keberadaan kegiatan perta mbangan rakyat tidak dominan me mpengaruhi pusat pertumbuhan, tetapi terdapat beberapa ko mponen la in yang me mpengaruhi, seperti keg iatan ekono mi, leta k suatu daerah terhadap jalan utama dan daerah yang

Untuk wilayah Kecamatan Rambutan dengan B Desa Pangkalan Gelebak 24,50

hasil yang didapat dari orde tertinggi sampai ke orde terendah dapat dilihat pada Tabel 8.

(9)

62 Berdasarkan tabel d i atas, dapat dilihat bahwa keberadaan kegiatan perta mbangan rakyat tidak do minan me mpengaruhi pusat pertumbuhan, tetapi terdapat beberapa ko mponen la in yang me mpengaruhinya, seperti kegiatan ekono mi, leta k suatu daerah terhadap jalan utama, leta k suatu daerah berbatasan dengan ibukota provinsi.

11. Persepsi Masyarakat terhadap Kegiatan Usaha Pertambangan Rakyat

Sampel acak diambil dari 3 (tiga) kalangan kepent ingan yang terkait dalam kegiatan usaha pertambangan rakyat di Keca matan Ta lang Ke lapa dan Kecamatan Rambutan tempat penelit ian dilakukan. Kelo mpok kepent ingan tersebut, yait u : kalangan pemerintah, kalangan pelaku usaha dan kalangan masyarakat.

Dari beberapa pendapat diatas, untuk kegiatan usaha pertambangan rakyat di Kabupaten Banyuasin khususnya dan Provinsi Su matera Se latan u mu mnya, segera me lakukan penataan barbagai aspek, seperti admin istrasi (yaitu : pe mbuatan peraturan perundangan terka it rekla masi lahan, peraturan terka it perizinan perta mbangan bahan galian golongan batuan), tekn is (sepert i: pe mbinaan dan pengawasan kegiatan pertambangan) dan lingkungan (seperti: pengawasan pelaksanaan peraturan lingkungan hidup), guna keberlan jutan usaha untuk meminima lkan resiko.

12. Trend Persepsi Masyarakat

Hasil quesio ner tertutup yang diajukan ke responden di Kecamatan Talang Kelapa disajikan pada gambar 7.

Ga mbar 7. Gra fik Responden Masyarakat Sekita r Lo kasi dan Jalur Transportasi di Kecamatan Talang Kelapa

Berdasarkan grafik d i atas dapat dilihat keberadaan kegiatan perta mbangan di Keca matan Ta lang Ke lapa cukup mendapat dukungan masyarakat sekita r, na mun masyarakat ingin sarana jalan yang dila lui a rmada pengangkut hasil produksi dilaku kan pera watan dan penyira man. Masyarakat juga sangat berharap kepada aparat peme rintah untuk me laku kan pe mbinaan dan pengawasan terhadap keg iatan tersebut agar keg iatan penambangan dilaku kan secara baik dan benar, mela kukan rekla masi pasca ta mbang dan me laku kan penataan wilayah perta mbangan, sehingga kegiatan penambangan dapat terus berlanjut tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

Keberlanjutan kegiatan penambangan di Keca matan Talang Kelapa in i t idak didukung dengan kondisi wilayah sekita r pena mbangan yang sudah terlalu dekat dengan pemukiman, yang sebaiknya merupakan lokasi reklamasi.

Ga mbar 8. Grafik Responden Masyarakat Se kitar Lo kasi dan Jalur Transportasi di Kecamatan Rambutan

Berdasarkan grafik d i atas dapat dilihat masyarakat mendukung keberadaan kegiatan penambangan di Keca matan Ra mbutan, masyarakat sangat berharap kepada aparat pe merintah untuk me laku kan pe mbinaan dan pengawasan terhadap keg iatan tersebut agar keg iatan penambangan dilaku kan secara baik dan benar, melaku kan rekla masi pasca ta mbang dan me laku kan penataan wilayah perta mbangan, sehingga kegiatan penambangan dapat terus berlanjut tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

(10)

63 Pendapatan perkap ita untuk mengetahui la ju pertumbuhan penduduk Kabupaten Banyuasin meningkat dari tahun ke tahun, yaitu : sebesar Rp. 14.231.275,- pada tahun 2011, meningkat menjad i Rp. 15.231.727,- pada tahun 2012, meningkat lagi sebesar Rp.16.232.352,- pada tahun 2013 dan meningkat menjadi Rp. 17.013.606,- pada tahun 2014 atau mengalami kenaikan rata-rata sekitar 5,774% per tahun.(BDA,2015).

13. Dampak Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat

Beberapa hal te rka it da mpa k sosial dan budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penambangan rakyat dari hasil penga matan lapangan, atara lain :

1. Tidak terlihat secara signifikan untuk warga sekitar terkait keberadaan kegiatan penambangan rakyat;

2. Memberikan peningkatan pendapatan khususnya bagi pedagang manisan;

3. Memberikan pendapatan yang lebih, bagi pemilik tanah yang tanahnya dijadikan sebagai te mpat kegiatan usaha penambangan;

14. Dampak Lingkungan dari Penggunaan Lahan

Dari hasil pengamatan lapangan terka it da mpak lingkungan dari penggunaan lahan untuk kegiatan usaha penambangan rakyat, terdapat beberapa hal, sebagai berikut :

1. Areal bekas penambangan menjadi krit is, karena tidak dilakukan pengelo laan terhadap lingkungan bekas kegiatan penambangan tersebut;

2. Penurunan muka air tanah pada sumur-sumur warga disekitar lo kasi kegiatan usaha penambangan;

3. Terbentuknya polusi udara di pemukiman warga di sekitar lo kasi penambangan, karena kegiatan tersebut terlalu dekat dengan pemukiman;

15. Saran Regulasi

Kondisi yang ditemukan di lapangan dan hasil pengo lahan data terkait peraturan perundangan terdapat beberapa hal sebagai berikut :

1. Laku kan penetapan wilayah pertambangan ra kyat (WPR) sebagai dasar untuk keberlanjutan kegiatan pertambangan rakyat;

2. Perjelas aturan pelaksanaan yang mewajibkan pelaku usaha untuk me matuhi ketentuan baik secara administrasi, teknis operasional dan pengelo laan lingkungan akibat keg iatan penambangan rakyat;

3. Buat aturan terka it re kla masi lahan krit is yang sudah cukup luas, a kibat keg iatan perta mbangan tersebut,untuk me min ima lisir da mpak lingkungan.

IV. KESIMPULAN

1. Keg iatan usaha pertambangan go lo ngan batuan dengan ko mod itas ta mbang tanah liat dan tanah urug di Keca matan Ta lang Kelapa tersebar d i 3 (tiga) ke lurahan dan 1 (satu) desa, yaitu : Ke lurahan Air Batu, Suko mo ro, Suka jad i dan Desa Sungai Reng it,

terdapat sebanyak 12 (dua belas) blo k bukaan dengan luas 128,67 Hektar berbanding dengan 8,00 Hektar izin yang dikeluarkan Pe me rintah Kabupaten, sedangkan di Keca matan Ra mbutan tersebar di 5 (lima) desa, yaitu : Desa Sungai Dua, Menten, Ge labak Da la m, Sa ko dan Tanjung Merbu, te rapat sebanyak 22 (dua puluh dua) blok bukaan dengan luas 317,22 He ktar berbanding dengan 27,21 Hektar izin yang dike luarkan Pe me rintah Kabupaten Banyuasin. Kedua Kecamatan tersebut merupakan daerah tambang rakyat dimulai sejak tahun 1985; 2. Kriteria penetapan wilayah pertambanga n rakyat berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No mor 4 Tahun 2009 tentang Perta mbangan Mineral dan Batubara Pasal 22 dan Pasal 24. Wilayah Keca matan Talang Kelapa re latif sulit untuk dila kukan pengembangan karena sudah padatnya pemukiman penduduk dibagian Timur, Se latan dan Barat daerah penelit ian, dan bagian Uta ra dengan topografi relat if rendah banyak terdapat lokasi peternakan ayam dan ikan.

Pengembangan wilayah di Kecamatan Rambutan masih cukup te rsedia luas, dengan potensi sumberdaya relat if besar dan jauh dari pe mu kiman, sedangkan kegiatan usaha pertambangan di Keca matan Talang Ke lapa dan Kecamatan Ra mbutan bukan me rupakan fa ktor penentu pertumbuhan ekonomi masyarakat;

3.

Penge mbangan wilayah perta mbangan

komoditas tambang go longan batuan sebaiknya t idak dilaku kan di wilayah Keca matan Ta lang Kelapa, namun diarahkan pada perencanaan program rakla masi. Penge mbangan kegiatan penambangan di wilayah Kecamatan Rambutan masih cukup tersedia dengan luasan 211,91 He ktar dan/atau volu me lose sekitar 22.238.889,24 m3 yang terbagi dalam 9 (sembilan) b lok yang tersebar di 4 (e mpat) desa, yaitu : Desa Pangkalan Ge lebak, Desa Sako, Desa Ge lebak Dala m dan Desa Tan jung Merbu, dengan potensi nilai retribusi mencapai Rp.83.395.834.661,85,-, apabila wilayah pertambangan rakyat ditetapkan;

4.

Sebaiknya dila kukan revisi te rhadap

Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten yang dihubungkan dengan pasal 22 huruf (f) Undang-Undang Nomor 4

Tahun 2009;

(11)

64 6. Pa ra sumberdaya aparatur (pegawa i) pe rlu meningkat kan ke ma mpuan baik aspek ad ministrasi, teknis maupun aspek lingkungan dalam me laku kan pengawasan, pengendalian dan penertiban terka it bidang pertambangan;

7. Instansi terka it sebagai satuan kerja perangkat dinas yang berwenang dala m kegiatan usaha pertambangan sepatutnya menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis, agar selalu dapat me mo n itor penggunaan lahan tambang dan dihubungkan dengan lingkungan yang ada di sekitar kegiatan penambangan;

8. Pemerintah daerah seyogyanya segera membuat program re kla masi lahan bekas pena mbangan yang realist is untuk me min ima lkan lahan krit is di Kelurahan Su kajadi, Kelu rahan Suko mo ro dan Kelurahan Air Batu Keca matan Talang Kelapa dan Desa Tanjung Merbu, Desa Sako dan Desa Ge lebak Dalam Kecamatan Rambutan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2002, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2002 tentang Pembentuk an Kabupaten Banyuasin di Provinsi Sumatera Selatan, Jakarta.

Anonim, 2003, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1603K/40/MEM/2003 tentang Pedoman Pencadangan Wilayah Pertambangan, Jakarta.

Anonim, 2007, Peraturan Menteri Pek erjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 tentang Pedoman Kriteria Tak nis Kawasan Budi Daya, Jakarta.

Anonim, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Jakarta.

Anonim, 2010, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan, Jakarta.

Anonim, 2010, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelak sanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, Jakarta.

Anonim, 2010, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2010 tentang Rek lamasi dan Pascatambang, Jakarta.

Anonim, 2012, Peraturan Daerah Kabupaten Banyuasin Nomor 28 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin Tahun 2012-2032, Banyuasin.

Anonim, 2013, Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2013 tentang Pengawasan terhadap Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan yang dilak sanakan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, Jakarta.

Anonim, 2013, Banyuasin Dalam Angk a 2012, Badan Pusat Statist ik, Banyuasin.

Anonim, 2014, Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2014 tentang Pelak sanaan Rek lamasi dan Pascatambang pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, Jakarta.

Anonim, 2014, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Jakarta.

Anonim, 2015, Banyuasin Dalam Angk a 2014, Badan Pusat Statist ik, Banyuasin.

Barlowe, R., 1986, Land Resource Economics, The Econo mics o f Rea l Estate. Prentice -Ha ll Inc. New York, 653 p.

Badan Pe rencanaan Pe mbangunan Daerah dan Penanaman Modal, 2011, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuasin 2012-2032, Sumatera Selatan.

Badan Perencanaan Pe mbangunan Daerah, 2013, Tutorial Arcgis10 Tingk at Dasar, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Cryst iana. Indah, Susanto. Tri Muji, 2013, Pemanfaatan Citra Ik onos untuk Mengkaji Permasalahan Sosial pada Pengembangan Lapangan Tua, Lemigas, Jakarta.

Dewi Handayani., Soe lit ijad i., Sunardi, 2005, Pemanfaatan Analisis Spasial untuk Pengolahan Data Spasial Sistem Informasi Geografis, Jurnal Tek nologi Informasi Dinamik, Volume X, Semarang.

(12)

65 Edy Prahasta, 2009, Sistem In formasi Geografis :

Konsep-Konsep Dasar (Perspek tif Geodesi & Geomatik a), C.V. Informat ika, Bandung.

Gandasasmita K, 2001, Analisis Penggunaan Lahan Sawah dan Tegalan di Daerah Aliran Sungai Cimanuk Hulu Ja wa Barat. (Disertasi), t idak dipublikasi. Se ko lah Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Harmawan K, 2007, Praktek Pertambangan yang Baik dan Benar.

Masri. Suandi, Sutriyo no, 2012, Kajian Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Kabupaten Bengk ulu Selatan, Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Najib, Junaedi, 2009, Ka jian Kelayakan Kegiatan Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali, Surabaya.

Nur Mansyah, 2013, Studi Tentang Dampak Pertambangan Batubara Bagi Kehidupan Sosial Ek onomi Masyarak at di Kelurahan Jawa Kecamatan Sangasanga, eJournal Admin istrasi Negara Fisip Univers itas Mulawarman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Restu Juniah, 2013, Model Keberlanjutan Lingk ungan Pertambangan Batubara (Kajian nilai jasa lingkungan, air void Tambang untuk air bak u di PT Buk it Asam, Tbk Tanjung Enim Sumatera Selatan, Ringkasan Disertasi, Univers itas Indonesia, Jakarta.

Gambar

Gambar 1. Daerah Penelitian
Gambar 3.    Lahan  Tambang  yang ditinggalkan di Desa Sungai
Tabel 2.    Lokasi dan Luas Lahan Bekas Tambang Rakyat  per  Oktober  2015  di  Kecamatan               Rambutan Kabupaten Banyuasin
Gambar 5.    Peta   Hasil   Analisis   Buffer   Wilayah   Penelitian
+3

Referensi

Dokumen terkait