• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Dunia Muslim terhadap Perkembanga (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Respon Dunia Muslim terhadap Perkembanga (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Respon Dunia Muslim terhadap Perkembangan Terakhir di

Timur Tengah

Diajukan sebagai Syarat untuk Memperoleh Nilai Formatif Mata Kuliah Politik Islam Global

Disusun oleh:

Acep Saepudin (11141130000001)

Adinda Nasution (11141130000011)

Amelia Khairunnisaa (11141130000012)

Darma Yunita (11141130000025)

Delonic Rined Regiaravin (111411300000)

Nur Aliyah (11141130000020)

Putri Larasati (11141130000043)

Dosen Pengampu:

Eva Mushoffa, MHSPS.

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Timur Tengah menjadi suatu kawasan yang sering dilanda konflik dan selalu menjadi perhatian dunia. Bahkan konflik antara Palestina dan Israel hingga saat ini belum menemukan jalan keluar ataupun sebuah resolusi damai. Lalu pada tahun 2010, dunia mulai memusatkan kembali perhatiannya pada masalah yang melanda banyak negara di Timur Tengah yaitu Arab Spring.

Arab Spring yang muncul pada 2010 di Tunisia menyebar begitu cepat hingga mempengaruhi banyak negara-negara di Timur Tengah. Kekacauan akibat dari Arab Spring pastinya memberikan dampak bagi dunia dan khususnya dunia Islam. Aksi protes dan penuntutan untuk diterapkannya demokrasi dari sebelumnya otoriter membuat perubahan bagi sistem politik beberapa negara di Timur Tengah yang dilanda Arab Spring. Selain itu, Arab Spring juga memberikan dinamika akan hubungan bagi negara-negara Muslim.

Munculnya kekacauan akibat Arab Spring menimbulkan respon bagi negara-negara teluk yang tergabung di Gulf Cooperation Council (GCC), serta negara-negara lain seperti Iran, Turki, Indonesia, Brazil, India, dan Afrika Selatan. Respon dari negara-negara tersebut sangatlah beragam dan terkadang cukup kontroversial serta berstandar ganda.

Dinamika dan berbagai macam masalah yang terjadi di Timur Tengah dari konflik Israel dan Palestina hingga fenomena Arab Spring membuat penulis tertarik untuk menulis makalah ini. Tulisan ini akan merangkum masalah yang terjadi dari konflik Palestina-Israel dan masalah Arab Spring serta hubungannya bagi keadaan di dunia Islam dan negara-negara lainnya dikaji dengan perspektif konstruktivisme dan liberalisme.

2. Pertanyaan Masalah

(3)

BAB II

ISI

1. Dinamika Konflik Internasional di Palestina

Pada tahun 1948, Gaza dikuasai oleh Mesir, sedangkan Tepi Barat dikuasai oleh Jordan, dan yang mendiami kedua wilayah tersebut adalah warga Palestina.1 Pada tanggal 14 Mei 1948, kaum Zionis dari bangsa Eropa dan Yahudi mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Sehari setelah pendeklarasian tersebut, negara Arab seperti Mesir, Irak, Lebanon, Suriah, dan Palestina menyerbu negara Israel. Ini adalah awal konflik Israel-Palestina yang kemudian dimenangkan oleh Israel.2

Pada tahun 1947-1949, pasukan Arab masuk dalam konflik ini setelah adanya pembantaian yang dilakukan Israel di Deir Yassin, yang korbannya adalah anak-anak, perempuan dan laki-laki. Pada akhirnya, Israel memperoleh 78 persen wilayah Palestina yang menyebabkan tiga-perempat juta warga Palestina mengungsi dan penghapusan hal-hal yang berkaitan dengan Palestina dengan digantikan oleh nama-nama Ibrani.3

Perang yang terjadi antara Palestina dan Israel adalah perebutan otoritas tanah yang keduanya mengklaim atas tanah tersebut. Perang yang terjadi pada tahun 1967 disebut dengan Perang Enam Hari antara Israel dengan negara Arab yaitu: Mesir, Yordania, dan Suriah. Konflik ini semakin meluas hingga keterlibatan Bangsa Arab dan faktor pemicu konflik yaitu persoalan antara agama Islam dan Yahudi.4 Israel merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah Arab di Yerusalem Timur dalam perang tahun 1967 dan secara sepihak mencaplok Jerusalem Timur setelahnya.5

1 BBC, Guide: Why are Israel and the Palestinians Fighting over Gaza?,

http://www.bbc.co.uk/newsround/20436092, 2015.

2 Moh Hamli, Konflik Israel-Palestina: Kajian Historis atas Kasus Perebutan Tanah antara Israel

(4)

Pada tahun 1993, diadakan kesepakatan damai Oslo yang menyatakan bahwa tanah tersebut merupakan tanah Palestina. Tetapi semakin banyaknya tanah yang direbut oleh Israel membuat Palestina melakukan pemberontakan yang disebut dengan “Intifada” yang dimulai pada akhir September 2000.6

Pada tahun 2005, Israel menarik pasukannya dari Gaza. Tetapi Hamas muncul sebagai pemenang dari Pemilu dan berusaha mengendalikan situasi di sana. Hamas menginginkan wilayah Palestina kembali ke tangan Israel. Kemudian Israel melakukan blokade di jalur masuk dan keluar perbatasan.7 Lalu dilancarkanlah serangan yang beranama “Operation Cast Lead” yang berjalan hingga sebulan penuh.8

Total korban kematian dari tahun 1987-2011 atas konflik Israel dengan Palestina ini menewaskan 7978 orang dewasa dan 1620 anak di bawah umur 18 tahun yang merupakan warga Palestina. Serta menewaskan warga Israel sebanyak 1503 orang dewasa dan 142 anak di bawah umur 18 tahun.9

2. Konstruktivisme dalam Melihat Konflik Palestina-Israel

Ide utama dalam konstruktivisme terletak pada elemen penting dari politik internasional yang merupakan produk dari keadaan sosial dan proses sejarah. Ketika dalam situasi tertentu, keputusan yang dikeluarkan oleh aktor bertentangan dengan rasionalitas konvensional, konstruktivisme memainkan peranan penting dalam menentukan kepentingan melalui norma-norma dan identitas dari kelompok etnis tertentu di dalam suatu negara.10 Oleh sebab itu, norma-norma dan identitas tersebut akan membentuk dan menentukan perilaku negara di dalam sistem internasional, karena aktor akan cenderung berperilaku sesuai dengan norma yang disepakati bersama.

Dalam konteks konflik yang terjadi di Palestina, konstruktivisme melihat bahwa konflik tersebut merupakan konflik identitas dan agama yang dibangun

6A Synopsis of the Israel/Palestine Conflict, http://www.ifamericansknew.org/history/. 7 BBC, Loc. Cit.

8 Awal Mula Gejolak Konflik Israel-Palestina,

http://global.liputan6.com/read/2078375/awal-mula-gejolak-konflik-israel-palestina, 2014.

9 Moh Hamli, Loc. Cit.

10 Jackson & Sorensen, Introduction to International Relations, Oxford University Press, London,

(5)

atas perbedaan sejarah, norma, dan keyakinan. Perbedaan norma agama yang dipegang oleh Israel dan Palestina melahirkan identitas keagamaan yang berbeda pula, sehingga akan mempengaruhi kepentingan masing-masing negara yang akan mempengaruhi perilaku atau tindakan aktor. Menurut Campbell, munculnya suatu ancaman disebabkan oleh diskriminasi dari masyarakat yang mengintimidasi masyarakat lainnya, sehingga menciptakan batas antara masyarakat.11 Hal tersebut tampaknya sesuai dengan awal mula konflik yang terjadi di Palestina di mana pencaplokan wilayah yang dilakukan oleh Israel yang dibantu oleh sekutunya Amerika Serikat dilakukan untuk mengintimidasi Palestina melalui serangan udara maupun darat.

Persoalan identitas sosial yang dikandung oleh konstruktivisme memainkan peran penting dalam konflik Israel-Palestina.12 Identitas sosial yang berbeda diantara Israel dan Palestina merupakan hasil dari konstruksi sosial yang melahirkan kepentingan dari kedua pihak sehingga segala kebijakan yang dibuat oleh aktor akan dipengaruhi oleh identitas sosial yang berbeda tersebut. Kepentingan-kepentingan yang dilahirkan melalui proses konstruksi sosial membuat Israel berperilaku agresif ke Palestina agar bisa mencapai keinginannya untuk memperluas wilayah Israel. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan norma, identitas, kepentingan, dan perilaku aktor dapat dilihat jelas dalam konflik Israel-Palestina.

3. Respon Gulf Cooperation Council (GCC) terhadap Arab Spring

Revolusi besar-besaran yang terjadi beberapa tahun belakangan pada negara-negara Timur Tengah merupakan peristiwa yang disebut sebagai Arab Spring ataupun dalam bahasa Arab disebut sebagai al-Thawrat al-Arabiyyah. Hal ini merupakan serangkaian peristiwa besar dari gelombang revolusi, demonstrasi, dan protes yang pemicunya dimulai pada 18 Desember 2010 di Tunisia. Dalam peristiwa ini beberapa penguasa diktator mendapatkan protes dan dipaksa untuk menggulingkan jabatannya seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya.

11 Campbell D., Writing Security: United States Foreign Policy and the Politics of Identity,

University of Minnesota Press, Minneapolis, 1998.

12.Muyo Harve, Understanding of the Neorealist, Constructionist and Relative Deprivation

(6)

Bahrain dan Suriah juga tidak terlepas dari serangkaian peristiwa ini yang mana muncul aksi pemberontakan oleh sipil. Di Irak, Yordania, Kuwait, Maroko, dan Sudan juga banyak bermunculan aksi protes dalam skala besar. Sedangkan di Arab Saudi dan Oman aksi protes juga terjadi tetapi dalam skala yang relatif kecil.13

Bergejolaknya serangkaian peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran negara-negara teluk yang tergabung dalam koalisi yang disebut sebagai Gulf Cooperation Council (GCC). Hal ini karena, ada beberapa negara yang tergabung dalam GCC juga menjadi bagian dari peristiwa Arab Spring tersebut. Sehingga GCC yang terdiri dari Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab merasa perlu berperan dalam menangani Arab Spring agar kekacauan tersebut tidak menyebar luas ke negara mereka sendiri. GCC sendiri dibentuk dengan memiliki tujuan yaitu menyatukan kebijakan-kebijakan sektor ekonomi, pertahanan, dan luar negeri di kalangan anggotanya guna mewujudkan stabilitas kawasan Teluk.14

Sebagai respon atas kekacauan Arab Spring, GCC melakukan tindakan dengan memberikan bantuan kepada negara anggotanya yang dilanda kekacauan tersebut seperti Bahrain dan Oman. Kedua negara tersebut mendapatkan bantuan sebesar 20 juta dollar dari negara-negara sekoalisinya di GCC. Arab Saudi bahkan memberikan investasi sebesar 130 juta dollar untuk menciptakan lapangan kerja, pembangunan tempat tinggal, serta tunjangan untuk para pengangguran.15

Selain memberikan bantuan secara ekonomi, GCC juga melakukan cara lain dalam mengatasi Arab Spring yang terjadi di Bahrain, yaitu dengan melakukan intervensi militer. GCC menerima perintah dari Manama (Ibu Kota Bahrain) untuk meredam aksi protes yang terjadi di seluruh Bahrain. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar bergabung mengirim angkatan militer mereka untuk melakukan intervensi militer di Bahrain.16

Sedangkan di Oman, GCC tidak sampai melakukan tindakan intervensi militer dikarenakan Oman mampu dengan baik mengelola tuntutan reformis dan

(7)

protes demonstran. Kekacauan Arab Spring yang terjadi di Oman juga tidak berlangsung terlalu lama yakni awal muncul pada bulan Januari dan berangsung-angsur berhenti pada bulan Mei dengan upaya pemerintah Oman berupa penciptaan lapangan kerja, pengubahan sepertiga dari anggota Dewan Menteri, penaikan upah minimum, menjanjikan untuk melakukan pemilihan pada Oktober 2011, menjanjikan untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan pengangguran dan korupsi, dan memutuskan untuk membentuk sebuah komite konstitusional bertugas mengawasi perluasan kekuasaan legislatif dan administratif Dewan Syura Omani yang terdiri dari 84 anggota.17

4. Respon Iran terhadap Arab Spring

Sebelumnya banyak pengamat yang mengira bahwa Iran akan bersikap pasif dengan peristiwa Arab Spring tersebut. Namun mengingat bahwa Iran pernah mengalami protes serupa pada tahun 2009, maka Iran pun merespon Arab Spring dengan cukup aktif. Sayangnya, respon Iran terhadap Arab Spring

merepresentasikan dualitas yang terdapat dalam tubuh Iran sendiri.18

Di dalam negara Iran terdapat kelompok pemerintah, kelompok oposisi yang konservatif, dan kelompok oposisi yang reformis. Pemerintah dan kelompok konservatif Iran memandang Arab Spring sebagai suatu perluasan alamiah dari revolusi Iran pada 1979. Saat itu, Iran berevolusi dari negara monarki di bawah kepemimpinan Reza Pahlevi menjadi negara republik yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Mereka juga beranggapan bahwa Arab Spring ialah sebuah pergolakan yang tidak bisa dilepaskan dari motif ideologi dan agama. Mereka mempercayai bahwa Arab Spring merupakan langkah awal negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara untuk melepaskan diri dari pengaruh Amerika Serikat.19

17 Abdulkhaleq Abdullah, Repercussions of the Arab Spring on GCC States, Arab Center for

Research and Policy Studies, http://english.dohainstitute.org/file/get/5b1fafdb-19d4-4946-a18e-f3115c6fd0aa.pdf.

18 Kayhan Barzegar, Iran's Interests and Values and the Arab Spring,

http://belfercenter.ksg.harvard.edu/publication/20954/Irans_interests_and_values_and_the_arab_sp ring.html.

19 N.R. Keddie, Arab and Iranian Revolts 1979 2011: Influences or Similar Causes?,

(8)

Di samping itu, kelompok reformis di Iran memandang Arab Spring

sebagai upaya pemenuhan hak-hak kebebasan serta usaha memperbaiki perekonomian yang memburuk, pengangguran, kemiskinan, dan lain sebagainya yang dikarenakan pemimpin diktator yang melakukan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme. Jika kelompok konservatif memperbandingkan Arab Spring dengan revolusi Iran tahun 1979, kelompok reformis justru mensejajarkannya dengan “Green Revolution” sebagaimana yang dilakukan dalam pemilihan umum parlementer Iran tahun 2009. “Green Revolution” itu sendiri merupakan protes terhadap tuduhan kecurangan dalam Pemilu dan menyatakan dukungan kepada calon oposisi Mir-Hossein Mousavi dengan simbol-simbol dukungan berwarna hijau.20

Iran sangat mendukung mencuatnya “people power” di negara-negara yang mengalami Arab Spring. Apalagi jika perlakuan rezim berkuasa menyebabkan lebih banyak pertumpahan darah warga sipil. Namun di negara lainnya seperti Suriah, Iran justru tidak mendukung protes terhadap pemerintahan Suriah tersebut.21 Iran justru berpihak kepada pemerintah Suriah yang memang sudah terbukti diktator. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan Iran mendukung tindakan represif pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah, yaitu faktor rasionalitas negara dan kepentingan nasional.22 Prinsip politik luar negeri Iran lebih ditekankan pada kebencian terhadap Amerika Serikat dan Barat.23 Selain itu, Suriah merupakan mitra strategis Iran sebagai penghubung Iran dengan Hamas dan Hizbullah dan mitra dagang Iran yang pada Juli 2011 lalu sama-sama menandatangani kerjasama perdagangan gas senilai $10 milyar.24

5. Respon Turki terhadap Arab Spring

Turki merupakan salah satu negara yang menjadi role model dalam hal demokrasi. Kematangan demokrasi Turki salah satunya terlihat dari posisi Turki

20 Montefiore, All Revolutions Are Local, International Herald Tribune, 2011.

21 Ali Alfoneh, Middle Eastern Upheavals: Mixed Response in Iran, Middle East Quarterly, Vol.

18, No. 3, 2011, hlm. 35-39.

22 Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Hubungan Internasional,

PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.

23 Eva Patricia Rakel, The Iranian Political Elite, State and Society Relations, and Foreign

Relations since the Islamic Revolution, Duitsland, 2008.

(9)

sebagai negara yang menjadi kandidat anggota Uni Eropa. Turki juga aktif dalam memberikan dukungan dalam bentuk retorik maupun pengawasan pemilihan umum di kawasannya, terutama Balkan. Di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan, Turki juga konsisten memegang prinsip “zero problems with neighbors”.25

Terlebih lagi, Turki turut andil dalam rangka demokratisasi di Afghanistan dan Irak. Turki mengirim 1.799 pasukan dan mendanai sebesar 1.5 juta euro demi mendukung NATO-ANA dalam menanggulangi Taliban. Turki pun kerap mendanai Irak demi penegakkan Hak Asasi Manusia di Irak melalui International Reconstruction Fund Facility for Iraq (IRFFI). Turki pun memiliki program yang dinamakan “Istanbul Process” yang berfokus pada keamanan, demokratisasi, stabilitas institusi, kesetaraan gender, konsensus sosial, pendidikan, masyarakat sipil, dan transparansi.26

Untuk fenomena Arab Spring, Turki lebih memihak pada kubu yang protes terhadap pemerintahan yang otoriter. Di Mesir, Erdogan ialah pemimpin negara yang pertama meminta Presiden Hosni Mobarak untuk turun dari jabatannya. Di Tunisia, Turki memilih untuk tetap diam sampai Ben Ali melarikan diri. Hal itu dikarenakan Turki tidak mau bertindak gegabah yang nantinya dapat mengancam kebijakan luar negeri dan hubungan bilateralnya dengan Tunisia.27

Turki lebih banyak diam dalam merespon Arab Spring di Libya. Turki berfokus pada keselamatan ekspatriatnya di sana. Namun pada akhirnya, Turki sepakat dengan NATO untuk menurunkan rezim Khadafi. Di Suriah, Turki merasa dihadapkan pada situasi yang sangat rumit. Pada awalnya, Turki melakukan pendekatan kepada rezim Bashar al-Assad dengan tujuan mereformasi rezimnya menjadi demokratis. Namun setelah terjadinya pembantaian di Hama, Turki mengirim perwakilannya untuk menyampaikan pesan bahwasanya Turki sudah tidak bisa membendung amarahnya terhadap ketidakinginan rezim Assad untuk bertransformasi.28

25 Ted Piccone dan Emily Alinikoff, Rising Democracies and the Arab Awakening: Implications

for Global Democracy and Human Rights, Brookings, 2012, hlm. 31.

(10)

Seiring dengan sanksi yang diberikan oleh Liga Arab terhadap Suriah, Turki pun mulai memberlakukan hal serupa kepada Suriah. Turki meningkatkan tekanan regional dan internasional terhadap administrasi Suriah dan memberlakukan sanksi ekonomi serta skorsing untuk kerjasama strategis Turki dengan Suriah. Pemerintah Turki akan memberlakukan semua itu sampai kekuatan di Turki menjadi kekuatan administratif yang demokratis.29

Sedangkan di Bahrain dan Yaman, Turki seolah kehilangan minat untuk memimpin proyek demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. Namun Turki masih berusaha untuk memediasi segala konflik yang terjadi di kedua negara tersebut. Berkat peran Turki dan organ-organnya, Erdogan menjadi pemimpin yang paling populer pada masa-masa Arab Spring.30

6. Respon Indonesia terhadap Arab Spring

Indonesia menempati posisi ke-3 sebagai negara paling demokratis di dunia. Uniknya lagi, demokrasi di Indonesia bernafaskan nilai-nilai Asia yang masih kental dengan budaya timur, tidak seperti demokrasi Amerika Serikat yang sangat liberal. Indonesia juga telah membuktikan konsistensi demokrasinya dengan penolakan secara tegas terhadap junta militer serta diadakannya konsensus terkait separatisme Timor Leste.31

Namun sejauh ini, kebijakan demokratisasi Indonesia berfokus pada jangkauan regional. Hal itu dibuktikan dengan posisi Indonesia di ASEAN sebagai negara yang paling mengedepankan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Selain itu, Indonesia juga turut andil dalam penyambutan terhadap pemilihan umum di Myanmar pada tahun 2010. Indonesia juga menjadi tuan rumah untuk Bali Democracy Forum serta membentuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR).32

Dengan fakta tak terelakkan tentang demokrasi di Indonesia, negara-negara Arab yang mengalami Arab Spring menjadikan Indonesia sebagai “guru”

(11)

demokrasinya. Mesir pasca jatuhnya rezim Hosni Mubarak mendapatkan surat dari Presiden Susilo Bambang Yuhoyono yang berisikan tentang pesan, pandangan, dan rekomendasi Indonesia untuk demokrasi Mesir berdasarkan pengalaman Indonesia. Selain itu, Indonesia juga diminta untuk mengawasi proses pemilihan umum di Mesir.33

Di negara-negara lain yang terkena Arab Spring, Indonesia tidak bertindak terlalu aktif, namun akan tetap membagikan ilmunya jika diminta. Di Tunisia, Indonesia mengawasi berjalannya proses pemilihan umum setelah dimintai pertolongan. Di Libya, Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi bahwa PBB harus menyelesaikan permasalahan Libya tanpa menggunakan kekerasan. Indonesia bersama Turki juga menjadi partner untuk meredakan konflik di Libya pada tahun 2011 sampai akhirnya Khadafi turun.34

Terhadap Arab Spring di Suriah, Indonesia tidak banyak berkomentar sampai akhirnya terjadi peningkatan korban kekerasan. Indonesia meyakini bahwa pendekatan dengan kekerasan tidaklah menyelesaikan masalah. Justru dialoglah yang dapat menghasilkan solusi yang damai. Indonesia pun mendukung Human Rights Council di Suriah pada Agustus 2011 dan Desember 2011.35

Dalam merespon Arab Spring di Bahrain dan Arab Saudi, Indonesia bertindak lebih hati-hati. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Bahrain dan Arab Saudi. Para warga negara Indonesia tersebut haruslah dipastikan keamanannya, sehingga Indonesia tidak boleh bertindak gegabah. Di samping menjamin keselamatan para tenaga kerja, Indonesia juga tak ingin respon mereka terhadap Arab Spring di Bahrain dan Arab Saudi akan merenggangkan hubungan ekonomi di antaranya.36

7. Respon Brazil terhadap Arab Spring

Brazil dalam konteks Arab Spring memiliki peran yang hampir tidak terlihat karena pada saat itu Brazil lebih memilih soft way untuk menghadapi

33Ibid., hlm. 20. 34Ibid., hlm. 21. 35Ibid.

(12)

gejolak yang terjadi dibeberapa negara Arab dengan menerapkan prinsip non-intervensi terutama pada Mesir. Brazil yang memiliki kekuatan demokrasi serta menjunjung Hak Asasi Manusia, di sisi lain memanfaatkan momen Arab Spring

demi citra Brazil di kalangan internasional. Ketika kepemimpinan Mubarok lengser di Mesir, Brazil semakin menegaskan dukungannya terhadap Mesir. Bukan hanya perihal demokrasi, namun juga perihal kerja sama ekonomi.37

Ekonomi begitu sangat penting bagi Brazil di wilayah Afrika karena Brazil menjadi negara terbesar ketiga di Afrika dalam hal kerjasama ekonomi secara keseluruhan. Afrika pun menjadi wilayah terbesar yang menjadi konsumen bagi Brazil.38 Akan tetapi, Brazil dianggap gagal karena ketika turun tangan menangani konflik di Suriah, Brazil gagal dalam menyuarakan kedamaian dalam Security Council di PBB.

8. Respon India terhadap Arab Spring

Sama halnya dengan Brazil, India dalam Arab Spring juga memanfaatkan kekuatannya sebagai negara demokrasi untuk tampil di kalangan internasional dengan tujuan menjunjung kedamaian internasional. India menggunakan prinsip non-intervensi dalam menyikapi beberapa negara yang terlibat dalam Arab Spring. India berusaha untuk tidak mengintervensi urusan dalam negeri Mesir dan hal ini sebenarnya dianggap pasif oleh beberapa kalangan. Akan tetapi setelah lengsernya kepemimpinan Mubarok, India dan Mesir membangun kerja sama bilateral terutama dalam membantu Mesir berproses dalam transisi demokrasi dinegaranya.39

Selain dengan Mesir, India pun berpartisipasi dalam vote di Security Council PBB mengenai sanksi terhadap Libya, namun India memilih untuk tidak mengambil langkah intervensi. Sama halnya ketika India diminta oleh PBB untuk terlibat dalam intervensi yang akan dilakukan PBB dalam Human Rights Council Resolution untuk mengakhiri pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia yang banyak terjadi di dalam konflik Suriah. India memilih abstain dalam persetujuan

37Ibid., hlm. 4-10. 38Ibid.

(13)

tersebut bersama beberapa negara lainnya seperti Angola, Bangladesh, Kamerun, Filipina dan Uganda dan menempuh soft diplomacy demi kepentingan politik dan ekonomis mereka di Suriah.40

9. Respon Afrika Selatan terhadap Arab Spring

Tidak seperti Brazil dan India, dalam menyikapi beberapa tragedi Arab Spring terutama konflik yang terjadi di Libya, Afrika Selatan ikut menyetujui resolusi kedua Security Council untuk mengintervensi Libya dengan menggunakan penyerangan dengan dalih menyelamatkan masyarakat sipil dan menerapkan no-fly zone atau pelarangan penerbangan di kawasan Libya itu sendiri.41 Dalam intervensi tersebut jelas NATO memiliki peran dalam tindakan intervensi yang dilakukan, semangat NATO untuk melakukan intervensipun bukan karena alasan kemanusiaan namun lebih kepada kepentingan pribadinya untuk mengambil alih cadangan minyak negara itu kemudian melakukan destabilisasi perusahaan minyak nasional serta akhirnya memprivatisasikan sumber minyak di Libya.42

Namun dalam konteks Suriah, Afrika Selatan memilih abstain dalam perundingan Security Council untuk melakukan intervensi terhadap Suriah. Akan tetapi, sebelumnya Afrika Selatan telah melakukan pendekatan melalui dialog dengan pemerintahan Suriah berkaitan dengan penerapan sistem demokrasi di Suriah. Afrika Selatan terus melakukan dialog dengan Suriah agar pemerintahannya mau menerapkan beberapa sistem demokrasi seperti multi-partai dan segera melakukan reformasi. Langkah non-intervensi yang dipilih oleh Afrika Selatan terhadap Suriah adalah karena Suriah telah menjadi eksportir minyak seperempat di Afrika Selatan.43

Selain itu, tindakan Afrika Selatan hampir sama dengan di Mesir yaitu melakukan non-intervensi. Lagi-lagi alasannya adalah karena kerja sama ekonomi yang dijalin antara Afrika Selatan dengan Mesir melalui projek “Cape to Cairo” dimana kedua negara tersebut akan melakukan integrasi ekonomi dengan 26

40 Ted Piccone dan Emily Alinikoff, Op. Cit., hlm. 6-10. 41Ibid., hlm. 23-30.

42Ibid.

(14)

negara di Afrika Selatan dan akan menghasilkan pendapatan pertama sekitar 1 triliyun dolar AS.44

10.Dampak Arab Spring bagi Dunia Islam

Arab Spring pada khususnya memberikan dampak ekonomi dan politik bagi dunia Islam. Dampak ekonomi dapat terlihat di Yaman yang pasca Arab Spring mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan kemiskinan. Kendati pemerintahan dan lansekap demokratis sudah terbentuk, krisis ekonomi membuat proses Yaman dalam menuju kesejahteraan menjadi terhambat.45

Arab Spring juga menimbulkan beberapa perubahan dalam dinamika perpolitikan dunia Arab akibat tuntutan-tuntutan yang dituntut oleh pihak yang melakukan protes. Di satu sisi, Arab Spring membawa angin segar bagi negara-negara muslim bahwasanya Islam dan demokrasi itu berniscaya untuk saling beriringan. Di sisi lain, pada praktiknya, Arab Spring justru menunjukkan kegagalan demokrasi dalam dunia Islam. Seperti misalnya di Mesir, sentimen Islamis, militer, dan sekuler-liberal justru makin terpecah. Lalu di Libya, Yaman, dan Suriah, pasca Arab Spring semakin menunjukkan perpecahan sektarian dan tribalisme.

11. Liberalisme dalam Memandang Fenomena Arab Spring

Manusia diberikan akal sehingga manusia tersebut yang akan menggerakan dirinya sendiri apakah ia ingin melakukan kejahatan atau kebaikan yang akan berdampak pada moralitas yang nyata dan ideal. Manusia diberikan kebebasan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kebebasan yang semestinya agar bisa mempengaruhi orang lain untuk bertindak baik pula.46

Berdasarkan perspektif liberalisme, institusi perdamaian yang ditawarkan oleh Immanuel Kant demi mencapai dan menjaga perdamaian telah dicoreng oleh pemerintahan Bashar Al-Assad. Salah satu institusi tersebut yaitu konstitusi setiap negara harus berbentuk republik dan diharapkan negara dengan sistem republik akan memberikan peluang untuk terciptanya perdamaian yang semakin besar

44 South Africa Departement of Trade and Industry, Statistic by Country, www.thedti.gov.za. 45 Apriadi Tamburaka, Revolusi Timur Tengah, Narasi, Yogyakarta, 2011, hlm. 9.

46 Immanuel Kant, Perpetual Peace and Other Essays, Hackett Publishing, Indianapolish, 1983,

(15)

karena kebijakan politiknya akan ditentukan oleh kehendak warga negaranya, bukan menurut kehendak seorang diktator.47

Seharusnya rakyat Suriah mendapatkan kebebasan untuk menjalankan kehidupannya agar dapat menciptakan perdamaian yang tentunya diinginkan oleh semua orang di dunia. Negara yang berperan sebagai aktor utama untuk menjaga perdamaian telah gagal menciptakan perdamaian untuk warga negaranya. Negara yang mewakili kepentingan masyarakat sudah seharusnya menciptakan perdamaian dan memberikan kebebasan kepada individu untuk menyuarakan aspirasinya.

(16)

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Respon dunia Muslim terhadap perkembangan terakhir di Timur Tengah begitu beragam. Dimulai dari dinamika konflik internasional di Palestina yang tensinya terus mengalami naik turun sampai perkembangan konstelasi politik di Timur Tengah pasca revolusi dunia Arab (Arab Spring) yang terjadi sejak akhir 2010. Respon negara-negara teluk yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) serta Iran, Turki, Indonesia, Brazil, India, dan Afrika Selatan sangat beragam dalam menelihat fenomena Arab Spring. Dampak yang dihasilkan dari Arab Spring merembet pada sektor ekonomi dan politik yang tentunya menghasilkan sisi positif dan negatifnya yang berbeda-beda di setiap negara.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan E-book

Campbell, D. 1998. Writing Security: United States Foreign Policy and the Politics of Identity. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Jackson & Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. London: Oxford University Press.

Kant, Immanuel. 1983. Perpetual Peace and Other Essays. Indianapolish: Hackett Publishing.

Montefiore. 2011. All Revolutions Are Local. International Herald Tribune.

Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochamad Yani. 2006. Pengantar Hubungan Internasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Piccone, Ted dan Emiliy Alinikoff. 2012. Rising Democracies and the Arab Awakening: Implication for Global Democracy and Human Rigths. Brookings.

Rakel, Eva Patricia. 2008. The Iranian Political Elite, State and Society Relations, and Foreign Relations since the Islamic Revolution. Duitsland.

Jurnal dan Artikel Ilmiah

Abdullah, Abdulkhaleq. “Repercussions of the Arab Spring on GCC States”, dalam Paper of Arab Center for Research and Policy Studies. Diakses pada 29 November 2016, pukul 20:25 WIB, dari

http://english.dohainstitute.org/file/get/5b1fafdb-19d4-4946-a18e-f3115c6fd0aa.pdf

(18)

November 2016, pukul 20:00 WIB, dari http://www.qatar.northwestern.edu/docs/2014-Parsing-Arab-Spring.pdf

Alfoneh, Ali. 2011. Middle Eastern Upheavals: Mixed Response in Iran, dalam

Middle East Quarterly, Vol. 18, No. 3.

Barzegar, Kayhan. Iran's Interests and Values and the Arab Spring. http://belfercenter.ksg.harvard.edu/publication/20954/Irans_interests_and_ values_and_the_arab_spring.html.

Dikshit, Sandeep. 2011. India Can Help Build Democracy in Arab World. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 06:00 WIB, dari dalam www.thehindu.com.

DIRCO. 2011. South Africa is Concerned about the Situation in Syria. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 21:30 WIB, dari www.dfa.gov.za.

Hamli, Moh. 2013. Konflik Israel-Palestina Kajian Historis atas Kasus Perebutan Tanah antara Israel dan Palestina (1920-1993). Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:30 WIB, dari http://digilib.uin-suka.ac.id/9529/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf.

If Amerincans Knew. A Synopsis of the Israel/Palestine Conflict. Diakses pada 30

November 2016, pukul 19:00 WIB, dari

http://www.ifamericansknew.org/history/.

Janardhan. 2011. GCC Response to Arab Spring: Continuity Amidst Change. Diakses pada tanggal 29 November 2016, pukul 20:15 WIB, dari https://www.alarabiya.net/articles/2011/07/18/158083.html

Keddie, N.R. 2012. “Arab and Iranian Revolts 1979-2011: Influences or Similar Causes?”, dalam International Journal of Middle East Studies, 44.

(19)

dalam Global Journals Inc, Volume 15, Issue 7, Version 1.0. USA: Nova Southeastern University.

Saidy, Brahim. 2014. GCC’s Defense Cooperation: Moving towards Unity. Diakses pada 29 November 2016, pukul 20:20 WIB, dari http://www.fpri.org/article/2014/10/gccs-defense-cooperation-moving-towards-unity/

Slaughter, Anne-Marie. 1995. “Liberal International Relations Theory and International Economic Law”, dalam American University Journal of International Law and Policy No. 1.

South Africa Departement of Trade and Industry. Statistic by Country. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 21:35 WIB, dari www.thedti.gov.za.

Berita

BBC. 2015. Guide: Why are Israel and the Palestinians fighting over Gaza?. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:45 WIB, dari

http://www.bbc.co.uk/newsround/20436092.

BBC Indonesia. 2015. Kebakaran di Israel Berhasil Diatasi, Palestina Membantu Padamkan Api. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:50 WIB, dari http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38132745.

Hidayat, Fikria. 2012. Ingat, 1.477 Bocah Palestina Telah Tewas!. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:40 WIB, dari http://internasional.kompas.com/read/2012/11/19/13043985/Ingat.1.477.B ocah.Palestina.Telah.Tewas.

Liputan 6. 2014. Awal Mula Gejolak Konflik Israel-Palestina. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:50 WIB, dari

(20)

Maryati. 2015. Korban Tewas Akibat Konflik di Palestina Capai Angka Tertinggi. Diakses pada tanggal 30 November 2016, pukul 18:35 WIB, dari

http://www.antaranews.com/berita/487532/korban-tewas-akibat-konflik-di-palestina-capai-angka-tertinggi.

Rahman, Musthafa Abd. 2013. GCC Bela Bahrain, Iran Jengkel. Diakses pada 29

November 2016, pukul 20:19 WIB, dari

Referensi

Dokumen terkait