PEMIKIRAN FIKIH WANITA QASIM AMIN
Nur Lailatul Musyafa’ah1
Abstract
This paper explores Qasim Amin’s thinking on fiqh related to women; hijab, divorce, and polygamy.
Initially, Qasim Amin wrote al-Mis} riyyu> n to defend the patriarchal traditions that occurred in Egypt
which is criticized by D’Couhourt. But, in five years later he wrote the book Tah} ri> r mar’ah that reconstructs
fiqin (Islamic jurisprudence) on women’s issues. He reinforced his opinion in his later piece of writing titled al-mar’ah al-jadidah. There are several factors behind his shifting way of thinking; the influence of modernization in Egypt and the influence of French culture where he was studying. In social science theory, changing way of thinking is reasoneable and is in accordance with the theory of creative personality initiated by David Mc.Celland.
Keywords: Fikih, Wanita, Qasim Amin
Pendahuluan
Qasim Amin adalah seorang tokoh gerakan emansipasi wanita (baca: perempuan) Mesir. Ia mengkritisi pemahaman fikih masyarakat Mesir tentang hukum yang berkaitan dengan perempuan. Qasim mulai menulis tentang perempuan ketika seorang pemikir orientalis Prancis D’Couhourt mengkritik tradisi bangsa Mesir dan para perempuannya yang kurang menikmati kebebasan. Qasim berusaha menjawab kritikan tersebut dan membela tradisi bangsanya dengan
menulis buku al-Mis}riyyu>n (Bangsa Mesir). Namun lima tahun kemudian Qasim Amin menulis
buku Tah}ri>r al-Mar’ah (Emansipasi Wanita) yang di buku tersebut, Qasim malah mengkritisi
tradisi Arab yang menurutnya mendiskriminasikan wanita. Ia menuntut pentingnya pendidikan bagi perempuan dan mengkritik tradisi hijab, talak di tangan suami dan poligami.
Keberanian Qasim Amin dalam mengungkapkan pendapatnya tentang rekonstruksi fikih perempuan mendapat tanggapan dan kritikan tajam dari berbagai kalangan pada waktu itu.
Namun ia tidak gentar bahkan setahun kemudian ia menerbitkan buku al-Mar’ah al-Jadi>dah
(Wanita Baru) sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya. Karenanya banyak kalangan yang menganggap bahwa Qasim telah berjasa bagi kebangkitan emansipasi perempuan di Mesir.
Berdasarkan hal tersebut, maka tulisan ini akan membahas pemikiran Qasim Amin tentang fikih perempuan yang kemudian dianalisis dengan pendekatan sosiologi.
Biografi Qasim Amin
Qasim Amin lahir pada awal Desember tahuh 1863 di Mesir. Ayahnya bernama
Muhammad Amin keturunan Kurdi Turki dan ibunya bernama Karimah Ahmad Khitob
keturunan Mesir.2 Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah “Ra’s al-Ti>n”3 Iskandariyah
dan melanjutkan sekolah menengah di Kairo. Ia berhasil meraih gelar S1-nya dari fakultas
hukum pada tahun 1881 M.4 Kemampuannya untuk menyelesaikan kuliah pada usia 22 tahun
menandakan jika Qasim Amin memang seorang yang cerdas dan pintar.5 Tidak heran jika
kemudian ia mendapatkan beasiswa untuk memperdalam ilmu hukumnya di Perguruan Tinggi di Perancis.6
Ketika di Prancis itulah Qasim berusaha aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Ia sempat bertemu dengan dua tokoh modernis yang paling berpengaruh yaitu Jamaluddin
al-Afghani dan Imam Muhammad Abduh.7 Ketika itu ia juga akrab dengan buku karangan Natzi
(1844-1900 M), Darwin (1809-1882 M) dan Karl Marx (1818-1883 M) dan sebagainya.8 Setelah
berhasil menamatkan kuliahnya selama empat tahun ia pun kembali ke Kairo pada tahun 1885.9
Pada tahun 1894 ia menikah dengan gadis Mesir bernama Zainab. Dari pernikahannya tersebut
dikaruniai dua putri yaitu Zainab dan Gelsen.10
Qasim mengawali karirnya dengan bekerja di kantor pengacara Mustofa Fahmi sejak lulus dari kuliah hukum di Mesir, namun karena harus melanjutkan studi ke Perancis ia keluar
dari kantor tersebut.11 Sepulang dari Perancis tahun 1885, ia bekerja di pengadilan Mesir.
Semenjak itu karirnya sebagai hakim semakin menanjak, ia pernah menjadi kepala cabang di beberapa pengadilan daerah yaitu di Bani Suif pada tahun 1889 dan di Thonto pada tahun
1891. Pada bulan Juni 1892, ia menjadi wakil hakim pada pengadilan isti’na>f dan dua tahun
kemudian menjadi penasehat hakim.12 Ia meninggal pada tahun 1908 dalam usia 55 tahun.13
Semasa hidupnya, ia aktif menulis artikel dan buku. Di antara karyanya adalah al-Mis}riyyu>n
(1894) yang ditulis dalam bahasa Perancis, Tah}ri>r al-Mar’ah (1899), dan al-Mar’ah al-Jadi>dah
(1890).14 Sedangkan artikelnya telah dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia wafat dalam
kumpulan tulisan berjudul Asba>b wa Nata>ij dan Kalima>t li Qa>sim Ami>n.15
Emansipasi wanita (baca:perempuan) adalah proses pelepasan diri perempuan dari
kedudukan sosial ekonomi yang rendah, serta pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju. Dalam bahasa Arab, istilah ini dikenal dengan
tah}ri>r al-mar’ah.16
Feminisme dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari tradisi patriarkhi dalam Islam. Ia tak dapat dilepaskan dari teks-teks kegamaan yang memang amat menentukan kesadaran
masyarakat.17 Oleh karena itu, usaha untuk memahami Alquran dan hadis secara tepat perlu
dilakukan untuk memahami esensi ajaran sesungguhnya.18
Feminisme di Mesir telah berumur lebih dari 100 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh jajahan Inggris di Mesir pada tahun 1882. Gerakan Muhammad Abduh dan pengikutnya mengusulkan perubahan dan modernisasi terhadap status perempuan. Relasi antara laki-laki dan perempuan merupakan tantangan besar bagi kaum muslim ketika itu karena adanya pertentangan antara
pandangan Barat dan agama.19
Pada tahun 1899, Qasim Amin (1865-1908) menerbitkan bukunya yang sangat
berpengaruh, Tah}ri>r al-Mar’ah (Emansipasi Wanita). Dalam buku ini, dia memperjuangkan
pendidikan perempuan sebagai suatu hak pemberian Tuhan.20 Selain itu ia juga mengkritik
masyarakat Mesir yang mengkristalkan tradisi sebagai ajaran agama dan menganggapnya suatu hal yang baku yang tidak dapat dirubah yang berimbas pada pengekangan kebebasan perempuan seperti hijab, hak talak, dan poligami.
Kitab “Tah}ri>r al-Mar’ah” tersebut merupakan poin penting dalam gerakan emansipasi
wanita di Mesir. Sebelum kitab tersebut terbit, warga Mesir kurang mengenal pembahasan tentang emansipasi wanita (baca: perempuan). Tidak heran jika ada beberapa kalangan yang
menyematkan julukan bapak feminis Mesir kepada Qasim Amin.21 Meskipun banyak penulis
emansipasi wanita (perempuan) sebelum Qasim Amin, namun tidak ada yang seheboh karya Qasim Amin pada masa itu. Sehingga bukunya tersebut sering dijadikan sumber referensi dan
penelitian dalam pembahasan tentang emansipasi wanita (perempuan).22
Pemikiran Fikih Perempuan Qasim Amin
Pemikiran fikih perempuan Qasim Amin dapat dilihat dalam tiga karyanya yaitu
al-Mis}riyyu>n, Tah}ri>r al-Mar’ah, dan al-Mar’ah al-Jadi>dah. Sebelum menulis Tah}ri>r al-Mar’ah, Qasim
menulis buku berbahasa Perancis berjudul Les Egyptiens diterjemahkan dalam bahasa Arab
dengan al-Mis}riyyu>n (Bangsa Mesir) pada tahun 1894. Kitab ini ditulis untuk merespon karya
16 Abdul Azis Dahlan (et al.), Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), H. 1923 17Taufik Abdullah (et. al), Ensiklopedi Tematis,(Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), Jld. V, hlm. 178.
18Ibid., hlm. 175.
19 Ahmad Abd. Rahman, “Jihad al-Iffah fi Muwajahat al-Taghrib”, Jurnal al-Manar al-Jadid, edisi 8, (Oktober, 1999),
hlm. 18.
20 Nelly Van Doorn Harder, “Perempuan di Mesir: Perspektif Budaya dan Agama”, dalam Menakar “Harga” Perempuan,
ed. Syafiq Hasyim, (Bandung:Mizan, 1999), h. 25-26.
21 M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, hlm. 6.
penulis orientalis dari Perancis Duc d’harcourt yang berjudul Misra wa al Mis}riyyu>n (Mesir dan
warganya).23 Dalam bukunya tersebut Duc d’harcourt mengkritik budaya Mesir yang terbelakang
dan dalam satu bab khusus menulis tentang tradisi yang membelenggu kebebasan perempuan
Mesir. Ia mengkritik tentang hijab dan tradisi patriarkhi dalam keluarga di Mesir.24
Sebagai warga Mesir yang memiliki jiwa nasionalisme, Qasim tidak dapat tenang membaca
karya Duc d’harcourt tersebut hingga ia jatuh sakit selama dua minggu.25 Karena itu ia tergerak
menjawab kritikan Duc d’harcourt dengan menulis kitab Al-Mis}riyyu>n. Dalam kitab tersebut
Qasim berusaha menjawab kritikan Duc d’harcourt dengan membela agama dan bangsanya, tidak lupa dalam satu bab khusus Qasim membela budaya perempuan Arab khususnya Mesir tentang budaya yang berlaku bagi mereka ketika itu seperti hijab dan poligami bahkan ia
mengkritik kebebasan di Barat yang menurutnya malah merendahkan derajat perempuan.26
Namun lima tahun kemudian, pada tahun 1899, Qasim menulis buku yang berjudul Tah}ri>r
al-Mar’ah. Dalam buku tersebut, Qasim berbalik membela kebebasan perempuan Eropa dan mengkritik budaya Mesir yang mendiskriminasikan perempuan. Jadi pemikiran Qasim tentang,
perempuan dalam kitab Al-Mis}riyyu>n berbeda dengan pandangannya tentang perempuan dalam
kitab Tah}ri>r al-Mar’ah.
Di bawah ini akan dibahas sekilas tentang tiga hal penting karya Qasim Amin dalam
Tah}ri>r al-Mar’ah yang berbeda dengan tulisannya dalam al-Mis}riyyu>n: 1. Hijab
Dalam buku al-Mis}riyyu>n yang terbit pada tahun 1894, Qasim Amin membela tradisi hijab yang memasyarakat pada kaum perempuan Timur ketika itu, baik sebagai pakaian atau sebagai
bentuk pemisahan antara lelaki dengan perempuan. Ia menolak tuduhan Duc d’harcourtyang
beranggapan bahwa hijab merupakan bentuk isolasi kaum perempuan dari pergaulan.27 Menurut Qasim, dalam Islam, persamaan antara lelaki dan perempuan telah terwujud karena apa yang diharamkan bagi perempuan juga diharamkan bagi pria/laki-laki.28 Jika perempuan dilarang bergaul dengan kalangan kaum laki-laki begitu juga sebaliknya seorang lelaki akan terlarang bergabung dalam komunitas perempuan.29
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam tradisi Arab, hijab harus dipertahankan karena ia merupakan bentuk ajaran agama Islam dan memiliki nilai positif bagi pergaulan lelaki dan perempuan.30 Hijab memuliakan kaum perempuan, sebaliknya pergaulan bebas yang berlangsung di Eropa merupakan tanda tidak menghargai perempuan dan menimbulkan dampak negatif
yang dapat mengurangi derajat dan wibawa seorang perempuan.31 Maka perempuan Mesir tidak membutuhkan perubahan tetapi yang harus berubah adalah bangsa Eropa.32 Bahkan ia mengusulkan agar peradaban Eropa menginduk pada peradaban Islam.33
Namun lima tahun kemudian, pembelaannya tersebut dia bantah sendiri dalam bukunya
“Tah}ri>r al-Mar’ah”. Menurutnya, hijab hanyalah tradisi orang Arab dan bukan kewajiban dalam
agama Islam. Maka perubahan tradisi berhijab sangat memungkinkan sesuai dengan tuntutan zaman sebagaimana tradisi hijab dalam bangsa Yunani atau Eropa.34
Lebih lanjut Qasim mengajak meneliti tentang tinjauan hukum Islam terhadap bentuk hijab yang dianjurkan dalam Islam yaitu menutup seluruh badan perempuan kecuali wajah dan telapak tangan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa tidak terdapat dalam Alquran dan Hadis ajaran yang mengatakan bahwa wajah perempuan merupakan aurat sehingga wajahnya harus ditutup. Penutupan wajah hanyalah kebiasaan yang kemudian dianggap sebagai ajaran agama Islam. Selain itu hijab tidak boleh diartikan sebagai bentuk pemisahan ruang pergaulan antara lelaki dan perempuan karena tidak ada anjurannya di dalam Alquran dan Hadis.35
Hijab sebagai penutup tubuh perempuan termasuk wajah dan sebagai bentuk pemisahan ruang lelaki dan perempuan membawa perempuan berkedudukan rendah, menghambat
kebebasan, dan pengembangan daya keahlian mereka untuk mencapai kesempurnaan.36
2. Pembatasan Kekuasaan Talak
Dalam al-Mis}riyyu>n, Qasim membela adanya kekuasaan talak yang mutlak di tangan suami dan tidak menyetujui jika perceraian diputuskan melalui pengadilan. Namun dalam kitab Tah}ri>r
al-Mar’ah Qasim menarik pendapatnya tersebut dan membatasi kekuasaan talak di tangan suami
dengan beberapa syarat, yaitu; 1. Perceraian terjadi karena ada keinginan kuat untuk itu, 2. Harus ada saksi dalam proses talak, 3. Menghadirkan pihak ketiga sebagai juru damai antara suami-istri, 4. Talak terjadi karena putusan pengadilan.37
Menurutnya, dalam masalah perkawinan harus ada hak yang sama antara laki-laki dan perempuan baik dalam memilih jodoh maupun hak cerai. Sehingga hak tersebut tidak mutlak di tangan para pria.38
3. Poligami
Dalam al-Mis}riyyu>n, Qasim membolehkan para suami untuk beristri lebih dari satu hingga
empat jika ada sebab yang mendesak untuk berpoligami. Selain itu suami harus mampu berlaku adil kepada para istrinya dan mampu memberi nafkah yang layak bagi keluarganya. Meskipun
32 M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, hlm. 74. 33 M. Sayyid Barokah, Ma’a Muh}ammad Qut}b; Qadhiyyah Tah}ri>r al-Mar’ah, hlm. 73. 34 M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, hlm..75.
35Ibid., hlm. 76.
36 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 80.
37 M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, hlm. 81. 38 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 79.
demikian, Qasim menganjurkan agar para lelaki sebaiknya hanya memiliki seorang istri.39
Bahkan dalam kitab tersebut, Qasim mengkritik pendapat yang melarang poligami hanya karena alasan poligami menciptakan ketidakharmonisan berumahtangga dan rentan menimbulkan percekcokan antara para istri dan anak-anak mereka. Menur utnya
ketidakharmonisan dalam rumah tangga tidak berkaitan dengan adanya poligami.40
Seperti halnya hijab dan perceraian, pendapat Qasim tentang poligami berubah dalam
kitab Tah}ri>r al-Mar’ah. Menurutnya, tak seorang pun perempuan yang ingin dimadu dan kalau
seorang lelaki menikah dengan istri kedua berarti ia mengabaikan perasaan istri pertama.41
Tidak ada alasan bagi seorang lelaki untuk memiliki istri lebih dari satu kecuali terpaksa. Sedangkan firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 3 memang menjelaskan tentang diperbolehkannya berpoligami jika aman dari penyimpangan. Namun, poligami dapat menjadi haram jika perbuatan tersebut justeru menimbulkan bahaya dan ketidakadilan yang menyebabkan permusuhan dalam rumah tangga. Maka demi kemaslahatan bersama, Qasim
mengusulkan agar para hakim menolak adanya poligami.42 Maka meskipun poligami disebutkan
dalam Alquran, Qasim berpendapat bahwa Islam pada hakekatnya menganjurkan monogami.43
Buku Tah}ri>r al-Mar’ah memang fenomenal pada waktu itu karena kaitannya dengan kritik
sosial dan agama. Maka Qasim Amin harus rela mendapat kritik tajam atas karyanya tersebut, sehingga membuatnya sering menyendiri di rumah. Namun berkat dorongan Sa’ad Zaghlul untuk tetap bersemangat membuat Qasim bersemangat untuk menuangkan pemikirannya dalam
sebuah buku berjudul al-Mar’ah al-Jadi>dah44 sebagai jawaban atas kritikan yang berdatangan
terhadap kitab Tah}ri>r al-Mar’ah.45
Dalam kitab Tah}ri>r al-Mar’ah, Qasim lebih banyak mengkritik tradisi Arab yang sudah
dianggap sebagai ajaran baku dari agama Islam. Menurutnya, tradisi bukanlah agama, ia hanya merupakan hasil dari penafsiran agama yang tidak bersifat baku. Maka perlu adanya reinterpretasi terhadap ajaran agama khususnya mengenai permasalahan yang berkaitan dengan perempuan. Qasim berusaha menguatkan pendapatnya dengan mengambil referensi dari pendapat para ulama yang dikuatkan dengan penafsiran Alquran.
Jika dalam Tah}ri>r al- Mar’ah Qasim banyak merujuk pada pendapat para ulama muslim
maka dalam al-Mar’ah al-Jadi>dah Qasim lebih merujuk kepada pemikiran para orientalis dan
pendekatan sosiologis. Dalam al-Mar’ah al-Jadi>dah, Qasim lebih kuat mempertahankan kebebasan
perempuan. Ia menekankan agar kaum perempuan sebagai anggota masyarakat terus aktif
belajar dan berkarir untuk memajukan harkat dan wibawanya.46 Menurutnya, kebebasan
40Ibid., hlm. 86.
41 Maryam, Jameelah, Islam dan Modernisme, terj. A. Jainuri dkk., (Surabaya: Usaha Nasional, tt.). hlm. 190. 42 M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, hlm. 86.
43 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 79.
44 M. Sayyid Barokah, Ma’a Muh}ammad Qut}b; Qadhiyyah Tah}ri>r al-Mar’ah, hlm. 74. 45 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 80.
perempuan tidak dapat dipisahkan dari kebebasan anggota masyarakat lainnya. Masyarakat terus berkembang maka perempuan harus turut berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Di negara Arab, perempuan masih berada di bawah kekuasaan laki-laki sedangkan di negara Eropa perempuan telah memperoleh kebebasan dan penghargaan yang tinggi dari
masyarakat.47 Maka ia menginginkan perempuan Arab semakin maju sebagaimana yang telah
dicapai perempuan Eropa.
Akibat dari pemikiran Qasim Amin tentang emansipasi perempuan tersebut timbul dua pandangan yang berbeda mengenai sosok Qasim Amin; Sebagian golongan menganggap Qasim sebagai pelopor dan tokoh emansipasi perempuan sedangkan sebagian yang lain menganggap
Qasim Amin sebagai perusak moral perempuan Arab karena harus mengikuti budaya Eropa.48
Latar Belakang Pemikiran Qasim Amin
Pemikiran seseorang tidak akan terlepas dari pengaruh sejarah dan budaya dari tempat ia tinggal. Qasim Amin sebagai pemikir yang lahir dan dibesarkan di Mesir, maka di bawah ini akan dibahas tentang kondisi sosio kultural Mesir dan pengaruh modernisme pada negeri tersebut. Mesir, yang terletak di dalam dua benua; Asia dan Afrika, adalah sebuah negara yang
penuh dengan legenda.49 Ia terkenal dengan sejarah peradabannya, yang telah ada semenjak
4000 tahun SM. Ia merupakan negara para Nabi dan setiap agama Samawi memiliki hubungan sejarah dengan Mesir.
Islam memasuki negeri ini pada tahun 639 M (di masa Umar bin Khattab sebagai Khalifah
II dalam sejarah Islam), di bawah pimpinan ‘Amru bin Ash.50 Pemerintahan asing yang pernah
berkuasa di Mesir sebelum pemerintahan Gamal ‘Abd al-Naser adalah Dinasti Fatimiyyah (834-1171 M), Ayyubiyyah ((834-1171-1250 M), Mamlukiyyah (1250-1517 M), dan Turki Uthmani
(1517-1952 M).51 Selain oleh beberapa kekuatan di atas, Mesir juga pernah dijajah oleh Perancis
(pada tahun 1798 M), dan oleh Inggris (pada tahun 1882 M).52
Pada tahun 1798, Mesir dijajah Perancis di bawah panglima Napoleon Bonaparte, tapi dengan perlawanan yang gigih dan bantuan dari Inggris dan Turki, akhirnya Perancis dapat
diusir dari Mesir pada tahun 1801.53
Pada saat invasi Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte itu, terjadilah modernisasi di negeri Mesir. Modernisasi itu semakin gencar dilakukan pada masa pemerintahan Muhammad Ali (1805-1849), dengan melakukan modernisasi di bidang militer, pendidikan,
budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi, seperti membangun waduk al-Qana>t}i>r al Khairiyyah
47 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 80.
48 M. Imarah, Qa>sim Ami>n; al-A’ma>l al-Ka>milah, (Kairo: Da>r al-Syuru>q, 1989), hlm. 9.
49 Derek Hopwood, Egypt, Politics and Society 1945-1984, (London: Billing&Sons, 1985), hlm. 1.
50 Afaf Lutfi Sayyid al-Marsot, a Short History of Modern Egypt, (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), hlm. 1. 51 Selma Hotman, Egypt from Independence to Revolution, 1919-1952, (Syracuse: Syracuse University Press, 1991), hlm. 11-15.
52Ibid., 26.
di sungai Nil. Dari beberapa langkah yang dilakukannya, Muhammad Ali kemudian dijuluki
sebagai bapak Mesir Modern (the father of modern Egypt).54
Beberapa hal yang dilakukan oleh Muhammad Ali untuk mendukung proses modernisasi adalah mengirim kelompok-kelompok kerja untuk belajar di Perancis selama lima tahun di
bawah pengawasan Rifa’ah al Tahtawi.55
Sepulang dari Perancis, gerakan ini mampu memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan pemikiran keislaman di Mesir. Mereka membangun sekolah-sekolah model Barat. Sekolah ini mengajarkan bahwa tidak ada kontradiksi antara nilai-nilai yang dipinjam dari Barat, khususnya dalam metodologi sains dengan ajaran Islam yang didasarkan pada Alqur’an dan
Hadits.56 Banyak kemudian di antara para pemikir Muslim di Mesir yang mengkaji
pemikiran-pemikiran lulusan Barat itu dan menjadikannya sebagai referensi dalam memahami kembali
pesan-pesan keagamaan yang termaktub di dalam Alqur’an dan Hadits.57
Qasim Amin merupakan salah satu pelajar alumni Perancis yang mencoba melakukan pembaruan pemikiran Islam dalam masalah perempuan. Hal tersebut tertuang dalam dua bukunya Tah}ri>r al-Mar’ah (emansipasi perempuan) dan al-Mar’ah al-jadi>dah ( Perempuan Baru).
Kedua buku tersebut mendapat sambutan yang luar biasa di Mesir karena pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan kondisi saat itu.
Qasim Amin berbeda dari pemikir modernis lainnya waktu itu, karena keberaniannya menuangkan pemikirannya khusus tentang kebebasan perempuan. Karenanya, ia dijuluki tokoh feminis Mesir, yang karyanya cukup penting bagi perkembangan pemikiran feminisme di Mesir
dan Islam.58 Penting diketahui, bahwa upayanya membedakan antara tradisi dan ajaran Islam
memperlihatkan keterpengaruhannya, atau paling tidak persentuhannya dengan gerakan
modernisme Islam yang antara lain dipelopori oleh Muhammad Abduh pada abad ke-19.59
Dalam bukunya yang menghebohkan untuk konteks waktu itu, Tah}ri>r al-Mar’ah, yang
terbit pertama kali pada 1899, Amin menekankan pentingnya pendidikan perempuan. Menurut Amin yang berprofesi sebagai hakim, perempuan selama ini bertanggung jawab dalam mendidik generasi muda. Oleh karena itu, mereka juga bertanggung jawab terhadap penyebaran berbagai
mitos dan takhayul yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.60 Pendidikan Islam perlu dilakukan
bukan hanya agar mereka mampu mengatur rumah tangga dengan baik namun lebih dari itu
mereka juga dapat memberikan pendidikan dasar yang baik bagi anak-anak mereka.61 Selain
masalah pendidikan ada tiga hal penting yang dikritisi Qasim Amin dalam buku tersebut
54 Derek Hopwood, Egypt, Politics and Society 1945-1984, hlm. 9. 55 Marsot, a Short History of Modern Egypt, hlm.15.
56 Issa J. boullata, Trends and Issues in Contemporary Arab Thought, (New York: State University of New York, 1990), hlm. 2.
57Ibid.
58 Taufik Abdullah., Ensiklopedi Tematis, hlm. 177.
59Ibid., hlm. 176.
60Ibid.,hlm.177.
yaitu; hijab, hak talak yang mutlak di tangan suami, dan poligami.62
Kontribusi Muhammad Abduh dalam Pemikiran Qasim Amin
Gaya penulisan Qasim Amin yang ahli dalam ilmu sosial dan hukum tapi mampu menulis dan menafsirkan teks keagamaan secara brilian menimbulkan keraguan tentang orisinalitas
pemikiran Qasim Amin.63
Qasim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di Perancis dan mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Imam Muhammad Abduh. Menurut Abduh, perempuan dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi tetapi adat istiadat yang berasal dari luar Islam merubah
itu sehingga perempuan memiliki kedudukan rendah dalam masyarakat.64 Ide inilah yang dikupas
Qasim Amin dalam bukunya Tah}ri>r al-Mar’ah.65
Menurut Muhammad Imarah, pemikiran Qasim Amin tentang kebebasan perempuan tidak terlepas dari pengaruh modernisme dalam Islam di Mesir yang dipelopori oleh Imam Muhammad Abduh. Menurutnya, latar belakang pendidikan Qasim Amin yang tidak berkaitan dengan ilmu hukum Islam, tidak memungkinkan baginya untuk menuangkan pemikiran tentang kebebasan perempuan dengan menganalisa pendapat ulama muslim dan menafsirkan teks-teks Alquran
seperti yang ia tuangkan dalam kitab Tah}ri>r al-Mar’ah kecuali jika ia dibimbing oleh seorang
guru yang ahli dalam bidang tersebut ketika itu yaitu Imam Muhammad Abduh.66
Sebelum buku Tah}ri>r al-Mar’ah terbit, AlGabert menggambarkan bahwa masyarakat Mesir
yang religius mengharuskan para perempuan untuk memakai jilbab dan penutup wajah, hanya perempuan Eropa yang memperlihatkan rambut mereka. Namun keadaan tersebut berubah
setelah empat belas bulan Mesir dijajah Perancis.67 Para perempuan Mesir mulai berani keluar
rumah, berdandan dan berpakaian ala perempuan Eropa. Kairo pun berubah seperti Paris.68
Begitu juga dengan Ratu Nazili, perempuan bangsawan Mesir yang mulai bergaya ala perempuan
Perancis. Ia pun tersinggung dengan kritikan Qasim Amin dalam kitab al-Mis}riyyu>n, bahwa
perempuan Mesir yang mengikuti gaya Eropa akan mengurangi wibawa dan kemuliaannya,
sehingga ia menunjuk harian al-Muqat}t}am untuk menerbitkan enam artikel balasan terhadap
tulisan Qasim Amin dalam al-Mis}riyyu>n. Perdebatan tersebut menarik publik sehingga Imam
Muhammad Abduh tergerak untuk menganjurkan Qasim Amin untuk merevisi tulisannya dalam
al-Mis}riyyu>n dan menemui sang ratu untuk meminta maaf.69 Semenjak itu pemikiran Qasim
Amin berubah dari pembelaannya untuk mempertahankan tradisi perempuan Mesir ke arah
pembebasan perempuan dari belenggu tradisi yang ada.70
63 Amru Abd. Karim,“Qa>sim Ami>n Baina Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Mar’ah al-Jadi>dah”, hlm. 70. 64 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, hlm. 79.
Maka secara bertahap pada tanggal 20 Maret 1899, Qasim mulai merevisi tulisannya
dalam al-Mis}riyyu>n dengan menulis beberapa artikel setiap minggunya untuk diterbitkan di harian
al-Muayyad. Ia menulis tentang pentingnya emansipasi perempuan tentang pentingnya peran perempuan dalam masyarakat sosial, pentingnya pendidikan perempuan dan masalah-masalah perempuan lainnya. Meskipun artikel mingguannya selalu mendapat tanggapan dan kritikan namun tidak seheboh ketika tulisan tersebut diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul
Tah}ri>r al-Mar’ah.71
Dari uraian di atas terlihat bahwa Imam Muhammad Abduh turut berperan bagi perkembangan pemikiran Qasim Amin terutama dalam penafsiran teks agama Islam. Sebagaimana pendapat M. Imarah, bahwa Qasim tidak memiliki kepandaian dalam mengulas
permasalahan hukum Islam kecuali ada pengaruh dari Imam Muhammad Abduh.72
Analisis Sosiologis terhadap Pemikiran Qasim Amin
Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa pemikiran Qasim Amin tentang perlunya reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan yang berkaitan dengan fikih perempuan di antaranya
hijab, talak, dan poligami berawal dari ketersinggungan perasaan beliau terhadap tulisan seorang pemikir orientalis Prancis D’Couhourt yang mengkritisi tradisi bangsa Mesir dan para perempuannya yang kurang menikmati kebebasan karena pemahaman fikih rakyat Mesir yang
mendiskriminasikan perempuan dengan memberlakukan tradisi hijab, talak mutlak di tangan
suami, dan diperbolehkannya poligami. Karena itu Qasim membela negaranya dengan menulis
al-Mis}riyyu>n yang mendukung tradisi Mesir dengan hijab, talak dan poligami. Namun dengan bertambahnya waktu ia belajar di Perancis dan semakin banyaknya pengaruh budaya dan ilmu
pengetahuan yang ia dapat mempengaruhi pemikiran awalnya tentang teori hijab, talak, dan
poligami sehingga hatinya tergerak untuk merevisi pandangan awalnya dalam kitab al-Mis}riyyu>n
bahkan cenderung mendukung pemikiran D’Couhourt dengan menulis karya keduanya yang
berjudul Tah}ri>r al-Mar’ah yang dalam kitabnya tersebut beliau menganjurkan untuk mengadakan
pembaruan pemikiran fikih perempuan dengan mulai mereinterpretasi teks-teks yang berkaitan dengan hijab, talak, dan poligami.
Pembaruan fikih perempuan yang dia ajukan adalah bahwa teori hijab yang berarti menutup seluruh tubuh tidaklah wajib tetapi yang benar adalah diperbolehkannya wajah dan telapak tangan terbuka, talak yang mutlak diberikan di tangan suami hendaknya diteliti kembali karena hal tersebut dapat membuat seorang suami bertindak semaunya/sewenang-wenang terhadap istrinya, maka ia menganjurkan agar talak hanya dapat terjadi di depan pengadilan, dan masalah poligami tidaklah dilarang di dalam Islam tetapi hendaknya diperbolehkan dengan syarat-syarat yang ketat.
71Ibid., hlm. 68.
72Ibid.,hlm. 70. Pihak keluarga Qasim Amin menolak anggapan tersebut dan menyatakan bahwa orisinalitas pemikiran
Pemikiran Qasim Amin tidak terlepas dari kondisi sosial tempat ia tinggal, dan interaksi dengan masyarakat di sekelilingnya itulah yang mempengaruhi Qasim Amin, di antaranya mulai adanya modernisasi di Mesir, pengaruh pergaulan selama ia belajar di Mesir, dan adanya pengaruh pemikiran Muhammad Abduh.
Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa perubahan dalam pemikiran Qasim Amin diawali dengan konflik yang terjadi dengan pemikir orientalis Prancis D’Couhourt. Perubahan tersebut
sesuai dengan teori konflik yang digagas oleh Lewis A. Coser.73
Coser membahas tentang konflik dengan menggambarkan kondisi-kondisi konflik yang secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah
kerangka masyarakat.74 Buku Coser yang berjudul The Function of Social Conflict membicarakan
tentang teori fungsional yang digunakan untuk membahas tentang masalah perubahan sosial dan dinamika historik. Ia mengemukakan bahwa konflik itu dapat mencegah suatu pembakuan
sistem sosial dengan mendesak adanya inovasi dan kreativitas.75
Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan, dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan dan menjaga garis batas antara dua kelompok atau lebih. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali
identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.76
Menurut Coser, konflik yang meledak merupakan tanda-tanda dari hubungan yang hidup, sedang tidak adanya konflik dapat berarti penekanan masalah-masalah yang menandakan kelak
akan ada suasana yang benar-benar kacau.77 Maka melalui konfliklah masyarakat menjadi dinamis.
Melalui kajiannya terhadap konflik di dalam struktur sosial, dia menemukan proposisi-proposisi yang intinya, bahwa melalui konflik di dalam struktur sosial itu maka kehidupan masyarakat
akan mengarah kepada integrasi sosial yang dinamis.78 Hal tersebut terbukti dengan pemikiran
Qasim Amin yang berkembang setelah ada konflik dengan D’Couhourt mampu mengembangkan pemikirannya dan memperdalam kajiannya tentang perempuan.
Sedangkan keberaniannya untuk mengungkapkan pendapatnya di wilayah Mesir yang cenderung patriarkhi dapat dianalisis dengan menggunakan teori sosial Kepribadian Kreatif yang digagas David Mc.Celland, yaitu kemajuan seseorang lebih didorong kepribadiannya yang
73 Selama lebih dua puluh tahun Lewis A. Coser terikat pada model sosiologi dengan tekanan pada struktur sosial.
Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser menyatakan bahwa ahli teori bangsa Amerika yang awal lebih menekankan pemahaman mereka tentang konflik sebagai kesadaran yang yang tercermin dalam semangat pembaharuan masyarakat. Sedangkan ahli sosiologi kontemporer sering mengacuhkan analisa konflik sosial. Kemudian Coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut. Coser mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan konsensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsional struktural, tetapi dia juga menunjuk pada proses lain yaitu konflik sosial. Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: Rajawali press, 2004), 105
74Ibid., 107.
75 Judistira K.Garna, Teori-Teori Perubahan Sosial, (Bandung: Universitas Padjajaran, 1992), 67. 76 Margaret M. Poloma, 107.
77Ibid., 113.
berhasrat kuat untuk berprestasi demi untuk melakukan yang terbaik.79 Kesesuaian pemikiran
Qasim Amin dengan teori ini adalah bahwa Qasim Amin memiliki hasrat kuat untuk merubah masyarakat negaranya dengan terus berkarya menulis buku yang ingin mengangkat derajat perempuan walaupun banyak menerima kritikan dan cemoohan.
Perubahan yang dialami Qasim Amin juga melalui beberapa tahapan perubahan sosial sebagaimana yang disampaikan Robert E. Park karena adanya penyatupaduan etnik yang membawa perubahan sosial, yaitu kontak, persaingan, akomodasi, dan asimilasi. Pada setiap tahapan berlangsung beberapa proses yang membawa relasi kepada langkah yang saling berkelanjutan: 1) kontak, yaitu terjadinya kontak antara Qasim Amin dengan D’Couhourt dan kebudayaan Perancis serta pemikiran Muhammad Abduh, 2) persaingan, setelah kontaknya tersebut timbul persaingannya dengan D’Couhourt lewat komunikasi tulisan, 3) Akomodasi, setelah kontak dan bersaing menimbulkan hubungan yang lebih erat, dan 4) asimilasi, yaitu
adanya pembauran dan penyatuan pemikiran akibat akomodasi tersebut.80
Simpulan
Perhatian Qasim Amin terhadap fikih perempuan tidak terlepas dari pengaruh jajahan Inggris dan Perancis di Mesir, yang membuka modernisasi di Mesir. Modernisasi tersebut membuka peluang bagi warga Mesir untuk belajar di luar negeri salah satunya ke Perancis seperti yang dialami Qasim Amin. Kritikan D’Couhourt pada warga Mesir yang mendiskriminasikan perempuan menggerakkan Qasim Amin untuk membela negaranya dengan
menulis buku al-Misriyyu>n. Namun dengan bertambahnya masa interaksinya dengan budaya
Perancis menjadikannya pada tahun 1899 menerbitkan bukunya yang berjudul Tah}ri>r al-Mar’ah
(Emansipasi Perempuan). Dalam buku ini, dia memperjuangkan pendidikan perempuan sebagai suatu hak pemberian Tuhan, mengkritik hijab, talak, dan poligami. Ide-idenya menuai kritik tajam karena dianggap menyalahi tradisi ketika itu yang dianggap sudah baku.
Teori sosiologi yang berkaitan dengan pemikiran Qasim Amin adalah teori konflik yang dikemukakan Lewis A. Coser dan kepribadian kreatif David MacLelland. Bahwa pemikirannya berkembang setelah adanya konflik dengan D’Couhourt dan ia memiliki pribadi kreatif yaitu hasrat untuk membela dan mengubah pemahaman warga Mesir tentang perempuan dengan menuangkan ide-idenya dalam buku al-Mis}riyyu>n, Tah}ri>r al-Mar’ah dan al-Mar’ah al-Jadi>dah.
Daftar Pustaka
Abdul Azis Dahlan (et al.), Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996)
Afaf Lutfi Sayyid al-Marsot, a Short History of Modern Egypt, (Cambridge: Cambridge University
Press, 1990).
Ahmad Abd. Rahman, “Jiha>d al-‘Iffah fi> Muwa>jaha>t al-Taghri>b”, Jurnal al-Mana>r al-Jadi>d, edisi
8, (Kairo: Da>r al-Mana>r al-Jadi>d; Oktober, 1999).
Amru Abd. Karim, “Qa>sim Ami>n Baina Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Mar’ah al-Jadi>dah”, Jurnal Al-Mana>r al-Jadi>d, (Kairo: Da>r al-Mana>r al-Jadi>d; Januari, 1999).
Derek Hopwood, Egypt, Politics and Society 1945-1984, (London: Billing&Sons, 1985).
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1996).
Issa J. boullata, Trends and Issues in Contemporary Arab Thought, (New York: State University of
New York, 1990).
Jamal Sulthon, “Qadhiyyah Qasim Amin”, Jurnal al-Mana>r al-Jadi>d, edisi 8, (Kairo: Da>r al-Mana>r al-Jadi>d; Oktober, 1999).
Judistira K.Garna, Teori-Teori Perubahan Sosial, (Bandung: Universitas Padjajaran, 1992)
M. Imarah, Qa>sim Ami>n: Tah}ri>r al-Mar’ah wa al-Tamaddun al-Isla>my, (Kairo: Da>r al-Syuru>q, 1988). ________, Qa>sim Ami>n; al-A’ma>l al-Ka>milah, (Kairo: Da>r al-Syuru>q, 1989).
M. Sayyid Barokah, “Ma’a Muhammad Qut}b; Qadhiyyah Tah}ri>r al-Mar’ah”, Jurnal al-Mana>r al-Jadi>d, edisi 8, (Kairo: Da>r al-Mana>r al-Jadi>d; Oktober, 1999).
Maryam, Jameelah, Islam dan Modernisme, terj. A. Jainuri dkk., (Surabaya: Usaha Nasional, tt.).
Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: Rajawali press, 2004)
Musthafâ Mu’min, Qosama>t al-‘A>lam al-Isla>mi> al-Mu’a>shir, (Kairo: Da>r al-Fath}, 1974).
Nelly Van Doorn Harder, “Perempuan di Mesir: Perspektif Budaya dan Agama”, dalam Menakar
“Harga” Perempuan Syafiq Hasyim (et al.), (Bandung:Mizan, 1999).
Nur Syam, Bukan Dunia Berbeda, (Surabaya: Graha Sophia Center, 2005)
Qa>sim Amin, al-Mis}riyyu>n, (Kairo: Da>r al-Hila>l, tt.).
Selma Hotman, Egypt from Independence to Revolution, 1919-1952, (Syracuse: Syracuse University
Press, 1991).