• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN KUMPULAN CERPEN SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA KARYA AGUS NOOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN KUMPULAN CERPEN SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA KARYA AGUS NOOR"

Copied!
220
0
0

Teks penuh

(1)

i

KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN

DALAM KUMPULAN CERPEN

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

KARYA AGUS NOOR

SKRIPSI

Oleh:

NIKEN SARASVATI DEVI

K1207003

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Oktober 2012

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Niken Sarasvati Devi NIM : K1207003

Jurusan/Program Studi : PBS/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul ”KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM KUMPULAN CERPEN SEPOTONG

BIBIR PALING INDAH DI DUNIA KARYA AGUS NOOR” ini

benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, Oktober 2012

Yang membuat pernyataan

Niken Sarasvati Devi

(3)

iii

KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN

KUMPULAN CERPEN

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

KARYA AGUS NOOR

Oleh:

NIKEN SARASVATI DEVI

K1207003

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Oktober 2012

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi ABSTRAK

Niken Sarasvati Devi. KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN KUMPULAN CERPEN SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA

KARYA AGUS NOOR. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Oktober. 2012.

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengidentifikasi ikon, indeks, dan simbol yang ada di dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling

Indah di Dunia karya Agus Noor; (2) menganalisis makna yang ada di balik

ikon, indeks, simbol; (3) mendeskripsikan serta mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan dalam karya tersebut.

Penelitian ini beruapa penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari dokumen (Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di

Dunia karya Agus Noor) dan informan (beberapa pembaca karya tersebut, dan

sastrawan). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi

(content analysis). Validitas data menggunakan teknik triangulasi metode dan

triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teknik pembacaan hermeneuitik atau retroaktif. Prosedur yang digunakan adalah analisis model interaktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam karya tersebut, ikon, indeks, dan simbol yang teridentifikasi sebagai berikut: ikon yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini berupa ikon metaforis, indeks dalam karya tersebut berupa indeks yang memiliki hubungan dengan teks dalam teks, dan simbol yang terdapat dalam karya tersebut berupa simbol yang diwakilkan oleh suatu benda dan gerakan tubuh para tokoh.

Simpulan dari penelitian ini adalah ikon metaforis yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini memiliki makna konotasi tertentu dari apa yang disebutkan (sesuai dengan konteks cerita). Indeks yang memiliki kaitan dengan teks dalam teks memiliki makna yang dikelompokkan menjadi tiga macam, antara lain bermakna penggambaran perasaan para tokoh dalam cerita, penggambaran latar tempat dan suasana dalam cerita, dan penggambaran watak para tokoh dalam cerita. Simbol yang diwakili oleh benda bermakna terjadinya suatu peristiwa (kematian) dan simbol berupa gerakan tubuh merupakan ekspresi yang mewakili perasaan para tokoh. Nilai- nilai pendidikan pada karya tersebut, antara lain nilai agama mengajarkan untuk selalu mengingat Tuhan dan datangnya kematian, tabah dalam menjalani ujian dan ketentuan Tuhan. Nilai sosial, tentang toleransi terhadap orang lain serta kritik sosial terhadap pemerintah dalam menangani ketimpangan sosial yang semakin tajam. Nilai moral, tentang kejujuran dan kebenaran dalam setiap langkah diambil. Nilai estetis, keindahan latar tempat yang digambarkan pengarang.

Kata kunci: kajian semiotik, sepotong bibir paling indah di dunia, nilai pendidikan.

(7)

vii MOTTO

Tidak semua hal dapat disampaikan dengan gamblang dan lugas. Terkadang kita membutuhkan tanda atau lambang untuk menunjukkan sikap etis dan

estetis. (Penulis)

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk :

”Bapak dan Ibu”

Doamu yang tiada terputus, kerja keras tiada henti, pengorbanan

yang tak terbatas dan kasih sayang tidak terbatas pula. Semuanya

membuatku bangga memiliki kalian. Tiada kasih sayang yang seindah dan

seabadi kasih sayangmu.

“ Saudara-saudaraku, Puthut Widyawan, Bayu Murti Sulaiman, dan Ayusta Sri Nurhayati”

Terima kasih karena senantiasa memberikan semangat dan nasihat

untuk terus melakukan yang terbaik.

”Segenap keluarga Siti Soetardjo”

Terima kasih atas semangat, pengertian, dan doa yang tercurah untukku

agar bisa mencapai impian yang juga menjadi harapan kalian semua.

”Ranin Agung Kurniawan”

Terima kasih atas perhatian, pengertian, dan doamu yang tercurah

untukku agar bisa menjadi seseorang yang kuat menghadapi

kehidupan.

”Teman-teman Bastin”

Terima kasih karena telah membuatku menjadi lebih dewasa.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memberi ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”KAJIAN SEMIOTIK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM KUMPULAN CERPEN SEPOTONG BIBIR

PALING INDAH DI DUNIA KARYA AGUS NOOR”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin penulisan skripsi;

2. Dr. Muhammad Rohmadi, S. S, M. Hum., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni yang telah memberikan persetujuan skripsi;

3. Dr. Kundharu Saddhono, M. Hum., Ketua Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan izin penulisan skripsi; 4. Drs. Slamet Mulyono, M. Pd., selaku pembimbing I dan Dra. Raheni

Suhita, M. Hum., selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik;

5. Dr. Suyitno, M. Pd., Pembimbing Akademik, yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama menjadi mahasiswa di Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS;

(10)

x

6. Bapak dan Ibu Dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah tulus memberikan ilmu dan masukan-masukan pada penulis;

7. Bapak Hanindawan, Leak Sosiawan, Rudy A.Nugroho, Bayu Murti Sulaiman, Bapak Yayat Suhiryatna, Ranin Agung Kurniawan, Yunita N.K, Fatima Z., Asri Puspitaningtyas, Tyas Sri U., atas waktu yang diluangkan untuk menjadi narasumber;

8. Rekan-rekan Bahasa dan Sastra Indonesia 2007 yang tidak dapat saya sebutkan satu demi satu yang telah membantu dan membersamai selama menjadi mahasiswa dan dalam menyelesaikan skripsi ini; 9. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang

tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karenaa keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surakarta, Oktober 2012

Penulis,

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……… i

HALAMAN PERNYATAAN………. ii

HALAMAN PENGAJUAN……… iii

HALAMAN PERSETUJUAN………. iv

HALAMAN ABSTRAK……….. v

HALAMAN MOTTO………... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN……… viii

KATA PENGANTAR……….. ix

DAFTAR ISI………. xi

DAFTAR GAMBAR……… xiv

DAFTAR TABEL………. xv

DAFTAR LAMPIRAN……… xvi

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Rumusan Masalah………. 4

C. Tujuan Penelitian……… 4

D. Manfaat Penelitian………. 4

BAB II: LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ………..………. 6

1. Hakikat Cerpen………..………... 6

a. Pengertian Cerpen.……… 6

b. Unsur-unsur Pembangun Cerpen…..………... 7

1) Tema Cerita………. 7

2) Amanat……… 8

3) Peristiwa Cerita (Alur)……….. 8

4) Penokohan dan Perwatakan……….... 10

5) Latar Cerita ………..………... 12

6) Sudut Pandang Pencerita……… 12

7) Gaya Pengarang………... 13

(12)

xii

2. Hakikat Semiotik……….. 14

a. Pengertian Semiotik……….. 14

b. Semiotika dalam Penelitian Karya Sastra………….... 20

3. Hakikat Nilai dalam Karya Sastra ……… 24

a.Nilai Agama…………..……….. 25

b.Nilai Sosial……….. 25

c.Nilai Moral……….. 26

d.Nilai Estetis………. 26

4.Penelitian yang Relevan……….. 28

B. Kerangka Pemikiran ..………... 31

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian………. 33

B. Bentuk dan Strategi Penelitian………. 33

C. Sumber Data……… 34

D. Teknik Pengumpulan Data……….. 34

E. Validitas Data………. 36

F. Teknik Analisis Data………. 37

G. Prosedur Penelitian………. 37

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data………….……… 40

B. Pembahasan……… 63

1. Identifikasi Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia……… 72

2. Analisis Makna Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia……… 87

3.Nilai Pendidikan dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia ………....….…….192

BAB V: SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan………206

B. Implikasi………207

(13)

xiii

C. Saran………..207

DAFTAR PUSTAKA………209

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Skema Tipologi Dasar Peirce……… 16 2. Skema Kerangka Pemikiran………. …… 32 3. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif Milles dan

Huberman……….. 37

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1. Trikotomi Peirce ... 18 2. Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan………... 33

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Sinopsis Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia…….209

2. Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Dosen UPI Bandung ……213

3. Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Sastrawan………..215

4. Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Pembaca………219

5. Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Sastrawan untuk Validasi Data………...223

6. Profil Agus Noor………240

7. Surat Keputusan Dekan FKIP………...241

8. Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi………...242

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Apresiasi sastra merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di perguruan tinggi yang memiliki fungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa kemanusiaan, kepedulian sosial, dan menumbuhkan apresiasi mahasiswa. Hal tersebut sesuai dengan rasional dalam mata kuliah Apresiasi dan Pengkajian Prosa Fiksi yang menyebutkan bahwa mata kuliah tersebut diberikan pada mahasiswa untuk meningkatkan dan mengembangkan kepribadian, keilmuan, keterampilan akademik dan bermasyarakat khususnya dalam bidang keterampilan mengapresiasi prosa fiksi dalam khasanah sastra Indonesia dengan berbagai metode pengkajian (2004: 69). Dalam mengapresiasi sastra terdapat beberapa pendekatan, antara lain, yaitu pendekatan struktural (strukturalisme), pendekatan strukturalisme genetik, pendekatan semiotik, pendekatan strukturalisme semiotik, pendekatan intertekstual, pendekatan resepsi, pendekatan post-strukturalisme, pendekatan sosiologi sastra, pendekatan psikologi sastra, dan pendekatan feminis. Melalui pendekatan-pendekatan sastra tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami, menikmati, dan menghayati karya sastra, salah satunya yaitu cerpen.

Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang tidak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran mengenai kehidupan yang terkandung dalam amanat atau pesan dari karya sastra tersebut sehingga pembaca bisa mendapatkan pengetahuan baru mengenai sesuatu hal melalui karya sastra yang dibacanya. Salah satu yang termasuk karya sastra, yaitu cerpen. Sebagai salah satu karya sastra, cerpen diharapkan mampu membentuk pemikiran-pemikiran yang positif bagi pembacanya sehingga pembaca peka terhadap masalah-masalah yang

(18)

2

berkaitan dengan kehidupan sosial dan mendorong untuk berperilaku baik. Selain itu, cerpen dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk mencari pengalaman karena di dalam cerpen terkandung nilai-nilai kehidupan, pendidikan, serta pesan moral. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Teeuw dalam Ratna (2005:4-5) berpendapat bahwa sastra berasal dari akar kata sas (Sansekerta) yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar. Lebih lanjut, Ratna (2005:447) mengungkapkan bahwa karya sastra dan ekspansi pendidikan secara etimologis, sastra juga berarti alat untuk mendidik lebih jauh, dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika.

Cerpen-cerpen dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling

Indah di Dunia karya Agus Noor bisa dijadikan sebagai salah satu bahan

ajar apresiasi sastra di perguruan tinggi, karena cerpen-cerpen yang ada di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang terbingkai dalam kisah seseorang dari lingkup yang kecil sampai dengan lingkup yang besar. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Dosen Bahasa dan Sastra UPI, Rudy Adi Nugroho ketika peneliti mewawancarai, “Dengan kualitas permainan tanda yang dihadirkan pengarang dalam kumpulan cerpen tersebut, saya kira sangat potensial sekali karya ini menjadi bahan ajar untuk mata kuliah kajian prosa fiksi khususnya terkait materi tentang kajian semiotik”.

Selain itu, cerpen-cerpen dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir

Paling Indah di Dunia karya Agus Noor juga menyajikan dunia rekaan

yang menyentak realitas keseharian dan memiliki nilai-nilai reflektif atas realitas sosial. Dari segi penyampaiannya, Agus Noor menggunakan cara ungkap yang menarik, yaitu dengan nuansa surealis dan jenaka. Teks dalam cerpen Agus Noor menghadirkan eksplorasi bahasa yang meluapkan keserbamungkinan makna, sekaligus menyajikan realitas imajinasi yang bisa disentuh oleh pembacanya. Nilai kehidupan yang terdapat dalam cerpen-cerpen tersebut salah satunya, yaitu rasa ikhlas

(19)

3

menerima kenyataan hidup walaupun terasa pahit. Penggunaan unsur semiotik yang meliputi ikon, indeks, dan simbol pun terdapat dalam cerpen-cerpen tersebut. Dalam salah satu judul kumpulan cerpen tersebut, “Empat Cerita Buat Cinta” terdapat ikon metafora; “kristal air mata” yang sering muncul dalam cerpen tersebut. Selain itu, indeks yang terdapat dalam cerpen tersebut, yaitu salah satunya pada kalimat “ Sandra merasa bantalnya basah. Ia berharap, sungguh-sungguh berharap, para peri pemetik air mata itu muncul malam ini”. Sementara simbol yang digunakan pengarang dalam cerpen tersebut, yaitu “ air mata”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pembaca, penggunaan tanda-tanda atau simbol dalam Kumpulan Cerpen Sepotong

Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor tersebut membuat pembaca

sulit memahami atau mengerti isi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya. Banyak hal-hal yang tidak terungkap secara gamblang sehingga menyebabkan pembaca kebingungan dalam menafsirkan, apalagi pada pembaca yang tingkat pemahamannya terhadap suatu karya sastra masih rendah.

Berdasarkan beberapa penelitian yang mengkaji tentang unsur-unsur semiotik yang meliputi ikon, indeks, dan simbol yang pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Daru Roseno, Bambang Purwoko, Sadewo Wahyu Wardoyo, Ranin Agung Kurniawan, dan Yunita Nurul Khomsah, sedangkan penelitian pada Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah

karya Agus Noor belum pernah dilakukan. Bertolak dari fakta tersebut peneliti tertantang untuk mengupas lebih dalam kumpulan cerpen tersebut yang berkaitan dengan unsur-unsur semiotik yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor. Berdasarkan beberapa hal tersebut, maka peneliti mengangkat judul Kajian Semiotik dan Nilai Pendidikan dalam Kumpulan Cerpen Sepotong

Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor.

(20)

4

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Unsur ikon, indeks, dan simbol apakah yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor?

2. Apakah makna yang terdapat di balik unsur ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia

karya Agus Noor ?

3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor?

C. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan unsur ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor

2. Mendeskripsikan makna yang terdapat di balik unsur ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling

Indah di Dunia karya Agus Noor.

3. Mendeskripsikan keterkaitan nilai yang terkandung dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor dengan pendidikan karakter di sekolah.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoretis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan, yaitu mengetahui dan menemukan unsur-unsur semiotik yang di antaranya, yaitu ikon, indeks, dan simbol yang terdapat pada Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di

Dunia karya Agus Noor.

(21)

5

2. Manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Bagi Dosen

Memberikan satu alternatif karya sastra yang bisa dijadikan bahan ajar apresiasi sastra di perguruan tinggi khususnya dengan menggunakan kajian semiotik.

b. Bagi Mahasiswa

Membantu mahasiswa untuk memahami dan mengapresiasi suatu karya sastra khususnya cerpen yang berkaitan dengan unsur-unsur semiotik yang meliputi ikon, indeks, dan simbol.

c. Bagi Pembaca

Membantu pembaca untuk memahami unsur-unsur semiotik yang meliputi ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam karya sastra.

d. Bagi Peneliti

Menambah wawasan tentang kajian semiotik dalam suatu karya sastra khususnya cerpen.

(22)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Hakikat Cerpen

a. Pengertian Cerpen

Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa dengan ukuran yang pendek dan tentunya juga terdapat unsur-unsur yang membangun, karena memiliki kisah yang pendek, konflik yang terdapat di dalamnya pun tidak banyak dan cenderung fokus pada satu permasalahan saja, seperti yang diungkapkan oleh Gie dan Widyamartaya bahwa cerita pendek adalah cerita imajinatif yang berbentuk prosa pendek, biasanya di bawah 10.000 kata, dan mengandung kesan yang kuat serta mengandung unsur-unsur drama (dalam Rampan, 1995:10).

Senada dengan pendapat di atas, pandangan Asura tidak jauh berbeda dengan Gie dan Widyamartaya dalam mendefinisikan cerita pendek, yaitu sama-sama memberi tekanan pada satu kesan atau efek yang kuat serta fokus dalam penceritaan dalam suatu cerita pendek. Asura mengungkapkan bahwa prinsip dasar dari sebuah cerita pendek jika dibandingkan dengan karya sastra yang lain, yaitu cerita pendek harus memberi satu efek atau kesan pada pembaca setelah membacanya (2007:43).

Pandangan Sumardjo dan Saini mengenai cerpen lebih memfokuskan tentang asal atau inspirasi cerita pendek itu tercipta, Sumardjo dan Saini berpendapat mengenai cerpen, yaitu cerpen bukanlah cerita yang diciptakan berdasarkan kejadian yang sesungguhnya atau sesuai kenyataan tetapi hanya cerita yang imajinatif saja, meskipun cerita imajinatif tetapi ide atau cerita dalam cerpen diambil dari kehidupan (1988:36). Begitu juga seperti yang dipaparkan oleh Yudiono Ks. mengenai cerpen tidak jauh berbeda dengan pandangan Jakob Sumarjo dan Saini, yaitu lebih menekankan pada asal atau sumber cerita yang diangkat dalam cerpen, yang membedakan pendapat keduanya, yaitu Yudiono Ks. juga menyoroti pentingnya keberadaan tokoh dan unsur pembangun karya sastra lainnya, seperti yang ia paparkan, yaitu

(23)

7

cerita yang bersumber dari persoalan kehidupan atau mengangkat tema kehidupan yang terdiri dari tokoh-tokoh pembawa cerita yang terbalut dalam unsur-unsur pembangun suatu karya sastra (dalam Rampan, 1995: 10-11).

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai cerpen yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen adalah cerita imajinatif berbentuk prosa pendek yang kisahnya diambil atau diangkat dari kehidupan dan dibawakan oleh tokoh-tokoh serta didukung oleh unsur-unsur yang membangun karya sastra yang lainnya, karena bentuknya yang pendek atau ruangnya yang sempit sehingga memberikan atau menghadirkan satu kesan yang kuat atau fokus terhadap pembacanya.

b. Unsur-unsur Pembangun Cerpen

Keutuhan atau kelengkapan sebuah cerpen dapat dilihat dari segi-segi unsur yang membentuknya. Adapun unsur-unsur itu adalah tema cerita, amanat, peristiwa cerita atau alur, penokohan dan perwatakan, latar cerita, sudut pandang pencerita, dan gaya pengarangnya.

1)Tema Cerita

Tema cerita adalah ide dari sebuah cerita atau gagasan yang membawa cerita dalam cerpen sesuai dengan keinginan pengarangnya. Sumardjo dan Saini memaparkan bahwa kisah dan perbuatan dari tokoh merupakan ide dari pengarang sesuai pandangannya mengenai kehidupan ini sehingga diharapkan pembaca dapat memahami hidup ini lebih baik lagi (1988:56).

Stanton dan Kenny mengemukakan tentang definisi tema (dalam Sri Wahyuningtyas dan Wijaya Heru S., 2011:2) adalah “Makna yang dikandung oleh sebuah cerita.” Tidak jauh berbeda dengan pendapat yang disampaikan Stanton dan Kenny mengenai tema, Hartoko dan Rahmanto pun menyoroti makna yang terkandung dalam suatu karya sastra melalui tema. Hartoko dan Rahmanto (dalam Sri Wahyuningtyas, dkk., 2011:2) menyebutkan bahwa tema merupakan ide dasar yang menyangga cerita dalam karya sastra yang didalam teksnya terkandung unsur makna atau semantis.

(24)

8

Senada dengan pendapat-pendapat para ahli di atas, Sudjiman memaparkan bahwa tema adalah ide, gagasan, atau fokus utama yang mendasari karya sastra (1988: 50). Pendapat Sudjiman ini hampir sama dengan pendapat beberapa ahli yang telah disebutkan sebelumnya secara umum, yaitu menyoroti tema sebagai gagasan dasar suatu karya sastra.

Berdasarkan beberapa pendapat yang mengungkapkan tentang tema di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah gagasan dasar atau utama yang mendasari suatu cerita dalam karya sastra yang dapat diambil dari pandangan pengarang mengenai kehidupan ini yang kemudian disampaikan melalui teks sehingga mengandung makna atau hikmah yang diharapkan dapat disikapi oleh pembaca agar memaknai hidup dengan lebih baik.

2) Amanat

Dalam sebuah karya sastra, pastinya pengarang menyisipkan pesan yang ingin disampaikan pada pembaca melalui karya sastranya. Sudjiman menyebutkan bahwa amanat adalah ajaran moral yang diangkat ke dalam cerita yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca (1988: 57).

Amanat terdapat pada sebuah karya sastra dapat disampaikan secara implisit ataupun eksplisit. Sudjiman menyebutkan bahwa jika ajaran moral itu disampaikan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokoh menjelang akhir cerita disebut implisit, sedangkan eksplisit jika pada tengah atau akhir cerita amanat disampaikan secara langsung melalui nasihat, atau yang lainnya yang berkenaan dengan gagasan dasar cerita itu (1988: 58).

3) Peristiwa Cerita atau Alur

Peristiwa cerita adalah alur atau jalannya penceritaan. Semi menyebutkan bahwa alur adalah kerangka utama cerita yang terpadu dengan unsur-unsur pembangun cerita yang lainnya (1988:43). Tidak jauh berbeda dengan Semi, Stanton (dalam Sri Wahyuningtyas,dkk., 2011: 5-6) menyebutkan bahwa alur adalah cerita yang berisi kejadian yang runtut

(25)

9

dan disetiap kejadiannya terdapat hubungan sebab akibat, artinya peritiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lainnya.

Abrams memaparkan bahwa alur merupakan susunan kejadian yang urut untuk mencapai efek emosional dan artistik tertentu (dalam Sri Wahyuningtyas, dkk., 2011: 6). Pendapat Abrams tersebut juga tidak jauh berbeda dengan pendapat-pendapat yang sudah dipaparkan para ahli sebelumnya, hanya saja Abrams juga menyoroti tujuan dari alur dalam suatu cerita, yaitu untuk mencapai efek emosional dan nilai artistik tertentu.

Berdasarkan pemaparan pendapat para ahli di atas, masing-masing pendapat secara umum sama-sama menyoroti alur sebagai susunan atau kerangka yang terdapat kejadian yang runtut, yang membedakan ketiganya, yaitu Semi lebih menekankan bahwa alur merupakan keterpaduan antara cerita dengan unsur-unsur pembangun cerita yang lainnya, sedangkan Stanton memfokuskan pada hubungan sebab akibat disetiap urutan kejadiannya. Berbeda juga dengan pendapat Abrams, dia lebih menegaskan pada pencapaian efek emosional dan artistik tertentu yang ditimbulkan dari alur cerita.

Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai alur cerita, yaitu susunan atau kerangka kejadian dalam cerita yang runtut dan memiliki hubungan sebab akibat. Selain itu, kejadian yang runtut tersebut memiliki tujuan untuk menimbulkan efek emosional dan artistik tertentu sehingga tercipta keterpaduan antara unsur pembangun cerita yang lainnya.

Telah diungkapkan sebelumnya bahwa di dalam cerpen memiliki konflik atau kesan yang kuat dan fokus sehingga alur yang terdapat dalam cerpen pun tidak banyak atau tunggal seperti yang diungkapkan oleh Nurgiyantoro, alur cerpen pada umumnya tunggal yang terdiri dari satu urutan kejadian saja dan cenderung tidak berisi penyelesaian yang jelas atau bisa disebut menggantung, penyelesaian diserahkan pada interpretasi pembaca (2007:12). Di sinilah kelebihan dari cerpen, yaitu memberikan

(26)

10

kesempatan seluas-luasnya pada pembaca untuk berimajinasi menginterpretasi kelanjutan cerita yang telah dibacanya.

Semi (1988: 44), pada umumnya alur cerita rekaan terdiri dari a) alur buka, ketika kejadian-kejadian dimulai dan berkelanjutan; b) alur tengah, ketika konflik mulai bergerak ke arah puncak; c) alur puncak, konflik sudah mencapai pada titik klimaks; d) alur tutup, konflik mulai ada penyelesaian. Pandangan tersebut tidak jauh berbeda seperti yang disampaikan oleh Tasrif (dalam Sri Wahyuningtyas, dkk., 2011: 6) membedakan tahapan plot menjadi lima tahap, yaitu: “a) situation (penyituasian); b) generating circimtances (pemunculan konflik); c) rising

action (peningkatan konflik); d) climax (memuncak); e) denouement

(penyesuaian)”. Melihat kedua pendapat tersebut sebenarnya secara umum hampir sama, perbedaan hanya terdapat pada tahap denouement (penyesuaian) setelah konflik mencapai puncak yang disebutkan oleh Tasrif, penyesuaian yang dimaksud adalah penyesuaian terhadap konflik yang sedang memuncak dalam cerita.

4)Penokohan dan Perwatakan

Penokohan dan perwatakan merupakan dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena di dalam tokoh terdapat watak tertentu. Nurgiyantoro menyebutkan bahwa tokoh atau penokohan lebih menunjuk pada orang atau pelaku cerita, sedangkan watak menunjuk pada sikap atau tingkah laku tokoh tersebut (2007:165). Demikian juga seperti pendapat yang dipaparkan oleh Abrams, (dalam Nurgiyantoro, 2007: 165) tokoh cerita adalah orang-orang yang disajikan dalam karya naratif atau drama, lalu ditafsirkan oleh pembaca memiliki sikap moral tertentu yang dapat dinilai atau dilihat melalui ucapan dan tindakan. Kedua pendapat tersebut secara umum hampir sama hanya saja Abrams juga menekankan penafsiran pembaca sebagai penentu gambaran tokoh dalam cerita yang dibacanya.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif dan

(27)

11

membawakan watak tertentu. Dan watak yang dibawakannya dapat dilihat melalui sikap atau tingkah laku tokoh tersebut sesuai penafsiran atau penilaian dari pembaca.

Tokoh-tokoh dalam cerita dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu: a) tokoh utama dan tambahan; b) tokoh protagonis dan antagonis; c) tokoh sederhana dan bulat; d) tokoh statis dan berkembang; e) tokoh tipikal dan netral (Nurgiyantoro, 2007: 176). Penokohan dan perwatakan ini merupakan salah satu hal yang kehadirannya dalam sebuah karya prosa fiksi amat penting dan bahkan menentukan karena tidak mungkin ada suatu karya fiksi tanpa adanya tokoh yang diceritakan. Arti penting dari kehadiran tokoh di dalam karya fiksi, yaitu menjadi pelaku dari pemikiran pengarangnya, seperti yang diungkapkan oleh Semi bahwa tokoh dalam cerita berperan untuk membawakan suatu watak tertentu sesuai keinginan pengarang dan dapat dideksripsikan melalui tingkah laku yang dilakukan tokoh (1993:37).

Hal tersebut senada dengan pendapat Sumardjo dan Saini hanya saja beliau lebih memberikan rincian mengenai tingkah laku tokoh yang dapat dijadikan cerminan watak yang dimiliki tokoh tersebut. Sumardjo dan Saini memaparkan mengenai cara mengenali karakter dalam sebuah cerita, yaitu: a) melalui apa yang diperbuatnya; b) melalui ucapannya; c) melalui penggambaran fisik tokoh; d) melalui pikiran-pikirannya; e) melalui penerangan langsung(1988:65-66).

Teknik penggambaran tokoh menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Sri Wahyuningtyas, dkk., 2011: 4-5) dibedakan menjadi dua cara, yaitu secara analitik dan dramatik. Analitik adalah penggambaran tokoh dengan cara pemaparan secara langsung dan dramatik adalah penggambaran tokoh melalui teknik cakapan, tingkah laku, pikiran dan perasaan, arus dan kesadaran, reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, penggambaran latar, dan penggambaran fisik.

(28)

12 5) Latar Cerita

Abrams memaparkan bahwa latar cerita, memiliki pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial yang ditampilkan (dalam Nurgiyantoro, 2007:216). Hal tersebut juga disebutkan oleh Sumardjo dan Saini, latar cerita adalah penggambaran tentang tempat atau daerah tertentu, orang-orang berwatak tertentu karena pengaruh lingkungan tempat mereka tinggal (1988:76). Tata cara kehidupan sosial masyarakat yang mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan dan pandangan hidup dapat dilihat dari latar ceritanya Hal tersebut juga dikatakan oleh Nurgiyantoro yang membedakan latar menjadi tiga unsur pokok, yaitu: a) latar tempat, menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa cerita; b) latar waktu, menyaran pada kapan terjadinya peristiwa cerita; c) latar sosial, menyaran pada hal yang berhubungan dengan perilaku masyarakat di suatu tempat dalam cerita (dalam Sri Wahyuningtyas, dkk., 2011: 7).

Berdasarkan ketiga pendapat mengenai latar tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa latar adalah perwujudan atau penggambaran tempat, waktu, dan lingkungan sosial yang mengiringi tokoh dalam cerita. Melalui latar, pembaca dapat membayangkan situasi atau deskripsi tempat para tokoh diceritakan.

6) Sudut Pandang Pencerita

Nurgiyantoro (2007:18) mengungkapkan bahwa sudut pandang adalah titik sentral dari mana cerita dikisahkan. Senada dengan pendapat yang dikemukakan Abrams bahwa sudut pandang pencerita adalah pandangan yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (dalam Nurgiyantoro, 2007:248). Kedua pendapat mengenai sudut pandang tersebut sama-sama memberi tekanan pada cara yang digunakan pengarang dalam memandang cerita yang diciptakan.

(29)

13

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudut pandang pencerita adalah cara pandang pengarang untuk menceritakan cerita yang diciptakannya. Selain itu, dari sudut mana pengarang tersebut memandang sekaligus menampilkan tokoh, tindakan, latar dan berbagai kejadian yang terdapat dalam cerita.

Sudut pandang pencerita dipilih oleh pengarang sesuai dengan pandangan pengarang mengenai cerita yang diciptakannya melalui karakter yang dia inginkan. Ada empat point of view yang asasi menurut Sumardjo dan Saini (1988: 83-85) adalah,

a)omniscient point of view (sudut pandang yang berkuasa), pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya; b) objective point

of view, pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti

penonton melihat pementasan sandiwara; c) point of view orang pertama, bercerita dengan sudut pandang “aku”; d) point of view peninjau, pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Pendapat tersebut sama dengan Semi (1988: 57) mengenai sudut pandang bahwa sudut pandang pengarang juga terdapat empat jenis, yaitu: a) pengarang sebagai tokoh pencerita; b) pengarang sebagai tokoh sampingan; c) pengarang sebagai orang ketiga (pengamat); d) pengarang sebagai pemain dan narator. Berdasarkan penjelasan di atas, pengarang memiliki kebebasan untuk memilih sudut pandang sebagai teknik ketika ia menceritakan cerita karangannya.

7) Gaya Pengarang

Gaya pengarang merupakan cara pengarang dalam menggunakan bahasa dalam mengisahkan cerita yang diciptakannya. Sumardjo dan Saini mengungkapkan bahwa gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang dalam memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerpen (1988:92). Dengan demikian, gaya merupakan cerminan dari pribadi pengarang yang dituangkan dalam cerita karangannya.

Dalam dunia sastra, gaya penyampaian atau gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang tentunya memiliki tujuan tertentu yang

(30)

14

menentukan perbedaan antara karya yang satu dengan karya yang lain. Tetapi, gaya dalam hal ini lebih luas dari gaya seperti gaya bahasa metafora, personifikasi, dan sebagainya. Gaya di sini meliputi penggunaan kalimat, penggunaan dialog, penggunaan detail, cara memandang seseorang (pengarang), dan sebagainya. Semi mengungkapkan, perbedaan penggunaan gaya penyampaian dalam karya sastra dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: a) pribadi penutur, pengalaman dan pengetahuannya; b) tujuan yang hendak dicapai; c) topik yang ditampilkannya; d) bentuk tutur yang dipilihnya; dan e) kondisi penangkap tutur yang dihadapi (1993: 48). Melalui gaya penyampaian pengarang dalam menciptakan karyanya mendukung tujuan yang ingin disampaikan pada pembaca.

2. Hakikat Semiotik

a. Pengertian Semiotik

Secara definitif, Cobley dan Janz menyebutkan bahwa semiotika berasal dari kata seme, bahasa Yunani, yang berarti penafsir tanda (dalam Ratna, 2011: 97) di sini Cobley dan Janz berpandangan bahwa semiotika adalah penafsir tanda yang berarti sesuatu yang dijadikan alat untuk menafsirkan atau mengartikan tanda, lain halnya dengan Ratna yang tidak hanya menyoroti semiotika sebagai penafsir tanda, tetapi juga menyoroti cara kerja dan manfaatnya bagi kehidupan manusia, Ratna mengatakan bahwa dalam pengertian lebih luas, sebagai teori, semiotika merupakan studi sistematis tentang produksi dan interpretasi tanda, cara kerja tanda, dan manfaatnya terhadap kehidupan manusia ( 2011:97).

Hartoko dan Rahmanto memaparkan mengenai pengertian semiotik adalah ilmu yang meneliti mengenai tanda, sistem tanda, dan proses suatu tanda dimaknai (1986:131). Begitu juga yang disampaikan oleh Sebeok (dalam M. Ikhwan Rosidi, Trisna Gumilar, Heru Kurniawan, dan Zurmailis, 2010:99-100) bahwa semiotika adalah sebuah disiplin ilmu yang menelaah atau mengkaji seluruh bentuk komunikasi yang terjadi akibat tanda, dan didasarkan pada sistem tanda (kode). Kedua pendapat tersebut tidak jauh berbeda seperti yang disampaikan oleh Eco secara singkat (dalam Ratna,

(31)

15

2011:105-106) mengemukakan bahwa semiotika merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian semiotika tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semiotika adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tanda yang ada (dihasilkan), cara kerja tanda yang dihasilkan kemudian dimaknai untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Terdapat beberapa pelopor teori semiotik, salah satunya adalah Charles Sanders Peirce. Peirce mengusulkan kata semiotika sebagai persamaan kata dari logika. Peirce mengatakan, logika harus mempelajari cara orang bernalar. Penalaran itu menurut hipotesis teori Peirce yang mendasar, dilakukan melalui tanda-tanda. Keberadaan tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan alam semesta (Zoest, 1992:1). Pendapat Peirce tersebut menunjukkan bahwa tanda-tanda terhampar di alam semesta, melalui tanda-tanda tersebut kita dituntut untuk berpikir mengenai makna dan maksud dari tanda-tanda yang ada tersebut.

Semiotik Peirce mengatakan bahwa sesuatu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Peirce mengatakan (dalam Nurgiyantoro, 2007: 41) “Sebuah tanda yang ia sebut sebagai representatemen—haruslah mengacu (atau: mewakili) sesuatu yang

disebutnya sebagai objek (acuan, ia juga menyebutnya sebagai designatum, denotatum dan dewasa ini orang menyebutnya dengan istilah referent).” Jadi,

apabila suatu tanda mewakili acuannya, hal itu adalah fungsi utama tanda itu. Proses perwakilan tanda terhadap sesuatu yang diacunya pada saat tanda itu ditafsirkan dalam hubungannya dengan yang diwakili, hal itulah yang disebut interpretant, yaitu pemahaman makna yang timbul dalam penerima tanda

lewat interpretasi (Nurgiyantoro, 2007: 41). Pendapat yang sama juga disebutkan oleh Peirce (dalam Endraswara, 2003: 65) bahwa analisis semiotik menawarkan sistem tanda yang harus diungkap. Ada tiga faktor yang menentukan adanya tanda, yaitu tanda itu sendiri, hal yang ditandai, dan tanda baru yang terjadi dalam batin penerima.

(32)

16

Ratna (2011: 101) menyebutkan model triadik Peirce memperlihatkan tiga elemen utama pembentuk tanda, yaitu a) representamen, ground (tanda itu sendiri); b) object (apa yang diacu); dan c) interpretant (tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima).

Berdasarkan pemaparan di atas, Peirce tidak melihat tanda dari strukturnya, hal ini terkait dengan pendapat yang menyebutkan bahwa Peirce tidak melihat tanda sebagai suatu struktur. Tetapi, sebagai suatu proses pemaknaan tanda yang disebutnya semiosis. Semiosis merupakan proses tiga tahap antara representament, object, dan interpretant (Susanto, hlm.5)

Secara universal, Zoest (dalam Roseno, 2005: 14) mengungkapkan bahwa Peirce dalam memaknai suatu tanda bertahap-tahap, yaitu a) firstness (kepertamaan); b) secondness (kekeduaan); c)thirdness (keketigaan).

Firstness (kepertamaan), yaitu saat tanda dikenali pada tahap awal secara

prinsip saja, keberadaan seperti adanya tanpa menunjuk sesuatu yang lain, keberadaan dari kemungkinan yang potensial. Secondness (kekeduaan), yaitu tanda dimaknai secara individual, keberadaan seperti adanya, dalam hubungannya dengan second, tetapi tanpa adanya third (keberadaan dari yang ada). Thirdness (keketigaan), saat tanda dimaknai secara tetap sebagai konvensi. Jadi, keberadaannya berdasar hal yang berlaku umum.

Tipologi dasar dari Peirce dapat dilihat pada bagan berikut yang digambarkan Danesi dan Perron (dalam Susanto, hlm.3, gambar.1)

Representament

kata Jaguar

Object interpretant

‘mobil mewah’ ‘martabat’/ ‘impian’

Gambar 2.1. Tipologi Dasar Peirce

Berdasarkan gambar 2.1. dapat dinyatakan bahwa suatu

representament (tanda itu sendiri) yang dilambangkan oleh benda atau

sesuatu yang lain (contoh: kata Jaguar) dapat ditafsirkan atau dimaknai sebagai sesuatu yang sesuai dengan hal yang diacu, yaitu object ( Mobil

(33)

17

Jaguar merupakan salah satu jenis mobil mewah). Selain itu, juga dapat ditafsirkan sebagai interpretant, yaitu tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima tanda, sesuai dengan gambar di atas, tanda baru yang dihasilkan dari kata Jaguar selain makna yang sesungguhnya, yaitu bermakna sebagai martabat atau kehormatan.

(34)

18

(35)

19

Terkait dengan tabel tersebut mode of representation berkenaan dengan tingkat keberlakuan tanda yang berkaitan dengan upaya manusia memahami dunianya. Danesi dan Perron (dalam Susanto, hlm.3-4) menerangkan:

“Disebut firstness karena ikon adalah bentuk representamen yang paling lekat dengan objek yang diwakilinya sehingga tanda dikenali pada tahap awal. Disebut secondness karena indeks merupakan sebab akibat antara tanda kedua yang memperingatkan adanya tanda lain yang utama. Disebut thirdness karena representament tidak dapat terlepas dari konteks sejarah atau sosial suatu masyarakat adalah simbol yang terbentuk berdasarkan kesepakatan”.

Mode of representation (cara representasi) tersebut merupakan

tahapan-tahapan dari teori Peirce yang lebih mengedepankan pada unsure objek yang terdiri dari unsur ikon, indeks, dan simbol.

Danesi dan Perron (dalam Susanto, hlm. 4) menjelaskan type of

representamen berkaitan erat dengan type of interpretant the sign evokes,

yaitu:

“ a) berdasarkan sudut pandang interpretant, sebuah teks adalah

rheme apabila teks tersebut tidak lengkap, sebagian besar teks

dipenuhi fungsi ekspresif, atau struktur dari teks memungkinkan timbulnya berbagai interpretasi, contoh: teks susastra, puisi; b) teks deskriptif, baik fiksi maupun nonfiksi memiliki ciri dicisign karena bersifat informatif; c) teks ilmiah dan hukum, sarat dengan argument.”

Sebagaimana teori yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini akan didasari oleh teori semiotik yang dipelopori Pierce. Peneliti memilih teori milik Peirce karena teori tersebut lebih rinci dan lebih luas jika dibandingkan dengan teori-teori semiotik yang lain, hal ini berarti bahwa teori semiotik milik Peirce dapat diterapkan pada segala jenis tanda. Hal tersebut juga disebutkan oleh Yani, bahwa tanda dapat berupa gerakan tubuh, mata, mulut, tipografi tulisan, warna, bendera, bentuk rumah, pakaian, karya sastra, karya seni, dan lain-lain yang berada di sekitar kita. Sebagaimana yang diharapkan oleh Peirce agar teorinya bersifat umum dan dapat diaplikasikan pada segala macam tanda (hlm. 3). Kerincian dari

(36)

20

teori semiotik Peirce juga dapat dilihat dari tahap-tahap yang dilakukan Peirce dalam pemaknaan suatu tanda, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, ada tahap kepertamaan, kekeduaan, dan keketigaan, ketiga tahap tersebut merupakan tahap universal dari teori Peirce (Zoest dalam Roseno, 2005:14). Selain itu, Peirce dalam teorinya memaknai tanda secara terbuka, tetapi dibatasi oleh konteks, baik teks itu sendiri maupun konteks sosial budaya, serta pengetahuan atau pengalaman pembaca yang menafsirkan suatu tanda tertentu. Hal itu juga disebutkan oleh Peirce (dalam Sartini, hlm. 6) bahwa konsep tahapan pemaknaan tanda penting untuk memahami bahwa dalam suatu kebudayaan tertentu kadar dalam memahami suatu tanda berbeda pada anggota kebudayaan tersebut.

Lebih lanjut, peneliti akan menganalisis teks dengan mencari dan memaknai tanda-tanda yang digunakan melalui ikon, indeks, dan simbol, hal tersebut terkait dengan teori Peirce yang lebih menekankan bahwa objek (ikon, indeks, dan simbol) memegang peranan penting dalam suatu analisis, terutama teks yang terdiri dari gambar atau nonverbal (ikon dan simbol) dan unsur verbal. Hal ini terkait dengan pendapat Ratna bahwa

denotatum (object) dalam karya sastra adalah dunia yang penuh dengan

keserbamungkinan makna, atas dasar pandangan bahwa segala sesuatu mempunyai kemungkinan untuk menjadi tanda, karena jumlah objek tak terbatas (2011: 114). Terkait dengan hal tersebut, peneliti akan menyoroti ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor.

b. Semiotika dalam Penelitian Karya Sastra

Sebagian besar, bahkan keseluruhan aktivitas manusia pada dasarnya dilakukan melalui bahasa, baik lisan maupun tulisan. Ratna berpendapat bahwa pada dasarnya bahasa merupakan konservasi yang paling kuat terhadap kebudayaan manusia. Tanpa bahasa, kebudayaan atau bahkan dunia kini tidak ada (2011:111). Lebih lanjut, hal tersebut (bahasa) dapat dikaji menggunakan pendekatan semiotika, hal ini juga sependapat dengan Yani yang memaparkan bahwa semiotik menelaah sistem tanda dalam bahasa dan wacana yang

(37)

21

menjadi cermin dari budaya dan pemikiran (hlm. 2 Karya sastra merupakan salah satu hasil dari kebudayaan, seperti yang dipaparkan oleh Lotmann bahwa bahasa yang digunakan dalam karya sastra sebagai sistem model kedua, metafora, konotasi, dan ciri-ciri penafsiran ganda lainnya, bukanlah bahasa biasa, melainkan sistem komunikasi yang telah sarat dengan pesan kebudayaan (dalam Ratna, 2011:111). Senada dengan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, kehidupan manusia dibangun berdasarkan bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri adalah sistem tanda. Menurut Noth (dalam Ratna, 2011: 111) di dalam teks sastra keseluruhan terdiri atas ciri-ciri tersebut. Bahasa metaforis konotatif, dengan hakikat kreativitas imajinatif pengarangnya merupakan faktor utama sebab karya sastra didominasi oleh sistem tanda. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Pradopo bahwa bahasa merupakan media karya sastra sudah sebagai sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti (1993:121). Secara tidak langsung, Pradopo mengungkapkan bahwa dalam karya sastra sudah tentu menyimpan tanda-tanda, karena karya sastra disampaikan dengan bahasa.

Lebih lanjut, Teeuw mengungkapkan bahwa sebagai tanda, karya sastra adalah dunia dalam kata yang dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang tidak biasa antara pembaca dan pengarangnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipandang sebagai gejala semiotik (dalam Sangidu, 2004: 18). Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh Mana Sikana bahwa pendekatan semiotik melihat karya sastra sebagai suatu sistem yang memiliki keterkaitan antara teknik dan mekanisme kelahiran suatu karya sastra (Yani, hlm. 2 Teori semiotik memiliki anggapan bahwa sebuah karya sastra memiliki sistem tersendiri yang diperlihatkan melalui sistem tanda yang terkandung dalam suatu karya sastra. Lebih dalam, semiotik melihat karya sastra dalam sudut pandang yang lebih luas. Yani menyebutkan bahwa prinsip dari pendekatan semiotik menuntut penganalisis memberi perhatian pada keterkaitan sistem teks yang dikaji dengan sistem yang ada di luar teks; segala latar belakang lahirnya karya (hlm. 12). Lebih lanjut, disebutkan oleh ahli sastra Teeuw yang mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak

(38)

22

komunikasi yang disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor hakiki untuk memahami gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat manapun (dalam Sartini, hlm. 3).

Dalam menganalisis suatu karya sastra memiliki tujuan untuk memahami dan selanjutnya mengungkapkan makna dari karya sastra tersebut. Menganalisis karya sastra adalah upaya menangkap dan memberikan makna pada teks sastra. Hal tersebut senada dengan pendapat Pradopo (dalam Sangidu, 2004: 173) yang mengungkapkan bahwa karya sastra merupakan struktur yang memiliki makna, mengingat bahwa karya sastra adalah sistem tanda yang bermakna dan menggunakan media bahasa.

Di antara ground, denotatum, dan interpretant, yang paling sering dibahas adalah denotatum. Nyoman (2011:114) berpendapat bahwa

denotatum karya sastra adalah dunia fiksi atau dunia dalam kata-kata, dunia

yang penuh dengan kemungkinan. Dunia fiksi tidak harus sama dengan dunia yang sesungguhnya, tetapi harus dapat diterima ‘kebenarannya’. Melalui denotatum, pengarang membuat dunianya sendiri dalam kata-kata yang

dirangkainya dan memiliki keserbamungkinan makna setiap pembacanya.

Denotatum dalam karya sastra pun mampu mengajak pengarang maupun

pembaca untuk berimajinasi dalam memaknai karya sastra.

Peirce mengungkapkan bahwa ada tiga jenis tanda berdasarkan hubungan antara tanda dengan yang ditandakan, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa sifat dari denotatum adalah ikon, indeks, dan simbol. Hal tersebut juga diungkapkan Hilpinen, “I shall make some remarks on two basic divisions in Peirce’s system, the distinction between the objects and the

interpretants of a sign, and the division of signs into icons, indices, and

symbols “(Saya akan membuat beberapa catatan pada dua divisi dasar dalam

sistem Peirce, perbedaan antara objek dan interpretants dari tanda, dan pembagian tanda-tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol) (2007: 611). Piliang (2003: 271) berpendapat bahwa ikon (icon) adalah hubungan antara penanda dan petandanya yang memiliki sifat keserupaan (similitude). Ikon

(39)

23

dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : 1) ikon topografis; 2) ikon diagramatis; 3) ikon metaforis. Ikon topografis adalaha ikon yang berdasarkan persamaan tata ruang, misalnya puisi-puisi kongkret atau visual. Ikon diagramatis adalah ikon yang berdasarkan persamaan struktur, misal diagram. Ikon metaforis adalah ikon yang berdasarkan persamaan dua kenyataan yang didenotasikan sekaligus, langsung atau tidak langsung, misalnya alegori atau parabel.

Bagian dari denotatum yang kedua, yaitu indeks, Peirce menyebutkan bahwa indeks adalah sebuah tanda yang dalam hal bentuk tandanya tergantung dari adanya sebuah denotatum atau tanda yang mengandung hubungan kausal atau sebab akibat hal yang ditandakan (dalam Endraswara, 2003: 65). Misalnya, asap menandakan adanya api, mendung menandakan akan turunnya hujan. Teks secara keseluruhan memiliki ciri-ciri indeksikal sebab teks berhubungan dengan dunia yang disajikannya. Dalam hal ini, Peirce juga menunjuk indeksikal teks melalui tiga sisi, yaitu pengarang sebagai ciri komunikasi, dunia nyata sebagai ciri nilai-nilai pengetahuan, dan pembaca dengan ciri nilai-nilai eksistensial. Jika dikaitkan dengan teks sebagai unsur-unsur karya sastra, indeksikal mikro, juga dibedakan atas beberapa macam, yaitu: 1) indeks dalam kaitannya dengan dunia di luar teks; 2) indeks dalam kaitannya dengan teks lain sebagai intertekstual; dan 3) indeks dalam kaitannya dengan teks dalam teks, sebagai intratekstual (dalam Ratna, 2011: 115).

Bagian denotatum yang ketiga, yaitu simbol, Peirce memaparkan bahwa simbol adalah tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan bersifat arbitrer, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu (dalam Endraswara, 2003: 65). Simbol dapat dianalisis melalui suku kata, kata, kalimat, alinea, bab, dan seterusnya, bahkan juga melalui tanda baca dan huruf sebagaimana ditemukan dalam analisis gaya bahasa. Ratna (2011:116) berpendapat bahwa simbol ditandai oleh dua ciri, yaitu: 1) antara penanda dan petanda tak ada hubungan intrinsik sebelumnya, 2) penanda dan petanda merupakan konteks kultural yang berbeda. Berdasarkan pendapat

(40)

24

tersebut dijelaskan bahwa simbol lebih berhubungan dengan kesepakatan masyarakat mengenai suatu tanda tertentu diartikan sebagai apa.

Noth memaparkan mengenai simbol, yaitu “Represent their objects, independently alike of any resemblance or any real connection, because

dispositions or factitious habits of their interpreters insure their being so

understood”(2010: 83). Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan pendapat

yang disampaikan oleh Nurgiyantoro (2007:42) bahwa tanda yang berupa simbol meliputi berbagai hal yang telah mengkonvensi di masyarakat. Antara tanda dan objek tak memiliki hubungan kemiripan ataupun kedekatan, melainkan terbentuk karena kesepakatan.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semiotik dalam penelitian sastra berfungsi untuk membaca makna di balik berbagai macam tanda yang digunakan oleh pengarang dalam menyampaikan ceritanya.

3. Hakikat Nilai Pendidikan dalam Karya Sastra

Kata nilai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 690) diartikan sebagai harga. Namun, kata tersebut sudah dihubungkan dengan suatu objek dan sudut pandang tertentu, harga memiliki pemahaman yang beragam. Mulyana (dalam Sauri, 2010) yang tertera dalam naskah Seminar Nasional Pendidikan Nilai Karakter menyebutkan bahwa nilai itu adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Lebih lanjut, Rokeali (dalam Sauri, 2010) yang dipaparkan dalam naskah yang sama, mengartikan nilai sebagai suatu kepercayaan/keyakinan yang bersumber pada sistem nilai seseorang, mengenai apa yang patut dilakukan seseorang atau mengenai apa yang berharga dari apa yang tidak berharga. Rokeali lebih menekankan pada anggapan kepantasan atau kepatutan terhadap suatu sikap atau pemikiran tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Pilihan tersebut berkaitan dengan hal-hal yang patut dilakukan atau tidak dan hal-hal yang berharga atau tidak berharga.

(41)

25

Setiap karya sastra diciptakan untuk menyampaikan suatu pesan tertentu pada pembaca. Melalui karya sastra, pembaca belajar dari pengalaman orang lain dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Hal tersebut juga disebutkan oleh Alwasilah (dalam Puji Retno H.) bahwa dalam sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang tidak diberikan secara perspektif, tetapi dengan membebaskan pembaca mengambil manfaatnya dari sudut pandang pembaca itu sendiri melalui interpretasi (2008: 111). Oleh karena itu, seperti yang disebutkan oleh Suyitno, sastra bisa difungsikan sebagai pembina tata nilai dalam berbagai sendi kehidupan intelektual, pendidikan rohani, serta hal-hal lain yang bersifat personal maupun sosial (dalam Nuraini, 2007: 27). Secara garis besar nilai pendidikan dalam sastra dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Nilai Agama

Agama adalah hal yang mutlak dalam kehidupan manusia, sehingga dari pendidikan agama ini diharapkan dapat terbentuk manusia yang religius. Secara formal, Indonesia mengatur masalah ini dalam dasar negara. Hal ini berpengaruh pada sistem pendidikan yang dalam setiap jenis dan jenjang selalu ada unsur agama. Semi (1993:22) memberikan uraian mengenai hubungan agama dengan karya sastra bahwa agama merupakan dorongan penciptaan sastra, sebagai sumber ilham sekaligus karya sastra bermuara pada agama.

Mangunwijaya (dalam Nurgiyantoro, 2007: 326) juga berpendapat bahwa kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius.

b. Nilai Sosial

Nilai pendidikan sosial adalah tata sosial tertentu yang mengungkapkan sesuatu hal yang bisa direnungkan. Dalam karya sastra dengan ekspresi pengungkapan nilai sosial pada akhirnya dapat dijadikan cermin atau sikap para pembacanya. Suyitno mengungkapkan bahwa karya

(42)

26

sastra dapat berfungsi sebagai daya penggoncang nilai-nilai sosial yang sudah mapan (dalam Nuraini, 2007: 28).

c. Nilai Moral

Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai salah satu wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema merupakan moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2007: 320). Moral dalam karya sastra merupakan cerminan dari pandangan hidup pengarang mengenai nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada pembaca. Moral dalam cerita, menurut Kenny biasanya memiliki maksud untuk memberikan saran yang berkaitan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat dipetik pembaca dari cerita (dalam Nurgiyantoro, 2007: 321).

Jenis dan wujud pesan moral dalam karya sastra dapat mencakup persoalan hidup dan kehidupan atau persoalan mengenai harkat dan martabat manusia. Nurgiyantoro mengungkapkan bahwa secara garis besar, persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan ke dalam persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial dan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan (2007: 323-324).

d. Nilai Estetis

Semi berpendapat bahwa fungsi estetika sastra adalah penampilan karya sastra yang dapat memberi kenikmatan dan keindahan bagi pembacanya (dalam Nuraini, 2007: 28). Lebih lanjut, Suyitno juga berpendapat bahwa sastra tidak hanya sekadar memberi kesenangan, tetapi juga memberi pengetahuan serta pencernaan yang menghayat tentang hakikat kehidupan bernilai (dalam Nuraini, 2007: 28).

Suyitno mengungkapkan bahwa cipta sastra di samping menunjukkan sifatnya yang rekreatif, juga merupakan dian penerang yang mampu memimpin manusia mencari nilai-nilai yang dapat menolongnya untuk menemui hakikat kemanusiaan yang berkepribadian. Cipta sastra

(43)

27

mempunyai kandungan amanat spiritual yang berbalut estetika (dalam Nuraini, 2007: 29).

Secara etimologis, sastra juga berarti alat untuk mendidik. Lebih jauh, Ratna mengungkapkan bahwa jika dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika (2005: 447). Banyak hal yang dapat diperoleh dari suatu karya sastra. Tjokrowinoto (dalam Haryadi, 2012) memperkenalkan istilah pancaguna atau manfaat dari karya sastra, yaitu: 1) mempertebal pendidikan agama dan budi pekerti; 2) meningkatkan rasa cinta tanah air; 3) memahami pengorbanan pahlawan bangsa; 4) menambah pengetahuan sejarah; 5) mawas diri dan menghibur. Sama halnya dengan Agustien S., Sri Mulyani, dan Sulistiono (dalam Handayani, 2009: 13) mereka juga menyebutkan lima dari fungsi sastra secara lebih luas daripada yang telah diungkapkan oleh Tjokrowinoto. Fungsi sastra tersebut, antara lain 1) fungsi rekreatif; 2) fungsi didaktif; 3) fungsi estetis; 4) fungsi moralitas, dan 5) fungsi religius. Fungsi rekreatif, yaitu apabila sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi pembacanya. Fungsi didaktif, yaitu apabila sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena adanya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Fungsi estetis, yaitu apabila sastra mampu memberikan keindahan bagi pembacanya. Fungsi moralitas, yaitu apabila sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembacanya sehingga mengetahui moral yang baik dan buruk. Fungsi religius, yaitu apabila sastra mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para pembaca. Lebih lanjut, Haryadi menyebutkan sembilan manfaat yang terdapat dalam karya sastra yang tidak jauh berbeda dengan pendapat yang telah disebutkan oleh Tjokrowinoto dan Agustien S., dkk. Dalam pendapat Haryadi, terdapat hampir fungsi yang telah disebutkan oleh kedua pendapat sebelumnya, yang membedakan Haryadi menyebutkan fungsi karya sastra dalam bentuk pagelaran. Haryadi (2012) mengungkapkan sembilan manfaat yang terdapat dalam suatu karya sastra, yaitu: 1) dapat berperan sebagai hiburan dan media pendidikan; 2) isinya dapat menumbuhkan kecintaan, kebanggaan berbangsa dan hormat pada leluhur; 3) isinya dapat memperluas wawasan tentang kepercayaan, adat-istiadat, dan

(44)

28

peradaban bangsa; 4) pergelarannya dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan; 5) proses penciptaannya menumbuhkan jiwa kreatif, responsif, dan dinamis; 6) sumber inspirasi bagi penciptaan bentuk seni yang lain; 7) proses penciptaannya merupakan contoh tentang cara kerja yang tekun, professional, dan rendah hati; 8) pagelarannya memberikan tentang dan kerja sama yang kompak dan harmonis; 9) pengaruh asing yang ada di dalamnya memsberi gambaran tentang tata pergaulan dan pandangan hidup yang luas.

4. Penelitian yang Relevan

Roseno (2005) dalam penelitiannya yang berjudul “Kajian Semiotik Novel Topeng Jero Ketut Karya Sunaryono Basuki Ks”, menyimpulkan bahwa

tanda-tanda semiotik dalam Novel Topeng Jero Ketut karya Sunaryono Basuki Ks meliputi unsur ikon, indeks, dan simbol. Ikon dalam novel tersebut Topeng Jero Ketut menjadi misteri di Pulau Bali, Topeng Jero Ketut adalah topeng kuno yang

suci dan sacral, pemburu Topeng Jero Ketut adalah pengusaha kelas atas yang bergaya metropolis. Indeks dalam novel tersebut, yaitu para pemburu topeng menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Topeng Jero Ketut, kekuatan dan karunia adalah pemberian Tuhan YME yang harus disyukuri dan tidak boleh disalah-gunakan oleh manusia, para pemburu memiliki tujuan tercela setelah mendapatkan Topeng Jero Ketut. Simbol dalam novel tersebut adalah kemajuan teknologi modern berdampak kemunduran mental serta moral bangsa Indonesia, para pemburu topeng adalah orang-orang berkuasa, dan para pemburu topeng menghilang atau berpindah dimensi menuju dunia lain. Pada Novel Topeng Jero Ketut, Suryono Basuki Ks memakai tanda-tanda semiotik seperti ikon, indeks, dan simbol sebagai wahana penyampai pesan moral melalui sindiran terhadap tanda ‘tikus’ yang disimbolkan melalui julukan ‘jero ketut’.

Purwoko (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Novel Di Batas Angin Karya Yanusa Nugroho: Sebuah Tinjauan Semiotik”, menyimpulkan bahwa

simbol yang digunakan oleh Yanusa Nugroho adalah tokoh Sokrasana yang merupakan simbol dari hati nurani manusia dan Sumantri adalah simbol dari ambisi manusia. Tokoh Sumantri sebagai simbol ambisi adalah bagaimana dia mempunyai keinginan yang begitu besar untuk menjadi seorang penguasa dengan

(45)

29

melakukan segala cara untuk mewujudkannya termasuk membunuh adiknya sendiri, Sokrasana. Tokoh Sokrasana sebagai simbol hati nurani adalah bagaimana dia mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijaksana tanpa harus ada pertumpahan darah.

Wardoyo (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Novel Kabut Kelam Karya Achmad Munif: Sebuah Pendekatan Semiotik”, menyimpulkan bahwa dilihat dari aspek semiotik, melalui hubungan antara tanda dan acuannya berupa ikon, indeks, dan simbol, kehidupan masyarakat Jawa yang penuh konflik akibat perbedaan paham yang sangat diyakini oleh masyarakat Jawa berhasil digambarkan dengan jelas. Ketiga macam hubungan antara tanda dan acuan tersebut dapat ditemukan pada penokohan dan penggambaran latar, yang intinya terjabarkan dari suatu tema. Semua tokoh dalam Kabut Kelam adalah para manusia yang terdera kesulitan akibat perbedaan pandangan yang berkembang pada tahun 1965 sehingga menimbulkan banyak masalah. Masalah pertama yang timbul dari perbedaan pandangan di antara masyarakat Jawa, yaitu timbulnya paham feodalisme yang kuat dalam diri Raden Mas Ilyas Kusumonegoro, sehingga mengakibatkan terhalangnya jalinan cinta antara Sultan Alam dengan Raden Ayu Indri Astuti. Masalah sekelompok masyarakat Jawa, sehingga menimbulkan situasi di berbagai wilayah menjadi tegang. Paham revolusioner beranggapan bahwa orang kaya hanya ingin menyengsarakan rakyat kecil. Mereka menghalalkan segala cara demi tujuan yang mereka inginkan. Dilihat dari hubungan antara unsur-unsur pembangun struktur novel Kabut Kelam dengan simbol-simbol yang ada, terdapat keterkaitan yang sangat erat. Unsur-unsur tersebut, yaitu tema, penokohan, dan latar, membentuk makna totalitas dan masing-masing unsur saling mendukung satu sama lain. Hubungan antara tema, penokohan, dan latar dengan simbol-simbol yang ada di dalamnya mampu menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa, yang di dalamnya mampu mengandung amanat bahwa persamaan dalam menyikapi berbagai pandangan yang berkembang dalam masyarakat sangat dibutuhkan oleh mereka.

Nurul Khomsah (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Kajian Semiotik Kumpulan Cerpen Samin Karya Kusprihyanto Namma”, menyimpulkan

(46)

30

bahwa Kumpulan Cerpen Samin merupakan bentuk kritik penulis terhadap pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Beberapa judul cerpen seperti Biru, Kembang Tebu, Jawa, Samin, Bedil, dan Dom mengisahkan tentang keburukan atau penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Beberapa judul cerpen yang lain seperti Mun, Pundhen, Patrem, dan Tuyul memang tidak mengkhususkan pada masa Orde Baru, namun memiliki kesatuan ide dengan cerpen lainnya, yaitu kritik terhadap sistem pemerintahan atau politik. Penulis menggunakan sistem semiotik (simbol, ikon, indeks) dalam menuangkan ide ceritanya karena ia tidak berani menyampaikan kritiknya secara terang-terangan. Meskipun demikian, penggunaan sistem semiotik dalam karya ini dapat menambah keestetikaan karya.

Agung Kurniawan (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Simbol dalam Naskah Skenario Film Koper Karya Richard Oh”, menyimpulkan bahwa simbol yang terkandung di dalam naskah skenario film Koper karya Richard Oh apabila dicermati menunjukkan tanda-tanda semiotik yang dapat diambil sebagai sebuah penafsiran, mengapa Richard Oh menempatkan cerita ini pada posisi budaya Indonesia, terlepas dari kemungkinan hanya untuk kritikan sosial. Semiotik mencoba menemukan makna yang ada dalam karya sastra mengenai simbol koper yang terdapat pada tokoh, suasana, dialog, adegan dan benda. Setelah menguraikan simbol yang terkandung maka diketahui bahwa simbol koper dalam cerita tokoh disimbolkan dengan Yahya yang keras pendiriannya dan gigih memperjuangkan pendiriannya dalam mengembalikan koper. Pada suasana, disimbolkan dengan dunia di luar ruang lingkup cerita tertutup bahkan jauh dari jangkauan Yahya, hal tersebut karena Yahya terfokus pada koper. Sedangkan simbol pada dialog tokoh Yahya, terlihat dari keinginannya untuk segera mengembalikan Koper itu kepada pak Tides dan simbol dialog pada tokoh Yasmin terlihat ketika menyindir Yahya. Peran simbol pada adegan, menyimbolkan perasaan masing-masing tokoh dalam menjalankan peran yang berkembang dari awal hingga akhir cerita yang mengisahkan tentang koper yang selalu dianggap sebagai simbol kesuksesan dan kemapanan dalam kehidupan Yahya; benda juga berperan sebagai simbol. Benda tersebut diantaranya, koper

Gambar

Gambar
gambar 2.1.
gambar, metafora,
Tabel. 3.1  Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan
+4

Referensi

Dokumen terkait