• Tidak ada hasil yang ditemukan

Signifikansi dan Tantangan Regionalisme di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Signifikansi dan Tantangan Regionalisme di"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Article Review I Teori Hubungan Internasional

NPM : 1406618801

Bahan Utama : Andrew Hurrell, “One world? Many worlds? The place of regions in the study of international society”, International Affairs, Vol. 83, No. 1 (2007), 127-146.

Signifikansi dan Tantangan Regionalisme dalam Tatanan Internasional

Tulisan ini akan berfokus pada regionalisme dengan mengambil bahan utama dari artikel Andrew Hurrell yang menguji regionalisme dalam memahami masyarakat internasional kontemporer secara keseluruhan dan hubungan antara satu dunia dengan dunia-dunia lainnya (one world and many worlds). Argumen utama yang ingin diajukan penulis yakni regionalisme memiliki signifikansi dan tantangan dalam tatanan internasional, khususnya dalam mengkaji masyarakat internasional kontemporer. Tulisan ini akan dibagi ke dalam beberapa bagian. Bagian pertama yakni rangkuman dari artikel, yang diikuti dengan perbandingan pada artikel lain. Pada bagian selanjutnya, penulis akan memaparkan argumentasi pribadi serta menutup review dengan kesimpulan.

Hurrell memaparkan bahwa dari perkembangan komunitas politik, hubungan ekonomi dan politik berfokus dengan kuat pada regionalisme sebagai akibat dari keterbatasan teknologi, perdagangan, dan komunikasi. Regionalisme sempat dianggap memainkan peran sekunder, namun kemudian berubah setelah berakhirnya Perang Dingin. Regionalisme kembali mempercepat perkembangannya pada akhir 1980an setelah sempat mengalami perkembangan yang begitu lamban dalam pertengahan 1960an, ditunjukkan dengan kesuksesan dan durability dari ASEAN dan ekspansi kerjasama keamanan di Asia, serta kembalinya regionalisme ekonomi yang luas, yang seringkali melibatkan integrasi yang mendalam dan skema integrasi ekonomi regional yang ambisius dengan adanya North American Free Trade Area (NAFTA) dan Mercosur diantara perkembangan-perkembangan paling utama di luar Eropa. Hurrell menekankan bahwa hubungan antara satu dunia dari sistem internasional dan banyak dunia dari regionalisme yang berbeda tidak dapat diabaikan.

(2)

menjadikan peran regionalisme semakin penting untuk dikaji dalam dinamika-dinamika dan faktor-faktornya. Sehingga, bagaimanapun kasusnya, berbagai teori umum dalam ilmu hubungan internasional perlu diambil dan ditempatkan dalam dimensi regional. Kedua, kemungkinan terdapat kategori yang menjelaskan perbedaan-perbedaan antara region. Hal yang terpenting yakni makin beragamnya entitas yang berada dibawah ‘state’ dan banyaknya jenis masyarakat internasional regional yang dihasilkan dari pembentukan state di berbagai region di dunia. Ketiga, adanya perbedaan karakteristik regional. Contohnya yakni argumen bahwa kesuksesan ASEAN dan bentuk institusinya yang memiliki style yang berbeda dari European-style institutions mencerminkan cara ASEAN yang didasarkan pada perbedaan norma-norma regional dan jenis khusus dari budaya diplomatik. Pada bagian ini, Hurrell memandang skeptis common value system yang diterapkan dalam regionalisme. Aliran English School juga dianggap tidak memiliki perhatian terhadap kajian regional dan area karena penekanannya lebih kepada kajian hubungan internasional yang holistik.

Berkaitan dengan pemaparan sebelumnya, Hurrell mengatakan bahwa terlihat dari perspektif saat ini, bentuk masyarakat internasional yang stabil dan terlegitimasi menjumpai tiga tantangan inti, yakni: memperoleh common interest, mengatur unequal power, meredakan perbedaan dan konflik. Dalam artian mendalam, tantangannya merupakan tantangan politis. Masyarakat internasional ditandai dengan kemajemukan pemikiran, pandangan, dan nilai yang kompleks. Selain itu juga ditandai dengan kemajemukan dari identitas politik dalam pencarian recognition, beberapa diantaranya relatif aman dalam established states, namun banyak pula yang dalam hubungannya berada pada stuktur politik dan intitusional yang ambigu dan highly conflictual. Banyak pemikiran-pemikiran dan norma-norma moral yang tertanam dalam institusi dan praktik-praktik masyarakat internasional, namun kemajemukan pandangan, nilai, dan identitas tidak dapat dipaksakan pada prinsip-prinsip moral bersama.

(3)

geografis region-region tersebut.1 Regionalisme yang berkembang setelah Perang Dingin

kemudian disebut sebagai regionalisme baru.

Namun demikian, tesis yang mengatakan bangkitnya regionalisme di akhir Perang Dingin juga dipersoalkan. Richard Rosecrance (1991) mencatat bahwa skenario mengenai regionalisme dapat ditantang oleh dua model yang bersaing, yang disebut sebagai hegemoni Amerika Serikat dan global concert of powers.2 Faktanya, beliau berargumen karena

menganggap global concert tidak memiliki prospek, peran internasional yang dominan dari Amerika Serikat tetap menjadi tantangan utama pada skenario regional.3 Argumen mengenai

hegemoni Amerika tersebut didukung oleh pandangan neo-realis yang menekankan pada peran dari kekuatan hegemon. Amerika Serikat pernah menekan untuk menginstitusionalisasi APEC dan sangat mencolok dalam menginginkan kesepakatan untuk liberalisasi pada pertemuan APEC 1994.4 Dengan kata lain, Amerika Serikat memainkan peran kepemimpinan

dalam mempertahankan APEC.

Pemaparan Hurrell mengenai perbedaan nilai dan pandangan yang menjadi tantangan dalam regionalisme dapat dikaitkan dengan pandangan dari perspektif English School yang objek analisa utamanya adalah masyarakat internasional. Aliran ini menekankan pendekatan tradisional yang berdasarkan pada pemahaman, penilaian, norma-norma, dan sejarah manusia, berbeda dengan pemaparan Hurrel bahwa kemajemukan pandangan, nilai, dan identitas tidak dapat dipaksakan pada prinsip-prinsip moral dan konsensus normatif bersama seperti yang dikatakan Martin Wight yang merupakan akademisi beraliran English School. Aliran English School berpandangan bahwa norma-norma yang berlaku pada suatu sistem dibangun karena adanya interaksi antar states yang merupakan hasil kompromi dan kesepakatan antara aktor-aktor tersebut.5 Hurrell berpandangan bahwa aliran English School

tidak memiliki perhatian terhadap kajian regional dan area karena penekanannya lebih kepada kajian hubungan internasional yang holistik. English School klasik bahkan cenderung bersifat anti-regionalisme6 sehingga dapat dikatakan bahwa aliran tersebut tidak dapat menguji level

analisis regionalisme dalam masyarakat internasional.

1 Raimo Vayrynen, “Regionalism: Old and New”, International Studies Review 5, No. 1 (Maret, 2003), 28.

2 Ibid 3 Ibid

(4)

Kembali ke penjabaran Hurrell mengenai kompleksitas pada masyarakat internasional yang menimbulkan tiga tantangan inti, proses signifikansi dalam regionalisme juga menghadapi tantangan berupa persoalan security. Deepak Nair memberi contoh yakni regionalisme dalam ASEAN Plus Three (APT) yang pada awalnya hanya berkisar persoalan ekonomi dan keuangan. Dalam prosesnya, konsolidasi yang stabil dari tahun ke tahun berakar dalam tujuan menengahi ekses-ekses kapitalisme global, dan dalam menyediakan keperluan pemerintahan level regional menengah antara global dan nasional.7 Oleh karena itu,

kredibilitas APT mengabaikan ketentuan security yang substantif.8 Namun, visi yang

menghendaki suatu masyarakat regional dengan common interest tidak dapat dibangun selama negara-negara masih terpaku dengan ketidakpercayaan dan national interests. Mewujudkan visi holistik tersebut, maka, tidak hanya akan menjamin hubungan ekonomi yang rumit dan saling bergantung, tetapi juga kapasitas untuk mengurangi – apabila tidak dapat menyelesaikan – sengketa regional, dan mempromosikan mutual confidence untuk memperbaiki security dilemmas.

Penulis sepakat dengan argumen yang dipaparkan oleh Hurrell mengenai signifikansi regionalisme setelah Perang Dingin, dan tidak sepakat dengan argumen Resocrance mengenai hegemon Amerika. Tatanan internasional memperlihatkan regionalisme yang semakin signifikan, dan memperlihatkan ciri yang multiple.9 Hal tersebut mengacu pada keanggotaan

negara-negara pada banyak institusi atau organisasi regional yang berbeda (yang dalam praktiknya saling tumpang tindih). Contohnya, anggota-anggota ASEAN tidak hanya merupakan anggota AFTA, tetapi juga merupakan anggota-anggota dari East Asian Economic Caucus (EAEC), maupun APEC. Selain itu, signifikansi dari regionalisme terlihat secara konkrit dari sifat regionalisme baru yang multidimensional dan multipolar.10

Signifikansi regionalisme pada tatanan internasional juga dapat dilihat dari integrasi masyarakat Eropa yang terus berlanjut walaupun tidak merata sepanjang tahun 1990an, termasuk dalam pembentukan Uni Eropa dan mata uang tunggal pada Traktat Maastricht 1992. Selain itu, adanya European internal market, North American Free Trade Area (NAFTA), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Southern Common Market

7 Deepak Nair, “Regionalism in the Asia Pacific/Asia: A Frustrated Regionalism?”, Contemporary Southeast Asia 31, No. 1 (April, 2009), 120.

8 Ibid

9 Paul Bowles, “ASEAN, AFTA, and the ‘New Regionalism’”, Pacific Affairs, Vol. 70, No. 2 (Summer, 1997), 226.

(5)

(Mercosur) menunjukkan terbaginya tatanan perekonomian dunia ke dalam region-region. Sehingga, dapat dikatakan bahwa regionalisme semakin menunjukkan perannya yang signifikan pada tatanan dunia yang sebelumnya berbentuk one world.

Kemudian, penulis berpendapat bahwa English School masih dapat diaplikasikan pada level regional. English School tidak serta merta mengabaikan kajian pada masyarakat internasional di level sub-global atau regional. Hal ini diperkuat oleh adanya persetujuan antara akademisi English School bahwa masyarakat internasional global kontemporer merupakan bentuk yang ‘tipis’, karena sifatnya yang pluralistik dan heterogen; dan bahwa di dalam batas-batas masyarakat, terdapat beberapa “regional clusters” yang berkembang lebih ‘tebal’, dengan elemen-elemen masyarakat internasional dikembangkan ke derajat yang lebih besar.11 Barry Buzan berpandangan bahwa kedekatan antar states pada suatu region dapat

menimbulkan pembagian elemen-elemen budaya yang sama, sehingga tipe gemeinschaft pada masyarakat internasional juga dapat terjadi dalam batas-batas masyarakat internasional global.12 Kemudian, beliau memiliki dasar pemikiran bahwa organisasi regional internasional

dapat merefleksikan adanya masyarakat internasional regional, ditunjukkan dengan institusionalisasi dari masyarakat internasional pada level sub-global atau Eropa, contohnya yakni NATO dan Uni Eropa.

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan pemaparan di atas yakni regionalisme memiliki peran yang signifikan dalam hubungan internasional – khususnya dalam mengkaji masyarakat internasional kontemporer – walaupun memiliki tantangan-tantangan dalam prosesnya. Regionalisme setelah Perang Dingin menunjukkan perkembangannya dengan kemunculan dan semakin terintegrasinya region-region pada tatanan internasional.

REFERENSI

11 Yannis A. Stivachtis dan Mark Webber, “Regional International Society in a Post-Enlargement Europe”, Europe After Enlargement, special issue, Journal of European Integration 33:2 (2011), 101-16, 110; Yannis A. Stivachtis, The Enlargement of International Society (London: Mac*millan, 1998), 89.

(6)

Bowles, Paul. “ASEAN, AFTA, and the ‘New Regionalism’,” Pacific Affairs, Vol. 70, No. 2 (Summer, 1997): 226.

Buzan, Barry. “From International System to International Society: Structural Realism and Regime Theory Meet the English School,” International Organization 47 (1993): 333. __________. From International to World Society?: English School Theory and The Social

Structure Of Globalization. New York: Cambridge University Press, 2004: 7.

Hurrell, Andrew, “One world? Many worlds? The place of regions in the study of international society,” International Affairs, Vol. 83, No. 1 (2007): 127-146.

Nair, Depak. “Regionalism in the Asia Pacific/Asia: A Frustrated Regionalism?,” Contemporary Southeast Asia 31, No. 1 (April, 2009): 120.

Stivachtis, Yannis A. dan Mark Webber, “Regional International Society in a Post-Enlargement Europe”, Europe After Post-Enlargement, special issue, Journal of European Integration 33:2 (2011), 101-16, 110; Yannis A. Stivachtis, The Enlargement of International Society (London: Macmillan, 1998), 89.

Vayrynen, Raimo. “Regionalism: Old and New,” International Studies Review 5, No. 1 (Maret, 2003): 28.

Yu, Hyun-Seok. “Explaining the Emergence of New East Asian Regionalism: Beyond Power and Interest-Based Approaches,” Asian Perspective, Vol. 27, No. 1 (2003): 264.

Referensi

Dokumen terkait