• Tidak ada hasil yang ditemukan

Majalah Perencanaan Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Majalah Perencanaan Pembangunan"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPT 2014

PENGELOLAAN LIMBAH/RESIDU

PERTANIAN UNTUK ENERGI :

Potensi Peran Koperasi

"KONTRAK PELAYANAN

"KONTRAK PELAYANAN

ANGKUTAN UMUM

ANGKUTAN UMUM

PERKOTAAN”

PERKOTAAN”

Sebuah

Kebijakan Publik untuk

Meningkatkan Kualitas

Pelayanan

KETAHANAN ENERGI

KETAHANAN ENERGI

INDONESIA :

INDONESIA :

Gambaran Permasalahan

Gambaran Permasalahan

dan Strategi Memperbaikinya

dan Strategi Memperbaikinya

PERENCANAAN & STARTEGI

PEMBANGUNAN BIDANG

(2)

D

AFT

AR

ISI

KETAHANAN ENERGI

INDONESIA:

Gambaran Permasalahan

dan Strategi

Memperbaikinya

Hanan Nugroho

FINANCE IS THE ESSENTIAL

THING IN ESTABLISHING

THE RELATIONSHIP

BETWEEN STATE AND CITY

BUT IT IS NOT SUFFICIENT:

Learning from Asian

and European State-City

Rela onships

Mohammad Roudo

FINANCING PUBLIC

HOUSING IN INDONESIA:

The Role of Central Government

and Local Governments

Case study: Mul -Storey

Rental Flats

Ira Lubis

K

I

G

2

10

30

87

46

39

PENGELOLAAN LIMBAH/

RESIDU PERTANIAN

UNTUK ENERGI:

Potensi Peran Koperasi

Herry Suhermanto, Ir., MCP, PhD.

PERENCANAAN &

STARTEGI PEMBANGUNAN

BIDANG KEHUTANAN DAN

KONSERVASI SUMBER

DAYA AIR

Amor Rio Sasongko

PENANGGUNGJAWAB : Sekretaris Kementerian PNN/Sestama Bappenas | PEMIMPIN UMUM : Dr. Ir. Budi Hidayat, M.Eng.Sc. | PEMIMPIN REDAKSI : Dr. Bustang, M.Si. | DEWAN REDAKSI : Ir. Hanan Nugroho, M.Sc; Dr. Ir. Herry Suhermanto, MCP; Dr. Guspika, MBA; Drs. Se a Budi, MA; Dr. Haryanto, SE, MA; Dr. Wignyo Adiyoso, S.Sos, MA; Eko Wiji Purwanto, SE, MPP; Drs. Amich Alhumami, MA, M.Ed, Ph.D; Muhyiddin, S.Sos, MSE, M.Sc; Darmawijaya, SE; Yunhri Trima Vibian, SE, MM; Anantyo Wahyu Nugroho, SE, AK.M.Acc; Budi Cahyono, S.Sos | DESAIN GRAFIS : Sarono Santoso | PHOTO : © Herry Suhermanto | DISTRIBUSI : Ali Sahbana, SH; Shaleh MHD, S.Sos, MAP.

SEKRETARIAT : Nurhalik; Thohari; Agustori.

ALAMAT REDAKSI : Jalan Taman Suropa No. 2 Gedung Sayap Timur Lantai 3 Jakarta Pusat Telp. (021) 3905650 ext. 3545 Fax. (021) 3161762

Email : [email protected] Website : h p ://bappenas.go.id Nomor STT : 1685/SK/Ditjen PPG/STT/1991 Nomor ISSN : 0854-3709

"KONTRAK PELAYANAN ANGKUTAN

UMUM PERKOTAAN”

Sebuah Kebijakan Publik untuk

Meningkatkan Kualitas Pelayanan

Petrus Sumarsono, JFP Madya

THE IMPACT OF REMITTANCE ON LABOR

SUPPLY BY GENDER

Case Study : Honduras

Istasius A. Anindito

POTENTIAL CAUSES OF MATERNAL

MORTALITY IN INDONESIA

Anna Rahmawaty

THE EFFECT OF BUSINESS CREDIT AND

HOUSEHOLD CHARACTERISTICS ON

HOUSEHOLD WELFARE IN INDONESIA

Citra Sawita Murni Sugiarto, Yusuke Jinnai

74

A

63

52

Informasi :

FASILITASI SOSIALISASI KEBIJAKAN PUBLIK

Dalam rangka meningkatkan kapasitas para perencana pembangunan nasional dan

daerah, maka

“Majalah Perencanaan Pembangunan”

bekerja sama dengan Asosiasi Perencana

Pemerintah Indonesia (AP2I) Komisariat BAPPENAS menyediakan pelayanan publik dalam

bentuk bimbingan teknis (bintek) bagi group dari instansi pusat atau daerah yang berminat. Nara

sumber berasal dari berbagai kalangan yang mempunyai kompetensi sesuai dengan topik Bintek.

Bimbingan teknis tersebut adalah sebagai berikut :

No Topik Bintek UU/Regulasi

1 Penyusunan Dra Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah : RPJPD, RPJMD dan RKPD

• UU SPPN

• UU Keuangan Negara • UU Pemerintahan Daerah

• UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah • UU Desa

2 Penyusunan perencanaan Strategis • UU SPPN

3 Reformasi Birokrasi • UU ASN

4 Perencanaan Pembangunan Desa • UU Desa

5 Keuangan Daerah dan APBD • UU Pemerintahan Daerah

• UU Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

6 Evaluasi Kinerja • UU SPPN

7 Perencanaan & Penganggaran Pembangunan Daerah

• UU Keuangan Negara • UU Pemerintahan Daerah

• UU Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

8 Perencanaan Wilayah dan Tata Ruang • UU Penataan Ruang dan

• Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN)

Informasi Lebih Lanjut :

Redaksi Majalah Perencanaan Pembangunan Phone/Fax : (021) 3192 8284

(3)

100

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

10

100

0

EEDIDISISI 0022 • TATAHUHUNN XXXX • SSEPEPTETEMBMBERER 22010144

Mendorong Kelembagaan Lokal Memfasilitasi Pemecahan Masalah*)

Persoalan kemiskinan dari dahulu hingga sekarang terus menjadi agenda pembangunan dan secara keseluruhan belum mampu terpecahkan. Wacana kemiskinan karya penulis dapat menjadi perenungan bagi pembaca yang ingin menemukan cara atau strategi penaggulangan yang tepat sesuai akar penyebab permasalahan kemiskinan yang dihadapi masyarakat kita. Kekurangan sandang, pangan, persoalan energi, dan daya beli masyarakat. Krisis energy yang saat ini terjadi justru akan menambah beban masyarakat miskin semakin berat.

Kelompok miskin menurut penulis adalah masyarakat yang memiliki ke dakmampuan

dalam pemenuhan kebutuhan dasar minimum (sandang dan pangan), keterbatasan memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, keterbatasan dalam pemenuhan perumahan, air bersih, keamanan dan sanitasi yang baik. Konsep kemiskinan diwarnai oleh perspek f kultural dan struktural atau situasional.

Kajian kemiskinan didasarkan pada riset di wilayah pedesaan mayoritas masyarakat miskin secara ekonomis, psikis dan social dengan mengambil 276 responden dari ga kecamatan dipilih untuk merepresentasikan masyarakat miskin Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Data deskrip f, menunjukkan ngkat pemahaman masyarakat terhadap kemiskinan cukup beragam. Hasil pengujian empiris membuk kan ngkat pengetahuan, sikap dan keyakinan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan dak disebabkan oleh

karakteris k pribadinya. Tidak ada perbedaan antara karakteris k jenis kelamin, umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, jenis pekerjaan utama, ngkat pendapatan, tanggungan keluarga dan kesertaan dalam organisasi terhadap pemahaman tentang kemiskinan.

Fakta kemiskinan bukan berar meniadakan daya-daya masyarakat. Menurut penulis masyarakat memiliki potensi melakukan kegiatan pemberdayaan dan memberikan perha an pada keluarga miskin lainnya di lingkungan sekitarnya. Bentuk pemberdayaan masyarakat berupa aktualisasi nilai-nilai tanggung jawab sosial yang diberikan kepada sesamanya sebagai wujud rasa kese akawanan dan kewajiban.

Masyarakat miskin merupakan bagian dari satu kesatuan sistem kemasyarakatan akan berinteraksi dengan sistem kelembagaan lokal. Kelembagaan lokal mencakup unsur pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan. Peningkatan pemahaman masyarakat pada persoalan kemiskinan dapat

dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan terencana. Pendidikan yang dapat diintrodusir adalah etos kerja, semangat produk f, dan kesadaran melepaskan diri dari kemiskinan, kemampuan mendayagunakan peluang-peluang usaha secara krea vitas dan produk f.

Gagasan mengenai peran kelembagaan lokal dalam pemberdayaan oleh penulis patut diapresiasi. Namun demikian terdapat beberapa hal yang perlu dikri si lebih lanjut adalah (1) bagaimana menyesuaikan materi program pemberdayaan dengan kapasitas dan karakteri k masyarakat miskin. Selama ini masyarakat miskin sulit mengakses pinjaman bunga rendah, bibit varietas unggul, system tanam. Teknologi pertanian membawa perubahan yang mengandung resiko kegagalan; (2) adanya pemerataan kesempatan bagi masyarakat miskin. Program yang diberikan harus di njau

sejauhmana kemampuannya menjangkau jumlah warga miskin dalam jumlah besar. Banyak warga miskin dak mendapatkan kesempatan mendapatkan layanan, bantuan,

dak dilibatkan dalam ak vitas desa. Ke dakmampuan kelembagaan lokal menjangkau sasaran masyarakat miskin yang lebih luas, dak merata dan dak adil akan berdampak menimbulkan krisis kepercayaan. Masyarakat dak memiliki harapan nasibnya akan membaik. Situasi ini berpotensi melanggengkan anggapan kemiskinan

dak dapat dirubah.

Penulis menemukan bahwa semakin baik kelembagaan lokal mengaktualkan prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik maka semakin baik upaya-upaya mengatasi kemiskinan sebagai wujud perha an dan tanggung jawab sosial. Kelembagaan lokal baik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan memiliki kekuatan (power) besar menggerakkan masyarakat miskin untuk membantu dan mengurangi beban social ekonomi masyarakat miskin lainnya. Nilai-nilai tolong menolong, gotong-royong, kebiasaan dalam kebersamaan ‘tudang-sipulung’ ditumbuhkembangkan dan difasilitasi oleh pemerintah untuk membantu masyarakat lainnya yang kurang mampu.

Perspek f pemberdayaan masyarakat berbasis kelembagaan lokal dapat dijadikan refleksi pada situasi

kekinian. Memperkuat peran kelembagaan untuk bertanggung jawab mengatasi persoalan ke dakberdayaan masyarakat. Menumbuhkembangkan nilai-nilai kese akawanan, kebersamaan, hidup saling tolong menolong sebagai modal masyarakat untuk menggerakkan masyarakat miskin, menemukan potensi-potensi lokal untuk dikelola sebagai sumber energy bersama.

*) Presensi buku oleh Dr. Tan Kus ari (Berprofesi sebagai Dosen, memina Kegiatan dan Kajian Pemberdayaan Masyarakat).

RESENSI BUKU

RESENSI BUKU

Judul buku : Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kelembagaan

Penulis : Dr. Bustang A.M

Penerbit : Center for Society Studies (CSS) Cetakan dan tahun terbit : I, 2010

Tebal & Jumlah halaman : xiv,123 halaman

Pembaca Perencanaan Pembangunan yang budiman,

T

opik pertama Perencanaan Pembangunan edisi kali ini adalah mengenai Ketahanan Energi. Indonesia mengalami permasalahan ketahanan energi yang makin serius, dan ini seharusnya mendorong kita melakukan kajian yang lebih intensif mengenai topik mengenai topik yang akan makin hangat ini. Tulisan Hanan Nugroho memberikan gambaran mengenai permasalahan ketahanan energi yang sedang kita hadapi, serta memberikan rekomendasi awal mengenai strategi yang perlu diterapkan untuk membantu kita mengatasi permasalahan itu.

Limbah/residu pertanian sebagai salah satu alterna f sumber penyediaan energi (baik untuk minyak maupun listrik) belum banyak dimanfaatkan di Tanah Air. Tulisan Herry Suhermanto “Pengelolaan Limbah/Residu Pertanian untuk Energi: Potensi Peran Koperasi” mengkaitkan “sampah” sebagai sumber energi dengan peranan yang dapat dikembangkan oleh organisasi koperasi. Topik lain berlingkup lebih luas, berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, dikemukakan oleh Amor Sasongko dalam makalahnya “Perencanaan dan Strategi Pembangunan bidang Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air”.

Masalah perkotaan terus berkembang di Indonesia, termasuk permasalahan transportasi kotanya. Kajian perlu diperbanyak untuk memahami permasalahan dan membantu mengatasi permasalahan transportasi perkotaan ini. Petrus Sumarsono dalam makalah “Kontrak Pelayanan Angkutan Umum Perkotaan: Sebuah Kebijakan Publik untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan” menganalisis dan mengusulkan rekomendasi bagi sebuah masalah angkutan umum perkotaan.

Pengantar

Redaksi

Topik-topik lain dalam Perencanaan Pembangunan edisi ini menyebar dari permasalahan keuangan, kesejahteraan rumah tangga, hingga mortalitas ibu. Contoh kasus yang disampaikan dak hanya terbatas di Indonesia, tapi juga mengambil dari negara-negara lain. Riset yang dilakukan pada umumnya cukup mendalam untuk makalah-makalah yang disebutkan belakangan dalam kata pengantar ini. Mereka terdiri dari Citra Sugiarto & Yusuke Jinnai (The eff ect of business credit and household characteris cs on household welfare in Indonesia), Ira Lubis

(Financing public housing in Indonesia: the role of central government and central governments), Istasius Anindito

(The impact of remi ance on labor supply by gender: case of Honduras), Mohammad Roudo (Finance is the essen al thing in establishing the rela onship between state and city but it is not suffi cient: learning from Asian and European state-city rela onship), dan Anna Rahmawaty (Poten al causes of maternal mortality in Indonesia).

Pembaca Perencanaan Pembangunan yang budiman, Dalam usianya yang sekitar 20 tahun, Perencanaan Pembangunan terus hadir untuk menyumbangkan pemikiran bagi pembangunan Indonesia, untuk Indonesia yang lebih baik. Perha an yang besar dari para pembaca selama ini telah meneguhkan Perencanaan Pembangunan untuk terus berkarya, juga karena percaya bahwa masyarakat Indonesia yang maju adalah masyarakat yang berdasar dan mengedepankan ilmu pengetahuan. Perencanaan Pembangunan bangga dapat menjadi bagian dari gerakan untuk mengantarkan ke masyarakat Indonesia ke arah yang ingin dituju itu.

Salam dan selamat membaca! Dewan Redaksi

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

(4)

2

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

EEEEEEEEEEEEEEEEEDEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDIDDDDDDIDDDIDIDIDIDDDDDIDDDDDDIDDDIDDDDDDDDIDDDDDISSSSSSISSSISISSSSSSSSSSISISSSSISSISSSSSSSSSSISSISSISSISSSSSISSSSISISSSSSISSISISSSSSSSISSSSISSISSISSISSSSSISSISSISISISISSSIIIIIIII000000000000000002000000000000000000000222222222222222222222222222222222•••••••••••••TATATATATATTATATATTATATATATATATATATAAAHUAAAAAAAAAAHHUHHUHHHHHHHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX••••••••••••••••••••••••••SSSSSSSSSSSSSSSSSSSEPSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPTEEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPEPPPPPTETETETETETETTETETETETETETETTETETETETETETTETETETETEEEEEMBEEEEEEEEEEEEEMBMMMBMBMMMBMMMBMBMBMBMBMMMMBMMBMMBMBMBMBMBMBMBMBMMBMBMBMBMBMBMBMBMBMBMBMMBMBMBBBERBBBBBBBBBBBBBBBBBEREREREEREREREREREREREREREEREREREEREREREREREREEREREREEREREEEREREREREREREREREEEEREREREREREREREREREERRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR2222222222222222222222220122222222222222222222222222222222222222222222222222222222222222222222222222220101001010001010010010100010100000100001010010100000001010101010001010101010101010100101010101010010101010101000101010100101010101010101010100101111111114111111111111111111111111111111111111111111111444444444444444444444444444444444444444444444444444444444444444444444

Ketahanan Energi Indonesia :

Gambaran Permasalahan dan Strategi

Memperbaikinya

1

Hanan Nugroho

Perencana Madya di Kedepu an Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup BAPPENAS

Abstrak

E

konomi Indonesia yang terus tumbuh telah meningkatkan permintaan terhadap energi. Di sisi lain, kondisi “Ketahanan Energi” Indonesia memburuk, dilihat dari indikator 4-A (availability, accessibility, aff ordability, acceptability). Makalah ini menggambarkan kondisi ketahanan energi Indonesia. Memper mbangkan lebarnya “kesenjangan” (gap) antara kondisi yang ada dengan “kondisi ideal” ketahanan energi, makalah ini mengusulkan beberapa strategi jangka menengah untuk memperbaiki kesenjangan tersebut. Usulan strategi termasuk meningkatkan produksi minyak bumi, mengurangi impor minyak/LPG, membangun infrastruktur gas bumi, memperluas akses ke pulau kecil/terluar/perbatasan, mempercepat pengembangan energi terbarukan, mendirikan Pusat Konservasi Energi, menaikkan harga BBM dan listrik/mengurangi subsidinya, serta memperkuat kapasitas ins tusi dan sumberdaya manusia terkait pembangunan energi.

1 Makalah ini merupakan bagian atau hasil sementara dari penyusunan Makalah Kebijakan mengenai Ketahanan Energi yang sedang dilakukan oleh Tim Analisa Kebijakan BAPPENAS.

2

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014 EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

99

DAFTAR PUSTAKA

Menko Perekonomian dan JICA; Jabodetabek Urban Transport Policy Integra on 2010 Nolberto Munier; Handbook on Urban Sustainability. 2007

(www.octranspo1.com 14 Juli 2014).

the Korea Transporta on Ins tute; Lessons from Transi on in Urban Transport Policy. 2012). (h p ://bmta.thaiwebaccessibility.com 14 Juli 2014).

TEMPO.CO, Jakarta 5 September 2013. REPUBLIKA.CO.ID, 25 Juli 2013

Tempointerak f.com Rabu, 29 September 2010.

News.De k.com; Diperkosa di Angkot M-26 ROS divisum di RS Polri; 14 Desember 2011, news.De k.com; Angkot D-02 tempat karyawa diperkosa dipenuhi s ker cabul, 15 September 2011).

Tribunenews.com; 4 Petugas Bus TransJakarta Pelaku Pelecehan Seksual Ditahan. 12 february 2014 Kompas, Rabu 2 Januari 2013, Dua Tewas dalam Kecelakaan di TOL, Hal 15 Kolom 1-3.

Undang Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Undang Undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan

Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota

Kementerian Perhubungan : Perhubungan Darat Dalam Angka 2012 Kementerian Perhubungan : Perhubungan Darat Dalam Angka 2010 BPS Jakarta; Jakarta Dalam Angka 2008

(5)

98

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

(MRTA) dan Bangkok Metropolitan Transit Authority (BMTA) di Thailand. Lembaga ini mempunyai tugas dalam menentukan keputusan berbagai isu seper route bus, tarif angkutan, sistem operasinya. Lembaga seper ini juga bisa dibebani atau diberi kewenangan untuk merencanakan, mengembangkan, membangun dan membiayai serta mengoperasikan sistem transportasi regional.

Kebijakan tarif terlebih cara mengumpulkan ongkos yang sekarang lebih banyak secara tunai untuk angkutan umum perkotaan harus diubah. Masyarakat kota kebanyakan sudah terdidik dan mengenal kartu kredit sehingga penggunaan kartu semacam Presto di O awa atau T-Money di Seoul dimungkinkan. Hal ini untuk mengetahui kelayakan penghasilan suatu perusahaan angkutan umum yang menjalani suatu trayek sehingga kebijakan besaran tarif bisa ditentukan dengan berbagai alterna f untuk menjamin kelangsungan pelayanan angkutan umum di perkotaan yang ramah lingkunggan, selamat, aman, teratur dan terjangkau. Misalnya dengan kondisi atau kecenderungan jumlah pelanggan angkutan umum berapa tarif yang layak agar perusahaan dapat selalu meremajakan armadanya dalam kurun waktu 5 tahun sehingga kendaraan umum selalu siap pakai dan

dak mogok diperjalanan.

Konsep “garbage in garbage out” berlaku juga pada pelayanan angkutan umum perkotaan. Data yang ada terkait angkutan umum perkotaan sebagai basis pengambilan keputusan saat ini masih kurang bisa dipercaya. Oleh karena itu perbaikan kualitas dan penyajian data sangat pen ng dilakukan. Untuk bisa menyajikan data yang bisa dipercaya yang juga merupakan gambaran apa adanya memerlukan kerjasama yang baik diantara para pemangku kepen ngan. Kasus data jumlah kendaraan dari BPS Propinsi Jakarta dan Kementerian Perhubungan untuk angkutan umum di Jabodetabek dak sama bahkan sangat jauh berbeda harus dihindarkan. Seharusnya ORGANDA (Organisasi Gabungan Pengusaha Angkutan Darat) bisa berperan ak dalam membantu menyajikan data yang akurat misalnya menyediakan data tentang jumlah kendaraan angkutan umum di Jabodetabek, jumlah awak angkutan umum (sopir/kondektur,kernet) dan jumlah tenaga yang terlibat di pusat kendali perusahaan yang mendukung operasi angkutan umum. Perlu diingat bahwa tak mungkin ada pelayanan angkutan umum yang baik kalau dak ada dukungan administrasi yang baik.

*) Tulisan ini merupakan penyesuaian dari policy paper yang penulis (Petrus Sumarsono) ajukan pada Diklat JFP Utama 2014.

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

3

PENDAHULUAN

K

etahanan energi (energy security) digambarkan dengan indikator 4A : bagaimana ketersediaan fi siknya

(availability), bagaimana kemudahan mendapatkannya (accessibility), bagaimana keterjangkuan harganya (aff ordability), serta bagaimana/seberapa kualitasnya yang dapat diterima (acceptability). Secara umum ketahanan energi juga digambarkan melalui elemen bauran energi (energy mix) serta keberlanjutan (sustainability) dari sistem penyediaan-permintaan energi yang ada.

Sebagai hasil dari pertumbuhan ekonomi yang telah berlangsung beberapa dekade, pertambahan penduduk (termasuk migrasi dari desa-desa ke kota), serta perubahan gaya hidup yang semakin energy-intensive, permintaan terhadap energi terus tumbuh di Indonesia. Dalam lima tahun mendatang (2015-2019), permintaan energi di Indonesia diperkirakan akan tumbuh dengan laju sebesar 5-6 persen untuk energi primer, dan 7-8 persen per tahun untuk energi fi nal.2

Seiring dengan pertumbuhan konsumsi energinya, Indonesia menghadapi berbagai tantangan/permasalahan ketahanan energi, yang tampak pada semua indikator 4A di atas.

Dari segi “availability” terdapat ancaman serius bahwa kemampuan untuk menyediakan energi secara nasional menurun, ditunjukkan dengan merosotnya kapasitas produksi (khususnya minyak bumi). Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, impor minyak bumi (baik crude oil maupun produk minyak) serta LPG (liquefi ed petroleum gas) terus meningkat.

Accesibility terhadap produk energi juga masih merupakan persoalan, ditunjukkan misalnya dengan rasio elektrifi kasi yang masih rendah (dibandingkan

negara-negara ASEAN, misalnya), serta banyaknya rumah tangga di desa-desa yang belum terlistriki. Di samping itu, “energi modern” seper bahan bakar minyak (BBM) dan gas bumi juga belum menjangkau banyak penduduk yang nggal di tempat terpencil di pegunungan/pulau-pulau kecil.

2 Rancangan Teknokra k Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, Dra .

Acceptability sering dikaitkan dengan mutu dari energi yang dipakai. Mutu BBM yang dikonsumsi ataupun mutu dari listrik yang dipergunakan masih merupakan permasalahan bagi masyarakat.

Harga energi, baik BBM atau listrik selalu diperdebatkan. Apakah harga BBM yang ditetapkan Pemerintah itu wajar nilainya? Apakah masyarakat dapat menjangkau harga BBM dan listrik yang ditetapkan itu? Sebaliknya, dengan menetapkan harga BBM yang “murah” kepada masyarakat di dalam negeri apakah Pemerintah “dapat menjangkau” biaya penyediaannya, dalam penger an dak mengorbankan APBN untuk membiayai pos-pos pengeluaran lainnya? Ini termasuk tantangan dalam indikator “aff ordability”.

Selanjutnya dari sisi bauran energi, tantangan yang besar muncul dari masih ngginya ketergantungan pada bahan bakar fosil (khususnya minyak bumi), yang berar pangsa pemanfaatan energi terbarukan yang masih rendah. Ketergantungan berlebihan pada bahan bakar fosil juga menimbulkan pertanyaan pada aspek keberlanjutan (sustainability) dari sistem pemanfaatan energi yang diterapkan di Indonesia.

Makalah ini mencoba menggambarkan kondisi ketahanan energi Indonesia. Dengan memper mbangkan bahwa ketahanan energi merupakan bagian pen ng bagi pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional, serta besarnya/makin melebarnya kesenjangan (gap) antara kondisi ketahanan energ Indonesia saat ini dengan kondisi idealnya, makalah ini mengusulkan beberapa hal strategis yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut.

GAMBARAN PERMASALAHAN

Tantangan berdasarkan indikasi 4A

World Economic Forum menempatkan “ketahanan energi” Indonesia dalam urutan ke-63 dari negara-negara lain di dunia. Urutan pertama, kedua, dan ke ga adalah Norwegia, Selandia Baru, dan Perancis.

(6)

4

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

Singapura yang berada dalam 62, serta Thailand, Korea Selatan, dan Jepang yang masing-masingnya berada dalam urutan ke 55, 54 dan 38.3

Di Indonesia, apa yang dimaksud dengan “Ketahanan Energi” belum didefi nisikan dengan jelas/rinci di dalam

produk hukum yang berlaku.4 Makalah ini mengusulkan

defi nisi “Ketahanan Energi” sebagai “kondisi terjaminnya

ketersediaan energi serta akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dan mutu yang diterima, melalui suatu bauran energi yang sehat dan berkelanjutan.” Tanpa masuk lebih rinci ke dalam defi nisi “Ketahanan

Energi” seper yang diusulkan oleh makalah ini maupun yang dimaksudkan oleh World Economic Forum, kondisi ketahanan energi Indonesia termasuk tantangannya dapat digambarkan sebagai di bawah ini.

Dari segi availability, tantangan utama yang dihadapi adalah kapasitas produksi minyak dan gas bumi yang terus menurun. Indonesia pernah memiliki produksi minyak bumi sebesar 1,7 juta barel per hari (bph) pada tahun 1977, namun –berlawanan dengan permintaan yang terus meningkat-- produksi minyak bumi justru terus menurun.

Dalam 5 tahun terakhir, produksi rata-rata minyak bumi Indonesia di bawah 1 juta bph. Pada tahun 2010, produksi tersebut 945 ribu bph, menurun menjadi 825 ribu bph (2013), dan diperkirakan menurun lagi menjadi 804 ribu bph (2014). Produksi menurun karena lapangan produksi yang sebagian besar tua (mature, depleted), pemanfaatan teknologi EOR (enhanced oil recovery) yang terbatas, serta kurangnya tambahan lapangan produksi baru. Kapasitas produksi minyak Indonesia berada dalam keadaan darurat.

Di samping minyak bumi, produksi gas bumi juga menurun. Pada tahun 2010, produksi gas bumi 1.582 ribu setara barel minyak (SBM) per hari, namun pada tahun 2013 hanya 1.441 ribu SBM per hari. Kecenderungan ini berlawanan dengan permintaan terhadap gas bumi di dalam negeri yang meningkat.

3 Dalam “The Global Energy Architecture Performance Index 2014 Report”, Global Economic Forum, December 2013.

4 Undang-undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi termasuk dak memberikan defi nisi yang tegas mengenai “Ketahanan Energi.”

Berlainan dengan minyak dan gas bumi, produksi batubara terus naik. Namun demikian, peningkatan produksi tersebut lebih banyak untuk memenuhi permintaan ekspor. Produksi batubara pada tahun 2010 adalah 275 juta ton, pada tahun 2013 mencapai 421 juta ton. Ekspor batubara pada tahun 2010 sebanyak 208 juta ton, terus meningkat menjadi 349 juta ton (2013). Sekitar 80 persen dari produksi batubara nasional, yang berasal terutama dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, adalah untuk diekspor.

Tingkat produksi minyak dan gas bumi Indonesia yang terus menurun tersebut juga disertai dengan ngkat penggan an cadangan (reserves replacement ra o) yang juga rendah, sekitar 67 persen. Ini adalah hal yang mengkhawa rkan yang mengancam “sustainability” dari pasokan minyak bumi Indonesia.

Selain tantangan produksi minyak bumi yang menurun, cadangan energi yang dimiliki Indonesia pun sangat terbatas. Indonesia belum memiliki cadangan strategis (strategic reserves) sebagai telah lazim dikembangkan oleh negara-negara OECD, bahkan belum mengan sipasi perlunya cadangan seper BBM (bahan bakar minyak) dan LPG (liquefi ed petroleum gas) jika terjadi krisis atau kelangkaan energi. Kapasitas penyimpanan saat ini hanyalah sekitar 7,7 juta KL untuk BBM dan 430 ribu ton-metrik LPG.

Tantangan dari segi accesability terlihat antara lain dari rasio elektrifi ksi nasional yang baru mencapai 80

persen (2013), ar nya belum semua keluarga di Indonesia telah mendapat pelayanan aliran listrik. Walaupun terus diupayakan penambahan, infrastruktur energi yang dikembangkan belum menjangkau hingga ke daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang banyak terdapat di Nusantara. Sistem kelistrikan terinterkoneksi yang mampu menjangkau banyak pelanggan baru dapat dibangun di Jawa, sementara ratusan tempat lain masih harus mengandalkan sistem kecil yang jangkauan pelayanannya terbatas.

Infrastruktur energi lainnya, misalnya jaringan pipa gas bumi masih sangat terbatas dan baru dapat mengantarkan gas ke sekitar 1 persen jumlah rumah tangga di Indonesia. Distribusi LPG baru dapat menjangkau

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

97

ini belum direvisi sehingga masih banyak individu individu yang menjalankan angkutan umumnya tanpa kena sanksi oleh pemerintah.

“Kontrak Pelayanan Angkutan Umum Perkotaan” dapat menghindarkan pengoperasian angkutan umum perkotaan secara individual kendaraan. Sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 22 tahun 2009 tentang LLAJ pasal 148 bahwa pemerintah (pusat, provinsi, kabupaten/ kota tergantung cakupan wilayah perkotaannya) berhak menetapkan jaringan trayek angkutan umum perkotaan dan kebutuhan kendaraan bermotor umum. Dengan demikian prakarsa pelayanan angkutan umum perkotaan sebetulnya ada pada pemerintah. Oleh karena itu pemerintah dalam menyusun jaringan trayek dan kebutuhan kendaraan umum angkutan umum perkotaan sudah harus memper mbangkan waktu operasi, selang waktu pemberangkatan bus satu dengan bus lainnya (headway), sinergi baik dengan moda transport yang lain maupun pada simpul perpindahan (transfer) dengan jurusan atau pe pelayanan bus lainnya, struktur biaya investasi dan pengoperasian bus sehingga dapat dihitung pembebanan kepada masyarakat melalui kebijakan tarif angkutan umum perkotaan.

Apabila pemerintah sudah mampu menyusun jaringan trayek dan kebutuhan angkutan umum perkotaan dengan berbagai per mbangan seper di atas maka kualitas pelayanan angkutan umum perkotaan seper apa yang ingin diberikan kepada masyarakatnya dan dengan berapa biaya yang bisa ditanggung oleh pemerintah akan ditawarkan kepada pengusaha angkutan umum. Misalnya ada satu koridor yang ditawarkan kepada pengusaha angkutan umum maka informasi awal yang harus ada (keluar) dari pemerintah adalah : 1). lokasi awal dan akhir pelayanan serta rute yang harus dijalani sehingga jarak tempuh bisa dihitung; 2) waktu operasi dan headway

pemberangkatan bus baik waktu jam sibuk maupun normal sehingga diketahui jumlah kendaraan yang dibutuhkan; fasilitas pelayanan dari kendaraan umum (ada pendingin udara sehingga diketahui perkiraan biaya pengoperasian bus); 3). perkiraan jumlah penumpang dan tarif sehingga diketahui seberapa besar pendapatan dari ket. Dengan demikian pengusaha angkutan umum harus benar benar berhitung bagaimana mereka dapat memenuhi kualitas pelayanan angkutan umum perkotaan

yang diminta pemerintah dan tetap bisa untung. Kalau rugi seharusnya mereka nggalkan usaha di angkutan umum sehingga pengusaha yang betul betul berkualitas yang mampu memberikan pelayanan angkutan umum perkotaan.

Kontrak pelayanan angkutan umum perkotaan ini menuntut pemerintah sudah lebih siap dalam merencanakan angkutan umum perkotaan dan dak tergantung pada prakarsa pengusaha angkutan terlebih yang sifatnya perorangan. Lebih jauh lagi kontrak pelayanan angkutan umum perkotaan ini akan menghapus sistem setoran dalam pengelolaan angkutan umum karena adanya headway dan waktu operasi yang tetap harus dijalani akan menghindarkan kejar-kejaran antar bus yang satu dengan yang lain. Hal ini juga berar akan mengurangi ngkat kecelakaan yang melibatkan angkutan umum perkotaan.

PENUTUP

Pemerintah harus segera menyelesaikan revisi PP No. 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan. Semangat UU No. 22 tahun 2009 tentang LLAJ hendaknya diturunkan dalam membuat PP tersebut. PP tersebut se daknya menegaskan bahwa jaringan angkutan umum disusun dan ditetapkan oleh pemerintah dan ijin trayek sifatnya bukan pengajuan tetapi pemberian kontrak pelayanan dengan beberapa persyaratan yang telah ditetapkan sebagai hasil kajian yang mendalam tentang trayek jaringan pelayanan angkutan umum.

Pemerintah menyediakan subsidi biaya operasional dan pemeliharaan untuk pelayanan angkutan umum perkotaan atau yang sekarang lebih dikenal sebagai ‘public service obliga on = pso’ sehingga dalam pemberian kontrak per mbangan utama didasarkan pada keuntungan bagi masyarakat secara keseluruhan.

(7)

96

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

Tabel Perbandingan Armada Angkutan Umum dan Kapasitas Tempat Duduk 2007 dan 2012

Jenis Angkutan Umum

Tahun

2007 2012

Unit Kapasitas tempat duduk per unit

Total Kapasitas

Tempat duduk Unit

Kapasitas tempat duduk per unit

Total Kapasitas Tempat duduk

Bus Besar 4.783 60 286.980 2.000 60 120.000

Bus Sedang 4.979 30 149.370 1.987 30 59.610

Bus Kecil 9.412 12 112.944 16.671 12 200.052

Total 19.174 549.294 20.658 379.662

Sumber BPS Jakarta; Jakarta Dalam Angka 2008 Sumber BPS Jakarta; Jakarta Dalam Angka 2013

Tabel Perbandingan Data Kendaraan Umum di DKI Jaya Antara DKI Jaya dan Kementerian Perhubungan 2012

Sumber data Mobil

Penumpang Umum Bus Besar Bus Sedang Bus Kecil Total

DKI Jaya (unit) - 2.000 1.987 16.671 20.658

Kementerian Perhubungan (unit) 2.576 2.809 7.821 26.002 39.208

Sumber BPS Jakarta; Jakarta Dalam Angka 2008 Sumber BPS Jakarta; Jakarta Dalam Angka 2013

Kontrak Pelayanan Angkutan Umum Perkotaan

Pelayanan angkutan umum perkotaan di Jabodetabek masih jauh dari praktek pelayanan angkutan umum yang baik seper Bangkok, Seoul, dan O awa. Di ke ga kota tersebut pemerintah pusat dan pemerintah kota memainkan peranannya yang sangat besar dalam memilih jenis angkutan umum, menentukan trayek dan kebijakan tarif serta memberikan subsidi operasi dan pemeliharaan angkutan umum berikut penegakan hukumnya. Di ke ga kota tersebut untuk pelayanan angkutan umum perkotaan jelas ada kepas an tentang : waktu operasi, jadwal pelayanan ( me table) sehingga bisa dilihat frekuensinya, fasilitas pelayanannya apakah bus pakai Ac atau dak (Di Bangkok), pelayanan reguler atau ekspress dengan sedikit tempat pemberhen an, tarif dan cara pengumpulannya.

UU No 22 tahun 2009 sebagai penggan UU 14 tahun 1992 sesungguhnya sudah meletakkan dasar yang baik untuk menciptakan pelayanan angkutan umum perkotaan yang nan diharapkan juga menghasilkan wajah baru transportasi kota yang ramah lingkungan dan menjadikan kota sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni. Langkah

yang pen ng adalah menghilangkan hak individu untuk memberikan pelayanan angkutan umum. Sesuai dengan PP 41 Tahun 1993 tersebut prakarsa pelayanan angkutan umum berasal dari pihak swasta. Oleh karena itu per mbangan utama dalam mengajukan ijin trayek adalah keuntungan sebagai individu atau perusahaan bukan keuntungan untuk masyarakat secara keseluruhan. Akhirnya dalam praktek pengusaha angkutan umum mengoperasikan kendaraan umum dengan per mbangan utama adalah keuntungan bagi dirinya. Dengan demikian bukan hal yang aneh kalau dalam waktu operasi banyak atau sering nampak kendaraan umum disewakan untuk membawa supporter sepak bola, melayat, dan lain sebagainya. Ar nya apabila mereka merasa lebih untung menyewakan kendaraan nya dari pada menjalani trayek yang mereka miliki maka mereka akan menyewakan kendaraannya dan mengabaikan pelanggan yang dilayani pada ijin trayek yang mereka miliki. Padahal dengan mereka menyewakan kendaraannya berar armada dan kapasitas tempat duduk trayek yang mereka jalani pada periode itu berkurang sehingga masyarakat harus menunggu kedatangan bus lebih lama lagi. Sayangnya PP No. 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan sampai saat

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

5

wilayah perkotaan khususnya di bagian tengah dan barat Indonesia. Infrastruktur pengolahan serta distribusi minyak bumi pada umumnya berumur tua, kurang terpelihara, dengan kapasitas yang meluruh. Kapasitas kilang BBM di dalam negeri hanya 6.740 ribu KL, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional.

Acceptability sering dikaitkan dengan mutu dari energi yang dipakai. Banyak keluhan bahwa BBM yang beredar di masyarakat (di luar outlet pelayanan resmi) dak memenuhi spesifi kasi sebagai bahan bakar baik.

Di banyak tempat pemadaman aliran listrik masih sering terjadi, bahkan di kota besar seper Jakarta. Frekuensi terputus-putusnya aliran listrik dan dampak lingkungan yang buruk dari upaya penyediaan energi sering di luar batas yang dapat diterima. Keandalan (reliability) dari sistem penyediaan energi Indonesia masih sering menjadi masalah.

Aff ordability (kemampuan) masyarakat terhadap harga energi, yang – untuk beberapa jenis BBM dan listrik - ditetapkan oleh Pemerintah berbeda-beda antar golongan. Tantangan yang lebih gen ng justru pada kemampuan Pemerintah untuk membiayai penyediaan BBM – sebagai konsekuensi dari penetapan harga yang dilakukannya serta kesediaan untuk menanggung subsidi. Data APBN menyebutkan subsidi BBM yang diberikan pada tahun 2014 telah mencapai Rp. 246,5 Trilliun serta Rp. 103,8 Trilliun untuk listrik.5 (dalam APBN-P 2014).

Tanpa masuk ke de l, permasalahan sustainability

sistem penyediaan-permintaan energi Indonesia dapat dideteksi melalui bauran energi (energy mix) primernya, dimana pangsa bahan bakar fosil (minyak bumi, gas bumi, batubara) masih sangat dominan (96 persen pada tahun 2012), yang berar pangsa energi terbarukan (air, panas bumi, bio-fuel) hampir dak/belum berar .6

Ketergantungan nggi pada minyak bumi, sumber energi mahal yang dak ramah lingkungan (dibandingkan gas bumi atau sumber-sumber energi terbarukan) berpotensi menjadi ancaman bagi sustainability sistem energi Indonesia ke depan.

5 Data dari Rancangan APBN 2015, Kementerian Keuangan.

6 Handbook of Energy & Economy Sta s c of Indonesia 2013, Kementerian Energi & Sumberdaya Mineral.

Ketergantungan Impor

Salah satu elemen dari indikator availability adalah seberapa besar ketergantungan terhadap impor energi. Walaupun Indonesia masih dikenal sebagai negara pengekspor energi, namun kita juga telah berkembang menjadi pengimpor energi yang cukup besar. Meningkatnya permintaan/konsumsi serta menurunkannya kapasitas produksi energi seper disebutkan tadi telah menyebabkan impor energi Indonesia meningkat cepat. Ini perkembangan yang mengkhawa rkan.

Dulu Indonesia termasuk negara pengekspor minyak bumi utama, satu-satunya wakil OPEC dari Asia. Namun tahun 2006 mulai menjadi pengimpor neto minyak bumi, bahkan melepaskan keanggautaan di OPEC tahun 2008.

Bensin (gasoline) adalah komoditas energi yang sekarang pun Indonesia sudah termasuk pengimpor besar dunia. Impor bensin (juga solar) terus meningkat, disebabkan oleh melonjaknya konsumsi yang didorong pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor serta harga bensin murah (karena subsidi pemerintah). Diperkirakan sebelum tahun 2020 Indonesia akan menjadi impor r bensin terbesar di dunia. Pada tahun itu impor bensin Indonesia akan mencapai 450 ribu bph, dari saat ini sekitar 350 ribu bph.7

Tidak hanya bensin sebagai produk kilang minyak yang impornya akan membesar, tapi juga minyak mentah (crude oil). Besaran impor minyak mentah belakangan ini telah mencapai 400 ribu bph atau sekitar 1/3 dari kebutuhan minyak mentah yang menjadi intake kilang minyak nasional.

Komoditas energi lainnya yang impornya terus meningkat adalah LPG. Di tahun 2006, dipacu oleh lonjakan harga minyak yang terus menerus, pemerintah menjalankan kebijakan untuk menggan kan minyak tanah (kerosin) dengan LPG. Program tersebut cukup berhasil diukur dengan jumlah minyak tanah yang digan kan. Namun, Indonesia bukanlah penghasil LPG yang cukup besar. Karena kapasitas produksi LPG di dalam negeri terbatas (sebagian besar dari kilang minyak dan kilang

(8)

6

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

LNG Bontang, saat ini sekitar 2,5 juta ton per tahun/ jtpt), sementara permintaannya telah meningkat menjadi 5,3 jtpt pada tahun 2014, Indonesia harus mengimpor kekurangannya dari pasar internasional.

Kebutuhan impor energi Indonesia yang meningkat juga telah mengubah peta darimana energi itu akan diimpor. Hal ini mungkin akan mempengaruhi tantangan geopoli k energi Indonesia ke depan. Dengan perkataan lain, peningkatan ketergantungan impor energi Indonesia, serta meningkatnya permintaan energi dari negara-negara lain terutama di kawasan Asia terhadap sumber-sumber energi yang berasal dari Indonesia, akan memiliki dampak yang harus diperhitungkan bagi ketahanan energi bahkan ketahanan nasional Indonesia.8

Impor minyak mentah Indonesia nan nya akan berasal dari negara-negara tetangga (Malaysia, Brunei, Vietnam), Timur Tengah, dan bahkan dari Asia Tengah. Sejauh ini sebagian besar impor LPG berasal dari Saudi Arabia (Aramco), tapi di masa depan kita perlu mencari sumber-sumber lain, termasuk Amerika Serikat (yang akan memiliki kapasitas ekspor LPG karena revolusi

shale gas mereka).

Perkembangan kebutuhan Indonesia akan bensin akan berpengaruh terhadap pasar regional. Secara tradisional kita mengimpor bensin dan produk minyak lainnya dari Singapura yang merupakan pusat kilang minyak regional. Karena rencana pemerintah membangun/ meningkatkan kapasitas kilang nasional tampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat (dan kapasitas kilang nasional tetap di sekitar 1,15 juta bph, yang dak berubah dari lebih dari 2 dekade), maka impor bensin dan solar akan meningkat.

Peningkatan kapasitas kilang minyak di dalam negeri perlu diupayakan karena dak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor BBM, namun juga memperbaiki kondisi ketahanan energi nasional.

Untuk gas bumi, selama ini Indonesia mengekspor gas bumi melalui pipa ke Singapura, baik yang berasal dari laut Natuna maupun yang berasal dari Jambi (disalurkan

8 Dibutuhkan kajian yang mendalam untuk menjawab tantangan permasalahan geopoli k energi ini.

melalui Batam). Dengan terus meningkatnya permintaan gas bumi di dalam negeri, makin berkembang dan ter-interkoneksi-nya infrastruktur gas bumi di Indonesia, serta berhasilnya Singapura mengembangkan posisinya sebagai “gas hub” nan nya, keadaaan mungkin akan berbalik dimana Singapura akan tumbuh menjadi sumber bagi impor gas Indonesia. Alterna f lainnya adalah mengimpor dalam bentuk LNG dari sumber-sumber yang menawarkan harga kompe f, termasuk kemungkinan dari Amerika Serikat yang produksi gas buminya (dari shale gas) akan melonjak.

MEMPERBAIKI KONDISI KETAHANAN

ENERGI INDONESIA

Pendekatan analisis

Tanpa ketahanan energi yang baik, pertumbuhan ekonomi bahkan ketahanan nasional dapat terganggu. Kondisi ketahanan energi Indonesia yang kondisinya masih “rentan/kurang” sebagaimana digambarkan di atas (dan dalam da ar World Economic Forum) perlu diperbaiki. Karena itu perlu dilakukan beberapa langkah/ ndakan strategis.

Pendekatan yang dilakukan untuk merumuskan langkah/ ndakan strategis untuk memperbaiki “Ketahanan Energi” Indonesia dalam penyusunan makalah ini dapat diringkaskan secara sederhana sebagai berikut :

Pertama, “memotret” atau melakukan iden fi kasi

terhadap kondisi ketahanan energi sekarang. Hal ini telah dilakukan dengan menggunakan indikator ketahanan energi 4-A dengan hasil sebagaimana digambarkan di atas. Kedua, mencoba menggambarkan suatu kondisi “ketahanan energi ideal” yang menjadi acuan jangka panjang untuk dituju.9

Ke ga, melakukan “gap analysis”, membandingkan antara “kondisi saat ini” dengan “kondisi ideal” yang ingin dituju. Setelah membandingkan lebarnya kesenjangan (gap) antara “kondisi saat ini” dengan “kondisi ideal” dalam kasus

9 “Ketahanan energi ideal”coba digambarkan sebagai kondisi dimana : (i) energi tersedia secara memadai (dengan ngkat penyediaan dari sumber-sumber dalam negeri mencapai 80 persen), (ii) akses masyarakat terhadap energi telah sempurna (100 persen), (iii) mutu energi yang dikonsumsi/digunakan memenuhi standar “dapat diterima”, (iv) harga energi dapat dijangkau oleh masyarakat dan oleh Pemerintah (yang dak menganggap biaya penyediaan energi menjadi beban, (v) pangsa energi terbarukan dalam bauran energi primer cukup nggi (seper ga dari total), (vi) sistem penyediaan dan konsumsi energi yang dirancang/ diterapkan terjamin keberlanjutannya.

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

95

lima tahun terjadi pergeseran jenis moda angkutan umum yang dioperasikan. Jumlah armada bus besar dan bus sedang berkurang tetapi jumlah bus kecil bertambah dan secara total unitnya bertambah dari 19.174 unit menjadi 20.658 unit namun dalam hal kapasitas tempat duduk malah berkurang dari 549.294 tempat duduk menjadi hanya 379.662 tempat duduk. (Tabel Perbandingan Armada Angkutan Umum dan Kapasitas Tempat Duduk 2007 dan 2012).

Hal yang lebih mempriha nkan dalam manajemen angkutan umum ini adalah bahwa data yang disampaikan oleh lembaga berwenang sangat rancu dan dak konsisten antara pusat dengan daerah. Misalnya DKI Jaya dak mengenal is lah mobil penumpang umum adanya hanya pe bus besar, bus sedang dan bus kecil dan jumlahnya sangat jauh berbeda. DKI melaporkan total armada untuk melayani angkutan umum 20.658 unit sementara Kementerian Perhubungan melaporkan jauh lebih banyak 39.208 unit (lihat Tabel Perbandingan Data Kendaraan Umum antara DKI Jaya dan Kementerian Perhubungan 2012).

Tabel Perbandingan Armada Pelayanan Angkutan Umum Dengan Bus Besar 2007 dan 2012

No Nama Perusahaan

Tahun

2007 2012

Jumlah Bus Jumlah

Trayek rata rata Jumlah Bus

Jumlah

Trayek rata rata

unit trayek unit/trayek unit trayek unit/trayek

1 Perum PPD 1.700 68 25,0 279 17 16,4

2 PT Mayasari Bak 1.595 108 14,8 671 61 11,0

3 PT Pahala Kencana 39 3 13,0 53 0

-4 PT Bianglala Metropolitan 187 9 20,8 8 5 1,6

5 PT Steady Safe 509 46 11,1 45 7 6,4

6 PT Agung Bak 25 3 8,3 - -

-7 Koperasi Arief Rahman Hakim 2 1 2,0 16 1 16,0

8 PT Koda Jaya/AJA P 153 6 25,5 132 6 22,0

9 PT Jasa Utama 60 4 15,0 50 0

-10 Koperasi Himpuna 90 6 15,0 0 0

-11 PT Metromini 66 4 16,5 10 1 10,0

12 PT Trans Jakarta - 0 - 0 0

-13 PT Putra Tasima 15 1 15,0 0 0

-14 PT Daya Sentosa Utama 3 1 3,0 23 1 23,0

15 PT Sinar Jaya Megah Langgeng - 0 - 89 14 6,4

16 PT Hiba - 0 - 59 5 11,2

Total 4.444 260 17,1 1.435 118 12,2

(9)

94

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

wilayah kabupaten/kota tetapi masih dalam satu propinsi kewenangan tersebut ada pada pemerintahan provinsi (Gubernur). Apabila wilayah perkotaan mencakup dua atau lebih wilayah kabupaten/kota dan juga mencakup lebih dari satu provinsi maka kewenangan tersebut ada pada pemerintah pusat. Hal inilah yang dirasa perlu adanya otoritas transportasi untuk kota-kota yang telah menyatu sebagai satu kesatuan ekonomi seper Jabodetabek. Selain itu adanya lembaga otoritas ini dapat membantu pemerintah kabupaten/kota untuk memenuhi SPM angkutan umum perkotaan sebagaimana diatur dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 2 Tahun 2013 tentang Petunjuk Teknis Penerapan dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perhubungan Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Acuan SPM untuk angkutan umum perkotaan mencakup jangkauan pelayanan (ra o antara panjang jalan yang dilayani angkutan umum dengan jumlah panjang jaringan jalan yang ada), ketersediaan prasarana (ra o antara jumlah halte yang ada dengan jumlah halte yang dibutuhkan), dan keselamatan (ra o antara jumlah kendaraan angkutan umum yang memenuhi laik keselamatan dengan jumlah kendaraan angkutan umum yang ada.

Menurut PP No 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan bahwa kegiatan usaha angkutan umum bisa dilakukan oleh BUMN, BUMD, Badan Usaha milik swasta nasional, koperasi dan perorangan warga negara Indonesia. Sebelum dapat melakukan usahanya mereka harus memiliki Izin Usaha Angkutan (IUA). Untuk memperoleh IUA pemohon mengajukan kepada Menteri Perhubungan dengan persyaratan pemohon harus memiliki : 1). Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 2). Akte Pendirian Perusahaan bagi pemohon berbentuk badan dan koperasi serta tanda ja diri bagi pemohon perorangan; 3). Surat keterangan domisili perusahaan; 4). Surat izin tempat usaha (SITU); 5). Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai kendaraan bermotor; 6). Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan kendaraan bermotor. Menteri akan memberikan IUA apabila memenuhi persyaratan tersebut dan trayek atau wilayah operasi yang akan dilayani masih terbuka. Untuk dapat melakukan kegiatan angkutan dalam trayek termasuk di dalamnya angkutan umum perkotaan apabila perusahaan/ koperasi/perorangan sudah memiliki izin trayek. Untuk mendapatkan Izin trayek pemohon mengajukan kepada

Menteri Perhubungan dengan syarat; 1). Memiliki Izin Usaha Angkutan; 2). Memiliki atau menguasai kendaraan bermotor yang laik jalan; 3). Memiliki atau menguasai fasilitas penyimpanan kendaraan bermotor; 4). Memiliki atau menguasai fasilitas perawatan kendaraan bermotor.

Dalam PP tersebut juga diatur persoalan pembukaan trayek baru dan penetapan trayek yang terbuka untuk penambahan jumlah kendaraan bermotor dengan persyaratan bahwa untuk pembukaan trayek baru dengan perkiraan faktor muatan di atas 70% kecuali angkutan perin s dan untuk penambahan jumlah kendaraan apabila faktor muatan rata rata di atas 70%. Pengusaha angkutan umum yang telah mendapatkan izin trayek wajib memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam izin trayek, mengoperasikan kendaraan bermotor yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, melaporkan apabila terjadi perubahan domisili dan/atau penanggungjawab perusahaan, melaporkan se ap bulan kegiatan operasionalnya. Dengan ketentuan manajemen angkutan umum seper di atas tanpa secara rinci mengetahui berapa armada yang akan menjalani izin trayek yang telah diberikan tersebut serta dak adanya keharusan penyusunan jadwal pemberangkatan maka sulit mengharapkan pelayanan angkutan umum perkotaan (angkutan umum dalam trayek) akan membaik. Contohnya kasus di Jakarta. Koperasi Arief Rahman Hakim hanya memiliki 2 unit kendaraan untuk melayani 1 trayek dan PT Daya Sentosa Utama hanya memiliki 3 unit untuk melayani satu trayek pada tahun 2007. Pada tahun 2012 ada hal yang aneh bahwa PT Bianglala Metropolitan, yang hanya memilik armada 8 unit diberi izin melayani 5 rute. Ar nya bahwa satu rute dilayani kurang dari dua unit bus. Pertanyaannya adalah berapa lama pengguna menunggu untuk mendapatkan pelayanan angkutan umum pada trayek tersebut?. Kenapa izin trayek diberikan? Hal ini menunjukkan manajemen penyelenggaraan angkutan umum secara makro oleh pemerintah dak baik karena

dak memper mbangkan kelangsungan pelayanan angkutan umum. Dampaknya dalam lima tahun terjadi penurunan armada angkutan umum yang sangat besar untuk armada bus besar yang semula 4.444 unit nggal hanya 1.435 unit atau berkurang 67,7%. Catatan ini dak termasuk TransJakarta (Lihat Tabel Perbandingan Armada Pelayanan Angkutan Umum dengan Bus Besar di Jakarta 2007 dan 2012). Hal yang menarik adalah bahwa dalam

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

7

“Ketahanan Energi” Indonesia ini, makalah ini kemudian mengusulkan upaya untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Pengisian kesenjangan antara “kondisi saat ini” dengan “kondisi ideal” dilakukan dengan memanfaat-kan prinsip-prinsip utama kebijamemanfaat-kan energi, yaitu

intensifi kasi, diversi kasi, dan konservasi energi.10 Sesuai

prinsip kebijakan energi, intensifi kasi energi misalnya

harus dilakukan dalam hal kemampuan memproduksi sumber energi di dalam negeri telah merosot; hal ini relevan untuk kasus produksi minyak bumi Indonesia. Diversifi kasi penyediaan energi yang menjadi usulan utama

dalam makalah ini telah memper mbangkan beberapa teknologi energi sebagaimana dikemukakan misal nya oleh Nersesian (Energy for the 21st Century, 2010) maupun MIT (Sustainable Energy, 2012).

Usulan Strategi

Berdasarkan pendekatan sebagaimana dikemuka kan di atas, makalah mengusulkan beberapa strategi untuk memperbaiki kondisi ketahanan energi Indonesia, dengan penekanan pada hal-hal yang mungkin dilakukan dalam jangka menengah ke depan.11

Pertama, untuk perbaikan availability, perlu di-tempuh kebijakan intensifikasi energi. Kebijakan ini

diterjemahkan ke dalam langkah-langkah peningkatan produksi minyak dan gas bumi, terutama minyak bumi. Demikian pula harus dilakukan ndakan “pengurasan lanjut” (enhanced oil recovery) dan eksplorasi untuk mendapatkan cadangan baru.

Agar pekerjaan-pekerjaan besar tersebut dapat berlangsung baik, iklim investasi bagi pembangunan minyak dan gas bumi (terutama di sektor hulu) harus diperbaiki. Mengingat pen ngnya peningkatan produksi minyak bumi tersebut bagi ketahanan energi, deregulasi

10 Prinsip-prinsip kebijakan energi ini dikemukan dalam banyak literatur mengenai kebijakan energi, misalnya yang agak baru dalam Michael S. Hamilton : Energy Policy Analysis : A Conceptual Framework (2012).

11 Makalah ini dak berpretensi untuk memberikan usulan yang bersifat lengkap atau dapat menjawab kesluruhan tantangan perbaikan kondisi ketahanan energi Indonesia. Usulan strategis yang diusulkan didasarkan pada per mbangan bahwa hal-hal itu adalah yang kemungkinan besar dapat dilakukan, berdasarkan analisis terhadap kemampuan nyata dalam melakukan pembangunan di bidang energi, misalnya yang ditunjukkan dalam “Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014” (Bappenas, 2013).

dan debirokra sasi untuk memperbaiki iklim investasi tersebut layak ditempuh.

Selain meningkatkan produksi minyak dan gas bumi, impor energi harus dicegah agar dak tumbuh cepat atau bahkan dapat dikurangi. Peningkatan ketergantungan impor energi merentankan ketahanan energi, menekan neraca perdagangan internasional Indonesia, di samping menjadi beban berat bagi APBN.

Untuk mengurangi laju impor produk minyak, kapasitas kilang minyak dalam negeri pun harus di ngkatkan. Hambatan dalam upaya pengembangan kapasitas kilang minyak selama ini harus disingkirkan, dan terobosan perlu dilakukan agar pembangunan kilang baru terealisasi.

Kedua, mengembangkan infrastruktur energi, terutama untuk gas bumi, sehingga cadangan gas bumi di daerah-daerah terpencil dapat diolah dan secara bertahap terhubungkan dengan pusat-pusat per mintaan-nya. Infrastruktur distribusi untuk mengantar kan gas bumi ke rumah-rumah tangga perlu dikembangkan. Demikian pula, upaya menggunakan bahan bakar gas di sektor transportasi (yang dulu pernah dikembangkan) perlu dihidupkan kembali dan diperbesar jangkauannya. Langkah strategis ini dimaksudkan untuk memperbaiki accessibility terhadap energi bagi masyarakat sekaligus bagian dari strategi diversifi kasi untuk memperbaiki energy mix Indonesia.Hal

ini juga didukung cadangan gas bumi Indonesia yang besar (dibandingkan minyak bumi) serta faktor-faktor keunggulan gas bumi lainnya (lebih murah dan bersih).

Ke ga, akses terhadap energi perlu di ngkatkan untuk memberikan pelayanan energi kepada penduduk di pulau-pulau kecil, pulau-pulau-pulau-pulau terluar, serta di wilayah-wilayah perbatasan dengan negara tetangga. Teknologi energi yang sesuai, misalnya tenaga matahari, dapat dimanfaatkan untuk upaya memperbesar akses energi tersebut.

(10)

8

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

menghasilkan bahan bakar naba (BBN) serta sampah (kota maupun yang berasal dari biomass) perlu terus didorong pengembangannya.

Upaya pen ng kelima adalah memasyarakatkan gerakan konservasi energi, membiasakan masyarakat, ter masuk industri, transportasi, dan gedung-gedung pemerintah/swasta menggunakan energi lebih hemat. Pemerintah (dengan mengajak pihak swasta) segera mem-bentuk Pusat Konservasi Energi, yang akan me lakukan pekerjaan-pekerjaan seper Pusat Konservasi Energi di Jepang, negeri yang program-program konservasi energi-nya terunggul di dunia.

Keenam, pemerintah menaikkan harga BBM dan listrik untuk menyesuaikan dengan harga keekonomian mereka atau mengurangi subsidi untuk pemakaian energi tersebut. Mengurangi subsidi BBM/listrik selain baik dari sisi kebijakan energi dan lingkungan, juga akan mengurangi tekanan fi skal yang makin mencengkeram APBN, akan

membantu pemerintah membiayai program-program pembangunan lainnya.

Terakhir namun bukan berar tak pen ng, memper-cepat pengembangan sumberdaya manusia serta mem-per baiki kapasitas ins tusi-ins tusi di Indonesia ter kait pembangunan energi. Da ar permasalahan berkaitan dengan pembangunan ketahanan energi di Indonesia sudah sangat panjang, dan hal-hal ini dak mungkin dapat diatasi tanpa ketersediaan sumberdaya manusia yang handal dalam jumlah banyak di bidang-bidang yang berkaitan dengan pembangunan energi.12

RINGKASAN DAN REKOMENDASI

Ringkasan

Ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terus tumbuh dan ini telah meningkatkan permintaan terhadap berbagai jenis energi. Untuk memenuhi permintaan energi yag berkembang tersebut, telah dilakukan upaya-upaya untuk menyediakan energi lebih banyak, menambah

12 Pen ngnya pengembangan ins tusi dalam pembangunan negara sangat ditekankan misalnya oleh Daron Acemoglu & James Robinson (Why Na ons Fail : the Origins of Power, Prosperity, and Poverty; 2012).

infastruktur distribusi energi, serta memperbaiki kualitas energi termasuk pelayanannya.

Di sisi lain, kondisi “Ketahanan Energi” Indonesia berada dalam kondisi yang “kurang sehat” bahkan cenderung melemah dalam tahun-tahun belakangan, dilihat indikator ketahanan energi 4-A (availability, accessibility, aff ordability, acceptability). Di sisi “availability” misalnya, hal ini ditandai dengan terus merosotnya produksi minyak bumi Indonesia serta meningkatnya impor minyak bumi dan LPG. Dari segi bauran energi, terlihat masih sangat dominannya pemakaian bahan bakar fosil

Kesenjangan (gap) yang lebar antara kondisi ketahanan energi Indonesia saat ini dengan kondisi idealnya perlu diatasi/dikurangi dengan mengembangkan strategi energi untuk menjawab tantangan permasalahan tersebut. Rekomendasi strategi yang dikembangkan termasuk memperbaiki pencapaian dari indikator-indikator ketahanan energi.

Rekomendasi

Untuk memperbaiki ketahanan energi Indonesia, diusulkan untuk melakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut :

. Meningkatkan produksi minyak dan gas bumi di dalam negeri melalui eksplorasi cadangan baru dan pemanfaatan teknologi EOR (enhanced oil recovery). Untuk itu, iklim investasi harus diperbaiki, termasuk melakukan deregulasi dan debirokra sasi yang mendukung pembangunan industri minyak dan gas bumi sektor hulu (upstream).

. Mengurangi ketergantungan impor untuk minyak mentah, produk minyak, maupun LPG. Pengurangan ketergantungan impor minyak mentah dan LPG dapat dikurangi dengan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Ketergantungan pada impor produk minyak dapat dikurangi dengan menambah kapasitas pengolahan (kilang) minyak di dalam negeri. Upayakan agar Indonesia dak berkembang menjadi pengimpor LNG dengan meningkatkan produksi gas bumi dalam negeri dan membangun infrastruktur pengolahan dan distribusinya.

. Mengembangkan infrastruktur energi, terutama untuk gas bumi. Infrastruktur gas bumi yang harus dikembangkan selain untuk memenuhi listrik dan

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

93

kendaraan umum yang bersangkutan dan/atau di luar jam operasi angkutan umum. Lebih parahnya lagi pelaku ndak kriminal adalah “sopir tembak” yang adalah awak angkutan umum.9 Bahkan angkutan umum “TransJakarta” yang dikelola

dan diberi subsidi oleh pemerintah provinsi DKI Jaya dan ingin dijadikan model pelayanan angkutan umum perkotaan masih terjadi juga pelecehan sexual. 10

Pemerintah yang berwewenang mengatur sistem angkutan umum perkotaan baik itu Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan) maupun Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemprov DKI Jaya dan Organda (organisasi pengusaha angkutan darat) belum bisa mengendalikan operasi pelayanan angkutan umum perkotaan. Contohnya Mobil Daihatsu Luxio bernomor polisi pelat hitam F 1622 CY mengangkut 10 orang penumpang dengan memungut bayaran (kategori angkutan umum) yang mengambil rute Jakarta-Bogor (lintas propinsi DKI Jaya - Jawa Barat). Tragedinya kendaraan Minibus Daihatsu Luxio ditabrak BMW di jalan Tol pada tanggal 1 Januari 2013 dan mengakibatkan 2 orang meninggal. 11 Hal ini seakan

menegaskan kalau pemerintah dak bisa mengendalikan bahkan dak bisa melakukan pengawasan operasi angkutan umum perkotaan.

Kebijakan Publik terkait Penyelenggaraan

Angkutan Umum Perkotaan di Indonesia

Kebijakan terkait penyelenggaraan angkutan umum perkotaan ini bisa dilihat dari pengaturan pelayanan angkutan umum dan manajemen perusahaan atau operator angkutan umum. Pegaturan angkutan umum perkotaan tentunya harus mengacu pada kebijakan angkutan umum perkotaan berbasis jalan raya yang saat ini diatur dengan Undang Undang (UU) No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan, Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 2 Tahun 2013 tentang Petunjuk Teknis Penerapan dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Perhubungan Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.

Ada perubahan yang sangat pen ng tentang siapa yang boleh mengoperasikan angkutan umum antara UU

LLAJ yang baru dan lama. Pada UU yang lama seorang warga negara Indonesia mempunyai hak menjalankan kendaraan umum sementara UU yang baru hak perseorangan untuk mengoperasikan angkutan umum sudah dicabut. UU No. 14 tahun 1992 menyatakan bahwa usaha angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia (pasal 41) dan dilakukan berdasarkan izin. Sedangkan UU No 22 Tahun 2009 tentang LLAJ mengamanatkan bahwa pemerintah Kabupaten/Kota wajib menjamin pelayanan angkutan umum perkotaan (pasal 139) dan penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau lembaga berbadan hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Konsekuensi dari UU ini adalah perlunya penggabungan individu individu yang selama ini mengoperasikan angkutan umum untuk membentuk satu badan hukum kalau dak mau kehilangan usahanya. Namun karena PP yang lama belum digan maka masih saja ada individu individu yang memiliki dan mengoperasikan angkutan umum di Jabodetabek tanpa dapat sanksi dari pemerintah. Pemerintah dak bisa melakukan apa apa karena peraturan pelaksanaan UU nya belum ada. PP No. 41 tahun 1993 masih mengacu pada UU No. 14 tahun 1992 tentang LLAJ dan belum direvisi sementara Pemerintah dan DPR RI lebih mendahulukan penyelesaian PP yang lain seper PP tentang Angkutan Mul moda (PP No 8 Tahun 2011), Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta Manajemen Kebutuhan Lalu lintas (PP No 32 Tahun 2011),Forum LLAJ (PP No 37 Tahun 2011), SDM di Bidang Transportasi (PP No 51 Tahun 2011), Kendaraan (PP No 55 Tahun 2012), Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (PP No 80 Tahun 2012), Inves gasi Kecelakaan Transportasi (PP No. 62 Tahun 2013) dan Jaringan LLAJ (PP No. 79 Tahun 2013).

(11)

92

|

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

Penyelenggaraan angkutan umum berbasis rel ditangani oleh the Metropolitan Rapid Transit Authority (MRTA) of Thailand yang dibentuk tahun 1992 di bawah kantor Perdana Menteri Thailand. MRTA ini merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pembangunan Sistem Angkutan Massal Cepat (Mass Rapid Transit System) di Bangkok dan sekitarnya (Greater Bangkok Area). MRTA menentukan jalur pelayanan yang akan dihubungkan oleh angkutan massal cepat mengingat saat itu kemacetan lalu lintas di Bangkok sudah sangat parah sehingga diperlukan jalan keluar dengan pembangunan angkutan massal cepat. Pada tahun 2000 berubah namanya menjadi Mass Rapid Transit Authority of Thailand yang diberi kewenangan untuk mengoperasikan Mass Rapid Transit System di Bangkok dan sekitarnya serta propinsi lainnya. MRTA juga diberi kewenangan untuk menjalankan usaha di bidang MRT dan usaha lain untuk keuntungan masyarakat dan MRTA sendiri. Angkutan umum berbasis jalan rel di Bangkok terdiri Bangkok Mass Transit System (BTS) yang dikenal sebagai Skytrain karena dibangun di atas tanah (elevated), Airport Rail Link (ARL) yang menghubungkan pusat kota dengan bandar udara, serta Metropolitan Rapid Transit (MRT) atau subway yang melayani angkutan massal cepat Kota Metropolitan Bangkok. Selama ini MRTA mendapat subsidi dari pemerintah dan pada tahun 2012 menerima subsidi sebesar 373.514.877,62.

Sistem tarif yang dikenakan MRTA berdasarkan jumlah stasiun yang dilalui dan umur penumpang yang dikategorikan sebagai lanjut usia, anak anak dan dewasa. Misalnya untuk jalur Chaloem Ratchamongkhon tarif satu, dua, ga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas dan 12-17 stasiun yang dibedakan tarifnya berdasar kan cara pembayarannya apakah pakai Card atau token tunggal perjalanan. Pelajar mendapat perlakuan khusus lebih murah dari orang dewasa meski tetap lebih mahal dari anak anak dan orang lanjut usia. Untuk orang lanjut usia dan anak anak serta pelajar mendapat potongan harga. Waktu operasi Chaloem Ratchamongkhon Line mulai jam 06.00 am sampai tengah malam (jam 12.00 malam) dengan interval 5 menit untuk jam jam sibuk (jam 06.00-09.00 am dan 04.30-07.00 pm). MRTA juga menawarkan kartu satu hari pass, ga hari pass dan 30 hari pass. Untuk satu hari (one day pass) dengan tak terbatas perjalanannya dalam satu hari tersebut. Demikian juga ga hari (three

day pass) dan ga puluh hari (thirty day pass) untuk tak terbatas perjalanannya selama masing masing ga dan ga puluh hari berturut turut.

OC Transpo - Canada, BSRCC dan MTA di Seoul Korea Selatan, BMTA dan MRTA Bangkok-Thailandtelah membuat jadwal dan waktu operasi, menyebarkan informasi, menyediakan fasilitas untuk orang berkebutuhan khusus, menetapkan kebijakan harga dan cara pembayaran dengan berbagai kemudahannya. Dengan demikian kualitas pelayanan angkutan umum yang diukur berdasarkan keandalan, kemudahan, keselamatan, keamanan, informasi, konek vitas, keterjangkauan dan ramah lingkungan bisa dinlai. Ar nya tujuan pelayanan angkutan umum perkotaan di O awa, Seoul, dan Bangkok bisa dinilai apakah berhasil dicapai atau dak.

Kondisi Pelayanan Angkutan Umum

Perkotaan di Indonesia : Kasus Jakarta

Kasus kecelakaan yang melibatkan dua bus Kopaja (angkutan umum) dan satu truk di Jalan Jembatan Gantung, Cengkareng, Jakarta Barat 6 dan kecelakaan

Metro Mini T 42 yang menabrak ga siswi SMP di Jalan Raya Pemuda, Pulogadung 7 menunjukkan ngkat keselamatan

penumpang angkutan umum perkotaan kurang terjamin. Mereka kejar kejaran dalam rangka mendapatkan penghasilan di atas jumlah setoran yang harus diberikan kepada pemilik kendaraan. Hal ini mengingat pengusaha angkutan umum masih menerapkan sistem setoran dan mereka juga belum menerapkan me table pelayanan angkutan umumnya.

Kasus tewasnya Saifudin sopir Kopaja 608 di depan kantor PT Medco di Jalan Ampera, Jakarta Selatan 8

merupakan suatu indikasi juga bahwa perusahaan atau koperasi belum secara baik mengelola angkutan umum untuk melayani masyarakat. Kendaraan Kopaja disewakan untuk mengangkut pendukung satu pihak yang punya kepen ngan dalam persidangan yang bersangkutan (kasus Blowish) dan mengabaikan pelayanan angkutan umum. Tentunya penghasilan menyewakan lebih besar dari penghasilan kalau menggunakan kendaraan tersebut untuk menjalani trayek seper biasanya.

Kasus ndakan pelecehan seksual, perampokan bahkan pembunuhan di angkutan umum terjadi di luar jalur trayek

EDISI 02 • TAHUN XX • SEPTEMBER 2014

|

9

industri juga untuk sektor transportasi dan rumah tangga.

. Memperluas akses (jangkauan pelayanan) energi kepada masyarakat di pulau-pulau kecil, pulau terluar dan wilayah perbatasan dengan negara lain.

. Mempercepat pengembangan potensi energi terbarukan, terutama panas bumi (geothermal) dan air (hydro) untuk pembangkitan listrik. Selain itu, terus mendorong pengembangan energi terbarukan lainnya, termasuk bahan bakar naba (BBN) serta

biomass.

BACAAN

BAPPENAS, 2013. Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014. Kementerian PPN, Republik Indonesia. Jakarta, Indonesia. BAPPENAS, 2014. Rancangan Teknokra k Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, Dra . Kementerian PPN, Republik Indonesia. Jakarta, Indonesia.

Carlos Pascual & Jonathan Elkind (editors), 2010. Energy Security : Economics, Poli cs, Strategies, and Implica ons. The Brookings Ins tu on, Washington, DC.

Daniel Yergin, 2008. The Prize : The Epic Quest for Oil, Money & Power. Free Press, New York-Toronto-London-Sydney. Daniel Yergin, 2011. The Quest : Energy, Security, and the Remaking of the Modern World. The Penguin Press, New York. Daron Acemoglu & James Robinson, 2012. Why Na ons Fail : the Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Crown Business, New York.

Hanan Nugroho, 2009. Ques oning our energy security. The Jakarta Post, Juli 27, 2009. Hanan Nugroho, 2011. A Mosaic of Indonesian Energy Policy. IPB Press.

Hanan Nugroho, 2012. Energi dalam Perencanaan Pembangunan. IPB Press.

Hanan Nugroho, 2012. Reserves and security of our energy supply. The Jakarta Post, Jun. 2, 2012.

Hanan Nugroho, 2014. Renewable energy in Indonesia : Present Status and Prospects, dalam “Powering Up : Perspec ves on Indonesia’s Energy Future, A report from the Economist Intellegence Unit”, Jan. 2014.

Hanan Nugroho, 2014. Indonesia : Asia’s growing energy market. The Jakarta Post, Feb. 11, 2014.

Jeff erson W. Tester, Elisabeth M. Drake, Michael J. Driscoll and Michael W. Golay, 2012. Sustainable Energy : Choosing Among Op ons. The MIT Press, Cambridge, Massachuse s.

Joko Widodo & Jusuf Kalla, 2014. Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian. Visi Misi dan Program Aksi Calon Presiden/Wakil Presiden. Jakarta, Indonesia.

Kementerian Energi & Sumberdaya Mineral, 2014. Handbook of Energy & Economy Sta s c of Indonesia 2013. Kementrian Keuangan (beberapa tahun penerbitan). Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Jakarta, Indonesia. Michael S. Hamilton, 2012. Energy Policy Analysis : A Conceptual Framework. M.E. Sharpe Publisher, Armonk, New York. Paul Stevens (Brookings Ins tu on), 2011. The “Shale Gas Revolu on”. Chatam House, London, UK.

PriceWaterhouseCoopers, 2012. Oil and gas in Indonesia : Investment & Taxa on Guide. PWC Indonesia, Jakarta. Indonesia. Republik Indonesia, 2007. Undang-Undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi. Jakarta, Indonesia.

Roy L. Nersesian, 2010. Energy for the 21st Century : A Comprehensive Guide to Conven onal and Alterna ve Souces. M.E. Sharpe Publisher, Armonk, New York.

Tumiran, 2013. Road Map Menuju Kedaulatan Energi. Presentasi dalam Kongres Nasional Kedaulatan Energi untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia. Universitas Gadjah Mada, Desember 2013.

World Energy Forum, 2013. The Global Energy Architecture Performance Index 2014 Report”, Global Economic Forum, December 2013.

. Mendirikan Pusat Konservasi Energi, membantu masyarakat (termasuk industri, transportasi, dan gedung-gedung pemerintah/swasta) melakukan gerakan hemat energi.

. Menaikkan harga BBM dan listrik sehingga mendeka harga keekonomian mereka atau mengurangi subsidinya.

Gambar

Tabel Perbandingan Armada Angkutan Umum dan Kapasitas Tempat Duduk 2007 dan 2012
Tabel Perbandingan Armada Pelayanan Angkutan Umum Dengan Bus Besar 2007 dan 2012
Tabel 1 Potensi Limbah/ Residu Pertanian di Indonesia
Gambar 2. Kerangka Umum Agenda Se�  ng
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peta Jaringan Trayek Angkutan Umum Tahun 2008 5.

Perubahan Pengaturan Arus Angkutan Penumpang Umum Dalam Kota Wonosari.. Dalam prakteknya, operasional trayek angkutan perkotaan dan

Perbedaan tarif angkutan kota (mikrolet) berdasarkan biaya operasi kendaraan antara trayek Terminal Kupang-Penfui dan Trayek Terminal Kupang-Perumnas dipengaruhi oleh

Perbedaan tarif angkutan kota (mikrolet) berdasarkan biaya operasi kendaraan antara trayek Terminal Kupang-Penfui dan Trayek Terminal Kupang-Perumnas dipengaruhi oleh

Perluasan wilayah kota dan penambahan jaringan trayek terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang terus di imbangi dengan bertambahnya jumlah angkutan umum perkotaan sesuai

Perluasan wilayah kota dan penambahan jaringan trayek terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang terus di imbangi dengan bertambahnya jumlah angkutan umum perkotaan sesuai

1. Kebijakan penetapan jaringan trayek angkutan penumpang umum perdesaan dan jenis kendaraan pengangkut kurang berhasil diimplementasikan, dan cenderung tidak diindahkan oleh

Bungas (2002),” Evaluasi Trayek Angkutan Umum Perkotaan di Kota Palangkaraya”, Universitas Gajah Mada Yogyakarta.. Esmega ( 2006),”Analisis Permintaan angkutan Umum