• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAMALI PADA MASYARAKAT KRISTEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PAMALI PADA MASYARAKAT KRISTEN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

i

PAMALI PADA MASYARAKAT KRISTEN

SUATU KAJIAN SOSIO-TEOLOGIS TERHADAP GEREJA KRISTEN SUMBA JEMAAT KABALIDANA CABANG MILLA ATE DI DESA

UMBAROTTOK SUMBA BARAT DAYA

Oleh :

Maria Fransiska Eka Putri Ayu Lede 712015067

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Program Studi : Ilmu Teologi, Fakultas Teologi Guna memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Sains

Teologi

FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan penyertaanNya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Pamali Pada Masyarakat Kristen Suatu Kajian Sosio Teologis Terhadap Gereja Kristen Sumba Jemaat Kabalidana Cabang Milla Ate Di Desa Umbarottok Sumba Barat Daya” mulai dari seminar proposal, riview jurnal dan penyelesaian penulisan TA. Penelitian dan penulisan tugas akhir ini merupakan syarat kelulusan dan guna mendapatkan gelar Sarjana Sains Teologi Program Studi Ilmu Teologi Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana. Berkat bantuan dari beberapa pihak, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak – pihak yang terlibat mulai dari awal menggerjakan tugas akhir hingga penyelesaian tugas akhir, yaitu kepada: 1. Keluarga tercinta, terkhususnya kedua orang tua, Samuel Ngongo Lede dan Theresiana Bulu, yang selalu memberi dukungan doa, kasih sayang, motivasi, semangat dan materi kepada penulis selama proses perkuliahan hingga menyelesaikan pendidikan. Kepada adik-adik tersayang, Fanti Lede, Jimmi Ate, si kembar adit dan aril, dan semua keluarga besar yang juga selalu memberikan dukungan baik itu moral dan moril sehingga dapat menyelesaikan pendidikan.

Seluruh angkatan, dosen, pegawai dan staff tata usaha serta cleaning servise Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana atas seluruh pelayanan, kerja sama, dan dukungan bagi kami, khususnya penulis selaku mahasiswi Fakultas Teologi.

2. Pdt. Dr. Rama Tulus Pilakoannu dan Dr. David Samiyono selaku dosen pembimbing yang selalu sabar dan penuh ketulusan serta tanggung jawab untuk membimbing, menuntun, dan mengarahkan, serta memberikan semangat dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

3. Pdt. Prasetyawan Koesworo selaku supervisor lapangan PPL I – VIII, dan mama Pdt. Sofiani Talo, selaku supervisor lapangan PPL X atas seluruh dukungan dan bimbingan selama penulis melakukan proses PPL, tidak hanya sebagai upaya memenuhi tuntutan pendidikan, tetapi juga sebagai

(7)

vii

sumber pengalaman dan pengetahuan lapangan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

4. Seluruh majelis dan jemaat GKS Kenduwela yang menjadi tempat bagi penulis mendapatkan berbagai pembelajaran serta pengalaman untuk menjadi seorang pendeta yang dapat melayani dengan baik.

5. Angkatan 2015 tersayang yang tidak pernah memiliki rasa malu ketika bersama, selalu solid dalam keadaan apapun meskipun sudah sibuk dengan berbagai urusan masing-masing namun tetap meluangkan waktu untuk dapat bercerita bersama terutama dalam mengisi hari-hari penulis sampai dapat menyelesaikan Pendidikan dengan baik.

6. Bacot Family atau yang biasa disebut Salah Fakultas yang masih mau menjadi keluarga sampai penulis mengakhiri studi di UKSW. Ada banyak suka dan duka serta berbagai masalah yang dilalui bersama tidak membuat bacot family terpisah namun semakin memperkuat kekeluargaan. Untuk Agi Manafe, Angel Dima, Inger Manimoy, Lena Bani, Vian silahoij, Desi Thene, Filda Lakumani, Rano Ginting, Maron Burupau, terimakasih masih mau berteman sampai saat ini dan untuk selamanya. KALIAN TERBAIK. 7. Saudara terkasih Veronika Maria Goreti Ghunu, Yustina Albertha Bela, Yunifa Manu Milla serta setiap orang yang sudah seperti saudara namun tidak bisa disebutkan tetapi akan selalu hadir dalam setiap untaian doa. Kalian dihadirkan Tuhan untuk melengkapi hidup penulis, mungkin tanpa dukungan doa, motivasi, canda-tawa, serta berbagai bahan gosip yang kita biacarakan penulis tidak akan bisa sampai ke tahap ini. KALIAN LUARBIASA.

8. Monica keju dan andreas yang senantiasa setia menemani penulis dalam keadaan apapun dan meskipun dalam kesibukan selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Penulis sangat bersyukur kita dapat bertemu dalam perbedaan di IICF penulis tidak menyangka sampai saat ini kita masih berteman dengan baik, saling berbagi sukacita melalui canda tawa, gibahan tentang orang lain, maupun materi dewasa hehe. Jangan pernah melupakan, dan jangan pernah berhenti merindu memang sedih

(8)

viii

ketika nantinya akan berpisah tetapi setidaknya ada kenangan yang pernah kita ukir, Luv yaaaaa.

9. Keluarga PERWASUS terkhususnya angkatan 15 yang senantiasa menghiasi kehidupan penulis selama berada di UKSW, kos Candy Ladies tercinta yang mau menerima penulis untuk menjadi keluarga dalam satu atap meskipun berbagai masalah terus menghampiri tetapi kita masih tetap bersama hingga penulis menyelesaikan studi.

10.Segala warung makan di wilayah kemiri terkhususnya warung makan bu Tuntun yang menjual makanan dengan harga anak kos sehingga daging babi, daging ayam, gorengan serta sayuran dapat dinikmati dalam satu piring. Untuk warung sayur bude penulis sangat mengucapkan terimakasih untuk bahan makanan dengan harga terjangkau tanpa harus berbelanja ke pasar raya. Makanan yang dinikmati oleh penulis sangat membantu penulis dengan perut yang selalu terisi penuh sehingga membuat penulis semangat dalam mengerjakan Tugas Akhir.

Semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Penulis memohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisan naskah Tugas Akhir ini. Terimakasih

Salatiga, 10 Agustus 2019

(9)

ix

MOTTO

I can do all things through Christ which

strengtheneth me

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMA JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN AKSES ... iv

PERNYATAAN BEBAS ROYALITI DAN PUBLIKASI ... v

KATA PENGANTAR ... vi-viii MOTTO ... ix DAFTAR ISI ... x ABSTRAK ... xi 1. PENDAHULUAN ... ... 1 1.1. Latar belakang ... 1 1.2. Metode penelitian ... 6 2. LANDASAN TEORI ... 8 2.1. Kebudayaan ... 9 2.2. Tabu... 11 3. HASIL PENELITIAN ... 15

3.1. Gambaran umum lokasi penelitian ... 15

3.2.Situasi geografis kecamatan wejewa barat desa waimangura ... 17

3.3.Keadaan Demografis ... 18 3.4. Kondisi Perekonomian ... 18 3.5.Sistem Kekerabatan ... 19 3.6.Keagamaan ... 20 3.7.Pamali ... 21 4. ANALISA ... 26

4.1.Pamali dalam Sosiologi ... 26

4.2.Analisis Teologi ... 29

5. PENUTUP ... 31

5.1. Kesimpulan ... 31

5.2. Saran ... 32

(11)

xi

ABSTRAK

Agama menjadi suatu aspek penting dalam kehidupan manusia dan agama juga sebagai sebuah pedoman dalam menjalani kehidupan. Namun tidak semua memiliki keyakinan terhadap agama. Salah satunya kepercayaan terhadap arwah para leluhur yang diyakini pada sebuah tempat maupun benda disebut Pamali dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukan komunikasi yang disebut ketua adat. Agama juga berkaitan dengan kebudayaan yang dimana kebudayaan adalah hal yang berhubungan dengan akal dan budi manusia terhadap sesuatu. Dua komponen antara agama dan kebudayaan akan memunculkan yang disebut tabu. Tabu adalah hal yang dipahami sebagai sesuatu yang terlarang. Penulis melihat sesuatu hal menarik ketika ada orang Kristen yang juga berpartisipasi dalam upacara adat dan masih mempercayai Pamali. Terkadang Pamali dihubungkan dengan berbagai cerita mitos yang dipercayai masyarakat setempat sehingga tujuan dari penulisan ingin melihat pemahaman terhadap Pamali serta alasan-alasan dasar yang membuat orang Kristen masih mempercayai Pamali. Penelitian akan dilakukan di Desa Umbarottok terkhususnya pada Jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Kabalidana cabang Milla Ate dengan metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan melaui observasi serta wawancara. Rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penulisan ialah apa dan mengapa orang Kristen masih melakukan dan menaati Pamali. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pamali sebagaimana diartikan sebagai aturan yang dipercayai dapat membawa kedamaian jika ditaati dan membawa malapetaka jika dilanggar. Hal tersebut terjadi di Gereja Kristen Sumba (GKS) Kabalidana cabang Milla Ate yang masyarakatnya mempercayai perihal Marapu. Karena hal tersebut sebagai bentuk kebudayaan masyarakat setempat dan hal yang tabu bagi jemaat. Dalam penelitian ini ditemukan adanya bentuk-bentuk Pamali seperti tidak boleh meludah atau mengeluarkan kata kasar didalam rumah adat karena rumah adalah kebanggaan para leluhur, oleh karena itu kedisiplinan dan sopan santun diterapkan dalam rumah adat.

Kata kunci : Pamali, masyarakat kristen, kebudayaan, gereja kristen sumba (gks) jemaat kabalidana cabang milla ate.

(12)

1

PENDAHULUAN Latar Belakang

Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang adalah hasil dari pemekaran Kabupaten Sumba Barat pada UU No 16 tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Sumba Barat Daya dalam Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4692) sehingga menjadi salah satu Kabupaten dari 21 Kabupaten/ kota Madya di Provinsi Nusa Tenggara Timur1. Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu Kabupaten yang berada di pulau Sumba dengan jumlah penduduk masyarakat Sumba Barat Daya pada tahun 2015 mencapai 300 jiwa2 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumba Barat Daya dengan ibukota yaitu Tambolaka. Bentuk perekonomian yang merupakan penopang hidup masyarakat Sumba Barat Daya yaitu berbisnis, bertani, buruh batu persegi, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pekerja kantoran dan berwirausaha tetapi tidak dapat di sangkal bahwa kemiskinan merajalela di kabupaten ini. Harga yang berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2010-2016 kisarannya mencapai 300 juta dengan penggunaan produk domestik3. Letak geografis Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu 9º,18 – 10º,20 LS (Lintang Selatan) dan 118º,55 – 120º,23 BT (Bujur Timur)4. Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki luas wilayah 1.445,77 Km2. Wilayah ini sudah termasuk di dalam kecamatan, kelurahan, dan desa. Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki 8 kecamatan yang terbagi dalam beberapa desa dan kelurahan yang berjumlah 94 desa dan 2 kelurahan yang tiap desa sudah memiliki pemimpin yang mengatur wilayahnya sehingga dapat mengatur berbagai pendataan. Jika melihat kembali asal-usul orang Sumba sendiri yang merupakan kaum imigran yang datang ke pulau Sumba melalui Tanjung Sasar dan muara Sungai Pandawai5yang saat itu mulai menyebar ke seluruh penjuru pulau Sumba. Perlu di ketahui Kabupaten Sumba

1 https://sbdkab.go.id./lama/index.php/selayang-pandang/pemerintah-daerah

2 https://sumbabaratdayakab.bps.go.id/ 3https://sumbabaratdayakab.bps.go.id/

4 http://sbdkab.go.id/lama/index.php/selayang-pandang/geografi

5F.D WELLEM, “ INJIL DAN MARAPU”suatu studi Historis-Teologi tentang

(13)

2

Barat Daya memilki batas-batas wilayah yang memisahkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Batas-batas wilayah Sumba Barat Daya berikut6 :

1. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanahrighu, Kecamatan Loli dan Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

3. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumba.

4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Samudera Hindia.

Desa yang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki ceritanya masing-masing. Berbicara tentang Kabupaten Sumba Barat Daya tidak terlepas dari berbagai bentuk adat-istiadat yang menjadi sebuah kemelakatan dalam diri masyarakat setempat karena adat-istiadat itu sendiri berhubungan langsung dengan tingkah laku kehidupan mereka. Kembali pada desa-desa yang memiliki ceritanya masing-masing di lihat dari nama-nama desa yaitu desa marokot yang memiliki arti kering di karenakan desa tersebut memiliki daratan yang kering atau sumber mata air yang sulit dijangkau lalu desa wannomuttu yaitu kampung yang pernah terbakar7.

Agama menjadi suatu aspek penting dalam daerah ini yang membuat masyarakat memiliki pedoman untuk menjalani kehidupan, melalui agama masyarakat Sumba Barat Daya boleh merasakan kasih Allah terlepas dari pekabaran injil sehingga agama Kristen dapat hadir dalam kabupaten Sumba Barat Daya, namun tidak semua orang meyakini kepercayaan pada agama Kristen namun ada juga yang memiliki keyakinan pada leluhur yang sudah mendahului mereka yaitu Marapu merupakan kepercayaan masyarakat setempat terhadap arwah leluhur8.

Berbicara tentang Marapu terlebih dahulu mari kita melihat pendapat dari para ahli : menurut L. Onvlee berpendapat bahwa kata Marapu terdiri dari dua kata ,

6 http://ditjenpdt.kemendesa.go.id/potensi/district/50-kabupaten-sumba-barat-daya 7 Hasil wawancara via telepon dengan bapak Samuel Ngongo Lede, 15 Juni 2018 8 Hasil wawancara via telepon dengan bapak Samuel Ngongo lede, 15 Juni 2018

(14)

3

yaitu ma dan rapu. Kata ma berarti “yang” sedangkan kata rapu berarti “tersembunyi” itu berarti Marapu yang tersembunyi atau sesuatu yang tersembunyi, yang dapat di lihat9. Selain Onvlee ada Yewangoe yang mempunyai pendapat berbeda yaitu Yewangoe mengatakan bahwa terdapat kemungkinan kata Marapu terdiri dari dua kata, yaitu kata mera dan appu. Mera berarti “serupa” dan appu berarti “nenek moyang” jadi Marapu artinya serupa dengan nenek moyang10. Berangkat dari beberapa pengertian tentang Marapu maka bisa di katakan bahwa Marapu berkenaan dengan kepercayaan yang sudah ada secara turun temurun dan sudah tertanam di dalam perilaku kehidupan masyarakat dan rasa ketaatan untuk menghargai para leluhur yang sudah mendahului mereka.

Ada sebuah kepercayaan dalam Marapu yaitu Pamali merupakan sebuah keyakinan pada tempat maupun benda yang diyakini memiliki penjaga dan memiliki kekuatan sakral dan hanya orang-orang tertentu yang dapat memasuki, menginjakkan kaki maupun memegang benda yang disakralkan sehingga hanya ketua adat (rato adat) yang di berikan kepercayaan. Sebuah kampung yang masih meyakini Pamali ialah kampung bernama Pumawo (artinya: tempat berteduh dari sinar matahari) terletak di desa Waimangura kecamatan Wejewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah tempat yang masih di yakini memiliki penghuni oleh penduduk kampung Pumawo yaitu sebuah pohon yang terletak di belakang rumah, pantangan yang ada ialah tidak boleh berkata kasar dekat pohon kemudian tidak boleh buang air kecil sembarangan dan barang hasil curian tidak boleh melewati pohon. Konsekuensi yang di terima ketika melanggar larangan ialah akan mendapatkan sakit sampai bisa meninggal, tergantung bentuk pelanggaran yang dilakukan. Cara yang dilakukan untuk meminta maaf ialah membawa persembahan semacam ayam maupun babi yang sering digunakan. Ini menandakan bahwa mereka bersedia untuk meminta maaf.

Inilah yang menjadi suatu hal menarik dari Pamali yang menjadi fokus penelitian penulis yaitu orang Kristen yang berpartisipasi di dalam upacara adat dan

9F.D WELLEM, “ INJIL DAN MARAPU”suatu studi Historis-Teologi tentang Perjumpaan Injil dengan Masyarakat Sumba pada Periode 1876-1990. Hal 41

10F.D WELLEM, “ INJIL DAN MARAPU”suatu studi Historis-Teologi tentang Perjumpaan Injil dengan Masyarakat Sumba pada Periode 1876-1990. Hal 41

(15)

4

juga tetap mempercayai Pamali dari melihat simbol, perkataan, maupun berbagai acara adat yang berisi larangan-larangan tetap dilakukan merupakan salah satu penghargaan ataupun kepercayaan yang masih tetap di yakini meskipun sudah menganut suatu agama Nasional. Bukan hanya itu saja berbagai larangan benar-benar di patuhi karena rasa takut pada konsekuensi yang akan di alami. Jadi bukan saja penduduk setempat yang belum menganut agama Marapu percaya akan Pamali tetapi orang Kristen juga mempercayai Pamali.

Terkadang Pamali dihubungkan dengan berbagai cerita mitos yang dipercayai masyarakat setempat. Hal ini membuat pemahaman mereka akan larangan-larangan yang ada semakin kuat dan tetap hidup didalam lingkungan mereka. Mitos yang secara turun-temurun diceritakan membuat mereka meyakini akan larangan-larangan yang ada seperti tidak boleh duduk di depan pintu karena akan menutupi “sesuatu” yang akan masuk ke dalam rumah. Dalam buku ”Strategi Kebudayaan” oleh Peursesn dikatakan bahwa mitos merupakan suatu pedoman hidup ke depan, itu berarti bahwa segala sesuatu yang di percaya merupakan suatu yang sudah terjadi di masa lampau dan menjadi sebuah tolak ukur dalam menghadapi masa depan yang berhubungan dengan perilaku dan cara hidup. Tentang kebudayaan lebih di tegaskan lagi oleh Peursen “kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia, seperti misalnya cara ia menghayati kematian dan membuat upacara-upacara untuk menyambut peristiwa itu, demikian juga mengenai kelahiran, seksualitas, cara mengolah makanan, pertanian dll11. Jika melihat kebudayaan di Kabupaten Sumba Barat Daya segala sesuatu kegiatan yang di lakukan baik pekerjaan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari tidak terlepas antara hubungan dengan kebudayaan maupun lingkungan, ketika ingin membangun rumah mereka harus mengadakan acara adat, hal ini juga merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur, Peursen menekankan pada perilaku manusia yang setiap saat dapat berubah-ubah maka dari itu di harapkan kebudayaan manusia dapat mengalami berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan zaman karena berkenaan dengan kebudayaan yang dibentuk oleh manusia di terima, di ubah maupun menolaknya.

11Prof. Dr. C. A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan, (Yogyakarta :BPK Gunung Mulia, 1976), cetakan pertama, hal. 10-11.

(16)

5

Sama halnya dengan buku “Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan” oleh Dr. Hans J. Daeng yang menekankan tentang hubungan antara manusia dan lingkungan tempat kebudayaan berkembang. Bahwa segala bentuk upacara adat yang di lakukan tidak dapat terlepas kaitannya dengan alam. Dalam buku Hans Daeng di katakan bahwa “ kelompok etnik Jawa menyebut petungan dalam peruntungan hari-hari baik dan nahas seseorang, kelompok-kelompok etnik lainnya di Nusa Tenggara Timur misalnya menemukan saat baik dan hari baik setelah berkonsultasi pada letak urat di hati ayam atau hati babi”12. Di Kabupaten Sumba

Barat Daya digunakan simbol-simbol dalam berbagai ritual adat untuk melakukan komunikasi atau melambangkan suatu hal gaib, contohnya seperti darah ayam atau isi dalam ayam yaitu tali perut ketika ingin mengetahui hari baik untuk melakukan suatu acara besar dan biasanya di lakukan oleh rato adat (ketua adat). Dalam buku “Totem dan Tabu” oleh Sigmund Freud ada pembahasan tentang totem itu sendiri, yang berarti Totem terutama adalah nenek moyang atau leluhur dari suku juga roh penjaga atau roh pelindung mereka13. Manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan

diri atau meninggalkan kebudayaan mereka, karena bukan sesuatu yang salah melainkan karena manusialah yang menciptakan kebudayaan itu sendiri, rasa takut untuk meninggalkan kepercayaan mistis menyebabkan mereka memiliki pemahaman yang sudah tertanam sejak turun-temurun sehingga mendarah daging didalam diri.

Judul tugas akhir saya adalah “ Pamali pada Masyarakat Kristen suatu kajian Sosio-Teologis terhadap Gereja Kristen Sumba Jemaat Kabalidana cabang Milla Ate di Desa Umbarottok Sumba Barat Daya” sehingga tujuan saya menulis judul tersebut berangkat dari pemahaman masyarakat tentang Pamali yang tentunya orang Kristen juga menjadi pelaku didalamnya, pemikiran-pemikiran ini tentunya menjadi hal penting yang perlu kembali dilihat oleh Gereja bahwa pemahaman yang telah ada sejak dahulu menjadi suatu pembelajaran bagi Gereja bahwa hal-hal ini hadir dan hidup serta bertumbuh bersama dengan Gereja. Mungkin saja ketika orang Kristen yang sebelumnya penganut kepercayaan Marapu belum melepaskan

12Dr Hans J. Daeng Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan dari Tinjauan Antropologis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), cetakan III, hal. 6

13Sigmund Freud, Totem dan Tabu, (Yogyakarta : CV Solusi Distribusi, 2017), cetakan pertama, hal. 10

(17)

6

kebiasaan yang pernah dilakukannya. Dari tulisan ini saya bermaksud memberikan kontribusi terhadap Gereja tentang hubungan orang Kristen dan Pamali sehingga dapat menjadi tolak ukur dalam menyelesaikan masalah.

Berdasarkan latarbelakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah yang diangkat oleh penulis sebagai penelitian adalah apa dan mengapa orang Kristen masih melakukan dan menaati Pamali? Ditinjau dari pendekatan sosio-teologis. Tujuan penelitian ini ialah ingin mengkaji tentang alasan-alasan orang Kristen masih melakukan dan menaati Pamali.

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dipaparkan maka harapan dari penelitian ini di bagi menjadi 2 bagian:

 Secara teoritis: dapat memberikan kontribusi serta sumbangsih kepada Gereja dalam kesadaran bahwa Pamali tidak selamanya terlepas dari hubungan dengan orang Kristen dan hal inilah yang perlu kembali menjadi pertimbangan Gereja.

 Secara praktis: dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan bagi Gereja dalam mencari informasi bagi penelitian yang lebih lanjut.

Metode Penelitian

Sifat Penelitian yang akan di gunakan di dalam penelitian ini ialah penelitian secara kualitatif bertitik tolak pada dari paradigma fnomologis yang objektivitasnya dibangun atas rumusan tentang situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok sosial tertentu dan relevan denga tujuan dari penelitian itu14. Penelitian kualitatif ini dilakukan pada sebuah latar alamiah atau juga pada sebuah konteks keutuhan (entity)15. Paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan tekhnik kualitatif16.

Jenis penelitian yang akan digunakan didalam penelitian ini ialah secara deskriptif. Data yang akan di kumpulkan berupa kata-kata, gambar yang

14 Lexi J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989) hal v (dalam kata sambutan)

15 Lexi J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif…hal 4 16 Lexi J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif…hal 16

(18)

7

berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah di teliti dan juga data tersebut mungkin akan berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya17.

Waktu dalam melakukan penelitian ini yaitu pada tahun 2019. Tempat yang di tentukan berdasarkan penelitian yang akan di lakukan yaitu di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maksud penulis memilih lokasi ini karena lebih dapat di jangkau karena ada beberapa wilayah yang belum memiliki jaringan telekomunikasi dan juga ingin memperkenalkan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Subjek penelitian yang akan menjadi narasumber dalam penelitian ini yaitu orang Kristen seperti jemaat, majelis dan guru injil yang masih menaati larangan dalam Pamali tentang kegiatan maupun aktivitas yang dilakukan sehari-hari yang mempunyai hubungan dengan Pamali. Penelitian ini akan dilakukan pada usia 20-85 tahun.

Metode pengumpulan data yang digunakan ialah:

a) Observasi: dalam tahap ini pengamatan akan menggunakan alat bantu sebagai penunjang penelitian yaitu kamera dan video. Observasi yang di lakukan oleh pengamat dengan sasaran benda diam jika ada keraguan pada diri peneliti dan jika sasarannya adalah suatu proses, pengulangan pengamatan hampir tidak mungkin dilakukan kecuali peneliti mempunyai rekaman video atau film yang dapat menunjukkan proses yang di amati18. Kemudian format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang di gambarkan akan terjadi19.

b)Wawancara: wawancara akan di lakukan melalui Tanya jawab dengan narasumber yaitu beberapa jemaat majelis, guru injil, tokoh adat serta beberapa penduduk setempat. Pertanyaan yang di berikan sesuai dengan fokus dan pertanyaan yang tersruktur penelitian dan meminta keterangan

17 Lexi J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif…hal 6

18 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta:Rineka Cipta, 1993),hal. 197 19 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian…hal 234

(19)

8

atau pendapat tentang suatu hal dengan alat bantu rekaman suara, video atau gambar pada saat wawancara berlangsung20.

Penulis menjabarkan sistematika penulisan ke dalam lima bagian. Bagian pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bagian kedua, akan membahas tentang teori sosio-teologis yang di gunakan. Bagian ketiga akan membahas hasil penelitian dari data di lapangan yang telah dikumpulkan yaitu kegiatan orang Kristen yang berhubungan dengan Pamali. Bagian keempat akan berisi tentang analisa dari data lapangan. Bagian kelima yaitu penutup yang akan berisi tentang kesimpulan serta saran-saran yang akan menjadi kontribusi bagi penelitian mendatang.

LANDASAN TEORI

Berdasarkan latar belakang, penulis menggunakan landasan teori kebudayaan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat yang dimana kebudayaan merupakan hasil karya manusia itu sendiri dan kemudian menjadi suatu identitas masyarakat. Kebudayaan dipahami penulis sebagai suatu kebiasaan yang terbentuk dalam lingkungan masyarakat dan melekat didalam kehidupan sehari-hari. Suatu kelompok masyarakat dapat dikenal melalui kebudayaan mereka, dimulai dari cara berbicara, tingkah laku, adat istiadat.

Dalam kebudayaan ada sesuatu hal yang dianggap tabu seperti, suatu wilayah, tempat dan benda. Tabu dipahami penulis sebagai sebuah keyakinan terhadap hal yang suci maupun kotor. Tabu hadir didalam masyarakat karena disebabkan aturan-aturan yang berasal dari kebudayaan. Seiring berjalannya waktu, meskipun perkembangan teknologi terus maju hal yang dianggap tabu masih tetap diyakini keberadaannya.

Berdasarkan beberapa pemahaman inilah penulis menggunakan teori kebudayaan dan tabu karena teori ini berkaitan dengan pamali. Pamali bukan menjadi hal tabu menurut masyarakat yang tidak meyakini namun pamali dapat

20 Michael H. Walizer, Aruef Sadiman, Paul L. Wienir, Metode dan Analisis Penelitian

(20)

9

menjadi hal yang tabu bagi masyarakat yang meyakini. Pamali merupakan pemahaman tentang suatu larangan yang dipercayai sejak zaman para leluhur, pamali hadir melalui kebudayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa ada semacam daya kekuatan yang bersumber dari roh nenek moyang. Seperti larangan meminta garam di malam hari, perempuan yang dilarang duduk di depan pintu, kubur yang tidak boleh disentuh, dan berbagai larangan lainnya. Beberapa larangan tersebut sudah diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat, inilah yang menjadi suatu ciri khas dalam teori kebudayaan yang didalamnya hadir keyakinan tentang hal yang tabu.

Kebudayaan

Secara etimologis, kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang artinya akal atau budi21. Meskipun akar kata kebudayaan berbeda-beda namun dapat dikatakan kebudayaan berkenaan dengan budi atau akal. Definisi klasik yang dikemukakan oleh Tylor yang adalah seorang antropolog terkemuka mengatakan dalam bukunya yang terkenal berjudul primitive culture tentang kebudayaan adalah sesuatu yang kompleks mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat22.

Dalam perspektif sosiologi, kebudayaan sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand, adalah segala pandangan hidup yang dipelajari dan diperoleh oleh anggota-anggota masyarakat23. Kebudayaan dibentuk oleh manusia dan kemudian manusialah yang akan mengoreksi maupun merubahnya sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Linton dalam bukunya tentang the cultural background of personality menyatakan bahwa kebudayaan adalah hasil konfigurasi dari sebuah tingkah laku dan hasil yang unsur-unsur pembentuknya didukung kemudian

21 Dr.H. Sulasman, M. Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

hingga Aplikasi ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2013) Cetakan 1, hal. 17

22 Dr.H. Sulasman, M. Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

hingga Aplikasi, hal 18

23 Dr.H. Sulasman, M. Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

(21)

10

diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu24. Kebudayaan hadir ditengah-tengah masyarakat sebagai sebuah hasil pembentukan yang disepakati antara anggota masyarakat secara turun-temurun. Ki Hajar dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai “buah budi manusia, yaitu hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yaitu zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai25.

Kata kebudayaan berarti culture, culture sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ‘colere’ yang memiliki arti bercocok tanam. ‘culture’ dapat dimaknai sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam26. Jika melihat konsep kebudayaan itu sendiri memiliki dua sisi. Pertama, konsep kebudayaan yang bersifat materialistis yang berarti kebudayaan sebagai sistem hasil adaptasi di lingkungan alam atau sistem untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Kajian ini lebih ditekankan pada pandangan positivisme atau metodologi dalam ilmu pengetahuan alam. Kedua, konsep kebudayaan yang bersifat idealistis yang memandang semua fenomena eksternal sebagai manifestasi suatu sistem internal27. Kajian ini lebih ditekankan pada pendekatan fenomenologi. Konsep kebudayaan yang digunakan dalam tulisan ini adalah sebagaimana yang dikemukakan ole Cliffort Geertz menganggap kebudayan sebagai jaringan-jarigan itu, dan analisis atasnya lantas tidak merupakan sebuah ilmu eksperimental untuk mencari hukum melainkan sebuah ilmu yang bersifat interpretatif untuk mencari makna28. Manusia membayangkan dalam kehidupannya bahwa ada semacam kekuatan-kekuatan serta berbagai tujuan yang hadir dari dirinya sendiri. Namun disisi lain dalam buku Peursen tentang strategi kebudayaan disitu dijelaskan

24 Dr.H. Sulasman, M. Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

hingga Aplikasi, hal 18

25 Dr.H. Sulasman, M.Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

hingga Aplikasi, hal 19

26Dr.H. Sulasman, M.Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori hingga

Aplikasi, hal 21

27 Dr.H. Sulasman, M.Hum dan Setia Gumilar, M. Si, Teori-teori kebudayaan dari Teori

hingga Aplikasi, hal 35

(22)

11

bahwa zaman sekarang kebudayaan dapat diartikan sebagai sebuah manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang29. Kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia dimulai dari upacara kematian, seksualitas, cara mendapatkan makanan, membuat alat-alat maupun berbagai kegiatan lainnya hingga kepercayaan kepada hal mitos dan berujung kepada hal-hal yang masih dianggap tabu.

Tabu

Menurut ensiklopedia Nasional Indonesia tabu diartikan sebagai sebuah tindakan, objek atau perilaku yang dilarang dan dihambat, sebuai tindakan penghambat, istilah ini diambil dari Bahasa polinesia sesuatu yang sakral, pantang dilanggar, dan aslinya berkaitan dengan objek-objek yang disisihkan bagi praktik-praktik dan kebiasaan-kebiasaan religius, dan larangan bagi khalayak untuk satu dua hal. Penggunaan kontemporer terhadap istilah ini jauh lebih luas hingga mencakup ke dunia politik, perniagaan, seni, dsb30. Sesuatu yang terlarang terhadap suatu benda maupun tempat yang diyakini oleh masyarakat yang ada secara turun-temurun. Benar atau tidak, secara ilmiah tabu sering dimaksudkan untuk melindungi manusia, tetapi ada banyak alasan lain tentang keberadaan tabu yang dinyatakan namun tidak masuk akal secara logika manusia tetapi, kembali lagi kepada kepercayaan terhadap tabu yang sudah di yakini sejak dulu. Dalam buku Freud tentang “Totem dan Taboo”, dikatakan bahwa tabu merupakan sesuatu yang mencabang ke dua arah yang berlawanan. Di satu sisi ia berarti kudus, suci; tetapi di sisi lain, ia berarti aneh, berbahasa, terlarang dan kotor31. Dalam tabu terkandung konsep menjaga; tabu dapat terekspresikan dalam pelarangan dan sebuah pembatasan32. Tabu merupakan sesuatu yang dianggap suci, ada sebuah pelarangan tidak dapat disentuh, tidak sembarangan diucapkan, sebuah larangan atau pantangan. Tabu dianggap sebagai sumber daya roh yang terkandung dalam diri orang atau roh.

29 Prof. Dr. C. A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan,(Yogyakrta : BPK Gunung Mulia, 1976) cetakan pertama, hal. 10

30 Ensiklopedia Nasional

31 Sigmund Freud, Totem dan Tabu, (Yogyakarta: Immortal Publishing dan Octopus, 2017) cetakan 1, hal. 34

(23)

12

Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita dapati ada sebuah kehidupan yang berada di dua wilayah yang terpisah; wilayah Yang sakral dan wilayah Yang Profan. Yang Profan merupakan sebuah bidang kehidupan yang didalamnya ada berbagai macam kegiatan yang bisa dikatakan tidak terlalu penting untuk dilakukan, terkadang dilakukan secara teratur dan acak. Kemudian yang Sakral adalah suatu hal yang bersifat abadi, sangat penting, dari masa ke masa secara turun-temurun selalu diingat dan tak mudah dilupakan, suatu wilayah yang supranatural, sesuatu yang ekstraordinasi. Jika dilihat Yang Profan adalah sesuatu yang cepat dilupakan, tidak teramat penting dilakukan maka berbeda dengan Yang Sakral adalah sesuatu yang abadi, penuh subtansi dan realitas. Yang Profan merupakan dunia bagi manusia untuk berbuat berbagai kesalahan dan selalu mengalami perubahan. Yang Sakral adalah tempat berdiamnya roh para leluhur dan juga tempat terciptanya segala keteraturan dan berbagai kesempurnaan33.

Bagi masyarakat primitif sendiri meyakini bahwa ada sebuah kekuatan berasal dari Yang Sakral tersebut. Mereka meyakini bahwa ada semacam kekuatan yang luar biasa yang mengatur kehidupan mereka sehingga dari keyakinan inilah Yang Sakral itu dianggap sama dengan realitas34. Dari hal inilah agama memiliki sebuah tugas bagaimana agar dapat memahami sesuatu Yang Sakral tersebut untuk dapat memahami dan benar-benar merasakan dan kemudian dapat memberikan pemahaman secara baik agar seseorang dapat keluar dalam artian memahami situasi sejarahnya yang dapat ditempatkan sesuai dengan keadaan masa kini. Meskipun seperti itu tidak dipungkiri juga bahwa Yang Sakral tetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pikiran dan aktivitas manusia yang dimaknai dalam berbagi segi kehidupan sehingga manusia tidak dapat hidup tanpanya, hal ini dibuktikan melalui keberadaan manusia yang melihat bahwa Yang Sakral berada di segala penjuru. Berbagai riset-riset yang dikumpulkan mengenai totemisme ini berhasil menemukan petunjuk yang sangat luarbiasa berharga, yaitu tidak ada satupun agama lain yang dianut oleh masyarakat Aborigin selain totemisme. Tidak ada satupun para ahli yang berhasil mengungkap apa sebenarnya makna totemisme.

33 Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2011) edisi baru 2011, hal. 233-234.

34 Adeng Muchtar Ghazali, Antropologi Agama, (Bandung: Alfabeta, 2011) cetakan pertama, hal. 26-27

(24)

13

Mereka mengambarkan bahwa masyarakat tribal itu dibagi dalam beberapa klanyang dimana tiap klan memiliki binatang masing-masing sebagai kepercayaan mereka35. Paling penting bahwa mereka menganggap binatang tersebut sebagai sesuatu yang Sakral. Lambang atau simbol-simbol binatang totem tersebut bagi masyarakat merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi setiap klan yang memujanya. Karena binatang yang disembah bukan saja bagian dari Yang Sakral melainkan sebuah perwujudan dan contoh yang sempurna dari Yang Sakral36.

Masyarakat primitif memandang sakral terhadap sesuatu yang dapat menimbulkan manfaat, kebaikan, dan bencana. Jika dilihat dan mengamati benda-benda itu secara lahiriah dapat dikaitkan tidak jauh berbeda dengan benda-benda-benda-benda lain yang dikenal sehari-hari, tetapi benda-benda tersebut dapat dilihat sebagai sesuatu yang berharga dan penting dikarenakan sikap manusia itu sendirilah yang menyebabkan benda itu menjadi sakral. Namun tidak semua hal dianggap suci, berkaitan dengan berbagai hal yang dapat mencemari sesuatu yang sakral itu. Sehingga berbagai hal tersebut dipagari agar tidak tercemar dengan menggunakan berbagai larangan-larangan atau yang disebut dengan tabu yaitu ada benda yang tidak boleh disentuh, dimakan atau didekati. Itulah sebabnya muncul berbagai kegiatan untuk menjaga kelestarian suatu yang sakral itu37.

Kehidupan masyarakat primitif tidaklah jauh dari sesuatu hal yang berbau magis. Mulai dari pekerjaan, usaha, maupun kebiasaan-kebiasaan hingga peralatan yang digunakan tidak pernah terlepas dari yang namanya magis. Hal ini disebabkan perbuatan mereka selalu dihubungkan dengan kekuatan-kekuatan yang ada di alam gaib. Masyarakat primitif kurang menggunakan kemampuan rasionya, namun lebih menguntungkan pada hal-hal magis38. Berbicara tentang tabu tentunya berkenaan dengan tingkah laku manusia itu sendiri. Dalam buku Peursen yang berjudul Strategi Kebudayaan disitu dikatakan sesuatu tentang mitos yang berarti cerita yang di jadikan sebagai pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Mitos

35 Sigmund Freud, Totem dan Tabu, hal. 9

36 Adeng Muchtar Ghazali, Antropologi Agama, (Bandung: Alfabeta, 2011) cetakan pertama, hal. 26-27

37 Adeng Muchtar Ghazali, Antropologi Agama, (Bandung: Alfabeta, 2011) cetakan pertama, hal. 26-27.

(25)

14

dapat mengatasi makna cerita, mitos dapat memberikan arah kepada kelakuan manusia, melalui mitos manusia dapat mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitarnya.

Perlu diketahui tentang fungsi dari mitos yaitu pertama: menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib, mitos membantu manusia agar dapat menghayati daya-daya kekuatan yang ada sebagai sesuatu kekuatan yang mempengaruhi dan dapat menguasai alam kehidupan sukunya39. Kedua: mitos berhubungn erat dengan jaminan kehidupan masa kini dan yang ketiga memberikan pengetahuan tentang dunia. Inti sikap hidup mitis ialah bahwa kehidupan ini ada, ajaib, berkuasa, penuh daya kekuatan40. Bersama dengan kesadaran tersebut maka timbullah cerita-cerita yang dianggap dapat menjamin kehidupan manusia.

Ada beberapa jenis tabu yang hadir di dalam lingkungan masyarakat primitive yaitu:41

1. Melindungi orang penting seperti kepala suku dan barang-barang dari marabahaya

2. Menjaga yang lemah seperti perempuan, anak-anak dan orang pada umumnya.

3. Melindungi diri dari bahaya yang muncul akibat merawat atau menyisir rambut mayat maupun diakibatkan karena memakan makanan tertentu. 4. Menjaga peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seperti kelahiran,

perkawinan dan fungsi seksual maupun dari gangguan pihak lain. 5. Mengamankan manusia dari murka atau kuasa dewa-dewa dan roh-roh 6. Mengamankan bayi yang belum lahir dan anak kecil dari berbagai

tindakan-tindakan tertentu.

7. Tabu juga di berlakukan untuk melindungi kekayaan, ladang, alat-alat maupun melindungi milik seseorang dari pencurian.

Ada juga yang disebut dengan Tabu penguasa yang diberikan kepada kepala suku maupun pemimpin, hal ini di buktikan melalui makanan sisa yang tidak

39Prof.Dr.C.A. Van peursen, Strategi Kebudayaan,hal. 38 40Prof. Dr. C.A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan, hal 39-41 41 Sigmund Freud, Totem dan Tabu, hal. 36

(26)

15

boleh dimakan kemudian ketika mengetahui bahwa makanan tersebut adalah makanan sisa yang ditinggalkan kepala suku dan orang-orang akan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran, maka dampak yang akan diterima seperti kejang-kejang hingga mati42.

Selain itu juga ada tabu yang disebut dengan Tabu orang mati yang berda didalam lingkungam masyarakat primitif. Jika seseorang melakukan kontak dengan orang mati maupun mengikuti upacara penguburan maka akan dianggap sebagai sesuatu tindakan yang kotor dan kemudian akan dikucilkan atau diboikot43.

Menurut Geertz manusia merupakan makhluk simbolik, dilihat dari symbol-simbol yang digunakan untuk berkomunikasi44. Ada makna yang terkandung didalam simbol tersebut, Geertz melihat bahwa manusia merupakan makhuk yang memintal jaringan makna itu sendiri dan jaringan makna itulah yang disebut “kebudayaan”. Ada manusia yang berupaya menafsirkan berbagai hal magis dalam kehidupannya, bahwa hal itu terjadi karena ada sesuatu kesalahan di masa lampau yang mengikuti mereka.

Dalam Antropoligi ada suatu pendekatan yang digunakan yaitu hermeneutik. Hermeneutik berkaitan dengan Bahasa dan merupakan kajian yang berasal studi karya sastra atau Bahasa yaitu studi tentang teks45. Pendekatan hermeneutik digunakan sebagai sebuah alat dalam menafsirkan kebudayaan itu sendiri melalui sebuah dokumen dalam suatu karya sastra.

HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Cabang Milla Ate merupakan sebuah lokasi yang menjadi tempat dilakukannya penelitian terhadap Pamali pada orang Kristen. Oleh sebab itu, sebelum membahas tentang Pamali pada orang Kristen maka terlebih dahulu akan membahas tentang lokasi penelitian yaitu Desa Waimangura.

42 Sigmund Freud, Totem dan tabu hal. 67 43 Sigmund Freud, Totem dan Tabu, hal. 80

44 Moh Soehadha, Fakta dan tanda agama suatu Tinjauan Sosio-antropologi

(Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia,2014) cetakan 1, hal. 81

(27)

16

Situasi Geografis Kecamatan Wejewa Barat desa Waimangura

Wilayah suku Wewewa dapat dikatakan sangat besar melebihi luas wilayah dari suku-suku lainnya di Kabupaten Sumba Barat Daya. Selain luas wilayah yang sangat besar dari segi jumlah penduduk terbilang lebih banyak dari pada suku lain dan terbagi dalam berbagai sub-suku (kabizu) dan secara administratif terakomodir dalam empat wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Wewewa Timur dengan ibu kota Elopada, Kecamatan Wewewa Barat dengan ibu kota Waimangura, Kecamatan Wewewa Utara dengan ibu kota Palla serta Kecamatan Wewewa Selatan dengan ibu kota Manola. Secara singkat, deskripsi wilayah Suku Wewewa yang akan dijabarkan adalah wilayah Suku Wewewa barat tempat peneliti melakukan penelitian yaitu wilayah suku Wewewa di Kecamatan Wewewa Barat, Desa Waimangura46.

Dahulu kala ada seorang yang berkuasa di desa Waimangura, yang memimpin pertama kali di desa ini yang bernama Rato Dimu. Rato Dimu ini merupakan tuan tanah pertama yang berada dalam daerah tersebut maka dialah yang diberi kepercayaan untuk menjadi kepala desa pertama kali di desa Waimangura. Nama desa Waimangura ini diambil dari arti mata air yang berada di desa Waimangura yaitu wee artinya air dan ngura artinya tidak pernah habis, jadi dapat dikatakan Waimangura adalah mata air yang tidak pernah habis47. Setelah Rato Dimu meninggal dunia, jabatannya sebagai kepala desa digantikan oleh anaknya sampai dengan anak bungsunya48.

Desa Waimangura merupakan desa induk yang berada dalam wilayah Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penduduk lebih dominan berasal dari suku Wewewa sendiri di samping penduduk lain yang menetap karena alasan tertentu seperti pekerjaan. Adapun desa Waimangura berdekatan dengan desa Langgalete dan Desa Watulabar. Secara keseluruhan desa Waimangura memiliki luas wilayah 11. 700 KM yang sudah tergabung dalam lahan sekolah, kantor desa, pasar, lahan pertanian,

46 repository.unwira.ac.id/3238/3/BAB%20II.pdf

47 Wawancara dengan Bapak Marten Dappa. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 13 Februari 2019. Pukul 12.00 WITA

48 Wawancara dengan bapak Agustinus Gono Ate. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 12 Februari 2019. Pukul 10.00 WITA

(28)

17

rumah penduduk, bangunan- bangunan seperti bank, koperasi, dan lain-lain. Wilayah ini dapat digolongkan sebagai daerah dataran tinggi, dan dikategorikan sebagai daerah dengan tingkat kesuburan yang baik sesuai dengan usaha penduduk49.

Sebelum teknologi dan berbagai fasilitas memadai dengan maksimal, di daerah ini akses jalannya tidak seperti saat ini, namun seiring berjalannya waktu dengan berbagai rencana pembangunan yang dilakukan jalur darat mulai direnovasi dengan timbunan tanah dan juga ada beberapa jalur yang sudah diaspal. Melalui kerja sama dengan beberapa PT (perseroan terbatas) yang ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, hingga saat ini perbaikan akses jalan masih terus dijalankan apalagi ada begitu banyak daerah juga yang masih kesulitan dalam kebutuhan listrik sehingga ketika akses jalan dipermudah maka bantuan listrik pun dapat sampai hingga daerah-daerah terpencil50.

Desa Waimangura merupakan wilayah pangan. Hal ini dibuktikan melalui berbagai macam hasil bumi yang sudah banyak dihasilkan di tempat ini seperti kemiri, kopi, kelapa, sirih, pinang, cengkeh, coklat dan dari hasil perkebunan seperti jagung dan padi.51 Waktu untuk menanam pun hanya dapat dilakukan paling cepat pada bulan Agustus jika musim hujan telah tiba namun jika hujan tiba lebih lambat maka waktu menanam akan dilakukan pada bulan September. Kalau untuk padi ladang, waktu menanam akan dilakukan paling cepat pada bulan Oktober tergantung curah hujan. Dari berbagai hasil bumi yang berada di desa Waimangura, sudah ada beberapa hasil bumi yang sudah sampai ke luar Pulau Sumba seperti kelapa, kemiri yang dijual ke kota Surabaya52. Penduduk asli di Desa Waimangura menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yaitu bahasa Wewewa yang juga disebut Bahasa ibu. Salah satunya adalah suku Weeleo53. Kecuali orang-orang

49 Wawancara dengan Bapak Samuel Ngongo Lede. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 10.00 WITA

50 Wawancara dengan Bapak Yohanes Dappa Moda. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 10.00 WITA

51 Wawancara dengan Bapak Agustinus Gono Ate. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 12 Februari 2019. Pukul 10.00 WITA

52 Wawancara dengan Bapak Darius Dairo Ngongo. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 12 Februari 2019. Pukul 10.00. WITA

53 Wawancara dengan Bapak Marten Dappa. Pnedudk setempat di Desa Umbarottok, 13 Februari 2019. Pukul 12.00 WITA

(29)

18

pendatang yang belum cukup menguasai bahasa daerah maka mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia54.

Keadaan Demografis

Menurut data kantor desa Waimangura pada tahun 2017, penduduk Desa Waimangura memiliki jumlah penduduk sebesar 3595 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 649 jiwa, untuk jumlah penduduk sesuai kelamin : jumlah laki-laki ada 1836 jiwa dan perempuan berjumlah 1759 jiwa. Dalam beberapa waktu ke depan akan ada desa yang mekar terpisah dari desa Waimangura. Pendatang yang ada pada umumnya karena dalam masa tugas sebagai guru, pegawai kantor maupun pedagang dan juga karena adanya kawin mawin55.

Menurut kepala desa Waimangura pertumbuhan penduduk di desa Waimangura dari tahun ke tahun mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik dari pada sebelumnya, pertambahan penduduk terus mengalami peningkatan. Untuk pembangunan di desa Waimangura sudah lebih baik karena dahulu penduduk yang masih memiliki rumah beratapkan alang sekarang sudah diperbaiki menjadi rumah yang beratapkan seng dan tembok batu, rumah-rumah adat yang sudah di renovasi. Berkenaan dengan pendidikan di desa Waimangura sudah ada lulusan sarjana kemudian sudah sudah ada sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Teknik Kejuruan (SMTK), menurut data desa Waimangura jumlah penduduk yang tidak tamat Sekolah Dasar berjumlah 218 jiwa, jumlah yang sudah tamat Sekolah Dasar ada 227 jiwa, yang sudah tamat Sekolah Menegah Umum (SMU) berjumlah 170 jiwa, dan jumlah yang sudah menyelesaikan perguruan tinggi berjumlah 34 jiwa56.

Kondisi Perekonomian

Kondisi perekonomian di desa Waimangura berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat di desa Waimangura melakukan usaha pekerjaan dimulai dari profesi sebagai petani, pedagang, pegawai kantor, pedagang

54 Wawancara dengan bapak Samuel Ngongo lede. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 10.00 WITA

55 Data kantor desa Waimangura dari tahun 2018

56 Wawancara dengan Bapak Yakub Malo selaku kepala Desa di Umbarottok, 28 Februari 2019. Pukul 10.00 WITA

(30)

19

kaki lima, dan pendeta. Masyarakat setempat memanfaatkan potensi alam seperti padi, jagung, kopi, cengkeh, kemiri, umbi-umbian sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Salah satu hasil alam yang sudah di jual sampai ke kota Surabaya yaitu kelapa, cengkeh, dan kemiri57. Pasar yang ada di desa Waimangura adalah pasar mingguan yang di buka pada hari Sabtu tetapi pada hari-hari lain tetap ada pedagang yang menjajakan barang jualan mereka, adapun barang-barang yang di jual seperti kebutuhan sandang dan pangan, selain berjulan di pasar ada juga pedagang yang berjualan di sepanjang emperan toko, adapun barang-barang yang di jual seperti siri pinang, sayur-sayuran, tomat, lombok dan kue-kue58.

Menurut data dari kantor desa Waimangura rata-rata pendapatan penduduk di desa Waimangura pada tahun 2017, sebagai berikut:

Pekerjaan Rata-rata pendapatan perbulan

Petani Rp 1.000.000

Pedagang Rp. 1. 500.000

Pegawai tenaga kontrak 1. Golongan rendah (Rp. 2.000.000) 2. Golongan atas (Rp. 5.000.000- Rp.

6.000.000)

Selain itu juga sudah ada Bank yaitu Bank NTT (Nusa Tenggara Timur) saja kemudian koperasi simpan pinjam yang berada pada lokasi yang mudah dijangkau59.

Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan yang dibangun berpusat pada sistem Wanno Kalada (kampung besar). Sistem ini berorientasi pada kabizu yang artinya suku. Wanno kalada (kampung besar) awalnya di bangun oleh nenek moyang yang tinggal dan menetap dalam umakalada (rumah besar) yang di bangun dalam kampung besar lalu membuka lahan pertanian dan melakukan berbagai pekerjaan penunjang hidup.

57 Wawancara dengan Bapak Marten Dappa. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 13 Februari 2019. Pukul 12.00 WITA

58 Wawancara dengan Bapak Yohanes Dappa Moda. Penduduk setempat di Desa Umbarottok ,7 Januari 2019. Pukul 10.00 WITA

59 Wawancara dengan Bapak Samuel Ngongo Lede. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 10.00 WITA

(31)

20

Tujuan dari hadirnya Wanno Kalada merupakan sebuah bukti sejarah bagi keturunan selanjutnya agar dapat mengingat leluhur mereka. Fungsi dari Wanno Kalada ini adalah sebagai tempat berkumpulnya keluarga besar ketika mengadakan sebuah upacara adat. Seseorang yang telah diberikan kepercayaan untuk menjaga Uma Kalada dipilih dengan mengadakan upacara adat untuk mengetahui siapa yang diberikan kepercayaan60. Uma Kalada adalah penentu keturunan bagi suatu suku dan tiap rumah memiliki suku dan pemimpinnya masing-masing. Ada beberapa acara adat sebagai wadah berkumpulnya berbagai keluarga besar yaitu pesta wolek yang mengharuskan setiap keluarga untuk hadir mengambil bagian dalam acara tersebut dengan membawa persembahan masing-masing, jika ada keluarga yang tidak ikut serta maka akan disebut orang di luar pagar (orang yang tidak tahu kedudukan). Salah satu cara untuk memulihkan hal tersebut dengan mengadakan upacara adat dengan membawa barang sesuai permintaan adat sepeti ayam maupun anak babi. Perbedaan antara kampung besar dan rumah besar ialah jika kampung besar di dalamnya terdiri dari berbagai macam suku berbeda dan rumah besar yang di dalamnya hanya terdiri dari satu suku dengan pemimpinnya61.

Sistem keturunan penduduk di desa Waimangura adalah sistem patrilineal (alur keturunan yang berasal dari pihak ayah). Penduduk menerapkan sistem ini bagi keturunan mereka, marga yang diberikan bagi anak-anak adalah marga yang berasal dari ayah dan juga dalam hal harta warisan maka yang berhak menerima adalah anak laki-laki. Sistem ini didasarkan melalui belis (mahar) yang diberikan oleh laki-laki kepada perempuan sehingga otomatis perempuan harus menurut kepada laki-laki62.

Keagamaan

Masyarakat di Desa Waimangura memiliki 2 agama yaitu Kristen Protestan dan Katholik, juga kepercayaan masyarakat setempat yaitu kepercayaan terhadap Marapu. Kedua agama ini memiliki tempat ibadahnya sendiri. Gereja Kristen

60 Wawancara denganBbapak Yohanes Dappa Moda. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 12 Februari 2019. Pukul 10.00 WITA

61 Wawancara dengan Bapak Darius Dairo Ngongo. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 13 Februari 2019. Pukul 12.00 WITA

62 Wawancara dengan Bapak Samuel Ngongo Lede. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019.Pukul 10.00 WITA

(32)

21

Sumba (GKS) berjumlah 4 dan Katholik berjumlah 1. Untuk jumlah penganut kepercayaan Marapu sudah semakin berkurang karena sudah banyak penduduk yang masuk agama Kristen maupun Katholik63. Meskipun sudah banyak yang masuk ke dalam agama Kristen maupun Katholik namun hubungan dengan Marapu tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Hal ini disebabkan masih ada hutang adat yang belum diselesaikan. Dalam Marapu ada yang disebut dengan janji maupun tanggungan adat jadi meskipun sudah tidak berada dalam kepercayaan terhadap Marapu lagi, tetapi jika masih ada urusan yang belum diselesaikan dalam adat maka ia harus menyelesaikannya hingga tuntas64. Contohnya: anak yang berada di Perguruan Tinggi. Ada orang tua yang berjanji dalam adat bahwa setelah anak mereka lulus kuliah maka akan memberikan babi maupun kerbau sebagai korban persembahan kepada arwah nenek moyang. Selain itu juga penduduk meyakini bahwa mereka hidup dalam lingkup kebudayaan yang merupakan sebuah identitas tentang sejarah nenek moyang mereka65.

Pamali

Pamali merupakan sebuah larangan pada sebuah tempat maupun benda. Pamali dianggap sebagai larangan yang sakral seperti tempat yang tidak boleh ditempati dan dimasuki oleh siapapun dan hanya orang tertentu saja yang diperbolehkan seperti tokoh-tokoh adat yang boleh memasuki tempat tersebut66. Pamali adalah suatu tanda yang diberikan leluhur yang kemudian dijadikan sebuah kepercayaan yang sakral. Ada banyak bentuk pamali yang sering terjadi yaitu :

a) Larangan memasuki atau menyentuh sebuah batu kubur nenek moyang, Hal seperti ini sering terjadi di berbagai desa di daerah Wejewa ada beberapa batu kubur yang dianggap penting dan tidak boleh di ganggu hanya orang tertentu yang di perbolehkan. Sanksi atau akibat yang diterima jika melanggar pamali tersebut bermacam- macam misalnya; sakit mendadak,mandul, hewan peliharaan mati dan lain-lain, biasanya jika

63 Wawancara denganBbapak Lede Gono selaku ketua adat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 12.00 WITA

64 Wawancara dengan dengan ibu Paulina Lali Pora. Jemaat di Gereja Kristen Sumba Jemaat Kabalidana cabang Milla Ate, 7 Januari 2019. Pukul 13.00 WITA

65 Wawancara dengan bapak Marten Dappa, 13 Februari 2019

66 Wawancara dengan bapak Samuel Sairo Lende selaku guru injil di cabang Milla Ate, 25 Agustus 2018. Pukul 12.00 WITA

(33)

22

terjadi seperti ini maka yang harus dilakukan untuk membayar pamali atau denda agar hukumannya dapat hilang biasanya mereka akan mengadakan upacara adat dengan mempersiapkan barang yang sesuai dengan permintaan adat biasanya berupa uang, hewan (babi atau ayam), parang dan bahan makanan67.

b) Tanduk kerbau merupakan lambang bagi sebuah keluarga yang menandakan keluarga tersebut merupakan keluaraga kerajaan. Tanduk kerbau ini berada dalam rumah adat. Ada beberapa tanduk kerbau yang di anggap pamali atau tidak boleh di ganggu apalagi dicuri. Jika tanduk ini dicuri dan tidak dikembalikan maka sanksi atau hukuman yang didapat sangat berat dan bisa berakibat pada kematian. Jadi barang yang dicuri akan segera dikembalikan dengan sendirinya68.

c) Tempat persembahan bagi para leluhur , tempat ini biasanya berada pada pohon besar , batu besar dan beberapa peralatan dan rumah adat. Tempat-tempat ini akan dipenuhi persembahan ketika adanya musim panen dan acara adat. Nama lain yang disebut untuk tempat persembahan ini ialah natara eri69. Tempat yang sangat keramat dan yang boleh memasuki tempat ini hanya tokoh adat yang diperbolehkan saja sesuai dengan peraturan dalam adat, jika ada orang yang sembarang memasuki tempat ini biasanya mendapat musibah berupa sakit yang berat sampai akibat yang fatal seperti kematian atau tiba- tiba hilang ,untuk menyelesaikan masalah ini biasanya keluarga dari korban akan mengadakan upacara adat memohon ampun kepada leluhur dengan mengadakan ritual adat dengan mengorbankan babi atau ayam70.

d) Hasil kebun terbakar. Hasil kebun yang terbakar sama sekali tidak dapat digunakan lagi, namun masyarakat setempat meyakini bahwa tanaman yang terbakar itu pun memilki jiwa maka dilakukanlah sebuah upacara adat

67 Wawancara dengan bapak lede gono, 7 Januari 2019 68 Wawancara dengan ibu Paulina Lali Pora, 7 Januari 2019 69 Wawancara dengan bapak Lede Gono, 7 Januari 2019

70 Wawancara dengan saudara Ariyanto Sofian Gono. Gereja Kristen Sumba Jemaat Kabalidana cabang Milla Ate, 7 Januari 2019. Pukul 14.00 WITA

(34)

23

dengan diringi gong dan tambur.71 Dalam Bahasa daerahnya disebut kamaika (memanggil jiwa-jiwa tanaman yang terbakar)72.

e) Tidak boleh meludah atau mengeluarkan kata kasar sembarang didalam rumah adat. Dihargai dan di hormati adalah kebanggaan para leluhur, karna itu kedisiplinan dan sopan santun juga sering di terapkan dalam adat istiadat. Dalam Bahasa daerah tempat ini disebut kerredoka (bale-bale kecil) yang diyakini memiliki penghuni. Hukuman yang diterima dari pamali ini biasanya nya bersifat ringan misalnya; luka di bagian tubuh tertentu dan hal ini masih bisa di toleransi oleh leluhur tanpa harus melakukan upacara adat. Apabila hal ini berulang kali dilakukan akan berakibat pada hukuman yang sangat berat seperti kematian73.

f) Upacara adat dengan menggunakan tikar adat (tikar khusus adat).

Ketika mengadakan ritual adat di butuhkan sebuah tikar adat, dalam Bahasa daerah disebut kalenda sebagai tempat duduk bagi ketua adat dan orang-orang yang memiliki kepentingan dalam ritual tersebut. Tikar yang digunakan bukanlah sembarang tikar, karena tikar ini hanya boleh digunakan saat melangsungkan acara adat, pindahan perempuan, dan syukuran adat74.

g) Tempat menyimpan siri pinang bagi para leluhur. Tempat penyimpana ini bukanlah penyimpanan siri pinang yang sembarangan, dalam Bahasa daerah disebut kaleku biasanya masyarakat setempat meyakini bahwa sebelum melakukan ritual adat maka terlebih dahulu mereka harus menyimpan siri pinang pada tempat yang disediakan bagi para arwah leluhur seperti tas yang sudah rusak, tas tenun yang dipakai leluhur semasa hidupnya75.

h) Larangan berkata kasar saat Petir dan Guntur (marapu kalada). Salah satu pamali ini sampai saat ini masih sangat dipegang oleh masyarakat

71 Wawancara dengan Bapak Samuel Ngongo Lede, 7 Januari 2019 72 Wawancara dengan Bapak Lede Gono, 7 Januari 2019

73 Wawancara dengan Bapak Lede Wolla. Pendudk setempat di Desa Umbarottok ,7 Januari 2019. Pukul 12.00 WITA

74 Wawancara dengan bapak Ngongo Kii. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 7 Januari 2019. Pukul 12.00 WITA

(35)

24

setempat. Jika ada kejadian salah satu rumah yang disambar oleh petir maka secepat mungkin keluarga yang tertimpa musibah harus segera melakukan upacara adat yang disebut saiso dan harus mengorbankan babi maupun kerbau dengan jangka waktu acara diadakan selama satu minggu76.

i) Larangan mendekati sebuah pohon besar. Dalam sebuah kampung besar biasanya ada sebuah pohon besar yang dilarang untuk mendekati maupun membuang kotoran dan berkata kasar dekat pohon tersebut.seperti pohon beringin yang dalam Bahasa daerah disebut Maliti. Masyarakat setempat meyakini bahwa dalam pohon tersebut bersemayam arwah yang menjaga pohon tersebut. Sanksi yang ada jika melanggar ialah maka dpaat terkena sakit, mengalami gangguan jiwa sampai meninggal dunia. Cara untuk menghilangkannya dengan mengadakan upacara adat dengan waktu yang telah ditentukan oleh ketua adat dengan jaminan membawa ayam maupun babi. Pohon ini terletak di belakang rumah dan di pinggir kebun77.

j) Perempuan yang belum sepenuhnya dibayar belis (belum pindah suku) dilarang untuk memasuki ruang tamu dalam rumah besar. Masyarakat setempat juga meyakini bahwa seorang perempuan yang belum dibayar belisnya walaupun sudah tinggal bersama lelaki namun belum pindah suku dan memiliki anak sekalipun, tidak dapat untuk mengambil bagian di ruang tamu atau tempat dilakukannya ritual adat dlam rumah besar, hanya boleh berada di ruangan dapur. Ia dapat bergabung setelah menyelesaikan pembelisan secara penuh78.

Penganut marapu percaya bahwa ada suatu kekuatan gaib yang membuat mereka takut dan patuh yang membuat mereka merasa tertekan dan terbebani, dari situlah apapun yang menjadi permintaan dalam pamali pun harus dipenuhi. Tujuan dilakukannya upacara adat ini supaya dapat menangkal berbagai musibah tersebut. Ada berbagai kendala yang membuat masyarakat setempat yang masih menganut marapu tidak dapat meninggalkan kepercayaan Pamali meskipun sampai saat ini. Salah satunya

76 Wawancara dengan saudara Ariyanto, 7 Januari 2019

77 Wawancara dengan bapak Samuel Ngongo Lede, 7 Januari 2019

78 Wawancara dengan bapak Dairo Renda. Penduduk setempat di Desa Umbarottok,7 Januari 2019. Pukul 12.00 WITA

(36)

25

disebabkan karena masih adanya urusan-urusan dalam adat yang belum terselesaikan, seperti janji mempersembahkan kerbau maupun babi maka mau sampai kapanpun janji tersebut harus benar-benar ditepati meskipun yang menjanjikan sudah meninggal maka yang akan melanjutkan janji tersebut adalah keturunannya. Rasa takut terhadap arwah-arwah nenek moyang yang akan mendatangkan musibah, hal ini disimpulkan melalui berbagai kejadian yang menimpa mereka79.

Salah satu faktor utama yang membuat masyarakat Kristen tetap menjadi penganut kepercayaan pamali ialah karena kebersamaan dalam keluarga, ketika ada acara adat yang mengharuskan menanggung biaya seperti membawa ayam, beras serta gula dan kopi maupun duduk bersama-sama ketua adat maka harus dilakukan jika tidak maka akan dikatakan sombong, dijauhkan oleh keluarga. Berbagai faktor yang membuat orang Kristen tetap mempercayai marapu disebabkan yaitu karena kepercayaan pada pamali sudah ada sejak dulu, cara berpikir tentang marapu yang terus melekat dalam diri mereka, kepercayaan pada marapu ditafsirkan sebagai sesuatu yang akan menjadi kenyataan nantinya. Faktor pendidikan yang kurang sehingga pemahaman tentang marapu lebih mendominasi dan malahan anak-anak lebih memahami pamali ketimbang pelajaran sekolah, faktor ekonomi yang tidak stabil membuat jemaat harus mencari solusi dalam marapu untuk menemukan jalan keluar. Rasa takut akan masalah serta musibah yang terus menimpa membuat jemaat lebih memilih percaya pada marapu dengan harapan hidup akan menjadi lebih baik dan aman80.

Segala aturan dalam marapu terkhususnya pamali semua berasal dari nenek moyang kemudian diturunkan kepada anak-anaknya hingga saat ini. Asal-usul kepercayaan pamali tidak diketahui secara pasti namun itulah kepercayaan yang sudah mendarah daging dalam masyarakat. Secara agama memiliki kepercayaan terhadap pamali dilarang namun secara pariwisata maupun budaya marapu menjadi sebuah hal yang tetap dipertahankan. Dan malahan menjadi sebuah identitas masyarakat setempat

79 Wawancara dengan Bapak Samuel Ngongo Lede, 7 Januari 2019

80 Wawancara dengan mama kefas. Penduduk setempat di Desa Umbarottok, 5 Januari 2019. Pukul 12.00 WITA

(37)

26

meskipun lambat laun seiring perkembangan zaman kepercayaan pada marapu akan hilang namun tidak sepenuhnya akan hilang karena akan menjadi sejarah bagi masyarakat yang menjadi sebuah pengingat bagi keturunan mereka81.

ANALISIS

Berdasarkan landasan teori pada bab II maka didapatkan beberapa hal terkait dengan pamali di GKS Kabalidana cabang Milla ate serta lingkungan penduduk setempat di Desa Umbarottok yaitu:

Pamali Dalam Sosiologi

Teori mengatakan bahwa ada beberapa hal pokok tentang budaya dan tabu yaitu:

Mengatasi berbagai rintangan. Masyarakat meyakini bahwa taat pada aturan dalam pamali membuat mereka dapat dijauhkan dari berbagai musibah, ketika ada sebuah musibah yang menimpa mereka berbagai ritual akan diadakan seperti ritual adat ketika rumah tersambar petir. Ada sebuah pamali tentang larangan berkata kasar saat petir, tujuan dari pamali yang diyakini masyarakat ini adalah untuk menghalau musibah yang akan datang. Namun jika rumah sudah terlanjur tersambara petir maka diadakan upacara adat yang dinamakan saiso.

Tertib. Sesuai dengan data lapangan yang tersedia berkenaan dengan pamali yang hadir dalam masyarakat maka pamali merupakan sarana dalam ketertiban masyarakat setempat. Hal ini dapat dibuktikan dengan sistem kekerabatan yaitu wannokalada. Dalam wannokalada ada berbagai suku di dalamnya dan jika dikerucutkan lagi maka ada tiap-tiap rumah didalam wannokalada yang disebut umakalada. Umakalada berisi satu suku besar yang memiliki aturannya terhadap pamalinya sendiri.

Ketaatan. Pamali menjadikan masyarakat patuh terhadap perkataan pemimpin adat yang dianggap mengetahui segala macam aturan dalam adat. Tentang sebab dan akibat melanggar aturan dalam pamali, selain itu juga untuk mengetahui apa yang

(38)

27

harus dilakukan ketika ada musibah yang menimpa keluarga. Pemimpin adat yang disebut rato adat dipercayai sebagai penyambung lidah dan juga orang yang berkomunikasi dengan roh leluhur.

Larangan bagi khalayak. Pamali berlaku terhadap seluruh penduduk entah yang sudah beragama maupun yang masih percaya terhadap kepercayaan masyarakat setempat. seperti yang ada dalam data lapangan tentang tanduk kerbau yang tidak boleh dicuri. Aturan ini berlaku bagi siapa saja.

Terlarang. Masyarakat setempat memberlakukan hal ini pada setiap tempat atau benda yang ada di dalam rumah maupun luar rumah. Benda yang dianggap suci dilarang untuk dipegang begitupun juga dengan tempat dilarang untuk dimasuki. Data lapangan yang sesuai dengan hal ini ini adalah perempuan yang dilarang untuk memasuki ruang tamu dalam rumah besar karena sebelum menyelesaikan belisnya. Perempuan yang belum lunas belisnya belum bisa berpindah suku, oleh sebab itu meskipun sudah mempunyai anak dan menetap satu rumah bersama suaminya harus tetap melunasi hutang belis.

Sumber daya roh. Kepercayaan terhadap pamali timbul karena masyarakat meyakini ada daya kekuatan yang dapat mendatangkan malapetaka dan juga kekuatan yang dapat melindungi terkandung di dalamnya. Masyarakat menganggap bahwa pamali merupakan hal yang sakral tempat berdiamnya roh para leluhur.

Menjaga kelestarian yang Sakral. Pamali merupakan salah satu upaya masyarakat untuk memelihara kebudayaan mereka dan juga menjaga sejarah asal-usul seperti tanduk kerbau, tikar adat, tempat menyimpan siri pinang. Jika tidak ada pamali maka benda bersejarah maupun tempat-tempat bersejarah bisa saja dapat hilang seiring berjalannya waktu namun dengan adanya pamali menjadi sebuah pengingat bagi mereka bahwa peninggalan tersebut berasal dari zaman leluhur mereka. Itulah sebabnya meskipun sudah memiliki agama pun mereka tidak dapat selamanya meninggalkan kepercayaan terhadap pamali.

Pengikat Persatuan. Pamali menjadi suatu pengikat persatuan masyarakat, hal ini dapat dilihat ketika adanya rumah yang tersambar petir maka tiap-tip keluarga akan bergotong-royong untuk mengambil bagian berpartisipasi melaksanakan acara adat tersebut. Ada yang membawa peralatan dapur, makanan maupun minuman hingga membawa lauk pauk yang belum jadi seperti babi, ayam maupun kerbau. Meskipun

Referensi

Dokumen terkait