SeNaDa Mei – Agustus 2015 2 PELINDUNG Sr.M.RobertinSND PEMIMPIN REDAKSI Sr.M.Syaloma,SND SEKRETARIS Sr.M. Yolenta SND BENDAHARA Sr.M.Syaloma,SND REPORTER Sr.M.Stefania,SND Staf Redaksi ALAMAT REDAKSI Jln. Veteran 31 Pekaongan 51146 Telp. 0285 – 423196 E-mail [email protected]
Daftar
Isi
1. Daftar Isi . . . 1 2. Editorial . . . 2 3. Hidup yang menjadiberkat bagi sesama . . . . . 7 4. Oh, Betapa Baiknya
Tuhan . . . . . . 14 5. Tantangan Atau Peluang ? 28 6. Persembahan Hidup Dari Keluarga Kepada Tuhan . . 40 7. Pembaharuan Spiritualitas Pendidikan Notre Dame . . 45 8. Pengalaman Live In . . . 50 9. Puji Syukur Dan
Trimakasih . . . 60 10. Perayaan 40 Tahun RSU
Budi Rahayu. . . . 66 7880
SeNaDa Mei – Agustus 2015 3
Editorial
B
erguru
P
ada
Y
esus
S
ang
M
aha
G
uru
( Sr. M. Syaloma, SND )
Yesus seorang “Guru“ yang sangat paham tentang perutusan-Nya, sebagai seorang pembebas yang terlibat dalam pendidikan untuk keadilan dan pembebasan, Ia mengajar dan ajarannya sangat
berwibawa dan mentakjubkan.
Untuk merayakan pang-gilan hidup bakti, bagi kita yang terpanggil dan yang diutus di bidang karya pendidikan di sekolah, saat inilah saat yang tepat bagi kita, untuk berefleksi diri, sejauh mana nilai-nilai luhur spiritualitas dan seni mengajar Yesus Sang Guru, terjelma didalam System pendidikan dan penga-jaran kita di sekolah.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 4
Editorial
“Setelah hari sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat “ ( Mrk. 1: 21 – 22 ) Seiring dengan tahun syukur untuk menyambut perayaan 60 tahun berdirinya Karya Kongregasi Suster – Suster otre Dame di bidang pendidikan, “Yayasan Santa Maria“, mewujud nyatakan gerakan bersama untuk pembaharuan Spiritualitas pendidikan Notre Dame di Sekolah. Gerakan pemba-haruan Spiritualitas Notre Dame ini sudah dmulai dari pembaharuan spiritualitas internal para anggota Kongregasi.
Melalui karya pendidikan Notre Dame di sekolah, kita dapat membagikan “Kasih Allah Yang
Mahabaik dan penyelenggara“ untuk memberi
kesaksian dan mendidik kaum muda, supaya mereka berani dan bergairah untuk mengarungi hidup yang sarat dengan berbagai macam tantangan.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 5
Editorial
Inilah waktu tepat untuk bersyukur . . ., melihat proses perjalanan perkembangan karya di masa lalu . . . dan melihat ke masa depan dengan keberanian dan keterbukaan, dengan kreatifitas dan kebebasan, seorang pendidik Notre Dame, yang percaya sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi Allah yang maha baik dan yang penuh kasih.
Dikuatkan oleh memori-memori kudus, kita merefleksikan secara mendalam, akan panggilan kita sebagai pendidik yang bergulat dengan masalah - masalah yang penuh tantangan, yang kita hadapi diarus moderenisasi global, seperti yang muncul di jaman sekarang ini.
Untuk mengetahui internalisasi nilai-nilai spiritualitas kristiani yang dijelmakan dalam nilai-nilai spiritualitas pendidikan Noitre Dame terhayati maka Yayasan Santa Maria bekerjasama dengan Klinik Konsultasi Bisnis FBE Unika Soegijapranata.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 6
Editorial
Tiem Riset Unika Soegijapranata: 1. Ibu Dr. Monika Palupi Murniati, SE, MM 2. Bapak Ranto Sihombing, SE,M.Si. CSRS 3. Ibu MG. Westri Kekalih S, SE, ME 4. Bapak Widyanto, SE, MM
Maksud kerjasama antara Yayasan Santa Maria dengan team riset Universitas Soegijapranata adalah: untuk melakukan kajian secara ilmiah dan terperinci mengenai diskripsi nilai-nilai spiritualitas pendidikan Notre Dame yang dihayati dan yang hidup di
SeNaDa Mei – Agustus 2015 7
Editorial
lingkungan Yayasan Santa Maria. Dengan demikian, kita dimantapkan didalam penyusunan kebijakan dan alternative penyusunan strategi sesuai dengan kondisi factor internal dan eksternal untuk perkembangan, kesinambungan, pelestarian karya pendidikan Notre Dame lebih lanjut.
Seminar “ Mendalami Dan Menbghayati U.U. Yayasan Secara Benar “ – Oleh Bpk. Y. Supardi
SeNaDa Mei – Agustus 2015 8
Hidup Yang Menjadi Berkat
Bagi Sesama
( Sr. M. Rista, SND )
Pengolahan dan pemaknaan dari pengalaman hidup berkarya, dalam retret spiritualitas SND di bulan April 2015
Gelombang ke V, sebagai seorang perawat, diriku, aku symbolkan bagaikan bejana (kendi) yang senantiasa penuh dengan air segar yang dianugerahkan Allah kepadaku supaya aku menjadi berkat yang bisa menyalurkan air segar bagi yang meminumnya. Demikian juga diriku yang telah dipilih dan diutus untuk membawa kesejukan, kesegaran, yang berdampak pada penyembuhan, sehingga mereka yang aku layani bisa memperoleh kekuatan hidup yang baru.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 9
Dalam kesempatan ini, saya ingin membagikan pengalaman nyata yang terjadi saat saya berkarya di Poliklinik St. Yulia, Sukorejo.
Pada suatu hari, kami didatangi seorang pasien bernama bapak (X). Pada waktu bapak itu datang, orangnya tampak lusuh dan kusam, wajahnya tidak bersahabat. Ketika masuk ke ruang poliklinik, pasiean itu langsung mengambil satu gelas aqua yang diletakkan dalam estalase untuk dijual.
Setelah mengambil satu gelas aqua, bapak itu mendekati saya dengan berkata: “dongake . . !” saya menjadi bingung, dan saya tidak tahu maksudnya, sehingga saya bertanya: “Maksudnya apa pak ?“ dan bapak itu menjawab sedikit agak keras: “dongake“ dan karyawan yang mendengarkan percakapan saya dengan pasien itu penjelaskan kepada saya, apa maksud bapak itu. Suster, bapak itu minta supaya air aqua itu didoakan Suster. Setelah tahu maksudnya, saya mengambil gelas aqua tersebut untuk saya doakan. Dalam doa, saya hanya memohon, dan berharap,
SeNaDa Mei – Agustus 2015 10
supaya Tuhan menolong dan menyembuhkan bapak ini. Segelas air aqua yang sudah saya doakan itu saya berikan, supaya bapak itu meminumnya. Dalam benak saya, muncul suatu pertanyaan: “Mengapa bapak ini minta saya untuk mendoakan air aqua itu ?“, Spontan saya bertanya kepada bapak itu, dan bapak itu menjawab: “Semalam saya bermimpi dan dalam mimpi itu saya disuruh oleh seseorang, untuk datang ke Poli Gereja dan minum air yang ada di Poli ini supaya penyakit saya sembuh, karena semua dokter yang ada di Kendal, di Parakan, semua sudah saya datangi, dan sampai saat ini sayapun belum juga sembuh“. Ya karena mimpi yang dibisikan semalam itu, maka saya percaya, bahwa meminum air yang ada di poli ini saya bisa sembuh.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 11
Untuk menegaskan keyakinannya, maka saya kembali bertanya kepadanya: “Apakah bapak yakin bahwa dengan mimpi bapak, untuk minum air dari poli sini, bapak bisa sembuh ?” Dengan penuh keyakinan, bapak itu menjawab: “Saya yakin, bahwa saya sembuh”
Karena keyakinannya itu, kemudian saya menawarkan, kepada Bapak itu, apakah ia mau kalau saya beri air, yang saya ambil dari gua Maria di Gereja Sukorejo. Dan iapun mau. Dan sementara pasien tersebut diperiksa dokter klinik, saya pergi ke gua Maria untuk mengambil satu botol air aqua.
Sebelum air saya serahkan kepada bapak itu, botol air itu saya letakkan di depan tabernakel, dan saya berdoa, supaya air ini mejadi berkat kesembuhan bagi bapak X itu. Selesai berdoa, saya langsung menyerahkan sebotol air itu kepada bapak X yang menerimanya dengan senang.
Dua seminggu kemudian, bapak X itu datang lagi, dengan senyum dan wajahnya yang begitu cerah, tenang, ia kelihatan begitu bahagia.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 12
Melihat ia datang, langsung saya menyapa-nya:
“Piye wis mari apa durung ?” Dan bapak itu
menjawab: “Wis mari bu, matur nuwun“ . Sambil memperkenalkan anaknya, ia berkata: “Ini anak
saya mau berobat, ia sakit gatal-gatal, nanti saya
diberi air lagi ya bu, buat keluargaku “.
Dalam hatiku muncul lagi pertanyaan: “Adakah
ini suatu mukjizat atau sugesti . . .???” Terlepas dari
segala macam pergumulan dari peristiwa penyembuhan ini, saya mencoba meyakini, bahwa
Tuhan itu penyelenggara hidup yang baik. Maka
Iapun akan menyelenggarakan segala sesuatu yang
baik, penyembuh, penyelamat, yang menjadi harapan orang yang meng-imani-Nya.segala sesuatu akan
terjadi bila kita percaya dengan iman yang kuat dan
mendalam.
Seperti apa yang terjadi dalam diri bapak ini, ia
haus merindukan penyembuhan, dan melalui bapak
itu, Tuhan akan bertindak, dan menjadikan bapak itu menjadi suatu saluran keselamatan bagi keluarganya.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 13
Beberapa hari kemudian, bapak itu datang lagi bersama isterinya dan anaknya, untuk menemui saya. Sayang bahwa saat itu saya tidak ada di tempat dan mereka hanya bertemu dengan perawat yang sedang dinas. Mereka datang hanya ingin menyampaikan, bahwa bapak X dengan segenap keluarganya, mau menjadi Katholik, mengikuti ibu yang memberi air minum pada keluarganya.
Ia yakin bahwa doa orang Katoliklah yang paling
baik dan paling berkenan pada Allah. Berhubung
saya tidak di tempat, maka perawat yang sedang berdinas menyarankan, supaya mereka datang lagi. Dua hari kemudian, bapak X itu datang lagi. Ia menyatakan niatnya, bahwa ia mau menjadi Katolik. Mendengar niat bapak ini, saya menasehati dengan menjelaskan bahwa: Semua agama baik, karena mengajarkan kebenaran Allah, tujuannya sama ialah menyelamatkan dan menyembuhkan orang yang percaya kepada-Nya. Kita memiliki Allah yang sama, hanya pengungkapan dalam doa yang berbeda. Jika bapak sungguh-sungguh berdoa dan yakin bahwa Allah penyelenggara hidup kita, akan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 14
menyembuhkan maka, apa yang bapak harapkan dengan penuh iman dan kepercayaan, Tuhan pasti mengabulkan.
Mengolah dan memaknai pengalaman ini, saya
bersyukur atas rahmat panggilan hidup saya, karena hidup ini menjadi saluran berkat, penyembuhan, membawa keselamatan bagi sesama. Saya meyakini,
bahwa dalam perjumpaan, melalui tindakan nyata,
tutur kata, perhatian, yang kita lakukan bagi
sesama yang membutuhkan, kita bisa membawa berkat dan kegembiraan bagi orang lain. “Tuhan
buatlah hatiku tetap terbuka bagi-Mu dan bagi sesamaku, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan nyata, karena Engkau senantiasa hadir dalam hidupku “.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 15
O
h,
B
etapaB
aiknyaT
uhan . . . ?( Sr. M. Syaloma, SND )
Pemuda kaya itu menyapa Yesus dengan berkata: “Guru yang
baik, apa yang harus ku-perbuat untuk memper-oleh hidup yang kekal ?“
Dan Yesus balik ber-tanya: “Mengapa kau
katakan Aku baik?, tak
seorangpun baik, selain Allah
.”
(Mrk.10: 17 – 18).Merefleksikan percakapan Yesus dengan pemuda kaya itu, saya menangkap bahwa, Yesus ingin membuka hati dan pikiran saya, melalui kebaikan insani, untuk dibawa ke pengertian kebaikan ilahi.
Dimana penyelenggaraan Ilahi Allah terjelma, melalui tugas perutusan-Nya. Sehingga saya mengimani bahwa tanda bukti bahwa Allah
SeNaDa Mei – Agustus 2015 16
sungguh-sungguh mengasihi saya, menganugerah-kan berkat-Nya, rencana-Nya, kehendak-Nya lewat tugas perutusan yang dipercayakan Kongregasi kepada saya.
Pengalaman hidup dimana saya merasa diri dikasihi Allah, saya merasa dimampukan untuk menjelmakan kasih Allah itu didalam hidup. Pengalaman dikasihi Allah itu tidak pernah terencana, terjadinya tiba-tiba, tak terduga dan mengejutkan. Lewat peristiwa pengalaman hidup yang kita refleksikan dan yang kita maknai, kita akan menyadari bahwa Tuhan itu mahabaik, penyelenggara hidup yang penuh kasih dan rahim. Misalnya: Bagaimana cara Allah mem-bimbing, menuntun, membekali seseorang supaya dapat dijadikan rekan kerja didalam karya penyelamatan-Nya.
Th. 1971, Gereja baru ramai-ramainya bicara tentang adanya pemba-haruan hidup religius, dan saat itu kita disi-bukkan dengan acara penggelaran Santa dari pendiri SND, Ibu Julia Billiart dari SND Namur digelarkan Santa di basilica Roma.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 17
Konsili Vatikan II, mengingatkan kita semua, bahwa setiap tarekat religius harus mempertegas dan memperjelas identitas dirinya sebagai lembaga religius, siapa pendirinya, alasan dan tujuan pendirian tarekatnya.
Melalui proses yang panjang akhirnya SND Coesfeld Jerman memutuskan bahwa pendiri tarekatnya adalah Sr. M. Aloysia, sedangkan Santa Julia Billiart adalah sebagai ibu rohaninya. Pada tahun 1970, Tarekat suster-suster Ursulin mendirikan Lembaga Pendidikan Kateketik: Satyawacana lokasinya menempati salah satu ruangan di kompleks gedung SMA St. Teresia di jln. Haji Agus Salim Jakarta. Dimana mahasiswanya kebanyakan terdiri dari para suster junior dari beberapa kongregasi dan beberapa awam.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 18
Selesai menjalani pendidikan di Noviciat, yang saat itu aturannya begitu ketat. Supaya tarekat SND memiliki tenaga Katekis, untuk memenuhi perkembangan karya baru saat itu, maka dikirimlah Sr. M. Marga yang saat itu menjabat sebagai pemimpin Novis, dan Sr. M. Syaloma yang baru saja menyelesaikan pendidikan Noviciat, mendapat perutusan untuk study Kateketik di Satyawacana Jakarta,
Menyadari bahwa lembaga Pendidikan kateketik Satyawacana Jakarta mahasiswa-nya hanya sedikit, maka untuk menempuh Ujian Negara Th. 1974, kami bergabung dengan Lembaga Pendidikan Kateketik Pradnyawidya, Jogyakarta (STKAT). Dan semuanya dapat terselesaikan dengan baik, pada waktunya.
Sebelum Sr. M. Xavera (Provincial SND Indonesia waktu itu) berangkat ke Roma untuk menghadiri Kapitel Umum, beliau berpesan, “
Suster, kalau nanti studynya sudah selesai, dan lulus, saya diberi tahu “ Tidak tahunya dibelakang
pesan itu ada maksud tertentu. Sepulang dari Kapitel di Roma, Suster Maria Xavera
SeNaDa Mei – Agustus 2015 19
mempersiap-kan kita berempat Sr. M. Klaudia, Sr. M. Irmine, diutus untuk ambil study lanjut di Thomas Moor University Kentuky – USA,
Sr. M. Yulia dan saya (Sr. Syaloma) ambil study Kateketik di Notre Dame College, Cleveland, Ohio, USA. Sekaligus persiapan
kaul kekal dengan 9 Suster dari USA
SeNaDa Mei – Agustus 2015 20
Group Suster persiapan Kaul Kekal di Chardon USA, 9 Suster dari Chardon,
2 Suster dari Indonesia.
Tidak pernah kami berpikir untuk mengalami pengalaman istimewa yang luar biasa itu, kalau Tuhan tidak menghendaki dan merencanakan-Nya.Semua peristiwa ini terjadi melalui kejutan yang satu ke kejutan yang lain, dalam kerangka penyelenggaraan Ilahi Allah yang Mahakasih.
Dan kami berdua meminta, supaya upacara kaul kekal di laksanakan di Indonesia. Dan
Sr.M.Syaloma dan Sr.M.Yulia SND
Sr.M.Klaudia dan Sr.M.Irmine, SND
SeNaDa Mei – Agustus 2015 21
terlaksana pada tanggal: 15 Oktober 1976, di Kapel lama Susteran SND Kraton, Pekalongan, Indonesia.
Akhir tahun 1976, kami boleh pulang ke Indonesia, kejutan demi kejutan datang dan terjadi lagi, Kami berdua pulang menuju bandara John Kennedy New York, melalui jalan darat, diantar oleh Sr.M.Christopher ( provincial ) dan Sr.M. Jean Elisabeth ( pemimpin yumior ).
Dalam perjalanan pulang itu, kami berdua dengan Sr. M. Yulia, SND, mendapat kejutani demi kejutan yang luar biasa, yang tak pernah
Biara Provinsi SND “ KRISTUS RAJA “ Chardon, Cleveland Ohiho - USA
SeNaDa Mei – Agustus 2015 22
terpikirkan sebelumnya. Kami diantar lewat jalan darat, karena kami mau diajak melihat Air terjun “NIAGARA“ yang terkenal di dunia itu. Sungguh ….. Kemuliaan,…, keagungan, dan kebesaran Tuhan itu begitu dahsyat, dan mentak-jubkan.
Untuk dapat melihat air terjun itu dari bawah, kita harus turun melalui menara yang ada lift-nya. Sesampainya dibawah, kita melihat ke atas, bukan main …, air itu nampak melekat di langit, seolah-olah air itu membual …, terjun dari langit dengan begitu dahsyatnya. Embun bertaburan, sehingga kalau kita tidak payungan, maka baju kita akan basah semua. Setelah kita menikmati air terjun itu dari bawah, maka Sr. Jean Elisabeth, membawa kita ganti melihat dari atas. Dengan naik lift yang tinggi seperti menara itu. Sesampai diatas, kita dapat melihat air terjun itu berbuih berwarna kehijauan, kearah yang lain, kita dapat melihat air terjun itu yang diatasnya ada warna seperti pelangi. Dari menara atas, kita dapat melihat daratan Canada.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 23
Apa yang kita lihat dan kita alami keindahan 4 musim, keajaiban alam di Niagara, yang mentak-jubkan, barulah kita sadar bahwa apa yang tertulis dalam doa mazmur itu begitu indah, dan ternyata alam semesta itu begitu kaya akan keajaiban Tuhan. Sehingga kita dapat memuji Tuhan bersama pemazmur dengan menyanyikan:
“ Bersyukurlah kepada Tuhan sebab baiklah Dia “
- PS. 831
Sesudah kita melihat Water fall Niagara, kita melanjutkan perjalanan ke New York dengan melalui jembatan yang terpanjang di dunia. Sesampai di New York, kita Misa Kudus di Katedral orang Irlandia, ditempat itu topi Uskup yang sudah meninggal (Soli Deo) di gantung di iternit katedral.
Sesudah Misa, kami berdua dengan Sr. M. Yulia, diajak pergi untuk naik ke gedung pencakar langit (sky-scraper) dengan lift di New York, setiap kali kita berada di lapisan atmospir yang lebih tinggi, badan ini rasanya terangkat lebih ringan, dan semakin lebih ringan.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 24
Sesampainya dipuncak, disitu ada halaman, dimana ada beberapa alat telescope. dan untuk menggunakannya, kita harus memasukkan coin, sehingga alat itu bisa bergerak berputar, sesuai dengan arah mana yang kita inginkan.
Sesudah Sr. Mary Christopher memasukkan coin, lalu beliau mengajari saya, bagaimana cara menggunakan alat itu, barulah saya berani mencobanya. Waktu saya menggunakannya, yang nampak saya lihat pertama kali adalah patung LIBERTY, yang terkenal di dunia.
Patung Dewi Kemerdekaan (Liberty) itu berdiri tegak,
gagah perkasa, dengan. obor yang dipegang erat-erat di tangannya, seolah-olah ingin menyatakan kepada dunia, suatu kemenangan dan keberhasilan,untuk membawa terang dunia di tanah baru, ialah Amerika.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 25
Suatu kemerdekaan, dan kebebasan, suatu Anugerah Allah yang begitu besar, karena telah ditemukan tempat tinggal yang baru, dunia baru, ialah : Amerika.
Patung Liberty yang berdiri di tempat strategis, di Pulau Liberty itu, seolah-olah menyambut mereka yang datang melalui pintu gerbang pelabuhan dimana semua bangsa dapat datang ke Negara itu.
Bagi kami para Suster SND Coesfeld, Patung Liberty itu bermakna apa, dan berbicara apa, tentang sejarah penyelamat-an Allah bagi kita. Dengan peristiwa diusir-nya para Suster Notre Dame Coesfeld Jerman, dari Prusia, sehingga harus ber-emigrasi ke Cleveland, Ohio, USA pada tahun 1874, sehingga Ibu Jemdral SND, Maria Chrisostoma dan Sr.M.Aloysia, beserta 6 Suster yang lain, harus meninggalkan tanah kelahirannya di Jerman untuk pergi ke Cleveland, Ohio USA,
Kedatangan mereka yang pertama kali di Amerika, disambut dengan meriah baik di kapal “ RHEINE “ maupun di daratan New York,
SeNaDa Mei – Agustus 2015 26
karena hari itu persis hari raya kemerdekaan Amerika, yang jatuh pada tanggal 4 Juli 1874. Sungguh, penyelenggaraan ilahi Allah itu begitu rapi tersusun dalam sejarah, sehingga “Salib Coesfeld“ sungguh-sungguh menjadi kebangkitan kehidupan baru bagi Kongregasi. SALIB COESFELD sebagai penyelamat dan pengubah kehidupan, karena Allah telah menyediakan lahan luas untuk karya-karya Allah yang baru.
Peristiwa pengusiran dari Prusia itu sebagai cara Allah untuk memperluas karya pewartaan keselamatan, sekaligus sebagai cara Allah untuk memelepaskan Sr. M. Aloysia terbebaskan dari penindasan perang Kultur Kamp.
Sesudah kami meninggalkan (sky-scraper) atau pencakar langit, kita makan siang di bandara John Kenedy, sekaligus menunggu keberangkatan kami, untuk melanjutkan perjalanan ke Roma, kota abadi. Kami di-ijinkan untuk tinggal di Roma selama 2 minggu.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 27
Sebelum kita berangkat, kita sempat berdoa mohon keselamatan dalam perjalanan, untuk mendapatkan berkat Tuhan dari Sr. Mary Christopher, di kapel Sint Mary, yang ada di kompleks area bandara.
Selama di Roma, kita diajak untuk pergi ke Vatikan, Catacombe, Kolosium, Sint John Lateran, Mary Majore, tempat peristirahatan Paus Paulus VI, dsb, Kita kembali ke Roma untuk yang kedua kalinya, dan ke Eropa dalam rangka napak tilas sejarah Kongregasi pada tahun 2009.
Memetik pemaknaan dari penelusuran sejarah hidup panggilan saya selama 45 tahun sebagai anggota Kongregasi Suster Notre Dame, dan dari kekayaan pengalaman iman melalui penelusuran peristiwa sejarah hidup yang mengesan, yang terjadi 39 tahun yang lalu, seperti apa yang saya ceritakan, saya menemukan pemaknaan bahwa: Dalam seluruh peristiwa yang mengukir sejarah Panggilan hidup membiara saya, Allah saya alami sebagai Allah yang: “PENUH KASIH, SETIANYA KEKAL” yang memberi makna pengalaman hidup
SeNaDa Mei – Agustus 2015 28
saya yang selalu baru. Dan panggilan itu suatu misteri. Sulit diterangkan, tetapi dapat ditelusuri, bila setiap peristiwa direfleksikan, di-imani dan dimaknai. Maka kita akan menemukan tonggak-tonggak sejarah hidup konkrit, dimana rencana Allah bagi kita masing-masing, nampak jelas, untuk apa Allah memanggil kita masing-masing. Jawabannya ialah untuk:
“ Menjelmakan kasih Allah yang mahabaik,
dan penyelenggara hidup kita .”
Sr.M. Syaloma, SND
“
Allah yang Mahabaik
selalu memintaku untuk
bersandar pada-Nya dan
dituntun oleh semua
tanda
yang
telah
diberikan kepadaku dari
penyelenggaraan
ilahi-Nya,
untuk
secara
penuh berserah diri
kedalam tangan-Nya “
SeNaDa Mei – Agustus 2015 29 “Dalam tangan Bunda-Nya Maria, Yesus terbuka untuk menerima semua orang, untuk dibawa kedalam kemuliaan-Nya“ – Yesus doakanlah saya
TANTANGAN ATAU PELUANG ?
Oleh: Sr. M. Ferdina, SND
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk.16:15).
Inilah wasiat terakhir dari Yesus kepada ke-sebelas rasul sebelum Ia naik ke Surga. Masih relevankah wasiat ini bagi saya yang hidup di era globalisasi ini?
Sr. M. Ferdina, SND
Menyadari diri sebagai seorang religius muda
yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikhrarkan kaul seumur hidup dan akan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 30
menjadi anggota defenitif Kongregasi Suster-suster NOTRE DAME, pertanyaan sederhana namun penuh makna ini mengantar saya untuk semakin menyadari identitas diri saya yang sebenarnya dan berefleksi mengenai partisipasi saya sebagai seorang pribadi yang terpanggil. Maka melalui tulisan ini saya akan membagikan pengalaman sebagai hasil refleksi pribadi dalam berproses bersama Sr.M.Syaloma, SND diawal masa tersiat (1-11 April 2013) dengan tema yang di bahas adalah “Re-Evangelisasi dan pendalaman ajaran
iman dan semangat hidup dalam misi Yesus”.
Ketika sebuah pertanyaan sederhana di atas saya tatapkan dengan tema yang dibahas bersama Sr. M. Syaloma, SND, semakin memberi gambaran yang jelas bagi saya bahwa wasiat Yesus bagi kesebelas rasul untuk memberitakan Injil ke segala makhluk tidak hanya relevan tetapi masih sangat relevan untuk zaman ini. Evangelisasi (pewartaan Injil, kabar gembira, kabar keselamatan) tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para rasul saat itu tetapi menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang yang menamakan dirinya
SeNaDa Mei – Agustus 2015 31
sebagai pengikut Kristus yang hidup di zaman sekarang ini. Evangelisasi tidak mengenal adanya delegasi seperti ketika kita mengikuti pendalaman iman di lingkungan, dimana kehadiran kita bukan atas nama pribadi tetapi sebagai perwakilan dari keluarga atau komunitas.
Berbicara soal evangelisasi arahnya adalah kesaksian hidup pribadi itu sendiri bukan kelompok. Maka keseluruhan dari organ tubuh kita menjadi sarana primer dalam pewartaan Injil. Mewartakan Injil berarti mewartakan Kristus dan untuk dapat mewartakan Kristus saya secara pribadi harus terlebih dahulu mengalami pengalaman “dijatuhi cinta oleh Yesus” dan pengalaman “jatuh cinta dengan Yesus”. Tentunya mutiara berharga ini tidak secara otomatis jatuh dari langit, tidak juga dari daya imajinasi konyol kita tetapi justru dialami melalui setiap realita hidup terutama jatuh bangunnya kita dalam berjuang untuk mensetiai panggilan hidup yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita masing-masing.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 32
Dalam sebuah film atau sinetron kesukaan, kita berusaha agar setiap episode yang ditayangkan tidak pernah terlewatkan dan bila ditanya mengenai jalan ceritanya kita akan dengan senang hati menceritakan semendetail mungkin jalan ceritanya bahkan disertai ekspresi-ekspresi dari setiap pemeran tanpa merasa terbebani padahal masih ada tugas lain yang antri untuk diselesaikan. Betapa kita sungguh ikut terhipnotis oleh daya imajinasi konyol dari sang sutradara yang dibuat menjadi semakin hidup melalui peran para aktor dan aktris dalam film atau sinetron tersebut. Dalam
Evangelisasi tidak seperti kita meceritakan kembali
imajinasi konyol sang sutradara yang menjadi inti dari jalan cerita sebuah film atau sinetron. Evangelisasi justru menggugah kita untuk memutar kembali setiap episode pengalaman kasih Yesus dalam hidup kita secara pribadi dan diekspresikan melalui kesaksian hidup sehari-hari agar sesama juga dapat merasakan kasih Yesus seperti yang kita rasakan.
Seperti halnya para rasul yang dipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil, seorang religius
SeNaDa Mei – Agustus 2015 33
dipanggil dan diutus juga untuk mengemban tugas yang senada sesuai dengan konteks zaman karena seorang religius hidup dan ada ditengah-tengah dunia ini. Zaman selalu bersifat dinamis maka menjadi seorang pewarta Injil jangan sampai kita menjadi statis. Kita harus terbuka terhadap perubahan agar tidak ketinggalan informasi tetapi yang terpenting adalah jangan sampai hanyut terbawa oleh arus globalisasi yang terkadang membuat orang terbius sampai tidak menyadari identitas dirinya termasuk kaum berjubah. Maka bagi saya kedewasaan pribadi menjadi dasar untuk berpijak dan melangkah dengan pasti sesuai dengan identitas diri kita sebagai seorang terpanggil.
Kesadaran akan identitas diri sebagai seorang yang terpanggil memampukan kita untuk selektif dan kritis dalam menanggapi setiap bentuk tawaran dunia zaman ini yang serba demi kenikmatan sesaat.
Ketika evangelisasi ditatapkan dengan arus globalisasi, bagi saya sungguh tidak mudah menjadi pewarta zaman ini karena orang
belomba-SeNaDa Mei – Agustus 2015 34
lomba mengejar hal-hal duniawi sementara yang surgawi menjadi urutan yang kesekian bahkan mungkin tidak masuk dalam hitungan. Sebagai seorang religius mahasiswa di tengah-tengah rekan mahasiswa yang bukan religius, saya mengalami banyak tantangan terkadang dinilai “sok suci”. menggiurkan. Selain itu kita semakin terbiasa untuk berpikir sebelum bertindak bukan berpikir setelah bertindak mengenai dampak yang akan terjadi dari setiap ekspresi tubuh kita yang menjadi sarana primer evangelisasi. Globalisasi disalah satu sisi membuat sebagian orang tertawa dan kagum karena banyak hal di depan mata yang sungguh luar biasa. Dibalik itu semua yang serba menyilaukan mata, kita juga harus jujur mengakui bahwa sebenarnya globalisasi juga membuat banyak orang harus meneteskan air mata karena ulah segelintir orang yang sengaja menjadi tuli terhadap seruan untuk menghargai kehidupan. Terhadap situasi dunia zaman ini, Gereja sungguh terbuka terhadap perubahan sejauh dapat mengantar setiap pribadi untuk menemukan Tuhan. Tetapi banyak orang salah mengartikan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 35
dan menyikapi perubahan-perubahan tersebut sehingga hanya mencari kepuasan sesaat termasuk kaum berjubah. Maka tidak mengherankan lagi jika seruan Gereja mengenai kasih (perdamaian, keadilan, pengampunan) hanya sekedar wacana. Manusia justru semakin mengembangkan egoismenya. Ungkapan Homo Homini Lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain) sungguh nyata di zaman ini.
Pemanasan global semakin dirasakan karena banyak lahan digunakan untuk memperluas bisnis. Masa depan generasi muda yang adalah tunas harapan Gereja semakin dipertanyakan karena mentalnya sudah terbentuk dalam situasi hidup yang serba instan maka orientasi hidupnya juga serba instan tanpa harus berproses. Banyak pasangan yang tidak setia pada janji perkawinan termasuk kaum berjubah dengan berbagai skandal yang terjadi. Semua realita ini sungguh mencoreng wajah Gereja dimata dunia. Mencoreng wajah Gereja berarti mencoreng wajah Allah karena berdasarkan kitab Kejadian, Allah menciptakan bumi dan segala isinya baik adanya namun
SeNaDa Mei – Agustus 2015 36
manusia dengan segala rasionalisasinya akan kerapuhan dan keterbatasan dirinya menodai karya tangan Allah
Tetapi bagi saya ungkapan ini tidak membuat saya sakit hati karena justru semakin menyadarkan saya bahwa melalui jalan hidup panggilan saya sebagai seorang religius, saya berjuang untuk mencapai kesucian.
Ketika saya sudah dilibatkan dalam karya pelayanan Kongregasi untuk mendampingi siswa-siswi yang adalah titipan Tuhan di SMP St. Aloysius saya juga mengalami tantangan. Hal ini semakin membuka mata saya bahwa apapun bentuk tugas perutusan itu selalu ada tantanganya karena Yesus sendiri sudah berpesan: “pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala (Luk 10:3). Yesus sudah menggambarkan realita yang harus saya hadapi dalam karya perutusan maka butuh kesiapan lahir (kesehatan fisik) dan batin (pengalaman akan kasih Tuhan). Mendampingi anak-anak yang sedang mencari identitas diri menuntut kreatifitas dari diri saya dalam
SeNaDa Mei – Agustus 2015 37
menghadapi mereka karena mereka sungguh kreatif dalam tingkat kenakalan.
Pengalaman yang saya alami dalam hal sepeleh antara lain membiasakan mereka untuk rapih dalam berpakaian dimana pakaian harus disisipkan, kaus kaki yang sudah panjang jangan ditekuk, kuku yang panjang dipotong, rambut dirapihkan. Hal-hal yang sederhana ini justru sulit bagi siswa-siswi untuk berpakaian sesuai dengan yang diharapkan. Biasanya jawaban mereka bila diingatkan adalah; wah….suster, nanti tidak kelihatan gaul”. Inilah salah satu pengaruh zaman dimana yang dikejar adalah gaulnya atau ngetrennya bukan soal kerapihannya. Maka setiap hari saya tidak pernah bosan mengingatkan mereka sehingga dengan sendirinya ketika bertemu saya, walaupun belum diberitahu mereka sendiri merasa tidak nyaman bila ada sesuatu yang tidak beres dengan penampilan mereka. Lain halnya dengan anak yang selalu rapih mereka akan dengan bangganya berkata kepada saya: suster…. coba lihat, saya selalu rapihkan? Terhadap hal-hal positif yang mereka lakukan, saya beri pujian untuk
SeNaDa Mei – Agustus 2015 38
semakin mendukung mereka berjuang melakukan sesuatu yang lebih lagi dalam hal-hal yang baik. Melalui pengalaman mendidik anak-anak untuk bertumbuh sebagai seorang pribadi yang baik, saya juga didik oleh Tuhan untuk belajar sabar dengan ketidaksabaran saya. Saya akui bahwa terkadang saya juga kurang memberikan kesaksian yang baik sebagai seorang yang terpanggil, apalagi menghadapi siswa-siswi yang hari ini diingatkan besok mengulangi lagi kesalahan yang sama dan terkadang ada unsur kesengajaan. Dalam doa-doa pribadi, saya selalu menghadirkan pribadi-pribadi ini dan membiarkan tangan Tuhan sendiri yang mendandani mereka. Disinilah saya memperoleh kekuatan dari Tuhan untuk terus belajar berproses dalam panggilan dan perutusan saya karena Dia (Tuhan) hadir dan meyakinkan saya bahwa: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).
Oleh karena itu dengan pengalaman-pengalaman pribadi dalam karya perutusan, juga peneguhan yang saya terima selama berproses bersama Sr. M.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 39
Syaloma, SND diawal masa tersiat semakin memperluas wawasan saya mengenai evangelisasi di zaman globalisasi ini. Salah satu hal yang ditekankan oleh suster dan sangat mengesan bagi saya adalah “Wanita modern perlu memiliki prinsip
hidup, agar tidak mudah terombang-ambing oleh perkembangan dan perubahan zaman, dan landasannya adalah Injil” karena Injil memberi
arah, pedoman, inspirasi, daya hidup, dan daya juang bagi seorang kristiani untuk mencari Allah dalam hiruk pikuk dunia zaman ini.
Maka bagi saya sebagai seorang religius, evangelisasi di era globalisasi ini merupakan tantangan dan sekaligus peluang. Tantangan (dalam arti positif) memberi daya bagi saya untuk semakin kreatif mencari cara dalam mewartakan kabar gembira Injil sehingga apa yang diwartakan sungguh-sunguh kontekstual.
Peluang dalam arti memberi kesempatan bagi saya untuk berpartisipasi dalam menghadirkan wajah Kristus melalui karya pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan melalui Kongregasi.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 40
Diakhir refleksi ini saya ingin mengatakan bahwa setiap pribadi dianugerahkan panggilan dan perutusan yang berbeda. Kita semua diberi tugas perutusan untuk menjadi pewarta Injil melalui panggilan hidup kita masing-masing. Apapun bentuk panggilan hidup kita baik sebagai Imam, Biarawan-biarawati juga hidup berkeluarga selalu ada tantangannya namun Yesus selalu berdoa untuk kita: “dan Aku tidak ada lagi dalam dunia,
tetapi mereka masih ada di dalam dunia dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita (Yoh 17:11).
Dengan kekuatan doa Yesus marilah kita saling
mendukung untuk setia sebagai seorang pewarta Injil dalam panggilan dan perutusan kita masing-masing.
“Kamu tidak diciptakan untuk dirimu sendiri. Hendaknya kamu bahagia menerima panggilan untuk melaksanakan tugas seperti yang dilakukan oleh Kristus dan para rasul-Nya” (Yulia Billiart, pelajaran rohani th. 1815)
SeNaDa Mei – Agustus 2015 41
P
ersembahan
H
idup
D
ari
K
eluarga
K
epada
T
uhan
( Sr. M. Yolenta, SND )
KELUARGA SR. M. YOLENTA,SND - DI NTT
Memaknai dan melestarikan adat istiadat Umat Allah di Nusa Tenggara Timor (NTT ), khususnya di Pulau Timor, bilamana ada salah satu anak dari keluarga Katholik yang masuk menjadi anggota tarekat atau Kongregasi Religius sebagai Suster, imam, dan Bruder, dangan suatu kebahagiaan yang penuh syukur, keluarga akan menyerahkan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 42
anaknya yang mengenakan pakaian adat, untuk mereka persembahkan kepada Allah dalam Gereja-Nya dan tarekat yang dipilihnya. Makna dari upacara pelepasan, sebagai tanda bahwa, orang tua meng-ikhlaskan, merestui, mendukung, pilihan cara hidup anaknya sebagai orang yang tersembahkan kepada Allah.
Begitu juga tradisi, adat istiadat dari keluarga Sr. M. Yolenta, SND.
Sesudah Suster Yolenta menyelesaikan pembinaan untuk persiapan Kaul Kekal di India selama 6 bulan, dan pada tanggal 10 Januari 2015, beliau mengikhrarkan kaul kekalnya di Pekalongan Indonesia.
Sesudah Kaul Kekal, Suster Yolenta diberi kesempatan untuk mengunjungi keluarganya di Belu – NTT. Dalam kesempatan itu, keluarga ambil bagian untuk ikut serta mengucap syukur kepada
SeNaDa Mei – Agustus 2015 43
Allah, dengan cara mennyelenggarakan. “Upacara
adat pelepasan tradisi masyarakat Belu“, sebagai
tanda bahwa Sr. M. Yolenta secara difinitif, telah mempersembahkan dirinya kepada Allah, yang direstui dan yang didukung oleh keluarga dengan penuh kasih sayang. Sehingga Sr. M. Yolenta dimantapkan dalam menjalani kehidupan baru dalam Tuhan.
Nilai rohani macam apa yang dapat kita petik dari adat pelepasan seorang anak dari keluarganya, untuk dibebaskan memilih dan menghayati cara hidup sebagai seorang biarawati Notre Dame?
Nilai rohani dibalik kebiasaan penyerahan anak kepada Gereja, yang disimbolkan dengan pemakaian kain adat kepada suster atau imam kepada pihak gereja, merupakan kebiasaan umat Allah di daerah NTT khususnya di pulau Timor. Nilai apa yang dapat kita petik dari Keluarga dengan kehendak bebas menyerahkan anaknya kepada Tuhan untuk menjalani panggilan khusus. Keluarga dengan penuh cinta dan syukur berlimpah mempersembahkan putra-putri-nya kepada Tuhan. Dan disimbolkan dengan pelepasan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 44
busana adat, namun itu tidak dimaksudkan untuk terlepas dengan keluarga namun tetap bersatu dalam ikatan rohani. Inilah kebiasaan keluarga orang Belu yang bisa kita ambil nilai rohaninya. Dengan pelepasan kain adat secara simbolis, merupakan wujud rasa syukur keluarga atas panggilan yang Tuhan berikan bagi salah satu anggota keluarga, membuat keluarga menyerahkan sepenuhnya putra-putri mereka untuk menjalani hidup panggilannya entah menjadi seorang suster, bruder atau romo.
Bagi keluarga bila salah satu anggota keluarga menjadi seorang religius, merupakan sebuah kebanggan dan juga berkat dari Tuhan untuk keluarga tersebut. Maka mereka sangat menghormati dan menghargai setiap kaum religius yang hadir ditengah mereka. Mereka mendukung dengan doa-doa mereka untuk kesetian anggota keluarganya dalam menjalani hidup panggilannya. Penyerahan anak yang menjadi suster, bruder atau romo kepada pihak gereja merupakan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 45
perwujudan keluarga dalam meneladani keluarga kudus Nazareth.
Ini yang dihayati oleh umat di Timor dalam perayaan syukuran dan pelepasan kain adat bagi putra putrinya yang masuk menjadi biarawan atau biarawati.
Kami mengharapkan semoga upacara yang indah, penuh syukur dan sarat akan makna spiritual itu, terawat dan terpelihara dengan baik dan dilestarikan. Sehingga ikatan Kasih sayang keluarga dengan anak tidak terputus, tetapi termaknai lebih dalam, dengan ikatan rohani, dimana kasih insani, terjelma menjadi ikatan kasih dalam Tuhan. Dibalik yang insani, kita dapat menemukan makna spiritual yang dalam. Semoga.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 46
P
embaharuanS
piritualitasP
endidikanN
otreD
ame( Sr. M. Syaloma, SND )
Sr. M. Syaloma SND, menjelaskan Tema:
“Pembaharuan Moderenisasi Spiritualitas Pendidikan Notre Dame,“ kepada guru-guru di SMA Notre Dame
Puri Indah – Jakarta. Senin, 22 Juni 2015
Berakar dari realita dunia pendidikan masa kini, yang terus menerus berkembang dan berubah, sejauh mana perubahan itu punya pengaruh dalam proses dan system pendidikan Notre Dame di Indonesia ?
SeNaDa Mei – Agustus 2015 47
Yayasan “Santa Maria“ bidang pendidikan Notre Dame di Indonesia, menjawab dan menyikapi masalah tersebut, dengan melalui refleksi dan evaluasi, keterbukaan dan kepercayaan penuh iman, kepada penyelenggaraan ilahi,
Dengan cara ini, kami yakin bahwa Allah akan bertindak secara nyata, untuk membimbing, mendidik, memurnikan motivasi, dan merevitalisasi rencana dan keputusan-keputusan Yayasan, dalam proses pembaharuan system pendidikan.
Untuk menindak lanjuti kerja Yayasan, maka kita menyelenggarakan sosialisasi yang bertema-kan : “Pembaharuan Moderenisasi Spiritualitas Pendidikan Notre Dame “
Bersama Unit-unit sekolah yang ada dibawah “Yayasan Santa Maria” untuk bersama-sama
menterjemahkan dan memaknai “ Prinsip – prinsip “ Nilai spiituallitas pendidikan Notre Dame , yang ter-inspirasi oleh System spiritualitas pendidikan Overberg, ke dalam realita pendidikan Notre Dame jaman sekarang, sejauh itu dibutuhkan .
SeNaDa Mei – Agustus 2015 48 Sr. M. Eth, SND menjelaskan makalah integrasi
” Nilai ke-SND-an ke kurikulum 2013 “ UNIT GURU – GURU SMA NOTRE DAME
SeNaDa Mei – Agustus 2015 49 Romo V. Sumanto Winoto Pr.
Romo Paroki Gereja Katolik St.Agustinus Purbalingga. Sedang menjelaskan makalah:
“ Pendidikan Sekolah Katolik Yang Unggul “
PARA GURU DAN KARYAWAN TK – SD – SMP Yayasan St. Maria Cabang Purbalingga,
SeNaDa Mei – Agustus 2015 50 Guru-Guru SMP St. Aloysius Denggung Dan
SMA St. Mikael Warak - Jogyakarta
Sr. M. Syaloma, SND sedang menjelaskan makalah: “ Pembaharuan spiritualitas Pendidikan Notre Dame”
Kepada para guru dan karyawan: SMP Aloysius dan SMA St. Mikael Warak di Wisma Samadi “ POJOK “
SeNaDa Mei – Agustus 2015 51
S
haring
P
engalaman
L
ive
I
n
Sr. M. Yolenta, SND
Kegiatan live in yang diadakan oleh MATRI keuskupan Purwokerto di paroki St. Petrus Pekalongan yang berlangsung tanggal 25-26 Juli 2015. Kegiatan live in ini diikuti oleh 31 peserta frater, bruder dan suster. mereka dibagi ke beberapa lingkungan. Pengalaman live in bersama umat merupakan pengalaman iman, dimana kami kaum religious bisa hadir ditengah keluarga dan membagi pengalaman dan perjalanan hidup panggilan kepada mereka.
Pengalaman saya dalam live in ini memberikan saya rahmat kekuatan dan peneguhan dengan
dukungan keluarga dan umat di lingkungan tempat
saya live in. kami dibagi ke setiap lingkungan oleh panitia dan saya mendapat di lingkungan Stefanus
bersama dua suster PBHK dan juga Sr. Paulina SND. Sebelum kami menuju ke rumah keluarga
masing-masing yang sudah ditentukan oleh ketua lingkungan, kami bersama ketua lingkungan mengunjungi seorang ibu yang sedang Sakit.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 52
Waktu itu saya berpikir ibu ini sakit secara fisik namun ternyata setelah kami bertemu ibu itu, ia secara fisik sangat sehat dan belum tua. Usianya sekitar 50an. Namun ternyata ia sakit phisikis. Beberapa persoalan keluarga yang tidak mampu ia jalani membuatnya ia depresi.
Kehadiran kami di rumahnya membuat ibu Maria terkejut, namun ia tetap menerima kami karena melihat kami seorang suster. ia mensharingkan pengalamannya tanpa rasa canggung. Ibu Maria merasa dikucillkan oleh keluarganya setelah ia bercerai dengan suaminya dan beberapa bulan yang lalu suaminya menikah lagi dan pindah ke agama Islam yang sebelumnya menjadi katolik karena menikah dengan ibu Maria.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 53
Dan satu bulan yang lalu anak laki-laki yang pertama, menikah dan masuk agama Islam. Ibu Maria sangat terpukul mendengarnya dan ia tidak menghadiri pernikahan anaknya. Dengan persoalan ini, membuatnya frustasi dan sampai meninggalkan gereja katolik dan sempat ke masjid memakai jilbab. Ia mulai mengucilkan diri dan tidak terlibat dalam kegiatan lingkungan.
Kehadiran kami membuat ia sadar dan ingin kembali ke gereja. Ibu Maria sangat bersyukur bahwa Tuhan telah mengirimkan kami untuk membawanya kembali ke gereja. Dengan niatnya yang baik ini, kamipun sangat senang bahwa kami berempat bisa menjadi alat Tuhan untuk menghantar kembali dombaNya yang tersesat. Dari pengalaman kunjungan ke tempat ibu Maria, saya memaknainya sebagai pengalaman iman, yang mana kehadiran saya dan teman-teman mampu membawa kehadiran Yesus sendiri bagi uma-tNya. Sebagai seorang religius hendaknya mampu
menghadirkan kasih Allh kepada sesama, dan
mampu pula membawa kembali domba Allah yang tersesat. Setelah kami pamit dari rumah ibu Maria, kami diantar ke rumah keluarga yang kami tempati. Saya mendapat keluarga ibu Elfrida yang adalah pendamping TPA santo Yosep.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 54
Malam itu diadakan pertemuan lingkungan dengan kami berempat. Dalam pertemuan bersama umat lingkungan santo Stefanus, kami berempat diminta untuk sharing pengalaman perjalanan panggilan kami mulai dari awal ketertarikan kami menjadi seorang suster dan juga tantangan-tantangan yang kami hadapi selama menjalani hidup panggilan menjadi seorang suster. dari sharing kami berempat, saya menyimpulkan bahwa Tuhan memanggil setiap pribadi dengan cara yang unik. Dan Tuhan memanggil pribadi yang bukan hebat dan sempurna, namun pribadi yang sederhana dan mau menanggapi tawaran Allah. Tidak setiap orang dipanggil Tuhan untuk menjadi seorang religius dan tidak setiap orang mampu menanggapi panggilan Allah untuk hidup membiara.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 55
Meski banyak tantangan yang kami hadapi namun kesetian dan ketekunan dalam menjalani panggilan ini memampukan kami untuk terus
berjuang dan Tuhan sendiri yang menjadi
pegangan hidup kami.
Dengan sharing bersama umat lingkungan Stefanus, kami berempat tentunya berharap bisa memberikan motivasi baru dan juga kesetian bagi
keluarga-keluarga dalam membangun bahtera rumah tangga mereka. Terlebih memberikan
pendidikan iman bagi anak-anak mereka, dengan membiasakan anak untuk berdoa dan juga mengikuti perayaan Ekaristi.
Dan juga semoga kehadiran kami ditengah keluarga-keluarga mampu menumbuhkan benih
panggilan yang ada dalam diri anak-anak dan
kaum muda sehingga mereka juga mampu menanggapi panggilan Allah dengan bergabung dalam hidup membiara entah menjadi suster, bruder
dan Imam.
Selain live in di lingkungan hari minggu kami memberi rekoleksi bagi Orang Muda Katolik
(OMK) dan juga putra putri Altar (PPA). kegiatan
SeNaDa Mei – Agustus 2015 56
Frater – Frater “ TORSA “
memimpin rekoleksi Orang Muda Katolik (OMK) dan Putra – Putri Altar ( PPA )
SeNaDa Mei – Agustus 2015 57
Kegiatan berlangsung dengan baik, dan memberikan kegembiraan bagi anak-anak dengan gaya para frater yang mengundang tawa anak-anak layaknya seperti Opera van Torsa.
Tanggapan setiap anak sangat interaktif dalam menjawab setiap pertanyaan dan juga mengikuti games yang diadakan.
Semoga dengan kegiatan rekoleksi ini mampu
menumbuhkan benih panggilan baru dalam diri
anak-anak untuk menjadi seorang suster, Bruder dan Imam. Tuhan telah menitipkan dalam hati kita segala benih, tinggal bagaimana kita memilihnya kelak.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 58
KESAKSIAN PERJALANAN PANGGILAN Suster, Bruder dan Frater Di Gereja Paroki St.
Petrus Pekalongan - Minggu, 26 Juli 2015
Keterlibatan Suster Muda SND, dalam kegiatan Tahun Hidup Bakti MATRI - Dekanat Utara Di Paroki St. Petrus – Pekalongan, 25 – 26 Juli 2015
SeNaDa Mei – Agustus 2015 59
Keterlibatan Para Suster Lansia SND Dalam Lomba Dakon Dan Memasukkan benang di Lobang Jarum, dalam rangka HUT ke 85 Paroki St. Petrus – Pekalongan: Minggu: 2 Agustus 2015
Sr. M. Klaudia, SND
SeNaDa Mei – Agustus 2015 60 PESERTA LOMBA DAKON DARI LANSIA
SNDLANSIA SND
Sr. M. Viane, SND
Sr. M. Krisanta, SND
SeNaDa Mei – Agustus 2015 61
P
ujianS
yukurD
anT
rimakasihSr. M. Syaloma, SND
Amsal. l22:6 mengajarkan bahwa sebagai orang tua, kita mempunyai tanggung-jawab untuk mendidik anak-anak kita pada jalan yang harus mereka jalani. Bagaimana teks ini dihayati oleh Suster Maria Lourensia, yang pada hari Sabtu pagi, tanggal 18 Juli 2015, telah dipanggil Tuhan, meninggalkan keluarga besar para Suster Notre Dame, di Provinsi Bunda Penasehat Yang Baik .
Suster Maria Laurensia kami kenal sebagai seorang Suster yang mandiri, disiplin, tanggungjawab dan tidak mau membebani atau menyusahkan orang lain, baik itu melalui kata-kata, maupun tindakan.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 62
Untuk dapat menyenangkan para Suster, Suster Laurensia suka membuat roti, sele, dan rujakan, kalau ada pesta atau hari Minggu. Sikap inilah yang begitu mengesan didalam hati para Suster. Apa sebenarnya yang mendasari sikap kemandiriannya itu ?
Suster dalam menghayati hidup religious-nya, setia menghayati pesan mama-nya, yang mengatakan bahwa: kamu jangan menjadi orang:
yang ”Lek – Luk“ artinya: “Saben melek mata,
njaluk“ (setiap bukak mata meminta sesuatu). Itulah cara orang tua mendidik dan mengajar anaknya supaya hidup mandiri, dan tanggungjawab atas hidupnya sendiri, kasarannya supaya putra-nya juga tidak nggragas.
Setiap kali Suster punya Indo Cofe saya pasti ditawari, dan pernah Suster meletakkan Indo Cofe di atas buku doa dikapel, karena hari itu saya pergi, dan tidak ketemu, pada waktu saya mengambil buku doa saya kaget karena ada Indo Cofe jatuh, dikiranya saya menyembunyikan Indo Cofe di kapel, sialan juga. Dan kalau saya batuk-batuk, Suster pasti sudah siap memberi saya permen FOX sambil berkata, ini permen sekarang dimakan, jangan bilang-bilang yang lain !
SeNaDa Mei – Agustus 2015 63
Satu bulan sebelum Suster Laurensia meninggal, Suster sudah mengumpulkan bahan-bahan renungan dan bahan retret yang suster miliki atau buku renungan harian “CAFÉ“, saya diajak ke kamarnya, dan beliau berkata: “ini bahan-bahan renungan untuk kamu, saya sudah tidak pakai, dan kamu pasti bisa memakainya, supaya nanti tidak banyak Oupremen (ngringkesi). Saya senang membaca majalahmu ! Dan bahan renungan itu sudah saya pilah-pilah dan saya bendel.
Suster Maria Laurensia adalah seorang pribadi yang tidak mau merepotkan orang lain. Maka Tuhan memberikan hari bahagia dalam wafatnya, dimana para karyawan hampir semua cuti. Karena hari itu Hari Raya Idulfitri – 18 Juli 2015. Dan banyak juga Suster yang ambil cuti, karena tidak semua berasal dari keluarga Katholik. Bungapun tidak ada di Pekalongan. Tetapi karena cinta yang tulus dari para Suster kepada Sr. M. Laurensia, para Suster datang membawa bunga dan perlengkapan yang diperlukan, sehingga suasana duka berubah menjadi hari penuh syukur, karena apa yang menjadi impian St. M. Laurensia terpenuhi.
SeNaDa Mei – Agustus 2015 64
Melihat aneka warna bunga yang ada di altar dan sekitarnya, ada pelayat yang hadir berkata:
“Misa kematian kok seperti Misa pesta”
Suster juga memiliki lagu faforit, yang memiliki banyak makna dan pesan yang indah didalam hidupnya. Dan beberapa Suster menyanyikannya disamping kiri kanan petinya sebelum akhir Misa Kudus.
PUJI SYUKUR DAN TERIMAKASIH 1. Betapa baik Tuhan yang mahabaik
Seluruh hidupku hanya atas kebaikan-Mu, Tuhan, Engkau yang selalu menuntun saya masuk ke tanah air surgawi
SeNaDa Mei – Agustus 2015 65 Engkau yang selalu penuh kasih sebagai Bapa, Yang selalu mendampingiku di segala jalan hidupku Betapa baiknya Tuhan, Engkau selalu baik untukku.
2. Kasih-Mu yang suci itu, suatu hiburan bagi jiwaku dalam penderitaan. Bagaimana saya dapat berterimakasih atas segala kebaikan dan kasih-Mu. Dalam mati dan hidupku dapat bersatu dengan-Mu. Betapa baiknya Tuhan, Engkau selalu baik untukku.
3. Saya ingin mencintai-Mu dengan seluruh jiwa dan hatiku
Untuk hal-hal duniawi saya tak terpikat
Karena saya jadi milik-Mu didalam kegembiraan dan kedukaan Hanya untuk-Mu saja ingin bekerja dan menderita, Hanya untuk Yesus,
Yesusku sampai saya diperbolehkan bersama-Mu Untuk selama-lamanya Betapa baiknya Tuhan, Engkau selalu baik untuk-Ku
MISA REQUIEM DIPIMPIN OLEH ROMO M. SHEKO PR PASTOR PAROKI
SeNaDa Mei – Agustus 2015 66
Selamat jalan Susterku yang tercinta, engkau bagaikan ibuku. Teladan hidupmu menjadi warisan berharga untukku. Disana kau bertemu dengan para suster yang telah mendahuluimu.
Kau kan berpesta dialam keabadian, dan apa yang kau rindukan, telah terjadi dihari wafatmu
SeNaDa Mei – Agustus 2015 67
Keluarga Sr. M. Laurensia, SND
S
elamatJ
alanS
usterM
ariaL
aurensiaAllah Tri Tunggal dan para Suster Menyambutmu Disorga
SeNaDa Mei – Agustus 2015 68
Perayaan 40 Th berdirinya
R.S.U. Budi Rahayu 15 Mei 2015
( Sr. M. Syaloma, SND )
Missi Yesus ke dunia, yang hadir ditengah kita adalah: Penyelamatan Allah, dalam karya penyembuhan orang sakit. “Jikalau kamu masuk
kedalam sebuah kota, dan kamu diterima disitu, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu. Dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka : Kerajaan Allah sudah dekat padamu “ ( Luk. 10: 8 – 9 )
Kuncinya adalah “IMAN: yang menyelamatkan“ Jaminannya adalah: Yesus memberi kuasa untuk
SeNaDa Mei – Agustus 2015 69
murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk
mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan
segala penyakit dan segala kelemahan. ( Mat. 10: 1 )
Spiritualitas Yesus tidak akan lapuk dimakan jaman. Ialah menghayati cinta, men ghadirkan cinta
Allah lewat karya pelayanan kesehatan.
Begitu juga spiritualitas Kongregasi SND ialah:“Menjelmakan Kasih Allah Yang Mahabaik
Dan Penyelenggara“ Sehingga medan karya kesehatan RSU “Budi Rahayu“ menjadi medan keselamatan Allah yang hadir di tengah masyarakat Pekalongan.
Melihat perkembangan fisik dari pembangunan gedung tahap demi tahap yang semakin lengkap, dan dalam proses mempersiapkan tenaga medis yang semakin professional, diharapkan bahwa RSU “Budi Rahayu”semakin mantap dalam memberikan pelayanan, dengan rendah hati, sabar, sederhana, ramah dan yang diberikan adalah apa yang terbaik, untuk pasien, sehingga mereka sembuh dan pulang dengan membawa berkat Tuhan.