Daftar Isi
Laporan Utama |
6
Riyanto Wahyudi berhasil memasukkan batik ke pasar Afrika. Produknya diambil dari para perajin di Solo dan Pekalongan. Perdana Menteri dan Presiden Namibia pun memakai batik.
Namibia termasuk kategori negeri maju di Afrika. Pasarnya masih sangat terbuka bagi komoditas negara lain.
Indonesia sudah berhasil memasukkan sejumlah produk. Obat-obatan, alat kesehatan, dan kosmetika masih sangat dibutuhkan.
Apa yang anda ketahui tentang pohon pinang? Mungkin anda baru ingat pohon ini tiap menjelang perayaan hari Kemerdekaan RI sebagai media untuk permainan panjat pinang. Tapi apakah anda tahu buahnya?
Info Pasar |
22
Apresiasi |
14
Salam Redaksi ... 3 Surat Pembaca ... 4 Laporan Utama... 6 Wawancara ... 10 Jalan-Jalan ... 13 Apresiasi ... 14 Teropong ... 16 Etika Bisnis ... 18 Hukum ... 19 Kiat Bisnis ... 20 Info Pasar ... 22 Serba-Serbi ... 26 Aksesiana ... 30 Siapa Mengapa ... 32 Renungan ... 34 Kontak Usaha ... 36EDISI 28 - 20144AKSES | 3 http://akses.kemlu.go.id
Salam Redaksi
#
Susunan Dewan Redaksi Majalah Akses
Volume 28 / Edisi Maret 2014
Pelindung :
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Yuri O.Thamrin
Penasehat :
Sekretaris Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika
Ratu Silvy Gayatri
Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi :
Harlan Hakim Dewan Redaksi : Hadi Syarifuddin Yonatri Rilmania M. Aji Surya Garnijanto Bambang W. Redaktur Pelaksana : Harlan Hakim Staf Redaksi : Rudy Kurniady Yohanes Jatmiko Heru Prasetyo
Siti Fauziah Dyah Kuncorowati Haryadi Satya Nidya Kartikasari Yunikeiserina Hidayat Hadi Tjahjono Stella Kemala Eneng Siti Sondari
Jhon Purba
Pemelihara Situs Web :
Puspa Bangun Subekti Lucky Irwansyah Administrasi : Cahyono Rustam Distribusi : Kuswandi Agung Yudono M. Nuruzzaman Sukardi Sudarmadi Diah Setyorini Agus Sumarjo Ismail
Pembaca yang terhomat,
S
enang rasanya dapat kembali menyapa Bapak-Ibu sekalian setelah tiga bulan lamanya belum bertemu.Setelah mengulas Kazakhstan di belahan Benua Asia Tengah pada edisi bulan Desember tahun lalu, kali ini Akses akan mengupaslengkap negara Namibia dengan mengangkat tema “Namibia Sebagai Pintu Gerbang Ekspor Kita”. Namibia adalah salah satu negara dengan kondisi dan tingkat pertumbuhan ekonomi terbaik di Benua Afrika. Sebagai sebuah negara yang tengah giat membangun, Namibia amat tergantung pada impor dan perdagangan internasional. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi Namibia yang sehat –diikuti dengan berkembangnya tingkat konsumerisme masyarakat– menghadirkan sejuta peluang.
Untuk memenuhi kebutuhannya, negara yang kaya akan mineral ini banyak membeli produk tetangga-tetangga terdekatnya. Menariknya, Namibia juga banyak mengkonsumsi produk Indonesia, mulai dari barang konsumsi, pakaian dan tekstil, kerajinan dan meubel, hingga alat-alat pertanian. Namun cukup disayangkan bahwa potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain karena pengusaha Indonesia umumnya masih terperangkap pada paradigma ekspor ke pasar tradisional Eropa Barat dan Amerika Utara, produk-produk Indonesia yang laku di pasaran Namibia umumnya masih masuk lewat negara ketiga, khususnya Afrika Selatan. Sejumlah produkIndonesia yang masuk secara langsungke Namibia pun belum dioptimalkan pengerjaannya untuk dapat bertahan dan dipergunakan secara khusus di negara beriklim kering ini, sehingga sering tidak tahan lama. Menyadari pentingnya menjembatani kendala-kendala tersebut, Akses juga akan menyajikan hasil wawancara tim reporter kami dengan Duta Besar LBBP RI untuk Namibia di Windhoek.
Selain, mengupas tuntas mengenai potensi ekonomi Namibia bagi pengusaha ekspor Indonesia, Akses juga akan mengulas usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Namibia untuk menjadikan Pelabuhan Walvis Bay sebagai trade hub bagi arus keluar-masuknya barang untuk kawasan selatan Benua Afrika. Untuk melengkapi pembahasan ekonomi, kami juga akan membahas mengenai aspek hukum perusahaan di Namibia serta etika bisnis untuk Bapak-Ibu yang tertarik akan peluang usaha di Namibia.Tak lupa pula kami hadirkan ulasan potensi wisata yang ditawarkan negeri The Gods Must Be Crazy ini, baik ekowisata maupun wisata budaya.
Sebagai suplemen, Akses juga akan menyajikan mengenai prospek dan peluang usaha di Australia pada rubrik kiat bisnis, info pasar berupa peluang ekspor buah pinang dan produk kelapa sawit di India, serta serba-serbi UKM di Lampung.
Akhirnya, mewakili seluruh redaksi Akses, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak-Ibu untuk senantiasa menikmati sajian
kami. Selamat menikmati Akses volume 28. Harlan Hakim
Konfirmasi Alamat Pengiriman
Dear redaksi Majalah Akses,Saya ingin mendaftarkan Dosen saya di IPB untuk mendapatkan majalah Akses secara rutin. Kapan Majalah Akses akan dikirim lagi setelah periode November kemarin? Ingin mengkonfirmasi 3 alamat untuk pengiriman selanjutnya. Tolong dimasukkan dalam list pengiriman :
NUR HIDAYAT, S.TP Jl. Cililitan Besar RT 05 RW 01 No. 30
Jakarta Timur, 13640 DR. HAMzAH, M.SI JL. JATI NO. 4 PERUMAHAN DOSEN IPB, KAMPUS IPB DRAMAGA, BOGOR 16680 DR. IRMANSYAH, M.SI Kepala Badan Pengelola Asrama TPB IPB Asrama Putri, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 Terima kasih.
Nur Hidayat
Jawaban Redaksi:
Permintaan Anda telah kami penuhi. Ketiga nama tersebut kami masukkan dalam list pengiriman Majalah Akses. Edisi berikutnya akan kami kirim pada bulan Maret 2014.
Menggugah Semangat
Saya pernah mendapatkan Majalah Akses, bahkan meminta dari team redaksi sekalian atas nama PT. Mayora, namun sekarang saya sudah pindah perusahaan ke PT. Monde. Selain itu saya juga mendapatkannya saat Tim Kemenlu mengadakan Forum di Universitas, saat itu Pak Nelson dari Kemenlu Afrika datang di acara tersebut.
Isi dari majalah tersebut menggugah kami untuk tetap semangat dalam melakukan ekspor keluar, memberikan banyak pengetahuan tentang budaya- budaya luar, pameran- pameran, dan lain-lain. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan membaca majalah Akses.
Saya berdoa agar Team Redaksi Akses tetap sehat dan semangat menuliskan informasi- informasi yang berharga bagi kami. Terakhir saya mendapatkannya akhir Juni.
Terimakasih Salam
Rose Mariana
Jawaban Redaksi:
Ibu Rose, terima kasih atas penghargaan dan do’a restu Anda terhadap Majalah Akses, semoga Majalah Akses bisa menemui Anda secara berkelanjutan.
Ingin Berlangganan Akses
S e l a m a t p a g i B a p a k / I b u , p e r ke n a l k a n , s a y a : R a h m a d D j a t m i k o b e r a l a m a t d i Jl.Rajawali 511 RT.10 RW.04 Sumberrejo, Bojonegoro. Bolehkah saya meminta langganan majalah yang instansi Bapak/Ibu keluarkan per 3 bulan?
Terimakasih Rahmad Djatmiko Sumberrejo, Bojonegoro
Jawaban Redaksi:
Pak Djatmiko, terima kasih atas minat Anda terhadap Majalah Akses, kami akan mengirimkan majalahnya secara rutin dan cuma-cuma ke alamat Anda.
Ingin mendfapatkan Majalah Akses
Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh. Alhamdulillaah.
Kami dari PT Rempah Agro Indonesia. Bagaimana cara mendapatkan Majalah Akses?
Dan ini alamat kami:
Adhi Karyadi Prihandono, Perum Koperindag Blok G No. 10, Sumber Jaya, Tambun Selatan, Bekasi 17519, Jawa Barat. Phone: 021-40101093, 0813 17 963 963, 08777 12345 93. Terima kasih. Jazaa Kallaahu Khoiron. Aamiiiiin.
Hormat kami,
Adhi
Mas Adhi yang terhormat,
Terima kasih atas minat Anda untuk berlangganan Majalah
Akses. Mulai terbitan yang akan datang, kami akan mengirimkan Majalah Akses ke alamat Anda.
Ucapan Terima kasih
13 Januari 2014 Kepada Yth.Bapak Pimpinan Redaksi
Majalah Akses Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika
Jln. Taman Pejambon No. 6 Jakarta Telp. : 021-3849889 Fax : 021-3513094
Dengan hormat,
Bersama ini kami sampaikan kepada Bapak, bahwa kiriman sumbangan berupa Buku/Majalah & Jurnal sebanyak 1 (satu) eksemplar telah kami terima dengan baik yaitu :
AKSES : Menuju Gerbang Pasar Dunia DOBRAK PASAR KAzAKHSTAN Vol : 27/Desember 2013 Demikian disampaikan; atas perhatian, bantuan serta kerja sama yang baik diucapkan terima kasih dan kami mengharapkan kiriman terbitan berikutnya.
A.n. Rektor
Kepala Perpustakaan Universitas Bung Hatta ttd
Ir. Yuspardianto, M. Si
Tembusan :
Rektor Universitas Bung Hatta (sebagai laporan) Arsip
Terima kasih atas perhatian Anda terhadap Majalah Akses. Kami akan senantiasa mengirimkan Majalah untuk bahan referensi Perpustakaan Universitas Bung Hatta.
Penyampaian tambahan informasi pada artikel “Menembus Pasar Kazakhstan melalui Kebudayaan” pada majalah Akses Edisi 27 tahun 2013.
Merujuk perihal tersebut pada pokok surat, disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Direktorat Asia Selatan dan Tengah telah menerima majalah Akses edisi 27 tahun 2013 yang mengulas tema utama “Mendobrak Pasar Kazakhstan” dan menyampaikan apresiasi pada tim majalah Akses yang telah mengulas peluang usaha di Kazakhstan dan gambaran hubungan bilateral Indonesia dan Kazakhstan secara komprehensif dan menarik.
2. Berkenaan dengan artikel tentang “Menembus Pasar Kazakhstan melalui Kebudayaan” yang menggambarkan upaya menembus pasar Kazakhstan melalui diplomasi kebudayaan, hal ini merupakan satu sudut pandang yang menggambarkansemakin dekatnya hubungan kedua negara. Sebagai catatan pihak Kazakhstan pada paruh pertama 2014 ini juga akan melakukan Kazakhstan Days of Culture di Jakarta, yang memperlihatkan gayunhg bersambut dari upaya-upaya diplomasi kebudayaan yang telah dilakukan Indonesia. 3. Untuk ini, Direktorat Asia Selatan dan Tengah menyampaikan tambahan informasi sbb :
1. Indonesian Days of Culture di Kazakhstan tanggal2-4 September 2013 lalu terselenggara atas fasilitasi dan kerjasama dari Kemenlu, Kemendikbud, Kemenparekraf, KBRI Tashkent dan Pemerintah Kazakhstan.
2. Indonesian Days of Culture menampilkan pameran kain dan busana tenun Indonesia dari Cita Tenun Indonesia dan pameran foto IKJ yang terselenggara atas fasilitasi dan kerjasama (termasuk dukungan pendanaan) dari Direktorat Diplomasi Publik, Kemlu. Sementara pentas seni merupakan fasilitasi dari Kemendikbud (Sanggar Tari Mawar Budaya) dan Kemenparekraf (STSI Bandung).
3. Terkait dengan tambahan informasi di atas yang cukup penting untuk diketahui pembaca Akses, mohon kiranya hal ini dapat dimuat pada catatan redaksi ataupun surat pembaca majalah Akses pada edisi berikutnya.
Terima kasi
Direktur Asia Selatan dan Tengah Listyowati
Rubrik ini dari kita untuk kita.
Silakan mengirimkan tanggapan, saran, dan kritik serta pertanyaan Anda ke redaksi AKSES melalui faksimil: (021) 351 3094 atau e-mail: [email protected]
Laporan Utama
Namibia termasuk kategori negeri maju di Afrika. Pasarnya
masih sangat terbuka bagi komoditas negara lain. Indonesia
sudah berhasil memasukkan sejumlah produk. Obat-obatan, alat
kesehatan, dan kosmetika masih sangat dibutuhkan.
P
ernahkan Anda menontonfilm “Gods Must be Crazy”? Film komedi buatan Hollywood yang dirilis tahun 1990-an itu mengambil lokasi syuting di gurun Namibia. Nama Namibia mungkin masih asing di telinga kita. Seperti ditampilkan dalam film tadi, kesan pertama yang timbul mengenai negeri Afrika ini adalah gurun pasir, hewan-hewan liar, dan kehidupan masyarakatnya yang masih terisolir.
Namun, kesan itu tak sepenuhnya benar. Sesungguhnya, meskipun negeri ini masih terhitung muda, Namibia sudah bisa dikatakan sebagai negeri berkembang yang potensial. Sejak merdeka pada 1990 dari administrasi Afrika Selatan, Namibia memang sedang terus membangun perekonomiannya, yang tentu saja berdampak pada terbukanya pasar negeri ini bagi negara lain.
Republik Namibia kini bahkan termasuk salah satu dari delapan besar kategori negara maju di benua Afrika. Negara yang beribukota di Windhoek ini dikenal memiliki budaya yang beraneka ragam dan sejarah yang unik. Hingga kini, nilai-nilai keragaman budaya itu masih tetap dipertahankan. Hebatnya, tanpa mengurangi nilai-nilai budayanya, Namibia tetap terbuka terhadap budaya asing yang masuk. Memiliki visi menjadikan Namibia negara industri maju pada 2030, pemerintah Namibia kini semakin gencar meningkatkan hubungan dan kerjasama ekonomi dengan negara-negara sahabatnya, mempromosikan sumber daya alam, dan mengembangkan kebijakan di berbagai sektor. Dengan demikian, sudah pasti Namibia akan membuka pintu masuk bagi komoditas-komoditas internasional.
Namibia merupakan negara eksportir mineral non-bahan bakar
terbesar ke-4 di Afrika dan produsen uranium terbesar ke-5 di dunia. Setengah dari total pemasukan Namibia didapat dari pasar ekspor di sektor industri pertambangan dan pengolahan mineral. Pada 2011, tercatat nilai ekspor Namibia berkisar US$ 4,568 milyar. Angka itu memang masih di bawah angka nilai impornya yang berkisar US$ 5,345 milyar. Komoditas ekspor utama Namibia didominasi oleh berlian, tembaga, emas, timah hitam, seng, uranium, ternak, ikan olahan, minuman (termasuk minuman keras), serta barang dan jasa. Sedangkan komoditas impornya mencakup besi/baja, minyak bumi, mesin, peralatan listrik, produk farmasi, dan bahan plastik.
Mitra dagang Namibia mayoritas adalah negara-negara tetangga, yakni Afrika Selatan, Angola, Bostwana, dan zimbabwe. Karena itu, jika Indonesia mampu mengembangkan ekspornya ke Namibia, maka pintu untuk memasuki ekspor ke negara-negara tetangganya pun dapat terbuka.
Peluang Indonesia
Sejauh ini, Indonesia sudah berhasil mengekspor sejumlah komoditas ke Namibia. Produk Indonesia yang telah masuk pasar Namibia antara lain sardines, sabun batangan, buku tulis, furniture kayu, alat pertanian, marmer, batu perhiasan, tekstil atau garmen, serta bambu atau rotan dengan total US$ 3.327.731. Sebaliknya, Indonesia mengimpor minyak ikan, kulit sapi, peralatan rumah tangga, peralatan menggambar, dan aneka ragam kertas dan karton dari Namibia dengan total US$ 404.980.
Selain memiliki kekayaan mineral yang melimpah ruah, Namibia juga memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Karena itu, bahan baku dan alat-alat pertanian juga dibutuhkan Namibia.
Laporan Utama
Potensi Besar di Tengah Gurun
Dengan begitu, pastinya Indonesia berpeluang besar mengekspor bahan baku dan alat pertanian ke negeri beriklim sub-tropis nan kering itu, mengingat Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki produk-produk agro industri yang unggul.
Di Namibia, produk obat-obatan, alat kesehatan, dan kosmetika masih sangat dicari dan tingkat konsumsinya semakin meningkat, sehingga Indonesia juga berpeluang memperkenalkan produk farmasi dan kosmetika. Kosmetika Indonesia terkenal unggul karena dibuat dari racikan rempah-rempah alami. Karena itu, pengusaha kosmetika Indonesia memiliki peluang besar untuk memasarkan produknya ke Namibia, bahkan ke negara-negara lain di Afrika. Namun, sebelumnya harus dipastikan terlebih dahulu mengenai jenis produk kosmetika yang cocok dengan para konsumen di sana.
Di wilayah industri Oshikango, terdapat beberapa perusahaan importir produk dari Indonesia, antara lain, Sanzi Impor Expor Cc dan Sigma sebagai importir bahan makanan, serta Ezzy Export Import yang merupakan importir furnitur. Peluang pasar di Namibia masih sangat terbukam terutama bagi produk makanan olahan, furnitur, dan sabun atau deterjen. Kondisi ini didukung oleh tingkat konsumerisme masyarakat Namibia yang makin meningkat beberapa tahun terakhir, bahkan diprediksi dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini tentu saja memberi peluang untuk semakin meningkatkan ekspor Indonesia ke Namibia. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan eksportir ke Namibia. Salah satunya adalah PT. Sinar Antjol,
yang mengekspor sabun atau deterjen, margarine, ikan kaleng, body lotion, dan bedak ke Namibia dengan penjualan per bulan sekitar lima kontainer.
Komoditas lainnya yang sangat berpeluang untuk diekspor ke Namibia adalah produk-produk kerajinan, terutama kain batik. Kain batik yang makin populer karena kerap dikenakan oleh pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, kini mulai diminati di negara-negara sekitar Afrika Selatan, termasuk Namibia. Awalnya batik hanya dipakai oleh para pejabat dan kalangan elit saja. Namun kini batik mulai digemari oleh hampir seluruh masyarakat. Batik bahkan tidak hanya dipakai di situasi resmi seperti rapat, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari.
Export Processing Zone
Namibia kini sedang giat membangun. Pemerintah Namibia, melalui Kementerian Keuangan dan Bank of Namibia menetapkan Export Processing zone (EPz) untuk mendukung program industrialisasi pasar ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian negara. Dengan adanya EPz, waktu pengiriman barang menjadi lebih efisien karena tidak dilakukan pemeriksaan fisik di pelabuhan. Pengusaha yang masuk dalam EPz dapat mematok harga yang kompetitif karena mendapatkan fasilitas perpajakan dan kepabeaan. Dengan begitu, waktu produksi juga bisa lebih terjamin. EPz juga memiliki kegiatan sub-kontrak yang memungkinan pemerintah Namibia mengembangkan program keterkaitan antara perusahaan besar, menengah, dan kecil.
Infrastruktur dan sektor
perbankan sudah cukup berkembang di Namibia. Kualitas infrastruktur fisik dan fasilitas umum Namibia menduduki peringkat terbaik ke-58 dari 142 negara di dunia, dan kemajuan pasar finansial Namibia menduduki peringkat ke-36 di dunia. Karena jumlah penduduknya masih rendah, kota-kota Namibia tidak mengalami kemacetan lalu lintas, termasuk di ibukota Windhoek --yang hanya dihuni sekitar 200.000 jiwa. Infrastruktur jalan sangat terawat. Jalan-jalannya mulus, hampir tidak ditemukan jalan yang rusak, apalagi berlubang, karena jumlah pengguna jalan relatif sedikit. Kondisi itu membuat para pengendara dapat menikmati fasilitas jalan raya dengan aman dan nyaman.
Namibia diapit oleh dua gurun, yakni gurun Namib di sepanjang garis pantainya, dan gurun Kalahari di pedalaman. Namibia memiliki tanah yang kering, dan justru itulah yang membuat negeri ini menjadi tujuan wisata yang unik. Destinasi wisata yang direkomendasikan di Namibia antara lain adalah kota pasir Kolmanskop, puncak granit Spitzkoppe, kota pantai Swakopmund, dataran garam dan dataran liat Sossusvlei, lembah sungai ikan Fish River Canyon, serta taman nasional Etosha. Tidak ketinggalan, ada pula wisata budaya Suku Himba atau Suku Merah.
Suku nomaden ini disebut suku Merah karena kulit penduduk wanitanya berwarna merah. Warna merah itu bukan berasal dari genetika secara alami, melainkan dari sejenis pasta berwarna merah tanah. Sudah menjadi tradisi bagi para wanita suku Himba untuk memandikan tubuh
mereka dengan cara mengoleskan pasta itu ke kulit dan rambut. Sejak tahun 1990-an, Suku Himba tetap mempertahankan kebudayaannya itu tanpa menutup diri dari budaya asing. Hebatnya, mereka justru dapat memanfaatkan keunikan itu sebagai komoditas pariwisata.
Hubungan dengan Indonesia
Hubungan bilateral Indonesia-Namibia sebenarnya telah terjalin sejak sebelum Namibia merdeka. Kini hubungan itu semakin erat lagi dengan ditekennya berbagai jenis kerjasama. Kerjasama di bidang pendidikan misalnya, terwujud dengan ikut sertanya Namibia dalam program beasiswa di Indonesia. Sejumlah mahasiswa Namibia memperoleh program beasiswa dari Indonesia seperti DARMAWISMA, Summer Program di UGM, dan beasiswa S1 Kemitraan Negara Berkembang. Indonesia juga memberikan bantuan sumbangan dana kepada beberapa sekolah dan lembaga pemerintah di Namibia melalui KBRI.
Di bidang kebudayaan, Namibia membantu mempromosikan tempat wisata dan keragaman budaya Indonesia melalui penyebaran brosur, booklet dan VCD. Film-film Indonesia seperti “Banyu Biru, “Rindu Kami Padamu”, “Opera Jawa”, dan “Laskar Pelangi” telah ditayangkan di Namibia sejak tahun 2006 dalam Festival Film Windhoek. Kerjasama lainnya masih terus dijajaki untuk dijalin, untuk meningkatkan keeratan hubungan kedua negara.
Dengan hubungan yang lebih erat itu, diharapkan akan tergali peluang-peluang kerjasama bisnis, terutama bagi UKM Indonesia, mengingat pintu pasar Namibia yang masih terbuka lebar bagi produk negara lain. Peluang ekspor Indonesia ke Namibia merupakan kesempatan besar yang perlu dijajaki melalui upaya-upaya kerjasama strategis. Melihat dari sisi perkembangan harga dan pasar Namibia, peluang masuknya komoditi pertanian, kosmetik, produk sabun, dan kerajinan tangan sangat menjanjikan. Untuk itu, potensi dan jalur pasar ekspor ke negeri ini harus diperhitungkan secara detail mulai dari teknis hingga biayanya. Pemerintah dan para pelaku UKM di Indonesia harus jeli melihat peluang dan mampu menerapkan strategi perdagangan yang efektif.
Nurul Fitri ramadhaNi
A
frika, adalah benua yang menjanjikan banyak potensi bagi pengusaha yang mau mengubah mindset dan berani menangkap peluang. Afrika, selain kaya akan sumber daya alam berupa minyak, gas dan mineral, secara meyakinkan juga terus menunjukan tren pertumbuhan ekonomi yang positif. Afrika, yang dulu dikenal sebagai benua berstigma negatif, kini tengah bertransformasi menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang pesat.Salah satu Negara Afrika yang sedang bertransformasi itu adalah Namibia. Namibia terletak di Afrika bagian selatan dengan populasi 2,2 juta orang (perkiraan pada Juli 2013). Meskipun jumlah itu relatif kecil, namun dari segi perdagangan, Namibia berpotensi sebagai gerbang masuk produk ke kawasan Afrika bagian selatan, khususnya negara-negara anggota Southern African Development Community (SADC) yang lain.
Dalam wawancara dengan Tim Akses, Duta Besar Indonesia untuk Namibia, Agustinus Sumartono
mengungkapkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan bahwa pengusaha dari negara-negara lain lebih memilih Pelabuhan Walvis Bay di Namibia sebagai entry point produknya ke wilayah Afrika bagian selatan, daripada melalui Pelabuhan Luanda, Angola. Pelabuhan Luanda dirasakan sudah terlalu padat sehingga dalam banyak kasus, proses treatment produk yang masuk ke pelabuhan itu dapat memakan waktu hingga satu tahun.
Merespons kecenderungan itu, saat ini Pemerintah Namibia sedang berambisi untuk memperbesar kapasitas Pelabuhan Walvis Bay di samping meningkatkan dan memelihara infrastruktur pendukung seperti jalan raya dan fasilitas perkantoran.
Memperhatikan potensi Namibia, beberapa negara seperti Jerman, Afrika Selatan, China, Jepang dan Korea telah memanfaatkan peluang kerja sama baik melalui perdagangan atau pun investasi.
Produk Indonesia di Namibia
Tim Akses berkunjung ke toko furnitur di Swakopmund dan
sentra produk kerajinan di Windhoek. Penjualnya membeli
produk langsung baik dari Indonesia maupun dari
negara ketiga.
Lantas, bagaimana peluang produk Indonesia di Namibia? Produk Indonesia yang telah masuk dan diterima dengan baik oleh pasar Namibia antara laian furniture, handicraft, produk makanan dan minuman, pakaian, kosmetik dan toiletries, footwear, otomotif dan produk kesehatan.
Produk Indonesia di
Swakopmund
Pada Desember 2013 lalu, dengan difasilitasi oleh KBRI Windhoek, Tim Akses telah melakukan kunjungan ke pusat handicraft dan furniture di Namibia, yaitu Kornblum & Co., Habitat dan Namcraft. Kornblum & Co adalah toko pusat furniture yang terletak di Swakopmund, sekitar 361 km dari Windhoek. Toko yang memiliki beberapa cabang di Swakopmund ini dimiliki oleh seorang warga Namibia keturunan Jerman bernama Jean Theron. Selain memiliki Kornblum & Co., Jean Theron juga merupakan pemilik Habitat, toko aksesoris dan dekorasi rumah yang terletak bersebelahan dengan Kornblum & Co.
Begitu masuk ke toko ini, tim Akses melihat banyak sekali produk furniture asal Indonesia yang dapat dikenali dengan mudah di setiap penjuru toko. Ada berbagai furniture rotan, ukiran kayu dan batu, benda-benda antik, anyaman, tikar dari Toraja hingga gamelan. Bahkan di pintu masuk toko terdapat dua buah becak dan pedati kuno asli dari Indonesia. Theron mengaku telah memulai kontak bisnis dengan pengusaha Indonesia sejak 12 tahun yang lalu, di antaranya dengan pengusaha asal Cirebon, Yogyakarta dan Klaten.
Pasokan barang-barang Indonesia di toko-tokonya terbilang cukup besar. Sebanyak 50% produk furniture dan dekorasi di toko-tokonya didatangkan dari Indonesia dengan volume rata-rata mencapai 20 container per tahun. Theron menyatakan dalam setahun minimal sebanyak 3 kali ia selalu berkunjung ke Indonesia khususnya saat pelaksanaan pameran-pameran besar di Indonesia untuk membeli secara langsung produk-produk yang akan dijual di tokonya. “Saya tidak pernah mengalami kendala berarti dalam berbisnis dengan
mitra di Indonesia maupun dalam hal pengurusan visa dan beacukai,” kata Jean Theron.
Menurut dia, respons pasar Namibia terhadap produk furniture Indonesia sangat positif, terutama untuk produk furniture dan dekorasi taman. Namun, ia menambahkan bahwa untuk produk-produk yang terbuat dari kayu ataupun rotan, diperlukan treatment lebih, seperti proses coating khusus agar dapat menyesuaikan dengan iklim Namibia yang kering, sehingga produk-produk itu tidak mengalami kerusakan (retak).
Produk Indonesia Tidak Kalah
Selain dari Indonesia, Theron juga mengekspor produk dari India, Vietnam dan Afrika Selatan. Ia menegaskan, produk furniture dari Indonesia secara kualitas dan harga tidak kalah bagusnya jika dibandingkan dengan produk-produk dari negara lain. “Ke depan, saya berencana akan menambah kuota pembelian dari daerah-daerah yang merupakan sentra furniture di Indonesia,” kata Theron.
S e l a n j u t n ya , t i m A k s e s berkunjung ke Namcraft, salah satu pusat handicraft terbesar di Namibia yang terletak di Windhoek. Di sana, tim Akses juga menemukan sebagian
besar produk-produknya didatangkan dari Asia, termasuk Indonesia. Produk Indonesia yang dijual di sana antara lain berupa aksesoris perak, aneka kerajinan dari eceng gondok dan rotan, serta aneka produk hasil daur ulang. Menurut keterangan manager toko, pemilik Namcraft telah sering mengadakan kontak bisnis dengan mitranya di Indonesia antara lain dengan pengusaha asal Bali. Produk-produk itu ada yang didatangkan langsung dari Indonesia, ada juga yang melalui negara ketiga, yaitu Afrika Selatan.
Namibia tampaknya memang belum mampu menghasilkan sendiri produk furniture dan handicraft yang berkualitas unggul. Hal itu tersebut antara lain disebabkan karena masih kurangnya kemampuan pengrajin Namibia dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Oleh sebab itu, salah satu program pemerintah Namibia yang saat ini tengah dilakukan adalah meningkatkan kemampuan para pengrajin untuk mendorong sektor UKM. Selagi Namibia berproses untuk memenuhi kebutuhan pasar, kiranya peluang masuknya produk furniture dan handicraft ke Namibia dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha Indonesia.
ENENG SITI SONDARI
Wawancara
N
amibia adalah ceruk pasar yang sangat potensial bagi produk Indonesia. Negeri Afrika yang pembangunannya terus berkembang ini masih membutuhkan berbagai produk negara lain. Sejumlah eksportir Indonesia sudah berhasil memasukkan komoditas dagangya, namun kualitasnya masih dianggap rendah untuk beberapa jenis produk. Hal ini berkaitan antara lain dengan iklim negeri ini yang kering kerontang, sehingga sangat mempengaruhi kondisi produk dagang.Bagaimana tantangan berbisnis dengan Namibia, apa saja insentif dan kemudahan yang diberikan Namibia untuk produk dari negara lain, dan bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia? Berikut ini petikan wawancara tim Akses dengan Agustinus Sumartono, Duta Besar LBBP-RI untuk Namibia merangkap Angola. Wawancara dilakukan di sela perayaan Natal di Wisma Indonesia di Windhoek, Namibia, pada 25 Desember 2013.
Apa saja upaya yang
dilakukan KBRI Windhoek
untuk meningkatkan
hubungan ekonomi
Indonesia-Namibia?
Sejauh ini, KBRI telah membina hubungan dengan pejabat pemerintahan, pengusaha atau sektor swasta, Kamar Dagang dan Industri Namibia, asosiasi bisnis, lembaga keuangan, akademisi, media massa serta berbagai lembaga n o n - p e m e r i n t a h . P e m b i n a a n tersebut dilakukan tidak hanya untuk mengembangkan jejaring kerja, namun
juga untuk mengeksplorasi bidang-bidang kerja sama atau kemitraan baru antara RI dan Namibia, khususnya di sektor perdagangan, perhubungan, pertanian, perikanan, industri dan kehutanan.
Di samping itu, KBRI secara intensif juga telah mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia, peluang investasi, industri pariwisata dan tenaga kerja melalui Namibian Tourism Expo, Ongwediva Annual Trade Fair dan mengundang para pejabat pemerintahan dan pengusaha Namibia dan Angola untuk menghadiri Trade Expo Indonesia. Selain itu, kami juga melakukan survei pasar, pengkajian produk-produk unggulan Indonesia, pengamatan situasi dan perkembangan perekonomian di negara akreditasi dan regional SACD (Southern African Development Community). Hasil pengamatan tersebut kami rangkum dalam berbagai laporan analisis berisi rekomendasi untuk peningkatan hubungan bilateral antara RI dengan negara akreditasi.
Fokus peningkatan hubungan kerjasama di bidang ekonomi antara RI – Namibia saat ini adalah mendorong akselerasi i m p l e m e n t a s i M o U Kerjasama di bidang Pertanian, pengembangan kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dan University of Namibia (UNAM), penandatanganan MoU Kerjasama d i b i d a n g p e r i k a n a n d a n
sumberdaya kelautan, peningkatan kerjasama peningkatan capacity building di bawah payung kerjasama teknik Selatan-Selatan dan negara triangular. Adapun peningkatan hubungan kerjasama bilateral dengan Angola diharapkan akan dapat segera diwujudkan melalui penandatanganan MoU Kerjasama di bidang minyak dan gas antara RI-Angola. Guna mendorong peningkatan kerjasama bilateral, kami di beberapa kesempatan mendorong pejabat dan pengusaha Indonesia untuk berkunjung ke negara akreditasi dan sebaliknya untuk meningkatkan people-to-people contact.
Bagaimana dengan neraca
perdagangan
Indonesia-Namibia?
Hubungan bilateral Indonesia-Namibia di bidang ekonomi berjalan dengan baik walaupun total perdagangan Indonesia-Namibia menurun cukup signifikan dari US$11.301.100 pada 2011 menjadi U$6.686.300 pada 2012. Sementara itu, total perdagangan Indonesia-Angola mengalami lonjakan dari US$223.568.200 pada 2011 menjadi US$645.274.600 pada 2012.
Kami akui, secara umum produk-produk Indonesia kurang begitu
populer di Namibia, karena lebih dari 69% produk yang masuk ke Namibia berasal dari Afrika Selatan. Namun demikian, beberapa produk Indonesia yang cukup digemari dan banyak ditanyakan antara lain ban mobil, kertas, mie instan, kecap, wafer dan sarden k a l e n g a n . S a y a n g n y a , barang-barang t e r s e b u t tidak banyak dijumpai karena k u r a n g n y a suppliers.
Namibia :
Sebagai Trade Hub di SADC
“Sebagian besar produk Indonesia masuk Namibia melalui
negara ketiga, khususnya Afrika Selatan. Tentu saja harganya
jadi lebih tinggi dibandingkan bila pengusaha Namibia
Pengusaha Namibia tampaknya masih enggan melirik mitra baru, di luar mitra tradisional seperti Afrika Selatan, Jerman dan negara-negara Uni Eropa. Barang-barang yang beredar di Namibia sebagian besar diimpor dari Afrika Selatan, termasuk produk Indonesia yang masuk ke negara itu. Beberapa pengusaha lokal telah meminta informasi produk kepada KBRI Windhoek antara lain: machinary industrial supplies, corporate travelling goods, garmen, pupuk, kosmetik dan spa, ikan kering dan sejenisnya, minyak sawit, makanan ternak, bahan makanan, batik dan furniture.
Beberapa pengusaha lainnya telah meminta dihubungkan dengan mitra Indonesia untuk impor mobil baru dan bekas, ban, suku cadang dan aksesori mobil, namun hingga saat ini belum ada jawaban dari Kementerian Perdagangan maupun KADIN.
Apa saja produk Indonesia
yang telah masuk ke
Namibia?
Produk Indonesia yang telah masuk ke pasar Namibia antara lain furniture berbahan dasar kayu dan rotan yang dijual di beberapa toko seperti Kornblum & Co. dan Habitat (Swakopmund), Ark Trading dan Weylandts (Windhoek). Kerajinan dan perhiasan tradisional Indonesia juga telah banyak dipasarkan oleh Ark Trading dan NamCraft. Untuk produk makanan, wafer cokelat kaleng, Indomie, kecap dan saus sambal merek Indofood dapat dijumpai di Hidas Centre (Windhoek) dan produk ikan, kerang dan snails kalengan juga dapat dijumpai di beberapa supermarket besar di Windhoek. Produk kosmetik dan toiletries Indonesia juga cukup diminati, antara lain sabun Cusson, Ayu, Jolie, MediSoft. Adapun produk minuman kesehatan yang cukup digemari adalah Javanony yang dipasarkan di Central Clinic, Windhoek North.
Produk Indonesia lain yang cukup populer adalah kemeja batik. Nampaknya pengaruh style almarhum Nelson Mandela sangat besar di Namibia. Kemeja batik pria yang dikenal dengan sebutan ‘Madiba
Shirt’ sering digunakan oleh Presiden, Perdana Menteri, para menteri dan pejabat tinggi lainnya. Meningkatnya demand produk ini telah mendorong Ray’s Trading untuk memasok batik dari Indonesia. Produk sepatu olah raga merek Nike dan Adidas juga banyak dijumpai di Namibia. Di bursa otomotif, mobil-mobil merek Toyota Avanza, Innova, Rav4 dan Fortuner diimpor dari Indonesia melalui Afrika Selatan.
Sebagian besar produk Indonesia masuk ke pasar Namibia melalui negara ketiga, khususnya Afrika Selatan. Tentu saja harga produk menjadi lebih tinggi dibandingkan apabila pengusaha Namibia mengimpor langsung dari Indonesia. Namibia adalah negara yang masih relatif tergantung terhadap barang-barang impor karena industri manufakturnya yang masih sangat terbatas. Peluang ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar langsung atau investasi di sektor manufaktur di Namibia.
Apa tantangan yang dihadapi
dalam usaha meningkatkan
perdagangan RI-Namibia
khususnya untuk pemasaran
produk UKM?
Tantangan yang kami hadapi adalah masih banyak dijumpainya produk UKM khususnya furniture dan handycraft Indonesia dengan kualitas rendah sehingga retak atau rusak, tak lama setelah barang tiba di Namibia. Iklim Namibia sangat kering, sehingga produk furniture atau handycraft berbahan dasar kayu harus melalui tahapan finishing yang baik. Salah satu eksportir produk UKM, Ark Trading misalnya, mengeluhkan rendahnya kualitas produk Indonesia untuk dapat bertahan di iklim ekstrim Namibia. Alhasil, mereka lebih banyak mendatangkan produk dari India, Vietnam atau Cina.
Kami harapkan Majalah Akses dapat memberikan masukan kepada pelaku usaha di Indonesia agar melihat Namibia sebagai Trade Hub karena letak geografisnya yang strategis, sehingga mereka dapat melakukan penetrasi ke-15 negara anggota SADC yang memiliki pangsa pasar lebih dari
300 juta jiwa.
Apa saja daya tarik dan
fasilitas yang diberikan
Namibia bagi pengusaha
negara lain?
Selain dikenal sebagai negara dengan stabilitas politik yang baik dan tingkat kriminalitas yang rendah, UU Investasi Asing Namibia tahun 1990 memberikan jaminan keamanan investasi, akses indiskriminatif di semua sektor, repatriasi modal, akses memperoleh mata uang asing dan proses arbitrasi internasional bilamana terjadi sengketa. Selain itu, infrastruktur di Namibia juga sudah bagus. Namibia dilengkapi fasilitas pelabuhan kelas dunia, Walvis Bay, yang pernah dinobatkan sebagai pelabuhan terbaik Afrika oleh Harvard Business Review (2001).
N a m i b i a j u g a d i d u k u n g infrastruktur jalan raya penghubung antar negara yang telah memenuhi standar internasional, yaitu: Trans-Kalahari (menghubungkan Namibia dengan Botswana), Trans-Caprivi (menghubungkan Namibia dengan Republik Demokratik Kongo, zimbabwe dan zambia), Trans-Cunene (menghubungkan Namibia dengan Angola) dan Trans-Oranje (menghubungkan Namibia dengan Afrika Selatan). Selain memanfaatkan ketergantungan Namibia terhadap barang impor, pengusaha Indonesia juga dapat memaksimalkan peluang dibukanya Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Area) SADC.
Sejauh ini Afrika Selatan adalah pemasok barang-barang untuk Namibia, dengan dominasi 69,9% total impor Namibia. Karena itu, kalau bicara saingan, sudah pasti Afrika Selatan menjadi saingan utama Indonesia. Negara-negara eksportir lainnya ke Namibia adalah Uni Eropa, China dan negara-negara SADC.
Tapi, peluang pasar produk Indonesia bukan hanya Namibia. Pengusaha Indonesia sebenarnya juga perlu melirik pasar Angola yang dalam kurun beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Bahkan saat ini Angola telah menjadi negara dengan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di Afrika.
KuswaNdi
S
uhu udara di Windhoek berkisar 23º C ketika tim Akses tiba di Bandara Internasional Hosea Kutako, Desember lalu. Padahal, matahari sedang berada di belahan selatan bumi, dan Namibia tengah melalui musim panasnya. Namibia yang terletak di bagian ujung selatan benua Afrika, memang berada di dataran tinggi yang umumnya berhawa sejuk sepanjang tahun.Bagi yang belum mengenal Namibia, negeri ini cenderung diidentikkan dengan daerah yang panas, gersang, bahkan kotor dan kumuh. Lalu, bagaimana keadaan aslinya? Untuk
suku Himba yang menjajakan hasil kerajinan tangannya di sekitar pesisir pantai.
Mayoritas penduduk kota Swakopmund adalah keturunan Jerman yang tinggal secara turun menurun. Hal ini berpengaruh terhadap suasana kota yang sangat mirip dengan sebuah kota kecil di Jerman. Arsitektur bangunan di kota ini didominasi oleh bangunan khas Eropa era kolonial. Bahkan nama jalan, menu makanan dan bahasa yang umum digunakan di Swakopmund adalah bahasa Jerman.
Dua tempat yang patut dikunjungi di Swakopmund adalah Museum Swakopmund dan Kristall Galerie. Di Kristall Galerie, pengunjung dapat melihat koleksi kristal dan bebatuan cantik dari seluruh Namibia sambil melihat proses pembuatan perhiasan dari kristal. Koleksi kristal yang paling
Taman Elok di Selatan Afrika
Jalan-Jalan
Anda bisa menikmati safari di alam liar hingga menikmati
kuliner yang unik dan lezat.
mengetahuinya, tim Akses berkunjung ke Namibia yang justru dinobatkan di urutan ke-6 dari daftar “52 Places to Go in 2014” menurut The New York Times.
Pelesiran di Swakopmund
Swakopmund terletak di pantai barat laut Namibia yang berjarak sekitar 280 km dari Windhoek. Kota cantik ini terkenal sebagai tempat untuk berlibur bagi para turis lokal maupun mancanegara. Di sini, turis dapat menikmati waktu santai dengan berjemur di pantai, memancing, atau melakukan olahraga air seperti berselancar dan parasailing. Pengunjung juga dapat bertemu dengan
terkenal di sini adalah kristal kuarsa terbesar di dunia dengan berat 14.100 kg.
Selain pantai, Swakopmund memiliki hamparan semi padang pasir yang luas. Di perbatasan Swakopmund dan Walvis Bay terdapat salah satu bukit padang pasir tertinggi di dunia, yaitu Dune 7 dengan tinggi 383 meter. Pengunjung dapat menikmati indahnya pemandangan dengan berjalan naik ke puncaknya. Selain itu, pengunjung dapat mencoba olahraga yang memacu adrenalin seperti squad biking dan sand boarding.
Safari di Alam Bebas
Afrika identik dengan kehidupan satwa liar. Karena itu, berkunjung ke Namibia tak lengkap rasanya jika tidak mencoba safari di alam bebas. Anda yang gemar dengan petualangan alam, dapat menikmati konservasi alam dan landscape Namibia yang beragam seperti bukit pasir, semi padang pasir, tebing tinggi dan padang rumput yang luas.
Tak jauh dari kota Windhoek ada Okapuka Ranch, kawasan alam terbuka dengan fasilitas game drive, horse riding safari, penginapan dan restoran. Namun, jika anda ingin menikmati alam liar yang susungguhnya, anda bisa datang ke daerah wisata safari favorit di Namibia seperti Etosha, Damaraland, Sossusvlei
dan Skeleton Coast. Di tempat-tempat tersebut terdapat sejumlah penginapan yang menyediakan berbagai jenis safari mulai dari walking safari, driving safari/ game drive, horse riding safari hingga balloon safari. Beberapa tempat wisata juga menyediakan fasilitas berburu.
Safari yang paling umum di Namibia adalah game drive. Pengunjung akan diajak menikmati alam dengan pemandangan indah sekaligus merasakan sensasi melihat langsung bermacam-macam satwa liar khas Afrika yang berkeliaran bebas dengan mengendarai Land Rover yang dipandu oleh seorang ranger. Bahkan, jika sedang beruntung, pengunjung juga dapat bertemu dengan satwa buas seperti singa, buaya hingga hyena. Tentu akan menjadi pengalaman yang menegangkan saat ranger tiba-tiba menghentikan Land Rover dan meminta pengunjung agar tetap tenang dan tidak bergerak saat ada hyena bergerak mendekat.
Kuliner Unik
Penduduk Namibia dan Afrika secara keseluruhan merupakan pemakan segala jenis daging di berbagai kesempatan. Di sini, daging tidak hanya tersaji sebagai menu utama, melainkan juga sebagai camilan. Cobalah biltong, camilan gurih dan renyah khas Afrika yang terbuat dari daging sapi mentah
yang diasap dan dikeringkan.
Daging sapi Namibia dengan teksturnya yang lembut terkenal sebagai salah satu daging sapi terbaik di dunia. Jadi, jika anda berkunjung ke Namibia, sempatkanlah mencoba beef steak dengan saus tradisional Namibia. Jangan kaget, di Namibia steak yang umum disajikan di restoran porsinya sangat besar. Satu potong steak biasanya berukuran 300-500 gram. Tapi, jangan khawatir, restoran biasanya menyediakan porsi wanita dan anak-anak. Pengunjung pria tidak boleh memesan porsi wanita dan pengunjung dewasa tidak boleh memesan porsi anak-anak.
Bagi anda yang ingin mencoba kuliner ekstrim, beberapa tempat seperti Joe’s Beer House menyajikan menu spesial seperti steak buaya, springbok dan oryx. Selain menu spesial, tempat berkumpul yang memiliki konsep bar dan restoran ini juga memiliki rancang bangunan yang eksentrik. Memasuki Joe’s Beer House, anda akan disambut dengan sebuah mobil antik yang sengaja ‘diparkir’ di atap gerbang. Di bagian dalam restoran, dipajang berbagai benda tak biasa seperti sepeda antik, kereta kuda kuno, hingga jerapah dan baboon yang diawetkan! Citra rasa makanan yang lezat dan suasana yang tak biasa membuat Joe’s Beer House selalu ramai dipadati pengunjung. Ditambah lagi, harga yang dipatok untuk seporsi makanan seperti steak juga masih tergolong ramah di kantong.
J i k a a n d a t i d a k d a p a t mengkonsumsi daging, Namibia juga terkenal dengan aneka olahan seafood yang tak kalah lezatnya. Salah satu menu seafood yang mudah ditemukan di Namibia adalah grilled king flip yang disajikan dengan beragam pilihan saus.
Tak terasa, perjalanan tim Akses di Namibia berakhir sudah. Perjalanan kali ini telah meninggalkan kesan luar biasa mengenai benua Afrika yang sesungguhnya. Namibia membuktikan bahwa Afrika bukanlah benua hitam yang kotor, panas dan gersang. Jika anda penasaran, silakan datang dan nikmati semua daya tarik alam dan keramahan penduduknya.
ENENG SITI SONDARI
APRESIASI
P
opularitas batik kini makin mendunia. Hal ini antara lain berkat penetapan batik oleh UNESCO sebagai sebuah Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009 lalu. Selain itu, popularitas batik juga terdongkrak oleh gaya berbusana mendiang mantan pemimpin Afrika Selatan (Afsel), Nelson, Mandela yang setia mengenakan batik dalam berbagai kesempatan resminya, termasuk ketika berkunjung ke negara lain.Di Afsel sendiri dan juga di negara-negara sekitarnya, batik populer dengan sebutan Madiba Shirt. Madiba adalah panggilan rakyat Afsel untuk Nelson Mandela. Karena
Sukses Membatikkan Namibia
Riyanto Wahyudi berhasil memasukkan batik ke pasar Afrika.
Produknya diambil dari para perajin di Solo dan Pekalongan.
Perdana Menteri dan Presiden Namibia pun memakai batik.
pun tak jarang mengenakan batik dalam berbagai pertemuan. Di negeri ini batik Indonesia berhasil menembus pasar, antara lain berkat seorang pengusaha batik, Riyanto Wahyudi. Ia memang sudah berdomisili di negeri Afrika itu sejak 22 tahun lalu. Riyanto menuturkan bahwa bisnis batiknya di Namibia dirintis pada tahun 1992. Awalnya ia hanya mencoba-coba karena melihat peluang pasar, seiring dengan makin populernya batik di Afsel dan sekitarnya.
“Pada tahap awal, saya hanya menjual batik dengan harga yang tak jauh beda dengan harga batik di Indonesia. Dari satu potong batik, saya hanya mendapatkan untung sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu,” tutur Riyanto. Ternyata, bisnisnya terus berkembang. Perlahan-lahan produk yang ia jual mulai dikenal oleh masyarakat Namibia. Kemudian, pada 1994, saat berkesempatan pulang ke tanah air, ia memperbanyak stock itu, Image batik di sebagian wilayah
Afrika masih melekat sebagai busana khas kepresidenan, sehingga hanya kalangan tertentulah yang pantas mengenakannya. Tak heran jika batik di Afsel hanya ditemukan di butik-butik dan toko elit untuk kalangan menengah atas. Salah satuh toko di Afsel yang secara khusus menjual batik-batik eksklusif adalah Presidential Suit yang berlokasi di bandara internasional O.R. Tambo, Johannesburg. Harganya tentu saja mahal, karena pelanggannya juga konsumen kelas menengah ke atas.
Batik juga terkenal di Namibia. Pejabat-pejabat penting di Namibia seperti Presiden Hifikepunye Pohamba dan Perdana Menteri Dr. Hage Geingob
produknya dengan memborong langsung dari perajin batik di Solo dan Pekalongan, Jawa Tengah. Selain prospek pasar batik sangat terbuka, ia juga ingin lebih memopulerkan batik di Namibia. “Saya bertekad membatikkan Namibia,” ujarnya sambil tersenyum.
Bahkan akhirnya, Riyanto tak cuma mengekspor batik. Ia juga menangkap peluang untuk produk lain seperti produk kerajinan tangan, dekorasi taman serta produk makanan dan minuman. Produk-produk tersebut kebanyakan dibeli secara langsung dari produsen di Indonesia. Untuk menangani kegiatan usahanya yang semakin membesar, Riyanto pun kemudian mendirikan Ray’s Trading pada 2004.
Aktif Ikut Pameran
Dalam upaya mengembangkan bisnisnya, Riyanto juga sering mengikuti kegiatan pameran dagang, seperti Ongwediva Annual Trade Fair , pameran tahunan di Namibia yang biasa digelar tiap Agustus. Ia juga selalu ikut pada pameran promosi batik yang biasa dihelat KBRI Windhoek, atau pada kegiatan workshop dan pelatihan membatik bagi masyarakat Namibia. “Saya selalu memanfaatkan kegiatan promosi KBRI Windhoek semacam itu sebagai sarana promosi usaha,” kata Riyanto. Walhasil, melalui kerja kerasnya, pada 2006, bisnis Riyanto pun telah merambah negara tetangga seperti Angola, zimbabwe dan zambia. Pelanggannya datang dari kalangan
atas, mulai misionaris, ekspatriat, para duta besar berbagai negara, menteri-menteri kabinet, hingga perdana menteri dan presiden. “Adalah kebanggan tersendiri saat melihat Perdana Menteri dan Presiden Namibia mengenakan batik dari saya,” tutur Riyanto.
Dengan segmen konsumen yang mayoritas adalah kaum menengah ke atas, Riyanto tak mau main-main dengan kualitas produk yang ia jual. Menurut dia, selera berpakaian orang Namibia juga terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan selera berpakaian orang Afrika di kawasan lain, seperti di Afrika Barat. Sebagai contoh, di Nigeria dan Senegal, batik dengan kualitas yang biasa saja sudah cukup laris. Sedangkan di Namibia, masyarakat lebih memperhatikan kualitas daripada harga.
Meski usaha batiknya telah berkembang, Riyanto tak lekas berpuas diri. Ia bertekad untuk lebih mengembangkan usahanya di sektor dekorasi pertamanan serta makanan dan minuman. Ia berencana untuk melanjutkan dan m e n a m b a h k u a n t i t a s impor produk makanan dan minuman d a r i
Indonesia yang sudah ia mulai sejak 2008. Ray’s Trading bahkan pernah dipercaya oleh Namibia Red Cross dan Ned Bank yang telah mensponsorinya dalam pengadaan produk makanan instan untuk program kemanusiaan.
Kini, Riyanto sedang berupaya mendapatkan status permanent resident yang akan memudahkan jalannya untuk membuka toko sendiri dengan mempekerjakan penduduk lokal. Ia memang sudah belasan tahun menggeluti bisnisnya, dan ingin mengembangkannya dengan merekrut pekerja setempat. Saat ini, Riyanto mengaku baru mendapatkan untung rata-rata sekitar Rp 40 juta per bulan dari produk batik saja. Dan, ia melihat peluang pengembangan bisnis batik ini masih sangat terbuka lebar. Karena itu, ia menantang pengusaha lain dari Indonesia untuk menggarap pasar batik, bahkan produk lain dari Indonesia yang kini makin dikenal di Afrika. “Pengusaha Indonesia yang telah berkiprah di Afrika Sub-Sahara jumlahnya masih belum banyak, padahal prospek bisnis di sini sangat bagus,” kata Riyanto.
Untuk menerobos pasar Afrika, memang diperlukan keberanian dan strategi yang tepat. Image Afrika yang jauh tentu akan mempengaruhi pengusaha dalam menghitung resiko dengan penuh kehati-hatian. Namun, jika jeli dan berani, potensi dan peluang yang terbuka di Afrika dapat digali dan dimanfaatkan untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis. Riyanto Wahyudi adalah sebuah bukti nyata. Semoga ke depan semakin banyak pengusaha Indonesia sukses berkiprah di Afrika.
dan zambia di sebelah utara, Botswana di timur, dan Afrika Selatan di selatan.
Jika diukur dari profil Indonesia, Namibia memang bukan negara besar. Dengan luas 825.418 km², negeri ini hanya berpenduduk 2.104.900 jiwa, berdasarkan sensus tahun 2011.
Bandingkan dengan Indonesia yang seluas 1.919.440 km² dengan penduduk 240-an juta jiwa. Namun, Namibia bukan negara miskin Afrika. Ia bahkan termasuk negara maju di Afrika, dengan daya beli masyarakatnya yang cukup tinggi.
Pertumbuhan penduduk Namibia pun cukup signifikan. Hasil sensus 2011 menunjukkan kenaikan jumlah penduduk sebesar 15% atau 274.570 orang dari sensus sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2001. Kepadatan penduduk di Namibia rata-rata 2,5 orang per-kilometer persegi. Dengan kepadatan itu, Namibia bukan termasuk negeri padat penduduk.
Menurut komposisinya, dari total jumlah penduduk, sejumlah 1.083.600 orang adalah wanita (51%) dan 1.021300 orang adalah pria (49%). Penyebaran penduduk yang terbanyak, berdasarkan hasil sensus tahun 2011, berada di
R
epublik Namibia terletak di wilayah ujung selatan benua Afrika. Secara geografis, posisi negeri ini tepatnya berada di bagian barat daya Afrika, di pesisir Samudera Atlantik. Negeri ini berbatasan dengan AngolaSosok Negeri Pesisir
Atlantik
Teropong
World Bank menempatkan Namibia pada kelompok negara
berpenghasilan menengah-atas. Pertumbuhannya stabil,
dengan inflasi yang moderat dan pendapatan ekspor yang
stabil pula.
wilayah Khomas yang dihuni 340.900 orang, Ohangwena 245.100 orang dan Omusati 242.900 orang. Sedangkan wilayah yang berpenduduk sedikit adalah Omaheke 70.800 orang, Karas 76.000 orang dan Hardap 79.000 orang.
Urbanisasi penduduk dari perdesaan ke kota terus berlangsung seperti di negeri-negeri berkembang lainnya. Namun jumlah masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan Namibia masih tetap lebih banyak yaitu berjumlah 1.219.400 orang (58 %) sedangkan sejumlah 42% populasi (885.500 orang) tinggal di wilayah perkotaan. Pada tingkat kepadatan penduduk per-region, hampir dua per tiga populasi tinggal di wilayah utara Namibia dan kurang dari seper sepuluh populasi tinggal di wilayah selatan Namibia.
Negara Menengah Atas
Berdasarkan laporan World Bank pada Oktober 2013, pendapatan perkapita Namibia sebesar US.$ 5.610. Angka itu menempatkan Namibia pada kelompok negara berpenghasilan menengah-atas. Namibia sempat mengalami imbas krisis finansial dunia tahun 2009, dan setelah itu negeri ini telah mengalami pertumbuhan yang stabil, inflasi yang moderat dan pendapatan ekspor yang stabil pula. Pertambangan, pemeliharaan ternak, perikanan, metalurgi dan makanan olahan merupakan andalan ekonomi Namibia. Sedangkan sektor konstruksi semakin berkembang. Sumber pendapatan rumah tangga, 40% adalah dari pertanian. Tingkat kesehatan sudah cukup bagus, dengan usia harapan hidup penduduknya mencapai 63 tahun.
Berdasarkan data sensus Namibia Household Income& Expenditure Survey (NHIES) 2009/2010, jumlah penduduk Namibia adalah 2.066.398 orang hidup dalam 436.795 rumah tangga. Artinya, ada 4,7 orang di tiap keluarga. Sebanyak 67% dari jumlah penduduk berusia di bawah 30 tahun, dan hanya 12% yang berusia 50 tahun keatas. Penduduk berumur 0-4 tahun berjumlah 274.520 orang. Kelompok umur 20 – 24 tahun berjumlah 206.016 orang. Kelompok umur 50 – 54 tahun berjumlah 60.482 orang. Kelompok umur 80 – 84 tahun
berjumlah 12.815 orang dan usia 95 tahun keatas berjumlah 2,831 orang.
Sumber Penghidupan
Sumber penghidupan penduduk Namibia berasal dari gaji sebagai pegawai (49,2%), pertanian (23%), uang pensiun (11,1%), wiraswasta (8,8%). Kemudian sumber energi yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak, penghangat ruangan dan penerangan terbagi sebagai berikut : Pada tingkat nasional, kayu maupun arang kayu paling banyak digunakan untuk memasak (56%) Di tingkat nasional, tenaga listrik digunakan oleh 33% rumah tangga. Dari jumlah itu, 67% dilakukan oleh rumah tangga di perkotaan, dan 7% digunakan oleh rumah tangga di pedesaan. Kemudian sekitar 6 % rumah tangga menggunakan gas, dan 3% menggunakan parafin sebagai sumber energi untuk memasak.
Tenaga listrik juga digunakan sebagai sumber penerangan di rumah tangga. Pada tingkat nasional, 42% rumah tangga menggunakan tenaga listrik utamanya di daerah perkotaan dan sebanyak 38% rumah tangga menggunakan lilin sebagai sumber penerangan. Kemudian sekitar 83% rumah tangga memiliki radio dan 48% memiliki televisi. Kepemilikian televisi lebih banyak di perkotaan (75%) dari pada di pedesaan (25%). Di Namibia pada tahun 2014 ini direncanakan akan dilakukan Census of Agriculture 2014.
Hasilnya tentu akan menarik untuk dicermati.
Dari data demografi di atas, tergambar bahwa Namibia berbeda dengan negeri-negeri Afrika kebanyakan yang masih tergolong berkembang bahkan banyak yang masih tergolong miskin. Namibia sudah masuk kategori negara maju yang berpenghasilan menengah-atas. Dan dengan pertumbuhan penduduk yang stabil, negeri ini tentu saja menjadi potensi pasar yang besar di Afrika. Apalagi negeri ini termasuk destinasi wisata favorit di Afrika.
Nah, jika ada berminat untuk memperkenalkan komoditas dagang ke Namibia, peluangnya tentu sangat terbuka. Anda tentu dapat menimbang-nimbang produk apa saja yang dibutuhkan di sana. Namun, karena jarak negeri ini cukup jauh dari Indonesia, anda tentu harus cermat mengalkulasi biaya kontainer dan pengiriman barang ke Namibia, sehingga bisa menentukan harga akhir yang harus dibayar konsumen.
Bagi anda yang membutuhkan informasi lain yang lebih lengkap mengenai Namibia, anda dapat mengakses datanya dari berbagai situs kantor statistik setempat (Statistic Agency). Beberapa informasi juga dapat dihimpun dari situs asosiasi jenis usaha tertentu semisal perumahan, otomotif dan lainnya.
(DARI BERBAGAI SUMBER OLEH : GARNIJANTO BAM-BANG WAHYUDI)
N
amibia lebih dikenal dengan produk berlian dan sumber daya mineralnya. Namun negara ini s e b e n a r n y a s a n g a t tergantung pada negara lain untuk hal-hal tertentu, seperti bahan bakar dan produk makanan. Anda ingin berbisnis di Namibia? Alangkah baiknya bila anda sedikit mengenal etika korporasi di Namibia untuk memberi impresi awal yang baik, dan untuk membangun pertemanan yang sukses dengan mitra bisnis di sana.Di kalangan pebisnis dunia umumnya mereka menyambut sesama pengusaha dengan genggaman jabat tangan yang erat dan mata saling menatap. Pengusaha Namibia pun melakukan hal yang sama, namun ada yang sedikit berbeda. Seperti kelaziman jabat tangan masyarakat Afrika, mereka umumnya saling menggenggam kuat, tapi masing-masing jempolnya diacungkan ke atas, sebelum mengguncang-guncangkan tangan yang berjabat seperti dua
sahabat akrab.
Sedangkan para wanita tidak melakukan jabat tangan bila baru pertama kali saling bertemu. Namun bila seorang wanita bertemu wanita yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya maka mereka pun akan berjabat tangan didahului asongan tangan dari yang lebih muda.
Karena itu, bila anda ingin menjajaki hubungan bisnis dengan mitra di sana, sebaiknya anda bersikap merendah. Bila kebetulan bertemu sesama pengusaha di luar acara resmi, sebaiknya lebih dulu menyapa dan menyalami mereka. Umumnya usai jabat tangan dilanjutkan dengan obrolan singkat dalam bahasa Inggris atau Afrikans.
Pebisnis profesional di Namibia biasanya akan menanyakan rekan pebisnis asingnya beberapa hal yang ingin mereka ketahui, menyangkut rencana bisnis mereka dengan anda. Karena itu anda harus menyiapkan jawabannya dengan matang. Pada saat terlibat percakapan kecil sebelum
memulai materi pertemuan, silakan anda berbicara tentang keluarga, pekerjaan, hoby atau apa pun yang menarik dibicarakan. Hindari pembicaraan tentang politik di negara mereka.
Orang Namibia umumnya kurang menyukai komunikasi yang cenderung “berdebat” dengan intonasi keras. Jadi selama berbicara dengan mereka gunakan bahasa yang sopan, dengan nada yang tidak terlalu keras, termasuk ketika anda berbicara dalam pertemuan resmi.
Dalam berpenampilan, sebagai pebisnis, anda tentu diharapkan berpakaian sopan, rapi dan resmi. Para pria haruslah berpakaian celana panjang, kemeja dan berdasi. Setelan jas bukanlah keharusan. Para wanita dapat menggunakan rok dan blus. Penggunaan celana panjang bagi wanita dapat diterima, pakaian yang pas di badan akan sangat baik dan sepatu hak tinggi juga ideal.
Bila anda menyapa rekan pengusaha gunakan kata “Mr” atau “Mrs” diikuti nama keluarganya. Bila ia punya jabatan, harap disapa dengan sebutan jabatannya, semisal “Mr. Director” atau “Attorney”. Bila tidak mengetahui nama keluarganya, gunakan saja sapaan dalam bahasa Afrikans yaitu “manier” sebagai pengganti “sir”, atau “may frou” untuk pengganti “madam”. Menyapa dengan nama depan atau nama kecil sebaiknya dihindarkan sebelum akrab, kecuali mereka sendiri yang menginginkan dipanggil dengan nama depannya.
Hadiah atau cindera mata tidak terlalu diharapkan dalam lingkungan pebisnis profesional. Namun sebuah hadiah atau cindera mata kecil seperti buah, buku atau makanan khas dari Indonesia mungkin bisa anda berikan. Bila anda diundang ke rumahnya, anda juga bisa bawa sedikit makanan atau minuman untuk dinikmati tuan rumah dan keluarganya. Hadiah atau cindera mata tidak perlu dibungkus menarik seperti kado.
Itulah informasi ringan seputar pergaulan bisnis di Namibia. Selamat berbisnis!.
(DARI BERBAGAI SUMBER OLEH : GARNIJANTO BAM-BANG WAHJUDI )
Etika Gaul Bisnis Namibia
Etika Bisnis
Bila anda menyapa mitra bisnis Namibia, gunakan kata “Mr”
atau “Mrs” diikuti nama keluarganya. Bila tidak tahu nama
keluarganya, gunakan saja sapaan “manier” atau “may frou”.
D
i Namibia, secara prinsip kita bebas mendirikan dan melakukan usaha. Orang asing yang melakukan usaha, harus memiliki izin tinggal, izin bekerja atau izin berinvestasi. Perusahaan dan cabang perusahaan yang bermarkas di luar Namibia harus didaftar di Registrar of Companies. Setiap individu dapat mendirikan perusahaan. Bidang usaha tertentu semisal perbankan, asuransi, farmasi dan industry makanan, diatur oleh undang-undang dan peraturan tersendiri.Regulasi perusahaan di Namibia diatur dalam Undang-undang perusahaan Namibia (Company Act). Undang-undang ini mengatur perusahaan domestik dan perusahaan luar negeri yang melakukan perdagangan di Namibia melalui kantor cabang lokal mereka. Pendaftaran perusahaan dilakukan di kantor Registrar of Companies yang berada di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri Namibia.
Terdapat beberapa jenis bentuk perusahaan di Namibia, antara lain yaitu :
Public Company Private Company
Branch of a Foreign Company Close corporation
Karakteristik Public Company jumlah pemegang sahamnya tidak terbatas. Juga tidak ada restriksi dalam transfer sahamnya namun setiap akhir tahun mereka harus menyerahkan satu copy laporan keuangan tahunan ke Registrar of Company. Karakteristik Private Company terdapat pada jumlah pemegang sahamnya yang dibatasi hingga 50. Kemudian terdapat pembatasan terhadap transfer sahamnya. Perusahaan jenis ini tidak diharuskan untuk menyerahkan laporan keuangan akhir tahun ke Registrar of Company dan dibelakang nama perusahaan harus dibubuhi kata “Proprietary” dan “Limited”. Misalnya : Home Electronic Pty Ltd.
Kedua jenis perusahaan diatas, secara hokum diharuskan melakukan audit tahunan oleh Akuntan Namiba yang terdaftar. Kemudian perusahaan asing yang beroperasi di Namibia harus memiliki kantor yang terdaftar di Namibia dan harus menyimpan arsip data dan transaksi keuangannya dengan baik di Namibia.
Perusahaan jenis Close Corporation bentuknya lebih sederhana dan dibentuk berdasarkan peraturan Close Corporations Act. Jenis ini cocok untuk perusahaan yang dimiliki dan dijalankan oleh paling banyak 10 orang. Tidak terdapat peraturan yang
mengharuskan dilakukan audit, tetapi perusahaan jenis ini harus memiliki seorang akuntan untuk memenuhi atau melaksanakan beberapa kewajiban perusahaan. Perusahaan jenis ini tidak dapat menjadi anak perusahaan sebuah perusahaan lainnya atau pun jenis Close Corporation lainnya.
Hak Cipta dan Mutu
Untuk mengawasi jalannya badan-badan usaha dan melindungi hak cipta, hal ini dilakukan oleh The Registration of Companies, Patents, Trademarks and Industrial Designs Division. Divisi ini memberikan kerangka hokum dan administrasi perlindungan untuk pemilik hak cipta, merk dagang dan hak disain dari kemungkinan penyalahgunaan. Divisi ini juga bertugas menilai ulang peraturan-peraturan terkait perusahaan dan memperluas jejaring serta kerja sama dengan badan internasional semisal World Intellectual Property Organization (WIPO). Untuk memantau standard mutu perusahaan, telah dibentuk unit kerja untuk keperluan ini yaitu Standards Information and Quality Office yang bekerja sama dengan International Organization for Standardization (ISO). Kantor ini menyediakan informasi terkait mutu dan standar untuk para pengusaha dan industry lokal.
Itulah sedikit informasi tentang perusahaan di Namibia. Semoga bermanfaat.
(DARI BERBAGAI SUMBER OLEH : GARNIJANTO BAM-BANG WAHJUDI)
Perusahaan Di Namibia
Hukum
Hak cipta, merk dagang dan hak disain diberi perlindungan
Prospek dan Peluang di Australia
J
awa Barat (Jabar) dan South Australia (SA) atau negara bagian Australia Selatan, sudah lama menjalin hubungan erat dalam kerangka sister province (provinsi kembar). Kini, hubungan yang sudah terjalin sejak 1997 itu sedang terus dipererat. Banyak peluang yang mestinya bisa digali dalam hubungan akrab dua provinsi ini terutama bagi pengembangan pasar UKM Indonesia.Awal September 2013 lalu, delegasi bisnis Jawa Barat yang dipimpin Dadang Mohamad, Kepala BKPMD (Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah) Jabar, bertandang ke Adelaide, ibu kota SA. Di sana, rombongan pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya telah menjajaki berbagai peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan bagi ekspor produk UKM Jabar.
Meski SA hanya berpenduduk 1,6 juta jiwa - bandingkan dengan penduduk Jabar yang sekitar 45 juta jiwa - tapi SA merupakan pasar potensial dengan daya beli masyarakatnya yang tinggi. Jabar sebagai salah satu propinsi terkemuka di Indonesia, boleh dibilang sepadan dengan SA, dan tentu diharapkan bisa merangkai kerjasama yang konkrit. Produk-produk UKM Jabar diharapkan bisa menembus pasar SA, seperti China, yang sudah lebih dulu membanjiri Australia dengan berbagai produknya. Jadi, mampukah produk Indonesia menembus pasar SA dan ‘bersaing’ dengan China?
Manggis dan Mangga
Produk-produk yang dihasilkan SA umumnya telah memenuhi standar lingkungan dan kesehatan, berkat
teknologinya yang sudah maju. Karena itu, produk ramah lingkungan dan sehat merupakan prasyarat masuk SA, terutama produk-produk pertanian dan perikanan. Kedua prasyarat ini wajib di Australia. Karenanya, produk asing yang masuk ke SA, maupun Australia umumnya, akan menghadapi ketentuan karantina yang sangat ketat.
Manggis Indonesia telah masuk Australia. Tetapi orang Australia, belum terbiasa dengan buah manggis. Karena itu, promosi dan sosialisasi diperlukan, sekaligus dengan meningkatkan mutu manggis itu sendiri. Hal serupa juga dihadapi oleh buah mangga yang masih harus ditingkatkan kualitasnya, akibat serangan lalat buah. SA yang sudah bebas lalat buah menyatakan akan membantu meningkatkan kualitas sekaligus eksportasi mangga dan manggis dari Indonesia, agar kedua produk pertanian ini diterima pasar Australia, dan pasar global.
Perikanan
Produk perikanan juga merupakan unggulan SA. Berbagai jenis ikan yang dihasilkan dari lingkungan yang bersih di SA menghasilkan kualitas dan rasa yang prima. Masalah yang dihadapi SA adalah keterbatasan tenaga khususnya untuk penangkapan ikan. Banyak di antara mereka yang berpindah haluan ke bidang pertambangan yang lebih menjanjikan terutama dari segi keuangan. Nah, kekosongan tenaga terampil di bidang ini nampaknya menjadi peluang bagi tenaga kerja Indonesia.
Sekolah dan Sertifikasi
Banyak yang bisa dipelajari dari SA. Pendidikan misalnya. Salah satu sekolah yang dikunjungi oleh delegasi dari Jabar, adalah sekolah yang dikelola oleh kerjasama kalangan industri dan pemerintah, dimana program belajarnya tidak memisahkan sekolah kejuruan dengan sekolah umum. Dengan demikian, bea sekolah terjangkau, dan lulusannya mempunyai