“ ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3 : 30) EDISI September 2013 Saudara dan saudari terkasih dalam iman,
Tidak terasa kita telah memasuki bulan September lagi, musim dingin telah berlalu digantikan musim semi. Di bulan September ini juga, KKI – Melbourne berulang tahun. Ulang tahun pada umumnya merupakan even yang biasa dirayakan dan diperingati, seperti apa yang akan dilakukan pengurus maupun umat anggauta. Disamping merayakan, saat ber-Ulang tahun juga sering dijadikan momentum untuk refleksi kebelakang, apa yang telah kita lakukan.
Redaksi tidak pernah bosan, mengingatkan makna arti KKI, Keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa KKI sekarang terdiri dari bermacam-macam organisasi. Walaupun bersifat spiritual, variasinya sangat beragam dan pada kesempatan ini, redaksi ingin menggelitik pembaca, bagaimana kita mengukur keberhasilan K(eluarga)KI-Melbourne ini. Apakah cukup dengan mengukur jumlah kegiatan, umat atau anggautanya saja, atau ada tolak ukur lainnya seperti, kualitas atau mutu hubungan antara kelompok masing-masing. Redaksi ingin melontarkan tolak ukur lainnya, yaitu komunikas antar kelompok. Kita bisa menilai dengan melihat tiap kelompok yang memiliki newsletter atau media komunikasi masing-masing. Bagaimana dengan komunikasi antar kelompok? Rasanya kurang ideal, kalau ada keluarga yang anggautanya tidak pernah berkomunikasi satu sama lainnya? Situasi menjadi lebih ideal kalau tiap kelompok berkomunikasi secara terbuka dan transparan. Tentu saja apa yang dikomunikasikan tidak selalu harus dapat diterima mengingat perbedaan pendapat itu wajar.
Mungkin saja pertanyaan ini dapat dijadikan kado atau bahan refleksi ulang tahun untuk pengurus.
Redaksi juga ingin melaporkan, bahwa redaksi telah berusaha keras mencari artikel yang baik untuk dimuat dalam Warta KKI. Kami terus menghimbau dan mohon kepada romo chaplain, anggauta umat untuk menyumbangkan artikel atau tulisan yang layak. Sampai-sampai redaksi telah menghubungi pihak luar KKI untuk mengijinkan Warta KKI mengutip artikel mereka. Hal ini dianggap perlu untuk menjaga kontinuitas dari penerbitan Warta KKI.
Misalnya saja untuk edisi bulan ini, redaksi diperbolehkan oleh Western Australia Indonesian Catholic Community maupun chaplain mereka, romo Siriakus Maria Ndolu, untuk mengutip artikel mereka, ‘Ekaristi dan Keheningan’. Sebuah artikel yang bermutu, yang mengingatkan kita tentang perlunya keheningan dalam liturgy. Semoga pembaca dapat mengambil maknanya sehingga mendapatkan pencerahan. Pada kesempatan yang sama, Ben Sugija juga memberikan laporan singkat tentang pertemuan bulan Agustus di wilayah St Yohanes, Clayton.
Sekali lagi, selamat membaca dan kepada pengurus dan umat KKI-Melbourne, DIRGAHAYU. MISA KKI Minggu, 6 Oktober 2013 St Martin de Porres 25 Bellin Street Laverton VIC Pukul: 11.30 Minggu, 13 Oktober 2013 St. Joseph Church 95 Stokes Street Port Melbourne VIC
Pukul: 11.00 Minggu, 20 Oktober 2013 St Francis’ Church 326 Lonsdale St Melbourne VIC Pukul: 14:30 Minggu, 27 Oktober 2013 St. Paschal 98-100 Albion Rd
Box Hill VIC Pukul: 11.00 MISA MUDIKA Sabtu pertama Monastry Hall St. Francis Church 326 Lonsdale Street Melbourne VIC Pukul: 12.00 PDKKI Setiap Sabtu St. Augustine’s City Church
631 Bourke Street Melbourne VIC
EKARISTI dan KEHENINGAN
Oleh Romo Siriakus Maria Ndolu, O.Carm
Dalam tradisi rohani dikenal tiga macam Liturgi: Liturgi Surgawi, Liturgi Altar dan Liturgi Hati. Liturgi Surgawi adalah liturgi para kudus dan para malaekat di Surga, yang terus menyanyi memuji Allah: kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Liturgi Altar adalah Liturgi Ekaristi yang kita rayakan dan Liturgi Hati adalah sukacita, kegembiraan, rasa hikmat dan kagum, rasa agung dan tersentuh, rasa misteri dan hening-terpesona yang menguasai hati kita tatkala kita merasakan betapa Tuhan hadir dan senantiasa hadir dalam HATI kita dan dalam perayaan kita. Karena itu KEPENUHAN LITURGI hanya terjadi ketika ketiga unsur liturgi ini menyatu: mengarahkan hati kita ke surga, membawa kita kepada mis-teri kurban Kristus dan menyentuh hati kita! Hanya kalau ketiganya teramu dengan baik, maka liturgi sungguh-sungguh akan memberikan buah rohani yang kita butuhkan.
Dalam liturgi yang demikian, keheningan merupakan conditione sine qua non (syarat yang mesti ada!). Dan karena itu menjadi unsur yang harus diperhatikan. Keheningan dalam liturgi bagaikan pause di antara gerak pernafasan, ketenan-gan di antara pikiran-pikiran kita, istirahat di antara aktivitas-aktivitas kita. Bayangkan apa yang terjadi bila orang terus bernafas, terus berpikir, terus beraktivitas: melelahkan dan membawa orang kepada bahaya kematian (*). Di sinilah kita melihat sebuah kaitan yang erat antara Liturgi dan Keheningan.
Kalau kita perhatikan himbauan-himbaun Paus Yohanes Paulus II, kita akan melihat bagaimana Bapa Suci berusaha untuk mengajak kita menumbuhkan kembali pengalaman keheningan dalam liturgi (Liturgical Silence). Ajaran-ajaran itu berusaha mendorong kita untuk menemukan kembali PLEROMA Liturgi yang menawan- menggerakan-agung-mulia! Ajakan dan dorongan ini penting ditanggapi mengingat akhir-akhir ini liturgi kita dianggap kering, membosankan, tidak menyentuh dan tidak mampu menampilkan misteri yang menggetarkan kalbu dan membawa orang kepada pertobatan hati. Atau secara lain, liturgi kita kehilangan ROH dan dimensi MISTERI-MISTIK-nya sehingga terasa hambar-monoton-tak menyentuh. Bahkan kehilangan dimensi profetik: sebagai kesempatan untuk mewarhambar-monoton-takan Sabda Allah, dan dimensi Martiria: sebagai momen untuk memberikan kesaksian iman kepada orang-orang non-Katolik yang kebetulan datang menghadiri upacara penguburan atau perkawinan kolega kerjanya.
Berhadapan dengan kenyataan ini, apa yang kita perlukan sekarang? Kita memerlukan KEHENINGAN. Dalam kondisi liturgi seperti itu, KEHENINGAN memang dibutuhkan. Mengapa keheningan? Coba perhatikan apa kata Meister Eckhart, Mistikus Jerman abad ke-13 ini: “Tidak ada yang lebih menyerupai Allah selain keheningan”. Artinya “yang paling mirip dengan Allah itu bukan kata-kata atau gambaran-gambaran. Yang paling menyerupai Allah itu adalah KEHENINGAN”. Atau kata Bunda Teresa dari Kalkuta: “Keheningan adalah Allah yang berbicara kepada kita”. St Benediktus menggu-nakan dua kata untuk menterjemahkan kata keheningan: Quies dan Silentium. Quies artinya keheningan fisik, tak ada kegaduhan. Sedangkan silentium artinya situasi batin, situasi pikiran kita yang terarah kepada sesama dan Tuhan. Dan keterarahan itu merupakan sebuah attensi, perhatian. Silentium itu keterarahan dan karena itu berarti atensi atau perha-tian. Namun perhatian itu bukanlah perhatian untuk menilai, mengadili atau menghukum. Perhatian itu adalah perhatian
untuk mencinta. Maka dalam perspektif ini tidak ada yang lebih menyerupai Allah selain keheningan karena Allah itu cinta dan cinta itu berarti perhatian dan perhatian itu adalah silentium!
Bila demikian perspektif kita, sungguh betapa pentinglah keheningan dalam perayaan Ekaristi kita. Ia membantu kita untuk attensi pada Allah. Dan ketika kita memberikan attensi pada Allah kita segera menyadari bahwa sesungguhnya Al-lah teAl-lah lebih dahulu memberikan attensi-Nya untuk kita. Perhatian AlAl-lah kepada kita- Al-lah yang memampukan kita untuk memberikan perhatian pada Allah. Sebagaimana St Yohanes katakan: ”Bukan kita yang mengasihi Allah tetapi Allah-lah yang mengasihi kita. Kita mengasihi Allah karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”. Hal ini membuat Ekaristi memiliki di-mensi yang lebih dalam, didi-mensi mistiknya. Karena dalam keheningan kita merasakan dan memasuki keheningan Bapa darimana SANG SABDA itu berasal.
Dimensi mistik inilah yang mau dinikmati oleh umat yang mengikuti Ekaristi sebagai makanan rohani-nya. Maka mesti ada usaha yang dilakukan agar momen yang berharga ini sungguh-sungguh dapat dinikmati. Di sini CARA bagaimana Ekaristi dirayakan menjadi penting yaitu dengan memberikan waktu dan tempat untuk memanifestasikan misteri batin-segi batin dari Ekaristi itu.
Namun acapkali terjadi bahwa para imam ragu-ragu untuk memberikan kesempatan hening dalam perayaan Ekaristi . Takut akan keheningan dalam Ekaristi umumnya menimpa imam selebran daripada umat. Apakah ia takut kalau ketika ia membuka matanya ia melihat Gerejanya sudah kosong? Apakah ia takut karena kehilangan kontrol? Takut akan kehenin-gan sering adalah takut akan ketidakhadiran, akan kekosonkehenin-gan yang kita takutkan, ketakutan akan tiadanya sesuatu un-tuk dipikirkan. Atau itu bisa saja karena pembinaan secara teologis dan liturgis tidak mempersiapkan kita unun-tuk setengah yang lain, setengah dimensi mistik Ekaristi, dimensi apophatik yang sebenarnya berada dalam semua aspek kehidupan rohani?
Keheningan memperbaharui, memperkenalkan dimensi apophatik, dimensi kontemplatif yang hilang ini. Ekaristi hanya dapat dilihat secara penuh sebagai puncak dan sumber kehidupan Gereja jika perayaannya menghadirkan ketegangan/ paradoks misteri ganda ini: kataphatik dan apophatik – yang terlihat dan yang tersembunyi – yang ditemukan dalam semua kehidupan Kristiani sebagai akibat dari kenyataan adanya dua pribadi dalam diri Yesus. Moses memasuki awan kegelapan dimana Allah ada. Dan meskipun begitu Allah adalah terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan sama sekali. Keheningan dapat dimengerti sebagai dimensi apophatik. Tetapi juga meneguhkan secara powerful kalau kita menyapa Allah/kataphatik. Tanpa keheningan kata-kata dapat menjadi ocehan belaka.
Banyak tempat dalam Ekaristi dimana momen-momen keheningan itu disediakan.
Banyak selebran memulainya dengan sesaat hening di sakristi dengan para misdinar dan lector sebelum prosesi masuk. Ketika selebran mengajak umat untuk berdoa, marilah berdoa, diberikan sedikit saat hening sebelum kata-kata Colecta untuk mengumpulkan doa-doa yang tak terucap dari umat. Ritus penitensi mengajak umat untuk merenungkan secara batin sehingga mereka dapat mempersiapkan pengalaman Ekaristi sebagai perayaan penyembuhan dan pengampunan dalam kehidupannya yang tidak sempurna. Bacaan-bacaan secara istimewa meminta saat-saat pause, sebelum Mazmur tanggapan atau pengantar Injil. “Bacaan-bacaan harus diwartakan dengan persiapkan dan perhatian penuh devosi dan keheningan meditatif sehingga memampukan Sabda Allah menyentuh pikiran dan hati umat” ( Yohanes Paulus II dalam Mane Nobiscum Domine).
Pengkotbah-pengkotbah Katolik umumnya sungguh sadar akan lamanya homili yang mesti diatur dan lebih memberikan saat hening untuk meresapkan Sabda, tidak seperti pelayan-pelayan Protestan. IGMR (Institutio Generalis Missalis Ro-mani –Pedoman Umum Misale Romawi – tahun 2000) tidak memberikan saat hening selama atau pada akhir Doa Umat, tetapi hal ini sering kali dipraktekkan: “Marilah kita hening sejenak untuk berdoa di dalam hati kita”. Ini adalah kesempa-tan yang diberikan kepada umat untuk berdoa di dalam hatinya bagi intensinya yang kemudian disimpulkan oleh imam dengan kata-kata: “Tuhan, Engkau tahu kebutuhan kami bahkan sebelum kami memintanya. Karena itu kami menem-patkan di hadapanMu doa-doa kami, yang terucap maupun yang tidak terucap”. Semua bentuk doa, kata Paus Yohanes Paulus II, dibangun di atas dasar keheningan.
Pemecahan Roti, pemecahan Hostia, adalah momen mistik dan saat hening selama pemecahan ini berlangsung meru-pakan sesuatu yang seharusnya dan dibutuhkan. Namun sesuatu yang sangat bermakna dan perlu adalah saat hening waktu Komuni Kudus. Jika seluruh Ekaristi adalah Culmen et Fons Gereja tentulah momen ini adalah PUSAT MISTIK-nya. Dan sesudah Komuni Kudus untuk menciptakan saat hening akan menimbulkan ketakutan dalam diri para imam-nya karena mereka mulai merasa apakah perayaan menjadi terlalu lama dan anak kecil sudah mulai gaduh dan orang dewasa sudah mulai keluar Gereja. Sekarang kita perlu ingat bahwa keheningan bukanlah melulu ketiadaan bunyi tetapi saat untuk memberikan perhatian penuh cinta. Menurut pengalaman Laurence Freeman, keheningan sesudah komuni bukannya membuat anak-anak menjadi lebih gaduh dan orang dewasa menjadi gelisah, tetapi justru sebaliknya itu membuat anak-anak lebih tenang dan doa sesudah Komunio akan menjadi doa penuh rasa syukur dan penuh semangat karena kita merasa telah menyelesaikan perayaan kita. Memang para imam mungkin harus menjelaskan peran kehenin-gan ini pada umat agar mereka pun memahami apa yang sedang berlangsung. Karena keheninkehenin-gan bukanlah saat pause untuk istirahat sejenak tetapi sesuatu yang kita butuhkan untuk memasuki semakin dalam misteri yang sedang dirayakan. Keheningan dalam Ekaristi bukanlah tindakan memprivatisasi liturgi – membuatnya urusan pribadi semata. Itu sering ter-jadi dahulu dalam ritus Tridentin dari Konsili Trente. Umat memang merasakan adanya sesuatu yang misterius dan sakral terjadi namun secara pribadi mereka tidak terlibat di dalamnya. Keheningan sebagai pengalaman liturgis menarik komu-nitas atau umat beriman untuk lebih dekat satu sama lain dan menyatukan perhatian mereka sehingga bersama-sama dalam pikiran dan hatinya, mereka dapat mendengarkan Sabda dan berbagi dalam misteri. St Ignasius dari Antiokia ber-kata: “Jika kita tidak dapat memahami keheningan Kristus kita tidak akan mampu mengerti kata-kataNya juga. Kita hanya dapat mengerti keheninganNya dengan membiarkan diri masuk dalam keheningan. Dengan melakukan hal ini bersama, kita mengalami bahwa misteri keheningan membangun KOMUNITAS”.
Untuk menutup renungan ini, sekali lagi saya mengingatkan kita akan kata-kata Paus Yohanes Paulus II dalam Mane No-biscum Domine: “Kita perlu bergerak dari keheningan liturgis kepada dimensi kontemplatif kehidupan”. Keheningan dalam Ekaristi hendaknya membawa kita kepada kontemplasi kehidupan dimana kita akan menemukan implikasinya untuk kehidupan kita. Salah satu hal yang layak diingat bahwa keheningan liturgi juga mempunyai implikasi politis sebagaimana kita lihat dalam diri Oscar Romero, sosial-karitatif dalam diri Mother Teresa, Dorothy Day dan lain sebagainya. (ENDS) —————————
(*) Peran keheningan yang demikian dilukiskan dengan baik oleh kisah mengenai seorang rabbi yang sedang berdialog dengan murid-muridnya. Mereka sedang melakukan diskusi mengenai sebuah teks Kitab Suci. Mereka tertarik dengan apa yang dilakukan gurunya. Sang Guru memperlihatkan halaman teks Kitab Suci itu. “Apa yang kamu lihat?”, tanya sang guru. “Kata-kata teks yang sedang kita diskusikan”, jawab murid-murid itu. “Ini adalah baris-baris hitam pada hala-man ini. Namun ini hanya setengahnya. Karena setengah lainnya adalah baris-baris putih”. Dan baris-baris putih ini adalah batas keheningan di antara kata-kata yang tertulis itu.
(Western Australia Indonesian Catholic Community – 4 Juli 2012)
Warta KKI diterbitkan oleh pengurus Keluarga Katolik Indonesia setiap akhir bulan.
Sumbangan tulisan, naskah, dan berita seputar kegiatan KKI anda, bisa di kirim lewat email ke Bpk Rufin Kedang di [email protected]
KELUARGA
Oleh : Ben Sugija
Bulan Agustus lalu, saya kebetulan menghadiri kegiatan pertemuan bulanan di wilayah St Yohanes , Clayton. Ternyata, acara tersebut ditujukan kepada kelompok senior dengan sasaran mencoba mencari interaksi yang ideal di antara beda generasi. Mungkin panitia sedang atau ingin mencari bentuk atau format komunikasi an-tara kelompok senior dengan yang lebih muda.
Rupanya panitia sangat serius mempersiapkannya, malahan sampai-sampai melakukan pendekatan yang sangat simpatik untuk menilpun secara pribadi. Pemandu acara pun dipilih Bapak Istas Hidayat, dan pilihan ini sangat tepat. Pak Istas berhasil membuat suasana nyaman, rileks, sehingga terjadi komunikasi berbagi pen-galaman dari yang senior maupun yang lebih muda.
Acara dibuka oleh renungan yang dibawakan oleh chaplain KKI, romo Wahyu. Setelah renungan, acara dilan-jutkan oleh pak Istas yang menceritakan pengalaman pribadinya tentang komunikasi dengan anak-anaknya. Acara menjadi lancar bergulir, rileks apalagi setelah pak Istas membacakan sajaknya. Kelompok senior, dis-amping menceritakan ulang tentang pembentukan KKI-Melbourne, juga menyampaikan harapan dan pesan-pesan kepada kelompok penerus. Tanya jawab, pemberian komentar terus tidak berhenti, sehingga tidak terasa waktu bersantap telah tiba.
Saya sengaja tidak melaporkan secara detil, apa isi diskusi pada malam itu. Tetapi, saya ingin membawahi keberhasilan panitia termasuk pemandu yang berhasil menciptakan suasana keluarga dalam pertemuan malam itu. Jumlah orang tidak begitu banyak, diperkirakan sekitar 50 sampai 60 orang dan kelompok senior sekitar lima enam pasangan. Keberhasilan diukur dari komentar, tanya-jawab yang tidak terhenti dan spontan. Sayapun percaya bahwa tidak semua bahan yang dibahas, disetujui oleh semua hadirin. Tentu saja ada yang berbeda pendapat, dan ini wajar adanya. Yang pasti dan jelas, ada komunikasi yang jujur, terbuka, dan disitu-lah kita dapat merasakan arti atau makna kebersamaan, yaitu satu keluarga.
Salah satu makna dari keluarga adalah, komunikasi. Keluarga yang anggautanya tidak berkomunikasi tapi tersekat oleh kelompoknya ataupun generasinya saja, belumlah ideal.