Lex Crimen Vol. V/No. 4/Apr-Jun/2016. CACAT KEJIWAAN SEBAGAI ALASAN PENGHAPUS PIDANA 1 Oleh: Doddy Makanoneng 2
Teks penuh
Dokumen terkait
Menyimak dari pemahaman Pasal 56 ayat (1) KUHAP yang di dalamnya menegaskan hak dari tersangka atau terdakwa untuk didampingi penasihat hukum apabila tindak pidana
Cakupan tindak pidana Pasal 221 ayat (1) ke-1 KUHPidana yaitu menyembunyikan pelaku kejahatan atau memberi pertolongan kepadanya menghindari penyidikan atau
Pertanggungjawaban pidana berkenaan dengan penerapan Pasal 44 ayat (1) KUHP, manakala dikaitkan dengan contoh-contoh misalnya dalam suatu perkara tindak pidana
Pada tahap ini yang dipandang sebagai pelaku tindak pidana adalah manusia alamiah (natuurlijke persoon). Pandangan ini dianut oleh KUHP yang sekarang berlaku di
(1) Dengan perintah yang dimaksud pasal 14a, kecuali jika dijatuhkan pidana denda, selain menetapkan syarat umum bahwa terpidana tidak akan melakukan tindak pidana,
Dalam pasal 221 ayat (2) KUH Pidana diberikan ketentuan bahwa aturan diatas, yaitu tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal 221 ayati (1) KUH Pidana, tidak berlaku
Tindak pidana Pasal 304 KUHPidana memiliki unsur-unsur, yang keseluruhannya, yaitu: (1) Barangsiapa, (2) dengan sengaja, (3) menempatkan atau membiarkan seorang dalam
didalam pertanggungjawaban pidana seseorang yang memiliki kelainan jiwa dapat dijadikan alasan pemaaf sebagaimana diatur dalam pasal 44 ayat 1 KUHP “Barang siapa melakukan perbuatan