Laporan Praktek Pengecatan Ulang 2012

25 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTEK

LAPORAN PRAKTEK

PENGECATAN ULANG

PENGECATAN ULANG

OLEH : OLEH : AHMAD SAHWAWI AHMAD SAHWAWI 10.0137 10.0137

JURUSAN TEKNIK PERBAIKAN BODI

JURUSAN TEKNIK PERBAIKAN BODI OTOMOTIOTOMOTIFF SMK NEGERI 2 BUNGORO

SMK NEGERI 2 BUNGORO 2012

(2)

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN Laporan praktek teknik pengecatan ulang atas nama siswa : Laporan praktek teknik pengecatan ulang atas nama siswa :

 Nama

 Nama : AHMAD SAHWAWI: AHMAD SAHWAWI  NIS

 NIS : 10.0137: 10.0137 Jurusan

Jurusan : : TEKNIK TEKNIK PERBAIKAN PERBAIKAN BODI BODI OTOMOTIFOTOMOTIF

Telah diselesaikan pada hari rabu tanggal 21 Nopember 2012 digedung bengkel Telah diselesaikan pada hari rabu tanggal 21 Nopember 2012 digedung bengkel  bodi otomotif SMK Neg

 bodi otomotif SMK Negeri 2 Bungoroeri 2 Bungoro

Menyetujui

Menyetujui Pangkep, Pangkep, Nopember Nopember 20122012 Guru

Guru PenanggunPenanggung g Jawab Jawab Guru Guru mata mata pelajaranpelajaran M.P.

M.P. Teknik Teknik Pengecatan Pengecatan Ulang Ulang yang yang memeriksamemeriksa

Rusli

Rusli Wahid Wahid S.Pd. S.Pd. M.Si M.Si A. A. Mangumpeang Mangumpeang S.PdS.Pd  NIP :1974031620

(3)

LEMBAR ASISTENSI

 Nama : AHMAD SAHWAWI

 NIS : 10.0137

Jurusan : TEKNIK PERBAIKAN BODI OTOMOTIF

No. Bagian Yang Dikoreksi Tanggal Paraf

Mengetahui Pangkep, Nopember 2012

Rusli Wahid S.Pd. M.Si A. Mangumpeang S.Pd  NIP :197403162007011011 NIP : 198710082011011005

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan hasil praktek pengecatan ulang ini dapat diselesaikan dan kita kirimkan salam dan shalawat atas junjungan kita nabi  besar Muhammad SAW. Yang telah mengantarkan kita dari alam gelap gula

menuju alam terang benderang.

Demi menuntaskan kompetensi pengecatan ulang di bengkel teknik bodi otomotif, maka penulis selaku siswa membuat sebuah laporan hasil praktek  pengecatan ulang ini. Laporan ini memuat tentang kegiatan praktek selama semester ganjil ini yang terdiri dari praktek pembentukan panel, pengecatan dasar,  pendepulan panel, pengecatan warna, pengecatan clear, serta finishing.

Harapan saya selaku penulis, semoga laporan ini dapat memberikan mamfaat baik penulis maupun orang lain dengan menerapkan teknik-teknik  pengecatan ulang ini. Akhir kata penulis ucapkan terimah kasih banyak.

(5)

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ………... i

Lembar Asistensi ………...……….. ii

Kata Pengantar ………...…. iii

Daftar isi ……….. iv

Daftar Gambar ………. v

BAB I Pendahuluan 1.1. Sejarah Bodi Kendaraan ……….. 1

1.2. Konstrukksi Bodi Kendaraan ……….. 2

1.3. Teknologi Bodi Kendaraan ………. 3

1.4. Metode Perbaikan Bodi Kendaraan ……… 4

1.5. Pengecatan ……… …….. 5

BAB II Kegiatan Praktek Teknologi Teknik Pengecatan Ulang 2.1. Pembentukan dan Persiapan Panel ……….. 7

2.2. Pengecatan Dasar ……….… 10 2.3. Pendempulan ………... 11 2.4. Pengamplasan ……….. 12 2.5. Pengecatan Warna ………..……. 13 2.6. Pengecatan Clear ……….…… 14 2.7. Finishing ………..… 16

BAB III Penutup 3.1. Kesimpulan ………..… 17

3.2. Saran ………..…. 17

Daftar Pustaka ……… 18

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Kendaraan berbahan plat Gambar 1.2. Assembly (merakit) kendaraan Gambar 1.3. Konstruksi bodi kendaraan Gambar 1.4. Perbaikan bodi mobil Gambar 1.5. Pengecatan

Gambar 2.1. Mobil New Yaris Gambar 2.2. Pintu mobil

Gambar 2.3. Sketsa mobil (gambar teknik) Gambar 2.4. Pelat ukuran 30x30

Gambar 2.5. Panel yang telah dibentuk Gambar 2.6. Pengecatan dasar (penulis) Gambar 2.7. Panel yang telah dicat dasar Gambar 2.8. pendempulan panel (penulis)

Gambar 2.9. Pengamplasan panel pintu (Penulis) Gambar 2.10. Panel yang telah diamplas

Gambar 2.11. Pengecatan Warna (penulis)

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

A . SEJARAH BODI KENDARAAN

Sekitar tahun 1896 – 1910, bodi kendaraan masih terbuat dari kayu untuk bagian chassis dengan bodi kereta kuda saat itu. Kayu yang digunakan memiliki ketebalan sekitar 10 mm. Sambungan antar komponen menggunakan paku yang terbuat dari besi tempa. Untuk  bagian atap kendaraan, ada yang menggunakan kain biasa, kain kanvas, namun ada juga yang

menggunakan kayu dengan tujuan agar bodi bisa kuat.

Pada tahun 1921, Weymann memperkenalkan konstruksi lantai yang menjadi  penopang komponen bodi yang lain, seperti dinding kendaraan serta kursi kendaraan. Lantai sengaja dibuat dari bahan yang kuat, sedangkan komponen yang lain bisa dibuat dari komponen yang ringan. Sambungan dinding dengan lantai menggunakan plat baja yang dibaut, dan untuk menghilangkan celah antar sambungan biasanya digunakan kayu. Panel- panel terbuat dari kain, kanvas dan bagian luar menggunakan kulit. Akan tetapi bahan ini

memiliki umur yang pendek.

Setelah permintaan kendaraan semakin meningkat, maka diperlukan suatu proses  pembuatan bodi yang cepat dan dapat diproduksi massal. Perkembangan teknologi logam saat itu ikut mempercepat perkembangan teknologi bodi kendaraan, dimana besi bisa diolah dan dibentuk dengan menggunakan mesin press.

Baru pada tahun 1927 secara keseluruhan bodi kendaraan terbuat dari logam, dimana  bodi kendaraan yang terdiri dari berbagai komponen telah dibuat dari lembaran plat yang

dibentuk/dipress. Dengan perkembangan cara pengolahan logam yang semakin meningkat, maka produksi produksi kendaraan juga d apat meningkat.

Gambar 1.1. Kendaraan berbahan plat

Permintaan kendaraan yang terus meningkat, menyebabkan terjadi persaingan antar  perusahaan dalam memproduksi kendaraan. Ahliahli teknik bodi tiap perusahaan berusaha

menciptakan bodi kendaraan sesuai dengan kebutuhan, ergonomi dan dan memiliki kenyamanan bagi pengemudi dan penumpangnya.

(8)

Perkembangan teknologi bodi di bagian chassis dari tahun ke tahun juga mengalami kemajuan. Sebagai contoh, roda kendaraan yang semula memiliki diameter yang tidak sama, roda belakang lebih besar dari pada roda depan, jari-jari terbuat dari bahan kayu dan roda dilapis logam baja menjadi roda yang sudah menggunakan karet dan velg logam baik besi ataupun alumunium. Bahkan sekarang teknologi ban sudah tidak memakai ban dalam (tubeless tire) yang lebih aman dan mudah penggunaannya.

Atap kendaraan(head lining)yang semula hanya terbuat dari kain, kemudian bergeser terbuat dari vinil maupun plastik yang lebih menarik bentuknya dan mudah dibersihkan. Proses pemasangannya pun relatif mudah dengan menggunakan adhesive(lem).

Kenyamanan penumpang dalam berkendara juga selalu ditingkatkan, misalnya tempat duduk yang memiliki pegas dan dapat diatur posisinya, interior seperti door trim, panel- panel, dashboard yang terbuat dari bahan vinil atau plastik bahkan lantai karpet yang mudah

dibersihkan. Sistem kemudi yang dahulu menggunakan tongkat berubah menjadi roda kemudi, tuas pemindah gigi percepatan juga menyesuaikan kenyamanan pengemudi dan masih banyak kemajuan lainnya.

Sistem kelistrikan juga mulai dikembangkan. Pada awalnya lampu kendaraan menggunakan minyak, kemudian berkembang menggunakan acetylene (karbit) dan sekarang menggunakan baterai sebagai sumber listrik. Fungsi lampu yang dahulu hanya sebagai alat  penerangan di malam hari, saat ini lampu juga dijadikan sebagai isyarat dan ramburambu

dalam usaha meningkatkan keselamatan dalam berkendara. Lampu-lampu juga menjadi kepentingan asesoris kendaraan untuk

meningkatkan tampilan kendaraan.

Perkembangan bodi kendaraan, juga memegang peranan penting dalam hal kemampuan kendaraan. Pertama kali kendaraan mesin uap Cugnot diciptakan, hanya bisa  berjalan sekitar 5 km/jam, akan tetapi saat ini kendaraan sudah bisa berjalan dengan kecepatan diatas 100 km/jam namun tetap nyaman, aman dan tidak berisik. Kebanyakan orang mungkin hanya berpendapat bahwa kecepatan tergantung dari mesinnya, akan

tetapi saat ini orang mulai menyadari bahwa kecepatan kendaraan juga dipengaruhi oleh stabilitas kendaraan serta bentuk dan permukaan bodi kendaraan. Seperti di arena balap, aerodinamika suatu kendaraan sangatlah penting untuk mencapai kecepatan dan kestabilan kendaraaan, demikian halnya dengan kendaraan biasa, sekarang bodi menjadi salah satu hal yang sangat penting dan selalu dilakukan pengembangan.

B. KONSTRUKSI BODI KENDARAAN

Bagian mobil terbagi dalam 2 kelompok besar, yaitu bodi dan chassis. Bodi adalah  bagian dari kendaraan yang dibentuk sedemikian rupa, (pada umumnya) terbuat dari bahan  plat logam (steel plate) yang tebalnya antara 0,6 mm – 0,9 mm sebagai tempat penumpang

ataupun barang.

Chassis adalah bagian dari kendaraan yang berfungsi Sebagai penopang bodi dan terdiri dari frame (rangka), engine (mesin), power train  (pemindah tenaga), wheels (roda-roda), steering system (sistem kemudi), suspension system (sistem suspensi), brake system (sistem rem) dan kelengkapan lainnya.

Berdasar pada konstruksi menempelnya bodi pada rangka, maka terdapat 2 jenis konstruksi bodi kendaraan, yaitu konstruksi composite  (terpisah) dan konstruksi monocoq (menyatu).

Rangka merupakan tempat menempel-nya semua komponen kendaraan termasuk  bodi. Rangka harus kuat, ringan, kukuh dan tahan terhadap getaran, atau goncangan yang diterima dari kondisi jalan. Agar kuat maka konstruksi rangka ada yang kotak,bentuk U atau

(9)

 pipa, yang pada umumnya terdiri dari dua batang yang memanjang dan dihubungkan dengan  bagian yang melintang. Pada awal perkembangan teknologi bodi

dan rangka kendaraan, bodi dan rangka dibuat secara t erpisah (composite body) namun akhir-akhir ini bodi dan rangka dibuat menyatu (monocoque body, atau disebut juga integral body) khususnya pada kendaraan sedan.

Konstruksi Terpisah (Composite)

Merupakan jenis konstruksi bodi kendaraan dimana bodi dan rangkanya terpisah. Pertautan/penyambungan antara bodi dan rangka menggunakan baut dan mur. Untuk meningkatkan kenyamanan saat digunakan, maka diantara bodi dan rangka dipasang karet sebagai alat peredam getaran.

Konstruksi bodi dan rangka yang terpisah ini memberikan kemudahan dalam  penggantian bagian bodi kendaraan yang mengalami kerusakan, terutama bodi bagian bawah atau putusnya rangka. Konstruksi ini biasanya digunakan pada kendaraan sedan tipe lama, kendaraan penumpang dan mobil angkutan barang. (misal truck, bus, pick up dan lain sebagainya).

Konstruksi Menyatu ( Monocoque)

Gambar 1.2. Assembly (merakit) kendaraan

Merupakan jenis konstruksi bodi kendaraan dimana bodi dan rangka tersusun menjadi satu kesatuan. Konstruksi ini menggunakan prinsip kulit telur, yaitu merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga semua beban terbagi merata pada semua bagian kulit. Pertautan antara  bodi dan rangka menggunakan las. Karena bodi dan rangka menyatu, maka bentuknya dapat

menjadi lebih rendah dibanding dengan tipe compositesehingga titik berat gravitasi

lebih rendah menyebabkan kendaraan akan lebih stabil. Konstruksi ini digunakan pad a sedan,  bahkan beberapa kendaraan MPV ( Multi Purpose Vehicle) mulai menerapkan konstruksi

monocoq body.

C. TENOLOGI BODI MOBIL

Bodi merupakan bagian terbesar dari sebuah mobil. Tak hanya untuk dilihat sebagai eksterior, tetapi peran dari sebuah tunggangan seutuhnya berada di bodi. Bayangkan, seluruh  bagian yang ada, mulai dari mesin, transmisi, penyalur daya hingga bagian dalam kabin

(10)

semuanya menyatu dalam bodi. Selama 20 tahun terakhir ini, cukup banyak terlihat  perubahan-perubahan yang signifikan dari bodi mobil. Mulai dari rancangannya yang memang disesuaikan dengan perkembangan zaman, juga fitur-fitur yang ada pada bodi tersebut yang dikembangkan agar semakin aman dan nyaman. Soal desain, terlihat bentuk semakin membulat menjadi makin meluas. Tak hanya pada sedan atau hatchback, gerombolan mobil keluarga pun semakin menunjukkan bentuk yang mendukung angka aerodinamika lebih baik. Tentu ini berhubungan dengan ketentuan umum, yaitu semakin  baik nilai aerodinamikanya, semakin sedikit hambatan angin yang terjadi selama tunggangan dipacu. Pada akhirnya, tentu efisiensi bahan bakar akan tercapai. Penunjang nilai aerodinamika ini bisa terlihat dari pengurangan hal-hal penghambat, seperti talang air, yang kemudian dihilangkan dan berganti dengan bentuk pintu membulat, kemudian hendel pintu yang tak terlalu menonjol ke luar bodi. Serta beberapa SUV, yang relative berbentuk kotak-kotak kini menggunakan desain makin membulat dan menggunakan aerokit seperti spoiler, diffuser yang memang sudah menjadi kelengkapan standarnya. Kemudian, dari segi bahan  pun semakin ringan, tentu tujuannya pun sama, yaitu menciptakan kendaraan yang makin enteng sehingga tak perlu menggunakan mesin berkapasitas besar yang boros bahan bakar, untuk membuatnya melaju.

Gambar 1.3. Konstruksi bodi kendaraan

Tetapi bahan enteng itu pun tetap mempertahankan kekuatannya. High tensile steel, menjadi  bahan plat yang digunakan pada bodi mobil yang belakangan dibuat menjadi semakin

ringkas. Dengan menggunakan body on frame chassis atau full monokok.

D. METODE PERBAIKAN BODI

Semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor dan tidak seimbangannya  pembangunan jalan raya, maka kini kemungkinan mobil mengalami kerusakan bodi akibat saling tabrak dan saling bersenggolan semakin sering terjadi. Oleh karena itu, kompetensi siswa SMK untuk perbaikan bodi dan cat semakin dibutuhkan. Selain didukung dengan

(11)

fasilitas yang memadai, teknik perbaikan bodi juga perlu dipelajari sehingga kualitas  pekerjaan perbaikan bodi kendaraan akan semakin baik.

Dengan teknisi muda yang dididik melalui pendidikan secara benar dan sistematik, diharapkan dapat dihasilkan lulusan/ mekanik yang berkualitas dalam hal perbaikan bodi dan  pengecatan.

Gambar 1.4. Perbaikan bodi mobil

Banyak kebiasaan lama yang salah kini malah dikoreksi oleh system dan teknologi  baru. Sebagai contoh, dulu bila ada bagian bodi yang penyot maka pelat dibagian tersebut dipanas sampai merah, disiram air dingin dan kemudian akan diketok agar bentuknya pulih mendekati aslinya. Dengan cara ini diharapan ketika didempul, dempulnya tidak terlalu tebal. Permukaan pelat bodi memang pulih dan lapisan dempul tipis, akan tetapi pelat yang panas ternyata rusak dan akhirnya mudah menjadi karat.

Dengan menggunakan teknologi maju, maka pelat tidak dipanasi lagi. Permukaan  pelat yang penyot diperbaiki dengan menggunakan dasar seperti palu dan dolly, peralatan hidrolik dan sebagainya. Untuk memperbaiki bagian yang rusak akibat tabrakan, kini teknisi lebih banyak menggunakan ketok dan tarik tanpa pemanasan. Hasilnya, selain kekuatan pelat tidak berubah permukaan catpun menjadi lebih cemerlang.

E. PENGECATAN

Setelah perbaikan seluruh bodi selesai dilakukan, termasuk rangka maupun pintu,

engine hood , atap, fender atau apapun yang mengalami kerusakan, yang diperbaiki melalui  pengentengan atau perbaikan lainnya menggunakan berbagai alat yang diperlukan baik alat-alat tangan, alat-alat hidrolik dan sebagainya, maka tiba saatnya sebuah kendaraan dipermanis dengan pengecatan untuk menimbulkan kesan manis.

Kini, proses pengecatan membutuhkan ruangan khusus, yang dikenal dengan painting room (ruang cat). Bahan cat yang berkualitas tinggi, membutuhkan pula teknik dan  pendukung yang baik. Pengecatan tidak bisa dilakukan di ruangan terbuka, karena sisa- sisa cat akan kembali melekat pada permukaan yang dicat, yang mengakibatkan permukaan cat tidak bisa halus. Debu dan binatang kecil yang hinggap sulit dihilangkan karena cat cepat mengering. Oleh karena itu, pengecatan dilakukan di ruang pengecatan yang memiliki sirkulasi udara yang bagus. Udara yang disaring, diisap dari luar akan kembali dikeluarkan lewat saluran lain. Sehingga terjadi perputaran udara. Kabut cat akan spontan terisap keluar sehingga tidak ada kesempatan menimpa permukaan yang baru dicat.

Pekerjaan pengecatan dimulai dari pengamplasan permukaan bodi menggunakan amplas yang kasar, sampai dengan amplas halus. Jika diperlukan dilakukan pendempulan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Pengecatan merupakan kegiatan praktik yang menyenangkan, karena merupakan pekerjaan terakhir sebelum kendaraan b isa digunakan.

(12)

Sebelum pekerjaan pengecatan dimulai, terlebih dahulu persiapkan peralatan yang diperlukan. Seperti kompresor udara (Sebagai sumber udara), slang-slang tekanan tinggi termasuk sambungansambungannya yang rapat, spray gun, kertas masking, baju khusus  pengecatan, masker udara (untuk melindungi pernafasan kita) cat yang akan digunakan dan

kelengkapannya, serta peralatan lainnya. Untuk melindungi komponen yang tidak akan dicat  perlu dimasking terlebih dahulu. Kemudian kendaraan dibawa ke ruangan khusus pengecatan

(spray booth). Hal ini dilakukan agar saat melakukan pengecatan, tidak terganggu oleh debu dan kotoran disekitar pengecatan.

Gambar 1.5. Pengecatan

melaksanakan pengecatan, diperlukan teknik pengecatan yang tepat, agar memperoleh hasil yang maksimal. Sebagai contoh, pencampuran warna harus tepat. Apalagi kita melakukan spot repainting atau nyepet,maka cat lama dengan cat baru juga harus sama. Selain itu, pengaturan jumlah cat dan udara harus tepat sehingga menimbulkan

campuran yang tepat. Jarak pengecatan juga harus disesuaikan dengan kondisi campuran cat dan thinnernya, overlapping pengecatan juga harus baik. Dengan menggunakan teknik yang tepat, maka hasil pengecatan akan maksimal.

Setelah pengecatan selesai, maka kendaraan dibawa ke ruang khusus untuk dipanaskan. Pemanasan ini penting untuk mempercepat proses pengeringan cat. Sumber dari  panas bisa menggunakan lampu pemanas biasa atau sekarang sudah banyak menggunakan

ruangan pemanas oven.

Setelah selesai pengecatan, agar kendaraan lebih mengkilap dan cat benar-benar rata, maka dilakukan polishing atau poles cat. Poles dapat dilakukan dengan menggunakan mesin, dapat juga menggunakan tangan. Khusus memoles kendaraan setelah selesai pengecatan, disarankan memoles dengan menggunakan mesin untuk menimbulkan kilau yang beraturan (melingkar).

Proses polish juga bisa dilaksanakan tidak hanya sehabis pengecatan, akan tetapi bisa dilakukan apabila terdapat goresan yang terdapat pada cat, namun tidak terlalu dalam. Proses  pengerjaannya sama dengan setelah pengecatan, sampai didapatkan hasil yang baik.

(13)

BAB 2

KEGIATAN PRAKTEK TEKNOLOGI PENGECATAN ULANG

A. Pembentukan Dan Persiapan Panel 1. Tujuan praktek

 Siswa mampu membuat sketsa bodi kendaraan sesuai dengan gambar yang

dipilih.

 Siswa mampu membentuk panel sesuai bentuk yang dipilih.  Siswa mampu menggunakan alat sesuai dengan fungsinya.

2. Alat dan Bahan yang dibutuhkan

 Plat ukuran 30x30 cm  Palu, Betel, Dolly  Gurinda, amplas   papan pengalas, kikir

 dempul hardener, pisau dempul  cat, clear, poxy, kapur gambar

3. keselamatan Kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai fungsinya

4. Langkah Kerja

 Memotong plat dengan hati-hati, tiap-tiap siswa mendapat ukuran 30x30

cm

 Membuat sketsa gambar bodi mobil yang ingin d ibuat dengan perbandingan

sketsa 1:5

 Membuat pola pada plat benda kerja sesuai dengan perbandingan sketsa

yang dibuat.

 Mempersiapka alat dan bahan.

 Memotong benda kerja dengan mengikuti pola yang telah dibuat.

 Pembentukan benda kerja sesuai dengan bentuk aslinya dengan

(14)

 Memperhatikan ukuran dan keseimbangan bentuk panel yang dibuat.

Gambar 2.1. Mobil New Yaris

(15)

Gambar 2.3. Sketsa pintu mobil (gambar t eknik)

(16)

B. Pengecatan Dasar 1. Tujuan praktek

 Siswa mampu mencampur cat sesuai dengan perbanding anantara cat dasar dengan thinner

 Siswa mampu menggunakan alat semprot (spraygun) sesuai dengan fungsinya

 Siswa mampu menerapkan teknik pengecatan ulang yang baik dan benar  Siswa terampil dalam melakukan pengecatan pada panel

 Siswa mampu membersihkan kembali alat semprot (spraygun) 2. Alat dan bahan yang digunakan

 Spraygun

 Kompresor, kain pembersih

 Amplas, benda kerja (panel pintu), alat pengaduk cat.  Cat dasar, thinner

3. Keselamatan Kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsinya

4. Langkah kerja

 Menyiapakan alat dan bahan yang diperlukan

 Bersihkan panel pintu (benda kerja) dengan menggunakan kain lap

 Siapkan kompresor dengan tekanan kerja yang telah ditentukan dan mengintegrasikan antara spraygun dengan kompresor berserta dengan selang udaranya

 Campurkan cat dengan thinner dengan perbandingan tertentu dan aduk hingga merata

 Mengecat permukaan panel (benda kerja) sesuai dengan teknik yang dipelajari dari instruktur

 Mrngeringkan benda kerja pada panas matahari dan hindarkan dari ganguan seperti debu dan air yang dapat mengurangi hasil pengecatan

(17)

Gambar 2.6. Pengecatan dasar (Penulis) Gambar 2.7. Panel yang telah dicat dasar

C. Pendempulan 1. Tujuan praktek

 Siswa dapat menggunakan pisau dempul sesuai dengan funginya

 Siswa dapat mencampur dempul dengan hardener dengan perbandingan yang sesuai

 Siswa mampu megakplikasikan teknik pendempulan dengan baik dan  benar

 Siswa dapat membersihkan kembali pisau dempul 2. Alat dan bahan

 Pisau dempul (cafe)  Panel pintu (benda kerja)  Dempul dan hardener 3. Keselamatan kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai fungsinya

4. Langkah kerja

 Mempersiapka alat dan bahan.\ yang dibutuhkan dalam kegiatan praktek  pendempulan

 Campurkan dempul dengan hardener dengan perbandinga yang telah ditentukan hingga tercampur meratan. Dalam mencampur adonan dempul disarankan menggunkan pisau dempul

(18)

 Oleskan dempul dengan menggunakan pisau dempul sedikit demi sedikit

dan ratakan sedemikian rupa sehingga tidak meyulitkan dalam melakukan  pengamplasan

 Keringkan dempul. Agar dempul semakin cepat kering, letakkan benda

kerja pada panas matahari

Gambar 2.8. Pendempulan panel (penulis)

D. Pengamplasan 1. Tujuan praktek

 Siswa dapat menentukan penggunaan amplas yang tepat dalam setiap

kegiatan pengamplasan

 Siswa dapat menerapkan teknik pengamplasan sesuai dengan prosedur

 pengamplasan yang telah ditetapkan

 Siswa dapat melakukan pendempulan dengan ketelitian yang tinggi agar

sesuai dengan bentuk yang diinginkan 2. Alat dan bahan

 Kertas amplas (sand paper)  Papan pembantu (hand block)  Panel pintu (benda kerja)

3. Keselamatan kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai fungsinya

(19)

4. Langkah kerja

 Mempersiapkan alat dan bahan untuk praktek pengamplasan

 Menggunakan metode basa yakni mengamplas dengan menggunakan

 bantuan air agar hasil permukaan jauh lebih halus atau menggunakan metode kering yang memiliki permukaan dempul yang lebih kasar

 Untuk menghasilkan pengamplasan yang rata dan lurus, sebaiknya

menggunkan pengalas dari kayu (sand block)

 Melakukan pengamplasan dengan memperhatikan setiap sudut

 pengamplasan agar panel sesuai dengan bentuk aslinya

Gambar 2.9. Pengamplasan panel pintu Gambar 2.10. Panel yang telah diamplas

E. Pengecatan Warna

1. Tujuan praktek

 Siswa mampu mencampur cat sesuai dengan perbandingan antara cat

warna dengan thinner

 Siswa mampu menggunakan alat semprot (spraygun) sesuai dengan

fungsinya

 Siswa mampu menerapkan teknik pengecatan ulang yang baik dan benar  Siswa terampil dalam melakukan pengecatan pada panel

 Siswa mampu membersihkan kembali alat semprot (spraygun)

2. Alat dan bahan yang digunakan

 Spraygun

 Kompresor, kain pembersih

 Amplas, benda kerja (panel pintu), alat pengaduk cat.  Cat warna, thinner

(20)

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsinya

4. Langkah kerja

 Menyiapakan alat dan bahan yang diperlukan

 Bersihkan panel pintu (benda kerja) dengan menggunakan kain lap

 Siapkan kompresor dengan tekanan kerja yang telah ditentukan dan

mengintegrasikan antara spraygun dengan kompresor berserta dengan selang udaranya

 Campurkan cat warna dengan thinner dengan perbandingan tertentu dan

aduk hingga merata

 Mengecat permukaan panel (benda kerja) sesuai dengan teknik yang

dipelajari dari instruktur

 Mrngeringkan benda kerja pada panas matahari dan hindarkan dari

ganguan seperti debu dan air yang dapat mengurangi hasil pengecatan

Gambar 2.11. Pengecatan Warna (penulis)

F. Clear

1. Tujuan praktek

 Siswa mampu mencampur cat sesuai dengan perbandingan antara cat clear

(21)

 Siswa mampu menggunakan alat semprot (spraygun) sesuai dengan

fungsinya

 Siswa mampu menerapkan teknik pengecatan ulang yang baik dan benar  Siswa terampil dalam melakukan pengecatan pada panel

 Siswa mampu membersihkan kembali alat semprot (spraygun)

2. Alat dan bahan yang digunakan

 Spraygun

 Kompresor, kain pembersih

 Amplas, benda kerja (panel pintu), alat pengaduk cat.  Cat clear, thinner

3. Keselamatan Kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah ditetapkan di laboratorium.  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsinya

4. Langkah kerja

 Menyiapakan alat dan bahan yang diperlukan

 Bersihkan panel pintu (benda kerja) dengan menggunakan kain lap

 Siapkan kompresor dengan tekanan kerja yang telah ditentukan dan

mengintegrasikan antara spraygun dengan kompresor berserta dengan selang udaranya

 Campurkan cat clear dengan thinner dengan perbandingan tertentu dan

aduk hingga merata

 Mengecat permukaan panel (benda kerja) sesuai dengan teknik yang

dipelajari dari instruktur

 Mrngeringkan benda kerja pada panas matahari dan hindarkan dari

ganguan seperti debu dan air yang dapat mengurangi hasil pengecatan

(22)

G. Finishing

1. Tujuan praktek

 Siswa dapat menerapkan teknik pemolesan yang baik dan benar

 Siswa dapat menggunakan mesin poles (polisher) untuk melakukan

 pemolesan panel 2. alat dan bahan

 Kain lap  Kompoun

 Panel (benda kerja)  Mesin poles (polisher)

3. keselamatan kerja

 Memakai pakaian praktek

 Mengikuti persyatan praktek yang telah d itetapkan di laboratorium  Mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh instruktur  Menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsinya

4. Langkah kerja

 Mempersiapkan alat dan bahan untuk melakukan pemolesan benda kerja  Membersihkan panel dari debu yang menempel dengan menggunakan kain

lap

 Ambil pasta kompoun dan kemudian oleskan merata pada panel

 permukaan

 Gosok panel secara merata dengan menggunakan kain lap bersih dan

kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mesin poles (polisher) hingga  permukaan panel benar-benar bersih mengkilap

 Dan panel pintu telah siap untuk dipergunakan sebagimana mestinya

(23)

BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan

 Kegiatan praktek pengecatan ulang yang diantaranya adalah pembuatan sebuah

model atau miniatur pintu mobil yang dimulai dari pembentukan panel yang dilakukan dengan pengukuran-pengukuran yang sistematis agar mengahsilkan  bentuk yang sesuai dengan desain yang dibuat yakni dengan skala 1:5 dari ukuran

sebenarnya.

 Kegiatan praktek pendempulan denga menggunakan dempul autolux memiliki

kemudahan ketika dilakukan pengamplasan sehingga ini akan memudahkan dalam mencapai ukuran yang diinginkan. Pendempulan ini akan memberikan hasil yang maksimal pada bentuk benda kerja setelah dilakukukan proses pengamplasan.

 Kegiatan praktek pengecatan yang terdiri dari kegiatan pengecatan dasar,

 pengecatan warna, dan pengecatan clear yang menggunakan teknik pengecatan yang baik dengan memperhatikan jarak semprotan dari spraygun dengan benda kerja, memperhatikan kecepatan gerakan pada saat penyemprotan sehingga dapat menghasilkan permukaan cat yang merata.

B. Saran

 Saran saya yang pertama adalah agar siswa dapat benar-benar menguasai bidang

teknik khususnya teknik bodi otomotif ini maka sekiranya pelajaran teori dan  paraktek dibuat seimbang yakni mula-mula dilakukan pengajaran teori di kelas apabila lulus kita dapat menerapkan ilmu itu di bengkel sesuai dengan teori yang dibahas. Hal ini juga penting sebab dapat memberikan pengetahuan siswa yang lebih mendalam lagi.

 Kedua, agar kegiatan praktek dibengkel dapat berjalan dengan lancar dan

meminimalisirkan masalah yang timbul makan saya menyarankan agar membuat sebuah manajemen (pengaturan) bengkel yang jelas dan sistematis dan dapat diterapkan sesuai dengan kemampuan

 Ketiga, semoga peralatan dibengkel dapat ditambahkan lagi guna membuat

 pekerjaan (praktek) siswa dibengkel dapat berjalan dengan baik lagi.

 Dan saran saya yang terakhir yang ditujukan khususnya para siswa agar sekiranya

dapat mengurangi bermain-main yang tidak jelas selama melakukan kegiatan  praktek di bengkel demi keselamatan dalam bekerja.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

 Gunadi, (2008), Teknik Bodi Otomotif Jilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah

Menengah Kejuruan.

(25)

Riwayat Hidup Penulis

Ahmad Sahwawi atau biasa dipanggil wawi (08534070094), lahir  pada tanggal 5 Juli 1994 di desa Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mengawali se kolah di SDN 004 Anggana kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dan lulus pada 2007 yang kemudian meneruskan ke SMPN 1 Anggana lulus tahun 2010. Setelah lulus SMP kemudian meneruskan  pendidikan ke SMK Negeri 2 Bungoro kabupaten Pangkep, Su lawesi

Selatan pada tahun 2010 hingga sekarang dan mengambil jurusan teknik perbaikan bodi otomotif. Kegemaran akan seni terutama seni lukis membuatnya sempat menjuarai beberapa perlombaan seni lukis mulai dari tingkat antar sekolah hingga tingkat daerah. Tidak hanya melukis, kegemaran akan berolahraga juga dituangkan dalam olahraga beladiri yakni karate dan sempat menjuarai beberapa perlombaan tingkat daerah hingga pernah ikut untuk mewakili Kaltim di Kejuraan nasional pada tahun 2008. Diusia 17 tahun hingga sekarang ini memiliki hobi melakukan penelitian seperti  penelitian mengubah sampah menjadi energi alternatif. Disamping itu juga sangat mengemari dunia kedirgantaraan khususnya bidang peroketan dan telah banyak menuai prestasi seperti telah menjuarai lomba water rocket dalam “Pekan Kreatifitas VI” tingkat daerah di kabupaten Pangkep yang baru-baru ini telah diadakan. Dengan segala kesederhanan yang dimiliki namun memiliki keinginan untuk memajukan teknologi kedirgantaraan Indonesia terutama di  bidang peroketan. Semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujut kelak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :