KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN
Tinjauan Ekonomi
&
Keuangan Daerah
Provinsi
Daftar isi
3
Daftar Isi
Peta sulawesi Tenggara ... 2
Daftar isi ... 3
Kata Pengantar ... 4
selayang Pandang ... 5
Geografis dan Demografis ... 6
Kondisi Pelayanan Publik ... 8
Kondisi Perekonomian ... 19
Kesejahteraan Masyarakat ... 27
Potensi Ekonomi ... 31
Gambaran Umum Keuangan Daerah ... 34
Kondisi Keuangan Daerah ... 47
Ucapan Terima Kasih ... 53
Kondisi geografis, budaya, tipologi ekonomi yang sangat bervariasi antar-daerah menuntut adanya strategi kebijakan yang berbeda-beda pula agar mampu mendorong akselerasi pembangunan daerah. selaras dengan hal tersebut, otonomi daerah dan desentralisasi fiskal telah pula membuka kesempatan bagi daerah untuk mengarahkan kebijakan publiknya menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi unggulan daerah yang dimilikinya. inovasi, kreatifitas, sensitifitas dan kejelian pemerintah daerah dalam meramu kebijakan akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan daerah.
setelah lebih dari satu dasawarsa pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, sudah banyak kemajuan dan peningkatan yang terjadi, baik dari sisi pelayanan publik, kondisi keuangan, maupun imbasnya pada perekonomian daerah. Untuk itulah, informasi dan gambaran mengenai kondisi pelayanan publik, kondisi keuangan daerah maupun profil perekonomian daerah menjadi penting untuk ditinjau lebih jauh dari berbagai sudut pandang.
Buku Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah Prov. sulawesi Tenggara ini diharapkan mampu memberikan informasi dan gambaran menyeluruh bagi para stakeholder mengenai profil keuangan daerah serta perekonomian daerah di Prov. sulawesi Tenggara. Kami berharap bahwa buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi yang informatif, komprehensif namun juga ringkas, dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
Jakarta, Desember 2012 Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan
Dr. Marwanto Harjowiryono.
Kata Pengantar
selayang Pandang
5
Selayang Pandang
Pada awalnya, berdasarkanPeraturan Pemerintah no. 34 Tahun 1952 sulawesi Tenggara merupakan satu Kabupaten, yaitu Kab. sulawesi Tenggara dengan ibu Kotanya Bau-Bau. Kab. sulawesi Tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas onder – Afdeling Boeton Laiwui serta bekas onder Afdeling Kolaka dan menjadi bagian dari Provinsi sulawesi selatan Tenggara dengan Pusat Pemerintahannya di Makassar ( Ujung Pandang ). selanjutnya dengan Undang-Undang no. 29 Tahun 1959 Kab. sulawesi Tenggara dimekarkan menjadi empat Kabupaten Daerah Tingkat ii yaitu Kab. Buton, Kab. Muna, Kota Kendari dan Kab. Kolaka. Keempat Daerah Tingkat ii tersebut merupakan bagian dari Provinsi sulawesi selatan dan Tenggara.
Jauhnya letak geografis kabaupaten tersebut menyebabkan sulitnya komunikasi dan perhubungan keempat daerah tersebut dengan pusat pemerintahan provinsi di Makassar. Disamping itu gangguan Di/Tii pada saat itu sangat menghambat pelaksanaan tugas-tugas pembangunan utamanya dipedesaan.
Daerah sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan
nikel, maupun sejumlah bahan galian lainya. Demikian pula potensi lahan pertanian cukup potensial untuk dikembangkan. selain itu terdapat pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainya. Atas pertimbangan ini tokoh – tokoh masyarakat sulawesi Tenggara, membentuk Panitia Penuntut Daerah otonom Tingkat i sulawesi Tenggara. Tugas Panitia tersebut adalah memperjuangkan pembentukan Daerah otonom sulawesi Tenggara pada Pemerintah Pusat di Jakarta. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita rakyat sulawesi Tenggara tercapai dengan keluarnya Perpu no. 2 Tahun 1964 sulawesi Tenggara di tetapkan menjadi Daerah otonom Tingkat i dengan ibukotanya Kendari.
realisasi pembentukan Daerah Tingkat i sulawesi Tenggara dilakukan pada tanggal 27 April 1964, yaitu pada waktu dilakukannya serah terima wilayah kekuasaan dari Gubernur Kepala Daerah Provinsi sulawesi selatan Tenggara, Kolonel inf.A.A rifai kepada Pejabat Gubernur Kepala Daerah Provinsi sulawesi Tenggara, J. Wajong.Pada saat itu Provinsi Daerah Tingkat i sulawesi Tenggara mulai berdiri sendiri terpisah dari Provinsi Daerah Tingkat i sulawesi selatan. oleh karena itu tanggal 27 April 1964 adalah hari lahirnya Provinsi Daerah Tingkat i sulawesi Tenggara yang setiap tahun diperingati
Hingga saat ini Provinsi sulawesi Tenggarah meliputi 10 buah Kabupaten (Kab. Buton, Kab. Muna, Kab. Konawe, Kab. Kolaka, Kab. Konawe selatan, Kab. Bombana, Kab. Wakatobi, Kab. Kolaka Utara, Kab. Konawe Utara, dan Kab. Buton Utara) dan 2 buah Kota (Kota Kendari dan Kota Bau-Bau).
Geografis dan Demografis
Letak GeografisProvinsi sulawesi Tenggara dilihat dari peta pulau sulawesi di Jazirah Tenggara. Akan tetapi bila dilihat dari sudut geografis, maka Provinsi Daerah Tingkat i sulawesi Tenggara terletak di bagian selatan garis Khatulistiwa yang memanjang dari Utara ke selatan diantara 3 derajat Ls sampai 6 derajat Ls dan melebar dari Barat ke Timur diantara 120045' Bujur Timur sampai 124060' Bujur Timur. Di samping itu dari letak geografis, maka wilayah Provinsi sulawesi Tenggara mempunyai Batas-Batas di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi sulawesi selatan dan Provinsi sulawesi Tengah, di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores. sedangkan di sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda dan di sebelah Barat Berbatasan dengan Teluk Bone Provinsi sulawesi Tenggara yang mencakup wilayah daratan (Jazirah) dan kepulauan memiliki wilayah seluas kurang lebih 38.140 km2. sedangkan wilayah perairan (Laut) diperkirakan seluas kurang lebih 114.876 km2 .Provinsi sulawesi Tenggara meliputi daratan Konawe dan Kolaka. sedangkan kepulauan meliputi Pulau Buton dan Pulau Muna serta pulau-pulau kecil yang tersebar di bagian selatan dan TenggaraWilayah sulawesi Tenggara, pada umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang, dan berbukit, sedangkan permukaan tanah pegunungan yang relatif rendah yakni sekitar 1.868.860 hektar sebagian besar berada pada ketinggian 100-500 meter diatas permukaan laut dengan tingkat kemiringan mencapai 40 derajat.Ditinjau dari sudut geologis, bantuan di Provinsi sulawesi tenggara terdiri atas bantuan sedimen, bantuan metamorfosis dan bantuan beku. Dari ketiga jenis bantuan tersebut, bantuan sedimen merupakan bantuan yang terluas yaitu sekitar 2.878.790 hektar atau sebesar 75,47 persen. sementara itu, jenis tanah di Provinsi sulawesi Tenggara terdiri dari tanah podzolik seluas 2.394.698 ha (62,79 persen), tanah mediteran seluas 839.078 ha (22,00 persen), tanah latosol seluas 330.182 ha (8,66 persen), tanah organosol seluas 111.923 ha (2,93 persen), tanah aluvial seluas 117.830 ha (3,09 persen), dan tanah grumosal seluas 20.289 ha (0,53 persen).Karena wilayah daratan sultra mempunyai ketinggian umumnya di bawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar daerah khatulistiwa maka Prov. sultra beriklim tropis.
Geografis dan Demografis
7
1 Kab. Button 255,712 2,675.25 95.58
2 Kab. Muna 268,277 2,890.41 92.82
3 Kab. Konawe 241,982 6,792.45 35.63
4 Kab. Kolaka 315,232 6,918.38 45.56
5 Kab. Konawe Selatan 264,587 4,514.20 58.61 6 Kab. Bombana 139,235 3,056.08 45.56
7 Kab. Wakatobi 92,995 425.97 218.31
8 Kab. Kolaka Utara 121,340 3,391.62 35.78 9 Kab. Buton Utara 54,736 1,996.59 27.41 10 Kab. Konawe Utara 51,533 4,877.46 10.57 11 Kota kendari 289,966 295.89 979.98 12 Kota Bau-bau 136,991 305.70 448.12 Total 2,232,586 38,140.00 58.54 Kepadatan (Per Km2) No Daerah Penduduk (Orang) Luas Area (Km2)
Luas wilayah Provinsi sulawesi Tenggara meliputi 38.140 km2. Kab. Kolaka memiliki wilayah paling luas yaitu 6.918,38 km2. sedangkan daerah dengan luas wilayah terkecil adalah Kota Kendari yang luasnya hanya 295,89 km2.
Dari sisi demografi, total jumlah penduduk pada tahun 2010 sebanyak 2.232.586 jiwa. Kab. Kolaka memiliki populasi tertinggi dengan jumlah penduduk 315.232 jiwa, sedangkan daerah dengan populasi terendah adalah Kab. Koname Utara dengan jumlah penduduk 51.533 jiwa.
Kepadatan penduduk Provinsi sulawesi Tenggara yaitu 58,54 jiwa/km2 yang cenderung terpusat di ibukota provinsi. Daerah
dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu Kota Kendari sebesar 979,98 jiwa/km2, walaupun Kota Kendari memiliki luas wilayah terkecil. Kepadatan penduduk tertinggi setelah Kota Kendari adlaah Kota Bau-Bau dengan kepadatan penduduk 448,12 jiwa/km2.
Kab. Kolaka dengan luas wilayah terbesar di Provinsi sulawesi Tenggara hanya memiliki tingkat kepadatan penduduk 45,56 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk terendah berada pada Kab. Buton Utara yaitu 27,41 jiwa/km2. Jumlah Penduduk (orang)
Kondisi Pelayanan Publik
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Infrastruktur
4.
Perusahaan Air Minum
Pelayanan Publik
9
1 Kab. Button 263 48.353 2.524 19,16 131,75
2 Kab. Muna 312 46.025 3.582 12,85 278,78
3 Kab. Konawe 316 38.558 3.558 10,84 328,32
4 Kab. Kolaka 317 49.897 4.540 10,99 413,08
5 Kab. Konawe Selatan 309 38.527 3.027 12,73 237,83
6 Kab. Bombana 145 20.084 1.531 13,12 116,71
7 Kab. Wakatobi 110 14.837 1.341 11,06 121,20
8 Kab. Kolaka Utara 81 17.770 1.144 15,53 73,65
9 Kab. Buton Utara 70 9.589 592 16,20 36,55
10 Kab. Konawe Utara 88 8.668 751 11,54 65,07
11 Kota kendari 118 34.764 2.110 16,48 128,07
12 Kota Bau-bau 68 18.606 1.389 13,40 103,69
2.197 345.678 26.089 13,25 1.968,99
Provinsi Sulawesi Tenggara
No. Daerah Rasio Murid/
Guru
Rasio Murid/ Sekolah
Sekolah Murid Guru
Jumlah Sekolah, Kelas, Murid, Guru, dan Rasio Murid terhadap Guru dan Sekolah Dasar Negeri se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009/2010
Untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan khususnya sekolah Dasar (sD) , maka secara total di Provinsi sulawesi Tenggara terdapat sD negeri sebanyak 2.197 unit. Kab. Kolaka memiliki 317 unit sedangkan Kota Bau-Bau hanya 68 unit. Berdasarkan jumlah murid terbanyak adalah Kab. Kolaka mencapai 49.897 murid, sedangkan jumlah murid terendah yaitu 8.668 murid di Kab. Konawe Utara.
Bila dilihat seberapa daya tampung sD, maka rasio murid/sekolah paling tinggi adalah Kab. Kolaka yaitu 413,08 murid/sekolah. sedangkan rasio
murid/sekolah terendah adalah di Kab. Buton Utara yaitu 36,55 murid/ sekolah.
salah satu indikator kualitas pembelajaran yang diterima oleh murid sD adalah perbandingan antara banyaknya murid yang harus diajar oleh setiap guru. rasio murid/guru yang tertinggi adalah Kab. Buton yaitu 19,16 murid/guru. sedangkan yang terendah adalah di Kab. Konawe yaitu 10,84 murid/guru.
1 Kab. Button 82 15,145 1,203 12.59 184.70
2 Kab. Muna 90 16,554 1,582 10.46 183.93
3 Kab. Konawe 76 13,192 1,234 10.69 173.58
4 Kab. Kolaka 83 14,202 1,179 12.05 171.11
5 Kab. Konawe Selatan 79 13,648 1,003 13.61 172.76
6 Kab. Bombana 39 5,326 615 8.66 136.56
7 Kab. Wakatobi 31 5,527 483 11.44 178.29
8 Kab. Kolaka Utara 27 4,530 369 12.28 167.78
9 Kab. Buton Utara 24 3,762 231 16.29 156.75
10 Kab. Konawe Utara 25 2,879 236 12.20 115.16
11 Kota kendari 35 12,670 1,206 10.51 362.00
12 Kota Bau-bau 23 7,289 792 9.20 316.91
No. Rasio Murid/
Guru Rasio Murid/ Sekolah 186.85 11.32 614 Provinsi Sultra 114,724 10,133
Sekolah Murid Guru
Kab/Kota
Jumlah Sekolah, Kelas, Murid, Guru, Rasio Murid terhadap Guru dan Sekolah SMP Negeri se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010/2011
Untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan khususnya sekolah Menengah Pertama (sMP) , maka secara total di Provinsi sulawesi Tenggara terdapat sMP sebanyak 614 unit. Kab. Kolaka merupakan daerah dengan jumlah sekolah, jumlah murid, dan jumlah guru terbanyak. Kota Bau-Bau memiliki jumlah sekolah paling sedikit yaitu 23 unit. Jumlah murid terendah yaitu 2.879 murid di Kab. Konawe Utara serta jumlah guru paling sedikit yaitu 231 guru di Kab. Buton Utara.
tinggi adalah Kota Kendari yaitu362 murid/sekolah. sedangkan rasio murid/ sekolah terendah adalah di Kab. Konawe Utara yaitu 115,16 murid/sekolah. salah satu indikator kualitas pembelajaran yang diterima oleh murid sMP adalah perbandingan antara banyaknya murid yang harus diajar oleh setiap guru. rasio murid/guru yang tertinggi adalah Kab. Buton Utara yaitu 16,29 murid/guru. sedangkan yang terendah adalah di Kab. Bombana yaitu 8,66 murid/guru.
Pelayanan Publik
11
2009
2010
1
Kab. Button
85.72
86.57
2
Kab. Muna
87.83
87.97
3
Kab. Konawe
94.61
94.61
4
Kab. Kolaka
93.16
93.25
5
Kab. Konawe Selatan
94.11
94.12
6
Kab. Bombana
88.49
89.28
7
Kab. Wakatobi
89.13
89.86
8
Kab. Kolaka Utara
93.04
93.07
9
Kab. Konawe Utara
93.80
93.81
10
Kab. Buton Utara
86.59
87.02
11
Kota Kendari
98.38
98.60
12
Kota Bau-bau
95.30
95.58
No.
Kabupaten/Kota
Angka Melek Huruf
(persen)
Prov. Sulawesi Tenggara
91.51
91.85
Angka Melek Huruf (AMH) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009-2010
indikator keberhasilan pendidikan di Provinsi sulawesi Tenggara bisa dilihat dari indikator Angka Melek Huruf (AMH) di setiap daerah. Kabupaten/Kota di Provinsi sulawesi Tenggara belum ada yang mencapai AMH 100%. Capaian AMH Provinsi sulawesi Tenggara pada tahun 2009 sebesar 91,51% dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi sebesar 91,85% .
AMH tertingggi baik pada tahun 2009 dan 2010 adalah Kota Kendari yaitu sebesar 98,38% pada 2009 menajdi 98,60% pada 2010. sedangkan AMH terendah adalah Kab. Buton dengan capaian AMH sebesar 85,72% pada tahun 2009 dan 86,57% tahun 2010.
No. Kabupaten / Kota Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Murni (APM)
No. Kabupaten / Kota
Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Murni (APM)
1 Kab. Bombana 120.89 98.62 1 Kab. Bombana 98.78 76.12 2 Kab. Buton 120.00 97.88 2 Kab. Buton 79.95 60.26 3 Kab. Buton Utara 86.95 64.64 3 Kab. Buton Utara 60.27 46.04 4 Kab. Kolaka 118.73 96.85 4 Kab. Kolaka 92.96 70.21 5 Kab. Kolaka Utara 119.32 97.33 5 Kab. Kolaka Utara 100.3 77.4 6 Kab. Konawe 122.45 99.89 6 Kab. Konawe 113.16 83.27 7 Kab. Konawe Selatan 119.97 97.86 7 Kab. Konawe Selatan 108.17 86.23 8 Kab. Konawe Utara 71.24 58.12 8 Kab. Konawe Utara 56.64 43.32 9 Kab. Muna 122.09 99.60 9 Kab. Muna 106.01 79.74 10 Kab. Wakatobi 122.20 99.68 10 Kab. Wakatobi 101.39 77.65 11 Kota Baubau 117.42 98.34 11 Kota Baubau 111.66 83.8 12 Kota Kendari 118.50 98.00 12 Kota Kendari 111.5 83.52
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SD menurut Kab. /Kota, Tahun 2009/2010
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SMP menurut Kab. /Kota, Tahun 2009/2010
Berdasarkan rasio Angka Partisipasi Kasar (APK) sD dan Angka Partisipasi Murni (APM) sD di Provinsi sulawesi Tenggara, maka APK sD tertinggi adalah Kab. Wakatobi sebesar 122,20% dan terendah adalah Kab. Konawe Utara yaitu 71,24%.
sedangkan untuk APM sD tertinggi adalah Kab. Konawe sebesar 99,89% dan APM sD terendah yaitu 58,12% di Kab. Konawe Utara.
Berdasarkan rasio Angka Partisipasi Kasar (APK) sMP dan Angka Partisipasi Murni (APM) sMP di Provinsi sulawesi Tenggara, maka APK sMP tertinggi adalah Kab. Konawe sebesar 113,16% dan terendah adalah Kab. Konawe Utara yaitu 56,64%.
sedangkan untuk APM sMP tertinggi adalah Kab. Konawe selatan sebesar 86,23% dan APM sMP terendah yaitu 43,32% di Kab. Konawe Utara.
Pelayanan Publik
13
Puskesmas Plus Puskesmas Puskesmas Pembantu 1 Kab. Button 1 13 17 67 31 44 399 1 4 2 Kab. Muna 1 6 29 75 23 66 380 15 40 3 Kab. Konawe 2 5 24 60 61 125 332 7 9 4 Kab. Kolaka 4 4 17 65 42 215 321 20 305 Kab. Konawe Selatan 1 8 14 64 28 43 362 2
-6 Kab. Bombana 1 10 12 31 22 22 213 2 8
7 Kab. Wakatobi 1 7 12 11 9 70 195 1 13
8 Kab. Kolaka Utara 1 3 13 22 - 63 159 2 13
9 Kab. Buton Utara - 1 5 33 1 11 76 - 4
10 Kab. Konawe Utara - 1 11 22 6 5 124 -
-11 Kota kendari 11 4 10 18 - 12 199 57 19
12 Kota Bau-bau 2 3 11 11 16 43 117 15 15
719 2,877 122 155
65 175 479 239
Puskesmas No. Kabupaten / Kota Rumah
Sakit/Hospital
Toko Obat Berijin Polindes Poskesdes Posyandu Apotik
Provinsi Sulawesi Tenggara 25
Jumlah Fasilitas Kesehatan se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010
Fasilitas kesehatan bagi seluruh penduduk di Provinsi sulawesi Tenggara didukung oleh adanya fasilitas kesehatan berupa rumah sakit, puskesmas, polindes, poskesdes, posyandu, apotik, dan toko obat berijin. Jumlah total rumah sakit di Provinsi sulawesi Tenggara sebanyak 25 buah, dimana 11 buah terdapat di Kota Kendari. sedangkan Kab. Buton Utara, dan Kab. Konawe Utara belum memiliki rumah sakit.
Jumlah keseluruhan puskesmas di Provinsi sulawesi Tenggara adalah 719 buah, yang terdiri dari puskesmas plus sebanyak 65 buah, puskesmas 175 buah dan puskesmas pembantu sebanyak 479 buah. Kab. Muna merupakan daerah dengan jumlah keseluruhan puskesmas terbanyak yaitu 110 buah.
Jumlah polindes sebanyak 239 buah, dimana 61 buah ada di Kab. Konawe, untuk jumlah poskesdes ada 719 buah, dan terbanyak ada di Kab. Kolaka yaitu 215 buah. Dibandingkan dengan fasilitas kesehatan yang lain, pos posyandu tersebar cukup banyak di seluruh daerah di sulawesi Tenggara yaitu sebanyak 2877 buah, dimana Kab. Buton memliki posyandu terbanyak yaitu 399 buah dan Kab. Buton Utara memiliki jumlah posyandu paling sedikit yaitu 76 buah.
Jumlah apotik dan toko obat berijin yaitu 122 buah dan 155 buah. Untuk apotik, banyak terdapat di Kota Kendari sementara untuk toko obat berijin banyak terdapat di Kab. Muna
Spesialis Umum Gigi
1 Kab. Button 0 16 2 5 131
2 Kab. Muna 2 33 11 7 114
3 Kab. Konawe 3 23 6 7 166
4 Kab. Kolaka 7 46 11 14 188
5 Kab. Konawe Selatan 2 26 7 4 144
6 Kab. Bombana - 11 1 1 45
7 Kab. Wakatobi - 12 - 2 75
8 Kab. Kolaka Utara - 17 8 5 48
9 Kab. Buton Utara - 12 1 2 39
10 Kab. Konawe Utara - 8 2 6 67
11 Kota kendari 5 34 19 15 139
12 Kota Bau-bau 7 25 12 10 99
69 Apoteker Bidan
No. Kab/Kota Dokter
Prov. Sulawesi Tenggara 29 59 15 19
Jumlah Tenaga Kesehatan se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010
Jumlah total tenaga kesehatan di Provinsi sulawesi Tenggara tergolong cukup rendah. Jumlah tenaga kesehatan yang paling banyak tersedia adalah bidan , yang banyak ditemui di Kab. Kolaka yaitu 188 bidan. sementara jumlah bidan paling sedikit adalah Kab. Buton Utara yaitu 39 bidan.
Dokter spesialis tidak ditemui di Kab. Bombana, Kab. Wakatobi, Kab. Kolaka Utara, Kab. Buton Utara, dan Kab. Konawe Utara.
Pelayanan Publik
15
2009
2010
1
Kab. Button
68.23
68.58
2
Kab. Muna
65.88
65.97
3
Kab. Konawe
67.01
67.28
4
Kab. Kolaka
66.87
67.13
5
Kab. Konawe Selatan
67.47
67.63
6
Kab. Bombana
67.51
67.71
7
Kab. Wakatobi
67.95
68.07
8
Kab. Kolaka Utara
65.41
65.55
9
Kab. Konawe Utara
66.76
67.05
10
Kab. Buton Utara
67.96
68.28
11
Kota Kendari
69.02
69.09
12
Kota Bau-bau
70.09
70.39
No.
Kabupaten/Kota
Angka Harapan Hidup
(tahun)
Prov. Sulawesi Tenggara
67.60
67.80
Angka Harapan Hidup (AHH) Prov. Sulawesi Tenggara Tahun 2009-2010
Tingkat kesehatan masyarat Provinsi sulawesi Tenggara dapat dilihat dari Angka Harapan hidup (AHH) yang cenderung meningkat dari 67,60 tahun di 2009 menjadi 67,80 tahun di 2010. Capaian AHH tertinggi adalah Kota Bau-Bau yaitu 70,09 tahun di 2009 dan 70,39 tahun di 2010. sedangkan AHH terendah di Kab. Kolaka Utara yaitu 65,41 tahun di 2009 dan 65,55 tahun di 2010.
Kab. Button Kab. Muna Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Konawe Selatan Kab. Bombana Kab. Wakatobi Kab. Kolaka Utara Kab. Buton Utara Kab. Konawe Utara Kota kendari Kota Bau-bau 589.74 1,083.96 903.48 2,553.39 777.45 692.15 373.46 351.00 - - 389.70 203.68 488.80 1,297.72 1 Diaspal/Asphalted 327.36 480.80 219.99 1,557.84 107.94 31.62 145.33 88.00 263.12 128.94 373.27 1,131.02 2 Kerikil/Gravel 139.79 473.46 520.00 934.60 616.62 403.84 86.07 232.00 91.23 74.74 68.97 166.70 3 Tanah/Earth 87.45 129.70 60.15 60.95 52.89 221.04 139.58 31.00 29.29 - 46.56 -4 Tidak Terinci/No Cover 35.14 - 103.34 - - 35.65 2.48 - 6.06 - - -589.74 1,083.96 903.57 2,553.40 777.45 692.15 373.46 351.00 - - 389.70 203.68 488.80 1,297.72 1 Baik/Good 310.53 193.12 122.51 1,668.39 286.83 331.81 93.37 88.00 133.41 167.79 76.70 743.36 2 Sedang/Moderate 80.00 364.20 229.65 345.22 257.09 185.56 56.02 232.00 69.89 22.45 196.10 283.04 3 Rusak/Damaged 111.76 266.65 193.56 372.79 149.67 89.93 149.38 31.00 54.18 13.44 77.00 164.77 4 Tidak Terinci/No Cover 87.45 259.99 357.85 167.00 83.86 84.85 74.69 - 132.22 - 139.00 106.55 589.74 1,083.96 903.57 2,553.39 777.45 692.15 373.46 351.00 - - 389.70 203.67 488.80 3,299.20 1 Kelas I - - - -2 Kelas II - - - 351.00 - - - -3 Kelas III - - - 793.60 - - - -4 Kelas III A 589.74 - 220.74 240.53 777.45 - 144.60 - - - - -5 Kelas III B - 361.37 682.83 - - - 285.75 - - -6 Kelas III C - 334.59 - 1,519.26 - - - - 103.95 - - -7 Kelas Tidak Dirinci - 388.00 - - - 692.15 228.86 - - 203.67 488.80 3,299.20
Provinsi Sultra Negara
Kelas Jalan/Class of Road Jenis Permukaan/Type of Surface
Kondisi Jalan/Quality of Road Keadaan Jalan
Kabupaten/Kota
Panjang Jalan Negara Menurut Keadaan Jalan dan Kab. /Kota, Tahun 2009 (Km)
salah satu bentuk pelayanan publik untuk memperlancar transportasi dan menggerakkan perekonomian di wilayah Provinsi sulawesi Tenggara adalah infrastruktur jalan. secara total panjang jalan di wilayah Provinsi sulawesi Tenggara, Kab. Muna adalah daerah dengan panjang jalan terpanjang yaitu 1.083,96 km , dimana sebagian jalannya dalam kondisi sedang (34%). Daerah dengan panjang jalan terpendek adalah Kota Bau-Bau yaitu 203,68 km dengan kondisi jalan baik (82%).
Pelayanan Publik
17
1 Kab. Button 13 19,149 17,318,699 11,684,557
2 Kab. Muna 9 17,095 25,901,135 15,692,973
3 Kab. Konawe 10 24,147 34,290,966 20,416,997
4 Kab. Kolaka 10 28,812 43,365,224 27,278,414
5 Kab. Konawe Selatan 10 24,807 42,768,701 26,298,107
6 Kab. Bombana 4 6,113 5,984,710 4,327,783
7 Kab. Wakatobi 6 11,617 10,400,274 6,371,102
8 Kab. Kolaka Utara 4 8,432 6,844,190 4,556,783
9 Kab. Konawe Utara 0 - -
-10 Kab. Buton Utara 3 2,773 1,977,429 1,125,535
11 Kota Kendari 3 40,380 131,698,312 94,725,523 12 Kota Bau-bau 4 23,308 43,630,794 29,712,673 Banyaknya Cab./Ranting Perusahaan Banyaknya Langganan Tenaga Listrik yang terjual (KWH) Nilai Penjualan (000 Rp) No. Kabupaten/Kota Ketenagalistrikan di Wilayah Sulawesi Tenggara (Tahun 2010)
Dari sisi ketenagalistrikan, jumlah total penjualan tenaga listrik di Provinsi sulawesi Tenggara adalah 364.180.434 KWh, dengan pelanggan sebanyak 206.633 pelanggan, cab/ranting perusahaan sebanyak 76 unit, serta nilai penjualan rp 242.190.447
Baik penjualan listrik, pelanggan, dan nilai penjualan tertinggi berada pada Cabang Kota Kendari . sedangkan untuk nilai penjualan terendah, jumlah pelanggan terendah, dan nilai penjualan listrik terendah berada pada Cabang Kab. Buton Utara.
1
Rumah tempat tinggal
3,428,209
5,824,411
6,609,443
2
Hotel dan Obyek Pariwisata, Toko,
Perusahaan & Industri
2,221,874
650,444
395,512
3
Badan-badan Sosial, Rumah Sakit dan
Umum, Tempat Peribadatan Masjid,
Gereja dsb.
310,591
120,578
612,224
4
Instansi Pemerintah
134,728
411,941
640,486
5
Hilang dalam Penyaluran
-
1,302,673
2,730,425
6
Lain-lain
37,239
33,273
1,516
Jumlah / Total
6,132,641
8,343,320
10,989,606
No.
Kategori Pelanggan
2008
2009
2010
Volume Air Minum yang Disalurkan Menurut Kategori Pelanggan (000 m3), Tahun 2010
Keseluruhan volume air minum yang disalurkan di Provinsi sulawesi Tenggara terus meningkat dari tahun 2008-2010. volum air minum yang disalurkan tahun 2010 adalah 10.989.606.000 m3.
volume air paling banyak disalurkan ke pelanggan dengan kategori rumah tempat tinggal yaitu sebanyak 6.609.443.000 m3 dan volume air yang hilang dalam penyaluran cukup bnayk yaitu 2.730.425.000 m3.
Perekonomian
19
Kondisi Perekonomian
1.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
2. Perhotelan
3.
Produksi Tanaman Pangan
4.
Produksi Perkebunan
5.
Produksi Ternak
6.
Produksi Perikanan
7. Industri
Kinerja ekonomi Provinsi sulawesi Tenggara pada tahun 2009 dan 2010 sangatlah pesat yaitu 7,57% dan 8,19%, pertumbuhan ekonomi tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,10%. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh besarnya PDrB Provinsi sulawesi Tenggara Tahun 2010 yang mencapai 28.369,03 miliar rupiah.
Pada dasarnya besarnya PDrB sulawesi Tenggara didominasi oleh empat sektor usaha yaitu pertanian yang memberikan kontribusi terhadap PDrB sebesar 33,20%, lalu sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 18,13%, sektor jasa-jasa sebesar 12,64%, dan sektor pengangkutan dan komunikasi 9,29%. sedangkan kelima sektor lainnya bila diakumulasikan memberikan kontribusi yang Produk Domestik Regional Bruto Atas
Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (2010) Pertanian 33,202% Perdagangan, Hotel dan Restoran 18,135% Jasa-Jasa 12,640% Pengangkutan dan Komunikasi 9,294% Bangunan dan Konstruksi 8,263% Industri Pengolahan 7,142% Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
5,495%
Pertambangan 4,904%
Listrik, Gas dan Air Minum
0,926% Lainnya
Perekonomian
21
1
Kab. Button
107.751
8.869
2
Kab. Muna
104.261
27.072
3
Kab. Konawe
206.426
2.054
4
Kab. Kolaka
171.800
3.199
5
Kab. Konawe Selatan
148.058
4.484
6
Kab. Bombana
125.505
1.722
7
Kab. Wakatobi
113.979
1.057
8
Kab. Kolaka Utara
113.979
915
9
Kab. Buton Utara
110.568
734
10 Kab. Konawe Utara
109.757
1.178
11 Kota kendari
107.985
1.211
12 Kota Bau-bau
107.448
394
Jumlah / Total
1.527.517
52.889
No.
Kabupaten/Kota
Padi
Palawija
Luas Panen Tanaman Bahan Makanan Menurut Jenis Tanaman, Tahun 2010 (Ha)
Pada tahun 2010, luas panen tanaman padi Provinsi sulawesi Tenggara adalah 1.527.517 Ha, sedangkan luas panen tanaan palawija hanya 52.889 Ha. Kab. Konawe merupakan daerah dengan luas panen tanaman padi yaitu 206.426 Ha, sedangkan luas panen tanaman padi terkecil adalah Kab. Muna yaitu 104.261 Ha.
Luas panen tanaman palawija terbesar adalah Kab. Muna yaitu 27.072 Ha, sedangkan luas panen tanaman palawija terkecil adalah Kota Bau-Bau yaitu 394 Ha.
Kuda Sapi Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi
1 Kab. Button - 7.823 - - 20.181 - 451
2 Kab. Muna 624 58.835 - 624 10.472 - 961
3 Kab. Konawe 4 43.127 - 4 16.496 - 13.177
4 Kab. Kolaka 655 42.481 - 655 28.446 - 9.135
5 Kab. Konawe Selatan 14 69.069 - 14 7.267 - 7.198
6 Kab. Bombana 1.474 26.047 - 1.474 13.897 161 1.677
7 Kab. Wakatobi - 527 - - 3.655 -
-8 Kab. Kolaka Utara 694 808 - 694 2.706 -
-9 Kab. Buton Utara - 4.148 - - 2.820 -
-10 Kab. Konawe Utara - 11.403 - - 7.120 - 120
11 Kota kendari - 1.615 - - 2.992 - 80
12 Kota Bau-bau - 225 - - 1.767 - 1.818
No. Kabupaten/Kota Jenis Ternak
Jumlah / Total 3.465 266.108 - 3.465 117.819 161 34.617
Jumlah Ternak menurut Jenisnya Tahun 2010 (Ekor)
sektor peternakan di Provinsi sulawesi Tenggara sebagian besar didominasi oleh budidaya ternak sapi sebanyak 266.108 ekor. Populasi ternak sapi terbanyak ada di Kab. Konawe selatan yaitu 69.069 ekor, sedangkan yang terendah yaitu 255 ekor ada di Kota Bau-Bau. sementara itu, populasi ternak sapi perah dan domba
Peternakan kambing juga cukup berkembang di Provinsi sulawesi Tenggara dengan jumlah populasi ternak kambing yaitu 117.819 ekor, dimana populasi terbanyak ada di Kab. Kolaka yaitu 28.446 ekor dan populasi terendah ada di Kota Bau-Bau yaitu 1.767 ekor.
Perekonomian
23
Produksi Nilai Produksi Nilai Produksi Nilai
(ton) (000 Rp) (ton) (000 Rp) (ton) (000 Rp)
1 Kab. Button 47.691,30 482.197,9 - - 47.691,30 482.197,90
2 Kab. Muna 33.534,60 349.330,8 1.472,30 33.664.599,20 35.006,90 34.013.930,00 3 Kab. Konawe 15.580,40 158.613,0 1.895,60 212.721,50 17.476,00 371.334,50 4 Kab. Kolaka 15.076,60 189.064,5 31.512,30 544.051.337,40 46.588,90 544.240.401,90 5 Kab. Konawe Selatan 17.298,00 180.230,0 3.783,10 42.603.010,50 21.081,10 42.783.240,50 6 Kab. Bombana 16.699,40 190.146,5 9.248,40 178.113.549,40 25.947,80 178.303.695,90
7 Kab. Wakatobi 18.096,70 170.798,2 - - 18.096,70 170.798,20
8 Kab. Kolaka Utara 13.108,10 140.228,4 2.606,30 23.234.366,30 15.714,40 23.374.594,70 9 Kab. Buton Utara 606,70 9.273,5 638,80 4.178,00 1.245,50 13.451,50 10 Kab. Konawe Utara 4.143,30 41.375,6 1.350,00 38.152.200,00 5.493,30 38.193.575,60 11 Kota kendari 22.806,30 190.978,4 21,40 320.484,00 22.827,70 511.462,40
12 Kota Bau-bau 13.696,70 126.541,8 39,40 - 13.736,10 126.541,80
Perikanan Laut Perikanan Darat Jumlah
Kabupaten
860.356.446,3 270.905,7 862.585.224,9 No.
Jumlah / Total 218.338,1 2.228.778,6 52.567,6
Produksi dan Nilai Produksi Ikan Darat dan Ikan Laut se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010
sektor perikanan di sulawesi Tenggara menghasilkan produksi sebanyak 270.905,7 ton, dimana hasil perikanan laut mencapai 81% dan sisanya 19% dari hasil perikanan darat. nilai produksi untuk perikanan laut sebesar rp 2.228.778.600 dan perikanan darat rp 860.356.446.300
Kab. Buton merupakan daerah yang memberikan kontribusi terbesar bagi produksi perikanan laut yaitu sebanyak 47.691,3 ton, sedangkan daerah yang memberikan kontribusi terbesar bagi perikanan darat adalah Kab. Kolaka sebanyak 31.512,3 ton.
10/11 125.293.220 2.087.144 8.868.747 2.120.039 - 138.369.150 13/16/18 66.193.596 1.167.000 1.761.000 88.810 - 69.210.406 22/23 20.936.500 750.000 12.000 19.185 - 21.717.685 24/25 2.411.978.836 - - 10.116.515 - 2.422.095.351 30/32/33 7.762.350 2.100.000 91.200 175.000 - 10.128.550 Jasa Industri Yang diberikan pihak lain
Keuntungan dari barang yang dijual dalam bentuk
yang sama seperti pada waktu pembelian
Selisih nilai stock barang setengah jadi
Penerimaan jasa non
industri Jumlah
Kode Gol. Pokok Industri
Barang yang Dihasilkan
- 2.661.521.142
Jumlah/Total 2.632.164.502 6.104.144 10.732.947 12.519.549
Nilai Output Perusahaan Industri Besar dan Sedang menurut Golongan Pokok Industri
nilai output industri di sulawesi Tenggara adalah sebesar rp 2.661.521.142 nilai output paling tinggi adalah dari barang yang dihasilkan, sedangkan yang paling rendah adalah dari jasa industri yang diberikan pihak lain.
Perekonomian
25
1
Kab. Button
10
62
87
2
Kab. Muna
18
190
330
3
Kab. Konawe
12
144
255
4
Kab. Kolaka
34
360
537
5
Kab. Konawe Selatan
6
71
126
6
Kab. Bombana
14
105
133
7
Kab. Wakatobi
16
191
253
8
Kab. Kolaka Utara
15
186
261
9
Kab. Buton Utara
7
48
68
10
Kab. Konawe Utara
4
19
23
11
Kota kendari
90
1.482
2.067
12
Kota Bau-bau
39
479
702
No.
Kabupaten/Kota
Jumlah / Total
265
3.337
4.842
Hotel / Akomodasi
Kamar
Tempat Tidur
Hotel dan Akomodasi Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010 Hotel dan Akomodasi Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010 Ketersediaan hotel di Provinsi sulawesi Tenggara pada tahun 2010 sebanyak 265 buah, dengan jumlah kamar tidur 3.337 buah dan jumlah tempat tidur sebanyak 4.842 buah. Jumlah hotel, kamar dan tempat tidur paling banyak terdapat di Kota Kendari sebagai ibukota provinsi. sedangkan yang terendah baik dari jumlah hotel, kamar, dan tempat tidur adalah Kab. Konawe Utara.
Desember Tahunan Desember Tahunan Desember Tahunan
1
KOTA KENDARI
0,11
4,52
0,28
3,87
0,19
5,1
No
DAERAH
2009
2010
2011
Laju inflasi di Kendari berfluktuatif dari tahun 2009-2011. Pada tahun 2009, inflasi mencapai 4,52% kemudian di tahun 2010 turun menjadi 3,87% dan di tahun 2011 kembali naik menjadi 5,1%.
Kesejahteraan Masyarakat
27
Kesejahteraan Masyarakat
1.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
2.
Tingkat Pengangguran Terbuka
2009
2010
1
Kab. Button
68,24
68,80
2
Kab. Muna
67,03
67,45
3
Kab. Konawe
69,27
69,77
4
Kab. Kolaka
70,41
70,83
5
Kab. Konawe Selatan
69,24
69,42
6
Kab. Bombana
66,63
67,20
7
Kab. Wakatobi
66,70
67,20
8
Kab. Kolaka Utara
68,50
68,93
9
Kab. Konawe Utara
67,97
68,38
10 Kab. Buton Utara
67,62
68,07
11 Kota Kendari
75,31
75,66
12 Kota Bau-bau
72,87
73,48
No.
Kabupaten/Kota
IPM
Prov. Sulawesi Tenggara
69,52
70,00
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009-2010
Berdasarka data iPM tahun 2009-2010 dari BPs maka dapat dilihat bahwa iPM Provinsi sulawesi Tenggara mengalami peningkatan dari 69,52 di tahun 2009 menjadi 70,00 di tahun 2010.
iPM tertinggi pada tahun 2010 adalah Kota Kendari yaitu sebesar 75,66, sedangkan iPM terendah adalah di Kab. Bombana dan Kab. Wakatobi yaitu 67,20. secara umum, hanya dua daerah yang tingkat iPM nya di atas rata-rata iPM Provinsi sulawesi Tenggara yaitu Kota Kendari dan Kota Bau-Bau.
Kesejahteraan Masyarakat
29
Pengangguran (Orang) TPT (%) Pengangguran (Orang) TPT (%) Pengangguran (Orang) TPT (%) 1 Kab. Buton 2.670 2,06 2.353 2,20 2.573 2,29 2 Kab. Muna 3.908 3,46 4.114 3,47 2.825 2,32 3 Kab. Konawe 3.491 3,14 4.040 3,58 3.270 2,75 4 Kab. Kolaka 6.492 4,63 5.550 3,60 4.921 3,125 Kab. Konawe Selatan 2.348 1,95 1.532 1,17 3.104 2,33
6 Kab. Bombana 1.043 1,81 1.240 1,86 1.775 2,55
7 Kab. Wakatobi 3.513 6,76 2.158 5,18 1.103 2,45
8 Kab. Kolaka Utara 3.103 4,55 1.884 2,84 1.199 1,94
9 Kab. Buton Utara 615 2,71 793 3,18 446 1,76
10 Kab. Konawe Utara 980 4,40 881 3,30 694 2,70
11 Kota Kendari 13.875 13,39 18.012 13,49 7.227 5,64
12 Kota Baubau 5.281 9,23 5.664 9,12 3.314 5,61
3,06
Jumlah / Total 47.319 4,74 48.221 4,61 32.451
No. Kabupaten/Kota
Agustus 2009 Agustus 2010 Agustus 2011
Jumlah Pengangguran dan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT), Tahun 2009-2011
Berdasarkan data tingkat pengangguran dari BPs selama tiga tahun maka dapat dilihat bahwa jumlah pengangguran meningkat setiap tahunnya, namun TPT justru berkurang setiap tahunnya.
Pada tahun 2011, Kota Kendari merupakan daerah dengan jumlah pengangguran terbanyak dan TPT terbesar. sementara jumlah pengangguran terendah dan TPT terendah adalah Kab. Buton Utara.
2008 2009 2010 2008 2009 2010 1 Kab. Buton 69,7 62,592 45,8 22,93 20,16 17,96 2 Kab. Konawe 55,7 50,78 42,2 22,40 19,97 17,46 3 Kab. Kolaka 68,7 64,147 59,7 22,46 20,46 18,91 4 Kab. Muna 59,9 54,22 46,6 22,42 20,02 17,37 5 Kota Kendari 23,6 22,44 23,3 8,53 7,88 8,02 6 Kota Bau-Bau 19,6 18,171 16,6 14,13 12,72 12,06 7 Kab. Konawe Selatan 43,7 40,374 35,7 16,74 15,17 13,50 8 Kab. Bombana 21,8 20,226 22,0 18,25 16,63 15,71 9 Kab. Wakatobi 24,9 23,048 17,1 22,53 20,42 18,52 10 Kab. Kolaka Utara 29,3 28,358 24,4 24,08 21,88 20,06 11 Kab. Konawe Utara 8,2 7,73 7,0 16,50 15,19 13,70 12 Kab. Buton Utara 12,1 11,035 10,3 22,86 20,58 18,80
17,44 15,70
No. Kabupaten Jumlah (000 jiwa) Persentase
Prov. Sulawesi Tenggara 437,1 403,121 331,2 19,38
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin se-Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008-2010
salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin berkurangnya jumlah penduduk miskin di suatu wilayah. Berdasarkan data, dapat dilihat bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin Provinsi sulawesi Tenggara semakin berkurang dari tahun 2008-2010
Pada tahun 2010, jumlah penduduk miskin Provinsi sulawesi Tenggara sebanyak 331.200 jiwa , dimana jumlah penduduk miskin terbanyak ada di Kab. Kolaka yaitu 64.147 jiwa dan jumlah penduduk miskin paling sedikit ada di Kab. Konawe Utara yaitu 7000 jiwa.
Potensi Ekonomi
31
Potensi Ekonomi
Potensi Ekonomi dan Investasi
Sektor pertanian khususnya perkebunan di sulawesi tenggara yang potensinya masih menarik dikembangkan di depan adalah kakao dan jambu mete. Berdasarkan data tahun 2009 produksi kakao mencapai 131.830 ton dan produktivitasnya mencapai 868,89 kg/hektar, dengan jumlah petani yang membudidayakannya mencapai 149.754 orang. sedangkan untuk komoditi perkebunan jambu mete pada tahun 2009 mencapai 30.934 ton dan produktivitasnya mencapai 341,15 kg/ hektar . Jumlah petani yang membudidayakan mete berjumlah 100.046 orang.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHr) diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi. Kinerja sektor tersebut dipengaruhi oleh wisatawan dan banyaknya even berupa rapat koordinasi pemda dan pusat di sulawesi tenggara . selain itu juga semakin banyak frekuensi kunjungan investor dalam dan luar negeri untuk pemantauan potensi sektor pertambangan yang sedang gencar dipromosikan oleh Pemerintah Provinsi sulawesi Tenggara.
Sektor perikanan di sulawesi Tenggara juga potensial untuk terus ditumbuhkembangkan hal ini karena ditopang dengan luasnya wilayah perairan laut yang mencapai 114,879 km2 dan dengan potensi perikanan laut sebanyak 1.520,34 megaton dan produksi sebanyak 210,38 megaton.
Sektor pertambangan dan energi menunjukkan beberapa potensi sebagai berikut:
- sentra industri semen direncanakan akan dibangun di Kab. Muna mengingat di daerah tersebut terdapat banyak potensi gypsum dan kapur.
- Potensi panas bumi yaitu Lainea 60 MWE dan Mangolo 50 MWE. Tambang nikel memiliki deposit 97,4 miliaran ton dengan penyebaran di Kab. Kolaka Utara, Kolaka, Konawe Utara, Konawe selatan, Konawe, dan Bombana (Pulau Kabaena). Estimasi deposit emas 1,125 juta ton. Penyebaran di Kab. Bombana dan Wawonii serta beberapa kabupaten lain yang sedang diteliti. sementara potensi tambang lainnya adalah pasir kuarsa 5 miliar m3, marmer 206 miliar m3, lempung 884 miliar m3, oniks 547 ribu m3, gamping 1,6 triliun m3, dan mangan 6.000 ha di Kab. Buton. Potensi lainnya yaitu
Potensi Ekonomi
33
Konawe dan Kab. Bombana, Kromit dengan luas penyebaran2.000-2.500 ha, magnesit di Kab. Kolaka Utara, Kab. Kolaka, Kab. Konawe, dan Kab. Bombana.
- Potensi industri biomassa kelapa bisa dikembangkan mengingat bahan baku kelapa banyak diproduksi. secara rata-rata luas panen kelapa tahun 2006 hingga 2010 mencapai 36.522 hektar
Keuangan Daerah
35
Komposisi APBD Prov. sulawesi Tenggara
Agregat Prov., Kab., dan Kota
Keterangan: 2008-2011 realisasi; 2012 Anggaran
2008 2009 2010 2011 2012 Pendapatan 5.400,60 5.955,35 6.365,27 7.681,32 8.633,57 Belanja 5.338,14 6.159,89 6.296,24 7.405,26 9.137,93 Surplus/Defisit 62,46 (204,54) 69,03 276,06 (504,35) Pembiayaan 467,93 532,21 227,19 256,54 175,70 (2.000,00) 2.000,00 4.000,00 6.000,00 8.000,00 10.000,00 M ilia r R up ia h
Komposisi Pendapatan APBD Prov. sulawesi Tenggara
Agregat Prov., Kab.,dan Kota
Keterangan: 2008-2011 realisasi; 2012 Anggaran
2008 2009 2010 2011 2012 PAD 469,62 399,71 572,67 584,41 889,41 Daper 4.704,14 5.184,68 5.284,93 5.837,34 7.027,32 L2PyS 226,84 370,97 507,66 1.259,57 716,84 1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00 7.000,00 8.000,00 M ilia r R up ia h
Keuangan Daerah
37
Komposisi Belanja APBD Prov. sulawesi Tenggara
Agregat Prov., Kab.,dan Kota
Keterangan: 2008-2011 realisasi; 2012 Anggaran
2008 2009 2010 2011 2012 B. Pegawai 2.361,74 2.769,30 3.228,02 3.714,58 4.437,64 B. Barang Jasa 950,05 1.211,22 1.070,03 1.276,15 1.518,47 B. Modal 1.664,51 1.861,15 1.491,27 1.813,58 2.087,73 B. Lain2 361,84 318,21 506,93 600,95 1.094,09 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00 2.500,00 3.000,00 3.500,00 4.000,00 4.500,00 5.000,00 M ilia r R up ia h
Uraian PAD Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah
Kab./Kota 204.002 38.289 71.199 24.151 70.363
Provinsi 302.600 196.668 32.396 11.116 62.419
Komposisi Pendapatan Asli Daerah APBD Prov. sulawesi Tenggara
Agregat Prov., Kab., dan Kota (rata-rata realisasi APBD 2008-2011)
Komposisi PAD Kab/Kota
Komposisi PAD Prov.
(Dalam Juta Rupiah)
18,8% 34,9% 11,8% 34,5% Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah
65,0% 10,7%
3,7%
Keuangan Daerah
39
Komposisi Pajak Daerah APBD Prov. sulawesi Tenggara
(Perbandingan rata-rata realisasi APBD 2008-2010 dengan realisasi APBD 2011)
Lain-lain Kendaraan BermotorBea Balik Nama Kendaraan BermotorPajak Bahan Bakar Pajak Kendaraan Bermotor PermukaanPajak Air Kendaraan di atas airBea Balik Nama
rata-rata 2008-2010 37,628 26,314 19,088 16,384 0,534 0,032
2011 0,934 45,310 30,927 22,374 0,445 0,000
(Dalam Juta Rupiah)
0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0 40,0 45,0 50,0
Lain-lain Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Pajak Kendaraan
Bermotor PermukaanPajak Air Bea Balik NamaKendaraan di
atas air
%
(Dalam Juta Rupiah)
Komposisi Pajak Daerah APBD Kab./Kota Prov. sulawesi Tenggara
(Perbandingan rata-rata realisasi APBD 2008-2010 dengan realisasi APBD 2011)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C Pajak Penerangan Jalan Pajak
Hotel BPHTB RestoranPajak ReklamePajak LingkunganPajak HiburanPajak lain-lain ParkirPajak
Pajak Air Bawah Tanah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor rata-rata 2008-2010 27,67 42,12 4,28 0,00 7,43 6,11 0,00 1,86 9,05 1,44 0,06 0,00
0,0
10,0
20,0
30,0
40,0
50,0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
%
rata-rata 2008-2010
2011
Keuangan Daerah
41
Tren simpanan Pemda se-Provinsi sulawesi Tenggara di Perbankan
Agregat Prov., Kab., dan Kota
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500
Jan feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt sep Okt Nov Des
M ilia r R up ia h 2009 2010 2011 2012
Potret Dana simpanan Pemda di Perbankan Prov. sulawesi Tenggara
Dalam bentuk Tabungan, simpanan Berjangka dan Giro Agregat Prov., Kab., dan Kota
2008 2009 2010 2011 SULTRA 265.679 201.349 208.430 450.082 0 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 2008 2009 2010 2011 SULTRA Nasional 10.000.000 30.000.000 50.000.000 70.000.000 90.000.000
Keuangan Daerah
43
Trend Persentase Dana idle Terhadap realisasi Belanja Daerah
Prov. sulawesi Tenggara
Agregat Prov., Kab., dan Kota
2009 2010 2011 NAS SULTRA NAS SULTRA NAS SULTRA
Belanja 389,7 6,16 424 6,3 498,1 7,41
Idle 59,8 0,2 62,1 0,21 80,5 0,45
% Idle/Blj 15,35% 3,27% 14,65% 3,31% 16,16% 6,08%
+ Trend persentase dana idle terhadap realisasi belanja daerah di wilayah Provinsi sulawesi Tenggara mengalami kenaikan pada tahun anggaran 2011 dibandingkan tahun sebelumnya 2010
+ Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan belanja semakin rendah di wilayah Provinsi sulawesi Tenggara 3,27% 3,31% 6,08% 15,35% 14,64% 16,15% 0,00% 2,00% 4,00% 6,00% 8,00% 10,00% 12,00% 14,00% 16,00% 18,00% 2009 2010 2011 SULTRA Nasional
Estimasi realisasi Belanja Daerah Agregat Prov., Kab. dan Kota
sampai Dengan Bulan september 2012
(Persentase)
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
2011 4.766 8.450 14.016 20.283 26.774 33.085 42.448 54.399 58.753 67.065 76.116 98.840 2012 4.890 8.247 13.265 20.141 26.240 34.541 42.777 50.794 57.773 4.766 8.450 14.016 20.283 26.774 33.085 42.448 54.399 58.753 67.065 76.116 98.840 4.890 8.247 13.265 20.141 26.240 34.541 42.777 50.794 57.773 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 % 2011 2012
secara persentase, estimasi realisasi belanja daerah sampai dengan bulan september 2012 adalah sebesar 57,8%, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun 2011.
Keuangan Daerah
45
Estimasi realisasi Belanja Daerah
Agregat Prov. sulawesi Tenggara
sampai Dengan Bulan september 2012
(Persentase)
+ rata-rata realisasi APBD 2012 sampai dengan bulan september 2012 agregat per prov. adalah sebesar 57,8%. + Terdapat 12 daerah yang mempunyai realisasi belanja di bawah rata-rata sedangkan 21 daerah mempunyai
realisasi belanja di atas rata-rata.
+ realisasi belanja terendah adalah Prov. Kalimantan Timur yaitu sebesar 41,6% sedangkan yang tertinggi adalah Prov. Maluku Utara sebesar 71,2%.
57,8 00 10 20 30 40 50 60 70 80 Kalt im Riau DK I Ba be l Pa pu a Pap bar Kals el Bali Ba nt en Be ngk ul u Kalb ar Su m ut Ja m bi Su m ba r Ja ba r DI Y Kalt en g Su m se l Ke pr i Ac eh Ja te ng Su ltra NTT Su lb ar N TB Su lte ng M alu ku Jat im La m pu ng Go ro nt alo Su lse l Su lu t M alu t
opini BPK atas LKPD Pemda
se-Provinsi sulawesi Tenggara
Nama Daerah OPINI BPK 2008 2009 2010
Prov. Sulawesi Tenggara TMP TMP WDP
Kab. Bombana TMP TMP
Kab. Buton WDP WDP WTP
Kab. Buton Utara TMP TMP
Kab. Kolaka TW TW WDP
Kab. Kolaka Utara TW WDP
Kab. Konawe TMP TMP
Kab. Konawe Selatan TMP TMP TMP Kab. Konawe Utara TMP TMP
Kab. Muna TMP TMP
Kab. Wakatobi TMP TW
Kota Bau~Bau TW TMP TMP
Kondisi Keuangan Daerah
47
Kondisi Keuangan Daerah
Indikator Kondisi Keuangan Daerah
1.
Rasio Pendapatan Daerah / Jumlah Penduduk
2.
Rasio PAD/ Total Pendapatan Daerah
3.
Rasio Ruang Fiskal / Total Pendapatan Daerah
4.
Rasio Pajak Daerah dan Retribusi Daerah/ PDRB
5.
Rasio Belanja Modal / Total Belanja Daerah
6.
Rasio Total Pendapatan Daerah / Total Belanja Daerah
7.
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung / Total Belanja Daerah
8.
Rasio SiLPA tahun sebelumnya / Belanja Daerah
Kondisi Keuangan Daerah
Prov. sulawesi Tenggara Agregat Prov., Kab., dan Kota
Pendapatan Daerah / Jumlah Penduduk
PAD / Total Pendapatan Daerah
+ rasio ini mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melayani per satu orang penduduknya
+ rasio pendapatan daerah per kapita provinsi sulawesi Tenggara memiliki tren meningkat seperti tren pendapatan per kapita nasional. namun demikian, pendapatan per kapita Provinsi sulawesi Tenggara lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional
+ rasio ini mengukur tingkat kemandirian daerah yaitu kemampuan daerah dalam mendanai belanjanya dengan pendapatan asli daerah (PAD)
+ rasio PAD Per Total Pendapatan Daerah Provinsi sulawesi Tenggara memiliki tren yang fluktuatif kadang naik kadang turun. namun demikian, rasio PAD per total Pendapatan Daerah Provinsi sulawesi Tenggara lebih rendah dibandingkan rasio secara nasional 1.462,69 1.601,20 1.640,40 1.823,58 2.217,44 2.046,89 2.602,73 2.811,38 2.851,08 3.440,55 0 1.000 2.000 3.000 4.000 2007 2008 2009 2010 2011 Ri bua n
Nasional prov. Sulawesi Tenggara
0,16 0,18 0,18 0,19 0,21 0,06 0,09 0,07 0,09 0,08 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 2007 2008 2009 2010 2011 Nasional prov. Sulawesi Tenggara
Kondisi Keuangan Daerah
49
Kondisi Keuangan Daerah
Prov. sulawesi Tenggara Agregat Prov., Kab., dan Kota
Ruang Fiskal / Total Pendapatan Daerah
Pajak Daerah + Retribusi Daerah / PDRB
+ rasio ini mengukur seberapa besar ruang fiskal atau keleluasaan yang dimiliki daerah dalam menggunakan dananya secara bebas dalam menentukan prioritas belanja yang akan didanai
+ Tren rasio ruang fiskal per total pendapatan daerah Provinsi sulawesi Tenggara memiliki kecenderungan menurun seperti halnya rasio secara nasional. rasio ruang fiskal per total pendapatan daerah Provinsi sulawesi Tenggara lebih rendah dibandingkan dengan rasio secara nasional
+ rasio ini mengukur tingkat kemampuan daerah dalam menggali potensi pajak dan retribusi daerahnya
+ Tren rasio pajak daerah dan retribusi daerah per PDrB Provinsi sulawesi Tenggara memiliki tren yang meningkat seperti halnya tren nasional. Pada tahun 2011, rasio pajak daerah dan retribusi daerah per PDrB Provinsi sulawesi Tenggara memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan rasio secara nasional.
0,55 0,49 0,44 0,41 0,40 0,49 0,42 0,36 0,35 0,31 0,20 0,40 0,60 2007 2008 2009 2010 2011
Nasional prov. Sulawesi Tenggara
1,34% 1,42% 1,27% 1,33% 1,58% 0,97% 1,16% 1,19% 1,28% 1,29% 0,00% 0,50% 1,00% 1,50% 2,00% 2007 2008 2009 2010 2011
Kondisi Keuangan Daerah
Prov. sulawesi Tenggara Agregat Prov., Kab., dan Kota
Belanja Modal / Total Belanja
+ rasio ini mengukur seberapa besar daerah mengalokasikan belanja modal terhadap total belanjanya
+ Tren rasio belanja modal per total belanja Provinsi sulawesi Tenggara cenderung menurun seperti tren rasio secara nasional, walaupun sedikit naik pada 2011. namun demikian, rasio belanja modal per total belanja sulawesi Tenggara lebih tinggi dibandingkan dengan rasio secara nasional
Rasio Total Pendapatan Daerah /
Total Belanja Daerah
+ rasio ini mengukur tingkat kemampuan keuangan daerah dalam mendanai belanja daerah
+ Tren rasio total pendapatan daerah per total belanja daerah di Provinsi sulawesi Tenggara cenderung fluktuatif mengalami penurunan pada tahun 2009 kemudian naik pada tahun 2010 dan 2011. Pada tahun 2011, rasio total pendapatan daerah per total belanja daerah Provinsi sulawesi Tenggara lebih rendah dibandingkan dengan rasio secara nasional.
28,95% 27,46% 26,19% 22,17% 21,67% 32,46% 31,18% 30,21% 23,69% 24,49% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 2007 2008 2009 2010 2011
Nasional prov. Sulawesi Tenggara
103,64% 102,66% 97,04% 102,22% 105,70% 104,07% 101,17% 96,68% 101,10% 103,73% 90,00% 95,00% 100,00% 105,00% 110,00% 2007 2008 2009 2010 2011
Kondisi Keuangan Daerah
51
Kondisi Keuangan Daerah
Prov. sulawesi Tenggara Agregat Prov., Kab., dan Kota
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung /
Total Belanja Daerah
Rasio SiLPA Tahun Sebelumnya / Belanja Daerah
+ rasio ini mengukur seberapa besar daerah mengalokasikan belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanjanya + rasio belanja pegawai tidak langsung per total belanja daerah
Provinsi sulawesi Tenggara cenderung meningkat pada tahun 2009 hingga 2010 kemudian menurun pada tahun 2011. Pada tahun 2011, rasio belanja pegawai tidak langsung per total belanja daerah Provinsi sulawesi Tenggara lebih rendah dibandingkan dengan rasio secara nasional.
+ rasio ini mengukur proporsi siLPA tahun sebelumnya terhadap belanja daerah tahun berjalan
+ rasio siLPA terhadap belanja daerah Provinsi sulawesi Tenggara cenderung menurun sama dengan rasio secara nasional yang juga cenderung turun, namun untuk Provinsi sulawesi Tenggara ini sedikit naik pada tahun 2011. Pada tahun 2011 rasio siLPA terhadap belanja Provinsi sulawesi Tenggara lebih rendah dibandingkan rasio secara nasional.
28,4% 35,9% 39,4% 40,6% 40,2% 37,4% 28,0% 33,7% 43,8% 39,4% 0,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 2007 2008 2009 2010 2011
Nasional prov. Sulawesi Tenggara
28,4% 35,9% 39,4% 40,6% 40,2% 37,4% 28,0% 33,7% 43,8% 39,4% 0,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 2007 2008 2009 2010 2011
Nasional prov. Sulawesi Tenggara
20,06% 17,07% 17,56% 12,29% 11,47% 12,61% 9,35% 8,42% 3,30% 4,24% 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 2007 2008 2009 2010 2011
Nasional prov. Sulawesi Tenggara 20,06% 17,07% 17,56% 12,29% 11,47% 12,61% 9,35% 8,42% 3,30% 4,24% 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 2007 2008 2009 2010 2011
Kondisi Keuangan Daerah
Prov. sulawesi Tenggara Agregat Prov., Kab., dan Kota
Rasio Pembayaran Pokok Hutang dan Bunga /
Total Pendapatan Daerah
+ rasio ini mengukur proporsi pembayaran pokok utang dan bunga yang harus dibayar dari pendapatan daerah dalam satu periode. + rasio pembayaran pokok utang dan bunga per total pendapatan
daerah di Provinsi sulawesi Tenggara memiliki tren yang menaik. Pada tahun 2011, rasio pembayaran pokok utang dan bunga per total pendapatan daerah Provinsi sulawesi Tenggara lebih tinggi dibandingkan rasio secara nasional.
0,59% 0,45% 0,68% 0,78% 0,70% 1,40% 0,45% 0,63% 0,86% 1,27% 0,00% 0,50% 1,00% 1,50% 2007 2008 2009 2010 2011
Ucapan Terima Kasih
53
Penyusunan buku “Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah”dilaksanakan dengan kerjasama yang solid dan tidak akan dapat terselesaikan tanpa kontribusi dari seluruh pihak di lingkungan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. oleh karena itu apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan dalam rangkaian kata berikut ini:
+ Ucapan terima kasih ditujukan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Dr. Marwanto Harjowiryono – dan Direktur Evaluasi Pendanaan dan informasi Keuangan Daerah Drs. Yusrizal ilyas, MPA – yang telah memberikan arahan dan bimbingan hingga terselesaikannya penyusunan buku ini. + Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada subdirektorat
Data Keuangan Daerah, Direktorat Evaluasi Pendanaan dan informasi Keuangan Daerah yang telah menyediakan data ringkasan APBD 2012 dan realisasi APBD 2011 melalui sistem informasi Keuangan Daerah dan kepada Bagian Umum, sekretariat Jenderal Perimbangan Keuangan
yang telah menyediakan data Daerah Dalam Angka dan memfasilitasi hingga tersedianya buku ini.
+ selanjutnya terima kasih kepada tim dari subdirektorat Evaluasi Dana Desentralisasi dan Perekonomian Daerah yang terdiri dari Putut Hari satyaka, sE. MPP; Krisnandar, sE; Prasetyo indro s.,sE, ME; Aris soedjatmiko, s.sos, MM; Wahyu Widjayanto, sE, MM; Edi soeprijono, s.sos; Arif Zainuddin Fansyuri, Ak., ME; Femmy Ferdiansyah, sH; Chrisliana Tri Ferayanti, sE, ME; Lukman Adi santoso, sE., ME.; Mauliate H. silitonga, sE; nanag Garendra Timur, s.si; rizki Anggunani, s.si; shinta Theresia Purba; virgin Marthalia yang telah melakukan input dan pengolahan data sekaligus mendukung penulisan dan melakukan editing buku ini. Terima kasih atas kerja kerasnya.
siKD, Kementerian Keuangan
Prov. sulawesi Tenggara Dalam Angka 2007 – 2010, BPs Potensi investasi di Prov. sulawesi Tenggara, BKPM www.sulawesitenggaraprov.go.id