Mcnimbang
:Mcngingat
:SALINAN
PRESIDENREPUELIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12
TAHUN
2017TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PEMELENGGAMAN
PEMERINTAHAN DAERAH
DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBUK INDONESIA,
bahwa
untuk
melaksanakan
ketentuan pasal
353
dalamrangka
mcmberi kcpastian
hukum
tcrhadap
I'ata
carapcngenaan
sanksi
administratif.
dalam
pcnyclcnggara:rnPcmerintahan Dacrah
dan
untuk
melaksanakan
kctentrran Pasal383
Undang-UndangNomor
23
Tahun
2Ol4
Lcnt-angPcmerintahan
Daerah,
perlu
mcnetapkan
peraturanPcmerintah
tcntang
Pembinaan
dan
pcngawasanPe nyclcn ggaraan Pemcrintahan Daerah;
l.
Pasal5
ayat (21 Undang-Undang Dasar Ncgara RcpubliklndonesiaTahun
l94S;2.
Undang-Undang
Nomor
23
Tahun
2Ol4
tcntangPcmcrintahan
Daerah
(Lembnran
Ncgara
Republik Indoncsia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan LcmbaranNcgara
Rcpublik Indoncsia Nomor 5587),
sc!^p,r.ir1snstclah
beberapakali
diubah
tcrakhir
dcngan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun20IS
tentang pcrubahan Kcdu.aAtas
Undang-UndangNomor
23
Tahun
2Ol4
tcntangPemerintahan
Daerah
(kmbaran
Negara
RepublikIndonesia
Tahun 2015
Nomor Sg, Tambahan LcmbaranNegara Rcpublik Indonesia Nomor .5679); MEMUTUSKAN:
PERATURAN PEMERINTAH
TEMTANG PEMBINAAN
DANPENGAWASAN
PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHANDAERAH. Mcnctapkan :
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
-2-BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
l.
Pembinaan
Penyelenggaraan
Pemerintahan
Dacrahadalah usaha, tindakan,
dan
kegiatan yang ditujukan
untuk
mewujudkan tercapainyatujuan
penyelenggaraanPcmerintahan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.
Pengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Daerahadalah usaha, tindakan,
dan
kegiatan yang ditujukan
untuk
menjamin penyelenggaraan Pcmerintahan Daerahberjalan sccara
cfisicn
dan
efektif
scsuai
dcngankctentuan peraturan perundang-undangan.
3.
Aparat
PengawasInternal
Pemerintahyang
selanjutnya disingkat APIP adalah inspektoratjenderal
kcmenterian,unit
pengawasan lembagapemerintah
nonkementerian, inspektorat provinsi, dan inspektorat kabupaten/ kota.4.
Pcmcrintah Pusat adalah Fresiden Republik
Indoncsiayang
memegang
kckuasaan
pemerintahan
negaraRepublik
Indonesiayang
dibantu
oleh
Wakil
Presidcndan
menteri
sebagaimanadimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.5.
Pcmerintahan Daerah adalah
penyclenggaraan urusanpcmcrintahan
oleh
Pcmerintah
Dacrah
dan
DewanPcru,akilan
Rakyat
Daerahmcnurut
asas otonomi
dantugas
pcmbantuan
dcngan
prinsip
otonomi
seluas-luasnya dalam
sistem
dan
prinsip
Negara
KcsatuanRcpublik
Indonesia
sebagaimana
dimaksud
dalamUndang-Undang
Dasar
Negara
Rcpublik
IndonesiaTahun
1945.6. 7. 8. 9. PRE S ID EN REPUBLIK INDONESIA
-3-Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai
unsur
penyelenggara
Pemerintahan Daerah
yang
memimpinpelaksanaan
urusan
pemerintahan
yang
menjadikewenangan daerah otonom.
Dewan
Perwalilan Rakyat Daerah
yang
selanjutnyadisingkat
DPRD
adalah
lembaga
perwakilan
ralqyat Daerah yang berkedudukan sebagaiunsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah.Perangkat Daerah adalah
unsur
pembantu kepala daerahdan DPRD dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri.
10.
Kementerian adalahkementerian
yang menyelenggarakan urus€u1 pemerintahan dalam negeri.Pasal 2
(1)
Pembinaan
dan
Pengawasan
penyelenggaraanPemerintahan
Daerah
secaranasional
dikoordinasikan oleh Mcntcri.(2)
Pembinaan
dan
Pengawasan
penyelenggaraanPemerintahan
Daerah
sebagaimana
dimaksud
padaayat
(l)
dilakukan
secara
cfisien
dan
efektif
untuk
meningkatkan kapasitas
daerah dalam
rangkamendukung
pelaksanaan
urusan
pemcrintahankonkuren
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan perundang-undangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
-4-BAB II PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 3(1)
Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah:a.
provinsi, dilaksanakan oleh:I.
Menteri,untuk
pembinaan umum; dan2.
menteri
teknis/kepala
lembaga
pemerintah nonkementerian,untuk
pembinaan teknis;b.
kabupaten/kota, dilaksanakan
olch
gubernur sebagaiwakil
Pemerintah Pusatuntuk
pembinaan umum dan teknis.(21
Pembinaanumum
sebagaimana dimaksud pada ayat(l)
huruf
a angka 1 danhuruf
b meliputi:a.
pembagian urusan pemerintahan;b.
kelembagaan daerah;c.
kepegawaian pada Perangkat Daerah;d.
keuangan daerah;e.
pcmbangunan daerah;f.
pelayananpublik
di daerah;g.
kerja sama daerah;h.
kebijakan daerah;i.
kepala daerah dan DpRD; danj.
bcntuk
pembinaan
lain
sesuai dengan
ketentuanperaturan perundang-undangan.
(3)
Pcmbinaanteknis
sebagaimanadimaksud
pada ayat(l)
huruf a
angka
2
dilakukan
tcrhadap
teknispenyelenggaraar
urusan
pemerintahan yang diserahkanke
daerahprovinsi dan
pembinaanteknis
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
huruf
b
dilakukan
terhadaptcknis
pcnyeleng3araanurusan
pemcrintahan
yang diserahkan ke daerah kabupaten/kota.(s)
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-5-(4)
Dalam melakukan pembinaan
sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
huruf
b, gubemur sebagai wakil PemerintahPusat dibantu oleh perangkat gubernur
sebagai wakilPcmerintah Pusat sesuai dengan ketcntuan
pcraturan perundang-undangan.Dalam
hat
melakukan pembinaan
sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1),
gubernur
sebagai
wakil Pcmerintah Pusat:a.
bclum mampu melakukan pembinaan umum
danteknis,
Mentcridan menteri teknis/kepala
lcmbagapemerintah nonkementerian
mclakukan
Pcmbinaan Pcnyclenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangan
masing-masingdengan berkoordinasi
kepada
gubernur
sebagaiwakil Pemerintah Pusat; atau
b.
tidak
melakukan pembinaan
umum
dan
teknis,Mcnteri
dan
menteri
teknis/kcpala
lembagapemerintah nonkementerian
melakukan
Pcmbinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Dacrah kabupatcn/ kota sesuai dengan kewenangan masing-masing. Dalam hal melaksanakan kcwenangan pembinaan umumterdapat
kcterkaitan dengan kewenangan
pembinaantcknis, Mentcri
mengadakankoordinasi
dengan menteri tcknis/ kepala lcmbaga pemcrintah nonkcmcnterian.Koordinasi
sebagaimana
dimaksud
pada
ayaL
(6)dilakukan
dalam aspek
perencanaan,
pcnganggaran, pengorganisasian, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi.Pembinaan
umum
dan tcknis
sebagaimana dimaksud padaayat
(1) sampai denganayat
(6)
dilakukaa
dalambentuk
fasilitasi, konsultasi, pendidikan
dan
pelatihan serta penelitian dan pcngembangan.(6)
(71
(8)
(1) (2) P RE S IDEN REPUBLIK INDONESIA
-6-Bagian Kedua Bentuk Pembinaan ParagrafI
Fasilitasi Pasal 4Fasilitasi
dilakukan
secara efisien
dan
efektif
untuk
meningkatkan kapasitas daerah
dalam
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.Fasilitasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
dapatdilakukan
pada tahapan
perencanaan, penganggaran, pengorganisasian, pelaksanaan, pelaporan, evaluasi, danpertanggungiawaban penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah.(3)
Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi kegiatan:a.
pemberdayaanPemerintahanDaerah;b.
penguatan kapasitas Pemerintahan Dacrah; danc.
bimbingan teknis kepada Pemerintahan Daerah.Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan
dalam bentuk
penycdiaan
sarana
dan
prasarana pemerintahandan/atau
pendampingan.Patagraf 2 Konsultasi
Pasal 5
Konsultasi
dilakukan
untuk
mendapatkan
petunjuk,pertimbangan,
dan/atau pendapat
terhadappermasa-lahan penyelenggaraan
Pemerintahan
Daerahyang
sifatnya
mendesak
dan/atau
menyangkutkcpentingan masyarakat
luas yang belum
diatur
sccarategas dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
Konsultasi
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1) dapatdilakukan
secara langsung atautidak
langsung. (4)(l)
(2t
(3) (4)
m
PRE S ID EN REPUBLIK INDONESIA-7
-Dalam
hal
konsultasi dilakukan
secara langsung, hasil konsultasi dituangkan secaratertulis
dalam berita acarahasil konsultasi.
Dalam
hal
konsultasi dilakukan
secaratidak
langsung,hasil konsultasi dituangkan
secaratertrrlis
dalam surat jawaban.Konsultasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
dan ayaL (2) yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah provinsi disclcnggarakan oleh Menteridan
menteri teknis/kepalalcmbaga pemerintah nonkementerian
sesuai
dengankcwenangan masing-masing
dan
mcmperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (6)dan ayat (7).
Konsultasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(l)
danayat
(21
yang
dilakukan
oleh
Pemerintah
Daerahkabupatcn/kota
diselenggarakanoleh gubernur
sebagaiwakil
Pemcrintah Pusat.(7)
Hasil konsultasi harus ditindaklanjuti olch
PemerintahDacrah
melalui
pcnycmpurnaan dan/atau
pcnyelarasankebijakan daerah sesuai dengan ketentuan
pcraturan perundang-undangan.(s)
(6)
(1)
Paragraf 3
Pendidikan dan Pelatihan Pasal 6
Pendidikan dan pelatihan diselenggarakan dalam rangka pcngcmbangan kompetensi penyelenggara pemerintahan Daerah.
Pendidikan
dan pelatihan
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) meliputi:a.
pendidikan
dan
pelatihan
teknis
dan
fungsionalsubstantif pemerintahan dalam negeri;
(2)
(3)
(4)
PRE S IO EN
REPUBLIK INDONESIA
-8-b. pendidikan dan pelatihan
kepemimpinanpemerintahan dalam negeri;
c.
pendidikan dan pelatihan kepamongprajaan;d.
pendidikan
dan
pelatihan
teknis
dan
fungsionalsubstantif
kementerian/lembaga
pemerintahnonkementerian;
dan/atau
e.
pendidikan
dan
pelatihan
lain
sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pendidikan
dan pelatihan
sebagaimanadimaksud
padaayat (1)
dan
ayat (2)
dilaksanakan sesuai
denganketcntuan pcraturan perundang-undangan.
Pendidikan
dan pelatihan
sebagaimanadimaksud
padaayat
(21
huruf
a,
huruf
b,
huruf
c,
dan
huruf
cdiselenggarakan
oleh
Kcmenterian
scsuai
denganketentuan peraturan perundang-undangan.
Pendidikan
dan pelatihan
sebagaimanadimaksud
padaayat
(2)
huruf
d
dan huruf
e
diselenggarakan olehkementerian/lembaga
pemerintah
nonkementeriansesuai
dengan
kewenangannya
dan
dikoordinasikan kepada Menteri.Pendidikan
dan
pelatihan dapat dilaksanakan
melaluikerja
salna
antarkementerian/lembaga
pemcrintahnonkcmenterian, antar-Pemerintah
Daerah,
dan/atau
dengan perguruan
tinggi serta
lembaga pendidikan danpelatihan lainnya. Pasal 7
Menteri
menetapkan standardisasi
dan
sertifikasiprogram pendidikan
dan
pelatihan
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
6
ayat (41. (s)(6)
(1)
ffi
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-9-(21
Menteri
telnris/kepala
lembaga(1)
(2t
(3)
pemerintah
nonkementerian
menetapkan standardisasi
dansertilikasi
program
pendidikan
dan
pelatihansebagaimana
dimaksud dalam
Pasal6
ayat
(5)
sesuaidengan
kewenangannyadan
dikoordinasikan
kepada Menteri.Paragraf 4
Penelitian dan Pengembangan Pasal 8
Pcnelitian
dan
pengembangandilakukan dalam
rangkameningkatkan
kualitas
kebijakan
dan
program penyelcnggaraan Pemerintahan Daerah.Penelitian
dan
pengembangan sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
termasuk
pengkajian,
penerapan,perekayasaan, dan pengoperasian.
Penelitian
dan
pengembangan sebagaimana dimaksudpada
ayat (1)
dapat dilakukan melalui
kerja
sama antarkementerian/ lembaga pemerintah nonkcmentcrian, antar-Pemcrintah Daerah,dan/atau
dengan pcrguruantinggi serta
lembaga
penelitian
dan
pcngembangan lainnya.Hasil
penelitian
dan
pengembangandijadikan
dasarperumusan
kebijakan
penyelenggaraan Pemcrintahan Daerah.Pasal 9
Mentcri
menetapkan standardisasi program
penelitian dan pengcmbanganuntuk
pembinaan umum.Menteri teknis/kepala lembaga
pemerintahnonkementerian
menetapkan standardisasi
programpcnelitian dan
pengembanganuntuk
pembinaan tcknis scsuai dengan kewenangannya.(4)
(i)
(2t
(l)
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA_ro_
BAB III PENGAWASAN PEI{YELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pasal 10Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah:
a.
provinsi, dilaksanakan oleh:1.
Menteri,untuk
pengawasan umum; dan2.
mcnteri
tcknis/kepala
lembaga
pemerintah nonkementerian,untuk
pengawasan tcknis;b.
kabupaten/kota, dilaksanakan
oleh
gubernursebagai
wakil
Pemerintah Pusatuntuk
pengawasanumum dan teknis.
Pengawasan
umum
sebagaimana dimaksud pada ayat(l)
huruf
a angka 1 danhuruf
b meliputi:a.
pemba#an urusan pemerintahan;b.
kelembagaan daerah;c.
kepegawaian pada Perangkat Daerah;d.
keuangan daerah;c.
pembangunan daerah;f.
pelayananpublik
di daerah;g.
kerja sama daerah;h.
kebijakan daerah;i.
kepala daerah dan DPRD; danj.
bentuk
pengawasanlain
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat
(l)
huruf
a
ar:g)<a 2dilakukan
terhadapteknis
pelaksanaansubstansi
urusan
pemerintahan
yang
diserahkan
kedaerah provinsi
dan
pengawasanteknis
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
huruf
b
dilakukan
terhadap teknis pelaksanaan substansiurusan
pemcrintahan yangdiserahkan ke daerah kabupatcn/ kota.
(2)
(3)
(41
PRE S ID EN
REPUBLIK INDONESIA
_
ll
_Pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
meliputi:
a.
capaian standar pelayananminimal
atas pelayanan dasar;b.
ketaatan terhadap ketentuanperaturan
perundang-undangantermasuk ketaatan pelalsanaan norna,
standar, prosedur,
dan
kriteria,
yang
ditetapkanoleh
Pemerintah Pusatdalam
pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren;c.
dampak
pelaksanaan
urusan
pemerintahankonkuren
yangdilakukan oleh
Pemerintah Daerah; dand.
akuntabilitas pengelolaan anggaran pendapatan danbelanja negara
dalam
pelaksanaan
urusan pemerintahan konkuren di daerah.Selain
melakukan
Pengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan Daerah
provinsi, Menteri
dan
menteriteknis/kepala
lembaga
pemcrintah
nonkemcnteriansesuai
dengan kewenangan masing-masing melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengawasan yang menjadi tugas gubernrrl sslagai wakil Pemerintah Pusat.Dalam melakukan
pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat(l)
huruf
b, gubernur sebagai wakil PemerintahPusat
dibantu
oleh perangkat gubernur
5c!ag,ai wakilPemerintah Pusat sesuai dengan ketentuan
pcraturan perundang-undangan.(71
Dalam
hal
melakukan
pengawasan
scbagaimanadimaksud
pada
ayat
(l),
gubernur
sebagai wakil
Pemcrintah Pusat:
(s)
(6)
#p
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-12-a.
belum
mampumelakukan
pengawasanumum
danteknis,
Menteridan menteri teknis/kepala
lembaga pemerintah nonkementerian berdasarkanpermintaan bantuan
dari
gubernur
sebagai wakilPemerintah
Pusat
melalukan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangan
masing-masing; ataub.
tidak
melakukan
pengawasanumum
dan
teknis,Menteri
dan
menteri
teknis/kepala
lembagapemerintah
nonkementerianberdasarkan
telaahanhasil
pembinaan
dan
pengawasan
melakukanPcngawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/ kota sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(8)
Mentcri
teknis
dan
kepala
lembaga
pemcrintah nonkementeriandalam melakukan
pengawasan teknis sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)huruf
a
ar,gka 2,ayat (5), dan ayat (7) sesuai dengan kewenangan masing-masing berkoordinasi dengan Menteri.
(9)
Dalam
hal
melaksanakan kewenangan
pengawasanumum
terdapat keterkaitan dengan
kewenanganpengawasan
teknis,
Menteri
mengadakan
koordinasidengan
menteri
teknis/kepala
lembaga
pcmerintah nonkementerian.(lO) Koordinasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(8)
danayat (9)
dilakukan
dalam aspck
perencanaan,penganggaran,
pengorganisasian,
pclaksanaan, pelaporan, dan cvaluasi.(11) Pengawasan
umum
danteknis
sebagaimana dimaksudpada ayat
(1) sampai dengan ayat (71dilakukan
dalambentuk reviu,
monitoring, evaluasi,
pemeriksaan, dan bentuk pengawasan lainnya.BAB IV
TATA CARA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
Bagian Kesatu
Koordinasi Pembinaan dan Pengawasan PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-13-(12) Pengawasan sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(11)dilaksanakan
oleh
APIP sesuai dengan
fungsi
dan kewenangannya.Pasal
1l
Menteri
mengoordinasikan Pembinaandan
Pcngawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah secara nasional.Koordinasi
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(l )dilakukan
terhadap aspek perencanaan, penganggaran, pengorganisasian, pelaksanaErn, pelaporan, dan evaluasi.Koordinasi
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)dilakukan
dengan
melibatkan
seluruh
kcmenterianteknis,
lembaga
pemerintah
nonkemcnterian,
dan Pemerintah Daerah.Hasil koordinasi
sebagaimanadimaksud pada ayat
(l),
ayat
(21,
dan
ayat
(3)
dilaksanakan
oleh
Menteri,kementerian teknis,
lembaga
pemerintahnonkementerian, dan Pemerintah Dacrah. Bagian Kedua
Perencanaan Pembinaan dan Pengawasan Pasal 12
(1)
Menteri mengoordinasikan perencanaan pembinaan danPengawasan
Penyelenggaraanpemerintahan
Daerah dalam bentuk perencanaan:a.
Pembinaan
dan
Pengawasan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah S (Iima) tahunan; dan(l)
(2)
(3)
(4t
PR E S IDEN
REPUBLIK INOONESIA
-L4-b.
Pembinaan
dan
Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah tahunan.(2)
Perencanaan
Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah5
(lirna) tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
a, meliputi:a. prioritas Pembinaan dan
PengawasanPenyelenggaraan Pemerintahan Daerah; dan
b.
sasaran
dan
target
Pembinaan
dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.(3)
Perencanaan
Pembinaan dan
PengawasanPenyelenggaraan
Pemerintahan
Daerah
tahunan 5slagaimana dimaksud pada ayat(l)
huruf
b, meliputi:a.
fokus Pembinaandan
Pcngawasan PenyelenggaraanPemerintahan
Daerah
yang
disusun
bcrbasisprioritas dan risiko;
b. sasaran Pembinaan dan
PengawasanPenyelenggaraan Pemerintahan Dacrah; dan
c.
jadwal
pelaksanaan Pembinaan
dan
PengawasanPenyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
(4)
Pcrencanaan
Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah5
(lima) tahunan sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(2) ditetapkan
olehMenteri
dengan mengacupada rencana
pembangunan jangka menengah nasional.(5)
Perencanaan
Pembinaan dan
PengawasanPenyclenggaraan
Pemerintahan
Daerah
tahunan sebagaimanadimaksud
padaayat
(3)ditetapkan
palinglambat
akhir
bulan
April
setiap
tahun
oleh
Menteriberdasarkan
masukan
dari
menteri
teknis/kepalalembaga pemerintah nonkementerian dan kepala daerah.
(6)
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-15-Perencanaan
Pembinaan dan
PengawasanPenyelenggaraan
Pemerintahan
Dacrah
yang
telahditetapkan 5slegairnzns dimaksud pada
ayat
(4)
danayat (5)
dapat dilakukan
perubahan
berdasarkankebutuhan sesuai dengan ketcntuan
pcraturan perundang-undangan.Pasal 13
Menteri
dan
menteri teknis/ kepala lembaga pcmerintahnonkementerian
melakukan koordinasi
untuk
harmonisasi
jadwal
pelaksanaan Pembinaan
danPengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Dacrahprovinsi dan disampaikan kepada gubernur.
Gubernur
sebagaiwakil
Pemcrintah
Pusat
mclakukankoordinasi
untuk
harmonisasi
jadwal
pelaksanaanPembinaan
dan
Pengawasan
PenyelenggaraanPcmcrintahan Daerah
kabupaten/kota dan
disampaikan kcpada bupati/walikota.Harmonisasi
jadwal
pelaksanaan Pembinaan
danPengawasan Pcnyelenggaraan
Pcmcrintahan
Daerahsebagaimana
dimaksud
pada
ayat (1)
dan
ayal
l2ldilakukan
berdasarkan
prinsip
keserasian
danketcrpaduan
serta
berdasarkan
prinsip
efisiensi
dancfcktivitas
dalam
penggunaan
sumber
daya
yang tcrsedia.Pasal 14
Menteri
dan
menteriteknis/kepala
lcmbaga pcmerintahnonkcmcnterian
wajib
mencantumkan
programPembinaan
dan
Pengawasan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam dokumen percncanaan danpenganggaran kementerian/lembaga
pemerintahnonkementerian sesuai dengan kcwcnangan
masing-masing berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan. (1) (21 (3) (1) (2) Pemerintah . . .PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-16-(2)
Pemerintah
Daerah
wajib
mencantumkan
programPembinaan
dan
Pcngawasan
PcnyelenggaraanPemcrintahan Daerah sesuai dengan
kewenangannyadalam dokumen perencanaan
dan
penganggaran daerahserta
mengalokasikan
anggaran
Pcmbinaan
danPengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Daerah dalam anggaran pendapatan dan belanja dacrah.(3)
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai perencanaan
danpenganggaran
Pembinaandan
Pcngawasan Penyclcnggaraan Pemerintahan Daerahyang
bersumberdari
anggaran pendapatandan
belanja
dacrah diatur
dalam Pcraturan Menteri. Bagian Ketiga
Pclaksanaan Pembinaan dan Pengawasan Paragraf 1
Umum Pasal 15
(1)
Pcmbinaan
dan
Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan dengan kctcntuan:a.
untuk
pembinaanumum,
Menteri mcnugaskanunit
kerja
di
lingkungan Kementerian scsuai
dcngan fungsi dan kewenangannya dan dilaksanakan secara cfisicn dan efektif serta koordinatif;b.
untuk
pengawasanumum,
Menteri
menugaskanAPIP
di
lingkungan Kemcntcrian
scsuai
dengan fungsi dan kewenangannya dan dilaksanakan sccara cfisicn dan cfcktif serta koordinatif;c.
untuk
pembinaan
teknis,
menteri
teknis/ kepalaIembaga
pemerintah nonkementcrian
menugaskanunit
kcrja
di
lingkungan
kementerian/lembagapemerintah nonkcmenterian masing-masing sesuai
dcngan fungsi dan
kewenangannya
dandilaksanakan
secara
efisien
dan
efektif
sertakoordinatif; dan
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-t7-d. untuk
pengawasan
teknis,
menteri
teknismenugaskan APIP
di
lingkungan kementerian teknismasing-masing
sesuai
dengan
fungsi
dan kewenangannyadan
kepala
lembaga
pemerintah nonkementerianmenugaskan APIP
di
lingkunganunit
pengawasanlembaga
pemerintahnonkementerian
masing-masing
sesuai
dengan fungsi dan kewenangannya dan dilaksanakan secara elisien dan efektif serta koordinatif.(2)
Ketentuan lebih
lanjut
mengenaitata
cara
pembinaandan
pengawasan
umum
diatur
dengan
Peraturan Mentcri.(3)
Ketentuan lebih
lanjut
mengenaitata
cara
pembinaan dan pengawasan teknisdiatur
dengan peraturan mentcriteknis
atau
peraturan kepala
lembaga
pemerintah nonkementerian sesuai dengan kewenangannya setelahberkoordinasi dengan Kementerian
dan
kementerian/ lemb"ga pemerintah nonkementeriantcrkait.
Paragral 2
Pengawasan oleh APIP Pasal 16
Pcngawasan Pcnyelenggaraan Pemerintahan Dacrah yang
dilaksanakan
oleh APIPharus
berdasarkan kompetensiyang
dimitiki terkait
dengan
pelaksanaan pengawasanurusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerahsesuai
fungsi dan
kewenangannyaserta
sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang
dilaksanakan oleh APIP
sebagaimanadimaksud
padaayat (1) dilaksanakan berdasarkan prinsip:
a.
profcsional;(1)
(21
PRE S IO EN
REPUBLIK INDONESIA
-18-b.
independen;c.
objcktif;d.
tidak tumpangtindih
antar-APIP; dane.
berorientasi pada perbaikan dan peringatan dini.(3)
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yangdilaksanakan oleh APIP
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan pada tahapan kegiatan:a.
penJrusunan
dokumen
perencanaan
dan penganggaran daerah;b.
pelaksanaan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;c.
pelaksanaan program strategis nasional di daerah;d.
berakhirnya masa
jabatan
kepala
daerah untuk
mengevaluasi
capaian rencana
pcmbangunan jangka mcnengah daerah; dane.
pengawasandalam rangka tu.iuan tertentu
sesuai dengan ketentuan peraturErn perundang-undangan.Paragraf 3
Pembinaan dan Pengawasan oleh Kepala Daerah Pasal 17
Pembinaan
dan
pengawasankepala daerah
terhadap PerangkatDaerah dilaksanakan
oleh
gubernur untuk
daerah provinsi
dan
bupati/walikota
untuk
daerahkabupaten/kota.
Pembinaan
dan
pcngawasankcpala
daerah
terhadap Perangkat Daerah sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)dibantu
oleh inspektorat daerah.Pembinaan
dan
pengawasan
sebagaimanadimalsud
pada ayat
(l)
dan ayat
(2)dilaksanakan dalam
bentukaudit,
reviu,
monitoring, evaluasi, pemantauan,
danbimbingan
teknis
serta
bentuk
pembinaan
dan pengawasan lainnya.(l)
(2t
(3)
PRESIDEN
REPUBLIK INOONESIA
-19-(41
Pembinaan
dan
pengawasan
sebagaimana dimaksud padaayat
(l),
ayat (21,dan ayat
(3) ditaksanakan sejaktahap
perencanaan,
penganggaran, pengorganisasian, pelaksanaan, pelaporan,evaluasi,
danpertanggungjawaban penyelenggaraan
Pemcrintahan Daerah.(5)
Pembinaan
dan
pengawasanyang
dilaksanakan
olehinspektorat daerah provinsi
dapat
dibantu
olehinspektorat jenderal
Kementerian
dan/atau
kemcnterian / lembaga terkait.
Pasal 18
(1)
Pcmbinaan
dan
pengawasankepala daerah
terhadap Perangkat Daerah meliputi:a.
pelaksanaanurusan
pcmerintahan
yang
menjadi kewenangan daerah;b.
pelaksanaan
tugas
pembantuan
yang
bcrsumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah;'
c.
ketaatan terhadap ketentuanperaturan
perundang-undangan termasuk ketaatan
pelaksanaan norma, standar, prosedur, dankriteria
yang ditetapkan olehPemerintah
Pusat
dalam
tahap
perencanaan,penganggaran, pengorganisasian,
pclaksanaan, pclaporan, evaluasi,dan
pertanggungjawaban ataspelaksanaan
urusan
pemerintahan
yang
menjadi kewenangan daerah; dand.
akuntabilitas
pengelolaankeuangan daerah
yang bersumberdari
anggaran pendapatandan
belanja daerah.(21
Pembinaan
dan
pengawasan
sebagaimana dimaksudpada
ayat (1)
dilaksanakan bcrdasarkan
prinsip sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
16 ayat
(2)
dan meliputi:b. c. d. PRES IDEN REPUBLIK INDONESIA
-20-pemeriksaan
dan
penilaian
atas
manfaat
dankeberhasilan
kebijakan serta
pelaksanaan program dan kegiatan;pemeriksaan secara berkala
atau
sewaktu-waktu maupun pemeriksaan terpadu;reviu
terhadap dokumen
atau
laporan
secara bcrkala atau sewaktu-waktu dari Perangkat Daerah;pengusutan
atas
kebenaran
laporan
mengenaiadanya
indikasi terjadinya
penyimpangan, korupsi, kolusi, dan nepotisme; danmonitoring
dan
evaluasi terhadap program
dan kegiatan Perangkat Daerah.Pasal 19
Selain
melakukan pembinaan
dan
pengawasansebagaimana
dimaksud
dalam Pasal
17
ayat
(1),bupati/walikota
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap desa.Dalam
melakukan pembinaan
dan
pengawasan sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1), bupati/walikota
dibantu oleh camat
atau
sebutan
lain
dan
inspektorat kabupaten/kota.Pembinaan
dan
pcngawasanoleh camat
atau
sebutanlain
sebagaimana dimaksudpada
ayat (21dilaksanalan
sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
dan
hasil
pembinaan
dan
pengawasanterscbut disampaikan kepada
bupati/walikota.
Berdasarkan
hasil
pembinaan
dan
pengawasan sebagaimanadimaksud pada
ayat
(3), bupati/walikota
menugaskan
PerangkatDaerah
terkait
melaksanakantindak
lanjut
hasil
pembinaan
dan
pengawasan scrtauntuk
selanjutnya
dilakukan
pcmantauan
olehinspcktorat kabupatcn/ kota.
(1)
(2)
(3)
(4)
(s)
(6)
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-21
-Pembinaan
dan
pengawasan
oleh
inspcktoratkabupaten/kota
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(2)dilaksanakan
untuk
menjagaakuntabilitas
pcngclolaan keuangan desa.Pembinaan
dan
pengawasanyang dilaksanakan untuk
mcnjaga akuntabilitas
pengelolaan
kcuangan
dcsa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi:a.
laporan pertanggungiawaban pengelolaan kcuangan desa;b.
cfisicnsi dan efcktivitas pcngclolaan kcuangan desa; danc.
pelaksanaerntugas
lain
scsuai dengan
ketcntuan peraturan perundang-undangan.(7)
Inspektorat
kabupaten/kota
dalam
melakukanpembinaan
dan
pcngawasan
sebagaimana dimaksudpada ayat
(a)dan
ayat
(5)harus
berkoordinasi dengancamat
atau
sebutan
lain
dan hasil
pcmbinaan
danpcngawasan
tcrsebut
disampaikan
kcpada
bupati/
walikota.
Paragral 4
Pengawasan oleh DPRD Pasal 20
(1)
Pcngawasan oleh DPRD bcrsifat kcbijakan.(2)
Pengawasanoleh
DPRD sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) mcliputi:a.
pelaksanaan
peraturan
daerah
dan
peraturan kcpala dacrah;b.
pelaksanaanperaturan
perundang-undangan yangterkait dengan
pcnyclenggaraan
pcrncrintahan Daerah; danc.
pclaksanaan
tindak
lanjut hasil
pcmcriksaanIaporan keuangan oleh Badan Pcmcriksa Keuangan. (3) Dalam . . .
(3)
PRES IDEN
REPUBLIK INDONESIA
-22-Dalam
melaksanakan pengawasan
sebagaimanadimaksud pada ayat (2)
huruf
c, DPRD mempunyai hak:a.
mendapatkan
laporan
hasil
pemcriksaan
Badan Pemeriksa Keuangan;b.
melakukan pembahasan
terhadap laporan
hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan;c.
mcminta klarifikasi
atas
tcmuan
laporan
hasil pemeriksaankepada Badan
Pemeriksa Keuangan; dand.
meminta kepada Badan Pemeriksa Keuanganuntuk
melakukan pemeriksaan
lanjutan
sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pembahasan
dan
klarifikasi
terhadap laporan
hasil pemeriksaanBadan
Pemeriksa Keuangan sebagaimanadimaksud
pada
ayat (3)
hanya dilakukan
tcrhadaplaporan
keuangan Pemerintah
Dacrah yang
tidak
mcmpcroleh opini wajar tanpa pengecualian.
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenaitata
cara
pengawasanoleh
DPRD dilaksanakan
sesuai dengan
kctentuanperaturan
perundang-undangan
yang
mengatur mcngcnai tata tertib DPRD.Paragraf 5
Pengawasan oleh Masyarakat Pasal 21
Pengawasan
oleh
masyarakat mcrupakan
salah
satubentuk
partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan Pcmcrintahan Daerah.Pengawasan
oleh
masyarakat
sebagaimana dimaksudpada ayat
(l)
dapat
dilakukan
secara
perorangan,perwakilan kelompok
pengguna pelayanan, perwakilankelompok pemerhati,
atau
perwakilan
badan
hukum
yang
mempunyai kepedulianterhadap
penyelenggaraanPcmcrintahan Daerah. (4) (s) (1) l2t Pasal22
m
PRE S ID EN
REPUBLIK INDONESIA
-23-PasaL22
(l)
Masyarakat
dapat
menyampaikan
laporan
atau pengaduan atas dugaan penyimpanganyang
dilakukan oleh kepala daerah,wakil
kepala dacrah, anggota DPRD,dan/atau
aparatur
sipil
negaradi
instansi
daerah danperangkat
desa kepada APIPdan/atau
aparat
penegakhukum.
(2)
Laporan
atau
pengaduan
dugaan
penyimpangan scbagaimanadimaksud pada
ayat
(1) diajukan
secaratertulis
yang memuat paling sedikit:a.
nama dan alamat pihak yang melaporkan;b.
nama,
jabatan,
dan
alamat
lengkap
pihak
yang dilaporkan;c.
pcrbuatan
yang
diduga
melanggar
kctentuan peraturan perundang-undangan; dand.
keterangan yang memuatfakta,
data, atau petunjuk terjadinya pelanggaran.Bagian Kelima
Pclaporan Hasil Pembinaan dan Pengawasan Pasal 23
(1)
Hasil
pengawasanoleh
APIPdituangkan dalam
bentuklaporan
hasil
pengawasandan
disampaikan
kepadapimpinan
instansi
masing-masing
sesuai
denganketentuan peraturan pcrundang-undangan.
(21
Laporanhasil
pengawasan sebagaimana dimaksud padaayat
(l)
bersifat rahasia,
tidak
bolch dibuka
kepadapublik,
dantidak
bolehdiberikan
kepadapublik
kecualiditentukan
lain
sesuai
dcngan ketentuan
peraturan pcrundang-undangan.(1) (2t P RE S IDEN REPUBLIK INDONESIA
-24-Pasal 24Bupati/walikota
menyampaikan laporan hasil pembinaan dan pengawasan terhadap Perangkat Daerah kabupaten/kota dan
pembinaan
dan
pengawasanterhadap
desaserta 'pembinaan
dan
pengawasanlain
yang
terkait
dcngan
penyelenggaraanPemcrintahan Daerah
sesuaidengan ketentuan peraturan
perundang-undangan kepada gubernur sebagaiwakil
Pemerintah Pusat.Gubernur
menyampaikanlaporan hasil
pcmbinaan danpengawasan
terhadap Pcrangkat Daerah provinsi
danPembinaan
dan
Pengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan Daerah kabupatcn/
kota
serta pembinaandan
pengawasan
lain yang tcrkait
dengan penyelenggaraan PemerintahanDaerah sesuai
dcnganketentuan
pcraturan
perundang-undangan
kepada Menteri.(3)
Mcnteri
teknis/kepala
lembaga pemerintahnonkementcrian menyampaikan laporan hasil Pembinaan
dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerahsesuai
dengan
kewenangan masing-masing
kepada Presiden melalui Menteri.Menteri
menyampaikanlaporan
hasil
Pembinaan danPengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Daerah sesuai dengan kewenangannya kepada Presidcn.Selain
menyampaikanlaporan
sebagaimana dimaksudpada
ayat
(41, Menteri
menJrusun
ikhtisar
hasilPembinaan
dan
Pengawasan
Penyeleng3araanPemerintahan
Daerah secara nasional
berdasarkanlaporan
5sfagaimana dimaksud
dalam
pasal
23
danlaporan
sebagaimanadimalsud
pada
ayat
(l)
sampai dcngan ayat (41.(4)
(s)
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-25-(6)
Dalam
menyusun
ikhtisar
hasil
Pembinaan
danPengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Daerah,Menteri
melibatkan
menteri
teknis/kepala
lembaga pemerintah nonkementerianterkait
dan kepala daerah.(71
Menteri
menyampaikanikhtisar
hasil
Pembinaan danPengawasan
PenyelenggaraanPemerintahan
Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada Presiden.Bagian Keenam
Tindak
Lanjut
Hasil Pembinaan dan Pengawasan Pasal 25(1)
APIP
wajib
melakukan
pemeriksaan
atas
dugaanpenyimpangan
yang
dilaporkan
atau
diadukan
oleh masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.(21
Dalam
melakukan
pemeriksaan
atas
dugaanpenyimpangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) APIP
melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum.
(3)
Aparat
penegakhukum
melakukan pemcriksaan
ataslaporan
atau
pengaduan
yang
disampaikan
olehmasyarakat
sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
22scsuai
tata
cara
penangananlaporan
atau
pengaduanberdasarkan
kcterituan pcraturan
perundang-undangan setelah terlcbih dahulu berkoordinasi dengan APIP.(4)
Pemeriksaanoleh
APIP
dan
aparat
penegak hukum
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat (1) dan ayat
(3)dilakukan
setelahterpenuhi
semuaunsur
laporan ataupengaduan
sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
22 ayat (21.(5)
APIPdan
aparat penegakhukum melakukan
koordinasidalam
pcnanganan
laporan
atau
pengaduan
setelahtcrlcbih dahulu
melakukan pengumpulandan
verifrkasi data awal.PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-26-(6)
Koordinasi
sebagaimana
dimaksud pada
ayat
(21, ayat (3), dan ayat (5) dilakukan dalam bentuk:a.
pemberianinformasi;b.
verifikasi;c.
pengumpulan data dan keterangan;d.
pemaparanhasil
pemeriks€ran penanganan laporan atau pengaduan masyarakat dimaksud;dan/atau
e.
bentuk
koordinasi
lain
sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.(71
Koordinasi
antara
APIP
dan
aparat
pcncgak hukum
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(21,
ayaL(3),
danayat (5)
dilaksanakan
sesuai
dengan
fungsi
dankewenangan masing-masing antara:
a.
inspektorat
jenderal
Kementerian,
inspektoratjenderal
kementerian
terkait,
unit
pengawasanlembaga pemerintah nonkementerian,
inspektorat provinsi,dan/atau
inspektoratkabupatcn/kota;
danb.
kcpolisiandan/atau
kejaksaan.(8)
Hasil koordinasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(6)dituangkan dalam berita acara.
(9)
Jika
berdasarkan
hasil
koordinasi
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(71
ditemukan
bukti
adanyapenyimpangan
yang bersifat administratif,
proses lebihlanjut
diserahkan kepada APIP
untuk
ditindaklanjuti
sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah
ini
dan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
yang mengatur mengenai administrasi pemerintahan.(10)
Jika
berdasarkan
hasil
koordinasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(7) ditemukan
bukti
permulaan adanya penyimpangan yang bersifat pidana, proses lebihlanjut
diserahkan kepada aparat penegakhukum untuk
ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.PRESIDEN
REPUBLIK INOONESIA
-27-Pasal 26
Bentuk dan hasil koordinasi
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal25
bersifat rahasia,tidak
bolehdibuka
kepada publik,dan tidak
bolehdiberikan
kepadapublik
kecuali
ditentukanlain
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal2T
(l)
Kepala
daerah,
wakil
kepala dacrah,
dan
kepalaPerangkat Daerah
wajib
melaksanakan
tindak
lanjut
hasil pembinaan dan pengawasan.
(21
Untuk
membantu kepala daerah dalam
melaksanakantindak
lanjut
hasil
pembinaandan
pengawasan, wakilkepala
daerah mengoordinasikan pelaksanaan tindak
lanjut
hasil
pembinaandan
pengawasan sebagaimanadimaksud pada ayat (1).
(3)
Dalam
mengoordinasikan pelaksanaan
tindak
lanjut
hasil
pembinaan
dan
pcngawasan
sebagaimanadimaksud pada ayat (1)
dan
ayat (21,wakil
kepala daerahdibantu oleh inspektorat.
(41
Tindaklanjut
sebagaimana dimaksud pada ayat(1),
ayat (2), dan ayat (3),untuk
hasil pembinaan dan pcngawasanyang
terkait
dengantuntutan
pcrbendaharaandan/atau
tuntutan
ganti
rugi
wajib dilakukan
proses tuntutan
perbcndaharaan dan/
atau tuntutan ganti
rugi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(5)
Tindak
lanjut
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(l),
ayat
(2),
dan
ayat
(3),
untuk hasil
pembinaan
danpengawasan
yang
tidak
terkait
dcngan
tuntutan
perbcndaharaan
dan/atau tuntutan
ganti
rugi
dilaksanakan
paling lama
60
(enampuluh)
hari
kerja setelah hasil pembinaan dan pengawasan diterima.(6)
Selama masatindak lanjut
sebagaimana dimaksud padaayat
(4)dan ayat
(5),hasil
pembinaandan
pengawasantidak dapat
dipidanakankecuali ditentukan
lain
sesuai dengan ketentuan pcraturan perundang-undangan.(1) (21 PRES IDEN REPUBLIK INDONESIA
-28-Pasal 28APIP
wajib
memantau
dan
melakukan
pemutakhirandata tindak
lanjut
hasil
Pembinaandan
Pengawasan Penyclenggaraan Pemerintahan Daerah.Pelaksanaan pemutakhiran
data tindak lanjut
hasilPembinaan
dan
Pengawasan
PenyclcnggaraanPemerintahan
Daerah
sebagaimana
dimaksud
padaayat
(l)
dilaksanakanpaling sedikit
2
(dua)kali
dalam 1 (satu) tahun.Hasil pemutakhiran
data
scbagaimanadimaksud
pada ayat (1)dan ayat (2) secara nasional dikoordinasikan oleh Mentcri.Bagian Ketujuh Evaluasi pasal 29
(l)
Mentcri, menteri
teknis/kepala
lembaga
pemcrintah nonkementerianterkait, dan kcpala dacrah
mclakukanevaluasi secara
berkala
terhadap
pelaksanaanPembinaan
dan
Pengawasan
Penyeleng;araan Pemerintahan Daerah.(21 Evaluasi
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(l)
dilaksanakan
scsuai dengan kctentuan
peraturan pcrundang-undangan.BAB V
PENGHARGAAN DAN FASILITASI KHUSUS Bag'an Kesatu
Umum Pasal 30
Selain
bentuk
pembinaan scbagaimana
dimaksud
dalam Pasal3
ayat (8),
pembinaanjuga
dapat bcrupa
pemberian penghargaan dan fasilitasi khusus.(3)
(1) (2t (3) (4) PRESIOEN REPUBLIK INDONESIA
-29-Bagian Kedua Penghargaan Pasal 31Presiden memberikan penghargaan
kepada
Pemerintah Daerah yang mencapai peringkatkinerja
tertinggi secara nasional dalam penyelenggaraan Pemcrintahan Daerah.Penghargaan
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)dibcrikan
berdasarkanhasil
evaluasi terhadap
indeksdan
peringkat
kinerja
penyclenggaraan Pemcrintahan Daerah.Indeks
dan
peringkat
kinerja
sebagaimana dimaksudpada ayat (2) disusun setiap
tahun
oleh Menteri.Pcmberian pcnghargaan
kepada
Pemerintah
Daerahdilaksanakan
scsuai dengan ketentuan
Peraturan pcrundang-undangan.Bagian Ketiga Fasilitasi Khusus
Pasal 32
Jika hasil
evaluasi
pcnyelcnggaraan
PemerintahanDaerah mcmbuktikan daerah berkinerja rendah:
a.
Menteri
dan
menteri
teknis/kepala
lembagapemerintah nonkementerian
sesuai
dengan kewenangan masing-masingmelakukan
pembinaansecara
berkoordinasi
terhadap
pcnyelenggaraanurusan
pemerintahan
tertentu
yang
menjadi kewenangan daerah provinsi; danb.
gubernur
sebagai
wakil
Pcmerintah
Pusatmelakukan pembinaan
tcrhadap
pcnyelenggaraanurusan
pemerintahan
tertentu
yang
menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota.(1)
PRESIOEN
REPUBLIK INDONESIA
-30-(2)
Jika
pembinaan sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)telah
dilakukan
dan
daerah
tidak
menunjukkanperbaikan
kinerja
serta
penyelenggaraan
urusanpcmcrintahan tcrtcntu
yangtelah dibina
tersebut tidal<bcrpotcnsi merugikan kepentingan
umum
secara meluasatau tidak
berpotensi
merugikan
sebagian
besarmasyarakat di daerah yang bersangkutan:
a.
Menteri
melakukan
fasilitasi khusus
terhadap penyelenggaraanPemerintahan
Daerah
provinsi, setelah berkoordinasi dengan menteri teknis/kepalalembaga pcmcrintah nonkemcnterian terkait; atau
b.
gubernur
sebagai
wakil
Pemerintah
Pusatmelakukan
fasilitasikhusus
terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/ kota, setelah meminta pertimbangan Menteri.(3)
Fasilitasi
khusus
sebagaimanadimaksud pada ayal
(21dilakukan
untuk
pcrbaikan
atau
pcnyempurnaan pcnyelenggaraan Pemcrintahan Daerah, berupa:a.
ketcrlibatan secara langsung dalam perumusan dan pcngarahan pelaksanaan kebijakan;b.
advokasi
dan
pengkajian
urusEln
pemerintahan tertentu yang menjadi kewenangan daerah;c. analisis kemungkinan dampak
urusanpemerintahan
tertentu yang
menjadi
kcwcnangan daerah;d.
pilihan
tindakan
pengurangan
risiko
urusanpemerintahan
tertentu yang
menjadi
kewenangan daerah;e.
alokasi
aparatur
sipil
negarayang
tersediauntuk
melaksanakanurusan
pemerintahantertentu
yang menjadi kewenangan daerah; danf.
bcntuk
fasilitasi
khusus lainnya
sesuai
dengankctentuan peraturan perundang-undangan.
(1)
PRESIDEN
REPUELI( INOONESIA
-31
-Pasal 33Dalam
hal
daerah
yang
sudah
dibina
dan
dilakukanfasilitasi khusus
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32tetap
tidak
menunjukkan perbaikan
kinerja
dan berpotensi merugikan kepentinganumum
sccara meluasatau berpotensi merugikan sebagian besar masyarakat di
daerah
yang
bersangkutan,
Mentcri
melakukanpengambilalihan pelaksanaan
urusan
pcmcrintahantertentu
yang menjadi kewcnangan daerah provinsi dankabupaten/kota,
setelahberkoordinasi
dengan menteriteknis/kepala lembaga pemerintah
nonkementeriantcrkait.
Pelaksanaan
urusan
pemerintahantcrtentu
yang diambilalih
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)
dibiayaianggaran
pendapatan
dan
belanja dacrah
yang bersangkutan.Pclaksanaan urusan pemerintahan
tertcntu
yang diambilalih
sebagaimana dimaksud pada ayat(l)
meliputi:a.
pengkajian
secara
cepat
dan
tepat
tcrhadap kewenangan daerah yang diambil alih;b.
pcmenuhan
kebutuhan
dasar
masyarakat
yang terkena dampak;c.
pemenuhan dengan segera tcrhadap prasarana dan sarana;d.
pemulihan dengan segera pelayanan
dan/atau
pcnyelenggaraan
urusan
pada
masyarakat
yang terkcna dampak; danc. bcntuk
pelaksanaan
lainnya
sesuai
dengankctcntuan peraturan perundang-undangan. (2t
(s)
(1)
PRESIOEN
REPUBLIK INOONESIA
-32-Pasal 34
Mentcri dan
menteriteknis/kepala
lembaga pemerintahnonkementerian
terkait
melakukan evaluasi
secaraberkala terhadap kemampuan Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan
urusan
pemerintahan
tertentu
yang diambil alih.Evaluasi
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.Hasil
evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat(l)
dan ayat (2\disampaikan oleh Menteri kepada Presiden.Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada
ayat
(3), dalam
hal
Presidenmenetapkan
PemerintahDaerah dinyatakan
mampu
melaksanakan
urusanpemerintahan
tertentu
yang
diambil
alih,
Mentcri menyerahkankembali
pelaksanaan
urusan pemcrintahan tertentu kepada Pemerintah Daerah.(5)
Berdasarkanhasil
evaluasi sebagaimana dimaksud padaayat
(3), dalam
hal
Presidenmenetapkan
Pemerintah Dacrah dinyatakan belum mampu melaksanakan urusanpemerintahan tertentu yang
diambil
alih,
Menteri
danmenteri
teknis/kepalalembaga
pemerintahnonkementerian
terkait tetap
melaksanakan
urusan pemerintahantertentu
yangdiambil alih
sampai denganPemerintah Daerah dinyatakan mampu
melaksanakan urusan pemcrintahan tertentu yang diambil alih.Pasal 35
(1)
Ketentuan
lebih
Ianjut
mengenai
tata
cara
fasilitasikhusus
dan tata cara
pengambilalihan
pelaksanaan urusan pemerintahan tertentu yang menjadi kewenangandaerah provinsi
dan
kabupaten /kota diatur
dalam Peraturan Menteri.(2t
(3)
(4)
(2t
PRESIOEN
REPUBLIK INOONESIA
-33-Penyusunan Peraturan
Menteri
sebagaimana dimaksudpada ayat
(l)
harus melibatkan menteri
teknis/ kepala lembaga pemerintah nonkementerian terkait.BAB VI
SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu
Umum Pasal 36
Kepala daerah,
wakil
kepala daerah, anggota DPRD, dan daerah yang melakukan pelanggaranadministratif
dalam penyelenggaraan PemerintahanDaerah
dijatuhi
sanksi administratif.Pelanggaran
administratif
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)terdiri
atas:a.
kepala daerah dan/atau wakil
kepala daerahtidak
melaksanakan program strategis nasional;
b.
kepala
daerah
tidak
menyampaikan
laporanpenyelenggaraan
Pemerintahan
Daerah
danringkasan laporan
penyelenggaraan PemerintahanDaerah
dalam
waktu
I
(satu)
kali
dalam
I
(satu)tahun
paling lambat
3
(tiga)bulan
setelah tahunanggaran berakhir kepada:
1.
Presiden
melalui
Menteri,
untuk
daerah provinsi; atau2.
Mcnteri
melalui
gubernur
sebagai
wakilPemerintah
Pusat, untuk
daerahkabupaten/kota.
c.
kcpala
daerah
tidak
menyampaikan
laporanketerangan
pertanggungiawaban
kcpada
DPRDdalam
waktu
I
(satu)
kali
dalam
I
(satu)
tahun paling lambat3
(tiga)bulan
setelahtahun
anggaranberakhir;
(l)
(2t
d.
PRESIOEN
REPUBLIK INDONESIA
-34-kepala daerah
dan/atau
wakil
kepala
daerahmenjadi pengurus
suatu
perusahaan,
baik
milik
swasta maupun
milik
negara/ daerah atau pengurus yayasan bidang apa pun;kepala daerah
dan/atau
wakil
kepala
daerahmelakukan perjalanan ke
luar
negeri tanpa izin dari Menteri;kepala daerah
dan/atau
wakil
kepala
daerahmeninggalkan
tugas
dan
wilayah
kcrja
lebih
dari7
(tujuh)
hari
kerja
berturut-turut
atau
tidak
berturut-turut
dalam
waktu
I
(satu) bulan
tanpaizin
dari
Menteri
untuk
gubernur
dan
wakilgubernur serta
tanpa
izin dari
gubernur untuk
bupati
dan
wakil bupati atau
walikota dan
wal<ilwalikota, kecuali
jika
dilakukan
untuk
kepentingan pengobatan yang bersifat mendesak;kepala daerah
tidak
menyampaikan
pcraturandaerah
dan
peraturan
kepala
daerah
kepadaMenteri/gubernur
sebagaiwakil
Pemerintah Pusat paling lama 7 (tujuh)hari
kerja setelah ditetapkan;kepala daerah
dan
anggota DPRD
serta
daerahmasih memberlakukan peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Menteri
atau
olehgubernur
sebagaiwakil Pemerintah Pusat;
daerah
masih
memberlakukan
peraturan
daerah mengenaipajak daerah
dan/atau
retribusi
daerahyang
dibatalkan oleh Menteri
atau dibatalkan
olehgubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat;
kepala daerah
tidak
menyebarluaskan
peraturandaerah
dan
peraturan kcpala dacrah
yang
telah diundangkan;kcpala daerah dan anggota DPRD
tidak
menetapkanperaturan daerah tentang rcncana
pembangunanjangka
panjang daerahdan
rencana pembangunanjangka menengah daerah; o
h.
J.
l