• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Perawatan Jenazah Di Rumah Sakit Pada Penyakit Menular

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "5. Perawatan Jenazah Di Rumah Sakit Pada Penyakit Menular"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

PERAWATAN JENAZAH DI RUMAH SAKIT

PADA PENDERITA PENYAKIT MENULAR

(2)

INFEKSI (PENYAKIT)

Invasi dan multiplikasi mikroorganisme

dalam jaringan tubuh, yang dapat tidak

tampak secara klinis atau menyebabkan

cedera selular lokal disebabkan oleh :

metabolisme yang kompetitif, toksin,

replikasi intraseluler atau respon antigen –

antibodi.

(3)

Rumah Sakit

Tempat pelayanan pasien (yang memiliki

berbagai macam penyakit antara penyakit

karena infeksi), dengan faktor resiko

(4)

MEKANISME PENULARAN

PENYAKIT

Terjadi dari kontak langsung maupun

tidak langsung dari barang-barang atau

bagian dari tubuh penderita (jenazah)

(5)

JENIS – JENIS PENYAKIT MENULAR

HIV/ AIDS, flu burung (avian influenza)/

SARS, hepatitis, rabies, antrax, TBC dan

sebagainya.

(6)

SEORANG DOKTER (AHLI FORENSIK)

Sangat beresiko tertular penyakit sehingga :

Haruslah berhati – hati dalam menangani

jenazah yang mengidap penyakit menular

(sejak penanganan di kamar perawatan hingga

ke proses penguburan), atau saat korban

(barang bukti) masih TKP maupun saat

dilakukan autopsi dan pemeriksaan di

laboratorium.

(7)

Resiko untuk tertularnya penyakit menular dari

jenazah kepada petugas jenazah (dokter/ dokter

forensik) sangatlah besar sehingga perlu

diketahui :

PROSEDUR DAN PENATALAKSANAAN

PENANGANAN JENAZAH PADA KASUS –

KASUS PENYAKIT MENULAR.

(8)

Kewaspadaan umum (universal

precaution) 1987 oleh Centers for Disease

Control (CDC) di America :

Dibentuk sebagai respon terhadap resiko

penularan HIV pada tenaga kesehatan dari

pasien yang status infeksinya tidak diketahui.

(9)

Dasar

KEWASPADAAN UMUM

meliputi :

Pengelolaan alat kesehatan,

Cuci tangan guna mencegah infeksi silang,

Pemakaian alat pelindung diantaranya sarung

tangan untuk mencegah kontak dengan darah

serta cairan infeksius yang lain,

Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk

mencegah perlukaan,

(10)

Ketentuan penanganan secara umum (pada

jenazah penyakit menular) diantaranya:

•Petugas yang menangani jenazah harus sudah mendapatkan vaksinasi.

•Dokter yang merawat jenazah harus menggolongkan kategori jenazah (memberi label di ibu jari kaki).

•Hindari kontak langsung (tanpa pelindung).

•Luka dan bekas suntikkan harus didesinfektan dahulu. •Semua orifisium (lubang – lubang tubuh) ditutup

dengan kasa absorben dan diplester kedap air. •Badan jenazah harus bersih dan kering.

(11)

PROSEDUR UMUM PENANGANAN

JENAZAH PENYAKIT MENULAR

Yang perlu diperhatikan :

1. Ruang perawatan (TKP).

2. Pengangkutan ke kamar jenazah.

3. Pengelolaan di kamar jenazah.

4. Persiapan pemakaman.

5. Kerahasiaan tentang penyakit sebelumnya

harus dijaga.

6. Keluarga ada yang mendampingi selama

perawatan jenazah.

(12)
(13)

Alat – alat yang dibutuhkan :

1. Sarung tangan karet (latex) sampai siku. 2. Sepatu boot.

3. Gaun pelindung.

4. Kain bersih penutup jenazah. 5. Klem dan gunting.

6. Plester dan kedap air.

7. Kapas, kasa absorben dan pembalut. 8. Kantong jenazah kedap air.

9. Wadah bahan infeksius. 10. Wadah barang berharga. 11. Brankart jenazah.

12. Waslaf, handuk, waskom berisi air, desinfektan, dan sabun.

(14)
(15)

Penanganan jenazah penyakit menular

dibedakan atas :

1. Kategori 1 : Jenazah penyakit menular

selain kategori 2 dan 3.

2. Kategori 2 : Jenazah penyakit menular

seperti HIV (AIDS), Hepatitis, SARS

(Avian Influenza).

3. Kategori 3 : Jenazah penyakit menular

seperti Antrax, Rabies, TBC, dll.

(16)

•Khusus kategori 2 dan 3 :

Kantong plastik mayat harus yg tebal dan

beresleting/ tertutup ketat.

Sebaiknya/ harus didesinfektan kemudian

ditampung/ disimpan pada kantong khusus

(lenin), yang sebaiknya direndam dahulu dengan

larutan desinfektan/ autoclave selama 30 menit.

(17)

1.Penatalaksanaan Jenazah

Kasus HIV/AIDS

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) :

kumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena

rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi

HIV (Human Immunodeficiency Virus ).

Terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap

infeksi oportunistik

(18)

HIV msh hidup setelah penderita meninggal :

Cao dkk :

Hingga 3 minggu post mortem, dalam

darah pada suhu ruangan.

Bankowski :

Hingga 21 jam (sekitar 51%) dalam

plasma dan darah.

Penelitian lain :

Hingga 18 jam - 11 hari.

Hingga 14 hari di organ limpa.

Hingga 16 hari dalam darah yang diambil dari

mesin pendingin (2°C).

(19)

Penemuan terkini mengatakan :

Virus penderita HIV/AIDS

sangat infeksius

pada saat jenazah < 48 jam post mortem.

Virus HIV hidup (non aktif) dapat juga

ditemukan > 48 jam pada :

Tulang, sumsum tulang, limpa, dan kelenjar limfe

dari jenazah pasien dengan AIDS pada autopsi

(20)

Cara penularan HIV AIDS

HIV dan virus – virus sejenisnya (Hepatitis, Flu

burung/SARS) umumnya ditularkan melalui kontak

langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang

mengandung HIV :

Darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.

Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim

(vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum

suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan – cairan tubuh tersebut.

(21)

Gejala – gejala utama AIDS.

Memiliki gejala infeksi sistemik : demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar,

kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Terdapat beberapa gejala yang biasanya terjadinya pada penderita HIV AIDS (gejala minor dan gejala mayor).

(22)

Gejala minor

•Batuk menetap lebih dari 1 bulan.

•Dermatitis generalisata. •Adanya herpes zoster

multisegmental dan herpes zoster berulang.

•Kandidiasis orofaringeal. •Herpes simpleks kronis progresif.

•Limfadenopati generalisata. •Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

•Retinitis virus sitomegalo.

Gejala mayor

•Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan.

•Diare kronis yang

berlangsung lebih dari 1 bulan.

•Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan.

•Penurunan kesadaran

dan gangguan neurologis. •Demensia/ HIV

(23)

Prinsip perawatan jenazah HIV dan AIDS

Selalu menerapkan Kewaspadaan Umum

(memperlakukan setiap cairan tubuh, darah dan

jaringan tubuh manusia sebagai bahan yang

(24)

Cara memandikan Jenazah HIV/AIDS

Petugas wajib mengenakan universal precaution (UP) (standar perlengkapan kesehatan) :

penutup kepala, masker, gogle (penutup hidung), sarung tangan, pakaian steril, dan sepatu bot.

Pastikan air bekas memandikan jenazah, langsung mengalir ke got atau saluran pembuangan, jangan sampai tergenang.

Setelah itu, sesegera mungkin jenazah dikafani dan dimakamkan.

(25)

2.Penatalaksanaan Jenazah Kasus

Flu Burung/ SARS (Sindrome Acute

Respiratory Sisteme)

Flu burung : penyakit (virus) yang ditularkan oleh unggas (burung) dapat mengakibatkan SARS.

Permukaan virus, terdiri atas molekul HA dan NA yang berfungsi sebagai alat menyerang sel (manusia).

Bagian dalam dari virus berfungsi menyediakan kode

genetik berupa matriks (M), nukleoprotein (NP, NS), dan polimerase (PA, PB1, PB2) yang akan dipindahkan saat menginfeksi sel tubuh.

(26)

Resiko penularan :

•Penderita (suspect) diketahui dalam 10 hari

terakhir sebelum sakit, mempunyai riwayat kontak erat dengan seseorang yang telah didiagnosis

sebagai penderita SARS.

•Penderita (suspect) dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, melakukan perjalanan ke tempat terjangkit

SARS.

•Penderita (suspect) yang berasal dari daerah terjangkit (endemik).

(27)

Gejala klinis :

•Demam. •Sakit tenggorokan. •Batuk. •Ber – ingus. •Nyeri otot. •Sakit kepala. •Lemas.

•Dalam waktu singkat penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru – paru

(pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian.

(28)

Cara penularan penyakit:

Kontak langsung dengan penderita flu burung baik karena berbicara, terkena percikan batuk atau bersin (“Droplet Infection”).

(29)

Pada jenazah flu burung dapat ditemukan:

•Pada pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa respiratory distress syndrome yang tidak jelas penyebabnya.

•Pada pemeriksaan PCR dapat ditemukan serologi PCR influensa (H5) positif.

Penatalaksanaan flu burung pada sarana

pelayanan kesehatan dikeluarkan oleh direktorat jendral Bina Pelayanan Medik Departemen

(30)

Di dalam kamar jenazah perlakuan khusus

jenazah meliputi:

•Seluruh petugas telah mempersiapkan universal

percaution.

•Tutup semua lubang pada tubuh jenazah dengan kapas yang telah dibasahi dengan Natrium Hipoklorida 1:10. •Jenazah ditutup dengan kain kafan/ bahan dari plastik (tidak dapat tembus air).

•Jenazah tidak boleh dibalsam atau disuntik pengawet. •Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi. •Jenazah sebaiknya hanya diantar/ diangkut oleh mobil khusus jenazah.

•Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 jam di dalam kamar pemulasaraan jenazah.

(31)

3.Penatalaksanaan Jenazah Kasus

Rabies

Rabies (Lyssa, hidrophobia, rege, toilwer) :

Penyakit infeksi akut susunan saraf pusat yang dapat menyerang semua jenis binatang berdarah panas dan manusia.

Virus rabies, dilapisi oleh envelope yang mengandung lipid yang dapat larut dengan eter, sehingga virus rabies menjadi mudah sekali diinaktivasi dengan lipid solvent, misalnya air sabun 20% atau eter.

(32)

Hewan anjing kucing dan termasuk monyet

sebagai reservoar utama, akibat gigitan

mengandung virus dalam saliva nya.

Virus rabies tidak dapat menembus kulit utuh,

akan tetapi jilatan hewan yang terinfeksi dapat

berbahaya jika kulit terluka atau tidak utuh.

Virus memasuki badan melalui selaput mukosa

yang utuh, seperti selaput konjunctiva mata,

(33)

Penatalaksanaan

• Tutup semua lubang dengan plester kedap air dan sumbat semua lubang tubuh jenazah dengan kapas yang telah dibasahi dengan Na. hipoklorida 1:10.

• Segera memasukkan jenazah kedalam kantong mayat yang kedap air, lalu ditutup resletingnya dan dibawa ke kamar jenazah.

• Petugas kamar jenazah dalam melaksanakan tugas

wajib memakai pelindung diri sesuai dengan protokal

standar precaution.

• Jenazah dimandikan dengan menggunakan sabun dan larutan Natrium hiploklorida (bahan pengelantang), atau pemutih (bayclin) 1:10.

(34)

• Barang – barang yang terkontaminasi cairan tubuh jenazah, misalnya jarum suntik, mata pisau (tanpa

perlu disarungkan kembali), dibuang ke dalam wadah dari kaleng.

• Sedangkan benda – benda lain seperti (kain, seprei, sarung bantal, dll) dilakukan autoklaf pada suhu

121 derajat celcius selama 30 menit.

• Peralatan bedah yang bukan sekali pakai dapat di Autoklaf atau direndam dalam larutan Na.

hiploklorida 1:10, betadine atau alkohol 70% selama sekurang – kurangnya 30 menit.

(35)

4. Penatalaksanaan Jenazah Kasus

Tuberculosis

Tuberculosis (TBC) :

Suatu penyakit menular yang terjadi di paru – paru. Penyebabnya : basil gram positif/ tahan asam.

(dr. Robert Koch, 1882).

Pada penderita AIDS dengan daya tahan tubuh yang lemah, maka resiko untuk tertular basil TBC sangat tinggi.

(36)

Penularan TBC

Melalui saluran pernapasan dengan menghisap atau menelan tetes – tetes ludah/ dahak (droplet infection) yang mengandung basil dan dibatukkan oleh

penderita “TBC Terbuka”, atau adanya kontak antara tetes – tetes ludah/ dahak tersebut dan luka di kulit.

Oleh karena penyakit TBC merupakan penyakit

menular, tentunya penatalaksanaan perawatan jenazah penderita TBC juga haruslah mengikuti standar

(37)
(38)

5. Penatalaksanaan Jenazah Kasus

Antrax (Woolsorter Disease, Ragpicker

Disease)

Merupakan penyakit utama herbivora yang endemis di wilayah pertanian negara Amerika Tengah dan

Selatan, bagian Selatan dan Timur Asia serta Afrika. Penyebab penyakit anthrax yaitu kuman Bacillus

Anthracis yang merupakan bakteri gram (+),

berkapsul, membentuk spora, berbentuk batang yang tidak bergerak.

(39)

Cara penularan.

Melalui kontak dengan jaringan binatang (sapi, biri-biri, kambing, kuda, babi, dll) yang mati karena sakit atau

Melalui lalat yang hinggap pada binatang – binatang yang mati karena anthrax, atau

Karena kontak dengan bulu, wol, kulit atau produk yang dibuat dari binatang – binatang ini seperti kendang, sikat atau karpet yang sudah terkontaminasi atau

Karena kontak dengan tanah yang terkontaminasi oleh hewan tsb.

(40)

Penyebab kematian tiba – tiba pada penyakit ini

disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah

kapiler oleh toksin kuman, hipoksia jaringan,

anemia dan kerusakan organ vital tubuh.

Lesi berupa gambaran pruritus papul, ulkus

dikelilingi oleh vesikula dan edema dengan

pusat nekrotik berwarna scar hitam (yang

menyerupai gigitan serangga) disertai, edema

rongga mulut, ulkus esophagus, limfadenopati

hemoragik regional, intestinal hemoragik.

(41)
(42)

Autopsi Pada Jenazah Penyakit

Menular

Standar Kewaspadaan Universal/ Umum harus

selalu diberlakukan tidak hanya pada saat autopsi klinik, termasuk autopsi forensik :

Mengingat beberapa kondisi atau situasi seperti pada kasus kematian karena penyalahgunaan obat (NAPZA) atau korban dari homoseksual yang dapat

menimbulkan resiko menularkan HIV dan Hepatitis pada saat proses autopsi.

(43)

Hal terbaik yang dilakukan sebelum autopsi, adalah melakukan test terhadap suspect penderita penyakit menular (seperti : HIV dan hepatitis) dengan

mengambil darah korban pada bagian femoral. Sehingga diketahui apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara autopsinya atau bahkan

kemungkinan untuk menolak melakukan autopsi, jika kerugian dirasa lebih banyak ketika melakukan autopsi.

(44)

Selain itu, pengawetan jenazah dalam rangka

pelayanan kepada masyarakat juga merupakan

kompetensi spesialis forensik dengan alasan

bahwa :

27

•Pengawetan jenazah dalam rangka pemulasaraan merupakan kompetensi spesialis forensik (ada dalam kurikulum PPDS-I Kedokteran forensik)

•Sebelum pengawetan, pengawet (embalmer) harus

memeriksa mayat dan meyakinkan kematiannya adalah kematian wajar.

•Pengawetan jenazah mempunyai aspek hukum yang

kental karena terkait dengan resiko penyebaran penyakit ke lingkungan (sanitasi), hukum penerbangan (syarat

pengangkutan jenazah antar kota / negara) dan hukum pidana (penghilangan barang bukti).

(45)

DON’T TRY THIS AT HOME...

TERIMA KASIH ...

Referensi

Dokumen terkait