PEMANFAATAN RUANG TERBUKA KOTA DI KECAMATAN CRISTO REI KABUPATEN DILI
BERDASARKAN SUDUT PANDANG BUDAYA TIMOR-LESTE
MASUKAN PADA SIDANG LALU
Tanggal 22 Juni 2012
Pak Ngurah, Bu Rima & Pak Ariastita
1.) Perbaiki format
dan tata tulis (Seluruh
Dokumen)
2.) Permasalahan
Tipologi Apakah di
Perlukan untuk
menjawab
pemanfaatan ruang
terbuka demikian juga
Metode yang dipakai
(Skala Likert)
3.) Elaborasi
permasalahan, karena
masih banyak
memaparkan data
empiris
4.) Kesimpulan belum
mencerminkan
Permasalahan
Pak Ngurah
1.) Fahami
lagi
teknik-tekni proses
analisis
2.) Analisis
harus jelas
prosesnya
jangan fakta
empiris saja
yang di
deskripsikan
3.) Perbaikan
Total dalam
proses
Analisisnya
Bu Rima
Pak Ariastita
1
2
3
1.)
Identifikasi
variable untuk
setiap sasaran
belum terlihat dan
belum ada Defenisi
operasional.
2.) Alur proses
Analisis di
sintesakan
3.) Perjelas
proses
Analisisnya
(Input-proses-output)
4.) Kesimpulkan dan
saran diperbaiki.
MASUKAN PADA SIDANG LALU
Tanggal 22 Juni 2012
Pak Hru & Pak Haryo
Pak Heru
1.)
Abstract di perbaiki : Alinea,
Hasil & Kata Kunci
2.) Redaksional, tata tulis, format,
tabel dan gambar
3.) Sintesa-Variabel- Kajian Pustaka
belum ada
4.) Metode Analisa: Analisa sasaran 4
belum ada.
5.) Analisa karakteristik belum ada –
gambaran umum
6.) Analisa faktor penyebab dan
aspek berpengaruh – confuse/belum
jelas
7.) Analisa tipologi tidak ada
8.) Analisa konsep belum ada
9.) Analisa sasaran : Terhadap 4
sasaran belum ada.
4
Perbaikan/penajaman
proses Analisis
(Input-Process-Output)
Pak Haryo
5
RANGKUMAN DARI MASUKAN PADA SIDANG
LALU SESUAI DENGAN URUTAN BAB (1-5)
Dari masukan-masukan tersebut di atas dapat di rangkum sebagai berikut:
1.) Abstract di perbaiki : Alinea, Hasil Kata Kunci;
2.) Perbaikan Format, tata tulis,
Redaksional Tabel dan gambar;
3.) Minimized 1 Sasaran Penelitian; 4.)
Identifikasi
variabel untuk setiap sasaran belum terlihat dan belum ada Defenisi Operasional;
5.) Fahami lagi teknik-teknik pada proses analisis;
6.) Dalam analisis tidak hanya
mengelaborasi dan membahas fakta epiris;
7.) Perbaikan total dalam proses
analisisnya (untuk semua sasaran);
8.) Perbaikan Kesimpulan karena belum
mencerminkan permasalahan.
Dari semua rangkuman tersebut di atas terlihat bahwa
”KEKURANGAN”
pada
sidang Tesis yang pertama lebih-lebih pada
Format dan tata tulis serta PROSES
& OUTPUT.
Untuk itu penjelasan berikut lebih di arahkan sesuai dengan
”KEKURANGAN”
yang telah di Rangkum dan di uraikan di atas.
1.) Perbaikan Alinea pada Abstract seperti tersaji dalam laporan Tesis hal. iii-vi.
2.) Perbaikan Format, tata tulis, Redaksional Tabel dan gambar, sudah diperbaiki sesuai dengan
Format Tata tulis yang ada pada buku panduan Tesis, seperti contoh Gambar dan Tabel yang tersaji
pada Laporan Tesis, Hal. 9 untuk Gambar 1.1 dan Hal. 17 untuk Tabel 2.1
Sumber: Buku Pedoman TESIS, 2009: 48-49)
Keterangan: 1.) Judul tabel atau batas gambar bagian atas dimulai 3 spasi dari baris terakhir di
atasnya. 2.) Kalimat tepat di bawah tabel atau judul gambar di mulai 3 spasi dari batas bawah tabel
atau judul gambar dengan tabel atau gambar dengan tabel atau gambar yang bersangkutan di beri
jarak 1.5 spasi (satu ketukan Enter)
3.)
Minimized 1 Sasaran Penelitian, yang pada ujian Tesis lalu berjumlah 4 sasaran, sekarang
menjadi 3 Sasaran saja, dengan menghilangkan satu sasaran yakni: “Menyusun pemanfaatan
tipologi ruang terbuka yang ada di kecamatan Cristo Rei berdasarkan budaya Timor-Leste”
perubahan secara lengkap dapat dilihat pada laporan Tesis Hal. 7.
4.) Identifikasi variabel untuk setiap sasaran belum terlihat dan belum ada defenisi
Operasional. Telah dilakukan direvisi untuk indikator, variabel dan Defenisi operasional sesuai
dengan sasaran yang ada seperti yang tersaji di hal. 84 – 85 dan 89 – 90.
pada tabel 3.1, 3.2 & 3.3
No
Indikator
Variabel
Defenisi Operasional
(1) (2) (3) (4)
1
Lingkungan Fisik Ruang
Terbuka
1. Luasan Ruang
Besaran ruang dengan kapasitas dan daya tampung untuk aktivitas budaya TL
2. Fungsi Ruang
Keguanaan ruang yang berbasiskan pada nilai kosmologi dan budaya TL
3. Pola Ruang
Struktur/karakter ruang yang berbasiskan pada nilai/kepercayaan kosmologi TL
4. Makna Ruang
Makna ruang yang berbasiskan pada nilai/kepecayaan kosmologi TL
5. Perabot Ruang
Elemen-elemen ruang sebagai pendukung aktivitas budaya TL di dalam ruang terbuka
6. Skala Ruang
Dimensi/besar kecilnya ruang untuk menampung setiap/jenis-jenis aktivitas budaya TL
yang dilakukan di dalamnya
7. Orientasi Ruang
Tata letak ruang yang berbasiskan pada nilai/kepercayaan kosmologis TL
Sumber: Hasil sintesa kajian pustaka dan analisa, 2012
No Indikator Variabel Defenisi Operasional
(1) (2) (3) (4)
1 Perubahan sosial
1. Kontinuitas kegitan budaya Keberlanjutan kegiatan-kegiatan ritual-budaya/aktivitas budaya TL
2. Ketidaksesuaian penyediaan ruang Ruang yang tersedia tidak diperuntukan untuk ritual-ritual budaya/aktivitas budaya TL
2 Lingkungan Fisik Ruang Terbuka
1. Luasan Ruang Besaran ruang dengan kapasitas dan daya tampung untuk aktivitas budaya TL 2. Fungsi Ruang Keguanaan ruang yang berbasiskan pada nilai kosmologi dan budaya TL 3. Pola Ruang Struktur/karakter ruang yang berbasiskan pada nilai/kepercayaan kosmologi TL 4. Makna Ruang Makna ruang yang berbasiskan pada nilai/kepecayaan kosmologi TL
5. Perabot Ruang Elemen-elemen ruang sebagai pendukung aktivitas budaya TL di dalam ruang terbuka 6. Skala Ruang Dimensi/besar kecilnya ruang untuk menampung setiap/jenis-jenis aktivitas budaya
TL yang dilakukan di dalamnya
7. Orientasi Ruang Tata letak ruang yang berbasiskan pada nilai/kepercayaan kosmologis TL
3 Perubahan/pergeseran budaya dan pengaruh modernisasi
1. Banyak dari aktivitas budaya yang sudah di tinggalkan
Sudah di tinggalkannya kegiatan-kegiatan ritual budaya/aktivitas budaya TL
2. Terjadinya benturan budaya Perbedaan pandangan dan intrerpretasi masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan ritual adat/aktivitas budaya TL lainnya
3. Minimnya partisipasi masyarakat Minat dan partisipasi masyarakat pada kegiatan-kegiatan ritual budaya/aktivitas budaya TL
4. Adanya pengaruh budaya lain/pengaruh modernisasi
Perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat TL akibat dari pengaruh dari perubahan/pergeseran zaman
4 Manejemen dan Regulasi pemanfaatan Ruang
1. Regulasi Pemanfaatan berbasiskan pada budaya.
Aturan yang digunakan untuk mengikat/mengatur pemanfaatan ruang yang berbasiskan pada budaya TL
2. Regulasi Pengendalian berbasiskan pada budaya.
Aturan yang digunakan mengikat /mengatur pengendalian ruang yang berbasiskan pada budaya TL
Tabel 3.2 Indikator, varibel, dan defenisi operasional untuk faktor-fakktor yang menyebabkan tidak dimanfaatkannya ruang terbuka
yang ada di kecamatan Cristo Rei untuk aktivitas budaya TL
Tabel 3.3 Pengelompokan sasaran, variabel, instrumen, teknik analisis dan responden penelitian
Sumber: Hasil sintesa kajian pustaka dan analisa, 2012
No Sasaran Variabel Instrumen &
Teknik Analisis
Responden
1 Mengidentifikasi menganalisis karakteristik dan
ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL
1.) Luasan Ruang, 2.) Fungsi Ruang, 3.) Pola Ruang, 4.) Makna Ruang , 5.) Perabot Ruang , 6.) Skala Ruang dan 7.) Orientasi Ruang
Deskriptif Kualititatif
1.) Kementrian Pendidikan dan kebudayaan TL; 2.) Juru Kunci dari rumah adat Manlai, Falkelu dan Karktu
Mota Ain sebagai pakar budaya local
2
Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan tidak dimanfaatkannya ruang terbuka yang ada di kecamatan Cristo Rei untuk aktivitas budaya
TL
1.) Kontinuitas kegitan budaya; 2.) Ketidaksesuaian penyediaan ruang .
Delphi
1.) Kementrian Pendidikan dan kebudayaan TL; 2.) Kemetrian Kehakiman Timor- Leste; 3.) Kementrian Infrastruktur Timor-Leste; 4.) Parlemen Nasional Timor- Leste; 5.) Tokoh Lintas Agama; 6.) Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta; 7.) Lembaga Asosiasi dan Profesi; and 8.) Lembaga Swasta/Private Sector
1.) Luasan Ruang, 2.) Fungsi Ruang, 3.) Pola Ruang, 4.) Makna Ruang , 5.) Perabot Ruang , 6.) Skala Ruang dan 7.) Orientasi Ruang
1.) Banyak dari aktivitas budaya yang sudah di tinggalkan; 2.) Terjadinya benturan budaya; 3.) Minimnya partisipasi masyarakat; 4.) Adanya pengaruh budaya lain/pengaruh modernisasi
1.) Regulasi Pemanfaatan berbasiskan pada budaya; 2.) Regulasi Pengendalian berbasiskan pada budaya
3
Merumuskan konsep pemanfaatan ruang terbuka berdasarkan sudut pandang budaya TL .
Faktor-faktor penyebab dari hasil penentuan faktor penyebab tidak dimanfaatkannya ruang terbuka kota di kecamatan Cristo Rei Untuk aktivitas Budaya TL: 1.) Ketidaksesuaian penyediaan ruang ; 2.) ketidaksesuaian existing luasan, pola, makna, perabot, skala dan orientasi ruang terbuka kota untuk aktivitas budaya TL; 3.) Terjadinya benturan budaya; 4.) Minimnya partisipasi masyarakat; 5.) Adanya pengaruh budaya dari luar/modernisasi; 6.) Regulasi pemafaatan ruang terbuka berdasarkan pada budaya; 7.) Regulasi pengendalian ruang terbuka berdasarkan pada budaya.
Triangulasi
1.) Studi literatur /Tijauan teori; 2.) Hasil Analisis Delphi 3.) Studi Empirik tentang pemanfaatan ruang terbuka secara tradisional berbasiskan pada budaya, dan pengaruh budaya di TL
dan regulasi pemanfaatan ruang terbuka.
5.) Fahami lagi teknik-teknik pada proses analisis: Teknik-teknik analisis yang di pakai untuk
analisis beberapa sasaran yang telah di tetapkan telah disesuaikan dengan 3 sasaran yang ada
dan juga memperhatikan input baik dari Pembimbing maupun Penguji selama masa asistensi
pasca sidang Tesis 1. Proses analisis selengkapnya akan di sajikan pada slide-slide dibawah ini.
6.) Dalam analisis tidak hanya mengelaborasi dan membahas fakta epiris: Telah dilakukan
analisis yang menyeluruh sesuai dengan 3 sasaran yang telah ditetapkan di BAB 1.
7.) Perbaikan total dalam proses analisisnya (untuk semua sasaran): Proses analisis telah di
perbaiki dan disesuaikan dengan tahapan-tahapan dari setiap sasaran yang ada, yakni 3
sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya di BAB 1. proses analisis selengkapnya dapat di
lihat pada BAB 4.3 halaman 130-278, berikut adalah penjelasan singkat dari setiap tahapan
analisis tersebut.
1.) Analisis untuk sasaran 1 : Menggunakan Teknik Deskriptif Kualitatif, seperti dijelaskan
pada bagan berikut ini. Atau hasil selengkapnya dapat di lihat juga pada laporan Thesis hal.
131-155 dan pada tabel 4.30 - 4.46
Deskriptif Kualitatif
Melakukan deskripsi atau
melakukan
pembahasan/mendiskusi
kan beberapa variable
yang telah di tetapkan
pada table 3.1.
S
A
S
A
R
A
N
1
Membandingkan karakteristik
existing Ruang Terbuka
dengan beberapa standard,
teori, kondisi empirik
budaya/hasil temuan
Empirik tentang karakteristik
ruang terbuka yang
berbasiskan pada budaya TL
hasil akhir dari karakteristik
ruang terbuka yang
berbasiskan pada budaya TL
yang juga ditetapkan menjadi
beberapa
kategori/tipologi/kelompok.
Hasil Akhir
dari sasaran 1
Diskusi/perbandingan
Variabel dari
sasaran 1
Penjelasan/uraian Dalam bentuk MATRIKS dapat di lihat pada penyajian berikut ini:
Object/existing ruang Terbuka kota titik 1 di
Desa Metiaut.
Variabel
Standard, teori, kondisi empirik budaya/hasil temuan empirik tentang karakteristik ruang
terbuka yang berbasiskan pada budaya
Pembahasan/perbandingan Karakteristik ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL
(1) (2) (3) (4) (5)
1.000 M2 Luasan Ruang
160-250 M2
Luasan ruang yang ada pada existing ruang terbuka titik 1 dan luasan ruang yang berbasiskan pada budaya adanya perbedaan hampir 4-6 kali lipat.
Berpijak pada pembahasan luasan ruang pada kolom 1 dan 3, dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari luasan ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL adalah berkisar antara 160-250 M2
Sports, rekreasi dan pameran
Fungsi Ruang
Untuk aktivitas ritual adat bersifat sakral dan aktivitas-aktivitas budaya TL lainnya yang besifat profan atau eksibisi/dapat dipertontonkan kepada khalayak (umum)
fungsi ruang yang ada pada existing ruang terbuka titik 1 dan fungsi ruang yang berbasiskan pada budaya TL, terdapat perbedaan fungsi yang mencolok dari keduanya.
Berpijak pada pembahasan fungsi ruang pada kolom 1 dan 3 dapat disimpulkan bahwa kakteristik fungsi ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL adalah terbatas pada fungsi atau pelayanan untuk kegiatan-kegiatan budaya yang bersifat sakral dan profan.
Di lingkupi oleh gunung, pohon dan patung Kristus, perabot-perabot ruang seperti: air mancur, toilet, pohon, panggung pertunjukan musik, tempat parkir, gazebo dan pos penjagaan.
Pola Ruang
Di lingkupi oleh bangunan-bangunan rumah adat, seperti: Rumah adat Induk, Dapur, Uma Nain han fatin, perabot-perabot ruang seperti: Hatu Malesaka /altar pemujaan, batu maubisse, kayu pancang, makam raja, visa sidau/rumah adat kecil (miniatur), pagar batu dan pohon keramat. Selain dikelilingi oleh bangunan rumah adat yang merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkunkungan ruang terbuka, terdapat pula rumah-rumah penduduk di sekitar ruang terbuka tersebut
Pola ruang yang ada pada existing ruang terbuka titik 1 dan pola ruang yang berbasiskan pada budaya TL terdapat banyak perbedaan dari elemen-elen ruang yang melingkupi kedua-duanya, tetapi ada juga beberapa persamaan perabot yang terdapat didalam keduanya, seperti: pohon dan sejumlah bangunan, tetapi tidak memiliki makna sakral seperti terdapat pada ruang terbuka yang berbsiskan pada budaya TL
Berdasarkan pada pembahasan fungsi ruang pada kolom 1 dan 3, dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari pola ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL adalah pola ruang yang dilingkupi oleh perabot atau elemen ruang yang memeiliki makna sakral, dan berpijak pada kepercayaan kosmologi.
Tabel 4.30 Proses analisis untuk memperoleh karakteristik ruang terbuka yang bebasiskan pada budaya TL, untuk ruang terbuka titik 1 di Desa Metiaut
Bermakna profane Makna Ruang
Bermakna ganda yakni makna sakral dan profan. Makna sakral yang terkandung dalam kepercayaan pada agama lokal yang berpijak pada kepercayaan kosmologi (Kepercayaan anisme).
Makna ruang yang ada pada existing ruang terbuka titik 1 dan makna ruang yang berbasiskan pada budaya terdapat perbedaan dan kesamaa makna ruang dari keberadaan keduanya persamaannya adalah sama-sama bermakna profan, sedangkan perbedaannya adalah pada ruang terbuka titik 1 tidak terdapat makna sakral yang terkadung di dalam
existing ruang terbuka titik 1.
Berdasarkan pada pembahasan makna ruang pada kolom 1 dan 3, dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari makna ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL adalah mempunyai makna ganda diantaranya: Makna sakral dan makna profan.
Air mancur, toilet, pohon, panggung pertunjukan musik, tempat parkir, gazebo dan pos penjagaan.
Perabot Ruang
Rumah adat Induk, Dapur, Uma
Nain han fatin, perabot-perabot
ruang seperti: Hatu Malesaka /altar pemujaan, batu maubisse, kayu pancang, makam raja, visa
sidau/rumah adat kecil (miniatur), pagar batu dan pohon keramat
Perabot existing ruang terbuka didominasi oleh perabot-perabot non sakral, sedangkan perabot ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya didominasi oleh perabot ruang yang sakral
Berdasarkan pada pembahasan perabot ruang pada kolom 1 dan 3, dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari perabot ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL adalah didominasi oleh perabot-perabot yang bermakna sakral
Kategori skala sedang Skala Ruang
Skala kecil sampai sedang Terdapat perbedaan mencolok antara skala dari kedua ruang, bila dikomparasi dari segi skala ruang, dimana perbedaannya hampir 4-6 kali lipat.
Berdasarkan pada pembahasan skala ruang pada kolom 1 dan 3, dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari skala ruang yang berbasiskan pada budaya TL adalah skala kecil dan sedang
Ke pantai/tidak tentu/tidak terarah
Orientas i Ruang
Orientasi kepada perabot ruang terbuka
& berpijak pada kepercayaan kosmlogi
Orientasi existing ruang terbuka titik 1 tidak tentu arah dan tidak berpijak pada nilai kosmologis, sedangkan ruang terbuka yang berbasiskan pada budaya TL berorientasi pada perbot ruang dan berbasiskan pada nilai kosmologis
Berdasarkan pada pembahasan orientasi ruang pada kolom 1 dan 3 dapat disimpulkan bahwa kakteristik dari orientasi ruang yang berbasiskan pada budaya TL adalah berpatokan pada keberadaan perabot ruang dan juga berpijak pada nilai kosmologis
SAMBUNGAN DARI TABEL 4.30
Tabel 4.30 Proses analisis untuk memperoleh karakteristik ruang terbuka yang bebasiskan pada budaya TL, untuk ruang terbuka titik 1 di Desa Metiaut
Dari analisis dan pembahasan di atas maka hasil akhir dari Karakteristik Ruang terbuka yang
berbasiskan pada budaya Timor-Leste adalah seperti yang di uraikan di bawah ini/tabel 4.41
Sumber: Hasil survey dan temuan lapangan, sintesa kajian teori dan analisa, 2011-2012
Variabel dari kondisi
fisik ruang
Karakteristik ruang yang berbasiskan pada budaya TL
(1)
(2)
Luasan Ruang
Luasan ruang berkisar antara 160-250 M2
Fungsi Ruang
Terbatas pada fungsi atau pelayanan untuk kegiatan-kegiatan budaya yang bersifat sakral dan profane
Pola Ruang
Pola ruang yang dilingkupi oleh perabot atau elemen ruang yang memiliki makna sakral, dan berpijak pada kepercayaan
kosmologis
Makna Ruang
Memiliki makna ganda diantaranya: Makna sakral dan makna profane
Perabot Ruang
Didominasi oleh perabot-perabot yang bermakna sacral
Skala Ruang
Masuk dalam kategori skala ruang yang kecil dan sedang
Orientasi Ruang
Memiliki orientasi ruang yang berpatokan pada keberadaan perabot ruang dan juga kepercayaan pada nilai kosmologis
Tabel 4.41 Karaktersitik ruang tebuka yang berbasiskan pada budaya TL
Selain itu berdasarkan pada analisis deskritif untuk sasaran 1 dikelompokan existing ruang terbuka kota
menjadi beberapa kategori/tipologi/kelompok seperti yang di jelaskan pada tabel 4.42 berikut ini.
No
Kategori Ruang
Anggota kategori ruang
(1)
(2)
(3)
1
Kategori I
Existing ruang terbuka titik 1, 2, 4 dan 9
2
Kategori II
Existing ruang terbuka titik 6, 7, 8, 10 & 11
3
Kategori III
Existing ruang terbuka titik 3 & 5
2.) Analisis untuk sasaran 2 : Menggunakan Teknik Deskriptif Kualitatif dan DELPHI, seperti
dijelaskan pada bagan berikut ini. Atau hasil selengkapnya dapat di lihat pada laporan Thesis
hal. 163-171 dan pada tabel 4.47 - 4.53
Deskriptif Kualitatif