• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KETEPATAN PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI

BERDASARKAN METODE FULL COSTING SEBAGAI DASAR DALAM

MENENTUKAN HARGA JUAL UKIRAN SANGGAH (PELINGGIH) PADA

USAHA SARI UMA DUKUH SIDEMEN

1

Ni Kadek Yuniari,

1

Made Arie Wahyuni,

2

Putu Eka Dianita Marvilianti Dewi

Jurusan Akuntansi Program S1

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail:

{[email protected]

,

[email protected]

,

[email protected]}@undiksha.ac.id

Abstrak

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan, untuk mengetahui perhitungan harga pokok produksi apabila menggunakan metode yang baku, dan untuk mengetahui perbandingan dari kedua metode tersebut serta pengaruhnya terhadap harga jual. Lokasi penelitian yaitu pada usaha Sari Uma dukuh yang terletak di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif dan kualitatif dengan teknis analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan antara metode perusahaan dengan metode full costing. Perhitungan menggunakan metode perusahaan menghasilkan nilai harga pokok produksi sebesar Rp9.574.500, sedangkan menurut metode full costing harga pokok produksinya sebesar Rp9.766.073. Perbedaan tersebut dikarenakan perhitungan yang dilakukan perusahaan belum mengakui seluruh biaya yang berkaitan dengan proses produksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan perusahaan kurang tepat, karena akan mengurangi laba yang seharusnya diterima akibat dari harga jual yang ditetapkan tidak tepat.

Kata Kunci: Harga Pokok Produksi, Metode Full Costing, dan Harga Jual

Abstract

The study was conducted in order to find out the calculation of production main price according to the enterprise, to find out the calculation of production main price when using a standard method and to find out the comparison of the two methods and its impact on the selling price. The study was conducted at “Sari Uma Dukuh” located in Sidemen sub district, Karangasem regency. The method of collecting data in the study consisted of library study, observation, interview, and documentation. The data were obtained in the forms of qualitative as well as quantitative ones and analyzed following three different phases such as data reduction, data presentation and conclusion. The results of the study indicated that there was a differing calculation result of the production main price between the methods used by the enterprise and full costing method. Calculation using enterprise method generate

(2)

reduction main price value about Rp9.574.500, while calculation based on full costing method the production main price was about Rp9.766.073. The differences rouse because the enterprise had not admitted all costs related to the production process. The study concluded that the calculation of production main price was made inaccurately, since it would reduce the profit that should be received as a consequence of inaccuracy of the selling price.

Keywords: Production Main Price, Full Costing Method, and Selling Price

PENDAHULUAN

Usaha Kecil dan Menengah atau yang disingkat dengan UKM merupakan pilar utama perekonomian Indonesia. Sektor UKM mengalami perkembangan yang sangat pesat dari tahun ke tahun dengan berbagai jenis usaha. Perkembangan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap tingkat persaingan yang semakin ketat. Tempat yang strategis dan ketepatan perhitungan harga pokok produksi juga merupakan hal penting bagi pelaku usaha untuk bertahan di dalam persaingan bisnis yang sangat pesat ini.

Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah UKM yang banyak dengan jenis usaha yang dominan yaitu kerajinan tangan dan seni. Seni ukir merupakan jenis usaha di Bali yang saat ini berkembang dengan pesat. Hasil ukiran tersebut biasanya digunakan sebagai pajangan, hiasan rumah dan digunakan pada pembuatan ukiran sanggah. Usaha pembuatan ukiran sanggah saat ini sudah mulai banyak berkembang di berbagai daerah yang ada di Bali. Perkembangan tersebut tentunya menimbulkan persaingan yang sangat ketat antar usaha. Salah satu faktor yang biasanya sulit diatasi dalam persaingan dunia usaha adalah penentuan harga jual produk. Di tengah persaingan usaha pembuatan ukiran sanggah ini, harga jual merupakan hal yang sangat signifikan untuk menarik konsumen.

Besar kecilnya harga jual yang ditetapkan dipengaruhi oleh jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan pada saat produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan tersebut biasanya dijumlahkan untuk mengetahui berapa besar harga pokok produksi dari proses produksi suatu produk. Penentuan harga pokok produksi merupakan hal yang sangat penting mengingat manfaat informasi harga pokok produksi adalah

untuk menentukan harga jual produk serta penentuan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang akan disajikan dalam neraca.

Menurut Matz dan Usry yang diterjemahkan oleh Wibowo (dalam Suarmini, 2015), harga pokok produksi adalah harga pokok barang yang diproduksi meliputi semua biaya bahan langsung yang dipakai, upah langsung serta biaya produksi tidak langsung dengan memperhitungkan saldo awal dan saldo akhir barang dalam pengolahan, sedangkan menurut Dunia dan Abdullah (2012:24) harga pokok produksi adalah biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan kegiatan manufaktur. Biaya produksi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu bahan langsung (direct material), tenaga kerja langsung (direct labor), dan biaya overhead pabrik (manufacturing

overhead). Metode perhitungan harga

pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Terdapat dua metode perhitungan harga pokok produksi yang digunakan, yaitu full costing dan

variable costing. Full costing merupakan

metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel ataupun tetap. Variable costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel (Mulyadi, 2009:17).

Pembuatan laporan keuangan dan ketepatan perhitungan harga pokok produksi sangat penting karena dengan

(3)

adanya laporan keuangan perusahaan akan mengetahui sehat atau tidaknya bisnis yang dijalankan, dan dengan perhitungan harga pokok produksi yang tepat maka perusahaan dapat meminimalisir kerugian yang kemungkinan terjadi.

Salah satu usaha pembuatan ukiran

sanggah yang tidak membuat laporan

keuangan dan belum tepat dalam menghitung harga pokok produksi yaitu usaha ukiran sanggah yang terletak di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, tepatnya di Desa Telaga Tawang. Usaha pembuatan ukiran sanggah tersebut bernama Sari Uma Dukuh. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang telah dilakukan pada usaha Sari Uma Dukuh, perusahaan menghitung harga pokok produksi menggunakan metode tradisional, dimana perusahaan hanya mengakui biaya-biaya yang bersifat variabel. Perusahaan Sari Uma Dukuh tidak mencatat dan menghitung biaya-biaya yang bersifat tetap pada saat produksi, seperti biaya penyusutan gedung, biaya reparasi dan pemeliharaan mesin maupun kendaraan yang digunakan untuk mengirim barang, biaya bahan bakar, dan biaya listrik, padahal biaya-biaya tersebut sangatlah penting dihitung meskipun nilainya sering kecil tapi sedikit tidaknya dapat mempengaruhi pendapatan atau keuntungan yang diperoleh perusahaan dan juga sangat berpengaruh dalam menentukan harga jual produk.

Metode tradisional yang digunakan oleh Sari Uma Dukuh masih belum sesuai dengan prinsip akuntansi karena tidak semua unsur biaya diakui pada saat menghitung harga pokok produksi. Perusahaan Sari Uma Dukuh merupakan perusahaan manufaktur yang seharusnya menggunakan metode penentuan harga pokok produksi yang baku agar kelangsungan usahanya bisa terus berjalan dan dapat mempertahankan usahanya di tengah persaingan yang ketat ini. Metode

full costing adalah metode baku yang

sesuai dengan prinsip akuntansi, dimana pada saat menghitung harga pokok produksi metode ini mengakui semua unsur biaya yang berhubungan pada saat produksi baik yang secara langsung maupun tidak langsung. Penentuan harga

jual yang tidak tepat tentunya bisa berakibat fatal bagi perusahaan karena harga jual produk yang ditetapkan perusahaan dapat terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Harga jual produk yang terlalu rendah menghasilkan laba yang juga rendah bahkan dapat menyebabkan kerugian, dan begitupun sebaliknya. Menurut Gitosudarmo (2012:272) pengertian harga adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah barang beserta jasa-jasa tertentu atau kombinasi dari keduanya. Pengertian harga menurut Gitosudarmo tersebut selaras dengan pengertian menurut Basu Swastha (dalam Suarmini, 2015), dimana pengertian harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Menurut Gitosudarmo (2012:276) tujuan penetapan harga sebenarnya ada bermacam-macam, yaitu sebagai berikut: (1) Mencapai target pengembalian investasi atau tingkat penjualan neto suatu perusahaan, (2) Memaksimalkan profit, (3) Alat persaingan terutama untuk perusahaan sejenis, (4) Menyeimbangkan harga itu sendiri, (5) Sebagai penentu market share, karena dengan harga tertentu dapat diperkirakan kenaikan atau penurunan penjualannya.

Merujuk dari hal tersebut maka penelitian dalam ketepatan perhitungan harga pokok produksi pada usaha Sari Uma Dukuh perlu dikaji lebih mendalam. Metode

full costing cocok digunakan oleh

perusahaan Sari Uma Dukuh karena metode full costing bersifat jangka panjang Penggunaan metode full costing ini dapat mencegah terjadinya kerugian pada perusahaan karena semua unsur biaya telah diakui dalam menghitung harga pokok produksi. Perhitungan menggunakan metode ini bermanfaat untuk mengetahui berapa seharusnya harga pokok produksi yang dihitung oleh perusahaan, sehingga perusahaan Sari Uma Dukuh bisa menentukan harga jual yang tepat serta mengetahui laba sebenarnya untuk setiap produk dan dapat meminimalisir kerugian yang kemungkinan dialami oleh perusahaan karena semua biaya yang dikeluarkan telah dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi.

(4)

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan dijawab pada penelitian ini yaitu, (1) Bagaimana perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh usaha Sari Uma Dukuh. (2) Bagaimanakah perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing pada usaha Sari Uma Dukuh. (3) Bagaimanakah perbandingan perhitungan harga pokok produksi antara perusahaan dengan metode full costing serta bagaimana pengaruhnya terhadap harga jual pada perusahaan Sari Uma Dukuh. Tujuan dari penelitian ini yaitu, (1) Untuk mengetahui bagaimana penentuan harga pokok produksi yang dilakukan oleh usaha Sari Uma Dukuh, (2) Untuk mengetahui bagaimanakah penentuan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing pada usaha Sari Uma Dukuh, (3) Untuk mengetahui bagaimana perbandingan perhitungan harga pokok produksi antara perusahaan dengan metode full costing serta bagaimana pengaruhnya terhadap harga jual pada perusahaan Sari Uma Dukuh.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sukmadinata (2009:53), penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial sikap kepercayaan, presepsi, dan orang secara individual maupun kelompok. Jenis penelitian pada penelitian ini adalah deskriptif analisis yang menggunakan studi kasus pada pembuatan ukiran sanggah (pelinggih) di Sari Uma Dukuh.

Penelitian ini berlokasi di Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif (catatan biaya-biaya produksi perusahaan) dan data kualitatif (hasil wawancara mengenai gambaran umum perusahaan). Sumber data pada penelitian ini yaitu data primer. Menurut Sugiyono (2012:225) data primer adalah sumber data yang secara langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sumber primer ini berupa catatan hasil wawancara yang diperoleh melalui wawancara yang penulis lakukan.

Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan tenik purposive

sampling.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan teori-teori dari buku kuliah, buku-buku dan literatur-literatur lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti, sedangkan Studi lapangan yaitu mengadakan peninjauan langsung ketempat pelaksanaan kerja dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data model Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012:335) yang meliputi tiga proses yaitu proses reduksi data, proses penyajian data, dan proses menarik kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum

Usaha ukiran sanggah yang menjadi objek penelitian ini adalah usaha Sari Uma Dukuh yang dimiliki oleh Bapak I Ketut Sugana. Usaha ini berlokasi di Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem yang didirikan pada tahun 2003 dengan modal Rp9.000.000 bersama kakaknya yang bernama Jero Mangku Sudiarta. Awal berdirinya, usaha ini hanya memiliki satu tempat usaha, namun sekarang tempat beliau sudah dibagi menjadi dua yaitu untuk tempat mesin potong kayu dan tempat mengukir sampai

finishing. Jumlah karyawan atau tenaga

kerja pada Sari Uma Dukuh saat ini sebanyak 10 orang, dimana kesepuluh orang tersebut dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing kelompok memiliki tugas yang berbeda yaitu bagian mesin potong kayu, bagian tukang ukir dan bagian pengiriman barang.

Perusahaan Sari Uma Dukuh tidak hanya menghasilkan produk ukiran

sanggah, Sari Uma Dukuh juga

menghasilkan beberapa produk seperti pintu, dan lisplang dari kayu (di Bali biasa disebut ris). Produk-produk tersebut diolah sendiri oleh perusahaan Sari Uma Dukuh sebagai usaha sampingan ketika pesanan ukiran sanggah tidak ada. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan

(5)

dengan pemilik usaha Sari Uma Dukuh pembuatan ukiran sanggah tardiri dari beberapa proses yaitu pecah kayu, serut kayu, akit struktur, mengukir, akit bangun (akit jadi), pengampelasan, dan terakhir adalah finishing.

Penentuan Harga Pokok Produksi Menurut Perusahaan

Penentuan harga pokok produksi yang dilakukan oleh Sari Uma Dukuh masih sangat sederhana dan belum merinci seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Biaya-biaya yang diakui pada perhitungan harga pokok produksi adalah biaya bahan baku, biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja. Sari Uma Dukuh tidak menghitung biaya overhead pabrik secara lengkap, seperti biaya pemeliharaan mesin dan peralatan, biaya listrik, biaya penyusutan bangunan tidak diakui oleh perusahaan ketika menghitung harga pokok produksi. Merujuk dari hal tersebut, peneliti membahas biaya-biaya apa saja yang diakui oleh perusahaan.

Pertama, biaya bahan baku langsung. Menurut Riwayadi (2014:48) bahan baku langsung adalah bahan yang dapat secara mudah dan akurat ditelusuri ke produk. Bahan baku yang digunakan Sari Uma Dukuh yaitu kayu. Perusahaan menghitung biaya bahan baku yang dipakai dengan cara mengukur seberapa banyak bahan baku yang dihabiskan untuk memproduksi satu buah ukiran sanggah. Jumlah kayu yang dihabiskan untuk memproduksi satu buah ukiran sanggah yaitu sebanyak satu kubik. Ukiran sanggah yang dihasilkan perusahaan dalam satu bulan adalah sebanyak 2(dua) buah dengan harga Rp1.800.000/kubik, jadi total biaya bahan baku adalah sebesar Rp3.600.000.

Kedua, biaya tenaga kerja langsung. Perusahaan Sari Uma Dukuh menghitung biaya tenaga kerja langsung berdasarkan jam kerja dari karyawan. Menurut Riwayadi, (2014:73), tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pembuatan barang jadi dan pembayaran upahnya berdasarkan unit yang dihasilkan atau berdasarkan jam kerja. Perusahaan Sari Uma Dukuh mempunyai karyawan yang berhubungan secara langsung dengan produk sebanyak 10 orang yang

dibagi menjadi tiga bagian yaitu untuk proses pemotongan kayu sebanyak 4 orang, proses mengukir 4 orang dan mengirim barang 2 orang. Gaji atau upah yang diberikan kepada karyawan berbeda-beda pada masing-masing bagian. Upah yang diberikan untuk bagian mesin sebesar Rp8.000/jam, sedangkan untuk bagian tukang ukir sebesar Rp12.000/jam. Jumlah total jam kerja dalam 1 bulan adalah 240 jam untuk bagian ukiran dan 80 jam untuk bagian mesin. Total biaya tenaga kerja dalam 1 bulan yaitu sebesar Rp14.080.000. Ketiga, perhitungan biaya overhead pabrik. Menurut Sinarwati (2013:8) biaya

overhead pabrik adalah biaya produksi atas

semua biaya yang dikeluarkan di departemen pabrik selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya

overhead pabrik yang diakui oleh

perusahaan Sari Uma Dukuh pada saat menghitung harga pokok produksi hanya biaya overhead pabrik variabel yaitu biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja tidak langsung. besar jumlah dari biaya-biaya tersebut yaitu: (1) perhitungan biaya-biaya bahan penolong. Menurut Mulyadi (2009:194), bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut. Bahan penolong yang dipakai oleh Sari Uma Dukuh yaitu paku dengan berbagai ukuran, lem, cat, dan ampelas. Besarnya biaya bahan penolong yang dikeluarkan dalam proses produksi selama satu bulan yaitu sebesar Rp1.309.000. (2) Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung. Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah gaji yang diberikan perusahaan kepada karyawan pabrik yang tidak secara langsung menyelesaikan suatu produk, sehingga tidak dapat dihitung dengan mudah pengabisannya untuk setiap unit produk (Sinarwati, 2013:8). Tenaga kerja tidak langsung pada Sari Uma Dukuh yaitu karyawan yang bertugas untuk mengirim barang. Upah yang diberikan perusahaan kepada karyawan yaitu sebesar Rp80.000/orang untuk sekali pengiriman produk ukiran sanggah.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung untuk bagian pengirim barang yaitu sebesar

(6)

Rp160.000. Total BOP perusahaan yaitu sebesar Rp1.469.000.

Perhitungan Harga Pokok Produksi Menurut Perusahaan

Sari Uma Dukuh sudah melakukan perhitungan harga pokok produksi ukiran

sanggah untuk mengetahui harga jual yang

akan ditetapkan, namun perhitungan harga pokok produksi yang ditetapkan oleh perusahaan masih kurang efektif. Penentuan harga pokok produksi yang dilakukan oleh Sari Uma Dukuh masih sangat sederhana dan belum merinci seluruh biaya yang dikeluarkan dalam

proses produksi. Biaya-biaya yang diakui pada perhitungan harga pokok produksi adalah biaya bahan baku, biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja. Sari Uma Dukuh tidak menghitung biaya overhead pabrik secara lengkap, seperti biaya pemeliharaan mesin dan peralatan, biaya listrik, biaya penyusutan bangunan tidak diakui oleh perusahaan ketika menghitung harga pokok produksi.

Berdasarkan biaya-biaya yang telah ditentukan di atas, maka dapat dihitung harga pokok produksi menurut metode perusahaan. Perhitungan tersebut yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Perusahaan Jenis Biaya Total Biaya (Rp)

Biaya bahan baku 3.600.000

Biaya tenaga kerja langsung 14.080.000

Biaya Overhead pabrik 1.469.000

Total biaya produksi 19.149.000

Jumlah Produk yang Dihasilkan 2 Produk

Harga pokok produksi ukiran sanggah per produk 9.574.500 Sumber: Data diolah (2017)

Harga pokok produksi yang dihasilkan perusahaan yaitu sebesar Rp9.574.500. Perhitungan selanjutnya yaitu perhitungan harga jual. Perhitungan harga jual menurut Gitosudarmo (2012:268) yaitu dalam menentukan harga jual produk dapat digunakan rumus: Harga jual = Biaya Pokok + Margin.

Laba yang ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 5% dari harga pokok produksi, sehingga harga jual yang ditentukan oleh perusahaan yaitu sebesar Rp10.053.225 (Rp9.574.500 + (5% x Rp9.574.500)), nilai tersebut kemudian dibulatkan oleh perusahaan menjadi Rp10.000.000.

Perhitungan Harga Pokok Produksi Menurut Metode Full costing

Penelitian yang dilakukan pada perusahaan Sari Uma Dukuh dalam menghitung harga pokok produksi menggunakan metode full costing. Metode

full costing yaitu salah satu perhitungan

harga pokok produksi yang mengakui seluruh unsur biaya berkaitan dengan

proses produksi, biaya-biaya tersebut yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik baik yang bersifat variabel maupun yang bersifat tetap. Metode full costing

digunakan pada penelitian ini agar hasil perhitungan harga pokok produksi pada Sari Uma Dukuh lebih akurat, sehingga penetapan harga jual yang dilakukan oleh perusahaan lebih tepat dan menjadi lebih kompetitif dalam menjalankan usahanya.

Metode full costing digunakan karena metode full costing sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga dapat menjamin keakuratan informasi yang tersaji dalam laporan harga pokok produksi. Metode full

costing berbeda dengan metode variable costing. Metode full costing bersifat jangka

panjang dan informasi perhitungan harga pokok produksinya lebih banyak digunakan untuk kepentingan luar perusahaan, sedangkan metode variable

costing cocok untuk kebutuhan jangka

pendek perusahaan dan informasi perhitungan harga pokok produksinya

(7)

lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal manajemen perusahan. Metode variable costing juga tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga dalam penelitian ini metode full costing adalah metode yang tepat digunakan dalam menghitung harga pokok produksi dalam perusahaan Sari Uma Dukuh.

Biaya-biaya yang diakui dalam perhitungan harga produksi menggunakan metode full costing: (1) Biaya bahan baku dengan total biaya bahan baku yang dikeluarkan perusahaan selama satu bulan yaitu Rp3.600.000, (2) Biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan sebesar Rp14.080.000, (3) Biaya overhead pabrik yang dihitung menggunakan metode full

costing dibagi menjadi biaya overhead

pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap, biaya overhead pabrik variabel terdiri dari biaya bahan penolong dengan nilai sebesar Rp1.309.000, biaya tenaga kerja tidak langsung sebesar Rp160.000, biaya listrik sebesar Rp75.000, dan biaya bahan bakar sebesar Rp59.500. Total biaya overhead pabrik variabel sebesar Rp

1.603.500.

biaya overhead pabrik yang bersifat tetap terdiri dari biaya pemeliharaan mesin dengan jumlah sebesar Rp83.000, dan jumlah biaya penyusutan peralatan, mesin, dan bangunan yaitu sebesar Rp165.646 dengan rincian alat dan biaya penyusutan seperti pada Tabel 2 di bawah ini:

Tabel 2 Perhitungan Biaya Penyusutan Mesin, Peralatan dan Bangunan Keterangan Harga Perolehan Per Unit (Rp) (A) Jumlah Unit (B) Total Harga Perolehan (Rp) (AxB) Nilai Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) Beban Penyusutan (Rp/Tahun) Pahat 180.000 2 Set 360.000 - 15 24.000

Kuas Cat 9.000 2 Set 18.000 - 1 18.000

Alat Serut 750.000 1 Buah 750.000 - 8 93.750 Palu Kayu 30.000 2 Buah 60.000 - 4 15.000 Mesin Bor 250.000 1 Buah 250.000 100.000 10 15.000 Mesin Potong 1.350.000 1 Buah 1.350.000 800.000 10 55.000 Bangunan 50.000.000 1 Buah 50.000.000 - 25 1.800.000 Jumlah biaya penyusutan dalam satu tahun 1.987.750 Jumlah biaya penyusutan dalam satu bulan 165.646

Sumber: Data diolah (2017)

Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa beban penyusutan mesin, peralatan dan bangunan selama satu bulan adalah sebesar Rp165.646. jadi dari perhitungan tersebut maka jumlah keseluruhan biaya overhead pabrik tetap yaitu sebesar Rp248.646.

Perhitungan harga pokok produksi pada penelitian ini menggunakan metode

full costing dengan menjumlahkan semua

unsur-unsur biaya dalam proses produksi. Berdasarkan biaya-biaya tersebut perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode full costing dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:

(8)

Tabel 3. Perhitungan Harga Pokok Produksi Ukiran Sanggah Sari Uma Dukuh dengan Metode Full costing

Jenis biaya Total biaya (Rp)

Biaya bahan baku 3.600.000

Biaya tenaga kerja langsung 14.080.000

Biaya overhead pabrik variabel 1.603.500

Biaya overhead pabrik tetap 248.646

Total biaya produksi 19.532.146

Jumlah produk yang dihasilkan 2 Produk

Harga pokok produksi ukiran sanggah per produk 9.766.073 Sumber: Data diolah (2017)

Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa besar harga pokok produksi yang dihasilkan dengan menggunakan metode

full costing pada usaha Sari Uma Dukuh

adalah sebesar Rp9.766.073. Perhitungan selanjutnya setelah mengetahui besarnya harga pokok produksi pada usaha Sari Uma Dukuh menggunakan metode full

costing adalah perhitungan untuk

menentukan harga jual. Perhitungan harga jual menggunakan nilai harga pokok produksi yang dihitung dengan metode full

costing dilakukan untuk mengetahui besar

selisih harga jual antara metode perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan dan metode full

costing. Besarnya harga jual yang

dihasilkan dengan menggunakan harga

pokok produksi dari metode full costing adalah Rp10.254.377 (Rp9.766.073 + (5% x Rp9.766.073)).

Perbandingan Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Metode Perusahaan dan Full costing serta Pengaruhnya Terhadap Harga Jual Produk

Perhitungan harga pokok produksi dan harga jual pada pembahasan sebelumnya dapat dijadikan dasar untuk melakukan analisis perbandingan antara metode perusahaan dengan metode full

costing. Perbandingan dari kedua metode

tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Perbandingan Harga Pokok Produksi dan Harga Jual antara Metode Perusahaan dengan Metode Full costing

Keterangan Metode Perusahaan (Rp) (1) Metode Full costing (Rp) (2) Perbandingan/ Selisih (Rp) (2-1)

Biaya bahan baku 3.600.000 3.600.000 -

Biaya tenaga kerja langsung 14.080.000 14.080.000 - Biaya overhead pabrik 1.469.000 1.852.146 383.146 Total biaya produksi 19.149.000 19.532.146 383.146 Jumlah produk yang dihasilkan 2 Produk 2 Produk - Harga pokok produksi ukiran

sanggah per produk

9.574.500 9.766.073 191.573 Harga jual ukiran sanggah

(HPP+(5% x HPP))

10.053.225 10.254.377 201.152 Sumber: Data diolah (2017)

Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa dari perhitungan menggunakan metode perusahaan dan

metode full costing terdapat perbedaan nilai harga pokok produksi dan juga nilai jual produk ukiran sanggah. Perhitungan

(9)

menggunakan metode perusahaan memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan metode full costing. Selisih nilai harga pokok produksi yaitu sebesar Rp191.573. Selisih tersebut terjadi karena disebabkan perbedaan nilai pada biaya overhead pabrik saat melakukan perhitungan harga pokok produksi. Nilai biaya overhead pabrik yang dihasilkan apabila menggunakan metode perusahaan adalah sebesar Rp1.469.000, sedangkan dengan metode full costing nilai biaya overhead pabrik lebih besar yaitu Rp1.852.146. Selisih dari kedua metode tersebut adalah sebesar Rp383.146. Perbedaan tersebut menyebabkan terjadi selisih nilai harga pokok produksi dari kedua metode yang digunakan, di mana selisih tersebut sebesar Rp191.573.

Harga jual yang dihasilkan juga berbeda dari kedua metode tersebut. Metode perusahaan menghasilkan perhitungan harga jual sebesar Rp10.053.225, sedangkan penentuan harga pokok produksi menggunakan metode full costing menghasilkan harga jual sebesar Rp10.254.377. Perbandingan dari kedua metode tersebut menghasilkan selisih sebesar Rp201.152. Perusahaan Sari Uma Dukuh menjual satu produk ukiran sanggah dengan harga Rp10.000.000 (Rp10.053.225 dibulatkan menjadi Rp10.000.000), dari harga jual tersebut menghasilkan laba sebesar Rp425.500 (harga jual dikurangi dengan harga pokok produksi). Laba yang seharusnya diperoleh perusahaan dengan harga jual yang ditetapkan selama ini adalah sebesar Rp253.968,75 (Rp10.000.000 dikurangi Rp9.766.073), nilai Rp9.766.073 merupakan harga pokok produksi yang dihasilkan menggunakan metode full costing karena metode full

costing mengakui seluruh biaya overhead

pabrik baik yang bersifat variabel maupun tetap.

Tabel 3 menunjukkan bahwa apabila perusahaan menggunakan metode full

costing sebagai dasar dalam menghitung

harga pokok produksi maka nilai harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan adalah sebesar Rp10.200.000 (dalam pembulatan), karena persentase laba yang

diambil oleh perusahaan yaitu 5% dari harga pokok produksi.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui bagaimana perusahaan menghitung harga pokok produksi, berapa seharusnya harga pokok produksi yang ditentukan perusahaan apabila menggunakan metode full costing dan untuk mengetahui perbandingan nilai harga pokok produksi menurut metode perusahaan dan metode full costing. Berdasarkan analisis data dari pembahasan hasil penelitian, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan yaitu:

Pertama, perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh perusahaan Sari Uma Dukuh masih menggunakan metode sederhana, di mana biaya-biaya yang diakui dalam perhitungan harga pokok produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Total keseluruhan biaya produksi yang dihasilkan dari penjumlah biaya-biaya tersebut adalah Rp19.149.000, sedangkan harga pokok produksi per produk ukiran sanggah yaitu sebesar Rp9.574.500. Harga jual yang dihasilkan dari perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode perusahaan yaitu sebesar Rp10.053.225. Harga tersebut kemudian dibulatkan oleh perusahaan menjadi Rp10.000.000.

Kedua, penelitian ini menggunakan metode full costing agar informasi harga pokok produksi menjadi lebih akurat. Perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode full costing

mengakui seluruh biaya produksi, biaya tersebut yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik baik yang bersifat tetap maupun variabel. Total biaya produksi yang dihasilkan menggunakan metode full costing adalah sebesar Rp19.472.646,

sedangkan harga pokok produksi per produknya yaitu Rp9.766.073 Harga jual yang dihasilkan dari perhitungan harga pokok produksi ini yaitu sebesar Rp10.254.377.

Ketiga, berdasarkan perbandingan perhitungan harga pokok produksi

(10)

menggunakan metode perusahaan dan metode full costing, nilai harga pokok produksi dan harga jual yang dihasilkan memiliki perbedaan. Perhitungan yang dihasilkan menggunakan metode perusahaan lebih rendah daripada metode

full costing. Selisih nilai harga pokok

produksi dan harga jual dari kedua metode tersebut yaitu sebesar Rp191.573 dan Rp201.152. Selisih tersebut menunjukkan bahwa perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan harga pokok produksi akan menghasilkan harga jual yang berbeda pula, sehingga hal tersebut akan berdampak pada laba yang diperoleh perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan yaitu Rp425.500, namun laba tersebut bukanlah laba bersih yang seharusnya diperoleh perusahaan karena terdapat biaya-biaya belum diakui oleh perusahaan. Laba yang seharusnya yaitu sebesar Rp263.677 (Rp10.000.000 dikurangi Rp9.766.073), nilai Rp9.766.073 merupakan harga pokok produksi yang dihasilkan menggunakan metode full costing. Laba tersebut memiliki selisih

sebesar Rp191.573. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini bagi perusahaan Sari Uma Dukuh dan perusahaan-perusahaan lainnya yaitu: perusahaan sebaiknya membuat laporan keuangan supaya laba atau rugi yang diperoleh dapat diketahui secara pasti, dapat mempermudah perusahaan membuat perencanaan dalam pengambilan keputusan untuk kedepannya. Hal penting lainnya yaitu perusahaan yang merupakan jenis manufaktur sebaiknya membuat catatan mengenai bahan dan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan biaya-biaya tersebut digolongkan berdasarkan fungsi pokok dari

aktivitas perusahaan untuk mempermudah perhitungan harga pokok produksi. Metode harga pokok produksi yang seharusnya digunakan pada perusahaan yaitu metode

full costing karena metode ini merinci

seluruh biaya yang dikeluarkan pada saat kegiatan produksi, sehingga informasi yang dihasilkan lebih akurat dan membantu perusahaan dalam menetapkan harga jual produk serta mampu memaksimalkan laba yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Dunia, F.A., dan Wasilah Abdullah. 2012.

Akuntansi Biaya. Edisi 3. Jakarta:

Salemba Empat.

Gitosudarmo, H. Indriyo. 2012. Manajemen

Pemasaran. Yogyakarta:

BPFE-YOGYAKARTA.

Mulyadi. 2009. Akuntansi Biaya..

Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Riwayadi. 2014. Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat.

Sinarwati, Ni Kadek. 2013. Akuntansi Biaya. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha..

Suarmini. 2015. “Analisis Harga Pokok

Produk Kain Endek-Warna Alam

(Natural Colour) pada Usaha Tenun

Ikat Bali Arta Nadi (Traditional

Weaving)”. Skripsi (tidak diterbitkan).

Jurusan Akuntansi Program S1. Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Bandung:

ALFABETA CV.

Witjaksono, Armanto. 2013. Akuntansi

Biaya. Edisi Revisi. Yogyakarta: Graha

Referensi

Dokumen terkait

Penentuan cemaran timbal dan timah dalam makanan dilakukan dengan cara menimbang 5 gram sampel buah cabe jawa dan masukkan ke dalam cawan porselen.. Ditambahkan 10 mL

Pada tahap ini, peneliti membuat perencanaan perbaikan pembelajaran berdasarkan hasil analisis pada siklus II, yaitu sebagai berikut. 1) Pada siklus ketiga peneliti tetap

demikian, pada kenyataannya banyak siswa yang tidak memiliki keterampilan berpidato dengan baik. Minat secara umum dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang

oleh orang tua saat melakukan komunikasi dengan cara bertatapan muka langsung dengan anak ketika melakukan komunikasi dan memberikan pesan kepada anak (Pusungulaa,et al.

Tingginya rasio FDR ini, di satu sisi menunjukkan pendapatan bank yang semakin besar, tetapi menyebabkan suatu bank menjadi tidak likuid dan memberikan

Uraian sejarah dakwah Muhammadiyah di atas pada dasarnya tidak bisa lepas dari semangat purifikasi, pembaharuan Islam dan telaah normatif Ahmad Dahlan, sebagai pendirinya..

Pada proses pembelajaran pada siklus II diperoleh ketuntasan hasil belajar yaitu 74,40 karena siswa sudah terbiasa dengan model pembelajaran inkuiri ,siswa sudah aktif

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada siklus pertama, maka akan dilakukan tindakan pada pelaksanaan siklus II, langkah pelaksanaan masih sama seperti siklus I