Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

33 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

PUTUSAN

Nomor 05/B/PK/PJK/2013

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

PT. MEAD JOHNSON INDONESIA, tempat kedudukan di Wisma Tamara Lantai 11, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 24, Setiabudi, Jakarta Selatan 12920, dalam hal ini diwakili oleh MARTIN IBARRECHE, selaku Presiden Direktur PT. Mead Johnson Indonesia, selanjutnya memberi kuasa kepada:

1. WIMBANU WIDYATMOKO, S.H., L.L.M.;

2. JOHANNES PONTI PARTOGI HUTAURUK, S.H., S.E.; 3. MOCHAMAD FACHRI, S.H.;

Para Advokat, Pengacara dan Penasihat Hukum, pada Kantor Konsultan Hukum Hadiputranto, Hadinoto & Partners, beralamat di Gedung Bursa Efek Indonesia II, Lantai 21, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 27 Oktober 2010;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding;

melawan:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 40-42, Jakarta 12190, dalam hal ini memberi kuasa kepada:

1.CATUR RINI WIDOSARI, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;

2.M. ISMIRANSYAH M. ZAIN, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

3.YUDI ASMARA JAKA LELANA, Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

4.ROSITA LATIEF, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

Halaman 1 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Semuanya berkantor di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak

di Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 40-42, Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1095/PJ./2010 tanggal 17 Desember 2010;

Termohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.24385/PP/M.IV/15/2010, tanggal 30 Juni 2010 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, dengan posita perkara sebagai berikut: Bahwa dengan ini Pemohon Banding mengajukan permohonan banding sehubungan dengan Keputusan Keberatan Nomor KEP-1750/WPJ.07/ BD.05/2007 tanggal 10 Oktober 2007 yang Pemohon Banding terima pada tanggal 15 Oktober 2007 dengan perincian sebagai berikut:

Uraian Penghasilan Neto (Rp) Penghasilan Kena Pajak (Rp) Pajak Penghasilan Terutang (Rp) Kredit Pajak (Rp) Sanksi Administrasi Pasal 13 ayat (2) (Rp) Jumlah yang masih harus/ (Lebih) dibayar (Rp) Semula 249.432.080.440,00 249.432.080.440,00 37.397.311.850,00 32.107.319.919,00 2.221.796.611,00 7.511.788.542,00 Ditambah/(dikurangi) Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Menjadi 249.432.080.440,00 249.432.080.440,00 37.397.311.850,00 32.107.319.919,00 2.221.796.611,00 7.511.788.542,00

Bahwa berkaitan dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Badan Nomor 00009/206/04/056/06 tanggal 27 September 2006 atas hasil pemeriksaan Tahun Pajak 2004 sebesar Rp7.511.788.542,00 dengan penjelasan sebagai berikut:

Penghasilan Neto Rp. 249.432.080.440,00 Pajak Penghasilan terutang Rp. 37.397.311.850,00 (-/-) Kredit Pajak Rp. 32.107.319.919,00 Pajak yang tidak/kurang dibayar Rp. 5.289.991.931,00 (+/+) Bunga Pasal 13(2) (2% x 21 Bulan) Rp. 2.221.796.611,00 Jumlah yang masih harus dibayar Rp. 7.511.788.542,00

Penjelasan Pemohon Banding Koreksi Peredaran Usaha;

Halaman 2 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi peredaran usaha sebesar Rp4.232.330.552,00 oleh Terbanding, merupakan koreksi atas penyerahan barang/jasa kena pajak yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak Pertambahan Nilai Tahun 2004 tetapi belum diperhitungkan sebagai peredaran usaha pada Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Badan Tahun 2004;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi tambahan objek tersebut, dan menurut Pemohon Banding koreksi sebesar Rp4.232.330.552,00 merupakan perbedaan pengakuan pendapatan/peredaran usaha dalam laporan keuangan Pemohon Banding dengan Pajak Pertambahan Nilai yang Pemohon Banding laporkan selama tahun 2004, Pemohon Banding akan memberikan rekonsiliasi yang menunjukkan bahwa tidak ada penyerahan barang/jasa kena pajak yang belum diperhitungkan sebagai peredaran usaha di Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Badan tahun 2004 di dalam proses persidangan;

Koreksi Harga Pokok Penjualan; Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi Harga Pokok Penjualan sebesar Rp1.694.707.420,00 oleh Terbanding merupakan koreksi atas unsur-unsur Harga Pokok Penjualan yang didasarkan pada persediaan barang dagangan, pembelian barang dagangan melalui Pemberitahuan Impor Barang dan dokumen lainnya, dan dari dokumen tersebut diketahui masih terdapat selisih antara perhitungan Harga Pokok Penjualan menurut Terbanding dengan Harga Pokok Penjualan yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Tahun 2004, dan selisih tersebut dikarenakan Pemohon Banding sampai dengan akhir pemeriksaan tidak dapat memberikan penjelasan mengenai perhitungan Harga Pokok Penjualan yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan tersebut, sehingga selisih tersebut dilakukan koreksi karena tidak didukung oleh dokumen yang memadai;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi yang dilakukan atas Harga Pokok Penjualan tersebut, dan Harga Pokok Penjualan tersebut sudah

Halaman 3 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pemohon Banding hitung sesuai dengan metode yang diperbolehkan oleh

Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, perhitungan Harga Pokok Penjualan itu sendiri telah diaudit oleh Akuntan Publik dan memperoleh pendapat wajar tanpa pengecualian, selain itu, dapat Pemohon Banding tambahkan bahwa berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000, yang menyatakan bahwa beban yang berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk menentukan penghasilan kena pajak, dan beban tersebut juga harus dapat dinilai turut memberikan konstribusi atau manfaat dalam mendukung kegiatan bisnis Pemohon Banding;

Bahwa dalam hal ini, Harga Pokok Penjualan merupakan biaya yang nyata dan secara langsung memberikan konstribusi bagi kegiatan untuk mendapat dan memelihara penghasilan bagi Pemohon Banding, dan sebagai tambahan dasar perhitungan koreksi Terbanding adalah dari Pajak Penghasilan Pasal 22 dengan asumsi semua pembelian adalah impor, pada kenyataannya tidak semua pembelian adalah impor, tetapi Pemohon Banding juga melakukan pembelian lokal, dan Pemohon Banding akan memberikan rekonsiliasi Harga Pokok Penjualan dalam proses persidangan;

Koreksi Beban Gaji, Upah, Bonus, THR, dan lain-lain; Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi beban gaji, upah, bonus, Tunjangan Hari Raya, dan lain-lain sebesar Rp242.543.873,00 oleh Terbanding, merupakan koreksi dikarenakan adanya pemberian kenikmatan berupa allowance meal, medical, transport dan kenikmatan lainnya yang tidak boleh dibebankan sesuai Pasal 9 ayat (1) huruf d;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi Terbanding atas beban gaji, upah, bonus, Tunjangan Hari Raya, dan lain-lain tersebut, dan Pemohon Banding tidak memiliki perincian dari koreksi yang dilakukan oleh Terbanding, menurut pendapat Pemohon Banding semua biaya gaji, upah, bonus, Tunjangan Hari Raya, dan lain-lain tersebut bukanlah merupakan natura maupun kenikmatan lainnya seperti yang tercantum dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d, dan juga Pemohon Banding telah melakukan koreksi positif fiskal atas

Halaman 4 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

biaya yang merupakan natura atau pemberian kenikmatan di dalam perhitungan

Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Badan Pemohon Banding tahun 2004;

Koreksi Beban Promotion Trade; Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi beban promotion trade sebesar Rp3.908.875.653,00 oleh Terbanding, merupakan koreksi atas beban promosi trade lain-lain yang tidak didukung oleh dokumen yang memadai serta merupakan pengeluaran yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha secara langsung;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi beban promotion trade yang dilakukan oleh Terbanding, menurut Pemohon Banding beban tersebut berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, dan beban promosi merupakan bagian dari beban pemasaran dan sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a, yang memenuhi kriteria sebagai beban untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, Pemohon Banding akan memberikan dokumen pendukung yang diperlukan;

Koreksi Beban Advertising; Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi beban advertising sebesar Rp625.647.878,00 oleh Terbanding, merupakan koreksi atas beban advertising lain-lain yang tidak didukung oleh dokumen yang memadai serta merupakan pengeluaran yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha secara langsung;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi beban advertising yang dilakukan oleh Terbanding, menurut Pemohon Banding beban tersebut berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, dan beban advertising merupakan bagian dari beban pemasaran dan sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a, yang memenuhi kriteria sebagai beban untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, Pemohon Banding akan memberikan dokumen pendukung yang diperlukan;

Koreksi Beban Lain-Lain (Royalty); Menurut Terbanding;

Halaman 5 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa koreksi beban lain-lain sebesar Rp41.616.870.734,00 oleh Terbanding,

merupakan koreksi yang dikarenakan terdapat pengeluaran berupa royalty yang tidak didukung oleh dokumen yang memadai sehingga diperlakukan sebagai pembayaran dividen terselubung yang tidak dapat dibebankan sebagai biaya secara fiskal, dan terdapat beban lain-lain yang tidak didukung oleh dokumen yang memadai;

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi yang dilakukan Terbanding atas royalty yang dianggap sebagai dividen terselubung seperti tersebut di atas;

Bahwa Pemohon Banding didirikan pada tahun 2001 untuk menggantikan fungsi PT. Indexim Alpha (PTIA) sebagai distributor tunggal yang independen dari Mead Johnson & Co, USA (MJ & Co) di Indonesia, perlu diketahui bahwa pada saat itu PT. Indexim Alpha sebagai pihak ketiga yang independen, juga mengadakan kontrak royalty dengan dengan Mead Johnson & Co, USA dan

Brystol-Myers Squibb Company, USA (BMS Co) atas dukungan bisnis yang mereka berikan. Pembayaran royalty yang dilakukan oleh PT. Indexim Alpha ke

Mead Johnson & Co, USA dan Brystol-Myers Squibb Company, USA sebagai pihak penerima royalty dengan menerapkan tarif sesuai kontrak yaitu sebesar 10%;

Bahwa oleh karena itu, Pemohon Banding untuk mendapatkan dukungan bisnis yang sama dengan PT. Indexim Alpha sebelumnya, memutuskan untuk menerapkan kontrak royalty yang sama dengan kontrak royalty yang sudah diterapkan sebelumnya dengan PT. Indexim Alpha, yaitu sebesar 10%;

Bahwa sebagai tambahan penjelasan, pemegang saham minoritas dari Pemohon Banding juga merupakan pihak ketiga yang tidak mempunyai hubungan istimewa dengan pihak penerima royalty tersebut di atas, dan dengan demikian bila tarif royalty yang ditentukan melebihi kewajaran, sebagai pemegang saham mereka juga pasti akan keberatan, hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan Pemohon Banding untuk menerapkan tarif yang sama dengan PT. Indexim Alpha;

Bahwa dengan demikian, jelaslah bahwa pembayaran royalty tersebut bukan merupakan dividen terselubung, karena tarif royalty yang sama juga diterapkan

Halaman 6 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

terhadap pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, yaitu PT. Indexim

Alpha;

Bahwa lebih lanjut, berdasarkan surat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor S-1494/BC.2/2006 tertanggal 5 September 2006, disebutkan bahwa Pemohon Banding merupakan distributor tunggal untuk produk-produk di bawah merk Mead Johnson, sehingga berdasarkan catatan Pasal 8.1 (c) butir 1 dari GATT Valuation Agreement dinyatakan bahwa royalty

yang merupakan penyesuaian terhadap harga yang sebenarnya dibayar meliputi royalty atas pemakaian trademarks;

Bahwa lebih lanjut berdasarkan penjelasan dalam Advisory Opinion of GATT

Valuation Agreement, butir 4.11, diketahui bahwa dalam hal supplier dan importir keduanya berhubungan dengan pemegang hak merk dagang dan seller

tidak mensyaratkan pembayaran royalty dalam penjualan ekspornya, maka

royalty tersebut merupakan “condition of sale" dan “related to the good"

sehingga merupakan komponen yang harus ditambahkan kedalam nilai pabean, dan dengan kata lain royalty tersebut dinyatakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai komponen dari Harga Pokok Penjualan dari Pemohon Banding, dengan demikian, atas pembayaran biaya royalty tersebut, menurut hemat Pemohon Banding beban tersebut berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, dan sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a, yang memenuhi kriteria sebagai beban untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, Pemohon Banding akan memberikan dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan;

Koreksi Beban Lain-Lain; Menurut Terbanding;

Bahwa koreksi beban advertising sebesar Rp137.453.390,00 oleh Terbanding, merupakan koreksi atas beban lain-lain yang tidak didukung oleh dokumen yang memadai serta merupakan pengeluaran yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha secara langsung (koreksi ini sebenarnya tidak terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan yang ditandatangani);

Menurut Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi beban lain-lain yang dilakukan oleh Terbanding, dan menurut Pemohon Banding beban tersebut

Halaman 7 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, dan beban lain-lain tersebut telah

sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a, yang memenuhi kriteria sebagai beban untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, Pemohon Banding akan memberikan dokumen pendukung yang diperlukan;

Kesalahan Penulisan Pada Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Badan;

Bahwa pada Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Badan Tahun 2004 Nomor 00009/206/04/056/06 tanggal 27 September 2006 atas hasil pemeriksaan tahun 2004 sebesar Rp7.511.788.542,00 dan juga keputusan keberatan Nomor KEP-1750/WPJ.07/BD.05/2007 tertanggal 10 Oktober

2007 tertulis penghasilan neto menurut Terbanding sebesar Rp.249.432.080.440,00, sedangkan berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan

yang ditandatangani bersama, seharusnya penghasilan neto menurut Terbanding tersebut adalah Rp124.716.040.222,00;

Perhitungan Pajak Terutang Seharusnya;

Bahwa berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka perhitungan pajak terutang seharusnya adalah sebagai berikut:

Penghasilan Neto Rp 72.257.610.722,00 Pajak Penghasilan terutang Rp 21.659.783.000,00 (-/-) Kredit Pajak Rp 32.107.319.919,00

Pajak Lebih Bayar (Rp 10.447.536.919,00)

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.24385/ PP/M.IV/15/2010, tanggal 30 Juni 2010 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Menolak permohonan banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Terbanding Nomor KEP-1750/WPJ.07/BD.05/2007 tanggal 10 Oktober 2007 mengenai Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2004 Nomor 00009/206/04/056/06 tanggal 27 September 2006, atas nama PT. Mead Johnson Indonesia, NPWP: 02.058.971.9-056.000, alamat: Wisma Tamara Lantai 11, Jalan Jendral Sudirman Kavling 24, Setiabudi, Jakarta Selatan 12920, namun karena terdapat kesalahan tulis maka perhitungan Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2004 yang masih harus dibayar menjadi sebagai berikut:

Penghasilan Kena Pajak...Rp124.716.040.220,00

Halaman 8 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pajak Penghasilan terutang...Rp 37.397.312.000,00

KreditPajak...Rp 32.107.319.919,00 Pajak Penghasilan kurang dibayar...Rp 5.289.992.081,00 Sanksi Administrasi Bunga Pasal 13 ayat (2) KUP Rp 2.221.796.674,00 Jumlah pajak yang masih harus dibayar...Rp 7.511.788.755.00 Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.24385/PP/M.IV/ 15/2010, tanggal 30 Juni 2010, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 5 Agustus 2010, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 27 Oktober 2010 diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 28 Oktober 2010 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Peninjauan Kembali Nomor PKA-975/SP.51/AB/X/2010 yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Pajak dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal itu juga;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 10 November 2010, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 21 Desember 2010;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan peninjauan kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:

I. LATAR BELAKANG PEMOHON DAN KRONOLOGIS SENGKETA

SERTA PETIKAN PERTIMBANGAN PUTUSAN PENGADILAN

Halaman 9 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

PAJAK

NOMOR 24385;

A. Latar Belakang Pemohon;

Sebagai latar belakang dari permohonan banding, perkenankanlah kami menjelaskan latar belakang kegiatan usaha kami agar dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan biaya-biaya yang diperkenankan untuk dikurangi dengan penghasilan sebagaimana yang telah diatur dalam ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang PPh;

Pemohon adalah perusahaan yang didirikan pada tahun 2001 dimana kegiatan usaha berdasarkan pada akta pendirian adalah ekspor barang dagangan, impor barang dagangan dan distributor utama barang dagangan termasuk tetapi tidak terbatas pada produk makanan, produk nutrisi dan produk susu (Akta Pendirian Perusahaan terlampir sebagai Bukti Pemohon - 3);

Berdasarkan penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa sebagai distributor utama dari Mead Johnson & Company di Indonesia, Pemohon memerlukan dukungan dalam menjalankan kegiatan usaha dalam bentuk pemanfaatan merk-merk dagang yang dimiliki oleh Mead Johnson & Company dan bantuan teknis yang disediakan oleh Bristol Myers Squibb Company;

Salah satu contoh dari produk Pemohon yang dikenal di Indonesia adalah Sustagen. Merk Sustagen telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak tahun 1970-an. Dengan pemanfaatan merk dagang dan bantuan teknis yang memadai, merk Sustagen sampai sekarang pun masih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Strategi pemasaran merk Sustagen dikembangkan oleh Mead Johnson & Company yang berkedudukan di Amerika Serikat;

B.Kronologis Sengketa;

1. Direktur Jenderal Pajak (dahulu dikenal sebagai "Terbanding" dan selanjutnya disebut sebagai "Termohon"), melalui Kantor Pelayanan Pajak PMA Ill, telah menerbitkan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2004 Nomor 00009/206/04/056/06 tanggal 27 September

Halaman 10 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2006 untuk Tahun Pajak 2004 (selanjutnya disebut sebagai

"SKPKB 009" dan terlampir sebagai Bukti Pemohon - 4);

2. Berdasarkan SKPKB 009, Pemohon mengajukan keberatan melalui surat Nomor 49/MJI/2006 tertanggal 14 Desember 2006 (terlampir sebagai Bukti Pemohon-5);

Sebagai jawaban atas permohonan keberatan tersebut, Termohon telah menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP- 1750/WPJ.07/BD.05/2007 tanggal 10 Oktober 2007 (terlampir sebagai Bukti Pemohon-6), yang secara umum menolak permohonan keberatan dari Pemohon, sebagaimana terinci di bawah ini:

Uraian Semula Ditambah/ Menjadi

(Dikurangi)

Rp Rp Rp

Penghasilan Neto 249.432.080.440 - 249.432.080.440

Kompensasi Kerugian - - -

Penghasilan Kena Pajak 249.432.080.440 - 249.432.080.440

PPh Terutang 37.397.311.850 - 37.397.311.850

Kredit Pajak 32.107.319.919 - 32.107.319.919

PPh Kurang (Lebih Bayar) 5.289.991.931 - 5.289.991.931

Sanksi Administrasi 2.221.796.611 - 2.221.796.611

Jumlah PPh ymh (Iebih) 7.511.788.542 - 7.511.788.542

dibayar

Sebagai konsekuensi, dengan mendasarkan pada ketentuan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1994 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut sebagai "UU KUP"), Pemohon kemudian mengajukan permohonan banding atas keputusan Termohon tersebut kepada Pengadilan Pajak. Surat Permohonan Banding tersebut diserahkan pada Pengadilan Pajak pada tanggal 9 Januari 2008 (terlampir sebagai Bukti Pemohon -7);

C. Putusan Pengadilan Pajak dan Pertimbangannya;

Secara singkat, permohonan banding tersebut mencakup tujuh pos sengketa yakni:

1. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Peredaran Usaha sebesar Rp4.232.330.552;

Halaman 11 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Harga Pokok Penjualan

sebesar Rp1.694.707.420,00;

3. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto, Beban Gaji, Upah, Bonus, HTR dll sebesar Rp242.543.873,00;

4. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto, Beban Promotion Trade sebesar Rp3.908.875.653,00;

5. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Pengurang Penghasilan Bruto, Beban Advertising sebesar Rp625.647.878,00;

6. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Biaya dari luar usaha (Royalty) sebesar Rp41.616.870.733,00; dan,

7. Sengketa sehubungan dengan koreksi atas Beban Lain-Lain sebesar Rp137.453.390,00;

Sehubungan dengan permohonan banding yang disampaikan oleh Pemohon, pada tanggal 8 April 2009 Majelis Hakim Pengadilan Pajak memutuskan untuk menolak seluruh pemohonan banding tersebut;

Sehubungan dengan Putusan Pengadilan Pajak Nomor 24385 tersebut, Pemohon berkeberatan atas Putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak terhadap pos sengketa biaya dari luar usaha (Royalty) sebesar Rp41.616.870.733,00 dan bersama ini diajukan permohonan peninjauan kembalinya;

Adapun pertimbangan hukum yang disampaikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak atas pos sengketa biaya dari luar usaha (Royalty) adalah sebagai berikut:

“Bahwa pemeriksaan Majelis atas data dan informasi yang disampaikan dalam persidangan oleh Pemohon Banding dan Terbanding dapat disampaikan sebagai berikut:

Bahwa berdasar penelitian Majelis terhadap Perjanjian Lisensi antara Mead Johnson & Company, berkedudukan di Amerika Serikat dan Pemohon Banding serta Perjanjian Informasi Teknis dan Jasa antara Brystol Myers Squibb Company, berkedudukan di Amerika Serikat dan Pemohon Banding yang keduanya berlaku sejak tanggal 1 Oktober 2001, kewajiban Pemohon Banding terdiri dari:

Pembayaran Royalty kepada Mead Johnson & Company sebesar 4.5% dari penjualan bersih;

Halaman 12 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pembayaran Imbalan atas bantuan Teknis dan Jasa kepada Brystol-Myers

Squibb Company sebesar 5.5% dari penjualan bersih;

Bahwa pengertian royalty menurut Pasal 13 ayat (3) huruf a Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Amerika untuk Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak yang berkenaan dengan Pajak Penghasilan:

"Istilah ''royalty'' yang digunakan dalam pasal ini berarti segala bentuk pembayaran yang dibuat sehubungan dengan penggunaan, atau hak untuk menggunakan, hak cipta atas karya sastra, kesenian, atau karya ilmiah (termasuk hak cipta atas gambar bergerak, film, pita rekaman, atau alat reproduksi lainnya yang digunakan untuk penyiaran radio atau televisi), paten, desain, model, rencana, formula atau proses rahasia, merk dagang, atau informasi mengenai pengalaman di bidang industri, perniagaan atau ilmu pengetahuan";

Bahwa pengertian royalty di atas menekankan pada penggunaan suatu hak cipta yang lara atas formula dan merek dagang oleh karenanya hal ini terkait dengan proses produksi suatu produk tertentu sehingga atas produk jadi yang diimpor oleh Pemohon Banding semestinya royalty dibayarkan oleh produsennya yang kemudian dibebankan bagai komponen dari harga sebagaimana pengertian royalty menurut Terbanding serta penjelasan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bahwa royalty merupakan komponen yang harus ditambahkan ke dalam nilai pabean atau harga pembelian impor; Bahwa berdasar penjelasan baik dari Pemohon Banding maupun Terbanding dan penelitian terhadap peraturan-peraturan terkait serta bukti-bukti yang disampaikan persidangan, Majelis berpendapat terdapat cukup alasan yang kuat bagi Majelis untuk mempertahankan keputusan Terbanding atas koreksi biaya dari Luar Usaha Biaya Royalty;

Bahwa dengan demikian Majelis berkesimpulan permohonan Banding Pemohon banding mengenai koreksi Terbanding atas koreksi biaya dari Luar Usaha-Biaya Royalty sebesar Rp41.616.870.733,00 tidak dapat dikabulkan";

II. DETAIL ALASAN PENINJAUAN KEMBALI;

ALASAN UTAMA;

Halaman 13 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Putusan Pengadilan Pajak Nomor 24385 tidak sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berlaku dimana Putusan Pengadilan Pajak Nomor 24385 nyatakan bahwa biaya royalty tidak dapat dibiayakan padahal ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang PPh telah secara tegas mengatur bahwa biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, termasuk biaya royalty merupakan biaya yang dapat dibiayakan;

Penjelasan:

1. Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah mengambil keputusan atas sengketa mengenai biaya pengurang berdasarkan dasar hukum yang tidak tepat yakni ketentuan Pasal 13 ayat (3) huruf a Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Amerika untuk Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak yang Berkenaan dengan Pajak atas Penghasilan (selanjutnya disebut sebagai "P3B Indonesia-AS");

Sebagaimana dapat dilihat dari petikan pertimbangan hukum yang disampaikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor 24385 di atas, secara jelas dan nyata Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah mengambil keputusan untuk menolak permohonan banding Pemohon dan menyatakan bahwa biaya royalty

yang dikeluarkan oleh Pemohon tidak dapat dibiayakan dengan hanya mendasarkan kepada interpretasinya atas ketentuan Pasal 13 ayat (3) huruf a P3B Indonesia-AS;

Menurut pendapat Pemohon, Pasal 13 ayat (3) huruf a P3B Indonesia-AS adalah suatu ketentuan yang mengatur tentang definisi royalty yang berhubungan dengan pengaturan tentang hak pemajakan atas pembayaran royalty yang dilakukan oleh baik penduduk Indonesia maupun penduduk AS;

Pasal 13 ayat (3) huruf a P3B Indonesia-AS sama sekali tidak mengatur mengenai boleh atau tidaknya pembayaran royalty yang dilakukan oleh Wajib Pajak Indonesia dijadikan pengurang dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak bersangkutan;

Oleh karenanya, dokumen tersebut sama sekali tidak tepat dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk menentukan apakah biaya royalty

Halaman 14 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

yang dibayarkan oleh Pemohon dapat atau tidak dapat dikurangkan

dalam perhitungan Penghasilan Kena Pajak;

Padahal seharusnya Majelis Hakim Pengadilan Pajak mengambil keputusan berdasarkan ketentuan Pasal 6 Undang-Undang PPh yang mengatur tentang jenis-jenis biaya yang dapat dijadikan pengurang dalam perhitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak, karena sengketa ini sehubungan dengan boleh atau tidaknya biaya royalty dijadikan pengurang dalam perhitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak; Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang PPh mengatur bahwa:

"1. Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi:

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalty, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan";

Selanjutnya Penjelasan Pasal 6 ayat (1) a Undang-Undang PPh menegaskan bahwa:

Pasal 6: Ayat (1):

Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan, misalnya gaji, biaya administrasi dan bunga, biaya rutin pengolahan limbah dan sebagainya. Sedangkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Di samping itu apabila dalam suatu tahun pajak didapat kerugian karena penjualan harta atau karena selisih kurs, maka kerugian-kerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto;

Halaman 15 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Huruf a:

Biaya-biaya yang dimaksud dalam ayat ini lazim disebut biaya sehari-hari yang boleh dibebankan pada tahun pengeluaran. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya, pengeluaran-pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak. Dengan demikian pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak, tidak boleh dibebankan sebagai biaya";

Dari ketentuan peraturan di atas dapat disimpulkan bahwa:

• Bahwa ketentuan yang berlaku yang mengatur tentang biaya boleh

dibebankan atau tidak adalah Pasal 6 Undang-Undang PPh; • Bahwa biaya yang dapat dibebankan harus mempunyai

hubungan

langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak;

• Bahwa biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa dan biaya

royalty merupakan biaya yang dapat dibebankan sebagai biaya;

Dalam putusannya, Majelis Hakim Pengadilan Pajak secara nyata mengetahui dan mengakui bahwa Pemohon telah melakukan pembayaran royalty;

Majelis Hakim Pengadilan Pajak dalam pertimbangannya menyatakan sebagai berikut:

''Bahwa berdasar penelitian Majelis terhadap Perjanjian Lisensi antara

Mead Johnson & Company, berkedudukan di Amerika Serikat dan Pemohon Banding serta Perjanjian Informasi Teknis dan Jasa antara

Brystol Myers Squibb Company, berkedudukan di Amerika Serikat dan Pemohon Banding yang keduanya berlaku sejak tanggal 1 Oktober 2001, kewajiban Pemohon Banding terdiri dari:

Halaman 16 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

• Pembayaran Royalty kepada Mead Johnson & Company sebesar

4.5% dari penjualan bersih;

• Pembayaran Imbalan atas bantuan Teknis dan Jasa kepada

Brystol Myers Squibb Company sebesar 5.5% dari penjualan bersih";

Berdasarkan petikan pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak di atas, dapat diketahui bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak secara jelas mengetahui dan mengakui bahwa Pemohon mempunyai kewajiban untuk membayar royalty kepada Mead Johnson & Company dan imbalan atas bantuan teknis dan jasa kepada Bristol Myers Squibb Company;

Selanjutnya, Majelis Hakim Pengadilan Pajak dalam pertimbangannya menyatakan:

''Bahwa pengertian royalty di atas menekankan pada penggunaan suatu hak cipta yang antara atas formula dan merek dagang oleh karenanya hal ini terkait dengan proses produksi suatu produk tertentu sehingga atas produk jadi yang diimpor oleh Pemohon Banding semestinyaroyalty

dibayarkan oleh produsennya yang kemudian dibebankan sebagai komponen dari harga sebagaimana pengertian royalty menurut Terbanding";

Terlepas dari pandangannya bahwa pembayaran royalty semestinya

tidak perlu lagi dilakukan karena telah termasuk ke dalam harga pembelian barang pada saat barang tersebut diimpor, Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah secara nyata-nyata mengakui bahwa Pemohon telah melakukan pembayaran royalty kepada Mead Johnson Company

dan Bristol Myers Squibb Company, yang mana pembayaran royalty

tersebut dilakukan secara terpisah dan tidak langsung disatukan atau dimasukkan ke dalam harga pembelian;

Pandangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang menyatakan bahwa pembayaran royalty semestinya sudah termasuk dalam harga pembelian tidak tepat dalam kasus ini. Pada kenyataannya, harga pembelian barang yang diimpor belum termasuk pembayaran royalty sehubungan dengan pemanfaatan merek dagang dan bantuan teknis lainnya;

Halaman 17 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Sehubungan dengan pandangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak di atas

mengenai pembayaran royalty yang semestinya sudah termasuk ke dalam harga pembelian barang pada saat impor adalah tidak tepat dalam kasus ini. Dari sudut komersial dan perpajakan, apakah royalty

dimasukkan ke dalam harga pembelian atau dibayar terpisah adalah suatu pilihan. Pandangan tersebut tepat apabila kasus ini mengenai penghitungan besarnya nilai pabean dan besarnya bea masuk yang harus dibayar, namun bukan dalam kasus penentuan apakah biaya royalty dapat atau tidak dapat dibiayakan dalam penghitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak;

Dalam kasus ini, Pemohon hendak menegaskan bahwa harga pembelian barang belum termasuk pembayaran royalty. Sehubungan dengan hal ini, Dirjen Bea & Cukai telah menerbitkan Surat Nomor 1494/BC.2/2006 tertanggal 5 September 2006 yang isinya secara tegas menerangkan bahwa pembayaran royalty belum dimasukkan ke dalam harga pembelian barang yang diimpor (terlampir sebagai Bukti Pemohon-8). Berikut petikan dari Surat Dirjen Bea & Cukai Nomor 1494/BC.2/2006: "2. Berdasarkan hasil audit sementara terhadap yang bersangkutan,

kedapatansebagai berikut:

• Barang impor yang dipermasalahkan adalah produk susu yang diimpor PTMJI dari Mead Johnson Phillipines;

• Terhadap barang tersebut ditemukan pembayaran royalty

kepada Mead Johnson US yang belum diperhitungkan dalam perhitungan pabean PIB;

7. Berdasarkan penjelasan di atas, maka royalty yang dibayarkan oleh PTMJI kepada Mead Johnson US merupakan komponen yang harus ditambahkanke dalam nilai pabean";

Dengan demikian, kiranya menjadi jelas bahwa sebenar-benarnya pembayaran royalty tersebut belum pernah dimasukkan sebagai komponen harga pembelian dari produk yang diimpor. Sehingga ketika Pemohon melakukan pembayaran royalty, pembayaran royalty tersebut

Halaman 18 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

bukan merupakan pembayaran kedua kali atas suatu objek royalty yang

sama;

Lebih lanjut, baik pembayaran royalty tersebut dimasukkan sebagai komponen pembentuk harga pembelian ataupun dipisahkan dari harga beli (seperti yang Pemohon lakukan), Pemohon berpendapat bahwa hal ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap perlakuan perpajakannya maupun besarnya Pajak Penghasilan terutang. Besarnya total biaya yang akan dikeluarkan oleh Pemohon adalah sama baik apabila royalty

dimasukkan ke dalam harga pembelian atau pun dipisah pembayarannya. Dari sudut pencatatan akuntansi, hal ini hanya akan memberi pengaruh kepada pengklasifikasian biaya royalty tersebut, dimana apabila ia dimasukkan ke dalam harga pembelian maka biaya

royalty tersebut akan tercatat dalam Harga Pokok Penjualan, sedangkan apabila dipisahkan, ia akan tercatat dalam Biaya Di Luar Usaha;

Dari sudut Bea & Cukai, Pemohon mengerti bahwa seharusnya biaya

royalty tersebut dimasukkan sebagai komponen pembentuk nilai pabean (harga pembelian barang yang diimpor), namun sekali lagi, dari sudut penghitungan Pajak Penghasilan terutang, Pemohon berpendapat bahwa pilihan untuk memasukkan royalty ke dalam harga pembelian ataupun melakukan pembayaran terpisah sama sekali tidak berpengaruh terhadap apakah biaya royalty tersebut menjadi boleh atau tidak boleh dijadikan biaya dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak;

Pandangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak bahwa pembayaran royalty hanya berkaitan dengan proses produksi adalah tidak tepat, karena pembayaran royalty dapat juga timbul karena kegiatan-kegiatan lain di luar proses produksi;

Pemohon juga ingin menjelaskan bahwa pandangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak mengenai definisi royalty yang hanya lebih menekankan pada penggunaan suatu hak cipta atas suatu formula atau merek dagang terkait suatu proses produksi adalah tidak sepenuhnya benar;

Royalty tidak hanya terbatas pada penggunaan suatu hak cipta atas suatu formula terkait suatu proses produksi namun juga pada

Halaman 19 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

kegiatan di luar proses produksi seperti kegiatan pemasaran dan

perdagangan sebagaimana terjadi dalam kasus ini;

Bahwa pada dasarnya royalty merupakan pembayaran yang dilakukan atas pemakaian suatu hak, termasuk di dalamnya hak merek, hak paten, waralaba, hak cipta, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pembayaran

royalty yang dilakukan oleh Pemohon merupakan pembayaran atas pemakaian kekayaan intelektual, yang dalam hal ini adalah hak merek, yang dimiliki oleh Mead Johnson & Company. Seperti Pemohon telah jelaskan di atas bahwa kegiatan usaha Pemohon adalah sebagai distributor dari produk-produk Mead Johnson. Selain memasarkan produk-produk tersebut, Pemohon juga dalam hal ini menggunakan merk dagang dari produk-produk yang dipasarkan di Indonesia dalam menjalankan usahanya. Biasanya jumlah yang harus dibayarkan merupakan prosentase dari penerimaan yang didapat oleh Pemohon melalui penggunaan hak merek pada produk-produk tersebut;

Ketentuan mengenai Hak Merk diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merk (Iebih lanjut disebut sebagai "UU Merk"); Pasal 3 dari Undang-Undang Merk menegaskan bahwa:

Pasal 3:

Hak atas Merk adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Pemilik Merk yang terdaftar dalam Daftar Umum Merk untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri Merk tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya;

Pemberian izin kepada pihak lain untuk menggunakan hak merk tersebut dapat dilakukan dalam suatu perjanjian distributor, perjanjian lisensi, perjanjian waralaba, dan lain-lain. Dalam perjanjian-perjanjian tersebut diatur hal-hal yang sudah sebagaimana layaknya diatur dalam suatu perjanjian, termasuk di dalamnya aturan-aturan mengenai metode pembayaran atas penggunaan hak merk tersebut. Sesuai dengan kesepakatan para pihak dengan memperhatikan berbagai aspek bisnis yang berkaitan dengannya, pembayaran atas pemakaian hak merk tersebut dapat diatur dengan berbagai cara, termasuk salah satunya dengan pembayaran berupa royalty;

Halaman 20 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Dalam kasus Pemohon, penggunaan hak atas merk yang dimiliki oleh

Mead Johnson & Company didasarkan pada Perjanjian Lisensi antara

Mead Johnson & Company dan Pemohon. Sesuai dengan kesepakatan para pihak, atas pemakaian merk yang dimiliki oleh Mead Johnson & Company, Pemohon membayarkan royalty sebesar 4,5% dari penjualan bersih;

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemohon telah menerapkan ketentuan yang telah disepakati bersama antara Pemohon dan Mead Johnson & Company, dan ketentuan-ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan Undang-Undang Merk maupun undang-undang lain yang berkaitan dengannya. Pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang menyatakan bahwa royalty yang hanya lebih menekankan pada penggunaan suatu hak cipta atas suatu formula atau merk dagang terkait suatu proses produksi adalah tidak benar;

Pembayaran royalty yang dilakukan Pemohon mempunyai

hubungan dan memberi manfaat bagi upaya Pemohon untuk mendapatkan dan mempertahankan penghasilan;

Sehubungan dengan pembayaran royalty tersebut, Pemohon juga ingin menjelaskan bahwa biaya royalty tersebut terdiri dari dua komponen biaya yakni:

i. Biaya royalty yang dibayarkan kepada Mead Johnson Company; dan, ii. Biaya imbalan atas jasa teknis yang dibayarkan kepada Bristol-Myers

Squibb Company;

Kedua komponen biaya royalty ini secara substansi mempunyai hubungan dan memberi manfaat bagi upaya Pemohon untuk mendapatkan dan mempertahankan penghasilan;

Berikut adalah penjelasan Pemohon sehubungan dengan hubungan antara kedua komponen biaya royalty di atas dengan upaya Pemohon untuk mendapatkan dan mempertahankan penghasilan:

i. Biaya royalty yang dibayarkan kepada Mead Johnson Company;

Kegiatan usaha Pemohon pada prinsipnya adalah sebagai distributor tunggal. Dalam menjalankan kegiatannya, Pemohon memerlukan izin

Halaman 21 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

pemanfaatan merk dagang dalam melakukan kegiatan promosi dan

pemasaran produk-produknya. Merk dagang dari produk-produk yang dijual oleh Pemohon dimiliki oleh Mead Johnson & Company. Bahwa merk dagang yang digunakan oleh Pemohon yang juga telah terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai merk dagang yang telah dipatenkan;

Bersama ini kami lampirkan bukti-bukti pendukung bahwa merk-merk dagang yang digunakan oleh Pemohon yang telah didaftarkan di Direktorat HAKI antara lain adalah:

a. Mead Johnson Nutrinionals (terlampir sebagai Bukti Pemohon -9); b. Sustagen School (terlampir sebagai Bukti Pemohon-10);

c. Sustagen Junior (terlampir sebagai Bukti Pemohon -11); d. Sustagen Kid (terlampir sebagai Bukti Pemohon -12); e. Enfakid (terlampir sebagai Bukti Pemohon -13); f. Enfamama A+ (terlampir sebagai Bukti Pemohon -14); g. Enfamil (terlampir sebagai Bukti Pemohon -15); h. Enfamama (terlampir sebagai Bukti Pemohon -16); i. Enfalac (terlampir sebagai Bukti Pemohon -17); j. Alacta (terlampir sebagai Bukti Pemohon -18); k. Alactamil (terlampir sebagai Bukti Pemohon -19);

I. Alactagrow (terlampir sebagai Bukti Pemohon -21); m. 23 Resistensya Builders (terlampir sebagai Bukti Pemohon -20); n. 3BIOTICS (terlampir sebagai Bukti Pemohon -22);

o. Olac (terlampir sebagai Bukti Pemohon -23); p. Sobee Plus (terlampir sebagai Bukti Pemohon -24); q. Pregestimil Lipil (terlampir sebagai Bukti Pemohon -25); r. Prosobee (terlampir sebagai Bukti Pemohon -26);

Majelis Hakim Yang Terhormat dapat melihat dari bukti pendaftaran atas merk dagang di atas bahwa pemilik sebenarnya dari merk-merk dagang adalah Mead Johnson & Company yang berkedudukan di Amerika Serikat;

Halaman 22 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(23)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Tanpa adanya izin atas penggunaan merk-merk dagang di atas,

Pemohon tidak dapat melakukan kegiatan pemasaran dan promosi atas produk-produk tersebut di Indonesia;

Di samping itu, Pemohon juga telah menerima begitu banyak bantuan teknis sehubungan dengan pemanfaatan merk dagang tersebut dari Mead Johnson US, termasuk di dalamnya tentang bagaimana cara memperkenalkan merk dagang ke pasar Indonesia, membangun dan meningkatkan pangsa pasar serta mempertahankan pangsa pasar untuk merk dagang tertentu;

Dalam memperkenalkan produknya di Indonesia, Pemohon menggunakan strategi pemasaran merk yang disusun dan dikembangkan oleh Mead Johnson & Company, sehingga produk-produk yang dijual oleh Pemohon masih dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia;

Contohnya dalam hal ini adalah Sustagen. Produk ini pertama kali hadir di Indonesia pada sekitar awal tahun 1970-an. Berkat strategi pemasaran dan bantuan teknis pemasaran yang baik yang diterima dari Mead Johnson & Company, hingga sekarang produk susu Sustagen dikenal, diterima dan dipercaya oleh masyarakat sebagai produk susu yang bergizi tinggi bagi bayi dan anak-anak;

Salah satu contoh pedoman yang dikembangkan oleh Mead Jonson US untuk merk Sustagen (terlampir sebagai Bukti Pemohon - 27). Sebagaimana Hakim Agung Yang Terhormat dapat lihat bahwa di dalam pedoman merk Sustagen, bahwa Mead Johnson & Company

di Amerika Serikat telah mengembangkan standar manual untuk memberikan panduan spesifik, contoh dan alat bantu untuk mencapai tujuan pemasaran. Seperti dapat dilihat pada pedoman merk Sustagen, desain merk seperti warna, jenis huruf, simbol, tata letak dan lainnya diatur dengan baik untuk memelihara ekuitas merk Sustagen;

Merk lain yang menjadi salah satu merk yang dikenal di Indonesia adalah Enfa (contohnya Enfamil, Enfapro, Enfakid, dst). Sebagai contoh pedoman merk Enfa yang dikembangkan oleh Mead Jonson US (terlampir sebagai Bukti Pemohon - 28). Di dalam pedoman merk

Halaman 23 dari 29 halaman. Putusan Nomor 05/B/PK/PJK/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :