• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Kenya, 2013, p.18). Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Kenya, 2013, p.18). Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Di antara negara-negara di Afrika Timur, Kenya kehilangan hutan secara signifikan mulai tahun 1990an hingga 2010 (Ministry of Forestry and Wildlife of Kenya, 2013, p.18). Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), jumlah hutan di Kenya diperkirakan 6,1 % atau 3.467.000 hektar dari total luas wilayah Kenya (“Kenya Forest Information and Data”, n.d). Kenya dianggap sebagai negara dengan tutupan hutan yang rendah karena tingginya tingkat deforestasi (Trust, n.d, p.1).

Tahun 1990-2000 1990-2010

Perubahan Tutupan Hutan 12.600 ha/tahun 12.050 ha/tahun

Tingkat Deforestasi 0,34% 0,32%

Total 241.000 ha

Sumber : Kenya Forest Information and Data, n.d

Tabel 1.1 Perubahan Tutupan Hutan di Kenya

Perubahan tutupan hutan Kenya dari tahun 1990 sampai 2000 adalah sebesar 12.600 hektar per tahun dengan tingkat deforestasi 0,34 persen. Sedangkan dalam periode tahun 1990 sampai 2010, hutan Kenya berkurang 12.050 hektar per tahun atau sebesar 0,32 persen. Total perubahan tutupan hutan Kenya dari tahun 1990 sampai 2010 adalah 241.000 hektar. Perubahan tutupan hutan yang cukup besar dalam dua dekade di Kenya menjadi masalah yang perlu penanganan serius.

Penyebab utama deforestasi adalah ekspansi pertanian dan pesatnya pertumbuhan populasi. Rendahnya pengelolaan dan pengawasan di sektor kehutanan oleh pemerintah menjadi penyebab lainnya. Lahan hutan dibabat dan

(2)

terjadi penebangan hutan secara liar untuk pembangunan pemukiman (Ministry of Forestry and Wildlife of Kenya, 2013, p.18). Daerah tangkapan air yang paling penting di Kenya juga mengalami penebangan hutan seperti di Hutan Mau, Gunung Elgon dan Gunung Kenya.

Deforestasi dapat terjadi baik secara sengaja karena tutupan hutan yang beralih untuk pertanian dan pembangunan maupun karena tidak disengaja yakni adanya pengembalaan yang tidak terkendali. Rezim pemerintahan di Kenya juga berpengaruh terhadap permasalahan pada lingkungan hutan. Pada masa pemerintahan Presiden Daniel Arap Moi (1978-2002), deforestasi terjadi karena hutan dikonversi menjadi lahan pertanian, pemukiman penduduk dan kawasan komersil. Daniel Arap Moi memberikan hutan publik kepada para kroninya sebagai strategi mempertahankan kekuasaannya (Taylor, 2013, pp.183-184).

Deforestasi memberikan dampak kepada semua pihak termasuk perempuan pedesaan Kenya. Sekitar 78% dari populasi Kenya tinggal di pedesaan (The Sustainable Tropics Alliance, n.d, p.28) sehingga rumah tangga pedesaan Kenya yang masih tradisional menggantungkan sumber kayu bakar di hutan. Deforestasi yang terjadi mengakibatkan perempuan sulit untuk mendapatkan kayu bakar untuk memasak. Perempuan pedesaan Kenya memegang peranan dalam mencari kayu bakar dan air untuk memasak sehingga menjadi pihak yang paling terkena dampak deforestasi. Para perempuan harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan air karena kelangkaan kayu bakar di hutan.

Sebagai respon terhadap kelangkaan tersebut, Wangari Maathai, seorang aktivis lingkungan Kenya yang merupakan perempuan pertama di Afrika Tengah

(3)

dan Afrika Timur yang meraih gelar doktor melakukan gerakan penanaman pohon di tahun 1977 yang dikenal dengan The Green Belt Movement (GBM). Gerakan ini kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi yang beranggotakan mayoritas perempuan pedesaan. Fokus awalnya adalah penanaman pohon, kampanye penghentian terhadap kerusakan lingkungan di Kenya dan hak untuk hidup secara berkelanjutan bagi masyarakat (“Wangari Maathai, n.d, p.1).

Sebagai organisasi non pemerintah, GBM pada masa pemerintahan Presiden Daniel Arap Moi yang otoriter mengalami banyak tantangan. Salah satunya ketika advokasi kepada pemerintah tahun 1999 untuk menentang perampasan lahan di Hutan Karura dan pihak-pihak yang merusak hutan. Para aktivis GBM dihadang oleh para preman dan Wangari Maathai mengalami pemukulan (Maathai, 2006, p.52).

Setelah Daniel Arap Moi mangkat di tahun 2002, pergolakan internal pun terjadi menuju rezim yang lebih demokratis. Mwai Kibaki terpilih menjadi Presiden Kenya periode Desember 2002-2007. GBM mulai mendapat perhatian dengan terpilihnya Maathai menjadi Menteri Muda Lingkungan Hidup dari Januari 2003 hingga November 2005.

Hingga tahun 2014 dan saat ini, GBM terus melakukan upaya penyelamatan lingkungan dengan menanam pohon sebagai program utama. Organisasi ini semakin berkembang dan dikenal luas sebagai organisasi grassroots yang menggerakkan masyarakat dalam konservasi hutan dan memberdayakan masyarakat terutama perempuan dalam aktivitas untuk menambah pendapatan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

(4)

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana peranan The Green Belt Movement dalam mengatasi permasalahan deforestasi yang dialami Komunitas Perempuan Kenya berdasarkan perspektif Ekofeminisme Vandana Shiva dalam kurun waktu 2007-2014?”

1.3Batasan Masalah

Lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu The Green Belt Movement di Kenya. Kenya menjadi negara berdirinya organisasi ini yang menggerakkan penduduk lokal Kenya untuk melakukan gerakan pelestarian lingkungan melalui program-program dari GBM. Waktu penelitian akan mengambil jangka waktu dari tahun 2007 sampai dengan 2014. Pemilihan tempus selama 8 tahun berdasarkan rezim pemerintahan di Kenya pasca pemerintahan Daniel Arap Moi yaitu pemerintahan Mwai Kibaki. Walaupun organisasi ini awalnya dibentuk tahun 1977, banyak perubahan terjadi terkait kondisi sosial politik di Kenya. Melihat situasi politik dan pemerintahan di Kenya, pada tahun 2007 berlangsung pemilu presiden yang memenangkan Mwai Kibaki sebagai presiden dan tahun 2007 juga menjadi titik tolak transisi demokrasi di Kenya. Tahun 2010 konstitusi baru Kenya disahkan dan mempengaruhi perubahan sistem sosial politik di Kenya menjadi lebih demokratis. Tahun 2013 menjadi tahun terakhir Presiden Mwai Kibaki menjadi presiden dan tahun 2014 hingga sekarang GBM masih melakukan kegiatan penanaman pohon sebagai upaya konservasi hutan dan pemberdayaan masyarakat.

(5)

1.4Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan organisasi non pemerintah yaitu The Green Belt Movement dalam mengatasi permasalahan deforestasi yang dialami Komunitas Perempuan Kenya berdasarkan perspektif Ekofeminisme Vandana Shiva dalam kurun waktu 2007-2014. The Green Belt Movement sebagai sebuah organisasi non pemerintah yang mengerakkan masyarakat akar rumput (grassroots actors) terutama memberdayakan perempuan pedesaan di Kenya untuk upaya konservasi hutan dengan menanam pohon dalam kurun waktu tahun 2007 sampai 2014.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapat dari penulisan penelitian ini diantaranya :

a. Bagi para akademisi, agar dapat memberikan informasi atau gambaran dari peranan organisasi non pemerintah dalam mengatasi permasalahan deforestasi yang dialami Komunitas Perempuan melalui studi kasus The Green Belt Movement dalam pemberdayaan perempuan terhadap lingkungan di Kenya dengan kurun waktu tahun 2007 sampai 2014 serta konsep dan perspektif Ekofeminisme Vandana Shiva yang digunakan dalam mengkaji permasalahan tersebut.

b. Bagi pemerintah, khususnya pemerintah Indonesia dengan melihat studi kasus The Green Belt Movement dalam pemberdayaan perempuan terhadap lingkungan di Kenya selama kurun waktu tahun 2007 sampai 2014 akan bermanfaat sebagai informasi dan pembelajaran bagaimana kaitan antara gerakan perempuan dan lingkungan yang mempengaruhi

(6)

kebijakan politik dan pemerintahan negara dalam proses pengambilan keputusan.

c. Bagi masyarakat umum, agar dapat menambah wawasan dan informasi mengenai bagaimana peran perempuan dalam ranah gerakan sosial yang peduli akan lingkungan dan pentingnya pelestarian lingkungan alam yang telah rusak sebagai akibat dari ulah manusia.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibutuhkan untuk memudahkan peneliti dalam memahami alur topik penelitian yang dibahas. Sistematika penulisan penelitian ini akan terdiri dari lima bab yang memiliki hubungan saling terkait sehingga hasil penelitian menjadi lebih sistematis. Adapun sistematika penulisan yaitu :

BAB I : membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : membahas mengenai tinjauan pustaka yang terdiri dari kajian pustaka dan kerangka konseptual.

BAB III : membahas mengenai metodologi penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, sumber data, unit analisis, teknik penentuan informan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik analisis data dan keterbatasan penelitian.

BAB IV : membahas gambaran umum subyek atau obyek penelitian yang meliputi wilayah hutan di Kenya, perubahan wilayah hutan di Kenya dan gambaran umum mengenai The Green Belt Movement. Di bagian berikutnya dibahas mengenai hasil temuan dan analisa yang meliputi peranan The Green Belt

(7)

Movement dalam mengatasi permasalahan deforestasi yang dialami Komunitas Perempuan Kenya berdasarkan perspektif Ekofeminisme Vandana Shiva dalam kurun waktu 2007-2014 dan dampak Pemberdayaan yang dilakukan The Green Belt Movement terhadap Perempuan Kenya dalam perspektif Ekofeminisme.

BAB V : sebagai bagian penutup yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran.

Referensi

Dokumen terkait