KATA PENGANTAR
Buku Rumus-rumus Fisika SMA ini ditulis bukan bermaksud untuk dihapal oleh para siswa
namun bertujuan untuk digunakan sebagai buku pendamping dalam memecahkan soal-soal fisika.
Rumus-rumus fisika merupakan bahasa sains yang konsisten dalam menjelaskan fenomena alam
dan sebagai bahasa universal yang berlaku dalam dunia ilmiah, untuk itu pemahaman pada
konsep, asas, dan prinsip fisika merupakan hal pertama yang harus dimengerti oleh para siswa,
bukan dengan cara menghapal rumus-rumus.
Dalam memecahkan soal-soal fisika, buku ini dapat digunakan untuk memberi gambaran global
dari rumus-rumus fisika dan dapat digunakan sebagai pendamping dalam melatih kemampuan
memecahkan soal-soal fisika.
Dengan selesai penulisan buku ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu penyelesaian buku ini. Penulis menyadari bahwa di dalam buku ini masihjauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan buku
ini
DAFTAR ISI
Surat Keterangan
1
Kata Pengantar
2
Daftar Isi
3
1.
Besaran dan Satuan 4
2.
Gerak Lurus
9
3.
Hukum Newton
12
4.
Memadu Gerak
14
5.
Gerak Rotasi
16
6.
Gravitasi
20
7.
Usaha-Energi
21
8.
Momentum-Impuls-Tumbukan
22
9.
Elastisitas
23
10.
Fluida
24
11.
Gelombang Bunyi
26
12.
Suhu dan Kalor
30
13.
Listrik Stattis
33
14.
Listrik Dinamis
37
15.
Medan Magnet
43
16.
Imbas Elektromagnetik
47
17.
Optika Geometri
49
18.
Alat-alat Optik
53
19.
Arus Bolak-balik
55
20.
Perkembangan Teori Atom
58
21.
Radioaktivitas
61
22.
Kesetimbangan Benda Tegar
64
23.
Teori Kinetik Gas
69
24.
Hukum Termodinamika
71
25.
Gelombang Elektromagnetik
75
26.
Optika Fisis
77
27.
Relativitas
80
BESARAN DAN SATUAN
Ada 7 macam besaran dasar berdimensi:
Besaran
Satuan (SI)
Dimensi
1. Panjang m [ L ]
2. Massa kg [ M ]
3. Waktu detik [ T ]
4. Suhu Mutlak °K [ ]
5. Intensitas Cahaya Cd [ J ]
6. Kuat Arus Ampere [ I ]
7. Jumlah Zat mol [ N ]
2 macam besaran tambahan tak berdimensi:
a. Sudut datar ----> satuan : radian b. Sudut ruang ----> satuan : steradian
Satuan SI Satuan Metrik
MKS CGS
Dimensi ----> Primer ----> dan dimensi Sekunder ---> jabaran Guna dimensi untuk : Checking persamaan Fisika.
Dimensi dicari melalui ----> Rumus atau Satuan Metrik
Contoh :
(daya)
1 -2 --2
2
LT M LT T
T M L
-3 2 -3
2
T
ML
T
ML
T L M
P
v
F
t
W
No Besaran Rumus Sat. Metrik (SI) Dimensi
1 Kecepatan
t
s
v
dt
m
1 LT
2 Percepatan
t
v
a
2dt
m
2 LT
3 Gaya
F
m
a
N
dt
m
kg
2 2
MLT
4 Usaha
W
F
s
Joule
2 2dt
m
kg
2 2 T
ML
5 Daya
t
W
P
3
Watt
2
dt
m
kg
3 2 T
ML
6 Tekanan
A
F
P
2
atm
dt
m
kg
2 1 T
ML
7 Energi kinetik
2
2
1
mv
Ek
Joule
2 2
dt
m
kg
2 2 T
ML
8 Energi potensial
Ep
m
g
h
Joule
2 2dt
m
kg
2 2 T
ML
9 Momentum
M
m
v
dt
m
kg
1
MLT
10 Impuls
i
F
t
dt
m
kg
1
MLT
11 Massa Jenis
V
m
3m
kg
3 ML
12 Berat Jenis s =
V
w
2 2dt
m
kg
2 2 T
ML
13 Konst. pegas
x
F
k
2dt
kg
2
MT
14 Konst. grafitasi G = 2
2
m
Fr
2 3kgdt
m
2 3 1
L
T
M
15 Konst. gas R =
n
T
V
P
.
.
K
mol
dt
kgm
o 2 2 1 1 2 2
N
T
ML
16 Gravitasi
m
F
g
2dt
m
2
LT
17 Momen Inersia
I
mR
22
m
kg
2ANGKA PENTING
Angka Penting : Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan alat ukur, terdiri dari : Angka pasti
Angka taksiran
Aturan :
a. Penjumlahan / Pengurangan
Ditulis berdasarkan desimal paling sedikit Contoh :
2,7481 8,41 --- + 11,1581 ---> 11,16
b. Perkalian / Pembagian
Ditulis berdasarkan angka penting paling sedikit Contoh :
4,756 110 ---
0000 4756 4756--- + 523,160 ----> 520
BESARAN VEKTOR
Besaran Skalar : adalah besaran yang hanya ditentukan oleh besarnya atau nilainya saja. Contoh : panjang, massa, waktu, kelajuan, dan sebagainya.
Besaran Vektor : adalah Besaran yang selain ditentukan oleh besarnya atau nilainya, juga ditentukan oleh arahnya.
Contoh : kecepatan, percepatan, gaya dan sebagainya.
Sifat-sifat vektor
1.
A
+
B
=
B
+
A
Sifat komutatif.
2.
A
+ (
B
+
C
) = (
A
+
B
) +
C
Sifat assosiatif.
3. a (
A
+
B
) = a
A
+ a
B
4. /
A
/ + /
B
/
/A
+
B
/
RESULTAN DUA VEKTOR
= sudut antara A dan B
/
R
/ =
/
A
/
/
B
/
/
A
/ / / cos
B
2 2
2
arahnya :
/ /
sin
/
/
sin
/ /
sin
R
A
B
1
2Vektor sudut vx = v cos
vy = v sin
V1
1 vx = v cos
1 vy = v sin
1V2
2 vx = v cos
2 vy = v sin
2V3
3 vx = v cos
3 vy = v sin
3Resultan /
v
R / =(
v
X)
(
v
Y)
2 2
Arah resultan : tg =
v
v
Y
X
Uraian Vektor Pada Sistem Koordinat Ruang ( x, y, z )
,
,
= masing-masing sudut antara vektor Adengan sumbu-sumbu x, y dan z
A
=A
x +A
y +A
z atauA
= /A
x /i
+ /A
y /
j
+ /A
z /k
/A
x / =A
cos
/A
y / =A
cos
/A
z / =A
cos
Besaran vektor A
A
/
A
X/
/
A
Y/
/
A
Z/
2 2 2
GERAK LURUS
Vt = kecepatan waktu t detik S = jarak yang ditempuh Vo = kecepatan awal a = percepatan
v0=0
h
GJB
vo=0
v? h1 h2
Variasi GLB
P Q
A B
A · B
P Q SP
A B SQ
Gerak Lurus Berubah Beraturan
1
v
=1 2
1 2
t
t
r
r
t
r
v =
2
gh
t =
2
h
/
g
v =
2
g
(
h
1
h
2
)
SP + SQ = AB
SA = SB
2. 1 2 1 2
t
t
v
v
t
v
a
3.dt
dr
v
xx
;dt
dr
v
y
y ;dt
dr
v
z z
2 2 2 z y xv
v
v
v
4.
dt
dv
a
x
x ;dt
dv
a
y
y ;dt
dv
a
z
z2 2 2
z y
x
a
a
a
a
5 Diketahui a(t)
t
dt
a
v
t
t
21
6.
2 1 t t
dt
vt
r
h = tinggi
Vy = kecepatan terhadap sumbu y h1 = ketinggian pertama Vz = kecepatan terhadap sumbu z
h2 = ketinggian kedua |
v
| = kecepatan rata-rata mutlak SP = jarak yanμ ditempuh P |ā| = percepatan rata-rata mutlak SQ = jarak yang ditempuh Q ax = percepatan terhadap sumbu x AB = panjang lintasan ay = percepatan terhadap sumbu y SA = jarak yang ditempuh A az = percepatan terhadap sumbu z SB = jarak yang ditempuh B a(t) = a fungsi tv
= kecepatan rata-rata V(t) = V fungsi t ∆r = peruηahan posisi V1 = kecepatan 1∆t = selanμ waktu Vx = keθepatan terhadap sumηu x r2 = posisi akhir
r1 = posisi awal
HUKUM NEWTON
1. Hk. I Newton Hk. kelembaman (inersia) :
Untuk benda diam dan GLB
F
0
Fx
0
dan
Fy
0
2. Hk. II Newton
a
0
GLBB
F
m
a
1
2
m
1
m
2
a
1
T
m
1
a
3. Hukum III Newton F aksi = - F reaksi
Aksi – reaksi tidak mungkin terjadi pada 1 benda
4. Gaya gesek (fg) : * Gaya gesek statis (fs) diam fs = N.s * Gaya gesek kinetik (fk) bergerak fk = N. k Arah selalu berlawanan dengan gerak benda/sistem.
N = w N = w – F sin N = w + Fsin N = w cos . Statika
ΣFx = resultan μaya sumηu x ΣFy = resultan μaya sumηu y ΣF = resultan μaya
m = massa a = percepatan N = gaya normal
s= koefisien gesek statis k= koeλisien μesek kinetik W = gaya berat
MEMADU GERAK
1.
v
R
v
12
v
22
2
v
1v
2cos
GLB – GLB
Vr = kecepatan resultan
2. Gerak Peluru V1 = kecepatan benda 1
Pada sumbu x GLB V2 = kecepatan benda 2
Pada sumbu y GVA – GVB Y
Vo
X
cos
0
v
v
x
t
v
x
0cos
t
g
v
v
y
0sin
2 0
2
1
sin
t
gt
v
y
X = jarak yang ditempuh benda pada sb x Y = jearak yang ditempuh benda pada sb y Vx = kecepatan di sumbu x
Syarat : V0 = kecepatan awal Mencapai titik tertinggi
v
y
0
t = waktu Jarak tembak maxy
0
g = percepatan gravitasiH
h
y
Koordinat titik puncak
g
v
g
v
2
sin
,
2
2
sin
02 22
Jarak tembak max tidak berlaku jika dilempar dari puncak ; jadi harus pakai
h
y
g
v
x
sin
2
2
0
GERAK ROTASI
G E R A K T R A NS L A S I G E R A K R O T A S I Hu b u n g a n n y a
Pergeseran linier s Pergeseran sudut s = . R
Kecepatan linier v Kecepatan sudut v = . R
Percepatan Linier a Percepatan sudut a = . R
Kelembaman translasi ( massa )
m Kelembaman rotasi (momen inersia)
I I = m.r2
Gaya F = m . a Torsi (momen gaya) = I . = F . R
Energi kinetik Energi kinetik -
Daya P = F . v Daya P = . -
Momentum linier p = m.v Momentum anguler L = I . -
PADA GERAK DENGAN PERCEPATAN TETAP
GERAK TRANSLASI (ARAH TETAP) GERAK ROTASI (SUMBU TETAP)
vt = v0 + at t = 0 + .t
s = vot + 1/2 a t 2 = 0t + 1/2 .t 2
vt 2 = v0 2 + 2 a.s t2 = 02 + 2.
s = jarak a = percepatan v = kecepatan R = jari–jari lintasan
vt = kecepatan dalam waktu t detik vo = kecepatan awal
t = waktu yang ditempuh
Besarnya sudut :
=
S
R
radianS = panjang busur R = jari-jari
f . T = 1 f =
1
T
=
2
T
atau = 2 fv = R
v1 = v2, tetapi 1
2v1 = v2, tetapi 1
2A = R = C , tetapi v A
v B
v Car =
v
R
2
Fr = m .
v
R
2
atau Fr = m 2 R
1. Gerak benda di luar dinding melingkar
N = m . g - m .
v
R
2
N = m . g cos - m .
v
R
2
2. Gerak benda di dalam dinding melingkar.
N = m . g + m .
v
R
2
N = m . g cos + m .
v
R
2
N = m .
v
R
2
- m . g cos N = m .
v
R
2
3. Benda dihubungkan dengan tali diputar vertikal
T = m . g + m
v
R
2
T = m m . g cos + m
v
R
2
T = m .
v
R
2
- m . g cos T = m .
v
R
2
- m . g
4. Benda dihubungkan dengan tali diputar mendatar (ayunan centrifugal/konis) T cos = m . g
T sin = m .
v
R
2
Periodenya T = 2
L
g
cos
Keterangan : R adalah jari-jari lingkaran
5. Gerak benda pada sebuah tikungan berbentuk lingkaran mendatar.
N . k = m .
v
R
2
GRAVITASI
1. 2
2 1
R
m
m
G
F
VEKTOR2. 2
R
M
G
g
VEKTOR
kuat medan gravitasi
3.
R
M
G
v
massa bumi4.
R
M
m
G
Ep
5.
w
AB
m
v
B
v
A
6. HKE
2 1 2
1 2 2
1
1
2
R R GM v
v
F = gaya tarik-menarik antara kedua benda G = konstanta gravitasi
m1 = massa benda 1 m2 = massa benda 2 R = jarak antara dua benda Ep = energi potensial gravitasi V = potensial gravitasi WA
B = Usaha dari benda A ke B
USAHA
–
ENERGI
_______________
1.
w
F
cos
s
= sudut kemirinμan
v = kecepatan
2. 2
2
1
mv
Ek
W = usahaF = Gaya
3.
Ep
m
g
h
s = jarakEp = Energi Potenaial
4.
Emek
Ep
Ek
m = massa bendag = percepatan gravitasi
5.
w
Ek
h = ketinggian benda dari tanah Ek = Energi Kinetik6.
w
Ep
Em = Energi mekanik7. HKE (Hukum Kekekalan Energi)
MOMENTUM
–
IMPULS
–
TUMBUKAN
1.
P
m
v
P = momentum m = massa 2. I
F
t v = kecepatan I = impuls3.
v
v
0
m
I
P
I
t
F= gaya∆t = selanμ waktu 4. HKM (Hukum Kekekalan Momentum)
A B B A A B BA
v
m
v
m
v
m
v
m
arah kekanan v + arah ke kiri v -
5. B A B A
v
v
v
v
e
e = koefisien tumbukan (kelentingan)6. Jenis tumbukan
Lenting sempurna
e
1
HKEHKM
Lenting sebagian
0
e
1
HKM Tidak lenting sama sekalie
0
HKM7.
0 1
h
h
e
h1 = tinggi benda setelah pemantulan 1ho = tinggi benda mula-mula
8.
h
nh
e
n2 0
hn = tinggi benda setelah pemantulan ke n9. E hilang = Ek sebelum tumbukan – Ek sesudah tumbukan =
2 22 2
2
1
2
1
2
1
2
1
B B A A B B AA
v
m
v
m
v
m
v
ELASTISITAS
1.
F
k
x
F = gaya pegas k = konstanta pegas2. 2
2
1
x
k
Ep
luasan grafik F – x x = simpangan pada pegasEp = energi potensial
3
kp
k
1
k
2
susunan paralel4.
2 1
1
1
1
k
k
ks
susunan seri
5.
L
A
L
F
P
E
0
F = gaya tekan/tarik Lo = panjang mula-mula
A = luas penampang yang tegak lurus gaya F ∆L = pertambahan panjang
E = modulus elastisitas P = stress
FLUIDA
Fluida Tak Bergerak
1.
v
m
zat
2. air relativ
zair
pada 40C3
1
cm
gr
=
1000
3
m
kg
3. B A B A c v v m m
4.
h
z
g
h
5. A h g A Fh z h
6. Archimedes : Gaya ke atas yang bekerja pada benda besarnya sama dengan jumlah (berat) zat cair yang dipindahkan.
h
g
F
A
z
7. Terapung
w
F
A (jika dibenamkan seluruhnya)
F
Aw
dalam keadaan setimbang2
v
g
v
g
b zbd
1 2
2
1 w gv v
w
z
9. Tenggelam
A
F
w
A s
w
F
w
10. Kohesi (K) Adhesi (A)
11. Kapilaritas
r
g
y
z
cos
2
F l u i d a B e r g e r a k
1.
A
v
t
Q
Vol
2. Kontinuitas
2 2 1 1
v
A
v
A
3. Bernoully
2 2 2
2 2 1 1
1
2
1
2
1
v
h
g
P
v
h
g
P
ρ = massa jenis m = massa v = volume
A = luas permukaan P = daya tekan
h = ketinggian dari dasar Q = Debit
GELOMBANG BUNYI
GETARAN
k = konstanta pegas 1. W = berat
x = perubahan panjang pegas F = gaya pegas
y = simpangan 2. Ep = energi potensial Emek = energi mekanik Ek = energi kinetik 3. A = amplitudo t = waktu
ω = keθepatan sudut 4. m = massa
T = periode k = konstanta 5. l = panjang f = frekuensi
= panjanμ μelomηanμ Lo = panjang mula-mula
. ∆L = peruηahan panjanμ n = nada dasar ke
Vp = kecepatan pendengar Vs = kecepatan sumber bunyi 7. P = daya
R1= jarak 1 R2 = jarak 2 8.
9.
10.
11.
k =
x
w
F = - k .
Ep = ½ ky2
E mek = ½ kA2
Ek = ½ k (A2-y2)
v =
m
y
A
k
(
2
2)
2
m
k
t
A
y
sin
t
A
v
cos
t
A
a
2sin
t
A
m
12.
13.
14.
2
k
m
T
15.
2
g
l
T
GELOMBANG
mekanik refleksi gel. gel.
refraksi longitudinal transversal interferensi 1
Gelombang defraksi
polarisasi
1
gel.1.
v
f
v
t
2.
3.
t
A
m
Ep
12
2 2sin
2
2 2 2
1
m
A
mek
E
elektromagnetik
y gel. berjalan =
x
T
t
A
sin
2
y diam ujung bebas
0
L
T
t
x
A
y
2
cos
2
sin
2
5.
6.
7.
BUNYI Gelombang Longitudinal
nada > 20.000 Hz (Ultrasonic) keras / lemah tergantung Amplitudo Bunyi 20 Hz – 20.000 Hz
desah < 20 Hz (Infrasonic) tinggi/rendah tergantung Frekuensi
Nada Sumber
1. Dawai
ND
2 Pipa Organa Terbuka
3. Pipa Organa Tertutup
m
F
v
E
v
E = modulus young
L
A
Lo
F
P
E
Lo L A F
strain
stress
v gas =
P
=M
RT
Cv
Cp
n
s
P
n
2
1
v
L
n
f
n2
1
n
s
P
n
1
2
v
L
n
f
n2
1
n
s
Sifat :
Refleksi (Pemantulan)
Resonansi
Interferensi (Percobaan Quinke)
memperkuat
n
memperlemah
2
1
1
n
Pelayangan (beat) Beat
Efek Doppler
Intensitas
Taraf Intensitas (TI)
2 m Watt 12 0
10
I
2
.tpp
v
d
ln =
4
1
1
2
n
f layangan =
f
A
f
BSUHU DAN KALOR
01. C R F K
Td 100 80 212 373 C = celcius R = reamur Air 100 80 180 100 F = fahrenheit tk= suhu dalam kelvin T b 0 0 3 2 2 7 3 tc = s u h u d a l a m c e l s i u s
C : R : F = 5 : 4 : 9 tK = tC + 273
Contoh :
X Y
Tb -20 40 X : Y = 150 : 200 = 3 : 4 60 ?
3
4
+ + = …
Td 130 240
enaikkan suhu Sifat termal zat diberi kalor (panas) perubahan dimensi (ukuran) ubahan wujud
02. Muai panjanμ. ∆L = peruηahan panjanμ = koefisien muai panjang L = Lo . . t Lo = panjang mula-mula
Ao = luas mula-mula 03. Muai luas. = koeλisien muai luas ∆V = peruηahan volume A = Ao . . t Vo = Volume awal = koeλisien muai volume At = Ao ( 1 + . t )
04. Muai volume.
V = Vo . . t
Vt = Vo ( 1 + . . t )
= 2
} = Q = kalor = 3
m = massa c= kalor jenis
t = perubahan suhu 05. Q = m . c. t H = perambatan suhu
06. Q = H . t
07. H = m . c
08. Azas Black. T1 Qdilepas
Qdilepas = Qditerima
TA
Qditerima
T2
09. Kalaor laten Kalor lebur Q = m . Kl Kl = kalor lebur
09. Perambatan kalor.
Konduksi Konveksi Radiasi
H =
l
t
A
k
.
.
H = h . A . t I = e . . T4
A = luas
k = koefisien konduksi l = panjang bahan h = koefisien konfeksi I = Intensitas
LISTRIK STATIS
01.
F
k
q q
r
1 22
.
k
1
4
0= 9 x 10 9 Nm2/Coulomb2 0 = 8,85 x 10-12 Coulomb2 / newton m2 F = gayaQ1 = muatan benda 1 Q2 = muatan benda 2 R = jarak benda 1 ke 2
02.
E
k
Q
r
2E = kuat medan listrik Q = muatan
R = jarak
03. Kuat medan listrik oleh bola konduktor.
ER=0.
Es
k
Q
R
2Ep
k
Q
r
2Er = kuat medan listrik di pusat bola Es = kuat medan listrik di kulit bola
04. Kuat medan disekitar pelat bermuatan.
Ep
2
0
Q
A
E
P
0σ = rapat muatan Ep = kuat medan listrik
05.
W
k Q q
r
r
A B
B A
. . .(
)
1
1
Bila rA = maka
W
k
Q q
r
B
B
~
.
.
---E
k
Q q
r
Q q
r
P
B B
.
1
.
.
4
006.
V
k
Q
r
Q
r
B B
1
4
0.
V = potensial listrik
07.
W
AB
q v
.(
B
v
A)
0 8 . P O T E N SI A L B O L A K O ND U KT O R .
VO = VK =
V
k
q
R
L
.
V
k
q
r
M
.
09. HUKUM KEKEKALAN ENERGI
v
v
q
m
V
V
2 2
1 2
1 2
2
(
)
10.
C
Q
V
11.
C
A
d
0 0
C
A
d
.
12.
C
C K
K
A
d
0
0
.
13.
W
Q
C
1 22
atau
W
1CV
2 2
14. Susunan Seri.
- Q
s = Q1 = Q2 = Q3 = ...
- Vs = Vab + Vbc + Vcd + Vde +...
-
1
1
1
1
1 2 3
C
S
C
C
C
...
15. Susunan paralel.
- V
16.
2 1
2 2 2 1
C
C
V
C
V
C
V
GAB
C = kapasitas listrik Q = muatan listrik V = beda potensial
Co = Kapasitas dalam hampa udara d = jarak antar dua keeping A = luas masing-masing keeping K = konstanta dielektrik
LISTRIK DINAMIS
01.
i
dq
dt
02. dq = n.e.V.A.dt
i
dq
dt
n e V A
. . .
Ampere03.
J
i
A
n e V
. .
Ampere/m204.
i
V
V
R
A B
05. R =
.
L
A
06. R(t) = R0 ( 1 + .t )
i = i1 = i2 = i3 = .... VS = Vab + Vbc + Vcd + ... RS = R1 + R2 + R3 + ...
08. SUSUNAN PARALEL
VP = V1 = V2 = V3 i + i1 + i2 + i3 + ....
1
1
1
1
1 2 3
R
pR
R
R
...
09. Jembatan wheatstone
RX . R2 = R1 . R3
R
R R
R
X
1 32
.
1 0 . A M P E R E M E T E R / G A L V A NO M E T E R .
R
n
R
S
d
1
11. V O L T M E T E R .
R v = ( n - 1 ) R d O h m
.
W = i 2 . r . t = V . i . t Joule
1 kalori = 4,2 Joule dan 1 Joule = 0,24 Kalori W = 0,24 i 2 . r . t = 0,24 V . i . t Kalori
13.
P
dw
dt
V i
.
(Volt -Ampere = Watt)14. Elemen PRIMER : elemen ini membutuhkan pergantian bahan pereaksi setelah sejumlah energi dibebaskan melalui rangkaian luar misalnya : Baterai.
Pada elemen ini sering terjadi peristiwa polarisasi yaitu tertutupnya elektroda-elektroda sebuah elemen karena hasil reaksi kimia yang mengendap pada elektroda-elektroda tersebut.
Untuk menghilangkan proses polarisasi itu ditambahkan suatu zat depolarisator. Berdasarkan ada/tidaknya depolarisator, dibedakan dua macam elemen primer :
1. Elemen yang tidak tetap; elemen yang tidak mempunyai depolarisator, misalnya pada elemen Volta.
2. Elemen tetap; elemen yang mempunyai depolarisator. misalnya : pada elemen Daniel, Leclanche, Weston, dll.
b) Elemen SEKUNDER : Elemen ini dapat memperbaharui bahan pereaksinya setelah dialiri arus dari sumber lain, yang arahnya berlawanan dengan arus yang dihasilkan, misalnya : Accu.
Misalkan : Akumulator timbal asam sulfat. Pada elemen ini sebagai Katoda adalah Pb; sedangkan sebagai Anode dipakai PbO2 dengan memakai elektrolit H2SO4.
c) Elemen BAHAN BAKAR : adalah elemen elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia bahan bakar yang diberikan secara kontinue menjadi energi listrik.
15. =
dW
dq
( Joule/Coulomb = Volt )
16.
i
R
r
17. disusun secara seri
i
n
n r
R
.
.
18. disusun secara paralel
i
r
m
R
19. Susunan seri - paralel
i
n
n
m
r
R
.
.
2 0 . T E G A N G A N J E P I T
K = i . R
21. Hukum Kirchhoff I ( Hukum titik cabang ) i = 0
i1 + i2 + i3 = i4 + i5
22. Hukum Kirchoff II ( Hukum rangkaian tertutup itu )
+
i.R = 0E : negatif
E : positif
arah arus berlawanan dengan arah loop diberi tanda negatif.
n = jumlah eleθtron per satuan volume = GGL
e = muatan electron n = jumlah rangkaian seri A = luas penampang kawat m = jumlah rangkaian paralel V = beda potensial Rd = hambatan dalam
MEDAN MAGNET
01. r
002.
B
A
03.
H
B
04.
B
H
r
.
o H
.
05. Benda magnetik : nilai permeabilitas relatif lebih kecil dari satu. Contoh : Bismuth, tembaga, emas, antimon, kaca flinta.
Benda paramagnetik : nilai permeabilitas relatif lebih besar dari pada satu.
Contoh : Aluminium, platina, oksigen, sulfat tembaga dan banyak lagi garam-garam logam adalah zat
paramagnetik.
Benda feromagnetik : nilai permeabilitas relatif sampai beberapa ribu.
Contoh : Besi, baja, nikel, cobalt dan campuran logam tertentu ( almico )
06. Rumus Biot Savart.
dB = 0
4
2sin
.
r
d
I
k = 0
4
= 10-7Weber
A m
.
07. Induksi magnetik di sekitar arus lurus
B = 0
2
.
I
a
.
H =
B
=B
r
.
0
=
I
a
08. Induksi Induksi magnetik pada jarak x dari pusat arus lingkaran.
B = 0
2
.
a I N
r
. .
. sin
2
1 atau B = 02
.
a
I N
r
2
3
. .
09. Induksi magnetik di pusat lingkaran.
B = 0
2
.I N
a
.
1 0 . S ol e n o i d e
Induksi magnetik di tengah-tengah solenoide :
B
n I
0
Bila p tepat di ujung-ujung solenoide
B
0n I
2
1 1 . T or o i d a
B
n
I
n =
N
R
2
12. Gaya LorentzF = B I
sin F = B.q.v sin 13.
Besar gaya Lorentz tiap satuan panjang
F
I
I
a
P Q
02
lintasan berupa : PARABOLA.
percepatan :
a
q E
m
.
Usaha : W = F . d = q . E .d Usaha = perubahan energi kin Ek = q . E .d
12 2 2 1
2 1 2
mv
mv
q E d
. .
15. Lintasan partikel jika v tegak lurus E.
t
v
d
at
q E
m
v
X
1
2
2 1 2
2
2
.
.
.
Kecepatan pada saat meninggalkan medan listrik.
v
v
X2
v
Y2
v
a t
q E
m
v
Y
X
.
.
.
Arah kecepatan dengan bidang horisontal :
tg
v
v
Y
X
1 6 . G e r a k P a r ti k e l B e r m u a ta n D a l a m M e d a n M a g n e t
Lintasan partikel bermuatan dalam medan magnet berupa LINGKARAN.
17. Momen koppel yang timbul pada kawat persegi dalam medan magnet = B.i.A.N.Sin
r = permeaηilitas relative a = jari–jari lingkaran = permeaηilitas zat r = jarak
B = induksi magnet I = kuat arus ф = Fluks N = ηanyak lilitan H = kuat medan magnet l = panjang kawat A = luas bidang yang ditembus F = gaya Lorentz q = muatan listrik v = kecepatan partikel
IMBAS ELEKTROMAGNETIK
Perubahan fluks : Eind = -N
dt
d
Perubahan arus : Eind = -L
dt
di
GGL IMBAS Induktansi timbal balik : Eind1 = -M 1 1
dt
di
, Eind2 = -M 2 2
dt
di
Ka w a t m e m o t on g g a r i s g a y a : Ei n d = B . l . v s i n
Kumparan berputar : Eind = N.B.A. sin t
L = N
i
L =
A
N
o 2
I N D U K T A NS I D I R I
M = N2 1
1
i
, M = N1 2
2
i
M =
A
N
N
o 1 2
(Induktansi Ruhmkorff)
Ideal : Np : Ns = Is : Ip T R A N SF O R M A T O R Np : N s = E p : E s
Tidak ideal : Ps = Pp
Eind = GGL induksi N = banyak lilitan B = induksi magnet
A = luas bidang permukaan/kumparan = λluks maμnet
l = panjang solenoida
Pp = Daya pada kumparan primer Ps = daya pada kumparan sekunder Ep = tegangan pada kumparan primer Es = tegangan pada kumparan sekunder ω = keθepatan sudut
OPTIKA GEOMETRI
Plato dan Euclides : adanya sinar-sinar penglihat.
Teori melihat benda Aristoteles : Menentang sinar-sinar penglihat. Al Hasan : Pancaran atau pantulan benda
Sir Isaak Ne wton : Teori Emis i “Sumbe r cahaya
m e n y a l u r k a n P a r t i k e l y a n g k e c i l d a n r i n g a n b e r k e c e p a t a n t i n g g i .
C h r i s t i a n H u y g e n s : T e o r i E t e r a l a m : c a h a y a p a d a d a s a r n y a
S a m a d e n g a n b u n y i , m e r a m b a t m e m e r l u k a n m e d i u m .
T h o m a s Y o u n g d a n A u g u s t i n e F r e s n e l l : C a h a y a d a p a t l e n t u r d a n b e r i n t e r f e r e n s i
J e a n Le o n F o uc a ul t : C e p a t r a mb a t c a h a ya d i z a t c a i r l e b i h ke c i l d a r i p a d a d i ud a r a .
TEORI CAHAYA James Clerk Maxwell : Cahaya gelombang elektromagnetik. Heinrich Rudolph Hertz : Cahaya geloimbang transversal karena Mengalami polarisasi.
Pieter Zeeman : Cahaya dapat dipengaruhi medan magnet yang kuat.
Johannes Stark : Cahaya dapat dipengaruhi medan listrik yang kuat.
Michelson dan Morley : Eter alam tidak ada.
Max Karl Ernest Ludwig Planck : Teori kwantum cahaya.
Albert Einstein : Teori dualisme cahaya. Cahaya se- bagai partikel dan bersifat gelombang
Merupakan gelombang elektromagnetik.
Tidak memerlukan medium dalam perambatannya
Merambat dalam garis lurus
S I F A T C A H A Y A K e c e p a t a n t e r b e s a r d i d a l a m v a k u m 3 . 1 08 m / s Kecepatan dalam medium lebih kecil dari kecepatan di vakum.
Kecepatan di dalam vakum adalah absolut tidak tergan- tung pada pengamat.
PEMANTULAN CAHAYA.
01.
1
1
1
's
s
f
02. M =
-s
s
' = /h
h
' /03. Cermin datar : R = sifat bayangan : maya, sama besar, tegak
n =
360
- 1
04. cermin gabungan d = s1’ + s2
Mtotal = M1.M2
Cermin cekung : R = positif Mengenal 4 ruang
Sifat bayangan : benda di Ruang I : Maya, tegak, diperbesar Benda di Ruang II : Nyata, terbalik, diperbesar Benda di Ruang III: Nyata, terbalik, diperkecil
Cermin cembung : R = negatif sifat bayangan : Maya, tegak, diperkecil
PEMBIASAN/REFRAKSI.
01. Indeks bias nbenda =
m u m
v
c
nbenda > 1n relatif medium 1 thdp medium 2 n12 =
1 2 1 2 2 1
v
v
n
n
02. benda bening datar n sin i = n’ sin r
03. kaca plan paralel (1) n sin i = n’ sin r (cari r)
(2) t =
sin(
)
cos
r
i
r
d
04. Prisma (deviasi) umum (1) n sin i1= n’ sin r1 (cari r1)
(2) = r1 + i2 (cari i2)
(3) n’ sin i2 = n sin r2 (cari r2)
(4) = i1 + r2 -
minimum syarat : i1 = r2
> 10o sin ½ (min + ) =
> = 10o min =
(
1
)
'
n
n
05. Permukaan lengkung.
R
n
n
s
n
s
n
' ' '06. Lensa tebal (1)
1 ' ' 1 ' 1
R
n
n
s
n
s
n
(2)d = s1’ + s2
(3) 2 ' ' 2 2 '
R
n
n
s
n
s
n
07. Lensa tipis
1
(
1
)(
1
1
)
2 1 '
R
R
n
n
f
2 1
1
1
1
f
f
f
g a b
Cembung-cembung (bikonveks) R1 +, R2 -
Datar – cembung R1 = tak hingga , R2 -
Cekung – cembung R1 - , R2 -
Cekung-cekung (bikonkaaf) R1 - , R2 +
Datar – cekung R1 = tak hingga , R2 +
Cembung – cekung R1 + , R2 +
9. Lensa Konvergen (positif)
1
1
1
's
s
f
divergen (negatif) M =
-s
s
' = /h
h
' /10. Kekuatan lensa (P) P =
f
1
P =
f
100
f dalam cm
n = banyak bayangan (untuk cermin datar) R = jari-jari bidang lengkung
θ = sudut antara ke dua cermin λ = panjang gelombang cahaya
f = jarak focus P = kekuatan lensa s = jarak benda ke cermin
s’ = jarak bayangan ke cermin
h = tinggi benda h’ = tinggi bayangan m = perbesaran bayangan i = sudut datang
r = sudut pantul n = indeks bias d = tebal kaca t = pergeseran sinar
ALAT-ALAT OPTIK
Mata Emetropi (mata normal) pp = 25 cm ; pr =
Mata Myopi (mata dekat/rabun jauh) pp = 25 cm ; pr <
M A T A Mata Hipermetropi (rabun dekat) pp > 25 cm ; pr =
Mata Presbiopi (mata tua) pp > 25 cm ; pr <
Kaca Mata lensa Negatif (Untuk orang Myopi)
s = dan s’ = -pr
KACA MATA
Kaca Mata lensa Positif (Untuk orang hipermetropi) s = θm dan s’ = -pp
Akomodasi max P =
1
f
Sd
Ditempel dimata
Tanpa Akomodasi P =
f
Sd
LOUPE
Berjarak d cm dari mata D = -s’ + d D = daya akomodasi
P =
f
D
d
Sd
D
Sd
f
Sd
.
.
Sd = titik baca normal
Akomodasi max
P =
(
1
)
'
fok
Sd
s
s
o b y o b y
MIKROSKOP d = jarak lensa obyektif - okuler
Tanpa Akomadasi d = s’oby + fok
P =
(
)
'fok
Sd
s
s
o b y o b y
Akomodasi max d = foby + sok
P =
(
)
Sd
f
Sd
f
f
o k
o k o b y
TEROPONG BINTANG
Tanpa akomodasi d = foby + fok
P =
o k o b y
f
f
Pp = titik jauh mata Pp = titik dekat mata s’ = jarak ηayanμan s = jarak benda ke lup P = kekuatan lensa
ARUS BOLAK-BALIK
Osiloskop = mengukur tegangan max E=Emax. Sin .t
Eefektif = yang diukur oleh voltmeter
Emax = yang belum terukur
Epp = dari puncak ke puncak
ω = frekwensi anguler t = waktu
Vmax =tegangan maksimum
Imax = Arus maksimum
T = periode
Eefektif=
2
max
V
Iefektif=
2
max
i
Iefektif = Imax{
Tdt
T
T
02
)
2
(
sin
1
} Epp = 2.Emax
I. Resistor pada DC-AC
II. Induktor (L) pada DC-AC
dt
t
ax
L
E
dim
.
sin
.
E
L
.
.
i
max
.
cos
.
t
Xl
.
L
(satuan XL = ohm)
III. Capacitor pada DC-AC
C = kapasitas kapasitor
Q=C.V Xc = reaktansi kapasitif
dt
V
dc
dt
dQ
i
.
dt
t
dV
c
i
.
max
.
sin
.
i
.
c
.
V
max
.
cos
.
t
XC =
C
1
(Satuan XC = 0hm)
IV. R-L-C dirangkai seri
1.
.
Xl
.
L
2.
C
Xc
.
1
3. Gambar fasor
4.
Z
R
2
(
Xl
Xc
)
25.
6.
Vab
i
.
R
Vac
Vr
2
Vl
2Xc
i
Vcd
Xl
i
Vbc
.
.
2 2
)
(
Vl
Vc
Vr
Vad
Vc
Vl
Vbd
7. Daya=Psemu.cos Daya=Psemu.
Z
R
Psemu = V.I (Volt Amper)
a.
Xl
Xc
RLC bersifat induktifV mendahului I dengan beda fase b.
Xl
Xc
RLC resonansiZ = R kuat arus paling besar, karena hambatan total paling kecil.
C
L
f
.
1
2
1
T
2
L
.
C
c.
Xc
Xl
RLC bersifat capasitifI mendahului V dengan beda fase
8. tg =
R
XC
XL
PERKEMBANGAN TEORI ATOM
- Atom-atom merupakan partikel terkecil dari suatu zat - Atom-atom suatu zat tidak dapat diuraikan menjadi partikel
Yang lebih kecil.
- Atom suatu unsur tidak dapat diubah menjadi unsur lain. - Atom-atom setiap zat adalah identik, artinya mempunyai
Bentuk, ukuran dan massa yang sama.
DALTON - Atom suatu zat berbeda sifat dengan atom zat lain. - Dua atom atau lebih yang berasal dari unsur-unsur yang
berlainan dapat membentuk senyawa.
- Pada suatu reaksi atom-atom bergabung menurut perban- Dingan tertentu.
- Bila dua macam atom membentuk dua macam senyawa Atau lebih, maka perbandingan atom-atom yang sama dalam kedua senyawa itu sederhana.
KELEMAHANNYA.
- Atom tidak dapat dibagi lagi bertentangan dengan ekspe- Rimen.
- Dalton tidak membedakan pengertian atom dan molekul Satuan molekul juga disebut atom.
- Atom merupakan bola kecil yang keras dan padat ber- Tentangan dengan eksperimen Faraday dan J.J Thomson
- Atom merupakan suatu bola yang mempunyai muatan Positif yang terbagi merata ke seluruh isi atom.
TEORI J.J THOMSON
ATOM - Muatan positif dalam atom ini dinetralkan oleh elektron- Elektron yang tersebar diantara muatan-muatan positif Itu dan jumlah elektron ini sama dengan jumlah muatan Positif.
KELEMAHANNYA.
- Atom terdiri dari muatan-muatan positif, di mana seluruh Muatan posoitif dan sebagian besar massa atom terkumpul ditengah-tengah atom yang disebut dengan INTI ATOM. - Di sekeliling inti atom, pada jarak yang relatif jauh beredar RUTHERFORD Lah elektron-elektron mengelilingi inti atom.
- Muatan inti atom sama dengan muatan elektron yang me- ngelilingi inti, sehingga atom bersifat netral.
KELEMAHANNYA.
- Model atom ini tidak dapat menunjukkan kestabilan atom Atau tidak mendukung kemantapan atom.
- Model atom ini tidak dapat menunjukkan bahwa spektrum Atom-atom Hidtrogen adalah spektrum garis tertentu.
Pengukuran massa elektron oleh : J.J. Thomson dengan percobaan Tetes Minyak Milikan.
SINAR KATODA Partikel bermuatan negatif
Sifat : - Bergerak cepat menurut garis lurus keluar tegak lurus dari katoda. - Memiliki energi
- Memendarkan kaca
- Membelok dalam medan listrik dan medan magnet.
MODEL ATOM BOHR DIBUAT BERDASARKAN 2 POSTULATNYA YAITU :
1. Elektron tidak dapat berputar dalam lintasan yang sembarang, elektron hanya dapat berputar pada lintasan tertentu tanpa memancarkan energi. Lintasan ini
Disebut lintasan stasioner. Besar momentum anguler elektron pada lintasan
Stasioner ini adalah : mvr =
2
nh
n disebut bilangan kwantum (kulit) utama.
2. Elektron yang menyerap energi (foton) akan berpindah ke lintasan yang ener- ginya tinggi, dan sebaliknya.
01. Ep = -k
r
e
202. Ek = - ½ k
r
e
204. r = 2 2
2
)
2
(
h
k
me
n
05. r1 : r2 : r3: … = 2 : 22 : 32: …
06.
1
(
1
21
2)
B A
n
n
R
R = tetapan Ridberg R = 1,097.107 m-1Deret Lyman nA = 1 nB= , , …. Deret Balmer nA = 2 nB= , , , …. Deret Paschen nA = 3 nB= , , , …. Deret Brackett nA = 4 nB= , , , …. Deret Pfund nA = 5 nB= , , , ….
max fmin nB = 1 lebihnya dari nA
min fmax nB =
Energi stasioner E =
eV
n
26
,
13
05. Energi
Energi Pancaran E = 13,6 (
1
21
2)
B A
n
n
eV E = h.f (J)e = muatan electron r = jari-jari lintasan electron Ep = Energi potensial Ek = energi kinetic n = bilangan kuantum r = jari-jari lintasan electron
= panjanμ μelomηanμ h = tetapan Planck
RADIOAKTIVITAS
Adanya Fosforecensi : berpendarnya benda setelah disinari. Dasar penemuan
Adanya Fluorecensi : berpendarnya benda saat disinari.
Penemu: Henry Becquerel
Menghitamkan film Dapat mengadakan ionisasi
Dapat memendarkan bahan-bahan tetentu Sifat-sifat Merusak jaringan tubuh
Daya tembusnya besar
Sinar
Macam sinar Sinar Penemu: Pierre Curie dan Marrie Curie Sinar
Urutan naik daya tembus: Sinar , Sinar , Sinar Urutan naik daya ionisasi: Sinar , Sinar , Sinar
x x x x x x x x x x x B
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
01. I = Io e-x
02. HVL nilai x sehingga I = ½ Io HVL =
693
,
0
2
ln
03. ZXA N = A – Z
05. Eikat inti = {(mproton + mnetron) – minti }.931 MeV m dalam sma = {(mproton + mnetron) – minti }.c2 m dalam kg
ZXA Z-2XA-4 atau ZXA Z-2XA-4 + 06. Hukum Pergeseran
ZXA Z+ 1XA atau ZXA Z+ 1XA +
Jika memancarkan tetap
07. T =
2
ln
693
,
0
08. R = . N
09. N = No.2-t/T
10. D =
m
E
11. Ereaksi = (msebelum reaksi -msesudahreaksi ).931 MeV m dalam sma.
= (msebelum reaksi -msesudahreaksi ).c2 m dalam kg
12. Reaksi FISI Pembelahan inti berat menjadi ringan Terjadi pada reaktor atom dan bom atom Menghasilkan Energi besar < enerfi reaksi FUSI Dapat dikendalikan.
Reaksi FUSI Penggabungan inti ringan menjadi inti berat Terjadi pada reaksi di Matahari dan bom hidrogen Tidak dapat dikendalikan.
Pencacah Geiger Muller (pulsa listrik) Tabung Sintilasi (pulsa listrik) 13. ALAT DETEKSI Kamar kabut Wilson (Jejak lintasan saja) Emulsi film
N = jumlah inti yang belum meluruh No = jumlah inti mula2
KESETIMBANGAN BENDA TEGAR
Momen: Momen Gaya : =F.l.sin
Momen Kopel : dua gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah, besarnya = F.d
Kesetimbangan Translasi : Fx=0,Fy=0 Kesetimbangan Rotasi : =0
Kesetimbangan translasi dan Rotasi : F=0, =0 Kesetimbangan Stabil (mantap) :
Apabila gaya dihilangkan, akan kembali ke kedudukan semula. Kesetimbangan (titik berat benda akan naik)
Kesetimbangan Indeferen :
Gaya dihilangkan, setimbang di tempat berlainan (titik berat benda tetap)
Keseimbangan labil :
Apabila gaya dihilangkan, tidak dapat kembali semula. (titik berat benda akan turun)
T I T I K B E R A T B E N D A
Titik berat untuk benda yang homogen ( massa jenis tiap-tiap bagian benda sama ). a. Untuk benda linier ( berbentuk garis )
x
l x
l
n n 0
.
y
l y
l
n n 0
.
b. Untuk benda luasan ( benda dua dimensi ), maka :
x
A x
A
n n 0
.
y
A y
A
n n 0
.
c. Untuk benda ruang ( berdimensi tiga )
x
V x
V
n n 0
.
y
V y
V
n n 0
.
Sifat - sifat:
1. Jika benda homogen mempunyai sumbu simetri atau bidang simetri, maka titik beratnya terletak pada sumbu simetri atau bidang simetri tersebut.
2. Letak titik berat benda padat bersifat tetap, tidak tergantung pada posisi benda.
Kalau suatu benda mempunyai tiga buah bidang simetri yang tidak melalui satu garis, maka titik beratnya terletak pada titik potong ketiga simetri tersebut.
ΣFx = resultan μaya di sumηu x ΣFy = resultan μaya di sumηu y Σσ = jumlah momen μaya
Tabel titik berat teratur linier
Nama benda Gambar benda letak titik berat keterangan
1. Garis lurus
x0 = 12 l z = titik tengah garis
2. Busur lingkaran
y
R
tali busur AB
busur AB
0
R = jari-jari lingkaran
3. Busur setengah lingkaran
y
0
2
R
Tabel titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Bidang segitiga
2.Jajaran genjang, Belah ketupat, Bujur sangkar Persegi panjang
y0 = 12t t = tinggi z = perpotongan diagonal AC dan BD
3. Bidang juring
lingkaran
y
R
tali busur AB
busur AB
0 2 3
R = jari-jari lingkaran
4.Bidang setengah lingkaran
y
04
R
3
R = jari-jari lingkaran
Tabel titik berat benda teratur berbentu bidang ruang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Bidang kulit
prisma z pada titik
tengah garis z1z2 y0 = 1
2l
z1 = titik berat bidang alas z2 = titik berat bidang atas l = panjang sisi tegak.
2. Bidang kulit silinder. ( tanpa tutup )
y0 = 12 t A = 2 R.t
3. Bidang Kulit
limas T’z = 1
3T’ T T’T = μaris
tinggi ruang
4. Bidang kulit
kerucut zT’ = 1
3 T T’ T T’ = tinμμi
kerucut T’ = pusat lingkaran alas
5. Bidang kulit
setengah bola. y0 = 12R R = jari-jari
Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang, pejal homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Prisma beraturan.
z pada titik tengah garis z1z2
y0 = 21 l
V = luas alas kali tinggi
2. Silinder Pejal
y0 = 12t
V = R2 t
t = tinggi silinder R = jari-jari lingkaran alas
3. Limas pejal
beraturan y0 = 14T T’
= 14t
V = luas alas x tinggi 3
T T’ = t = tinμμi limas beraturan
4. Kerucut pejal
y0 = 14 t
V = 13 R2 t
t = tinggi kerucut R = jari-jari lingkaran alas
5. Setengah bola
TEORI KINETIK GAS
GA S I D E A L
1. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel (atom-atom ataupun molekul-molekul ) dalam jumlah yang besar sekali.
2. Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak dengan arah random/sebarang. 3. Partikel-partikel tersebut merata dalam ruang yang kecil.
4. Jarak antara partikel-partikel jauh lebih besar dari ukuran partikel-partikel, sehingga ukurtan partikel dapat diabaikan.
5. Tidak ada gaya antara partikel yang satu dengan yang lain, kecuali bila bertumbukan.
6. Tumbukan antara partikel ataupun antara partikel dengan dinding terjadi secara lenting sempurna, partikel dianggap sebagai bola kecil yang keras, dinding dianggap licin dan tegar.
7. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku.
01.
n
N
N
0
02. vras =
m
kT
3
03.
m
M
N
dank
R
N
0
04. v
ras =
3
RT
M
05. Pada suhu yang sama, untuk 2 macam gas kecepatannya dapat dinyatakan :
v
ras1 : vras2 = 1
1
M
: 21
M
06. Pada gas yang sama, namun suhu berbeda dapat disimpulkan :
v
ras1 : vras2 =
T
1 :T
207.
Vr as
L
t
2
08.
F
N m V ras
2
09.
V
r as
V
m
N
P
2.
3
atauP
V
2r as
3
1
10.
P
N
mV ras
N
Ek
V
V
2
3
2
3
1 2 2.