• Tidak ada hasil yang ditemukan

PengaruhTotal Financing, Non Performing Financing, Earning Before Taxes and Provisions, dan Return on Equity Terhadap Perataan Laba pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2010-2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PengaruhTotal Financing, Non Performing Financing, Earning Before Taxes and Provisions, dan Return on Equity Terhadap Perataan Laba pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2010-2014"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bank Umum Syariah

2.1.1 Latar Belakang Bank Umum Syariah

Bank Umum Syariah sebagai lembaga keuangan syariah, pada awalnya berkembang secara perlahan, namun kemudian mulai menunjukkan perkembangan yang semakin cepat mencapai prestasi pertumbuhan jauh di atas perkembangan bank konvensional. Di Indonesia perbankan Syariah muncul sejak dikeluarkannya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang secara implisit telah membuka peluang kegiatan usaha perbankan yang memiliki dasar operasional bagi hasil. Perbankan Syariah di Indonesia, pertama kali beroperasi pada 1 Mei 1992, ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI).

Pada dasarnya pilihan nasabah untuk menempatkan dananya di bank biasanya dilandasi oleh lima hal penting, di mana kelima hal tersebut hampir dimiliki oleh beberapa bank yang bersaing ketat:

1. Kinerja untuk bank yang lebih sering dikaitkan dengan ukuran non performing financing (NPF).

(2)

3. Mampu memberikan tingkat suku bunga (konvensional) bagi hasil (Syariah) yang kompetitif serta hadiah menarik.

4. Mampu menyediakan produk yang sesuai kebutuhan masyarakat. 5. Mempunyai jaringan cabang yang luas dengan infrastruktur yang

baik.

Kelima hal tersebut merupakan dasar dan langkah pertama bagi nasabah untuk memilih bank. Setelah memilih bank, nasabah akan lebih memperhatikan pengaruh kualitas pelayanan, baik pelayanan fisik maupun non fisik. Hal tersebut juga dikarenakan nasabah masa kini memiliki informasi yang lebih baik, mereka lebih menyadari adanya berbagai pilihan, dan mereka bersikap lebih menuntut standar pelayanan lebih tinggi.Maka bank harus dapat lebih memahami beragam kebutuhan nasabah dan berusaha memenuhi harapan tersebut.

Kenyataan di lapangan saat ini banyak SDM Syariah yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam menjalankan operasional bank Syariah, tak jarang ditemui SDM bank Syariah kurang dapat memberi penjelasan yang benar dan akurat sehingga menumbuhkan keraguan bagi calon nasabah untuk menggunakan produk dan layanan bank Syariah, bahkan penjelasan yang sembrono memunculkan anggapan keliru tentang bank Syariah dan akan mempengaruhi citra bank Syariah.

(3)

pelayanan. Faktor lain yang mempengaruhi kesadaran merek nasabah bank adalah kualitas produk bank itu sendiri. Nasabah membeli jasa perbankan untuk menyelesaikan masalah dan nasabah memberikan nilai dalam proporsi tertentu. Nilai yang diberikan nasabah berhubungan dengan benefit atau keuntungan yang akan diterimanya. Kualitas produk perbankan didapatkan dengan cara menemukan keseluruhan harapan nasabah, meningkatkan nilai produk atau pelayanan dalam rangka memenuhi harapan nasabah.

2.1.2 Pengertian Bank Umum Syariah

(4)

Menurut Ismail (33;2011) bank umum syariah adalah bank syariah yang berdiri sendiri sesuai dengan akta pendiriannya, bukan merupakan bagian dari bank konvensional.

Kegiatan bank syariah dalam hal penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional. Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan. Berikut ini prinsip-prinsip yang berlaku pada bank syariah :

a. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).

b. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah). c. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(murabahah)

d. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).

e. Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

(5)

tetapi juga masyarakat nonmuslim. Saat ini bank syariah sudah tersebar di berbagai negara-negara muslim dan nonmuslim, baik di Benua Amerika, Australia, dan Eropa. Bahkan banyak perusahaan dunia yang telah membuka cabang berdasarkan prinsip syariah.

Jumlah Bank Umum Syariah di Indonesia yang telah terdaftar di Bank Indonesia dari periode 2010-2014 berjumlah 12 bank, antara lain: Muamalat, Victoria, BRI, BJB, BNI, BSM, Mega Indonesia, Panin, Bukopin, BCA, Maybank, dan BTPN.

2.2 Pembiayaan Syariah

Menurut Ismail (105;2011) pembiayaan merupakan aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syariah.

(6)

Dalam UU no 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Pembiayaan pada bank syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ijarah, tanpa imbalan, atau bagi hasil. Pembiayaan tersebut dapat berupa:

1. transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah

2. transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik

3. transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’ 4. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh;

5. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa

Penelitian ini fokus hanya pada perataan laba yang dihasilkan daripengelolaan cadangan PPAP untuk empat jenis pembiayaan utama yang dilakukan bank syariah, yaitu pembiayaan dalam bentuk mudharabah, musyarakah, murabahah dan istishna.Hal ini didasarkan karena adanya praktik manajemen labapada keempat mekanisme pembiayaan tersebut.

2.3 Jenis-jenis Pembiayaan Syariah

(7)

2.3.1 Pembiayaan Mudharabah

Menurut Ismail (168;2011) pembiayaan mudharabah merupakan akad pembiayaan antara bank syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib untuk melaksanakan kegiatan usaha dimana bank syariah memberikan modal sebanyak 100% dan nasabah menjalankan usahanya.

Memurut Zainuddin (35;2008) pembiayaan mudharabah pembiayaan yang dilakukan oleh pihak bank syariah untuk membiayai 100% kebutuhan dana dari sesuatu proyek/usaha tersebut, sementara nasabah sesuai dengan keahlian yang dimilikinya akan menjalankan proyek/usaha tersebut dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin terjadi.

(8)

yaitu mudharabah muthlaqah,mudharabah muqayyadah, dan mudharabah musyarakah.

2.3.2 Pembiayaan Musyarakah

Menurut Ismail (176;2011) al-musyarakah merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak atau lebih dalam menjalankan usaha, dimana masing-masing pihak menyertakan modalnya sesuai dengan kesepakatan, dan bagi hasil atas usaha bersama diberikan sesuai dengan kontribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama.

Menurut Zainuddin (34;2008) pembiayaan musyarakah adalah pembiayaan yang dilakuka oleh pihak bank syariah atau bank muamalah untuk membiayai suatu proyek bersama antara nasabah dengan bank.

(9)

tentang Akuntansi Musyarakah, akad musyarakah dibagi menjadi dua, yaitu musyarakah permanen, dan musyarakah mutanaqisha.

2.3.3 Pembiayaan Murabahah

Menurut Ismail (138;2011) murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembelian kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyarakatkan keuntungan yang diharapkansesuai jumlah pembeli.

Menurut Zainuddin (30;2008) pembiayaan murabahah adalah transaksi jual beli, yaitu pihak bank syariah bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli, dengan harga jual dari bank adalah harga beli dari pemasok ditambah keuntungan dalam persentase tertentu bagi bank syariah sesuai dengan kesepakatan.

(10)

syari'at menjadikannya sebagai produk financing dalam pengembangan modal mereka.

2.3.4 Pembiayaan Istishna

Menurut Ismail (146;2011) al-istishna merupakan akad kontrak jual beli barang antara dua pihak berdasarkan pesanan dari pihak lain, dan barang pesanan akan diproduksi sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya dengan harga dan cara pembayaran yang disetujui terlebih dahulu.

Menurut Zainuddin (32;2008) pembiayaan istishna adlah pembiayaan yang menyerupai pembiayaan salam, namun bank syariah melakukan pembayaran secara termin atau beberapa kali dala jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan.

Pembiayaan istishna menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) adalah jual beli barang dalam bentuk pemasaran, pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan.

(11)

2.4 Manajemen Laba

Manusia cenderung menghindari risiko dan berusaha meminimalkan kerugian yang mungkin dialaminya dalam menjalankan kegiatan usahanya. Upaya yang dilakukan tersebut kadang dapat merugikan pihak lain, misalnya harga pasar saham perusahaan dipengaruhi oleh laba, risiko dan spekulasi. Oleh karena itu perusahaan yang labanya selalu mengalami peningkatan secara konsisten akan mengakibatkan risiko perusahaan ini mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan persentase peningkatan laba. Hal inilah yang membuat banyak perusahaan melakukan manajemen laba sebagai salah satu upaya untuk mengurangi risiko.

(12)

manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Sedangkan menurut penelitian Schipper (1989) dalam Widowati (2009) manajemen laba adalah intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan pribadi. Definisi tersebut mengartikan bahwa manajemen laba merupakan perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitas mereka.

Ahmed (2007) menyatakan pada dasarnya definisi operasional dari manajemen laba adalah potensi penggunaan manajemen akrual dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi.Definisi tersebut tidak hanya terbatas pada perilaku tetapi lebih luas mencakup seluruh tindakan yang dilakukan oleh manajemen untuk mengelola laba. Menurut Ahmed (2007) isu-isu dalam manajemen laba antara lain:

a. Manajemen laba bertujuan untuk memenuhi harapan dari analisis keuangan atau manajemen (diwakili oleh peramalan laba dari publik). b. Manajemen laba bertujuan untuk mempengaruhi kinerja harga

jangkapendek dengan berbagai cara.

c. Manajemen laba berakhir dan dapat bertahan karena informasi yangasimetris suatu kondisi yang disebabkan oleh informasi yang diketahuimanajemen namun tidak ingin untuk mereka ungkapkan.

d. Manajemen laba terjadi dalam konteks suatu kumpulan pelaporan yangfleksibel dan seperangkat kontrak tertentu yang menentukan pembagianaturan diantara pemegang kepentingan.

e. Strategi perusahaan bagi manajemen laba mengikuti satu atau lebih daritiga pendekatan (memilih dari pilihan-pilihan yang ada dalam GAAP,pilihan aplikasi yang ada dalam opsi menggunakan akuisisi sertadeposisi Aset dan waktu untuk melaporkannya).

f. Manajemen laba merupakan hasil usaha untuk melewati ambang batas. g. Manajemen laba dapat berasal dari pemenuhan perjanjian dari

kontrakkompensai implisit.

(13)

i. Laba negatif secara tiba-tiba umumnya lebih merugikan daripada revisiramalan negatif.

Manajemen laba dapat dilakukan melalui beberapa pola. Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dalam Sulistyawan (2011) dapat dilakukan dengan cara:

a. Taking a Bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar.Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang.

b. Income Minimization

Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya. c. Income Maximization

Dilakukan pada saat laba menurun.Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar.Pola inidilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang.

d. Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebihmenyukai laba yang relatif stabil.

(14)

2.5Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP)

Untuk menentukan nilai perataan laba dalam penelitian ini dapat dilihat dengan menggunakan nilai Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP) yang terdapat dalam laporan keuangan. Menurut Peraturan Bank Indonesia PBI Nomor 5/9/PBI/2003 tentang Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP) Bagi Bank Syariah, Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP) adalah cadangan yang harus dibentuk sebesar persentase tertentu dari jumlah kredit berdasarkan penggolongan kualitas Aset produktif sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Secara khusus tata-cara pembentukan PPAP sebagaimana yang dijelaskan dalam PBI No. 5/9/PBI/2003 sebagai berikut:

1. Cadangan umum PPAP ditetapkan sekurang-kurangnya sebesar 1 % dari seluruh Aset produktif yang digolongkan lancar, tidak termasuk SWBI dan surat utang pemerintah.

2. Cadangan khusus PPAP ditetapkan sekurang-kurangnya sebesar : a. 5% dari Aset produktif yang digolongkan dalam perhatian khusus

b. 15% dari Aset produktif yang digolongkan kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan.

c. 50% dari Aset produktif yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan.

(15)

3. Cadangan khusus PPAP untuk piutang ijarah yang digolongkan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet ditetapkan sekurang-kurangnya 50% dari masing-masing kewajiban pembentukan PPAP 30.

Penggunaan PPAP telah bergeser dari tujuan awalnya, yaitu untuk menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dalam kegiatannya.Perataan laba menggunakan cadangan (PPAP) bertujuan agar laba yang dilaporkan perusahaan pada periode berjalan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.Cadangan (PPAP) merupakan bagian dari modal tambahan yang termasuk bagian yang penting dan sah dari modal dasar suatu bank.Hingga pada saat apabila menginginkan labanya menjadi lebih tinggi dari laba sesungguhnya, maka perusahaan (bank) dapat menggunakan cadangan tersebut untuk mengatur laba sesuai kepentingannya (Sulistyanto, 2008).

(16)

(NPF). Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, kredit yang termasuk golongan non performing financing adalah kredit kurang lancar, diragukan, dan macet.

2.6 Total Financing, Non Performing Financing, dan Earning before taxes provisions, dan Return On Equity Terhadap PPAP

2.6.1 Total Financing

Total pembiayaan digunakan dengan tujuan agar dapat menunjukkan adanya implementasi dinamic provisioning yang dilakukan oleh bank syariah. TF merupakan total pembiayaan yang diberikan bank syariah, atau dirumuskan sebagai berikut:

2.6.2 Non Performing Financing

Non Performing Financing digunakan untuk mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPF semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Bank dengan NPF yang tinggi akan memperbesar biaya, baik pencadangan Aset produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank (Mawardi, 2005). Variabel ini sudah tercantum dari laporan keuangan publikasi bank. Variabel ini didefinisikan sebagai berikut:

(17)

2.6.3 Earning Before Taxes and Provisions

Profitabilitas diukur dengan menggunakan EBTP (earning before taxes and provisions). EBTP digunakan untuk melihat insentif yang

dilakukan bank syariah untuk melakukan perataan laba dengan mekanisme PPAP. Ketika bank syariah menerima pendapatan yang tinggi, maka bank akan cenderung meningkatkan jumlah cadangannya, demikian juga sebaliknya. EBTP merupakan variabel laba operasi bersih sebelum pajak dan cadangan bank dan juga zakat. Variabel ini didefinisikan sebagai berikut:

EBTP = + + + +

2.6.4Return On Equity

Return on Equity (ROE) merupakan bagian dari keuntungan (return)

dalam berinvestasi. Hanafi (2009) menyebutkan bahwa Returnon Equity (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu. Ukuran 43 profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham ini diduga dapat mempengaruhi tindakan perataan laba.Seperti penelitian yang dilakukan Li-Jung dan Chien-Wen (2007) menyatakan bahwa profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Equity (ROE) berpengaruh terhadap praktik perataan laba. ROE dihitung dengan rumus sebagai berikut:

ROE =Laba Bersih Setelah Pajakx100% jumlah laba

sebelum pajak

jumlah zakat yang dikeluarkan oleh bank

(18)

2.7 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu akan sangat bermakna jika judul-judul peneltian yang digunakan sebagai bahan pertimbangan sangat bersinggungan dengan penelitian yang hendak dilakukan. Biasanya penelitian terdahulu yang digunakan adalah penelitian yang terkait langsung dengan penelitian yang sedang dilakukan. Penelitian terdahulu ini diambil dari berbagai jurnal dan skripsi yang telah diterbitkan oleh penelitian maupun instansi-instansi pendidikan, adapun penelitian terdahulu dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 2.1 Perataan Laba Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Pasar Modal Utama ASEAN manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2006-2009

Variabel Indepen: Ukuran perusahaan, dividen payout ratio, profitabilitas , DER variabel dependen: size perusahaan tidak berpengaruh secara parsial.

(19)

Perataan Laba Pada Perusahaan Publik di Indonesia Corolina (2005)

Analisa Faktor-sektor industri tidak berpengaruh terhadap

Leverage Operasi Terhadap Praktik Andy Sri Haryadi

(2011) praktik perataan laba (income smoothing) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2009 praktik perataan laba.

2.8 Kerangka Konseptual

(20)

1

�2

3

4

�5

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian

Keterangan:

Y = Perataan Laba (Penyisihan Penghapusan Aset Produktif) X1 = Total Pembiayaan (Total Financing)

X2 = Risiko Pembiayaan (Non Performing Financing) X3 = Earning Before Taxes And Provisions

X4 = Return On Equity

Kerangka konseptual diatas menjelaskan bahwa yang akan diuji di dalam penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah ada pengaruh total financing (X1) terhadap perataan laba, non performing financing(X2)

terhadap perataan laba, earning before taxes and provisions(X3), terhadap Total Financing

(X1)

Non Performing Financing (NPF)

(X2)

EBTP (X3)

Perataan Laba

(Peyisihan Penghapusan Aset Produktif)

(Y)

(21)

secara bersama-sama apakah ada pengaruh keempat variabel tersebut terhadap perataan laba.

2.10 Hipotesis

Total pembiayaan (total financing/ TF) adalah jumlah pembiayaan syariah terhadap dan juga merupakan proxy untuk profil jumlah pembiayaan bank.Total pembiayaan (TF) dapat menunjukkan adanya implementasi dinamic provisioning yang dilakukan oleh bank syariah. Total pembiayaan

diharapkan akan menunjukkan pengaruh yang positif terhadap perataan laba. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, mak dirumuskan hiptesis sebagai berikut:

H1 = total financing (X1) berpengaruhsecara parsial terhadap perataan laba.

(22)

kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya.Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko kredit (Ali, 2004). Koefisien NPF diharapkan akan menunjukkan pengaruh yang positif terhadap perataan laba. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2 = non performing financing(X2) berpengaruhsecara parsial terhadap Perataan laba.

EBTP (Earning Before Taxes and Provisions) merupakan variabel laba operasi bersih sebelum pajak dan cadangan bank i pada periode t, dinormalisasi dengan total aset. EBTP menunjukkan kemampuan bank menghasilkan laba dari aktivitas operasionalnya.EBTP digunakan untuk melihat insentif yang dilakukan bank syariah untuk melakukan perataan laba dengan mekanisme PPAP.Menurut Tobing danNur (2009), jika bank memiliki kinerja yang bagus di tahun ini dan memprediksikinerja yang tidak

baik di waktu yang akan datang (good-poor), maka manajerbank akan

menyimpan laba tahun ini untuk digunakan di waktu yang akan

datangdengan cara mengurangi laba melalui peningkatan beban PPAP.

sedangkan jikabank memiliki kinerja yang tidak baik di tahun ini dan

memprediksi kinerja yangbaik di waktu yang akan datang (poor-good),

maka bank akan meningkatkan labatahun ini dengan cara meminjam laba

(23)

akanpendanaan dari pihak eksternal jugamenjadi salah satu faktor bagi

manajer bank untuk melakukan praktik perataanlaba.

Variabel ini biasanya digunakan dalam literatur sebelumnya sebagai proksi untuk praktek manajemen laba (Boulila, et al., 2010). Hasil penelitian sebelumnya oleh Ahmed, dan Thomas (1999), dan Kanagaretnam, et al. (2003), dan Bouvatier et al. (2006), menunjukkan variabel ini berpengaruh positif terhadap praktik manajemen laba. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3 = earning before taxes and provisions(X3) berpengaruh secara parsial terhadap Peratan laba.

Profitabilitas perusahaan yang diproksikan dengan Return on Equity(ROE) diduga mempengaruhi tindakan perataan laba. Perusahaan

(24)

profitabilitasnya rendah. Berdarkan hal-hal diatas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4 = return on equity(X4) berpengaruh secara parsial terhadap Perataan laba.

Gambar

Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2011 (2) Untuk menganalisis pengaruh likuid Current Ratio (CR), Debt to Equity

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Perilaku kepemimpinan dalam pelaksanaan program kerja budaya organisasi pada Sekolah Tinggi Agama Islam Gajah

[r]

Multimedia merupakan suatu konsep dan teknologi baru dalam bidang teknologi informasi, dimana dalam bentuk teks, gambar, suara, animasi dan video disatukan dalam komputer

Dimana aplikasi bila dikaitkan dengan kemampuan dokter dalam mendiagnosa secara dini kondisi kesehatan pasien, dapat diciptakan suatu sistem komputer yang bertugas untuk mengetahui

Penulisan Ilmiah ini membahas tentang pembuatan aplikasi multimedia dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Visual Basic 6.0, yang berisi pengolahan gambar, teks, suara dan

Penulisan Ilmiah ini membahas tentang bagaimana koneksi dari Visual Basic 6.0 dengan database server yaitu SQL Server 7.0 menggunakan metode ActiveX Data Objects. Pada aplikasi

Sampel berpasangan ujian-t digunakan untuk menganalisis min perbezaan antara bilangan kejadian buli dengan buli secara verbal dalam kalangan pelajar sekolah rendah