• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Keselamatan Bagi Agama Parmalim kelompok TAA Riris

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsep Keselamatan Bagi Agama Parmalim kelompok TAA Riris"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Keselamatan Bagi Agama Parmalim 1. Pendahuluan

2. Isi

1. Parmalim (Parmalim Merupakan sebuah Agama)

Sebelum terbentuknya agama Malim secara resmi oleh suku Batak, telah ada nilai – nilai pengajaran keagamaan ditengah – tengah masyarakat Batak. Ajaran – ajaran keagamaan tersebut diyakini dibawa oleh para utusan Debata Mulajadi Nabolon. Utusan Debata yang membawa ajaran – ajaran keagamaan tersebut disebut sebagai Malim Debata. Dalam sejarah kepercayaan orang Batak, ada empat (4) Malim Debata yang diutus ke tengah – tengah bangsa Batak dalam kurun waktu 400 tahun lamanya. Mereka adalah Raja Uti, Simarimbulubosi, raja Sisingamangaraja, dan raja Nasiakbagi, dan mereka disebut memiliki kerajaan Malim di dunia (banua tonga) yang berasal dari Debata Mulajadi Nabolon.1 Pada

masa Raja Uti, Simarimbulubosi, dan Raja Sisingamangaraja, ajaran keagamaan itu masih belum dirangkai secara struktur layaknya sebuah agama, namun hanya sebatas ritual – ritual kepercayaan sebagai penghubung manusia dengan Debata. Secara singkat, kehadiran Raja Uti ke dunia ketika masyarakat Batak mengalami keadaan chaos, dimana diantara mereka terjadi pertikaian dan kepercayaan mereka terhadap Debata Mulajadi Nabolon menyimpang kepada penyembahan kepada roh – roh (kepercayaan sipelebegu). Kehadiran Raja Uti mengembalikan keamanan kehidupan masyarakat Batak sekaligus mengarahkan kembali kepercayaan mereka kepada Debata Mulajadi Nabolon, dengan membentuk ajaran “marsuhi ni ampang na opat” (ampang yang bersegi empat atau SUNANO) yang terdiri dari tona, poda, patik, dan uhum yang diyakini bahwa ajaran tersebut sebelumnya telah ada di Banua Ginjang.2 setelah masa Raja Uti berakhir, Debata mengutus Tuan Simarimbulubosi sebagai

malim kedua yang melanjutkan pengajaran yang dibawa Raja Uti, ia memantapkan keimanan masyarakat Batak untuk semakin teguh kepada Debata Mulajadi Nabolon. Namun setelah ditinggalkan oleh Tuan Simarimbulubosi yang menghadap ke Banua Ginjang, kekacauan muncul kembali diantara masyarakat Batak yang diakibatkan mereka semakin jauh dari Debata dan berbuat jahat sehingga masa itu dikenang sebagai masa lumlam (jahiliah). Lalu kemudian Debata mengutus Sisingamangaraja setelah puluhan tahun masyarakat Batak hidup dalam kekacauan. Tugas Sisingamangaraja adalah mengisbatkan adat, patik, tona dan uhum. Secara fisik, yang bernama Sisingamangaraja berjumlah duabelas orang sehingga penyebutan namanya disebut Sisingamangaraja I – XII. Akan tetapi menurut kepercayaan Malim bahwa

1 Ibrahim Gultom hlm. 92

(2)

roh Sisingamangaraja tersebut hanya satu yakni titisan dari Debata Mulajadi Nabolon. Pada masa Sisingamangaraja inilah datang penjajahan Belanda yang berhasil membunuh Sisingamangaraja dalam sebuah peperangan yang berlangsung selama 30 tahun, yang disebut dengan “Perang Batak”.3 Meski telah dibunuh oleh tentara Belanda (21 Juni 1907), namun

masyarakat Batak menganggap bahwa Sisingamangaraja tidaklah mati namun diyakini berubah nama menjadi Raja Nasiakbagi yang tiba – tiba muncul setelah peperangan Sisingamangaraja. Kehadiran Raja Nasiakbagi tidak dikenal seluruh masyarakat Batak, hanya murid – muridnya saja yang mengenalnya. Pada suatu ketika, Raja Nasiakbagi memberikan arahan kepada para muridnya dan berkata: “Malim ma hamu”. Maksudnya adalah “Sucilah kamu atau senantiasalah suci didalam keagamaan”. Dengan adanya pengarahan ini, maka sejak itulah ajaran yang dibawanya resmi disebut agama Malim (setelah tahun 1907). Kemudian setelah Raja Nasiakbagi meninggalkan masyarakat Batak, agama Malim diwariskan kepada seorang muridnya yaitu Raja Mulia Naipospos yang ditugaskan untuk mempertahankan dan melanjutkan penyiaran agama Malim selanjutnya.4

Agama adalah suatu sistem sosial yang dibuat oleh penganutnya yang berporos kepada kekuatan non empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi diri pemeluknya. Agama disebut sistem sosial, menunjukkan bahwa agama merupakan suatu fenomena sosial, suatu peristiwa kemasyarakatan, suatu sistem yang dapat dianalisa, karena terdiri atas peraturan yang dibuat saling berkaitan dan mengarah kepada pencapaian tujuan. Agama berporos kepada kekuatan non empiris, maksudnya adalah bahwa agama juga berkaitan dengan kekuatan- kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan manusia itu sendiri yang diyakini sebagai Roh Tertinggi. Agama juga bertujuan untuk mencapai keselamatan bagi diri pemeluknya berarti keselamatan di dalam dunia sekarang ini dan keselamatan di “dunia lain” yang dimasuki manusia nantinya setelah kematian manusia itu.5 Oleh karenanya, maka agama merupakan suatu sistem yang berkaitan dengan aturan

yang mengarah kepada tujuan tertentu dari penganutnya. Agama dalam konsep orang Batak dikenal dengan istilah ugamo. Istilah ini kerap kali digunakan oleh penganut Agama Malim. Agama Malim berasal dari dua kata yakni “ugamo” dan “malim”. Ugamo bermakna ambu-ambu pelean yang berarti ramuan dari berbagai benda- benda yang dijadikan untuk bahan sesaji. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah “ugamo”. Istilah “malim” bermakna ias

3 Ibrahim Gultom hlm. 94

4 Ibrahim Gultom hlm. 95

(3)

(bersih atau suci). Oleh karena itu, secara etimologi pemahaman mengenai agama Malim adalah kumpulan ramuan benda- benda yang bersih dan suci. kemudian menurut istilahnya, agama Malim dapat dipahami sebagai suatu jalan perjumpaan manusia dengan Debata melalui sesaji yang bersih suci. Istilah “parmalim” berawal dari kata parugamo malim (pengikut agama Malim). Istilah ini merujuk kepada orang yang mengikuti ajaran Malim dan juga berkehidupan malim (suci) yang diwujudkan melalui pengumpulan ramuan benda-benda persembahan (sesaji) berdasarkan pada ajaran Debata Mulajadi Nabolon. Disisi lain, dapat dipahami bahwa adanya agama Malim ini merupakan “jalan pertemuan” dengan Debata, yang dimaksud adalah melalui agama itulah para penganutnya dapat menjalin hubungan dengan Debata.6

- Adat dalam Agama Malim

Sejak zaman dahulu hingga sekarang, adat merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Bagi orang Batak, memiliki adat (kebiasaan) dapat dijadikan sebagai rujukan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Pada awalnya, adat ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan pada generasi terdahulu, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya dan hingga pada masa yang sekarang. Adat adalah suatu sikap, tingkah laku, kebiasaan yang sesuai dengan norma- norma yang duturunalihkan yang mana adat ini nantinya berkembang menjadi sebuah “hukum” yang mengatur segala aspek kehidupan manusia walaupun tidak pernah dibuat dalam aturan yang tertulis pada waktu lampau.7 Bagi

penganut Agama Malim, “adat” tidak hanya sekedar hasil budaya orang Batak terdahulu yang diturunalihkan secara turun temurun kepada generasi yang ada sekarang. Melainkan, keberadaan adat ditengah- tengah masyarakat tersebut diyakini berasal dari Debata Mulajadi Nabolon. Adat ini berasal dari Debata melalui orang – orang yang dipilihNya. Orang yang terpilih ini diyakini telah menerima konsep dasar dari Debata, yang kemudian konsep dasar tersebut dirampungkan menjadi butir- butir adat dan “patik” yang kemudian dinamakan “uhum”.8 Adapun penjabaran dari adat itu sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu9:

1. Adat inti (adat asli); pemahaman adat dalam hal ini mencakup seluruh kehidupan yang terjadi. Dimana manusia hidup diajari dan dituntun supaya mereka

6 Lih. Ibrahim Gultom, Agama Malim di Tanah Batak, Bumi Aksara, Jakarta 2010: hlm. 198- 199.

7 Hasil Wawancara terhadap Ulu Punguan Parmalim Bah Sampuran pada Rabu 10 Mei 2017 yaiitu Bapak Marpaung/Br.Aruan

8 ibrahim, 71.

(4)

melakukan semua aspek kehidupannya berdasarkan hukum (undang- undang), mengetahui hal yang baik dan jelek dan bisa juga melakukan hal- hal yang baik seta menghindari hal- hal yang tidak baik. Formula ini merujuk kepada seluruh ciptaan yang diberikan adat dan hukum. Mulajadi Nabolon memeteraikan adat dalam diri orang penganut adat tersebut: “Debata memeteraikan undang- undang dalam hati mereka, mengenai apa yang baik dan buruk, yang boleh terlarang, yakni “yang terlarang: (tongha), “jangan” (unang), “tak patut” (na so jadi).

2. Adat na taradat; Adat ini merupakan adat yang dijumpai pada suatu kelompok yang mana ciri dari adat ini adalah pragmatis. menampung sebanyak mungkin pemahaman mengenai adat inti dari tradisi nenek moyang, namun hal ini tidak diaplikasikan melainkan dihadapkan kepada kenyataan kompleks dari kebiasaan setempat. Adat ini menerimaa unsur dan pengaruh darimanapun, asal saja disesuaikan dengan tuntutan adat ini. namun tidak heran jika ada kesalahan perbedaan mengenai adat di tempat satu ke tempat yang lain.

3. Adat na niadathon; adat dalam hal ini berbeda dengan adat inti (adat asli). Adat ini dipengaruhi oleh peradaban modern sehingga pengaruh budaya modern tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang baru. Dalam praktiknya, yang menjadi dominan dalam “adat-na-niadathon” ini, bukan lagi adat inti dari nenek moyang, melainkan munculnya adat baru. Jikalau dulu, ada inti merupakan adat yang sakral dan pantang jika dilanggar, namun pada masa sekarang adat tersebut telah disingkirkan dan ditindas oleh adat-na-niadathon.

(5)

kesucian dari Debata sebagai akibat dari pengamalan akan ajaran- ajaran yang telah ditetapkan. Bagi Agama Malim, hal ini merupakan konsep kesucian paling tinggi. untuk tiba pada fase tersebut, seseorang penganut agama ini harus melalui fase pengamalan terhadap agama yang dibawahnya, yakni memiliki pikiran dan perasaan yang suci (roha hamalimon) serta berkehidupan suci (ngolu hamalimon). ini merupakan dua fase pengamalan yang merujuk kepada “kesucian diri” (tondi hamalimon). Fase- fase pengamalan diri inilah yang disebut dengan takwa (sebutan peringkat tertinggi dalam kedirian manusia parmalim). Apabila seseorang telah ada pada hakekat “ketakwaan” tersebut, maka hidupnya terpelihara dari segala perbuatan dosa karena dirinya tidak pernah lepas dari roha hamalimon itu sendiri. Dalam setiap kegiatan, dirinya terlepas dari dosa dan perbuatan yang dapat merugikan orang yang lainnya.10

Seseorang yang telah mampu mengontrol dirinya dari hal- hal yang membuat pelanggaran atau dosa merupakan orang- orang yang telah membatasi atau menjaga diri (marsolam diri) setiap saat dimana saja ia berada. Jika ingin ia sampai kepada ketakwaan itu, maka ia harus mampu marsolam diri, marsolam ngolu, marsolam tondi.Marsolam diri artinya membatasi diri dari hal- hal menjauhkan diri dari pikiran kotor, pikiran yang menyesatkan, juga menjauhkan diri dari rencana pikiran yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Apabila seseorang telah mampu menguasai dirinya, maka orang yang seperti itu adalah orang yang telah berpikiran dan berperasaan suci (marroha hamalimon). Hal inilah yang merupakan awal tindakan penguasaan diri yang menuju kepada keselamatan. Istilah kedua, yakni marsolam ngolu. Marsolam ngolu memiliki pemahaman akan pembatasan- pembatasan diri dari segala perbuatan yang menimbulkan dosa. Bagi Agama Malim, orang yang tidak mau melakukan perintah ajaran agama dan tidak mau melakukan perbuatan yang dilarang agama merupakan “dosa”. Apabila seseorang dapat membatasi dirinya terhadap tindakan yang menimbulkan dosa (marsolam ngolu), maka seseorang tersebut dinamakan mangolu hamalimon (berkehidupan suci). Ketiga adalah marsolam tondi. Marsolam tondi merupakan pembatasan diri terhadap segala sesuatu rayuan kenikmatan dunia dan menghindari diri dari segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusukan dalam beribadat. Orang yang melakukan hal ini, tidah merasa terpaksa dalam melakukan kegiatan ibadat dan berbuat kebaikan kepada sesamanya manusia.11

(6)
(7)

Dalam konsep kehidupan setelah kematian, dalam ajaran agama Malim disebut sebagai kehidupan tondi (kehidupan roh). Agama Malim menekankan bahwa bagaimana kehidupan tondi setelah kematian bergantung pada bagaimana kehidupan manusia selama hidup mereka di dunia. Kebahagiaan tondi kelak akan dicapai apabila manusia selama hidupnya turut kepada ajaran dan hukum Debata. Hal ini dapat dilihat dari bunyi doa – doa yang diucapkan pengikut agama Malim, yakni : “tung so tupa be marsangkap manang mangulahon na pininsang ni patik dohot aturan ni Debata. Marpanghirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik dohot aturan ni Debata. Na dapotsa do sogot hangoluan ni tondi di Banua Ginjang asing ni ngolu ni diri on” Bunyi doa tersebut dapat dilihat sebagai suatu pernyataan yang tidak boleh melakukan perbuatan yang dikategorikan melanggar peraturan dan hukum Debata, bahkan melakukan niat jahat pun tidak boleh. Bunyi doa tersebut juga bermaksud supaya manusia menyadari betul bahwa kehidupan tondi kelak bergantung pada kehidupan manusia ketika hidupnya di bumi. Jika manusia menuruti kehendak Debata, maka akan mendapatkan kebahagiaan tondi, sebaliknya jika pada masa hidupnya manusia berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran dan hukum Debata, maka hukuman akan datang kepadanya baik semasa hidupnya di bumi maupun kehidupan tondi kelak. Adapun hukuman yang dialami semasa hidupnya di bumi adalah berupa sakit, kelaparan, kebanjiran, dan malapetaka lainnya sama ketika dahulu masyarakat Batak jauh dari Debata, dan hukuman setelah kematian bagi mereka adalah tondi yang ditempatkan pada huta hamatean dan disana akan dibakar. 12

2. Kristen

Keselamatan dari dan di dalam diri Yesus Kristus hanya karena oleh Anugerah. Dalam hal pemahaman atas ‘Keselamatan hanya oleh karena Anugerah Kristus’, maka

(8)

anugerah yang sudah diperoleh manusia tanpa mengikut Yesus secara kongret adalah anugerah murahan. Keselamatan melalui Anugerah mengarahkan kepada Iman dimana ada iman di situ ada kasih, kepatuhan, doa dan pertobatan.13 Keselamatan adalah wujud kasih

Allah yang dinyatakan-Nya kepada umat yakni umat manusia yang sedang diperbudak oleh kuasa dosa. Keselamatan adalah pemberian Allah yang diberikan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus dan ini bukan hasil usaha manusia (Rom. 3:24 bnd Ef.2:8). Dalam Kekristenan Konsep keselamatan tidak terlepas dari apa yang dinamakan berkat. Dalam Kekristenan berkat dipahami sebagai karunia Tuhan yang mendatangkan keselamatan kepada manusia. Berkat yang diberikan kepada seseorang merupakan suatu permohonan supaya Tuhan berkenan memberikan karuniaNya kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Menurut Kitab Perjanjian Lama, Tuhan memberkati manusia sejak awal penciptaan manusia (Kej. 1: 28).14 Dalam pengertian lain, berkat dipahami sebagai salah satu di antara

pujian-pujian bagi Allah, atau kata-kata yang digunakan untuk membuat seseorang atau sesuatu menjadi kudus. Sebagai contoh misalnya salam Perjanjian Lama dikatakan bahwa berkat adalah kemurahan yag dikaruniakan Allah, seperti pada waktiu panen (Bnd. Ul. 28:8). Dalam Perjanjian Baru, berkat atau karunia yang Allah berikan kepada manusia diwujudnyatakan dengan kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah dunia ini (Bnd. Kis. 3:25).15

Dalam pemikirannya, Rasul Paulus berkata, bahwa kasih karunia merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap usaha manusia untuk memperoleh pahalanya sendiri. “jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Rom. 11:6).16 Dalam hal ini dapat dikatakan

bahwa berkat merupakan anugerah Allah yang juga merupakan hasil inisiatif dari Allah sendiri. Allah yang kepada ciptaanNya menyatakan kasih karuniaNya berupa berkat yang sangat konkret dengan kehadiran Yesus Kristus di dunia ini.17 Salah satu dari pokok

pengajaran Martin Luther tentang berkat adalah Sola Gratia, hanya karena anugerah, dan bukan karena perbuatan manusia, kemudian manusia di selamatkan, tapi karena inisiatif Allah itu sendiri. Dalam hal ini tentu saja manusia tidak hanya berpangku tangan saja dalam menerima anugerah dari Allah, melainkan dituntut respon dari manusia itu sendiri atas inisiatif Allah tersebut sebagai bentuk dari ucapan syukur atas berkat yang Allah berikan kepada manusia. Melalui penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa Allah terlebih

13 Lih, Dieter Becker, Pedoman dogmatika, BPKGunung Mulia, Jakarta 1996 ; hal 146 14 Heuken. S.J, Ensiklopedi Gereja I, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991), Hlm. 163 15 W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2007), Hlm.

(9)

dahulu bertindak, kemudian manusia meresponya dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai orang yang sudah diberkati oleh Allah, yaitu hidup dalam terang Kristus, anugerah Allah yang sesungguhnya. Kehidupan yang kekal adalah suatu istilah yang menyatakan suatu kondisi dimana manusia dimungkinkan untuk hidup selama-lamanya di dalam kebahagiaan yang tidak terhingga. Kehidupan yang kekal menunjukkan pada mutu kehidupan itu sendiri dan dan kekekalan bukan sesuatu yang kosong dan tidak nyata. Kehidupan yang kekal tidak lagi sebatas kepada pemahaman Kronos tetapi Kairos. Kekekalan bukanlah pengingkaran atas waktu. Namun sebaliknya, pewahyuan Kristen menyatakan bahwa dalam penjelmaan Anak Allah, Allah dengan bebas dan penuh kasih telah mengambil dan mengenakan temporalitas manusia, waktu dan perubahan serta telah mengangkat semuanya itu ke dalam kehidupanNya. Artinya bahwa kekekalan yang diperan sertai oleh orang percaya tidaklah di luar, di atas, sesudah, atau diseberang waktunya, tetapi tercapai dalam dan dari waktu manusia itu sendiri. Alkitab memahami kehidupan kekal adalah tentang hidup yang sejati, tulen, yang sungguh (bnd. 1 Tim. 6:19). Artinya: bahwa kehidupan yang datang dari “Aku” sama artinya dengan “dari Tuhan”, yang diterima oleh orang percaya karena Roh Kuduslah yang memuat orang percaya itu lahir kembali ke suasana hidup sorgawi bersama dengan Yesus Kristus yang adalah HIDUP itu sendiri (bnd. Yoh. 14:6). Karena itu, berbagai bagian dalam Alkitab menegaskan bahwa kini pun orang percaya sudah mempunyai hidup yang kekal ketika orang percaya mempunyai persekutuan yang indah dengan Yesus (bnd. Yoh. 17:3), jadi kehidupan kekal itu tidak bersifat eskatologi, namun sekarang pun sudah dinyatakan. Selanjutnya didalam I Korintus 13:13, Paulus melukiskan keselamatan dalam arti Kristiani sebagai keutuhan manusia beriman, berharap, dan pengasih dalam Allah, sang Pencipta, Penebus dan Pembaru. Keadaan selamat dan damai sejahtera (soteria dan eirene) yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia dihubungkan secara tegas dengan diri Yesus Kristus dan dengan karya Roh Kudus. Karya keselamatan itu diyakini akan digenapi oleh Yesus Kristus, yaitu sang Mesias yang dipilih oleh Allah.18 Keselamatan diberikan sebagai

anugerah dari Allah yang adil, yang berbuat dalam rahmat kepada pendosa yang tidak layak. Pendosa yang oleh anugerah iman, percaya kepada keadilan Kristus yang telah menebus dia dengan kematian-Nya dan membenarkan dia oleh kebangkitan-Nya. Allah sendiri yang membenarkan pendosa yang tidak layak itu (yaitu memperhitungkan baginya keadilan Kristus yang sempurna), mangampuni dosa-dosanya, mendamaikan dia dengan diri-Nya sendiri di dalam dan melalui Kristus yang sudah membuat perdamaian melalui darah salibNya (2 kor. 5:18; Rom. 5:11), mengangkatnya menjadi keluarga (Gal. 4:5 dst.) dan oleh

(10)

karunia Roh memampukan dia berjalan dalam kehidupan yang baru, sambil semakin mematikan perbuatan-perbuatan daging (Rom. 8:13) sampai akhirnya dia dijadikan sama dengan Kristus (Rom. 8:29) dan keselamatannya digenapi dalam kemuliaan (bnd. Fil. 3:21). Paulus menyimpulkan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh Iman di dalam Kristus (Roma 3:26,28; 5:1; Gal. 2:16) yaitu percaya dengan sepenuhnya (seluruh hidup) kepada Anugerah Allah yang harus dipahami sebagai pemberian yang cuma-cuma. Itu sebabnya Paulus menyaksikan bahwa Allah yang dipercayai oleh Abraham sebenarnya adalah Allah yang membenarkan orang yang tidak benar (orang yang tidak layak), bahkan orang yang durhaka (Roma 4:2-6). Pembenaran individu telah membebaskan keseluruhan dari manusia sehingga bukan kita yang memiliki pembenaran, melainkan pembenaran yang menguasai kita. Kita adalah pelayan-Nya (Roma 6:18; 2 Kor. 3:9) dan pembenaran kita adalah sudah nyata dan diteruskan sampai kepada masa yang akan datang. Pembenaran yang telah dilakukan dari dulu dan sekarang, namun kita masih menantikan pembenaran akhir (Final Revelation of God’s Justification)19.

Referensi

Dokumen terkait