• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Penelitian Sosial Tentang School (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Penelitian Sosial Tentang School (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Penelitian Sosial Tentang School Bullying

Nama :

-Fadlan bagas P

-dimas Septian P

-Sergio Ruben S

-M.Hendriko

-Naufal Adien

Kelas :

(2)

Daftar isi

C. Bentuk dan Strategi Penelitian...14

D. Sumber Data...14

E. Teknik Pengumpulan Data...14

(3)

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Bullying sudah lama terjadi tetapi permasalahan ini tetap saja menjadi topic yang

masih hangat diperbincangkan dan belum menemukan titk terang. Keberadaan bullying

seakan akan di pandang sebelah mata, sehingga mungkin baru sedikit yang menyadari bahaya

dari keberadaan bullying tersebut. Padahal bahaya dari bullying dapat sampai mengakibatkan

kehilangan nyawa. Kini saatnya di butuhkan penyadaran terhadap berbagai pihak untuk

mengatasi masalah bullying.

Bullying seakan akan sudah menjadi tradisi yang rutin terjadi sehingga menimbulkan

pola diantara orang orang, contohnya saja disekolah yang kami teliti saat ini. Bullying dapat

dikatakan sebagai hal yang sangat wajar. Setiap masalah pasti selalu ada penyebab yang

melatarbelakangi, sehingga kami sebagai peneliti dapat mengetahui mengapa bullying selalu

terjadi bahkan sudah menjadi sebuah tradisi. Bullying bukan saja bisa terjadi karena tradisi

yang dilestarikan, tetapi juga bisa terjadi karena ketidaksadaran seorang pelaku, korban dan

saksi yang berujung terhadap tindakan bullying.

Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui dan mendalami mengapa bullying bisa

terjadi. Pengaruh apa saja yangdapat dirasakan bagi pelaku, korban, dan saksi dari kasus

bullying. Dari pengaruh yang berdampak negatif tersebut apakah ada sebuah pengaruh yang

berkaitan terhadap keaktifan siswa disekolah.

B. Identifikasi Masalah

(4)

1. Faktor pribadi anak itu sendiri

2. Faktor keluarga

3. Faktor lingkungan

4. Faktor sekolah

5. Faktor pengaruh media

Faktor-faktor tersebut merupakan penyebab munculnya tindakan Bullying di dalam dan luar dunia pendidikan.

C. Pembatasan Masalah

Penulis mengangkat topik tindakan Bullying ini bertujuan untuk mengembalikan Tujuan Pendidikan Nasional sesuai UUD 1945 (versi Amandemen), seperti yang sudah

termaktub di latar belakang penulisan, Pasal 31, ayat 3, menyebutkan, “Pemerintah

mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan

keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan, yang

diatur dengan undang-undang.”

D. Perumusan Masalah

·Apakah yang dimaksud dengan bullying? ·Apakah pengaruh bullying pada siswa? ·Apa dampak dari bullying?

(5)

E. Tujuan Penelitian

Menjawab dari rumusan masalah di atas.

F. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini agar tidak terjadi lagi bullying diantara kalangan pelajar atau siswa

maupun disekolah. Selanjutnya, Manfaat penulisan laporan ini adalah :

1. Sebagai referensi bacaan untuk para pembaca . 2. Sebagai pengetahuan terhadap pembaca. 3. Sebagai standarisasi nilai siswa.

BAB II

KERANGKA TEORI ATAU KAJIAN PUSTAKA

(6)

· Makna Bullying

Beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang perilaku Bullying :

1. Ken Rigby (2002:15) : “Penekanan atau penindasan yang berulang-ulang secara psikologis

atau fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang kurang, oleh

seseorang atau kelompok orang yang lebih kuat.”

2. Andrew Mellor (1997), seorang psikolog dari University of Edinburgh, Inggris,

mendefinisikan Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan dia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi, dan merasa tak berdaya untuk

mencegahnya.

3. Barbara Coloroso (2003:44) : “Bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara

sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman

agresi dan menimbulkan terror. Termasuk juga tindakan yang direncanakan maupun yang

spontan bersifat nyata atau hampir tidak terlihat, dihadapan seseorang atau di belakang

seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh

seorang anak atau kelompok anak.

Dari beberapa pengertian diatas maka pada dasarnya bullying adalah bentuk tindakan atau perilaku, agresif seperti mengganggu, menyakiti atau melecehkan yang dilakukan secara

(7)

Bullying dapat terjadi di mana saja, tidak memilih umur atau jenis kelamin korban.

Korban bullying pada umumnya adalah anak yang lemah, pemalu, pendiam dan special

(cacat, tertutup, cantik atau punya ciri-ciri tubuh yang tertentu) yang dapat menjadi bahan

ejekan.

· Jenis-jenis Bullying

Menurut Andi Priyatna (2010:3), jenis-jenis bullying dikategorikan sebagai berikut :

1. Fisikal : memukul, menendang, mendorong, merusak

2. Verbal : mengolok-olok nama panggilan, mengancam, menakut-nakuti

3. Sosial : gossip, rumor, dikucilkan dari pergaulan, dan sejenisnya

4. Cyber/elektronik: mempermalukan orang dengan menyebar gossip di jejaring social internet

(missal : Facebook)

· Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Bullying

Beberapa faktor penyebab terjadinya tindakan bullying adalah :

1. Faktor pribadi anak itu sendiri

2. Faktor keluarga

3. Faktor lingkungan

4. Faktor sekolah

5. Faktor pengaruh media

(8)

Berdasarkan data yang didapat dalam sebuah penemuan internasional dikatakan 59 persen

siswa di Indonesia yang disurvey melaporkan bahwa siswa tersebut mendengar ejekan yang

menyakitkan hati dan perasaannya setiap harinya di sekolah sehingga merasa enggan atau

malas untuk datang ke sekolah lantaran trauma dan 10% sampai 16% siswa di Indonesia yang

disurvey melaporkan bahwa siswa tersebut telah diejek, diolok-olok, dikucilkan, dipukul,

ditendang, atau didorong setidaknya sekali dalam setiap minggunya di sekolah. (Huneck,

2006).

Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan oleh seorang psikolog bernama A.

Kasandra Putranto pada seminar yang diadakan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Yogyakarta pada tanggal 21 November 2012 lalu, menunjukkan bahwa dari 353 siswa yang

dijadikan sampel penelitian, tindak bullying yang pernah dialami oleh mereka merupakan

tindak bullying dalam klasifikasi fisik dan psikis. Bullying tersebut 33% disebabkan karena

siswa kesulitan dalam bergaul dan 26% disebabkan karena fisik yang kecil/ lemah dan cacat.

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan dampak yang ditimbulkan oleh aksi bullying

membuat 55% siswa merasa tertekan dan gugup, sedangkan 37% siswa mengalami

kekurangan dalam berkonsentrasi. Dalam penelitian tersebut, ditunjukkan pula bahwa 36%

korban bullying membalas tindak bullying yang mereka terima ( Koebler, Jason. 2011 ).

Menurut Ratna (dalam Juwita, 2008, h.2) selaku ketua peneliti kekerasan bullying yang

hasilnya diumumkan di seminar nasional ketiga anti-bullying yang digelar di Hotel JW

Marriott, meningkatnya kasus bullying di kalangan remaja disebabkan oleh beberapa hal,

salah satunya melibatkan peran media massa, yaitu begitu banyaknya film yang selalu

menampilkan adegan kekerasan.

(9)

Menurut teori konvergensi yang dikemukan oleh William Stern, dikemukakan bahwa

perkembangan individu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan saja, tetapi faktor

lingkungan juga ikut berpengaruh. Sehingga manusia perlu berinteraksi dengan lingkungan

sekitar.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang

dimaksud dengan anak adalah:

“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak

yang masih dalam kandungan.”

Menurut Ganter & Yeakel adalah lembaga yang terakreditasi bagi anak pengaruhnya

terhadap sikap mereka mengembangkan adalah signifikan. Sikap dikembangkan sesuai

dengan kebutuhan bagi seorang anak untuk mendapatkan proses yang tepat. Salah satu fungsi

utama dari sekolah adalah mencari pengetahuan. Sikap anak terhadap belajar terutama

ditandai oleh pengetahuan mencari, dan sikap ini sering berubah dalam kondisi sekolah

formal. Di banyak sekolah anak masih diharapkan menjadi tidak aktif, anak terkadang

bersikap malas dan kurang ada rasa ingin tahu.

School Bulying menurut Riauksina, Djuwita dan Soesinto didefinisikan sebagai

perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok pelajar yang

memiliki kekuasaan, terhadap pelajar/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti

orang tersebut.

Cohen dengan teori subkebudayaan delinkuennya menjelaskan bahwa perilaku

kenakalan dilakukan oleh anak-anak yang berkelompok dengan teman-temannya. Kenakalan

ini salah satunya adalah bullying, yang menurut Cohen sebuah tindakan yang tidak memiliki

(10)

Shawn dan Mc Kay mengemukakan sebuah teori yang berpendapat bahwa kenakalan

perlu di transmisi karena pengaruh gaya hidup dan mendapatkan status merupakan hal yang

penting. Teori ini dinamakan sebagai Cultural Transmission Theory.

D. Hipotesis Penelitian

1. Pengertian Bullying

Bullying berasal dari kata asal bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada

pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang

umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis

bagi korbannya, berupa stres yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis,

atau keduanya. Bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan),

sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secra psikis. Korban bully akan

merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka, ada juga peresaan

marah, malu, dan kecewa pada diri sendiri, karena “membiarkan” kejadian tersebut,

dan tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa.

2. Pengertian Pengaruh Bullying Terhadap Siswa

Bullying menurut psikolog Andrew Mellor adalah pengalaman yang

terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan ia takut apabila

perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi . Ron Banks memaparkan sebuah penelitian

pada tahun 1997 di Scandinavian bahwa ada koleksi yang kuat antara bullying yang

dilakukan oleh siswa selama beberapa tahun. Mereka sebagai korban bullying sering

mengalami ketakutan untuk sekolah dan menjadi tidak percaya diri, merasa tidak

(11)

dari kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau akhirnya

mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban.

3. Dampak dari Bullying

Para korban bullying umumnya bukanlah pemberani, memiliki rasa cemas, dan

rendah diri, yang menjadikan mereka sebagai korban tindak kekerasan ( Ramdan, Dadan

Muhammad. 2008 ). Akibat mendapat perlakuan ini,korban pun memiliki rasa dendam,untuk

suatu ketika akan mebalasnya terhadap individu lain. Sehingga bukan tak mungkin korban

bullying akan menjadi pelaku bullying pada anak lain yang ia pandang sesuai dengan

tujuannya,yaitu guna mendapat kepuasan dengan cara membalas dendam. Ada proses belajar

yang sudah ia jalani, dan ada dendam yang tak terselesaikan.siswa korban “bullying” akan

mengalami permasalahan kesulitan dalammembina hubungan interpersonal dengan orang lain

dan jarang datang ke sekolah. Akibatnya, mereka (korban bullying) ketinggalan pelajaran dan

sulit berkonsentrasi dalam belajar sehingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan fisik dan

mental baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa hal yang bisa menjadi

indikasi awal bahwa anak mungkin sedang mengalami “bullying” di sekolah oleh bullying,

tidak menyadari dampak bullying yang merusak kegiatan belajar siswa, serta tida ada campur

tangan secara efektif dari sekolah.

4. Cara mengatasi bullying

Di samping itu cara mengatasi bullying yang terjadi di kalangan remaja adalah

menghimbau para orang tua untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak

dini.Ajarkan anak untuk memliki rasa empati, menghargai orang lain, dan menyadarkan sang

(12)

kehidupannya. Masyarakat mendesak pemerintah agar memiliki program yang tegas, jelas

dan terarah, kalau kita diam saja, maka itu sama saja dengan melegalkan tradisi dendam di

sekolah tersebut. Dan merupakan bahaya yang akan kerap menghantui para siswa sekolah,

baik pada generasi ini, dan pada generasi mendatang.Untuk mengatasi dan mencegah

masalah bullying diperlukan kebijakan yang bersifat menyeluruh di sekolah, sebuah

kebijakan yang melibatkan komponen dari guru sampai siswa, dari kepala sekolah sampai

orang tua murid ,kerja sama antara guru,orang tua dan masyarakat atau pihak lain yang terkait

seperti kepolisian, aparat hukum dan sebagainya sangat diperlukan dalammenangani masalah

ini.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Kami melakukan penelitian ini di SMA Ksatrya Jakarta

B. Waktu Penelitian

Kami melakukan penelitian ini dari awal selama 4 minggu. Dengan rincian sebagai berikut :

Minggu ke-1 : Melakukan survei terhadap masyarakat sekitar.

Minggu ke-2 : Pembuatan teknis penelitian dan mencari informan.

Minggu ke-3 : Merumuskan masalah-masalah.

Minggu ke-4 : Memasukan data yang telah di dapat seta menganalisisnya.

C. Bentuk dan Strategi Penelitian

Menurut Oakley.1999:156 dalam Jurnal internasional relations Penelitian Kuantitatif

(13)

D. Sumber Data

Data yang kami peroleh adalah dari hasil survei dan pendapat dari siswa SMA Ksatrya

Jakarta Panjang yang kami lakukan,sumber data yang kami peroleh didapat di Internet dan

buku-buku.

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Prof. Heru (2006) Observasi adalah Aktivitas yang dilakukan seseorang

terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami

pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah

diketahui sebelumnya,untuk mendapatkan informasi-informasi yanf dibutuhkan untuk

melanjutkan suatu penelitian

F. Teknik Analisis

Menurut Sugiyono ( 2003:II ) Deskriptif Kualitatif adalah Prosedur penelitian

berdasarkan data deskriptif ,yaitu berupa lisan atau kata tertulis dari seseorang subjek yang

telah diamati dan memiliki karakteristik bahwa data yang tidak diubah serta menggunakan

(14)

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

SMA Ksatrya Jakarta merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas swasta yang ada

di Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia,

masa pendidikan sekolah di SMA Ksatrya Jakarta ditempuh dalam waktu tiga tahun

pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII.

Pada tahun 2007, sekolah ini menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,

dan pada tahun 2013 kemudian menggunakan Kurikulum 2013.

B. Pokok-Pokok Temuan Penelitian

Dalam penelitian internasional menunjukan bahwa school bullying adalah perilaku

umum yang terjadi di sekolah. Intimidasi tersebut terjadi di berbagai tingkatan kelas. Namun

sering terjadi di sekolah tingkat menengah tinggi. Pada dasarnyaschool bullying juga penting

karena hubungannya dengan kejahatan, kriminal, kekerasan, dan jenis-jenis perilaku

antisosial yang agresif.

Gambaran akan diri atau self-image merupakan bagian yang penting bagi remaja

(15)

dimana hal itu dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan bagi dirinya berdasarkan dengan

peran-peran yang ia harapkan terutama mengenai apa yang harus dilakukan dalam interaksi

interpersonal dengan teman-teman sebayanya. Simbol mengenai dirinya tersebut akan

berkembang dan mengiringi remaja dalam kehidupan pribadinya. Berdasarkan hal tersebut

remaja harus dapat secara tegas untuk mengatasi interaksi yang tidak baik atau tidak sesuai

dimana hal ini merupakan berntuk proteksi terhadap diri sendiri. Bentuk proteksi tersebut

dapat disesuaikan dengan keadaan dimana remaja mendapatkan kekerasan tetapi tidak

mencakup kekerasan verbal maupun ekspresi internal yang diberikan oleh pelaku kejahatan.

C. Pembahasan/Analisis

Sebuah studi internasional menunjukkan bahwa sekolah menjadi tidakcukup aman

karena sering terjadi bullying di dalamnya.

Kasus kekerasan yangterjadi di SMA Ksatrya Jakarta jelas merupakan salah satu

contoh kasus bullying karena memenuhi ciri-ciri utama bullying menurut Sullivan (2001)

yang telahdipaparkan pada tinjauan pustaka, yaitu:

a. Adanya niat untuk melukai atau merugiakan orang lain.

b. Adanya ketidakseimbangan kekuatan.

c. Seringkali terorganisir dan sistematis.

d. Berulang dalam periode tertentu.

Analisis kasus selanjutnya akan dibatasi pada konsep motivasi pelaku dan dampaknya

terhadap korban bullying. Dua hal ini dianggap penting oleh penulis untuk melihat dari sudut

(16)

D. Wawancara

Wawancara kita lakukan melalui media sosial yaitu line

Hasil Penelitian Teknik Wawancara :

Peneliti : Selamat Siang? Boleh minta waktunya sebentar ?

Responden : Siang.boleh .

Peneliti : benar ini chendi .

Responden : iya chendi .

Peneliti : oke kita sedang bertugas melakukan sedikit wawancara. Boleh?

Responden : tentu boleh.

Peneliti : Apakah anda tau apa itu bullying ?

Responden : Tahu.

Peneliti : Apakah kamu pernah menjadi pelaku bullying ?

Responden : Pernah.

Peneliti : Apakah kamu pernah menjadi korban bullying ?

Responden : Pernah juga.

Peneliti : Apa tindakan kamu pada saat di bullying ?

Responden : Melawannya jika tindakan itu berlebihan.

Peneliti : Apakah menurut kamu tindakan bullying yang dilakukan akibat dari

kurangnya perhatian orang tua ?

Responden : Tidak.

Peneliti :Menurut kamu apakah faktor lingkungan dapat memicu perilaku

(17)

Responden : Ya, tentu sekali.

Peneliti : Apa pengaruh bullying bagi siswa yang sering di bullying di

sekolah ?

Responden : Siswa akan menjadi lebih takut kepada orang yang telah

membullyingnya.

Peneliti : Bagaimana menurut kamu cara mencegah perilaku bullying agar

tidak terjadi ?

Responden : Melatih siswa yang lemah, seperti menjaga diri.

Peneliti : Apakah bullying merupakan tindakan menyimpang ?

Responden : Ya.

Peneliti : Terima Kasih atas waktunya, ya chendi

Responden : Sama-sama.

Kesimpulan Teknik Wawancara :

Dari hasil penelitian teknik wawancara, kami menyimpulkan bahwa hampir semua

siswa di SMA Ksatrya Jakarta mengetahui apa itu bullying dan pernah menjadi pelaku

bullying dan menjadi korban bullying. Menurut mereka bullying terjadi karena faktor

lingkungan, mereka setuju bahwa orang yang melakukan bullying, karena dulunya

pernah menjadi korban bullying. Dan mereka setuju bahwa bullying sangat berdampak

bagi psikologis siswa . Mereka mempunyai alasan mereka melakukan bullying adalah

menjadikan sebuah candaan dan tidak bermaksud menyakiti seseorang yang di

(18)

Sejarah Perguruan Ksatrya 51

Berdirinya pada tahun 1951, didirikan oleh 14 mahasiswa, yaitu :

1.Soeyono . 8.Bemfi Pasaribu.

2.Daud yusuf 9.Johan.’

3.Bustani. 10.Arifin.

4.Chairul. 11.Johar Arifin.

5.Suntiram. 12.Mar’ab.

6.Rahma Saleh. 13.Sukaisi Adiwimarta.

7.Abdul Talib. 14.Abdul Wahab Lubis.

Pada bulan juli 1951 sementara mennumpang di gereja kosta di jl.melania stasiun keramat.

Pada saat itu Siswa kelas 1dan 2 ada sekitar 200.Dan pada saat malam hari jumlah siswa

menjadi berkurang, dari 200 menjadi 120 orang.

Pada tahun 1953 mulai dibangun ruangan kelas.

Pada 1954 kelas permanen yang dibangun Yayasan dan Guru nya berjumlah25 orang.

Pada tanggal 30 juli 1954,7 orang telah meninggal dunia dari 11 orang meninggal dunia

kecuali Ibu Sukaesi.

(19)

Mewujudkan Generasi cerdas Spiritual,Intelektual,Berkarakter,dan Brdaya saing tinggi.

Misi Perguruan Ksatrya 51 :

1.Berkaidah lurus dan gemar beribadah .

2.Berakhlak mulia dan Percaya diri .

3.Berprestasi akademik dan Non akademik .

4.Mampu berkompetisi diberbagai bidang .

BAB V

(20)

A. Kesimpulan

Bullying dalam pendidikan sebenarnya sudah lama ada dalam bentuk kekerasan fisik,

verbal dan psikologis, kekerasan yang menyakiti seseorang sehingga menimbulkan

penderitaa, kecacatan bahkan sampai kematian.Bullying dalam bentu verbal seperti ejekan,

penghinaan, atau menggosipka, bullying dalam bentuk psikologis sepeti intimidasi,

mengucilkan, mendiskriminasikan.

Dampak dari bullying sangat merugikan penderitaaan misalnya anak mengalami

trauma besar dan depresi yang akhirnya bisa menimbulkan gangguan mental di masa yang

akan datang, dan anak tidak mau pergi ke sekolah, hilang konsentrasi sehingga prestasinya

menurun drastis. Pelakubullying ini bukan hanya siswa yang merasa lebih kuat atau lebih

senior, tapi kenyataannya banyak dilakukan oleh guru–guru yang mereka tidak menyadari

bahwa perlakuannya menimbulkan penderitaan bagi siswa. Untuk mengatasi masalah

konseling sangat dibutuhkan. Konselor bekerja sama dengan orang tua ,masyarakat,

kepoilsian dan penegak hukunm untuk memberi pengertian kepada para pelajar dan

mahasiswabahwa bullying sangat merugikan.

B. Saran

Seharusnya bullying tidak dilakukan agar tidak menimbulkan dendam dari orang

yang di bullying, apabila ada dendam akan berdampak buruk di kemudian harinya.dan

sebagai manusia yang baik harus menghargai sesama teman, jangan merasa paling kuat

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu cara pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui dan membedakan sifat genetik tersebut adalah dengan menganalisis protein darah yang

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang sedang antara regulasi diri dengan motivasi berprestasi pasa

Pengawas Minum Obat adalah seorang yang bertugas untuk mengawasi klien agar menelan obat, berobat, memeriksakan diri, secara teratur sampai selesainya pengobatan, dan

Oleh karena itu, software seperti JAWS harus selalu di-maintain agar compatible dengan teknologi komputerisasi yang baru sehingga kaum tunanetra dapat terus

Tetapi paling tidak Yakobus telah memberikan rambu-rambu, bahwa keselarasan antara iman dan perbuatan yang diwujudkan dalam ibadah yang benar dengan disertai aksi

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai dengan April 2015 di Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan,

Berkenaan dengan sumber belajar, Sukarno (2008:59) mengemukakan bahwa guru Bahasa Inggris untuk anak-anak harus paham dengan berbagai sumber belajar (lagu, cerita,