FORMAT PENYUSUNAN
KARYA ILMIAH
Oleh: Lia Yuliana, M.Pd
CIRI-CIRI ILMIAH
Dari pembicaraan sehari-hari kita sudah dapat dengan cepat menandai, sesuatu itu ilmiah atau bukan, terutama diamati dari alur penalarannya. Dalam kalimat sederhana, sebuah pembicaraan dikatakan ilmiah apabila dapat diterima oleh nalar atau akal sehat, bukan didasarkan atas kemenangan berdebat tanpa dasar. Dapat diterima oleh nalar, bukan hanya oleh pikiran manusia biasa, tetapi sudah didasarkan atas teori yang sudah diakui kebenarannya oleh kalangan ilmuwan. Dengan ciri ilmiah tersebut, sebuah karya dapat dikatakan ilmiah hanya apabila didukung oleh teori yang relevan.
Selain ada dukungan ilmiah, sebuah karya dapat dikatakan ilmiah apabila alur pikirannya runtut, enak diikuti, dan mengikuti sistematika yang dikenal oleh dunia keilmuan sebagai sistematika yang mudah dinalar. Dengan persyaratan demikian ini tidak berarti bahwa sistematika karya tulis ilmiah itu hanya satu macam, kaku, tidak ada alternatif. Sistematika karya tulis yang dihasilkan oleh guru tidak mengikat harus mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional saja, tetapi boleh tidak sama, asal alur pikirannya sesuai dengan kaidah keilmiahan.
SISTEMATIKA ATAU FORMAT PENULISAN KTI
1. Latar belakang masalah
Dalam latar belakang ini dikemukakan “ganjalan” yang ada dalam pikiran penulis, berupa ketidakpuasan penulis terhadap hal-hal yang diperoleh dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari, baik yang dialami sendiri maupun orang lain. Ganjalan ini dirasakan oleh penulis karena dirinya mengetahui seperti apa seharusnya, padahal yang terjadi tidak seperti itu. Oleh karena itu rumusannya harus jelas, bagaimana keadaan yang ada, kemudian bagaimana seharusnya. Penulisan ini tidak harus demikian, tetapi dapat dibalik, yang seharusnya dulu, baru kejadian atau kondisi yang ada. Jika dari kejadian yang tidak memuaskan ini penulis mempunyai jalan keluar yang baik dan logis, dalam bagian ini dituliskan secara ringkas gagasan untuk mengatasinya.
2. Tujuan penulisan
Bagian kedua dari tulisan ini menyatakan hal-hal yang diharapkan dapat dikemukakan setelah penulisan selesai. Rumusan tujuan ini sebaiknya disusun sedemikian rupa sehingga jelas, rinci dan menarik bagi pembaca sehingga pembaca tersebut ingin sekali melanjutkan membaca apa yang dikemukakan oleh penulis.
3. Kajian teori
Judul bagian ini tidak mengikat, boleh “Kajian teori”, boleh “Kajian pustaka”, atau ”Landasan teori”. Yang penting adalah bahwa isinya menunjukkan adanya teori-teori yang diperoleh penulis dari membaca buku atau sumber lain, dengan menyebutkan dari mana asal teori tersebut diambil. Penulisan sumber kajian teori tidak harus dengan catatan kaki (foot note),
tetapi ditulis langsung dalam kurung di belakang kutipan, atau disebutkan nama dalam teks kemudian tahun dan halaman dituliskan dalam kurung.
sinilah letak perhatian penilai, karena karya tulis ilmiah merupakan karya yang menunjukkan kualitas penulis dalam menyusun sebuah karya. Alur pikir penulis dapat diketahui antara lain dari kemampuan memanfaatkan pikiran orang lain untuk buah pikirannya.
4. Pembahasan
Dibandingkan dengan bagian-bagian sebelumnya, bagian inilah yang paling penting dan merupakan bagian yang selalu dicermati oleh penilai. Dari bagian inilah dapat diketahui bagaimana gagasan penulis dalam memecahkan masalah (“ganjalan”) yang dikemukakan pada latar belakang masalah. Meskipun bagian yang lain terbaca banyak dan terkesan ilmiah, tetapi kalau tidak ada bagian pembahasan, karya tulisnya tidak dapat diterima. Isi pembahasan tidak boleh menyimpang dan harus dilandasi teori-teori yang sudah dikutip. Semakin banyak dan runtut isi pembahasan, penilai langsung terkesan bahwa karya ini baik dan dapat diterima.
5. Kesimpulan
Bagian terakhir dari karya tulis ilmiah adalah kesimpulan. Urutan isi bagian ini harus sinkron dengan tujuan yang sudah ditulis dalam bagian kedua. Dalam hal ini penulis tidak harus terikat pada banyaknya nomor yang dituliskan dalam tujuan, tetapi isinya harus lengkap menunjukkan bahwa tujuan sudah tercapai dan tertuang dalam kesimpulan. Meskipun banyaknya nomor tidak harus sama, penulis perlu menunjukkan kiat, penilai akan lebih terkesan positif jika nomor kesimpulan sama dengan banyaknya nomor dalam tujuan.
6. Daftar pustaka
Untuk sumber kajian ini ada hal yang perlu diketahui oleh penulis, yaitu agar sedapat mungkin membatasi penggunaan kamus sebagai sumber. Apa yang tertulis di dalam kamus bukan teori tetapi baru merupakan batasan batasan pengertian. Yang diperlukan adalah dukungan teori, sedangkan batasan pengertian baru berstatus sebagai penguat dari pengertian yang kita ambil.
KARYA TULIS ILMIAH YANG BAIK
Salah seorang penilai nasional Prof. Dr. Ir. Suhardjono dosen tetap Universitas Brawijaya menyusun sebuah pedoman penulisan KTI yang mudah diingat, yaitu APIK, singkatan dari Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten. Pedoman
tersebut kini digunakan sebagai acuan penilaian oleh semua penilai pusat, baik yang ada di pusat sendiri maupun di daerah. Jika karya tulis dinilai dengan dasar acuan ini, berarti bahwa acuan tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai acuan bagi guru untuk menyusun karya tulisnya. Dalam acuan ini dikemukakan kondisi negatif, dengan maksud agar penulis menghindarinya.
1. A = As1i
Penjelasan: KTI harus asli yaitu merupakan karya diri si penulis, bukan mengutip karya orang lain, bukan dibuatkan oleh orang lain, atau menjiplak di sana-sini dan gabungan dari karya orang lain.
Bukti bahwa KTI tidak asli:
a. Terdapat bagian-bagian tulisan atau sebagian besar tulisan “mirip” skripsi atau tesis, misalnya ucapan terimakasih pada dosen pembimbing, terdapat kata-kata “skripsi” atau “tesis”.
b. Tanggal penelitian tidak sama dengan tanggal pengesahan KTI. c. Terdapat petunjuk lokasi yang berbeda dengan tempat tinggal penulis. d. Data dan analisis terlalu muluk, seperti penulis yang mendapat bimbingan
secara intensif.
e. KTI sama dengan karya orang lain dengan judul sama atau berbeda tetapi tampak hanya diubah istilah-istilahnya.
2. P = Perlu
Penjelasan: Membuat KTI bukan pekerjaan yang mudah, dan bukan hanya dengan maksud yang sifatnya sementara, tetapi untuk jangka panjang, yaitu pengembangan profesinya. Bagi guru, jangkauan lebih jauh adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, karena mereka adalah subjek yang harus kita bantu. Jadi sebuah KTI perlu apabila untuk kepentingan guru atau siswa.
Bukti bahwa KTI tidak atau kurang perlu:
a. Masalah yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan upaya pengembangan profesi penulis.
b. Masalah yang ditulis meskipun sempit tetapi tidak menunjukkan adanya kegiatan nyata penulis dalam peningkatan profesinya.
c. Permasalahan yang ditulis sangat mirip dengan karya-karya orang lain (sudah banyak ditulis oleh penulis lain, hanya mengulang-ulang, tidak memberikan kemanfaatan baru).
3. I = Ilmiah
Penjelasan: KTI dikatakan ilmiah jika
(1) permasalahan yang dikaji berada di khasanah keilmuan. (2) menggunakan kriteria kebenaran ilmiah
(3) menggunakan metode ilmiah (4) memakai tatacara penulisan ilmiah Bukti bahwa KTI tidak termasuk ilmiah:
a. Masalah yang dibahas berada di luar khasanah keilmuan
b. Latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan manfaat pengembangan keilmuan.
c. Rumusan masalah tidak jelas atau bahkan tidak ada rumusan masalah d. Apa yang dikemukakan sebagai kebenaran tidak didukung oleh teori,
kebenaran fakta atau kebenaran analisisnya.
f. Bila KTInya berupa laporan hasil penelitian, metode yang digunakan belum benar, tampak dari penentuan variabel, populasi dan sampel, data yang dikumpulkan serta cara yang digunakan, metode analisis, menarik kesimpulan dari kaitannya dengan pembahasan tidak benar.
g. Kesimpulan tidak sinkron dengan rumusan masalah, mungkin belum atau tidak menjawab permasalahan yang diajukan.
4. K = Konsisten
Penjelasan: Karya yang ditulis harus sesuai (konsisten) dengan kompetensi penulis dan sesuai dengan tujuan penulis dalam mewujudkan karya tulis. Bukti bahwa KTI tidak konsisten:
a. KTI yang ditulis tidak sesuai dengan tugas si penulis.
b. KTI yang ditulis tidak sesuai dengan latar belakang keahlian atau tugas pokok penulis.
c. Masalah yang dikaji tidak berkaitan langsung dengan upaya penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru atau kepala sekolah