MALIN KUNDANG DAN CATATAN PERGULATAN PEMIKIRAN SEORANG MANUSIA INDONESIA Goenawan Mohamad, Kata, Waktu;
Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001, (Penyeleksi: Nirwan Ahmad Arsuka), Jakarta: Pusat Data dan Analisa TEMPO, 2001,
xxv + 1493 halaman.
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
(Goenawan Mohamad, “Kwatrin tentang Sebuah Poci”)
SEORANG anak muda adalah Malin Kundang. Ia berjalan dalam perubahan-perubahan. Ia tak dipahami dan dimengerti. Ia pun tak memahami dan mengerti, sebagaimana orang-orang tua dan siapa saja, tentang diri, lingkungan, dan dunia. Yang kemudian dilakukannya adalah
mempertanyakan dan merumuskan jawab, pencarian atas kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah sampai ujung itu. Setelah itu, apakah yang terjadi? Seperti biasa, pencarian senantiasa berteman dengan kebimbangan. Ia bimbang dengan sekian perjalanan pencarian yang sudah dan akan dihadapinya, salah satunya adalah adanya kenyataan betapa ketika ia kembali, pulang, berhadapan dengan kehidupan muasal, ia pulang sebagaimana layaknya seorang asing. Menjadi Malin Kundang adalah menjadi seorang terkutuk.
Malin Kundang adalah tokoh mitologi Melayu yang diangkat oleh Goenawan Mohamad dalam esainya yang berjudul “Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang”. Esai ini memaparkan perjalanan kepenyairan seorang anak muda dengan sekian perbenturan yang terjadi dalam diri dan lingkungannya. Anak muda yang pada umur yang ke delapan belas, di usia sebelas tahun jika dirunut lebih jauh, menulis sajak tanpa mengerti kenapa seseorang harus jadi penyair. Yang dituliskannya kemudian adalah betapa dalam dirinya ada berdenyar kesadaran akan arti kebebasan dari kolektivisme, pemahaman atas kemerdekaan dan individualisme. Kesadaran ini membuatnya mengerti apa yang harus dilakukannya atas tradisi dan masa lalu, juga terhadap peradaban dunia luas. Yang kemudian sampai padanya adalah suatu dunia baru yang terbuka lebar, yang bisa dibentuk, dipahami, dan ditafsirkannya sendiri secara merdeka.
▸ Baca selengkapnya: orientasi komplikasi resolusi cerita malin kundang dalam bahasa inggris
(2)Esai ini menjadi semacam autobiografi yang merepresentasikan sosok penulisnya sendiri, Goenawan Mohamad. Bernama lengkap Goenawan Susatiyo Mohamad, akrab dipanggil GM, ia dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Perjalanan hidupnya senantiasa berada di seputar dunia tulis-menulis dan kesusastraan: wartawan Harian Kami (1966-1970), anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971), anggota Dewan Redaksi majalah sastra Horison, salah seorang pendiri dan kemudian pemimpin redaksi majalah Ekspres (1970), Tempo (1971), dan Zaman (1979). Ia juga dedengkot dari Komunitas Utan Kayu, dengan Kalam, ISAI, Pantau, Radio 68H, yang memiliki beragam kegiatan kesenian, pemikiran, komunikasi, dan kebudayaan.
Karya-karyanya telah banyak diterbitkan, antara lain kumpulan puisi Pariksit (Litera, 1971), Interlude (Yayasan Indonesia, 1973), Asmaradana (Grasindo, 1992), Misalkan Kita di Sarajevo (Kalam, 1988), dan Sajak-Sajak Lengkap, 1961-2001 (Metafor, 2001); kumpulan esai Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (Pustaka Jaya, 1972), Seks, Sastra, Kita (Penerbit Sinar Harapan, 1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (Pustaka Firdaus, 1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Alvabet, 2001), Eksotopi (Grafiti, 2002), dan empat jilid kumpulan esai Catatan Pinggir. Ia juga menulis libetto untuk opera, Kali (1996) dan The King’s Witch (1997-2000), bekerja sama dengan musisi Tony Prabowo, yang dipentaskan pertama kali di Amerika Serikat, tahun 2000.
Goenawan Mohamad adalah nama yang sangat menonjol dalam dunia kepenulisan Indonesia. Dalam pengantarnya, Nirwan Ahmad Arsuka menyebutkan hanya dua nama dari sangat-sangat sedikit cendekiawan kontemporer Indonesia yang memiliki konsistensi dalam menulis, dalam kuantitas dan kualitas, yakni Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Penilaian yang menempatkan keduanya di puncak kebesaran penulis Indonesia ini memang bisa kita terima. Jika pun harus dibandingkan, yang membedakan dari dua tokoh besar ini bisa jadi adalah pada tataran “ekstra-estetik” semata. Pram dikenal sebagai novelis dengan sekian atribut politisnya, realisme-sosialisnya—yang memunculkan sekian polemik dan perdebatan, yang dimusuhi dan juga dipuja-puja banyak orang, sedang GM dikenal sebagai penyair dan esais—dunia sunyi yang jauh dari perbincangan umum.
Sebagai penyair, GM adalah penyair yang menulis berdasarkan pengetahuan dan intelektualitas, bukan sekadar penyair alam dengan haru-biru perasaan belaka. Ini dapat dilihat pada dua
▸ Baca selengkapnya: teks dialog malin kundang bahasa inggris
(3)Dua esai ini menguak usaha GM memposisikan dirinya sebagai penyair, yang mencoba melepaskan diri dari belenggu-belenggu lingkungan dan mengembara ke dunia luas. Spirit kepenyairan yang demikian ini terbawa pula dalam setiap tulisannya, esai-esainya memaparkan keragaman yang teramat kaya: geografi, sejarah, pemikiran, peradaban, dan kebudayaan
universal. Yang harus buru-buru ditambahkan, GM tidak meninggalkan bahkan menggeluti tema dan pemikiran lokalitasnya, tradisi dan budayanya sendiri, dengan keseriusan yang sama tinggi sebagaimana ia secara piawai merambah berbagai pengetahuan pemikiran dan peradaban budaya dari berbagai penjuru dunia. Dalam aspek struktur dan bahasa, dunia kepenyairan dan
kesastrawanan tersebut memunculkan tulisan dan esai—juga dalam penulisan jurnalistik di media-media yang dipimpinnya—yang jernih dan lentur, yang meleburkan batas-batas bahasa puisi dan prosa, lisan dan tulisan, dan dengan pemakaian kosakata dan struktur kalimat yang bernas, yang membuat bahasa Indonesia terasa demikian kaya dan hidup.
Demikianlah, Goenawan Mohamad adalah nama yang memiliki tempat tersendiri dalam dunia kepenulisan kita, terutama lewat esai-esai di kolom Catatan Pinggir majalah Tempo. Dengan konsistensi yang luar biasa, selama lebih dari seperempat abad, dan terus berlanjut sampai sekarang, esai-esai pendeknya hadir nyaris setiap minggu. Tentu saja, hal ini bukan sekadar persoalan kuantitas. GM menuliskan beraneka tema yang sangat kaya dalam bahasa Indonesia yang berkualitas. Bisa dikatakan, Catatan Pinggir menjadi sebentuk genre tersendiri dalam penulisan esai di Indonesia, melekat erat menjadi bagian dari kreativitas personal GM. Setelah dibukukan secara kronologis dalam empat jilid, sekali ini Catatan Pinggir dikompilasikan lagi dalam format yang lebih eksklusif menjadi semacam kumpulan esai terpilih dalam buku Kata, Waktu; Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001. Sebagaimana dipaparkan dalam pengantar, Buku ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh Nirwan Ahmad Arsuka atas hampir 1.000 esai pendek GM dari 1960 sampai 2001. Ada sekitar 650 tulisan terpilih, sebagian sangat besar berasal dari Catatan Pinggir, ditambah dua esai panjang, tentang Malin Kundang dan Pasemon sebagaimana telah disebut di muka.
Dialog dan percakapan yang akrab atas segala hal, monolog dan pertanyaan yang meninjau ulang sesuatu, paparan dan penghormatan terhadap tokoh atau seseorang, peringatan dan kenangan peristiwa-peristiwa, warna-warni dunia, di setiap tempat, di suatu waktu. Semacam itulah yang ditawarkan GM lewat esai-esai dalam buku ini. Ia menuliskan bolak-balik antara yang konkret dan yang abstrak; sesuatu yang riil dan nyata bisa ditariknya dalam refleksi-refleksi abstrak, sebaliknya suatu idea dan dunia gagasan bisa didekatnya sebagai bagian dari keseharian kita. Sekali waktu disebutkannya tokoh-tokoh terkemuka dunia berjejer dengan nama seorang dari kaum jelata atau tokoh fiksi-fiktif; suatu peristiwa di satu dusun kecil entah di mana bisa dijalinkannya sebagai bagian dari sejarah besar yang teramat penting dalam perjalanan peradaban umat manusia; kemudian sebuah baris sajak dipadankan dengan traktat politik dan komando kekuasaan; sebaliknya, dipaparkan pula cerita kecil tentang kaset video, sebuah patung, bis kota bobrok, atau lalat.
bagaimana kekhasan GM menulis. Ia membuka esai itu demikian: Tidur, anakku, akan kubacakan sepucuk surat ke dalam mimpimu. Sebab tahukah kau apa yang saya pikirkan di samping tempat tidurmu? Tahukah kau apa yang ingin saya katakan, setelah kau lelap, dan lampu padam di kamar ini, dan nyamuk mulai terdengar desingnya? Ia melanjutkannya dengan mengutip ungkapan Rabindranath Tagore tentang anak, bahwa setiap anak adalah suatu pesan betapa Tuhan belum jera dengan manusia. Dari sini, GM memunculkan pertanyaan-pertanyaan kepada kita semua. Dengan ilustrasi betapa sekian banyak bayi lahir setiap menitnya, apakah kesemua mereka membawa pesan yang sama? Bahwa Tuhan belum jera dengan manusia, meski kemiskinan dan kelaparan ada di mana-mana, kematian dan kemalangan bisa menjumpai siapa saja? Bagaimana dengan persoalan moralitas dan pilihan ketika setiap anak, setiap manusia, mesti berebut masa depan mereka masing-masing? GM dengan apik menutup pembahasan atas kecemasan atas kehidupan yang carut-marut ini dengan semacam renungan kepasrahan, atau kerelaan menghadapi tantangan hidup yang demikian itu, dengan kalimat ini: Maka lebih baik kuletakkan saja tanganku di rambutmu, dan berharap. “Datanglah dan duduklah dalam haribaan yang tak berbatas, anakku.”
Di tangan GM, tidak ada hal yang sia-sia dan percuma, bahkan dalam hal-hal yang remeh sekali pun. Menyitir baris-baris sajaknya, sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini, segala apa di dunia ini mungkin retak dan tidak sempurna, tetapi manusia memiliki akal dan pikiran yang bisa memberikan harga dan makna sedalam-dalamnya. Di sinilah buku ini layak dibaca, dengan pembahasan yang sahih, bersama referensi-referensi pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai sumber, segala sesuatu memiliki tempat dan harganya masing-masing, memiliki keabadian-keabadiannya sendiri. Dengan ke-Malin Kundang-annya, GM melihat, membongkar, dan
mempertanyakan kembali berbagai hal yang ada di lingkungannya. Miisalnya, pembahasan yang memperbandingkan ajaran Marx, Lenin, dan Wulangreh (h. 107); tentang Timur Leng,
Kolonialisme Barat, dan Amangkurat (h. 205); Bung Karno dan Pasar Ikan (h. 319); Pancasila, Karl Jaspers, Sokrates, Budha, Konfusius, dan Yesus (354); Alexander Agung, Anjing, dan Matahari; Seks dan Ajisaka (518); dan seterusnya.
Membaca Kata, Waktu adalah membaca mozaik-mozaik. Galibnya sebuah kumpulan tulisan lepas, kita bisa membacanya secara bebas dan terbuka—setidaknya agar kita tidak buru-buru ‘ngeri’ dengan ketebalannya yang lebih dari seribu lima ratus halaman ini, apalagi dengan kertasnya yang tipis-menerawang dan lay-out perwajahan yang kurang menguntungkan. Kita bisa membaca berurutan mengikuti kronologi penyusunan tulisan berdasarkan waktu
publikasinya, bisa pula memulai dan membukanya dari bagian mana saja. Kata, Waktu menjadi buku yang sangat berharga bagi pembaca Indonesia. Dengan kekuatan bahasa yang mempesona, GM mengajak kita menelusuri berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia dan dunia, klasik maupun kontemporer. Ia memberikan kajian yang bernas dan mematangkan atas sejarah peradaban manusia, tentang puisi, politik, religi, seni dan budaya, tokoh, pewayangan; tentang penindasan dan pembebasan; tentang rezim, korban, dan—barangkali juga—masing-masing dari diri kita.
juga dinikmati sebagaimana puisi dan ditanggapi menjadi sebentuk sensasi yang menantang kita untuk mencari sendiri datarannya yang lebih luas lagi. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Goenawan Mohamad, kita ditantang menjadi Malin Kundang-Malin Kundang baru di era paska segala posmo ini. [Goen]
Matabaca, vol.1/NO.5, Desember 2002
CATATAN PINGGIR: ANIAYA
Karya: Goenawan Mohamad
KENAPA terjadi kesewenang-wenangan? Kenapa seorang yang berkuasa bisa berbuat sekehendaknya terhadap diri seorang lain sampai ludes dan papa?
Seorang yang dipertuan –seorang bos– mungkin seorang yang mendapat privilese untuk jadi kanak-kanak kembali. Seperti bocah balita, ia biasa minta dilayani dengan telaten. Dan seperti balita, dialah pusat perhatian. Ia juga boleh marah sampai sekeras-kerasnya, bila perlu menyepak, seakan-akan orang lain hanya otomaton yang rela.
Raja Henry II dari Inggris di abad ke-12, misalnya, biasa menjatuhkan diri ke lantai bila sedang marah besar, dan melampiaskan emosinya dengan menggigit-gigit permadani yang terhampar bila kehendaknya tak terpenuhi. Dan ia menjelaskan tabiatnya itu dengan kalem, ”Aku adalah putra kemarahan: kenapa aku tak boleh mengamuk? Tuhan sendiri mengamuk bila Ia sedang murka.”
Dengan kata lain, Henry II sedikit menyamakan diri dengan Yahwe, Yang Mahakuasa dalam kitab Perjanjian Lama. Agaknya memang begitulah sosok seorang yang dipertuan: ia sekaligus bermain dengan mimpi kanak-kanak dan dengan mimpi jadi Tuhan.
Ada sesuatu dalam jiwa orang-orang yang bergabung di dalam suatu kehidupan bersama yang tampaknya memungkinkan hal itu terjadi. Eli Sagan, yang membuat uraian menarik tentang apa yang disebutnya ”masyarakat-masyarakat majemuk” di Buganda, Tahiti, dan Hawaii dalam At the Dawn of Tyranny, menyebut satu nasihat yang diucapkan untuk seorang raja baru: ”Siapa saja yang memandang rendah kehormatan Tuan, bunuhlah, sebab semua petani adalah ibarat padi-padian–siapa yang membabatnya, memilikinya.”
membunuh secara ritual seorang manusia lain itu tampaknya, apa boleh buat, suatu atribut yang diperlukan, dan juga suatu pengesahan yang tak bisa dipungkiri, bagi kekuasaan yang tertinggi.” Kenapa demikian, memang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Sagan berbicara tentang ”masyarakat-masyarakat majemuk”, complex societies, ia berbicara tentang masyarakat yang tak lagi bisa disebut primitif, yang tak menggunakan lagi sistem pertalian keluarga dalam mengatur kebersamaan: suatu masyarakat yang sudah punya birokrasi tersendiri yang mulai lengkap. Masyarakat semacam ini, dalam konsep Sagan, adalah masyarakat peralihan. Sifatnya sementara: sebuah jembatan besar antara masyarakat primitif di hutan-hutan dan masyarakat arkais seperti dalam kerajaan Mesir Kuno. Keadaan karena itu belum stabil, dan yang meruyak adalah pelbagai bentuk kecemasan. Orang cemas akan masa silam yang primitif, yang menenggelamkan individualitas dalam kungkungan keluarga, tapi orang juga cemas untuk mulai berdiri sendiri. Dalam kegalauan itu sang bapak, sang raja, tampil dan berseru, ”Awas!”
Sang raja juga sebenarnya tokoh yang gentar. Dan Eli Sagan mencoba menjelaskan kenapa kesewenang-wenangan bisa terjadi dalam keadaan jiwa seperti itu: ketakutan itulah yang menyebabkan sebuah masyarakat, sampai hari ini, memerlukan korban. Ketakutan menyebabkan agresi. Dengan melihat orang lain runtuh, sebuah kelompok dalam masyarakat agaknya akan merasa sedikit lebih enak. Pada saat orang-orang yang dianggap ”kuat” di sebuah masyarakat merasa cemas akan daya kemampuan mereka sendiri, pihak yang tak berdaya pun diinjak. Hitler mengirim Yahudi ke ruang gas, dan orang kulit putih menyisihkan orang hitam dari hidup yang patut.
Jika kehidupan masyarakat selalu merupakan peralihan, jika perubahan selalu terjadi, adakah itu berarti kecemasan akan selalu bersama kita? juga kesewenang-wenangan dan sikap aniaya yang terbit dari dalamnya? Eli Sagan tak menjawab jelas. Ia hanya menunjukkan bahwa di mana pun, di Barat dan di Timur, di Afrika ataupun di Eropa, bentuk-bentuk tirani tak pernah dapat terhindarkan dalam sejarah perkembangan manusia. Siapa tahu, karena kita bicara soal ”perkembangan”, banyak kesewenang-wenangan akhirnya akan hilang, dan manusia pun merdeka: berani mandiri.
Tempo, 25 Januari 1986 Catatan Pinggir
Goenawan Mohamad
Judul : Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai Penulis : Goenawan Mohamad
Cetakan : I, 2007 Penerbit : Katakita, Jakarta. Tebal : 166 halaman (99 tatal)
ISBN : 979-3778-48-2
Penerjemah ke bahasa inggris : Laksmi Pamuntjak, On God and Other Unfinished Things.
“Di tahun 1925 dari tangan Roestam Effendi terbit Pertjikan Permenungan, sejumlah sajak. Buku ini merupakan ikutannya, meskipun mengambil bentuk lain. … Ke-99 “percikan” ini terkadang bisa dibaca sebagai bagian yang saling mendukung atau membantah, terkadang bisa dibaca sebagai tulisan yang berdiri sendiri-sendiri.” (Prakata, Goenawan Mohamad)
Beberapa pilihan esai-puitik Goenawan Mohamad dalam Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai
2
Karena malam tak sepenuhnya tertembus, juga oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah dan rembulan yang gila, harapan jangan-jangan bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas.
Makin tahu manusia tentang luasnya alam semesta, makin tampak bumi menyendiri dan manusia terpencil. Planet ini hanya setitik noktah yang cepat hilang. Tapi pada saat yang sama, dalam keadaan yang praktis terabaikan itu, hilang dan ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Hidup begitu dekat dan Ketiadaan begitu megah. Saya teringat sebaris kalimat Sitor Situmorang dalam sajak “Cathedral des Chartres”: “hidup dan kiamat bersatu padu.”
9
Angkor Wat: saya berdiri di depan Candi Bayon. Hutan dan kesunyian, patung dan puing, kabut dan hujan, dan para biksu yang berteduh di ruang-ruang kecil candi seraya bersemadhi …
Buddha memang mengajarkan anatman dan anitya: ia menunjukkan bahwa tak ada subyek yang sama, tak ada yang permanen. Hidup adalah sebuah arus eksistensi yang selalu lahir kembali, tapi tiap-tiap kali berbeda, tiap-tiap kali satu momen kelahiran tak ingat akan kelahiran sebelumnya, juga tak akan tahu kelahiran yang kelak.
Agaknya itu sebabnya kematian, keberanian, kesedihan, dan cinta, tak henti-hentinya ditulis dan diabadikan oleh para penyair – dan apa yang menggetarkan dari Mahabharata, yang sayu dari Shakespeare tak terasa sebagai hanya replika, tak cuma mengulang hal yang itu-itu saja.
Sebab itu, bagi mereka yang percaya akan dukkha,
anatman, dan anitya, patung adalah puing, hutan adalah kesunyian, dan hujan seperti kabut.
74
Antara alasan dan arah terbentang garis, tapi tak selamanya hidup menempuh garis itu. Mawar ada tanpa kenapa, ia mekar karena mekar, kata Angelus Silesius.
Tak adakah alasan Tuhan? Sang mistikus akan menjawab “tidak.” Hanya Tuhan yang dibayangkan sebagai sosok, hanya Tuhan macam itu yang butuh alasan dan tujuan – dan dengan demikian seakan-akan Ia bergerak dalam-ruang. Tanpa kejutan. Tanpa menyebabkan rasa lega. Mungkin itu sebabnya Nietzsche hanya mau percaya kepada Tuhan yang menari.
63
Tamblingan: Siapa yang pernah menanam pohon akan tahu bahwa yang tumbuh bukan hanya sebuah batang dalam ruang, tapi juga sebentuk tanda dalam waktu.
masih utuh di sekeliling Danau Tamblingan? Ribuan pokok tua dan muda saling merapat, jalin-menjalin bersama perdu, carang dan sulur; sekitar pun tambah rimbun oleh gugus-gugus pakis yang entah sejak kapan menyembunyikan jalan setapak.
Senja itu saya berjalan di sana, di tepi telaga di perbukitan Bali Utara itu, menembus semak, entah berapa kilometer, dalam kesepian yang hanya terusik oleh bunyi langkah sendiri. Jauh di timur, di tepi danau, tampak sebuah pura kecil yang nyaris terlindung. Di saat itu, di separuh gelap yang hijau itu, yang kekal hadir. Keabadian bergerak. Tiap detik seakan-akan menyelinap menyatu dalam klorofil daun damar. Abad seakan-akan bergetar di ruas batang trembesi.
Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktu pun berubah. Bagaikan sepetak tanah yang gundul, di mana jalan akan direntang dan pasar akan dibangun, waktu pun terhantar, datar, siap diukur. Tamasya itu – hutan yang hilang, waktu yang dirampat – tak lagi punya tuah. Ia hanya punya harga. Ia hanya punya guna. Tiap jengkal telah tercampak, menyerah ke dalam rengkuhan kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga “puak yang perkasa dan damai” itu – ungkapan Marcel Proust tentang pohon-pohon – pun tak dilahirkan kembali.
Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan di mana Kegaiban masih belum hilang, di mana Misteri belum dipetakan. Itu sebabnya, dulu, raja-raja yang uzur menyingkir ke dalamnya sebagai pertapa, untuk – seperti Destarastra, disertai Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir
Mahabharata – menantikan mati. Para penguasa yang mengubah diri jadi resi itu tak lagi berniat menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba menemui kembali pohon-pohon.
35
meresap. Saya sendirian. Tapi burung-burung gereja sibuk bergantian hinggap di pelataran. Dari pohon tepi jalan, bayang-bayang juga turun menyentuh tanah.
Apa gerangan arti burung-burung, hangat pukul 9, pohon yang rindang? Di tahun 1960-an itu saya telah melupakan pertanyaan macam itu. Bangun pagi, berjalan siang, dan tidur malam saya tak menyadari bahwa ada nilai tersendiri dalam hal-ikhwal yang cuma melintas, tak pasti, dan sepele. Waktu itu Indonesia adalah arena kata-kata yang membahana: “Revolusi,” “Sosialisme Indonesia,” “Dunia Baru” – semuanya dengan huruf kapital, semuanya dengan pekik, poster, dan pengeras suara, semuanya menggugah, menerobos jiwa.
Saya memandangi kembali burung-burung itu. Tiba-tiba saya sadar, tak pernah saya terkesima akan hal yang sebenarnya dahsyat tapi tersisih: warna bulu yang menakjubkan itu, sepasang mata yang seperti merjan jernih itu, sayap yang serba sanggup itu. Ternyata selama ini saya tak punya waktu buat tetek-bengek. Kami hanya menyimak soal-soal besar agar dunia jadi lebih adil di masa depan.
Ada yang salah agaknya. Masa depan hanya berarti jika kita tak bilang “tidak” kepada burung gereja di pelataran hari ini.
81
Kita hidup dengan warisan Cervantes. Para ksatria telah punah. Kita tahu, Don Quixote, lelaki tua krempeng yang naik kuda jelek itu – yang membayangkan diri seorang Don yang bersedia berperang untuk menegakkan nilai-nilai yang luhur – adalah tetap Alonzo Quixano yang miskin. Bila ia meninggalkan rumahnya buat bertualang dan berperang untuk memperbaiki Dunia, itu karena ia majenun.
pikiran sederhana ini mengikutinya dengan setia, antara percaya dan tidak.
“Ajaibilah aku tanpa keajaiban!” serunya suatu kali. Ia tak punya waham. Ia tahu bahwa bertempur melawan kincir angin bukanlah bertempur melawan raksasa yang menyamar dengan sihir. Ia tak melihatnya sebagai suatu konfrontasi yang dramatik. Ia bisa hidup tanpa drama. Tapi ia tak meninggalkan Alonzo
Quixano.
Bagi Sancho, hidup adalah kiat untuk beroperasi di celah-celah apa yang mungkin. Tapi hidup tak hanya sepenuhnya terdiri atas yang “apa tak mungkin.” Ternyata manusia juga bisa
menghendaki sesuatu yang mustahil tapi niscaya, misalnya keadilan. Terkadang ada sesuatu yang berharga di luar tatanan praktis, sesuatu yang mendorong manusia untuk membuat sejarah.
Justru karena miskin, Sancho bisa dekat dengan Don Quixote.
Ia tahu hanya manusialah yang bisa bermimpi dan menyiapkan perubahan, justru di dunia yang tak terpenuhi. “Manusia menentukan, Tuhan mengecewakan,” begitulah ia berkata.
89
Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika kita berdiri di tepi laut dan memandang nun jauh di sana, tanpa tahu bagaimana wujudnya. Ia kosong yang selaik kolong – kosong yang dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang menghimbau; tandanya luka pedih yang terjadi ketika ketidak-adilan menguasai ruang.
Akhirnya sejarah adalah kisah orang-orang yang mencicil: dalam penantian itu, manusia menebus yang absen dengan mencoba merawat keadilan (dengan “K”) tiap hari, bagaikan merawat lapisan humus di ladang kebersamaan.
Keadilan, dengan “K”, tentus saja tetap disimpan dalam kamus, meskipun kamus itu tak dapat mendefinisikannya dan mengurungnya.
45
Praha, atau Den Haag, atau … Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan dingin, dengan malam, meskipun berabad-abad ia berdiri, setengah lelah. Gedung-gedung menanggungkan musim tak putus-putusnya, tapi juga di ujung Oktober ini ada yang terasa mengkeret oleh cuaca; plasa, taman, boulevard, juga pasar yang tadi siang terhampar. Hujan menjatuhkan ujungnya yang tajam, kerap, dingin. Dari beberapa sudut, lampu jalan – masing-masing seperti bersendiri – adalah cahaya yang kuyup. Angin mengaum. Kita mendengar derunya lewat di antara celah yang terbentuk oleh bangunan tinggi.
Tak ada orang di jalanan. Semakin larut malam, semakin tampak aspal dan semen bertambah datar. Mobil melintas satu-satu, seperti terpaksa. Trem, bahkan dengan derak roda pada rel, jadi bagian dari sunyi yang tak dikehendaki.
Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan malam … Tapi benarkah? Tiap kota mengandung paras yang pura-pura. Tiap kota punya wajah yang hanya kita ingat ketika gelap, hujan, dingin, Desember; datang. Tiap kota adalah ruang scene
dan ob-scene: ada yang dipertontonkan, ada yang disingkirkan seperti najis. Gelandangan yang merapat ke pojok-pojok. Para penjaga malam yang merasa sial. Pelacur yang terhalau. Bajingan yang selamanya siap. Di sebelah lain dari poster iklan Gucci yang dipasang di halte-halte, mungkin ada anak kecil penjual korek api dari cerita
melawan beku, di sebuah hari Natal, dengan menyalakan batang-batang geretan satu demi satu, sampai habis. Kita tahu ia akan mati, tak nampak.
67
Laut itu perempuan. Menurut legenda yang beredar sejak Mataram, ia Ratu Kidul dari samudera Selatan yang sesekali datang
mendampingi Panembahan Senapati, pendiri kerajaan itu, orang kuat abad ke-16.
Dalam Kitab Wedhatama yang ditulis tiga abad kemudian, Senapati bukanlah seorang penakluk, tapi pertapa pengembara yang menyapa siapa saja dengan manis, sabar dan tulus, mardawa ing budaya tulus. Demikianlah di pantai selatan itu ia duduk bersemadi hingga larut, mengundang datang ke dalam dirinya sumber yang dalam dan jauh yang mengirim ombak tak putus-putusnya.
Tapi ada ambivalensi di sini. Dalam semadi itu laut menjelma jadi sesuatu yang masuk ke dalam diri, namun ia seakan-akan dapat digenggam di telapak tangan:
Kinemat kamot ing ndriya Rinegem sagegem dadi
Dengan kata lain, di satu pihak Senapati membiarkan dirinya terbuka kepada yang-lain yang nun di sana, tapi di lain pihak ada kehendak merengkuh dan berdaulat atasnya, dumadya angratoni. Dalam dirinya ada sikap menghayati hidup sebagai pengembaraan di atas bumi, di bawah langit, di antara yang fana, di hadapan yang “ilahiat” – empat lipatan yang disebut Heidegger sebagai das Geviert. Tapi pada saat
yang sama Wedhatama meletakkannya dalam posisi yang unggul. Kepadanya sang Ratu Kidul datang
merunduk, sor prabawa lan wong agung ngeksiganda, bagaikan kalah oleh aura yang terpancar dari
orang agung Mataram itu.
Ratu Kidul hanya datang mendampingi sang pertapa dalam alam yang tak terlihat, dalam momen yang hening, djoroning alam palimunan,
ing pasaban saben sepi. Dengan kata lain, dalam suasana meditatif. Hanya dengan itu, hanya dalam keadaan itu, di mana empati berbicara
nugraha atau berkat Sang Ratu masih berlaku.
56
Yang membedakan Sherlock Holmes dari tokoh dalam dongeng Andersen ialah pipanya. Dengan itu sang detektif menutup mulutnya, menghindari percakapan, berkonsentrasi penuh untuk berpikir, dan secara sistematis menggerakkan nalarnya setapak demi setapak sampai akhirnya, bravo, sang pembunuh terungkap. Baru setelah itu, Holmes berbicara dengan sahabatnya, Watson. Atau lebih tepat, menjelaskan logikanya kepada pembaca
melalui Watson.
Dalam dongeng Andersen, tokoh dan kebenaran lahir bersama dalam percakapan. Bahkan terkadang dalam keramaian. Tentang maharaja yang tertipu pakaian ajaib, misalnya. Kita ingat saat kebenaran muncul ketika di sela-sela para penonton yang tengah mengelu-elukan maharaja itu seorang bocah berteriak, “Hai, baginda
telanjang!” hingga orang ramai pun sadar bahwa si anak benar dan mereka pun berteriak, “Hai, baginda telanjang!”
Tapi Andersen tak menutup dongengnya di sini. Alkisah, Baginda pun tetap melanjutkan parade, tetap tegak, tetap bugil, dan seperti yakin. Mungkin ia berharap orang ramai itu akhirnya akan percaya bahwa ia sedang mengenakan pakaian yang tak akan tampak oleh mata mereka yang pandir.
Dengan kata lain ia mempersoalkan: apa kebenaran, sebenarnya? Seandainya ia pernah dengar Goebbels …
sepotong dusta diteruskan berulang-ulang, ia akan berubah jadi kebenaran. Dengan meneruskan parade, sang maharaja tampaknya setuju bahwa kebenaran adalah hasil konsensus, dan konsensus tak bebas dari kebohongan dan kekuasaan.
Dalam arti tertentu dongeng ini menertawakan zaman rasionalisme, ketika subyek diperlakukan sebagai sumber nalar yang kekar dan lurus – ketika orang menduga bahwa tak ada kekuasaan di luar itu dan percaya bahwa kita bisa mencapai kebenaran dengan memasang pipa di mulut, tak bicara, menyendiri.
28
Agama dimulai dari hening dan saat yang
dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Budha di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira: tiap situasi hadir sebagai situasi terpuncak, momen yang tak lazim, ketika seseorang mengalami
kehadiran sesuatu yang Maha Lain, yang numinous, sebagaimana digambarkan Rudolf Otto: misterius, menakutkan, memukau. Di abad ke-5, atau 500 tahun sebelumnya, Santo Agustinus mengucapkan perasaan yang mirip: “Dan aku gemetar dengan kasih dan ngeri.”
Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa kasih dan ngeri, ada amor dan horror – tapi tampaknya sesuatu dalam sejarah manusia telah menyebabkan ia berakhir dengan sesuatu yang rapi: desain dan bangunan. Berabad-abad setelah bertemu dengan sang numinous, kita pun menyaksikan sesuatu yang tak lagi mengungkapkan senyap. Di hadapan kita kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja yang gigantis, patung Budha dari emas yang terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang berkilau – dan umat yang makmum, berdesak …
sebenarnya fantasi tentang yang indah mempesona.
Akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi struktur.
Yang umumnya tak disadari ialah bahwa struktur itu harus disusun dengan kekuatan yang terhimpun. Siasat dan alat harus dikerahkan seperti ketika kita membangun imperium dan mengurus bisnis. Kalkulasi akan dibuat atas segalanya, termasuk waktu – yang tak lagi sama dengan momen ajaib. Waktu jadi sesuatu yang bisa dipetak-petak dan diukur. Waktu jadi seculum.
Persis di situlah yang sekuler merasuk di dalam yang religius.
34
Yang indah memang bisa menghibur selama-lamanya, membubuhkan luka selama-selama-lamanya, meskipun puisi dan benda seni bisa lenyap. Ia seakan-akan roh yang hadir dan pergi ketika kata dilupakan dan benda jadi aus.
Tapi apa arti roh tanpa tubuh yang buncah dan terbelah? Keindahan tak bisa jadi total. Ketika ia merangkum total, ia abstrak, dan manusia dan dunia tak akan saling menyapa lagi.
91
Dengan menerima metafor kita tahu, bahwa pada mulanya bukanlah Kata, melainkan tafsir. Dunia menyentuhnya sepanjang perjalanan, ruang dan waktu mengubahnya.
yang berdosa.
Tentang Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad lahir di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Mengikuti pendidikan di Fakultas Psikologi UI (1960-1964), di College d’Europa, Brugge, Belgia (1965/1966), juga mendapatkan fellowship di Universitas Harvard, AS (1989-1990). Karyanya:
Parikesit (kump. Puisi, 1971), Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang
(kumpulan esai, 1972), Interlude (kump. Puisi, 1973), Seks, Sastra, Kita (kumpulan esai, 1980), Catatan Pinggir. Menerima hadiah sastra ASEAN (1981). Saat ini menjadi pemimpin redaksi majalah Tempo.
Catatan Lain
Buku Goenawan Mohamad ini, disebut-sebut sebagai kumpulan esai amat pendek. Sejak menemukannya di rak buku penyair Y.S. Agus Suseno, saya membiarkannya tak tersentuh tapi tetap menyisihkannya ke kumpulan buku-buku yang “ingin saya pinjam”. Belakangan, ketika buku-buku yang sudah dipinjam hampir habis saya lahap, saya menengok lagi. Baiklah, saya masukkan saja, dengan alasan, ini adalah esai bertipografi puisi, yaitu disusun atas bait-bait sebagaimana umumnya puisi. Dengan alasan itu pula, saya kutipkan puisi GM yang pernah dimuat di Kompas pada 21 Februari 2010, sebagai perbandingan. Hehe. Kalau menengok asal buku, sepertinya tulisan di halaman awal bisa jadi petunjuk: “Untuk//sahabat yb, YS Agus Suseno//rtb-ida//Yogya, Des ‘07” Sepertinya buku ini dikasih sama Raudal Tanjung Banua.
Dalam Kemah
Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan-potongan pendek interupsi – lima menit, tujuh menit, empat … Dan aku akan menatapmu dalam tidur.
Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.
Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.
2010
Di Depan Sancho Panza
Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.
Tentu saja Sancho tak mengerti bagaimana sajak disisipkan ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan perempuan itu dan berkata, “Jangan cemas.”
Memang sebenarnya perempuan itu cemas: Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering, seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing. Atau angan-angan yang memabukkan.
“Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus, tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar seperti gerimis.
2009
Teleskop
Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut menyentuhmu.
menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang bergetar berulang kali.
Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu
di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di tanganmu, yang selamanya mengejutkan.