Memahami Perang Generasi Ke 4
Sebagai Perang Modern
Oleh Yan Daryono
Definisi
Menurut Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryaccudu, perang generasi ke empat atau fourth generation warfare disebut juga sebagai perang asimetris, yaitu suatu perang modern tanpa keterlibatan militer secara formal atau bisa juga disebut perang sipil ( civil war ). Dalam bahasa populernya dikenal dengan sebutan smart power atau perang non militer. Perang sipil yang murah meriah tetapi memiliki daya hancur yang sangat dahsyat. “ Jika Jakarta dibom atom, daerah-daerah lain tidak terkena dampaknya. Tetapi bila dihancurkan dengan menggunakan asymmetric warfare sama artinya dengan penghancuran sistem di negara ini, hancur berpuluh-puluh tahun dengan akibat menyeluruh.” Ungkap Menhan Ryamizard dalam forum diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Global Future Institute di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2015.1
Dewan Riset Nasional ( DRN ) pada tahun 2008 telah merumuskan definisi tentang perang generasi ke empat sebagai berikut ; “ Perang asimetris ( Asymmetric Warfare ) adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim dan di luar aturan peperangan yang berlaku dengan spektrum perang yang sangat luas, mencakup aspek-aspek astagatra sebagai perpaduan antara trigatra ( geografi, demografi dan sumber daya alam / SDA ) dengan pancagatra ( ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya ). Selain itu perang asimetris selalu melibatkan antara dua aktor atau lebih dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang yaitu pihak yang lemah melawan pihak yang kuat atau disebut juga antara non state actor dan state actor “2
Hal yang sama juga disampaikan oleh K.Mustarom dalam Jurnal Syamina3 yang menyebutkan bahwa perang generasi ke empat itu bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil
1 M.Arief Pranoto – Mengenal Perang Asimetris ; Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya. 6
April 2015
2 Ibid
3 K.Mustarom – Perang Generasi Ke Empat Mengubah Paradigma Perang – Jurnal
dan militer, serta tidak mengenal garis depan. Aktor dalam perang generasi ke empat pada umumnya memiliki tujuan regional yang jauh lebih luas dan bahkan memiliki visi global. Mereka berusaha menerapkan sistem sosial yang sama sekali baru berdasarkan ideologi atau agama mereka. Singkatnya dapat dirumuskan bahwa perang generasi ke empat itu bersifat politis, jaringannya terbentuk secara sosial dan membutuhkan jangka waktu yang lama serta berlarut-larut. Bahkan bisa juga dikatakan sebagai antithesis dari konsep dan strategi perang versi Pentagon yang mengandalkan teknologi persenjataan mutakhir. Sehingga dalam implementasinya, perang generasi ke empat akan memaksimalkan seluruh jaringan yang dimiliki musuhnya seperti kondisi dinamika politik, sosial, ekonomi dan militer, agar pihak musuh tidak mampu melakukan keputusan pasti atau melaksanakan tindakan tegas terhadap tujuan strategisnya. Bisa dilakukan dalam bentuk aksi teror, penyebaran isu hoax atau pun sabotase.Jika dianalogikan, mungkin seperti filosofi Silat Minangkabau. Yaitu gunakan kekuatan “lawan” untuk memukul “lawan” tersebut. Maka untuk itu instrumen yang paling utama digunakan dalam melancarkan perang generasi ke empat ini adalah informasi, maka peran informasi menjadi elemen kunci dalam setiap pengejawantahan strategi perang generasi ke empat.
Menurut US Army War College, dalam makalah M.Arief Pranoto 4, perang asimetris dapat didiskripsikan sebagai suatu konflik dari dua pihak yang berseteru dengan sumber daya inti serta tujuan perjuangan yang berbeda, melakukan tindakan interaksi dan upaya untuk saling mengeksploitasi karakteristik kelemahan-kelemahan musuhnya. Perjuangan tersebut sering berhubungan dengan strategi dan taktik unconventional war. Pihak yang lebih lemah akan berusaha menggunakan strategi untuk mengimbangi kekurangan yang dimiliki. Misalnya dalam hal kuantitas dan kualitas.
Alhasil dapat ditafsirkan bahwa perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, namun daya hancurnya tidak kalah bahkan dampaknya bisa lebih dahsyat daripada perang militer atau perang konvensional. Perang ini memiliki medan tempur yang luas meliputi segala aspek kehidupan ( astagatra ). Sasarannya tidak hanya tertuju kepada satu aspek tetapi justru beragam aspek yang dapat dilakukan bersamaan atau secara simultan
4 M.Arief Pranoto – Mengenal Perang Asimetris ; Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya. 6
dengan intensitas berbeda. Sasaran perang asimetris ada 3 ( tiga ) yaitu : 1) membelokkan sistem suatu negara sesuai arah atau tujuan kepentingan pihak kolonialisme, 2) melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat dan 3) menghancurkan ketahanan pangan serta ketahanan energi suatu negara. Sehingga dengan demikian pihak pelaku yang memenangkan perang asimetris tersebut akan dengan mudah mengontrol kondisi ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam dari negara yang telah dikalahkannya dalam perang asimetris tersebut. Hal itu selaras dengan pendapat Henry Kissinger, mantan Menlu AS, yang mengatakan bahwa dengan mengontrol sumber daya alam, pangan dan energi, sudah dapat mengendalikan mekanisme sistem suatu negara yang menjadi korban perang asimetris atau perang generasi ke empat itu.
Sementara apa bila mencermati sifat dan bentuk perang asimetris, ada 2 ( dua ) model yaitu; Pertama, melalui aksi massa di jalanan dengan target untuk menekan sasaran. Kemudian yang ke Dua, melalui keputusan politik yang tentunya menguntungkan bagi pihak tertentu, khususnya pemenang dalam perang asimetris tersebut.
Riwayat generasi perang
Perang dan sejarah manusia di muka bumi ini, nyaris tidak terpisahkan. Berawal dari manusia hidup dalam kelompok-kelompok yang terpisah dan membentuk entitas masing-masing yang kemudian secara alamiah, entitas-entitas tersebut saling menyerang untuk mengalahkan satu dan lainnya. Pihak yang menang akan menguasai yang kalah, begitu ketentuan yang tidak tertulis tetapi terjadi secara alamiah pula.
Dalam salah satu bagian dari kitab Bhagawad Gita dikisahkan tentang percakapan antara Arjuna dengan Sri Kresna atau Gowinda. Saat itu Sri Kresna sedang menjadi kusir kereta perang Arjuna dan Arjuna yang berperawakan tegap berdiri tegak dengan busur panah yang siap dilepaskan. Pada saat perjalanan menuju kuru setra, Arjuna bertanya kepada Sri Kresna : “ Wahai Gowinda, kenapa harus ada peperangan seperti ini ? “
selalu membawa perubahan. Entah perubahan baik, atau perubahan buruk. Tergantung apa tujuan perangnya....”
Mendengar jawaban Sri Kresna yang sederhana tapi penuh makna, Arjuna tertegun sambil menggenggam erat busur panahnya. Ya perang selalu membawa perubahan. Entah perubahan baik, atau perubahan buruk. Tergantung apa tujuan perangnya.
Pada masa pra sejarah yaitu sejak bangsa-bangsa manusia terbentuk dan hidup dalam kelompok atau komunitasnya, antara bangsa-bangsa itu kerap melakukan peperangan. Perang untuk menaklukan satu dan lainnya, perang untuk melindungi komunitasnya atau perang untuk bertahan hidup. Perang memang menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia, menjadi bagian dari peradaban dan kebudayaan, bahkan kemudian menjadi bagian sejarah suatu bangsa.
“Perang” menurut pengertian dalam kamus Bahasa Indonesia W.J.S.Poerwadarminta, disebutkan sebagai permusuhan antarnegara dan bangsa yang mengerahkan tentara bersenjata. Sehingga perang juga merupakan kancah pertempuran bersenjata yang tujuannya adalah menaklukan atau bertahan.5
Perang terus berlanjut sampai pada saat kelompok-kelompok manusia itu membentuk kerajaan sebagai kemajuan peradaban dan kebudayaannya. Tujuan perangnya adalah untuk saling menguasai antara satu dan lainnya. Pihak yang kalah akan dirampas harta benda dan wilayahnya, lalu diperlakukan sebagai budak bagi pihak yang memenangkan perang. Hingga pada tahun 1648, bangsa-bangsa yang berperang bersepakat untuk berdamai. Perjanjian perdamaian itu disebut sebagai Perjanjian Westphalia.
Namun meski perjanjian perdamaian telah ditandatangani dan disepakati oleh berbagai bangsa yang saling berperang, faktanya perang terus saja berlanjut dengan berbagai alasan dan tujuan. Misalnya perang antar suku, etnis dan ras lalu perang yang dilakukan atas nama agama dan budaya. Perang kemudian ini ternyata tidak terbatas dua pihak berseteru, tapi justru sudah menjalin persekutuan antar kelompok, bangsa atau negara. Sehingga spektrum perang pun meliputi wilayah yang sangat luas.Contohnya adalah Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang menjadi kancah perang antar persekutuan banyak negara di berbagai benua. Oleh sebab itu sejarah militer khususnya dan sejarah perang
5 Lihat kamus Bahasa Indonesia – oleh WJS.Poerwadarminta. Penerbit PN.Balai Pustaka –
umumnya, mencatat bahwa generasi perang dimulai dari paska Perjanjian Westphalia seperti berikut 6 :
Perang Generasi Pertama ( 1648 – 1860 ) :
Sebagai suatu perang klasik, perang generasi pertama ini memiliki ciri formal, tertib, rapi dan menjunjung nilai-nilai ksatria. Hal itu dikaitkan dengan kultur milier yang penuh keteraturan ( disiplin ) dan memiliki etika perang yaitu dengan membedakan antara warga sipil dan militer, termasuk identitas militer yang berseragam serta bertanda pangkat sebagai jenjang kepemimpinan dan perangkat persenjataan yang digunakan.
Perang generasi pertama sangat ditentukan oleh kekuatan pasukan dalam bentuk jumlah prajurit, persenjataan dan keahlian, serta pengalaman dalam bertempur secara frontal berhadapan. Contoh paling sederhana dari perang generasi pertama ini adalah Perang Napoleon yaitu ketika bangsa Perancis melakukan ekspansi di daratan Eropa.
Perang Generasi ke Dua ( 1860 - ) :
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan di awal abad 19, yaitu ketika ditemukannya mesiu dan mesin perang, perang generasi ke dua mengedepankan daya tembak meriam untuk penghancuran massal. Metode tersebut dikembangkan oleh militer Perancis pada Perang Dunia I.
Maka ciri dari perang generasi ke dua ini ialah daya tembak yang terkendali secara terpusat, terperinci dan teratur bagi infantri, tank dan artileri yang menekankan pentingnya peran komandan dalam pertempuran. Doktrin yang sangat ditekankan dalam perang generasi ke dua ini adalah “ the artilery conquers, the cavalry as the attackers and the infantry occupies.” Selanjutnya motto yang berkembang dalam perang generasi pertama dan ke dua adalah “close and destroy”.
Perang Generasi ke Tiga :
Perang generasi ke tiga adalah produk dari Perang Dunia I yang dikembangkan oleh militer Jerman dalam Perang Dunia II dan dikenal dengan
6 K.Mustarom – Perang Generasi Ke Empat Mengubah Paradigma Perang – Jurnal Syamina
sebutan “blitzkrieg” atau perang dengan manuver berdasarkan daya tembak pada sasaran musuh dan menguras seluruh kemampuan musuh dalam pertempuran jarak jauh mau pun jarak dekat. Ciri perang generasi ke tiga ini ialah mengutamakan kecepatan, spontanitas, kekuatan mental serta fisik prajurit. Dalam strategi ini, kedisiplinan prajurit dalam bertempur akan menentukan hasil yang dicapai dan bukan menentukan cara bertempur. Maka pada perang generasi ke tiga ini, insiatif prajurit mau pun komandan lapangan menjadi lebih penting dari pada ketaatan kepada komando atas. Selanjutnya desentralisasi dan insiatif yang berasal dari perang generasi ke tiga memunculkan strategi baru dalam perang, yaitu interoperability strategy dalam membangun sinergitas dan komunikasi pertempuran dengan dukungan perangkat teknologi modern.
Perang Generasi ke Empat :
Perang Dunia II berakhir setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki – Jepang pada 15 Agustus 1945. Peristiwa tersebut mengakhiri konflik bersenjata di sebagian kawasan Eropa dan Asia Pasifik. Selanjutnya kurang lebih satu dekade kemudian, perang yang berlanjut adalah Perang Dingin ( cold war ) atau perang intelijen dan spionase. Karena paska Perang Dunia II itu, meskipun sudah ditandatangani kesepakatan perdamaian dunia, tetapi negara-negara yang lebih maju ekonomi dan teknologinya masih melakukan pengembangan teknologi persenjataannya untuk perang konvensional.
antara sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan damai serta tidak mengenal garis depan.
Sesungguhnya perang generasi ke empat bukanlah sesuatu yang baru. Dalam pidatonya dihadapan taruna West Point - Juni1965, Presiden AS John F Kennedy mengatakan seperti berikut 7 :
“ Perang generasi ke empat adalah jenis perang yang lain, baru dalam intensitasnya tapi kuno dalam asal – mulanya. Perang oleh gerilyawan, pemberontak, pengacau, pembunuh. Perang dengan dadakan atau tiba-tiba, bukan dalam bentuk pertempuran terorganisir. Perang dengan penyusupan, bukan dengan agresi. Mencari kemenangan dengan ‘merontokkan musuh’ bukan dengan ‘menghadapinya’. Perang tanpa etika. Maka Itu adalah tantangan di hadapan kita,
jika kebebasan harus diselamatkan....”
Perang generasi ke empat berakar kepada aturan fundamental yang menyatakan bahwa kemauan politiklah yang lebih superior. Bila digunakan dengan benar dapat mengalahkan kekuatan ekonomi dan militer yang lebih besar. Perang generasi ke empat tidak berusaha untuk menang dengan cara mengalahkan pasukan militer pihak musuh, tapi justru menyerang kemauan politik musuh dengan menggabungkan antara taktik gerilya dengan pembangkangan sipil serta jaringan ikatan sosial, budaya dan semacamnya. Yaitu melalui aksi kampanye disinformasi, gosip, hoax dan aktifitas politik yang inovatif. Menurut Harry Darwanto dalam makalahnya :”Perang Asimetris” menyebutkan bahwa perang generasi ke empat atau perang asimetris dalam skala besar yang pernah terjadi paska Perang Dunia II adalah Perang Vietnam, Perang Saudara Srilanka, Perang antara Israel dan Palestina, Perang Saudara di Suriah, Perang Somalia dan seterusnya. Bahkan pada saat Jenderal Sudirman melakukan perang perlawanan terhadap militer Belanda dalam Agressi II yaitu paska proklamasi kemerdekaan RI, juga melalui perang asimetris atau perang gerilya.
Strategi dan Pola Perang Asimetris
Ada dua model dalam peperangan asimetris yaitu 1) melalui gerakan aksi massa di jalanan dalam rangka menekan target sasaran. 2) melalui meja para elit politik dan pengambil kebijakan negara agar setiap kebijakan yang diterbitkan
selaras, sejalan dan senantiasa pro asing guna meraih tiga hal sesuai definisi perang asimetris versi Global Future Institute yaitu 8:
“Pertama, belokan sistem suatu negara sesuai kepentingan kolonialisme. Ke dua, lemahkan ideologi serta ubah pola pikir rakyatnya dan kemudian ke tiga, hancurkan ketahanan pangan dan pasokan energinya. Selanjutnya ciptakan ketergantungan negara tersebut terhadap pangan dan dan energi. Arab Spring misalnya, adalah contoh nyata perang asimetris yang digelar oleh Barat ( Amerika dan sekutunya ) dengan model gerakan massa yang bertujuan melengserkan rezim dan elit penguasa di jalur sutera. Hasilnya ? Ben Ali di Tunisia pun lengser, Ali Abdullah Saleh di Yaman terbirit-birit, Hosni Mubarak tumbang di Mesir dan seterusnya....”
Berdasarkan pandangan di atas, untuk membangun dan mengembangkan perang asimetris di suatu negara harus dicermati potensi dan kemungkinan peluang terjadinya instabilitas di negara tersebut. Misalnya kondisi perekonomian yang lemah karena berbagai faktor, atau bisa juga kondisi stabilitas politik yang terganggu oleh banyak kepentingan politik dan bisnis, kebijakan-kebijakan pemerintah yang labil dan tidak dilaksanakan secara tegas, serta lain sebagainya yang merupakan potensi dan peluang untuk memunculkan perang asimetris. Semua itu merupakan proses awal yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku perang asimetris di mana pun dan oleh siapa pun.
Namun apa bila di negara yang akan menjadi target perang asimetris itu masih tampak stabil dan aman-aman saja, maka dilakukanlah suatu upaya pengkondisian agar terjadi instabilitas di negara tersebut. Misalnya dengan menggunakan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat atau LSM untuk melancarkan isu kritik terhadap kebijakan pemerintah atau isu-isu lainnya yang berpotensi menimbulkan keresahan atau dapat dikembangkan menjadi polemik tajam di masyarakat luas. Selanjutnya isu-isu yang semakin berkembang itu terbentuk menjadi opini yang semakin meresahkan dan bahkan mampu menciptakan polarisasi di masyarakat luas. Kondisi demikianlah yang menjadi potensi peluang berlangsungnya perang asimetris di suatu negara atau antara negara dengan negara dan seterusnya.
Singkat kata, bila dianalogikan dengan teori perang konvensional yang melalui tiga tahap yaitu di awali dengan serangan udara dan serangan meriam jarak
8 M.Arief Pranoto – Mengenal Perang Asimetris ; Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya. 6
jauh atau istilah lainnya dibombardir, terhadap target daerah musuh. Kemudian langkah berikutnya adalah serangan pasukan kavaleri dengan tank-tank dan kendaraan lapis baja lainnya, hingga terakhir adalah pendudukan wilayah oleh pasukan infanteri. Jika ketiga tahapan perang konvensional itu diaplikasikan dalam perang asimetris dapat dijelaskan seperti berikut : 1) Serangan awal dimulai dengan penyebaran isu yang dapat mengarah membentuk opini. 2) Serangan berikutnya adalah dengan menyelenggarakan aksi unjuk rasa yang menentang kebijakan pemerintah atau menyampaikan berbagai kritik terhadap kinerja pemerintah dan sebagainya. 3) Pada tahap akhir, melakukan kontrol dan kendali terhadap sistem ekonomi, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki serta mengelola dinamika politik, sosial dan budaya. Pemerintah RI telah mengalami beberapa kali serangan perang asimetris yang berdampak luar biasa. Misalnya terjadinya pemberontakan DI/TII, PRRI, PERMESTA dan sebagainya di saat awal kemerdekaan, kemudian dilanjut dengan peristiwa G30S PKI 1965 yang mengubah orde lama menjadi orde baru, serta peristiwa Mei 98 yang akhirnya menggusur orde baru menjadi orde reformasi. Namun sampai saat ini perang asimetris itu, disadari atau tidak disadari, masih terus berlangsung.
Perang Proksi dan Perang Hibrida
Perang proksi atau proxy war adalah pengembangan dari perang asimetris. Perang proksi disebut juga sebagai perang boneka. Yakni ketika dua negara yang kuat berseteru tapi tidak mau terlihat oleh dunia internasional, maka kedua negara tersebut akan menggunakan negara yang lebih lemah untuk menjadi “alat” atau “boneka” dalam peperangan tersebut. Misalnya sebagai salah satu contoh nyata adalah perang antara Afghanistan - Pakistan. Kedua negara di Timur Tengah itu merupakan “alat” atau “boneka” perang proksi antara Pemerintah Amerika Serikat vs Pemerintah Rusia.
tersebut. Baik yang tewas, luka-luka mau pun yang terpaksa harus mengungsi ke negara lain untuk memperoleh suaka.
Perang proksi akan dilakukan oleh negara-negara yang kuat, semata-mata untuk memperluas wilayah kekuasaan dan eksplorasi sumber daya alam yang dimiliki oleh negara-negara boneka. Karena dengan melalui pelaksanaan perang proksi tersebut, negara-negara kuat dapat secara leluasa menjarah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara-negara boneka.Sehingga tujuan mencapai kemakmuran bagi rakyat negara-negara kuat itu dapat terpenuhi seperti yang diharapkan.
Ada pun negara-negara kuat yang dimaksud, ialah negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi, sumber daya manusia maju dan memiliki militer yang kuat serta didukung tehnologi persenjataan yang super modern. Negara-negara demikian itu akan sangat berkepentingan terhadap sumber daya alam yang dimiliki oleh negara-negara lemah, untuk dikuasai dan dieksplorasi demi kemamkmuran negaranya.
Perang hibrida atau hybrid warfare tergolong sebagai perang modern yang merupakan pengembangan dan kombinasi dari perang konvensional, perang asimetris dan perang proksi. Oleh sebab itu perang hibrida ini menggunakan perpaduan antara metode militer dan non militer pada masa damai untuk mencapai tujuan militer.9 Maka tujuan dari perang hibrida adalah memenangkan kampanye konklusif melalui penggunaan kekuatan dan kekerasan, atau mempersiapkan aksi militer yang sangat menentukan.
Karena potensinya untuk memicu terjadinya konflik bersenjata, antara militer dengan militer, atau militer dengan separatis, terorisme dan semacamnya, perang hibrida digolongkan sebagai ancaman terhadap serangan militer konvensional yang membahayakan dan menimbulkan resiko korban nyawa atau kehancuran fisik. Meskipun perang ini diawali dengan perang informasi melalui sosial media atau pun media mainstream, tapi ujung-ujungnya akan berakhir pada perang konvensional atau dalam bentuk konflik senjata yang melibatkan militer. Oleh sebab itu pula, aksi terorisme selain termasuk dalam pola perang asimetris juga termasuk dalam pola perang hibrida ini.
Kesimpulan
Dari uraian singkat yang telah disampaikan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Perang Generasi ke Empat merupakan Perang Modern. Perang yang bisa melibatkan militer dengan militer dalam suatu perang konvensional, namun bisa juga sebagai perang sipil yang tidak mengenal batas wilayah, tidak menjunjung norma dan etika perang, tidak mengenal batas waktu dan bisa terjadi kapan saja serta dimana saja, dilakukan oleh siapa saja.
Namun perang modern ini akan selalu diawali dengan perang informasi, penyebaran isu sebagai bentuk perang urat syaraf ( psywar ) lalu membentuk opini yang meresahkan dan membingungkan masyarakat di suatu kelompok, wilayah bahkan negara. Tujuan perang modern ini sangat sederhana yaitu mengalahkan dan menguasai.
Maka untuk menyikapi terjadinya perang modern di negeri kita, setiap warga bangsa di negeri ini harus memiliki integritas yang kuat dan kesadaran penuh terhadap kondisi bangsa serta negaranya. Membangun persatuan yang kokoh, saling menjaga dan melindungi serta tidak mudah terhasut atau terpengaruh isu-isu menyesatkan. Yaitu sebagai bangsa yang dewasa dan cerdas ! Bangsa yang memiliki kesadaran penuh terhadap nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme.
Sumber referensi :
M.Arief Pranoto – Mengenal Perang Asimetris ; Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya. 6 April 2015
K.Mustarom – Perang Generasi Ke Empat Mengubah Paradigma Perang – Jurnal Syamina Edisi XV/Oktober 2014
WJS.Poerwadarminta – Kamus Bahasa Indonesia - Penerbit PN.Balai Pustaka – Th 1985.
Herry Darwanto : Perang Asimetris
Kol ( Pur ) Arthur N Tulak : Perang Hibrida – 16 Agustus 2016