Tugas 1
Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah
Contoh Kasus :
Perubahan Tata Ruang Kota Semarang
Contents
PENGERTIAN “PENGEMBANGAN”
1
PENGERTIAN “WILAYAH”
2
PENGERTIAN “WILAYAH KOTA / DESA”
3
PENGERTIAN “WILAYAH PERKOTAAN / PEDESAAN”
4
UNSUR ATAU ALAT PENGEMBANGAN WILAYAH
5
CONTOH KASUS
Pengembangan
Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu
pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk
meningkatkan fungsi, manfaat, aplikasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru
Serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat
dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas
serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif.
UU RI
Nomor 18
Tahun 2002
Wilayah
Sebuah daerah yang dikuasai
atau menjadi teritorial dari
sebuah kedaulatan.
Ruang yang merupakan kesatuan
geografis beserta segenap unsur
yang terkait kepadanya yang batas
dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif
dan atau aspek fungsional.
Unit geografis dengan
batas-batas spesifik tertentu dimana
komponen-komponen wilayah
tersebut satu sama lain saling
berinteraksi secara fungsional
(www.wikipedia.com)
(UU No 26 tahun 2007)
(Rustiadi, 2006)
Area geografis yang memiliki ciri
tertentu dan merupakan media
bagi segala sesuatu untuk
berlokasi dan berinteraksi
Wilayah Kota
•
Kota adalah permukiman yang berpenduduk relatif besar,
luas, areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris,
kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok
orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam
suatu wilayah geografis tertentu yang cenderung berpola
hubungan rasional, ekonomis dan individualistis
,
Struktur Penggunaan Lahan Kota
Menurut Teori Konsentrik
Dikemukakan oleh E. W. Burgess, 1929.
kota dibagi menjadi 6 wilayah :
Zona 1 : Pusat Daerah Kegiatan
Zona 2 : Peralihan atau zona transisi
Zona 3 : Permukiman kelas proletar
Zona 4 : Pemukiman kelas menengah
Zona 5 : Kawasan elit
Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)
Menurut Teori Sektoral
(sumber:
www.primasiswa.com
)
Dikemukakan oleh Homer Hoyt
Unit-unit kegiatan di perkotaan
tidak mengikuti zona-zona
teratur secara konsentris, tetapi
membentuk sector-sektor yang
sifatnya lebih bebas.
Keterangan:
o
1= pusat kota
o
2=industri ringan dan perdagangan
o
3=tempat tinggal kaum buruh
o
4=tempat tinggal kaum menengah
o
5=tempat tinggal golongan atas
Dikemukakan oleh Homer Hoyt
Unit-unit kegiatan di perkotaan
tidak mengikuti zona-zona
teratur secara konsentris, tetapi
membentuk sector-sektor yang
sifatnya lebih bebas.
Keterangan:
o
1= pusat kota
o
2=industri ringan dan perdagangan
o
3=tempat tinggal kaum buruh
o
4=tempat tinggal kaum menengah
Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)
Menurut Teori Inti Ganda (oleh : Harris dan Ullman)
Pola - Pola Kota
•
Pola Sentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota yang
cenderung berkumpul pada satu daerah
utama.
•
Pola Desentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota cenderung
menjauhi titik pusat kota atau inti kota
•
Pola Nukleasi
Pola yang mirip dengan pola penyebaran
sentralisasi dengan skala ukuran yang
lebih kecil
•
Pola Segresi
Pola persebaran yang saling terpisah satu
sama lain menurut pembagian sosial,
budaya, ekonomi dll.
•
Pola Sentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota yang
cenderung berkumpul pada satu daerah
utama.
•
Pola Desentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota cenderung
menjauhi titik pusat kota atau inti kota
•
Pola Nukleasi
Pola yang mirip dengan pola penyebaran
sentralisasi dengan skala ukuran yang
lebih kecil
•
Pola Segresi
Pola persebaran yang saling terpisah satu
sama lain menurut pembagian sosial,
budaya, ekonomi dll.
(sumber: http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota)
Wilayah Desa
•
Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
(Sumber : PP RI No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Republik Indonesia No. 13 Tahun 2012 )
•
Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Bentuk Desa
•
Desa linier
Desa berkembang memanjang mengikuti
jalan raya, sungai atau lembah
•
Desa radial (terpusat)
Pemekaran desa bentuk terpusat ini
berkembang ke segala jurusan, dan
pusat-pusat kegiatan bergerak mengikuti
pemekaran
•
Desa mengelilingi lapangan
terbuka, alun-alun atau fasilitas
tertentu
•
Desa yang terdapat di pantai
Apabila bentuk pantai landai maka desa
akan berkembang memanjang di tepi
pantai, sedangkan bila desa berbentuk
lembah, desa akan terkonsentrasi di
dalam lembah tersebut.
•
Desa linier
Desa berkembang memanjang mengikuti
jalan raya, sungai atau lembah
•
Desa radial (terpusat)
Pemekaran desa bentuk terpusat ini
berkembang ke segala jurusan, dan
pusat-pusat kegiatan bergerak mengikuti
pemekaran
•
Desa mengelilingi lapangan
terbuka, alun-alun atau fasilitas
tertentu
•
Desa yang terdapat di pantai
Pola desa
The farm village type
The nebulous farm type
The arranged isolated farm type
The pure isolated type
Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama di suatu tempat di sekitarnya terdapat lahan pertanian. Unit-unit keluarga tinggal secara berkelompok karena penduduknya tidak terlalu padat
Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama di suatu tempat dengan lahan pertanian di
sekitarnya, tetapi ada sebagian kecil penduduk tersebar di luar pemukiman pokok. Hal ini dikarenakan padatnya pemukiman pokok.
Desa dengan pola seperti ini memiliki ciri pemukiman penduduknya berada di sepanjang jalan utama desa dan terkonsentrasi pada pusat perdagangan (trade center). Lahan pertanian berada di sekitar pemukiman
Wilayah Perkotaan
•
Wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi.
•
Pola keruangan kota kaitannya dengan tata guna lahan. Wilayah
perkotaan melilputi :
–
Kota (inti kota)
–
Sub daerah perkotaan
Model Pola Ruang Perkotaan
Kota Turks di Tiongkok yang mengambil
Pola Radial Konsentris
(Sumber : www.epochtimes.co.id)
Model Pola Ruang Perkotaan
(Sumber:Wilayah Pedesaan
•
Wilayah yang memiliki kegiatan utama pertanian.
Termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi
kawasan sebagai tempat pemukiman, desa
pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan
sosial,dan kegiatan ekonomi.
Perencanaan Pengembangan Kota
dan Wilayah
•
Perencanaan tata ruang kawasan perkotaan dapat diartikan sebagai kegiatan
merencanakan pemanfaatan potensi dan ruang perkotaan serta
pengembangan
•
Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain dan harus
dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan :
–
Dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu
mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
–
Tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang.
–
Tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
(Sumber: http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota).
Perencanaan Pengembangan Kota
dan Wilayah cont.
•
Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong
terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui
pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik,
ekonomi, sosial, dan budaya (Misra R.P, ”Regional
Development”,1982).
Unsur /Alat Pengembangan Wilayah
Perumahan
Perumahan
Industri
Industri
Tata Guna Lahan
Tata Guna Lahan
Transportasi
Transportasi
Rekreasi dan Wisata
Rekreasi dan Wisata
Perumahan
•
Perumahan merupakan salah satu sarana penghunian yang erat sekali
kaitannya dengan tata cara kehidupan masyarakatnya. Dalam pengembangan
lingkungan perumahan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu
Industri
•
Lokasi kegiatan industri terjadi setelah terbentuk struktur
Tata Guna Lahan
•
Kebutuhan akan perencanaan penggunaan lahan berkaitan erat dengan penggunaan
lahan-lahan yang lain Hubungan antara berbagai penggunaan dapat saling mendukung,
namun dapat juga saling merusak. Oleh karena itu, perencanaan tata guna lahan
harus diawali dengan suatu penentuan penggunaan-penggunaan lahan dan lokasi
yang berkaitan erat dengan topografi, geologi, dan geografi kota.
•
Perencanaan Tata Guna lahan pada hakekatnya adalah Pemanfaatan lahan yang
ditujukan untuk suatu permukaan tertentu
•
Maksud Rencana tata guna lahan adalah untuk mencapai tujuan-tujuan fisik, ekonomi,
dan sosial suatu daerah. Rencana tata guna lahan sangat terkait dengan
keputusan-keputusan dan investasi pemerintah dan swasta, sehingga memberikan suatu
Transportasi
• Hubungan antara transportasi dan tata guna lahan sangatlah penting. Bermacam-macam pola pengembangan lahan menghasilkan bermacam-macam kebutuhan akan transportasi. Bentuk sistem sirkulasi mempengaruhi pola
pengambangan lingkungan perkotaan dan pola tata guna lahan
• Alasan sistem transportasi perlu direncanakan:
o Menjamin keterkaitan di antara sistem sirkulasi suatu kawasan dengan sistem sirkulasi pada kawasan sekitarnya
o Meningkatkan hubungan fungsional di antara berbagai jenis peruntukkan di dalam kawasan
o Rencana sistem transportasi mencakup jalan raya dan jalan-jalan utama, rute angkutan umum, jalan kereta api, bandar udara, dan jalan air
o Rencana tersebut mempolakan rute transportasi di seluruh kota dan sekitarnya
o Di dalam rencana ini, semua jalur kendaraan yang diintegrasikan untuk memindahkan orang dan barang di dalam dan di sekitar daerah perkotaan.
• Sejalan dengan perkembangan kota, maka rencana sirkulasi akan menjadi suatu acuan untuk membangun dan memperluas sistem sirkulasi, (Sumber: Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, 2009)
Rekreasi dan Wisata
•
Sarana Rekreasi dan wisata merupakan kawasan penarik perjalanan.
Juga merupakan kawasan dimana bisnis-bisnis kecil berkembang.
Ada 3 kategori ruang rekreasi yang erat kaitannnya dengan luas
lahan yang digunakan :
o
Halaman bermain
o
Tempat bermain lingkungan
o
Lapangan bermain
•
Ketiga kategori di atas memenuhi fungsi spesifiknya baik dalam
Zonasi
•
Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan
karakteristik semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
•
Tujuan penyusunan peraturan zonasi adalah:
o
Mengatur kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan, mengatur keseimbangan dan
keserasian peruntukan tanah dan menentukan tindak atas suatu satuan ruang.
o
Melindungi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
o
Mencegah kesemrawutan, menyediakan pelayanan umum yang memadai serta
meningkatkan kualitas hidup.
o
Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan.
Peraturan dan Perundangan Terkait
Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah
UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
UU No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
UU No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
PP No.10 Tahun 2000 Tentang Tingkat Penelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah.
PP No.10 Tahun 2000 Tentang Tingkat Penelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah.
PP No.16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah
PP No.16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah
PP No.26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
PP No.26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
PP No.24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri
PP No.24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri
PP No.10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan
PP No.10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan
PP No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
PP No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
PP No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan
PP No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan
CONTOH KASUS :
Profil Kota Semarang
•
Luas
: 373,7 km2,
•
Terbagi
:16 kecamatan dan 177
kelurahan
•
jmlh penduduk
: 1.350.005 jiwa.
(thn 2002)
•
Batas Utara
: Laut Jawa
•
Batas Selatan : Kabupaten Semarang
•
Batas Timur
: Kabupaten Demak
•
Batas Barat
: Kabupaten Kendal
•
Luas
: 373,7 km2,
•
Terbagi
:16 kecamatan dan 177
kelurahan
•
jmlh penduduk
: 1.350.005 jiwa.
(thn 2002)
•
Batas Utara
: Laut Jawa
•
Batas Selatan : Kabupaten Semarang
•
Batas Timur
: Kabupaten Demak
•
Batas Barat
: Kabupaten Kendal
Luas Wilayah Kota Semarang
Luas Wilayah Kota Semarang
Kegiatan Ekonomi Semarang Tahun 2001
WILAYAH PENGEMBANGAN (WP)
1.
WP I :
a.
BWK I
:Semarang Tengah,
Semarang Timur, Semarang Selatan
b.
BWK II
: Gajahmungkur,
Candisari
c.
BWK III
: Semarang Barat,
Semarang Utara
2.
WP II
b.
BWK VII: Banyumanik
4.
WP IV
a.
BWK VIII: Gunung Pati
b.
BWK IX
: Mijen
5.
WP V
1.
BWK X
: Ngalian, Tugu
1.
WP I :
a.
BWK I
:Semarang Tengah,
Semarang Timur, Semarang Selatan
b.
BWK II
: Gajahmungkur,
Candisari
c.
BWK III
: Semarang Barat,
Semarang Utara
2.
WP II
b.
BWK VII: Banyumanik
4.
WP IV
a.
BWK VIII: Gunung Pati
b.
BWK IX
: Mijen
5.
WP V
Karakteristik Utama Kota Semarang
Semarang berada diantara dua
kutub pengembangan utama
nasional, yaitu Jakarta dan
Surabaya.
Semarang berada diantara dua
kutub pengembangan utama
nasional, yaitu Jakarta dan
Surabaya.
Semarang berada di jalur pantura
yang merupakan salah satu jalur
utama dalam sistem transportasi
nasional.
Semarang berada di jalur pantura
yang merupakan salah satu jalur
utama dalam sistem transportasi
nasional.
Semarang merupakan pintu
gerbang dari daerah-daerah lain
yang berada di Propinsi Jawa
Tengah.
Semarang merupakan pintu
gerbang dari daerah-daerah lain
Semarang Land Use
•
Seiring dengan perkembangan
Kota, Kota Semarang berkembang
menjadi kota yang memfokuskan
pada perdagangan dan jasa
Terutama di Kawasan Simpang
Lima
•
Faktor penduduk Semarang yang
pada tahun 2007 telah mencapai
lebih dari 1,4 juta dan sekarang
pada tahun 2010 telah mencapai
lebih dari 1,5 juta orang. Tingkat
pertambahan penduduknya
sebesar 1,4% per tahun. Sehingga
kebutuhan daerah permukiman
semakin meningkat.
Perubahan Tata Ruang Kota
Semarang
•
Menurut aturan internasional mengenai
ruang terbuka hijau suatu kota harus
mencapai angka 30% dari luas kota.
Kesepakatan masyarkat internasional
ini juga di sepakati oleh pemerintah
indonesia dengan menetapkan agar
daerah perkotaan memiliki minimal 20%
dari luas kawasan perkotaannya untuk
ruang publik ini (Mendagri No.1 tahun
2007, pasal 9 ayat 1).
•
Sementara pada Perda No.14 Tahun
2011 RTRW kota Semarang pasal
64.huruf b, menyatakan Kawasan RTH
semarang sebesar 7,5% luas wilayah
•
Menurut aturan internasional mengenai
ruang terbuka hijau suatu kota harus
mencapai angka 30% dari luas kota.
Kesepakatan masyarkat internasional
ini juga di sepakati oleh pemerintah
indonesia dengan menetapkan agar
daerah perkotaan memiliki minimal 20%
dari luas kawasan perkotaannya untuk
ruang publik ini (Mendagri No.1 tahun
2007, pasal 9 ayat 1).
•
Sementara pada Perda No.14 Tahun
2011 RTRW kota Semarang pasal
64.huruf b, menyatakan Kawasan RTH
semarang sebesar 7,5% luas wilayah
•
Tata Guna Lahan DAS Beringin yang
mencakup Kecamatan Mijen dan
Ngaliyan yang Berubah Fungsi dari
Area Hijau dan Pertanian menjadi
Perumahan.
ASPEK EKOLOGIS
ASPEK EKOLOGIS
(Sumber: Edy S., Bambang S., dalam Jurnal Riptek Vol 6. No.1 Tahun 2012)
Perubahan Tata Ruang Kota
Semarang cont.
•
Banjir Rob di Kawasan Pesisir
–
Adanya aktivitas reklamasi pantai
dan rusaknya hutan bakau serta
peningkatan jumlah sumur artesis,
dan pengambilan air tanah yang
berlebihan di Semarang Bawah
mengakibatkan penurunan
permukaan tanah dan rob air laut
–
Adanya ketidak konsistenan
Pemkot Semarang dalam
pelaksanaan rencana tata ruang
kota yang telah dibuat, sehingga
sering terjadi pelanggaran yang
dapat menimbulkan berbagai
permasalahan salah satunya
adalah Banjir
•
Kebijakan Pemerintah :
– Pembuatan embung-embung untuk menampung air di beberapa lokasi di Kota Semarang salah satunya di Sekaran-Gunungpati (dalam proses pembangunan);
– Pembuatan Waduk Jatibarang dan Polder Tawang;
•
Banjir Rob di Kawasan Pesisir
–
Adanya aktivitas reklamasi pantai
dan rusaknya hutan bakau serta
peningkatan jumlah sumur artesis,
dan pengambilan air tanah yang
berlebihan di Semarang Bawah
mengakibatkan penurunan
permukaan tanah dan rob air laut
–
Adanya ketidak konsistenan
Pemkot Semarang dalam
pelaksanaan rencana tata ruang
kota yang telah dibuat, sehingga
sering terjadi pelanggaran yang
dapat menimbulkan berbagai
permasalahan salah satunya
adalah Banjir
•
Kebijakan Pemerintah :
– Pembuatan embung-embung untuk menampung air di beberapa lokasi di Kota Semarang salah satunya di Sekaran-Gunungpati (dalam proses pembangunan);
– Pembuatan Waduk Jatibarang dan Polder Tawang;
•
Banjir Akibat Masalah Drainase :
–
Sebagian dari saluran-saluran drainase yang
ada kadang tersumbat oleh sampah-sampah
yang dibuang oleh masyarakat ke badan
sungai
Pembangunan saluran drainase baru tanpa
perencanaan dan mengabaikan prinsip dasar
kegunaan 2 kanal (Banjir Kanal Barat & Timur)
yang dibangun Pemerintah Kolonial, sehingga
fungsinya kurang optimal;
•
Kebijakan Pemerintah :
–
Kegiatan normalisasi dan pengerukan
sedimentasi dasar sungai pada sungai-sungai
utama di Kota Semarang,
–
Pemasangan pompa air dibeberapa titik di
beberapa sungai-sungai untuk memperlancar
aliran air
–
Sudah ada rencana pembuatan master plan
rencana induk drainase Kota Semarang.
ASPEK SOSIAL
ASPEK SOSIAL
Adanya rencana tata ruang yang
mengalokasikan daerah tersebut
untuk kawasan permukiman dengan
didukung pada masing-masing
daerah tersebut diletakkan pusat
aktivitas baru seperti kawasan
pendidikan (Unnes-Gunungpati,
Tembalang), kawasan industri
(Tugu-Candi, Terboyo, Genuk dll).
Perumahan, dimana sekarang ini
pertumbuhan kawasan permukiman di
daerah pinggiran begitu pesat. Hal ini
dikarenakan terdapat fenomena
kecenderungan pembangunan dan
pengembangan kawasan perumahan di
daerah pinggiran seperti Gunungpati,
Tembalang dan Mijen dengan ketersediaan
lahan yang cukup luas dan harga terjangkau
Aspek infrastruktur
Aspek infrastruktur
• Hampir 100% seluruh wilayah di Kota Semarang sudah terjangkau oleh jaringan jalan, listrik dan air bersih. Selain itu juga seluruh wilayah terutama yang berada di pinggiran juga sudah terlayani oleh moda transportasi minimal ojek atau angkutan bak terbuka
Aspek Fasilitas
•
Masing-masing kecamatan di Kota
Semarang terutama yang berada di
daerah pinggiran seperti
Kecamatan Gunungpati, Mijen dan
Tembalang sudah terlayani oleh
beberapa fasilitas penting seperti
minimarket, pasar, sekolah,
perumahan, kesehatan,
peribadatan, akses jalan, bank.
Aspek Transportasi
•
Sekarang ini sudah tersedianya
layanan angkutan umum massal
BRT (bus rapid transit) Trans
Semarang sebagai jawaban atas
tingginya tuntutan masyarakat atas
pelayanan yang prima. Namun
program BRT ini kurang berjalan
lancar terkendala masalah dana
operasional dan kesiapan BRT
maupun SDM sebagai
pelaksananya
•
Beberapa Permasalahan Transportasi di
kota Semarang diantaranya:
– Kemacetan lalu lintas pada jam sibuk (pagi dan sore)
– Tersedia lahan parkir on the street dengan tingkat volume kendaraan tinggi
– Fasilitas trotoar yang tidak memadai, rusak, tertutup pohon, pot, dan tanpa penutup drainase
– Keberlanjutan Bandara Ahmad Yani di lingkungan padat penduduk dan perbukitan
•
Beberapa kebijakan pemerintah menangani
masalah transport kota Semarang:
– Kebijakan Pemerintah tentang rencana pengembangan Jalan Tol Trans Jawa
– Wacana Bandara Ahmad Yani akan dipindah keluar Kota Semarang dalam hal ini akan dipindah ke Kabupaten Kendal atau Demak
– Pelebaran Jalan Raya Kaligawe hingga perbatasan Demak
(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009)
(Sumber: www.bkreatif.co.id)
Penutup
•
Kesimpulan :
Pengembangan Wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, dan budaya, wilayah yang dimaksud dapat berupa kota dan desa
Unsur/ alat pengembangan wilayah ialah
transportasi, pusat permukiman, industri, rekreasi. Pengembangan wilayah juga tergantung kepada tata guna lahan.
Perubahan tata ruang kota Semarang diantaranya pendirian pemukiman dilahan hijau dan pertanian, perkembangan arah permukiman ke daerah yang lebih tinggi disebabkan banjir rob dan drainase yang rusak. Perubahan area pertanian ke industri.
Kebijakan dalam perencanaan transport yang kurang baik.
•
Saran :
Diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai pengembangan wilayah
Pada studi selanjutnya dapat diperbanyak kasus perubahan tata runag kota Semarang
•
Referensi :
Bappeda Semarang, 2005.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOG
RAFI/197210242001121BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/ Pola_Keruangan_Desa_dan_Kota.pdf
diunduh Rabu 23 Januari 2013.
http://destination-teendestination.blogspot.com/2010/09/review -teori-lokasi-n-pola-ruang.html
diunduh Kamis 24 Januari 2013.
http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota
diunduh Kamis 24 Januari 2013.
http://geografi161.blogspot.com/2008/10/desa-dan-kota.html diunduh Rabu 23 Januari 2013.
http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota diunduh Rabu 23 Januari 2013
N., Prihadi, S., Agung. Studi Kebijakan Pembangunan Terhadap Perubahan Tata Ruang di Kota Semarang. Dalam Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang Tahun 2010-2015.
S., Edy, S., Bambang. Kajian Hidrologi terhadap Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian dan Lahan Hijau menjadi Pemukiman di Kota Semarang. Dalam Jurnal Riptek Vol 6. No.1 Tahun 2012.
Semarang dalam Angka 2009.