• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Perencanaan Pengembangan wilayah untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas Perencanaan Pengembangan wilayah untuk"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas 1

Perencanaan dan Pengembangan

Wilayah

Contoh Kasus :

Perubahan Tata Ruang Kota Semarang

(2)

Contents

PENGERTIAN “PENGEMBANGAN”

1

PENGERTIAN “WILAYAH”

2

PENGERTIAN “WILAYAH KOTA / DESA”

3

PENGERTIAN “WILAYAH PERKOTAAN / PEDESAAN”

4

UNSUR ATAU ALAT PENGEMBANGAN WILAYAH

5

CONTOH KASUS

(3)

Pengembangan

Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi

yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu

pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk

meningkatkan fungsi, manfaat, aplikasi ilmu pengetahuan dan

teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru

Serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat

dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas

serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan

kuantitatif.

UU RI

Nomor 18

Tahun 2002

(4)

Wilayah

Sebuah daerah yang dikuasai

atau menjadi teritorial dari

sebuah kedaulatan.

Ruang yang merupakan kesatuan

geografis beserta segenap unsur

yang terkait kepadanya yang batas

dan sistemnya ditentukan

berdasarkan aspek administratif

dan atau aspek fungsional.

Unit geografis dengan

batas-batas spesifik tertentu dimana

komponen-komponen wilayah

tersebut satu sama lain saling

berinteraksi secara fungsional

(www.wikipedia.com)

(UU No 26 tahun 2007)

(Rustiadi, 2006)

Area geografis yang memiliki ciri

tertentu dan merupakan media

bagi segala sesuatu untuk

berlokasi dan berinteraksi

(5)

Wilayah Kota

Kota adalah permukiman yang berpenduduk relatif besar,

luas, areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris,

kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok

orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam

suatu wilayah geografis tertentu yang cenderung berpola

hubungan rasional, ekonomis dan individualistis

,

(6)

Struktur Penggunaan Lahan Kota

Menurut Teori Konsentrik

Dikemukakan oleh E. W. Burgess, 1929.

kota dibagi menjadi 6 wilayah :

Zona 1 : Pusat Daerah Kegiatan

Zona 2 : Peralihan atau zona transisi

Zona 3 : Permukiman kelas proletar

Zona 4 : Pemukiman kelas menengah

Zona 5 : Kawasan elit

(7)

Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)

Menurut Teori Sektoral

(sumber:

www.primasiswa.com

)

Dikemukakan oleh Homer Hoyt

Unit-unit kegiatan di perkotaan

tidak mengikuti zona-zona

teratur secara konsentris, tetapi

membentuk sector-sektor yang

sifatnya lebih bebas.

Keterangan:

o

1= pusat kota

o

2=industri ringan dan perdagangan

o

3=tempat tinggal kaum buruh

o

4=tempat tinggal kaum menengah

o

5=tempat tinggal golongan atas

Dikemukakan oleh Homer Hoyt

Unit-unit kegiatan di perkotaan

tidak mengikuti zona-zona

teratur secara konsentris, tetapi

membentuk sector-sektor yang

sifatnya lebih bebas.

Keterangan:

o

1= pusat kota

o

2=industri ringan dan perdagangan

o

3=tempat tinggal kaum buruh

o

4=tempat tinggal kaum menengah

(8)

Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)

Menurut Teori Inti Ganda (oleh : Harris dan Ullman)

(9)

Pola - Pola Kota

Pola Sentralisasi

Pola persebaran kegiatan kota yang

cenderung berkumpul pada satu daerah

utama.

Pola Desentralisasi

Pola persebaran kegiatan kota cenderung

menjauhi titik pusat kota atau inti kota

Pola Nukleasi

Pola yang mirip dengan pola penyebaran

sentralisasi dengan skala ukuran yang

lebih kecil

Pola Segresi

Pola persebaran yang saling terpisah satu

sama lain menurut pembagian sosial,

budaya, ekonomi dll.

Pola Sentralisasi

Pola persebaran kegiatan kota yang

cenderung berkumpul pada satu daerah

utama.

Pola Desentralisasi

Pola persebaran kegiatan kota cenderung

menjauhi titik pusat kota atau inti kota

Pola Nukleasi

Pola yang mirip dengan pola penyebaran

sentralisasi dengan skala ukuran yang

lebih kecil

Pola Segresi

Pola persebaran yang saling terpisah satu

sama lain menurut pembagian sosial,

budaya, ekonomi dll.

(sumber: http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota)

(10)

Wilayah Desa

Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas

wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul

dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati

dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

(Sumber : PP RI No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam

Negeri Republik Indonesia No. 13 Tahun 2012 )

Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas

wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul

dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati

dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

(11)

Bentuk Desa

Desa linier

Desa berkembang memanjang mengikuti

jalan raya, sungai atau lembah

Desa radial (terpusat)

Pemekaran desa bentuk terpusat ini

berkembang ke segala jurusan, dan

pusat-pusat kegiatan bergerak mengikuti

pemekaran

Desa mengelilingi lapangan

terbuka, alun-alun atau fasilitas

tertentu

Desa yang terdapat di pantai

Apabila bentuk pantai landai maka desa

akan berkembang memanjang di tepi

pantai, sedangkan bila desa berbentuk

lembah, desa akan terkonsentrasi di

dalam lembah tersebut.

Desa linier

Desa berkembang memanjang mengikuti

jalan raya, sungai atau lembah

Desa radial (terpusat)

Pemekaran desa bentuk terpusat ini

berkembang ke segala jurusan, dan

pusat-pusat kegiatan bergerak mengikuti

pemekaran

Desa mengelilingi lapangan

terbuka, alun-alun atau fasilitas

tertentu

Desa yang terdapat di pantai

(12)

Pola desa

The farm village type

The nebulous farm type

The arranged isolated farm type

The pure isolated type

Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama di suatu tempat di sekitarnya terdapat lahan pertanian. Unit-unit keluarga tinggal secara berkelompok karena penduduknya tidak terlalu padat

Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama di suatu tempat dengan lahan pertanian di

sekitarnya, tetapi ada sebagian kecil penduduk tersebar di luar pemukiman pokok. Hal ini dikarenakan padatnya pemukiman pokok.

Desa dengan pola seperti ini memiliki ciri pemukiman penduduknya berada di sepanjang jalan utama desa dan terkonsentrasi pada pusat perdagangan (trade center). Lahan pertanian berada di sekitar pemukiman

(13)

Wilayah Perkotaan

Wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan

susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,

pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan

sosial, dan kegiatan ekonomi.

Pola keruangan kota kaitannya dengan tata guna lahan. Wilayah

perkotaan melilputi :

Kota (inti kota)

Sub daerah perkotaan

(14)

Model Pola Ruang Perkotaan

Kota Turks di Tiongkok yang mengambil

Pola Radial Konsentris

(Sumber : www.epochtimes.co.id)

Model Pola Ruang Perkotaan

(Sumber:

(15)

Wilayah Pedesaan

Wilayah yang memiliki kegiatan utama pertanian.

Termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi

kawasan sebagai tempat pemukiman, desa

pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan

sosial,dan kegiatan ekonomi.

(16)

Perencanaan Pengembangan Kota

dan Wilayah

Perencanaan tata ruang kawasan perkotaan dapat diartikan sebagai kegiatan

merencanakan pemanfaatan potensi dan ruang perkotaan serta

pengembangan

Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,

penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,

pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, merupakan satu

kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain dan harus

dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan :

Dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu

mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang.

Tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.

(Sumber: http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota).

(17)

Perencanaan Pengembangan Kota

dan Wilayah cont.

Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong

terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui

pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik,

ekonomi, sosial, dan budaya (Misra R.P, ”Regional

Development”,1982).

(18)

Unsur /Alat Pengembangan Wilayah

Perumahan

Perumahan

Industri

Industri

Tata Guna Lahan

Tata Guna Lahan

Transportasi

Transportasi

Rekreasi dan Wisata

Rekreasi dan Wisata

(19)

Perumahan

Perumahan merupakan salah satu sarana penghunian yang erat sekali

kaitannya dengan tata cara kehidupan masyarakatnya. Dalam pengembangan

lingkungan perumahan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu

(20)

Industri

Lokasi kegiatan industri terjadi setelah terbentuk struktur

(21)

Tata Guna Lahan

Kebutuhan akan perencanaan penggunaan lahan berkaitan erat dengan penggunaan

lahan-lahan yang lain Hubungan antara berbagai penggunaan dapat saling mendukung,

namun dapat juga saling merusak. Oleh karena itu, perencanaan tata guna lahan

harus diawali dengan suatu penentuan penggunaan-penggunaan lahan dan lokasi

yang berkaitan erat dengan topografi, geologi, dan geografi kota.

Perencanaan Tata Guna lahan pada hakekatnya adalah Pemanfaatan lahan yang

ditujukan untuk suatu permukaan tertentu

Maksud Rencana tata guna lahan adalah untuk mencapai tujuan-tujuan fisik, ekonomi,

dan sosial suatu daerah. Rencana tata guna lahan sangat terkait dengan

keputusan-keputusan dan investasi pemerintah dan swasta, sehingga memberikan suatu

(22)

Transportasi

• Hubungan antara transportasi dan tata guna lahan sangatlah penting. Bermacam-macam pola pengembangan lahan menghasilkan bermacam-macam kebutuhan akan transportasi. Bentuk sistem sirkulasi mempengaruhi pola

pengambangan lingkungan perkotaan dan pola tata guna lahan

• Alasan sistem transportasi perlu direncanakan:

o Menjamin keterkaitan di antara sistem sirkulasi suatu kawasan dengan sistem sirkulasi pada kawasan sekitarnya

o Meningkatkan hubungan fungsional di antara berbagai jenis peruntukkan di dalam kawasan

o Rencana sistem transportasi mencakup jalan raya dan jalan-jalan utama, rute angkutan umum, jalan kereta api, bandar udara, dan jalan air

o Rencana tersebut mempolakan rute transportasi di seluruh kota dan sekitarnya

o Di dalam rencana ini, semua jalur kendaraan yang diintegrasikan untuk memindahkan orang dan barang di dalam dan di sekitar daerah perkotaan.

• Sejalan dengan perkembangan kota, maka rencana sirkulasi akan menjadi suatu acuan untuk membangun dan memperluas sistem sirkulasi, (Sumber: Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, 2009)

(23)

Rekreasi dan Wisata

Sarana Rekreasi dan wisata merupakan kawasan penarik perjalanan.

Juga merupakan kawasan dimana bisnis-bisnis kecil berkembang.

Ada 3 kategori ruang rekreasi yang erat kaitannnya dengan luas

lahan yang digunakan :

o

Halaman bermain

o

Tempat bermain lingkungan

o

Lapangan bermain

Ketiga kategori di atas memenuhi fungsi spesifiknya baik dalam

(24)

Zonasi

Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan

karakteristik semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.

Tujuan penyusunan peraturan zonasi adalah:

o

Mengatur kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan, mengatur keseimbangan dan

keserasian peruntukan tanah dan menentukan tindak atas suatu satuan ruang.

o

Melindungi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

o

Mencegah kesemrawutan, menyediakan pelayanan umum yang memadai serta

meningkatkan kualitas hidup.

o

Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan.

(25)

Peraturan dan Perundangan Terkait

Perencanaan dan Pengembangan

Wilayah

UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

UU No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

UU No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

PP No.10 Tahun 2000 Tentang Tingkat Penelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah.

PP No.10 Tahun 2000 Tentang Tingkat Penelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah.

PP No.16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah

PP No.16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah

PP No.26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

PP No.26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

PP No.24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri

PP No.24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri

PP No.10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan

PP No.10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan

PP No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

PP No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

PP No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan

PP No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan

(26)

CONTOH KASUS :

(27)
(28)

Profil Kota Semarang

Luas

: 373,7 km2,

Terbagi

:16 kecamatan dan 177

kelurahan

jmlh penduduk

: 1.350.005 jiwa.

(thn 2002)

Batas Utara

: Laut Jawa

Batas Selatan : Kabupaten Semarang

Batas Timur

: Kabupaten Demak

Batas Barat

: Kabupaten Kendal

Luas

: 373,7 km2,

Terbagi

:16 kecamatan dan 177

kelurahan

jmlh penduduk

: 1.350.005 jiwa.

(thn 2002)

Batas Utara

: Laut Jawa

Batas Selatan : Kabupaten Semarang

Batas Timur

: Kabupaten Demak

Batas Barat

: Kabupaten Kendal

Luas Wilayah Kota Semarang

Luas Wilayah Kota Semarang

Kegiatan Ekonomi Semarang Tahun 2001

(29)

WILAYAH PENGEMBANGAN (WP)

1.

WP I :

a.

BWK I

:Semarang Tengah,

Semarang Timur, Semarang Selatan

b.

BWK II

: Gajahmungkur,

Candisari

c.

BWK III

: Semarang Barat,

Semarang Utara

2.

WP II

b.

BWK VII: Banyumanik

4.

WP IV

a.

BWK VIII: Gunung Pati

b.

BWK IX

: Mijen

5.

WP V

1.

BWK X

: Ngalian, Tugu

1.

WP I :

a.

BWK I

:Semarang Tengah,

Semarang Timur, Semarang Selatan

b.

BWK II

: Gajahmungkur,

Candisari

c.

BWK III

: Semarang Barat,

Semarang Utara

2.

WP II

b.

BWK VII: Banyumanik

4.

WP IV

a.

BWK VIII: Gunung Pati

b.

BWK IX

: Mijen

5.

WP V

(30)

Karakteristik Utama Kota Semarang

Semarang berada diantara dua

kutub pengembangan utama

nasional, yaitu Jakarta dan

Surabaya.

Semarang berada diantara dua

kutub pengembangan utama

nasional, yaitu Jakarta dan

Surabaya.

Semarang berada di jalur pantura

yang merupakan salah satu jalur

utama dalam sistem transportasi

nasional.

Semarang berada di jalur pantura

yang merupakan salah satu jalur

utama dalam sistem transportasi

nasional.

Semarang merupakan pintu

gerbang dari daerah-daerah lain

yang berada di Propinsi Jawa

Tengah.

Semarang merupakan pintu

gerbang dari daerah-daerah lain

(31)

Semarang Land Use

Seiring dengan perkembangan

Kota, Kota Semarang berkembang

menjadi kota yang memfokuskan

pada perdagangan dan jasa

Terutama di Kawasan Simpang

Lima

Faktor penduduk Semarang yang

pada tahun 2007 telah mencapai

lebih dari 1,4 juta dan sekarang

pada tahun 2010 telah mencapai

lebih dari 1,5 juta orang. Tingkat

pertambahan penduduknya

sebesar 1,4% per tahun. Sehingga

kebutuhan daerah permukiman

semakin meningkat.

(32)

Perubahan Tata Ruang Kota

Semarang

Menurut aturan internasional mengenai

ruang terbuka hijau suatu kota harus

mencapai angka 30% dari luas kota.

Kesepakatan masyarkat internasional

ini juga di sepakati oleh pemerintah

indonesia dengan menetapkan agar

daerah perkotaan memiliki minimal 20%

dari luas kawasan perkotaannya untuk

ruang publik ini (Mendagri No.1 tahun

2007, pasal 9 ayat 1).

Sementara pada Perda No.14 Tahun

2011 RTRW kota Semarang pasal

64.huruf b, menyatakan Kawasan RTH

semarang sebesar 7,5% luas wilayah

Menurut aturan internasional mengenai

ruang terbuka hijau suatu kota harus

mencapai angka 30% dari luas kota.

Kesepakatan masyarkat internasional

ini juga di sepakati oleh pemerintah

indonesia dengan menetapkan agar

daerah perkotaan memiliki minimal 20%

dari luas kawasan perkotaannya untuk

ruang publik ini (Mendagri No.1 tahun

2007, pasal 9 ayat 1).

Sementara pada Perda No.14 Tahun

2011 RTRW kota Semarang pasal

64.huruf b, menyatakan Kawasan RTH

semarang sebesar 7,5% luas wilayah

Tata Guna Lahan DAS Beringin yang

mencakup Kecamatan Mijen dan

Ngaliyan yang Berubah Fungsi dari

Area Hijau dan Pertanian menjadi

Perumahan.

ASPEK EKOLOGIS

ASPEK EKOLOGIS

(Sumber: Edy S., Bambang S., dalam Jurnal Riptek Vol 6. No.1 Tahun 2012)

(33)

Perubahan Tata Ruang Kota

Semarang cont.

Banjir Rob di Kawasan Pesisir

Adanya aktivitas reklamasi pantai

dan rusaknya hutan bakau serta

peningkatan jumlah sumur artesis,

dan pengambilan air tanah yang

berlebihan di Semarang Bawah

mengakibatkan penurunan

permukaan tanah dan rob air laut

Adanya ketidak konsistenan

Pemkot Semarang dalam

pelaksanaan rencana tata ruang

kota yang telah dibuat, sehingga

sering terjadi pelanggaran yang

dapat menimbulkan berbagai

permasalahan salah satunya

adalah Banjir

Kebijakan Pemerintah :

– Pembuatan embung-embung untuk menampung air di beberapa lokasi di Kota Semarang salah satunya di Sekaran-Gunungpati (dalam proses pembangunan);

– Pembuatan Waduk Jatibarang dan Polder Tawang;

Banjir Rob di Kawasan Pesisir

Adanya aktivitas reklamasi pantai

dan rusaknya hutan bakau serta

peningkatan jumlah sumur artesis,

dan pengambilan air tanah yang

berlebihan di Semarang Bawah

mengakibatkan penurunan

permukaan tanah dan rob air laut

Adanya ketidak konsistenan

Pemkot Semarang dalam

pelaksanaan rencana tata ruang

kota yang telah dibuat, sehingga

sering terjadi pelanggaran yang

dapat menimbulkan berbagai

permasalahan salah satunya

adalah Banjir

Kebijakan Pemerintah :

– Pembuatan embung-embung untuk menampung air di beberapa lokasi di Kota Semarang salah satunya di Sekaran-Gunungpati (dalam proses pembangunan);

– Pembuatan Waduk Jatibarang dan Polder Tawang;

Banjir Akibat Masalah Drainase :

Sebagian dari saluran-saluran drainase yang

ada kadang tersumbat oleh sampah-sampah

yang dibuang oleh masyarakat ke badan

sungai

Pembangunan saluran drainase baru tanpa

perencanaan dan mengabaikan prinsip dasar

kegunaan 2 kanal (Banjir Kanal Barat & Timur)

yang dibangun Pemerintah Kolonial, sehingga

fungsinya kurang optimal;

Kebijakan Pemerintah :

Kegiatan normalisasi dan pengerukan

sedimentasi dasar sungai pada sungai-sungai

utama di Kota Semarang,

Pemasangan pompa air dibeberapa titik di

beberapa sungai-sungai untuk memperlancar

aliran air

Sudah ada rencana pembuatan master plan

rencana induk drainase Kota Semarang.

(34)
(35)

ASPEK SOSIAL

ASPEK SOSIAL

Adanya rencana tata ruang yang

mengalokasikan daerah tersebut

untuk kawasan permukiman dengan

didukung pada masing-masing

daerah tersebut diletakkan pusat

aktivitas baru seperti kawasan

pendidikan (Unnes-Gunungpati,

Tembalang), kawasan industri

(Tugu-Candi, Terboyo, Genuk dll).

Perumahan, dimana sekarang ini

pertumbuhan kawasan permukiman di

daerah pinggiran begitu pesat. Hal ini

dikarenakan terdapat fenomena

kecenderungan pembangunan dan

pengembangan kawasan perumahan di

daerah pinggiran seperti Gunungpati,

Tembalang dan Mijen dengan ketersediaan

lahan yang cukup luas dan harga terjangkau

(36)

Aspek infrastruktur

Aspek infrastruktur

• Hampir 100% seluruh wilayah di Kota Semarang sudah terjangkau oleh jaringan jalan, listrik dan air bersih. Selain itu juga seluruh wilayah terutama yang berada di pinggiran juga sudah terlayani oleh moda transportasi minimal ojek atau angkutan bak terbuka

(37)

Aspek Fasilitas

Masing-masing kecamatan di Kota

Semarang terutama yang berada di

daerah pinggiran seperti

Kecamatan Gunungpati, Mijen dan

Tembalang sudah terlayani oleh

beberapa fasilitas penting seperti

minimarket, pasar, sekolah,

perumahan, kesehatan,

peribadatan, akses jalan, bank.

(38)

Aspek Transportasi

Sekarang ini sudah tersedianya

layanan angkutan umum massal

BRT (bus rapid transit) Trans

Semarang sebagai jawaban atas

tingginya tuntutan masyarakat atas

pelayanan yang prima. Namun

program BRT ini kurang berjalan

lancar terkendala masalah dana

operasional dan kesiapan BRT

maupun SDM sebagai

pelaksananya

Beberapa Permasalahan Transportasi di

kota Semarang diantaranya:

– Kemacetan lalu lintas pada jam sibuk (pagi dan sore)

– Tersedia lahan parkir on the street dengan tingkat volume kendaraan tinggi

– Fasilitas trotoar yang tidak memadai, rusak, tertutup pohon, pot, dan tanpa penutup drainase

– Keberlanjutan Bandara Ahmad Yani di lingkungan padat penduduk dan perbukitan

Beberapa kebijakan pemerintah menangani

masalah transport kota Semarang:

– Kebijakan Pemerintah tentang rencana pengembangan Jalan Tol Trans Jawa

– Wacana Bandara Ahmad Yani akan dipindah keluar Kota Semarang dalam hal ini akan dipindah ke Kabupaten Kendal atau Demak

– Pelebaran Jalan Raya Kaligawe hingga perbatasan Demak

(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009)

(Sumber: www.bkreatif.co.id)

(39)

Penutup

Kesimpulan :

 Pengembangan Wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, dan budaya, wilayah yang dimaksud dapat berupa kota dan desa

 Unsur/ alat pengembangan wilayah ialah

transportasi, pusat permukiman, industri, rekreasi. Pengembangan wilayah juga tergantung kepada tata guna lahan.

 Perubahan tata ruang kota Semarang diantaranya pendirian pemukiman dilahan hijau dan pertanian, perkembangan arah permukiman ke daerah yang lebih tinggi disebabkan banjir rob dan drainase yang rusak. Perubahan area pertanian ke industri.

Kebijakan dalam perencanaan transport yang kurang baik.

Saran :

 Diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai pengembangan wilayah

 Pada studi selanjutnya dapat diperbanyak kasus perubahan tata runag kota Semarang

Referensi :

 Bappeda Semarang, 2005.

 http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOG

RAFI/197210242001121BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/ Pola_Keruangan_Desa_dan_Kota.pdf

diunduh Rabu 23 Januari 2013.

 http://destination-teendestination.blogspot.com/2010/09/review -teori-lokasi-n-pola-ruang.html

diunduh Kamis 24 Januari 2013.

 http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota

diunduh Kamis 24 Januari 2013.

 http://geografi161.blogspot.com/2008/10/desa-dan-kota.html diunduh Rabu 23 Januari 2013.

 http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota diunduh Rabu 23 Januari 2013

 N., Prihadi, S., Agung. Studi Kebijakan Pembangunan Terhadap Perubahan Tata Ruang di Kota Semarang. Dalam Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009.

 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang Tahun 2010-2015.

 S., Edy, S., Bambang. Kajian Hidrologi terhadap Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian dan Lahan Hijau menjadi Pemukiman di Kota Semarang. Dalam Jurnal Riptek Vol 6. No.1 Tahun 2012.

 Semarang dalam Angka 2009.

(40)

Referensi

Dokumen terkait