• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Model Rule Penyebab Mahasiswa Perguruan Tinggi Pindah Dengan Metode Decision Tree

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Model Rule Penyebab Mahasiswa Perguruan Tinggi Pindah Dengan Metode Decision Tree"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengunduran Diri Mahasiswa

Hampir tidak ada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (PTN/PTS) yang tidak

pernah mahasiswanya mengundurkan diri sebagai mahasiswa di PTN/PTS tersebut.

Hal ini dibuktikan dengan adanya peraturan pengunduran diri mahasiswa. Sebagai

contoh, Universitas Indonesia (UI) sendiri memiliki peraturan tersebut dan khusus

program studi computer science dapat diakses secara online, dan pada ketentuan

pengunduran mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dicantumkan ketentuan

pengunduran diri mahasiswa baru dan reguler.

Peraturan Akademik STMIK Mikroskil Pasal 37 tentang drop out / putus studi

diberlakukan apabila: telah melewati batas masa studi untuk program sarjana paling

lama 14 semester atau program diploma paling lama 10 semester, tidak memenuhi

persyaratan minimal akademik, mendapat sanksi akibat melanggar tata tertib yang

berlaku (sumber : peraturan Akademik Mikroskil 2011-2015)

Pengunduran diri mahasiswa termasuk drop out di PTS bahkan cukup banyak,

seperti pada STMIK Mikroskil mencapai 88 orang rata-rata per tahun mahasiswa yang

mengundurkan diri dalam periode tahun 2007 hingga 2010 (sumber : SIPT Mikroskil).

Alasan pengunduran diri sangat beragam, seperti orangtua pindah tugas,

mahasiswa pindah kerja, berhenti kuliah, tidak sanggup mengikuti pelajaran, dan lain

sebagainya. Banyak diantara alasan tersebut ternyata hanya karangan belaka setelah

dibuktikan melalui beberapa penelusuran. Sehingga dibutuhkan lebih banyak

penelitian lagi tentang pola tersembunyi, kecenderungan pengunduran diri

mahasiswa. Berbeda dengan pengunduran diri, dropout diakibatkan oleh

ketidakmampuan mahasiswa dalam mencapai sejumlah SKS hingga semester tertentu.

Kecenderungan yang mempengaruhi drop out hampir sama dengan faktor

pengunduran diri.

2.2 Pengertian Data Mining

Data mining adalah serangkaian proses untuk menggali nilai tambah berupa informasi

(2)

dihasilkan diperoleh dengan cara mengekstraksi dan mengenali pola yang penting atau

menarik dari data yang terdapat dalam basisdata.

Data mining adalah suatu istilah yang digunakan untuk menemukan

pengetahuan yang tersembunyi di dalam database. Data mining merupakan proses

semi otomatik yang menggunakan teknik statistik, matematika, kecerdasan buatan,

dan machine learning untuk mengekstraksi dan mengidentifikasi informasi

pengetahuan potensial dan berguna yang bermanfaat yang tersimpan di dalam

database besar. (Turban et al, 2005 ).

Menurut Gartner Group data mining adalah suatu proses menemukan

hubungan yang berarti, pola, dan kecenderungan dengan memeriksa dalam

sekumpulan besar data yang tersimpan dalam penyimpanan dengan menggunakan

teknik pengenalan pola seperti teknik statistik dan matematika (Larose, 2006).

Data mining adalah sebuah proses secara berulang dimana kemajuan

ditentukan oleh penemuan, baik melalui metode otomatis atau manual. Data mining

sangat berguna dalam sebuah analisis skenario eksplorasi dimana tidak adanya gagasan tentang suatu hasil yang “menarik”. Data mining menemukan informasi yang baru, berharga dalam volume data yang besar yang merupakan upaya kerjasama

manusia dan komputer. Hasil terbaik dicapai dengan menyeimbangkan pengetahuan

para ahli dalam menggambarkan masalah dan tujuan dengan kemampuan pencarian

komputer (Kantardzic, 2003).

Data mining merupakan analisis dari peninjauan kumpulan data untuk menemukan hubungan yang tidak diduga dan meringkas data dengan cara yang berbeda dengan sebelumnya, yang dapat dipahami dan bermanfaat bagi pemilik data.” (Larose, 2006).

Data mining merupakan bidang dari beberapa keilmuan yang menyatukan teknik dari pembelajaran mesin, pengenalan pola, statistik, database, dan visualisasi untuk penanganan permasalahan pengambilan informasi dari database yang besar.” (Larose, 2006).

Kemajuan luar biasa yang terus berlanjut dalam bidang data mining didorong

oleh beberapa faktor, antara lain (Larose, 2006).

1. Pertumbuhan yang cepat dalam kumpulan data.

2. Penyimpanan data dalam data warehouse, sehingga seluruh perusahaan

(3)

3. Adanya peningkatan akses data melalui navigasi web dan intranet.

4. Tekanan kompetisi bisnis untuk meningkatkan penguasaan pasar dalam globalisasi ekonomi.

5. Perkembangan teknologi perangkat lunak untuk data mining (ketersediaan teknologi).

6. Perkembangan yang hebat dalam kemampuan komputasi dan pengembangan kapasitas media penyimpanan.

Dari definisi-definisi yang telah disampaikan, hal penting yang terkait dengan

data mining adalah:

1. Data mining merupakan suatu proses otomatis terhadap data yang sudah ada.

2. Data yang akan diproses berupa data yang sangat besar.

3. Tujuan data mining adalah mendapatkan hubungan atau pola yang mungkin

memberikan indikasi yang bermanfaat.

Hubungan yang dicari dalam data mining dapat berupa hubungan antara dua

atau lebih dalam satu dimensi. Misalnya dalam dimensi produk, kita dapat melihat

keterkaitan pembelian suatu produk dengan produk yang lain. Selain itu, hubungan

juga dapat dilihat antara dua atau lebih atribut dan dua atau lebih objek.

(Ponniah, 2001).

Gambar 2.1 Bidang Ilmu Data Mining

Data mining bukanlah suatu bidang yang sama sekali baru. Salah satu kesulitan

untuk mendefinisikan data mining adalah kenyataan bahwa data mining mewarisi

(4)

banyak aspek dan teknik dari bidang-bidang ilmu yang sudah mapan terlebih dahulu.

Gambar 2.1 menunjukkan bahwa data mining memiliki akar yang panjang dari bidang

ilmu seperti kecerdasan buatan (artificial intelligent), machine learning, statistik,

database, dan juga information retrieval (Pramudiono, 2006).

Metode data mining secara garis besar dapat dibagi dalam dua kelompok:

verifikasi dan discover. Metode verifikasi umumnya meliputi teknik-teknik statistic

seperti goodness of fit, Uji-T rata-rata dan analisis variansi. Metode discovery lebih

lanjut dapat dibagi atas model prediktif dan model deskriptif. Model prediktif

melakukan prediksi terhadap data dengan menggunakan hasil-hasil yang telah

diketahui dari data yang berbeda. Model ini dapat dibuat berdasarkan penggunaan data

historis lain. Sementara itu, model deskriptif bertujuan mengidentifikasi pola-pola

atau hubungan dalam data dan memberikan cara untuk mengeksplorasi sifat sifat data

yang diselidiki (Dunham 2003). Taksonomi metode-metode data mining dapat dilihat

pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Taksonomi data mining (Maimon & Last 2000, Dunham 2003)

Data mining terutama digunakan untuk mencari pengetahuan yang terdapat

dalam basis data yang besar sehingga sering disebut Knowledge Discovery in

Database (KDD). Proses pencarian pengetahuan ini menggunakan berbagai

teknik-teknik pembelajaran komputer (machine learning) untuk menganalisis dan

mengekstraksikannya. Proses pencarian bersifat iteratif dan interaktif untuk

-Neural network

(5)

menemukan pola atau model yang sahih, baru, bermanfaat dan dimengerti. Dalam

penerapannya data mining memerlukan berbagai perangkat lunak analisis data untuk

menemukan pola dan relasi data agar dapat digunakan untuk membuat prediksi

dengan akurat.

Sebagai suatu rangkaian proses, data mining dapat dibagi menjadi beberapa

tahap yang diilustrasikan di gambar 2.3. Tahap-tahap tersebut bersifat iterative dan

interaktif, pemakai terlibat langsung atau dengan perantaraan knowledge base.

Gambar 2.3 Tahap-tahap data mining (Han dan Kamber, 2006)

Tahap-tahap data mining ada 6 (enam) yaitu:

1. Pembersihan data (data cleaning)

Pembersihan data merupakan proses menghilangkan noise dan data yang tidak

konsisten atau data tidak relevan. Pada umumnya data yang diperoleh, baik

dari database suatu perusahaan maupun hasil eksperimen, memiliki isian-isian

yang tidak sempurna seperti data yang hilang, data yang tidak valid atau juga

hanya sekedar salah ketik. Selain itu, ada juga atribut-atribut data yang tidak

relevan dengan hipotesa data mining yang dimiliki. Data-data yang tidak

(6)

mempengaruhi performasi dari teknik data mining karena data yang ditangani

akan berkurang jumlah dan kompleksitasnya. 2. Integrasi data (data integration)

Integrasi data merupakan penggabungan data dari berbagai database ke dalam

satu database baru. Tidak jarang data yang diperlukan untuk data mining tidak

hanya berasal dari satu database tetapi juga berasal dari beberapa database

atau file teks. Integrasi data dilakukan pada atribut-aribut yang

mengidentifikasikan entitas-entitas yang unik seperti atribut nama, jenis

produk, nomor pelanggan dan lainnya. Integrasi data perlu dilakukan secara

cermat karena kesalahan pada integrasi data bisa menghasilkan hasil yang

menyimpang dan bahkan menyesatkan pengambilan aksi nantinya. Sebagai

contoh bila integrasi data berdasarkan jenis produk ternyata menggabungkan

produk dari kategori yang berbeda maka akan didapatkan korelasi antar produk

yang sebenarnya tidak ada.

3. Seleksi Data (Data Selection)

Data yang ada pada database sering kali tidak semuanya dipakai, oleh karena

itu hanya data yang sesuai untuk dianalisis yang akan diambil dari database.

Sebagai contoh, sebuah kasus yang meneliti faktor kecenderungan orang

membeli dalam kasus market basket analysis, tidak perlu mengambil nama

pelanggan, cukup dengan id pelanggan saja.

4. Transformasi data (Data Transformation)

Data diubah atau digabung ke dalam format yang sesuai untuk diproses dalam

data mining. Beberapa metode data mining membutuhkan format data yang

khusus sebelum bisa diaplikasikan. Sebagai contoh beberapa metode standar

seperti analisis asosiasi dan clustering hanya bisa menerima input data

kategorikal. Karenanya data berupa angka numerik yang berlanjut perlu

dibagi-bagi menjadi beberapa interval. Proses ini sering disebut transformasi

data.

5. Datamining

Merupakan suatu proses utama saat metode diterapkan untuk menemukan

pengetahuan berharga dan tersembunyi dari data.

(7)

Untuk mengidentifikasi pola-pola menarik kedalam knowledge based yang

ditemukan. Dalam tahap ini hasil dari teknik data mining berupa pola-pola

yang khas maupun model prediksi dievaluasi untuk menilai apakah hipotesa

yang ada memang tercapai. Bila ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai

hipotesa ada beberapa alternatif yang dapat diambil seperti menjadikannya

umpan balik untuk memperbaiki proses data mining, mencoba metode data

mining lain yang lebih sesuai, atau menerima hasil ini sebagai suatu hasil yang

di luar dugaan yang mungkin bermanfaat.

7. Presentasi pengetahuan (knowledge presentation)

Merupakan visualisasi dan penyajian pengetahuan mengenai metode yang

digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang diperoleh pengguna. Tahap

terakhir dari proses data mining adalah bagaimana memformulasikan

keputusan atau aksi dari hasil analisis yang didapat. Ada kalanya hal ini harus

melibatkan orang-orang yang tidak memahami data mining. Karenanya

presentasi hasil data mining dalam bentuk pengetahuan yang bisa dipahami

semua orang adalah satu tahapan yang diperlukan dalam proses data mining.

Dalam presentasi ini, visualisasi juga bisa membantu mengkomunikasikan

hasil data mining (Han dan Kamber, 2006).

2.3 Pengelompokan Data Mining

Data mining dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan tugas yang dapat di

lakukan, yaitu (Larose, 2006): 1. Deskripsi

Terkadang peneliti dan analisis secara sederhana ingin mencoba mencari cara

untuk menggambarkan pola dan kecendrungan yang terdapat dalam data.

Sebagai contoh, petugas pengumpulan suara mungkin tidak dapat

menemukan keterangan atau fakta bahwa siapa yang tidak cukup profesional

akan sedikit didukung dalam pemilihan presiden. Deskripsi dari pola dan

kecendrungan sering memberikan kemungkinan penjelasan untuk suatu pola

atau kecendrungan. 2. Estimasi

Estimasi hampir sama dengan klasifikasi, kecuali variabel target estimasi

(8)

menggunakan record lengkap yang menyediakan nilai dari variabel target

sebagai nilai prediksi. Selanjutnya, pada peninjauan berikutnya estimasi nilai

dari variabel target dibuat berdasarkan nilai variabel prediksi. Sebagai contoh,

akan dilakukan estimasi tekanan darah sistolik pada pasien rumah sakit

berdasarkan umur pasien, jenis kelamin, berat badan, dan level sodium darah.

Hubungan antara tekanan darah sistolik dan nilai variabel prediksi dalam

proses pembelajaran akan menghasilkan model estimasi. Model estimasi yang

dihasilkan dapat digunakan untuk kasus baru lainnya. 3. Prediksi

Prediksi hampir sama dengan klasifikasi dan estimasi, kecuali bahwa dalam

prediksi nilai dari hasil akan ada di masa mendatang.

Contoh prediksi dalam bisnis dan penelitian adalah:

a. Prediksi harga beras dalam tiga bulan yang akan datang.

b. Prediksi presentase kenaikan kecelakaan lalu lintas tahun depan jika

batas bawah kecepatan dinaikan.

Beberapa metode dan teknik yang digunakan dalam klasifikasi dan estimasi

dapat pula digunakan (untuk keadaan yang tepat) untuk prediksi.

4. Klasifikasi

Dalam klasifikasi, terdapat target variabel kategori. Sebagai contoh,

penggolongan pendapatan dapat dipisahkan dalam tiga kategori, yaitu

pendapatan tinggi, pendapatan sedang, dan pendapatan rendah.

Contoh lain klasifikasi dalam bisnis dan penelitian adalah:

a. Menentukan apakah suatu transaksi kartu kredit merupakan transaksi yang curang atau bukan.

b. Memperkirakan apakah suatu pengajuan hipotek oleh nasabah merupakan suatu kredit yang baik atau buruk.

c. Mendiagnosa penyakit seorang pasien untuk mendapatkan termasuk kategori apa.

5. Pengklusteran

Pengklusteran merupakan pengelompokan record, pengamatan, atau

memperhatikan dan membentuk kelas objek-objek yang memiliki kemiripan.

Kluster adalah kumpulan record yang memiliki kemiripan suatu dengan yang

(9)

Pengklusteran berbeda dengan klasifikasi yaitu tidak adanya variabel target

dalam pengklusteran. Pengklusteran tidak mencoba untuk melakukan

klasifikasi, mengestimasi, atau memprediksi nilai dari variabel target. Akan

tetapi, algoritma pengklusteran mencoba untuk melakukan pembagian

terhadap keseluruhan data menjadi kelompok-kelompok yang memiliki

kemiripan (homogen), yang mana kemiripan dengan record dalam kelompok

lain akan bernilai minimal.

Contoh pengklusteran dalam bisnis dan penelitian adalah:

a. Mendapatkan kelompok-kelompok konsumen untuk target pemasaran dari suatu produk bagi perusahaan yang tidak memiliki dana pemasaran

yang besar.

b. Untuk tujuan audit akutansi, yaitu melakukan pemisahan terhadap prilaku finansial dalam baik dan mencurigakan.

c. Melakukan pengklusteran terhadap ekspresi dari gen, dalam jumlah

besar.

6. Asosiasi

Tugas asosiasi dalam data mining adalah menemukan atribut yang muncul

dalam suatu waktu. Dalam dunia bisnis lebih umum disebut analisis

keranjang belanja.

Contoh asosiasi dalam bisnis dan penelitian adalah:

a. Meneliti jumlah pelanggan dari perusahaan telekomunikasi seluler

yang diharapkan untuk memberikan respon positif terhadap penawaran

upgrade layanan yang diberikan.

b. Menemukan barang dalam supermarket yang dibeli secara bersamaan dan barang yang tidak pernah dibeli bersamaan.

2.4 Pengertian Decision Tree

Decision tree merupakan salah satu metode klasifikasi yang menggunakan

representasi struktur pohon (tree) di mana setiap node merepresentasikan atribut,

cabangnya merepresentasikan nilai dari atribut, dan daun merepresentasikan kelas.

(10)

Decision tree merupakan metode klasifikasi yang paling populer digunakan.

Selain karena pembangunannya relatif cepat, hasil dari model yang dibangun mudah

untuk dipahami.

Pada decision tree terdapat 3 jenis node, yaitu:

a. Root Node, merupakan node paling atas, pada node ini tidak ada input dan

bisa tidak mempunyai output atau mempunyai output lebih dari satu.

b. Internal Node, merupakan node percabangan, pada node ini hanya terdapat

satu input dan mempunyai output minimal dua.

c. Leaf node atau terminal node, merupakan node akhir, pada node ini hanya

terdapat satu input dan tidak mempunyai output.

2.5 Algoritma C 4.5

Algoritma C 4.5 adalah salah satu metode untuk membuat decision tree berdasarkan

training data yang telah disediakan. Algoritma C 4.5 merupakan pengembangan dari

ID3. Beberapa pengembangan yang dilakukan pada C 4.5 adalah sebagai antara lain

bisa mengatasi missing value, bisa mengatasi continue data, dan pruning.

Pohon keputusan merupakan metode klasifikasi dan prediksi yang sangat kuat

dan terkenal. Metode decision tree mengubah fakta yang sangat besar menjadi pohon

keputusan yang merepresentasikan aturan. Aturan dapat dengan mudah dipahami

dengan bahasa alami. Dan mereka juga dapat diekspresikan dalam bentuk bahasa basis

data seperti Structured Query Language untuk mencari record pada kategori tertentu.

Pohon keputusan juga berguna untuk mengeksplorasi data, menemukan hubungan

tersembunyi antara sejumlah calon variabel input dengan sebuah variabel target.

Karena pohon keputusan memadukan antara eksplorasi data dan pemodelan,

pohon keputusan sangat bagus sebagai langkah awal dalam proses pemodelan bahkan

ketika dijadikan sebagai model akhir dari beberapa teknik lain. Sebuah pohon

keputusan adalah sebuah struktur yang dapat digunakan untuk membagi kumpulan

data yang besar menjadi himpunan-himpunan record yang lebih kecil dengan

menerapkan serangkaian aturan keputusan. Dengan masing-masing rangkaian

pembagian, anggota himpunan hasil menjadi mirip satu dengan yang lain (Berry dan

Linoff, 2004).

Sebuah model pohon keputusan terdiri dari sekumpulan aturan untuk membagi

(11)

memperhatikan pada variabel tujuannya. Sebuah pohon keputusan mungkin dibangun

dengan seksama secara manual atau dapat tumbuh secara otomatis dengan

menerapkan salah satu atau beberapa algoritma pohon keputusan untuk memodelkan

himpunan data yang belum terklasifikasi.

Variabel tujuan biasanya dikelompokkan dengan pasti dan model pohon

keputusan lebih mengarah pada perhitungan probability dari tiap-tiap record terhadap

kategori-kategori tersebut atau untuk mengklasifikasi record dengan

mengelompokkannya dalam satu kelas. Pohon keputusan juga dapat digunakan untuk

mengestimasi nilai dari variabel continue meskipun ada beberapa teknik yang lebih

sesuai untuk kasus ini.

Banyak algoritma yang dapat dipakai dalam pembentukan pohon keputusan,

antara lain ID3, CART, dan C4.5 (Larose, 2006).

Data dalam pohon keputusan biasanya dinyatakan dalam bentuk tabel dengan

atribut dan record. Atribut menyatakan suatu parameter yang dibuat sebagai kriteria

dalam pembentukan pohon. Misalkan untuk menentukan main tenis, kriteria yang

diperhatikan adalah cuaca, angin, dan temperatur. Salah satu atribut merupakan atribut

yang menyatakan data solusi per item data yang disebut target atribut. Atribut

memiliki nilai-nilai yang dinamakan dengan instance. Misalkan atribut cuaca

mempunyai instance berupa cerah, berawan, dan hujan (Basuki dan Syarif, 2003)

Proses pada pohon keputusan adalah mengubah bentuk data (tabel) menjadi

model pohon, mengubah model pohon menjadi rule, dan menyederhanakan rule

(Basuki dan Syarif, 2003). Berikut ini algoritma dasar dari C4.5:

Input : sampel training, label training, atribut

1. Membuat simpul akar untuk pohon yang dibuat

2. Jika semua sampel positif, berhenti dengan suatu pohon dengan satu simpul akar, beri tanda (+)

3. Jika semua sampel negatif, berhenti dengan suatu pohon dengan satu simpul akar, beri tanda (-)

4. Jika atribut kosong, berhenti dengan suatu pohon dengan suatu simpul akar, dengan label sesuai nilai yang terbanyak yang ada pada label training

5. Untuk yang lain, Mulai

a. A --- atribut yang mengklasifikasikan sampel dengan hasil terbaik (berdasarkan Gain rasio)

b. Atribut keputusan untuk simpul akar --- A c. Untuk setiap nilai, vi, yang mungkin untuk A

(12)

2) Tentukan sampel Svi sebagai subset dari sampel yang mempunyai nilai vi untuk atrribut A

3) Jika sampel Svi kosong

i. Di bawah cabang tambahkan simpul daun dengan label = nilai yang terbanyak yang ada pada label training

ii. Yang lain tambah cabang baru di bawah cabang yang sekarang C4.5 (sampel training, label training, atribut-[A])

d. Berhenti

Mengubah tree yang dihasilkan dalam beberapa rule. Jumlah rule sama dengan

jumlah path yang mungkin dapat dibangun dari root sampai leafnode.

Tree Pruning dilakukan untuk menyederhanakan tree sehingga akurasi dapat

bertambah. Pruning ada dua pendekatan, yaitu:

a. Pre-pruning, yaitu menghentikan pembangunan suatu subtree lebih awal (yaitu dengan memutuskan untuk tidak lebih jauh mempartisi data training).

Saat seketika berhenti, maka node berubah menjadi leaf (node akhir). Node

akhir ini menjadi kelas yang paling sering muncul di antara subset sampel. b. Post-pruning, yaitu menyederhanakan tree dengan cara membuang

beberapa cabang subtree setelah tree selesai dibangun. Node yang jarang

dipotong akan menjadi leaf (node akhir) dengan kelas yang paling sering

muncul.

Untuk memudahkan penjelasan mengenai algoritma C4.5 berikut ini contoh

kasus keputusan bermain tenis yang dituangkan dalam Tabel 2.1

Tabel 2.1 Keputusan Bermain Tenis

No CUACA TEMPERATUR KELEMBABAN ANGIN BERMAIN

(13)

Dalam kasus yang tertera pada Tabel 2.1 akan dibuat pohon keputusan untuk

menentukan main tenis atau tidak dengan melihat keadaan cuaca, temperatur,

kelembaban dan keadaan angin.

Secara umum algoritma C4.5 untuk membangun pohon keputusan adalah

sebagai berikut:

1. Pilih atribut sebagai akar

2. Buat cabang untuk masing-masing nilai 3. Bagi kasus dalam cabang

4. Ulangi proses untuk masing-masing cabang sampai semua kasus pada cabang memiliki kelas yang sama.

Untuk memilih atribut sebagai akar, didasarkan pada nilai Gain tertinggi dari

atribut-atribut yang ada. Untuk menghitung Gain digunakan rumus seperti tertera

dalam rumus (2.1) (Craw, 2005).

Gain(S,A) = Entrropy(S) – Expectation(A)

Gain(S,A) = Entrropy(S) –∑ ⃓𝑆𝑖⃓ ⃓𝑆⃓ 𝑛

𝑖=1 * Entropy(Si) (2.1)

Dengan

S : Himpunan Kasus

A : Atribut

N : Jumlah partisi atribut A

|Si| : Jumlah kasus pada partisi ke i

|S| : Jumlah total kasus dalam S

Sedangkan perhitungan nilai Entropy dapat dilihat pada rumus (2.2) berikut

(Craw, 2005):

Entropy(A) = ∑𝑛𝑖=1− 𝑝𝑖 ∗ log2pi (2.2)

Dengan

S : Himpunan Kasus

A : Fitur

n : Jumlah partisi S

pi : Proporsi dari Si terhadap S

Berikut ini adalah penjelasan lebih rinci mengenai masing-masing langkah

dalam pembentukan pohon keputusan dengan menggunakan algoritma C4.5 untuk

(14)

1. Menghitung jumlah kasus, jumlah kasus untuk keputusan Ya, jumlah kasus untuk keputusan Tidak, dan Entropy dari semua kasus dan kasus yang

dibagi berdasarkan atribut cuaca, temperatur, kelembaban dan angin.

Setelah itu lakukan penghitungan Gain untuk masing-masing atribut. Hasil

perhitungan contoh kasus keputusan bermain tenis ditunjukkan oleh Tabel

2.2

Baris total kolom Entropy pada Tabel 2.2 dihitung dengan rumus (2.2), sebagai

berikut:

Gain(Total,Cuaca) = Entropy(Total) - ∑ |𝐶𝑢𝑎𝑐𝑎|

|𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙| 𝑛

𝑖=1 * Entropy(Cuaca)

Gain(Total,Cuaca) = 0.863120569 – ((4

14*0) + ( 5

14*0.723) + ( 5

14*0.97)) Sehingga didapat Gain(Total,Cuaca) = 0.258521037

Dari hasil pada Tabel 2.2 dapat diketahui bahwa atribut dengan Gain tertinggi

adalah kelembaban yaitu sebesar 0.37. Dengan demikian kelembaban dapat menjadi

(15)

nilai atribut tersebut, nilai atribut normal sudah mengklasifikasikan kasus menjadi 1

yaitu keputusannya Ya, sehingga tidak perlu dilakukan perhitungan lebih lanjut, tetapi

untuk nilai atribut tinggi masih perlu dilakukan perhitungan lagi.

Dari hasil tersebut dapat digambarkan pohon keputusan sementara, tampak

seperti Gambar 2.4

Gambar 2.4 Pohon Keputusan Hasil Perhitungan Node 1

2. Menghitung jumlah kasus, jumlah kasus untuk keputusan Ya, jumlah kasus untuk

keputusan Tidak, dan Entropy dari semua kasus dan kasus yang dibagi berdasarkan

atribut cuaca, temperatur dan angin yang dapat menjadi node akar dari nilai atribut

tinggi. Setelah itu lakukan penghitungan Gain untuk masing-masing atribut. Hasil

perhitungan ditunjukkan oleh Tabel 2.3

Tabel 2.3 Perhitungan Node 1.1

Node

Dari hasil pada Tabel 2.3 dapat diketahui bahwa atribut dengan Gain tertinggi

adalah cuaca yaitu sebesar 0.699. Dengan demikian cuaca dapat menjadi node cabang

(16)

dari nilai atribut tinggi. Ada 3 nilai atribut dari cuaca yaitu mendung, hujan dan cerah.

dari ketiga nilai atribut tersebut, nilai atribut mendung sudah mengklasifikasikan

kasus menjadi 1 yaitu keputusannya Ya dan nilai atribut cerah sudah

mengklasifikasikan kasus menjadi satu dengan keputusan Tidak, sehingga tidak perlu

dilakukan perhitungan lebih lanjut, tetapi untuk nilai atribut hujan masih perlu

dilakukan perhitungan lagi.

Pohon keputusan yang terbentuk sampai tahap ini ditunjukkan pada Gambar

2.5

Gambar 2.5 Pohon Keputusan Hasil Perhitungan Node 1.1

3. Menghitung jumlah kasus, jumlah kasus untuk keputusan Ya, jumlah kasus untuk

keputusan Tidak, dan Entropy dari semua kasus dan kasus yang dibagi

berdasarkan atribut temperatur dan angin yang dapat menjadi node cabang dari

nilai atribut hujan. Setelah itu lakukan penghitungan Gain untuk masing-masing

atribut. Hasil perhitungan ditunjukkan oleh Tabel 2.4

Tabel 2.4 Perhitungan Node 1.1.2

(17)

Dari hasil pada Tabel 2.4 dapat diketahui bahwa atribut dengan Gain tertinggi

adalah angin yaitu sebesar 1. Dengan demikian angin dapat menjadi node cabang dari

nilai atribut hujan. Ada 2 nilai atribut dari angin yaitu Tidak dan Ya. Dari kedua nilai

atribut tersebut, nilai atribut Tidak sudah mengklasifikasikan kasus menjadi 1 yaitu

keputusannya Ya dan nilai atribut Ya sudah mengklasifikasikan kasus menjadi satu

dengan keputusan Tidak, sehingga tidak perlu dilakukan perhitungan lebih lanjut

untuk nilai atribut ini. Pohon keputusan yang terbentuk sampai tahap ini ditunjukkan

pada Gambar 2.6

Gambar 2.6 Pohon Keputusan Hasil Perhitungan Node 1.1.2

Dengan memperhatikan pohon keputusan pada Gambar 2.6 diketahui bahwa

semua kasus sudah masuk dalam kelas. Dengan demikian, pohon keputusan pada

Gambar 2.6 merupakan pohon keputusan terakhir yang terbentuk.

2.6 Ekstraksi Rule dari Decision Tree

Pengetahuan yang diperoleh dari decision tree dapat direpresentasikan dalam bentuk

klasifikasi IF-THEN rules. Nilai suatu atribut akan menjadi bagian anticendent

(bagian IF), sedang daun (leaf) dari sebuah decision tree akan menjadi bagian

Ya Tidak

Tidak Ya

1.

Kelemba ban

Ya

1.1

Cuaca

Normal Tinggi

Tidak

1.1.2 Angin

Ya

Cerah

(18)

consequent (THEN). Aturan seperti ini akan menjadi sangat membantu manusia

dalam memahami model klasifikasi terutama jika ukuran decisiontree terlalu besar.

2.7 Riset-Riset Terkait

Terdapat beberapa riset yang telah dilakukan oleh banyak peneliti berkaitan dengan

seperti yang akan dijelaskan di bawah ini:

Kotsiantis (2009) dalam risetnya mengatakan bahwa mahasiswa drop out

terjadi cukup sering yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dan tingkat putus

sekolah lebih tinggi dibandingkan pendidikan konvensional. Membatasi mahasiswa

drop out sangat penting dalam pembelajaran jarak jauh dan oleh karena itu

kemampuan untuk memprediksi drop out mahasiswa sangat bermanfaat dengan

sejumlah cara yang berbeda. Menggunakan studi eksperimental metodologi yang

diusulkan local cost sensitive tevhnique. Percobaan berlangsung dalam dua tahap yang

berbeda. Tahap pertama (fase pelatihan) algoritma dilatih dengan menggunakan data

yang dikumpulkan dari tahun ajaran sebelumnya. Atribut yang dikumpulkan antara

lain gender, age, marital status, number of children, occupation, computer literacy,

job associated with computers, face to face meeting, written assignment. Selanjutnya

tutor mengumpulkan sepuluh kelompok data dari tahun ajaran baru. Masing masing

dari sepuluh kelompok digunakan untuk mengukur prediksi akurasi dalam kelompok

ini (fase pengujian)

Kumar dan Vijayalakshmi (2011) dalam risetnya mempelajari data pendidikan

dengan metode klasifikasi seperti decision tree untuk memprediksi perilaku siswa dan

kinerja dalam hasil ujian akhir, hasil prediksi akan membantu tutor untuk

mengidentifikasi siswa yang lemah dan membantu siswa untuk nilai skor yang lebih

baik. Algoritma decision tree 4.5 diterapkan pada data penilaian internal siswa untuk

memprediksi siswa dalam performance ujian akhir. Hasil dari pohon keputusan

memprediksi jumlah siswa yang cenderung gagal atau lulus. Hasilnya diberikan

kepada tutor dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan performance siswa

yang diprediksi akan gagal. Hasil analisis menyatakan bahwa pembuatan prediksi

telah membantu siswa yang lebih lemah untuk membawa perbaikan dan meningkatkan

keberhasilannya.

Sunjana (2010a) hasil risetnya mengenai teknik klasifikasi menggunakan

(19)

menemukan pola yang terjadi pada data mata kuliah mahasiswa. Penerapan algoritma

C 4.5 untuk melihat apakah IPK seorang mahasiswa dapat diperkirakan berdasarkan

nilai beberapa mata kuliah yang dianggap paling signifikan dalam menentukan IPK

seorang mahasiswa. Matakuliah yang diambil merupakan matakuliah yang wajib

diambil oleh setiap mahasiswa di setiap semesternya dan yang saling berhubungan

satu dengan yang lainnya atau matakuliah prasyarat. Hasil uji yang diperoleh

didapatkan prosentase error rate dari data training pada matakuliah. Semakin besar

prosentase nilai error rate yang dihasilkan pada data testing, maka rule yang

dihasilkan pun tidak baik. Begitu juga sebaliknya.

Sunjana (2010b) menjelaskan dalam risetnya tentang klasifikasi data nasabah

sebuah asuransi menggunakan algoritma C 4.5. Dengan algoritma tersebut dapat

diketahui data nasabah mana yang dikelompokkan ke kelas lancar dan data nasabah

mana yang dikelompokkan kekelas tidak lancar. Kemudian pola tersebut dapat

digunakan untuk memperkirakan nasabah yang bergabung, sehingga perusahaan bisa

mengambil keputusan menerima atau menolak calon nasabah tersebut. Atribut yang

digunakan dalam penelitian adalah penghasilan, premi dasar, cara pembayaran, mata

uang dan status sedang. Label yang digunakan untuk pengklasifikasian adalah lancar

dan tidak lancar

Quadri dan Kalyankar (2010) juga menjelaskan tentang performance akademik

mahasiswa sangat penting untuk lembaga pendidikan dan membuat rencana program

strategis yang dapat direncanakan dalam meningkatkan atau mempertahankan

performance siswa selama periode mereka mengikuti pelajaran di perguruan tinggi

tersebut. performance siswa diukur dengan rata-rata IPK setelah lulus. Penelitian ini

menyajikan data mining dalam memprediksi siswa drop out. Menggunakan teknik

decision tree untuk memilih analisis dan prediksi yang terbaik. Daftar mahasiswa

yang sudah diprediksi kemungkinan untuk drop out dengan data mining diserahkan

kepada guru dan manajemen untuk intervensi langsung atau tidak langsung. Analisis

komponen menggabungkan sejumlah metode machine learning secara otomatis

menganalisis data dalam log database. Menggunakan metode decision tree yang

bertujuan untuk mengkarakterisasi motivasi siswa.

Al-Radaideh et al. (2006) menjelaskan dalam risetnya tentang performance

siswa menjadi perhatian besar terhadap pendidikan tinggi dimana ada beberapa faktor

(20)

mining khususnya klasifikasi untuk membantu dalam meningkatkan kualitas sistem

pendidikan tinggi dengan mengevaluasi data siswa, mempelajari atribut utama yang

dapat mempengaruhi performance siswa dalam program pendidikan. Tiga metode

klasifikasi algoritma yang berbeda diuji ID3, C 4.5 dan Naïve Bayes. Proses generasi

didasarkan pada decision tree sebagai metode klasifikasi dimana rule yang dihasilkan

dipelajari dan dievaluasi. Rule dibangun yang memungkinkan siswa untuk

memprediksi nilai akhir dalam suatu program studi yang diteliti. Pengetahuan yang

didapat digunakan untuk memberikaan pola pemahaman pendaftaran siswa diteliti,

tindakan untuk memberikan kelas keterampilan kursus dasar tambahan, konseling

akademis.

Adeyemo dan Kuye (2006) menjelaskan dalam risetnya, menyajikan evaluasi

faktor-faktor yang berkontribusi terhadap performance akademik siswa di perguruan

tinggi. Variable kualifikasi untuk masuk dan tipe penerimaan mahasiswa dan

bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi performance akademik siswa. Evaluasi

dilakukan menggunakan perangkat lunak komputer yang mengimplementasikan

algoritma decision tree.

2.8. Persamaan dengan riset-riset lain

Curtis et al (1983) dalam penelitiannya pelajar sekolah menengah yang drop out di

sekolah adalah yang tidak mampu secara sosial dan ekonomi.

Gerben W. Dekker et all (2009) dalam penelitiannya melakukan prediksi

mahasiswa yang drop out dengan mengkalsifikasikan kelompok mahasiswa yang

drop out setelah semester pertama mereka belajar atau memprediksi sebelum mereka

masuk ke program studi serta mengidentifikasi faktor-faktor sukses tertentu.

Hasil penelitian Khoirunnisak dan Iriawan (2010) dalam penelitiannya

tingginya tingkat keberhasilan dan rendahnya tingkat kegagalan mahasiswa

mencerminkan kualitas proses belajar mengajar dari suatu perguruan tinggi. Dan

membuktikan bahwa mahasiswa yang dropout dari ITS Surabaya dipengaruhi oleh

faktor perbedaan usia, perbedaan asal daerah mahasiswa, perbedaan penghasilan

orang tua, perbedaan fakultas mahasiswa, perbedaan jalur masuk, serta perbedaan

nilai IPK dan nilai TPB. menggunakan pendekatan Bayesian mixture survival melalui

(21)

Jadric, et all (2010) dalam penelitiannya data diproses dengan aplikasi metode

data mining, regressi logistic, pohon keputusan dan neural network. Model dibangun

menggunakan metodologi SEMMA yang dibandingkan dengan memilih salah satu

prediksi terbaik mahasiswa drop out .

2.9 Perbedaan dengan Riset-Riset lain

Dari beberapa riset yang dilakukan peneliti sebelumnya, terdapat beberapa titik

perbedaan dengan riset yang akan dilakukan ini:

1. Analisis mahasiswa yang mengundurkan diri/pindah, risetnya dilakukan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Mikroskil

Medan. Yang akan dilakukan penulis adalah mendapatkan model aturan / rule

penyebab mahasiswa pindah/mengundurkan diri dari sekumpulan data set historis

sehingga didapatkan klasifikasi keterhubungan dalam bentuk decision tree.

variabel datanya diolah dari data kuesioner mahasiswa STMIK Mikroskil Medan

seperti fasilitas belajar mahasiswa, lingkungan belajar, interest, disiplin, peraturan

akademik, dukungan orang tua, ekonomi orang tua, biodata mahasiswa dan data

akademik mahasiswa.

Kuesioner dilakukan sebagai alat penting dalam mendapatkan sejumlah

perwakilan orang untuk menjawab pertanyaan dan membuat penilaian dari apa

yang kebanyakan orang pikirkan. Informasi yang diperoleh dari kuesioner dapat

digunakan untuk tren dan perubahan plot pada persepsi publik. 2. Predikat mahasiswa beresiko

Pada riset ini, hasil akhir yang diharapkan pihak manajamen dan program studi

mendapatkan model rule penyebab mahasiswa perguruan tinggi mengundurkan

diri/pindah.

2.10 Kontribusi Riset

Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang hubungan data

mahasiswa yang berpotensi berisiko dengan faktor faktor yang mempengaruhi

mahasiswa berhenti studi, berdasarkan predikat berisiko mengundurkan diri/pindah

dan predikat perlunya perhatian ekstra sehingga dapat diberi motivasi dan

(22)

Kontribusi lainnya adalah membantu pimpinan perguruan tinggi dalam

membuat suatu rencana yang bersifat strategis. Penelitian ini memperkenalkan suatu

aplikasi metode klasifikasi rule decision tree menggunakan algoritma C4.5 untuk

Gambar

Gambar 2.1 Bidang Ilmu Data Mining
Gambar 2.2  Taksonomi data mining (Maimon & Last 2000, Dunham 2003)
Gambar 2.3 Tahap-tahap data mining (Han dan Kamber, 2006)
Tabel 2.1  Keputusan Bermain Tenis
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian tersebut adalah Fuzzy C-Means menghasilkan data yang.. mirip dengan K-Means tetapi pengelompokan Fuzzy C-Means

Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini akan dibahas masalah pemahaman tujuan bisnis dan data yang akan digunakan pada proses data mining untuk menentukan tata

Studi pustaka merupakan studi literatur dilakukan dengan cara membaca, mengutip, dan pencarian data dan informasi tentang knowledge management untuk memonitoring